alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
30-11-2014 11:28
CERITA TENTANG KITA
Quote:
DISCLAIMER
Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, karakter, tempat, maupun cerita, itu semua hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.


Quote:Title : CERITA TENTANG KITA
Author : NVRstepback
Genre : Slice of Life, Drama, Romance, Family


INDEKS
:
Quote:Act 1 - "A Meeting"
Act 2 - "Crash!"
Act 3 - "Awake"
Act 4 - "A 'Normal' Day"
Act 5 - "Jealous"
Act 6 - "Preparation"
Act 7 - "Surprise!"
Act 8 - "His Story"
Act 9 - "An Old 'Friend'"*NEW!
Act 10 - "Memory" *NEW!





Quote:
note nov2017: lanjut lagi setelah kentang 3 taun..
update index, linkpost menyusul
Diubah oleh nvrstepback
0
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
01-12-2014 01:51
Quote:
Act 3 - "Awake"


Sudah hampir 3 hari Kenzo terbaring di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Alea, dengan sabar menjaga kakaknya setiap sepulang kuliah. Evan, Tara, dan Wayan pun selalu rutin menjenguk sahabat terbaik mereka situ. Teman-teman Kenzo yang lain pun juga menjenguk. Berdasarkan informasi dari dokter, kondisi Kenzo sudah mengalami kemajuan. Lukanya pun perlahan mulai mengering. Namun benturan di kepalanya nampaknya memang memberikan efek yang cukup berat bagi Kenzo sehingga dia belum sadarkan diri hingga saat ini.
“Al, kamu udah makan? Makan dulu yuk.” Tanya Evan ke Alea yang duduk di samping ranjang tempat Kenzo terbaring.
“Eh, kak Evan. Belum kak nanti aja ya.” Jawab Alea pelan.
“Alea, kamu makan dulu gih. Dari tadi pagi kamu juga belum makan kan? Ini udah jam 7 malem lho.” Kata Tara ikut menasehati Alea. Alea hanya diam saja.
“Yaudah ah. Aku keluar bentar ya.” Kata Wayan pamit.
“Ke mana loe?” tanya Tara.
“Bentar doang, nanti balik ke sini lagi.” Kata Wayan seraya pergi.
Suasana menjadi hening. Kenzo yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya, Alea yang tampak lemah. Evan dan Tara yang begitu sabar menemani Alea menjaga Kenzo.
“Kak Kenzo, bangun kak. Alea gak mau kehilangan kakak. Alea sayang sama kakak.” Bisikan lirih Alea diiringi isak tangis.
“Makanan dataaang.” Suara Wayan memecah keheningan. Ternyata Wayan keluar untuk membelikan makan untuk Alea, Evan, dan Tara.
“Aduh, loe perhatian banget Yan. Tau aja kalo gue lagi laper.” Kata Tara yang berjalan girang ke arah Wayan.
“Nih Alea, kamu makan dulu.” Kata Wayan sambil menyodorkan nasi bungkus ke Alea. Namun Alea hanya terdiam.
“Biar gue aja Yan.” Kata Evan mengambil nasi bungkus dari tangan Wayan. Dengan sabar, Evan berjongkok di samping Alea. Membisikkan sesuatu ke telinga Alea.
“Alea.. Makan dulu ya.” Kata Evan lembut sambil menyuapi Alea. Dan ternyata Alea mau makan! Hal ini membuat Tara dan Wayan kaget, tapi mereka kemudian hanya tersenyum. Mereka tau betul kalau sebenarnya Alea dan Evan saling memiliki perasaan satu sama lain.
“Kak Evan.” Kata Alea tiba-tiba.
“Iya Alea?” tanya Evan.
“Kapan kakakku bangun kak?” tanya Alea. Mendengar pertanyaan Alea, Evan hanya tersenyum.
“Alea, kak Kenzo pasti segera bangun kok. Kamu inget kan, janji kak Kenzo?” tanya Evan. Alea mengangguk,”Kak Kenzo tu orang yang selalu menepati janji. Jadi, kamu harus percaya sama dia. Ya.”
Alea tersenyum mendengar jawaban dari Evan. Dia merasa senang karena Kenzo memiliki sahabat-sahabat yang begitu menyayangi Kenzo dan juga peduli padanya. Evan, Tara, dan Wayan.
***
“Gila loe Ve. Perbuatan loe nekad banget tau gak? Sekarang malah Kenzo yang menderita.” Kata salah seorang teman Ve yang bernama Icha.
“Gue khilaf Cha. Gue gak nyangka kalo Kenzo yang bakal ketabrak. Trus gue harus gimana?” tanya Ve gugup.
“Yang jelas, loe harus minta maaf sama Kenzo. Tapi yang pertama, loe harus minta maaf sama si Alea. Karena dari awal, loe udah jahat sama dia.” Saran teman Ve yang bernama Dina
“Tapi gue malu Din.” Kata Ve.
“Rasa malu yang loe rasaain pasti gak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang dialami Alea sama Kenzo sekarang, Ve.” Kata Dina.
“Bener apa kata Dina. Loe harus mau minta maaf Alea. Karena apa yang loe lakuin udah kelewat batas.” Kata Icha tegas.
Ve pun akhirnya menuruti apa kata Dina dan Icha untuk minta maaf kepada Alea. Ditemani Dina dan Icha, Ve bergegas mencari Alea, namun tak juga ketemu. Akhirnya mereka menemukan Alea sedang duduk sendirian di depan perpustakaan. Dengan langkah ragu-ragu, Ve menghampiri Alea.
“A..Alea.” sapa Ve gugup.
“Iya kak Ve. Ada apa?” kata Alea lembut.
Ve terkejut karena Alea menjawab sapaannya dengan begitu lembut. Padahal Ve pernah menjahatinya. Hatinya semakin tak karuan.
“Ada yang pengen aku sampaiin ke kamu. Aku pengen minta maaf soal apa yang terjadi di kantin beberapa hari lalu.” Kata Ve.
“Iya kak, gak papa. Aku juga minta maaf ya, soalnya waktu itu gak hati-hati pas jalan jadi nabrak kakak.” Kata Alea sambil tersenyum. Hal itu membuat Ve semakin menderita.
“Ada lagi Alea. Soal Kenzo.” Kata Ve. Mendengar ini, raut wajah Alea tampak berubah.
“Maksud kak Ve apa?” tanya Alea dengan suara bergetar menahan amarah.
“Sebenarnya, yang ngendarain mobil yang berusaha nabrak kamu itu.. Aku.” Kata Ve lirih.
“Plakkk!!!” sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Ve. Tampak wajah Alea dipenuhi guratan amarah. Hatinya begitu sakit mendengar pengakuan dari Ve. Dia mampu memaafkan apa yang coba dilakukan Ve kepadanya. Tapi tidak pada apa yang sudah Ve lakukan pada kakaknya. Ve bingung pada reaksi Alea yang sangat tak biasa. Namun dia tetap merasa bersalah sehingga hanya diam saja.
“Kak Ve. Silakan kamu celakain aku. Kalau perlu, bunuh aku sekalian. Tapi jangan pernah sakitin kakakku!” kata Alea penuh amarah.
“Ja..jadi.. Kenzo..” kata Ve berusaha menelaah semua yang terjadi. Berusaha menyadari kekeliruan dan kesalahpahaman yang selama ini sudah membuat dia buta hati.
“Kak Kenzo itu kakakku. Dan dia sekarang belum sadarkan diri karena perbuatanmu kak! Kalo kak Ve emang mau minta maaf, silakan minta maaf ke kak Kenzo!” kata Alea kemudian pergi dari situ.
Ve duduk sendirian dalam perasaan bersalah yang begitu dalam. Ketidaktahuannya yang sudah diselimuti rasa cemburu telah menyebabkan hal yang sangat mengerikan.
***
Kuliah baru saja usai. Tapi keinginan Alea untuk segera ke rumah sakit harus tertunda karena ada tugas kuliah yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
“Mily, punya kamu udah selesai belum?” tanya Alea kepada Emily.
“Belum nih Al. Masih setengah lagi. Punyamu udah?”
“Hehe. Belum juga.” Jawab Alea. Mereka berdua pun tertawa. Dari kejauhan tampak Liana dan Gea yang berjalan ke arah mereka.
“Hey, tugas kalian udah jadi belum?” tanya Liana.
“Belum nih Li. Masih kurang banyak. Loe udah selesai?” tanya balik Emily.
“Belum juga nih Mily. Tapi si Gea tu yang udah. Sumpah cepet banget ngerjainnya.” Kata Liana. Gea hanya tersenyum malu.
“Gea, ajarin aku dong.” Kata Alea. Gea pun segera mendatangi Alea dan membantu Alea menyelesaikan tugasnya.
“Oke. Makasih ya Gea.” Kata Alea.
“I..Iya. Sama-sama Alea.” Kata Gea.
“Yah curang. Kita berdua kok gak dibantuin juga?” kata Emily protes. Gea pun tersenyum kemudian menghampiri dan membantu kedua sahabatnya itu. Dengan serius, Gea mengajari Emily dan Liana memahami soal-soal.
“Eh, temen-temen. Aku duluan ya.” Kata Alea pamit.
“Mau ke rumah sakit ya Al?” tanya Emily.
“Iya Mily. Mau ikut?”
“Pengen sih, tapi tugasku belum selesai. Nanti aja deh aku nyusul ya.” Kata Emily.
“Yaudah. Daa temen-temen.” Kata Alea seraya berlari menuju gerbang kampus.
“Yakin nih Mily? Nanti nyesel loh.” Goda Liana sambil menyenggol Emily.
“Liana apaan sih.” Kata Emily malu-malu.
“Mily. Nanti tugas punyamu nanti aku kerjain. Sana.” Kata Gea tiba-tiba. Emily melongo. Gea tersenyum penuh arti.
“OK deh kalo gitu. Aku pergi dulu ya temen-temen.” Kata Emily kemudian berlalu. Meninggalkan Gea dan Liana yang cekikikan melihat tingkah Emily.
“Alea, tunggu!!!” teriak Emily. Alea pun menoleh ke arah suara tersebut. Dia pun mendapati Emily yang berlari ke arahnya.
“Mily. Katanya gak mau ikut. Hayooo...” goda Alea. Tiba-tiba saja pipi Emily bersemu merah.
“Cieee, Emily...”
“Alea apaan sih, ikut-ikutan Liana deh.” Kata Emily berusaha menyanggah.
Saat sedang bersenda gurau dengan Emily, tiba-tiba ponsel Alea berdering. Ternyata Evan yang menelpon.
“Halo kak Evan.”
“Halo Alea. Alea, cepetan ke sini. Kenzo udah sadar! Buruan!”
“Iya kak. Makasih ya kak.” Hati Alea begitu senang mendengar kabar tersebut. Dia pun bergegas menuju rumah sakit.
“Alea. Ada apa?” tanya Emily heran.
“Kak Kenzo udah sadar Mily. Yuk, cepetan.” Kata Alea. Tanpa babibu lagi, Emily bergegas menyusul Alea yang sudah berjalan agak jauh di depannya.
Alea berjalan dengan riang. Emily yang melihatnya nampak senang. Kemurungan nampaknya sudah hilang dari wajah cantik Alea. Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sebuah toko kue. Sebuah ide muncul di dalam benaknya. Dengan seulas senyuman, dia melangkah masuk ke dalam toko kue tersebut. Emily yang masih bingung pun langsung saja ikut masuk.
“Al, mau ngapain?” tanya Emily.
“Beliin kue buat kak Kenzo, Mily. Dia kan suka banget sama kue. Apalagi kue coklat.” Jawab Alea. Emily pun mengangguk paham.
“Alea. Liat nih.” Kata Emily kepada sambil menunjuk ke arah sebuah kue coklat. Alea tersenyum kemudian mengangguk. Setelah mendapatkan kue tersebut, Alea dan Emily bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Alea diikuti Emily langsung berlari menuju kamar tempat Kenzo dirawat. Tanpa memperhatikan ada Evan, Tara, dan Wayan, serta Emily yang datang bersamanya, Alea langsung berlari memeluk kakaknya yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit.
“Kakaak.” Kata Alea bahagia.
“Aduh duh duh Al. Punggung kakak masih sakit.” Kata Kenzo meringis menahan sakit.
“Eh, iya maaf kak.” Kata Alea melepas pelukannya. Alea dan Kenzo berpandangan cukup lama. Tiba-tiba Alea menangis.
“Alea sayang. Kenapa nangis? Kakak kan udah sadar.” Kata Kenzo.
“Kakak jahat. Kenapa lama banget sadarnya?” kata Alea sambil memeluk Kenzo lagi. Dengan lembut, Kenzo membelai rambut panjang Alea.
“Maafin kakak udah bikin kamu khawatir. Udah ya, jangan nangis lagi.” Kata Kenzo. Alea langsung menyeka air matanya. Evan, Tara, Wayan, dan Emily yang dari tadi hanya memperhatikan ikut senang melihat Kenzo dan Alea yang sudah bisa bersama lagi.
“Kakak..” kata Alea lirih.
“Iya Alea. Ada apa?” tanya Kenzo.
“Alea boleh cubit hidung kakak gak?” tanya Alea polos. Kontan Evan, Tara, dan Wayan tertawa mendengar permintaan aneh dari Alea.
Kenzo pun tersenyum mendengar permintaan adiknya itu. Dengan perlahan, diraihnya tangan kanan Alea kemudian diletakkannya jari-jari tangan Alea ke hidungnya. Tapi Alea tidak mencubitnya. Air mata Alea kembali mengalir. Alea kembali memeluk Kenzo. Tapi kali ini, Kenzo membiarkan Alea memeluknya dan menangis. Dia membiarkan Alea meluapkan semua rasa sedihnya selama ini.
Lelah menangis, Alea ternyata tertidur di pelukan Kenzo. Evan menawarkan diri untuk menggendong Alea, memindahnya ke sofa. Tapi Kenzo melarangnya. Dia membiarkan Alea tidur dengan pulas di pelukannya.
“Evan, Tara, Wayan. Makasih ya, kalian udah mau ngejaga adik gue Alea. Kalian emang sahabat terbaik gue.” Kata Kenzo.
“Yo’i sob. Kita kan, sahabat selamanya.” Kata Wayan.
“Iya Kenzo. Kita seneng kok bisa bantu loe.” Kata Evan sambil tersenyum memandangi Alea.
“Yaelah. Kalo si Evan kan emang suka sama Alea. Jadinya ya mau banget lah. Hahaha” Goda Tara.
“Apaan sih loe Tar.” Kata Evan malu. Kenzo, Tara, dan Wayan tertawa melihat wajah Evan yang memerah.
“Oh iya ada Emily juga. Hai, makasih ya udah nemenin Alea selama aku di sini.” Kata Kenzo kepada Emily yang dari tadi diam saja tak berani bicara.
“Eh? Eng. I..iya kak. Sama-sama.” Kata Emily gugup. Pipinya bersemu merah.
“Lah, loe bawa apaan tuh?” tanya Tara menunjuk ke plastik yang dipegang oleh Emily.
“Oh. Ini... eng... kue coklat, buat kak Kenzo.” Kata Emily sambil menyerahkan plastik berisi sekotak kue coklat kepada Kenzo. Tanpa sengaja, tangan mereka berdua bersentuhan. Degup jantung Emily semakin cepat.
“Mily.” Kata Kenzo. Emily semakin kaget mendengar suara Kenzo.
“Kok tangan kamu gemeteran kayak gitu? Kamu sakit?” tanya Kenzo. Pipi Emily memerah. Tiba-tiba dia menarik tangannya dan menggeleng.
“Temennya Alea kok aneh gini sih Yan?” tanya Tara kepada Wayan sambil berbisik.
“Itu namanya orang lagi jatuh cinta bego.” Bisik Wayan lalu melayangkan jitakan ke kepala Tara.
“Eh buset. Sakit Yan.” Kata Tara sambil mengusap kepalanya.
“Ssssttt, diem. Lanjutin dramanya dulu tuh.” Kata Wayan sambil mengedipkan mata ke arah Kenzo dan Emily. Tara hanya manggut-manggut.
“Sekali lagi, makasih banyak ya... Emily.” Kata Kenzo kepada Emily sambil tersenyum.
Emily melongo melihat senyum Kenzo. Bukan hanya Kenzo, tapi Tara, Wayan, bahkan Evan. Senyuman yang datang dari dalam hati. Senyuman yang belum pernah dilihat lagi oleh Evan, Tara, dan Wayan semenjak lama. Mereka bertiga pun ikut tersenyum senang melihat sahabatnya mulai menemukan lagi kepingan jalan hidupnya.
“Kak Kenzo kalo senyum cakep banget ya, kak Evan.” Suara lirih Alea mengagetkan Evan.
“Eh, Alea. Udah bangun?” tanya Evan kemudian. Alea hanya tersenyum.
“Lama banget aku gak liat kak Kenzo senyum kayak gitu. Dan ternyata Emily yang bisa bikin kak Kenzo senyum kakak gitu lagi.” Kata Alea. Evan sedikit terkejut mendengar kata-kata Alea. Tapi dia pun segera mengerti.
“Kamu bener Al. Semoga Emily adalah orang yang tepat buat Kenzo. Dan Kenzo mau buka hati dia untuk seseorang yang baru.” Kata Evan.
“Kak Evan.” Panggil Alea.
“Iya, Al. Ada apa?” tanya Evan.
“Eng. Gak papa. Gak jadi. Kapan-kapan aja deh.” Jawab Alea sambil nyengir.
“Ih, dasar kamu.” Kata Evan lalu mencubit hidung Alea lembut.
“Wayan, kayaknya bakal ada acara makan-makan dobel nih. Asiiik.” Celetuk Tara sehingga Kenzo-Emily dan Evan-Alea mendengarnya.
“Hahaha. Bener loe Tar. Jadian dobel, makan-makan juga dobel.” Timpal Wayan.
“Tara... Wayan... loe berdua belom pernah tahu rasanya dicincang sampe alus terus direbus di air mendidih ya?” tanya Kenzo sambil melancarkan tatapan mematikan ke arah Tara dan Wayan.
Melihat tatapan mata Kenzo, Tara dan Wayan pun tak berani bicara apa-apa. Tiba-tiba saja mereka berlutut berdampingan. Emily, Alea, dan Evan tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah lucu Tara dan Wayan yang ketakutan melihat tatapan mata Kenzo.
“Ampun yang mulia. Gue gak lagi-lagi deh. Ampuuun.” Kata Wayan.
“Iya yang mulia. Padahal loe udah cakep banget pas senyum tadi. Tapi kok berubah lagi jadi horor kayak cetan. Eeeeh.” Kata-kata Tara terhenti. Dia menutupi mukanya dengan kedua tangannya karena takut melihat mata Kenzo.
“Kak Evan. Itu pada ngapain sih. Lucu banget sih. Hahaha.” Tanya Alea.
“Oh, itu emang sisi lainnya Kenzo kalo ada yang macem-macem sama dia. Emang kamu gak tahu?”
“Baru kali ini kak. Tapi sumpah, kak Tara sama kak Wayan lucu banget. Hahaha.” Alea kembali tertawa.
“Makasih ya.” Kata Kenzo tiba-tiba. Semua yang ada di situ pun terdiam.
“Makasih kalian semua udah ada buat gue ketika gue ada di kondisi kayak gini. Evan, Tara, Wayan.” Lanjut Kenzo.
Evan, Tara, dan Wayan pun menghela nafas panjang. Dan tanpa berkata apa-apa, mereka langsung mengacungkan kepalan tinju mereka lalu menngubahnya menjadi acungan jempol ke arah Kenzo. Kenzo tersenyum lalu melakukan hal yang sama. Alea tersenyum bahagia melihat kuatnya ikatan persahabatan Kenzo dan ketiga sahabatnya itu.
“Adu duh duh.” Kenzo mengerang kesakitan sambil memegangi tangan kanannya lalu mencoba meletakkannya di pangkuannya.
“Kak Kenzo, awas pelan-pelan.” Kata Emily kemudian membantu Kenzo.
“Cieeeee...” ucap Evan, Tara, Wayan, dan Alea hampir bersamaan.
“Alea... kamu kok ikut-ikutan sama mereka sih...” kata Kenzo sambil melakukan tatapan mematikan seperti biasanya.
“Kak, udah. Istirahat dulu, supaya cepet sembuh. Yaaa.” Kata Emily mencoba menahan Kenzo. Kenzo pun menoleh dan dan belum sempat berargumen, tubuhnya sudah didorong oleh Emily. Tanpa berkata apa-apa, Kenzo pun menurut saja lalu memejamkan matanya.
“Buset tuh cewek sakti ya.” Celetuk Tara. Evan, Wayan, dan Alea pun manggut-manggut tanda setuju. Emily pun mengacungkan dua jari sambil tersenyum ke arah mereka V(^.^).
"Kayaknya kak Kenzo udah tidur." Bisik Emily ke arah yang lain setelah beberapa saat. Keempat makhluk yang dari tadi menjadi penonton pun hanya manggut-manggut sambil menahan nafas takut mengganggu tidur Kenzo.
Saat akan berjalan ke samping Alea, tiba-tiba tangan kirinya dipegang oleh Kenzo. Seolah mengerti maksud Kenzo, dia pun duduk di samping Kenzo. Dia melirik ke arah Kenzo yang matanya masih terpejam tapi ternyata sedang tersenyum.
Kak Kenzo ternyata jahil ya.” Batin Emily sambil tersenyum senang.
Dasar cewek lucu....” Batin Kenzo sambil masih tetap memejamkan matanya.

To be continued...
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
catatan-yang-terbuka
Stories from the Heart
cinta-agama--mama
Stories from the Heart
topan-badai-di-alam-bunian
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.