alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
30-11-2014 11:28
CERITA TENTANG KITA
Quote:
DISCLAIMER
Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, karakter, tempat, maupun cerita, itu semua hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.


Quote:Title : CERITA TENTANG KITA
Author : NVRstepback
Genre : Slice of Life, Drama, Romance, Family


INDEKS
:
Quote:Act 1 - "A Meeting"
Act 2 - "Crash!"
Act 3 - "Awake"
Act 4 - "A 'Normal' Day"
Act 5 - "Jealous"
Act 6 - "Preparation"
Act 7 - "Surprise!"
Act 8 - "His Story"
Act 9 - "An Old 'Friend'"*NEW!
Act 10 - "Memory" *NEW!





Quote:
note nov2017: lanjut lagi setelah kentang 3 taun..
update index, linkpost menyusul
Diubah oleh nvrstepback
0
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
30-11-2014 16:08
Quote:
Act 2 - "Crash!"

Emily, Liana, dan Gea sudah duduk kembali di dalam hall untuk bersiap mengikuti lanjutan acara penyambutan mahasiswa baru. Namun pikiran mereka masih tertuju pada Alea yang sekarang sedang tidak bersama mereka. Di dalam hall, begitu riuh dengan suara percakapan para mahasiswa baru.
“Selamat siang teman-teman.” Suara seorang di atas panggung mengubah suasana ruang hall menjadi begitu hening. Seorang cowok dengan wajah tampan yang agak tertutup oleh rambut keritingnya yang panjang terlihat menenteng gitar berdiri di atas panggung hall.
“Nah, itu dia artis kita dateng. Untung kita gak telat nyampe sini.” Kata Tara. Kenzo hanya tersenyum melihat kehadiran Wayan yang tidak disangka-sangka.
“Oke, kenalin nama gue Wayan Svastika. Kalian bisa panggil gue Wayan. Di sini, gue bakal berusaha menghibur kalian teman-teman mahasiswa baru dengan beberapa lagu. Semuanya setuju?” Tanya Wayan
“SETUJU!!!” Terdengar koor kata setuju diikuti riuh tepuk tangan para mahasiswa baru terutama dari para mahasiswi.
Wayan pun mulai memetik senar-senar gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu. Suasana hall kembali hening, hanya terdengar suara Wayan diikuti alunan gitarnya yang seolah menyihir seisi hall agar dengan khidmat memperhatikan sosoknya dan mendengarkan suaranya.
“Bener-bener Voice of God.” Kata Kenzo. Tara mengangguk tanda setuju pada Kenzo.
***
Sementara itu di klinik kampus...
“Alea.” Kata Evan pelan.
“Iya kak.” Jawab Alea.
“Kamu udah gak papa?” tanya Evan.
“I..iya kak. Udah gak papa kok.” Jawab Alea sedikit canggung karena dia tidak terbiasa berduaan dengan seorang cowok selain papa dan kakaknya, Kenzo.
“Emm.. Alea, boleh tanya sesuatu gak?”
“Apa itu kak?”
“Kenapa kamu tadi nangis histeris?” tanya Evan. Alea terdiam sejenak. Wajahnya berubah murung.
“Eh, kalo kamu gak mau jawab, gak papa kok. Aku...” belum sempat Evan menyelesaikan kata-katanya, Alea langsung berbicara.
“Aku takut darah kak. Semuanya bermula waktu aku masih kecil. Waktu itu aku sama kak Kenzo lagi main kejar-kejaran. Karena masih kecil, aku gak tau kalo ternyata aku lari ke jalan raya. Pas ada mobil yang hampir nabrak aku, tiba-tiba kak Kenzo ngedorong aku sampe jatuh. Kak Kenzo yang ketabrak. Dan kepalanya...” Alea tak melanjutkan kata-katanya. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang sembab karena kembali menangis.
“Udah Alea, jangan diterusin.” Kata Evan menenangkan Alea. Tiba-tiba Alea memeluk Evan.
“Kak Evan, tolong jagain kak Kenzo buat aku ya.” Kata Alea lirih.
“I..Iya Alea, ta..tapi.” kata Evan terbata-bata. Alea baru sadar kalau dia memeluk Evan.
“Eh, ma..maaf kak.” Kata Alea buru-buru mundur dari Evan. Wajah mereka bersemu merah.
“Kak...” panggil Alea.
“Iya, Al. Ada apa?” tanya Evan.
“Apa bener. Kak Kenzo pernah kecelakaan?” tanya Alea. Evan kaget karena Alea bisa tau.
“Al... gimana kamu bisa tau?” tanya Evan tiba-tiba.
“Tolong kak. Kasih tau aku.” Ujar Alea memelas. Evan yang berusaha tidak mengatakannya pun tak sanggup menahannya.
“Iya Al. Dulu. Tapi mungkin...” Evan berdiri kemudian berjalan ke arah pintu kemudian berbalik ke arah Alea, “Kenzo udah lupa kalo dia pernah ngalamin kecelakaan itu.”
“Maksud kakak?” Alea mengernyitkan dahinya.
“Kenzo ngalamin short-periode amnesia. Dia lupa sama semua kejadian sebelum kecelakaan itu. Lebih tepatnya, kenangan-kenangan tentang seseorang yang udah pernah Kenzo alami sebelum kecelakaan termasuk kecelakaan itu.” Evan sudah kembali duduk di hadapan Alea.
“Seseorang? Pacarnya kak Kenzo?” tanya Alea lagi.
“Kalo untuk itu, cepat atau lambat kamu pasti bakal tau kok Al.” Evan pun tersenyum.
Alea terdiam. Rasa penasarannya sedikit terobati tentang kecelakaan yang pernah dialami oleh Kenzo. Namun tanda tanya kembali menggantung di dalam kepalanya tentang kenangan apa yang pernah dialami oleh Kenzo.
***
“Jrenggg.” Wayan selesai menyanyikan sebuah lagu. Suasana hening. Tak lama kemudian tepuk tangan mulai bergemuruh.
“Terimakasih.” Kata Wayan sambil membungkukkan badan kemudian bangkit berjalan menuruni panggung.
Pembawa acara pun kembali memandu jalannya acara hingga selesai. Sesampainya di belakang panggung, Wayan sudah disambut Kenzo dan Tara.
“Selalu bisa menyihir pendengar loe.” Kata Tara memuji Wayan.
“Alah, loe bisa aja sob. Sorry ya gue telat.” Kata Wayan.
“Iya, gak papa. Yang penting loe bisa dateng trus berhasil nyihir seisi hall.” Kata Kenzo.
“Haha. Loe bisa aja deh Kenzo.” Kata Wayan yang kemudian duduk dan memainkan gitarnya.
“Kenzo. Acara udah selesai nih. Loe gak nengokin Alea?” tanya Tara.
“Oh iya. Ya udah, gue ke klinik dulu ya. Bye.” Kata Kenzo kemudian pergi. Tara mengangguk.
“Klinik? Ngapain woy?!” tanya Wayan yang menghentikan permainan gitarnya.
“Datengin adik gue.” Kata Kenzo sambil berlalu. Wayan bingung. Tara tertawa melihat kebingungan di wajah Wayan.
“Tar, emang si Kenzo punya adik ya? Apa jangan-jangan pacar dia lagi.” Tanya Wayan kepada Tara.
“Hahaha. Muka loe aneh Yan. Iya, Kenzo punya adik. Cewek, cantik banget kayak bidadari.” Jawab Tara.
“Seriusan cantik? Sama Taylor Swift cantikan mana?” tanya Wayan dengan wajah penasaran.
“Hahaha. Loe lihat sendiri aja deh nanti. Udah ah ke kantin yuk, gue laper nih.” Tara langsung berjalan meninggalkan Wayan yang masih penasaran dengan adik Kenzo.
“Oy! Tungguin gue!” teriak Wayan berusaha mengejar Tara.
***
Kenzo berjalan sendirian keluar hall. Dia melangkah sambil merenung. Kenzo teringat pada kejadian yang menimpa Alea tadi. Langkahnya terhenti karena ada rasa sakit di kepalanya. Dia memegangi kepalanya kemudian mengacak-acak rambutnya.
“Alea.. apa kamu masih dihantui trauma itu..” batin Kenzo.
“Hai Kenzo.” Panggil seseorang yang tiba-tiba muncul membuyarkan lamunan Kenzo.
“Kok sendirian? Tara sama Evan mana?” tanya cewek berwajah oriental dengan rambut sebahu yang tersenyum manis ke arah Kenzo.
“Ve.” Kata Kenzo dengan nada tegas.
“Iya?” Ve kaget mendengar suara tegas Kenzo.
“Gue peringatin ke loe. Jangan pernah ganggu atau sentuh Alea, atau loe bakal berhadapan sama gue. Ngerti loe?!” kata Kenzo kemudian pergi dari situ.
Ve kaget mendengar kata-kata Kenzo tadi. Dia masih heran kenapa Kenzo bisa tiba-tiba begitu dekat dengan Alea, seorang mahasiswa yang baru saja masuk. Padahal selama ini yang dia tau Kenzo gak pernah dekat dengan cewek. Rasa bencinya pada Alea pun semakin besar. Ve pun semakin yakin untuk mencelakai Alea tak peduli resiko yang akan ditanggungnya.
Sesampainya di depan klinik, Kenzo tak langsung masuk. Dia mendengar percakapan Alea dan Evan yang terdengar begitu hangat dan menyenangkan. Kenzo tersenyum, kemudian masuk.
“Permisiii...” ucap Kenzo membuat Alea dan Evan terkejut.
“Eh, loe Kenzo.” Kata Evan menyambut kedatangan Kenzo.
“Kakaaak.” Kata Alea yang kemudian berhambur memeluk kakak tersayangnya itu. “Kakak ke mana aja? Kakak gak kenapa-kenapa kan?”
“Alea sayang, kakak tadi kan di hall. Ini, sekarang udah di sini.” Kata Kenzo sambil tersenyum. Alea tertunduk, wajahnya murung.
“Ih, senyum dong, jangan manyun gitu. Nanti cantiknya ilang lho.” Kata Kenzo menggoda Alea. Alea pun mencubit hidung Kenzo.
“Aaaawww!!” Evan dan Alea tertawa melihat Kenzo kesakitan memegangi hidungnya.
“Van, makasih ya udah mau jagain Alea. Gue ajak dia makan dulu.” Kata Kenzo ke Evan.
“Iya sob, sama-sama.” Kata Evan. Kenzo mengajak Alea keluar klinik. Evan dan Alea sempat saling curi pandang dan melempar senyum. Kenzo yang mengetauinya hanya tersenyum.
Kenzo dan Alea berjalan berdampingan menuju kantin. Alea mengandeng tangan kakaknya dengan erat. Yang tidak tau, pasti akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.
“Alea.” Kata Kenzo menghentikan langkahnya.
“Ada apa kak?” tanya Alea. Tiba-tiba saja Kenzo berdiri di hadapannya
“Jangan cubit hidung kakak teruuusss. Nanti hidung kakak tambah mancuuuungg. Terus nanti kalo kakak tambah cakep gimanaaa.” Kata Kenzo sambil mencubit kedua pipi Alea.
“Aduuuhhh. Kakaaaaakkk! Jangan narsiiisss!” teriak Alea. Kenzo langsung berlari diikuti Alea yang berlari mengejarnya.
Sesampainya di kantin, Kenzo memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Kemudian mereka duduk.
“Kakak.” Kata Alea.
“Iya Al. Ada apa?” tanya Kenzo.
“Alea seneng bisa sama-sama kak Kenzo lagi.” Kata Alea.
“Yakin? Apa cuma seneng cubitin hidung kakak aja?” tanya Kenzo menggoda.
“Itu salah satunyaaa.” Kata Alea kemudian langsung mencubit hidung Kenzo yang ada di hadapannya.
“Aduuuhhh!” teriak Kenzo diikuti tawa Alea. Kenzo memegangi hidungnya yang masih terasa sakit. Tapi rasa sakit itu terobati seketika saat melihat Alea tertawa bahagia.
“Kakak jangan jauh-jauh dari Alea. Alea gak mau jauh dari kakak lagi kayak pas Alea di Jepang.” Kata Alea.
“Iya adiknya kak Kenzo yang paling cantik. Kakak janji, gak akan jauh-jauh dari Alea.” Kata Kenzo menenangkan Alea. Makanan dan minuman pesanan mereka sudah datang. Mereka pun segera menyantapnya.
“Al, kak Evan menurut kamu orangnya gimana?” tanya Kenzo tiba-tiba. Hampir Alea tersedak.
“Orangnya baik kak. Juga pinter ngelawak.” Kata Alea malu-malu.
“Cieee... kamu suka ya sama kak Evan? Dia masih single loe.” Goda Kenzo.
“Ih, kakakku kok sok tau sih.” Kata Alea.
“Yaaa... kalo emang kamu suka sama Evan, kakak juga gak masalah kok. Yang penting jangan sama si Tara aja.” Kata Kenzo.
“Hahaha. Iya iya kak. Tapi kan tujuan utama Alea di sini buat fokus kuliah, dan...” Alea menggantung ujung kalimatnya.
“Dan?” Kenzo penasaran.
“Ngurusin kakakku yang cakep tapi teledornya minta ampuuun.” Kata Alea kemudian tertawa.
Saat asyik bersenda gurau, mereka tidak sadar kalau ada Ve yang dari tempat lain sedang memperhatikan mereka. Hatinya begitu panas melihat kemesraan Kenzo dan Alea. Dia tak bisa berpikir jernih. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana cara memberikan pelajaran kepada Alea karena sudah berani mendekati Kenzo, cowok yang dia sukai.
***
Pukul 3 sore, acara sudah selesai. Seluruh mahasiswa baru dan juga para panitia bergegas meninggalkan pulang. Kenzo dan Alea pun sedang bersiap untuk pulang. Saat akan menyalakan motor, Kenzo tersadar kalau ada sesuatu yang hilang. Kunci motornya.
“Yah, kunci motornya kok gak ada ya Al.” Kata Kenzo.
“Aduh, penyakit teledornya kakak nih. Yaudah, yuk dicari dulu” kata Alea.
Kenzo dan Alea pun menyusuri sepanjang jalan dari tempat parkir ke hall. Mereka hampir putus asa karena tidak segera menemukannya. Kemudian Alea pun berhasil melihatnya.
“Kak, itu kak!” teriak Alea.
“Mana?” tanya Kenzo.
“Itu.” Kata Alea sambil menunjuk ke arah kunci motor yang ada di tengah jalan masuk kampus. Saat Kenzo hendak mengambilnya, Alea mencegahnya.
“Udah kak, biar aku aja yang ambil.” Kata Alea kemudian berlari untuk mengambil kunci tersebut.
Alea segera mengambil kunci motor Kenzo, tapi tiba-tiba dari belakang muncul mobil yang meluncur hendak menabrak Alea. Kenzo menyadarinya, kemudian berlari mendorong tubuh Alea hingga terjatuh. Kenzo terlambat menghindar hingga akhirnya dia tertabrak dan terjatuh dengan kepala membentur aspal dengan cukup keras.Namun sebelum terhempas tadi, Kenzo sekilas melihat siapa yang ada di balik kemudi itu. Tak berapa lama kemudian, Kenzo kehilangan kesadaran dan penabrak melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan tempat itu.
“Kakaaak!!!!” Alea yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan berlari menghampiri Kenzo. Alea berusaha membangunkan kakaknya yang terkapar dengan kepala bersimbah darah. Dan ketika dia melihat darah yang di kepala Kenzo, tubuh Alea bergetar. Dia berteriak histeris.
“Aaaaakkk!!!”
“Van, Yan, loe denger ada yang teriak-teriak gak?” ucap Tara. Evan dan Wayan pun segera menajamkan pendengaran mereka.
“Itu kan suara Alea. Alea!!!” teriak Evan kemudian berlari ke arah suara tersebut. Tara, dan Wayan pun bergegas berlari mengejar Evan.
Laju lari Tara dan Wayan terhenti melihat Evan yang berusaha menenangkan Alea yang ketakutan dan sosok yang tergeletak berlumuran darah di sebelahnya. Kenzo.
“Wayan! Buruan loe ambil mobil loe! Cepetan!” teriak Tara. Tanpa ada kata apa-apa, Wayan langsung berlari ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
Mereka segera menolong Kenzo dan membawanya ke rumah sakit.Evan masih membantu Alea untuk menenangkan diri. Alea masih menangis, wajahnya sangat pucat. Kedua tangannya masih kotor dengan darah Kenzo. Tak henti-hentinya dia memanggil nama Kenzo yang kini tak sadarkan diri. Wayan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di depan, ada Tara yang mengendarai motor untuk membuka jalan.
Sesampainya di rumah sakit, Kenzo langsung mendapatkan perawatan di ruang ICU. Alea, Evan, Tara, dan Wayan duduk di luar ruang ICU menunggu kabar kondisi dari Kenzo.
“Dok, bagaimana kondisi kakak saya?” tanya Alea ketika dokter sudah keluar dari ruang ICU.
“Alhamdulillah, kondisi kakak anda sudah stabil. Tidak ada luka serius, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi benturan yang cukup keras menimbulkan efek kejut yang cukup hebat bagi kepalanya. Jadi kita tunggu saja sampai dia sadarkan diri. Kakak anda orang yang kuat.” Terang dokter sambil tersenyum kemudian pergi dari situ.
Alea tertunduk. Evan, Tara, dan Wayan pun menghela nafas lega mendengar penjelasan dari dokter tadi. Tapi tentu saja mereka masih belum mampu menghapuskan rasa khawatir mereka karena Kenzo belum sadarkan diri. Tiba-tiba saja terdengar isak tangis Alea.
“Alea.” Evan berjalan ke arah Alea yang masih tertunduk.
“Sabar ya, Kenzo pasti segera sadar. Kita tungguin. Semangat OK?” Evan mengusap lembut kepala Alea. Tiba-tiba saja Alea langsung ambruk ke arah Evan. Evan pun langsung menahan tubuh Alea kemudian memeluknya.
“Van, tuh si Alea kenapa? Pingsan?” tanya Tara panik. Tiba-tiba saja Wayan menahan pundak Tara sambil tersenyum.
“Kayaknya dia kecapekan gara-gara banyak kejadian di hari pertama dia di kampus.” Jawab Evan sambil memperhatikan wajah Alea yang nampak begitu lelah dengan air mata yang perlahan mengering.
“Eh, Tara.” Bisik Wayan.
“Apaan Yan? Pake bisik-bisik segala.”
“Ternyata Alea lebih cantik daripada Taylor Swift.” Bisik Wayan lagi. Tara menepuk jidatnya mendengar kata-kata Wayan.

To be continued...
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-kepergian-rio
Stories from the Heart
rahasia-malam
Stories from the Heart
gie
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.