TS
stavoll
[ sejarah & Foto-foto] Kekejaman- Westerling hitlernya belanda
![[ sejarah & Foto-foto] Kekejaman- Westerling hitlernya belanda](https://s.kaskus.id/images/2014/11/07/6693250_20141107020321.jpg)
“Kenapa anda tidak menembak Soekarno waktu kudeta dulu?” , Kapten Westerling ditanya. Apa jawabnya? Kapten yang pernah mengatakan bahwa Soekarno adalah tokoh yang paling dibencinya, menjawab: “Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga Soekarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan”. Dengan kata lain Westerling ingin menghina Soekarno, bahwa pelurunya lebih mahal daripada nyawa Soekarno.
Indonesia tentu saja geram dengan penghinaan itu. Beberapa kali ada usaha untuk mengekstradisi Westerling ke Indonesia. Sayangnya usaha itu tak pernah terwujud sampai meninggalnya Westerling tahun 1987 dalam usia 68 tahun di Purmerend Belanda. Beberapa jam sebelum meninggal akibat serangan jantung, Westerling dikabarkan marah-marah pada wartawan Belanda yang tidak pernah berhenti menguber noda masa lalunya.
Permintaan untuk mengekstradisi dan mengadili Westerling terutama bukan karena penghinaan tadi. Tapi juga karena kekejamannya di masa agresi militer Belanda plus percobaan kudetanya terhadap Presiden Soekarno. Kekejaman Westerling dituding memakai cara-cara Gestapo. Tudingan ini bukan hanya dari pihak Indonesia, tapi tudingan pada Westreling ini justru sangat gencar datang dari orang Belanda sendiri, terutana kaum peduli HAM.
Harian “De Waarheid” di Belanda menurunkan berita bulan Juli tahun 1947, isinya tentang kekejaman Westerling yang dinilai sama dengan kekejaman pasukan Jerman di PD II. Kemudian harian “Vrij Nederland” Juli 1947, juga merinci bagaimana kekejaman Westerling. Misalnya menyuruh dua tawanan bertarung. Lalu yang kalah ditembak mati. Termasuk mengeksekusi orang-orang tak bersalah di depan umum. Maksudnya untuk menakut-nakuti penduduk lain agar mereka mau buka mulut tentang persembunyian gerilyawan.
“Semua orang kampung, juga perempuan dan anak-anak, dikumpulkan dan ditembaki satu per satu. Saya pura-pura mati dan menjatuhkan diri di antara timbunan mayat berlumuran darah Saya tidak berani bergerak sebelum merasa yakin, Westerling dan pasukannya itu benar-benar telah pergi jauh”. Begitulah kesaksian seorang penduduk di Makassar atas aksi kekejaman Westerling.
Ketika masih bekerja di Jakarta, saya pernah mewawancarai seorang pejabat militer yang bermukim di bilangan Matraman Jakarta. Wawancara itu antara lain menyinggung tentang pengalamannya bertemu Westerling. Pak Suryadi bercerita, dia sempat ditahan di sel oleh Westerling. Di sel itu selama hampir tiga hari dia digantung dengan kepala di bawah dan kaki di atas. “Rasanya saya sudah hampir mati saja. Untung saja saya tidak sampai dibunuh”.
Raymond Paul Pierre Westerling, lahir di Istanbul 31 Agustus 1919, adalah tentara bayaran Belanda. Ayahnya Belanda, ibunya Turki. Tapi ada juga yang mengatakan ibunya orang Yahudi, ada yang mengatakan orang Yunani yang lahir di Turki. Simpang siur. Maklumlah, sejak usia 5 tahun Westerling mesti hidup sendiri di panti asuhan karena ditinggal kedua orangtuanya. Mungkinkah kekerasannya disebabkan sejak usia dini dirinya terpaksa tumbuh sendiri di jaman perang yang ganas, tanpa belaian kasih sayang orangtua?
Kapten ini biasa juga dipanggil “Turk”, panggilan yang biasanya ditujukan buat orang-orang berdarah Turki di Belanda.
Dia bisa bergabung dengan kesatuan Belanda, setelah mendatangi konsulat Belanda di Istanbul dan menawarkan diri sebagai sukarelawan perang. Kebrutalannya dan nalurinya sebagai penjagal mungkin membuat perang menjadi tempat yang cocok untuknya. Dia sendiri pernah mengakui, dalam perang dia menemukan kesenangannya. Keahliannya dalam kemiliteran adalah sabotase dan peledakan. Dia digojlok dalam satuan komando dengan training yang karena begitu kerasnya disebut “neraka dunia”, di Pantai Skotlandia yang dingin kosong melompong tanpa penghuni. Latihan keras untuk meraih baret hijau itu antara lain bertarung dan membunuh dengan tangan kosong, tanpa suara.
Berbekal segudang training berat kemiliteran, akhirnya Westerling sang tentara bayaran ditugaskan ke Indonesia untuk menumpas pemberontakan. Tugas sebagai pimpinan pasukan komando baret merah berada di pundaknya.
Seorang eks anak buahnya menggambarkan Westerling sebagai, “Orang yang kejam, tidak menghargai hidup dan suka melanggar janji. Dia bisa membiarkan tahanan di sel berhari-hari tanpa diberi makanan. Kadang dijanjikannya bahwa tawanan akan dilepaskan kalau mereka mau menolong Westerling. Tapi setelah tawanan itu sudah terlalu lemah dan tidak bisa lagi berjalan, malah langsung ditembak mati”.
Bahkan bagi anak buahnya sendiri, kekejamannya kadang dinilai keterlaluan. Sampai kadang ada yang menolak melaksanakan perintahnya, karena tak sampai hati menembak tawanan. Akibatnya anak buah yang membangkang tentu saja harus menerima hukuman indisipliner dari sang kapten ini.
Di Indonesia Westerling dikenal sebagai “algojo” yang melakukan pembantaian berkubang darah, terutama di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Dari kota Makassar sampai kabupaten Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Enrekang. Kejadian itu sekitar Desember 1946 – Februari 1947. Korban terbanyak adalah di Galung Lombok, kabupaten Barru. Untuk mengenang sejarah kelam itu, pemerintah kota membangun tugu di kota Makassar, disebut monumen korban 40.000 jiwa. Apakah betul sebanyak 40.000 jiwa, hingga kini masih diperdebatkan kebenarannya jumlahnya. Namun ada satu hal yang jelas. Nyaris semua kesaksian, baik pihak Indonesia maupun pihak Belanda sendiri membenarkan bagaimana kejinya kekejaman Westerling. Dia adalah prajurit yang sangat mudah menembak mati seseorang, tanpa alasan jelas. Seperti menembak burung saja. Itu belum terhitung menyiksa tawanan secara tidak berperikemanusiaan.
Untuk menggambarkan kekejaman Westerling yang berdarah dingin itu, J. Dancey seorang perwira Inggris bercerita, “Suatu pagi saya mendatangi Westerling untuk minum dan ngobrol bersama. Tiba-tiba dengan tenang dia mengambil potongan kepala dari keranjang sampah di samping meja kerjanya. Katanya itu potongan kepala dari pimpinan pemberontak yang baru saja dipenggalnya”. Westerling seakan ingin mengajari perwira Inggris itu, “begini lho caranya kalau mau menumpas pemberontakan!”.
Situasi perang kadang membuat seorang prajurit mesti bertindak “saya yang mati atau kamu yang mati”. Sehingga mau tidak mau, kadang mesti membunuh. Namun itu tidak berarti prajurit tidak pakai aturan dan diperbolehkan membunuh sesuka hati. Tetap ada aturannya. Jika tidak, maka bisa kena tuduhan melakukan pelanggaran HAM.
Karena melakukan pembunuhan seenak perutnya sendiri, maka perbuatan Westerling tergolong pelanggaran HAM dan dituding melakukan kejahatan perang. Westerling memang menumpas pemberontakan dengan caranya sendiri. Dengan cara bengis dan kejam. Padahal ketika itu sesuai ketentuan Westerling harus berpegang pada Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di Bidang Politik dan Polisional. Karena keluar dari pedoman komando, Westerling pun dipecat tahun 1948. Di Belanda pun, status Westerling masih sering diperdebatkan. Pahlawan atau penjahat?
Sebagian pihak di Belanda pernah mengelu-elukan Kapten Westerling sebagai pahlawan yang berhasil menumpas pemberontakan. Tapi ada juga kaum kritis di Belanda yang mengatakan Westerling itu cuma seorang penjahat perang.
Westerling dikerumuni wartawan di aiport di Brussel setelah melarikan diri dari Indonesia
Jika saya ke Indonesia, kadang ditanya, “Kenapa sih kamu menikah dengan orang Belanda?. Mereka itu kan penjajah?!”. Bahkan saya pernah bertemu orang yang menolak menyopir mobil karena di antara rombongan ada orang Belandanya.
Jaman sudah berubah. Sejarah bergulir dengan cepat. Namun dendam sejarah masa lampau masih membuat sebagian orang Indonesia tetap menyimpan citra kelabu tentang Belanda.
Faktanya, justru rakyat Belanda sendiri yang mendesak pemerintah Belanda untuk minta maaf terhadap rakyat Indonesia atas kejahatan perang di masa lalu. Bahkan penyelidikan dan penelitian tentang kejahatan dan pelanggaran HAM agresi militer Belanda diungkap sendiri oleh para sejarawan Belanda dan pers Belanda sendiri.
Karena itu sekarang mulai sedikit terkuak misteri, mengapa di masa hidupnya Westerling bisa leluasa bergerak sana-sini. Ini janggal. Apalagi gara-gara kebengisannya di Sulawesi Selatan, ketika itu Westerling sudah dipecat dari kesatuannya. Tapi anehnya, sesudah itu Westerling malah berhasil mendirikan organisasi rahasia, mengumpulkan kekuatan, pendukung dan punya kekuatan senjata. Puncaknya di tahun 1950 malah melakukan kudeta terhadap Indonesia sebagai negara berdaulat. Padahal sehebat-hebatnya Westerling, seberapa hebat sih kekuatan seorang tentara sewaan?
Aneh. Sudah jelas-jelas melakukan kejahatan perang, dipecat, tidak punya fungsi strategis apa-apa di kemiliteran tapi kok bisa lepas dari jerat hukum? Ditambah masih kurang ajar berani mengkudeta Soekarno pula. Padahal ketika itu banyak suara, baik dari pihak Indonesia maupun Belanda sendiri yang ingin Westerling diseret ke mahkamah militer.
Boro-boro diajukan ke pengadilan, tahu-tahu setelah pemecatannya, malah terdengar kabar Westerling berhasil mengumpulkan 500.000 pengikut dan mendirikan organisasi rahasia bernama “Ratu Adil Persatuan Indonesia” (RAPI), dilengkapi kesatuan bersenjata yang dinamakan “Angkatan Perang Ratu Adil” (APRA).
Dengan organisasinya itu, tahun 1950 Kapten “Turk” alias Westerling bekerja sama dengan Darul Islam Jawa Barat mengadakan kudeta yang dikenal dengan peristiwa “kudeta 23 Januari”. Di balik kudeta ini kemudian terungkap juga keterlibatan Sultan Hamid II, eks perwira KNIL (beristrikan wanita Belanda), putra sulung Sultan Pontianak. Motif kudeta di antaranya ingin mendirikan negara sempalan yang bernama Negara Pasundan. Pasukan Westerling menembaki setiap tentara TNI yang ditemui. Sebanyak 79 pasukan Siliwangi dan enam penduduk sipil gugur.
Tapi kudeta itu berhasil digagalkan pasukan TNI. Kegagalan kudeta itu antara lain karena diwarnai desersi anak buah Westerling sendiri. Pemerintah dan militer Belanda sendiri mengaku tidak pernah mendukung kudeta itu. Walaupun demikian, tak bisa disangkal adanya andil dari “oknum” Belanda - siapapun dan apapun namanya, terhadap suksesnya Westerling meloloskan diri ke Belanda.
Sejak peristiwa kudeta gagal itu, Westerling semakin menjadi buruan Indonesia. Namun berkat koneksinya dengan beberapa pejabat militer, akhirnya Westerling dengan menumpang pesawat Catalina berhasil lari ke Singapura. Di negara ini dia sempat ditahan oleh pasukan Inggris selama dua minggu. Namun selanjutnya “Kapten Turk” berhasil lari ke Belgia. Sesudah itu secara diam-diam masuk ke Belanda. Permintaan Indonesia untuk mengekstradisi Westerling tak pernah dikabulkan.
Pemerintah Indonesia tentu saja tahu bahwa tuntutan HAM tidak pernah mengenal batas kadaluarsa. Jika hingga kini tak pernah terdengar adanya tuntutan Indonesia terhadap Belanda terkait masalah ini, mungkinkah karena didasari pertimbangan politis tertentu?
Lolosnya Westerling dari jeratan hukum, menimbulkan pertanyaan yang beberapa lama tidak pernah terjawab. “Mengapa selama itu Westerling bisa lenggang kangkung di balik semua pelanggaran yang sudah dilakukannya? Adakah orang kuat di belakang Westerling? Adakah konspirasi di balik kudeta Westerling? Siapa orang kuat di balik kudeta Westerling? Dari mana Westerling bisa memperoleh senjata? Seberapa besar kekuatan tentara bayaran Westerling hingga bisa membentuk pasukan elit-nya sendiri untuk melakukan kudeta?”.
Latar belakang Westerling ternyata tidak sesederhana yang diduga. Westerling pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, pernah bekerja untuk dinas rahasia Belanda di London dan akhirnya benang merahnya.....tahun 1944 pernah bekerja sebagai pengawal pribadi Pangeran Bernhard.
Akhirnya teka-teki di balik kejanggalan semua ini terkuak, melalui penelusuran dan penelitian sejarawan Belanda bernama Harry Veenendaal dan wartawan Belanda, Jort Kelder.
Setelah mengadakan penelitian selama 8 tahun, keduanya berhasil mengumpulkan bukti dan dokumen tentang keterlibatan Pangeran Bernhard di balik kudeta Westerling. Rupanya suami Ratu Juliana itu ingin seperti Lord Mountbatten yang pernah menjadi raja di India. Jika kudeta Westerling itu berhasil, menurut bukti-bukti yang ada, disebutkan Pangeran Bernhard ingin menjadi raja di Indonesia. Apakah sang Pangeran ingin mempunyai fungsi penting lain daripada “cuma” sebagai suami ratu?
Temuan di atas berdasarkan kesaksian dari laporan Marsose dan buku harian sekretaris pribadi istana, Gerrie van Maasdijk. Sekretaris ini dulu dipecat setelah konfliknya dengan Pangeran Bernhard. Penemuan itu dirangkum dalam buku berjudul “ZKH”, Zijne Koninkelijke Hoogheid (Paduka Yang Mulia Pangeran). Menurut penyelidikan ternyata Westerling pernah mengadakan kontak rahasia dengan staf Pangeran Bernhard sehubungan dengan kudeta itu.
Penelusuran mengarah ke bukti-bukti adanya bantuan rahasia penyaluran senjata dari pihak Pangeran Bernhard terhadap pasukan Westerling. Bahkan ada temuan yang menunjukkan bahwa sang Pangeran sudah mengantisipasi jika kudeta itu berhasil. Yaitu permintaan bantuan kepada Jendral Douglas Mac Arthur sebagai panglima di pangkalan Pasifik untuk mengirim pasukannya, jika kudeta Westerling sukses dan menimbulkan perang saudara.
Kalau kita harus menentukan pemenang di antara Westerling, Soekarno, Pangeran Bernhard: siapakah setelah perang yang pantas disebut sebagai pemenang? Westerling yang walaupun disebut penjahat perang, tapi sampai mati tidak pernah diseret ke mahkamah militer? Presiden Soekarno yang gagal dikudeta Westerling (tapi berhasil dikudeta “geger 1965”)? Pangeran Bernhard yang terkesan “immun” karena posisinya sebagai suami sang Ratu?
Quote:
Disini saya hanya mencoba copy paste kisah sejarah dari beberapa sumber jika ada kesalahan mohon maaf yang sebesar-besarnya

Diubah oleh stavoll 07-11-2014 15:47
0
24.1K
40
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Militer
20.4KThread•10.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
stavoll
#14
Pasca operasi militer
Jenderal Spoor menilai bahwa keadaan darurat di Sulawesi Selatan telah dapat diatasi, maka dia menyatakan mulai 21 Februari 1947 diberlakukan kembali Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger – VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dan Pasukan DST ditarik kembali ke Jawa.
Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis, di kalangan Belanda baik militer mau pun sipil reputasi Pasukan Khusus DST dan komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massa Belanda memberitakan secara superlatif. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada 23 Maret 1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita: “Pasukan si Turki kembali.” Berita pers Belanda sendiri yang kritis mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada bulan Juli 1947.
Kamp DST kemudian dipindahkan ke Kalibata, dan setelah itu, karena dianggap sudah terlalu sempit, selanjutnya dipindahkan ke Batujajar dekat Cimahi. Pada bulan Oktober 1947 dilakukan reorganisasi di tubuh DST dan komposisi Pasukan Khusus tersebut kemudian terdiri dari 2 perwira dari KNIL, 3 perwira dari KL (Koninklijke Leger), 24 bintara KNIL, 13 bintara KL, 245 serdadu KNIL dan 59 serdadu KL. Pada tanggal 5 Januari 1948, nama DST diubah menjadi Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit parasutis. Westerling memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya menjadi Kapten.
Pembantaian Westerling Direstui
nederlandsindiecom-knilAksi pembantaian yang dilakukan Kapten Westerling ikut diketahui oleh Kolonel De Vries. “De Vries sendiri hadir dalam salah satu pembantaian. Dia lalu muntah-muntah meninggalkan lokasi,” kesaksian Groenendaal, salah satu prajurit komando anak buah Westerling.
Pejabat tinggi lainnya juga mengetahui aksi pembantaian itu. Pada awal 1947, menyusul laporan mengenai aksi pembantaian Westerling di Sulawesi itu, digelar rapat di mana Direktur Kabinet P.J. Koets, Jaksa Agung H.W. Felderhof, Direktur Urusan Umum P.J. Idenburg dan Direktur Departemen Delam Negeri dr. W. Hoven hadir di situ.
Menurut Koets, juga dikonfirmasi oleh Idenburg, dalam rapat itu diputuskan untuk tidak melegitimasi metode pembantaian Westerlingn. Namun aksi Westerling itu mendapat persetujuan dari semua pejabat tinggi yang hadir.
Dalam nota di kemudian hari, Jaksa Agung Felderhof menulis bahwa metode Westerling itu “diperbolehkan dalam situasi genting, yang dapat memaksa diterapkannya pengadilan dan eksekusi tanpa proses hukum,”
Westerling dipercaya penuh mampu untuk mengendalikan diri dalam batas-batas tertentu. Namun, perwira-perwira lainnya dalam rapat itu tidak diperbolehkan melakukan tindakan atau aksi seperti dilakukan oleh Westerling.
Sulawesi – Jawa Barat
Suatu siang di tanggal 23 Januari 1950, Bandung mengalami peristiwa yang menggemparkan bagai petir di siang bolong. Sekitar 500 pasukan yang menyebut dirinya Angkatan Perang Ratu Adil menyerbu Bandung dan menimbulkan banyak korban. Pemimpin dari kekacauan tersebut tidak lain adalah Westerling.
Sebelumnya, Bangsa Indonesia pertama kali mengenal Westerling melalui peristiwa “banjir darah” di Sulawesi Selatan tahun 1946. Saat itu tepat saat pemerintah tengah mengadakan konferensi Denpasar, Westerling beserta pengikutnya melakukan pembantaian terhadap 40.000 rakyat dan pemuda Indonesia di Sulawesi Selatan. Rumah-rumah dan kampung-kampung ikut dibakarnya.
Para pengikutnya merupakan orang-orang pilihan yang disebut dengan Pasukan “De Turk”. Nama itu juga merupakan julukan bagi Westerling yang memiliki darah Turki dari Ibunya. Oleh karena itu, ia dapat leluasa mengaku sebagai orang Islam, dan nantinya akan berpengaruh terhadap hubungannya dengan gerakan DI di Jawa Barat.
Sifat kejinya sangat membekas di masyarakat Sulawesi Selatan sehingga ada kisah bahwa sebagai seorang “Scherpschutter” atau penembak jitu, kadang-kadang Westerling iseng berkeliling dengan jeepnya, dan ketika melihat pemuda yang dicurigainya, ia dengan mudah menembakkan revolvernya kepada pemuda tersebut.
Saat pemerintah Indonesia baru sadar akan perbuatan Westerling tersebut, pemerintah Belanda langsung menarik “pasukan tengkorak” tersebut dari bumi Sulawesi Selatan. Mereka seakan-akan menghilang tanpa bekas, walau sebenarnya Belanda masih menyembunyikannya dengan tujuan menimbulkan kekacauan di Negeri Indonesia yang masih rapuh saat itu.
Beberapa saat setelah aksi militer pertama, nama Westerling tiba-tiba muncul di Jawa Barat. Pasukan-pasukannya yang khas dengan baret hijau-merah mulai terlihat di pelosok-pelosok Jawa Barat, bersiap mengacaukan republik. Namun aksi mereka baru dimulai setelah aksi militer Belanda kedua. Saat itu mereka memulai pembunuhan besar-besaran di daerah Citarum, namun di Jawa Barat mereka tidak menghadapi rakyat yang tidak berdaya seperti di Sulawesi. Di Jawa saat itu masih ada kekuatan TNI, Laskar2 dan Pemuda2 yang siap membalas apabila diserang.
Melihat perlawanan yang cukup sengit, Westerling merubah taktiknya. Kalau dulu ia lebih banyak beraksi secara langsung, kini aksinya lebih kepada memberi dukungan kepada para pengacau seperti golongan KNIL yang kecewa hingga gerombolan2 DI Kartosuwiryo. Aksinya tentu merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah Belanda. Namun di saat infiltrasi ini telah berjalan, Belanda seakan ingin lepas tangan dengan memberhentikannya sebagai kapten KNIL. Dengan demikian ia menjadi semakin bebas dalam melaksanakan aksinya.
Tanggal 23 Januari 1950, pasukan Westerling bergerak dari jurusan Cimahi dengan menggunakan truk, jeep, motor, ada pula yang berjalan kali. Mereka smua berseragam dan bersenjata lengkap, jumlahnya kurang lebih 500 orang.
Di sepanjang jalan Cimahi-Bandung, diadakan stelling di gang-gang, dimana-mana dilakukan teror melalui tembakan ke langit dan rumah-rumah penduduk. Pos-pos polisi di spanjang jalan raya seperti Cimindi, Cibereum dan beberapa lainnya dilucuti. Perlu diingat bahwa kondisi Jawa barat saat itu masih belum kondusif karena tengah dilanda masalah negara Pasundan.
Sesampainya di kota, mereka menimbulkan kepanikan di kalangan rakyat. Toko-toko ditutup, jalan-jalan pun menjadi sepi, tidak ada orang yang berani keluar rumah. Di perempatan Banceuy, seorang perwira TNI yang mengendarai Jeep dan tidak bersenjata disuruh turun, kemudian ditembak mati. Mayatnya ditinggalkan dan mereka jalan terus. Saat itu TNI tidak berani melawan karena mereka kira pasukan Westerling sebagai pasukan KNIL yang legal melalui seragamnya.
Di jalan Braga, tepatnya di depan apotik Rathkamp, sebuah auto sedan diberhentikan. Tiga orang penumpangnya disuruh turun, seorang diantaranya merupakan letnan TNI. Tanda pangkatnya diambil, orangnya disuruh berdiri ditepi jalan sebelum ditembak mati. Di depan hotel Preanger, sebuah truk berisi 3 orang TNI diberondong tembakan. Truk terpelanting menabrak tiang listrik sehingga tumbang. Di jalan Merdeka terjadi tembak-menembak selama kurang lebih 15 menit. 10 orang mayat TNI bergelimpangan di Jalan. Di perempatan Suniaraja-Braga, 7 orang TNI tidak bersenjata yang mengendarai pickup ditembaki dari depan dan belakang.
Pertempuran agak hebat terjadi di kantor stafkwartier Divisi Siliwangi Jalan Lembang. Satu rgu stafdekking TNI terdiri dari 15 orang dipimpin Overste Sutoko dengan tiba2 dikerubungi oleh ratusan APRA. Pertempuran berlangsung kurang lebih setengah jam. Pertempuran dilakukan hingga peluru terakhir. Everste Sutoko, Abimanyu, dan seorang opsir lainnya dapat menyelamatkan diri, lainnya tewas. APRA kemudian berhasil menduduki stafkwartier dan membongkar brandkast yang isinya Rp. 150.000, jumlah yang cukup besar untuk saat itu. Selain itu, mayat-mayat dari TNI dan sipil pun bergelimpangan antara jalan Braga hingga jalan Jawa. Di antara orang-orang sipil yang tewas, kabarnya menjadi korban karena mereka berani menjawab “Jogja”, ketika ditanyakan “Pilih Pasundan atau Jogja?” oleh pasukan APRA.
Total korban akibat penyerangan Westerling di Bandung mencapai 71 orang dengan 15 orang diantaranya anggota TNI. Diantara korban adalah seorang kapten, yang diculik pasukan Westerling dibawah pimpinan Eddy Hoffman ke hutan di barat Gunung Tangkuban Perahu, dimana 2 orang digantung diatas pohon, sedangkan lainnya ditusuk2 dengan bayonet hingga mati, lalu mayatnya ditinggalkan yang kemudian dimakan binatang2 liar.
Mengapa APRA tidak mendapat perlawanan berarti, pertama adalah karena serangan dilakukan dengan sangat tiba-tia, pembalasan tembakan pun tidak dilakukan karena orang-orang APRA bercampur dengan orang KNIL dan KL. Sedangkan mengenai latar belakang aksinya, diduga keras bahwa APRA ingin mendukung berdirinya negara Pasundan, supaya negara ini bisa berdiri tanpa gangguan TNI dan menggunakan APRA sebagai angkatan perangnya.
Jenderal Spoor menilai bahwa keadaan darurat di Sulawesi Selatan telah dapat diatasi, maka dia menyatakan mulai 21 Februari 1947 diberlakukan kembali Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger – VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dan Pasukan DST ditarik kembali ke Jawa.
Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis, di kalangan Belanda baik militer mau pun sipil reputasi Pasukan Khusus DST dan komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massa Belanda memberitakan secara superlatif. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada 23 Maret 1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita: “Pasukan si Turki kembali.” Berita pers Belanda sendiri yang kritis mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada bulan Juli 1947.
Kamp DST kemudian dipindahkan ke Kalibata, dan setelah itu, karena dianggap sudah terlalu sempit, selanjutnya dipindahkan ke Batujajar dekat Cimahi. Pada bulan Oktober 1947 dilakukan reorganisasi di tubuh DST dan komposisi Pasukan Khusus tersebut kemudian terdiri dari 2 perwira dari KNIL, 3 perwira dari KL (Koninklijke Leger), 24 bintara KNIL, 13 bintara KL, 245 serdadu KNIL dan 59 serdadu KL. Pada tanggal 5 Januari 1948, nama DST diubah menjadi Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit parasutis. Westerling memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya menjadi Kapten.
Pembantaian Westerling Direstui
nederlandsindiecom-knilAksi pembantaian yang dilakukan Kapten Westerling ikut diketahui oleh Kolonel De Vries. “De Vries sendiri hadir dalam salah satu pembantaian. Dia lalu muntah-muntah meninggalkan lokasi,” kesaksian Groenendaal, salah satu prajurit komando anak buah Westerling.
Pejabat tinggi lainnya juga mengetahui aksi pembantaian itu. Pada awal 1947, menyusul laporan mengenai aksi pembantaian Westerling di Sulawesi itu, digelar rapat di mana Direktur Kabinet P.J. Koets, Jaksa Agung H.W. Felderhof, Direktur Urusan Umum P.J. Idenburg dan Direktur Departemen Delam Negeri dr. W. Hoven hadir di situ.
Menurut Koets, juga dikonfirmasi oleh Idenburg, dalam rapat itu diputuskan untuk tidak melegitimasi metode pembantaian Westerlingn. Namun aksi Westerling itu mendapat persetujuan dari semua pejabat tinggi yang hadir.
Dalam nota di kemudian hari, Jaksa Agung Felderhof menulis bahwa metode Westerling itu “diperbolehkan dalam situasi genting, yang dapat memaksa diterapkannya pengadilan dan eksekusi tanpa proses hukum,”
Westerling dipercaya penuh mampu untuk mengendalikan diri dalam batas-batas tertentu. Namun, perwira-perwira lainnya dalam rapat itu tidak diperbolehkan melakukan tindakan atau aksi seperti dilakukan oleh Westerling.
Sulawesi – Jawa Barat
Suatu siang di tanggal 23 Januari 1950, Bandung mengalami peristiwa yang menggemparkan bagai petir di siang bolong. Sekitar 500 pasukan yang menyebut dirinya Angkatan Perang Ratu Adil menyerbu Bandung dan menimbulkan banyak korban. Pemimpin dari kekacauan tersebut tidak lain adalah Westerling.
Sebelumnya, Bangsa Indonesia pertama kali mengenal Westerling melalui peristiwa “banjir darah” di Sulawesi Selatan tahun 1946. Saat itu tepat saat pemerintah tengah mengadakan konferensi Denpasar, Westerling beserta pengikutnya melakukan pembantaian terhadap 40.000 rakyat dan pemuda Indonesia di Sulawesi Selatan. Rumah-rumah dan kampung-kampung ikut dibakarnya.
Para pengikutnya merupakan orang-orang pilihan yang disebut dengan Pasukan “De Turk”. Nama itu juga merupakan julukan bagi Westerling yang memiliki darah Turki dari Ibunya. Oleh karena itu, ia dapat leluasa mengaku sebagai orang Islam, dan nantinya akan berpengaruh terhadap hubungannya dengan gerakan DI di Jawa Barat.
Sifat kejinya sangat membekas di masyarakat Sulawesi Selatan sehingga ada kisah bahwa sebagai seorang “Scherpschutter” atau penembak jitu, kadang-kadang Westerling iseng berkeliling dengan jeepnya, dan ketika melihat pemuda yang dicurigainya, ia dengan mudah menembakkan revolvernya kepada pemuda tersebut.
Saat pemerintah Indonesia baru sadar akan perbuatan Westerling tersebut, pemerintah Belanda langsung menarik “pasukan tengkorak” tersebut dari bumi Sulawesi Selatan. Mereka seakan-akan menghilang tanpa bekas, walau sebenarnya Belanda masih menyembunyikannya dengan tujuan menimbulkan kekacauan di Negeri Indonesia yang masih rapuh saat itu.
Beberapa saat setelah aksi militer pertama, nama Westerling tiba-tiba muncul di Jawa Barat. Pasukan-pasukannya yang khas dengan baret hijau-merah mulai terlihat di pelosok-pelosok Jawa Barat, bersiap mengacaukan republik. Namun aksi mereka baru dimulai setelah aksi militer Belanda kedua. Saat itu mereka memulai pembunuhan besar-besaran di daerah Citarum, namun di Jawa Barat mereka tidak menghadapi rakyat yang tidak berdaya seperti di Sulawesi. Di Jawa saat itu masih ada kekuatan TNI, Laskar2 dan Pemuda2 yang siap membalas apabila diserang.
Melihat perlawanan yang cukup sengit, Westerling merubah taktiknya. Kalau dulu ia lebih banyak beraksi secara langsung, kini aksinya lebih kepada memberi dukungan kepada para pengacau seperti golongan KNIL yang kecewa hingga gerombolan2 DI Kartosuwiryo. Aksinya tentu merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah Belanda. Namun di saat infiltrasi ini telah berjalan, Belanda seakan ingin lepas tangan dengan memberhentikannya sebagai kapten KNIL. Dengan demikian ia menjadi semakin bebas dalam melaksanakan aksinya.
Tanggal 23 Januari 1950, pasukan Westerling bergerak dari jurusan Cimahi dengan menggunakan truk, jeep, motor, ada pula yang berjalan kali. Mereka smua berseragam dan bersenjata lengkap, jumlahnya kurang lebih 500 orang.
Di sepanjang jalan Cimahi-Bandung, diadakan stelling di gang-gang, dimana-mana dilakukan teror melalui tembakan ke langit dan rumah-rumah penduduk. Pos-pos polisi di spanjang jalan raya seperti Cimindi, Cibereum dan beberapa lainnya dilucuti. Perlu diingat bahwa kondisi Jawa barat saat itu masih belum kondusif karena tengah dilanda masalah negara Pasundan.
Sesampainya di kota, mereka menimbulkan kepanikan di kalangan rakyat. Toko-toko ditutup, jalan-jalan pun menjadi sepi, tidak ada orang yang berani keluar rumah. Di perempatan Banceuy, seorang perwira TNI yang mengendarai Jeep dan tidak bersenjata disuruh turun, kemudian ditembak mati. Mayatnya ditinggalkan dan mereka jalan terus. Saat itu TNI tidak berani melawan karena mereka kira pasukan Westerling sebagai pasukan KNIL yang legal melalui seragamnya.
Di jalan Braga, tepatnya di depan apotik Rathkamp, sebuah auto sedan diberhentikan. Tiga orang penumpangnya disuruh turun, seorang diantaranya merupakan letnan TNI. Tanda pangkatnya diambil, orangnya disuruh berdiri ditepi jalan sebelum ditembak mati. Di depan hotel Preanger, sebuah truk berisi 3 orang TNI diberondong tembakan. Truk terpelanting menabrak tiang listrik sehingga tumbang. Di jalan Merdeka terjadi tembak-menembak selama kurang lebih 15 menit. 10 orang mayat TNI bergelimpangan di Jalan. Di perempatan Suniaraja-Braga, 7 orang TNI tidak bersenjata yang mengendarai pickup ditembaki dari depan dan belakang.
Pertempuran agak hebat terjadi di kantor stafkwartier Divisi Siliwangi Jalan Lembang. Satu rgu stafdekking TNI terdiri dari 15 orang dipimpin Overste Sutoko dengan tiba2 dikerubungi oleh ratusan APRA. Pertempuran berlangsung kurang lebih setengah jam. Pertempuran dilakukan hingga peluru terakhir. Everste Sutoko, Abimanyu, dan seorang opsir lainnya dapat menyelamatkan diri, lainnya tewas. APRA kemudian berhasil menduduki stafkwartier dan membongkar brandkast yang isinya Rp. 150.000, jumlah yang cukup besar untuk saat itu. Selain itu, mayat-mayat dari TNI dan sipil pun bergelimpangan antara jalan Braga hingga jalan Jawa. Di antara orang-orang sipil yang tewas, kabarnya menjadi korban karena mereka berani menjawab “Jogja”, ketika ditanyakan “Pilih Pasundan atau Jogja?” oleh pasukan APRA.
Total korban akibat penyerangan Westerling di Bandung mencapai 71 orang dengan 15 orang diantaranya anggota TNI. Diantara korban adalah seorang kapten, yang diculik pasukan Westerling dibawah pimpinan Eddy Hoffman ke hutan di barat Gunung Tangkuban Perahu, dimana 2 orang digantung diatas pohon, sedangkan lainnya ditusuk2 dengan bayonet hingga mati, lalu mayatnya ditinggalkan yang kemudian dimakan binatang2 liar.
Mengapa APRA tidak mendapat perlawanan berarti, pertama adalah karena serangan dilakukan dengan sangat tiba-tia, pembalasan tembakan pun tidak dilakukan karena orang-orang APRA bercampur dengan orang KNIL dan KL. Sedangkan mengenai latar belakang aksinya, diduga keras bahwa APRA ingin mendukung berdirinya negara Pasundan, supaya negara ini bisa berdiri tanpa gangguan TNI dan menggunakan APRA sebagai angkatan perangnya.
Quote:
0