- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#945
PART 58
Gue sedang duduk di perpustakaan kampus, nyari bahan-bahan buat tugas. Sambil baca-baca buku tebel segede ganjel truk gitu, gue melirik sudut perpustakaan yang isinya deretan skripsi-skripsi. Mendadak gue inget kalo sebentar lagi gue harus KKN, sekaligus harus mempersiapkan proposal skripsi gue. Belum lagi jabatan gue sebagai pengurus salah satu unit kegiatan cabang olahraga di kampus. Sebentar lagi junior-junior gue harus mengikuti turnamen, sedangkan gue belum memantau perkembangan mereka. Akhir semester 6 ini cukup memusingkan gue.
Gue memutuskan fokus dulu lah ke kegiatan KKN gue, dimana gue diangkat sebagai koordinator kelompok di desa dimana gue akan mengabdi selama KKN. Bahasa gaulnya kordes. Kegiatan KKN di kampus gue emang punya satu makna tersendiri. Dimana beberapa anak dari fakultas yang berbeda, dan sebelumnya sebagian besar gak saling kenal, mendadak dipersatukan dan diharuskan hidup bersama sekaligus melaksanakan beberapa program kerja. Gue mikir dalem, ini nyatuin beberapa kepala jadi satu pendapat kompak aja susahnya setengah idup, apalagi harus me-manage mereka semua untuk hidup bersama sekaligus bekerja bersama. Suatu tugas yang menantang buat gue.
Kebetulan Anin juga ngambil KKN di periode yang sama seperti gue. Tapi dia berbeda wilayah. Cukup jauh bedanya, antar kabupaten. Gue tertawa waktu dia uring-uringan setelah pembekalan KKN. Banyak yang caper, katanya. Bahkan sampe dosen yang ngasih materi pembekalan pun caper ke dia.
--------
Kembali ke perpustakaan.
Sambil menulis esai yang harus gue selesaikan, gue memegangi jidat. Tangan gue bergerak lancar menulis esai, tapi pikiran gue kesana kemari. Ada sebagian yang mikirin proposal skripsi, ada yang sebagian mikirin tanggung jawab pengurus, ada sebagian yang mikirin tugas-tugas akhir semester yang menggila, dan sebagian terbesar mikirin Anin yang nanti bakal tinggal di desa yang jauh dari gue. Gak bisa dipungkiri memang, gue takut kalo Anin cinlok sama temen sedesanya nanti. Seperti kata pepatah, “cinta datang karena terbiasa”. Eh itu lagunya Dewa 19 kan yak
Gue sedang asik nulis, sampe kemudian ada tas yang ditaruh di hadapan gue, dan membuyarkan semuanya. Gue mendongak, dan ternyata Luna ada di hadapan gue. Dia tersenyum ke gue, dan gue balas dengan senyuman sambil sedikit memiringkan kepala. Waktu itu gue beneran gak kepikiran mau ngisengin atau apalah, jadi gue langsung menunduk lagi nulis esai.
Luna beranjak ke deretan rak buku, memilih-milih judul buku, sementara gue kembali menekuni esai yang gue harap jadi salah satu masterpiece gue. Sesekali gue buka tumpukan buku disamping gue, sambil garuk-garuk kepala. Semakin gue tulis detail aspek per aspek, semakin susah juga gue menghubungkan satu aspek dengan yang lainnya jadi sebuah rangkaian analisis. Gue menghela napas panjang, dan memejamkan mata. Dinginin otak ah barang sebentar, pikir gue.
Gue membuka mata tepat saat gue denger ada suara buku ditaruh disebelah gue. Gue menoleh dan melihat Luna duduk disebelah gue dengan setumpuk buku pidana dan peradilan umum. Gue melihat judul buku satu per satu, kemudian gue tersenyum ke Luna.
Mamvus dah gue. Anin help meeeeh!
Gue sedang duduk di perpustakaan kampus, nyari bahan-bahan buat tugas. Sambil baca-baca buku tebel segede ganjel truk gitu, gue melirik sudut perpustakaan yang isinya deretan skripsi-skripsi. Mendadak gue inget kalo sebentar lagi gue harus KKN, sekaligus harus mempersiapkan proposal skripsi gue. Belum lagi jabatan gue sebagai pengurus salah satu unit kegiatan cabang olahraga di kampus. Sebentar lagi junior-junior gue harus mengikuti turnamen, sedangkan gue belum memantau perkembangan mereka. Akhir semester 6 ini cukup memusingkan gue.
Gue memutuskan fokus dulu lah ke kegiatan KKN gue, dimana gue diangkat sebagai koordinator kelompok di desa dimana gue akan mengabdi selama KKN. Bahasa gaulnya kordes. Kegiatan KKN di kampus gue emang punya satu makna tersendiri. Dimana beberapa anak dari fakultas yang berbeda, dan sebelumnya sebagian besar gak saling kenal, mendadak dipersatukan dan diharuskan hidup bersama sekaligus melaksanakan beberapa program kerja. Gue mikir dalem, ini nyatuin beberapa kepala jadi satu pendapat kompak aja susahnya setengah idup, apalagi harus me-manage mereka semua untuk hidup bersama sekaligus bekerja bersama. Suatu tugas yang menantang buat gue.
Kebetulan Anin juga ngambil KKN di periode yang sama seperti gue. Tapi dia berbeda wilayah. Cukup jauh bedanya, antar kabupaten. Gue tertawa waktu dia uring-uringan setelah pembekalan KKN. Banyak yang caper, katanya. Bahkan sampe dosen yang ngasih materi pembekalan pun caper ke dia.
Quote:
--------
Kembali ke perpustakaan.
Sambil menulis esai yang harus gue selesaikan, gue memegangi jidat. Tangan gue bergerak lancar menulis esai, tapi pikiran gue kesana kemari. Ada sebagian yang mikirin proposal skripsi, ada yang sebagian mikirin tanggung jawab pengurus, ada sebagian yang mikirin tugas-tugas akhir semester yang menggila, dan sebagian terbesar mikirin Anin yang nanti bakal tinggal di desa yang jauh dari gue. Gak bisa dipungkiri memang, gue takut kalo Anin cinlok sama temen sedesanya nanti. Seperti kata pepatah, “cinta datang karena terbiasa”. Eh itu lagunya Dewa 19 kan yak

Gue sedang asik nulis, sampe kemudian ada tas yang ditaruh di hadapan gue, dan membuyarkan semuanya. Gue mendongak, dan ternyata Luna ada di hadapan gue. Dia tersenyum ke gue, dan gue balas dengan senyuman sambil sedikit memiringkan kepala. Waktu itu gue beneran gak kepikiran mau ngisengin atau apalah, jadi gue langsung menunduk lagi nulis esai.
Quote:
Luna beranjak ke deretan rak buku, memilih-milih judul buku, sementara gue kembali menekuni esai yang gue harap jadi salah satu masterpiece gue. Sesekali gue buka tumpukan buku disamping gue, sambil garuk-garuk kepala. Semakin gue tulis detail aspek per aspek, semakin susah juga gue menghubungkan satu aspek dengan yang lainnya jadi sebuah rangkaian analisis. Gue menghela napas panjang, dan memejamkan mata. Dinginin otak ah barang sebentar, pikir gue.
Gue membuka mata tepat saat gue denger ada suara buku ditaruh disebelah gue. Gue menoleh dan melihat Luna duduk disebelah gue dengan setumpuk buku pidana dan peradilan umum. Gue melihat judul buku satu per satu, kemudian gue tersenyum ke Luna.
Quote:
Mamvus dah gue. Anin help meeeeh!

Diubah oleh jayanagari 02-09-2014 16:54
chanry dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: mas! bete deh ah!
: napa sayang?
: tadi tuh aku digodain mulu dikelas. Banyak yang caper, ada yang minjem bolpen lah, ada yang pura-pura gak ngerti materi lah, sampe ada yang taruhan sama temen-temennya buat kenalan sama aku. Eh malah ya mas ya, ada dosen yang ikutan godain, tiap kali dia selesai ngomong pasti dia nanya “paham ya mbak Anin?”. Gitu mas. Aku kan sebel. Huh. Mana tiap kali aku lewat mesti diliatin terus lagi. Ngeselin ah.
: ya disyukuri aja dek, mending diliatin gara-gara kamu cantik. Coba kalo kamu diliatin gara-gara kentut, ga enak kan? Hihihihi
: iye, rocker juga manusia, ‘Na.
: lah tadi kamu ngomong apa?
: serius…
: ah Bang Bas gitu aaah, ditanyain baik-baik juga
: hah sama dong! tapi kita beda kecamatan. Aku di kecamatan ******
: wih, anak pidana men. Ngambil judul skripsi tentang apa ‘Na?