Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#612
PART 39

Suatu hari di bulan puasa.
Hubungan gue dan Anin sudah berjalan sekitar 4-5 bulan. Gue memang tipe-tipe cowok yang ogah ngerayain hari jadian sama pacar. Entah itu sama Anin atau sama mantan-mantan gue yang dulu. Gak jarang prinsip gue ini jadi sumber masalah. Tapi untungnya Anin juga tipe cewek yang gak suka mempermasalahkan hal-hal remeh seperti itu. Jadi gue merasa tenang-tenang aja kalo gue lupa kapan kami jadian. Mungkin bukan lupa sih ya, kayaknya terlalu sadis kalo gue lupa kapan jadian, tapi lebih ke telat nyadarnya.

Bulan puasa tahun 2008 itu adalah bulan puasa pertama gue dengan adanya Anin. Iyalah, orang jadiannya juga baru aja. Disitu baru gue tau “the dark side of Anindya Putri”, yaitu dia kalo dibangunin susahnya setengah idup. Mending gue ngajak ngomong gapura komplek dah daripada harus bangunin dia lewat telepon. Malem sebelum sahur, dia pesen ke gue.

Quote:


Begitulah. Sang Ratu Bawel telah bersabda, jadi merupakan kewajiban buat gue ngebangunin dia. Jam 2.30 pagi gue dibangunkan oleh alarm handphone gue. Setelah berusaha ngumpulin nyawa selama 5 menitan, gue ambil handphone dan telepon Anin. 1 kali, 2 kali, 3 kali, sampe 5 kali telepon gak diangkat. Akhirnya sampe telepon kesebelas, baru ada suara cewek ngantuk diujung sana.

Quote:


Begitulah. Setelah sahur gue menunggu waktu subuh dan kemudian melanjutkan tidur. Hari itu kebetulan jadwal kuliah gue agak siangan, jadi bisa tidur agak lama. Excited bener gue masa-masa awal kuliah itu. Sebelumnya selama 12 tahun gue harus bangun pagi dan masuk jam 7, sekarang gue bisa bangun siang. Hari itu Anin kalo gak salah kuliahnya juga siang, gue agak lupa. Biasanya Anin kuliah dianter supirnya Om Harry, jadi jarang berangkat kuliah bareng gue. Disamping itu, memang jadwal kuliah kami berdua sering berbeda, karena satuan waktu kuliahnya juga berbeda. Dia satu mata kuliah bisa 2-3 jam, sedangkan gue paling pol cuma 1,5 jam. Itu aja gue udah bosen banget dikelas.

Di kelas, gue ngambil spot favorit gue. barisan tengah tapi di pojok nempel dinding. Lumayan kalo gue tidur gak begitu keliatan. Di kelas yang ini model kursinya berbeda, bukan kursi kayu dan meja kayu seperti kelas-kelas lain, tapi kursi lipat yang jadi satu dengan meja kecilnya. Jadilah itu kursi bisa digeser kesana-kemari sesuai kebutuhan. Hari itu kuliah gue cukup membosankan. Gue menempelkan kepala di kursi, dan mencoba untuk tidur. Gak lama kemudian ada yang berbicara dengan gue.

Quote:


Gue mengangkat kepala dan duduk tegak. Bener aja, ibu dosen yang udah cukup tua itu memang lagi ngeliat ke arah gue . Buru-buru gue sibukkan diri dengan buka binder dan pura-pura nulis. Aslinya gue udah bawa handout untuk matakuliah ini, jadi gue merasa males untuk nyatet, toh udah ada handoutnya. Satu kesalahan klasik mahasiswa baru macam gue.

Gue melirik ke cewek yang duduk di sebelah gue, yang tadi mengingatkan gue. Cewek sebelah gue ini namanya Tami. Gue liat Tami lagi asik nyatetin sesuatu.

Quote:


Gue kemudian memperhatikan omongan dosen. Sesekali gue membuka-buka buku handout dan kemudian mencocokkan topik yang sedang dibicarakan. Gue lirik jam di dinding depan gue, masih lama nih kelarnya. Gue mau SMS Anin juga gak bakal dibales, soalnya dia emang bilang hari ini dosennya killer-killer, jadi dia gak mau ambil resiko ditanyain sama dosen. Mendadak…..

Quote:


Mendadak muncul niat gue buat ngisengin dia. Gue raih tangan kanannya, gue pegang tangannya dan gue tatap matanya lekat-lekat, gue pasang tampang serius.

Quote:


Gue liat Tami melongo, kemudian wajahnya memerah, dan gue lepas genggaman tangan gue. Keliatan banget kalo Tami salting, sampe dia ngejatuhin binder gue. Gue membungkuk kedepan dan ngambil binder gue. Sambil menaruh kembali binder gue di hadapan Tami, gue cengengesan.

Quote:


Tami diem aja, mukanya masih merah, dan dia menghindari kontak mata langsung dengan gue. Dalam hati gue pingin ketawa ngakak. Untuk mengalihkan perhatian, dia bertanya ke gue.

Quote:


Tami mulai nyatetin buat gue, sementara gue memperhatikan dosen. Gue dulu suka heran, dosen-dosen yang udah tua gitu kok masih kuat ya ngomong didepan sampe 2 jam gitu. Gue gak ngebayangin sama sekali. Tapi setelah sekarang gue sering mengalami hal yang sama, gue baru menyadari bahwa kalo kita bener-bener “hanyut” dengan apa yang kita bicarakan di depan forum, 2-3 bahkan 4 jam itu gak terasa. Pernah gue presentasi di hadapan rekan kerja gue, rasanya gue baru menjelaskan setengah dari ide yang ada di kepala gue, tapi kemudian MC memotong dan mengatakan bahwa gue sudah menghabiskan 1 jam 50 menit sendiri, dari jatah gue yang harusnya hanya 30 menit.

Selesai kuliah, gue keluar ruangan bersama puluhan anak-anak lain. Otomatis berdesakan juga. Di luar kelas gue liat Tami di seberang kelas, sedang ngumpul bareng cewek-cewek. Tami melihat gue, kemudian gue acungkan jempol, sambil berteriak terimakasih. Tami melambaikan tangan ke gue, tapi kemudian gue liat dia tersipu dan mukanya memerah.

Kenapa yak nih anak? emoticon-Confused
jenggalasunyi
pulaukapok
chanry
chanry dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.