- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#578
PART 36
Gue menoleh dan melihat Luna di belakang gue. Dia sedang duduk melingkar dengan kelompoknya, dan kebetulan kelompoknya itu mengambil posisi di dekat jendela tempat gue berada, dan kebetulannya lagi, Luna duduk paling dekat jendela itu. Gue tersenyum dan memiringkan kepala.
Luna tersenyum lebar mendengar celetukan gue yang memang gak aturan. Kemudian dia kembali memusatkan perhatiannya ke kelompoknya. Diam-diam, gue memperhatikan Luna dari belakang. Nih cewek cantik sih, cuman emang gak se-cetar Anin. Tapi gue merasakan ada aura entah apa yang terpancar dari dia, dan itu membuat dia tampak lebih menarik. Gue memperhatikan lekat-lekat gesture nya, cara dia tertawa dan cara dia berbicara dengan temen-temen sekelompoknya. Gue mengambil kesimpulan bahwa dia cewek yang humoris, tapi dibungkus dengan elegan. Satu tipe yang baru sering gue temukan di lingkungan yang lebih dewasa.
Pada hakikatnya, lingkungan tempat kita berada pasti akan berubah seiring dengan bertambahnya umur dan kedewasaan kita. Misalnya, ketika kita masih SMA, kita akan dikelilingi orang-orang yang cablak, ceplas-ceplos, berani terbuka, dan penuh tawa. Hal itu akan berbeda seiring dengan perubahan sikap kita yang menjadi lebih matang. Di dunia perkuliahan, gue merasakan hal itu berkurang, dan digantikan dengan obrolan-obrolan yang lebih “tenang” dan lebih berbobot, tanpa kehilangan rasa humor. Bahkan gue merasa humor yang gue rasakan di kampus lebih mengena di kehidupan. Sementara itu, di dunia kerja, yang gue alami sekarang, gue merasakan lebih banyak sikap individualistis, dan perubahan warna humor. Dari humor yang sebelumnya diwarnai dengan sedikit sarkasme, menjadi humor yang dibalut dengan sedikit sikap skeptis. Gue rasa hantaman-hantaman hiduplah yang membuat warna humor ini menjadi berbeda.
Oke, kembali ke Luna.
Gue memperhatikan temen-temen satu kelompok Luna, dan gue berniat mengetahui satu hal, yaitu kelompok mereka ini disebut kelompok berapa. Kalo kelompok gue kan kelompok 8 tuh. Gue mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan tempat gue berada. Disitu gue hitung ada sekitar 19-20 kelompok, dan masing-masing didampingi oleh senior yang disebut “kakak pembimbing” itu. Gue liat ada sekelompok senior dengan jaket almamater berkumpul di satu sudut, sementara ada kelompok senior lain lagi yang bergerombol di dekat pintu masuk. Di dekat pintu masuk itu gue liat Cynthia, kakak pembimbing kelompok gue, sedang mondar-mandir sambil bawa kertas yang dijepit di sebuah alas tulis kayu. Kayak gini yah jadi mahasiswa, pikir gue.
Kegiatan ospek hari itu pun berlangsung tanpa ada kejadian yang luar biasa. Emang gue juga aslinya agak lupa sih. Secara udah 6 tahun yang lalu. Jadi, gue skip aja ya ke hari-hari pertama gue kuliah. Pada hari pertama gue kuliah itu gue inget banget, ada matakuliah Pengantar Ilmu Hukum. Gue memang sengaja datang lebih awal, dan setelah meletakkan tas gue di bangku, gue keluar ruangan sambil nungguin temen-temen sekelas gue yang belum datang. Kesempatan ini gue pergunakan untuk berkenalan dengan beberapa anak yang berdiri di depan ruangan, agaknya mereka juga berpikiran sama dengan gue. Disitu ada 4 anak, kebetulan cowok semua. Sambil tersenyum gue ulurkan tangan ke salah satu dari mereka.
Gue cekikikan, dan kemudian berkenalan dengan ketiga anak lain yang juga ada disitu. Ada Iqbal, Sonny dan Zulmi. Sekitar setengah jam gue ngobrol dengan mereka di depan kelas itu. Iqbal dan Zulmi dari Jakarta, sementara Sonny adalah cowok Batak tulen. Kemudian ada beberapa cowok lagi yang nyamperin gue dan keempat anak ini, yang masing-masing memperkenalkan diri. Gue cuman memperhatikan ada satu anak yang berkenalan dengan kami, Joseph, panggilannya Joe, asal Ambon. Wuih gila, tongkrongannya kayak John Kei. Bisa jadi bekingan nih, pikir gue waktu itu. Dari jauh gue liat ada Bayu dan Dhika datang bersamaan. Udah kayak maho aja mereka.
Bayu dan Dhika yang memang sudah mengenal gue sejak ospek, nyengir lebar.
Ternyata pagi itu kuliah kosong. Dosen belum datang untuk memberikan kuliah. Entah deh apa alasannya. Jadilah gue dan temen-temen baru gue itu cabut ke kantin. Di kantin kami saling bercerita tentang siapa kami sebenarnya, asal kami dan segala macam. Joe misalnya, dia asli Ambon, bapaknya pengacara di Jakarta, dan yang bikin gue bergidik, tongkrongannya itu lho. Dia pake kalung yang tersembunyi di balik kemejanya, dan di tangannya ada 2 cincin bermata gede. Kalo soal ribut, kayaknya dia bisa diandelin nih, pikir gue. Ekspektasi gue ini akan terjawab di kemudian hari. Aldi, “penduduk asli” sini, awalnya pendiam tapi ternyata dia kimcil hunter. Nanti akan gue ceritakan sepak terjangnya
Sonny, Batak asli, omongannya khas orang Batak, bersuara keras dengan logat yang khas. Tapi dibalik itu ternyata dia pemalu kalo sama cewek. Iqbal, playboy dari Jakarta, tongkrongannya keren. Rapi dan modis, tapi jarang mandi. Gak tau deh kenapa dia bisa bersih mukanya padahal jarang mandi. Zulmi, cowok pendiam dari Pamulang, gak banyak gaya, tapi di kemudian hari baru gue dan anak-anak tau kalo dia itu produk keluarga broken home. Dan yang terakhir duo homo Bayu dan Dhika, yang entah kenapa sejak ospek kemaren-kemaren ini mereka jadi dekat sekali.
Dan begitulah, kehidupan baru gue di kampus telah dimulai.
Gue menoleh dan melihat Luna di belakang gue. Dia sedang duduk melingkar dengan kelompoknya, dan kebetulan kelompoknya itu mengambil posisi di dekat jendela tempat gue berada, dan kebetulannya lagi, Luna duduk paling dekat jendela itu. Gue tersenyum dan memiringkan kepala.
Quote:
Luna tersenyum lebar mendengar celetukan gue yang memang gak aturan. Kemudian dia kembali memusatkan perhatiannya ke kelompoknya. Diam-diam, gue memperhatikan Luna dari belakang. Nih cewek cantik sih, cuman emang gak se-cetar Anin. Tapi gue merasakan ada aura entah apa yang terpancar dari dia, dan itu membuat dia tampak lebih menarik. Gue memperhatikan lekat-lekat gesture nya, cara dia tertawa dan cara dia berbicara dengan temen-temen sekelompoknya. Gue mengambil kesimpulan bahwa dia cewek yang humoris, tapi dibungkus dengan elegan. Satu tipe yang baru sering gue temukan di lingkungan yang lebih dewasa.
Pada hakikatnya, lingkungan tempat kita berada pasti akan berubah seiring dengan bertambahnya umur dan kedewasaan kita. Misalnya, ketika kita masih SMA, kita akan dikelilingi orang-orang yang cablak, ceplas-ceplos, berani terbuka, dan penuh tawa. Hal itu akan berbeda seiring dengan perubahan sikap kita yang menjadi lebih matang. Di dunia perkuliahan, gue merasakan hal itu berkurang, dan digantikan dengan obrolan-obrolan yang lebih “tenang” dan lebih berbobot, tanpa kehilangan rasa humor. Bahkan gue merasa humor yang gue rasakan di kampus lebih mengena di kehidupan. Sementara itu, di dunia kerja, yang gue alami sekarang, gue merasakan lebih banyak sikap individualistis, dan perubahan warna humor. Dari humor yang sebelumnya diwarnai dengan sedikit sarkasme, menjadi humor yang dibalut dengan sedikit sikap skeptis. Gue rasa hantaman-hantaman hiduplah yang membuat warna humor ini menjadi berbeda.
Oke, kembali ke Luna.
Gue memperhatikan temen-temen satu kelompok Luna, dan gue berniat mengetahui satu hal, yaitu kelompok mereka ini disebut kelompok berapa. Kalo kelompok gue kan kelompok 8 tuh. Gue mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan tempat gue berada. Disitu gue hitung ada sekitar 19-20 kelompok, dan masing-masing didampingi oleh senior yang disebut “kakak pembimbing” itu. Gue liat ada sekelompok senior dengan jaket almamater berkumpul di satu sudut, sementara ada kelompok senior lain lagi yang bergerombol di dekat pintu masuk. Di dekat pintu masuk itu gue liat Cynthia, kakak pembimbing kelompok gue, sedang mondar-mandir sambil bawa kertas yang dijepit di sebuah alas tulis kayu. Kayak gini yah jadi mahasiswa, pikir gue.
Kegiatan ospek hari itu pun berlangsung tanpa ada kejadian yang luar biasa. Emang gue juga aslinya agak lupa sih. Secara udah 6 tahun yang lalu. Jadi, gue skip aja ya ke hari-hari pertama gue kuliah. Pada hari pertama gue kuliah itu gue inget banget, ada matakuliah Pengantar Ilmu Hukum. Gue memang sengaja datang lebih awal, dan setelah meletakkan tas gue di bangku, gue keluar ruangan sambil nungguin temen-temen sekelas gue yang belum datang. Kesempatan ini gue pergunakan untuk berkenalan dengan beberapa anak yang berdiri di depan ruangan, agaknya mereka juga berpikiran sama dengan gue. Disitu ada 4 anak, kebetulan cowok semua. Sambil tersenyum gue ulurkan tangan ke salah satu dari mereka.
Quote:
Gue cekikikan, dan kemudian berkenalan dengan ketiga anak lain yang juga ada disitu. Ada Iqbal, Sonny dan Zulmi. Sekitar setengah jam gue ngobrol dengan mereka di depan kelas itu. Iqbal dan Zulmi dari Jakarta, sementara Sonny adalah cowok Batak tulen. Kemudian ada beberapa cowok lagi yang nyamperin gue dan keempat anak ini, yang masing-masing memperkenalkan diri. Gue cuman memperhatikan ada satu anak yang berkenalan dengan kami, Joseph, panggilannya Joe, asal Ambon. Wuih gila, tongkrongannya kayak John Kei. Bisa jadi bekingan nih, pikir gue waktu itu. Dari jauh gue liat ada Bayu dan Dhika datang bersamaan. Udah kayak maho aja mereka.

Bayu dan Dhika yang memang sudah mengenal gue sejak ospek, nyengir lebar.
Quote:
Ternyata pagi itu kuliah kosong. Dosen belum datang untuk memberikan kuliah. Entah deh apa alasannya. Jadilah gue dan temen-temen baru gue itu cabut ke kantin. Di kantin kami saling bercerita tentang siapa kami sebenarnya, asal kami dan segala macam. Joe misalnya, dia asli Ambon, bapaknya pengacara di Jakarta, dan yang bikin gue bergidik, tongkrongannya itu lho. Dia pake kalung yang tersembunyi di balik kemejanya, dan di tangannya ada 2 cincin bermata gede. Kalo soal ribut, kayaknya dia bisa diandelin nih, pikir gue. Ekspektasi gue ini akan terjawab di kemudian hari. Aldi, “penduduk asli” sini, awalnya pendiam tapi ternyata dia kimcil hunter. Nanti akan gue ceritakan sepak terjangnya

Sonny, Batak asli, omongannya khas orang Batak, bersuara keras dengan logat yang khas. Tapi dibalik itu ternyata dia pemalu kalo sama cewek. Iqbal, playboy dari Jakarta, tongkrongannya keren. Rapi dan modis, tapi jarang mandi. Gak tau deh kenapa dia bisa bersih mukanya padahal jarang mandi. Zulmi, cowok pendiam dari Pamulang, gak banyak gaya, tapi di kemudian hari baru gue dan anak-anak tau kalo dia itu produk keluarga broken home. Dan yang terakhir duo homo Bayu dan Dhika, yang entah kenapa sejak ospek kemaren-kemaren ini mereka jadi dekat sekali.
Dan begitulah, kehidupan baru gue di kampus telah dimulai.
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: iyaa, ntar gue jahit didalem kantong deh kalo perlu
: Ayu-ayu toh (cantik-cantik dong)
: di kelas.
: pantat lah, seriusan nih gue.