- Beranda
- Stories from the Heart
Dilarang Tertawa Karena Cinta
...
TS
pia.basah
Dilarang Tertawa Karena Cinta
WELCOME TO MY STORY

Quote:
Pernahkah anda merasa beruntung karena diperebutkan 2 cinta?
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Kadang semuanya tidak seindah yang kita bayangkan, ketika mengalaminya
Sedikit cerita tentang cinta
Sedikit tentang ketidakberuntungan
Sedikit tentang manis dan pahitnya kehidupan cinta
Luapan cerita cinta seorang anak manusia
Sebelumnya..
Dilarang Tertawa Karena Cinta
Permisi agan-agan sekalian. Gua newbie pengen berbagi cerita di forum ini.
Kalo ada kurangnya mohon maaf dan mohon bimbingannya. jangan ane di



This is a real story, ga mungkin repost, ini kisah gua sendiri. Tempat kejadian perkara sedikit gua samarkan, juga tokoh tokoh di dalamnya. Buat privasi gan hehe...
Hehe at least. Enjoy the show!


Quote:
Semoga lebih enak membaca dengan indeks ini.

Spoiler for CHAPTER I:
PART I MANIS
PART II INTERVIEW
PART III “……”
PART IV FALLIN IN LOVE
PART V MANAJEMEN MENTAL
PART VIa THANKS
PART VIb THANKS
PART VII KISS THE RAIN
PART VIII KISS THE RAIN II
PART IX OPTION
PART X WAY BACK INTO LOVE
INSIDE STORY
PART XI SUNDAY
PART XII 1 RUANGAN, 2 CINTA, 3 ORANG
PART XIII LENA? LET'S TALK ABOUT LOVE
PART XIV DECISION
PART XV FIA? CAN'T WE TALK ABOUT LOVE?
PART XVI FORBIDDEN LOVE
PART XVII LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIb LOVE BUT NOT LOVE
PART XVIIIa NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
PART XIX LENA
INSIDE STORY BIASA DIPANGGIL TINA
PART XX LOOKING FOR A MIRACLE
PART XXI IT'S NOT A CINEMA
PART XXII PERJUANGAN
PART XXIII PERJUANGAN II
PART XXIVa AND THE ANSWER IS
PART XXIVb
PART XXV KELIRU
Quote:
CHAPTER 1: AFTER ALL
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
PART I
–MANIS-
Gua memandang sejenak ke luar jendela. Hamparan pemandangan bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipadu pohon-pohon di sekitarnya sedikit mendinginkan kepalaku. Lampu taman menyinari daun daun pohon, membuat suasana menjadi hangat.
“masih banyak ya?” tanyaku.
“hm.. tinggal 14 orang lagi pak” jawab Lena, sekretarisku, sambil tersenyum melihatku “ngulet” meregangkan otot-ototku yang kaku.
“istirahat bentar ah, 10 menit” ujarku lagi. Gua beranjak dari mejaku, melepas kemeja kerja menyisakan kaos oblong putih bertuliskan “re*bok”. Si Lena si ngikut-ngikut aja, dia kemudian ikut-ikutan “ngulet”.
Gua keluar ruangan kerja, berjalan menyusuri jalan aspal di sekitar kawasan gedung-gedung tempatku bekerja. Supaya rileks gua melepas sepatu pantofel, kemudian bertelanjang kaki merasakan hangatnya aspal jalan yang seharian tadi disiram matahari. (kalian boleh coba, asli rileks banget)
Gua duduk di atas motor yang diparkir di depan gedung tempat gue cari duit, mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. “Fuuuhhhh….” Gua menghembuskan tinggi-tinggi asap rokok dari mulut. Sambil menikmati semilir udara malam hari. Ini cara gua melepas penatnya kerja seharian. Ah di saat seperti ini gua bisa kilas balik sedikit hidup gua, karir gua, cinta gua. Rasanya seperti melihat film sinetron aja.
Cinta? Gua malas deh ngomong masalah yang satu ini. Sori bukannya gua gak laku, tapi mungkin.. mungkin apa ya? Kurang beruntung kali. Ah sudah sudah. Lain kali aja gua merenung soal yang satu ini. Gua mau kilas balik karir gua aja, batin gua.
Memandang sekeliling melihat karyawan bagian taman sedang membereskan selang yang digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar gedung. (Pemilik perusahaan tempat gua bekerja memang suka sekali dengan tanaman, jadilah jumlah taman dan ruang produksi bisa sama banyaknya). Gua jadi teringat saat saat pertama gua kerja. Ternyata berbekan ijasah s1 tidak membuat gua duduk di kursi di ruangan ber ac. Tidak jarang Gua harus berkeringat mengeluarkan seluruh tenaga membantu produksi yang berlangsung.
Alhasil gara-gara itu semua, berat badan gua turun 8 kg dalam rentang waktu 3 bulan. Fantastis!
Gua tertawa kecil membayangkan semua itu. Sampai pada akhirnya gua duduk di sini. Sekarang pekerjaan gua Cuma duduk-duduk di depan komputer, cek email, jalan-jalan di ruang produksi ngecek anak buah, trus ngrokok dah sama ngopi kalo capek. Enak banget ya? Yaa paling pusingnya kalau ada meeting sama bos atau ngurusin tetek bengek sumbangan lah atau orang minta kerja lah..
Hehe overall juga lancar kok. Manajer gitu loh..
“mas..”
“Lo? Kok ada suara “mas” ya? Rasanya di seri refleksi diri malam ini gak ada tokoh cewek deh.” Gumam gua dalam hati.
“OI MASSS….!!” –teriak-
“Eh iya iya iya….” Jawab gua sekenanya. Kaget setengah mati, keasyikan mikirin masa lalu, ga sadar gua senyum senyum sendiri.
“Masnya gila ih, ketawa ketawa sendiri” ujar suara itu lagi.
Gua berkeliling pandang. Melihat seorang cewek berdiri di depan gua. Gua mengurut pandangan dari bawah ke atas. Memakai jelana jeans biru muda, sepatu flat hitam, kemeja kotak-kotak pink dan dipadukan jilbab berwarna merah. –cantik-
“kok bengong mas?” tanyanya lagi.
“eh eh maaf mbak” jawab gua tersipu.
“hmm.. masnya siapa?” tanya cewek itu lagi.
“Lah.. mbak siapa? Saya karyawan di sini (tanpa menyebut merk dan jabatan)” jawab gua.
“oalahh… maaf maaf. Habisnya mas nya pake kaos gt” ujar cewek itu sambil tersenyum mrenges.
-cantik- eh bukan –manis-
“mas.. mau nanya nih.”
“0813…..”
“loh kok?”
“lo mbaknya mau nanya no hp saya kan? Ato nama saya?”
“yeee Ge eR!” cewek tadi menonjok pelan lengan gua.
–Melting-
“kalo ruangan yang buat interview kerja dimana ya mas?”
“Ooo la itu” sambil gua menunjuk ruangan kerja gua tadi yang jaraknya ga sampek 15 meter. Ruangan gua memang letaknya di depan area gedung. Jadi satu sama recepsionis.
“mbak nya mau interview?”
“iya nih mas. Mana nomer antrian saya katanya terakhir.”
“…”
“ya udah saya kesana dulu ya mas”
“eh eh bentar. Katanya lagi istirahat dulu interviewnya”
‘loh kenapa?’
‘Manajernya kebelet boker kali’
‘Hahahaha… ada ada aja. Gpp deh aku kesana dulu ya’
Dia berjalan cepat sesekali berlari kecil berjingkat. Takut telat kali.
Sekali lagi gua berpikir.
–Cantik- eh bukan, -MANIS-
Diubah oleh pia.basah 26-10-2016 23:21
Kurohige410 memberi reputasi
1
34K
Kutip
293
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pia.basah
#170
PART XVIIIb NEVER ENDING YOGYAKARTA
Quote:
PART XVIIIb
NEVER ENDING YOGYAKARTA
‘Beruntung ya Pak kalo punya keluarga seperti ini’ Lena tersenyum memandang gua.
‘Iya kamu bener’
‘Semoga aja bisa terwujud’
‘…’ Gua memandang Lena. Ya pada akhirnya gua merusak mood Lena. Dan Gua memang gak akan bisa menghindari hal ini. Cuma gua pengen menunda kejadian seperti ini.
‘Kenapa kamu masih terlalu baik buat aku Len?’
‘…’ Lena tampak berpikir sejenak. Pintu theater tempat gua dan Lena nonton tampak sudah dibuka. Beberapa orang sudah antri menyerahkan karcis ke penjaga.
‘Kita masuk?’ Gua memecah lamunan Lena. Lena hanya mengangguk, membereskan beberapa barang bawaan.
Gua berjalan masuk ke theater. Dan entah kenapa Lena menggandeng tangan gua erat sekali. Bahkan sampai kami duduk di kursi, Lena masi menggenggam tangan gua erat2.
‘Pak..’
‘Ya?’ Gua memandang Lena, gua ngomong bisik-bisik supaya ga kedengeran yang lain.
‘Ada satu nasehat yang saya ingat sampai sekarang, dan itu dari Bapak’
‘Eh?’
‘Orang sukses adalah orang yang menjadikan ‘menyerah’ sebagai opsi terakhir dalam hidupnya’
‘…’ Gua mengingat-ingat, mengaduk-aduk memori gua. Ya rasanya gua pernah mengatakan hal itu ke Lena, saat Lena benar2 tertekan karena jadwal kerja yang menggila. Saat itu kami bisa pulang sampai jam 12 malam tiap hari, tanpa hari libur. Sebuah proses merintis karir dan kepercayaan yang sangat berat.
‘Inget Pak?’
‘Haha iya inget kok’ Gua tersenyum.
‘…’
‘Tapi sekarang kita menikmati hasilnya kan?’ Gua tersenyum.
‘Ya..’
‘Trus?’
‘Ini alasan saya tetap di sini dan terus menggenggam tangan Bapak’
‘…’ Gua terdiam. Gua tersentuh dengan kata-kata Lena barusan.
Lampu theater mulai diredupkan, suasana semakin sepi saat layar theater menunjukkan himbauan agar tenang dalam menonton.
‘Karena menyerah, adalah opsi saya yang terakhir dalam menjalani hidup’ Kata-kata Lena mengalun pelan di telinga gua. Lena membisikkan kata-kata itu tepat di sebelah telinga gua.
‘Kamu hebat Len’ Batin Gua. Lena menyandarkan kepalanya di bahu gua. Suasana yang remang-remang, Lena yang masih menggenggam tangan gua, benar-benar membuat hati gua mendengar apa yang dikatakan Lena barusan.
Sayangnya, film kartun yang kami tonton ga romantis. Sama sekali.
---
‘Nggak ada yang ketinggalan?’ Gua menanyakan sekali lagi. Pertanyaan wajib saat gua menjemput Fia. Lena ada di sebelah gua. Masih dengan senyumannya. Gua gak tau apa yang ada di pikiran Lena saat ini.
‘Udah beres semua kok pak’ Fia tersenyum sambil menggendong Ari.
Selesai membereskan urusan administrasi, kami berempat meninggalkan Rumah Sakit.
Sebuah masalah sepele yang gua ingat sampai sekarang. Posisi tempat duduk di mobil.
‘Mbak Lena aja yang depan’
‘Nggak nggak, aku nyaman di belakang kok Fi. Kamu aja yang depan sama pangku Ari’
‘….’ Gua diem aja.
‘Eh kalo sama Ari enakan di belakang Mbak. Lebih Luas.’
‘Jangan Fi. Kalo Ari Mabok gimana?’
‘…’ Gua masih diem aja.
Ari pun Cuma bengong ngeliat Fia dan Lena berdebat masalah yang cukup serius bagi mereka, tempat duduk.
Cukup lama berdebat atau mungkin gua sebut berdiskusi, gua ga tahan juga.
‘Nih’ Gua menyodorkan kunci mobil ke Lena.
‘Eh kok saya Pak’
‘Kamu nyetir, Fia di sebelahmu. Ari biar saya pangku di belakang’
‘Hm gak mending Bapak nyetir trus kami di belakang?’ Fia ngomong menengahi.
‘…’ Kok gua jadi berasa kaya sopir ya?
‘Iya Pak nanti Ari biar kami pangku aja di belakang kan lebih enak…’ Lena ikut-ikut menimpali.
‘Hehehe..’ Entah kenapa Ari ikut-ikut ngetawain gua…
‘…’ Gua diem.
‘Gimana Pak?’ Fia dan Lena jadi kompak tiba-tiba.
‘Ya udah deh. Ayo naik. Bisa sampe pagi kita di sini.’ Akhirnya gua mengalah.
‘Asik..’ Fia dan Lena hampir bebarengan.
Akhirnya malam itu, gua menjadi sopir di depan, dan nyonya-nyonya muda ini pada asik ngrumpi dan bermain bareng Ari. Parahnya lagi beberapa menit kemudian Ari sudah terlelap tidur sehingga acara ngrumpi pun selesai. Suasana mobil jadi sunyi. Jalan raya yang cukup sepi malam itu membuat suasana ga seramai saat di kota tadi.
Dan akhirnya Fia dan Lena pun sudah molor di belakang.
Gua senyum-senyum sendiri melihat mereka tidur dengan nyenyaknya di belakang. Ya paling nggak ngebut dikit ga ada yang cerewet, batin gua…
‘Pak..’
‘Lo kamu belum tidur?’ Cukup kaget gua. Fia menyapa gua. Fia yang duduk tepat di belakang gua, sedangkan Lena ada di sebelah Fia.
‘Kasian Bapak kalo ga ada temen ngobrol’
‘Hahaha… Kamu tidur aja gpp…’
‘Bentar deh..’
‘Hmm maaf ya FI agak kemaleman’
‘Gpp kok pak.. O ya hari ini gimana sama Mbak Lena?’
‘…’ Gua mikir bentar mau jawab apa.
‘…’
‘Baik..’ Gua menjawab singkat.
‘Mbak Lena udah tau kan masalah yang kita bicarakan semalem?’ Fia ngomong pelan agar Lena ga terbangun.
‘Belum Fi..’
‘Lo saya kira mau Bapak kasi tau’
‘Iya pasti. Tapi belum ada momen yang tepat’
‘…. Saya jadi makin bingung. Dan akan semakin bingung kalo ngeliat Mbak Lena’
‘….’ Gua termenung mendengar kata-kata Fia.
‘Bapak juga mikir lagi ya.’
‘Maksudnya?’
‘Ya.. Coba pikirin lagi kenekatan Bapak. Bapak pasti lebih bahagia dan tenang kalo sama Mbak Lena’
‘….’ Gua ga bisa ngomong.
‘Hehehe… Makasi ya pak’ Gua mendengar Fia tanpa bisa melihat wajahnya langsung. Gua menengok spion dan melihat Fia kembali duduk merebahkan badannya.
‘Kamu tidur aja. Di sini yang paling kurang istirahat itu kamu Fi’ Gua mencoba menasehati.
‘Iya Pak..’ Fia tersenyum ke gua. Kemudian Fia mencoba memejamkan matanya.
Gua menghela nafas panjang… Sambil mengintrospeksi apa yang sudah gua lakukan akhir-akhir ini..
Gua membuka jendela mobil sedikit dan memandang keluar.
See u Yogyakarta…
Never Ending Yogyakarta…
NEVER ENDING YOGYAKARTA
‘Beruntung ya Pak kalo punya keluarga seperti ini’ Lena tersenyum memandang gua.
‘Iya kamu bener’
‘Semoga aja bisa terwujud’
‘…’ Gua memandang Lena. Ya pada akhirnya gua merusak mood Lena. Dan Gua memang gak akan bisa menghindari hal ini. Cuma gua pengen menunda kejadian seperti ini.
‘Kenapa kamu masih terlalu baik buat aku Len?’
‘…’ Lena tampak berpikir sejenak. Pintu theater tempat gua dan Lena nonton tampak sudah dibuka. Beberapa orang sudah antri menyerahkan karcis ke penjaga.
‘Kita masuk?’ Gua memecah lamunan Lena. Lena hanya mengangguk, membereskan beberapa barang bawaan.
Gua berjalan masuk ke theater. Dan entah kenapa Lena menggandeng tangan gua erat sekali. Bahkan sampai kami duduk di kursi, Lena masi menggenggam tangan gua erat2.
‘Pak..’
‘Ya?’ Gua memandang Lena, gua ngomong bisik-bisik supaya ga kedengeran yang lain.
‘Ada satu nasehat yang saya ingat sampai sekarang, dan itu dari Bapak’
‘Eh?’
‘Orang sukses adalah orang yang menjadikan ‘menyerah’ sebagai opsi terakhir dalam hidupnya’
‘…’ Gua mengingat-ingat, mengaduk-aduk memori gua. Ya rasanya gua pernah mengatakan hal itu ke Lena, saat Lena benar2 tertekan karena jadwal kerja yang menggila. Saat itu kami bisa pulang sampai jam 12 malam tiap hari, tanpa hari libur. Sebuah proses merintis karir dan kepercayaan yang sangat berat.
‘Inget Pak?’
‘Haha iya inget kok’ Gua tersenyum.
‘…’
‘Tapi sekarang kita menikmati hasilnya kan?’ Gua tersenyum.
‘Ya..’
‘Trus?’
‘Ini alasan saya tetap di sini dan terus menggenggam tangan Bapak’
‘…’ Gua terdiam. Gua tersentuh dengan kata-kata Lena barusan.
Lampu theater mulai diredupkan, suasana semakin sepi saat layar theater menunjukkan himbauan agar tenang dalam menonton.
‘Karena menyerah, adalah opsi saya yang terakhir dalam menjalani hidup’ Kata-kata Lena mengalun pelan di telinga gua. Lena membisikkan kata-kata itu tepat di sebelah telinga gua.
‘Kamu hebat Len’ Batin Gua. Lena menyandarkan kepalanya di bahu gua. Suasana yang remang-remang, Lena yang masih menggenggam tangan gua, benar-benar membuat hati gua mendengar apa yang dikatakan Lena barusan.
Sayangnya, film kartun yang kami tonton ga romantis. Sama sekali.
---
‘Nggak ada yang ketinggalan?’ Gua menanyakan sekali lagi. Pertanyaan wajib saat gua menjemput Fia. Lena ada di sebelah gua. Masih dengan senyumannya. Gua gak tau apa yang ada di pikiran Lena saat ini.
‘Udah beres semua kok pak’ Fia tersenyum sambil menggendong Ari.
Selesai membereskan urusan administrasi, kami berempat meninggalkan Rumah Sakit.
Sebuah masalah sepele yang gua ingat sampai sekarang. Posisi tempat duduk di mobil.
‘Mbak Lena aja yang depan’
‘Nggak nggak, aku nyaman di belakang kok Fi. Kamu aja yang depan sama pangku Ari’
‘….’ Gua diem aja.
‘Eh kalo sama Ari enakan di belakang Mbak. Lebih Luas.’
‘Jangan Fi. Kalo Ari Mabok gimana?’
‘…’ Gua masih diem aja.
Ari pun Cuma bengong ngeliat Fia dan Lena berdebat masalah yang cukup serius bagi mereka, tempat duduk.
Cukup lama berdebat atau mungkin gua sebut berdiskusi, gua ga tahan juga.
‘Nih’ Gua menyodorkan kunci mobil ke Lena.
‘Eh kok saya Pak’
‘Kamu nyetir, Fia di sebelahmu. Ari biar saya pangku di belakang’
‘Hm gak mending Bapak nyetir trus kami di belakang?’ Fia ngomong menengahi.
‘…’ Kok gua jadi berasa kaya sopir ya?
‘Iya Pak nanti Ari biar kami pangku aja di belakang kan lebih enak…’ Lena ikut-ikut menimpali.
‘Hehehe..’ Entah kenapa Ari ikut-ikut ngetawain gua…
‘…’ Gua diem.
‘Gimana Pak?’ Fia dan Lena jadi kompak tiba-tiba.
‘Ya udah deh. Ayo naik. Bisa sampe pagi kita di sini.’ Akhirnya gua mengalah.
‘Asik..’ Fia dan Lena hampir bebarengan.
Akhirnya malam itu, gua menjadi sopir di depan, dan nyonya-nyonya muda ini pada asik ngrumpi dan bermain bareng Ari. Parahnya lagi beberapa menit kemudian Ari sudah terlelap tidur sehingga acara ngrumpi pun selesai. Suasana mobil jadi sunyi. Jalan raya yang cukup sepi malam itu membuat suasana ga seramai saat di kota tadi.
Dan akhirnya Fia dan Lena pun sudah molor di belakang.
Gua senyum-senyum sendiri melihat mereka tidur dengan nyenyaknya di belakang. Ya paling nggak ngebut dikit ga ada yang cerewet, batin gua…
‘Pak..’
‘Lo kamu belum tidur?’ Cukup kaget gua. Fia menyapa gua. Fia yang duduk tepat di belakang gua, sedangkan Lena ada di sebelah Fia.
‘Kasian Bapak kalo ga ada temen ngobrol’
‘Hahaha… Kamu tidur aja gpp…’
‘Bentar deh..’
‘Hmm maaf ya FI agak kemaleman’
‘Gpp kok pak.. O ya hari ini gimana sama Mbak Lena?’
‘…’ Gua mikir bentar mau jawab apa.
‘…’
‘Baik..’ Gua menjawab singkat.
‘Mbak Lena udah tau kan masalah yang kita bicarakan semalem?’ Fia ngomong pelan agar Lena ga terbangun.
‘Belum Fi..’
‘Lo saya kira mau Bapak kasi tau’
‘Iya pasti. Tapi belum ada momen yang tepat’
‘…. Saya jadi makin bingung. Dan akan semakin bingung kalo ngeliat Mbak Lena’
‘….’ Gua termenung mendengar kata-kata Fia.
‘Bapak juga mikir lagi ya.’
‘Maksudnya?’
‘Ya.. Coba pikirin lagi kenekatan Bapak. Bapak pasti lebih bahagia dan tenang kalo sama Mbak Lena’
‘….’ Gua ga bisa ngomong.
‘Hehehe… Makasi ya pak’ Gua mendengar Fia tanpa bisa melihat wajahnya langsung. Gua menengok spion dan melihat Fia kembali duduk merebahkan badannya.
‘Kamu tidur aja. Di sini yang paling kurang istirahat itu kamu Fi’ Gua mencoba menasehati.
‘Iya Pak..’ Fia tersenyum ke gua. Kemudian Fia mencoba memejamkan matanya.
Gua menghela nafas panjang… Sambil mengintrospeksi apa yang sudah gua lakukan akhir-akhir ini..
Gua membuka jendela mobil sedikit dan memandang keluar.
See u Yogyakarta…
Never Ending Yogyakarta…
Diubah oleh pia.basah 29-05-2014 01:12
0
Kutip
Balas