- Beranda
- Stories from the Heart
Anjing husky
...
TS
hafidkurnia
Anjing husky
Quote:
terima kasih
Cinta macam apa yang tak sanggup menampung keluasan makna, dari kata 'kita'
'Semoga kalian berbahagia, tentu saja'
'Semoga kalian berbahagia, tentu saja'
Quote:
Polling
0 suara
Apa yang harus di pilih 'Aku'
Diubah oleh hafidkurnia 19-08-2013 17:37
anasabila memberi reputasi
1
1.5K
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
hafidkurnia
#2
2 bulan yang lalu
‘.... aku sebel sama lawan mainku gak peka sama cewek’ keluh kesah mu padaku 'ya gimana lagi ... dia memang belum pernah pacaran, jebolan pondok lagi’ kataku. Raut dahimu mengerut dan hanya terdiam. ‘gini aja aku coba ceritain ya ini masalahnya cerita beneran lo’ kataku berharap agar bisa menolongnya, Kamu hanya menangguk. Aku panggil lawan mainnya dan aku ceritakan semua masa laluku mengejar kasih selama tujuh tahun, aku ceritakan semuanya secara mendalam sampai akar akarnya. Dan kamu menyimak dengan seksama ceritaku terkadang kau menepuk pundak ku dan kamu bilang ‘sabar ..... aku juga udah pernah ngerasaiin kok’. Matamu seakaan memudarkan kasih ku selama tujuh tahun dan berbicara ‘saatnya kamu mengambil langkah baru’
dan aku menawarkan solusi ‘yuk kapan kapan kita ngobrol bareng tapi bertiga aja, biar kamu sama lawan main kamu ada chemistry nya’ ‘Boleh, mau kapan’ katamu, ‘besok rabu? Kan kita libur latihan?’ kalian menanggukan kepala sebagai tanda ‘ya’. Setelah itu.....
Entah mengapa aku jadi ingin lebih dekat dengan mu, entah itu menjadi teman, sahabat, pasangan kalau tidak berlebihan. Entah mengapa rasa ini begitu menggebu ‘aku suka kamu karena tidak ada sesuatu. ‘Jangan beri aku alasan untuk mencintaimu, karena alasan itu juga, yang akan memisahkan kita’ batinku.
lalu kita mengobrol di sela sela latihan, kita saling berbagi kisah kisah lalu ‘masa dulu aku beli tas sama sahabat ku laki laki, eh cowo ku yang dulu nggak bolehin, aku kan nggak mau yang kayak gitu’ katamu dengan rona yang agak cemberut ‘kalau aku ya, aku bakal bebasin mau kamu seperti apa ya itu kamu’ kataku sambil berharap. Ya, cinta macam apa yang mengekang kebebasan? Cinta macam apa yang memposisikan aku lebih tinggi dan berkuasa dari kamu? Pikirku pada saat itu. ‘Seandainya aku di beri kesempatan, aku akan menjadi pohon yang selalu rimbun untukmu, yang selalu ada walaupun kamu berteduh di pohon lain. Aku akan selalu berdiri tegak di sini menunggu kamu bermain ayunan lagi’ bayangku. Dan kita terhanyut oleh obrolan obrolan lain.
Hari yang di janjikan telah tiba, aku pacu cepat motorku ke tempat kita akan bertemu. Aku dari magelang untuk urusan kerja. Walaupun di sini hujan deras tak menghalangiku untuk kesana. Jas hujan abu abu berkelibat menerabas angin dan air yang menerpa selama satu jam. Akhirnya kita bertemu di jembatan itu ‘yuk langsung aja ke warung kopi’ pintaku ‘kirain kamu gak jadi ...’ sembari kamu menaiki motor merah mu.
Sampai di sana baru aku sadar ‘kamu lebih cantik dari biasanya, dengan kerudung coklat, baju coklat yang mecing dengan sepatumu, ahhhh pokoknya kamu putri di malam ini’ batinku. mataku sempat terhipnotis olehnya dan tak bisa mengatakan apapun! Sempat terdiam untuk beberapa saat ‘mas mau pesan kopi apa’ tiba tiba suara bapak yang setengah beruban pun membuyarkan pandangan itu, ‘ah bapak mengganggu saja’ pikirku. Kamu memesan kopi yang tidak keras di campur coklat dan aku memesan kopi aceh. ‘kamu suka kopi juga ...?’ aku bertanya ‘nggak si, perutku nggak kuat makanya aku pesan kopi yang nggak terlalu keras terus di campur coklat nggak tau namanya kopi apa’ pintamu ‘aku sering kok buatin kopi buat bapak, ya kayak di sini dari biji terus aku masukan ke mesin, di rumah punya mesinnya’ katamu menambahkan. ‘seandainya kelak kamu membuatkan kopi untuk ku, di rumah impian kita, bersama memandangi anak anak kita bermain di halaman belakang dan kita duduk mengenang kisah antara aku dan kamu sambil meminum kopi dan teh’ ahhh kenapa pikiran itu muncul begitu saja ‘aku punya kopi lampung lo dirumah masih biji, kapan kapan aku bawaiin kamu suka kopi kan ...?’ kata kata itu membuayarkan semua imajin ku dan berkata ‘siap!’ sambil memandangmu bersemangat.
Seakan malam bersahabat dengan kita, mesin ketik tua, meja tua, lukisan lukisan yang terpajang masih ada label harganya itu, kopi yang entah kapan habisnya, bermain kartu, ‘yuk main kartu tapi aku kalah terus jadi hehe’ dengan malu malu kamu memberi pemecah sunyi, ‘oke aku ambilin kartunya dulu’ aku mengambil kartu dan kita bermain poker. Ya pertama aku merasa kurang greget karena apa juga tak tahu ‘eh kalau kalah pake helm? Tapi kebalik makainya? Celetuk ku ‘ah gak gak malu aku’ lagi lagi dengan malu kamu berkata ‘ahhhh lucunya wajah kamu ingin rasanya aku meremas pipimu yang memerah itu ahhh' setelah terhipnotis wajahmu itu aku ambil helm ku dan kita bermain lagi. ‘Ya memang benar kamu memang kalah terus main poker haha..’ batinku wajahmu yang malu di padu dengan kerudung coklat ahhh rasanya aku ingin sekali melihat itu setiap hari wajah lucu nan cantik setengah malu, guratan guratan dahimu, pipimu yang merah merona karena malu ahhh sudah lah, fokus ke permainan poker kita.
Jarum jam berdetak sangat cepat saat itu, tak terasa sudah menunjukan pukul sepuluh malam ‘yuk pulang aku masih ada tugas kuliah mau di kerjakan nanti’katamu, aku ingin lebih lama bersamamu di sini, ingin melihat wajahmu yang setengah malu itu, ingin melihat kerut kerut dahimu ketika kamu memikirkan strategi main poker, tapi apa daya aku hanya bisa menjawab ‘yuk’.
Malam itu entah kenapa aku berasa lebih dekat dengan mu, bisa melihatmu tersenyum bahagia, tertawa itupun rasanya sudah sangat cukup untukku, percaya tidak percaya aku tak bisa tidur malam itu.
Sejak saat itu kita semakin dekat, saling bertukar pikiran entah kisah lalu, entah tentang pementasan, ataupun menggunjing orang ya terutama menggunjing lawan mainmu itu, aku merasa kasihan tapi gimana lagi? Inilah teater, kita harus bisa melakukannya toh refrensinya bisa di ambil dari kehidupan kita.
‘.... aku sebel sama lawan mainku gak peka sama cewek’ keluh kesah mu padaku 'ya gimana lagi ... dia memang belum pernah pacaran, jebolan pondok lagi’ kataku. Raut dahimu mengerut dan hanya terdiam. ‘gini aja aku coba ceritain ya ini masalahnya cerita beneran lo’ kataku berharap agar bisa menolongnya, Kamu hanya menangguk. Aku panggil lawan mainnya dan aku ceritakan semua masa laluku mengejar kasih selama tujuh tahun, aku ceritakan semuanya secara mendalam sampai akar akarnya. Dan kamu menyimak dengan seksama ceritaku terkadang kau menepuk pundak ku dan kamu bilang ‘sabar ..... aku juga udah pernah ngerasaiin kok’. Matamu seakaan memudarkan kasih ku selama tujuh tahun dan berbicara ‘saatnya kamu mengambil langkah baru’
dan aku menawarkan solusi ‘yuk kapan kapan kita ngobrol bareng tapi bertiga aja, biar kamu sama lawan main kamu ada chemistry nya’ ‘Boleh, mau kapan’ katamu, ‘besok rabu? Kan kita libur latihan?’ kalian menanggukan kepala sebagai tanda ‘ya’. Setelah itu.....
Entah mengapa aku jadi ingin lebih dekat dengan mu, entah itu menjadi teman, sahabat, pasangan kalau tidak berlebihan. Entah mengapa rasa ini begitu menggebu ‘aku suka kamu karena tidak ada sesuatu. ‘Jangan beri aku alasan untuk mencintaimu, karena alasan itu juga, yang akan memisahkan kita’ batinku.
lalu kita mengobrol di sela sela latihan, kita saling berbagi kisah kisah lalu ‘masa dulu aku beli tas sama sahabat ku laki laki, eh cowo ku yang dulu nggak bolehin, aku kan nggak mau yang kayak gitu’ katamu dengan rona yang agak cemberut ‘kalau aku ya, aku bakal bebasin mau kamu seperti apa ya itu kamu’ kataku sambil berharap. Ya, cinta macam apa yang mengekang kebebasan? Cinta macam apa yang memposisikan aku lebih tinggi dan berkuasa dari kamu? Pikirku pada saat itu. ‘Seandainya aku di beri kesempatan, aku akan menjadi pohon yang selalu rimbun untukmu, yang selalu ada walaupun kamu berteduh di pohon lain. Aku akan selalu berdiri tegak di sini menunggu kamu bermain ayunan lagi’ bayangku. Dan kita terhanyut oleh obrolan obrolan lain.
Hari yang di janjikan telah tiba, aku pacu cepat motorku ke tempat kita akan bertemu. Aku dari magelang untuk urusan kerja. Walaupun di sini hujan deras tak menghalangiku untuk kesana. Jas hujan abu abu berkelibat menerabas angin dan air yang menerpa selama satu jam. Akhirnya kita bertemu di jembatan itu ‘yuk langsung aja ke warung kopi’ pintaku ‘kirain kamu gak jadi ...’ sembari kamu menaiki motor merah mu.
Sampai di sana baru aku sadar ‘kamu lebih cantik dari biasanya, dengan kerudung coklat, baju coklat yang mecing dengan sepatumu, ahhhh pokoknya kamu putri di malam ini’ batinku. mataku sempat terhipnotis olehnya dan tak bisa mengatakan apapun! Sempat terdiam untuk beberapa saat ‘mas mau pesan kopi apa’ tiba tiba suara bapak yang setengah beruban pun membuyarkan pandangan itu, ‘ah bapak mengganggu saja’ pikirku. Kamu memesan kopi yang tidak keras di campur coklat dan aku memesan kopi aceh. ‘kamu suka kopi juga ...?’ aku bertanya ‘nggak si, perutku nggak kuat makanya aku pesan kopi yang nggak terlalu keras terus di campur coklat nggak tau namanya kopi apa’ pintamu ‘aku sering kok buatin kopi buat bapak, ya kayak di sini dari biji terus aku masukan ke mesin, di rumah punya mesinnya’ katamu menambahkan. ‘seandainya kelak kamu membuatkan kopi untuk ku, di rumah impian kita, bersama memandangi anak anak kita bermain di halaman belakang dan kita duduk mengenang kisah antara aku dan kamu sambil meminum kopi dan teh’ ahhh kenapa pikiran itu muncul begitu saja ‘aku punya kopi lampung lo dirumah masih biji, kapan kapan aku bawaiin kamu suka kopi kan ...?’ kata kata itu membuayarkan semua imajin ku dan berkata ‘siap!’ sambil memandangmu bersemangat.
Seakan malam bersahabat dengan kita, mesin ketik tua, meja tua, lukisan lukisan yang terpajang masih ada label harganya itu, kopi yang entah kapan habisnya, bermain kartu, ‘yuk main kartu tapi aku kalah terus jadi hehe’ dengan malu malu kamu memberi pemecah sunyi, ‘oke aku ambilin kartunya dulu’ aku mengambil kartu dan kita bermain poker. Ya pertama aku merasa kurang greget karena apa juga tak tahu ‘eh kalau kalah pake helm? Tapi kebalik makainya? Celetuk ku ‘ah gak gak malu aku’ lagi lagi dengan malu kamu berkata ‘ahhhh lucunya wajah kamu ingin rasanya aku meremas pipimu yang memerah itu ahhh' setelah terhipnotis wajahmu itu aku ambil helm ku dan kita bermain lagi. ‘Ya memang benar kamu memang kalah terus main poker haha..’ batinku wajahmu yang malu di padu dengan kerudung coklat ahhh rasanya aku ingin sekali melihat itu setiap hari wajah lucu nan cantik setengah malu, guratan guratan dahimu, pipimu yang merah merona karena malu ahhh sudah lah, fokus ke permainan poker kita.
Jarum jam berdetak sangat cepat saat itu, tak terasa sudah menunjukan pukul sepuluh malam ‘yuk pulang aku masih ada tugas kuliah mau di kerjakan nanti’katamu, aku ingin lebih lama bersamamu di sini, ingin melihat wajahmu yang setengah malu itu, ingin melihat kerut kerut dahimu ketika kamu memikirkan strategi main poker, tapi apa daya aku hanya bisa menjawab ‘yuk’.
Malam itu entah kenapa aku berasa lebih dekat dengan mu, bisa melihatmu tersenyum bahagia, tertawa itupun rasanya sudah sangat cukup untukku, percaya tidak percaya aku tak bisa tidur malam itu.
Sejak saat itu kita semakin dekat, saling bertukar pikiran entah kisah lalu, entah tentang pementasan, ataupun menggunjing orang ya terutama menggunjing lawan mainmu itu, aku merasa kasihan tapi gimana lagi? Inilah teater, kita harus bisa melakukannya toh refrensinya bisa di ambil dari kehidupan kita.
Diubah oleh hafidkurnia 05-08-2013 02:30
0

