Kaskus

News

erwin.parikesitAvatar border
TS
erwin.parikesit
KIPRAH KNIL di MINAHASA Dalam PD.II

Thread kali ini mungkin akan berbeda dengan thread-thread saya sebelumnya. Jika selalu TS mengambil tema kisah perjuangan TNI, sekarang kita akan melenceng sedikit, mengikuti kiprah mantan-mantan KNIL, yang tergabung dalam Angkatan Perang Kerajaan Belanda, pasca sebelum kemerdekaan RI. Kali ini, TS akan mengisahkan tentang perjuangan Anak Bangsa yang tergabung dalam Pasukan KNIL Angkatan Kerajaan Belanda, terutama kiprah mereka mempertahankan tanah airnya menghadapai serbuan Balatentara Nippon dalam Perang Dunia II.

Keseluruhan mengisahkan tentang bagaimana anak-anak bangsa, anak lokal, mempertahankan tanah tumpah darahnya. Perjuangan para KNIL di Tanah Minahasa mempertahankan wilayahnya menghadapi serbuan bagai bah dari Tentara Dai Nippon yang dilancarkan dari Kepulauan Filipina.

Disini, anak-anak bangsa, mener-mener Belanda, berjuang bahu membahu antara hidup dan mati menghadapi agresi Jepang. Banyak kisah yang akan kita ungkap nantinya yang mungkin luput dari cuplikan sejarah, atau tidak pernah kita dengarkan kisahnya sama sekali.

Kisah ini aslinya disadur dari tulisan mendiang Jimmy Legoh, hasil suntingan Bpk. J. Mundung, seorang mantan Penerbang P51-Mustang AURI.

Selamat Membaca.

Diubah oleh erwin.parikesit 12-07-2013 09:54
0
30.2K
61
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Militer
Militer
KASKUS Official
20.4KThread10.8KAnggota
Tampilkan semua post
erwin.parikesitAvatar border
TS
erwin.parikesit
#38

TEKEN KONTRAK
SOLDADU MINAHASA


Naskah : Adrianus Kojongian

Sampai tahun 1940-an menjadi kebanggaan bagi orang tua Minahasa bila anaknya menjadi soldadu, sebutan Minahasa bagi serdadu KNIL. Teken kontrak soldadu, terdengar dimana-mana.

Pukul rata saban negeri (sebutan desa dan kelurahan Minahasa sampai tahun 1966) mempunyai putra yang pernah dan berdinas di ketentaraan Hindia-Belanda itu. Kebanggaan akan semakin besar lagi bilamana ada yang terpilih dan berdinas menjadi marsose, tentara spesial KNIL yang kemudian mengakhiri peperangan panjang di Aceh.

Jaminan hidup layak dan dihormati, merupakan pilihan utama dan idaman pemuda tempo dulu menjadi tentara. Gengsi soldadu pun mengantar banyak diantara mereka kelak terpilih menjadi Raad-Negeri, tokoh agama, tokoh masyarakat dan bahkan sebagai Hukum Tua.

Kalau dirunut ke belakang, andil ‘tentara’ Minahasa di dinas militer Belanda sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 1700-an di masa Kompeni atau VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).

Pertahanan Benteng Amsterdam di Manado telah melibatkan pasukan Burger (Borgo), dan Minahasa asli yang disebut pasukan alifuru, sebab belum memeluk agama Kristen. Pasukan Borgo selain terdiri warga campuran Eropa, juga berasal Ternate dan wilayah Maluku lainnya digunakan menjaga ‘Kota’Manado, serta ditempatkan di pos-pos militer utama, di wilayah Minahasa di Amurang, Kema, Likupang, Tanawangko dan Belang, serta di wilayah luar seperti Siau dan Tabukan. Seakan warisan, keturunan mereka pun meneruskan tradisi soldadu hingga banyak generasi. Kini keturunan Borgo masih ada di bekas perkampungan Borgo di Amurang, Tanawangko, Likupang dan Belang, kebanyakan Kristen Protestan dan sisanya Islam.
Pasukan alifuru Minahasa terutama berasal dari balak-balak sekitar Manado dan balak berdekatan. Pengerahan pasukan alifuru Minahasa banyak terjadi ketika berlangsung penyerangan oleh bajak laut Mindanau (Mangindano) yang merajalela cukup lama.

Balak-balak Minahasa sampai pertengahan abad ke-19 rutin mengirim pasukan membantu soldadu resmi dan para Borgo menghalau bajak laut tersebut. Ketika Inggris menduduki Keresidenan Manado untuk pertamakalinya awal Maret 1797, Residen Manado George Fredrik Durr menyerah tanpa melakukan perlawanan, karena Benteng Amsterdam hanya dipertahankan seorang sersan dan 24 prajurit alifuru Minahasa.

Status tentara bantu (tolongan, tulungan) bagi serdadu Minahasa (alifuru) disebut-sebut telah muncul sejak awal abad ke-19 setelah VOC digantikan pemerintahan Hindia-Belanda. Penolakan sempat terjadi di tahun 1808 bahkan sampai memicu berlangsungnya perang Minahasa di Tondano 1808-1809. Namun, ketika Belanda kembali berkuasa, andil serdadu Minahasa pada perang lokal Indonesia telah berkembang. Diawali Perang Pattimura di Maluku 1817, dan berpuncak Perang Diponegoro (1825-1830). Untuk perang terakhir ini, Minahasa mengirimkan lebih satu batalion pasukan, berkekuatan 1.600 tentara (versi lain 1.400 orang), dipimpin Tololiu Dotulong (1795-1888) yang memperoleh pangkat militer Mayor.

Usaha perekrutan serdadu Minahasa dalam Pasukan Tulungan (Hulptroepen) dikabarkan telah dimulai sejak tahun 1823 oleh desakan Gubernur Maluku Pieter Merkus, tapi makin gencar di tahun 1824 ketika Gubernur Jenderal G.A.G.Ph.van der Cappelen berkunjung ke Minahasa. Berkembang versi, pengiriman serdadu Minahasa ke Jawa itu telah dimulai sejak tahun 1824, dan ketika tercetus perang Diponegoro, pengiriman Pasukan Tulungan berlangsung dalam dua tahap, di tahun 1826 dan kemudian 1829.
Residen Manado Mr.Daniel Francois Willem Pietermaat ditemani Tololiu Dotulong melakukan kunjungan ke semua Balak Minahasa. Mereka membujuk para kepala balak dengan iming-iming hadiah untuk tiap kepala yang diserahkan serta jaminan lain untuk calon serdadu dan keluarganya. Kontrak-kontrak yang berlangsung tahun 1829 antara Residen Pietermaat dengan para kepala balak Minahasa (10 Januari 1829 dengan Tondano-Toulimambot; 20 Januari 1829 dengan Sonder, Tombasian dan Rumoong) serta jumlah pasukan sebanyak 1.600 orang menandakan suksesnya misi residen dan Tololiu Dotulong itu. Hampir dipastikan semua balak Minahasa mengirim kontingennya.


PERWIRA PERTAMA
Data-data menyebut Tonsea dibawah Kepala Balak Lukas Pelenkahu (1758-1833) menyediakan 250 serdadu, Sonder yang menginisiatif dibawah Kepala Balak Tololiu Dotulong menyediakan paling banyak serdadu, 377 orang. Tondano-Toulimambot dibawah Kepala Balak Abraham Lotulong sebanyak 120 orang, Tombasian dibawah Kepala Balak Benjamin Tambajong 50 orang serta Rumoong dibawah Kepala Balak Lauw (Laoh Runtuwene) 30 orang.

Sayang, belum ada data-data kapan penandatangan kontrak Residen Manado dengan Kepala Balak Tonsea tersebut. Begitu pun kapan penandatanganan kontrak Residen Pietermaat dengan Kepala Balak Tondano-Touliang Tangka Wenum, Kepala Balak Tomohon Mangangantung (kelak Ngantung Palar, 1776-1853), Kepala Balak Sarongsong Waworuntu (kelak Herman Carl Waworuntu, 1781-1854), dan para kepala balak lain. Namun dipastikan pasukan dari negeri-negeri di atas ini mengirim kontingen berkuatan di atas 100 serdadu, sebab para komandan pasukannya memperoleh pangkat kapitein. Begitu pun kontrak dengan Kepala Balak Remboken, Kepala Balak Kakas Inkiriwang, Kepala Balak Kawangkoan, Kepala Balak Langowan, Kepala Balak Tompaso Sondakh, Kepala Balak Tombariri Andries, Kepala Balak Kakaskasen Mainalo Parengkuan serta kepala-kepala balak lain seputaran Manado seperti: Klabat di-Bawah, Manado, Bantik, Negeri Baru, termasuk Klabat di-Atas, Likupang, serta Ratahan-Pasan-Ponosakan dan Tonsawang. Hanya, dapat dipastikan kontrak-kontraknya berlangsung semuanya di bulan Januari hingga awal Februari 1829.

Dengan kelengkapannya, maka perwira-perwira pertama Minahasa dikukuhkan. Komandan Pasukan Tulungan Tololiu Dotulong memperoleh pangkat Mayor infantri.

Sonder dengan jumlah pasukan terbesar memiliki 3 Kapitein yakni: Sondag Palar (kelak Paulus Palar, terkenal sebagai Palar van Sonder), Kapitein Laoh (Lauw) dan Runtulalo. Letnan Satu adalah: Gerung Sumolang anak mantan Kepala Balak Sumolang, dan Kumajas Lamia. Para Letnan Dua adalah Marentek, Eeman Kaunang, Mongkau Karundeng dan Nusa Pangkey.
Pasukan Tonsea dipimpin Kapitein Daniel Rotinsulu. Tondano-Toulimambot dipimpin Kapitein Johanis Senghari (Supit?), dengan Johanis Kawilarang sebagai Letnan Satu dan Jacob (Hendrik Supit, 1802-1865) Letnan Dua. Tondano-Touliang L.Polingkalim sebagai Kapitein dan Alexander Wuijsang Letnan Dua. Balak Kakas dipimpin Kapitein Johanis Inkiriwang (1776-1852).

Tomohon dipimpin Kapitein Mangulu dan Sarongsong Kapitein Mandagi. Tombasian Letnan Satu Andries Runkat dan Letnan Satu Jan Korompis. Rumoong Letnan Satu Jan Korompis dibantu Letnan Dua Sounambela dan Letnan Dua Laurens Gaspar. Langowan dibawah Kapitein Sigar (kelak Benjamin Thomas Sigar, 1790-1879) dibantu Letnan P.Kumolontang (meninggal 1853). Pasukan Balak Kawangkoan dipimpin Letnan Satu Poluakan (kelak Thomas Poluakan), dengan sersan terkenal bernama Tenda.
Usai Perang Diponegoro tahun 1830, mereka dikembalikan ke Minahasa.

Kebanyakan memperoleh promosi kenaikan pangkat satu tingkat. Tololiu Dotulong komandan Pasukan Tulungan menjadi Groot Majoor. Selain dia, seorang Minahasa lain yang kembali tahun 1831 dan menyandang gelar Groot Majoor adalah Abraham Donatius Wakkary (1796-1868) asal Balak Negeri Baru dari pasukan berkuda. Para bekas militer ini rata-rata dipromosi Belanda memangku posisi pemerintahan setempat. Banyak diantaranya meraih kedudukan Hukum Tua, Hukum Kedua bahkan posisi Hukum Besar Kepala Distrik di wilayahnya.

Diubah oleh erwin.parikesit 13-07-2013 16:15
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.