- Beranda
- The Lounge
Psikiater Cuma Buat Pasien "Gila"?
...
TS
rahdigraha
Psikiater Cuma Buat Pasien "Gila"?

Spoiler for No repost:
Ini Curhat Seorang Psikater Gan Dr. Andri, Sp.KJ @kompas.com
Quote:
Tolong DI bantu 







Terima kasih telah berkunjung dan keep posting gan..
Quote:
Cek Sumber Gan
Spoiler for Sumber:
Diubah oleh rahdigraha 21-04-2013 11:20
0
4.3K
17
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.8KAnggota
Tampilkan semua post
psikiaterku
#17
Quote:
Quote:
Tidak semua jenis obat yang diberikan psikiater adalah obat yang dikira masyarakat awam atau distigma sebagai obat penenang. Silahkan baca artikel yang pernah saya tulis untuk awam di kompasiana
http://kesehatan.kompasiana.com/medi...ng-508969.html
Seperti yang saya tulis di artikel saya bahwa yang orang awam kurang ketahui, judulnya seseorang terganggu psikisnya namun pasti terjadi pula perubahan kimiawi di otak terutama sistem neurotransmitter yang penting dan mengatur cara sel saraf berkomunikasi dan cara manusia berpikir, berperilaku, dan bahkan pada pengaturan emosi. Saya setuju bahwa beberapa gangguan jiwa ringan pun dapat remisi dengan psikoterapi yang benar. Psikoterapi sendiri saat ini sudah dibuktikan mempengaruhi neuroplastisitas otak. Namun dalam kenyataannya psikoterapi memang jauh lebih lamban memperbaiki otak dibandingkan obat.
Kapan obat diberikan oleh psikiater? Hampir semua gangguan psikiatri memiliki obat yang dapat membantu memperbaiki dan menstabilkan sistem neurotransmitter itu tadi. Namun apakah semua gangguan psikiatri diberikan obat? Jawabannya tidak namun ada beberapa gangguan yang memang wajib hukumnya meminum obat.
Kemudian psikiater cenderung meresepkan obat karena saya rasa juga terpengaruh basic pendidikannya yang dasarnya adalah ilmu kedokteran di mana faktor biologis senantiasa disoroti pertama kali.
Yang kedua bila mana gangguan psikis yang dialami ternyata menyebabkan timbulnya problem dalam fungsi pekerjaan dan fungsi sosialnya terkait dengan gejala psikiatri yang dialaminya. Tentu akan jauh lebih merugikan bagi pasien mengingat penanganan dengan psikoterapi tunggal sering kali jauh lebih lama dibandingkan dikombinasi dengan obat.
Memang betul bahwa ada beberapa gangguan yang sebetulnya dapat diterapi tanpa obat dalam derajat ringan, contoh : depresi dalam taraf ringan, cemas yang ringan atau gangguan krpibadian misalnya, tidak dapat diterapi dengan obat. Namun ada juga beberapa gangguan jiwa berat yang tidak boleh tidak, pasien harus minum obat, misalnya skizofrenia dan gangguan bipolar, depresi berulang dalam derajat berat.
Mengapa? Karena pada gangguan2 tersebut neurotransmitter yang tidak stabil jumlahnya di dalam otak ntah terlalu tinggi hingga terikat terus-menerus, atau terlalu rendah sehingga reseptornya hilang, dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel saraf. Pasien saya banyak yang mengeluhkan menjadi "lemot" atau cepat lupa ketika sudah menderita penyakit2 psikiatri kronik menahun, berulang, dan tidak mendapat obat secara teratur. Silahkan searching di internet mengenai kerusakan otak pada pasien-pasien penderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia dan bipolar yang tidak mendapat terapi obat dengan benar.
Pasien manula yang awalnya depresi berat pun pada penelitian terbukti bila dibiarkan terus menerus tanpa terapi dengan benar dapat berubah menjadi demensia (pikun). Mengapa? Karena neurotransmiternya terganggu.
Quote:
Psikoterapi bukan hanya terapi kognitif sebenarnya. Jenisnya ada banyak sekali yang berfokus pada kognitif biasanya adalah CBT(Cognitive Behavioral Therapy), yang fokusnya mengubah perilaku adalah Behavioral Therapy saja. Namun ada juga jenis psikoterapi yang fokusnya pada resolusi konflik, misalnya psychoteraphy psychodynamic (bisa short term atau long term). Ada pula jenis psikoterapi yang sederhana seperti psikoterapi suportif yang digunakan untuk menyokong fungsi-fungsi ego. Atau psikoterapi pada keluarga dan psikoterapi marital pada problem rumah tangga. Bahkan hipnoterapi pun merupakan bagian dari psikoterapi (Sehingga yang benar seharusnya hanya boleh dilakukan oleh psikolog klinis atau psikiater atau hipnoterapist tersertifikasi dan di bawah pengawasan psikiater bila di luar negri).
Beberapa psikoterapi membutuhkan kemauan pasien sendiri untuk belajar berubah misalnya CBT dan psikoterapi dinamik. Namun psikoterapi suportif misalnya, tidak terlalu perlu adanya motivasi pada pasien ataupun kemampuan komunikasi yang baik.
Betul bahwa psikiater dibekali dengan berbagai teknik psikoterapi dan mampu untuk melakukannya karena memang menjadi kompetensinya namun biasanya psikiater tetap menggabungkan psikoterapi dengan obat untuk mencapai efek terapi optimal serta memperbaiki gangguan fungsi sehari-hari dengan lebih cepat.
Kemudian obat-obat psikiatri biasanya memang perlu diminum dalam jangka waktu panjang bukan karena dokternya sengaja melakukan hal itu atau supaya pasien kembali kontrol namun kembali pada cara kerjanya, karena obat-obat tersebut perlu untuk menstabilkan sistem neurotransmitter dan biasanya perlu waktu yang cukup lama untuk menstabilkan sistem tersebut. Untuk pemberian berapa lama sendiri, memang sudah ada guidelinenya dan jangka waktunya berbeda-beda. Untuk guideline pemberian obat-obat psikiatri dapat dilihat di internet.
Semoga jawaban ini cukup jelas.
Diubah oleh psikiaterku 08-05-2013 13:37
0



