- Beranda
- Catatan Perjalanan OANC
[share] Restu Perjalanan (Coretan yang "terbuang")
...
TS
insanpenyendiri
[share] Restu Perjalanan (Coretan yang "terbuang")
Quote:
permisi semuanya,
ijinkanlah si manusia kecil ini sekedar mengucapkan salam terimakasih yang dituang dalam bentuk tulisan, ...cerita perjalanan...
ijinkanlah si manusia kecil ini sekedar mengucapkan salam terimakasih yang dituang dalam bentuk tulisan, ...cerita perjalanan...
Spoiler for ucapan terimakasih:
Sebenarnya telah lama ingin membuat tulisan ini, namun karena beberapa kendala dan segala kekurangan, juga faktor kekurangpercayaan diri yang saya miliki, akhirnya -dengan memberanikan diri- tulisan ini baru dapat dibuat sekarang (walaupun belum semuanya rampung). Tujuan awal tulisan ini dibuat adalah hanya sebagai ucapan terimakasih untuk mereka, "para malaikat penolong". Entah bagaimanalagi caranya saya untuk membalas segala kebaikan dari anda2 para penolong. Mungkin hanya ini yang sedikit dapat saya sampaikan, ya.., hanya melalui tulisan ini saja. Dengan dasar pertimbangan inilah tersebab saya menempatkan ucapan terimakasih di awal tulisan, karena mereka-mereka yang terlibat dalam sebagian perjalanan hidup saya adalah yang sangat berperan dalam mewujudkan sesuatu yang ingin saya raih..
Karena aku si manusia kecil,, tidak dapat hidup seorang diri...
Terimakasih yang pertama teruntuk Sang Maha Pencipta atas segala yang telah dibuatNya....
Tulisan ini kupersembahkan untuk mereka, sebagai ucapan terimakasih:
Mamaku+Mama Soe;
kakakku Erwin;
kakakku Clara;
Bandi-Soleh-Acuy-Mimie-Andry(Centrum)-Deny-Dety-Anne-AdeQbul-Eko-Ayoenk=BOGOR;
Erna-Berto= 'd SAMARINDA's;
Firman-Hinu-Fauzi-Pak Herman&keluarga-Winda-Deny-Rival=BANDUNG;
Ari-Monica-Pa'Aceng&Ibu-temennya Monica yang nganterin pake motor(maaf lupa namanya, tapi saya masih mengingat wajah anda)-Sri-Iqnal= DENPASAR, BALI
Mas Alex-keluarga bude'nya mas Alex&tetangganya-Lana-Amir-Ating-Cik'Yem-Rumah Makan Madya-adenya Amir =MATARAM,LOMBOK
Imang-Akoh-Jarody-Baron-Iqbal-Ciamis'man-semua teman di Satu Bumi-UGM= DJOGJA
Para 'sobat kereta'-sopir2 angkutan-nahkoda kapal-masinis kereta-dan semua kru'nya; yang telah berperan banyak dalam perjalanan.
dan semua sahabat yang tak tersebut...,
OANC-Kaskus= Wadah media yang telah memberi akses..
terimakasih khusus untuk Alm. Ayah yang selalu menentang kegiatanku ini...
Barangkali tulisan yang jauh dari sempurna ini juga dapat memberikan sedikit 'hal' untuk para sahabat, mungkin ada beberapa sahabat yang belum berkesempatan mengunjungi beberapa obyek yang terdapat dalam tulisan ini. -yang karena kebetulan saja saya telah diberikan kesempatan untuk dapat mengunjunginya lebih dahulu-. Dan untuk para sahabat yang sudah pernah mengunjungi objek2 yang terdapat di dalam tulisan ini, mudah2an tulisan ini dapat mengenang kembali kisah2 perjalanan para sahabat...
saran, kritik atau tambahan2 'share',, dipersilakan...
sekali lagi, terimakasih
-si manusia kecil-
Karena aku si manusia kecil,, tidak dapat hidup seorang diri...
Terimakasih yang pertama teruntuk Sang Maha Pencipta atas segala yang telah dibuatNya....
Tulisan ini kupersembahkan untuk mereka, sebagai ucapan terimakasih:
Mamaku+Mama Soe;
kakakku Erwin;
kakakku Clara;
Bandi-Soleh-Acuy-Mimie-Andry(Centrum)-Deny-Dety-Anne-AdeQbul-Eko-Ayoenk=BOGOR;
Erna-Berto= 'd SAMARINDA's;
Firman-Hinu-Fauzi-Pak Herman&keluarga-Winda-Deny-Rival=BANDUNG;
Ari-Monica-Pa'Aceng&Ibu-temennya Monica yang nganterin pake motor(maaf lupa namanya, tapi saya masih mengingat wajah anda)-Sri-Iqnal= DENPASAR, BALI
Mas Alex-keluarga bude'nya mas Alex&tetangganya-Lana-Amir-Ating-Cik'Yem-Rumah Makan Madya-adenya Amir =MATARAM,LOMBOK
Imang-Akoh-Jarody-Baron-Iqbal-Ciamis'man-semua teman di Satu Bumi-UGM= DJOGJA
Para 'sobat kereta'-sopir2 angkutan-nahkoda kapal-masinis kereta-dan semua kru'nya; yang telah berperan banyak dalam perjalanan.
dan semua sahabat yang tak tersebut...,
OANC-Kaskus= Wadah media yang telah memberi akses..
terimakasih khusus untuk Alm. Ayah yang selalu menentang kegiatanku ini...
Barangkali tulisan yang jauh dari sempurna ini juga dapat memberikan sedikit 'hal' untuk para sahabat, mungkin ada beberapa sahabat yang belum berkesempatan mengunjungi beberapa obyek yang terdapat dalam tulisan ini. -yang karena kebetulan saja saya telah diberikan kesempatan untuk dapat mengunjunginya lebih dahulu-. Dan untuk para sahabat yang sudah pernah mengunjungi objek2 yang terdapat di dalam tulisan ini, mudah2an tulisan ini dapat mengenang kembali kisah2 perjalanan para sahabat...
saran, kritik atau tambahan2 'share',, dipersilakan...
sekali lagi, terimakasih
-si manusia kecil-
0
12.1K
Kutip
96
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Catatan Perjalanan OANC
1.9KThread•1.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
insanpenyendiri
#23
Quote:
Spoiler for :
28 Agustus 08
(Hari Kesembilanbelas) Monang Maning, Denpasar
Terima kasih, Bli Putu. Hati-hati di jalan , tak lupa aku mengucapkan terima kasih dan memberikan delapan puluh ribu rupiah kepada Bli Putu, sesampainya kami di keramaian Denpasar. (Bli Putu adalah warga asli Bali yang berprofesi sebagai sopir ekspedisi).
Soe dan aku turun dari truk, tepat di perempatan jalan. Kemudian kami mencari kendaraan jurusan Monang Maning untuk kembali ke rumah keluarga Pa Aceng.
Dari etalase kaca warung aku sudah dapat melihat Bu Aceng, beliau sedang melayani seorang pembeli yang belanja di warungnya. Mengetahui akan kedatangan kami, beliau kemudian menyapa, ehhh.., kamu toh, kpan nyampenya? Dari Lombok kapan? Ketemu sama mas Alex?, aku dan Soe bergantian menjawab pertanyaan itu. Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang dilayangkan bu Aceng. Akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu berbuntut panjang berbuah perbincangan.
Hari ini Soe dan aku istirahat total di Monang Maning, tidak berencana untuk keluar dari tempat ini. Seluruh anggota badan diistirahatkan dari aktivitas-aktivitas yang dapat menguras banyak energi, kecuali otak. Malam harinya, Soe dan aku berdiskusi untuk menentukan tujuan perjalanan esok di pulau ini. Satu tempat akhirnya disepakati untuk dikunjungi. Seperti kebanyakan manusia normal lainnya, malam ini pun kami berangkat tidur. Begitu nyenyak, meski masih diiringi kicauan sayap nyamuk, khas daerah dataran rendah.
29 Agustus 08
(Hari Keduapuluh) Denpasar Kintamani - Pura Besakih, Karangasem
Monica masih belum pulang dari tempatnya bekerja, tandanya kami belum bisa berangkat.Satu-satunya cara agar kami dapat pergi adalah dengan meminjam motor yang masih dipakai Monica. Bukan kami tak ingin menggunakan jasa transportasi angkutan umum, tetapi, kami tidak mampu untuk membayar ongkosnya. Siang hari akhirnya Monica pulang, tak ketinggalan pula motornya. Dengan muka tebal aku lalu pamit pada keluarga bapak Aceng, meminta ijin untuk keluar dan minjam motornya.
Perjalan dua jam telah ditempuh. Melewati daerah Sukawati, Gianyar, Bangli, lalu kami mampir di Kintamani, melihat keelokan danau dan gunung Batur dari pinggir jalan. Namun sayang, cuaca sedang mendung, keindahaan danau dan gunung Batur kehilangan sedikit gregetnya. Walau demikian, kami tidak kecewa, bahkan cukup puas dan bersyukur karena sudah diberikan kesempatan untuk melihatnya. Terima kasih, Tuhan.
Danau-gunung Batur vs. Bakso
Suasana di sini jelas mampu membuat betah para pelancong. Selain karena pemandangan yang indah, suhu udara di daerah ini juga terbilang sejuk. Dilengkapi juga dengan kesibukan pedagang di sepanjang jalan yang menawarkan berbagai macam jajanan hangat seperti, bakso dan mie rebus. Hmmm, sangat klop bukan, menikmati indahnya danau dan gunung Batur di daerah bersuhu dingin sambil menyantap hidangan bakso yang masih hangat?
Hal itu pula kami rasakan sekarang. Melihat suguhan makanan yang menggiurkan langsung membuat nafsu makan kami naik ke level yang paling tinggi. Dua mangkuk bakso pesanan sudah tersaji di depan mata. Dan dalam sekejap saja isi mangkuk sudah lenyap (Hihii..). Terang saja kami cepat menghabiskan makanan itu, ternyata kami baru ingat kalau kami lupa mengisi perut sebelum berangkat. Hmmm.
![kaskus-image]()
Soe, mangkuk bakso dan seorang ibu yang menawarkan aksesoris
![kaskus-image]()
danau Batur
![kaskus-image]()
gunung Batur
Setelah dirasa cukup puas menikmati indahnya danau dan gunung Batur, kami beranjak ke Pura Besakih. Pkl. 17.15 WITA kami tiba, motor pinjaman dititipkan di pelataran parkir kemudian kami melangkah, berjalan masuk ke dalam Pura. Baru beberapa meter berjalan, langkah kami terhenti, seseorang memanggil, Mas, mau kemana mas?Tanya seorang pria yang berpakaian adat Bali. mau ke pura, mas, jawabku. Oooo, sini dulu mas, ke Pos dulu, pria ini mengarahkan kami untuk singgah ke pos. Pos yang aku tak mengerti. Hmm, apa maksudnya Pos??. Akhirnya kami mengikutnya dan menuju pos yang dimaksud. Sekarang aku baru mengerti, semua orang harus mengenakan pakaian yang menutupi kaki kalau mau masuk ke Pura. Terserah, mau mengenakan kain panjang atau celana panjang. Syarat yang kedua adalah setiap pengunjung harus didampingi oleh guide. Haaaaahh, kaget dan pasti melongo wajah kami saat menyadari bahwa saat itu kami hanya mengenakan celana pendek dan sisa uang yang ada di kantong cuma Rp. 77.800,-
Syarat-syarat yang diwajibkan ini memaksa kami untuk menyewa dua lembar kain. Dan Rupiah yang kami keluarkan jadi makin bengkak karena harus membayar guide. Waduuhh , cukup ngga yah nih duit??
Bukan waktunya untuk mengubur mimpi. Kami sudah berada di sini, depan Pura Agung Besakih. Tak akan melewatkan kesempatan mengunjungi Pura ini.
Dua lembar kain sudah dikenakan dan kedua kaki sudah tertutupi. Dengan proses alot tawar menawar akhirnya, kami merogoh kocek Rp. 30.000 untuk biaya sewa dua lembar kain. Selesai urusan kain, bersisa masalah untuk membayar guide.
Rp. 200.000,- dibunuh oleh Rp. 20.000,-
Salah satu pria yang berjaga di pos menyodorkan sebuah buku. Ini adalah buku tamu para pengunjung. Di situ tercantum nama-nama orang atau rombongan yang berkunjung ke pura, berikut dengan tabel di sebelah kanannya yang memperlihatkan dengan jelas besaran rupiah yang dikeluarkan untuk membayar upah guide. Aku memegang pena dan mulai menuliskan namaku dan Soe di buku itu. Sempat terhenti aku menulis ketika melihat nilai rupiah yang telah lebih dulu diisi oleh pengunjung-pengunjung sebelum kami. Tertera nilai rp. 200.000, rp. 400.000, bahkan ada yang mencapai angka rp. 500.000. Seolah tidak yakin melihat angka-angka tersebut, aku kembali membolak-balikkan kertas buku itu. Namun tetap saja sia-sia. Harapanku untuk bertemu dengan angka puluhan ribu tidak pernah kesampaian, dan nominal paling kecil yang kulihat adalah rp. 175.000. Soe dan aku saling memandang, kami berdiskusi sejenak untuk menentukan nilai rupiah yang akan kami keluarkan. Belum selesai kami berdiskusi, pria penjaga pos menjelaskan,mas, untuk membayar jasa guidenya berapa aja, teserah, serelanya dan semampunya . Mendengarnya, aku dan Soe seolah meihat pintu pura Besakih mulai terbuka lebar. Dengan keyakinan penuh namun sedikit rasa malu, akhirnya aku menuliskan jumlah rupiah yang akan kami berikan untuk guide. Jelas, angka rp. 20.000 aku guratkan dengan pena. Angka yang membunuh serentetan angka-angka di atasnya (Hihiii ). Masuklah kami ke dalam Pura Agung Besakih, dengan langkah yang ringan dan dada dibusungkan (terlampau bahagia karena bisa masuk ke dalam pura, atau dengan nilai rp. 20.000 ?? weeewww)
![kaskus-image]()
Besakih di transisi penguasa langit
![kaskus-image]()
Di dalam pura, sang guide menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menjelaskan semua: sejarah, kegunaan dan hal-hal menarik yang terdapat di pura. Dani akhirnya tiba pada penjelasan tentang gunung Agung. Soe dan aku banyak bertanya mengenai gunung Agung, berharap siapa tahu suatu saat kami berkesempatan untuk mendakinya. Beberapa pertanyaan yang kami sodorkan adalah; jalur pendakian, syarat-syarat, dll. Pertanyaan-pertanyaan itu mampu dijawab oleh guide. Ia tahu banyak tentang seluk-beluk gunung Agung karena selain menjadi guide pura, beliau juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai guide ke gunung Agung. Mendengar pemaparannya yang ciamik makin merangsang ketertarikan kami terhadap gunung Agung -walau kemolekan gunung Agung tak terlihat karena cuaca yang sedang mendung. Sebetulnya kami minat sekali mendaki Agung. Kapan lagi kesempatan bisa datang. Mengingat juga akan perjuangan kami sebelum berangkat ke sini, rasanya akan sangat sulit untuk mengulang perjalanan serupa di kemudian hari.
Lalu guide mempromosikan dirinya dengan menjelaskan upah yang biasa didapat saat memandu pelancong. minimum rp. 250.000 saya dibayar oleh orang-orang yang saya antar, katanya. Oooo.., cuma satu kata itu yang bisa membalas kalimatnya. Aku pun berandai-andai, kalau kami berkesempatan mendaki Agung, kami tidak akan menggunakan jasa pemandu. Alasannya sudah jelas: bukannya kami tak ingin, melainkan kami tak mampu!
Hari semakin sore dan waktu kunjungan Pura sudah selesai. Sebelum kami pulang, guide berkata, mas, ini nomor handphone saya, kalo nanti mau mendaki silakan hubungi saya ya. Peraturan sekarang tidak mengijinkan pendaki naik ke gunung Agung kalo tidak didampingi oleh guide. Peraturan ini dibuat karena pertimbangan insiden beberapa waktu lalu, pas ada tiga orang pendaki hilang dan satu orang belum ditemukan sampai sekarang . Kami menjawab,iya, Bli, pasti nanti kami hubungi seandainya kami mau mendaki .
(Hari Kesembilanbelas) Monang Maning, Denpasar
Terima kasih, Bli Putu. Hati-hati di jalan , tak lupa aku mengucapkan terima kasih dan memberikan delapan puluh ribu rupiah kepada Bli Putu, sesampainya kami di keramaian Denpasar. (Bli Putu adalah warga asli Bali yang berprofesi sebagai sopir ekspedisi).
Soe dan aku turun dari truk, tepat di perempatan jalan. Kemudian kami mencari kendaraan jurusan Monang Maning untuk kembali ke rumah keluarga Pa Aceng.
Dari etalase kaca warung aku sudah dapat melihat Bu Aceng, beliau sedang melayani seorang pembeli yang belanja di warungnya. Mengetahui akan kedatangan kami, beliau kemudian menyapa, ehhh.., kamu toh, kpan nyampenya? Dari Lombok kapan? Ketemu sama mas Alex?, aku dan Soe bergantian menjawab pertanyaan itu. Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang dilayangkan bu Aceng. Akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu berbuntut panjang berbuah perbincangan.
Hari ini Soe dan aku istirahat total di Monang Maning, tidak berencana untuk keluar dari tempat ini. Seluruh anggota badan diistirahatkan dari aktivitas-aktivitas yang dapat menguras banyak energi, kecuali otak. Malam harinya, Soe dan aku berdiskusi untuk menentukan tujuan perjalanan esok di pulau ini. Satu tempat akhirnya disepakati untuk dikunjungi. Seperti kebanyakan manusia normal lainnya, malam ini pun kami berangkat tidur. Begitu nyenyak, meski masih diiringi kicauan sayap nyamuk, khas daerah dataran rendah.
29 Agustus 08
(Hari Keduapuluh) Denpasar Kintamani - Pura Besakih, Karangasem
Monica masih belum pulang dari tempatnya bekerja, tandanya kami belum bisa berangkat.Satu-satunya cara agar kami dapat pergi adalah dengan meminjam motor yang masih dipakai Monica. Bukan kami tak ingin menggunakan jasa transportasi angkutan umum, tetapi, kami tidak mampu untuk membayar ongkosnya. Siang hari akhirnya Monica pulang, tak ketinggalan pula motornya. Dengan muka tebal aku lalu pamit pada keluarga bapak Aceng, meminta ijin untuk keluar dan minjam motornya.
Perjalan dua jam telah ditempuh. Melewati daerah Sukawati, Gianyar, Bangli, lalu kami mampir di Kintamani, melihat keelokan danau dan gunung Batur dari pinggir jalan. Namun sayang, cuaca sedang mendung, keindahaan danau dan gunung Batur kehilangan sedikit gregetnya. Walau demikian, kami tidak kecewa, bahkan cukup puas dan bersyukur karena sudah diberikan kesempatan untuk melihatnya. Terima kasih, Tuhan.
Danau-gunung Batur vs. Bakso
Suasana di sini jelas mampu membuat betah para pelancong. Selain karena pemandangan yang indah, suhu udara di daerah ini juga terbilang sejuk. Dilengkapi juga dengan kesibukan pedagang di sepanjang jalan yang menawarkan berbagai macam jajanan hangat seperti, bakso dan mie rebus. Hmmm, sangat klop bukan, menikmati indahnya danau dan gunung Batur di daerah bersuhu dingin sambil menyantap hidangan bakso yang masih hangat?
Hal itu pula kami rasakan sekarang. Melihat suguhan makanan yang menggiurkan langsung membuat nafsu makan kami naik ke level yang paling tinggi. Dua mangkuk bakso pesanan sudah tersaji di depan mata. Dan dalam sekejap saja isi mangkuk sudah lenyap (Hihii..). Terang saja kami cepat menghabiskan makanan itu, ternyata kami baru ingat kalau kami lupa mengisi perut sebelum berangkat. Hmmm.

Soe, mangkuk bakso dan seorang ibu yang menawarkan aksesoris

danau Batur

gunung Batur
Setelah dirasa cukup puas menikmati indahnya danau dan gunung Batur, kami beranjak ke Pura Besakih. Pkl. 17.15 WITA kami tiba, motor pinjaman dititipkan di pelataran parkir kemudian kami melangkah, berjalan masuk ke dalam Pura. Baru beberapa meter berjalan, langkah kami terhenti, seseorang memanggil, Mas, mau kemana mas?Tanya seorang pria yang berpakaian adat Bali. mau ke pura, mas, jawabku. Oooo, sini dulu mas, ke Pos dulu, pria ini mengarahkan kami untuk singgah ke pos. Pos yang aku tak mengerti. Hmm, apa maksudnya Pos??. Akhirnya kami mengikutnya dan menuju pos yang dimaksud. Sekarang aku baru mengerti, semua orang harus mengenakan pakaian yang menutupi kaki kalau mau masuk ke Pura. Terserah, mau mengenakan kain panjang atau celana panjang. Syarat yang kedua adalah setiap pengunjung harus didampingi oleh guide. Haaaaahh, kaget dan pasti melongo wajah kami saat menyadari bahwa saat itu kami hanya mengenakan celana pendek dan sisa uang yang ada di kantong cuma Rp. 77.800,-
Syarat-syarat yang diwajibkan ini memaksa kami untuk menyewa dua lembar kain. Dan Rupiah yang kami keluarkan jadi makin bengkak karena harus membayar guide. Waduuhh , cukup ngga yah nih duit??
Bukan waktunya untuk mengubur mimpi. Kami sudah berada di sini, depan Pura Agung Besakih. Tak akan melewatkan kesempatan mengunjungi Pura ini.
Dua lembar kain sudah dikenakan dan kedua kaki sudah tertutupi. Dengan proses alot tawar menawar akhirnya, kami merogoh kocek Rp. 30.000 untuk biaya sewa dua lembar kain. Selesai urusan kain, bersisa masalah untuk membayar guide.
Rp. 200.000,- dibunuh oleh Rp. 20.000,-
Salah satu pria yang berjaga di pos menyodorkan sebuah buku. Ini adalah buku tamu para pengunjung. Di situ tercantum nama-nama orang atau rombongan yang berkunjung ke pura, berikut dengan tabel di sebelah kanannya yang memperlihatkan dengan jelas besaran rupiah yang dikeluarkan untuk membayar upah guide. Aku memegang pena dan mulai menuliskan namaku dan Soe di buku itu. Sempat terhenti aku menulis ketika melihat nilai rupiah yang telah lebih dulu diisi oleh pengunjung-pengunjung sebelum kami. Tertera nilai rp. 200.000, rp. 400.000, bahkan ada yang mencapai angka rp. 500.000. Seolah tidak yakin melihat angka-angka tersebut, aku kembali membolak-balikkan kertas buku itu. Namun tetap saja sia-sia. Harapanku untuk bertemu dengan angka puluhan ribu tidak pernah kesampaian, dan nominal paling kecil yang kulihat adalah rp. 175.000. Soe dan aku saling memandang, kami berdiskusi sejenak untuk menentukan nilai rupiah yang akan kami keluarkan. Belum selesai kami berdiskusi, pria penjaga pos menjelaskan,mas, untuk membayar jasa guidenya berapa aja, teserah, serelanya dan semampunya . Mendengarnya, aku dan Soe seolah meihat pintu pura Besakih mulai terbuka lebar. Dengan keyakinan penuh namun sedikit rasa malu, akhirnya aku menuliskan jumlah rupiah yang akan kami berikan untuk guide. Jelas, angka rp. 20.000 aku guratkan dengan pena. Angka yang membunuh serentetan angka-angka di atasnya (Hihiii ). Masuklah kami ke dalam Pura Agung Besakih, dengan langkah yang ringan dan dada dibusungkan (terlampau bahagia karena bisa masuk ke dalam pura, atau dengan nilai rp. 20.000 ?? weeewww)

Besakih di transisi penguasa langit

Di dalam pura, sang guide menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menjelaskan semua: sejarah, kegunaan dan hal-hal menarik yang terdapat di pura. Dani akhirnya tiba pada penjelasan tentang gunung Agung. Soe dan aku banyak bertanya mengenai gunung Agung, berharap siapa tahu suatu saat kami berkesempatan untuk mendakinya. Beberapa pertanyaan yang kami sodorkan adalah; jalur pendakian, syarat-syarat, dll. Pertanyaan-pertanyaan itu mampu dijawab oleh guide. Ia tahu banyak tentang seluk-beluk gunung Agung karena selain menjadi guide pura, beliau juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai guide ke gunung Agung. Mendengar pemaparannya yang ciamik makin merangsang ketertarikan kami terhadap gunung Agung -walau kemolekan gunung Agung tak terlihat karena cuaca yang sedang mendung. Sebetulnya kami minat sekali mendaki Agung. Kapan lagi kesempatan bisa datang. Mengingat juga akan perjuangan kami sebelum berangkat ke sini, rasanya akan sangat sulit untuk mengulang perjalanan serupa di kemudian hari.
Lalu guide mempromosikan dirinya dengan menjelaskan upah yang biasa didapat saat memandu pelancong. minimum rp. 250.000 saya dibayar oleh orang-orang yang saya antar, katanya. Oooo.., cuma satu kata itu yang bisa membalas kalimatnya. Aku pun berandai-andai, kalau kami berkesempatan mendaki Agung, kami tidak akan menggunakan jasa pemandu. Alasannya sudah jelas: bukannya kami tak ingin, melainkan kami tak mampu!
Hari semakin sore dan waktu kunjungan Pura sudah selesai. Sebelum kami pulang, guide berkata, mas, ini nomor handphone saya, kalo nanti mau mendaki silakan hubungi saya ya. Peraturan sekarang tidak mengijinkan pendaki naik ke gunung Agung kalo tidak didampingi oleh guide. Peraturan ini dibuat karena pertimbangan insiden beberapa waktu lalu, pas ada tiga orang pendaki hilang dan satu orang belum ditemukan sampai sekarang . Kami menjawab,iya, Bli, pasti nanti kami hubungi seandainya kami mau mendaki .
0
Kutip
Balas