- Beranda
- Stories from the Heart
[ BASED TRUE STORY] ANTARA AKU KAU DAN PACARMU [ BASED TRUE STORY]
...
TS
breaking182
[ BASED TRUE STORY] ANTARA AKU KAU DAN PACARMU [ BASED TRUE STORY]
Quote:
Aku selalu berpikir bahwa cinta itu seperti matematika: logis, bisa dihitung, dan punya pola. Tapi nyatanya? Hidup lebih suka memberiku teka-teki silang yang tintanya luntur terkena air hujan. Ini adalah perjalananku melewati labirin misteri, patah hati yang hebat, hingga akhirnya menemukan "rumah". Ternyata, aku tidak butuh seseorang yang luar biasa rumit untuk merasa lengkap. Aku hanya butuh seseorang yang membuat segalanya terasa mudah.
Quote:
![[ BASED TRUE STORY] ANTARA AKU KAU DAN PACARMU [ BASED TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2026/03/08/3247450_20260308083228.png)
Quote:
BAGIAN 1
SEPTEMBER 2010
MALAM ITU, sebelum jari-jarinya mengetik nama Rangga di kolom pencarian, Meina baru saja membanting pintu kamar kosnya. Telinganya masih berdenging karena teriakan Adrian, laki-laki yang sudah bersamanya selama hampir tiga tahun terakhir.
Hubungan Meina dan Adrian adalah definisi dari "toxic" yang terbungkus rapi. Adrian adalah pria yang sangat posesif. Baginya, Meina adalah piala yang harus dijaga di dalam lemari kaca—tidak boleh terlalu bebas, tidak boleh terlalu vokal, dan harus selalu ada di bawah kendalinya.
"Kamu tuh nggak pernah bersyukur, Mei! Kurang apa aku?" Kalimat itu masih terngiang-ngiang.
Mungkin dulu Meina masih menuruti kata – kata Adrian, tapi siang tadi adalah kali terakhir dia akan menuruti kata-kata pacarnya itu. Sudah pasti ada sebabnya. Sore itu, hujan turun rintik-rintik di Yogyakarta. Adrian sedang mandi, meninggalkan ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu kontrakannya—sesuatu yang jarang sekali dia lakukan. Biasanya, ponsel itu seperti organ tubuh tambahan yang tidak pernah lepas dari genggamannya.
Meina sedang merapikan cangkir kopi saat sebuah notifikasi muncul. Layar ponsel Adrian menyala. Satu pesan masuk dari kontak bernama "Bunga Desa".
Jantung Meina berdetak lebih kencang. Nama itu terdengar sangat spesifik, sangat personal. Selama ini, Adrian selalu melarang Meina berteman dengan pria mana pun. Bahkan untuk sekadar membalas chat teman sekelas, Adrian bisa menginterogasinya selama berjam-jam. "Aku cuma mau melindungimu, Mei," katanya selalu dengan nada manis yang manipulatif.
Tapi kali ini, rasa penasaran Meina mengalahkan rasa takutnya. Dengan tangan gemetar, dia mengambil handphone itu. Meina membaca barisan pesan itu dengan napas yang tertahan. Isinya bukan sekadar tanya kabar.
“ Lagi apa mas, jangan lupa makan agar tidak sakit”
Rasa penasaran yang mendalam Meina, membuka pesan lainnya dengan nama yang masih sama Bunga Desa. Ternyata sms dari nama itu sangat intens.
"Adrian , Mas kangen suasana di kampung. Kangen masakanmu, kangen duduk berdua di teras rumahmu. Tunggu Mas pulang bulan depan ya, kita jalan-jalan lagi ke telaga."
Dan balasan dari wanita itu lebih menyesakkan:
"Iya Mas Adrian, Bungatunggu. Jangan lupa oleh-olehnya ya. Pacar Mas di Jogja nggak marah kan kalau Mas sering chat Bunga?"
Jawaban Adrian membuat dunia Meina seolah runtuh:
"Nggak usah dipikirin. Dia cuma temen jalan selama aku kuliah di Jogja. Mas cuma sayang sama kamu, bunga desa Mas."
Meina terduduk lemas di kursi kayu. Air matanya tidak langsung jatuh, tapi dadanya terasa seperti dihantam godam besar. Jadi, selama ini pengamanan ketat Adrian, sikap posesifnya yang gila, dan larangannya untuk Meina bersosialisasi hanyalah proyeksi dari kesalahannya sendiri.
Adrian takut Meina selingkuh karena dia sendiri sedang melakukannya. Dia mengurung Meina agar Meina tidak melihat betapa busuk dunianya di luar sana. Meina duduk di lantai, bersandar pada pintu kayu yang tertutup rapat. Dia merasa sesak. Dia butuh oksigen emosional. Dan entah kenapa, memori tentang Rangga muncul begitu saja seperti slide film lama. Rangga yang dulu hanya dikenalnya beberapa hari di facebook entah mengapa disaat seperti ini begitu terasa istimewa.
MEINA SADAR, mencari nomor Rangga di saat dia sedang bertengkar dengan Adrian adalah sebuah langkah yang berisiko. Tapi dia sedang tidak peduli pada risiko. Dia sedang terluka, dan cara paling instan untuk mengobati luka itu adalah dengan mencari seseorang yang dulu pernah menganggapnya istimewa.
"Aku nggak mau selingkuh," bisik Meina pada kesunyian kamarnya. "Aku cuma butuh diingat sebagai Meina yang dulu. Bukan Meina yang selalu disalahkan Adrian."
Meina masih setengah rebahan di sofa ruang tamu rumah bulik dengan televisi yang menyala tanpa suara. Cahaya dari layar TV memantul di dinding, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak, tapi pikirannya terbang jauh ke masa dua tahun lalu. Di tangannya, ponsel Nokia 6100 terasa berat. Meina sudah membuka menu "Kontak" berkali-kali, mencari nama yang sebenarnya dia tahu sudah lama dihapus: Rangga.
Menghapusnya dulu adalah bentuk pertahanan diri. Meina tidak kuasa manakala Adrian dengan wajah memerah merampas ponsel dan memaksa untuk menghapus nomor Rangga. Entah mengapa ada sesuatu tentang Rangga yang tiba-tiba saja seperti memanggil –manggil namanya.
"Mei, kamu yakin mau nanya nomor dia ke si Dimas?"
Suara batinku sendiri seringkali lebih menyebalkan daripada komentar orang lain. Dimas adalah teman sekelas Rangga yang paling berisik. Dan sekaligus tetangga dia di kampung. Kalau Meina bertanya padanya, satu angkatan bisa tahu kalau Meina sedang mencari Rangga. Tapi Meina sudah sampai di titik "masa bodoh".
Meina butuh alasan. Meina butuh pembenaran untuk menghubungi dia lagi.
Pencarian itu tidak mudah. Meina harus memutar otak agar tidak terlihat terlalu agresif. Meina mulai dengan mengomentari unggahan lama Dimas di media sosial, basa-basi soal tugas akhir, sampai akhirnya Meina memberanikan diri mengetik pesan di DM:
"Eh Dim, inget Rangga nggak? Itu lho, yang dulu sering sekelompok sama kamu. Aku ada urusan soal draf skripsi di dia, tapi nomornya ilang pas aku ganti HP. Kamu masih simpen nggak?"
Kebohongan klasik. Urusan skripsi? Tapi itu satu-satunya tameng yang kupunya agar tidak terlihat seperti wanita yang sedang merana karena tiba-tiba merindu.
Dimas tidak langsung membalas. Tiga jam kemudian, notifikasi muncul. Jantungnya berpacu.
"Oh, Rangga? Masih ada nih. Bentar ya."
Dua menit kemudian, deretan angka itu muncul di layar handphone. Sepuluh digit yang rasanya seperti kode brankas harta karun. Meina menatap nomor itu lama sekali. Apakah dia masih pakai nomor ini? Apakah dia sudah ganti? Atau yang lebih menakutkan: Apakah dia akan mengabaikanku?
Meina menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk menyusun satu kalimat pendek.
Draft pertama: "Hai Rangga, apa kabar? Ini Meina." (Terlalu formal, hapus.)
Draft kedua: "Rangga, sombong banget ya sekarang. Masih hidup kan?" (Terlalu galak, nanti dia takut, hapus.)
Draft ketiga: "Ini benar nomornya Rangga?"
Sederhana. Menggantung. Memberi dia ruang untuk menyangkal kalau dia memang tidak mau bicara dengannya.
Sebenarnya, apa yang Meina rasakan? Jujur, Meina merasa kesepian dan butuh teman ngobrol. Masalah dengan Adrian, skripsi yang tidak kunjung beres juga. Teringat nasihat ayahnya, yang ujung –ujungnya dibanding –bandingkan dengan kakak perempuannya yang sukses lulus kuliah dengan cumlaude dan sekarang kerja di perusahaan bonafit di Jakarta.
Meina menarik napas dalam-dalam. "Sekarang atau tidak sama sekali," bisiknya pada diri sendiri.
Klik. Terkirim.
Begitu pesan itu berstatus Delivered, Meina melempar ponsel ke ujung sofa seolah benda itu baru saja menyengat. Meina mondar-mandir di kamar. Apa yang baru saja kau lakukan? Meina baru saja melemparkan batu ke dalam kolam yang tenang.
Tapi saat ponsel bergetar balik, dan Meina melihat jawaban: "Iya benar, ini siapa ya?"—Meina tidak bisa menahan senyum lebar.
Ada rasa menang yang kekanak-kanakan. Meina berhasil menemukannya kembali.
Meina tahu ini bukan sekadar SMS biasa. Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih rumit. Meina merasa seperti pencuri yang baru saja menemukan kunci rumah lamanya. Meina tahu masuk ke sana mungkin salah, tapi udara di dalam sana terasa jauh lebih segar daripada di luar sini.
Diubah oleh breaking182 08-03-2026 09:04
itkgid dan ezzasuke memberi reputasi
2
375
Kutip
8
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya