Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
12
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61618c657e82d24bdd6f1924/cerita-dari-seberang
Hai! Nama gw Nata, seorang anak laki-laki dengan pemikiran yang gw sendiri sulit untuk memahaminya. Tidak tidak, gw nggak gila atau dengan gangguan (mohon maaf). Ini adalah sekumpulan cerita gw, temen gw atau mungkin mereka yang tiba-tiba datang dan bercerita ke gw. mungkin dengan cerita-cerita ini bisa jadi mereka pun merasa lega dan nggak setiap hari datang secara mengagetkan di depan gw atau ti
Lapor Hansip
09-10-2021 19:34

Cerita dari Seberang

Cerita dari Seberang

Hai! Nama gw Nata, seorang anak laki-laki dengan pemikiran yang gw sendiri sulit untuk memahaminya. Tidak tidak, gw nggak gila atau dengan gangguan (mohon maaf). Ini adalah sekumpulan cerita gw, temen gw atau mungkin mereka yang tiba-tiba datang dan bercerita ke gw. mungkin dengan cerita-cerita ini bisa jadi mereka pun merasa lega dan nggak setiap hari datang secara mengagetkan di depan gw atau tiba-tiba ngebawa gw ke dalam serpihan ingatan, biarkan gw tidur dengan tenang di setiap malamnya.

Gw indigo ?
Bukan bukan, bahkan gw nggak bisa melihat mereka. Lalu bagaimana bisa gw ngobrol dengan mereka ? Jawabannya sederhana, Empati.

Apakah ini nyata ?
Tidak, ini hanyalah cerita fiksi yang apabila sama maka hanya kebetulan

Cerita ini selalu dari sudut pandang gw tentang kepercayaan, adat atau budayanya. Apabila memang kurang berkenan maka gw minta maaf, mungkin kita memang berbeda. Tapi karena berbeda makanya banyak hal yang bisa kita dapat. Sebagai salam pembuka, gw akan memberikan sudut pandang gw tentang dimensi yang berbeda. Ini adalah bagaimana gw memahami mereka tanpa bisa melihat mereka, jadi kalau dari pembaca ada yang lebih paham tentang itu karena sering berinteraksi dengan mereka, maka akan sangat gw hargai itu. Mungkin gw berhalusinasi, atau mungkin gw cuma anak yang cari perhatian. Kemungkinan itu ada, termasuk cerita mereka yang kemungkinan benar adanya karena gw hanya mendengar Cerita mereka dari Seberang
Diubah oleh hi.nats
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 8 lainnya memberi reputasi
7
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
18.3K Anggota • 28.1K Threads
Cerita dari Seberang
09-10-2021 19:36

Maaf (Part 1 Of 2)

Berada dalam kesunyian menanti hari tanpa ada kata, semua bersaksi dihadapNya. Menghadap penuh ampun dimana kami hanyalah makhluk tanpa daya dan upaya apabila tidak dalam kehendakNya.

Tepat hari ini saya melihat tubuh saya sendiri dikelilingi orang-orang yang silih berganti berdo'a di sebelah tubuh saya. Mencoba menyapa siapa saja dan berharap ada yang mendengar dan dapat saya sampaikan apa yang masih ada dalam benak saya. Melihat mereka yang saya kenal silih berganti mengirimkan do'a. Satu per satu saya lihat keluarga berdatangan, ada tangis disana dan saya hanya terdiam melihat itu semua, adik-adik saya seolah masih tidak terima dengan apa yang terjadi, begitu pun dengan suami saya, dia terlihat tegar untuk tidak menangisi kepergian saya, kali ini saya benar-benar pergi, bukan sekedar jalan-jalan bersama kolega seperti tahun sebelumnya. Sementara saya hanya bisa berdiri disini melihat itu semua tanpa ada yang bisa saya sampaikan walau sebenarnya saya sangat ingin menyampaikan hal itu.

Saya melihat ayah saya di kamarnya menunduk dan menangis, ini adalah kali ketiga saya melihatnya menangisi kepergian seseorang di rumah ini. Setelah banyak hal yang saya lalui bersamanya, saya tahu kalau dia amat sangat menyayangi saya. Dia menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya, bedanya saat ini ia tak punya seseorang yang menenangkannya, ibu saya sudah lama pergi, dan saat itu saya berjanji untuk menjaga adik-adik saya dan berusaha mengganti perannya di rumah ini. Terkadang ayah sulit mengungkapkan rasa sayang itu terhadap anaknya, maka saya harus mengisi itu. Tapi hari ini Tuhan memanggil saya, sampai tak sempat saya ucapkan perasaan itu ke mereka.

Adik saya satu ini menjadi kebanggaan di keluarga ini, saya sempat dengar ayah memujinya di depan orang banyak namun tersirat. Adik-adiknya juga sangat bangga dengannya, termasuk saya sebagai kakaknya. Hari ini dia menangis seperti saat dia kecil, sesenggukan seperti itu. Adik-adik perempuan saya yang lain juga sama. Saya sudah berusaha menggantikan posisi ibu saya, setidaknya mereka tau kalau mereka punya saya yang selalu ada tanpa diminta.

Saat mereka masuk ke kamarnya untuk bersedih, saya masih berada di tempat dimana tubuh saya sedang dibacakan do'a. Beberapa orang yang saya lihat dapat terhubung dengan saya, saat itu tidak dapat saya jangkau, seperti ada tembok kaca tebal yang menghalangi. Tidak hanya manusia, bahkan ada juga makhluk lain yang biasanya tidak pernah saya lihat. Saya tidak bisa berkata apapun, mulut saya seperti terkunci bahkan kalau pun bisa, suaranya tidak akan terdengar. Saya berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikannya. Saya seperti sudah hampir menyerah dengan hal ini.

Silih berganti yang mendo'akan. Lalu saya melihat beberapa anak muda sedang berjaga di luar, mereka tampak asyik mengobrol. Secara bergiliran masuk untuk mendo'akan saya. Itu Nata, sepupu saya yang gayanya sangat menyebalkan. Ah, saya tidak berharap banyak dari anak ini karena omongannya terkadang suka aneh dan tidak jelas. Lalu dia masuk dan mulai membacakan do'a, namun saya melihatnya menatap tubuh saya lalu menatap ke sekeliling ruangan seperti mencari saya.

"Kak, aku tau kamu masih disini" terdengar suara Nata dengan jelas, namun mulutnya tidak terbuka

Tembok kaca yang ada di depan saya seperti menghilang dan memudar

"Nat, Nata. Tolong sampaikan Nat . . ." Saya berucap itu sebisa saya

"Sudah kak, ikhlas. Kita sudah berbeda" kata Nata dengan halus, bahkan terdengar sejuk

"Nat, maafin kakak Nat. Tolong maafin kakak" kata saya karena ini yang harus saya sampaikan

"Kami semua sudah memaafkan kak, aku ikhlas kak"

Saya berusaha menyampaikan tapi Nata sepertinya menutup hal itu, tembok kaca sudah tertutup kembali. Lalu mulai lah banyak dari makhluk lain memanfaatkan hak tersebut dengan menyerap informasi dari yang ada.

*****


"Tolonglah, jangan aneh aneh. Gw tau lu Qorin, gak usah nipu jadi kakak gw" kata Nata

Saya tersenyum melihat Nata sedang digoda oleh makhluk itu, memang anak ini suka ngomong ngelantur dan gayanya menyebalkan tapi kalau ngeliat dia begini kayanya saya ngerti kenapa dia menyebalkan.

"Nat, sehat ?" Ucap saya pelan

"Wew, siapa lu ?" Katanya

Kami melakukan komunikasi secara batin, mungkin begitu manusia menyebutnya. Ini belum 40 hari semenjak jasad saya dikubur, saya masih ada di dunia ini untuk hal yang sebaiknya tidak diketahui oleh manusia.

"Doni apa kabar Nat ? Kayla dan Nasyila juga gimana sekarang ?" Kata saya

"Oh, kamu Qorin ? Nggak capek nanyain hal itu ke gw ?" Kata Nata

Kemudian saya memberikan sebuah gambaran semasa hidup, hanya sedikit yang tersisa sebelum saya harus kembali kepadaNya menunggu hari perhitungan. Saya melihat Nata menangis sejadinya, baru kali ini saya lihat anak menyebalkan ini menangis, seperti menyesal akan satu hal.

"Kak, aku minta maaf kak. Aku minta maaf" katanya sambil menangis

"Nat, ikhlas. Katanya kamu ikhlas" kata saya yang sudah merelakan dunia perlahan-lahan

"Andai aja waktu itu aku bisa ngomong kak. Mungkin nggak begini kak" kata Nata sesenggukan

"Kamu spesial ya Nat, jaga orang orang terdekat kamu" kata saya yang kemudian pergi kembali ke rumah.

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Cerita dari Seberang
12-10-2021 14:42

Maaf (Part 2 Of 2)

*PoV : Nata

Setelah lulus setahun lalu, setidaknya gw udah cukup punya pengalaman banyak soal dunia yang nggak gw ketahui. Hari ini baru saja gw mengalami kejadian yang amat menyebalkan karena firasat tentang kematian itu datang beberapa jam sebelum orang tersebut meninggal. Tenang, gw udah mati rasa untuk hal ini. Bahkan gw nggak peduli mau dibilang apa ketika ada yang lihat kalau gw lebih suka main hp ketika ada pengajian. Gw punya pemikiran sendiri tentang hal ini yang nggak bisa gw ungkapkan karena akan bertentangan dengan stigma orang banyak. Sederhananya, hati atau dalam islam biasa disebut Qalbu adalah inti dari manusia itu, namun hati manusia siapa yang tau.

Gw bertemu dengan keluarga besar gw besok, dalam sebuah acara rutin bulanan yang kebetulan di rumah gw. Kak Rachel ngebantuin nyokap masak, dia sepupu gw yang sering banget ngobrol sama nyokap karena dekat dan juga dia wanita hebat yang bisa ngegantiin peran ibunya untuk adiknya, ayahnya masih ada tapi sebagai orang dewasa gw paham bahwa sosok ayah tidak bisa menggantikan peran ibu, begitu sebaliknya.

"Nat, ke minimarket dong beliin bumbu sama minuman buat besok" kata Kak Rachel

"Yaa, sebentar" kata gw yang menghampiri ke dapur

"Suami lo mana kak ?"

"Sibuk dia ada meeting client" katanya

Sepersekian detik gw melihat hal yang nggak gw sukai, sebuah momen dimana mata batin gw terbuka, harusnya ini nggak terjadi. Kemudian gw memalingkan pandang ke bawah karena ada makhluk jelek yang terlihat entah dimana. Mata batin yang gw miliki ini bukan melihat wujud secara nyata seperti melihat manusia, tapi seperti radar dimana gw bisa tahu disudut mana dia berada tanpa harus melihat ke arah itu. Alasan gw melihat ke bawah, agar kak Rachel ini tidak menyadari perubahan ekspresi gw yang mau muntah.

Sepanjang perjalanan ke minimarket gw merasa harus bilang sesuatu ke kakak gw itu, entahlah apa yang ada di pikiran gw ini. Seperti harus ada yang ia selesaikan sebelum waktu yang entah kapan, di kepala gw cuma ada kata 'dia harus minta maaf' tanpa ada kata lainnya lagi. Satu dua tiga dan bulan bulan berikutnya hal tersebut menjadi pikiran saya dan itu harus saya sampaikan. Sampai pada satu hari saya bertemu dengan seseorang yang selalu bisa jadi pembimbing saya, dan saya ceritakan semuanya.

"Mas, kira-kira saya mesti gimana ya ?" Tanya gw setelah bercerita panjang lebar tentang apa yang gw rasain

"Kalau sekiranya itu akan menyinggung, sebaiknya biarkan saja semuanya mengalir dan kalau memang ada kesempatan baik maka sampaikanlah"

Begitu kata yang gw dengar, dan itu cukup membuat gw lega. Setidaknya gw nggak harus mikir yang aneh-aneh akan terjadi sesuatu nantinya.


****



Waktu berjalan dan seiring dengan itu, batin gw masih merasa harus gw sampaikan ke kakak gw itu, tapi di lain sisi gw nggak mau dibilang adik kurang ajar karena sok tau. Sulit untuk membuat semua itu benar-benar tersampaikan dari benak gw. Perasaan gw selalu seperti itu, bahkan sampai logika gw berpikir untuk abai terhadap hal itu dan mencukupkan hal itu sebagai hal yang bukan urusan gw.

Waktu berlalu sampai pada hari ini kak Rachel masuk rumah sakit karena collapse di rumah karena salah satu penyakit yang terabaikan oleh masyarakat kota tetapi sebenarnya ini sangat bahaya karena presentase kematian yang cukup tinggi apabila salah penanganan. Gw yang panik, langsung menggelar sajadah untu sholat dan berdo'a, gw melakukan apa yang gw bisa saat itu karena gw dengar kak Rachel sudah tidak sadarkan diri, gw masih percaya bahwa gw bisa melakukan sesuatu, sampai akhirnya gw terhenti dan air mata gw menetes. Gw lipat sajadah, dan mengantar ibu gw ke rumah sakit untuk melihat keadaan kak Rachel.

Sesampainya di rumah sakit, gw menjumpai adik-adiknya yang lain, mengobrol untuk mencairkan suasana dan gw masih berharap untuk sebuah keajaiban disini. Kemudian gw pamit lebih dulu untuk mencari tempat yang tidak terlalu ramai karena disini banyak orang berlalu-lalang. Belum jauh gw melangkah, dokter sudah keluar dari ruangan itu dan memanggil paman gw dan suami kak Rachel. Setelah selesai, mereka dengan pasrah menyampaikan hasil bahwa ini sulit karena semua saat ini hanya bertumpu pada alat medis dan kondisi akan semakin drop karena tubuhnya tidak dapat mencerna obatnya. Saat itu adik-adiknya menangis, paman gw menahan itu, suaminya pun menahan, Ibu gw mencoba menenangkan adik-adik dan gw cuma diam.

*****


Malam ini gw dan anak muda sekitar rumah kak Rachel secara bergantian masuk untuk mengirimkan do'a. Kami mengobrol dari A sampa Z untuk tetap membuat kami terjaga. Saat giliran masuk, gw dan dua orang lainnya saling melihat satu sama lain.

Dalam hati gw, "ada yang ganjil"

Gw mulai membuka bacaan do'a pembuka dan seterusnya, gw nggak kuat melihat wajah dari tubuh kakak gw ini terbaring kaku seperti ini, mau menangis rasanya tapi sudah tidak bisa. Lalu saya melihat ke sekeliling karena merasa ada yang tidak biasa

"Kak, aku tau kamu masih disini" kata gw membuka sedikit koneksi

"Nat, Nata. Tolong sampaikan Nat . . ." Terdengar suara yang gw pikir itu kak Rachel

Gw merasakan ada perasaan yang ingin ia sampaikan tentang banyak hal di dunia ini yang ia tinggalkan, lalu hal itu gw potong

"Sudah kak, ikhlas. Kita sudah berbeda" kata gw singkat

"Nat, maafin kakak Nat. Tolong maafin kakak" terdengar dari suara itu

"Kami semua sudah memaafkan kak, aku ikhlas kak" kata gw yang kemudian menutup komunikasi, dan membacakan do'a

Gw menutup komunikasi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, banyak hal yang terlihat saja bisa menipu bagaimana yang tidak bisa, jadi atas dasar itu maka gw membatasinya.

***


*Hal yang terjadi berikutnya ada di part pertama ketika dia menghampiri gw malam hari

Gw melihat gambaran bagaimana kak Rachel semasa hidupnya, menghadapi berbagai macam hal dan berusaha jadi yang terbaik untuk keluarga. Gw nggak bisa ngebayangin itu terjadi sama gw, tanpa sadar air mata menetes lalu semakin deras dan semakin tak tertahankan. Lalu suara itu menghilang


Selesai!!!



Quote:Pesan:
ikhlas memang tidak mudah dan saya tau itu. Tapi kalau dengan ikhlas bisa meringankan mereka yang sudah mendahului kita, mengapa tidak ?
Begitupun dengan maaf, terlihat hanya empat kata tapi itu dapat membuat mereka yang sudah mendahului kita berada di tempat semestinya.
Setelah maaf, ikhlas lalu do'akan agar mereka tenang.

Setidaknya, saya tidak harus kedatangan tamu dengan masalah yang sama karena membaca ini bersama kalian.
Diubah oleh hi.nats
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan redrices memberi reputasi
2 0
2
Cerita dari Seberang
12-10-2021 20:04

Kata Pengantar dan Daftar Cerita

Menarik sekali, baru saya buat thread ini beberapa hari lalu. Di cerita awal saya menceritakan tentang orang terdekat saya, dengan harapan bahwa itu sudah akan mewakili semua yang membaca atau yang tidak kalian sadari juga ikut membaca. Saya lupa karena cerita masih menggantung tanpa ada kesimpulan dan pesan yang seharusnya tersampaikan, jadi selama beberapa hari itu emosi saya sangat tidak stabil, lucu sekali bahkan saya sempat berkali-kali mengalami kejadian aneh, salah satunya tiba-tiba pintu kamar saya diketuk dan terbuka seperti layaknya seseorang membuka, pas saya tengok memang terbuka, biarlah. Mungkin karena beberapa dari pembaca ada yang mengalami hal serupa (tidak cuma satu, karena ini ada banyak yang datang), entah itu terjadi pada orang tua, anak, atau saudara si pembaca. Sebagai umat beragama, kirim mereka do'a menurut kepercayaan kalian. (untuk kalian yang ikut membaca ini, tetap di tempat kalian saat ini !!!)

cerita selanjutnya akan saya buat langsung selesai dalam satu post.

Daftar Cerita:

Page 1. Maaf (Part 1 & 2)
Page 2. Do'a
Page 3. Tamu Tak Diundang
Page 4. Open trip
Page 5. Pertemuan
Page 6. Pelosok

Untuk cerita lain dari saya, bisa dibaca di sini
Diubah oleh hi.nats
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Cerita dari Seberang
16-10-2021 00:28

Do'a

*kring . . . kringgg . . . kring

Gw langsung mematikan alarm yang ada di sebelah tempat tidur gw. Terlalu lama pandemi ini berlangsung, sampai lupa harus bangun pagi untuk sarapan kemudian ngopi lalu berangkat ke tempat kerja. Menyebalkan rasanya berangkat hari senin, padahal bisa saja gw minta jadwal besok atau lusa.

Sepanjang jalan gw merasa nggak sendirian, mungkin ini efek dari cerita yang gw buat di forum kemarin. Tetapi karena ini masih di jalan, nggak mungkin gw buka komunikasi karena bisa bahaya untuk konsentrasi gw membawa kendaraan. Gw nggak tau menyebutnya apa, seperti perasaan ingin tersampaikan itu ada, dan juga perasaan bersalah terhadap orang tuanya. Gw nggak bisa tau demografi dari pembaca cerita gw ada di usia berapa. Satu jam perjalanan ibukota dengan motor itu sangat menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi.

Tempat kerja gw memang cukup unik, bangunan arsitektur Belanda dengan sedikit renovasi modern. Jadi untuk hal bersifat kasat mata, gw sudah mulai terbiasa disini. Tapi yang menyebalkan, tempat ini dekat dengan rumah duka. Gw pun tidak paham kenapa selalu dikelilingi hal seperti ini, padahal kalau boleh pilih pun gw nggak mau ngurusin hal seperti ini. Pekerjaan gw cukup simpel untuk hari ini, jadi nggak butuh seharian disini.

Selesai makan siang, gw buka komunikasi sama yang ikut dengan gw. Kebetulan kerjaan gw udah selesai dan juga gw di ruangan sendiri.

Seorang perempuan ini datang menangis, masalah keluarganya membuat ia harus pergi dari rumah dengan kondisi pikiran yang tidak menentu, adik laki-lakinya masih kecil saat itu tidak tau apa-apa. Dari gambaran yang saya dapat hanya sebatas itu. Karena cerita yang hanya sepotong kemudian gw mulai berusaha mendapatkan informasi itu dan apa yang dia inginkan.

"Mau kamu itu apa ?" Ucap gw dalam hati

"Saya hanya mau kamu sampaikan ini saja"

"Saya tau, tapi kalau begini untuk apa ? Kalau sampai saya buka ternyata kamu hanya mencuri informasi ini, saya nggak segan untuk melakukan sesuatu" kata gw dengan tegas dan kemudian mulai membaca do'a

Lalu nggak lama terdengar suara lengkingan tawa yang seperti anak ayam.

"Hadeh, sial. Ada aja yang begini" gw ngedumel sendiri

Karena hari ini semua kerjaan gw udah selesai, jadi gw langsung balik.

***


"Kenapa tadi bukan kamu yang cerita ?" Kata gw

"Saya tidak bisa mencapai kesana, terlalu banyak yang ingin bicara denganmu"

"Baiklah, sekarang sepertinya cuma kamu yg bisa saya dengar dan rasakan. Mau kamu apa ?" Kata gw tegas

"Saya membaca ceritamu bersama manusia yang sedang bersama saya. Saya pikir kamu bisa membantu saya dalam hal ini"

"Boleh tau nama kamu ?"

Kemudian dia menyebutkan namanya, tapi sebaiknya kita sebut dia Anggun.

***


Pov: Anggun

Saat itu saya benar-benar sedang banyak masalah. Lingkungan kerja yang sangat gemerlap usai jam kantor, lalu saat di rumah mesti menghadapi kenyataan pahit kalau ayah punya wanita lain, dan ibu selalu jadi sasaran amarah dari ayah yang baru pulang setelah beberapa hari. Kehidupan saya berputar seperti itu, adik saya tidak tau apa-apa karena dia masih kecil.
Saat ini saya berada di sebelah wanita yang kurang lebih nasibnya sama denganku. Beban pekerjaan, mental dan perasaannya sangat mudah bagi makhluk seperti saya untuk mendekatinya. Tetapi ini bukan tentang dia, ini tentang saya yang masih mencari sesuatu yang dinamakan ketulusan, atau mungkin dalam kepercayaan kamu, ini disebut ikhlas.

Saya lupa bagaimana saya bisa berada bersama anak ini, tapi seingat saya waktu itu saya tersadar di atas jalan raya. Masyarakat ramai mengerubungi tubuh seseorang penuh darah, saya harus pulang dan cepat pulang karena adik saya sedang menunggu makanan yang saya bawa ini. Lalu ketika sampai di rumah, saya menemui adik saya sedang di menunggu di kamarnya, sementara ibu masih menyiapkan peralatan makan dan membuat minuman hangat karena tadi saya sempat telepon untuk membawakan makanan enak.

"Bu, aku pulang" kata saya ke ibu

Ibu tidak merespon aku, ah mungkin dia sedang fokus jadi tidak dengar

"Bu, makanan udah aku taruh di meja ya" kata saya dengan suara yang lebih keras

Kemudian suara telepon rumah berdering

"Dek tolong angkat telepon, ibu lagi repot" kata ibu dengan keras

"Iya bu" kata adik saya keluar dari kamar kemudian berlalu melewati sebelah saya

"Halo, dengan keluarga*** ada yang bisa dibantu ?" Kata adik di telepon

Kemudian adik saya terdiam, lama-lama terduduk sementara gagang telepon masih ditelinganya "betul pak, saya adiknya. Nanti saya yang akan kesana" kemudian ia menaruh gagang telepon di tempatnya

"Ibuuuuuu . . . Ibuuuuu . . ." Katanya tiba-tiba teriak dengan tangisan

Saya masih berdiri di tempat sejak awal datang. Ibu saya lari menghampiri adik saya dan menembus tubuh saya.

"Kenapa kamu ?" Kata Ibu

Saya menyentuh badan saya yang baru saja dilewati ibu

"Kak Anggun kecelakaan bu, ka Anggun" katanya sambil menangis

"Terus tadi siapa yang telepon ?"

"Polisi bu, katanya kakak mau diantar ke rumah bu" dia masih menangis

"Gimana kondisinya ?"

"Kakak udah ninggalin aku bu, ninggalin kita bu. Kakakk!!!!" Dia masih menangis semakin jadi

Lalu ibu memeluknya dan mengeluarkan air matanya, kali ini saya yang membuatnya sedih.

"Bu, aku disini bu! Adek, ini kakak dek!" kata saya yang mencoba meraih mereka tetapi tidak bisa menyentuh mereka

Singkat cerita, saya melihat semua orang datang ke rumah saya. Di hati saya cuma ingin katakan maaf untuk ibu dan adik. Saya masih belum bisa melihat apakah adik atau ibu saya sudah memaafkan saya atau belum. Suatu hari ada orang yang mencoba berbicara dengan saya, katanya saya tidak boleh mengganggu ibu dan adik saya namun belum sempat saya ucapkan apa yang mesti saya sampaikan, mereka memindahkan saya ke tanah lapang pinggir kota, entah sudah berapa lama ini semua berlalu sampai saya melihat anak wanita dengan emosi yang sama dengan saya saat itu. Saya melihat semua yang ia lakukan adalah untuk keluarganya, bahkan rela sampai ia mengorbankan kebahagiaannya, ia hanya senang membaca lalu berkhayal dan berandai-andai dengan bebasnya, saya senang saat ia melakukan itu, karena ia tidak perlu memikirkan beban yang ada padanya.

Sampai beberapa saat lalu, ia membaca cerita yang tidak biasa menurut saya, karena dalam bacaan tersebut ada sesuatu yang terhubung dengan penulis, lalu saya mengikuti penghubung tersebut. Sampai lah saya pada seorang laki-laki yang sedang kedatangan banyak tamu seperti saya.

***


"Lalu apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya ?" Kata gw yang belum mengerti arah dan tujuan dari sosok ini

"Cukup do'akan saya setelah cerita ini selesai" katanya

"Oh, kamu ingin saya menyampaikan pesan untuk orang sepertimu saat kamu masih hidup ?" Kata gw

"Begitulah, maaf kalau lancang" katanya

"Baiklah, tapi berjanjilah setelah ini selesai maka ikhlaskan semua yang berkaitan dengan alam dunia ini"

"Saya janji!"

"Silahkan, apa yang ingin kamu sampaikan ?" Kata gw yang kemudian mulai mendengarkan dan menulis pesan darinya

"Manusia itu unik, harus mengejar dunia tapi terkadang lupa bahwa dunianya juga terabaikan. Mengejar harta, jabatan tapi lupa bahwa bahagia adalah soal hati yang terpuaskan tanpa ada tuntutan sebelum atau setelahnya. Banyak yang menipu dirinya atau membohongi perasaannya seakan ia hidup untuk waktu yang lama, padahal Tuhan telah menetapkan usia mereka sebagaimana mereka percaya pada ketentuan Tuhan"

"Hanya itu saja ?" Kata gw menghela nafas

"Untuk manusia yang merasa terganggu dengan kami, do'akan saja kami dengan do'a yang kamu yakini, jangan berharap pada kami untuk membantu ini dan itu, sejatinya hanya sang Maha Kuasa yang berkehendak atas itu semua, dan jangan takut terhadap kami karena terkadang kami hanya butuh teman atau bahkan makanan..." katanya dan hendak melanjutkan

"Cukup, biar bagian selanjutnya tidak usah diteruskan, ada lagi yang ingin kamu sampaikan ?" Kata gw memotong perkataannya

"Tetaplah menjadi manusia yang memanusiakan manusia seperti perkataan manusia paling mulia yang pernah hidup di dunia ini. Terimakasih" katanya menutup perkataannya

Kemudian ada dialog singkat tentang saya dan dia sebelum saya mendo'akannya agar dapat menuju ke tempatnya yang seharusnya. Dialog singkat tentang bagaimana perkataan tersebut bisa keluar dari sosok sepertinya itulah yang menarik buat saya.

"Baik. Terimakasih, saya akan sampaikan ini menjadi sebuah tulisan dan saya harap kamu berada dalam kedamaian selama masa penantianmu" kata gw yang kemudian mengucapkan beberapa do'a

Perlahan keberadaannya mulai menghilang, prosesnya seperti ada cahaya yang keluar sesaat kemudian tubuhnya mulai memudar perlahan.

"Terimakasih, semoga kamu tetap dalam kebaikanmu" katanya

SELESAI



Quote:Pesan:
Setiap orang dapat melakukan apa yang saya lakukan terhadap sosok seperti ini, berdo'a sesuai dengan kepercayaan kalian karena sejatinya do'a adalah ucapan tulus dengan rasa percaya terhadap Tuhan yang Maha Kuasa atas segala ciptaanNya dan atas kehendakNya lah maka semua dapat terjadi.

Jangan lupa kirim do'a terhadap orang tua kalian yang masih hidup dan mereka yang telah mendahului, bukannya menggurui tapi do'a juga bersifat dua arah dimana kita juga merasa lebih tenang setelahnya. Terimakasih
Diubah oleh hi.nats
0 0
0
Cerita dari Seberang
18-10-2021 21:53

Tamu Tak Diundang

"kalau saja kami dapat menentukan nasib kami sebagaimana manusia saat masih hidup, mungkin kami harus banyak bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas anugerah itu. Jikalau saja manusia tau bahwa anugerah terhadapnya jauh melampaui semua makhluk yang ada di bumi maupun langit, maka manusia semestinya bersyukur terhadap Sang Pencipta. Tiada daya dan upaya kami menandingi hal itu kecuali atas kehendak Yang Maha Menguasai. Manusia bilang bahwa kami penuh tipu muslihat padahal manusia pula yang penuh kebohongan, bahkan ia mampu berpaling dari Sang Pencipta, meragukan Sang Pengasih dan Penyayang dengan takdir yang membawanya menderita di dunia, lalu datang kepada kami seakan kami dapat merubah takdir, sungguh manusia ini tidak punya rasa terimakasih"

"Lalu ada perlu apa kamu kesini ? Bukannya kamu sedang ditahan ?" Kata gw yang sedang ngopi di balkon atas rumah sambil melihat langit

Hari ini gw kedatangan tamu yang cukup unik, dia selalu berkata "beruntunglah kalian manusia".

"Saya sudah gelap mata saat itu, dimana harta tidak lagi saya miliki ditambah kondisi yang saya dapat sangatlah menyiksa batin saya dengan segala macam bentuk kesulitan saya hadapi. Lalu saya datang ke sebuah tempat untuk mencari kekayaan, berlandaskan rasa putus asa atas semuanya penderitaan yang saya dapat selama ini. Pekerjaan tidak menentu, cerita cinta yang tragis bahkan penghinaan telah saya dapati"

Gw bingung dengan cerita ini, karena ketika gw melihat lebih jauh, ada anak laki-laki yang sedang bersamanya sebelum ia memasuki portal yang gw buat di cerita sebelumnya.

"Sebentar, lalu siapa anak laki-laki yang bersama kamu sebelumnya?"

"Dia masih keluarga saya, selama ini saya diperbolehkan untuk melihatnya pada waktu tertentu, dan saya tidak sengaja melihat pintu yang mengarah ke kamu, lalu kemudian . . ." perkataannya terpotong

Gw merasakan keberadaan sosok yang memiliki kontrak atas jiwanya, sepertinya dia terlihat marah. Gw melakukan obrolan yang intinya gw tidak punya maksud apapun terhadap jiwa ini dan dia pun membiarkan jiwa ini menyampaikan apa yang menjadi pesan terhadap manusia yang masih hidup. Gw tidak merasa heran dengan si pemilik kontrak jiwa ini mengijinkan gw melakukan dialog ini, menurutnya kodrat manusia tidak pantas untuk digadaikan dengan kenikmatan sesaat di dunia, terlepas dia muslim atau bukan tapi menurutnya Sang Pencipta adalah tempat sebaik-baiknya ia kembali.

"Tidak sedikit saya melihat manusia memberi makan makhluk yang tidak terlihat seperti peliharaan, tidak sedikit juga saya melihat mereka memanfaatkan kami untuk hal yang tidak baik, lalu manusia itu tidak sadar bahwa hatinya mulai termakan oleh sesuatu yang bahkan kami takut untuk melihatnya sebagai makhluk ciptaan Sang Maha Kuasa. Hatinya lebih pekat dari apapun yang tak bisa terlihat. Begitu pun dengan saya saat itu, merelakan jiwa saya demi harta, tahta yang bahkan tidak sempat saya nikmati lebih lama dari keberadaan saya saat ini sampai waktunya tiba"

"Lalu menurut kamu, bagaimana manusia yang memelihara bangsa lain itu ? Apakah ada hal yang tidak manusia itu sadari ketika melakukan hal itu ?" Tanya gw

Jiwa ini tidak membalas perkataan itu, begitu pun dengan si pemegang kontrak dari jiwa ini. Gw terdiam untuk beberapa saat karena mereka terlihat tidak bisa menjawab pertanyaan ini

"Manusia menjadi lupa atas tugasnya, atas ketentuannya, mulai bergantung pada peliharaannya dan menganggap bahwa peliharaan itu menuruti perintah. Sampai pada satu titik, ia lupa bahwa itu sebagian daripada dosa besar" ucap salah satu teman gw

Sontak gw memberi salam "Assalamualaikum warahmatullah"

"Wa'alaikumsalam warahmatullah, lanjut saja" jawabnya

Gw kemudian mulai melanjutkan pertanyaan ke dua tamu gw ini.

"Jangan sungkan, saya hanya bertanya. Jika memang tidak bisa menjawab itu, maka jawab dengan kata 'maaf' maka saya akan mengerti"

Mereka berdua tampak memahami apa yang gw maksud.

"Ini semua tentang kepercayaan manusia terhadap Sang Pencipta. Saya saat itu hidup bergelimang harta lalu dengan tahta yang dapat saya gunakan untuk menghasilkan lebih, berusaha untuk bagaimana saya tidak lagi kembali pada kesengsaraan yang pernah saya alami sebelumnya. Mendapat wanita sesuai dengan yang saya mau, dan berkeluarga, semua kenikmatan yang begitu nyata, semuanya yang saya miliki sangat nyata sampai pada kenikmatan dunia rasanya telah saya rasakan. Lalu setiap beberapa waktu, saya harus mengorbankan nyawa manusia untuk itu, perlahan tapi pasti harta saya bertambah dan wanita bukan lagi hal istimewa untuk saya. Saya hancurkan setiap orang yang pernah menghina saya sampai benar-benar merasa malu. Semua hal telah saya lakukan, semuanya dapat saya kuasai dengan mudah"

"Lalu bagaimana semuanya hancur dan termakan oleh janjimu" kata gw yang mulai bosan dengan ceritanya, seperti cerita kebanyakan yang sering dicuri oleh penghuni lokal

"Saya kemudian jatuh hati pada wanita, ia berasal dari keluarga dengan kepercayaan yang baik. Saya tinggalkan anak dan istri saya saat itu, tetapi dia menolak untuk bersama saya karena berbagai macam hal yang telah saya lakukan terhadap keluarga saya. Lalu saya gelap mata dan mulai mendekati dengan cara yang tidak wajar. Tetapi bodohnya saya karena tidak melihat latar belakang keluarganya. Semua yang saya kirim berbalik ke saya, lalu saya mulai hancur dan setelah itu jiwa saya ditarik sebelum benar-benar hancur. Tubuh saya sudah diisi oleh makhluk lain, dan kemudian saya bahkan tidak tau lagi bagaimana tubuh saya saat ini. Ini hanya serpihan ingatan yang saya miliki, saya ditahan dan kadang diperlakukan bagai budak"

"Lalu mengapa kamu diizinkan untuk menengok anak laki-laki itu ?"

"Maaf anak muda, izinkan saya menjawab..." Kemudian si pemegang jiwa itu menjelaskan, namun karena ini tidak boleh diberitahukan jadi sengaja tidak gw masukkan dalam cerita

"Ada pesan yang ingin kalian sampaikan ?"

"Izin anak muda, saya harap manusia harus menyadari bahwa dirinya tercipta dari tanah liat maka pahamilah sebagaimana penciptaan padanya oleh Sang Pencipta. Beberapa dari jiwa yang saya pegang ini selalu menangis ingin hidup kembali dan menyesali semua yang mereka telah perbuat"

"Lalu kamu ?" Kata gw menunjuk ke arah jiwa yang terbelenggu ini

"Tidak banyak, saya ingin manusia penuh rasa syukur dan ingat terhadap yang Maha Kuasa atas apa yang telah ditakdirkan karena waktu adalah hal yang semu dan dunia penuh dengan tipu daya mereka yang tidak senang dengan hadirnya manusia"

"Baiklah, saya tidak akan ikut campur urusan kalian. Saya hanya cukup menyampaikan hal ini, dan saya harap kalian tidak datang ke tempat saya setelah ini" kata gw ke mereka

Mereka mengangguk dan kemudian menghilang perlahan.

SELESAI !!!



Quote:Pesan: Buat gw ini jadi hal yang menarik untuk diketahui, dimana saat ini (mungkin) karena pandemi banyak yang ingin semua secara instan atau banyak yang mulai memelihara entah dengan tujuan apapun atau alasan apapun itu jadi sedikit mendapat penjelasan. Gw tidak menghakimi hal tersebut benar atau salah, cerita ini pun bukan tentang benar atau salah. Lagipula, ini hanya fiksi, jangan terlalu dibuat pusing. Kendalikan semua yang seharusnya kamu yang pegang kendalinya, bukan sebaliknya. Bersyukurlah kamu masih manusia yang berakal sehat dan beragama.
0 0
0
Cerita dari Seberang
19-10-2021 13:42
makasih banyak gan threadnya emoticon-Betty (S)
profile-picture
hi.nats memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita dari Seberang
29-10-2021 12:53

Open Trip

Hari ini saya mengikuti kegiatan open trip ke ujung barat pulau jawa. Lokasi yang baru untuk saya kunjungi, kebetulan saya sedang bosan dengan pekerjaan saya yang harus berhadapan dengan layar setiap harinya. Saat membuka sosial media, saya melihat open trip dengan harga yang tidak terlalu mahal, setidaknya saya sangat butuh pantai saat ini. Open trip akan dilaksanakan minggu ini, saya message akun tersebut dan ternyata masih ada slot, jadi pembayaran tinggal transfer dan juga segalanya akan di briefing lewat pesan singkat.

Sempat berpikir kalau travel agent yang ada di sosmed ini akan scam karena dalam waktu beberapa hari belum ada kabar tapi ternyata nggak, mereka mengabari saya tentang perlengkapan yang wajib dibawa dan juga jadwal kegiatan dari mulai berangkat sampai pulang. Titik kumpul kami berada di mall daerah Jakarta Selatan. Tidak terlalu banyak bawaan saya karena tujuan saya kesini bukan untuk berenang, ada tujuan selain harus berlibur, yaitu melihat apa yang harus saya lihat.

Setelah selesai dengan pekerjaan hari ini, saya langsung menuju ke tempat kumpul yang sudah diberitahukan oleh pihak panitia. Sesampainya di lokasi, saya menuju ke coffee shop yang ada disini karena masih 2 jam lagi jadwal keberangkatannya. Saat sedang sendiri, saya dihampiri seorang wanita

"Permisi mas, ikut open trip sama mas Budi yang dari travel itu kan ?" Kata wanita tersebut

"Iya mbak benar, ada apa ya ?" Saya sedikit kaget karena ditegur oleh wanita yang bahkan nggak saya kenal

"Saya juga ikut mas tapi kayanya masih lama, boleh saya ikut duduk disini ?" Katanya meminta izin ke saya

"Silahkan mbak" saya mempersilahkan dengan gesture tangan

"Oh iya, salam kenal. Nama saya Febri" katanya menyodorkan tangan

Saya menyambut tangannya, "Saya Nata. Salam kenal"

Terdengar kaku ? Yup begitulah saya dengan orang baru

"Bawaannya banyak mas ?" Katanya

Saya heran, karena bawaannya hanya satu backpack biasa dan tas pinggang, "nggak kok mbak, ini cuma satu tas sama tas pinggang" jawab saya

"Oh, sedikit kalo begitu ya" katanya yang kemudian diam

Saya sibuk dengan ponsel karena masih ada koordinasi tentang kerjaan jadi mbak Febri ini nggak saya perhatiin

"Mas, ikut open trip ini kenapa mas ?" Tanya mbak Febri memecah keheningan

Saya taruh ponsel ke dalam kantong dan memulai untuk melupakan pekerjaan

"Saya mau liburan aja sih mbak, sekalian mau ngeliat-liat aja. Kalo mbaknya ?" Tanya saya

"Oh, bosen di Jakarta polusi terus" katanya

Saya bukan tipe orang yang bisa melihat langsung yang kasat mata, apalagi berbicara langsung tanpa harus berkonsentrasi atau membuka komunikasi dengan mereka tetapi kali ini berbeda. Ada sesuatu yang menarik dari mbak Febri ini selagi kami ngobrol, dan hal ini mendistraksi saya. Tetapi karena saya ingin liburan, jadi saya tidak mau ambil pusing.

*****


Perjalanan yang cukup melelahkan untuk sampai di tempat ini, kami masih harus menyebrang menggunakan kapal yang tidak cukup besar tetapi mampu untuk mengangkut 20 orang.

Sesampainya di pulau, kami semua berkenalan dan dibagi menjadi kelompok laki-laki dan wanita sesuai dengan pembagian ruang untuk tidur. Untuk acara pertama, kami menelusuri pulau ini yang merupakan habitat dari tanaman langka dan tergolong tua, disini juga kami masih dapat melihat monyet, babi hutan, biawak berkeliaran di seputaran basecamp.

Saya berjalan menyusuri hutan, lalu ada guide yang memberikan penjelasan terkait pohon yang ada disini, lalu ada beberapa tanaman yang unik membentuk celah jadi tampak seperti pintu. Saya berimajinasi saat melewati itu ternyata sudah pindah tempat, seperti di film Doraemon. Saat di perjalanan kami semua satu rombongan ini tampak menikmati pemandangan hutan dan juga berfoto-foto, sementara saya hanya mengamati sekitar dan merasa sangat tenang dan juga udara disini sangat bersih.

Tidak lama kemudian saya melihat mbak Febri sedang berbicara sesuatu dan menghadap ke sebuah pohon, tangannya memegang pena dan kertas yang dialas dengan papan jalan.

"ah paling juga lagi mengamati tumbuhan, mungkin dia seorang penyuka tanaman atau memang itu profesinya" ucap saya dalam hati

Kemudian saya juga mengamati sekitar lalu ada hal yang menarik dengan satu pohon di depan saya sekitar 5 langkah, lalu saya menghampiri dan mengamati pohon dari atas lalu ke bawah, ketika saya tepat menghadap ke depan, saya dikagetkan oleh sesuatu

"Mas, pohonnya menarik juga ya ?" Kata mbak Febri yang tiba-tiba datang dan mengagetkan saya

"Pohon ini sepertinya sudah lama ya ?" Kata saya menjawab dengan pertanyaan untuk menyembunyikan sesuatu

Pertanyaan saya tidak dijawab, lalu mbak Febri ini tampak menulis dan mulutnya seperti berbicara tetapi tidak ada suara yang keluar.

Saya kemudian melanjutkan perjalanan, sampai di ujung pulau yang terdapat pasir putih dan bebatuan besar. Saya duduk di batas antara hutan dan pantai, duduk di akar pohon dan memandang jauh ke arah pantai, suara ombaknya terdengar jelas, saya selalu suka suasana ini karena selalu menenangkan saya.

"assalamualaikum Mas" seseorang datang menghampiri di samping saya

Saya sontak menjawabnya, "waalaikumsalam kek" jawab saya pada sosok orang tua dengan pakaian khas satu daerah di pulau jawa

Lalu semua gerakan yang ada di depan saya semuanya terhenti.

"Ada perlu apa sampai repot-repot datang kesini ?" katanya

Saya semakin tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh orang tua ini

"Baiklah, tapi kalau memang harus terjadi. Maka haruslah terjadi, bukannya seperti itu" kata sosok orang tua itu seperti menanggapi omongan seseorang

Saya memperhatikan sekitar dan mengalihkan pandangan dari orang tua itu, tidak tampak ada orang lain disekitar saya, lalu semua kembali bergerak dan saat saya menengok ke arah orang tua itu, dia sudah tidak ada

Mbak Febri ini menghampiri saya, "nggak keliling mas ? Disitu aja ?" Katanya

"Nggak mbak, liat liat aja dari sini"

"Nggak usah dipikirin mas, nanti juga ketemu jawabannya" katanya yang sulit dimengerti oleh saya, dan saya anggap yang dia maksud adalah soal pekerjaan atau lainnya

Saya hanya membalas itu dengan senyuman.

*****


Setelah seharian penuh kegiatan menyenangkan dengan tracking dan snorkeling kemudian ada juga acara ramah tamah seperti api unggun, rasanya tidak menyesal mengeluarkan uang sekian rupiah, sepadan dengan acaranya.

Sebelum tidur, saya sempat ngobrol dengan peserta lainnya dan kami berbagi cerita. Tidak lama, ada salah satu peserta perempuan berteriak dari dalam kamar lalu yang lainnya berusaha menenangkan, tidak lama keluar salah seorang peserta menuju ke arah kami

"Mas tolong, ada yang kesurupan" kata wanita tersebut

Ada seorang laki-laki yang maju duluan, sementara saya malah masuk ke kamar untuk ambil ponsel. Karena kamar kami bersebelahan jadi dapat terdengar mereka sedang melantunkan ayat suci dan si wanita itu malah mengikuti bacaan itu. Ini bukan kali pertama saya menyaksikan hal itu, sementara yang lainnya mulai ragu dengan bacaannya, tetapi tetap dibacakan. Hal itu memang seharusnya dilakukan, terus bacakan saja tapi itu belum cukup.

Saya mendekat ke kerumunan itu dan melihat sekeliling ruangan, nampak tidak cuma satu yang ingin bergiliran masuk. Saya kemudian menatap ke arah wanita itu dan membacakan beberapa do'a pendek, si wanita itu menatap saya dengan mata yang melotot lalu tampak marah. Tidak lama kemudian mbak Febri yang baru datang dari luar menghampiri wanita itu dan wanita itu sadar. Dalam hati saya lega karena ini berakhir dan akhirnya terjawab firasat saya waktu awal bertemu mbak Febri ini.

Saya kemudian menyendiri di ayunan yang berada di bawah pohon sambil melihat ke arah pantai yang sedang terang bulan. Kemudian mbak Febri menghampiri saya dari arah samping

"Kenapa tadi nggak ditolongin mas ?" Katanya

"Mana ngerti saya mbak soal begitu" saya masih mengelak

"Tadi tuh pas saya masuk, sudah hampir keluar. Jadi saya nggak berbuat banyak"

Kami terdiam sejenak, lalu suara mbak Febri ini mulai berat

"kamu apakan cucu saya ? Banyak yang tidak suka dengannya" kata si mbak

"Mbok ya kalo dateng salam, ada apa memangnya ?" Dialek saya mendadak seperti orang jawa

"banyak yang tidak senang dengan cucu saya disini, ada apa ini ?" katanya dengan mata merah melotot ke arah saya

Saya membaca do'a sebisa saya untuk mengeluarkan makhluk ini karena yang tadi bicara kemungkinan bukanlah bagian dari keluarganya, dan benar saja beberapa saat kemudian sosok orang tua yang saya temui itu datang lagi, saya tersenyum dan menyapa beliau lebih dulu.

"Assalamualaikum kek"

"waalaikumsalam nak, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan"

Saya melihat ke sebelah saya ternyata mbak Febri sudah sadar dan disebelahnya ada sosok wanita tua yang sedang memperhatikan saya dan orang tua ini

"Kakek ini sebenarnya siapa ?"

"saya adalah seorang pengembara semasa hidup saya, sampai pada akhirnya saya menetap di pulau ini untuk menjaga wilayah pulau ini" kata si Kakek

"Boleh saya tahu siapa manusia yang bersamamu saat itu ?"

Sepertinya perkataan saya mengejutkannya karena selama ini dia selalu dianggap yang bukan sebenarnya.

"Rupanya kamu paham tentang itu. Dahulu saya keluar dari tempat yang sangat berjaya pada masa itu, lalu saya yang menemukan jalan kebenaran terus berjalan sampai bertemu oleh seorang guru yang membimbing saya pada Islam. Untuk mengamalkan ilmu tersebut, saya harus pergi sampai ujung pulau Jawa dan menetap disana sampai maut mendatangi saya saat itu" katanya

"Mengapa kau sampai ada di pulau ini ? Kan kau bilang ujung pulau" saya bertanya karena ada perbedaan cerita dengan kenyataan saat ini

"Ada manusia yang ingin menjadikan saya sebagai pengikutnya, lalu dia berusaha mengalahkan saya. Tetapi . . ."

"Ah baiklah sudah, saya mengerti kelanjutannya, ada yang ingin kau sampaikan ? Seperti pesan terhadap manusia mungkin" saya menyela cerita karena ada orang lain yang sedang mendengarkan jadi cukup saya dan beliau yang tau

"Ada masa dimana semua kembali pada titik dimana rasa percaya pada Sang Pencipta dikalahkan oleh nafsu dan amarah, lalu manusia mulai mencampur dalam dimensi seberang untuk memuaskan hasrat dan ambisi keduniawian. Dahulu manusia pernah berada pada masa itu karena putus asa dengan pencapaian dan merasa bahwa hukum alam itu harus ada"

"Bolehkah saya bertanya untuk hal yang menyangkut dunia saya saat ini ?" saya mulai tertarik dengan cerita ini karena saat ini lingkungan sekitar saya sudah mulai menuju ke arah sana

"Tentu, jika saya rasa itu bisa saya jawab"

"Bagaimana bisa manusia menjadi kembali seperti itu ? Sementara kami melihat banyak yang pihak yang membuat kami nyaman sebagai sesama manusia"

"Begini nak, sederhananya manusia itu melihat yang tampak lalu membuat berbagai macam pemikiran di kepala mereka, lalu menanamkan hal tersebut bahwa semua aman terkendali. Apa ada yang salah dengan itu ?" Katanya sambil tersenyum

"Tidak, memang seperti itu yang terjadi. Lalu bagaimana bisa ?"

"Kamu tau jawabannya bukan ? Mengapa harus ditanya lagi ?"

"Saya hanya memastikan, seperti yang kau bilang bahwa kami manusia punya berbagai macam pemikiran baik sebelum atau sesudah terjadinya sesuatu"

"Baiklah, balik semua sudut pandang milikmu. Kamu tidak bisa melihat titik dari sebuah pena lalu kamu bilang itu bulat. Kalau setiap manusia berpikir, berapa banyak pemikiran yang sama ? Berapa yang tidak ? Lalu bagaimana kamu membedakan antara hitam, putih atau bahkan abu-abu sekalipun ?"

"Lalu apa yang terjadi saat ini ?"

"Nak, urusan saya di dunia manusia sudah selesai. Saya hanya punya kewajiban sesuai ajaran dari guru saya dan ilmu yang diajarkan olehnya. Kami juga makhluk Allah sama seperti kamu dan manusia lainnya. Bagaimana manusia lupa dengan itu sementara jelas bagi manusia bahwa perintah Allah adalah mutlak bahkan bagi seekor semut sekalipun" katanya yang kemudian tersenyum lagi

"Baiklah, saya mengerti sekarang. Lalu bagaimana kelanjutan dari pesanmu ?"

"Hati dan pemikiran adalah anugerah dimana manusia dapat menentukan sebuah pilihan. Manusia dihadapkan dengan setiap pilihan setiap waktunya. Hati manusia itu ibarat air dalam wadah, jadi apapun yang kita masukkan ke dalamnya maka seperti itu juga perubahannya. Lalu pemikiran mengarahkan kita pada aturan yang ada, baik dan buruk itu cenderung penuh pertimbangan, tetapi membenarkan perbuatan yang salah adalah sebuah kesalahan dalam memilih. Percayalah pada Allah sebagaimana kamu diberikan kenikmatan meski setelah berbuat kesalahan, semua adalah kehendak Sang Kuasa"

"Mengapa kau dari tadi berbicara soal perilaku manusia lalu berlanjut ke persoalan bagaimana manusia bersikap ?"

"Manusia itu diciptakan untuk menjadi seorang pemimpin. Hanya itu yang dapat saya katakan, selebihnya silahkan kamu pahami itu karena kalau lebih jauh lagi mungkin saya bukan sosok yang tepat untuk itu" katanya

"Bagaimana kami harus bersikap untuk setiap ketidakadilan yang ada ? Bahkan kami tidak punya kuasa untuk itu. saya bertanya tentang keraguan dalam keseharian saya dimana manusia serakah selalu punya kuasa"

"Manusia tetaplah manusia, hasrat itu selalu ada tentang dunia. Pengadilan sesungguhnya bukan di alam dunia ini. Jangan meragu dengan ketetapanNya"

"Terimakasih, saya banyak belajar dari pertemuan ini. Boleh saya bertanya satu kali lagi ?"

Kemudian kakek itu tersenyum dan menghilang perlahan di depan mata saya, " assalamualaikum" katanya sebelum benar-benar hilang

"Wa'alaikumsalam" saya juga tersenyum

Kemudian saya melihat sekitar, dan mulai gelap dan ini sangat gelap.

***


"Nat . . Nat" kata seseorang memukul pelan badan saya

"Eh iya mas" kata saya yang kemudian mengusap muka saya

"Belum mau balik ? Udah hampir jam 6 nih. Mau lembur emangnya ?" katanya

"Nggak mas, yaudah ini mau langsung balik deh"

"Yaudah, duluan ya. Jangan lupa ganti AC terus absen" katanya

"Iya mas. Makasih ya"

Saya kemudian membuka ponsel, kemudian saat melihat sosial media saya masih di beranda travel untuk open trip ke ujung pulau sana. Saya cek ke bagian message namun tidak saya temukan pesan terkirim ke travel itu.

Message to travel


SELESAI
0 0
0
Cerita dari Seberang
11-11-2021 19:21
Ijin nandain ya gan
profile-picture
hi.nats memberi reputasi
1 0
1
Cerita dari Seberang
03-12-2021 23:53

Pertemuan

"kamu Nata kan ?" ucap sosok wanita yang tiba-tiba muncul di samping saya

"Eh iya, ada apa ya ?" Saya sedikit kaget dan memperhatikan dari ujung atas sampai bawah

"Boleh aku bercerita seperti yang lainnya ? Beberapa dari mereka saat ini senang karena ada yang mengirimkan do'a" katanya

"Tentu saja selama itu dirasa baik, silahkan"

"Dari beberapa cerita yang dibaca oleh manusia, memang benar adanya kalau bangsa kami penuh dengan tipu muslihat dan pengelabuhan tapi pada kenyataannya tidak sepenuhnya benar" ucapnya

"Mengapa demikian ? Bukankah jelas demikian ?"

"Kami punya usia atau batas waktu di dunia lebih panjang daripada manusia itu jelas, kenyataan bahwa manusia mengerti kami itu jelas salah. Manusia mempunyai perasaan dimana itu dapat mengerti kami dan maksud kami, sementara manusia pandai menyimpan itu semua dibalik perkataan yang mereka keluarkan. Dari kata yang keluar itu kami tau sebenarnya dia tidak seperti itu, manusia pandai membohongi dirinya sendiri atau memutar balikkan keadaan dengan perkataan. Itu yang dinamakan pikiran, kadang itu dapat melawan hati atau perasaannya sebagai seseorang dalam hidup orang lain"

"Lalu apa yang ingin kamu sampaikan ?" Saya mulai kehilangan poin pembicaraan ini

"Tolong bicaralah dengan anak di sebelah sana, dia punya hati yang sangat mudah untuk kami pengaruhi. Dengarkan ceritanya, lakukan saja seperti biasanya"

Gw menengok ke arah anak itu, seorang anak perempuan yang terlihat menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Gw menghampiri anak tersebut dengan maksud membuka obrolan, rasanya canggung kalau langsung seperti itu tapi nggak peduli deh.

"Permisi mbak, boleh saya duduk disini ?" Gw bersikap sopan

"Iya silahkan" katanya dengan senyum yang terlihat tidak tulus

Kemudian kondisi canggung pun dimulai, gw terpaku dan nggak tau mau ngomong apa, sementara si mbaknya sibuk dengan buku. Kita berada di meja bundar dengan kursi yang berhadapan satu sama lain, dan posisi si mbak ini tepat di depan gw

Gw menghela nafas panjang, "percuma mbak baca kalo pikirannya ke tempat lain"

"Maaf mas, maksudnya gimana ?" Dia menutup bukunya

"Tadi ada yang datang ke saya buat nemuin mbak karena mbak lagi punya masalah berat, tapi mbak nggak boleh tau itu siapa" gw mesti jujur tapi nggak sepenuhnya

"Oh gitu, mas agak Random juga ya tiba-tiba dateng terus ngomong gitu ke saya seakan judge saya ada masalah mental" katanya yang tampak emosi sambil memegang bukunya

Gw nggak peduli omongan dia karena yang paling penting kalo sosok yang menghampiri tadi itu nggak tiba-tiba muncul lagi di depan gw

"Terkadang ikhlas itu sulit mbak, tapi mbak tau nggak kalau ikhlas dan menerima itu lebih baik, sebelum terlambat" gw mengucapkan itu dengan nada santai

Wanita itu terlihat kaget dengan pernyataan gw barusan, dia tampak menaruh buku yang dia pegang

"Saya nggak tau kenapa mas ngomong begini karena tiba-tiba datang dan membuat pernyataan begitu. Mas maunya apa ?"

"Maaf mbak, saya hanya seseorang yang kebetulan melihat mbak. Saya tidak bermaksud mencampuri urusan mbak atau kehidupan mbak, sama sekali tidak" kata gw

Si mbak jelas bingung dengan kehadiran gw, ditambah dia sedang tidak baik-baik saja, dan seseorang datang menghampiri dengan terlihat seperti ingin mencampuri kehidupannya. Sementara gw harus mencari kalimat yang tepat untuk dapat diterima oleh si mbak yang bahkan gw nggak kenal

"Saya pernah di posisi dimana saya tampak baik-baik saja dari luar, menyibukkan diri dengan berbagai macam hal karena tidak mau bertemu dengan seseorang. Tapi semua terlambat. Sampai esok harinya saya merasa bahwa seseorang itu masih ada, nyatanya kemarin saya dengan sadar mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Keesokan harinya pun sama, seterusnya saya baru sadar bahwa saya benar-benar kehilangannya, dan ini bukan tentang kebiasaan atau keseharian dengannya melainkan bahwa saya benar-benar mencintainya dengan sangat tulus" kata gw yang kemudian melihat ke arah mbak itu

Dia tampak menunduk dan memikirkan sesuatu, cerita gw tidak diresponnya secara langsung.

"Oh iya, saya Nata. Maaf kalau saya banyak bicara"

"sudah sebulan lebih saya tidak menegur ibu saya, sebulan lebih juga saya menjauh dari keramaian, masalah yang kami miliki sebenarnya sepele dibandingkan masalah hidup kami masing-masing, tetapi karena semua menumpuk dan ibu saya mulai membicarakan hal yang saya tidak sukai. Lalu seperti inilah saya hari ini" katanya yang sedikit terlihat tenang

"Mbak, hidup itu sulit ditebak. Seperti kita yakin bahwa hari ini baik-baik saja tapi ternyata ketika hari itu tiba, kita sudah terlambat. Saya bukan seseorang yang dikirim Tuhan untuk sebuah solusi, tapi yang saya tahu bahwa saya merupakan wujud dari kasih sayang Tuhan pada mbak" kata gw

Gw melihat ke samping kanan karena sosok wanita tadi datang dan tersenyum ke arah gw.

"hey, tolong jangan mengagetkan saya ya" ucap gw dalam batin ke sosok itu

"maaf, tapi saya benar-benar tidak menyangka kamu bisa membuatnya terbuka"

Tampak dari mbak itu sedikit aneh melihat gw yang sedang menengok ke sebelah sementara kita sedang berada dalam percakapan.

"Dulu saya punya teman yang bisa setiap saat saya datangi untuk cerita, saya sangat bergantung padanya, entah seperti apa dia menganggap saya..." Si mbak mulai terlihat matanya berkaca-kaca

"Maaf mbak, kalau dirasa itu tidak perlu diceritakan ke saya tidak apa-apa. Saya tidak menuntut mbak untuk bercerita lebih kok" kata gw yang sedikit agak canggung, ini tempat umum dan terlihat seperti gw membuat wanita menangis, itu terlihat gw jahat, sepertinya

"Nggak apa-apa mas. Dia teman yang baik, sahabat saya. Sampai satu hari dia membutuhkan saya, saat itu saya sedang asyik dengan keseharian saya. Lalu kabar darinya yang biasa saya tidak tanggapi dengan cepat, saya pikir itu biasa saja karena sudah menjadi kebiasaan. Esok paginya saya melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab, pesan di semua sosial media dan pesan singkat darinya. Belum sempat saya membuka itu, orang tuanya menelpon dan mengabari saya kalau dia sudah tidak ada lagi. Saya terdiam dan merasa kosong saat itu..." Katanya terpotong karena air mata mulai keluar

Gw cuma mendengarkan tanpa tau harus meresponnya

"Saya akhirnya sadar dan menguatkan diri membuka semua pesan, saat itu ia minta tolong karena sedang berada dalam perjalan pulang dan ia diikuti oleh beberapa orang, ia menghubungi saya untuk segera datang ke titik pertemuan agar menghindari hal yang tidak diinginkan, namun semua itu terjadi. Saya mendatangi kediamannya dan mendapati sahabat saya seperti itu. Rasanya benar-benar hampa saat itu"

Gw masih mendengarkan ceritanya

"Sesampainya di rumah, ibu saya sibuk dengan suami barunya. Lalu saya lupa apa yang ibu saya katakan, sampai mata saya gelap dan saya benar-benar tidak ingat setelahnya. Perkataan itu membuat hati saya sakit dan kondisi saya drop. Saya tidak sadarkan diri sampai beberapa bulan, itu pun kata saudara saya setelah saya sadar"

"dia dirasuki oleh sosok lain" kata sosok wanita itu

Gw kemudian bertanya kepada mbak itu tentang sosok sahabatnya, apakah dia mempunyai ciri fisik seperti ini dan itu. Kemudian mbak itu mengkonfirmasi bahwa demikian ciri fisiknya, gw melihat ke arah sebelah dan sosok wanita yang dari tadi minta tolong ini merupakan sahabatnya. Gw kemudian menunduk dan tersenyum.

"Jujur saya bingung harus bagaimana sebenarnya, bahkan kalau bisa saya memilih untuk tidak ikut campur itu lebih baik"

"Maksudnya mas gimana ya ?"

Gw menceritakan kronologi dari kemunculan sosok ini sampai pada titik ini

"Jangan lupa kirim do'a untuk sahabatmu, lalu minta maaf pada ibumu. Bagaimanapun ia tetap ibumu, bahkan kamu tidak tahu apa yang ibumu sudah lakukan untuk kesembuhan kamu. Saya bukan ahli ibadah, tapi setidaknya saya percaya Tuhan yang memiliki kehendak atas makhluk. Saya pamit ya" kata gw yang mulai berdiri

"Maaf mas Nata. Terimakasih"

Gw kemudian membawa backpack berukuran 45L dan pergi dari tempat itu sambil membuka beberapa pesan yang ada di ponsel, semuanya tentang pekerjaan dan kerjaan. Gw kemudian melangkah menuju stasiun yang berjarak sekitar 15 menit dengan berjalan kaki.

Selagi gw berjalan, gw menggunakan earphone jadi suara dari luar tidak terlalu banyak gw dengar. Tiba-tiba ada satu sosok di depan gw, duduk seperti gelandangan dan sebenarnya tampilannya tidak seperti gelandangan karena cukup rapih. Gw bisa membedakan dari bau yang keluar pada sosok itu, kalau pertama kali mungkin gw bisa muntah, bukan bau tidak sedap tapi lebih ke bau yang dapat membuat mual karena campuran minyak wangi yang sangat menyengat.

Gw berjalan melewati sosok itu tanpa memperdulikannya, lalu melihat sekitar dan banyak dari jenis yang sama, mereka tertawa banyak seperti habis nonton Opera van Java. Selang beberapa waktu, gw sudah sampai di stasiun dengan keberangkatan ke provinsi lain. Tugas negara ini sangat menyiksa gw sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi daripada hanya diam di rumah menunggu perintah atasan. Gw duduk di kursi panjang, sepertinya belum ada penumpang lain, hanya ada petugas sedang menyapu yang menggunakan earphone berwarna hitam. Lalu ada wanita paruh baya penjaga warung.

Saat ini kereta belum ada, tampak beberapa sosok makhluk yang ada di stasiun ini perlahan menghilang satu per satu. Lalu, suasana berganti dan gw lihat sekitar stasiun, petugas dan penjaga warung itu sudah berubah tampilannya menggunakan adat jawa.

...Ponsel gw bergetar...

"Siap Pak!" Ucap gw tegas saat mengangkat telepon

Seorang laki-laki di ujung telepon memberikan informasi dan instruksi tentang pekerjaan kali ini yang akan berjalan lama dan cukup menyita fokus gw

"Siap Pak! Terima kasih" kata gw yang kemudian menutup telepon

kemudian suasana kembali menjadi nornal. Petugas dan Penjaga Warung sudah tidak ada di tempatnya tadi. gw memakai earphone di telinga sebelah kiri untuk mendengarkan lagu yang biasa gw dengarkan untuk memulai hari atau pekerjaan berat. Gw terhanyut dalam lirik lagu itu, sampai pada saat sebuah tongkat berkepala burung tergeletak di sebelah gw padahal sangat jelas bahwa daritadi bangku sebelah gw kosong. Gw memegang tongkat itu dan di luar dugaan gw ternyata banyak yang juga berdatang

"memang tidak bisa ditebak dan tidak ada habisnya hal seperti ini ya" ucap gw pelan


.....Selesai....
0 0
0
Cerita dari Seberang
09-12-2021 20:17

6. Pelosok

"oy! Udah lama nunggu ?" Saya baru saja sampai di sebuah kedai kopi di tengah kota Jakarta, tempatnya cukup bagus untuk anak muda seperti saya

"Enggak kok, santai aja. Sendiri aja Nat ?" Jawab seorang teman saya yang hari ini datang bersama dengan pasangannya

"Iya nih, mau gimana lagi hehe jok motor gue single seat juga jadi nggak bisa bawa boncengan" saya beralasan saja sebenarnya, tapi memang begitu adanya motor saya

"Pesen dulu aja Nat, tadi gue sama cewe gue udah pesen kok"

"Oh, gue nunggu si Toni aja deh"

Saya janjian dengan Rendi dan juga Toni hari ini, tapi karena acaranya bebas dan cuma ngobrol jadi Rendi mengajak pacarnya untuk ikut dan Toni sepertinya berangkat sendiri.

"Oh iya, kenalin ini cewe gue" Rendi menunjuk ke wanita sebelahnya

"Halo, gue anggi" sapanya

"Gue Nata. Kita pernah ketemu waktu di kosan Rendi dulu kok"

"Oh iya, ini Nata yang waktu itu aku hubungin buat nolongin kamu pas dulu lagi aneh aneh itu loh" kata Rendi ke Anggi

"Oh iya aku inget, itu parah banget sih"

Itu merupakan kejadian yang sangat epic menurut saya. Sulit dilupakan karena saya menghadapi dua permasalahan sekaligus.

<<<<<


Saya sedang berada di pelosok yang jauh dari pulau jawa, kehidupan masyarakat disini bisa dibilang sangat jauh dari kata layak, faktor air bersih salah satunya. Tidak mengherankan jika banyak penduduk yang terkena infeksi kulit atau bermasalah dengan pencernaan mereka, bahkan ada juga kebiasaan soil-eating untuk anak-anak itu menjadi perhatian penting dari instansi pemerintah terkait (seharusnya).

Saya sedang melakukan kunjungan malam untuk sebuah lokasi pemukiman di tengah hutan, penduduk disini sudah biasa berjalan malam tanpa lampu atau sedikit penerangan, bulan menjadi satu-satunya sumber cahaya selama perjalanan, tidak seperti di Jakarta yang sudah terlalu banyak polusi cahayanya.

Saya dan team menggunakan mobil tipe 4WD untuk mencapai lokasi, terlebih lagi kami harus buka jalur untuk mencapai desa itu. Saya bersama dengan Michelle, teman satu kantor dari Jakarta dan lainnya adalah penduduk lokal.

"Chel, u know what. This isn't scare enough for me"

"Huh ? What are u talking bout ?"

Gw sengaja memancing Michelle untuk berbicara dalam bahasa Inggris, karena terkadang obrolan orang lokal juga memakai bahasa daerah. Cukup fair menurut saya

"I mean this place. I don't know, i think Java is more dangerous than this place like when we tryin to get in to a jungle u have a lot of feeling like scare of wild animal, snakes, or maybe ghost"

"Hmm why u think so ?"

"I don't know, i just say what i felt to u. Don't mind!"

Lalu percakapan kita terhenti, karena Michelle bukanlah orang yang percaya akan hal itu jadi tidak pernah diambil pusing walaupun kita pernah berbincang tentang konsep ketuhanan di satu waktu.

Kegiatan malam itu terasa lebih cepat dari biasanya, karena mungkin semuanya cukup rapih dan sesuai prosedur jadi cepat selesai. Di lokasi ini tidak ada sinyal satu batang pun, jadi percuma mengaktifkan ponsel.

***


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit kami berada di titik sinyal, jadi kami semua mulai mengaktifkan ponsel masing-masing. Terdapat satu chat dari Rendi, dia tau kalau saya sedang berada jauh di pelosok.

Chat from Rendi


Saya langsung menelpon Rendi, karena saya tau sepertinya dia sedang ada masalah.

Tutt . . . Tuttt . . . Tuttt . . .

"Halo Ren, kenapa ?"

"Ini Nat, cewe gue. Gak ngerti gue kenapa, tiba-tiba ketakutan gitu. Aduh, gue bingung banget ini. Lo bisa bantuin gue nggak ?"

Saya mendengarkan itu dengan seksama, mencoba menangkap apa yang sebenarnya terjadi tetapi sepertinya saya tidak punya gambaran tentang hal itu.

"Gini Ren, kirim nama cewe lo terus nama orang tuanya ke gue tapi jangan matiin telepon ini"

"Oke, sebentar Nat"

Saya menunggu sekitar 5 menit, kemudian posisi saya yang berdiri langsung saya ubah menghadap ke barat dan sedikit berjongkok. Oh iya, jangan tanya saya ini ada hubungannya atau tidak, saya hanya mengikuti intuisi saya.

"Udah Nat!"

"Bentar ya, gue tembusin dulu"

Sekali lagi, saya melakukan ini atas izin Allah. Jika tidak diberi izin maka tidak akan ada yang bisa saya lakukan.

Saya menceritakan detail yang saya lihat, karena setelah itu kami bertiga berada dalam sambungan yang sama seperti conference call.

"Nah iya, baru ngerti maksudnya dia ke gue" kata cewenya Rendi

"Syukurlah kalo gitu. Ren, gue cabut ya. Capek banget gue, jauh soalnya"

"Oke Nat! Thanks banget loh ya"

Saya langsung menutup telepon, dan kembali masuk ke mobil untuk menuju ke basecamp. Saya melihat sekeliling seperti banyak mata yang memperhatikan, tidak saya gubris karena rasanya energi saya sudah terkuras banyak saat ini.

"hahh, percuma. Di Jawa sana lebih seram daripada begini" ucap saya dalam hati menanggapi mereka yang tertarik dengan apa yang saya lakukan sebelumnya

disclaimer


***


Setelah sampai di basecamp, saya langsung membuat kopi untuk menghangatkan badan lalu keluar menemani Michelle yang sedang menginput data untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini walaupun sudah menunjukkan jam 23.47.

"Belum ngantuk lo ?" Sapa Michelle yang melihat saya keluar dan menuju ke arahnya membawa kopi

"Belum, susah tidur gue kalo belum ngantuk banget"

"Terus malah bikin kopi ?"

"Yaa beginilah, mau bikin teh nggak ada soalnya cuy"

Saya membuka ponsel dan melihat sinyal hanya satu batang, tidak cukup untuk mendapat sinyal interner. Michelle masih sibuk dengan pekerjaannya.

Saya melihat pemandangan sekitar basecamp dari balik jendela ruangan. Keadaan yang sangat sepi, jauh dari kemacetan ibukota, yang terdengar hanya suara mesin dari genset yang kami gunakan setiap malam untuk penerangan dan lainnya. Genset hanya kami gunakan untuk malam hari, dan kondisi kerja siang hari yang membutuhkan listrik, sementara sisanya kami hidup tanpa genset. Air bersih kami peroleh dengan membeli per 5000 Liter air untuk kebutuhan 2 hari.

"Chel, tadi pas gue ngomong yang 'disini itu nggak serem' tuh lo nangkep maksud gue nggak sih ?" Saya memecah keheningan

"Ngerti Nat, cuma gue bingung kenapa tiba-tiba lo ngomong begitu"

"Iya sih, cuma bosen aja kayanya tadi gue tuh mabok soalnya"

"Hahaha emang kalo lo mabok begitu harus banget ngobrol ya ?"

"Iya, mual banget soalnya gue. Isi perut gue kaya dikocok gitu"

"Hahaha dasar lo.. gue udah selesai nih, ngantuk ah"

"Yaudah lah, tidur gue juga"

Kami masuk ke kamar masing-masing, saya tidur bersama dua orang lainnya. Tidak butuh waktu lama untuk saya dapat memejamkan mata dan tertidur pulas kalau sudah malam seperti ini.

.....


Saya tiba-tiba terbangun, entah jam berapa ini. Mata saya tidak menangkap adanya orang yang masuk atau datang ke ruangan ini, lalu dalam sekejap ada sosok tinggi besar sekitar dua meter lebih ada di depan pintu, yang saya lihat sosok itu samar seperti bayangan air. Badannya tidak dapat saya lihat jelas karena saya baru bangun dan rasa capek ini tidak bisa ditoleransi lagi oleh tubuh saya. Wajahnya ? Saya melihat dengan jelas taring dan lidah yang menjulur panjang lebih dari setengah tinggi badannya, matanya merah melotot dan rambut yang ada di kepala seperti acak-acakan. (Saya mengingat ini justru mau ketawa karena rambutnya seperti itu)

"Mau apa datang kesini ?" ucap saya dalam batin

"kamu bilang apa tadi di hutan sana ?" ucapnya yang terdengar seperti suara yang pelan dan sangat jauh

"Oh kirain kenapa, gue ngantuk ah tidur dulu. Gue minta maaf ya udah. Assalamualaikum" ucap saya membatin

Saya membaca do'a dan surat pendek sesuai ajaran Rasulullah SAW. Kemudian saya tidur lagi.

>>>>>


Saya selesai bercerita ke Rendi dan pacarnya.

"Anjir serius lo selow begitu ?" Tanya Rendi yang kaget mendengar cerita saya

"Iya begitu emang.. gue ngantuk banget coy itu"

"Sakit nih manusia emang ya, ngadepin yang begitu depan mata loh"

"Yaa gue mesti gimana dong ? Haha gue juga jarang bisa liat yang begitu kan"

Pacarnya Rendi melihat sekitar seperti memastikan sesuatu.

"Kalo yang di sebelah gue lo liat ? Yang kepo ini ?" Tanya Anggi

Saya memfokuskan pikiran saya "Hm gue nggak bisa lihat, bahkan gue juga nggak bisa ngerasain kehadirannya"

Saya kembali memfokuskan diri untuk melihat energi di dalam cafe ini, kalau divisualkan ini seperti saya memancarkan gelombang sonar dalam satu hentakan dan menyebar ke penjuru ruangan.

"Ohh.." saya sedikit tersenyum dan seperti menemukan sesuatu

"Kenapa Nat ?" Tanya Rendi

"Jadi gini cara kerjanya, gue bisa tau disana ada yang auranya besar dan menakutkan, lalu di sebelah sana juga, lalu di pojok sana tetapi sangat tipis tapi kalo untuk di sebelah lo nih Anggi, gue nggak bisa sedikit pun merasakan"

"Hm iya, yang lo sebutin tadi memang penampilan luarnya biasa aja tapi aura dan emosi yang terpancar itu gila banget. Bahkan gue nggak mau dia tau kalau gue bisa ngeliat mereka" Anggi nampak sedikit risih karena dia merasa aura yang keluar dari sosok yang saya sebutkan tadi benar-benar besar

"Tapi lo udah lama emang Nat bisa kaya begini ?" Tanya Rendi

"Enggak sih, gue cuma nyoba begitu doang. Selama niat gue baik dan gue nggak ragu, rasanya insyaallah pasti bisa sih" saya merasa seperti itu dan menjawabnya dengan yakin

Kemudian Toni datang sendirian, tapi di belakang Toni saya merasa ada yang mengikuti dalam bayang. Saya melihat ke arah Anggi dan memberi kode untuk melihat apa yang ada di belakangnya

"Nempel, suka kayanya. Bukan sehari dua hari ini sih" ucap Anggi

Sementara Rendi seperti orang bingung, "kalian kenapa ?"

"Bisa Nat ?" Tanya Anggi

"Dicoba, sebentar" saya langsung memposisikan tangan kanan saya membentuk titik fokus saya, lalu tangan kiri saya menutupi mulut supaya tidak terlihat mulut saya sedang berdo'a

Toni duduk dan sampai di depan kami, lalu bersalaman dengan Rendi

"Sorry, Telat. Sehat Ren ?" Tangan Toni bersalaman

"Sehat, kenalin nih cewe gue. Anggi"

"Haloo. Toni" kemudian mereka bersalaman

"Sehat Nat ?" Tanya Toni

"Hehe sehat sehat, sini duduk" Tangan saya bersalaman dengan Toni

"Gile, Jakarta macet banget ya emang nih parah" ucap Toni

Saya sudah selesai dengan persiapan dan saya sentuh belakang leher dari Toni

"Santai, pesen aja dulu gih. Capek kan lo pasti ?" Tangan saya menepuk pelan

"Aww, anjir apaan nih kok nyetrum ?" Toni tampak kaget dan reflek dengan sentuhan tangan saya

Anggi sedikit tertawa, saya juga menahan tawa. Sementara Rendi bingung dan Toni lebih bingung lagi

"Haha makanya kalo bawa cewe tuh dikenalin hahaha" ledek saya

"Ahh nggak lucu lo Nat, anjir ah. Gue pulang sendirian nih"

"Lah tadi berangkat berdua aja lo biasa aja haha"

"Naatttt....

...selesai...
0 0
0
Cerita dari Seberang
21-12-2021 15:17
"Kami semua sudah memaafkan kak, aku ikhlas kak"
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
ada-kisah-di-tanah-papua
Stories from the Heart
Stories from the Heart
cerita-cupu-yang-lucu
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia