Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
132
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61972b1b67011c2a00081bc2/mimpi-dari-masa-depan
IHSG minggu ini ditutup dengan penurunan 75,07 poin atau sekitar 1,26% pada sesi I yang menandakan penurunan pada nilai beli masyarakat... Gelombang PHK sekali lagi menghantui seluruh pekerja yang bergerak di bidang industri... Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran pada Februari 2021 mencapai jumlah 8,75 juta orang... Viole berbaring diatas tikar dengan hanya mengenakan kaos dan
Lapor Hansip
19-11-2021 11:42

Mimpi Dari Masa Depan

icon-verified-thread
Mimpi Dari Masa Depan

IHSG minggu ini ditutup dengan penurunan 75,07 poin atau sekitar 1,26% pada sesi I yang menandakan penurunan pada nilai beli masyarakat...

Gelombang PHK sekali lagi menghantui seluruh pekerja yang bergerak di bidang industri...

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran pada Februari 2021 mencapai jumlah 8,75 juta orang...


Viole berbaring diatas tikar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Dia membiarkan televisi di dekatnya terus menyala dengan suara kecil dan mendengarkan potongan-potongan berita yang mungkin akan berguna dalam pencarian kerjanya.

Cahaya matahari menyengat masuk melalui jendela yang terbuka jadi dia menutup matanya namun tetap tidak bergerak dari posisinya. Layaknya koala yang menghabiskan 20 jam perhari untuk tidur dia juga sudah menghabiskan nyaris 2 jam tanpa bergerak dari posisinya, menunggu hingga petugas kebun binatang datang memberinya makan.

"Oi Pengangguran! Tiap hari cuma tidur aja! Cari kerja sana!"

Datang. Setiap hari di waktu yang sama ibunya akan datang dan mengatakan kalimat yang sama pula dan seperti sudah terjadwal mulut Viole terbuka secara otomatis.

"Aku masih nunggu panggilan kerja."

Sudah setahun sejak dia lulus dari universitas dan sudah setahun pula dia menganggur. Bukannya dia tidak mencari kerja, sudah ratusan lamaran dia kirimkan dan puluhan wawancara dia ikuti namun tak pernah sekalipun status penganggurannya terangkat. Mengingat itu, berita mengenai jumlah pengangguran yang samar-samar dia dengar terlintas di kepalanya dan bersyukur bahwa dia tidak sendirian, masih ada 8,75 juta orang lain yang bernasib sama dengannya.

"Jangan nunggu dipanggil, pekerjaan itu dikejar bukan ditunggu. Atau sekalian aja buat usaha sendiri. Masa sarjana ekonomi tiap hari cuma bisa minta duit ke orangtua?!"

Ingin rasanya Viole membantah namun semua yang ibunya katakan adalah fakta yang menyakitkan. Karna tak kuat mendengar omelan ibunya dia pun bangkit dari hibernasinya, berganti pakaian dan pergi ke kota dengan mengendarai motor warisan ayahnya. Dia tak punya tempat yang hendak dia tuju jadi saat ini dia hanya membuang-buang bensin namun itu lebih baik daripada mendengar ceramah ibunya.

Tak butuh waktu lama hingga dia terjebak dalam kemacetan di tengah jalan dan seolah itu belum cukup hujan deras datang dan menambah kesialannya. Segera dia tancap gas untuk mencari tempat berteduh namun ditengah jalan motornya mendadak mati karna kehabisan bensin jadi dia harus mendorong motor berat tersebut ke parkiran terdekat dan berteduh di teras sebuah toko.

Tubuhnya yang basah kuyup mengigil kedinginan dan sesaat kemudian perutnya meraung karna belum diberi makan. Dia merasa kesialannya hari ini tak bisa jadi lebih buruk namun akhirnya dia sadar dompet dan ponselnya ketinggalan di rumah.

"Shit!"

Tak ada uang, tak ada bensin, tak ada kepastian kapan hujan akan reda dan tak ada apapun yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu. Jika saja dia tahu akan jadi begini dia lebih memilih menahan siksaan ceramah ibunya di rumah. Meskipun menyebalkan tapi setidaknya rumahnya hangat dan selalu ada makanan di meja.

Namun sekarang, yang dia dapatkan hanya tetesan air dingin dari pakaiannya dan pandangan tak sedap dari si penjaga toko. Sekarang setelah dia memperhatikan lebih detail ternyata tempat yang dia gunakan untuk berteduh merupakan sebuah toko buku namun tak terlihat satu pengunjung pun di dalam.

Viole lelah. Dia ingin duduk namun tak bisa menemukan tempat duduk di sekitarnya. Hujan yang dia harap segera reda malah semakin deras dan membuat tubuhnya mengigil tak terkendali. Satu jam lagi dalam keadaan seperti itu dia mungkin akan kena hipotermia.

"Anu... Om, kalau kedinginan masuk aja."

Dan kemudian suara itu muncul. Si penjaga toko yang sedari tadi memandanginya dengan ekspresi yang campur aduk. Ada beberapa hal yang mengganggu Viole seperti rambutnya yang separuh mengembang atau kaus kakinya yang tidak serasi namun hal pertama yang membuatnya tidak nyaman adalah perempuan itu baru saja memanggilnya 'Om.'

Apa dia memang terlihat setua itu? Perempuan penjaga toko itu hanya terlihat beberapa tahun lebih muda darinya jadi tidak seharusnya dia dipanggil 'Om.' Meski demikian dia harus menyingkirkan kejengkelan itu dan menerima kebaikannya.

Toko buku tersebut tidak terlalu luas namun penuh sesak dengan berbagai buku yang disusun menurut genre. Viole duduk di dekat rak buku yang kebetulan menjadi tempat penyimpanan novel fantasi. Buku-buku tersebut tidak lagi memiliki sampul plastik namun kondisinya masih terlihat bagus.

"Silahkan kalau mau dibaca Om," ucap perempuan itu lagi.

"Maaf, saya nggak bawa uang," tolak Viole sopan.

"Nggak apa-apa Om, membuka tidak harus membeli kok. Semakin bertambah umur kita harus semakin banyak membaca kan?"

Mungkin Viole harus mencukur kumisnya malam ini. Sudah lama tidak mendapat panggilan wawancara memang membuatnya kurang menjaga penampilan.

Demi menjaga kesopanan dia pun mengambil buku terdekat dan mulai membaca.

Meski tidak ada pengunjung lain namun toko itu terasa hangat sehingga membuat Viole nyaman dalam membaca. Tanpa terasa tangannya sudah membalik lembar demi lembar dan disaat dia mencapai halaman terakhir langit sudah kembali cerah namun dia tidak berpikiran untuk pulang.

Sudah lama sejak dia terakhir membaca novel, mungkin saat dia Sma atau malah Smp. Dulu dia punya beberapa koleksi novel yang dia beli dengan menabung uang jajannya setiap hari namun entah kemana perginya novel-novel itu sekarang. Mungkin ibunya mendonasikannya ke panti asuhan.

Ada bagian tertentu di kepalanya yang menuntut untuk mengenang masa lalu namun ingatannya mengenai masa itu sudah samar seperti halnya tinta yang ketumpahan air. Dia melirik kearah si penjaga toko dan menyadari dia sedang sibuk mencoret-coret sesuatu yang tak bisa Viole lihat jadi Viole menutup buku tersebut dan mengambil buku yang lain.

Rasa laparnya seolah jinak dihadapan kisah petualangan seorang bocah penyihir yang tengah dia baca. Dia tahu, jika menilai dari penerangan toko, bahwa matahari sudah terbenam namun dia baru benar-benar kembali ke kenyataan disaat dia menyelesaikan buku tersebut. Dia menutupnya sembari menarik nafas panjang dan saat membuka mata si penjaga toko sudah berdiri di hadapannya.

"Umm... maaf Om tapi sudah waktunya toko tutup."

Terkejut, kepala Viole spontan melihat kearah jam dinding dan jarum pendek sudah menunjukkan jam 11 malam. Ini bukan lagi waktunya untuk tutup toko melainkan waktunya untuk tidur.

"Maaf maaf, kenapa nggak bilang dari tadi?"

"Soalnya Om khusyuk sekali bacanya."

Viole merasa malu sekali dan berniat untuk pergi secepat mungkin namun sekali lagi dia teringat bahwa motornya kehabisan bensin. Jarak toko tersebut dengan rumahnya memang cukup jauh tapi tak ada pilihan lain selain mendorong. Dia tak mau mengambil resiko motornya dicuri orang jika ditinggal begitu saja.

"Motornya mogok ya Om?" tanya penjaga toko itu disaat melihat Viole susah payah mendorong motornya.

"Habis bensin," jawab Viole singkat. Dia masih malu karna kejadian tadi.

"Itu di ujung jalan ada pom bensin, buka 24 jam," ucapnya lagi.

"Saya nggak bawa uang."

Tatapan si penjaga toko persis seperti seorang dermawan yang melihat pengemis cungkring di pinggiran lampu merah. Dengan gerakan lamban dia merogoh sakunya dan perlahan mengulurkan uang sepuluh ribu rupiah pada Viole.

"Ambil aja Om, Buat isi bensin,"

"Eh jangan! Rumah saya nggak jauh kok."

"Udah ambil aja Om, sekalian buat beli makan."

Dia tak lagi mampu menahan rasa malu karna perutnya berbunyi keras seolah ingat sedari tadi belum diberi jatah. Dengan sangat canggung dia pun mengulurkan tangan dan mengambil uang tersebut.

"Tapi... kenapa Kamu baik banget sama saya? Kita nggak saling kenal kan?" tanya Viole.

"Umm... ngelihat orang lain nggak punya uang saya jadi ikut sedih," jawabnya sembari menunduk. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat sedih dan itu membuat Viole semakin merasa tidak nyaman. Dia tak sanggup menatapnya lebih lama jadi dia hanya mengucapkan terima kasih dan pergi. Dalam hatinya dia berniat untuk kembali ke toko itu lagi dan membalas budi. Pasti.

***


Malam itu tidur Viole tidak tenang. Kilatan bayangan seram terus keluar masuk dalam mimpinya dan disaat bayangan-bayangan itu pergi dia menemukan dirinya berada di ruang tamu rumahnya, berbaring mendengarkan berita seperti biasa.

Pertandingan persahabatan antara Persib dan Persija yang berlangsung minggu kemarin berakhir seri dengan skor 1-1.

Kasus penipuan yang melibatkan supermarket xxx masih belum mencapai titik terang. Pelaku diduga sudah melarikan diri keluar negeri.

Dan akhirnya, nomor pemenang undian Grand Prize bulan ini adalah—


"OI PENGANGGURAN! UDAH SIANG MASIH AJA TIDUR!"

Dan seolah kesadarannya dibanting kembali ke bumi Viole terbangun dengan cipratan air dingin di wajahnya. Ahh benar juga, karna terlalu lelah dia langsung tertidur tanpa repot-repot pergi ke kamarnya semalam. Hasilnya dia tertidur di ruang tamu dengan pakaian lengkap dan ibunya yang tidak bekerja karna ini hari minggu memarahinya lebih keras dari biasanya. Sungguh menjengkelkan.

Rasanya pasti akan luar biasa jika dia punya tempat tinggalnya sendiri, punya cukup uang untuk bersantai seumur hidup dan punya kebebasan untuk bangun tidur kapanpun dia mau. Sayangnya khayalan itu hanya akan menjadi nyata jika dia punya pekerjaan yang baik atau menang lotere senilai 10 milyar.

Berita tengah hari. Pertandingan persahabatan antara Persib dan Persija yang berlangsung minggu kemarin berakhir seri dengan skor 1-1.

Suara pembawa berita itu masih sama seperti biasanya. Viole meneguk segelas air dingin untuk melegakan tenggorokannya sementara berita berganti menuju kasus penipuan.

Kasus penipuan yang melibatkan supermarket xxx masih belum mencapai titik terang. Pelaku diduga sudah melarikan diri keluar negeri.

Tapi tunggu sebentar, kenapa berita itu rasanya tidak asing? Dia sudah mendengar berita itu sebelumnya dan kecuali dia sangat keliru, berita berikutnya adalah pengumuman pemenang undian.

Dan akhirnya, nomor pemenang undian Grand Prize bulan ini adalah—

"Satu tujuh tujuh kosong satu tiga."

—Satu tujuh tujuh kosong satu tiga.

Bahkan suara konfeti yang ditembakkan tak cukup untuk menyadarkan Viole dari kekagetannya. Itu terlalu jelas untuk disebut sebagai déjà vu dan raungan lapar di perutnya memberitahunya ini bukanlah mimpi.

Tapi, dia jelas-jelas memimpikan hal itu, disini, diatas karpet tipis yang sudah dimakan ngengat ini. Meski dia tahu dirinya sendiri tidak akan mempercayai hal ini, meski dia tahu bahwa ibunya akan menganggapnya gila dan mengirimnya ke RSJ, Viole tetap tak mampu menyingkirkan kesimpulan itu dari otaknya.

Semalam, di dalam mimpinya, dia sudah memimpikan masa depan.
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 5
Mimpi Dari Masa Depan
30-11-2021 13:55

Bab 10

Viole mengusap dahinya dengan sapu tangan yang sudah basah oleh keringatnya sendiri. Keringatnya dingin, sama seperti kaki dan tangannya. Hujan badai yang menyelimuti kota memang membuat suhu udara anjlok hingga dibawah 20 derajat namun bukan itu yang membuat Viole merasa mati rasa.

Baru satu jam yang lalu dia mendapat telepon dari Laura yang mengatakan bahwa naskah novel yang dia kirimkan sama persis seperti naskah yang Gideon ajukan. Saat mendengar hal itu Viole langsung merasa gerigi otaknya berhenti bergerak, macet. Dia diselamatkan dari kewajiban menjawab berkat petir yang menyambar tiba-tiba dan membuat seluruh kota mengalami pemadaman listrik serentak serta hilangnya sinyal telepon.

Dingin, itulah yang yang dikatakan ibunya sedari tadi namun hawa dingin itu sama sekali bukan apa-apa dibandingkan sebongkah es yang rasanya dimasukkan begitu saja ke dada Viole.

Gideon orangnya, pikir Viole, Gideon lah orang yang menulis novel tersebut di masa depan dan Viole, si tukang plagiat, tanpa sengaja menyetorkan naskah tersebut di waktu yang sama dengan penulis aslinya. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Berpura-pura menjadi penulis yang asli? Tidak, kebohongannya akan bisa dipatahkan dengan mudah. Tak mungkin juga baginya mengatakan itu cuma kebetulan, tak ada kebetulan yang bisa membuat dua orang menulis novel setebal 300 halaman dengan sama persis hingga ke detail titik dan koma.

Jadi, apa Viole harus mengaku? Tidak, tak akan ada yang percaya omong kosong tentang memimpikan masa depan. Semua orang pasti akan mengira Viole mencuri naskah itu, ya, itulah yang akan mereka pikirkan dan Viole tak punya cara untuk menyangkal tuduhan tersebut. Tamat, selesai sudah karirnya sebagai penulis.

"Viole, Kau mendengarku?"

Suara lemah yang bercampur dengan rintik hujan diluar membangunkan Viole dari depresi panjangnya. Pelan-pelan dia menolehkan kepala untuk melihat ibunya yang sudah menunjukkan pemulihan yang begitu baik selama 2 bulan ini.

"Iya Bu, mau air hangat?"

"Ngg… boleh deh. Kau kenapa? Banyak pikiran?"

Viole diam saja sembari menuang air di termos ke dalam gelas dan mencampurnya dengan air dingin.

"Viole? Airnya tumpah tuh," ucap ibunya lagi dan Viole pun tersentak, pikirannya sudah melayang sampai tak sadar dengan apa yang dilakukan tangannya. "Kalau ada sesuatu cerita saja, dua kepala itu lebih baik dari satu. Sama seperti air yang Kau tuang, dua gelas bisa menampung lebih banyak dari satu."

Viole menyerahkan gelas yang benar-benar penuh itu pada ibunya yang meraih gelas itu dengan tangan kirinya namun tangan tersebut bergetar hebat sehingga sebagian air di dalamnya tumpah membasahi selimut. Menyerah dengan tangan kiri ibunya pun menggunakan tangan kanannya.

"Bukan sesuatu yang penting," jawab Viole dengan senyum yang kaku. Mata ibunya pun berkilat seperti saat dia menemukan noda tumpahan kopi di lantai.

"Kau payah sekali dalam berbohong. Apa Ibu membesarkanmu dengan terlalu manja? Sepertinya tidak. Pasti ini keturunan."

Dia meminum airnya perlahan-lahan sementara Viole masih sibuk memikirkan jawaban. Meski demikian tak peduli berapa lama dia berpikir jawaban itu tidak mau datang. Dia sudah benar-benar di ujung tanduk.

"Kau berkeringat, tampaknya masalahmu sungguh serius."

"Bu, kalau Ibu menekan tombol penghancuran diri maka apa yang akan Ibu lakukan?"

"Tentu saja lari."

"Kalau tidak bisa lari?"

"Cari cara untuk membatalkannya."

"Dan kalau tidak ada?"

"… berdoa banyak-banyak."

Viole tertawa kecil mendengar jawaban ibunya namun tawa itu tidak bertahan lama. Dia memandang ibunya lagi dan mengingat jumlah uang yang diperlukan dalam rehabilitasinya, kepalanya terasa semakin berat memikirkan itu.

"Memangnya, kalau aku berdoa banyak-banyak maka jalan keluar akan muncul?" tanya Viole putus asa.

"Kau menyalah artikan apa yang disebut doa," jawab ibunya agak tidak sabar, "doa bukanlah pajak yang kalau kita bayarkan kita akan mendapat sesuatu. Ibu berdoa untuk ketenangan jiwa, dengan berdoa Ibu selalu sadar bahwa kita ini hanyalah makhluk lemah. Karna itulah, sebesar apapun masalahmu tak akan ada artinya dihadapan Tuhan."

Viole terdiam, bukan karna dia tidak menyangka akan mendapat jawaban semacam itu namun terkejut melihat ekspresi ibunya yang berubah begitu lembut seolah baru saja disinari cahaya matahari yang paling murni.

"Kenapa? Kau tidak percaya?" tanya ibunya lagi karna Viole terus terdiam. "Memangnya masalahmu lebih berat daripada menderita stroke setengah badan? Setidaknya bersyukurlah Kau masih bisa berjalan dan melemaskan kaki. Bersyukur adalah kunci dan meski Kau kehilangan segalanya sekalipun Ibu masih akan ada untukmu."

Melihat ibunya yang menatapnya yakin membuat Viole merasa sedikit lega. Rasanya dia kembali menjadi anak kecil yang dikuliahi karna ketahuan mencuri uang dari dompet ibunya namun itu perasaan yang melegakan, itu membuatnya merasa disayangi, merasa bahwa ibunya sungguh-sungguh memperhatikannya.

"Jadi kalau aku kembali menjadi pengangguran tanpa penghasilan apa Ibu masih sudi memanggilku anak?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tak ada yang namanya mantan anak di dunia ini."

Akhirnya tawa Viole pun lepas tanpa bisa ditahan lagi. Benar kata ibunya, apa sih hal yang lebih buruk dibanding dirinya 6 bulan lalu? Meski karirnya sebagai penulis hancur paling tidak dia masih bisa berjalan-jalan diatas muka bumi ini dan jika beruntung dia akan mendapat kesempatan kedua. Mungkin saja kesempatan kedua itu akan lebih baik.

Akhirnya Viole pun memutuskan, apapun yang terjadi maka terjadilah. Masalah pasti akan datang dan dia harus menghadapinya.

Tbc....
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
30-11-2021 14:44
Pe
Rt
Am
X

Lageeehhh
0 0
0
Mimpi Dari Masa Depan
30-11-2021 20:02

Bab 11

Meskipun Viole sudah mengumpulkan sebanyak mungkin tekad dari pagi hari namun kakinya tetap terasa gemetar dikala menginjakkan kaki di kantor penerbit. Butuh 5 menit penuh baginya mengumpulkan keberanian untuk naik ke lantai tiga tempat Pak Kepala sudah menunggu bersama orang lain yang berkepentingan. Satu anak tangga terasa seperti jembatan gantung yang mana bila didaki semakin tinggi akan terasa semakin berat dan menakutkan. Namun Viole tidak mundur, meski mati sekalipun dia akan mati dengan kepala tegak.

Saat sampai di lantai 3 dia melihat semua orang sudah menunggu disana. Pak Kepala, Laila, Gideon dan tentu saja Laura. Viole mencoba untuk tidak membuat kontak mata dengan Laura karna dia merasa takut pada apa yang akan wanita itu katakan setelah ini. Ia mencoba melirik kearah Gideon dan Gideon balas menatapnya dengan tajam. Untuk sejenak Viole yakin dia merasakan hawa jahat dari tatapan tersebut.

"Ahh Viole, duduk duduk," sapa Pak Kepala ramah sembari menepuk kursi di sampingnya. "Gideon baru saja cerita semuanya."

Nah, ini dia, pikir Viole. Jantungnya serasa akan meledak akibat rasa takut yang tak bisa dibendung dan kaki Viole mulai terasa dingin lagi. Apa kira-kira dia masih sanggup untuk berjalan meninggalkan ruangan ini setelah mengakui kejahatannya?

"Kolaborasi antara dua penulis best seller, amazing!"

Ucapan riang dari Pak Kepala itu menyapu semua pikiran di otak Viole dan menjadikannya kosong, blank. Apa dia salah dengar atau otaknya yang sudah tidak berfungsi dengan baik?

"Keren keren, harusnya kalian bilang dong kalau mau kolaborasi. Jadinya kan kita nggak bingung sendiri. Iya kan Sis?"

Laila hanya tersenyum kecil menanggapinya sementara Laura tampak seperti baru saja disuruh memakan pare. Dia menatap Viole dengan tatapan kesal dan Viole buru-buru mengalihkan pandangannya.

Dan setelahnya Pak Kepala mulai bicara panjang lebar mengenai rencananya pada novel tersebut namun Viole tidak begitu mendengarkan. Dia sadar bahwa Gideon terus menatapnya dengan tatapan tajam menusuk dan itu sama sekali tidak membantu Viole untuk memahami apa yang sudah terjadi.

Tampaknya Gideon sudah memberitahu pihak penerbit bahwa novel tersebut ditulis oleh mereka berdua namun kenapa Gideon melakukan itu Viole sama sekali tidak mengerti. Dia sudah bersiap untuk yang terburuk namun semuanya berjalan terlalu lancar hingga akhir.

"Hei, kenapa Kau tidak bilang apa-apa?"

Setelah mereka dibubarkan Laura langsung menghampirinya dengan tatapan yang siap berperang. Ekspresi yang sangat kontras dengan penampilannya yang sangat berbeda dari biasanya.

"Maaf."

"Aku tidak minta maafmu, aku tanya kenapa Kau tidak bilang apa-apa padaku? Lagian kenapa Kau harus kolaborasi sama dia sih? Aku nggak keberatan kalau orang lain tapi kenapa harus dia?"

Viole yang siap untuk disembur merasa mulai mengerti duduk permasalahannya. Dibandingkan marah pada Viole tampaknya Laura lebih marah pada kakaknya yang merupakan editor Gideon. Hubungan kakak beradik ini ternyata jauh lebih buruk dari yang Viole kira.

"Laura, maaf aku nggak bilang-bilang tapi aku nggak ada niat buruk. Aku… aku cuma mau ngasih surprise."

"Surprise?!" tanya Laura dengan satu alis terangkat tinggi, "Ohh aku terkejut, sangat-sangat terkejut. Terus apa? Aku harus jungkir balik sambil teriak kegirangan begitu? Aku nggak butuh surpise Viole, ulang tahunku sudah lewat, yang aku mau cuma Kau jujur. Aku selalu ngerasa Kau nggak pernah jujur kalau aku nanya perkembangan novelmu. Apa Kau udah ngerasa hebat sampai nggak butuh editor lagi?"

"Bukan bukan," sanggah Viole cepat, "aku cuma nggak mau ngerepotin Kau."

"Sudah tugas editor untuk direpotkan oleh penulisnya," balas Laura dengan profesionalisme tinggi, "atau apa Kau lebih suka berdiskusi dengan… dengan Laila? Apa Kau diam-diam bertemu dia di belakangku?"

"Demi Tuhan, nggak! Dengar Laura, aku nggak tahu masalahmu dengan kakakmu tapi Kau lagi nggak waras. Dinginkan kepalamu dulu."

Namun dikatai seperti itu malah membuat kepalanya meledak. Laura mendengus dan bergegas pergi, dengan sengaja menginjak kaki Viole dengan sepatu hak tingginya. Viole berdiri diam sembari menahan rasa sakit di kaki dan kepalanya. Dia sama sekali tak menyangka berurusan dengan seseorang bisa sangat merepotkan seperti ini.

Kalau diingat-ingat sudah lama juga Viole tidak mengalami perdebatan dengan seseorang. Teman-temannya semasa sekolah dan kuliah sudah semakin sulit dihubungi dan karna itulah pergaulannya menjadi benar-benar terbatas. Viole memang tidak suka berdebat namun sekarang dia merasa begitu kesepian.

Viole pun memutuskan mencari Laura namun dia tak dapat menemukan Laura dimanapun di gedung tersebut. Meyakini bahwa Laura sudah pulang Viole pun melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah dan tepat diluar pintu gedung dia bisa melihat Gideon yang dari tatapannya kemungkinan besar sedang menunggunya.

Viole terdiam, balas memandang Gideon. Di satu sisi dia merasa takut namun di sisi lain ada sebuah kecurigaan di hatinya. Kenapa Gideon bilang novel itu adalah tulisan mereka berdua padahal dia hanya perlu bilang bahwa dia penulis aslinya? Novel yang Viole bawa dari masa depan itu memang diketik dengan jari-jarinya namun tetap saja otak yang menciptakan karya luar biasa itu adalah pria di hadapannya.
Tapi, apa benar seperti itu?

"Kau!"

Gerakannya cepat sekali sampai-sampai Viole tidak sempat merespon namun tiba-tiba saja Gideon sudah mendorongnya ke dinding. Itu keduaa kalinya dia mendengar suara Gideon dan suaranya tidak terdengar menyenangkan, sifatnya kasar dan penampilannya tidak seperti orang baik. Sungguh berlawanan dengan kesan yang dia tuangkan di novelnya.

Mendapat perlakuan kasar seperti itu Viole tetap diam. Mata Gideon mengamatinya seperti ular yang melihat ayam namun Viole menunggunya untuk bicara lebih dulu, bertekad untuk tidak membocorkan apapun. Viole bisa merasakan kakinya gemetar dan ternyata Gideon melihat itu karna setelahnya Gideon menyeringai jahat.

"Jadi begitu rupanya," ucapnya dan akhirnya kecurigaan terbesar Viole terjawab sudah. "Kau juga bisa memimpikan masa depan."

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
30-11-2021 20:13
kalau mimpi masa belakang ada gk gan?
0 0
0
Mimpi Dari Masa Depan
01-12-2021 19:46

Bab 12

Sejauh yang bisa Gideon ingat, dia tidak bisa menemukan apa yang sebenarnya salah dalam hidupnya. Kedua orangtuanya masih duduk di bangku Sma dikala mereka melakukan hubungan terlarang yang berakhir dengan kelahirannya. Kehadiran seorang bayi di tangan orangtua yang masih begitu muda adalah malapetaka tersendiri dan seperti yang bisa ditebak, kedua orangtuanya bercerai. Gideon pun dirawat oleh keluarga ayahnya.

Ayahnya, meski tidak begitu sering bicara padanya, bukanlah Ayah yang terlalu buruk. Setelah dikeluarkan dari sekolah dia bekerja keras (atau seperti itulah yang Gideon percayai) dan karnanya Gideon tidak pernah merasa lapar. Ayahnya sering bepergian dan tak pernah bicara apapun tentang pekerjaannya namun Gideon sering melihatnya membawa banyak tas dan menyimpannya di kamar.

Dan kemudian kehidupannya berubah. Kehidupannya yang serba tak tahu menahu itu mulai berbalik arah di suatu hari dalam masa Smp nya. Pagi itu dia harus berangkat sekolah namun tasnya belum kering setelah dicuci. Karna mendesak dia pun 'meminjam' salah satu tas ayahnya selagi ayahnya masih tidur dan pergi ke sekolah seperti biasa.

Tak ada hal yang istimewa di sekolah, satu-satunya hal yang tidak biasa adalah razia yang dilakukan guru BK karna ada murid yang melapor kehilangan.
Murid-murid dipaksa berdiri dan tas mereka diperiksa satu persatu. Pemeriksaan itu rasanya berlangsung lama sekali dan tibalah giliran Gideon. Gideon bukanlah pencurinya dan karna itulah tak ada apa-apa di dalam tasnya namun ternyata guru menemukan sesuatu yang lain.

Disaat itulah Gideon merasakan sensasi dingin yang menusuk paling kejam seumur hidupnya. Kakinya terasa kebas sampai dia jatuh terduduk, keringat dingin menetes membasahi lantai dan hal berikutnya yang dia sadari adalah dia dibawa ke kantor polisi.

Akhirnya Gideon pun mengetahui apa isi dari tas-tas yang selalu ayahnya sembunyikan. Ayahnya bukanlah seorang pedagang tas, tentu saja bukan. Itu semua adalah tas khusus yang mana bagian bawahnya sudah dimodifikasi agar bisa menyembunyikan narkotika dari pandangan dengan menambahkan lapisan ekstra. Taktik sempurna untuk menyembunyikan narkotika dari para polisi penjaga perbatasan.

Dan sesudahnya, Gideon pun diisolasi di ruang BK. Beberapa polisi dipanggil dan Ayah Gideon juga dihubungi oleh pihak sekolah namun tak peduli berapa lama Gideon menunggu ayahnya tidak pernah datang. Disitulah Gideon tahu bahwa ayahnya tak peduli sedikitpun padanya. Ayahnya sudah kabur, pergi sejauh mungkin ke tempat dimana para polisi tidak dapat melacaknya dan tidak akan kembali lagi. Beberapa ratus gram ganja sudah cukup untuk membuatnya mengambil keputusan tersebut.

Dan hidup Gideon berubah drastis. Dia dikeluarkan dari sekolah, ayahnya melarikan diri tanpa meninggalkan apapun yang bisa mereka pakai untuk bertahan hidup, seluruh temannya menjauhinya dan kakeknya(satu-satunya keluarganya yang tersisa) terkena serangan jantung. Semua terjadi kurang dari 24 jam dan seorang remaja berumur 14 tahun harus bertahan hidup menanggung semua tekanan itu.

Mungkin karna mental kuat yang diwarisi Gideon dari ayahnya si pengedar narkoba dia berhasil melewati semua masalah yang datang keroyokan. Dengan sedikit memaksa bantuan dari pemerintah daerah setempat dia berhasil membuat kakeknya dirawat di rumah sakit. Setelah itu dia pun mulai memikirkan bagaimana cara agar perutnya bisa tetap kenyang esok hari.

Karna sudah berhenti bersekolah dia jadi punya waktu untuk berkeliling kota, memasuki satu demi satu minimarket dan mengambil sebanyak yang dia bisa tanpa ketahuan. Aksi-aksi kejahatan yang dia lakukan membuatnya belajar dengan cepat untuk sadar bahwa dalam bertahan hidup, apapun caranya bukanlah masalah.

Ada satu memori yang amat berkesan bagi Gideon, memori itulah yang membuatnya memutuskan untuk terus bertahan bagaimanapun caranya. Saat dia kecil ada seekor ngengat yang terjebak di jaring laba-laba, menunggu untuk disantap. Ngengat itu meronta sekuat yang dia bisa tanpa memperdulikan sayapnya yang robek maupun laba-laba yang sudah mengerumuninya. Berjuang, terus berjuang untuk hidup namun akhirnya mati dimakan makhluk yang lebih kuat darinya.

Namun yang paling berkesan bagi Gideon adalah wajah ayahnya disaat melihat pemandangan itu. Puas, nyaris tidak pantas. Sensasi superioritas sebagai manusia yang sanggup menolong ngengat tersebut namun tidak melakukannya. Yang kuat memakan yang lemah, itulah hukum dari dunia ini dan Gideon memutuskan untuk terus hidup agar bisa melihat lebih banyak ngengat yang mati dimakan laba-laba.

Di dunia ini ada manusia yang diberkati dan ada pula yang tidak. Tak peduli seberapa keras seseorang berusaha tak mungkin bisa menang melawan mereka yang sudah berbakat sejak lahir. Agar bisa setara maka mereka yang tidak diberkati harus mau melakukan apapun, berani melakukan apapun. Dengan prinsip tersebut Gideon pun terus melanjutkan hidup bertahun-tahun lamanya.

Saat usianya menginjak 17 tahun kakeknya pun menghembuskan nafas terakhir. Sebagai satu-satunya orang dewasa yang peduli pada Gideon beliau memberikan satu hadiah terakhir pada cucunya. Itu adalah beberapa informasi tentang ibunya, Ibu Gideon. Gideon yang sama sekali tak punya kenangan apapun tentang ibunya merasa bimbang antara keinginan bertemu dan juga rasa benci yang samar. Akhirnya, Gideon tetap memilih menemui ibunya.

Apa yang dia temukan ternyata jauh lebih buruk dari yang dia kira. Ibunya adalah seorang wanita cantik yang sama sekali tidak punya tanda kesusahan apapun di wajahnya. Kehamilannya 17 tahun yang lalu sama sekali tidak terlihat pada hidup barunya kini.

Meski malu mengakuinya namun ada sedikit bagian dari diri Gideon yang menginginkan kesempatan untuk memulai semuanya dari awal. Meski tidak lagi utuh namun dia ingin memiliki sedikit saja momen hangat bersama ibunya, sesuatu yang sangat dia inginkan setiap kali melihat orangtua murid yang datang ke sekolah. Namun kini ibunya sudah memiliki keluarga baru. Suami yang tampan, anak-anak yang lucu, rumah yang mewah serta mobil yang berkilau. Dari apa yang bisa Gideon simpulkan ibunya kini telah bahagia, lepas dari masa lalunya yang buruk.

Dan untuk pertama kalinya Gideon pun merasakan sebuah perasaan yang selama ini dia tertawakan, perasaan seekor ngengat yang terjebak di jaring laba-laba. Takut, tidak berdaya, ingin bebas namun tidak sanggup melakukannya sendiri dan tak ada siapapun yang akan menolongnya. Sendirian di dunia yang luas ini tanpa siapapun yang peduli padanya dan merasa begitu kecil di hadapan manusia lain. Ayahnya sudah menghilang, kakeknya sudah meninggal dan sekarang dia bahkan tak yakin ibunya masih mengingatnya.

Dia dan ibunya sudah hidup di dunia yang berbeda. Ibunya diberkati, Gideon tidak. Sungguh tak pantas bagi Gideon untuk menapakkan kaki di dunia ibunya, dia tak ingin melakukan itu. Dan karna itulah, Gideon tak akan menunjukkan diri dihadapan ibunya lagi. Biarlah hubungan mereka menjadi sesuatu yang hanya ada di masa lalu, Gideon akan mencoba untuk hidup dengan dirinya sendiri sebagai ngengat yang menunggu untuk dimakan oleh laba-laba.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
02-12-2021 17:20

Bab 13

Sebagai orang dewasa seutuhnya hidup Gideon tidak jauh berbeda dengan kehidupannya sebelum itu. Jika ada satu hal yang berubah itu adalah sistem keamanan minimarket yang sudah semakin canggih dengan dipasangnya cctv di setiap sudut. Penghasilan utama Gideon yakni mengutil barang-barang toko kini tak lagi bisa dilakukan sehingga dia perlu untuk benar-benar mencari pekerjaan.

Tapi siapa yang mau menerima seseorang yang bahkan tak lulus Smp? Bahkan pekerjaan sebagai kasir minimarket pun tidak akan bisa dia dapatkan. Akhirnya Gideon pun berkelana ke tempat-tempat yang gelap, berkenalan dengan yang terburuk dari yang terburuk dan kemudian memilih menjadi pengedar narkoba.

Ironis memang. Dulu ayahnya menghidupinya dengan berjualan narkotika dan juga meninggalkannya karna itu dan sekarang dia melakukan hal yang serupa. Kehidupannya yang buruk membuatnya jatuh dalam kecanduan rokok dan minuman keras sehingga perlahan Gideon tak lagi perduli dengan apa yang dia lakukan. Setiap harinya dipenuhi dengan judi, perkelahian, main perempuan, mabuk-mabukan dan terkadang lomba lari dengan polisi.

Hal yang biasa untuk orang-orang yang hidup dengan melanggar hukum adalah waspada dengan para penegak keamanan. Beberapa polisi memang bisa disogok agar diam dan beberapa adalah rekan sesama penjahat namun terkadang ada polisi yang akan memburu mereka jika ketahuan menjual narkoba dan suatu hari Gideon sedang sial, dia tertembak tepat di perutnya.

Rasa sakit itu membuatnya merangkak dan bersembunyi di kolong jembatan. Tangan kakinya terasa kesemutan, dia kehilangan banyak darah dan disaat itulah Gideon merasa bahwa waktunya telah tiba, dia akan mati tak lama lagi.

Namun sesuatu terjadi, sesuatu yang sama sekali tidak dia sangka karna Gideon bersumpah tidak akan mengharapkannya lagi. Suara langkah kaki, suara yang tajam dari sepatu hak tinggi, suara itu mendekat dengan cepat dan orang yang menciptakan suara itu pun lewat dihadapan Gideon.
Gideon merasa seperti bermimpi namun dia yakin dia tidak salah lihat. Wajah itu, wajah yang coba dia lupakan namun selalu muncul dalam mimpinya, wanita itu adalah ibunya.

Apa yang ibunya lakukan disana? Itu tidaklah penting. Yang Gideon harapkan hanya satu, sebuah pertolongan.

Namun harapannya untuk mendapat tatapan penuh perhatian dan belas kasih dibalas dengan mata yang penuh ketakutan, bingung dan juga jijik. Disaat itulah Gideon merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya, sesuatu yang amat buruk dan gelap.

"Ma… ma."

Dengan sepenuh hati dia masih mencoba mengucapkan harapan terakhirnya, berharap agar ibunya mengenalinya namun kemudian seorang pria datang. Suami baru dari ibunya, Ayah tiri Gideon.

Percakapan mereka tidaklah mengenakkan untuk didengar. Pria yang bahkan Gideon tak tahu namanya itu bertanya apakah ibunya mengenalnya namun ibunya menggelengkan kepala keras-keras dan mendesak pria itu untuk pergi secepat mungkin agar terhindar dari masalah. Lirikan mata terakhir ibunya kearah Gideon berisi kegelisahan dan juga sebuah pemahaman, Gideon yakin ibunya mengenalinya namun ibunya tetap pergi, pergi meninggalkannya untuk kedua kalinya.

Butuh waktu lama bagi Gideon untuk kembali berpikiran jernih dan lukanya sudah jauh lebih parah tanpa penanganan. Jika terus dibiarkan maka Gideon pasti akan mati kehabisan darah, sendirian di dunia yang luas ini tanpa satupun kenangan bahagia dalam hidupnya.

Dan karnanya, Gideon menolak untuk mati. Dengan semua tenaga dan tekad yang dia punya dia bergerak menuju tempat praktik dokter ilegal yang dia tahu dan mengobati lukanya. Detik-detik antara hidup dan mati itu membuat Gideon sadar bahwa kebaikannya tidaklah berarti. Ibunya pergi meninggalkannya dan tetap memilih pergi meski melihat Gideon ada diambang kematiannya.

Baiklah, pikir Gideon, jika ibunya tidak menginginkannya maka Gideon pun akan menghapus semua perasaan dan kebaikan yang dia punya terhadap wanita itu. Gideon sudah menetapkannya, dan merencanakannya matang-matang. Dia akan melakukan hal yang seharusnya dia lakukan sedari dulu. Sebuah pembalasan dendam.

***


Gideon memikirkan berbagai cara namun sekedar menyakiti ibunya tidak akan membuatnya puas. Pertama, dia harus membuat ibunya merasakan apa yang sudah Gideon rasakan semasa hidupnya yakni kesepian dan kehilangan. Pertama-tama dia akan merenggut semua hal yang berharga dalam hidup ibunya dan untuk itu dia pun mulai mendekati saudara-saudari tirinya.

Kedua adik-lain-ayah nya itu adalah anak-anak yang manis dan sama sekali tak mengerti akan kejamnya hidup dan karna itulah mudah sekali untuk mempengaruhi keduanya. Gideon memulai dengan menjadi teman dan sebagai teman dia mendapatkan kepercayaan mereka. Sedikit demi sedikit Gideon pun mencecoki keduanya dengan narkotika dan dalam waktu singkat keduanya mulai kecanduan.

Awalnya cuma sedikit namun perlahan-lahan kedua adiknya mulai berani untuk mencuri uang dari dompet ibunya demi membeli dari Gideon. Itu adalah taktik yang dia pelajari dari bosnya, beri mereka sedikit sebagai cemilan dan begitu mereka menunjukkan tanda ketergantungan langsung naikkan harganya. Harga narkotika yang dia jual pun terus melejit hingga ke tahap dimana kedua adiknya tak lagi sanggup membayar dan rela melakukan apapun demi mendapatkan narkoba. Apapun.

Tidak banyak yang Gideon minta, dia hanya menyuruh keduanya untuk membakar lemari tempat Ayah mereka menyimpan berbagai dukumen penting yang menyangkut pekerjaan. Otak yang sudah ditutupi dengan asap marijuana itu pun melakukan perintah tanpa bertanya, semua demi surga dunia yang begitu fana.

Tahap pertama dari rencana Gideon pun selesai. Dengan lenyapnya berbagai dokumen kontrak bisnis Ayah tirinya pun terguncang. Berbagai perjanjian dibatalkan, kepercayaan klien menurun dan saham perusahaan menukik tajam. Para pesaing yang melihat kesempatan mulai menunjukkan taring mereka dan dalam beberapa bulan perusahaan tersebut bangkrut. Demi menutupi seluruh kerugian rumah mewah yang mereka tempati pun dijual.

Suami pengangguran, anak-anak yang selalu merengek meminta uang, rumah kontrakan yang atapnya sering bocor dikala hujan. Seluruh kenikmatan duniawi yang ibunya banggakan sudah dia renggut dan hal terakhir yang tersisa adalah menghancurkan harapan ibunya seutuhnya. Gideon yakin bahwa ibunya masih memiliki harapan bahwa suaminya akan bangkit kembali dan memupuk kekayaan sedikit demi sedikit jadi sudah tugas Gideon untuk menghancurkan harapan terakhir tersebut.

Sama seperti keluarganya yang sudah hancur, Gideon akan memastikan keluarga ibunya hancur sepenuhnya. Perlahan-lahan Gideon mendekati Ayah tirinya dan menawarinya berbisnis. Bisnis apa? Tentu saja jual beli narkoba. Orang yang sudah jatuh ke dasar kemiskinan sangatlah mudah dipengaruhi dengan uang dan penghasilan pengedar narkoba sama sekali tak bisa dibilang sedikit. Awalnya Ayah tirinya menolak namun Gideon tahu bagaimana caranya merebut hati orang lain dan tahu apa yang diperlukan untuk membangun kepercayaan. Tak butuh waktu lama sampai Ayah tirinya menyerah akan tekanan hidup dan ikut menyembunyikan narkotika di dalam tas.

Semuanya berjalan sesuai rencana. Gideon memberi waktu bagi mereka untuk mencicipi harapan yang instan itu dan saat mereka merasa tak ada yang bisa berjalan keliru Gideon pun menjebak Ayah tirinya sehingga dia ditangkap oleh polisi dengan tuduhan sebagai pengedar narkoba.

Dan harapan itu pun runtuh. Polisi segera menggeledah rumah kontrakan mereka dan menemukan beberapa barang bukti serta menahan kedua anak mereka yang juga terindikasi mengkonsumsi narkoba. Dengan suaminya dipenjara dan kedua anaknya masuk karantina Ibu Gideon pun ditinggalkan sendirian dan saat Gideon datang mengunjunginya matanya tampak seperti orang yang sudah mengalami penderitaan sepuluh ribu tahun.

Kini mereka berdua sama, tak punya apapun lagi. Dengan kondisi yang sama Gideon ingin berbicara untuk pertama dan terakhir kali dengan ibunya. Pembicaraan yang setara, bukan sebagai ngengat dan laba-laba.

"Senang bertemu denganmu Mama. Mama terlihat sangat cantik, lebih cantik daripada yang ada di foto."

Ibunya mendongak dan memandangnya. Untuk pertama kalinya mereka saling bertatapan dari mata ke mata namun Gideon tidak merasa nyaman dengan itu. Alasannya adalah karna ibunya tersenyum seperti orang gila.

"Kau… Gideon. Ya, Gideon. Jadi semua ini ulahmu ya?"

"Benar, Mama suka hadiah dariku?"

Dengan semua apa yang dia telah perbuat pada Ibu kandungnya bukan hal yang aneh jika ibunya langsung mencekiknya di tempat namun yang semakin membuat Gideon ketakutan adalah ibunya mulai tertawa pelan namun seram.

"Kalian ayah dan anak memang sama saja. Kalian selalu merusak hidupku."

"Itu bukan perkataan yang pantas bagi seorang Ibu yang meninggalkan anaknya. Bukankah sudah tugas orangtua untuk membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang?"

"Kasih sayang? Ahh, begitu rupanya. Aku tak tahu apa yang pria itu katakan padamu tapi biar kuperjelas, aku tak pernah mengharapkanmu!"

Rasa sakit itu ternyata lebih menyakitkan dari yang Gideon kira. Kendati dia sudah tahu hal tersebut namun rasanya masih seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya sekaligus.

"Kalau Mama tak mau harusnya jangan pernah lakukan itu. Aku… akulah yang harus menanggung malu dari kesalahan kalian!"

Tanpa sadar suara Gideon sudah meninggi seiring dengan emosi yang memenuhi dirinya. Dia tidak seharusnya penuh emosi seperti ini, dia harus tetap tenang selayaknya seorang penipu yang sudah menjebak dua anak tak berdosa menjadi pecandu narkoba.

"Jangan pernah lakukan apa? Asal Kau tahu bahwa tak ada sedikitpun cinta antara aku dan pria itu! DIA SUDAH MEMPERKOSAKU!"

Gideon merasa seolah kesadarannya melayang untuk sesaat. Dia selalu percaya bahwa kenyataan hiduplah yang sudah merubah perasaan ibunya terhadapnya namun kini kebenaran itu datang dan menghantam keyakinan itu hingga hancur berkeping-keping. Sejak awal keberadaannya tidak didasari oleh sedikitpun cinta.

"AKU HANYA MENCOBA MENJALANI HIDUPKU DENGAN TENANG LALU PRIA SIALAN ITU MERUSAK SEGALANYA. ORANGTUAKU LALU MENGETAHUI KEHAMILANKU DAN KAMI PUN DIPAKSA MENIKAH SAMPAI KAU LAHIR DAN SETELAH AKU BERCERAI DENGAN PRIA ITU HIDUPKU SUDAH TIDAK BISA DIPERBAIKI LAGI. AKU BERUNTUNG AKHIRNYA BISA MENEMUKAN SUAMI YANG BAIK DAN SEKARANG KAU MENGHANCURKAN HIDUPKU LAGI. KALAU TAHU BEGINI SEHARUSNYA KAU KU ABORSI SEBELUM LAHIR!"

Cukup, Gideon tak mau mendengarnya lagi. Dia hanya ingin pergi, lari, sembunyi, menjauh dari semua kenyataan yang menyakitkan ini. Dia ingin pergi ke tempat yang jauh, teramat jauh hingga penderitaan tidak bisa mengikutinya.

Dan kemudian ibunya pun mengambil gunting dari atas meja. Matanya sudah menunjukkan kegilaan yang tidak main main dan untuk terakhir kalinya ibunya pun tersenyum, senyum yang tak bisa Gideon lupakan seumur hidupnya.

"Sampai ketemu di neraka Gideon. Kuharap Kau mati menderita!"

Darah yang menyembur dari leher ibunya membuat Gideon tidak bisa bergerak. Genangan darah di lantai mulai membasahi sepatunya bersamaan dengan ketakutan yang terukir dalam-dalam di otaknya. Saat polisi datang ibunya sudah tidak bergerak lagi dan Gideon pun dijatuhi hukuman 5 tahun penjara karna dilaporkan sebagai pengedar narkoba.

5 tahun penjara, 5 tahun dalam kurungan namun Gideon tidak membutuhkan jeruji besi untuk mengurung dirinya. Tanpa itu pun dia sudah terperangkap dalam keputusasaan.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
02-12-2021 17:20
Fyuhh.... Lanjut?
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan nuryadiari memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
02-12-2021 18:41
Lanjutken gan.......mantap
profile-picture
jenggalasunyi memberi reputasi
1 0
1
Mimpi Dari Masa Depan
03-12-2021 20:17

Bab 14

Banyak orang yang percaya bahwa setiap manusia itu dilahirkan sama. Layaknya kertas putih yang belum ternoda, manusia itu sendirilah yang harus menulis seperti apa kehidupannya dalam secarik kertas tersebut dan seberapa pandai seseorang menulis akan menunjukkan seberapa sukses dia dalam hidupnya.

Namun kenyataannya, ukuran setiap kertas yang manusia miliki itu berbeda. Beberapa orang memiliki kertas yang lebih besar sehingga mampu menulis lebih banyak. Beberapa orang memiliki kertas yang lebih tebal sehingga sanggup menahan torehan pisau namun beberapa orang bahkan tidak mendapat pena untuk menulis, hanya secarik kertas kosong yang dicoret-coret oleh orang lain.

Dan dalam kasus Gideon, kertasnya terbakar. Gideon merasa masa depan yang sebelumnya putih kini sudah menghitam dan berubah menjadi abu. Api kutukan yang semula kecil itu kian membesar dan memakan hidupnya namun bukannya membakarnya sampai habis, api itu malah menyisakan robekan kecil di sudut kertas seolah sengaja membiarkannya tetap hidup hanya untuk menderita.

Saat di penjara, Gideon banyak merenung. Anak-anak seumurannya saat ini pasti sudah mulai meniti karir mereka dan bahkan memulai sebuah keluarga sedangkan Gideon harus menghabiskan 5 tahun hidupnya di penjara.

Bangun, apel pagi, sarapan, kegiatan rohani dan merenung sebelum akhirnya kembali tidur. Baik tubuh maupun pikirannya dikekang dan saat tidur pun Gideon selalu dihantui mimpi buruk. Pertama dia akan memimpikan kedua adik tirinya, apa mereka masih kecanduan narkoba? Gideon tak tahu. Lalu Gideon akan memimpikan ayah tirinya, apa dia ada di penjara yang sama dengannya? Berapa lama hukuman penjara yang dia terima? Gideon tak tahu. Dan terakhir, dia akan melihat senyum ibunya yang begitu mengerikan sampai-sampai membuatnya terbangun. Seluruh mimpinya selalu berakhir seperti itu.

Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan? Dia memang berniat untuk membalas dendam pada ibunya namun kenapa hatinya merasa jauh lebih buruk dibandingkan sebelumnya? Apa dia sudah mengambil keputusan yang salah? Ya, pasti begitu. Jika dia mengambil keputusan yang benar dia tidak akan berakhir di penjara sekarang.

Jadi apa yang salah? Siapa yang bisa dia salahkan? Ibunya yang tak mau mengakuinya? Pekerjaannya sebagai pengedar narkoba? Hidupnya yang berantakan? Ayahnya yang kabur meninggalkannya? Orangtuanya yang melahirkannya? Atau dunia ini sendiri kah yang harus dia salahkan? Tidak, semua itu salahnya. Sejak awal hidupnya memang sebuah kesalahan.

Ya. Benar. Dia yang salah. Dia tahu dia salah. Dan karna itulah setiap malam dia berbisik, meminta, memohon dengan sepenuh penyesalan;

"Tolong berhenti menghantuiku. Pergi! Pergi! Jangan muncul di mimpiku lagi! Aku minta maaf, aku minta maaf. Jangan ganggu aku lagi!"

"BERISIK WOYY!!"

Setelah sekian lama hidup dalam pikirannya sendiri teriakan itu pun membangunkan Gideon dari mimpi buruknya. Itu adalah teriakan dari teman satu selnya yang tengah menatapnya dengan tatapan menusuk tajam.

"Memangnya Kau pikir cuma Kau yang punya masalah?! Kalau ada masalah cerita sini. Jangan malah dibawa mimpi."

Gideon tak tahu apa yang dia pikirkan namun sebelum dia sadar dia sudah menceritakan semuanya. Mulai dari kelahirannya, ayahnya, ibunya, pekerjaannya dan akhirnya balas dendamnya. Tentunya cerita itu akan cukup untuk membuat seseorang bersimpati namun teman satu selnya itu malah tertawa.

"Lah, terus ngapain Kau stress? Kan ibumu duluan yang ninggalin Kau jadi apa haknya buat ngutuk Kau? Itu yang namanya karma, hidup itu memang begitu. Buat apa Kau nyisain hati buat ibu yang bahkan nggak mau ngakuin Kau? Orangtua kayak begitu nggak pantas buat dipikirin. Mendingan Kau hidup, cari duit banyak-banyak, bukan malah mikirin orang mati. Nggak guna tau!"

Aneh memang, disaat ucapan seribu tokoh agama tak bisa menembus otak Gideon ucapan seorang napi yang ditangkap dengan tuduhan kompleks itu malah terukir begitu dalam di otaknya. Rasanya seperti petuah… bukan, seperti ayat suci yang akhirnya Gideon jadikan sebagai pegangan hidup.

Itu benar, baik ibu dan ayahnya tak peduli padanya jadi kenapa dia harus peduli? Ibunya lah yang memutuskan untuk bunuh diri jadi kenapa Gideon harus merasa bersalah? Memangnya ibunya merasa bersalah saat Gideon meringkuk kelaparan karna tak ada apapun untuk dimakan?

Benar, memang seperti itulah hidup. Manusia tak bisa bertahan hidup tanpa menginjak yang lainnya. Layaknya ngengat dan kupu-kupu, sudah keharusan bagi makhluk hidup untuk saling memangsa satu sama lain dan pada akhirnya yang kuatlah yang akan bertahan hidup. Itulah hukum alam dan tak ada siapapun yang bisa melawannya.

Dan sejak saat itu Gideon tak pernah lagi bermimpi buruk. Di penjara dia pun menjalani hari-harinya dengan hukum rimba. Yang kuatlah yang akan berkuasa, dimanapun di belahan bumi ini hukum itulah yang selalu menjadi dasar dari segalanya. Bertarung, dan menang. Gideon akan tunjukkan bahwa dia tidak akan kalah.

"Mati menderita? Enak saja. Lihat saja Mama, akan kubuktikan bahwa kutukanmu sama sekali tidak ada artinya."

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
04-12-2021 11:04
Gilak cerita sgini bgus sepi yg komen n reader nya.
Bhasa dsn pemakaian kata yg di pilih..waaww. Its like pro novel

profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
04-12-2021 11:04
Lanjutkan pokoknya gan @ih.sul
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
04-12-2021 13:24

Bab 15

5 tahun pun berlalu dengan amat cepat dan sudah waktunya bagi Gideon untuk keluar dari penjara. Tentunya tak ada siapapun yang menunggunya diluar bangunan penjara dan tanpa siapapun yang bisa disapa Gideon berdiri diam dan menghirup nafas penuh kebebasan.

Segar. Dia tak pernah menyadari bahwa udara dunia luar terasa begitu menyegarkan bagi paru-parunya, membersihkan otaknya dari segala kekerasan dan keliaran penjara. Namun sebersih apapun udara tersebut ambisi yang Gideon tanamkan dalam-dalam pada dirinya tetap tidak berubah. Dia punya ambisi yang harus dia wujudkan setelah dia keluar dari penjara dan ambisi tersebut adalah mengumpulkan sebanyak mungkin uang.

Gideon sadar bahwa selama ini sumber dari penderitaannya adalah uang. Ketiadaan uang membuat keluarganya menderita dan penderitaan itu diteruskan padanya. Jika Gideon ingin menghapus jejak penderitaan tersebut maka dia harus menghapus garis kemiskinannya, dia harus menjadi kaya.

Namun sekali lagi kenyataan hidup menamparnya. Kehidupannya bahkan jauh lebih buruk dibandingkan saat sebelum dia masuk penjara. Dengan statusnya sebagai mantan narapidana maka sangat sulit baginya untuk mencari kerja dan bandar narkoba yang dulu menjadi sandaran hidupnya kini tak terlihat lagi batang hidungnya. Satu-satunya yang dia miliki hanyalah rumah tua peninggalan kakeknya yang tak terurus dan selain itu dia benar-benar tak punya apapun lagi. Bahkan uang untuk membeli beras pun tidak ada.

Dirinya yang dulu pasti akan menangis akan kenyataan ini namun dirinya yang sudah makan asam garam di penjara hanya mendengus dan terus bertahan hidup dari hari ke hari. Mencuri, dan kadang-kadang memalak, untuk mendapatkan uang.

Tampaknya seluruh kemalangannya mengambil wujud berupa roda yang selalu berputar tanpa henti dan tidak pernah keluar dari lingkarannya. Gideon menyadari bahwa tekad saja memang tidak cukup untuk menjadi kaya. Dia butuh semacam skill dan juga keberuntungan. Namun malangnya dia juga tidak punya dua hal tersebut.

Namun di suatu malam yang dingin, keberuntungan itu akhirnya datang padanya.

Malam itu Gideon tengah mencari korban untuk memenuhi rasa laparnya dan tanpa sengaja dia melewati sebuah toko buku bekas yang sepi. Hanya ada seorang perempuan muda yang tampaknya memutuskan bahwa sudah waktunya untuk menutup toko dan pulang jadi Gideon menunggu dengan sabar hingga perempuan tersebut selesai dan membuntutinya saat perempuan itu pulang sendirian.

Itu hanyalah kegiatan yang biasa. Dia sama sekali tidak kesulitan merampas tas perempuan itu dan sama sekali tidak peduli dengan teriakan minta tolongnya. Di dalam tas tersebut dia menemukan cukup banyak uang dan dengan segera dia menghabiskan sebagian besar untuk membeli minuman keras lalu mabuk-mabukan hingga pingsan.

Dan kemudian dia bermimpi. Mimpi tersebut terasa begitu nyata sampai-sampai dia merasa sadar akan segala hal yang dia lakukan. Dia melihat langit yang berwarna merah, mobil hitam yang menabrak tiang lampu merah, suara anak kecil yang menangis dan juga pria bermasker yang membuang struk belanja di tempat sampah. Entah apa arti dari semua itu, Gideon tidak memperdulikannya. Dia hanya ingin beristirahat tenang dalam tidurnya.

Saat dia terbangun, langit sudah berubah merah dan perutnya merasa lapar jadi Gideon pergi keluar rumah. Disaat itulah dia akhirnya menyadari ada yang aneh dengan ingatannya. Rasanya seperti déjà vu. Dia yakin pernah melihat langit merah dengan corak awan yang sama dan karna tak fokus dengan jalanan dia nyaris saja ditabrak oleh mobil hitam yang kehilangan kendali. Dia menghindar tepat waktu namun tanpa sengaja mengijak kaki seorang anak kecil hingga membuat anak itu menangis.

Aneh, aneh sekali. Dia yakin dia pernah melihat pemandangan ini di suatu tempat, merasakannya secara langsung. Meski demikian rasanya ada yang kurang, ada satu bagian yang hilang dari pemandangan tersebut jadi Gideon bergegas mencarinya.

Dan akhirnya dia menemukannya, dia menyadarinya. Melihat pria bermasker yang membuang struk belanjanya ke tempat sampah itu akhirnya membuat Gideon yakin seratus persen bahwa mimpinya menjadi kenyataan.

Dia bisa memimpikan masa depan.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
04-12-2021 13:45
Hmm..semakin menarik...dua org yg bsa liat masa depan
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
05-12-2021 15:54
Jejak lagi dimari, mayan udah nambah 8 part.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Mimpi Dari Masa Depan
05-12-2021 19:44
Lah, 2 org plagiat dengan proses yg sama?? Atau jangan2 sebenarnya yg mereka plagiat itu tanpa mereka sadari adalah karya mereka sendiri?? Menarik nih..
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
05-12-2021 21:23

Bab 16

Sejak hari itu hidup Gideon berubah. Dia tak lagi perlu berlarian kesana kemari untuk mencuri uang karna yang perlu dia lakukan hanya tidur, mengingat nomor togel dan memenangkannya di dunia nyata. Dengan kemampuan barunya itu uang sudah bukan lagi masalah dan karnanya hari-hari Gideon berlalu dengan penuh kemewahan.

Namun semakin banyak dia mendapatkan uang semakin dia merasa tidak puas. Ada batas akan jumlah uang yang bisa dia menangkan melalui togel maupun undian dan jika dia terus menerus menang seseorang pasti akan mulai curiga. Meski begitu kekosongan di dalam dirinya terus menuntut untuk diisi. Gideon menginginkan lebih. Dia menginginkan rumah besar untuk dia tinggali, mobil mewah yang bisa dia bawa kemanapun dan barang-barang antik yang hanya dimiliki para orang kaya. Tak bisa dipungkiri dia sudah benar-benar terobsesi dengan uang.

Namun bagaimana cara agar dia bisa memperoleh semua uang tersebut? Mampu melihat masa depan bukan berarti Gideon sanggup mendirikan perusahaan yang akan menjadi salah satu raksasa dunia. Sekali lagi dia diingatkan bahwa dia bukanlah siapa-siapa dan dia tidak punya kemampuan untuk menjadi manusia yang besar seperti Bill Gates atau Elon Musk. Meski demikian pasti ada jalan baginya untuk mengumpulkan uang dalam jumlah besar.

Dan sekali lagi roda keberuntungannya naik ke puncak.

Sejak dikeluarkan dari Smp Gideon sama sekali tidak pernah berhubungan dengan teman-teman satu sekolahnya dan setelah sepuluh tahun berlalu tak ada lagi jejak untuk ditelusuri sehingga Gideon benar-benar hilang kontak dengan mereka semua. Meski demikian suatu keberuntunganlah dia bisa bertemu dengan Laila kembali.

Saat itu Gideon tengah berjalan-jalan mengelilingi mall untuk mengusir rasa bosan dan tanpa sengaja dia melihat Laila yang baru saja keluar dari toko buku dengan plastik belanja besar di kedua tangannya. Gideon melihatnya kesulitan mengangkut barang belanjaannya dan awalnya tidak punya niat untuk membantu namun setelah yakin bahwa itu Laila dia pun mengulurkan tangannya.

"Sudah berapa lama ya sejak Smp? Aku nyaris nggak kenal kau lagi lo Gideon," ucap Laila saat mereka sudah menemukan tempat yang tepat untuk duduk dan mengobrol.

"Kau sendiri nggak berubah. Kutu buku culun," balas Gideon tanpa mencoba beramah tamah.

"Aku nggak bisa nyangkal itu, lagian itu memang pekerjaanku. Ngomong-ngomong Kau kerja apa sekarang?"

Gideon memilih untuk menghindari pertanyaan dengan minum banyak-banyak. Sebenarnya Gideon yakin bahwa Laila akan mengungkit kembali kejadian yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah namun ternyata tak ada tanda-tanda Laila ingin membahas hal tersebut dan itu membuat Gideon bersyukur. Dia sudah muak memikirkan masa lalu.

Gideon pun melirik kearah plastik belanjaan Laila dan kemudian sadar bahwa sejak Smp dia belum pernah sekalipun menyentuh buku. Bahkan sejak masih sekolah pun buku tak pernah menjadi barang favoritnya. Dia hanya menyentuh lembaran kertas itu bila ada tugas atau bila disuruh guru. Sisanya, barang tersebut selalu ditumpuk di sudut kamar.

"Kayaknya gajimu besar juga ya," ucap Gideon kemudian.

"Mmm… lumayanlah. Selain hobi beli buku cetak juga penting untuk mendukung dunia literasi Indonesia. Banyak penulis diluar sana yang menggantungkan hidup dengan menulis jadi sedikit banyak kita sebagai pembaca harus beli karya originalnya, jangan baca yang bajakan."

Gideon, yang sering mendownload film dari situs yang penuh iklan judi online, mengernyit.

"Memangnya bisa nyari makan lewat nulis? Emang berapa gaji penulis?"

"Bukan gaji tapi royalti," balas Laila membenarkan, "Kalau di tempat kerjaku penulis dapat royalti sepuluh persen dari setiap buku yang dijual. Kalau misalnya satu buku terjual satu juta copy artinya penulis dapat seratus ribu dikali harga buku. Hebat kan?"

Mengabaikan kilauan di mata Laila saat mengatakan itu Gideon malah mendengus.
"Itu kalau bisa terjual satu juta copy. Memangnya ada buku yang terjual segitu banyak?"

"Kalau nggak dicoba ya kita nggak tau kan?" tanya Laila masuk akal, "contohnya novel ini. Ini novel keluaran baru tapi aku yakin novel ini bisa dicetak satu juta eksemplar. Yakin banget."

Gideon mengenal Laila cukup baik selama di Smp dan Gideon tahu bahwa Laila itu amat cerdas. Darinyalah Gideon selalu menyontek saat tugas maupun ujian dan jika Laila belum berubah itu artinya dia memang benar-benar yakin. Prediksi Laila mengenai soal yang akan keluar dalam ujian belum pernah meleset.

"Memangnya itu novel apa? Novel cinta?"

"Jadi begini, Gold Experience karya V menceritakan tentang—"

"Langsung intinya aja."

Laila menatapnya dengan tatapan mencela seolah-olah menyela dalam pembicaraan mengenai buku adalah sebuah kejahatan. Gideon tahu kebiasaan perempuan yang tas sekolahnya selalu penuh novel ini. Jika sudah bicara tentang novel maka satu jam pun tak akan cukup jadi keputusan bijak untuk menyela di awal.

"Kalau orientasimu itu uang maka novel ini bisa membuatmu jadi milyuner. Ini pasti akan jadi karya yang akan dikenang sepanjang masa."

Sepanjang masa.

Dan kemudian sebuah ide yang luar biasa memasuki kepala Gideon. Dia memandang novel di tangan Laila lekat-lekat lalu memandang ke langit-langit dengan tatapan yang menerawang jauh.

Begitu rupanya, ternyata caranya gampang sekali. Akhirnya Gideon menemukan cara untuk mendapatkan uang dengan amat mudah dan cara tersebut tidak mungkin gagal. Akhirnya, apa yang dia inginkan bisa segera menjadi kenyataan.

Dan tanpa menunda-nunda lagi Gideon langsung pergi untuk membeli laptop. Setelah itu dia menghabiskan 2 minggu penuh di dalam rumah hanya untuk tidur, bermimpi indah, bangun dan menuliskan semua mimpinya ke dalam microsoft word. Dengan menggunakan obsesi sebagai bahan bakar tangannya semakin dan semakin cepat menari diatas keyboard. Dia tidak pergi kemana-mana dan hanya makan sedikit, seluruh ketidaknyamanan itu diindahkannya sehingga akhirnya Gideon pun berhasil menyelesaikan 'karya' pertamanya.

"Kau… benar-benar nulis ini?!"

Itulah yang ditanyakan Laila yang tidak percaya dikala Gideon menghubungi dan menyerahkan naskah novel tersebut padanya. Sebenarnya Gideon terkejut karna Laila merespon naskahnya dengan begitu cepat namun dari ekspresi Laila Gideon yakin dia sudah membaca seluruhnya dalam waktu yang begitu singkat.

"Iya. Bisa Kau terbitkan?"

Namun bukannya antusias Laila malah terlihat ragu. Dia melihat kembali file naskah tersebut di ponselnya dan kemudian menatap Gideon lekat-lekat.

"Nggak mungkin," ucapnya kemudian, "ada yang bilang kalau sifat seorang penulis bisa terlihat dalam tulisannya dan jujur saja aku tidak bisa melihat sifatmu dalam naskah ini. Apa Kau menyuruh orang lain menulis untukmu?"

Pertanyaan itu terasa seperti sambaran petir yang langsung menyambar lambung Gideon. Meski demikian dia tidak mengijinkan keterkejutan itu muncul di wajahnya. Pengalamannya mengajarkan bahwa terlihat panik hanya akan membawa hasil yang buruk.

"Aku nulis itu sendiri. kalau Kau nggak terima biar kubawa ke penerbit lain."

"Mengirim naskah makan waktu berbulan-bulan lo. Bukannya aku nggak mau mengajukan naskahmu ke Pak kepala, aku cuma mau Kau jujur. Kalau Kau sampai terlibat yang macam-macam efeknya akan buruk."

Laila meletakkan kedua tangannya diatas meja lalu memiringkan kepalanya sedikit sebelum menatap Gideon tajam-tajam. Tatapannya menakutkan dan penuh intimidasi yang mana tak cocok dengan wajah cantiknya. Mau tak mau Gideon merasakan sensasi nostalgia. Itu adalah tatapan yang sering Laila keluarkan saat mencatat nama murid yang berkelakuan buruk saat jam kosong.

"Aku sengaja nggak ngungkit masa lalu waktu kita ketemu dua minggu lalu tapi melihat dari cara bicaramu kelihatannya sifatmu malah memburuk Gideon. Jangan-jangan, Kau masih pakai narkoba ya?"

Gideon mengerutkan dahinya hingga ujung kedua alisnya nyaris bertemu. Dia menimbang-nimbang dengan baik namun dia sadar bahwa diam nya sudah memberi Laila jawaban.

"Gideon, naskahmu ini bagus, amat bagus malah. Tapi kalau ini diterbitkan dan Kau terkenal itu artinya Kau akan mendapat perhatian publik dan kalau Kau terus memakai narkoba Kau pasti masuk penjara sebelum sempat mencicipi hasil royaltimu. Makanya aku mau Kau jujur."

"Nggak usah banyak bacot lah! Tinggal nerbitin aja apa susahnya?! Kan kalian juga yang untung!"

Dengan amarah yang sampai ke ubun-ubun Gideon membanting meja dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Sudah lama emosinya tidak keluar ke permukaan dan sekalinya keluar itu membuatnya merasa seperti ada bola besi mendidih yang masuk ke dalam perutnya.

Sudah lama dia tidak merasa kesal pada seseorang. Dia paling tidak suka diceramahi dan Laila bersikap seolah dia adalah manusia yang paling benar. Memangnya siapa dia? Padahal Laila lah yang sudah menyebabkan hidupnya hancur.

Dan apa salahnya mengkonsumsi narkoba? Orang-orang selalu memandang rendah pada mereka yang mengonsumsi barang haram tersebut namun tak pernah ada yang peduli akan alasan mereka menggunakannya. Tak ada yang akan peduli jika Gideon jatuh dalam depresi dan kegelisahan tapi mereka akan sok ikut campur saat dia melarikan diri pada ilusi narkoba. Memberikan nasehat-nasehat seolah mereka lebih baik, Gideon paling benci orang semacam itu.

Dan akhirnya Gideon pun meminum sedikit obat-obatan untuk menenangkan dirinya begitu tiba di rumah. Tak bisa dipungkiri hidupnya memang sudah tak bisa lepas dari yang namanya narkotika. 5 tahun di penjara hanya sanggup membuatnya tidak mendewakan barang haram tersebut namun efek yang dihasilkan amatlah menenangkan sehingga membuat Gideon kembali meletakkan tangannya di barang terkutuk itu.

Minuman keras dan narkoba, kedua benda itulah yang sanggup membersihkan kepalanya yang terasa begitu kacau dan dengan tenang membawanya ke alam mimpi. Belakangan ini tidur sudah menjadi saat-saat yang paling Gideon suka karna di dalam mimpi dia bisa menjadi apa saja dan melakukan apapun sesukanya.

Namun saat terbangun yang dia rasakan hanyalah rasa pahit di mulutnya. Tak peduli seindah apapun yang disebut bunga tidur kenyataan tetap tidak berubah. Sosok yang dipantulkan cermin dikala dia mencuci muka selalu sama, seorang pecundang yang bukan siapa-siapa. Bahkan setelah bertahun-tahun Gideon masih belum berubah.

Gideon membasuh mukanya dengan air yang dingin dan tepat saat dia hendak kembali tidur ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Hanya ada satu orang yang tahu nomor kontak Gideon jadi Gideon langsung pergi tidur tanpa melihat isinya. Gideon baru melihat pesan tersebut 3 jam kemudian saat dia terbangun. Seperti yang dia duga, itu pesan dari Laila.

Kalau kepalamu sudah dingin kutunggu di tempat yang sama.

Gideon diam memandang pesan tersebut selama 5 menit penuh. Jika itu adalah pesan dari 3 jam yang lalu maka tak mungkin Laila masih menunggu disana jadi tak ada gunanya juga untuk pergi. Meski demikian dengan alasan yang tidak bisa dimengerti Gideon memilih pergi ke tempat tersebut.

"Jam 10:30, cepat juga, kukira orang sepertimu baru akan bangun pukul 12."

Sembari dengan anggun menutup buku yang baru saja dia baca Laila menorehkan senyum tipis yang dibalas Gideon dengan gerutu tidak jelas.

"Urusan apa Kau manggil aku?"

"Bukannya Kau harus meminta maaf lebih dulu? Aku menunggu 3 jam lo," balas Laila sembari tersenyum manis yang Gideon anggap sebagai kemarahan.

"Memangnya siapa yang nyuruh Kau nunggu?"

"Hmm… baik, itu salahku. Kalau begitu bisa kita lanjut pembicaraan kita kemarin? Kau masih punya niat kan jadi penulis?"

"Bukannya Kau bilang nggak mau nerbitkan naskahku?"

"Aku nggak pernah bilang nggak mau. Ini cuma masalah kecocokan. Tak peduli seberbakat apa seseorang jika atasannya tidak menyukainya maka dia akan dipecat. Dunia tulis menulis juga begitu. Kalau pembaca tidak menyukai penulisnya maka bukunya tidak akan laku. Ahh, Kau mau minum apa? Biar kutraktir."

Dalam sekejap setumpuk makanan manis sudah terhidang diatas meja. Gideon hanya meminum kopi untuk sarapan, Laila lah yang mencicipi semua manisan tersebut.

"Kau yakin cuma minum kopi aja?" tanya Laila. "Hidup itu sudah pahit jadi untuk makanan setidaknya harus manis."

"Hidupku sudah terlalu pahit sampai-sampai gula hanya akan membuatnya terasa menjijikkan," jawab Gideon sekedarnya namun Laila tampak terpana.

"Itu kata-kata yang bagus, bila dipikirkan bisa dalam maknanya. Kau menaruhnya di halaman tujuh puluh tujuh saat tokoh utama menolak untuk bertemu teman kecilnya lagi. Ahh, keputusan yang bodoh namun begitulah kenyataan."

Gideon berhenti minum sebentar, mencoba untuk mencari tahu apa yang Laila maksud sampai akhirnya Gideon sadar Laila tengah membicarakan naskah novelnya.

"Aku ngirim itu ke Kau dua hari yang lalu tapi Kau udah baca semua rupanya."

"Tentu saja, mana bisa aku tidur kalau belum menamatkan buku yang amat bagus. Wonder of You, mari bersulang untuk calon novel best seller."

Laila mengangkat cangkir coklat panasnya namun Gideon tidak menyambutnya.

"Apa itu artinya novelku pasti bakalan terbit?" tanya Gideon kemudian.

"Ahh ya. Kalau Kau berjanji untuk berhenti menjadi pemakai obat terlarang maka aku tidak melihat ada masalah."

Namun Gideon melihat masalah.

"Memangnya siapa Kau ngatur-ngatur hidupku?"

"Terima atau kulaporkan Kau ke polisi sekarang juga," ancam Laila.

"Memangnya Kau pikir aku takut sama polisi? Lapor! Tapi jangan harap Kau hidup saat polisi datang."

Menanggapi itu Laila mundur satu langkah. Tentunya orang seperti Laila sama sekali tak punya kesempatan untuk mengancam Gideon yang sudah berpengalaman di penjara.

"Katanya seluruh sel di tubuh manusia akan beregenerasi setelah 10 tahun. Kau memang berubah Gideon. Luar dan dalam. Sebenarnya apa yang sudah Kau alami?"

"Itu bukan urusanmu. Kalau Kau memang nggak ada niat bantu aku itu artinya kita nggak perlu ketemu lagi."

"Aku mau menolongmu tapi Kau sendiri tidak mau ditolong."

"Kau ngomong apa sih?"

Namun Laila menatapnya dengan tatapan kasihan. Tatapan yang mirip dengan Gideon kecil saat melihat seekor laba-laba yang hendak memangsa ngengat. Tatapan itu membuat Gideon kembali merasakan perasaan takut yang sudah lama terkubur.

"Gideon, kalau Kau mau cerita aku bisa mendengarkan," ucap Laila dengan lembutnya.

Gideon bimbang. Ada sebagian kecil dirinya yang hendak cerita namun sebagian besar yang lain mengambil kontrol. Gideon sudah cukup muak dengan masa lalunya dan tak mau mengingatnya lagi.

"Okay… okay. Aku nggak bakalan konsumsi narkoba lagi," ucap Gideon pada akhirnya.

"Sungguh? Janji?"

"Ya, aku janji."

Dan kemudian Gideon mengambil salah satu kue bertabur krim diatas meja dan memakannya. Kue tersebut memang tidak memberikan sensasi melayang khas narkotika namun yang membuat Gideon terkejut adalah fakta bahwa ternyata dia masih bisa merasakan sesuatu yang manis.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
06-12-2021 09:07
Pertamini...

Tumben satu aja apdet nya gan @ih.sul
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan ih.sul memberi reputasi
2 0
2
Mimpi Dari Masa Depan
06-12-2021 17:32

Bab 17

Dan kemudian hidup Gideon mulai berjalan kearah yang dia inginkan. Popularitas dan uang, dua hal yang paling dia cari seumur hidupnya mulai berdatangan dan membawanya pada kehidupan yang sama sekali berbeda.

Dia mengucapkan selamat tinggal pada rumah tuanya yang penuh kenangan dan membeli sebuah apartemen di pinggiran kota yang memiliki pemandangan indah. Dari jendela kamarnya dia akan memandangi puncak pepohonan yang tertiup angin setiap pagi sembari menghabiskan beberapa batang rokok.

Di siang hari dia akan memanjakan diri dengan mengunjungi mall demi mall untuk memuaskan keinginannya akan barang-barang duniawi. Pakaian, gadget, makanan, Gideon mencoba semua hal yang sebelumnya hanya bisa dia impikan dan dalam waktu singkat apartemennya sudah dipenuhi banyak barang.

Dan di malam hari Gideon akan bersenang-senang di bar atau diskotik, berpesta dengan orang-orang sejenisnya dan menikmati malam penuh gairah tanpa kepedulian akan dunia. Di masa-masa itulah dia menyadari bahwa memiliki banyak uang membuatnya bisa mendapatkan apapun. Termasuk cinta.

Ada seorang wanita yang menarik perhatiannya dan dia adalah seorang bartender di bar langganannya. Saat pertama kali bertemu wanita itu menolak ajakan kencannya dan itu malah membuat Gideon tertantang. Wanita itu bilang dia hanya mengencani pria yang mengendarai porsche jadi Gideon membeli mobil mewah tersebut secara kredit dan membawanya berkeliling kota, mengajaknya berbelanja dan membelikan semua barang mewah yang dia mau seolah-olah uang hanya tisu toilet baginya. Malam itu juga mereka langsung naik ranjang.

Malam itu Gideon merasakan pengalaman yang sungguh spektakuler. Rasanya seperti ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam dirinya dan itu memberinya kenikmatan yang luar biasa. Dalam sekejap dia pun ketagihan dan memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka. Gideon tahu wanita itu hanya memandang uangnya namun dia tak keberatan, dia merasa senang berada di dekatnya. Senang karna dia tak harus menghabiskan waktu sendirian.

Hari pun berganti minggu dan Gideon mulai dikejar oleh rasa panik. Gideon akhirnya menyadari betapa pelik situasinya dikala dia tak punya cukup uang untuk membayar cicilan mobil. Terpaksa dia pun menjual kembali barang-barang yang dia-beli-namun-tak-pernah-disentuh untuk melunasi cicilan dan tak lama setelah itu pacarnya minta dibelikan Iphone keluaran terbaru. Untuk pertama kalinya Gideon pun menolak permintaannya dan seketika saja hubungan mereka langsung merenggang.

Gideon tahu apa masalahnya, uang. Uang lah yang menjembatani hubungan mereka dan tanpa itu tak ada hubungan, tak ada pertemuan, tak ada seks. Jika Gideon ingin memulihkan hubungan mereka maka dia harus mencari uang lagi. Tanpa uang, dia tak bisa mendapatkan apapun.

Tanpa uang hari-harinya juga menjadi kosong. Sendirian di apartemen barunya, Gideon tak tahu harus melakukan apa. Dia tidak punya teman dan tidak memiliki sesuatu yang dia tekuni. Biasanya disaat seperti ini dia akan menghisap sedikit marijuana untuk membuat pikirannya melayang namun karna janjinya dengan Laila Gideon tidak lagi melakukan itu. Sekarang dengan hidupnya yang tanpa narkotika Gideon akhirnya menyadari betapa kesepian dirinya. Dia ingin seseorang berada di dekatnya namun pacarnya yang brengsek tak akan datang jika tak ada uang.

Awalnya dia mengira bahwa kekosongan di dalam dirinya akan terisi disaat dia memiliki uang dan popularitas namun semakin dia naik keatas semakin dia sadar bahwa dirinya bukan apa-apa. Ada banyak orang yang lebih kaya darinya dan ada banyak orang yang lebih terkenal darinya. Rasanya seperti memanjat sebuah tangga yang tidak membawanya kemanapun selain pada kekosongan. Sebenarnya kemana dia tengah menuju?

Nada dering ponselnya menyadarkannya dari lamunan singkat tersebut. Nada dering default itu memenuhi ruangan dengan sesuatu yang aneh, rasanya seolah-olah suatu kehidupan tengah melayang di udara sebelum memasuki telinganya dan membuatnya tersadar bahwa di dunia ini dia tidak sendirian.

"Ada apa?" tanya Gideon bahkan tanpa melihat nama pemanggil.

"Maaf menghubungimu malam-malam. Aku cuma mengingatkan kalau besok syuting untuk adaptasi film akan dimulai. Kau bisa hadir kan?"

Gideon diam untuk sesaat. Sejujurnya dia sama sekali tidak tertarik dengan syuting film tersebut. Dia juga tidak tertarik dengan semua seminar maupun bedah buku yang harus dia jalani demi mempromosikan novelnya. Sejujurnya Gideon bahkan tak lagi tertarik dengan novel yang sudah merubah hidupnya itu. Dia hanya perlu menyerahkan semuanya pada pihak penerbit lalu menikmati hasil akhirnya.

"Hei, Kau dengar aku? Kau ngelamun ya? Atau jangan-jangan Kau lagi makai—"

"Aku dengar," sela Gideon sebelum Laila pada kesimpulan. "Aku sedang malas."

"Malas? Tapi pihak studio akan memberimu komisi atas adaptasi novel ini lo."

"Uang? Bagus, aku akan datang."

Kali ini Laila lah yang terdiam di ujung sana. Keheningan itu berlangsung cukup lama namun Gideon sama sekali tidak memecahnya. Dengan sabar dia menunggu Laila berbicara lebih dulu.

"Okay, akan kujemput Kau besok."

Gideon melirik kearah ponselnya dikala panggilan itu terputus. Gideon mendapat kesan yang kuat bahwa Laila, entah bagaimana, mengerti apa yang tengah ia pikirkan. Namun itu seharusnya tidak mungkin. Gideon tak pernah menceritakan tentang dirinya pada siapapun kecuali orang-orang di penjara dan tak peduli sehebat apa Laila dalam membaca kepribadian orang lain dia tak mungkin tahu apa yang Gideon sembunyikan. Tidak mungkin.

Keesokan harinya Gideon mengumpulkan tekadnya untuk bangun pagi demi menghadiri syuting film tersebut. Cuaca diluar tampak amat bagus, tidak terlalu panas dan cukup banyak awan. Samar-samar Gideon bisa mendengar suara anak-anak yang bermain di halaman apartemen dan untuk alasan yang misterius Gideon merasa ingin bergabung dengan mereka.

Namun sayangnya dia sudah punya agenda dan tak mungkin juga orang dewasa mengganggu kesenangan anak kecil sehingga Gideon mengganti pakaiannya dengan rasa sesak di dada. Dia tidak mengharapkan apapun yang spesial dan berharap agar syuting bisa segera selesai namun saat Gideon membuka pintu dia mendapat kejutan terbesar yang tingkatannya hanya bisa dibandingkan dengan kematian ibunya.

Kelopak mata Gideon melebar dikala pandangannya terpaku pada seseorang yang tengah berdiri di hadapannya. Tangannya gemetar dan lidahnya terasa kelu layaknya anak kecil yang berhadapan dengan pembunuh bayaran.

Marah, takut, bingung, semua emosi itu terlihat jelas di wajah Gideon dan saat orang di hadapannya tersenyum ragu-ragu Gideon pun akhirnya mengerahkan seluruh tenaga untuk mengeluarkan satu kata yang terasa seperti setumpuk beton berat.

"Ayah?"

Tampaknya, roda keberuntungannya kembali berputar ke bawah.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mimpi Dari Masa Depan
07-12-2021 04:23
Waaww.....semakin menarik..pov gideon ini...rumit...
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Mimpi Dari Masa Depan
07-12-2021 12:21

Bab 18

Laila memarkirkan mobilnya dengan hati-hati di lapangan apartemen. Mobil baru yang dibelikan ayahnya masih belum terasa nyaman di tangannya dan itu membuatnya tak bisa melaju secepat yang dia inginkan sehingga dia tiba 3 menit molor dari jadwal yang dia harapkan. Setelah memastikan pintu mobilnya terkunci Laila pun mengambil langkah kecil dan berjalan menuju bangunan apartemen 20 lantai di depannya.

Cuaca pagi hari ini sungguh sempurna. Tidak terlalu panas, cukup banyak awan, angin sepoi-sepoi dan cuitan burung yang bertengger diatas kabel telepon. Laila adalah tipe orang yang selalu memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya dan karna itulah dia merasa senang saat menyadari pagi harinya dilengkapi dengan atmosfer sempurna yang biasanya digunakan untuk latar cerita bahagia.

Namun sayangnya, dia harus merusak pagi hari indah tersebut dengan menemui Gideon. Sejujurnya Laila tidak menyukai Gideon, bagaimanapun Gideon memang tipe manusia yang sangat sulit disukai. Dia tidak sopan, bicaranya kasar dan dia punya kecenderungan untuk menggunakan kekerasan kapanpun dia mau. Jika bukan karna pekerjaan Laila tidak akan mau menemuinya.

Namun di dasar hatinya, Laila merasa bertanggung jawab. Laila sudah mengenal Gideon sejak Smp dan dia tahu dulunya Gideon tidak seperti itu. Dulu Gideon memang bukanlah murid teladan namun dia juga bukan murid yang sering berbuat kerusuhan dan karnanya Laila amat terkejut saat Gideon ketahuan membawa narkoba ke sekolah.

Dan sekarang setelah 10 tahun berlalu Gideon tetap belum menunjukkan tanda bahwa dia bisa sepenuhnya lepas dari benda super adiktif tersebut dan karna itulah Laila perlu untuk terus mengawasinya. Sampai kapan? Laila sendiri tidak bisa melihatnya.

Laila berhasil memasuki lift tanpa masalah dan di dalam lift yang kosong dia mencoba mengingat kembali segala kejanggalan yang dia rasakan dari Gideon. Tentunya bertemu dengan seorang pecandu narkoba bukanlah sesuatu yang bisa dirasakan setiap orang namun Laila merasa itu bukanlah satu-satunya hal yang Gideon coba sembunyikan darinya. Ada suatu hal penting yang harus dia ketahui namun pria itu menolak memberitahunya.

Tentunya semua itu hanyalah firasat Laila. Dia sama sekali tidak punya bukti atas kecurigaannya dan firasatnya berkata bahwa jika dia mencoba menggali lebih jauh dia akan celaka. Gideon jelas-jelas menyembunyikan sesuatu namun melihat sikapnya yang mudah marah bukan tak mungkin dia akan memukul Laila jika sampai bertanya.

Namun Laila ingin tahu. Selayaknya tengah membaca novel misteri, Laila sangat penasaran dengan rahasia Gideon sampai-sampai hal tersebut bisa terbawa ke alam mimpi. Dia yakin rahasia itu jugalah yang membuat pria seperti Gideon sanggup menulis novel penuh keindahan yang mana amat tidak cocok dengannya.

Jadi kira-kira bagaimana cara agar Gideon mau memberitahunya? Apakah Gideon tipe pria yang luluh akan rayuan? Bahkan bagi Laila sendiri ide itu terdengar bodoh.
Dan selagi Laila memikirkan semua kemungkinan lift akhirnya berhenti bergerak dan tanpa peringatan dia langsung disuguhkan dengan adegan berdarah dimana Gideon tengah memukuli seorang pria paruh baya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Butuh waktu cukup lama dan tenaga banyak orang untuk menghentikan Gideon. Dalam prosesnya Gideon memukul banyak orang yang hendak menghentikannya. Laila adalah salah satunya.

***


"Dan mari kita hitung total korbannya. 3 patah tulang, 4 memar parah, 4 luka ringan dan satu orang yang Kau hajar habis-habisan itu harus masuk UGD. Selamat Gideon, Kau menghancurkan hidupmu sendiri."

Seumur hidup Laila belum pernah menginjakkan kakinya ke penjara dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa kunjungan pertamanya adalah untuk mengunjungi seseorang yang seharusnya dia asuh baik-baik meskipun dia bukan seorang Ibu. Sejujurnya menjaga seorang penulis agar tidak melakukan kejahatan sama sekali tidak ada dalam kontrak kerjanya. Dia harus minta kenaikan gaji.

"Dan aku masih belum menyinggung fakta bahwa Kau meninggalkan luka di wajahku. Kau lihat dahiku ini? kata dokter satu bulan juga belum tentu bisa hilang. Aku akan menuntutmu."

Laila menyentuh luka di dahinya dan mengernyit kesakitan. Kendati sudah diobati dan dibalut dengan kapas namun rasanya tidak kalah menyakitkan dengan jatuh dari pohon setinggi dua meter.

Namun tak peduli seperti apa ekspresi kesakitan yang dia buat Gideon tetap tidak memandangnya. Gideon, yang dipenjara beberapa hari sebelum menunggu keputusan hukum, terus saja memandang langit-langit dan sepertinya sama sekali tidak mendengarkannya. Ingin rasanya Laila membalik meja yang memisahkan mereka dan menghantamkannya ke wajah Gideon namun Laila tahu betul bahwa tangannya tak akan kuat untuk melakukan itu. Sebagai gantinya Laila pun harus puas dengan hanya mengutuk dalam hati.

"Terserahlah. Yang penting sekarang Kau keluar dulu dari sini, urusan lain bisa dibereskan nanti. Keluargamu dimana?"

Tepat disaat Laila mengucapkan kata 'keluarga' dia bisa melihat Gideon bereaksi kecil. Untuk pertama kalinya Laila bisa melihat sesuatu yang bukan kedengkian maupun keserakahan di wajah pria itu. Itu lebih seperti… ketakutan.

"Hei, aku tanya keluargamu dimana?" tanya Laila lagi dan ekspresi takut itu semakin jelas. Awalnya Laila yakin bahwa Gideon akan mulai menceritakan masa lalunya seperti pelaku pembunuhan yang identitasnya terbongkar namun ternyata Gideon tidak selemah itu.

"Nggak usah banyak tanya. Aku nggak peduli Kau pakai uang berapa banyak, keluarkan saja aku dari sini."

Kasar dan tidak sopan. Nadanya sama sekali tidak seperti orang yang hendak meminta tolong. Dari situ Laila tahu bahwa Gideon sudah kembali menjadi dirinya yang biasa.

"Dan kenapa aku harus bantu Kau? Apa Kau tidak bisa mengucapkan tolong?"

"Nggak usah jual mahal lah. Boss mu pasti bakalan marah kalau aku sampai dipenjara kan? ingat baik-baik Kau bicara sama siapa. Aku ini sumber uang buat kalian."

Laila menggigit lidahnya sendiri karna jengkel. Tak peduli sebenci apapun dia pada Gideon dia tetap tidak bisa menyangkal bahwa yang dikatakan Gideon itu benar. Jika Gideon sampai dipenjara maka mungkin tak akan bisa menulis lagi dan jika itu terjadi maka bukan hal yang aneh jika Laila sampai dipecat.

Karna itulah dia hanya bisa menggerutu dalam hati dan patuh seperti budak perusahaan yang baik.

"Okay, akan kubantu sebisaku."

Meski mengatakan hal itu dengan jengkel namun Laila benar-benar mencoba yang terbaik untuk membantu Gideon. Dia menemui semua orang yang terluka akibat kejadian itu dan meminta maaf. Mereka yang menderita luka berat sampai harus ke rumah sakit ditanggung biaya pengobatannya dan tentunya Laila harus memberikan sejumlah besar uang damai.

Dan saat Laila selesai mengurus semua itu, 90 persen uang yang harusnya menjadi komisi adaptasi film milik Gideon sudah lenyap tak bersisa sedangkan sepuluh persen sisanya dia transfer ke rekening Gideon. Laila tahu bahwa Gideon menggunakan seluruh uangnya untuk berfoya-foya jadi bagian sepuluh persen itu akan sangat penting baginya.

Namun masalah utamanya adalah korban yang terluka paling parah hingga harus masuk UGD. Sejak kejadian itu korban belum sadarkan diri dan Gideon sama sekali tidak mau cerita tentang siapa dan kenapa dia melakukan tindakan bodoh tersebut. Dia bahkan lebih memilih masuk penjara dibanding menceritakannya.

Dan yang lebih aneh, tak ada satu orang pun yang datang untuk menjenguk korban. Laila sudah menanyakan hal tersebut ke pihak rumah sakit dan pihak rumah sakit sudah mengkonfirmasi bahwa tak ada siapapun yang bisa dihubungi. Singkatnya, korban sama sekali tidak punya keluarga dan bahkan tidak punya tempat tinggal tetap.

Orang asing yang tiba-tiba muncul dan memantik amarah Gideon. Tak mungkin rasanya kejadian tersebut hanya sekedar kebetulan. Keduanya pasti memiliki semacam hubungan dan meskipun Laila bukan detektif dia akan menemukan rahasia itu dan hal pertama yang perlu dia selidiki adalah identitas si korban.

Dengan sedikit memohon Laila berhasil mendapatkan data diri korban dan dengan bantuan temannya yang bekerja di Kantor Catatan Sipil Laila bisa melihat riwayat hidup yang mana cukup untuk membuatnya tertegun beberapa menit.

Apa yang dia baca jauh melampaui ekspektasi liarnya. Ingatannya otomatis kembali ke sepuluh tahun yang lalu dimana Gideon ketahuan membawa narkotika di dalam tasnya. Pihak sekolah memanggil polisi dan polisi memanggil orangtua Gideon namun orangtua Gideon tak pernah datang sehingga Gideon pun dikeluarkan dari sekolah.

Siapa yang menyangka kalau ayah Gideon kini berbaring di ranjang rumah sakit tanpa tanda-tanda akan sadarkan diri? Sosok ayah yang menghilang selama 10 tahun namun tiba-tiba muncul di depan pintu rumah, rasanya Laila agak paham mengapa Gideon bisa naik darah.

Namun itu tetap tidak menjelaskan kenapa dia harus memukuli ayahnya sendiri hingga koma. Memang wajar bila dia menyimpan dendam namun bukankah itu tetap terlalu berlebihan? Apakah ayahnya sudah melakukan sesuatu yang lain? Sayangnya jawaban dari pertanyaan itu hanya bisa Laila ketahui dengan bertanya pada pihak yang terlibat.

Apa yang Laila dapatkan malah membuatnya semakin penasaran. Setelah menimbang-nimbang dia pun meminta bantuan pada temannya sekali lagi dan kali ini dia ingin melihat catatan hidup Gideon. Gideon pasti akan membunuhnya jika dia melakukan ini namun jika Gideon tidak tahu maka tidak akan ada masalah.

Namun setelah Laila membaca semuanya, yang dia rasakan hanyalah rasa pahit.

Tbc....
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 3 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sad-story-ombak-tak-bersuara
Stories from the Heart
sebelum-reda
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia