Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
96
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61a1f3a771bd1b37f8540100/cinta-itu-enggak-buta-cinta-justru-mandang-strata
Kamis, 25 November 2021, hariku dimulai dengan perasaan yang kelabu, tak jelas di antara hitam dan putih. Ada sedikit rasa senang sebenarnya, sebab hari Kamis bagiku sama artinya dengan liburan. Namun, rasa senang yang disebabkan hari libur itu, tetap tak mampu mengobati kegundahan dan rasa kecewaku, atas apa yang telah kudapatkan kemarin malam. Ragaku terasa lemas sekali, rasanya tak ingin lepas
Lapor Hansip
27-11-2021 16:00

Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata

Past Hot Thread
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata

Kamis, 25 November 2021, hariku dimulai dengan perasaan yang kelabu, tak jelas di antara hitam dan putih. Ada sedikit rasa senang sebenarnya, sebab hari Kamis bagiku sama artinya dengan liburan. Namun, rasa senang yang disebabkan hari libur itu, tetap tak mampu mengobati kegundahan dan rasa kecewaku, atas apa yang telah kudapatkan kemarin malam. Ragaku terasa lemas sekali, rasanya tak ingin lepas dari pelukan selimutku yang hangat ini.

Namun, aku harus terlepas sejenak dari pelukan manja selimutku, sebab ponsel pintarku berdering tanda ada pesan masuk entah dari siapa. Kuraih ponsel itu, kuketuk layarnya dua kali agar menyala, lalu kubuka pola kuncinya yang serumit rumus kalkulus. Ada pesan dari Anton di sana.

“Cok, tar siang ke Perpusnas yuuu,” katanya, dengan gaya bahasa yang khas anak zaman sekarang. Aku tak menjawab pesannya itu, karena ajakan ke Perpusnas memang hampir tak pernah kutolak dalam hidupku. Lagi pula, aku merasa harus bertemu dengannya, sebab ada sekelumit cerita yang ingin kusampaikan pada dirinya.

Oh iya, sedikit cerita tentang aku dan Anton, kami berdua adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Tangerang Selatan, dan kami sama-sama mengambil jurusan sosiologi di sana. Anton adalah salah satu teman dekatku, atau mungkin boleh dikata teman terdekatku di jurusan itu. Segala hal yang ada di dalam kepalaku, sudah pasti kusampaikan padanya, sebab dialah yang paling kupercaya untuk mendengarkan itu semua. Hari ini, akan kusampaikan curhatan terbaruku, yang apabila diindeks bagaikan bibliografi, entah akan menjadi referensi nomor berapa, sebab sudah terlalu banyak kisah-kisah dan pemikiran yang aku sampaikan kepada sosok Anton ini.

Ragaku yang tadinya terasa begitu lemas, perlahan-lahan kembali mendapatkan semangatnya. Ia mulai mengumpulkan tenaga, lalu bergegas lari ke kamar mandi, tentu untuk membersihkan diri.

******

Jam di ponselku menunjukkan angka 9.00, aku sudah sampai di rumah Anton yang memang sepi bagaikan kuburan. Tak banyak orang berlalu lalang di sekitaran rumahnya, termasuk orang tua Anton yang sudah berangkat kerja sejak tadi pagi. Suasana yang sepi bak kuburan ini, sejujurnya tak selalu memberikan kesan yang negatif, ia justru memberikan manfaat yang sangat aku sukai, yaitu kesunyian dan rasa damai.

Rumah Anton yang sepi kerap kali digunakan sebagai sarana diskusi, sebagai tempat bercerita, juga sebagai wadah untuk mengobrol ngalor ngidul ketika rasa jenuh mencoba untuk membunuh kami yang berkunjung ke sana.

Kuketuk pintu rumahnya, sembari berteriak “Assalamualaikum mamang!” Samar-samar kudengar seseorang berjalan mendekati pintu, orang tersebut kemudian membukanya sembari menjawab dengan mata yang sendu, “Wa’alaikumsalam cok.” Mata sendu yang terlukis di wajah Anton bukanlah tanda akan kesedihan, itu hanyalah tanda bahwa Anton baru bangun dari tidurnya, dia memang mencintai kasur dan selimut melebihi apapun, hahaha.

Seperti biasanya, aku hanya duduk di kursi panjang di teras rumah Anton, sembari menunggu dirinya mandi dan memakai pakaian yang pantas. Tak banyak yang bisa kuceritakan mengenai pemandangan di sini, hanya ada pemukiman yang biasa-biasa saja, tidak mewah tapi juga tidak kumuh.

Waktu berlalu bergitu cepat, hingga akhirnya Anton muncul dengan jaket denim bertuliskan “MUGEN” di punggungnya. “Mau nyerita apaan dulu nih?” kata Anton sembari menyuguhkan secangkir kopi di depanku. “Cewek Ton,” jawabku, sembari meraih cangkir di depan mata. Anton lalu duduk di sampingku, dengan kaki kanan yang menapak kursi panjang itu. “Aduh, dia lagi ya? Udah ada kemajuan kah?”. Anton tampak antusias dengan topik yang kubawa, ia memang bagaikan saudara bagiku, di matanya rasa senangku adalah rasa senangnya juga, dan kesedihanku adalah kesedihannya juga. Saat kulihat matanya yang berbinar menunggu sepenggal kisah yang akan kusampaikan, kutarik napas panjangku terlebih dahulu, karena yang kubawakan kali ini adalah kisah yang tak begitu enak untuk diceritakan.

“Gua kayaknya udah nyerah deh buat ngejar dia, Ton,” jawabku, sembari mengembuskan karbondioksida ke udara.

 

******

 

Rabu, 24 November 2021, di malam itu kusempatkan waktu untuk bercakap-cakap dengan gadis idamanku. Tentu, dia hanyalah gadis idaman, bukan seseorang yang memiliki hubungan spesial denganku. Percakapan kami pun terjadi hanya dengan perantara jaringan internet, bukan dengan bertemu langsung di restoran ternama bak seorang remaja yang sedang pedekate.

“Ada apa dengan “love,” Ay?” Kuketik itu untuk membalas kirimannya yang bernuansa sedih.

“Gua pikir lu juga ngerti deh kenapa.”

“Bucin?”

“Kagakkk, mana ada gua bucin.”

“Terus kenapa? Gua gak paham nih.”

“Gua kayaknya udah nyerah deh buat suka sama cowok.”

Yang ia maksud menyerah di sini sebenarnya berarti menyerah untuk menyukai lelaki yang ia dambakan selama ini, bukan mengarah kepada orientasi seksual. Itu mungkin terdengar seperti satu hal yang biasa, kita semua pasti pernah kan merasakan hal yang seperti itu? Kita pasti pernah kan menyukai seseorang, lalu memutuskan untuk menyerah karena beberapa keadaan? Ya, menyerah bukanlah hal yang aneh dalam sebuah roman. Namun, pernyataannya itu juga bermakna satu hal, bahwa ia masih memiliki perasaan tersebut kepada lelaki yang dulu ia dambakan. Padahal kupikir, ia sudah melupakan sosok tersebut, sehingga ada tempat untukku di dalam hatinya, tapi ternyata aku salah, perasaan manusia memang tak semudah itu untuk dibolak-balikkan.

“Gua kira lu udah enggak mikirin dia lagi, Ay,” kataku, untuk melajutkan percakapan itu.

“Gak semudah itu kali ngelupain orang kayak dia.”

Sebagai seseorang yang sangat analitis, setiap kata yang ia kirimkan merupakan sebuah data yang penting untuk kuanalisis. Ia berkata bahwa tidak mudah untuk melupakan seseorang yang “seperti dia,” yang artinya sosok lelaki yang ia dambakan memang beda dari yang lain, ia sangat otentik, menarik perhatian, dan eksistensinya meninggalkan bekas yang mendalam.

Di era yang semakin modern ini, hanya dengan ketikan pesan saja kita sudah bisa mengguncang pikiran seseorang, dan pesan yang ia ketik pun telah mengguncang diriku. Oh, ternyata selama ini aku salah, tak ada tempat untukku di dalam hatinya.

******

“Jadi Ton, selama ini ternyata dia masih mikirin cowok itu, gak ada tempat buat gua ternyata ya. Gua bukannya gak mau berjuang lebih jauh lagi Ton, tapi buat nyamain cowok yang dia suka, itu berat banget. Cowok yang dia suka itu jauh lebih ganteng daripada gua, artinya kalo gua mau nyamain dia, ya gua harus keluar modal kan buat ini itu, buat perawatan wajah lah, buat beli pakean yang keren lah. Sedangkan, lu tahu sendiri gua orangnya kayak gimana. Jangankan ngemodal buat fashion, jangankan beli skincare, buat modal kuliah aja masih pas-pasan gua.”

Anton hanya tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepala, ia lalu menyeruput kopinya hingga habis tak tersisa. Ia lalu menarik napas agak panjang, tampak seperti ingin menceramahiku.

“Jadi gini cok, kita kan anak sosio ya, buya juga udah ngejelasin panjang lebar yang namanya stratifikasi sosial ke kita-kita,” katanya, sembari mengembuskan C02 ke udara.

“Stratifikasi? Apa hubungannya anjir.”

Anton lalu meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi digenggamnya, lalu menarik napas lagi bagai membuat ancang-ancang.

“Lu pasti sering denger kan ungkapan kalau “cinta itu buta”? Ya gua yakin semua orang tahu ungkapan itu. Masalahnya kita anak sosiologi ya, kita gak bisa nganggep satu pernyataan itu benar hanya karena semua orang percaya, kita bicara berdasarkan fakta bukan dogma, kita menentukan segala sesuatu berdasarkan data bukan stigma.”

Aku hanya mengangguk pelan, sembari menanti sambungan ceramahnya yang mendalam itu.

“Ungkapan “cinta itu buta,” itu cuma bullshit alias tai kebo. Orang suka sama lu karena strata lu, kalo strata lu levelnya beneran paling bawah, jangan ngarep banyak deh, entar sakit hati.”

Anton lalu menyalakan ponsel pintarnya, lalu menunjukkan padaku sebuah foto yang berisi dua buah piramid.

“Gua kemarin baca riset orang, gua lupa risetnya siapa, males buka laptop gua. Yang pasti nih ya, cewek itu selalu nyari cowok yang stratanya ada di atas dia. Cowok yang stratanya sama kayak si cewek, punya kesempatan kecil buat diterima. Cowok yang stratanya ada di bawah si cewek, hampir pasti ditolak sama dia. Lu bisa lihat diagramnya di foto ini.”

“Ini emang udah jadi sifat alamiah cewek cok. Ribuan tahun yang lalu, yang namanya cewek pasti nyari sosok lelaki yang kuat, yang bisa ngelindungin dia dari binatang buas, yang bisa ngasih dia rasa aman, dan tentunya ngasih dia makan lewat hasil berburu, STRATA ITU UDAH ADA DARI ZAMAN MANUSIA PURBA! Sekarang manusia udah modern, yang nentuin strata makin banyak. Lu gak bisa ada di kasta paling atas hanya karena lu berotot, lagian manusia mana juga yang masih hidup dengan berburu ya, hahaha. Lu harus banyak duit, pergaulan harus luas, lu harus enak dilihat, dan lu harus punya kekuasaan yang bisa bikin lu dan orang di sekitar lu merasa aman.”

Anton lalu meletakkan ponsel pintarnya di samping cangkir yang sudah kosong melompong.

“Sekarang gua tanya sama lu cok, dari semua faktor yang nentuin strata lu, mana yang lu pikir udah lu punya? Berapa banyak duit di dompet lu? Seluas apa pergaulan lu? Seberapa tampan lu di mata cewek-cewek dengan penampilan yang seadanya gini? Dan peranan apa yang lu punya di dalam masyarakat? Gua bukannya mau ngejatuhin lu, sebagai seorang teman, gua cuma pengen lu sadar secepatnya tentang kelebihan dan kekurangan lu. Lu orang baik, lu punya banyak kelebihan, tapi itu belum cukup buat naikin strata lu, itu belum cukup buat bikin lu kelihatan menarik di mata cewek yang lu suka, lu harus sadar secepatnya daripada menyesal di kemudian hari.”

Aku hanya bisa tertegun tatkala Anton menjelaskan kultumnya yang benar-benar didasari atas penelitian sosiologis, dan ia sendiri tampak belum usai dengan kultumnya tadi.

“Oh iya cok, gua udah sering ngelihat kejadian kayak gini dalem idup gua ya. Gua yakin, dia itu suka sama cowok yang stratanya di atas dia, dan dia gak bisa berbuat apa-apa tentang hal tersebut. Pun begitu elu, lu suka sama cewek yang stratanya satu tingkat di atas lu, lu gak bakal bisa ngapa-ngapain selain jadi badut yang setia ngedengerin kegelisahan dia soal cowok yang stratanya dua tingkat di atas lu. Nah, sekarang elu ngeluh ke gua karena lu “ketolak” sama cewek yang lu suka, dan cewek yang lu suka juga “ketolak” sama cowok lain, gua jadi mikir mungkin ada di luar sana cewek yang juga “ketolak” sama lu karena stratanya di bawah lu, gimana tuh?”

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, karena selama ini, tak ada satupun perempuan yang menunjukkan tanda-tanda tertarik terhadap diriku.

“Kayaknya gak ada deh cewek yang tertarik sama gua Ton, gua deketnya ya sama dia aja, gak ada yang lain lagi.”

Anton lalu meraih ponsel pintarnya lagi, tentu ia nyalakan ponsel itu terlebih dahulu, lalu membuka kuncinya sebelum akhirnya membuka galeri untuk menunjukkan sebuah foto padaku.

“Gua sebenarnya gak beneran nanya sih, gua cuma ngetes kepekaan lu aja. Tapi gini, gua tuh punya temen yang suka sama lu cok.”

Aku mengernyitkan dahi, merasa tak percaya dengan perkataannya.

“Yang bener Ton? Siape tuh?”

Anton lalu menunjukkan foto yang sedari tadi dipandangnya di dalam ponsel yang ia genggam.

“Nih lu lihat, dia ini temen gua dari kelas sebelah. Gua tahu dia suka sama lu ya karena dia sendiri yang cerita ke gua cok.”

Kuambil ponselnya, lalu kulihat foto itu dengan saksama. Di dalamnya, terlihat sosok perempuan yang memang aku kenal, meski boleh dibilang kami tak begitu dekat di dunia nyata.

“Lu lihat foto itu, coba lu inget-inget siapa dia. Gua yakin lu kenal, tapi lu enggak tertarik kan sama dia? Coba lu tanya ke diri lu sendiri, kenapa lu gak tertarik? Udah jelas cok, karena lu sendiri punya standar, LU MANDANG STRATA JUGA! Lu perhatiin baik-baik foto itu, secara tampang dia biasa aja, dilihat dari gaya busananya juga gak wah-wah amat, apalagi kalo lihat fetish lu yang sukanya sama cewek yang bisa ngomong bahasa Inggris, aduuuh gak kebayang dah, dia soalnya gak begitu ngerti English cok. Terus nih ya, dia masuk FISIP dapet UKT golongan I, bisa lu bayangin kan bagaimana kondisi keuangan dia, sedangkan ekonomi sendiri nentuin strata seseorang di masyarakat. Satu-satunya kelebihan dia, dia suka sama lu, dia ngarepin lu, dia nunggu elu.”

Seluruh perkataan yang dilontarkan oleh Anton benar-benar menusuk ke dalam diriku, ia menyadarkanku bahwa apa yang orang lain lakukan padaku, ternyata secara tak sadar telah kulakukan kepada orang lain. Sosok perempuan yang ada di dalam foto itu, aku mengenalnya, ia adalah perempuan yang baik dan ramah, tapi tidak begitu dikenal orang di perguruan tinggi tempatku belajar kini.

“Sekarang lu sadar kan? Gak ada yang namanya “cinta itu buta,” sekali lagi itu tuh cuma bullshit alias tai kebo.”

“Sekarang gini cok, lu udah tahu kan kalau di luar sana ada cewek lain yang suka sama lu, jadi langkah selanjutnya yang mau lu lakuin itu apa? Apa lu mau ngejar cewek lain yang stratanya di atas lu, terus lu ngejar dia sampe lu menderita, sampe lu ngebadut tapi ujungnya gak dapet apa-apa, atau lu mau terima cewek yang beneran suka sama lu, ngarepin lu jauh di sana, meskipun stratanya ada di bawah lu?”

 

“Itu semuanya terserah lu, lu lebih tahu yang terbaik buat diri lu ketimbang gua ya. Lu bisa aja ngejar cewek yang stratanya ada di atas lu sampe berhasil, tapi resikonya ya lu harus kerja ekstra biar strata lu bisa naik, itu kenyataan yang harus lu hadepin kalo lu mau ngejar yang mahal-mahal. Tapi kalo lu nerima temen gua ini, biarpun secara strata dia ada di bawah lu, tapi bisa gua jamin dia ini beneran suka sama lu. Lu gak perlu maksain buat ngelakuin hal-hal yang lu gak suka, lu gak perlu kerja ekstra, belajar ekstra, atau bertingkah sok keren cuma buat bikin dia terpukau, temen gua ini udah suka sama lu apa adanya.”

 

“Hadeh sorry ye kalo omongan gua terlalu frontal, gua begini karena lu sahabat gua cok, kalo bicara sama lu yang gua pengen kasih tahu itu ya kenyataan. Karena di mata gua, kenyataan yang pahit itu lebih baik daripada kebohongan yang manis. Kenyataan yang pahit ngasih lu gambaran terbaik akan kehidupan, nunjukkin lu cara-cara buat jadi versi terbaik dari diri lu. Tapi kebohongan yang manis, dia itu cuma ilusi, ilusi yang bikin lu terlena dengan keadaan, ilusi yang bikin lu mikir kalo semuanya baik-baik aja, padahal aslinya ya gak baik-baik aja.”

 

“Terserah lu mau nerima temen gua itu apa enggak, yang penting berangkat dulu ke Perpusnas cok, keburu sore ini anjirrr.”

******

profile-picture
profile-picture
profile-picture
provocator3301 dan 42 lainnya memberi reputasi
41
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
18.1K Anggota • 28K Threads
Halaman 1 dari 3
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
27-11-2021 16:02
Jam empat sore, kami sudah keluar dari Perpustakaan Nasional, sembari menenteng buku yang kami pinjam dari perpustakaan tertinggi di dunia itu. Anton yang memang bersifat frontal dan selalu berorientasi pada kenyataan, ia menenteng buku Jurnalisme Dasar karya Luwi Ishwara, yang sampulnya begitu hijau bak dedaunan. Anton berkata, bahwa ia benci segala bentuk dusta, sehingga kegiatan wartawan dan jurnalisme adalah hal yang ia suka selain sosiologi, sebab jurnalisme menurutnya adalah sebuah kegiatan yang berfokus pada pencarian kebenaran.

Sementara diriku, aku meminjam buku Pengantar Ilmu Antropologi yang ditulis oleh antropolog kenamaan, Koentjaraningrat, sebab memang mata kuliah antropologi akan hadir di semester dua nanti.

Terlepas dari itu semua, aku sangat bersyukur karena bisa berteman dengan Anton selama ini, dan aku sangat berterima kasih atas semua wejangan yang ia berikan tadi pagi. Apa yang ia katakan itu benar, yang namanya tulus itu tidak ada, ungkapan cinta itu buta adalah sebuah omong kosong, semuanya terjadi atas dasar kausalitas, ada sebab dan ada akibat. Sudah kuputuskan sekarang, bahwa fokusku kini bukan lagi perempuan, persetan dengan status jomblo, aku hanya ingin bahagia dan mengejar impianku satu per satu. Aku ingin melanjutkan studi ke luar negeri, aku ingin mendapatkan gelar doktor di bidang sosiologi, aku ingin menonton pertandingan sepak bola di Eropa, aku ingin menghadiri WrestleMania dan meminta tanda tangan Stone Cold Steve Austin di sana.

Jadi, saran Anton untuk fokus meningkatkan kualitas diri dan menaikkan strata pada lapisan sosial masyarakat akan kuturuti, bahkan pun tanpa perlu alasan mengejar wanita. Namun, masih ada satu hal lain yang ingin kutanyakan padanya terlepas dari keputusanku itu.

“Ton, bagi nomernya temen lu itu dong.”

“Hah? Buat apaan? Buat koleksi?

“Ya bukan lah, mau gua tanyain dia, kalo dia emang suka sama gua yaudah gua terima aja.”

“BUSET!” kata Anton, beberapa waktu sebelum kami pulang ke rumah masing-masing.

******


Aku tak menggubris pertanyaan Anton ketika ia terkejut mendengar pernyataanku tadi, pertanyaannya baru kujawab ketika kami berada di dalam bus TransJakarta.

“Cok, lu serius mau nerima dia?”

“Iye gua serius.”

“Lu enggak apa-apa jadian sama dia?”

“Elah gimana sih lu, tadi ngatain gua karena gua juga mandang strata, sekarang orangnya mau gua ajak jadian lu malah protes, gabener lu. Lagian dia kan orang, bukan Mak Lampir, gabakal kenapa-napa gua suer.”

Anton hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala ketika mendengarkan perkataanku itu.

“Lu saking ngenesnya sampe mau nurunin standar ya cok, hahaha.”

“Hadeh Ton. Gua cuma mikir aja, gua sakit hati karena gak bisa dapetin cewek yang gua suka, hanya karena strata kita beda. Sekarang ada cewek yang suka sama gua, kalau dia beneran punya perasaan itu, gua gak mau rasa sakit hati gua juga dia rasain. Gak apa-apa strata beda, gua cuma gak mau nyia-nyiain perasaan dia.”

“Berarti lu begini atas dasar rasa kasihan dong.”

“Ya itu terserah lu mau mandangnya kayak gimana. Apa yang elu jelasin tadi bener kok. Gua, bahkan mungkin setiap orang di dunia, kita semua mandang strata kepada lawan jenis. Tapi gua punya pertimbangan lain Ton. Gua sadar kalau gua tuh cuma butuh kasih sayang aja. Enggak perlu lah gua bahas hal yang lain di luar konteks ini. Satu hal yang gua tahu, kalau temen lu ini beneran suka sama gua, ngarepin gua, dan bahkan nungguin gua, itu artinya dia adalah sosok perempuan yang siap ngasih kasih sayangnya ke gua, itu lebih penting daripada sekadar tampang. Kalau lu nganggepnya karena rasa kasihan yowes gak apa-apa, kita punya interpretasi yang berbeda. Cuma kalo dari pandangan gua, gua melihat ini sebagai simbiosis mutualisme. Kalau gua nerima dia, kita sama-sama untung. Gua bisa ngedapetin kasih sayang yang gua harapkan, dan dia bakal ngedapetin sosok laki-laki yang dia idamkan, meski gua gak tahu sih nilai plus apa yang dia lihat dari diri gua, hahaha.”

Anton tampak tersenyum ketika memerhatikan diriku, yang mencoba menjelaskan serinci mungkin perihal keputusanku.

“Yaudah cok, itu keputusan lu, lu lebih tahu yang terbaik buat diri lu. Sebagai sahabat gua cuma bisa ngedukung, dan gua akan ikut ngerasa seneng andai lu juga seneng dengan keputusan itu.”

“Iya Ton makasih banyak, elu emang sahabat terbaik gua hahaha. Kan enak ya Ton, gua bisa perbaiki kualitas diri, ngejar cita-cita, sekaligus naikin strata, berdua sama dia yang nerima gua apa adanya. Ini cuma bisa terjadi berkat bantuan lu, Ton.”

******


Terima kasih karena telah membaca cerita pendek ini. Kisah ini hanyalah fiksi belaka, apabila ditemukan kesamaan kronologi cerita dan karakter tokoh di dunia nyata, maka itu hanyalah sebuah kebetulan saja. Salam bucin, and keep fighting, comrades!

Tambahan:
Buat yang mau baca sambungan cerpen di atas, bisa klik tombol ini.
Diubah oleh sukijan.santoso
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahapatih17 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
29-11-2021 08:08
nice, lanjut.
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Post ini telah dihapus
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
29-11-2021 18:58
ane mejweng sambil numpang liwat bre, tadi liat kang cilok liwat sini.......
emoticon-Cool

emoticon-Traveller
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
29-11-2021 22:43
apalagi cintanya calon mertua memandang PNS apa enggaknya...*pengalaman..😂
profile-picture
jenggalasunyi memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
30-11-2021 03:20
U r absolutely right..cinta ga buta..tau mne kunci grand sm ninjo..apanja ama bmw....love is blind is bullshit
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Post ini telah dihapus
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
30-11-2021 13:51

CINTA ITU ENGGAK BUTA, CINTA JUSTRU MANDANG STRATA (BAGIAN 2)

Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
Penat tubuhku terasa begitu menyiksa, usai menghabiskan satu hari hanya untuk bekerja. Meski begitu, rasa lelah itu tetaplah kunikmati, sebab dari rasa lelah itulah kudapatkan pundi-pundi uang demi memenuhi kebutuhan harian.

Sore berganti malam, usai menyegarkan diri dengan mandi berguyur air yang dingin, kujatuhkan tubuh ini pada kasurku yang empuk. Bantalku yang bergambar setan merah tampak sudah menanti di sana, ada juga sebuah selimut bertuliskan “glory glory” yang senantiasa menghangatkan tubuhku kala suhu di malam hari mulai membeku. Ya, kasur, bantal, dan selimut, mereka adalah benda-benda kesayanganku, sebab hanya merekalah yang setia menungguku dengan sabar, menyambutku dengan suka cita, dan memelukku erat tatkala tubuh ini sudah terlalu lelah dengan rutinitas hariannya. Kasur, bantal, dan selimut, mereka tak pernah mengkhianatiku, mereka tak pernah berdusta, mereka berbeda dengan manusia yang justru kerap melakukan keduanya.

******


Senin, 22 November 2021

Hari ini adalah hari Senin, artinya dua mata kuliah favoritku akan berlangsung dalam beberapa jam ke depan. Tentu, hal itu membuatku semangat bukan main, aku tak sabar bertemu dengan kedua dosen yang akan mengajar nanti, dan aku tak sabar untuk mendapatkan ilmu baru di hari yang cerah ini.

Sama seperti manusia pada umumnya, rutinitas yang pasti kulakukan seusai bangun tidur ialah memeriksa ponsel pintarku. Barang kali ada pemberitahuan dari grup kelas, atau setidaknya ucapan selamat pagi dari kekasihku tercinta, Anandira. Kutekan tombol di bagian samping ponselku, lalu kubuka pola kuncinya yang sangat sederhana, kuperhatikan baik-baik layarnya, tak ada pemberitahuan apapun di dalamnya.

“Sianjir sepi banget ni hape,” keluhku, sembari bergegas bangun untuk kemudian mandi.

Tak ada pemberitahuan apapun di grup kelasku, pun Anandira yang tak mengirim pesan sama sekali. Tapi itu tak masalah, barang kali memang karena masih pagi, jadi orang-orang masih tertidur pulas sembari mengarungi mimpi.

Jam 10.30, kelas Pengantar Sosiologi pun dimulai. Kuliah yang kami laksanakan masihlah berbentuk kuliah daring, sebab Indonesiaku tercinta memang masih belum pulih sepenuhnya dari pandemi virus corona. Adapun materi yang dipresentasikan hari ini adalah perihal perubahan sosial. Sejujurnya ini bukan materi yang begitu aku suka, sebab tak banyak yang bisa dibahas di dalamnya. Pada akhirnya, aku malah sering melamun ketika kelas berlangsung. Untuk membunuh rasa bosan yang menyerang, kucoba untuk menyapa Anandira, yang sedari pagi tak sempat menyapaku selayaknya hari-hari kemarin.

“Pagi Dira, dah masuk lu?”

Satu menit, dua menit, lima belas menit, tak ada balasan sama sekali dari dirinya. Pesanku bahkan tak dibukanya sama sekali.

“Batre hapenya rusak kah? Tumben pesan gua gak dibaca samsek.”

Aku tak ambil pusing dengan hal tersebut, barang kali dia tak sempat mengisi baterai ponselnya semalam, siapa yang tahu kan? Kelas akhirnya usai setelah sesi tanya jawab dan sesi ceramah dari dosen pengampu. Kami saling mengucap salam, lalu berbalas rasa terima kasih atas partisipasi masing-masing yang begitu baik di hari ini. Karena penasaran, kucoba untuk menyapa Anandira sekali lagi, tapi kali ini lewat panggilan suara.

“Halo, selamat pagi, assalamualaikum, dengan siapa di mana ya?” sapa Anandira dengan pola kalimatnya yang khas. Sapaan aneh yang tampak seperti pemborosan kata itu benar-benar membuatku lega, ternyata Anandira masih “ada” di sana.

“Iya halo, selamat pagi, wa’alaikum sallam, dengan Anton di rumahnya, bagaimana kabarmu wahai ratuku Anandira?” kubalas sapaan anehnya dengan pola yang sama-sama aneh. Samar-samar kudengar ia tertawa di sana, mungkin menertawakan balasanku yang sama-sama aneh itu.

“Gua lagi sakit Ton, maaf ya tadi gak dibales, sehari semalem gak megang hape,” katanya, dengan nada yang serak, bukti kalau ia benar-benar sakit.

“Oh yaudeh, GWS ye, tar gua ke situ dah abis matkul bu Ningrum.”

“Eh gak usah, tar ngerepotin. Ni gua bentar lagi baekan kok, sakit biasa aja elah ngapain dijenguk segala.”

“Hadeh yaudeh dah terserah elu, mau lanjut tidur lagi ya gua, mumpung ada jeda setengah jam, hahaha.”

******


Selasa, 23 November 2021


Hari ini ada mata kuliah PPKN dan Pengantar Ilmu Politik, aku suka mata kuliah yang kedua sebab ilmu politik memang cukup asing di telingaku, aku suka hal-hal yang baru. Sebenarnya, semasa sekolah dulu, aku sangat anti dengan pembahasan mengenai politik, tahu kenapa? Karena politik di mataku hanyalah ajang mengadu dusta.

Para politisi, politikus, atau apapun namanya, di mataku mereka hanyalah manusia pengumbar janji-janji palsu, yang ketika terpilih nanti hanya akan mengkhianati rakyat. Aku sangat membenci pengkhianatan dan segala bentuk dusta, oleh sebab itulah aku menghindari pembahasan mengenai politik. Namun, Ibu Isma selaku dosen pada mata kuliah ini telah mengubah pandanganku, caranya dalam menyampaikan seluk-beluk ilmu politik telah memutar balikkan hati ini, dan kini aku malah sangat menyukai mata kuliah yang dibawakannya.

Mempelajari ilmu politik memiliki dua manfaat, selain mengajarkanku akan kenegaraan dan ketatanegaraan, ilmu politik juga memberikan gambaran-gambaran yang jelas mengenai sifat alamiah manusia, yang selalu dan selalu saja mementingkan kepentingannya sendiri.

Jam dua belas pas, mata kuliah Pengantar Ilmu Politik telah usai. Pada kesempatan kali ini, yang kami bahas adalah perihal ideologi. Ada ideologi konservatisme, fasisme, feminisme, demokrasi, pancasila, sosialisme, hingga komunisme yang agaknya cukup tabu untuk dibicarakan di negaraku. Terlepas dari pembahasan itu, aku baru saja menyadari satu hal, sudah dua hari Anandira tidak menyapaku lagi seperti biasanya. Ini agak terasa aneh, karena kemarin dirinya berkata bahwa ia hanyalah sakit biasa, hanya sakit yang ringan-ringan saja. Rasa penasaranku tak bisa kulawan, kupanggil lagi nomornya dengan paket internet yang semakin menipis.

“Iya Ton ada apa?” tanya Anandira, dengan nada yang begitu lemas.

“Lu kemarin bilangnya sakit biasa aja, kok suaranya lemes gitu?” Tanyaku, mencoba untuk menggali informasi lebih dalam.

“Gua kemarin ke luar bentar Ton, eh kehujanan hahaha. Jadinya agak demam dikit gua, tapi gapapa kok paling besok juga sembuh, ini lagi dikompres.”

“Gua ke situ aja ya? Sekalian gua beliin Soto Ayam Surabaya kesukaan lu.”

“Ah elah lu, orang sakit malah dikasih begituan. Udeh gapapa lu gak perlu ke sini, gua gak kenapa-napa kok, lagian musim ujan gini mending stay safe aja di rumah. Kalo lu ke sini bisa kehujanan terus malah lu ikutan demam entar.”

“Romantis donk bisa demam barengan.”

“Bukan romantis dodol, itu namanya bego, orang mau sehat barengan ini malah sakit barengan, parahhh!.”

Aku hanya bisa tersenyum sembari menahan tawa dalam percakapan itu, Anandira masih “ada” di sana, dan itu sudah cukup bagiku. Pada akhirnya, kumatikan panggilan suara tadi, aku ingin memberinya waktu untuk beristirahat sehingga ia bisa segera sembuh. Kesehatannya lebih penting ketimbang perbincangan yang membuatnya kehilangan waktu untuk beristirahat. Semoga lekas sembuh, Dira.

******


Rabu, 24 November 2021


Hari ini ada mata kuliah Bahasa Indonesia dan juga PQ&I (Praktikum Qiroah & Ibadah). Mata kuliah Bahasa Indonesia boleh disebut merupakan mata kuliah andalanku, aku tak terkalahkan di sini. Hal ini terjadi sebab kemampuan berbahasaku memang yang terbaik di antara teman-teman sekelasku, itu juga yang menjadi alasan kenapa aku tertarik dengan bidang jurnalistik akhir-akhir ini, sebab jurnalisme sendiri adalah sebuah pekerjaan yang banyak menggunakan keterampilan berbahasa.

Namun, harus kuulangi sekali lagi, ini adalah hari yang baru dengan Anandira yang tidak menyapaku. Aku tahu, ia sedang sakit, aku tahu ia butuh waktu untuk beristirahat. Namun, aku juga tak bisa kehilangan kontak dengannya hingga selama ini. Rumahku dengannya hanya berjarak sejam, akan kusambangi tempat tinggalnya itu dengan motor Nishizono warisan kakekku.

Pukul 12.30, aku sudah bersiap dengan motor Nishizono yang tampak kusam. Meski kusam, motor ini masih berfungsi dengan baik, bahkan sudah sering kugunakan untuk berpergian bersama Anandira ke beberapa tempat yang lumayan jauh. Satu jam berlalu, akhirnya sampailah aku di sana, di kediaman Anandira yang lumayan asri suasananya. Kulihat, ada sesorang pria dengan batik menyelimuti tubuhnya, ia duduk di motornya yang berwarna merah terang, bersama beberapa lansia yang tampak berpakaian rapi. Terlihat, ada juga sebuah mobil yang cukup mewah terparkir di depan rumahnya. Dengan iseng kutanya salah seorang lansia di depanku, perihal ada apa gerangan di tempat itu.

“Maaf bu izin bertanya, ini ada acara apa ya? Kok kayaknya rame banget.”

“Oh, ini dek, anak saya mau menikah sama orang sini.”

“Orang sini? Kalau boleh tahu siapa namanya ya bu?”

Ibu itu tampak mengernyitkan dahi, seolah tak tahu nama mempelai perempuan yang akan dinikahi oleh putranya. Ia lalu menoleh pada pria yang duduk di motor merah itu, yang dapat kutebak merupakan anaknya.

“Den itu cewekmu siapa namanya?”

“Cewekku? Anandira mah.”

******


Aku benci dengan pengkhianatan, dan aku benci dengan segala bentuk dusta. Tak ada satupun orang yang dapat kuampuni apabila telah berdusta padaku, terlebih bila dustanya sudah berhubungan dengan masa depan, hubungan, dan perasaan. Anandira, setelah segala hal yang telah kita lalui bersama, setelah berbagai kenangan indah yang kita ciptakan di waktu-waktu sebelumnya, telah menjadi satu di antara sekian banyak manusia yang telah berdusta padaku.

Aku sama sekali tak butuh penjelasan, kehadiran orang-orang berpakaian rapi, bermobil mewah, dengan seorang pria yang membawa motor besar berwarna merah terang di sana, telah menjadi bukti bahwa dirinya adalah salah satu makhluk yang tak akan dapat kuampuni sepanjang hidupku, sungguh.

******

Pukul lima sore, aku duduk termenung di pinggiran Situ Gintung. Tak ada niatan untuk bunuh diri, atau hal buruk apapun. Aku hanya ingin duduk sembari merenungi nasib yang baru saja kualami, sebuah nasib yang benar-benar tak bisa kubayangkan sebelumnya. Detik demi detik kulalui dengan pandangan yang kosong, aku benar-benar tak tahu harus bereaksi seperti apa. Meski begitu, pada akhirnya air mataku jatuh juga, aku tak setangguh itu ternyata, aku tak dapat bersikap sok kalem saat dihadapkan pada situasi sesulit itu.

Aku lalu menangis sejadi-jadinya, seperti seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan permen. Tangisku mangkin menggila, hingga diriku menjadi pusat perhatian di sana. Namun, orang-orang tak peduli, aku hanyalah orang asing yang numpang menangis di sini, aku bukanlah saudara ataupun anggota keluarga orang-orang ini, tak ada untungnya bila mereka mendatangiku, lalu bertanya kenapa aku bisa menangis seperti ini? Tak ada, dan tak akan ada. Namun, samar-samar dapat kudengar seseorang memanggil-manggil namaku, di kejauhan.

“Anton! Anton! Lu ngapain di situ?!”

Sekilas kupandang sosok manusia yang memanggil namaku itu, dia adalah Rida teman sejurusan di kampusku. Ia berlari dengan kencangnya, lalu berhenti tepat di samping kiriku.

“Lu kenapa Anton? Ngapain nangis di sini sih malu tahu.”

Ia lalu merangkulku, mengusap air mataku, meski tak ada penjelasan yang aku berikan padanya.

“Ke rumah gua dulu yuk, kita ngobrolnya di sana biar enak, sambil ngopi-ngopi.”

Aku hanya terdiam, tak membalas ajakannya ataupun menggerakan tubuhku, aku bak manusia yang sudah lumpuh total.

“Ayo dong Ton, lu kan udah sering bantuin gua ya, sekarang giliran gua bantuin lu. Cerita aja ke gua elah kita kan dah biasa curcol ini itu. Yuk bisa yuk berdiri dulu, gua tuntun nih.”

“Gak usah Rid, gua bisa jalan sendiri.”

“Yaudah ayo naik motor lu, gua kebetulan lagi lewat sini bisa-bisanya nemu lu lagi begini.”

******

“Jadi Anandira udah punya cowok lain Rid, dan ini gak main-main, cowoknya itu dateng ke rumah Dira bareng orang tuanya. Ortunya bawa mobil, si lakinya bawa moge keren banget, sampe minder gua kalo dibandingin sama motor gua yang udah kusem begini.”

Rida hanya tersenyum, ia tak banyak bicara di sana. Ia lalu menyuguhkan secangkir teh di meja di depan mataku.

“Gua gak suka teh, Rid.”

“Udeh minum aja Ton, ini rumah gua, lu harus nurut sama gua!”

Aku tak ambil pusing, kuterima teh itu, lalu kuminum secara perlahan.

“Ton, lu juga tahu kan kalau gua suka sama temen lu yang lain, dan sampai sekarang gua bahkan gak punya nomer dia. Gua bahkan ragu dia inget nama dan muka gua, sedih banget ya, berasa suka sama artis aja hahaha. Tapi Ton, apa yang gua rasain itu gak sebanding dengan yang elu rasain sekarang, sebagai sahabat lu yang gak punya apa-apa, gua gak bisa bantu lebih jauh, gua cuma bisa nyediain rumah ini buat lu nangis sejadi-jadinya. Lu nangis aja gak apa-apa, tetangga udah biasa ngedenger keluarga gua ribut soalnya hahaha.”

“Ton, yang namanya emosi negatif itu gak perlu ditahan, kalau ditahan malah bisa bikin lu sakit-sakitan. Makanya, lu gak perlu malu buat nangis kek bayi, kalo lu nangis depan gua, lu gabakal diledek kok, lu gak bakalan diketawain, karena gua paham perasaan lu sekarang.”

“Ton, gua emang gak bisa bantu banyak soal hubungan lu, tapi gua yakin setelah lu lampiasin kesedihan lu di sini, lu akan pulang ke rumah dengan berlapang dada. Iya gak langsung sepenuhnya berlapang dada sih, tapi minimal lu bisa bebas mengekspresikan diri di sini, lu bisa bebas nunjukkin seberapa sedih dan kesalnya diri lu.”

“Ayo kita berjuang bersama Ton, sebagai sesama manusia dari strata bawah, gak bakal gua biarin lu melalui ini semua sendirian. Ayo bangkit, nangis aja gapapa Ton.”

******


Kamis, 25 November 2021


Hari ini adalah hari libur, terasa nikmat sekali setelah kesedihan yang kualami kemarin hari. Rida, salah seorang sahabat terbaikku, telah memberikanku ruang untuk mengekspresikan kesedihan, dan aku berterima kasih sebanyak-banyaknya pada dirinya. Aku tak akan melupakan sosoknya, sosok sahabat yang selalu membantuku dalam berbagai situasi, sosok sahabat dengan nasib yang serupa, yang kerap kali membawakan kisah yang sama dengan cerita hidupku, Rida memang sahabat terbaikku.

Anandira, sekali lagi aku tak butuh penjelasan darinya, meski tercatat puluhan kali nomornya memanggil nomorku tadi malam. Nomornya yang dulu tampak indah tiap kali muncul di layar ponselku, kini sudah kublokir sekaligus kuhapus dari sana. Anandira sudah menjadi sebuah masa lalu, yang sayangnya harus pergi tanpa kuberi kesempatan untuk menjelaskan apapun sama sekali. Aku tak peduli. Kurasa, ia telah bahagia dengan sosok lelaki yang kini bersanding dengannya, yang boleh kutebak memiliki strata jauh di atasku.

Aku jadi teringat dengan materi stratifikasi sosial pada mata kuliah Pengantar Sosiologi beberapa minggu yang lalu. Seseorang yang memiliki kekayaan, jabatan, dan kekuasaan, memang memiliki hak-hak istimewa dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal percintaan. Ini bukanlah kisah yang baru, tapi boleh dikata yang paling menyakitkan. Jadi, aku rasa tak perlu kuambil langkah yang telalu jauh. Anandira sudah bahagia dengan yang ia miliki, kurasa. Adapun bila kupaksakan untuk merebut apa yang pernah menjadi milikku, pada akhirnya itu semua akan sia-sia. Tak ada kesempatan bagiku untuk mengalahkan seseorang seperti pria yang kemarin berjumpa denganku. Cinta itu memandang strata, setidaknya itulah kesimpulan yang kuambil setelah membaca sebuah riset beberapa waktu yang lalu.

Jadi, mari lupakan Anandira, fokus saja untuk menjalani hidup seperti biasanya.

******


Masih di hari Kamis yang cerah, kepalaku tetap tak bisa menghilangkan bayang-bayang Anandira yang sudah menghiasi hidupku dalam kurun waktu yang lama. Aku butuh pelampiasan agar wajahnya bisa kuhapus dari ingatanku, walau aku sendiri yakin tak mampu.

Aku mungkin kejam karena memutuskan komunikasi dengannya secara sepihak, tapi meski begitu, aku juga adalah orang yang sangat baik. Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Sebab, ketika aku berusaha untuk melampiaskan rasa kesal dan sedih, yang aku lakukan hanyalah dua hal. Pertama, menangis sejadi-jadinya. Kedua, bantu orang lain dengan masalah yang serupa. Aku tak pernah melampiaskan kekesalan dan kesedihan dengan hal-hal yang negatif, sungguh.

Hari semakin cerah dengan mentari yang semakin tinggi di atas kepala, samar-samar dapat kudengar kedatangan seseorang di luar sana. Orang tersebut aku yakin adalah sahabatku, Lana. Lana adalah seorang sahabat yang juga satu kelas denganku. Kami sama-sama mengambil jurusan sosiologi di perguruan tinggi. Selain itu, Lana juga merupakan sosok yang begitu disukai oleh Rida. Rida adalah seorang sahabat yang selalu membantuku dalam situasi apapun, dan kini akan kubalas kebaikannya itu, dengan menjadi mak comblang antara dirinya dengan Lana.

Kuharap, usahaku bisa membuahkan hasil.

Kuharap, Lana bisa terbuka hatinya, dan bisa menerima Rida nantinya, meski secara strata mereka berbeda.

Cukup diriku yang cintanya kandas karena strata, Rida sahabatku, ia tak boleh merasakannya. Kuharap, mereka berdua dapat saling mengasihi, tanpa melihat strata maupun kasta di dalam hubungan mereka nantinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahapatih17 dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
30-11-2021 15:23
Pertamax dulluuuu
profile-picture
sukijan.santoso memberi reputasi
1 0
1
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Post ini telah dihapus
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
02-12-2021 11:45

Ngak Selalu Mandang Strata , CInta Itu complicated

Banyak Kenalan ane yg cowok nikah ma cewek yg jauh lebih tajir.

emoticon-Wow emoticon-Wow emoticon-Wow
profile-picture
ariel2057 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
02-12-2021 21:06
Ijin gabung gan.. mg2 cerita sampai tamat. Btw.. ini cerita juragan sendiri ya ?
Usul dikasih prolog biar mantap gan.. emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Keep Posting Ganemoticon-Keep Posting Ganemoticon-Keep Posting Gan
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
03-12-2021 13:37
Ga lnjuutt??
0 0
0
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 11 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
09-12-2021 14:53
ijin berkomentar
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
10-12-2021 03:31
Hehe selain strata cinta juga mandang fisik.
Kebanyakn lawan jenis yg menceritakan pasangan sblmnya, dia ingin cari tmn curhat atau buang sampah keluh, kesah, kesal, amrah & cemburu.pd saat galau laki" lari ke laki" yg bs dibilang care, stlh fun jln sama cwe",
Inget ya yg namanya dekat/curcol bukan awal cinta:

Cwe x cwe : rumpi dan olok"n
Cwe x cwo : udah pasti buang sampah
Cwo x cwe : modus
Cwo x cwo : adu nasib

2014-2017 prrnah ngalamin bgtu jg 5 cwe sekaligus 1 kampus tp nihil cm maksud terselubung tdk ada rasa lebih. Cinta itu jg jd milih bibit, bebet dan bobot jg. Bisa bukan karena kekayaan dan fisik tapi dari perilaku dan tidakan.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
10-12-2021 07:31
Cinta itu mandang fisik
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
10-12-2021 10:46
Jir..... Gw pernah berada di posisi itu. Mksh sudah mengingatkanku agar kembali ke strata yang sesuai denganku
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
12-12-2021 14:55
lanjut gan , ane gelar tiker emoticon-Blue Guy Cendol (L)
0 0
0
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
13-12-2021 15:16
Benerr.
Sebelum dimulai dengan rasa nyaman, strata berperan sebagai tokoh utama dalam pengenalan juga proses menuju satu hubungan
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
treya--tahun-kehidupannya
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
mimpi-buruk-kido
Heart to Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia