Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
105
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5feb367428c9917333288ce7/book-i-aku-dan-pemikiranku-explicit
"wey Nat! Selamat atas ujian terakhir lo!" Ucap Rendi yang mendatangi gw dan menjabat tangan gw "Hey Rendi! Makasih banyak loh" gw kemudian menyambut tangan Rendi "Hai kak! Selamat ya" Ucap seseorang di samping gw Gw langsung berbalik dan melihatnya "Hai Olive! Terimakasih ya" gw tersenyum karena akhirnya gw bisa melihat wajahnya lagi "Ini buat kakak" olive menyerahkan bucket berisi makanan r
Lapor Hansip
29-12-2020 21:00

[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)

Past Hot Thread
"wey Nat! Selamat atas ujian terakhir lo!" Ucap Rendi yang mendatangi gw dan menjabat tangan gw

"Hey Rendi! Makasih banyak loh" gw kemudian menyambut tangan Rendi

"Hai kak! Selamat ya" Ucap seseorang di samping gw

Gw langsung berbalik dan melihatnya

"Hai Olive! Terimakasih ya" gw tersenyum karena akhirnya gw bisa melihat wajahnya lagi

"Ini buat kakak" olive menyerahkan bucket berisi makanan ringan

"Sampe repot repot segala, kamu dateng aja saya udah seneng kok" kata gw yang basa basi tapi yaudahlah

"Ehemm modus" ucap Heri dari belakang gw

"Susah emang kakak tampan satu ini" Feri menimpali omongan

"Mas mas penakluk adik tingkat satu ini pasti banyak nerima ucapan nih" Toni menambahkan juga

Gw kemudian berbalik badan ke arah mereka, "nggak gitu malih! Emang karena gw ngulang banyak matkul aja makanya dikenal haha puas lo, sial" Ucap gw dengan sedikit tertawa

"Kak, aku balik dulu ya. Ada kelas, sekali lagi, Selamat!" Katanya yg kemudian ingin menjabat tangan gw

Kemudian gw memposisikan tangan ✋, dan (Hi Five!). Gw lebih suka begini ketimbang harus jabat tangan, alasannya sederhana, biar akrab. Terlebih Olive adalah junior di organisasi gw

Dia adalah salah satu junior yang sangat bisa diandalkan saat gw aktif di organisasi, tapi beberapa bulan belakangan dia menjadi terlihat berbeda karena kasus perselingkuhan pacarnya yang juga satu organisasi, bukan gw ikut campur, tapi gw cuma bisa menasihati Olive yang setiap rapat koordinasi terlihat murung, alhasil perlahan dia mulai membangun semangatnya dan seperti yang bisa gw lihat sekarang, bukan senyum palsu

"Nat, abis ini kita makan steak yok! Kemarin gw liat promo" kata Rendi yang merangkul gw

"Gw paham maksud lo, gw traktir deh iya" ucap gw yang sedikit tersenyum karena momen ini memang perlu dirayakan

"Gitu dong, jangan cuma selir selir lo doang yang kecipratan" kata Feri

"Heh cawan petri! Itu bagian dari strategi njir" ucap gw

"Strategi biar apa ? Lu aja masih jomblo hahahahaa" Heri juga menimpali omongan gw

"Coy! Nggak gitu hahaha" kata gw yang masih cengengesan

"Gw ganti baju dulu ya, ini masa gw pake begini ke tempat makan" ucap gw sambil memperlihatkan baju dan celana gw

"Iya iya, ntar disangka pegawai magang ya ?" Kata Toni

"Berasa baru ospek kemarin njir gw pake ini" tambah gw dengan sedikit tertawa

Gw melihat sekeliling gw, dan sedikit memandang jauh dalam ingatan gw, "pertama kesini gw serasa baru lepas dari kandang, terus banyak tanya dan juga mendadak dikenal banyak senior karena keahlian gw di bidang olahraga terutama, cepet banget rasanya"



**






Perkenalkan nama gw Nata, begitu gw biasa dipanggil oleh teman-teman gw. Berasal dari Tenggara Ibukota, yupp! Jakarta Tenggara, pernah dengar ? Mungkin saat ini banyak yang menilai bahwa kami penduduk dari luar planet, begitulah. Setidaknya mereka harus melewati Kota gw ketika mau ke daerah Jawa Tengah dan sebaliknya untuk mereka yang ingin ke Ibukota.

Saat ini gw adalah mahasiswa baru di Universitas yang ada di kaki gunung tertinggi di Jawa Tengah. Gw bisa sampai disini karena sebuah perasaan putus asa karena gagal masuk Universitas yang ada di Depok sana, entahlah sepertinya gw bukan satu-satunya anak SMA yang kecewa saat dengar pengumuman seleksi nilai rapor, SNMPTN, atau SIMAK saat itu dan masih tetap saja tidak beruntung. Setelah semua penolakan yang gw terima untuk bisa kuliah disana, gw mutusin buat ambil jurusan kepelatihan olahraga di kampus Jakarta, ternyata gw masih tidak lolos karena beberapa nama memang langganan Porda atau Porprov. Apalah gw yang cuma atlet antar kelurahan dan kecamatan ini. Akhirnya gw lihat pengumuman tentang seleksi mandiri di Universitas gw yang sekarang, berbekal otak yang sedikit di atas rata-rata dan bermodal sertifikat, akhirnya gw tembus ke univ ini. eittss bukan sertifikat tanah ya, gw memberikan sertifikat prestasi dan satu sertifikat terkait jurusan gw ini.

Jurusan yang gw ambil adalah sains murni, gw masuk bukan karena ada materi "Reproduksi" tapi karena memang gw sangat tertarik di bidang kesehatan, terlebih gw cuma punya sedikit pilihan saat itu, karena gw yang minim menerima informasi tentang jenjang karir setelahnya, dan gw juga bukan dari lingkungan yang terbuka informasi tentang itu. Alasan nggak ngambil jurusan lain karena Kedokteran itu gw nggak mampu secara otak dan finansial juga, kalo Keperawatan mental gw nggak sanggup ketika bertemu pasien yang ngeluh mulu, kalo Farmasi nanti takutnya salah nyampur jadi racun tikus, Kesmas gw kurang informasi dan kalo analis kesehatan gw takut jarum dan informasinya gw kurang paham, jadi gw memantapkan keinginan gw di bidang sains. Yaa begitulah kiranya 😁


***


Ini adalah cerita gw dengan segala macam sudut pandang gw. Mungkin gw akan mengkategorikan ke explicit karena mungkin untuk beberapa orang, pemikiran atau bahasa gw agak tidak sesuai atau bahkan kejadian yang gw alami ini tidak biasa bagi sebagian orang. Bisa dibilang ini seperti buku diari gw


Page 1. Kata Pengantar
Page 2. Jadi Anak Kos
Page 3. Mie Goreng Tante
Page 4. Mbak Laundry
Page 5. Kampus Tercinta
Page 6. Teman Baru
Page 7. Kumpul Ospek
Page 8. Ospek Universitas
Page 9. Ospek Fakultas (1)
Page 10. Ospek Fakultas (2)

Page 11. Chit Chat
Page 12. Jendela
Page 13. Absurd
Page 14. Pertama
Page 15. Futsal
Page 16. Intro
Page 17. Bridge
Page 18. Kita
Page 19. Guest
Page 20. Makrab(1)
Page 21. Makrab (2)
Page 22. End of Bab II

Page 23. My Day
Page 24. Introduction
Page 25. Sisi Lain
Page 26. Followers
Page 27. Random
Page 28. Hari Bersamanya
Page 29. Mendadak Dukun
Page 30. misuh-misuh
Page 31. Tanpa Pilihan
Page 32. Sendiri Setelah Sepasang
Page 33. Pekan Patah Hati (Part I)

Bridge...

Page 34. Babak Baru
Page 35. Diskusi
Page 36. Obrolan Ringan
Page 37. Cerita Awal Bulan
Page 38. Prolog
Page 39. Obrolan Lelaki
Page 40. Getting Closer
Page 41. Hipotesis
Page 42. Fall For You
Page 43. Magang
Page 44. Keberangkatan
Page 45. Transit
Page 46. Pemikiran Liar


Another thread
Diubah oleh hi.nats
profile-picture
profile-picture
profile-picture
durexz dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
18.3K Anggota • 28.1K Threads
Halaman 5 dari 5
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
11-11-2021 19:54
Lanjut gan..
profile-picture
hi.nats memberi reputasi
1 0
1
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
13-11-2021 20:30

41. Hipotesis

"aku baru dapet materi tadi ngeribetin deh, kamu udah baca dari referensi lain belum kalo materi genetik ?" Kata Regina

"Belum, kamu bingung yang bagian mana ?" Gw sedang buka laptop karena memang lagi ngerjain tugas

Gw dan Regina saat ini lagi di kamar kosan gw, katanya Regina mau numpang internet jadi nggak masalah kalo di kosan gw dulu karena disini juga internet lumayan kenceng.

"Hm tentang DNA terus dogma sentral" kata Regina

Lalu gw mulai mencari di internet dan mendiskusikan itu dengan Regina, membuat coretan di kertas lalu membuatnya menjadi catatan rapih, tentu saja yang melakukan itu Regina, gw cuma membantu untuk memahami dan menjelaskan dengan bahasa sederhana. Diskusi yang cukup lama kemudian Regina mulai memahami catatan itu, gw di depan laptop masih sibuk dengan tugas gw.

"Nat, aku mau tanya deh. Tapi nggak apa-apa kalo nggak kamu mau jawab" katanya

"Boleh, mau tanya apa ?"

"Kamu kan waktu itu ngejelasin tentang bagaimana mekanisme manusia bisa ngeliat hal ghaib, ya walaupun aku tau itu teorinya mungkin cuma hipotesis aja. Tapi, bagaimana kalau seseorang itu bisa karena diturunkan oleh orang tuanya ?" Regina terlihat serius dengan pertanyaan ini

"Sebentar, aku selesaiin tugas ini dulu ya" kata gw yang kemudian mulai sibuk dengan keyboard, gw nggak bisa membahas hal semacam itu sementara pikiran gw terdistraksi

Setelah 15 menit, "oke selesai nih. Emang kenapa kamu nanya begitu ?"

"Aku pernah denger yang begitu dan beberapa orang yang aku kenal juga begitu, tapi itu agak unik kalau diturunkan, sementara kita belajar sains dan ini ilmu pasti juga kan jadi bukannya terlihat aneh ya ?"

Gw menghela nafas, terdengar berat namun gw harus mulai menjelaskan ini dari hal yang sangat masuk akal karena sains melihat benda yang terlihat atau tampak secara fisik.

"Manusia memiliki karakter dominan dan resesif, lalu itu semua bercampur ketika terjadi perkimpoian. Lalu dari dasar itu kita mulai teorinya, gimana ?" Kata gw memastikan dia paham dasarnya

"Hmm, iya aku paham" kata Regina

"Kita masuk ke teori dimana yang diturunkan adalah yang terlihat dan tidak terlihat . . ."

Regina memotong, "sebentar, yang tidak terlihat itu apa ?"

"Contohnya anak yang memiliki orang tua dengan penyakit diabetes mempunyai resiko diabetes lebih tinggi. Nah untuk yang terlihat, itu seperti fisik dari anak seperti apa"

"Iya iya, aku ngerti. Terus terus . . ." Kata Regina

"Nah DNA berisi informasi genetik yang jumlahnya sangat banyak, jadi kemungkinan yang terjadi ketika ekspresi gen ketika membentuk tubuh manusia juga bergantung dari informasi tersebut. Tidak ada penelitian yang bisa membuktikan bahwa si A adalah indigo sementara si B mempunyai keturunan. Hal tersebut bertentangan dengan etik penelitian. Bukannya begitu ?"

"Iya sih, karena yang dipakai sebagai objeknya itu manusia. Tapi bukannya bisa dari perilaku atau psikologinya ?"

"Bener banget, itu bisa dilakukan tetapi dengan tingkat akurasi dibawah 80%. Karena kemampuan setiap orang berbeda, mungkin si A bisa ngeliat hal ghaib, terkait dengan vision atau penglihatan, ada lagi yang bisa mendapat gambaran masa lalu dengan menyentuh, mencium atau mendengarkan getaran sekitarnya, bukankah jadinya pertanyaan untuk setiap perbedaan itu juga berbeda ? Belum lagi ada tahapan validasi untuk tau dia berhalusinasi atau benar bisa seperti itu, tahapannya panjang untuk sebuah screening menurutku tapi nggak ada salahnya jika memang mau dicoba"

"Sebentar, aku nggak dapet poinnya kalo yang keturunan deh Nat"

"Nah balik lagi ke pertanyaan kamu, informasi genetik juga dapat berupa hal yang tidak terlihat seperti kemampuan seseorang karena banyaknya informasi yang kita punya saat lahir. Ok, semisal ketika umur 7 tahun anak tersebut tampak normal tapi setelahnya dia dapat melihat ghaib. Kok bisa ? Jawabannya adalah pemicu terjadinya aktivasi dari memori yang ada pada untai DNA diputar kembali, dan kemampuan tersebut jadi aktif seolah kita bisa sebut itu sebagai 'indigo baru' kalau kata anak sekarang"

"Lalu bagaimana jika orang tuanya bisa tetapi anaknya tidak bisa ?"

"Pada konsepnya, pada anak tersebut terdapat inhibitor yang mempengaruhi perkembangan dari bagian yang seharusnya menjadi bagian penting dalam hal tersebut. Begitu sih, bingung nggak ?" Gw memastikan Regina paham

"Nggak sih, semua secara teori benar tapi mungkin karena nggak keliatan jadi digambarkan seperti berkhayal aja begitu"

"Iya, itu yang namanya sains. Aku punya kutipan menarik soal itu, 'sains digunakan bukan untuk menandingi ciptaan Tuhan tapi sebagai pembuktian kebesaran Tuhan' kurang lebih begitu"

"Kami tuh ya, heran aku" kata Regina

"Hah ? Kenapa ?" Gw jelas bingung dengan pernyataan ini

"Nggak bisa gitu kalo ketemu nggak bikin kagum, pasti kamu cewenya banyak ya ? Hayo ngaku! Hahah" kata Regina tertawa

"Hahaha mau bilang cuma kamu doang kayanya kamu nggak bakal percaya hahaha terserah" kata gw

tok . . . tok . . . tok . . . kemudian pintu gw langsung dibuka

"Eh Nat, maap maap" kata Lodi yang perlahan menutup pintu

"Santai, kenapa ?"

"Nggak jadi Nat, mau pinjem motor tadinya"

"Sebentar atau lama ?" Tanya gw

"Lumayan sih" kata Lodi membuka pintu lagi

Gw ngambil kunci motor, "tapi nanti lo jemput gw di kosan dia ya" gw menunjuk Regina

"Iya iya, maaf ya mbak" kata Lodi ke Regina

"Nggak apa-apa kok mas"

Kemudian Lodi menutup pintu dan pergi

"Nat, itu yang sama kamu waktu kita pertama ketemu kan ya ?" Tanya Regina

"Iya bener. Kenapa ?"

"Nggak apa-apa, cuma kaya pernah ketemu. Terus nanti aku pulang gimana ?"

"Emang mau langsung pulang ?" Kata gw menggoda Regina

"Nggak sih"

"Gampang, nanti bisa jalan kaki. Biar romantis" gw meledeknya

"Wuuu, dasar kamu"

Regina terlihat senyum, gw suka melihat itu karena gigi kelincinya membuat gw benar-benar jatuh hati.

"Besok tuh beneran jadi double date sama Wulan - Heri ?" Tanya Regina

"Jadi, ntar malem paling dia kesini curhat hahaha"


bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
hakkekkyu dan buahsabar memberi reputasi
2 0
2
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
15-11-2021 08:54
Lanjutannya gan
0 0
0
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
24-11-2021 12:11

42. Fall For You

"Nat, tidak ngopi ?" Sapa Om Domi yang baru keluar dari dapur belakang puskesmas kecil tempat kami menginap, gw baru aja bangun dan keluar dari bangunan utama di arah belakang.

Gw lagi ada di daerah terpencil di Pulau Flores, beginilah pekerjaan gw. Untuk orang yang terbiasa untuk hidup nyaman di Kota besar seperti Jakarta mungkin butuh waktu untuk beradaptasi karena lokasi ini belum masuk listrik dan juga sinyal telepon tidak ada, pekerjaan dimulai dari jam 9 pagi sampai tengah malam dan memaksa gw dan team untuk mudah bersosialisasi dengan masyarakat, mungkin kalau zaman kuliah ini seperti KKN, cuma bedanya saat kuliah dulu gw kedapatan tempat KKN yang masih ada listrik dan sinyal walaupun agak sulit.

"Nggak, Lanjut om" kata gw ke Om Domi

Om Domi ini adalah pegawai Dinas Kabupaten yang ikut bersama team kami selama di lokasi ini, beliau cukup cekatan jadi dipilih untuk mendampingi kami selama kegiatan.

Gw kemudian mengambil botol air mineral dan menuju ke pantai yang ada di belakang bangunan ini. Gw menyusuri pantai pasir putih ini sendiri, rasanya banyak hal yang melintas di kepala gw termasuk masalah perasaan. Kata Rendi "bohong kalau lo nggak punya gebetan walaupun jomblo Nat" tapi faktanya waktu kuliah gw lebih milih untuk menyibukkan diri sendiri, hubungan itu membosankan dan benar-benar menambah beban pikiran tapi saat semua itu hilang, terkadang bukan sosoknya yang hilang tapi kebiasaannya.

Pantai selalu menjadi tempat gw meluapkan apa yang selama ini tersimpan dalam benak gw, semua pemikiran tentang hal buruk yang pernah terjadi, lalu tempat melupakan segala kenangan yang kurang baik untuk tetap diingat, tetapi yang paling menyebalkan adalah ketika pantai bertemu dengan perasaan bahagia seperti jatuh cinta, rasanya gw perlu tempat lain untuk melupakan hal itu.

Masa-masa bersama Regina benar-benar membuat gw jadi pribadi yang baru setelah bersama Tasya, ada beberapa kemungkinan yang ada ketika itu. Gw yang mempunyai jalan yang seperti itu lalu Regina datang atau memang Regina yang hadir untuk merubah gw saat itu, tidak perlu dipikirkan sebenarnya tapi gw akui bahwa dia sedikit banyak melakukan perubahan untuk diri gw.

Begitulah pemikiran gw saat menyusuri pantai, semua pemikiran baik lampau maupun yang akan datang semua meluap begitu saja tidak dapat gw bendung dan simpan sendiri.


<<<<<<


"Kamu yakin nggak kemarin pas ngerjain soal soal UAS ?" Tanya gw ke Regina

"Yakin sih, aku belajar loh itu. Kalo kamu gimana ?"

"Bisa yakin sih hehe nggak tau, aku cuma berharap kalau semua nilai baik-baik saja hehe"

"Wuu, sok yakin. Belajar nggak ?"

"Belajar, yakin aja dulu hehe" kata gw

"Oh iya, kamu jadi berangkat kapan Nat ?" Tanya Regina

"Tujuh sampai delapan hari lagi Re, aku nggak kebayang sih di sana akan gimana" gw mengatakan itu sambil makan bakso yang masih agak panas

Kemudian keadaan hening tercipta, kami sedang berada di kereta menuju ibukota. Suasana malam di kereta dengan tempat duduk bersebelahan ini membuat Regina semakin erat memeluk tangan gw.

Gw melihat ke wajahnya yang sedang melihat ke arah jendela luar, lalu dia tersenyum karena dia juga dapat melihat gw dari kaca jendela. Gw mengelus rambutnya, dan Regina tampak nyaman dengan itu.

"Kita ini sebenernya apa sih Nat ?" Katanya pelan

Gw membelai rambutnya dan sedikit mengecupnya, "tergantung kalo aku sih"

"Kok gitu ?" Katanya cemberut

"Emang kamu mau jadi pacar aku ?" Gw mencoba memancing dengan pertanyaan

"Heh, nggak gitu cara nembak cewe yaa ***** ****Nata" katanya kesal

Gw memgeluarkan ponsel dan mulai mengetik sesuatu untuknya

Aku bukan orang yang pandai mengungkapkan kata demi kata, apalagi bicara Cinta, bahkan saat ini aku sedang tidak sadar antara mimpi atau nyata, kalau memang ini nyata harusnya kamu bilang iya.

Tulisan gw itu kemudian gw tunjukan ke Regina, dia tampak tertawa kecil lalu menatap mata gw, tangannya langsung menampar pelan pipi gw.

"Nggak mimpi kan ?" Katanya

Gw menggelengkan kepala

"Iyaa, aku mau kok. Nata sayang" katanya dengan manja

Pelukannya semakin erat, perjalanan pulang kali ini terasa berbeda karena ada Regina di samping gw. Dia mengeluarkan earphone dan mulai memainkan lagu Secondhand Serenade dengan judul Fall for You

because tonight . . .
will be the night . . .
that i will fall for you . . .
Over again . . .
Don't make me change my mind . . .
Or I won't live to see another day . . .
I swear its true . . .
Because a girl like you is impossible to find . . .
You're impossible to find . . .



tangannya menggenggam tangan gw dan kepalanya bersandar di pundak gw. Beginilah rasanya sedang jatuh cinta, campur aduk karena senang dan saat ini kami berpacaran.

"Cewe itu butuh kepastian, apalagi soal cowo" kata Regina

Gw mencubit pipinya, "iya maaf, aku yang nggak tau harus bilang apa soalnya"

Perjalanan dari tempat gw merantau ke ibukota sekitar 6 jam perjalanan, itu adalah waktu yang lama untuk kami berdekatan seperti ini. Rasanya memang dunia seperti milik berdua dan yang lain menumpang saja. Begitulah jatuh cinta, tapi kalau dipikir selama ini juga kami sering berdua tapi setelah pernyataan itu tampak ada hal lain yang juga membuat gw bahagia, bahkan rasanya berbeda dari sebelumnya saat gw bersama dengan Tasya.

"Aku ngantuk yang" kata Regina

Gw menarik hidungnya, "udah bisa manggil sayang ya sekarang"

"Kamu nggak ngantuk ?"

"Yaudah, kamu tidur aja" kata gw mengelus rambutnya

Tidak lama kemudian Regina memejamkan mata, kepalanya masih menyandar di pundak gw, kepala gw berada di dekat rambutnya jadi aromanya sangat dekat dan bisa gw hirup, tangannya tetap menggenggam tangan gw.

Gw mengucap pelan, "Alhamdulillah, beruntung banget gw hari ini"

Gw melihat wajah Regina tampak tersenyum kecil.

bersambung . . .
profile-picture
buahsabar memberi reputasi
1 0
1
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
28-11-2021 16:50
unconditional door... hahaha
profile-picture
hi.nats memberi reputasi
1 0
1
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
04-12-2021 21:06

43. Magang

text to Regina


Hari ini gw berangkat menuju instansi tempat gw magang, mengendarai motor matic dengan style pakaian jaket, sepatu, tas dan sarung tangan. Mungkin gw terlalu lama berada di kota dengan lalu lintas yang tidak terlalu ramai, jadi gw sedikit kaget ketika terkena macet. Sepertinya gw salah memperkirakan jam berangkat gw ini karena macetnya seperti tidak bergerak.

Sesampainya di tkp, yang sudah pasti gw telat karena kemacetan tadi. Gw langsung menuju ke bagian resepsionis.

"Permisi, saya mau bertemu dengan dr. Jessica" ucap gw ke resepsionis yang tampak sibuk

"Baik, tunggu sebentar. Silahkan duduk terlebih dahulu"

Nggak berapa lama setelah duduk, dr.Jessica langsung menghampiri gw.

"Nata ya ?" Sapanya saat melihat gw, dan menyodorkan tangannya

"Iya dok" gw menjabat tangannya

"Good! Salam kenal panggil aja Jess, yuk masuk dulu"

"Iya kak"

Gw mengikutinya masuk ke dalam ruangan, dalam ruangan ini terdapat ruang lab dengan dinding kaca yang tertulis "Lab. BSL II", ruangan kecil bertuliskan "PCR Room", dan sebelahnya ada tulisan "Lecture".

Gw dibawa masuk ke Lecture Room, terdengar seperti ruang kelas tapi sebenarnya ini ruang staff lab dengan desain ruangan satu orang satu komputer lalu tanpa sekat. Dindingnya dipenuhi buku-buku terkait medical science. Kak Jess memperkenalkan gw dengan staf yang sedang sibuk dengan layarnya masing-masing.

"Halo-halo guys, this is our new field-mate" kak Jess terlihat bersemangat memperkenalkan gw

"Oh hi! Aku Michelle. Salam kenal"

"Halo bro! Gw Evan. Salam kenal"

"Halo kak, saya Nata. Mahasiswa semester 1 dari kampus ******. Salam kenal"

"Loh, baru mulai kuliah tahun lalu toh" kata Evan

"Iya, kebetulan aku lihat kualifikasi dia ternyata pernah punya sertifikat skill lab yang tahun lalu pas kita ngadain itu loh" ucap kak Jess

Gw terdiam dan mengingat sesuatu "Gw memang sempat mengikuti pelatihan itu sebelum masuk kuliah, ternyata mereka ini yang mengadakan, pantesan gw bisa diterima kalau begitu ya"

"Kita berangkat selasa depan, kamu udah dikasih tau kan Nat ?" Tanya Michelle

"Sudah kak, waktu email awal penerimaan sudah diberitahu"

"Jangan manggil kak, Michelle aja. Ntar gw kelihatan tua"

"Gw juga deh, Evan aja panggilnya"

"Hemm mulai deh ini orang tua, menolak umur kalo ada yang lebih mudaan" ledek kak Jess, dan kami semua tertawa

"Okey, sekarang Nata siap siap ambil bolpoin sama bukunya. Evan tolong bantu Nata belajar preparasi sampel, terus Michelle mulai list alur kerja dan timeline di field ya"

"Beres kak, siap Nat ?" Tanya Evan

"Siap kak"

"Oh iya kak Jess, ikut dari awal atau enggak nih besok ?"

"Masukin jobdes aku dari awal aja Chell, bareng kok"

Gw mempersiapkan apa yang disuruh, kemudian mengikuti Evan ke ruang lab yang tidak butuh kondisi yang steril karena masih preparasi.

Evan menjelaskan pekerjaan Lab yang biasa dilakukan di lab ini dari mulai jenis sampel yang akan diproses, metode diagnosis yang digunakan, sampai hasil yang diperoleh dari perlakuan tersebut. Gw mengikuti arahan dari Evan dan juga mencatat hal-hal penting yang dapat gw lihat ketika ada yang terlupa nanti saat pengerjaan sampel. Training ini gw dapat sampai jam istirahat makan siang.

Gw mengambil ponsel untuk melihat balasan dari Regina

text from Regina


text to Regina


text from Regina


text to Regina


text from Regina


"Nat, ikut makan siang nggak ? Di kantin gedung Imun" kak Jess menegur gw yang lagi asik main hp

"Enggak deh kak kayanya" gw nggak beralasan dan lagi gw tau kantin disini pasti mahal

"Oh iya aku lupa kasih ke Nata, sebentar ya" Michelle langsung berdiri dari kursinya

"Nih uang transport kamu per hari ditambah uang makan, ini khusus di Jakarta aja ya soalnya perhitungan di field nanti beda pastinya" kata Michelle memberi selembar uang bertuliskan teks proklamasi

"Okay kak, terimakasih. Kalo begini saya ikut kak Jess hehe" gw tersenyum karena jujur saja kalau gw mesti menghemat uang jajan perbulan ditambah saat ini gw tinggal di rumah, otomatis uang bulanan gw berkurang setengahnya

"Dasar kamu, hari ini aku yang traktir kok Nat. Hitung-hitung perkenalan" kak Jess terlihat tersenyum ke gw

"Saya nggak diajak kak Jess ?" Evan meledeknya

"Saya gimana ?" Michelle pun ikutan

"Boleh boleh, karena hari ini aku lagi seneng jadi boleh lah"

Kami berempat langsung menuju ke kantin gedung lain, alasannya karena disana kak Jess suka memesan tongseng. Selama perjalanan ini gw seperti dikenalkan dengan gedung dan fasilitas disini. Gw cukup takjub melihat fasilitas yang ada disini karena sudah cukup modern menurut gw, dibanding lab di kampus gw tetapi wajar saja karena fasilitas pendidikan tidak mungkin sebagus lab riset komersil seperti ini, dari anggaran saja sudah terlihat sangat jauh.

"Okey, kalian pesan apa silahkan pilih nanti kuponnya kasih ke aku biar aku yang bayar" kak Jess langsung ke arah booth tongseng yang dia suka

Gw melihat harga yang terpampang di daftar menu tiap booth, gw melihat harga nasi goreng yang dua kali lipat lebih mahal dari lingkungan gw kuliah.

"Anjir ini kalo gw bayar sendiri tiap hari lumayan juga, cukup sih uang transport dan makan gw tapi gimana ya" ucap gw dalam hati

Akhirnya gw memesan nasi goreng gila, entah apa isinya gw nggak paham lah tapi kalau dari fotonya itu porsi kuli banget, lalu untuk minumnya gw cuma memesan es teh manis.

"Udah, nih Nat. Ini aja ?" Tanya kak Jess

Sementara Evan dan Michelle memesan jus dan air mineral untuk minumannya

"Nanti aku ambil air mineral juga deh kak"

Lalu kak Jess berjalan ke kasir untuk melakukan pembayaran sementara di meja kami sudah ada nomer mejanya. Jadi tinggal menunggu pesanan datang saja

"Nat, kamu kok keliatan bingung sih ?" Tanya Michelle

"Eh, nggak kok nggak apa-apa. Cuma harganya mahal aja untuk satu porsi menurut ku kak" gw melihat ke arah papan yang bertuliskan daftar menu dan harganya

"Oh, itu harga normal sih kalau disini. Emang kamu di tempat kuliah gimana ?"

"Setengah dari harga itu kak, wajar sih lingkungan kampus tapi dengan harga segini nih yang tadi aku pesen. Bisa dapet dua kali makan sih kak"

"Wajar lah Chell, disana kan emang murah murah soal makanan. Emang Jakarta aja nih harganya mahal, kalo makan di warteg juga nggak segini sih" Evan menyambung obrolan

"Iya sih, tapi mungkin karena gw nggak pernah ke luar Jakarta selain liburan kali ya jadi nggak paham" Michelle tampak menerawang sesuatu

"Emang biasanya kemana kak ?" Tanya gw

"Palingan anak kaya dia nih ke Bali. Oh iya, dia nih lulusan LN Nat makanya agak kaget pas balik ke Indo, wajarin aja" sambung Evan

Dalam hati gw, "oke paham, kita beda kelas ya"

Gw cuma mengeluarkan gesture mengiyakan omongan Evan.

Setelah kak Jess balik ke meja, obrolan kita semakin banyak terutama tentang perkuliahan dan lingkungan kampus gw disana. Kak Jess ini dokter muda yang lagi mengurus studi lanjutan PhD di Eropa, sementara Evan lulusan dari kampus kuning yang ada di depok, Michelle mengambil jurusan kedokteran di salah universitas yang ada di Asia juga tetapi karena masih belum mengambil adaptasi dan koas di Indonesia makanya dia tidak memiliki gelar dokter.

Singkatnya, kegiatan gw selama hari kerja ini adalah persiapan untuk setiap pengerjaan sampel yang akan gw kerjain di lapangan, melakukan simulasi dan alur kerja di lapangan lalu menyusun jadwal masing-masing untuk setiap pengerjaan sampel selama di lapangan, karena terhitung magang jadi gw masih didampingi oleh Evan selama di Lapangan. Banyak hal baru yang gw pelajari disini termasuk tentang konsep sterilisasi baik itu alat maupun lingkungannya. Lalu pada hari Jum'at, kami memastikan logistik semua sudah dibawa dan membuat daftar barang bawaan kami, jadi hari senin nanti tinggal melengkapi kekurangan dan crosscheck.

*****


"Aku pikir kamu nggak jadi dateng loh" Regina membuka pintu pagarnya dan tampak seperti tidak menyangka gw datang

"Iya maaf, tadi pas bilang mau on the way tuh aku langsung taruh hape di tas" gw menunjuk tas gw

Gw paling nggak bisa kalau berkendara sambil terima telepon atau balas pesan, biasanya gw berhenti sebentar untuk sekedar menelpon atau balas pesan

"Untung nggak nyasar kamu tuh"

"Enggak kok, ini buktinya udah sampai disini"

Gw bisa tau alamat ini karena sepupu gw tinggal disekitar sini jadi gw sebenernya udah tanya lokasi duluan sama dia, dan gw cukup mengenal daerah sini

"Mau masuk dulu ? Ketemu papah sama mamah"

"Oh iya boleh, abis ini ke depan stadion yuk aku liat ada pecel lele tadi"

"Yaudah yuk, bilang dulu ke dalam"

Gw memarkirkan motor masuk ke halaman rumah Regina, lalu masuk mengikutinya

"Assalamualaikum om.. tante.." gw langsung mencium tangan mereka

"Eh nak Nata, sini duduk silahkan. Jauh dari rumah ?" Mamahnya Regina menyapa dengan sangat ramah

"Silahkan duduk dek" tambah papahnya

"Terimakasih om.. tante.. tadi lumayan sih tiga puluh menit ada kayanya"

"Iya mah, rumah dia tuh di planet tuh jauh gitu" Regina meledek gw tapi nggak bisa gw bales juga

"Oh iya, gimana kuliahnya Nak Nata ?" Tanya papahnya Regina

"Alhamdulillah lancar lancar om" jujur saja perasaan gw saat ini deg-degan karena papahnya sangat tegas, sementara ibunya baik banget

"Om denger kamu lagi ikut magang ya Nata ?"

"Iya om, kebetulan pas dapet info begitu saya langsung apply dan Alhamdulillah dapet om"

"Lain kali ajakin Rere juga dong Nata, daripada di rumah begini dia nggak ngapa-ngapain terus main begitu" kata mamahnya

Saat ini gw baru tau kalau panggilan rumahnya itu Rere

"Yeh si mamah, bukannya baik baikin aku ih" Regina merajuk

Obrolan berlanjut seputar kegiatan gw selama kuliah dan juga saat magang, tanpa terasa sudah setengah jam lebih ngobrol seperti ini

"Oh iya, katanya kalian mau ke stadion ya ? Tadi mamah denger begitu"

"Iya tante.. om.. saya izin mau ajak Rere ke stadion sebentar"

"Oh yasudah silahkan, nanti tas, jaket taruh disini aja. Deket juga kan dari sini" jawab papahnya Regina

Gw kemudian pamit dan menaruh tas dan jaket di ruang ramu, lalu beranjak ke luar.

***


"Ini motor kamu ay ?" Tanya Regina sesampainya di tempat pecel lele dan sudah memesan

"Iya, kenapa ?"

"Kenapa nggak bawa yang ini aja deh ke kampus sana ?"

"Nggak lah, ribet. Lagi juga ini jarang aku pakai"

"Kenapa lebih pilih pakai matic untuk di kampus ?"

Gw baru menyadari sesuatu, ternyata ekspresi Regina waktu awal ketemu di depan pagar rumahnya adalah karena dia nggak menyangka kalau gw datang bawa motorsport ini, oke gw paham sekarang.

"Hm apa ya, ini hadiah saat aku dapat universitas negeri. Terus waktu itu Ayah juga bilang kalau nggak penting gaya gayaan mau gimana itu disana, jadi aku minta dikirimin motor matic. Lagi juga bisa hemat kalau pakai motor yang disana kan"

"Iya sih ay, bensinnya boros hahaha nggak enak kalo pacaran"

"Kok begitu ?"

"Baru meluk bentar eh udah sampai lokasi hahaha"

"Dasar!" Gw menarik hidungnya

"Oh iya, lokasi besok kamu pergi udah tau gimana ?"

"Udah sih, tapi yaa gitu deh"

"Kenapa ?"

"Susah sinyal"


bersambung . . .
0 0
0
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
06-12-2021 18:05
Gelar tiker dulu gan…
profile-picture
hi.nats memberi reputasi
1 0
1
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
07-12-2021 11:14

44. Keberangkatan

"Dek, bangun!"

Terdengar suara itu oleh gw dan ada sentuhan di kaki gw, lalu membuka mata dan terlihat Ibu yang membangunkan

"Hemm iya bu"

"Cepat sana ambil wudhu sholat subuh, baru makan terus mandi"

"Iya bu, aku bangun. 5 menit dulu bu"

Gw langsung duduk di atas kasur dan bersandar, soalnya kalau nggak begini bisa kebablasan lebih dari 5 menit

"Dek, ini bukan sekolah loh yah kalau telat bisa bolos"

"Iyaa Ibuu..."

Dengan mata masih setengah sadar gw bangun untuk melakukan persiapan. Jarak dari rumah menuju bandara sekitar 2 jam, hari ini gw naik DAMRI karena bisa menghemat ongkos walaupun gw dapat uang transport lebih dari itu tetapi sayang rasanya kalau gw harus mengeluarkan sebanyak itu, ini pun gw tau dari ayah dari obrolan semalam saat packing barang bawaan.

"Dek, kamu sampai disana kira-kira jam berapa ?"

"Sekitar jam 3 atau 4 sore kayanya bu. Kenapa ?"

"Nih ibu bawain roti ya, takut kamu lapar. Oh iya, ayah katanya udah transfer untuk jajan kamu atau buat pegangan kamu disana"

"Terimakasih ya bu. Kata orang lab juga aku nanti makan dan penginapan ditanggung sih bu"

"Iya nggak apa-apa, kali aja kamu mau beli oleh-oleh kan"

Gw mengambil barang bawaan dan bersiap untuk berangkat

"Udah ? Nggak ada yang ketinggalan kan ?" Tanya ibu

"Enggak bu, insyaAllah"

"Yaudah sana ditunggu mas di luar udah siap"

"Iya bu, aku berangkat", gw mencium tangan ibu, "nanti bilang terimakasih ke ayah.. Assalamualaikum"

Pagi itu gw diantar sampai ke terminal DAMRI, gw baru tau ternyata begini rasanya naik bus tujuan bandara dengan tarif yang murah tetapi interior dalamnya bagus. Gw bilang murah karena harganya 10 kali lipat lebih murah dari ongkos yang gw dapat untuk ke bandara.

***


Sesampainya di bandara, gw melihat Evan sudah bersama dengan kak Jess membawa barang logistik yang kemarin sudah dipersiapkan di lab, sementara kami masih harus menunggu Michelle dan beberapa pimpinan.

"Macet Nat ?" Evan melihat gw yang tampak kaku

Gw merasa canggung sebenarnya dan menerka bagaimana nanti disana, seperti apa disana

"Enggak sih kak, lancar"

"Kamu udah pernah naik pesawat sebelumnya ?" Tanya kak Jess

"Belum kak, ini pertama. Loh bukannya ibu kamu orang Timur ?"

"Hehe belum pernah mudik kak, semua saudara di Jakarta. Paling jauh Cilegon kayanya"

"Yaudah, siapin KTP kamu ya di tempat yang gampang diambil. Terus kamu bawa benda tajam atau korek nggak di saku tas kamu itu ?"

Gw datang dengan memakai backpack berukuran 35 L. Cukup untuk waktu 14 hari karena dari rapat sebelum berangkat sepertinya ada waktu dan tempat untuk mencuci pakaian.

"Enggak ada kak"

"Tuh Boss udah pada dateng, si Michelle juga"

Kami bertiga bersikap sopan karena atasan kami datang, jadi agak canggung terlihatnya.

"Saya Nata pak... bu..." Gw bersalaman dengan tiga pimpinan di projek kali ini

Pak Andi adalah pimpinan dari lab, Pak Didi menjabat sebagai field leader, dan bu Silvi sebagai ast. Field.

"Oh iya, saya sudah dengar dari Jessica bahwa ada anak magang yang ikut. Mulai masuk lagi kapan dek ?" Tanya Pak Andi dengan logat Jawa yang tidak bisa disembunyikan

"Bulan depan pak pertengahan" saya merasa segan sekali berbicara dengan pimpinan seperti ini

"Yowes, kalo begitu kamu belajar banyak nanti dari Team yang akan berangkat ini ya. Semoga betah selama 14 hari kedepan" ucap pak Andi

Sementara itu gw lihat bu Silvi sedang berkoordinasi dengan Michelle terkait jadwal dan akomodasi setelah sampai disana.

Kak Jess meminta KTP kami semua untuk melakukan check in di counter. Jadi pembagian tugas sudah nampak disini, gw dan Evan kebagian untuk angkat barang dan memastikan logistik masuk ke bagasi, kak Jess mengkoordinir kebutuhan sampai kami semua masuk pesawat, Michelle dan Bu Silvi menghubungi penjemputan di lokasi dan terus terhubung dengan dinas terkait disana.

"Nat, aku ke toilet dulu. Titip barang-barang aku ya" kata Michelle

Gw hanya mengangguk tanda menyetujui permintaannya

Kami masih harus menunggu untuk boarding, gw lihat yang lain cukup sibuk. Pimpinan sibuk membaca sesuatu dari PDA dengan pen di tangannya, lalu yang lain menelpon sanak keluarganya. Gw pun membuka hp, gw teringat saat pulang dari rumah Regina ada sms dari Tasya, yup! Dia masih suka menghubungi gw tetapi tetap nggak gw balas, menurut gw ketika membalasnya hanya akan memunculkan memori yang sudah lama terkubur, bahkan kalau diingat-ingat rasanya agak muluk-muluk untuk memilikinya dari awal sampai lulus kuliah.

Text from Tasya


Gw hanya membacanya sekilas tanpa memperhatikan detailnya, kalau ditanya " apakah gw sebenci itu dengan Tasya ? jawabannya adalah Tidak. Gw mempunyai pemikiran untuk tidak menganggap dia berarti lagi buat gw, atau lebih baik gw berpikir tidak mengenalnya. Ketika gw benci berarti ada energi yang harus gw keluarkan untuk itu, dan itu sangat menyiksa jadi lebih baik gw berpikir untuk tidak menanggapinya. naif memang, tapi bagaimanapun ini tentang perasaan yang energinya tidak sebanyak energi fisik jadi harus pakai otak untuk mengelolanya.

Text from Regina


Penerbangan gw kali ini cukup panjang, jadi saat ini gw menuju Bali dengan pesawat Boeing atau pesawat besar, lalu setelah transit kurang lebih 3 jam gw baru naik pesawat perintis atau pesawat kecil dengan kapasitas (mungkin) 30 penumpang untuk sampai di pulau itu.

***


Perjalanan menuju Denpasar ditempuh dalam waktu satu jam dan lima puluh menit. Gw memasuki bangunan terminal dengan arsitektur khas Bali, banyak yang berfoto di gapuranya dan dekorasi lainnya saat baru memasuki terminal bandara. Kak Jess langsung mengkoordinir untuk registrasi transit, sementara gw dan Evan tetap pada tugas menjaga barang bawaan.

Gw lihat Evan membuka ponselnya, dan gw pun ikut membuka ponsel. Gw mengirim sms ke Regina untuk mengabari kalau gw baru sampai di Bali dengan waktu transit kurang lebih tiga jam. Gw hanya fokus bermain ponsel, karena antrian untuk transit cukup ramai dan kak Jess juga Michelle masih mengantri. Posisi gw berdiri saat ini dekat dengan pintu masuk kedatangan, loket transit berada di sebelah kiri sementara pintu keluar bandara untuk menuju pengambilan bagasi di sebelah kanan, gw bisa melihat orang-orang yang bahagia karena liburan dari sini, Bali memang menjadi primadona wisata.

Sewaktu SMA gw mempunyai tiga orang teman yang punya mimpi untuk ke Bali setelah SMA, entah kabarnya bagaimana tapi satu hal yang gw mengerti setelah itu kalau bermimpi tidak harus terbatas jarak dan waktu, itu yang disebut dengan mimpi.

Gw masih sibuk berbalas sms dengan Regina dan sesekali melihat antrian kak Jess dan Michelle, lalu pundak gw ditepuk oleh seseorang dari belakang dan gw berbalik ke arahnya

"Nata ? Astaghfirullah. Kamu disini ?"
0 0
0
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
10-12-2021 04:29

45. Transit

Gw menghadap ke arah suara wanita yang menepuk gw, dan yang gw lihat benar di luar ekspektasi, sepersekian detik gw mengingat pesan darinya yang tadi gw baca sebelum berangkat dari Jakarta. Gw menatap wanita ini dan terdiam, wajahnya masih sama seperti sebelum dia meninggalkan gw. Seseorang yang pernah mengisi hari hari gw di tanah perantauan

"Kamu kesini sama siapa Nat ?" Dia terlihat ceria saat mengatakan ini

Evan yang berada di dekat gw akhirnya menyentuh lengan gw.

"Sst oy, itu ditanya sama cewe diem aja. Cantik itu" Evan meledek

Tasya nampak tersenyum ke Evan

"Saya Evan mbak, temen kerjanya Nata nih.. kesambet kayanya ini orang" Evan meledek lagi

"Hai Sya.. aku lagi ikut magang terus ini lagi ada projek di pulau Flores... Kamu apa kabar ?" gw mengajaknya bersalaman

Tasya tidak merespon tangan gw, tetapi lebih dari itu. Dia memeluk gw dengan erat, sementara atasan dan temen gw lainnya bingung dengan adegan ini termasuk Evan.

"Sya, aku dilihat oleh atasan loh ini... Aku malu loh Sya... " gw tidak merespon peluk itu karena sejujurnya gw kaget

Tasya tidak merespon perkataan gw, pelukannya semakin erat. Gw akhirnya membalas pelukan itu, disaat bersamaan dengan itu sms dari Regina juga masuk.

"Tuhan, apakah saya berdosa saat ini saya mencintai dia yang sudah meninggalkan saya dengan penuh luka dan kehampaan. Di lain ruang, saya juga menyayangi dia yang mengisi kekosongan dan membuat saya berdiri setelahnya. Jikalau saya berdosa hari ini, saya pastikan ini hanya untuk hari ini" gw bergumam dalam hati

"Nat! Aku kangen kamu Nat! Walaupun aku nggak pernah dapat balasan dari kamu semenjak itu" Tasya mulai melepas pelukannya, dan kini dia memegang kedua tangan gw

Gw melihat matanya berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang sangat drama menurut gw. Gw mengusap air matanya dengan tangan gw, lalu melihat sekeliling, kak Jess sudah mendapatkan tiket terusan sementara pimpinan gw sudah masuk ke terminal keberangkatan begitu juga dengan Michelle. Hanya kak Jess dan Evan yang tinggal untuk menemani gw disini

"Sebentar ya, aku ke temenku dulu. Nanti kita ngobrol, aku punya waktu 3 jam di Bandara ini" gw meyakinkan dia dan Tasya pasti paham kalau gw akan menemui dia

"Di Sol*ri*, aku tunggu kamu yah"

"Iyaa, aku janji" gw mengusap kepalanya lalu beranjak ke tempat kak Jess dan Evan

"Wuih, siapa tuh ?" Tanya Evan

"Mantan gw kak. Jangan naksir!"

"Wehh, galak nih bocil haha"

"Kamu mau gimana Nat ? Aku denger tadi dia mau nungguin kamu di tempat makan" tanya kak Jess

"Emang bisa ya kak, keluar gitu terus masuk lagi ?" Tanya gw dengan polosnya

"Haha bisa kok, tenang nanti gw temenin" kata Evan

"Okay nanti aku ikut deh, laper soalnya" kak Jess memberi gesture tangan

"Terimakasih kalo gitu kak"

"Santai... Bocil kaya lo ntar kalo ilang di Bali bahaya... Jadi bandel haha" ledek Evan

"Ngeledek aja elu Van... Ini Nata, bukan Elu.." ledek kak Jess

Gw masih fokus dengan Tasya, jadi ledekan dari Evan tidak terlalu gw gubris.

***


"Sya, maaf lama. Tadi ada yang di urus"

"Iya nggak apa-apa kok. Kamu gimana kabarnya ?" Tasya terlihat sangat ceria

"Baik kok Sya. Kok kamu udah balik ke Indo sih ?"

"Oh, dari semenjak itu aku urus berkas dan lihat kondisi college, dan ini juga masih dimulai summer tahun ini. Kamu masih aktif ikut ukm Nat ?"

"Iya masih, aku ikut kepanitiaan untuk semester depan semacam festival olahraga gitu"

Tasya melihat gw dan senyum senyum sendiri, "aku masih nggak nyangka loh kalau kita ketemu disini"

"Iya, aku juga" jujur gw merasa gugup disini karena saat ini kondisi sudah berbeda

"Santai aja Nat, aku tau kok kalau kamu lagi deket sama temen satu kampus"

"Ehh... Iya Sya.."

"Aku udah jahat banget sama kamu ya Nat ?"

"ahh... Gue benci situasi ini anjir... Gue butuh rokok heyyy... " gw membatin karena pertanyaan itu

"Kamu udah pesen makan ? Aku pesenin ya" tanpa menunggu jawaban, gw langsung pesan makanan dan juga jus buah

Gw sengaja mengulur waktu atau lebih tepatnya tidak mau menjawab pertanyaan tersebut, berat buat gw harus menceritakan bagaimana hancurnya gw setelah dia ninggalin gw. Otak gw bahkan nyaris nggak bisa berpikir tentang jawaban apa yang harus gw berikan untuk pertanyaan gw itu.

"anjir... gue mesti bahas apa kalau dia tanya begini terus... Tuhan tolong kirimkan kunci jawaban, tolong" ucap gw dalam hati

Gw balik ke meja, "udah aku pesenin kok sekalian"

"Hmm emang kamu tau aku mau pesen apa ?"

"Jus kan ? Palingan kamu lagi diet atau lagi nggak makan nasi hari ini, jadi aku pesen jus"

"Terbaik emang jagoan aku.. uppsst maaf... udah milik orang lain kayanya" senyum palsu yang terlihat dari wajah Tasya saat ini, gw sangat tidak menyukainya

"Sya, aku itu pengecut... aku itu penakut... nggak pantes kamu bilang aku jagoan"

"Nataa... kamu itu ya kamu, seorang ***** ******Nata yang penuh dengan pemikiran di dalam kepalanya.. dan aku sangat mengagumi itu, aku menyukai hal itu"

Lagi, gw benci senyuman yang ada di wajahnya saat ini. Palsu!

"Sya.. please stop being someone else!..." suara gw tekan dengan nada rendah agar tidak terlalu terlihat emosi gw saat berbicara

"Hmm.. i just want u to know that i missed u in every single day Nata.. why don't u text me back ? u hate me ?" air matanya mulai keluar dan ekspresinya berubah

"Sya.. did u know what i feel when i get ur text ? do u think im happy with it ? Come on! We are not a couple anymore, have u think bout my feeling ?"

"Natt... Please don't make me feelin guilty! Please, don't!" Air matanya mulai mengalir lebih banyak

Kak Jess menghampiri Tasya untuk menenangkannya, mendampingi dia selayaknya sesama wanita tanpa menghakimi siapa yang salah antar gw dan Tasya

"Sya.. kamu tau apa yang terjadi denganku selepas kamu berkata itu ? Mengakhiri semuanya"

Tasya hanya menggelengkan kepalanya

"Aku merasa jadi laki-laki bodoh saat itu sya.. merasa bahwa setengah dari kebiasaan aku tiba-tiba hilang seperti tidak terjadi apa-apa. Lalu setiap harinya harus menghadapi kamu dengan pesan yang seakan tidak terjadi apa-apa.." air mata mulai keluar sedikit di wajah gw namun dengan cepat gw usap

"Maksud aku nggak begitu Nata, enggak ada kepikiran niat aku untuk terus membebani kamu.."

"Sya.. have u ever think bout why we ended up ?"

"I think it was a good choice of our relationship Nat. We never know next day, or maybe next month or year"

"Damn it! Sya... Please! If u think bout it, why do u always text me ?"

"I just felt that i missed u Nat"

"Oh God! Come on Sya! Stop being a childish, stop being selfish. Im not yours anymore"

Tasya masih menangis mendengar perkataan gw barusan. Kak Jess masih mendekapnya, mencoba membantu tanpa menghakimi gw yang terlihat seperti menyalahkan Tasya.

"Haduh.. anak-anak ini bikin repot. Kak Jess boleh bicara sekarang ?"

"Iya kak, boleh" jawab gw dan Tasya

"Aku nggak tau serumit apa hubungan kalian atau bagaimana kalian berakhir. Inti dari permasalahan ini sebenarnya hanya salah paham kalau aku lihat meskipun baru sepotong yang kalian bicarakan.."

"Kak, kita putus karena dia nggak mau kita LDR bahkan keputusan itu dia buat tanpa pendapat aku, aku nggak bisa bilang nggak saat itu" gw memberikan penjelasan sedikit

"Okey, aku paham. Tasya mungkin sebenarnya nggak mau juga itu terjadi karena tidak ada yang tau apa yang terjadi setelahnya, kamu juga nggak bisa paksa itu Nata"

Kami berdua diam sedang memproses apa yang dimaksud oleh Kak Jess

"Nah untuk Nata, aku nggak tau bagaimana dan apa yang kamu lalui setelah pisah dengan Tasya. Tapi satu hal yang aku tangkap dari obrolan kalian adalah kamu sangat kehilangan sesuatu yang ada dalam diri kamu seperti kebiasaan, lalu sosok yang biasa menemani kamu. Aku nggak sedang menghakimi kalian tapi alangkah baiknya kalian berdua menjadi lebih dewasa setelah ini, terdengar klise namun semuanya lebih baik dibicarakan seperti saat ini tetapi saat ini semuanya sudah menjadi sebuah tumpukan kenangan atau emosi yang harus dikeluarkan oleh kalian"

"Iya kak, aku paham... Tapi kan kak... " Gw berbicara sedikit

"Maaf aku potong, aku belum selesai. Saat ini biar pertemuan kalian lebih berkesan, jangan bahas masalah itu lagi. Nata.. kamu laki-laki dan tidak seharusnya membuat wanita menangis di tempat umum. dan untuk Tasya, cukupkan membahas masa lalu karena Nata tidak nyaman dengan itu dan sepertinya ada seseorang yang sudah mengisi ruang yang sudah ditinggal oleh kamu"

Tasya mengangguk dalam dekapan kak Jess

"Sya.. maaf, aku nggak bermaksud begitu"

Evan menghampiri kami dan duduk di sebelah gw, "bro! Makan dulu baru ngomongin lagi. Perut kalo laper, otak lo juga nggak bisa mikir selain emosi"

Kami semua mulai memakan apa yang sudah tersaji di meja ini.

Gw mengambil ponsel dan membalas beberapa pesan dari Regina. Gw nggak bisa menjelaskan ke Regina kalau saat ini ada Tasya sedang bersama gw, rasanya akan menjadi lebih rumit lagi dan akan membuat gw kepikiran saat gw meninggalkan Regina jauh disana. Wanita sulit ditebak, bahkan jika ada rumus matematika untuk memecahkan masalah tentang perempuan akan berakhir dengan hasil tak hingga karena sulit untuk diprediksi oleh logika matematika.

"Nat, kamu sampai kapan ada di lokasi ?" Tanya Regina memecah keheningan

"14 hari lagi aku baru ada di Jakarta Sya" singkat saja gw menjawab

"Yaah, aku udah mesti balik kesana lagi"

"Ada apa Sya ?"

"Aku masih mau ngobrol banyak sama kamu"

"arrrggghhhhhh..." hanya bisa teriak dalam batin gw karena mengingat omongan kak Jess barusan, jadi tidak ada respon dari gw dan gw nggak menjawab itu

Kak Jess yang sedang makan melirik gw karena takut kalau gw menjawabnya dan membuat Tasya menangis lagi

"Maaf ya Nat..."

Gw memotong omongan karena nggak mau ini berlarut, "Sya, gimana kegiatan kamu disana ?"

"Yaa begitulah, adaptasinya lumayan. Ditambah biaya hidup yang waktu di area kampus kita kan murah banget, tapi disana itu bahkan buat makan nasi aja mahal gitu" Tasya mulai bersemangat menceritakan bagaimana kondisi dia saat berada disana

"Emang kamu disana stay di kota apa ?"

"Aku di Leiden, kota kecil yang menurut aku ramah banget buat pelajar kaya aku"

"Oh kamu di Leiden, menarik nih. Aku juga ada rencana studi di sana, kotanya ramah untuk pelajar dari Indo nggak ?" Tanya kak Jess

Mereka bicara panjang lebar tentang Leiden dan kultur di Belanda. Kak Jess banyak bertanya dan obrolan menjadi panjang, akhirnya gw dan Evan hanya jadi pendengar untuk obrolan mereka. Ponsel gw taruh di atas meja, posisi gw berhadapan dengan Tasya, ini adalah etika gw ketika berbicara.

Ponsel gw bergetar, dan gw lupa membalikkan layarnya

Quote:
Incoming Call...

Regina ❤️



Bersambung...
Diubah oleh hi.nats
0 0
0
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
13-12-2021 19:47

46. Pemikiran Liar

Mendapat seat di dekat jendela pesawat memang menyenangkan, melihat awan yang melayang seperti kapas, karena ini baru pertama kali gw menaiki pesawat, hm maaf saya lupa ternyata ini bukan pertama tetapi kedua karena pertama adalah sebelumnya saat dari Jakarta menuju ke Bali.

Melihat ke luar jendela dengan banyak hal yang terlintas, yang terbayang jelas adalah bagaimana gw bisa sampai disini saat ini. Anak laki-laki kesayangan ibunya yang sekolah jauh dari rumah dan saat ini malah dapat kesempatan magang lebih jauh dari itu. Lalu masuk ke kosan yang diisi oleh anak-anak konyol namun mereka semua penuh dengan pemikiran yang sangat brilian.

Ah gw benci mengingat ini, tapi ini sudah menjadi bagian dari hidup gw. Awal pertemuan dengan Tasya, sampai pada momen dimana gw tidak dapat berpikir ada cara lain selain pisah dengan Tasya tetapi pilihan itu tidak ada, bahkan rasa hampa itu masih gw ingat sampai sebelum bertemu dengannya tadi di Bali. Ingin memaki diri sendiri yang nggak bisa berkata untuk mencukupi semuanya. Bahkan pertemuan tadi hanya berakhir karena waktu boarding tinggal 30 menit, tanpa mengakhiri atau mengatakan perpisahan padanya, gw merasa bodoh.

"apa laki-laki itu selalu kehilangan akal dihadapan wanita ?" gw membatin tentang hal ini

Presiden pertama Indonesia dengan logika dan pemikiran yang sangat brilian, diakui oleh berbagai petinggi negara lain pun dikenal memiliki istri lebih dari satu, yang kemungkinan ia sangat mudah jatuh dipelukan wanita. Ahh, apalagi gw yang bahkan nggak lebih pintar, nggak tampan dan berwibawa seperti beliau, bahkan untuk mengeluarkan kata puitis dari mulut ini aja rasanya lidah ini kelu kalau berhadapan dengan wanita yang sesuai dengan kriteria gw.

Pertemuan dengan Regina yang sangat biasa namun pandangan pertama saat itu benar-benar gw terkagum oleh parasnya. Secantik itu dia dimata gw, terlebih saat bicara dengannya membuat gw berpikir dia merupakan orang yang tepat untuk berdiskusi dengan gw perihal pemikiran liar gw, tidak ada kata tersinggung setelah itu. Terlepas dari itu, gw sadar kalau gw benar-benar tulus menyayangi dia yang secara tidak langsung dia mengisi hari hari gw setelah ditinggal oleh Tasya, walaupun bukan perkara mudah untuk mencapai hal itu.

...


Saat momen seperti ini pemikiran liar gw muncul dengan sendirinya, tentang keindahan yang terpampang jelas di hadapan gw, lalu tentang sebuah penciptaan dimana gw sedang menaikinya. Kalau berada di atas awan seperti ini, semua terlihat sangat kecil bahkan tidak terlihat. Mata manusia terbatas oleh sesuatu yang tidak terbatas yang disebut cahaya.

Cahaya atau sinar yang terpancar dari satu sumber yang saat siang hari seperti ini tentu berasal dari matahari. Nyatanya cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang mampu menembus ruang hampa seperti tata surya. Hal itu yang membuat bagaimana Regina bagai 'cahaya' yang menembus kehampaan yang ada di hati gw saat itu, membuat hari-hari gw jadi lebih punya warna.

Dalam beberapa materi pembelajaran dijelaskan setiap benda menyerap dan memantulkan gelombang elektromagnetik ini untuk kemudian diterima oleh mata sebagai suatu objek yang terlihat. Intensitas dari gelombang ini bisa saja berdampak pada perspektif orang tersebut jadi tidak heran ketika melihat awan berbentuk apapun bisa saja tidak terlihat sama oleh setiap orang. Hal tersebut juga dipengaruhi imajinasi yang bergantung dari informasi yang pernah ia peroleh sebelumnya. Sebagai contoh nyata saat laki-laki dan wanita berbicara soal warna, pembagian warna untuk lelaki (kebanyakan) hanya tau mejikuhibiniu sementara wanita punya pembagian lagi setelah itu.

Dari pembagian warna saja gw bisa tau bagaimana kompleks dan detail dari pemikiran wanita. Hal yang sulit dimengerti untuk gw sebagai lelaki dengan kebiasaan mengedepankan logika atau pemikiran yang berdasar. Walaupun pada akhirnya gw mengakui bahwa ketika sedang jatuh cinta banyak hal yang terjadi tanpa harus pikir panjang. Itulah yang terjadi hari ini, gw bertemu Tasya dengan kondisi saat ini dimana kami sudah memutuskan untuk tidak berhubungan setelah hari itu, tetapi pada kenyataannya dia tetap menganggap semua baik-baik saja. Lain sisi, gw sudah bersama dengan Regina yang menemani gw setelah kepergian Tasya. Gw memang tidak sedang berada dalam kondisi untuk memilih tetapi pertemuan tersebut membuka memori di kepala gw tentang kejadian itu.

Sekeras apapun gw bersikap biasa saja, rasanya sulit diterima oleh pemikiran gw ini. Tetapi Tasya tadi tetap bersikeras bahwa dia melakukan itu karena masih memiliki perasaan terhadap gw. Otak gw merespon hal tersebut sebagai kejadian traumatik yang seharusnya bahkan gw tidak berbicara dengannya lagi agar kondisi tersebut terulang kembali. Lagi-lagi ini masalah lelaki yang akan dihadapi sepanjang hidup gw, bertemu dengan wanita dengan berbagai macam hal yang tidak dapat diprediksi. Naif rasanya kalau gw bilang dapat mengerti wanita, bahkan sepertinya yang gw tau hanya kebiasaan dari wanita itu bukan isi hati wanita itu.

Definisi cinta bahkan tidak sama antara satu pasangan dengan lainnya, banyak bahasa yang tidak dapat diterjemahkan oleh orang lain. Gw yang tumbuh dan besar di lingkungan Jabodetabek bahkan harus menyesuaikan bahasa ketika bertemu lawan jenis di luar daerah gw. Di Jakarta percakapan antara lelaki dan wanita menggunakan Gue-Lo yang biasa disalah artikan sebagai bahasa gaul, kenyataannya itu merupakan bahasa daerah. Panggilan Aku-Kamu terdengar biasa ketika diucapkan oleh orang dewasa ke orang yang lebih muda seperti kakak ke adiknya atau saat masih kecil, tetapi hal itu dapat diartikan berbeda untuk lelaki dan wanita yang sedang dalam tahap pendekatan atau sudah berhubungan. Tingkat selanjutnya adalah penyebutan Saya-Kamu yang bisa juga terdengar formal atau sopan. Bahasa adalah komunikasi yang disepakati untuk saling mengerti informasi. Beberapa dari lawan jenis di lingkungan Jakarta terkadang merasa risih apabila langsung dengar Aku-Kamu kecuali memang lawan bicaranya berasal dari daerah dengan budaya itu.

"hahh... Lelah banget gw hari ini, secapek ini rasanya kalau urusan hati ya" gw membatin dan menghela nafas untuk menormalkan pikiran gw

Menerawang jauh melihat hamparan awan yang seperti kapas ini melayang ringan, lucu juga kalau bisa seperti di film Doraemon yang bisa berlarian di atas awan.

Gw tersenyum dan membayangkan Regina saat mendekap gw di kereta malam itu, sejujurnya kehadiran Tasya sudah tidak bisa merubah keyakinan gw tentang perasaan ke Regina

*ding (suara penanda flight attendant akan berbicara"

Para penumpang yang terhormat, saat mendarat sudah dekat. Namun hati ini terasa pekat, mendengar jawaban yang menolak begitu cepat. Sudah lama jiwa meronta-ronta, inginkan dia tapi harus sadar dia bukan lagi siapa-siapa


Suara dari flight attendant itu berhasil memecah keheningan cabin saat ini, gw juga tersenyum sendiri meresapi tiap perkataannya.

Silahkan tetap duduk, jangan lupa jaga jarak dengan dia karena sadar dia sudah milik orang. Kencangkan sabuk pengaman dan harus tetap menerima kenyataan bahwa dia tak lagi memilih anda. Tegakan sandaran kursi agar kuat melihat dia bersama yang lainnya. Melipat hati yang telah pupus akibat dia tak lagi menoleh, memilih melupakan anda. Buka penutup jendela tapi jangan buka folder kenangan. Semua perangkat elektronik dimatikan, termasuk rasa yang masih tersimpan


Terlihat pulau dengan garis pantai membentang. Lalu pesawat landing dengan baik. Kesan pertama yang gw dapat ketika mendarat dan melihat dataran pulau Flores ini adalah gersang dan panas. Tampak bangunan terminal yang tidak sebesar Soetta atau Denpasar. Terlihat tulisan
Quote:
"Bandar Udara Frans Seda Maumere"


"Selamat Datang di Flores Nat, Perjalanan dan pengalaman baru buat lo Nat!" Ucap gw dalam hati


Bersambung...
profile-picture
tomie210586 memberi reputasi
1 0
1
[Book I] Aku Dan Pemikiranku (Explicit)
21-12-2021 14:35
Ini adalah cerita gw dengan segala macam sudut pandang gw??
0 0
0
Halaman 5 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
ada-kisah-di-tanah-papua
Stories from the Heart
Stories from the Heart
cerita-cupu-yang-lucu
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia