Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4449
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d175f0c82d4956d041a9246/5-meter-persegi
~cerita ini di dedikasikan kepada semua orang yang selalu berpikir bagaimana jika dan bagaimana jika~ Buat pembaca baru silahkan baca ceritanya disini. https://drive.google.com/folderview?id=1NEMDGWp_RFuUkv7QOZCatIxdZu5i3tKc Bukanya jangan pake browser kaskus. Pake browser lain biar filenya lengkap
Lapor Hansip
29-06-2019 19:52

5 METER PERSEGI

Past Hot Thread
icon-verified-thread
5 METER PERSEGI

~cerita ini di dedikasikan kepada semua orang yang selalu berpikir bagaimana jika dan bagaimana jika~


Buat pembaca baru silahkan baca ceritanya disini.

https://drive.google.com/folderview?...CatIxdZu5i3tKc

Bukanya jangan pake browser kaskus. Pake browser lain biar filenya lengkap
Polling
111 Suara
Hal yang paling kalian nantikan di cerita ini 
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jamalfirmans282 dan 144 lainnya memberi reputasi
137
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 156 dari 158
5 METER PERSEGI
10-10-2021 00:05
Kenapa belum update gan Ihsul?
0 0
0
5 METER PERSEGI
10-10-2021 02:13

Pembunuh Bayaran

Di suatu tempat yang merupakan lahan proyek pembangunan, Sebastian tengah bimbang. Dia tidak punya rencana apapun untuk hari ini namun secara tiba-tiba seorang pria bule bernama Lucky muncul di hadapannya dan kini benar-benar serius hendak membunuhnya.

Suara keras yang dihasilkan oleh benturan taing beton dengan tas gitar yang Lucky bawa berhasil membuat Sebastian merinding. Meskipun tiang beton tersebut masih dalam tahap konstruksi namun benda yang Lucky bawa, apapun itu, berhasil menghancurkannya.

"Hei hei hei, jangan lari jangan lari. Aku capek tahu! Mendekatlah, mati itu nggak sakit kok. Kurasa, entahlah, aku belum pernah mati."

Dengan kedua tangannya Lucky mengayunkan tas gitar itu ke sembarang arah sehingga Sebastian terpaksa melompat mundur dan naik ke salah satu alat berat di pinggiran lapangan.

"Sebenarnya apa maumu? Siapa yang menyuruhmu?" tanya Sebastian.

"Informasi pelanggan itu rahasia. Kalau Kau mau kalahkan dulu aku."

"… okay."

Sebastian berdiri perlahan dan kemudian melakukan pemanasan dengan melompat kecil. Lucky meletakkan barangnya diatas tanah dan menunggu sampai akhirnya Sebastian melompat langsung kearah wajahnya.

"WOW WOW WOW!"

Lucky menunduk tepat waktu untuk menghindari tendangan di wajahnya namun disaat bersamaan Sebastian mengulurkan tangannya dan mencengkram rambut Lucky erat-erat sebelum melakukan tendangan dengan kaki yang lainnya. Dalam waktu kurang dari lima detik perkelahian itu sudah meneteskan darah.

"SAAAAAAAAKKIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!"

Bahkan di imajinasi terliar Sebastian dia sama sekali tidak menyangka Lucky akan menjerit hanya karna satu tendangan. Orang yang sedari tadi berlagak ingin membunuhnya berteriak hanya karna sedikit mimisan?

"SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT! SIALAN KAU!"

Dan kemudian Lucky kembali mengangkat tas gitarnya. Meski demikian kali ini dia tidak mengayunkannya melainkan membuka tas tersebut dan mengeluarkan isinya. Betapa terkejutnya Sebastian, isinya ternyata gitar sungguhan.

"Kenapa Kau mengeluarkan gitar? Jangan bilang Kau mau bernyanyi."

Namun sekali lagi Sebastian sadar, tak mungkin ada gitar yang sanggup menghancurkan beton dalam sekali ayun.

"MATI KAU!"

Dan kemudian, tanpa siapapun bisa membayangkan, kepala gitar tersebut terbuka layaknya pintu rumah dan di dalamnya ada sebuah machine gun yang siap menyala.

***


"Seorang pria bijak pernah berkata, With great power, comes great responsibility. Aku mencoba memposting itu di twitter dan semua orang menertawakanku. Ternyata pria bijak yang mengatakan itu adalah paman Ben dari film spiderman. Betapa memalukannya."

Arson memutar-mutar topi bundarnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain sibuk memainkan ponselnya, mengecek apakah cuitannya masih ditertawakan oleh netizen. Dia duduk seperti biasa namun kursi yang tengah dia pakai sedikit tidak biasa. Kursi tersebut terbuat dari tumpukan dua manusia yang mana Noir dan Yansi adalah manusia tersebut.

"Tapi apa Kau tahu mengapa di jaman dahulu buronan yang ditangkap hidup-hidup dihargai lebih mahal dibanding yang mati? Itu karna pihak yang berkuasa suka melakukan eksekusi demi membuat pihak lawan menyerah. Sekarang setelah yang namanya kerajaan tidak ada lagi tradisi itu tetap dipertahankan. Aku akan membawa kalian semua hidup-hidup tapi ada satu yang kurang. Harusnya di tempat ini masih ada Uryuu yang berharga 500 juta. Dimana dia?"

Arson bertanya kearah Regina yang jatuh tersandar ke dinding saking shocknya. Melihat Regina yang tidak menjawab Arson berjalan menghampirinya dan berjongkok untuk mensejajarkan tatapan mata mereka.

"Kutanya sekali lagi, dimana Uryuu?"

Setelah keheningan yang panjang Regina tetap tidak menjawab. Hilang sabar, Arson pun menampar wajah Regina keras-keras.

"Kutanya lagi, dimana Uryuu?"

"Di-dia tidak disini," jawab Regina.

"Ohh, kalau begitu panggil dia."

"…. Tidak mau!"

Jawaban itu membentuk guratan kecil di sudut dahi Arson. Dia menampar Regina sekali lagi dan kemudian tatapannya teralih pada makanan yang tadinya Regina bawa untuk Erlangga.

"Teh panas, sempurna untuk cemilan tapi kali ini aku harus memaafkan diriku untuk membuang-buang makanan."

Arson mengambil ceret yang berisi air panas tersebut dan menuangkannya ke kepala Regina dengan debit yang kecil. Sontak Regina berteriak namun dengan satu tangan Arson menahannya tetap telungkup.

"Baiklah nona kecil, semakin lama Kau diam semakin kulit kepalamu akan keropos."

Uap panas mulai mengambang di udara dan rintihan Regina sama sekali tidak berhenti. kendati demikian dia tidak melakukan apapun, tidak juga memohon untuk diampuni sampai akhirnya teh di dalam ceret tak lagi bersisa.

"Kesetiaan yang mengagumkan. kurasa aku harus—"

Namun suara gesekan besi membuat Arson menoleh. Erlangga, yang sebelumnya terkurung dengan aman di dalam jeruji besi, kini sudah merangkak keluar setelah Noir tanpa disadari merayap dan melepas kunci kekangannya. Erlangga menggeram layaknya binatang buas dan tatapannya tertuju pada Regina yang tidak bergerak. Seketika saja dia meraung.

"Wah wah, apa ini semacam insting hewan untuk membalas budi? Baiklah, sembari menunggu Uryuu akan kulihat kemampuanmu."

***


"Sinian, peringkat sss, harga 10 milyar. Kudengar Kau sangat kuat. Bagaimana kalau adu kekuatan denganku?"

Sinian, yang tengah berdiri bersandar di tiang lampu jalan, hanya melirik sedikit saat Jack menghampirinya sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke jalanan. Jack yang masih menunggu jawaban terdiam lama sekali tanpa sadar bahwa Sinian benar-benar mengabaikannya.

Setelah beberapa lama sebuah taksi kebetulan lewat dan Sinian memanggilnya. Jack yang baru sadar telah diabaikan mencengkram bahu Sinian kuat-kuat sebelum Sinian bisa masuk ke taksi.

"Aku meminta baik-baik. Jika Kau menurut aku tak akan membunuhmu," ucap Jack dengan semua intimidasi yang bisa dia keluarkan.

"Hahh, aku tidak berkelahi dengan orang lemah."

Dengan satu tangan Sinian menekan bahu Jack hingga membuatnya berlutut akibat tekanan yang begitu kuat.

"Kita belum pernah bertemu kan? setelah ini pun tak perlu bertemu lagi. Hei Yuugo, urus orang ini."

Dan setelahnya Sinian pun menaiki taksi dan pergi begitu saja. Yuugo yang juga berada di tempat kejadian mengulurkan tangan pada Jack.

"Salam kenal paman, namaku Yuugo. Kalau paman ingin adu kekuatan aku akan layani paman."

"Yuugo, harga kepalamu cuma 5 juta."

"Hmm? Apa?"

"Maaf tapi aku tidak berkelahi dengan orang lemah."

Mencoba mencontoh Sinian Jack menekan bahu Yuugo sekeras yang dia bisa namun Yuugo tidak bergeming, dia kokoh dengan posisi berdirinya.

"Huh, banyak sekali kejutan di hari ini. Kau akan menyesal nak. Kau akan menyesal mengabaikanku."

***


Sinian turun dari taksi dikala dia sudah sampai di tempat yang dijanjikan. Tempat itu berada diluar kota yang mana sejauh mata memandang hanya terdiri dari sawah luas yang padinya mulai menguning. Di salah satu gubuk di sawah tersebut ada seorang wanita tengah duduk bersantai dan dikala Sinian menghampirinya dia menoleh.

"Selamat datang Sinian, senang akhirnya bertemu denganmu. Namaku Eurasia Blossom. Aku yakin banyak hal yang perlu kita bicarakan."

Tbc….
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muridoemar dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
5 METER PERSEGI
12-10-2021 23:46

Pembunuh Bayaran 2

Segera setelah menyelesaikan pekerjaannya, Uryuu berjalan pulang ke rumah. Hari masih pagi dan jika dia berlari maka dia masih akan sempat menghadiri sekolah meski sebentar. Belakangan ini urusannya menjadi semakin dan semakin rumit sehingga bersekolah menjadi prioritas nomor dua.

Uryuu pun bergegas berlari untuk sampai ke rumah mereka namun saat dia tiba dia langsung sadar ada yang aneh. Pintu terbuka lebar dan sama sekali tidak terdengar suara apapun meski Uryuu memanggil. Biasanya adik-adiknya itu akan membuat keributan tak peduli dimana. Apa mereka sedang pergi keluar?

Namun saat Uryuu tiba di lantai dua sebuah pemandangan mengerikan menantinya. Ruangan itu awalnya memang berantakan namun apa yang dia lihat tak ada bedanya dengan kapal pecah dan yang menjadi pintu gerbang dari kapal tersebut adalah Regina yang meringkuk basah di lantai.

"Hei Regina, apa?! siapa yang menyerang kalian?!"

Namun Regina tidak menjawab, matanya memancarkan teror yang amat besar. Di sebelahnya Yansi tampak tak mampu bergerak namun dia terbatuk-batuk kecil dan berbicara.

"Erlangga… Erlangga kabur."

Dan spontan Uryuu pun mengalihkan pandangan kearah jeruji besi yang mengurung Erlangga. Meski demikian yang ada di dalam sana bukanlah Erlangga melainkan Arson yang lehernya terikat kuat pada jeruji besi. Wajahnya pucat pasi dan dia sama sekali tidak bergerak. Dia sudah mati.

Dalam sekejap Uryuu pun mengerti apa yang sudah terjadi. Uryuu membopong Regina dan membaringkannya diatas sofa sembari menutupinya dengan selimut sementara Noir dan Yansi dibaringkan diatas karpet. Mereka hanya shock, luka-luka mereka tidak mengancam jadi Uryuu akan meninggalkan mereka disana dan segera pergi. urusan mayat akan dia urus belakangan.

Sebelum pergi, Uryuu melirik kearah foto yang dipajang diatas meja. Itu adalah foto sebuah keluarga kecil yang bahagia. Kendati waktu yang mereka habiskan bersama amatlah singkat namun mereka berlima selalu menjadi satu. Tak peduli meski kematian memisahkan mereka.

"Edward, Rea, tolong jaga kami."

***


Menurut teori Einstein, energi yang dihasilkan oleh sebuah benda sama besar dengan massa dikali kecepatan cahaya pangkat dua. Dengan kata lain, semakin berat sebuah benda dan semakin cepat benda itu melaju maka energi yang dihasilkan akan semakin besar.

Dengan menggunakan teori ini benda bernama senjata api pun tercipta. Dengan memadatkan peluru untuk mencapai intensitas tertinggi dan menembakkannya dengan kecepatan yang tak sanggup dilihat mata maka kerusakan fatal pun dapat tercipta. Tergantung jenis peluru dan jenis senjata api maka bukan tidak mungkin untuk menembus beton.

Dan kini, Sebastian tengah berharap dengan penuh sangat agar dinding beton tempatnya bersembunyi sanggup menahan rentetan tembakan dari senapan mesin yang Lucky bawa. Dia bisa merasakan serpihan serpihan beton beterbangan di kanan dan kirinya dan tak ada tanda tanda semua itu akan berhenti.

Karna senjata tersebut dipasangi peredam maka Sebastian tak bisa tahu kapan serbuan itu selesai jadi yang bisa dia lakukan hanyalah terus menunggu.

"Hei hei hei, kalau Kau cuma diam bagaimana Kau bisa menang? balas serang dong."

Serangan tersebut sudah berhenti namun Sebastian tidak keluar dari persembunyiannya. Dengan senjata semacam itu maka peluangnya untuk menang ataupun kabur sudah jatuh ke nol persen. Meski demikian mungkin masih ada satu harapan. Mungkin.

Sebastian pun mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan saat dia yakin suara nafas Lucky tidak bisa didengar oleh telinganya dia pun berjalan keluar dan menghadapi Lucky secara langsung.

"Nah gitu dong. Kalau Kau nyerahin kepalamu baik-baik aku nggak perlu buang buang duit beli peluru. Tenang, kalau Kau mati kubagi seratus juta deh."

Dan disaat Lucky mengangkat senjatanya kembali Sebastian ikut berlari. Dengan fokus penuh dia memusatkan semua perhatiannya pada moncong senjata tersebut dan saat Lucky menembak Sebastian mengulurkan kedua tangannya ke depan.

Dalam sekejap dia bisa merasakan panas dari peluru menekan kulitnya. Rasanya sakit dan berbau mesiu namun Sebastian terus maju kendati jantungnya nyaris meledak karna menolak tindakannya. Adrenalinnya terpacu kencang dan membuat tubuhnya panas, jauh lebih panas daripada yang pernah dia rasakan. Inilah sensasi dari hidup dan mati.

"Kena Kau."

Tanpa bisa dipercaya, Sebastian sudah menutup moncong senjata api tersebut dengan telapak tangan kanannya. Tangan kirinya yang bebas 'mencakar' machine gun berbentuk gitar tersebut dan dalam sekejap kepingan kepingan besi sudah berceceran di tanah bersamaan dengan Lucky yang terjatuh dengan pantatnya membentur tanah.

"A-apa yang… apa itu?! BENDA MACAM APA ITU?!"

"Entahlah, aku pun tak tahu," jawab Sebastian sembari melihat kedua tangannya yang dibalut sarung tangan emas. "Aries Glove, amat ringan namun mampu menahan tembakan peluru. Anehnya ini lentur dan mirip sarung tangan normal. Terbuat dari apa sebenarnya ini?"

Meski dipertanyakan pun jawabannya tidak akan ada. Sebastian mengangkat tangannya dan membiarkan cahaya matahari menyinari sarung tangan emas berbentuk cakar naga tersebut. Meski baru saja digunakan untuk menahan tembakan ratusan peluru namun Sebastian hanya merasa sedikit kebas di tangannya, sarung tangan itu bahkan utuh tanpa tergores sedikitpun.

"Si Sinian itu, dia punya barang yang terlalu bagus."

Dan kemudian Sebastian menekan alas sepatunya ke wajah Lucky. Kini tanpa senjata, tak ada apapun lagi yang perlu dia takutkan dari orang yang mengaku pembunuh bayaran ini.

"A-ampun ampun! Aku nggak bakal ngapa-ngapain, aku janji."

"Oh, janji ya?" tanya Sebastian sembari menggesek gesek pipi Lucky dengan sepatunya. "Kalau begitu jawab, siapa yang mengirimmu? Biar kuhajar orang itu sekalian."

***


Jack the Ripper, Jack si Pencabik. Itu adalah nama dari pembunuh berantai paling misterius yang pernah menghantui London. Pada tanggal 31 Agustus 1888, dia tiba-tiba muncul dan menebar teror yang belum pernah ada sebelumnya. Jack diketahui bertanggungjawab atas kematian 5 orang pelacur dan meski tak ada bukti dia diduga sebagai dalang dari ratusan kasus pembunuhan di London.

Muncul dari balik bayangan dasar neraka, tak peduli meski seluruh prajurit London diperintahkan mencarinya namun identitasnya tetap terjaga selama 133 tahun lamanya, yang terjahat dari yang terjahat, manusia paling rendah di muka bumi, seperti itulah mereka menyebutnya.

Dan sekarang, ada satu orang yang tengah menggunakan namanya dan orang tersebut berdiri dihadapan Yuugo yang kulitnya tercabik-cabik dari kepala hingga kaki. Keheningan yang tak wajar memenuhi area pejalan kaki tersebut karna kendati mereka seharusnya menolong namun tak ada yang berani bergerak karna rasa takut.

"Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu," ucap Jack sembari membungkuk. "Sekarang, berapa banyak orang kuat di Sma von? Aku tak sabar menantikannya."

Tbc….
profile-picture
profile-picture
profile-picture
humanshado dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
5 METER PERSEGI
12-10-2021 23:48
Aries Glove, satu dari 12 senjata bulan. Sanggup menahan tebasan gergaji mesin tanpa tergores dan cakarnya sanggup memotong besi. Sinian memberikannya ke sebastian sebagai hadiah atas misi di papua nugini kemarin.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
humanshado dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
5 METER PERSEGI
13-10-2021 16:08
Btw saya ada nulis cerita baru. Mampir kalau berkenan.
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...f48d316f37e314
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan situmeang96 memberi reputasi
2 0
2
5 METER PERSEGI
15-10-2021 11:41

Justice Vs Evil

Di kelas 0 suasana benar-benar sunyi. Satu-satunya sumber suara hanyalah Sieun yang seperti biasa tengah memainkan PSP nya tanpa kepedulian terhadap dunia. Meski demikian tak peduli seberapa berisiknya tak ada orang yang menegurnya. Bagaimanapun dari 16 meja yang tersedia hanya ada 5 meja yang terisi.

Di depan mejanya terdapat Imfri yang tengah menatap keluar jendela dengan ekspresi kosong. Di depannya lagi Vina tengah membaca majalah fashion dengan kedua kakinya diatas meja. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet dan sedari tadi dia terus mencoba membuat balon dari itu.

Di sebelah kanan Vina terdapat Cecile tengah sibuk memandangi layar yang tidak menampilkan apapun. Matanya tampak kosong seolah-olah sedang melamun namun jari-jarinya bergerak menekan udara layaknya mengetik sesuatu. Dua meja di kanan Cecile terdapat Yudis yang seperti biasa tengah menonton anime dalam diam.
Hari-hari yang biasa… tidak, mungkin sedikit lebih sepi dari biasanya.

"Hei, kalau dipikir-pikir kita berenam belas belum pernah berkumpul semuanya kan?" tanya Vina mendadak. "Di hari pertama masuk sekolah Cecile tidak hadir dan setelah dia hadir ada seseorang yang rajin bolos. Ya, kita memang belum pernah berkumpul secara lengkap."

Tak ada yang menjawab pertanyaannya.

"Hei, jangan abaikan aku! Karna sifat kalian seperti inilah makanya kelas kita tidak kompak!"

Sekali lagi, tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

"Persetanlah. Sebenarnya kemana semua orang pergi? Yuugo, dimana dia? Belum pernah aku melihatnya absen."

"Jika Kau mencari Yuugo maka aku khawatir Kau tidak akan menemukannya," jawab Jack.

"Kenapa pula tidak?"

"Karna dia sudah setengah perjalanan menuju rumah sakit sekarang."

"Oh begitu."

"Ya, begitu."

"…."

"…."

"SIAPA KAU?!"

Vina berdiri begitu mendadak hingga kursinya terjatuh. Cecile tanpa sengaja menyenggol laptopnya hingga jatuh ke lantai. Imfri yang terkejut berteriak di dalam hati. Yudis pun melakukan hal yang tidak terduga, mempause animenya. Sieun tetap bermain game.

"Maafkan atas ketidaksopananku tapi aku sedang mencari orang yang kuat. Adakah yang ingin menjadi lawanku?"

Dan seolah menjawab pertanyaan tersebut suara 'You Weak' keluar dari PSP Sieun. Jack tertawa terkekeh-kekeh dan kemudian menghampirinya.

"Penampilanmu sungguh menarik Nak. Tubuh yang kurus dengan hanya tulang dilapisi kulit namun matamu menunjukkan tatapan merendahkan seolah semua orang hanyalah hewan di matamu. Biar kutebak, Kau tipe orang yang—"

Tak sempat Jack menyelesaikan ucapannya Sieun sudah membanting PSP nya ke sisi kepala Jack hingga PSP tersebu hancur.

"Shit! Karna Kau tak bisa diam aku jadi kalah!"

"Ahh… karna inilah aku tidak suka anak muda jaman sekarang. Kau pikir Kau hebat ya?"

Jack mengepalkan tangannya dan melancarkan pukulan kearah Sieun namun Sieun menahannya dengan ujung pulpen yang tajam.

"Aku memang hebat, Kau punya masalah?"

Detik berikutnya yang Jack sadari adalah lehernya yang hampir tertebas menggunakan penggaris. Dia menelusuri luka yang ditinggalkan penggaris itu dengan telunjuknya dan kemudian tersenyum lebar sekali.

"Ahh… bau darah."

Dalam legenda, Jack the Ripper diketahui suka memotong leher dan mengoyak isi perut korbannya dan bermain-main dengan organ dalam mereka. Jack disini, entah kebetulan atau tidak, memiliki hobi yang sama. Namun dibandingkan pisau yang Jack keluarkan dari sakunya adalah sebuah… kuas ukir?

"Mari kita lihat seberapa indah tubuhmu saat menjadi kanvas."

Sieun, yang merasakan tanda bahaya, menghempaskan mejanya kearah Jack namun Jack dengan entengnya menusuk meja tersebut tepat di tengah dan mengangkatnya lalu menggunakan meja itu sebagai palu. Meja itu hancur berkeping-keping dan dengan cepat Sieun mengambil kaki meja yang hancur dan melemparkannya seperti lembing.

Namun disaat bersamaan Jack melempatkan kuas ukirnya yang langsung menancap di pundak Sieun dan tanpa jeda dia mengeluarkan lebih banyak lagi kuas dari balik jubahnya. Layaknya pertunjukan ahli pisau di sirkus dia melempar kuasnya satu demi satu dan semuanya mengenai titik-titik sendi dengan akurat.

"Kau tak lagi terlihat sesombong tadi nak, ada apa?" tanya Jack dikala melihat tetesan darah membasahi lantai. Dengan susah payah Sieun mencabuti kuas yang menempel di tubuhnya, dia benar-benar tidak siap untuk ini.

"Brengsek, apa maumu?"

"Apa? aku hanya ingin mencari orang kuat. insting hewaniah dari manusia yang ingin membuktikan diri."

"Kalau orang kuat kenapa tak lawan orang dibelakangmu saja?"

"Hmm?"

Penasaran, Jack berbalik dan disana, di ambang pintu, berdiri Yuugo yang seharusnya sudah setengah jalan menuju rumah sakit. Tubuhnya yang penuh luka irisan masih meneteskan darah.

"Ya ampun, betapa keras kepalanya dirimu Nak. Kau kembali hanya untuk mencari mati. Jujur saja, dibanding seluruh kanvas di dunia kaulah yang paling sulit diukir. Tapi otot-otot itu hanya pajangan saja, kenyataannya Kau begitu lemah."

"…. Lemah? Begitu rupanya. Ternyata aku terlalu banyak…."

Dengan mantap Yuugo melangkahkan kakinya dan suara benda berat yang teredam menggema di dalam kelas. Kedua tangannya terkepal dan dia menutup matanya.

"Aku punya prinsip," ucap Yuugo, "Aku tak mau melukai orang lain jadi aku terus menahan tenaga. Aku takut, takut kalau orang yang kupukul akan mati. Tapi Kau… Kau orang yang benar-benar jahat."

"Haa? Ya, aku jahat," jawab Jack menyeringai dikala posisi mereka sudah berhadap-hadapan. "Jadi apa Kau Tuan Baik akan menghukumku?"

"Rapatkan gigimu," balas Yuugo, "Kalau tidak Kau bisa mati."

"Ap—"

Rasanya seperti ada bola meriam yang baru saja ditembakkan karna suaranya terdengar begitu nyata bersamaan dengan Jack yang terhempas hingga menabrak dinding. Tabrakan itu membuatnya muntah darah dan semua jendela bergetar seolah terkena gempa.

"Sudah kubilang, kalau tidak menahan diri Kau bisa mati."

Sekali lagi Yuugo melangkah mendekat dan disaat itulah Jack tahu bahwa dia baru saja berurusan dengan sesuatu yang diluar kemampuannya.

"Ja-jangan, tolong, aku akan pergi, aku akan—"

Namun Yuugo sudah mencengkram kerahnya dan mengangkatnya hingga berdiri. Mata mereka bertatapan dan dari mata ketakutan Jack dia tidak bisa melihat sedikitpun pengampunan di mata Yuugo.

"Teknik terlarang Sinian nomor 3, low kick."

"Ha?"

"Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu."

Dan apa yang terjadi kemudian sama sekali tidak bisa dipercaya. Tembok ruangan kelas yang memang sering digunakan sebagai samsak tinju kini retak, hancur seolah baru saja ditebas dengan seribu gergaji. Tempat dimana Yuugo menendang kini terbuka dan meninggalkan lubang horizontal di dinding tersebut dan kedua paha Jack yang sebelumnya berada disana kini tertekuk kearah yang salah. Tak diragukan lagi tulang pahanya sudah patah seutuhnya.

"Orang jahat, harus dihukum."

***


"Dan begitulah kisah lengkapnya."

Blossom mengakhiri ceritanya dengan hembusan nafas yang panjang. Sinian yang sedari tadi mendengarkan dalam diam masih tidak mengatakan apapun.

"Menara surga," ucap Blossom lagi. "Menara itu sebenarnya dibangun dengan tujuan untuk menyaingin Babel Tower. Para dewa yang murka pun menghancurkan menara tersebut namun sampai sekarang menara surga tetap berdiri. Tampaknya, kemurkaan dewa memang cuma mitos ya?"

"… Yang namanya Tuhan tidak bekerja seperti itu," ucap Sinian pada akhirnya. "Semua yang terjadi di dunia ini mengikuti hukum alam dan manusia akan membayar apa yang mereka perbuat. Terkadang, manusia lainlah yang akan menjadi perantara Tuhan."

"Dan Kau akan menjadi manusia itu?" tanya Blossom.

"Ternyata benar," balas Sinian mendadak. "Kau mengaku tahu semuanya tapi sepertinya Kau tak tahu apa yang kupikirkan."

Blossom tersentak. Alisnya terangkat begitu tinggi untuk menunjukkan keterkejutannya dan kemudian dia tertawa.

"Kau benar. Aku tak tahu apa yang Kau pikirkan. Di dunia ini hanya Kau dan orang itu saja yang tidak bisa aku ketahui. Sungguh misterius. Apa Kau tahu alasannya?"

"Ya, kurasa."

Blossom tidak mendesak untuk tahu. Dia menatap kearah langit yang mana matahari kini sudah berada tepat diatas kepala mereka.

"Kurasa sudah waktunya bagimu untuk pergi. sebentar lagi, perang Chinatown akan dimulai."

"Kenapa pula aku harus pergi?"

"Karna jika Kau tidak pergi maka mereka tidak akan punya kesempatan," jawab Blossom lancar. "Malam ini akan menjadi awal dari hasil akhir cerita ini. semua benang merah akhirnya terhubung dan membawa semua pion pion takdir ke satu tempat. Ya, malam ini seluruh Number akan berkumpul di Chinatown."

Sinian tidak tampak terkejut. Dia ikut memandangi langit dan kemudian menghirup nafas panjang, memenuhi tubuhnya dengan aroma rerumputan yang khas.

"Termasuk Kau?" tanyanya.

"Jadi Kau tahu rupanya."

"Hanya namamu saja," jawab Sinian. "Catatan yang ditinggalkan Arataf begitu lengkap namun tak ada apapun tentangmu. Kalian tidak pernah bertemu?"

"Sayangnya tidak. Sungguh… amat disayangkan. Sampai akhir dia tak pernah melihat si nomor tiga."

"Meski Kau bilang begitu tapi bukan berarti kalian seistimewa itu. dari yang kulihat, kalian tidak lebih dari lalat yang mengerumuni buah."

"Kejam sekali," balas Blossom sembari tersenyum kecil. "Tapi Kau benar. Bagi orang itu yang dia perlukan hanyalah kami bertiga. Aku sebagai otak, Luslec sebagai tubuh dan Isaac sebagai jantungnya. Sisanya hanyalah bahan percobaan. Nomor 4 hingga sepuluh, mereka hanya manusia malang yang menjadi pion pengorbanan."

Segumpal awan besar bergerak dan menutupi matahari, menimbulkan bayangan yang menyejukkan mereka yang ada dibawahnya. Sinian menghirup nafas sekali lagi dan kemudian bangkit berdiri.

"Kau tahu apa yang akan terjadi kalau aku pergi kan?" tanya Sinian.

"Aku tahu tapi itu adalah pengorbanan yang dibutuhkan. Tak lama lagi Sin, tak lama lagi hidupmu akan berakhir dan bila Kau mati maka tak ada siapapun lagi yang akan bisa menghentikan semua kegilaan ini. semua ini berawal darimu dan harus Kau yang mengakhirinya."

"Aku… mati?"

"27 Desember 2020," jawab Blossom. "Di hari itu sepupu yang Kau nantikan akan terlahir dan 4 hari kemudian, tepat di malam tahun baru, itulah malam kematianmu. Jika Kau menganggap bahwa aku yang tahu segalanya ini tak lebih tahu dari dewa maka buktikanlah. Buktikan ramalanku salah."

Sinian tidak menjawab. Dengan ekspresi yang sulit dijelaskan di wajahnya dia pun berjalan pergi meninggalkan Blossom. Blossom tetap duduk di tempatnya dan membiarkan matahari menyinari sekujur tubuhnya. Hawa panas itu membuatnya merasa hidup.

"Baik dan jahat, justice vs evil. Mana yang baik dan mana yang jahat? Pada akhirnya orang yang paling kejam disini adalah aku," ucapnya tidak pada siapapun. "Bagaimana semua dosa ini bisa terbayar? Mungkin, ini adalah hari yang indah untuk mati."

Tbc….
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
5 METER PERSEGI
15-10-2021 18:22
Dan bagian pembuka pun selesai. Next... Yang mana dulu ya? Sinian part 2 atau mori vs borgov?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
5 METER PERSEGI
15-10-2021 19:01
Mori vs borgov dulu
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan balunk2385 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
5 METER PERSEGI
18-10-2021 00:27

A Dark Clouds Hangs

Duel Chinatown. Aturan dari duel ini sederhana, kedua petarung akan berdiri di dalam lingkaran berdiameter 3 meter dan di dalam lingkaran tersebut kedua petarung akan terus berduel hingga salah satunya menyerah atau mati. Jika salah satu pihak berada diluar lingkaran selama lebih dari 10 detik maka dia juga dinyatakan kalah.

Bentuk lingkaran itu dipilih karna mewakili banyak hal namun alasan utama adalah itu melambangkan perputaran hidup tiada henti yang mana tidak akan berakhir sebelum seseorang mati. Karna itu pulalah duel Chinatown bisa dianggap perkelahian sampai mati.

Dan julukan itu sama sekali tidak melebih-lebihkan. Mori dan Borgov, entah apapun yang mendasari duel mereka, sudah mengotori tanah dengan darah perkelahian mereka. Namun darah tersebut bukanlah darah gabungan kedua belah pihak melainkan semata-mata berasal dari Mori seorang.

Mori melibaskan kakinya layaknya cambuk kearah kepala Borgov namun dengan gerakan minimum Borgov menunduk dan melompat ke depan untuk memotong jarak.

"Kau tidak pernah belajar Mori. Kelemahanmu yang pertama, lemah dalam jarak dekat."

Dengan posisi yang begitu dekat satu sama lain Borgov melayangkan tinjunya ke perut Mori dan tanpa mengambil jeda Borgov mencengkram kedua bahu Mori, memundurkan kakinya sejauh mungkin dan langsung menyarangkan lututnya ke perut itu lagi sehingga menghasilkan bunyi muntah yang menjijikkan.

Mori takluk berlutut. Kesadarannya mulai memutih dikala semua ayng dia lihat tampak kabur. Inikah batasnya? Apa dia masih sanggup berdiri?

Mori mencoba untuk menggerakkan kakinya namun saking gemetarnya dia kembali terjatuh kebelakang. Habis sudah, satu pukulan lagi cukup untuk mengakhirinya.

Borgov sudah mengeratkan kepalan tangannya namun sebelum tinjunya menyentuh wajah Mori dia berhenti mendadak.

"Keluar arena," ucapnya pelan sebelum berbalik dan kembali ke tengah lingkaran. Mori yang menyadari kalau dia sudah berada diluar lingkaran hanya merasa kesal.

"Sialan. Kau dan semua kesombonganmu."

Sembari mengeratkan giginya Mori kembali berpijak dengan kedua kakinya. Sepuluh detik hanyalah waktu untuk mengambil nafas dan dengan itu Mori pun melepas lensa kontaknya.

"Ini mungkin bukan saat yang tepat untuk mengatakannya tapi warna merah di matamu itu sebenarnya indah," ucap Borgov. "Perasaan seolah ditatap dengan mata haus darah ini tak pernah kulihat pada siapapun."

"Itu karna Kau tak pernah kemana-mana," jawab Mori. "Diluar sana ada banyak manusia yang bukan hanya mata namun seluruh tubuhnya memancarkan rasa haus darah yang bahkan membuat orang-orang disekitarnya menjauh tanpa sadar. Tapi satu hal yang jelas, Kau tak akan bisa menjaga tempat ini selamanya."

Mendengar itu Borgov hanya mendengus dan kembali memasang kuda-kuda, siap untuk ronde kedua. namun dia tahu ronde kedua ini memiliki berat yang sama sekali berbeda.

Menurut Einstein, waktu adalah relatif. Seseorang yang tidur tidak akan merasakan bahwa 8 jam waktu telah berlalu sementara seorang pembalap profesional akan merasakan 1 detik seolah 1 jam. Perbedaan kemampuan seseorang dalam menangkap nilai waktu ini sebagian besar disebabkan oleh mata.

Kecepatan mata dalam memproses cahaya yang masuk merupakan faktor besar dalam menentukan seberapa cepat otak memproses data tersebut dan karna itulah bagi Mori segala pergerakan di sekitarnya terasa lambat. Bahkan jika ada seseorang yang menembaknya dengan pistol dari jarak 10 meter dia akan sanggup menghindarinya.

Jika segala hal di sekitarnya bergerak dalam gerakan lambat maka tak mungkin ada serangan yang tidak bisa dia hindari. Semua pukulan Borgov kini tiada artinya.
Namun itu tidak berarti pukulannya mendadak lebih cepat dan kuat. Keduanya terus menyerang dan menghindar sama gesitnya namun satu hal yang pasti, Borgov mulai terdesak.

Mata itu tidak hanya bisa melihat dalam gerak lambat, itu juga membuat Mori bisa memperhatikan hal-hal yang normalnya tidak bisa tertangkap oleh amta biasa dan apa ayng dia sadari dari itu adalah, betapa buruknya gerakan Borgov.

Taekwondo, ya, mereka menggunakan gerakan yang sama namun mau tidak mau Mori bisa melihat kekurangan dari gerakan tersebut. Ahh, tidak. Borgov menirunya jadi itu artinya gerakannya lah yang buruk.

"Pundakmu, turunkan satu senti lagi," bisik Mori pelan sekali. "Kaki tidak dibuka selebar itu dan posisi kedua tanganmu terlalu lurus. Harusnya… begini."

Dikala telapak kaki keduanya bertemu di udara gelombang tekanan yang kuat terjadi dan yang berhasil mendesak lawannya mundur adalah Mori. Memanfaatkan momen ketidak seimbangan itu Mori menyapukan kakinya ke tanah demi merobohkan kaki Borgov yang masih menapak tanah dan gerakan yang Mori lakukan berikutnya bukanlah taekwondo maupun teknik tendangan manapun melainkan cengkraman. Dia mencengkram leher Borgov di tengah udara dan membantingnya keluar arena.

Hening… dan hening. 10 detik dengan cepat berlalu namun tak ada diantara keduanya yang bergerak, masing-masing menunggu untuk yang lain berbicara terlebih dahulu namun kemudian suara tepukan tangan memecah keheningan tersebut.

Orang yang berdiri diarah pintu keluar adalah seorang pria yang tampak baru saja memasuki umur kepala tiga namun tubuhnya seolah terbuat dari kumpulan otot yang terlatih di medan perang. Otot-otot tersebut seolah hidup dan terletak di tempat yang sempurna dan membangun figur mengesankan dari seorang Taejin Jin.

"Kakek?" tanya Mori tak percaya. Matanya melebar jauh melebihi yang pernah dia lakukan seolah-olah dia baru saja melihat hantu.

"Mori… Kau sudah benar-benar besar sekarang."

Mori tidak ingat siapa orang tuanya. Ingatan pertama yang dia punya adalah tentang pria di depannya dan dari orang inilah dia belajar semua teknik beladiri yang dia ketahui. Tapi, bagaimana bisa kakeknya tampak jauh lebih muda dari sebelumnya?
Ahh, itu tidak penting. sama sekali tidak penting.

"Kakek…."

Sembari menangis terharu Mori pun melemparkan dirinya ke pelukan pria tersebut dan tanpa sadar dia sudah menangis di pelukannya. Merespon itu Taejin mengelus puncak kepala Mori dan berkata.

"Tak apa, menangislah banyak-banyak. Bersihkan mata itu dari segala debu."

"Ha? Mata?"

Dan kemudian, kejadiannya benar-benar cepat, Taejin memukul tengkuk Mori dan membuatnya pingsan terkapar seketika. Apa yang terjadi kemudian membuat Borgov sebagai satu-satunya saksi berteriak keras sekali.

Dengan jari-jarinya, Taejin mencungkil kedua mata Mori dari rongga tengkoraknya dan memasukkan kedua bola mata tersebut ke dalam tabung kaca yang berisi air. Dia kemudian melihat kedua mata itu dengan tatapan penuh damba yang amat tidak wajar.

"BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN?"

Dipenuhi amarah Borgov bangkit berdiri namun sesaat kemudian dampak bantingan yang dia terima menunjukkan efeknya. Dia terhuyung dan kemudian terjatuh dengan lututnya menyentuh tanah.

"Apa yang kulakukan? Aku hanya mengambil kembali apa yang jadi milikku," jawab Taejin tanpa dosa.

"Apa maksudnya itu?"

"Ahh, baiklah, akan kuceritakan. Kau pastinya sadar bahwa sebanyak apapun dilatih tubuh manusia punya batas yang tak bisa dilewati. Meski demikian ada banyak orang diluar sana yang memiliki bakat alamiah dan membuatku sangat iri. Mata ini adalah satu cara untuk orang sepertiku bisa melihat dunia yang sama seperti mereka. Sayangnya saat aku menemukan mata ini pemiliknya adalah seorang bayi, matanya masih terlalu kecil untukku. Karnanya aku pun menanamkan mata ini pada Mori dan membiarkannya tumbuh. Sekarang… ohh, betapa indahnya."

Sekali lagi dia mengangkat kedua bola mata itu dan menatapnya seperti orangtua yang mendambakan seorang anak. Orang yang pernah disebut sebagai manusia terkuat di dunia itu kini mengambil satu langkah maju menuju manusia yang sempurna.

"Ahhh aku tak sabar memakainya. Sampaikan terima kasihku pada Mori nak. Dia sudah melakukan tugasnya dengan baik."

Dan dengan cepat dia pun meninggalkan tempat tersebut. Borgov berteriak meminta pertolongan dan kemudian dokter hotel pun membawa Mori ke ruangannya. Borgov tidak ikut menemaninya. Borgov memilih bangkit berdiri dan tanpa ragu dia mengambil satu langkah keluar dari lingkup hotel.

Urat-urat di sekitar matanya menonjolkan amarah yang ada di dalam dirinya. Setiap langkah yang dia ambil seolah menggandakan kemarahan tersebut dan siapapun yang harus menerima semua kemarahan itu tidak akan bernasib baik. Borgov akan menjamin takdirnya.

5 METER PERSEGI

Tbc….
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
5 METER PERSEGI
18-10-2021 00:28
Ahhhh..... Sejak pertama kali Mori muncul saya udah pengen banget nulis scene ini. Akhirnya.... Ternyata sudah 2 tahun lamanya saya menyimpan ide.

Seperti judulnya, awan hitam mulai menyelimuti. Ke depannya cerita ini bakalan agak dark jadi... Teruslah membaca.
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lavious dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
5 METER PERSEGI
18-10-2021 02:33
Setelah sekian lama akhirnya ada mulus lagi
profile-picture
situmeang96 memberi reputasi
1 0
1
5 METER PERSEGI
20-10-2021 19:58
Menunggu
0 0
0
5 METER PERSEGI
20-10-2021 21:46
mau buat thread begini gan biar rame hehe emoticon-Peluk
profile-picture
situmeang96 memberi reputasi
1 0
1
5 METER PERSEGI
21-10-2021 00:16

Allthing

"Keabadian, awet muda, tidak bisa dibunuh, kuat dan tidak kenal takut. 5 tahun yang lalu aku mati namun aku dibangkitkan kembali dengan seluruh kejayaan yang diimpikan oleh para raja sejak jaman sebelum masehi. Selama 5 tahun aku hidup di puncak dan sekarang… kalian memutuskan bahwa aku sudah tidak diperlukan lagi?"

Ruangan itu terang benderang dengan segala ornamen kaca yang diukir menyerupai berlian. Cahaya dari lilin merambat ke segala arah dan dipantulkan oleh setiap kaca yang ada di ruangan sehingga membuat sekujur ruangan tampak seperti terbakar oleh api yang membara.

Di tengah ruangan, Nine duduk diatas singgasana dengan menyandarkan kakinya pada tumpuan kaki yang nyaman. sembari menopang dagunya dengan satu tangan dia menatap lurus kearah seseorang yang baru saja menghabisi seluruh anak buahnya yang berjaga di lantai bawah dan kini datang untuk menghancurkan kepalanya, Luslec.

"Mengejutkan sekali Kau datang hanya untuk membunuhku. Ahh… bukan, Kau bukan…. Hah! Ini tidak lucu. Sama sekali tidak lucu brengsek!"

Untuk sesaat keduanya saling diam mengamati satu sama lain dan tanpa peringatan apapun singgasana yang Nine duduki meledak begitu saja. Untungnya Nine meloncat cepat ke udara demi menghindari serangan tak kasat mata tersebut. Serangan itu memang tidak akan membunuhnya tapi kalau kena tetap saja sakit.

Serangan berikutnya datang begitu saja dari tangan Luslec namun kali ini Nine sudah lebih siap. Dia menarik keluar dua buah tonfa dari meja yang ada di dekatnya dan menggunakan itu untuk menahan tembakan.

"Kalau Kau pikir membunuhku semudah itu… ahh, bodoh sekali aku bicara denganmu."

Nine membungkuk, bersiap untuk maju menerjang namun kemudian dia mendengar suara deru yang begitu kencang, suara dari mesin motor balap. Suara itu semakin dan semakin dekat diwarnai dengan suara teriakan manusia dan tiba-tiba saja dinding di belakangnya hancur seolah terkena ledakan dinamit dan yang keluar dari ledakan itu adalah sebuah motor balap dengan suara berisik yang dinaiki oleh Firmi. Dia menerobos masuk dengan senyum liar di wajahnya.

"Surprise motherfucker!"

***


Dulu, 10 tahun yang lalu, sebuah komet besar memasuki atmosfer bumi. Komet tersebut dinilai amat berbahaya karna mengeluarkan radiasi yang bisa mengganggu kehidupan biologis sehingga bila komet itu sampai ke dasar tanah maka kerusakan besar akan terjadi dan membunuh seluruh makhluk hidup dalam radius yang tidak main-main.

Namun disitulah keajaiban datang. Komet yang ditakuti oleh para astronom itu jatuh tepat ke kawah gunung berapi dan panas dari magma bumi berhasil menjinakkan sampah luar angkasa tersebut. Satu tahun kemudian gunung berapi tersebut mengalami erupsi dan memuntahkan seluruh laharnya. Saat erupsi itu selesai para peneliti dengan segera mengecek apa yang tertinggal disana dan di dasar gunung berapi lelehan komet tersebut sudah menunggu.

Benda itu berwarna hitam dan memancarkan aura yang begitu berbahaya sampai-sampai butuh waktu lama bagi para peneliti untuk bisa mendekatinya. Meski terlihat seperti logam namun tak ada apapun di dunia ini yang menyerupai material tersebut. Itu benar-benar sebuah material baru yang berisi berjuta kemungkinan bagi umat manusia. Karnanya, benda itu disebut 'ALLTHING'.

5 METER PERSEGI

Sebuah unsur baru yang mungkin saja menjadi awal dari revolusi besar-besaran di seluruh dunia. Karna rumor itulah banyak pihak yang mengirim utusan untuk mencuri benda tersebut. Setiap negara mengirim pasukan terbaiknya dan tak kurang dari ribuan tentara mencoba untuk mencurinya namun semuanya berakhir dengan mengenaskan. Bukan karna mereka tak berhasil mencurinya namun karna siapapun yang memiliki benda tersebut seolah dikutuk dengan kesialan tanpa batas.

Akhirnya lelehan Allthing tersebar di banyak tempat dan dengan mengorbankan banyak nyawa Allthing kemudian ditempa menjadi 12 jenis senjata. Anehnya, kutukan Allthing seolah lenyap seiring dengan penempaan tersebut dan ke-12 senjata itu pun dinamai senjata 12 bulan karna penempaannya yang membutuhkan waktu 12 bulan.

Keseluruhannya adalah senjata yang hebat, tak ada keraguan tentang itu. Meski demikian tak ada apapun yang spesial. Senjata-senjata itu tak lebih dari sekedar senjata.

Namun sebuah pemahaman baru telah memasuki pikiran Eurasia Blossom. Hal yang membuatnya sadar akan satu kemungkinan lain dari senjata 12 bulan adalah fakta bahwa Sinian sanggup membunuh si manusia abadi Igarasia Lucius menggunakan salah satu dari senjata tersebut. Dengan mempertimbangkan hal itu diapun sampai pada satu kesimpulan.

Allthing adalah sebuah hadiah yang Tuhan kirimkan demi melenyapkan hal yang seharusnya tidak ada di bumi ini. Projek keabadian yang mereka mulai membuat tak ada apapun di dunia ini yang bisa membunuh mereka namun itu artinya sesuatu yang berasal dari luar dunia ini mampu mengakhiri kehidupan mereka dan Allthing ada untuk itu.

Allthing, 12 senjata bulan, keberadaan semua senjata itu semata-mata ditujukan untuk mengakhiri seluruh kegilaan ini dan sekarang, dengan Taurus Knuckle di tangannya, Firmi akan mencabut nyawa dari seseorang yang sudah memulai seluruh penderitaan mereka.

"Yamato Kuon, banyak-banyaklah berdoa karna hari ini akan jadi hari kematianmu."

Tbc….
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
5 METER PERSEGI
21-10-2021 00:44
Kenapa yg cerita di sebelah hilang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ih.sul dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
5 METER PERSEGI
21-10-2021 02:45
Kok jadi saling bunuh para nunber yak
profile-picture
profile-picture
ih.sul dan situmeang96 memberi reputasi
2 0
2
5 METER PERSEGI
24-10-2021 00:23

High Voltage

Suara dua logam beradu bergema di seluruh ruangan dikala Firmi dan Luslec beradu pukulan. Gema dari baradunya dua pukulan tersebut ikut mematikan lilin di sekitarnya dan membuat ruangan itu menjadi sedikit lebih gelap.

"Ya Tuhan! Kau ngapain sih disini?" tanya Firmi dan mendorong pukulan mereka kearah Luslec. Luslec tidak menjawab. Wajahnya yang tertutup topeng itu terdengar begitu hening seolah tak ada niat untuk mengatakan apapun. "Kalau ditanya itu JAWAB!"

Dengan kakinya Firmi mengirim Luslec mundur beberapa langkah. Kendati demikian Luslec masih diam. Firmi jelas merasa aneh.

"Percuma bicara dengan benda itu," ucap Nine yang bersandar di dinding mengamati dua orang yang mencoba membunuhnya saling serang satu sama lain. "Dia bukan Luslec yang Kau kenal. Yang itu cuma satu badan tiruannya."

"Ha?"

Firmi harus berlari dan melompat demi menghindari serangan Luslec sementara Nine menjelaskan lebih jauh.

"Singkatnya dia itu cuma robot yang punya kesadaran manusia. Jika tubuhnya hancur kesadarannya bisa dipindahkan ke robot lain. Kalau tidak salah dia punya sekitar seratus tubuh cadangan dan ini salah satunya."

"Kau pasti bercanda!"

Satu Luslec saja sudah cukup untuk menciptakan bencana berskala nasional dan sekarang Firmi diberitahu bahwa ada 100 Luslec diluar sana. Ini tidak lucu sama sekali.

"Tapi persetanlah. Nyawamu lah yang kuincar sekarang."

Dengan menggunakan tatakan lilin yang berserakan dilantai Firmi menghujani Nine dengan kobaran api. Nine menghindar dan tanpa dia sadari seluruh ruangan sudah berubah menjadi sangkar api dengan dua pembunuh mengincar nyawanya.

"Sayangnya aku tidak punya niat untuk mati hari ini. kenapa tidak kalian berdua saja yang mati?" tanya Nine dan tanpa diminta dia menghancurkan lantai dengan satu pijakan dari kakinya. Lantai batu itu retak dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Saat Firmi sadar aroma apa itu dia langsung melarikan diri.

"Membunuhku? Jangan besar kepala kalian semua. Kalianlah yang akan mati."

Dan bersamaan dengan peringatan Nine seluruh bubuk mesiu yang tersembunyi di bawah lantai pun tersulut oleh api dan tanpa siapapun mengharapkannya sebuah ledakan besar tercipta tepat di jantung Chinatown, melahap semua yang ada di dalamnya.

***


"Wah wah wah, itu ledakan yang besar. Dia menghabiskan milyaran untuk membangun tempat itu dan menghancurkannya begitu saja. Kuon memang benar-benar sesuatu."

Dari bangunan tinggi yang cukup jauh, Isaac Westcott memandang jauh kearah bangunan yang baru saja meledak dengan suara menggelegar yang bahkan cukup untuk membuat Isaac menutup telinga. Dia tersenyum, lebih kearah nyengir, dikala melihat orang-orang yang begitu panik akan ledakan yang terjadi tiba-tiba.

"Dan bagaimana disana Vivi? Apa ada sesuatu yang menyenangkan?" tanyanya melalui ponsel.

[Ya, ada orang gila yang memasang iklan obat peninggi badan di situs panti jompo]

"Itu kedengarannya menarik. Tapi bukannya Kau masih dalam masa pertumbuhan? Apa perlu obat seperti itu?"

[Kaulah yang harusnya membeli itu dasar pendek! lagipula sedang apa sih kita disini? Mencuri perusahaan lain?]

"Tidak tidak tidak. Kita disini untuk tugas yang lebih tidak menyenangkan. Ayah menyuruh kita untuk melenyapkan Kuon dari dunia ini."

[…. Dan alasannya?]

"Jarang sekali bagimu menanyakan alasan Vi. Apa Kau keberatan dengan perintah itu? bagaimanapun Kuon bukan sekedar orang asing bagi kita."

[… tidak juga. Tapi, bukannya belum lama ini Arataf disingkirkan? Kenapa Kuon juga?]

"Itu karna dia melanggar aturan."

[Aturan yang mana?]

"Keabadian." Mendadak, ekspresi Isaac berubah suram. Dia menutup matanya dan berbalik agar tidak perlu memandang asap yang membumbung tinggi dari tempat ledakan. "Keabadian yang kita punya adalah rahasia tingkat tinggi dan membicarakannya pada orang lain adalah pelanggaran. Meski demikian, Kuon malah membuat adiknya menjadi abadi, seperti kita."

[HAAAAAA????????!!!!!!]

Suara teriakan Vivi begitu keras sampai-sampai Isaac harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Setelah memastikan bahwa teriakannya berakhir Isaac mendekatkannya lagi.

[Tunggu tunggu tunggu tunggu. Bagaimana bisa? Cuma Ayah yang tahu cara membuat tubuh seseorang abadi!]

"Yeah… kemungkinannya adalah dia mendapatkan formulanya dari Akefu Satoru. Atau, yang lebih parah, dari Blossom sendiri."

[Blossom? Si nomor 3?]

"Benar. Ada kemungkinan dia ada disini jadi menangkapnya akan jadi prioritas ketiga kita. Tapi sebenarnya itu misi yang mustahil. Orang itu bahkan tau berapa banyak butiran nasi yang kita makan pagi ini jadi mustahil untuk bisa menangkapnya. Yang penting sekarang bagaimana dengan hal yang kusuruh Kau kerjakan? Sudah selesai?"

[Ya, aku sudah mengirim perintah evakuasi ke ponsel semua orang dalam radius 3 kilometer. Aku juga sudah membajak jalur komunikasi polisi sehingga mereka tidak akan menerima informasi apapun dan sebagai bonus akan kukacaukan sinyal internet di seluruh Chinatown agar tak ada yang bisa mengupload ledakan itu ke sosmed. Katakanlah kita punya 2 atau 3 jam]

"Kerja bagus. Sekarang pukul 12 siang. Mari kita makan siang dulu sebelum bergerak. Aku lapar."

[Bagaimana bisa Kau makan dengan tenang dalam situasi begini?]

"Jangan pedulikan hal yang sepele. Aku sudah mengalami hal yang lebih buruk."

[Hahh… apa yang sebenarnya terjadi pada kalian semua?]

Tbc….
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lavious dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
5 METER PERSEGI
25-10-2021 15:49
Mantap, para number ngumpul
profile-picture
situmeang96 memberi reputasi
1 0
1
5 METER PERSEGI
27-10-2021 00:34

High Voltage 2

Di sebuah rumah sakit beberapa kilometer jauhnya, Marcin tengah mencoba menggunakan pakaiannya dengan kaku. Sejak kejadian di rumah sakit flower capital dia harus menjalani pengobatan yang tidak main-main karna beberapa tulang rusuknya yang patah dan setelah 3 bulan penuh dia akhirnya bisa mengakhiri rawat inapnya namun hari bahagia ini malah diwarnai erang kesakitan.

"Auhh… akkhh!"

"Untuk kesembilan belas kalinya hari ini. Kau kenapa sih? Sakit perut?" tanya Miku di tepi ranjang tempat tidurnya.

"Bukan… maksudku, itu benar juga tapi ada yang lebih sakit. Mataku sakit," jawab Marcin.

"Marcin ku sayang, Kau bahkan tak punya bola mata dibalik kelopak mata itu jadi bagaimana bisa matamu sakit?"

"Ya aku tidak tahu. Yang jelas rasanya sakit. Setahun ini rongga mataku jadi sering mengalami yang seperti ini."

"Mungkin itu pertanda sudah waktunya Kau cari donor mata. Uangmu banyak kan? apa Kau tidak mau melihat dunia lagi?"

"Bukannya aku tak mau tapi dokter yang menanganiku dulu bilang sel sel syaraf di sekitar mataku sudah mati jadi donor bola mata pun percuma."

"Bukannya matamu diambil secara ilegal? Siapa nama dokter yang mengoperasimu?"

"Umm… mario? Ahh, Marco. Ya, Marco."

Miku mengerutkan dahinya. Ekspresinya tampak begitu serius sampai-sampai kedua ujung alisnya nyaris bersentuhan. Menyadari keheningan sesaat itu Marcin pun angkat bicara.

"Kau kenal nama itu?"

"… ya…. Mungkin."

Dan mendadak, Marcin bangkit dari duduknya, berjalan kearah pintu dan membukanya dengan cepat. Disana dia menemukan seorang pria 40 an yang tampak begitu panik.

"Siapa Kau?" tanya Marcin.

"Hahaha, cuma orang yang kebetulan lewat," jawabnya namun Miku yang sudah menyusul ke ambang pintu segera berseru.

"Dokter Marco?!"

"Oh yeah… hai."

Setelah kecanggungan yang tidak menyenangkan ketiganya duduk saling berhadapan di ruang inap tersebut. Diam…. dan diam. tak ada yang berani memulai percakapan lebih dulu sampai akhirnya Marco sebagai orang dewasa memecah keheningan tersebut.

"Um, biar aku memperkenalkan diri lagi. namaku Marco, seorang dokter, kadang-kadang aku juga kerja jadi guru. Meski Kau tak ingat tapi akulah yang mencangkok keluar matamu Marcin. dan…." Dia memandang Miku sejenak seolah meminta konfirmasi. Miku mengangguk dan berkata, "Tak apa, dia tau."

"Dan sebagai tambahan, aku merupakan mantan peneliti Lambda," sambungnya. "Dan aku harus bilang. Aku senang sekali melihatmu masih hidup, nomor 001."

"Bisa Kau tidak sebut nama itu? aku dipanggil Miku sekarang," balas Miku dengan ekspresi jijik.

"Oh ya, William memberimu nama. Aku tahu itu dan aku tak bisa menyalahkan jika Kau membenciku."

"Kau tahu itu tapi berani sekali Kau kemari. Dan kenapa pula Kau masih hidup? aku yakin Sinian harusnya sudah membunuh kalian semua."

"Err… itu sulit dijelaskan tapi tolong dengarkan aku dulu."

"Aku tidak sudi."

Dan kemudian Miku memasang headset nya dan memutar musik keras-keras, meninggalkan Marco dan Marcin dalam kebisuan.

"Maaf, sifatnya memang begitu," kata Marcin.

"Tak masalah. Aku malah senang melihatnya bisa marah. Kau juga sudah tumbuh besar Marcin. Apa Kau bisa hidup dengan baik tanpa bisa melihat?"
Marcin terdiam untuk sesaat. Jika ditanya apakah hidupnya baik-baik saja meski tak bisa melihat maka jawabannya jelas tidak.

"Aku bersyukur," jawab Marcin kemudian. "Karna aku tak bisa melihatlah aku bisa bertemu Miku. Lagipula itu bukan salahmu aku tak bisa melihat."

"Syukurlah kalau begitu."

Marcin tersenyum kecil namun senyum itu hilang dengan cepat setelah mengingat kembali hal yang mereka perdebatkan lagi.

"Sebelum itu Dok, ada yang ingin kutanyakan."

"Apa saja Nak, apa saja."

"Aku yakin sekali mataku merasa sakit. Apa artinya itu?"

Kali ini giliran Marco yang terdiam. Kedua bola matanya berputar-putar seolah ingin mengetes apakah matanya sungguh ada disana dan kemudian dia terlihat bingung.

"Kau yakin itu bukan imajinasimu?"

"Yakin."

"Hmm…. Mari kita lihat faktanya lagi. Saat kecil Kau terkena kanker mata dan agar sel kankernya tidak menyebar aku pun mengangkat kedua matamu. Kau mungkin tak tahu hal ini tapi sesungguhnya matamu berhasil dibersihkan dan dicangkokkan pada orang lain."

"Orang lain? Orang lain memakai mataku?!"
"Ya, itu benar. Jika orang itu masih hidup maka cuma itu penjelasan yang masuk akal. Ini hanya teori tapi kurasa matamu sakit karna bola matamu berada dekat denganmu."

"…. Ya ampun."

Marcin menutup kedua matanya dan mencoba untuk memproses semua informasi ini. Marco memberinya waktu untuk berpikir dan kembali ke Miku. Matanya mencoba untuk mengirimkan sinyal memelas namun Miku masih membatu dan tidak memandangnya. Akhirnya Marco pun melepas headset tersebut dengan paksa.

"Dengar bocah, aku tak peduli kalau Kau membenciku dan kalau Kau mau nyawaku ambil saja sesukamu tapi dengarkan aku! Kau punya tugas untuk dilakukan."

"Dan kalau aku menolak?"

"Kehancuran dunia."

"Haha, lucu."

"Aku serius. Aku perlu bantuanmu untuk menyadarkan si nomor 012."

Begitu angka tersebut disebut Miku akhirnya memberikan fokusnya pada pembicaraan.

"Dia disini?" tanya Miku.

"Ya, dia akan datang tak lama lagi."

"Kalau begitu ayo gerak cepat. Tunjukkan jalannya."

Sifat agresifnya itu membuat seolah-olah Miku yang tadi dan sekarang adalah dua orang yang berbeda. Dia mengenakan jaket kulitnya dan memasang sepatu dengan buru-buru. Menanggapi itu Marco mau tak mau merasakan sesuatu yang kompleks di dalam dirinya.

"Kau benar-benar peduli padanya ya?"

"Bukannya itu wajar bagi saudara untuk saling peduli?"

"Saudara… aku suka kata itu."

100 kilometer jauhnya dari tempat mereka berada, Aiwill menatap langit di kejauhan melalui jendela jet yang dia tumpangi. Mungkin, dia juga menyukai kata tersebut.

Tbc….
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
5 METER PERSEGI
27-10-2021 00:35
Ummm... Ceritanya nyebar kemana mana ya? Maklum sajalah. Soalnya arc ini akan jadi puncak bagi cerita banyak orang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lavious dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 156 dari 158
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia