Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
22
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/616694e149f48d316f37e313/kejar-wisuda
Dulu, ada seorang dosen yang pernah berkata begini padaku: Ada satu golongan mahasiswa yang tidak akan bahagia di hari wisuda. Mereka adalah golongan orang idiot. Kenapa? Karna orang idiot tidak akan wisuda. *** Bagi seorang mahasiswa, wisuda adalah puncak dari seluruh perjuangan dalam menuntut ilmu di universitas. Seluruh usaha, tawa dan air mata yang mereka keluarkan selama perkuliahan akhirnya
Lapor Hansip
13-10-2021 15:12

KEJAR WISUDA

icon-verified-thread
KEJAR WISUDA

Dulu, ada seorang dosen yang pernah berkata begini padaku: Ada satu golongan mahasiswa yang tidak akan bahagia di hari wisuda. Mereka adalah golongan orang idiot. Kenapa? Karna orang idiot tidak akan wisuda.

***


Bagi seorang mahasiswa, wisuda adalah puncak dari seluruh perjuangan dalam menuntut ilmu di universitas. Seluruh usaha, tawa dan air mata yang mereka keluarkan selama perkuliahan akhirnya terbayar disaat rektor memindahkan tali toga mereka dari kiri ke kanan dengan harapan agar setelah lulus mahasiswa tidak hanya menggunakan otak kiri tapi juga otak kanan.

Saat ini saja ada yang sedang menangis, mengelap ingus, sarapan diam-diam atau malah pusing memikirkan harga tiket pesawat untuk pulang. Meski pikiran kami aneh-aneh tapi yang jelas kami semua kompak menantikan satu hal yakni menanti saat nama kami dipanggil untuk maju ke depan.

"DAN SAMBUTLAH LULUSAN TERBAIK, RIZKI RAHMAT BERKAH!!"

Tepuk tangan meriah pun langsung terdengar begitu nama Rizki, si anak kebanggaan jurusan teknik, disebut. Serempak kami semua mengalihkan pandangan untuk melihatnya berjalan menuruni tangga dan menaiki podium untuk menjadi yang pertama menerima kebanggan tersebut.

Lulusan terbaik. Semua orang pasti menginginkan julukan tersebut dan jika bisa dapat aku pasti akan melompat dari atap rusunawa saking senangnya namun apa daya? Ipk ku cuma dua koma.

Meski demikian, Rizki sama sekali tidak terlihat senang. Menjadi teman dekatnya selama 4 tahun membuatku tahu betul bahwa dia hanya memasang senyum palsu seperti yang biasa dia pakai saat ada yang meminta bantuannya untuk mengerjakan laporan.

Acara wisuda itu berakhir dengan kami berfoto satu angkatan. Ekspresi Rizki masih tidak berubah, hanya tersenyum tanpa kebahagiaan di matanya. Mungkin dia adalah satu-satunya lulusan terbaik dalam sejarah yang tidak senang dipanggil begitu.

"Oi Dul, balik ke rusun yuk."

"…. Yuk."

Rusunawa. Kompleks rumah susun yang sudah menemani suka duka kami di Universitas Terpadu Ulama Timur atau yang kami singkat menjadi UTUT. Selagi kami berjalan menuju tempat itu kuingat kembali memori kami disini yang mana penuh dengan… ya ampun, tak ada kata lain selain keanehan.

***
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk untuk memberikan balasan
KEJAR WISUDA
13-10-2021 15:12
Diubah oleh ih.sul
0 0
0
KEJAR WISUDA
13-10-2021 15:14

Bab 1 Part 1

4 tahun yang lalu ayahku meninggal. Sebagai anak laki-laki tertua akupun mendapat beban berat untuk mendapat pekerjaan yang baik dan karna itulah aku merantau ke jurusan teknik kampus UTUT. Kenapa jurusan teknik? Tak ada alasan khusus. Aku hanya dengar kalau anak teknik gajinya besar-besar.

Disaat teman-teman yang lain mencari kos-kosan di area luar kampus aku memilih tinggal di rusunawa UTUT. Selain karna dibangun di area dalam kampus tempat itu juga punya sewa yang murah lengkap dengan air, listrik, kamar mandi luar dan tentu saja wifi. Rusunawa UTUT terdiri dari 4 lantai yang mana semakin tinggi lantainya semakin murah pula sewanya. Karna itulah aku memesan kamar di lantai empat.

Aku masih ingat betul betapa beratnya nafasku dikala harus mengangkat koper yang berisi seluruh pakaian dan perlengkapan ke lantai empat dengan menaiki tangga. Dikala kakiku seperti mau patah si ketua asrama yang bernama Malik malah sibuk menceritakan sejarah rusunawa yang jujur aja nggak penting.

"Kau tahu Antonio? Fredric? Richard? Mereka semua dulu tinggal di rusunawa ini. Rusunawa kita sudah mencetak alumni-alumni top yang setiap minggu tampil di majalah fashion jadi Kau… siapa tadi namamu?"

"Abdul. Abdul Sodiqin."

"Nah Abdul! Kau juga harus persiapkan celana dalammu. Jangan sampai malu-maluin nama rusunawa UTUT saat difoto nanti."

Disaat itu aku bertanya-tanya, apa hubungannya celana dalam dengan foto di majalah fashion? Lagian aku akan masuk jurusan teknik, bukan jurusan fashion.

"Dan disinilah kamarmu~ ohh, sudah ada orang di dalam."

Satu kamar di rusunawa dihuni oleh tiga orang. Ruangannya memang cukup luas untuk bertiga namun separuh dari ruangan tersebut sudah ditutupi oleh buku, buku dan buku.
Itu adalah pertemuan pertamaku dengan Rizki. Disaat itu dia tengah komat-kamit menghafal segala yang ada di dalam buku sampai-sampai tak sadar bahwa kami berdua sedang terbengong-bengong melihatnya seperti babon. Buku-buku yang ada di kasur, di meja dan di lantai semua miliknya. Kira-kira bagaimana caranya mengangkat semua buku tebal itu ke lantai empat?

"Abaikan saja dia. Saat Kau masih maba Kau akan mati-matian belajar dengan harapan bisa lulus tiga setengah tahun tapi setelah satu semester Kau akan sadar bahwa masuk jurusan teknik adalah mimpi buruk. Bersyukurlah Kau tidak masuk jurusan teknik," ucap Malik.

"Aku jurusan teknik," tegasku dan pandangannya padaku berubah. Itu persis seperti ekspresi seekor ayam yang melihat telurnya digoreng.

Dan entah mengapa, dia mulai menepuk pundakku dengan penuh kasih seolah-olah itu akan jadi terakhir kali dia melihatku. Aku tak mengerti mengapa dia bersikap seperti itu namun jawabannya kutemukan beberapa hari kemudian.

***
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KEJAR WISUDA
13-10-2021 15:19

Bab 1 Part 2

"LARI WOII LARII!! LU COWOK BUKAN??!!!!"

"NGAPAIN OSPEK PAKE BEDAK??!! MAU SOK CANTIK YA??!"

"APA TENGOK-TENGOK?! PANDANGAN LURUS KE DEPAN!!"

Jurusan teknik terkenal dengan atmosfernya yang keras. Kalau Kau berharap masa-masa kuliahmu diisi dengan cewek-cewek cantik bening maka jangan pernah masuk ke jurusan teknik karna jumlah perempuan di jurusan teknik itu bisa dihitung dengan jari. Yang ada di jurusan teknik hanyalah senior-senior berotot dan maba-maba botak dengan kalung petai di lehernya.

Ya, perpeloncoan disaat ospek itu masih ada dan mungkin akan selalu ada. Setidaknya kami harus bersyukur karna kalung yang dipakai terbuat dari pete, bukan dari sekrup dan obeng. Pasti kalungnya akan berat. Apalagi sekarang kami harus berlari mengelilingi lapangan sepuluh kali dengan alasan solidaritas. Solidaritas kampret.

Dan diantara kerumunan mahasiswa baru yang tengah berlari, dia tertinggal paling belakang.
Rizki Rahmat Berkah. Sudah rezeki, rahmat, berkah lagi. Banyak yang bilang nama adalah doa dari orangtua dan namanya adalah gabungan dari seluruh harapan agar hidup bisa berjalan mudah namun terlihat jelas bahwa sekarang dia sedang tidak mudah. Sudah berkali-kali senior meneriakinya agar berlari lebih cepat namun wajahnya sudah benar-benar pucat. Mungkin dia akan pingsan.

Aku sendiri merasa nyaris mampus hanya dengan mengelilingi lapangan yang luasnya separuh ukuran lapangan sepakbola itu satu kali. Ingin rasanya aku mengutuk kakak-kakak panitia itu namun kuurungkan begitu melihat otot lengan mereka.
Bagi kami keseratus mahasiswa baru, hari pertama ospek terasa seperti neraka namun semua itu berubah karna satu orang.

"WOOOIIIIII SIAPA SURUH PETE-NYA DIMAKAN?!!"

Mahesa Brahmantya, si anak pendek berkulit gelap yang berlari paling cepat sembari memakan petai yang seharusnya dia pakai sebagai kalung. Kami tak mengerti kenapa kami harus memakai kalung petai di hari ospek tapi kami jauh lebih tidak mengerti kenapa Mahesa begitu berani untuk memancing amarah senior-senior itu.

"Lo? Petai kalau nggak dimakan buat apa lagi Kak?"

"BUAT CUKUR KUMIS BAPAKMU!! KAN UDAH DIBILANGIN BUAT JADI KALUNG!!"

"Lah? Dijadiin kalung buat apa Kak? Mendingan kita duduk terus makan bersama. Itu baru memperkuat solidaritas."

"NGGAK USAH BANYAK OMONG DEH! BARU DISURUH GITU AJA NGELAWAN! JAMAN KAMI DULU LEBIH PARAH TAHU!!"

"Ya saya kan nggak tahu. Lagian memangnya kita adu nasib? Kalau mau adu nasib saya ceritain deh kisah saya diputusin pacar gara-gara mulut bau petai."

Dihari itu, Mahesa menjadi pahlawan kami semua. Bukan hanya karna dia mengatakan uneg-uneg kami pada si senior tapi karna dia juga menyelamatkan kami dari sembilan putaran ekstra. Berkat keberaniannya itu Mahesa harus berdiri dan menghormat bendera sampai ospek selesai namun karna kami sudah diajarkan solidaritas kami ikut menghormat bendera bersamanya. Solidaritas is the best.

Nama Mahesa pun menyebar cepat ke seluruh jurusan teknik namun lebih kearah yang buruk daripada baik. Gara-gara dia yang sudah mengambil seluruh perhatian para kakak tingkat kami berhasil menjalani ospek dengan lebih mudah.

Di hari pertama ospek itu Mahesa terlihat membawa banyak sekali barang dan jawabannya kutemukan saat kembali ke rusunawa. Ternyata dia satu kamar dengan aku dan Rizki dan kedatangannya menebar bau petai kemana-mana.

"Hellow guys~ nama gue Mahesa Brahmantya, bukan Brahmantyo. Bay de wey ada nggak yang mau beli petai?"

Sekampung-kampungnya aku, Mahesa jelas lebih terlihat kampungan. Penampilannya sebelas dua belas dengan si Entong anak betawi lengkap dengan sarung dan seikat petai di tangan. Tapi buat apa dia bawa petai kemari? Mau dijual?

"Abdul Sodiqin."

Demi kesopanan aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman dan langsung menyesalinya. Bau petai yang menempel di tanganku tidak hilang sampai 3 hari lamanya.

"Rizki Rahmat Berkah."

Rizki ikut memperkenalkan dirinya namun dia tidak mengulurkan tangan. Mungkin hidungnya sudah mencium bau-bau petai itu atau lebih sibuk membuat catatan rumus bangun datar segi sepuluh.

Dari penampilannya saja banyak yang akan mengira Mahesa itu kolot dan idiot namun jangan nilai mawar dari durinya. Mahesa adalah seorang pemikir sejati yang kurang ajar. Itu adalah fakta yang aku sadari setelah kami memasuki kelas untuk pertama kalinya.

***
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan jiyanq memberi reputasi
2 0
2
KEJAR WISUDA
13-10-2021 16:40
Kalau ente yg cerita, ane merasa yakin bakal menarik, Gan. emoticon-Toast
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KEJAR WISUDA
13-10-2021 17:10
Ada satu golongan mahasiswa yang tidak akan bahagia di hari wisuda. Mereka adalah golongan orang idiot. Kenapa? Karna orang idiot tidak akan wisuda




Wkwkwk..
Dl ane kl boleh milih ndak ikut wisuda.
Toh cuma cepet dan ijasah bisa diambil di sekretriatan.
Pokok nya uang, beberapa ratus itu bagi kami sgt besar.
Yah... Ongkos buat hidupt cuma 250 (sdh biaya kost, mkn, buku, transportasi dll).
Sebagian de kami nyambi jd penjaga kost (ada kerusakan dipanggil dan dibayar) atau sopir sayuran.
Bisa lulus nilai 2.75 pun sungguh nikmat.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
KEJAR WISUDA
13-10-2021 18:25
Wisuda siap siap memasuki kerasnya kehidupan.penuh persaingan
Diubah oleh meimeiput
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KEJAR WISUDA
14-10-2021 11:38
ndeprok dulu di thread kejar wisuda
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
1 0
1
KEJAR WISUDA
14-10-2021 13:09

Bab 1 Part 3

Perkuliahan. Tidak seperti masa-masa Sma disini mahasiswa lah yang harus pergi dari kelas ke kelas untuk belajar dan karna kami bertiga satu jurusan kami pun menghadiri kelas yang sama di hari yang sama.

Mata kuliah pertama yang kami dapatkan adalah mata kuliah pengantar teknik industri. Kalau tak salah ingat nama dosennya… Prof. Dr. Ir. Mulya Wirawan ST. S.Kom. A.P.Kom. A.Ma.Pd. MT.
blablabla…. Saking banyak gelarnya sampai-sampai aku yakin KTP nya tidak muat menampung
semua gelar itu.

Kakak-kakak ospek sudah memperingatkan kami pada dosen yang satu ini. Dia adalah dosen yang mampu mengirim mahasiswanya terbang ke alam mimpi. Di usianya yang sudah hampir memasuki
masa pensiun dia masih mengadopsi metode pendidikan kolot yakni guru membaca dan murid mendengarkan.

Tepat setelah dia memperkenalkan diri dengan semua gelar-gelarnya dia pun mulai membaca buku catatan dan satu persatu mahasiswa menutup mata dan tertidur. Pasalnya, Pak Mulya membaca catatan yang harus kami hafal itu dengan nada yang bukan main menjemukannya.
Rasanya seperti mendengar pidato pelantikan pejabat yang penuh janji-janji semanis madu namun tak bisa dinikmati. Semua yang dibacakan Pak Mulya adalah materi yang akan keluar dalam ujian tapi aku sama sekali tak paham dia bicara apa.

Dan begitulah, selama 90 menit, kami pun tertidur lelap ditemani alunan ninabobo yang memabukkan.

"Dan sekarang latihan soal!"

Dan seperti ada yang menyalakan saklar di dalam kepala kami, rasa kantuk itu hilang begitu saja begitu mendengar kata 'latihan soal.

"Budi ingin menggunakan lift. Jika lift tersebut mampu membawa 10 orang sekaligus dan perjalanan dari lantai satu ke lantai dua adalah 10 detik dan Budi ada di antrian nomor 70 maka berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk sampai di lantai dua?"

Biasanya sih anak yang rajin lah yang akan sukarela menjawab pertanyaan dari dosen. Entah agar namanya diingat atau demi nilai tambahan. Makanya aku sangat terkejut saat melihat Mahesa mengacungkan tangannya.

"Budi naik tangga saja Pak!"

Jawabannya langsung disambut oleh gelak tawa dari kami semua. Entah apa yang ada di pikiran anak ini sampai-sampai bisa menjawab dosen seperti itu. Kalau dosennya aku pasti aku bakal marah.

"DIAM KALIAN SEMUA!!"

Dan benar, Pak Mulya langsung kelihatan murka. Untuk sejenak aku mengira dia akan melontarkan kata-kata kebun binatang namun ternyata Pak Mulya bisa menguasai diri. Pengalamannya menangani anak-anak kurang ajar pasti sudah banyak.

"Ada yang bisa jawab?" tanyanya lagi.

"Jawaban yang serius!" tegasnya. Dengan cepat tangan Rizki yang duduk di meja paling depan langsung teracung tinggi.

"Jika Budi di antrian 70 itu artinya dia termasuk gelombang ke tujuh. Untuk bergerak naik turun lift butuh 20 detik jadi 7 dikali 20 dan dikurang 10 menjadi 130 detik Pak."

"Bagus, bagus sekali. Lift adalah salah satu contoh kecil penemuan anak-anak teknik yang amat berguna bagi kehidupan. Jika kalian belajar sungguh-sungguh maka kalian juga pasti bisa membuat lift. Jawaban bagus nak."

Untuk formalitas kami pun bertepuk tangan untuk Rizki dan disaat tepuk tangan mereda, tangan itu teracung lagi.

"Apa lagi?"

Tampaknya Pak Mulya sudah terlanjur tidak suka pada Mahesa. Kami pun menanti-nanti apa yang akan terjadi.

"Tapi Pak, bukannya kalau kita melihat antrian lift yang panjang lebih gampang naik tangga aja? Kenapa harus capek-capek ngitung waktu yang dibutuhkan lift?"

"Nggak usah sok pintar. Turun tangga aja sana!"

"Hmm? Maksudnya?

"Nggak ngerti? Maksudnya KELUAR!"

Mahesa sukses memancing amarah Pak Mulya. Sebenarnya apa yang dia katakan itu benar tapi di kelas, ucapan dosen adalah hukum. Itu adalah pelajaran pertama yang kami dapatkan dalam perkuliahan, jangan pernah membuat dosen marah.
Alhasil Mahesa pun langsung diberi nilai E dalam mata kuliah Pak Mulya. Meski begitu dia tampak sama sekali tidak peduli.

"Kalau dosennya ngajar kayak gitu buat apa masuk kelas? Tinggal ambil aja catatannya, fotokopi terus baca sendiri."

Itulah jawabannya jika kami menanyakan hal itu. Memang benar sih, kalau dosennya cuma ngoceh nggak jelas buat apa juga masuk kelas?
Entah apakah Mahesa itu jenius atau idiot namun sifatnya itu membuat banyak orang suka padanya.

Setiap ada waktu luang kami akan mendengarkannya bercerita apa saja. Mulai dari kisah orang-orang di kampungnya, kisah cintanya dan juga kisahnya saat pertama kali datang ke kota.

"Pertama kali aku lihat lampu merah, sumpah aku bingung. Katanya merah itu berhenti, hijau itu jalan, tapi kenapa mobil-mobil itu terus jalan padahal lampu merah? Kalau orang itu terus yang pake jalan kapan aku bisa nyebrang?!"

"Terus? Bisa nggak Kau nyebrang?"

"Bisa dong. Mau tau gimana caranya?"

"Gimana gimana?"

"Aku ambil kertas besar terus aku tulis

'AWAS RAZIA'. Pas ngelihat itu langsung mereka putar arah. Aneh kan?"

"HAHAHAHAHAHAHA!!"

Keluguan dan kekonyolannya jelas merupakan hiburan bagi kami di tengah tekanan tugas dan laporan. Mahesa yang sudah terbebas dari mata kuliah dengan jumlah tugas terbanyak punya waktu luang lebih banyak dari kami namun bukan berarti dia bersantai-santai, ternyata dia cukup serius dalam belajar.

"Oi Rizki, arduino ini apaan sih?" tanya Mahesa di suatu malam di rusunawa.
Rizki, yang sedang berkutat dengan laporan, menjawab dengan malas-malas.

"Arduino adalah pengendali mikro single-board yang bersifat sumber terbuka, diturunkan dari wiring platform, dirancang untuk memudahkan penggunaan elektronik dalam berbagai bidang. Perangkat kerasnya memiliki prosesor Atmel AVR dan softwarenya memiliki bahasa pemrograman sendiri."

"…. Artinya?"

"Ya itu. Itu artinya."

"Iya itu apa? aku nggak ngerti lo."

Jawaban Rizki adalah jawaban yang sudah ditetapkan oleh Pak Mulya. Jawaban diluar dari situ akan dianggap salah tapi meski sudah dihafal tampaknya Rizki sendiri tak mengerti apa maksudnya.

Rizki punya penampilan layaknya anak jenius yang jarang berolahraga. Tubuhnya tinggi kurus, berkacamata dan rambutnya sudah ditumbuhi uban meski usianya belum masuk 20an. Karna seluruh hidupnya hanya terpusat pada buku teks dia selalu kehabisan nafas setiap kali naik tangga dari lantai satu ke lantai empat.

Pernah suatu kali dia sudah turun dari kamar untuk berangkat kuliah namun di tengah jalan dia teringat bukunya ketinggalan dan akhirnya harus kembali menaiki tangga menuju lantai empat. Saat dia sampai ke kelas wajahnya sudah mirip pocong kekurangan darah.

Meski demikian Rizki adalah contoh mahasiswa teladan. Di kelas dia selalu duduk paling depan dan menelan semua yang dikatakan dosen padanya mulai dari pelajaran, kisah hidup sang dosen sampai cerita betapa badungnya anak-anak jaman sekarang. Hasilnya, dia menjadi kesayangan semua dosen.

"Ya artinya itu. Kalau ada yang nanya jawab aja begitu."

"Oh my god. Coba aja Kau jawab begitu ke bapakmu, Kau pikir dia ngerti?"

"Kalau gitu yang benar apa?"

"Lah? Aku nanya kan karna nggak tahu."

"Cih, stress Kau! tinggal tulis aja kok susah."

"Ckckck, jangan begitu kawan. Jangan begitu."

Entah karna Rizki yang terlalu pintar atau Mahesa yang terlalu idiot percakapan keduanya jadi nggak nyambung. Rasanya seperti melihat orangtua yang terus memarahi anaknya karna tak mau melipat selimut. Si orangtua marah karna selimut memang harusnya dilipat sedangkan si anak tetap membandel karna menganggap melipat selimut itu tidak ada gunanya.

"Dengar ceritaku ini. Dulu waktu aku masih Sd ada bupati yang kampanye di balai desa. Waktu itu dia bicara panjang lebar tentang rencana-rencana yang mau dia buat. Kalau nggak salah dulu dia ada bilang soal naturalisasi atau normalisasi atau apalah. Nah, karna aku nggak ngerti apa itu langsung aja aku tanya tapi pas ditanya dia malah bingung. Dari situlah kami tahu dia cuma hafal teks doang, nggak tahu apa-apa tentang tata desa."

"Ohh, terus?"

"Akhirnya dia nggak pernah kesampaian jadi bupati."

"Bukan itu goblok. Inti ceritamu itu apa?"

"Jadi intinya, kalau cuma menghafal semua orang juga bisa. Yang penting itu pemahaman, pe-ma-ha-man. Kau bisa dapat nilai seratus dengan menghafal tapi percaya deh, nilaimu cuma di kertas aja. Paling juga kertasnya jadi bungkus bakwan."

Perkataan Mahesa rasanya menohok sekali bagiku dan juga Rizki. Aku nggak tau kenapa tapi kok ada yang sakit di hati ini.

"Terus kalau nggak dihapal mau gimana? Kau mau tulis Budi sebaiknya naik tangga aja gitu? Mana bisa Kau lulus ujian kalau begitu." Rizki balik bertanya ke Mahesa.

"Haduhh… Kau kuliah buat lulus atau buat ilmu? Pikirkan itu baik-baik."

Dan seperti perkataan Mahesa, aku memikirkan hal itu baik-baik.

***
Diubah oleh ih.sul
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan jiyanq memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KEJAR WISUDA
15-10-2021 16:14

Bab 1 Part 4

Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tanpa sadar UTS sudah di depan mata. Bagi kami UTS adalah satu dari beberapa faktor yang akan menentukan IPK semester ini namun yang paling parah dari UTS bukanlah IPK melainkan fakta bahwa nilai UTS kami akan dipajang di papan pengumuman sehingga semua orang bisa melihatnya.

Nilai yang dipajang di papan pengumuman bisa berarti dua hal. Kau akan diingat jika dapat nilai tertinggi atau Kau akan diingat jika mendapat nilai terendah. Tak ada siapapun yang ingin dapat nilai terendah dan karna itulah kami semua berlomba-lomba untuk belajar. Atau lebih tepatnya berlomba-lomba untuk menghafal.

Tak ada hari tanpa buku di tangan dan tak ada kelas tanpa berlomba mengorek kisi-kisi ujian dari dosen. Seluruh ketegangan itu membuat kepala kami nyaris meledak dan puncaknya sehari sebelum ujian kami para mahasiswa baru dikumpulkan untuk mendengar seratus dua ratus patah kata dari ketua jurusan teknik universitas terpadu ulama timur.

Rudolf von Stroheim. Seorang pria 45 tahun keturunan Jerman yang dijuluki Hitler oleh sebagian besar mahasiswa. Setiap hari dia pasti akan memakai sepatu hitam, celana hitam, kemeja putih, jas hitam dan dasi hitam. Rambutnya ditata dengan banyak minyak sehingga terlihat amat licin dan berkilau. Serasi dengan kumisnya yang berbentuk persegi panjang.

Meski demikian yang membuat kami memanggilnya Hitler bukanlah penampilannya melainkan sifatnya. Dia itu, seorang penguasa yang kejam.

"Hoi Kamu!"

Disaat kami hendak memasuki aula untuk mendengar ceramah darinya dia sudah menunggu di depan pintu seperti malaikat penjaga gerbang akhirat. Setiap kali dia melihat sesuatu yang salah dari seorang mahasiswa dia akan memanggil tanpa ragu dan sialnya, aku menjadi korban pertama.

"Dimana ikat pinggangmu?"

"Eh?"

"Tali sepatumu itu tidak rapi, bajumu kusut, kenapa Kau tidak menyisir rambutmu? Dan yang paling penting… Kau belum mandi ya?"

Damn!!! Memangnya dia ini siapa? Nenekku aja nggak pernah protes tentang caraku berpakaian. Tapi memang benar sih aku gagal mandi hari ini. Kamar mandi rusunawa selalu menjadi medan perang setiap pagi karna semuanya berebut untuk mandi lebih dulu.

"Dengar Nak, empat tahun dari sekarang Kau akan menjadi salah satu dari pilar yang akan menyokong negara ini yang mana artinya Kau harus memperhatikan caramu berpakaian agar tidak diremehkan orang lain. KAU PAHAM ITU??!!"

"Y-Y-Y-YESS SIRR!!"

"LARI SEPULUH KALI KELILING LAPANGAN!!"

"What?!"

"Apa? membantah?!"

"Nggak Pak. Saya lari. Saya lari!"

Betapa sialnya aku hari ini. Bukannya mendapat ilmu mengenai cara melewati ujian tanpa menangis darah aku malah memulai pagi dengan berlari. Memangnya ini ospek?

Tapi jika dibandingkan dengan ospek staminaku ternyata sudah meningkat pesat. Jerih payah naik turun tangga ke lantai empat setiap hari ternyata terbayarkan.

Perlahan-lahan mahasiswa lain yang terkena amukan sakti si Hitler pun ikut berlari bersamaku dan setelah selesai berlari kami pun bergegas memasuki aula. Ternyata razia Hitler masih belum selesai karna ada satu mahasiswa lagi yang perlu dia benahi.

"Dengar Nak, empat tahun dari sekarang Kau akan menjadi salah satu dari pilar yang akan menyokong negara ini yang mana artinya Kau harus memperhatikan caramu berpakaian agar tidak diremehkan orang lain. KAU PAHAM ITU??!!"

"Jujur aja saya nggak paham Pak. Bukannya kebanyakan lulusan universitas ini kerja keluar negeri? Kalau saya keluar negeri artinya saya nggak akan menyokong negara ini kan?"

Damn! Siapa lagi yang berani beradu kata dengan si Hitler kalau bukan Mahesa? Apa mata hitamnya yang mengintimidasi itu tidak membuatnya takut? Padahal aku sendiri pasti akan langsung kabur kalau Hitler menatapku seperti itu.

"Kamu? Keluar negeri? JANGAN NGIMPI KAMU!! Mau jadi pengkhianat bangsa Kamu?! Saya nggak peduli kalau Kamu jadi pamulung atau apapun itu tapi jangan sampai Kamu malah bekerja pada bangsa lain untuk mengeruk kekayaan negeri sendiri. PAHAM?!"

"Bapak ini gimana sih? Bapak tahu kan kalau gaji lulusan teknik di negara ini nggak bisa dibandingin sama luar negeri? Bapak mau murid-murid Bapak menderita nggak dihargai di negeri sendiri?"

Hening lama. Setiap detik yang berlalu rasanya seperti detik-detik bom Hiroshima siap meluluhlantakkan bumi dan itu membuat kami yang mendengar pembicaraan mereka berdua tidak berani bernafas. Kira-kira apakah seorang mahasiswa bisa di-DO karna bicara tidak sopan pada kajur?

"HOOO…. Hohohoho!"

Anehnya, Hitler mulai tertawa namun tawanya ini terdengar seperti tawa yang akan memulai peperangan.

"Benar, Kamu benar. Gaji sarjana teknik disini memang kalah jauh dibanding luar negeri. Makanya Kamu jangan puas sekedar jadi karyawan. Mahasiswa yang pintar itu harus pandai membuka peluang dan punya bisnis sendiri. Saya jauh lebih bangga kalau Kamu hidup biasa saja namun membantu negara daripada memperkaya negara asing."

"Tapi kan—"

"MENGERTI?!"

Saking keras teriakannya membuat banyak kepala yang melongok dari dalam ruangan. Aku yang merasakan firasat buruk bahwa Mahesa akan tetap melawan menariknya mundur dan tersenyum lebar.

"Kami paham Pak, sekarang kita masuk dulu, udah telat."

Hitler mendengus keras yang menyebabkan kumisnya bergetar dan tanpa mengatakan apapun lagi dia masuk ke dalam terlebih dahulu. Aku yang melihat perdebatan dua orang ini mau tidak mau merasakan ada sebuah koneksi aneh yang terjadi diantara mereka. Sayangnya itu bukanlah koneksi yang baik.

***
0 0
0
KEJAR WISUDA
15-10-2021 16:15
Ini curhatan dosen saya aja sih. Dia ngaku kalau lulusan teknik di negeri ini nggak ada apa apanya dibanding luar negeri. Diluar sarjana teknik itu diperlakukan baik tapi disini sarjana teknik malah disuruh utak atik remote tv emoticon-Cape d...
Diubah oleh ih.sul
0 0
0
KEJAR WISUDA
17-10-2021 16:58

Bab 1 Part 5

Kebanyakan pelajar di dunia ini pasti sangat familiar dengan yang namanya sistem kebut semalam alias sks. Itu adalah sistem dimana seorang murid mengerjakan segala sesuatunya satu malam sebelum deadline. Entah itu Pr maupun belajar.

Sejak saat SD aku sangat suka melakukan sks. Selain karna aku malas mengerjakan Pr sks memberi kekuatan misterius yang entah bagaimana membuat tanganku jadi sepuluh kali lebih cepat dari biasanya.

Di perkuliahan, sks ini juga ada. Mereka yang biasanya menghabiskan waktu malam dengan menonton tv atau hunting cabe-cabean di kota kini terlihat menatap buku dengan serius sembari berharap semua rumus dan kata kata di buku itu akan berpindah ke otak mereka hanya dengan menatap.

Wajar saja untuk belajar satu malam sebelum ujian namun entah mengapa aku merasa tak punya tenaga untuk sekedar membalik halaman buku. Pikiranku kacau sampai sampai aku tak bisa mengingat definisi dari mesin.

Kenapa bisa begini? Mungkin Mahesa tahu jawabannya.

"Oy Brahman."

"Hmm? Kau manggil Brahmantya, Brahmantyo atau Brahmantiyi?"

"Brahmantuyul! Ya Kau lah! Kau nggak belajar?"

"Aku belajar kok. Cuma ya begitu, aku nggak paham banyak."

"Kau nggak paham banyak tapi nekad kerja keluar negeri? Kau ngimpi ya?"

"Aku nggak pernah bilang mau kerja keluar negeri."

"Lah, terus debatmu sama si Hitler itu apaan?"

"Aku cuma mau menegaskan kalau yang namanya kerja itu buat cari duit. Buat apa mikirin negara?"

Entah kenapa aku mendapat kesan kalau Mahesa kalau jiwa nasionalisme Mahesa amatlah rendah namun karna aku adalah tipe murid yang sering membolos saat upacara bendera aku tidak bisa membantahnya.

"Tapi ucapanmu nggak konsisten. Kau mau nyari banyak duit tapi nggak mau keluar negeri? Terus Kau maunya apa?"

"Lah, kalau urusan nyari duit sekarang juga bisa kok."

Kendati aku menyampaikan argumen secara masuk akal namun Mahesa menjawabnya sembari nyengir. Dengan percaya diri ala senyum gigi pepsoden dia mengajakku untuk jalan-jalan keluar meski tahu betul besok kami ada ujian.

Sejak merantau ke kota ini aku sama sekali belum pernah jalan-jalan di malam hari namun anehnya aku tak ragu untuk mengikuti langkahnya. Ingin aku mengajak Rizki tapi dia sudah masuk dalam ritualnya untuk komat-kamit menghapal catatan super tebal dari Pak Mulya jadi kubiarkan saja dia dan mengejar Mahesa.

Ternyata tak jauh Mahesa membawaku. Itu adalah sebuah supermarket di dekat kampus namun itu bukanlah supermarket indoapril atau alfamaret yang terkenal melainkan supermarket bernama 'buntut UTUT.' What the hell?

"Jangan bengong disana, masuk!"

Apa yang menunggu kami disana ternyata jauh lebih membingungkan daripada nama supermarketnya. Pasalnya, supermarket super luas itu tampaknya berisi segala hal yang bisa Kau bayangkan. 'Segala hal.'

"Ohho~ ohho ohho ohoo. Mahesa dan… Abdul Sodiqin!! Masuk masuk."

Orang yang datang dan menyambut kami adalah Muhammad Malik si ketua rusunawa sekaligus mahasiswa ekonomi tahun ketujuh yang tak kunjung lulus. Dia mengenakan pakaian seorang koboi lengkap dengan topi dan sepatu boot. Kalau aku tak salah dengar ini disebut cosplay dan semua orang yang bercosplay disini pastilah pegawai.

"Ini supermarket buatan mahasiswa UTUT," jelas Mahesa. "Atau lebih tepatnya Mas Malik yang buat."

"Haa??!!"

Menganga mulut ini dikala mendengar bahwa si mahasiswa basi ini adalah pemilik dari supermarket serba ada. Coba lihat wajah songongnya itu, pengen rasanya kutampol.

"Buntut UTUT. Supermarket serba ada yang dijamin murah bahkan untuk mahasiswa di tanggal tua. Buka setiap hari kecuali hari kiamat. Jadi apa yang Anda berdua cari disini? Sembako ada, tabung gas ada, alat elektronik ada, kebutuhan rumah tangga ada, bumbu dapur ada, racun tikus ada, nasi goreng ada, pakaian dalam ada, semuanya ada. Kenapa semuanya ada? Karna moto kami adalah tidak pernah mengatakan tidak pada pelanggan."

"… keren. Minta 50 ribu dong."

"Okay mari kita barter. Saya beri Anda 50 ribu Anda beri saya 100 ribu. Deal?"

"Hell no!"

Tapi tetap saja aku kagum dengan tempat ini. Dibagian luar ada beberapa stan jajanan dan di sebelah tempat ini ada warung makan yang menebar aroma sedap yang membuat lapar. Dan seperti yang Malik bilang, nyaris segala hal dijual disini. Sungguh pencapaian luar biasa untuk seorang mahasiswa.

"Mas Malik, yang biasa," pesan Mahesa. Entah apa maksudnya yang biasa itu. Sudah jelas kalau dia pelanggan tetap disini.

"Okay, buat dua orang?"

"Yep, ukuran disesuaikan."
Ukuran?

Akhirnya, aku pun tahu kenapa Mahesa bisa makan ayam setiap hari sedangkan kami cuma bisa makan tahu tempe. Kupikir dia bawa tuyul dari desa. Eh ternyata….
0 0
0
KEJAR WISUDA
17-10-2021 16:58
"Kasihan Pak~ kasihan Bu~"

Di dunia ini ada orang yang memanfaatkan rasa kasihan orang lain untuk terus menyambung hidup. Profesi ini disebut pengemis atau bahasa kerennya 'orang-orang terpilih yang memberi kesempatan banyak manusia untuk membersihkan hartanya'. Ngomong-ngomong bahasa keren itu Mahesa yang buat.

"Oi, jadi Kau kerja jadi gembel? Kerjaan macam apa ini?!"

"Sssttt!! Diam dan duduk ajalah."

Di perempatan lampu merah ini kami duduk dengan pakaian super lusuh yang kami dapat dari mas Malik. Pakaian compang camping dan muka mirip orang kampung kesasar membuat orang-orang yang lewat benar-benar menganggap kami pengemis dan memberi uang setiap kali kami menadahkan tangan.

Alamak! Sekali nadahkan tangan aja dapat 10 ribu. Kalau dibelikan mi instan dapat 5 bungkus. Cukup buat makan dua hari. Pantaslah aku sering lihat berita pengemis kaya. Ternyata orang-orang di ibukota ini benar-benar dermawan.

"Eh nggak boleh gitu njirr!! Nipu ini namanya! Nipu!"

Kuhantamkan tanganku ke aspal namun langsung menyesal. Aspalnya keras sekali.

"Nipu apanya? Kan kita nggak bilang kalau kita belum makan tiga hari," sangkal Mahesa.

"Sama aja. Kau pikir minta-minta ke orang lain itu bener? Nggak Mahesa, semiskin-miskinnya aku aku nggak mau jadi pengemis."

Ayahku pernah bilang, jadi manusia harus punya harga diri. Tak peduli semiskin apapun jangan mengharapkan belas kasihan orang lain. Apa lagi sampai duduk di pinggir jalan dan menunggu uang datang. Nggak, aku nggak mau jadi orang macam itu.

"Ckckck, aku nggak pernah nyuruh Kau jadi pengemis," ucap Mahesa sembari mengumpulkan seluruh uang yang sempat bertebaran saat aku meninju aspal tadi. "Kita sekarang lagi cari modal, cari modal."

"Cari modal? Buat apa?"

Mahesa tidak menjawab. Dia malah lanjut duduk disana dan menerima uang dari banyak orang hingga waktu menunjukkan tengah malam. Jalanan mulai sepi dan kami pun akhirnya pergi. Kemana? Kembali ke buntut UTUT. Kenapa sih nama supermarketnya begitu?

"Udah dapat uang?" tanya Malik begitu kami kembali.

"Seratus lima puluh ribu," jawab Mahesa sembari menunjukan uang receh hasil mengemisnya. Profesi pengemis ini memang ajaib betul. Kalau satu hari aja bisa dapat seratus ribu ngapain capek-capek kerja banting tulang jadi kuli?

"Okay, uangnya kusimpan. Saved."

Aku sama sekali tak paham mereka bicara apa jadi aku meminta penjelasan dari mata ke mata namun sebelum Mahesa menjelaskan Malik sudah bicara duluan.

"Ini namanya reksadana Dul."

"Reksadana itu apa?"

"Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi—"

"Ok ok, aku nggak paham."

"Reksadana itu, Kau ngasih uang ke pengelola terus dia make uang buat modal usaha terus keuntungannya dibagi. Ngerti?"
Penjelasan Mahesa jauh lebih sederhana dan aku paham intinya. Singkatnya, Mahesa mengemis untuk modal bisnis? Entah mengapa perasaanku campur aduk saat memikirkan itu.

"Meminta-minta itu bukan dosa Dul," ucap Mahesa lagi. "Yang dosa itu adalah terus meminta-minta meskipun kita bisa berusaha. Penghasilan pengemis itu besar tapi kalau Kau terus bergantung ke situ Kau bakal mampus suatu hari. Makanya, mengemislah untuk modal. Setelah dapat modal mulailah berusaha."

Aneh memang. Satu bulan lalu Mahesa hanyalah anak kampung yang bahkan tak punya ponsel namun sekarang dia sudah paham betul cara mendapat uang bahkan tanpa berusaha. Ciyus deh, si idiot ini benar-benar jenius.

Malam itu kami bertiga pun banyak bercerita tanpa peduli akan uts yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi. Mas Malik menceritakan kisahnya dalam membangun supermarket tersebut.
Awalnya bangunan itu hanyalah gudang yang tidak terpakai namun dengan bantuan beberapa teman Mas Malik menyulapnya menjadi super market seperti sekarang.

Buntut UTUT. Seperti namanya supermarket ini dibangun oleh mahasiswa buntut yang tak lagi diperdulikan oleh para dosen maupun universitas. Mas Malik merangkul mereka semua untuk memulai bisnis bersama dan jadilah supermarket ini.

Teknik, marketing, ekonomi hingga kesenian, semua bidang itu ditampung di tempat ini dan saat Mahesa datang mereka mengepakkan sayap baru yakni reksadana. Ide itu didapat dari pertanyaan Mahesa yang penasaran apakah uang bisa berganda hanya dengan menunggu dan hasilnya luar biasa. Uang benar-benar bisa tumbuh hanya dengan modal kesabaran.

Rasanya luar biasa, aku merasa pikiranku jadi jauh lebih bebas dan pengetahuanku terbuka lebar hanya dengan berbicara pada mereka. Ilmu yang kudapat jauh lebih bermanfaat dibanding duduk seharian mendengar Pak Mulya berceloteh dan itu membuatku tak bisa tidur disaat kami pulang ke rusunawa.

Mahesa langsung tertidur begitu wajahnya menyentuh bantal namun pikiranku serasa akan meledak jika terus dibiarkan seperti itu. Akhirnya, aku pun mengambil kembali diary lama ku dan mulai menulis hingga pagi menjelang.

***


Dua minggu kemudian, hasil uts diumumkan. Seperti yang sudah aku duga aku mendapat nilai yang sangat rendah. Aku sama sekali tidak melakukan sks karna lebih memilih menghabiskan malam di buntut UTUT. Meski demikian ternyata ada satu orang yang nilainya lebih rendah dariku.

Mahesa. Ya ampun, orang ini memang tak pernah membuatku berhenti terkejut. Disaat orang lain menghalalkan segala cara untuk mendapat nilai yang tinggi dia malah senang-senang saja dengan hasil tersebut. Sifatnya itu membuatku menyadari satu hal unik dari sifat manusia. Itu adalah fakta bahwa tak peduli serendah apapun nilaimu, jika masih ada yang lebih buruk darimu Kau akan merasa lega.

Orang ini, memang orang yang sangat aneh.

***
0 0
0
KEJAR WISUDA
19-10-2021 13:38
mantap bener gan threadnya emoticon-Shutup (S)
0 0
0
KEJAR WISUDA
19-10-2021 14:05

Bab 1 Part 6

Sampai satu semester terlewati pun aku tetap melanjutkan kegiatan malamku dengan Mahesa. Terkadang kami akan duduk di perempatan lampu merah sembari menadahkan tangan demi mengharapkan sumbangan. Aku masih belum mampu untuk sepenuhnya menghilangkan rasa bersalah menjadi pengemis jadi aku sumbangkan saja semua uang yang kudapat pada yayasan amal
buntut UTUT.

Tanpa terasa aku jadi lebih sering menghabiskan waktu disana dibanding rusunawa namun itu tidak membuatku tidak sadar akan sebuah keanehan yang tengah berlangsung. Awalnya kupikir dia hanya sekedar masuk angin namun setelah melihat Rizki mulai googling 'dasar-dasar santet cinta' aku terpaksa harus ambil tindakan.

"Oi Ki, Kau lagi kasmaran ya?"

Reaksinya jauh lebih dashyat dari yang aku kira. Pertama dia memuncratkan air yang sedang dia minum ke halaman buku yang tengah dia baca. Dia mencoba mengeringkan bukunya sesegera mungkin namun karna usapannya terlalu kuat lembaran buku yang sudah basah itu pun robek dengan mudah. Dia berterak-teriak layaknya orang gila karna belum sempat menghafal isi halaman tersebut dan tanpa sengaja dia menjatuhkan tumpukan buku yang tengah dia hafal ke lantai tepat diatas soto yang sedang dimakan Mahesa. Akhirnya lantai kamar kami pun berubah jadi kolam soto dimana buku-buku Rizki adalah ikan-ikan yang mengambang diatasnya.

"NOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!"

Setelah jeda sejenak untuk mengepel lantai kami pun kembali ke pembicaraan.

"Oi Ki, Kau lagi kasmaran ya?"

Untungnya kali ini dia tidak sedang minum. Kalau iya dia mungkin sudah menorehkan lukisan abstrak ke dinding putih kamar kami.

"Maksudmu?" tanya Rizki balik.

"Maksudnya, apakah hatimu tengah mengeluarkan getaran-getaran hangat yang membuatmu tak bisa tidur sepanjang malam karna terus memikirkannya?"

"What? Sejak kapan Kau jadi puitis gitu?"

"Jawab ajalah. Kau lagi jatuh cinta kan?"

Reaksi yang sangat mencurigakan. Rasanya seperti melihat diriku saat Sd yang jatuh cinta dengan ibu teman sekelasku. Rizki mencoba sekeras mungkin untuk menahan senyum namun raut merah di wajahnya nggak bisa bohong.

Sebenarnya, aku dan Mahesa tidak terlalu dekat dengan Rizki. Dia adalah anak kesayangan Hitler yang berhasil mendapat nilai sempurna di uts dan uas sedangkan kami adalah dua mahasiswa dengan nilai terendah yang tak layak diingat namanya.

"Jadi, siapa nih?" tanyaku namun Rizki geleng-geleng kepala cepat.

"Nggak nggak nggak. Mahasiswa itu kewajibannya belajar. Bukan cinta-cintaan."

"Kau macam anak sd aja kalau ditanya cinta. Kau itu udah mahasiswa Ki, hidupmu Kau yang ngatur."

"Nah, betul kata Mahesa itu."

Secara alami kami merapatkan kursi kami dan memaksanya untuk bercerita. Kesempatan langka untuk lihat Rizki begini. Mungkin sepuluh tahun ke depan nggak bakal datang lagi kesempatan
macam ini.

"Jadi siapa? Bu Amelia ya?"

"Ngaco Kau!"

Bu Amelia adalah salah satu dosen pengajar yang mana wajahnya merupakan vitamin bagi mahasiswa. Gaya ngajarnya sama aja sih kayak Pak Mulya tapi anehnya banyak mahasiswa betah belajar di kelasnya. Jangan tanya kenapa.

"Bu Amelia kan udah nikah, udah punya anak. Atau jangan-jangan Kau memang naksir yang begituan ya?" tanya Mahesa.

"Udah kubilang nggak! Aku tuh suka sama si A—ehh!!"

Satu huruf. Cukup satu huruf itu untuk mengetahui siapa yang Rizki maksud. Rizki ini tipe mahasiswa yang kupu-kupu alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Dia nggak ikut kegiatan apapun karna tujuannya di perkuliahan cuma ipk dan ipk. Karna itu pergaulannya sangatlah sempit. Dengan metode eliminasi maka sangat mungkin kalau cewek yang dia suka ada di jurusan kami atau malah di angkatan kami dan karna dia sempat keceplosan huruf A maka jawabannya jelas.

"Aria. Pasti si Aria kan?"

Aria. Nama panjangnya Bidadari Alesia. Ditengah jurusan teknik yang penuh senior-senior berotot dan maba-maba botak dia adalah cewek paling cantik yang akan membuat semua pria dalam radius seratus meter menoleh. Kulitnya putih seperti tepung kanji, rambutnya hitam seperti tinta spidol dan senyumnya tak kalah silau dari kepala Deddy Corbuzier.

Tak cuma cantik dia juga sangat pintar. Dalam uts dan uas semester lalu hanya dia dan Rizki yang berhasil menorehkan nilai sempurna. Mungkin itu yang membuat Rizki jatuh cinta. Meski demikian sebenarnya kami cukup jarang melihat Aria diluar kelas. Katanya sih dia kuliah sambil kerja. Kerja apa? Nggak ada yang tahu.

Diam-diam aku melirik kearah Mahesa dan tampaknya dia sedang memikirkan hal jahil yang sama denganku. Kira-kira gimana cara mencomblangkan dua manusia ini?

"Okay okay. Rizki, Kau butuh pencerahan. Dul, pencerahannya tolong."

Karna Mahesa sudah berkata begitu maka rencananya sudah berjalan. Aku pun mengambil senter dari laci meja dan menyinari Rizki dengan pencerahan.

"Kata orang cinta itu datang tanpa diundang. Seperti semut yang merangkak pelan-pelan dari kaki tapi tiba-tiba sudah ada di mata, cinta juga bisa membutakan mata tanpa kita sadari. Contohnya, semalam Kau sama sekali nggak ritual. Kau mulai buta."

Ritual yang Mahesa maksud adalah Rizki yang komat-kamit menghafal buku super tebal yang dia pinjam dari perpustakaan. Biasanya dia akan duduk bersila di tempat tidurnya dan tidak akan terpengaruh oleh apapun dari luar sampai dia selesai menghafal semuanya.

Pernah satu kali Mahesa tak sengaja kentut dan menebar bau petai busuk ke penjuru kamar. Aku pasti pingsan kalau tidak lari keluar namun Rizki sama sekali tidak bergeming. Mantab betul
konsentrasinya.

"Siapa yang buta? Aku belajar kok, be-la-jar."

"Nggak usah bohong Ki, aku pun pernah jatuh cinta," balas Mahesa. "Saat jatuh cinta Kau minum air keran pun rasanya macam madu. Kau makan kerak nasi pun rasanya macam kerupuk. Kau lihatlah keadaan
Kau sekarang, dari tadi pagi Kau cengar-cengir terus."

"….???"

"Cinta itu ibarat garam di rebusan sayur, makanya Kau harus kejar sampai dapat. Ngerti? Kau harus buat si Aria jadi pacarmu. Kalau masa kuliahmu cuma penuh dengan belajar aku jamin satu tahun lagi rambutmu bakalan putih total."

Karna sedang dimabuk cinta Rizki mengangguk seperti anjing yang diperintahkan menjaga rumah. Memang benar kata orang, bahkan Rizki yang super kaku dan kutu buku itu pun bisa jadi buta karna cinta.

"Tapi, caranya gimana?" tanya Rizki kemudian dan Mahesa terdiam.
Benar juga, gimana ya caranya?

"Pokoknya coba Kau ngobrol ke dia dulu. Nah, besok kan acara pensiun Pak Mulya. Kau sama Aria kan disuruh buat baca pidato. Pake kesempatan itu buat PDKT."

Entah mengapa, aku merasakan firasat yang buruk. Entah karna Mahesa yang memberi saran dengan ragu-ragu atau Rizki yang dengan goblok main terima aja. Yang jelas akhir dari kisah cinta Rizki tak mungkin bisa seindah yang kami bayangkan. Enggak mungkin.

***
Diubah oleh ih.sul
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
penyair-malam
Stories from the Heart
makam-kembar-gunung-kambengan
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia