Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
86
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60fc25da7727a653b522e9f0/gending-alas-mayit
Masih satu trilogi sama thread sebelumnya Imah Leuweung , mohon ijin share cerita lagi.. semoga dapat menghibur...                       Desa Windualit , Sebuah desa terpencil yang jauh dari sosok hiruk pikuk Perkotaan. Pemandangan indah gunung merapi selalu setia menemani pagi setiap warga di desa ini.                 Sama sekali tidak ada yang istimewa di tempat
Lapor Hansip
24-07-2021 21:38

Gending Alas Mayit (TAMAT)

Gending Alas Mayit


Masih satu trilogi sama thread sebelumnya Imah Leuweung , mohon ijin share cerita lagi..

semoga dapat menghibur...

"Part 1 - Gending Alas Mayit


Part 2 - Sendang Banyu Ireng
Part 3 - Ikatan Masa Lalu
Part 4 - Radio Tengah Malam - Tabuh Waturingin
Part 5 - Desa Terkutuk
Part 7 - Pagelaran Tengah Wengi
Part Akhir - Tataran Pungkasan (Pertunjukan Akhir)
Diubah oleh setta
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mas444 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 3
Gending Alas Mayit
28-07-2021 00:41
Ijin Bangun tenda gan
profile-picture
setta memberi reputasi
1 0
1
Gending Alas Mayit
28-07-2021 08:34

Part 3 - Ikatan Masa Lalu

Gending Alas Mayit

Quote:

Sayup-sayup terdengar suara gamelan terdengar di antara hutan di sekitar pabrik gula , terlihat seorang wanita muda menari dengan gemulai di tengah-tengah cahaya bulan purnama..

Tapi... darimana asal suara gamelan itu? Tidak ada satupun tanda-tanda pemain maupun alat musik gamelan di sekitar sini?

Yang anehnya lagi , mereka.. makhluk halus para penunggu pabrik yang sudah lama tidak menampakan diri, kini berkumpul di sekitar wanita itu ..

Aneh.. tidak, lebih tepatnya mengerikan! Tarian wanita itu semakin menggila.. ia memaksa memutar sendi-sendi tubuhnya ke arah yang tidak wajar..

Aku berlari mendekati wanita itu mencoba menahan gerakanya , namun tenaganya terlalu besar..

Sesuatu sedang merasuki tubuh wanita ini..

Sebuah doa dan ayat-ayat suci kubacakan untuk menenangkan wanita itu..

Cukup lama.. hingga akhirnya wanita itu terbaring lemas dan tak berdaya.

....

...
------------------------

Kota Jogja , sebuah kota yang pasti akan sulit dilupakan oleh siapapun yang berkunjung ke tempat ini. Rasa nyaman kota ini takkan pudar walaupun hanya dinikmati dengan berjalan-jalan dengan vespa tua ini.

Terlihat sebuah kereta telah berhenti di stasiun , aku memarkirkan motor dan menunggu seseorang keluar mengenali vespa tua ini.

" Cahyo!" teriak seseorang seumuranku yang baru saja keluar dari stasiun.

"Ojek mas...? " Jawabku dengan sedikit meledek.

"iya , ojek mas... ke pemakaman ya" balasnya

"asem.. mbok pikir aku demit" jawabku sambil menepuk helm yang sedang dipakainya.

Danan adalah teman seperjuanganku saat bekerja di pabrik gula walaupun sekarang ia memilih berhenti dan mencoba peruntungan untuk melamar di perusahaan swasta di jogja.

"Cahyo... perempuan yang kamu ceritain itu masih di rumah Paklek?" Tanya Danan kepadaku.

Aku memang sudah menceritakan mengenai seorang perempuan aneh yang di temukan di hutan belakang pabrik gula.

" Masih , makanya kamu temuin dulu... tanggung jawab kamu!" Jawabku meledek

" ngeledek aja kamu... " balasnya

"lha piye.. ditemukan seorang perempuan yang ga inget apa-apa , petunjuknya cuma di tasnya ada fotomu..." Jelasku

" yowis... tar kita temuin dulu aja, cepetan gas.." jawab danan dengan raut muka yang penasaran.

Vespa tua kulaju dengan santai menuju ke rumah paklek di klaten , topik-topik ringan tak berhenti bermunculan saat perjalanan. Wajar saja, selama kejadian di imah leuweung kita hanya membahas masalah-masalah yang serius. Perjalanan yang harusnya cukup lama jadi terasa cukup singkat , tanpa terasa kami sudah sampai di rumah paklek.

..

"Kulo nuwun... " Aku mengetuk pintu rumah paklek yang tak jauh dari rumahku.

Seorang pria berambut putih terlihat buru-buru keluar membukakan pintu.

" Eh Danan.. udah sampe, yuk masuk dulu " Sambut pria itu.

"Danan doang Paklek? Aku ra diajak masuk..." Tanyaku setengah merajuk.

"Eh.. ono kowe to panjul , omahmu kan ning kono..." Ucap pakde menunjuk ke rumahku sambil meledek.

"Ya.. mbok diajak masuk dulu gitu, toh bulek udah masak bandeng kan? Ambune tekan kene lho.." Jawabku merayu pakle

"Giliran makanan cepet banget kamu.. yowis ayo masuk " Lanjut paklek sambil membukakakan pintu.

Danan yang melihat tingkah laku paklek kepadaku hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng.

Aku membantu danan memberes-bereskan barang bawaan sembari bulek menyiapkan makan malam untuk kami.

Paklek Bimo adalah adik dari ayah Danan , dulu dia sengaja meminta tolong danan untuk bekerja di pabrik gula dekat sini setelah lulus kuliah. Alasanya sudah jelas, selain membantu menjadi buruh di sana , kami juga membantu untuk memindahkan roh-roh halus penunggu pabrik itu agar tidak mengganggu pekerja di sana.

" Danan , cahyo.. sini , ayo makan!" Suara Bulek memanggil dari pawon rumah.

"Nggih bulek.." Danan menjawab dengan sopan.

Kami segera keluar kamar dan bergegas menuju meja makan, terlihat disana bulek sedang mempersiapkan makanan dibantu dengan seorang wanita yang tidak kukenal .

"itu perempuan yang kamu ceritain? " bisik danan kepadaku.

" Gak usah pura-pura kamu, ngaku aja.. udah kamu apain dia?" balasku dengan suara yang keras hingga terdengar oleh Paklek dan Bulek.

Sontak danan memukul kepalaku , tentunya dengan muka yang sedikit memerah.

"Udah-udah , ayo makan dulu " ucap paklek memotong pembicaraan kami.

Masakan bulek selalu ngangenin , walaupun tidak ada danan, kadang aku masih sering numpang makan di sini . Sambel buatan bulek memang paling enak se tanah jawa.

" Mbak... kenal sama mas mas ganteng ini?" ucapku kepada wanita di samping bulek.

Wanita itu menoleh pada danan menggelengkan kepala .

" Tuh kan, makanya jangan nuduh macem-macem" ucap danan.

"lha itu.. dia bawa – bawa fotomu , coba mbak.. tunjukin ke danan" Ucap cahyo

Wanita itu meninggalkan bangkunya, berlari ke kamar dan menunjukan sebuah foto yang berisi gambar danan sedang berpose di puncak merapi, dibaliknya tertulis dananjaya sambara , merapi 6 juni 2016.

" tuh kan! Itu foto kamu kan? Mau alasan apalagi kamu?" Ucapku setengah meledek pada danan. Namun danan tidak merespon, ia mengambil foto itu dan melihatnya dengan tatapan serius.

" i.. ini , foto ini.. aku ingat , aku mengirimkan foto ini ke seseorang di desa terpencil di lereng merapi" ucap danan

" Pak Sardi! Iya.. aku mengirimkan foto ini saat berhasil mendaki ke puncak merapi , setelah sebelumnya aku tersesat di desa.. windualit..."

Danan terlihat serius, ia menoleh ke arah wanita itu seolah berhasil mengingat sesuatu.

"Sekar... jangan-jangan kamu dek sekar?" tanya danan kepada wanita itu.

Wanita itu hanya menunduk, seolah tidak mampu mengingat apapun tentang dirinya.

"ku.. kulo boten inget mas..." jawabnya

"Pak sardi, desa Windualit... apa yang terjadi di sana? " tanya danan dengan suara yang semakin keras.

Sekar terlihat ketakutan seolah tidak mampu menjawab pertanyaan danan. Bulek memeluk pundak sekar , berusaha menenangkan sekar yang berusaha keras mengingat sebisanya.

" Udah , selesaikan dulu makanya... habis ini kita kumpul di pendopo" ucap paklek dengan tegas.

Suasana setelahnya menjadi semakin serius, terlihat dari mata danan seolah sedang mengingat sesuatu.

...

...

Pendopo pakde terletak di halaman belakang rumah yang bersebelahan langsung dengan hutan , tempat yang nyaman untuk menikmati suasana malam.

Kami berkumpul dan duduk dengan seadanya, terlihat beberapa benda-benda antik terpajang di dinding pendopo

"Nah danan... coba ceritakan apa yang kamu tau " tanya paklek kepada danan.

" Nggih Paklek, dulu sewaktu saya lulus kuliah saya sempat tersesat ke desa windualit di kaki gunung merapi..." Ucap danan memulai ceritanya tentang sebuah desa terpencil yang di luarnya terdapat sebuah hutan misterius bernama Alas mayit.

Danan menceritakan kisahnya saat mencoba membantu warga desa mencari seorang anak yang diculik makhluk halus ke dalam hutan dengan bantuan Pak Sardi yang kemungkinan adalah ayah Sekar.

"Yowis... Besok kita kesana aja , kita anter sekar sekaligus kita cari tau ada masalah apa di sana" Ucapku kepada danan.

" Jangan buru-buru , kamu ingat bagaimana kamu menemukan sekar.. salah-salah kita bisa bernasib sama" Ucap pakde memperingatkanku.

" Sekar, kamu benar tidak ingat sama sekali soal desamu?" Tanya pakde pada sekar.

Wanita itu hanya menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"nah kan.. kalu begini bagaimana kita bisa dapat petunjuk" Tanyaku pada paklek.

Paklek masih berusaha berfikir untuk menemukan sesuatu yang bias dijadikan petunjuk.

..

"Sebenarnya ada satu cara... tapi sepertinya cukup berbahaya" ucap danan.

Kami menoleh dan mulai memperhatikan danan.

" Cahyo , kamu inget eyang widarpa? " tanya danan kepadaku.

"Maksudmu , demit kakek tua gila yang membantu kita melawan Brakaraswana?" Jawabku memastikan kepada Danan.

"Iya... aku baru ingat, di desa itu aku pertama kali bertemu dengan eyang widarpa , mungkin dia tau sesuatu" Lanjut danan.

Paklek mengernyitkan dahi ,terlihat ia tidak mengerti dengan apa yang kami bicarakan.

" Waduh... repot juga ya , nek mbok panggil terus dianya ngamuk bisa hancur satu desa" Ucapku pada danan.

Paklek seolah mengerti sesuati, ia masuk ke sebuah ruangan dan kembali keluar dengan membawa sebuah keris. Ia segera mengikat keris itu di pinggang seolah bersiap untuk sesuatu.

"opo kakek tua yang kamu maksud ada hubungan dengan keris ragasukma?" Tanya paklek.

"Iya paklek... kok paklek tau?" Tanya danan.

"wis .. panggil wae, itu ditengah kebun.. ojo nong kene" ucap paklek.

Aku dan Danan saling berpandangan seolah masih ragu.

"Sekar... sini sekar, jangan jauh-jauh dari mas cahyo " Ucapku sekedar menggoda sekar.

Tak menunggu lama , sebuah sandal jepit dilemparkan oleh paklek ke arahku.

"Dasar Panjul.. jangan cari-cari kesempatan kamu!" bentak pakde kepadaku.

Aku menringis kesakitan, terlihat tawa kecil yang manis terpancar dari mulut sekar.

Jagad lelembut boten nduwe wujud

Kulo nimbali

Surga loka surga khayangan

Ketuh mulih sampun nampani

Tekan Asa Tekan Sedanten...

Sebuah mantra terdengar dari mulut danan yang sedang berdiri di tengah kebun , terlihat sebuah keris telah tergenggam di tanganya.

Rintik-rintik hujan mulai turun , terlihat sosok mengerikan muncul dari kegelapan hutan di belakang kebun Paklek.

Kakek tua dengan ramput putih panjang berjalan dengan bungkuk menuju danan.

" Bocah Asu ra tau sopan santun ..! wis bosen urip? " ( Bocah Anjing gat tau sopan santun! Sudah bosan hidup?) ucap kakek itu sambil mendekat dan mencengkram kepala danan.

Aku bersiap melepas sarung dari pundaku dan menerjang Kakek tua itu, namun kakek itu terlalu cepat iya melompat keatas pendopo dengan membawa tubuh danan seperti boneka.

Merespon perbuatan kakek tua itu , Paklek segera berlari

" Eyang.. enek sing arep ketemu " (Eyang, ada yang mau ketemu) paklek mendekat dengan menggenggam keris yang tadi ia pegang.

"Sopo? Sopo kowe? " (Siapa? Siapa Kamu?!) ucap makhluk itu.

"Kulo Bimo sambara.. Sing arep ketemu ki , Nyai Suratmi.." (Saya Bimo sambara , Yang mau ketemu itu.. Nyai Suratmi) Ucap Paklek sambil menunjukan keris itu kepada kakek tua itu.

Terlihat kakek tua itu memperhatikan keris yang dibawa Paklek , raut wajahnya berubah menjadi panik.

Iya menjatuhkan danan, dan aku segera menangkapnya.

" Ojo , ojo kowe celuk wong wedok kuwi...!" (Jangan.. Jangan kamu panggil perempuan itu!) Kakek tua itu melompat menjauh dan mencoba bersembunyi.

Danan kembali berdiri dan menghampiri paklek.

" Nyai suratmi ki sopo to paklek?" (Nyai Suratmi itu siapa to Paklek?) tanyaku pada Paklek

Paklek tak menjawab , ia hanya tersenyum seolah menahan tawa.

" rene sik mbak , Cucu buyutmu ki mung arep takon" (kesini dulu mbah, cucu buyutmu ini Cuma mau bertanya) ucap paklek.

Eyang Widarpa mendekat, tapi kali ini ia mendekat dengan sedikit ragu. Danan mendekat dan memanggil sekar.

"Eyang... iki sekar, seko desa windualit ... apa eyang tau enek masalah opo ning kono?" (eyang , ini sekar dari desa windualit, apa eyang tau ada masalah apa di sana?) tanya danan pada eyang widarpa.

Terlihat eyang widarpa memperhatikan sekar , namun tatapan sekar berubah menjadi mengerikan. Hujan menjadi semakin deras... sayup-sayup terdengar suara gamelan yang tidak diketahui dari mana sumber suaranya

Merasa ada yang aneh , Eyang Widarpa segera membelakangiku dan Paklek

"heh.. Bocah asu , Bimo .. ndelik ning mburiku!" (Heh.. Bocah anjing! , Bimo .. Ngumpet di belakangku) Ucap eyang widarpa kepada kami seolah memberi tahu akan adanya bahaya.

"Aku ora mbah? " (Aku nggak mbah?) Ucapku.

"Ora usah , kowe sing nyeluk aku demit kakek tua gila kan?" (Ga usah.. Kamu yang manggil aku kakek tua gila kan?) ucap kakek itu padaku.

Aku menepuk dahiku , rupanya eyang widarpa mendengar perbincanganku dengan danan tadi.

Mata sekar terlihat semakin terbelalak , ia mundur menjauh mendekat kehutan dan membentuk sebuah tarian. Suara gamelan terdengar semakin cepat, lebih cepat dari saat pertama aku menemukan sekar.

Aku berlari menerjangnya , namun tenaga yang kuat muncul dari tubuh sekar mendorongku menjauh.

" ... Kowe ora isa nolong bocah iki meneh..." (kamu tidak bias menolong bocah ini lagi) Ucap sekar dengan suara yang menyeramkan

Di tengah hujan deras, Sekar menari kesetanan mengikuti irama gamelan.

Suara gong menggema begitu keras serentak dengan pinggang sekar yang hampir patah karna memaksa memutar tubuhnya.

" To.. tolong" terdengar suara sekar kembali seperti biasa namun terlihat tangis kesakitan dari matanya.

Sekali lagi suara gamelan terdengar semakin cepat, kami tahu akhir ini akan diakhiri dengan gong yang akan melukai sekar.

" E.. eyang" ucap danan kepada kakek tua itu.

Eyang melompat ke arah sekar , menabraknya , mencengkram kepalanya dan menariknya seolah bersiap memutuskanya.

" Tu.. tunggu jangan sakiti sekar" ucapku pada kakek tua itu.

Namun ternyata salah , Eyang menarik sesosok makhluk hitam berpakaian sinden dari tubuh sekar. Tanpa menunggu , kakek tua itu meremas kepala setan itu , memakan tubuhnya hingga tidak berdaya.

"Gending alas mayit..." Ucap Eyang widarpa.

" Apa itu mbah? " tanya danan

" Tanya sama bocah itu , sudah tidak ada yang mengahalangi ingatanya" ucap kakek itu.

Paklek membacakan doa pada sebuah air dan meminumkanya pada sekar, aku tahu itu adalah mantra penyembuh. Paklek paling ahli soal penyembuhan. Terlihat wajah sekar kembali pulih, tapi entah dengan luka-lukanya saat menari tadi.

" Pak... Sekar inget pak " ucap sekar saat tersadar. Ia segera menoleh ke arah danan.

" Mas... Desa mas, desa kena kutukan.. tiap malam purnama satu persatu warga desa menari masuk hutan, dan paginya ditemukan tewas dengan tubuh yang tidak utuh" ucap sekar dengan histeris kepada danan.

" Bapak? Pak sardi? Bagaimana keadaanya?" Tanya danan.

"Bapak tinggal di desa membantu warga yang kesurupan , Sekar disuruh lari keluar desa untuk mencari mas danan.. katanya mungkin mas danan bisa bantu" jawab sekar.

Terlihat danan mencoba mengingat sesuatu.

" Alas mayit... di sana ada sendang banyu ireng dan tempat asal eyang widarpa... mungkin eyang widarpa bisa membantu" ucap danan

Seolah mengerti maksud danan Eyang widarpa berbicara " Ora , Gending alas mayit kuwi kutukan amergo duso.. aku ora iso nulungi opo-opo"

(Tidak , gending alas mayit itu kutukan karena perbuatan dosa, aku tidak bisa menolong apa apa)

Kami menjadi semakin bingung, sekar terliihat sedih dan menangis.

"Mbah.. mosok ora ono tenan jalan keluar untuk mengakhiri kutukan itu?" tanyaku mendekat.

Kakek tua itu menoleh ke arahku dengan muka yang masih kesal.

"Tabuh waturingin .. biyen kuwi sing ngilangi kutukan gending alas mayit, ojo takok ning endi" ucap eyang widarpa menjauh dan bersiap pergi meninggalkan kami.

Hujan semakin mereda, sosok eyang widarpa mulai perlahan menghilang.

"Eyang..!" Paklek berlari mengejar eyang.

" Nyai suratmi ... wis tenang, wis ora ning alam kene.. Ngapunten yo mbah" (Nyai Suratmi... Sudah tenang, sudah ga di alam sini.. maaf yam bah) Teriak Paklek kepada Eyang Widarpa yang sudah hampir menghilang.

"Uasuu.. pancen asu , Ngapusi aku to kowe ! awas kowe" (Anjing!! Bohongin aku ya kamu! Awas kamu!) Umpat Eyang widarpa sebelum menghilang.

Paklek tertawa dan mendekati danan " Udah simpen kerismu , tar Paklek bisa dijewer sama eyang widarpa"

"Paklek , emang nyai suratmi ki si sopo to?" (Paklek.. Emang nyai suratmi itu siapa to?) tanyaku penasaran.

"Udah ga usah tau, itu kisah cinta kakek-kakek... eyang widarpa itu orang baik, tapi entah kenapa wujudnya menjadi demit seperti itu." Ucap paklek.

"Iya paklek, kalo ga ada dia dulu aku pasti udah mati..." ucap Danan.

Sekar mendekat , air mata masih mengalir dari matanya.

" mas... gimana mas, tolongin desa sekar mas"

"Iya danan, kita harus bantuin sekar... kamu ada petunjuk mengenai tabuh waturingin itu?" Tanyaku.

"Nggak , tenan.. blas aku ra ngerti benda apa itu" jawab danan.

Hampir tak ada petunjuk mengenai benda itu , namun apabila kami nekad menuju desa windualit sudah pasti kutukan itu akan mengenai kami juga. Bahkan mahkluk sehebat dan sesombong eyang widarpapun angkat tangan.

"Sudah.. kita istirahat dulu, paklek coba meditasi siapa tau nanti dapet petunjuk" ucap paklek.

Paklek masuk lagi ke rumah dan meninggalkan kami di pendopo.

"Sebenernya aku tau seseorang yang bisa mencari indormasi mengenai Tabuh Waturingin , dia bisa mengumpulkan informasi dari seluruh negeri" Ucapku pada Danan.

"Nah itu... coba cahyo, tolong bantu kalau perlu kita samperin orangnya" Ucap danan.

"Coba aku cari nomor Hpnya, dulu nomornya ditulis di radio lamaku.. sempet telpon-telponan beberapa kali... coba besok tak telpon" Jawabku.

Kami kembali ke dalam rumah , Danan terlihat sangat kelelahan.. wajar saja , dia baru datang dari luar kota dan sudah berurusan dengan hal seperti ini.

" O.. iya sekar, aku baru inget.. gimana kabar laksmi? Kok aku kangen ya sama dia.."

..

..

(Bersambung)


profile-picture
profile-picture
profile-picture
mas444 dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Gending Alas Mayit
28-07-2021 10:22
Makadih update nya gan emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
setta memberi reputasi
1 0
1
Gending Alas Mayit
28-07-2021 21:28
semangattt gann!
profile-picture
setta memberi reputasi
1 0
1
Gending Alas Mayit
29-07-2021 12:00
mantap ceritanya, updatenya jgn lama bray emoticon-Toast
profile-picture
setta memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Gending Alas Mayit
29-07-2021 23:03
lanjut gan..udah naro bakiak dimari nih
0 0
0
Gending Alas Mayit
30-07-2021 12:16
Ninggal jejak dulu. Ceritanya ngalir banget
0 0
0
Gending Alas Mayit
30-07-2021 17:59
nungguin lanjutan yg di tweet bang
0 0
0
Gending Alas Mayit
31-07-2021 09:04

Radio Tengah Malam - Tabuh Waturingin

Gending Alas Mayit

“ Kalian tau musik gamelan? Sebuah musik dengan alunan nada yang mampu membuat pendengarnya merasa nyaman.. Namun bagaimana kalau ada musik gamelan yang membawa kutukan?

Cerita ini adalah kiriman dari teman lama saya yang bernama cahyo..
Desa windualit , sebuah desa di pedalaman kaki gunung merapi yang menyimpan banyak misteri..

Sekilas desa ini hanya terlihat seperti desa biasa seperti desa pada umumnya , namun siapa sangka.. saat ini terdapat kutukan yang menyerang desa itu.

Ketika malam purnama tiba seluruh warga sudah mengurung diri dirumah masing-masing , membaca doa dan menutup telinga berharap saat itu bukan giliran mereka.

Setelah matahari terbenam sayup-sayup terdengar suara gamelan dari dalam hutan yang disebut Alas mayit…

Satu dari antara warga desa akan menari kesetanan tanpa henti , memaksa tubuhnya untuk memutar seluruh sendi-sendi tubuhnya hingga patah dan berlari menuju hutan.

Keesokan harinya jasad orang itu akan muncul di mulut hutan dalam kondisi yang tidak utuh.
Seluruh daya upaya sudah dilakukan, namun setiap tindakan malah menimbulkan korban yang semakin banyak..

Kutukan ini bernama…

Gending Alas Mayit…
..


Gila.. ini cerita kiriman dari cahyo , sangat mengerikan kalau mengetahui kisah ini benar-benar terjadi.
Buat para pendengar , saat ini Cahyo , Paklek dan teman-temanya sedang membantu untuk menghentikan kutukan gending alas mayit ini.

Yang saya kenal , mereka adalah orang-orang hebat dan selalu membantu siapa saja yang membutuhkan… termasuk saya yang sempat ditolong oleh mereka.

Apabila mereka sampai membutuhkan bantuan, tandanya ini dalah sesuatu yang gawat.. jadi apabila ada yang mengetahui petunjuk mengenai Gending Alas Mayit silahkan hubungi saya di hotline telpon atau di media sosial..

Oh iya, satu lagi yang penting .. mereka mencari petunjuk mengenai Tabuh Waturingin ..
Untuk malam ini sekian dari saya , radio tengah malam undur diri… “

....

“ Oke.. close!” Ucap dika dari luar ruangan.
Aku membuka headsetku , menarik nafas sebentar dan segera keluar ruangan.

“Gua bikin kopi dulu ya dik , kalo ada telpon masuk tolong terima dulu…” ucapku.

“beres .. nyantai dulu sana” jawab dika.

Aku pergi ke dapur , mengambil gelas dan menyeduh kopi hangat . Sekilas kejadian di pabrik gula terlintas kembali di pikiranku. Seandainya tidak ada Cahyo dan Paklek , entah bagaimana nasib kami saat ini.

Sebuah aroma kopi sangat mampu menghilangkan lelahku seharian ini. Mungkin sudah belasan tahun semenjak aku bertemu mereka , saat itu cahyo hanya bocah smp yang masih sering bermain dengan monyetnya. Aku penasaran, seperti apa dia sekarang?

“ Gimana dik , ada yang nelpon?” Tanyaku sambil menghampiri dika.

“ada, tapi rata-rata gak serius.. nawarin jasa lah , minta alamat desa lah..” Jawab dika.

“ya sudah , kita juga udah tau bakal begini.. yang penting usaha dulu aja” Lanjutku.

Suara langkah kaki terburu-buru terdengar menuju tempat ini yang berujung pada pintu ruangan yang dibuka dengan buru-buru.

“Ardian.. woi!” Teriak seseorang … tidak.. ada dua orang lagi menyusul lagi dari belakang.
Itu Didi , Ranto, dan Nizar!

“Eh.. kalian, ngapain kalian ke sini? Buru-buru lagi… dikejar debt collector lu?” Tanyaku

“nggak lah… gua denger siaran lu tadi, itu bener cerita dari Cahyo ? gua langsung gas kesini waktu tau dia yang minta tolong” Tanya nizar.

“ iya… cahyo yang dulu dipanggil Panjul” jawabku

“Pokoknya kita harus bantuin dia , kita utang nyawa sama dia… “ Lanjut Didi.

Dika terlihat sedang menerima telepon , kali ini cukup panjang semoga saja ada informasi mengenai Kutukan itu.

“ eh gua bikin kopi dulu ya… “ Ucap didi sambil menuju ke dapur.

“ok , sekalian bikinin juga nih buat dua kurcaci” jawabku
“beres…”

Kami santai sejenak , terlihat nizar dan Ranto sibuk dengan Hpnya. Sepertinya mereka juga mencari informasi melalui internet dan media sosial.

“ Ar.. kalau info yang gua dapet, tabuh itu berarti pemukul gamelan ya?” Tanya Nizar.
“Bisa jadi , kalo bener berarti emang berhubungan sama suara gamelan itu… tapi pasti ada yang membuat tabuh itu jadi spesial” jawabku.

“Waturingin … itu bisa jadi nama tempat” ucap Ranto.

Kami berdiskusi cukup lama namun tak ada gunanya, semua yang keluar dari mulut kami hanya dugaan saja.

“ Ardian.. ini tadi ada yang nelpon lagi , kali ini kayaknya beneran…” Ucap dika menghampiriku.

“ Ada info apa dik?” tanyaku.

“Sebenernya ga detail… yang nelpon seorang perempuan ngaku namanya Ismi , dia cuman bilang kalau mau tau tentang tabuh waturingin dan gending alas mayit bisa datang ke desaku di selatan pulau jawa” Cerita Dika.

“ Yah… kalau Cuma begitu bisa jadi orang iseng yang mau ngerjain kita” ucap Ranto dengan pesimis.

“tapi… terakhir dia ngomong, salam juga buat cowo yg sering ngikutin ardian.. nandar” lanjut dika.

Aku melihat dika dengan serius , terlihat kedua temanku lainya menatap curiga kepadaku.
“Gimana dia bisa tau hantu nandar masih ngikutin gua?” Tanyaku pada dika.

“Gua ga tau dik, bisa jadi dia emang tahu tentang hal gaib… makanya gua sampein ke elu”
Ucap dika sambil menyerahkan kertas tertulis alamat desa di selatan pulau jawa.

“ Ardian… setanya Nandar masih ngikutin elu?” ucap Nizar sambil berbisik.
“iya… tapi ya udahlah, ga ganggu ini..”ucapku.

Suasana berubah menjadi hening , kami sibuk dengan hp masing-masing sampai terdengar suara jendela yang di hantam dengan keras.

Kami berlari menghampiri jendela, tidak ada satupu hal yang aneh hanya angin kencang berhembus dari luar. Namun saat akan kembali mendadak listrik seluruh ruangan mati.

“Dik.. mati lampu?” Teriaku sambil menyalakan senter dari handphoneku.
“Sebentar gua cek…” jawabnya .

Kami kembali duduk di sofa menunggu kabar dari dika, namun sekali lagi terdengar suara benda keras menghantam jendela. Namun kali ini tidak hanya itu…

Sayup-sayup terdengar suara gamelan , entah darimana asal suara itu..
“ Ardian.. itu suara dari mana? Komputer lu belum mati?” Tanya Nizar.

“listrik mati Nizar… gimana komputer bisa nyala? “ Jawabku

Aku mencari asal suara gamelan itu , namun sama sekali tidak ada petunjuk.
Ditengah gelapnya ruangan, terdengar suara pecahan kaca dari dapur…

“Didi!... dia masih di dapur!” Teriak Ranto.

Kami segera bergegas berlari menghampiri Didi , namun suara gamelan terdengar semakin keras ketika kami mendekat ke sana.

“ Ada apa Di??” aku menyapa didi yang terlihat membelakangi pintu dapur.

Gelapnya ruangan membuat suasana semakin mencekam , Didi menoleh , kami menyorotnya dengan cahaya lampu dari hanphone.

Namun yang terlihat sungguh mengerikan , sebuah gelas kaca pecah tergenggam di tanganya , ia mengangkat dan memasukan ke dalam mulutnya yang sudah bercucuran darah.

Mata didi melotot dengan tajam, memandang kami sambil melumat pecahan kaca itu.

“Di.. jangan di! Stop di!” Ucap Nizar yang segera menghentikan tangan didi.

Aku dan ranto menyusul nizar , menarik didi dan menahanya di lantai namun tenaganya terlalu keras..


Didi berdiri membelakangi tembok sambil tetap menggengam pecahan kaca ditanganya.
“ Kalian tidak usah ikut campur!!” Didi berbicara dengan suara yang mengerikan.
Suara gamelan terdengar semakin kencang.

“Ini peringatan! Gending Alas mayit juga akan menghampiri kalian jika kalian ikut campur!” Ucap makhluk itu lagi.

Setan itu tertawa dengan keras , Nizar dan Ranto terlihat ketakutan di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya kecil..

“Ardian… gimana nih, kalo gini terus Didi bisa celaka” Ucap nizar.
Aku berfikir sejenak, teringat korek api pemberian paklek masih tersimpan di tasku.
“ Ranto , Nizar.. tahan Didi sebisa kalian” Perintahku pada mereka.

Aku segera berlari ke ruangan rekaman , mencari tasku dan segera membawa kembali ke ruangan dapur.

Terlihat Ranto dan Nizar kewalahan menahan Didi.

Sebuah korek api dengan ukiran kuno kukeluarkan dari tas, pemantiknya cukup keras namun aku tetap berhasil menyalakanya.
“Nizar .. mundur” ucapku pada nizar yang masih menahan Didi.
Terlihat dari sudut-sudut ruangan makhluk halus bermunculan , begitu juga Nandar yang ada di belakangku.

“singkirkan!! Singkirkan benda itu!” ucap Didi meringkuk di ujung ruangan.

Makhluk itu terganggu dengan cahaya dari api ini. perlahan terlihat sosok makhluk bertubuh serba hitam mengenakan pakaian sinden keluar dari tubuh didi.
“ Ini peringatan! Atau kalian juga akan mati!” Ucap makhluk itu pergi menjauh dari ruang yang diselimuti cahaya korek ini.

Suasana mulai tenang disusul dengan listrik yang mulai menyala. Kami membopong didi dan membawanya ke ruang tamu.

“Dik.. tolong P3K” Ucapku pada dika.

“Ini.. itu didi kenapa?” tanya dika sambil menyerahkan kotak obat .
“ Kesurupan… kayaknya urusan yang kita lakuin ini benar-benar bahaya” jawabku.
“ Tapi kenapa didi yang langganan kesurupan ya?” Tanya dika dengan polos.
Kami menoleh ke arah secara serentak seolah setuju dengan ucapanya dika.
“Iya Di.. kok elu melulu yang kesurupan? Kenapa sih lu?” tanyaku.
“aduh… mana gua tau, besok besok gantian lu pada aja… gua ikhlas!” Jawabnya dengan wajah yang menahan sakit.

“ Dih ogah… amit-amit”Jawab Ranto sambil mengikatkan perban di tangan Dika.

“Besok gua mau coba nyamperin lokasi yang dikasi dika tadi… siapa tau bisa ada petunjuk” Ucapku.

“ Gua ikut… pokonya gua bantu sampai selesai “ucap nizar
“ Iya kita semua ikut…” sambung didi juga.

“Lu udah babak belur kayak gini… mendingan standby aja di sini sama dika… biar Gua, Nizar, sama Ranto yang ke sana” ucapku melarang niat Didi.

Esok harinya kami berkumpul kembali di studio , Dika dan Didi bertugas memantau informasi dari telepon dan medsos , dan sisanya berangkat menuju suatu desa di selatan pulau jawa.

Perjalanan menuju tempat tersebut tidak terlalu lama, hanya saja saat mendekati lokasi medan semakin berat , jalanan tidak ditutup dengan aspal sepenuhnya. Sepanjang jalan dihiasi dengan hutan-hutan jati yang tersusun rapi.

“ Ini bro lokasinya…” ucap nizar kepadaku.
“Yakin? Udah bener sesuai di peta?” Aku memastikan sekali lagi

“ Bener… tinggal lu cari perempuan yang telepon kemarin, siapa namanya? Ismi?” Lanjut Nizar.
Segera aku turun dari mobil dan menanyakan mengenai perempuan bernama ismi pada warga yang lewat.
Ia menunjuk pada sebuah rumah kayu di sudut desa.
“Disana rumahnya… katanya mobil masih bisa masuk kok..” ucapku pada nizar.
Kami melanjutkan perjalanan dan berhenti pada sebuat rumah kayu dengan lahan yang cukup luas. Terlihat seorang wanita, masih muda sedang menjemur pakaian di halaman rumah itu.

“Permisi mbak… bener ini rumah mbak ismi?” Tanyaku sesopan mungkin.
“Ya saya sendiri, saya ismi… ada yang bisa saya bantu?” wanita itu menjawab dengan sopan.

“Kami dari radio tengah malam , benar kemarin mbak ismi yang nelpon?” tanyaku sekali lagi.

“Oh mas ardian ya? Masuk dulu mas… maaf rumahnya berantakan” Ucap Ismi dengan mempersilahkan kami masuk.

Sebuah rumah tua, namun tidak kumuh… rumah yang terawat dengan baik , hawa sejuk tetap terasa walau di tengah panasnya udara siang hari .

Secangkir teh hangat disajikan kepada kami , tak terlihat orang lain selain ismi di rumah ini.
“Mbak ismi… terima kasih kami udah disambut, maaf saya agak lancang.. tapi mungkin mbak ismi bisa menceritakan yang mbak ismi tau mengenai Gending alas mayit maupun tabuh waturingin” Nizar mencoba membuka perbincangan.

“Masnya istirahat dulu saja , diminum tehnya… yang cerita nanti bukan saya. Tunggu sebentar ya” Ucap ismi dengan sopan dan meninggalkan kami.

Kami menurut dan menikmati secangkir teh yang disediakan oleh Ismi.
Seorang kakek tua berjalan perlahan menghampiri kami, Ismi terlihat menggandengnya berjalan dengan hati hati dan mendudukanya di dekat kami.

“ Ini kakek saya… mbah Rusman, dia yang akan menceritakan semuanya” Jelas Ismi pada kami.
Mbah rusman memperhatikan kami satu per satu sepertinya ia juga menyadari keberadaan hantu nandar yang terus mengikutiku , kami merapikan posisi duduk dan memberikan senyum seramah mungkin kepada mbah rusman.

“ Setelah kalian tau semuanya, apa yang akan kalian lakukan?” Tanya mbah rusman kepada kami.
“Kami hanya mencari informasi mbah , teman kami di jawa tengah, mereka yang ahli soal hal ghaib yang akan mencoba menghentikan kutukan itu” jelasku pada pak rusman.
“ Bagus.. jika kalian yang ikut campur, sudah pasti kalian mati” Ucapnya.

Kami sangat mengerti akan hal itu, namun setidaknya aku harus mendapatkan informasi yang bisa membantu cahyo.

“Menginaplah semalam disini, nanti malam kalian akan tahu semua” Ucap mbah rusman.
Kami saling menoleh dan sepakat menyetujui ucapan mbah rusman. Cara mereka menyambut kami terasa sangat tulus sehingga kami tidak sedikitpun merasa curiga kepada meraka.

Kami melalui siang hari dengan berbincang hal-hal kecil , Ismipun menyediakan keperluan kami mulai dari makanan dan air untuk mandi. Semua berjalan normal hingga akhirnya malampun tiba.

Kami menyelesaikan makan malam kami, bohlam yang redup di ruangkan ini cukup menyulitkan penglihatanku i. Aku membereskan piring sisa makan malam tadi dan mengumpulkanya di pawon belakang rumah.

Sebelum sempat kembali ke depan, pintu belakang rumah terbanting dengan keras.
Sebuah bayangan hitam mencoba masuk ke dapur melalui pintu belakang , semakin lama semakin mendekat. Aku mengawasi dengan hati-hati.
Lampu pawon mulai menerangi bayangan yang mendekat itu , ternyata itu adalah mbah rusman.

Sayup sayup suara gamelan terdengar.. persis seperti di studio kemarin.
Mata mbah rusman terbelalak dengan mengerikan kearahku dan mulai menggerakan tubuhnya perlahan.

“ Ismi , Nizar, Ranto… !! “ Aku memanggil orang di rumah untuk membantuku.
Mereka segera datang menghampiriku , namun mbah rusman keluar menuju halaman dan menari dengan lincah . kami mengejar mbah rusman, Cahaya bulan purnama menyinari pekarangan.

Mbah rusman menari dan terus menari , ismi masuk kerumah dan keluar membawa sebuah gong kecil di tanganya dan sebuah pemukul.
“Ismi.. itu mbah rusman kenapa?” Tanya nizar.

“ Ini yang kalian ingin tahu… Kutukan gending alas mayit , Mbah rusman dulunya berasal dari desa windualit , sebenarnya kutukan ini sudah sirna.. namun entah beberapa bulan lalu tiba-tiba saat bulan purnama mbah jadi seperti ini” Cerita Ismi kepada kami
Mbah Rusman menari dengan mengerikan, ia mencoba memutar kepalanya hingga hampir patah. Namun sebelum itu terjadi Ismi memukul gong kecil yang menggantung di tanganya.

Suara mendengung panjang terdengar dari benda itu. Mbah Rusman terliihat menghentikan tarianya namun ia mencoba bangkit untuk menari lagi, sebelum itu terjadi Ismi kembali memukul gong itu sehingga gerakan mbah rusman bisa tertahan. Hal itu terjadi berulang kali hingga Mbah rusman tak sadarkan diri.

Kami menggendong tubuh mbah rusman ke dalam rumah , Ismi menyiapkan segelas minuman rempah-rempah untuk diberikan kepada mbah rusman dan segera menghampiri kami.

“ Dulu sewaktu muda mbah rusman hidup di desa windualit, saat desa itu terkena kutukan mbah rusman adalah salah satu warga yang membantu menghentikan kutukan itu.. tapi karena tidak ingin mengambil resiko , mbah rusman memilih untuk meninggalkan desa “ Cerita ismi.

Terlalu mengerikan , Sesuatu yang dihadapi oleh cahyo dan paklek kali ini benar-benar mengerikan.
“ Ismi… bantu mbah” Ucap mbah Rusman mencoba menghampiri kami dengan tubuhnya yang lemah.

Serentak kami berdiri membantu memegangi mbah rusman dan mendudukanya di posisi yang nyaman.
“ Ismi… serahkan gong dan pemukulnya ke mereka” Perintah mbah rusman.
Kami saling menoleh, ismi terlihat tidak setuju.
“ Tapi mbah , nanti kalo kumat lagi?” ucap ismi.

“Sudah serahkan saja, mbah juga ga tau bisa hidup sampai kapan… mereka lebih butuh itu” Ucap mbah rusman dengan suara yang lemah.

“ Pemukul itu adalah tabuh waturingin, ujungnya dibuat menggunakan kayu pohon beringin yang sudah menjadi batu dan gong itu hanya gong biasa..” cerita Mbah Rusman.

Kami memperhatikan benda yang diserahkan kepada kami , kami berfikir keras…
seandainya ini kami bawa , apa mbah rusman bisa melewatkan purnama berikutnya?

“Nggak mbah, kita ga bisa bawa benda ini.. mbah butuh ini” Ucapku

“Walaupun ini adalah tabuh waturingin, ini tidak cukup untuk membersihkan kutukan di desa windualit…

Orang yang meminta bantuan kalian harus membuat kembali tabuh yang lebih besar dari batu pohon beringin yang ada sebuah sendang di alas mayit,

dan kalian harus bawa ini agar bisa sampai ke sana hidup-hidup”

Mbah rusman melanjutkan ceritanya tanpa mempedulikan pendapat kami.

Ismi terlihat sedih , ia mengerti maksud mbah rusman namun belum siap apabila harus kehilangan kakeknya itu.

Aku mengambil telepon genggamku mencoba menghubungi cahyo dan menceritakan mengenai kejadian malam ini kepadanya , awalnya cahyo sependapat dengan kami.. namun tiba-tiba telpon disambungkan kepada seorang wanita.

“ Mbah Rusman… “Ucap wanita dari telepon cahyo.
Mbah rusman hanya mendengarkan saja suara dari telepon itu.

“ Mbah.. Kulo Sekar.. anak Pak sardi” ucap wanita itu sekali lagi.
“Sar..di , Sardi sudah punya anak?” ucap mbah rusman dengan sedikit senyum muncul di wajahnya.

“iya mbah.. Bapak sering cerita kalau bapak belajar ngaji dari mbah rusman , sesepuh yang pernah nyelamatin desa windualit..” cerita sekar .

“ Piye kabar sardi nak sekar , masih rajin ngaji?” Ucap mbah rusman dengan semangat walau dengan tubuhnya yang lemah.

“Masih mbah… bapak rajin banget, sekarang bapak masih di desa nyoba bantuin sebisanya disana” Jawab sekar.
Mata mbah rusman berkaca-kaca , ia terlihat sedang mencoba mengingat tentang masa lalunya

“ Nak Ardian, Nak Cahyo… kamu harus bawa benda ini, kamu harus selamatkan desa windualit… selamatkan sekar dan semua orang disana” Mbah rusman berkata dengan paksaan.

Sepertinya aku mengerti yang diinginkan mbah rusman, setidaknya mungkin ia bisa menyelamatkan desa asalnya yang ia sayangi walau harus mengorbankan sisa umurnya.

“Baik mbah rusman, Amanah mbah saya terima.. benda ini akan saya bawa ke cahyo dan sekar” Ucapku.

“berarti kalo gitu umur mbah Rusman Cuma tinggl 1 purnama lagi? “ Ranto memastikan kepadaku.

“ Nggak , hanya Tuhan yang berhak menentukan umur manusia… bukan demit-demit itu” Jawab mbah Rusman.

Aku mengambil tasku, memasukan gong dan tabuh waturingin kedalam tas.
“ Ismi , Mbah Rusman… setidaknya tolong terima pemberian saya ini” Sebuah korek api dengan motif kuno pemberian paklek dulu kuserahkan kepada mereka.

“Ada kekuatan pada api korek ini… kamu yakin?” Ucap mbah rusman.

“Saat purnama datang lagi dan mbah mulai seperti tadi coba kamu nyalakan ini , benda ini sudah menyelamatkanku berkali-kali.. semoba bisa menolong kalian juga” ucapku

Nizar mendekatiku seolah kurang setuju.
“ Ardian kamu yakin? “ tanyanya dengan berbisik. Nizar tahu benar bagaimana benda itu menyelamatkanya di pabrik gula.

“ iya .. aku yakin Paklekpun pasti juga tidak keberatan” Jawabku.
Ismi menerima korek api pusaka pemberian pak lek , kami menutup perbincangan kami dan beristirahat.

Paginya kami ijin pamit ke Mbah Rusman dan Ismi , kami berjanji suatu saat akan mampir kembali kemari setidaknya sebelum purnama berikutnya. Namun sebelumnya kami harus mengantarkan benda ini ke Cahyo dan Paklek , semoga saja ini bisa benar-benar berguna untuk mereka.
Diubah oleh setta
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mas444 dan 18 lainnya memberi reputasi
19 0
19
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Gending Alas Mayit
01-08-2021 06:46
Mantap lanjutannya...
profile-picture
setta memberi reputasi
1 0
1
Gending Alas Mayit
01-08-2021 13:43
Lanjuuuut...
profile-picture
setta memberi reputasi
1 0
1
Gending Alas Mayit
01-08-2021 21:45
lanjoet kan
0 0
0
Gending Alas Mayit
01-08-2021 23:40
Lanjoet gan
0 0
0
Gending Alas Mayit
02-08-2021 21:37
Ninggalin jejak dulu gan. Cara berceritanya enak banget.
0 0
0
Gending Alas Mayit
02-08-2021 23:42
Belum ada lanjutan padahal tiap hari cek emoticon-Hammer2
0 0
0
Gending Alas Mayit
03-08-2021 07:09
Gasin terus
0 0
0
Gending Alas Mayit
04-08-2021 13:24
Ditunggu kelanjutannya om... Seru seru....
0 0
0
Gending Alas Mayit
05-08-2021 10:18

Part5 - Desa Terkutuk

Gending Alas Mayit

Quote:

Sekumpulan orang datang menghampiri Cahyo dan Paklek. Sepertinya , mereka dari kota yang cukup jauh.

“ Paklek , Cahyo… sudah lama sekali ya , dulu kamu masih sekecil ini lho cahyo” Ucap seorang pria yang datang menghampiri rumah Paklek.

Mereka berbincang panjang lebar seolah sedang bernostalgia akan sesuatu.
Aku?

Aku hanya duduk termenung di ujung ruangan. Cerita sekar mengenai Laksmi sungguh membuatku sangat terpuruk.

Tidak mungkin seorang laksmi yang baik dan ramah bisa mati di tangan anak buah seseorang bernama Aswangga itu.

“Danan… sini lho , tak kenalin sama mas-masku “ Panggil Cahyo dari ruang tamu.
Aku menghampiri mereka sambil berusaha menyembunyikan wajah murungku.

“ Saya Danan mas… majikanya Cahyo” ucapku sambil menjabat tangan teman-teman cahyo.

Cahyo segera menoleh dan melemparkan sarungnya ke arahku.
“Enak aja… majikan mbahmu , emangnya aku mbok gaji piro?” Jawab cahyo yang mengerti maksud candaanku

“ wah.. mas danan bisa aja .. saya Ardian , ini Nizar dan Ramto… “ Ucap mereka memperkenalkan diri.
Paklek mendekat sambil membawakan minuman yang telah disiapkan Bulek dari dapur.
“Ini.. Diminum dulu, terima kasih lho sudah jauh-jauh mau mampir ke sini” Ucap Paklek menyambut mas ardian dan teman-temanya.

Perbincangan-perbincarang ringan terbentuk diantara kami , hampir sebagian besar merupakan cerita tentang bagaimana paklek dan cahyo waktu masih kecil sempat menyelamatkan mereka dari bahaya di pabrik gula.
“Cahyo , Paklek… kami sudah mencoba mencarikan informasi semampu kami, dan berujung kepada seseorang bernama Mbah Rusman” Ucap mas ardian.
“Katanya dulu dia warga desa windualit yang bertahan dari kutukan yang sedang kalian hadapi itu”
Sebagian besar, kami sudah mengetahui cerita mas ardian lewat telepon , namun dengan bertemu langsung , cerita mereka tentang mbah rusman terasa lebih menyedihkan.
“Sebentar mas ardian , sebelum dilanjutin ceritanya biar saya panggil sekar dulu “Ucap cahyo memotong cerita mas ardian.


Sambil Mas Ardian melanjutkan ceritanya, Mas Nizar masuk kedalam mobil dan mengambil sebuah benda yang terlihat cukup besar.

“Nah… ini barangnya “ ucap mas adrian membukakan sebua bungkusan yang berisi sebuah gong kecil dan pemukulnya.

“ Menurut cerita mbah rusman , pemukul ini yang disebut dengan tabuh waturingin.. namun ini tidak cukup untuk satu warga desa, kalian harus membuatnya dari kayu pohon beringin tua di sebuah sendang di hutan” Cerita mas Ardian.

Paklek terlihat terfokus pada benda itu dan memperhatikan energi yang keluar darinya.

“Sendang banyu ireng… saya pernah ke sana paklek” Ucapku pada paklek.
Aku mengingat sebuah tempat yang digenangi air berwarna hitam di dalam Alas Mayit.

“ ya sudah mas ardian, benda ini kami terima ya.. terima kasih banyak” Ucap paklek kepada mas ardian.
Terlihat paklek sengaja memotong ceritaku agar mereka tidak terlalu terjun ke dalam permasalah mengerikan ini.
“ Iya mbah, kami sangat senang bisa membantu” Ucap Mas Ranto menggantikan Mas Ardian yang sedang berfikir.
“Paklek.. mas danan… cahyo , kami tau ini tidak mudah tapi kalau bisa selesaikan ini sebelum purnama berikutnya, sebelum kutukan itu menyerang mbah rusman lagi” Pinta mas ardian dengan wajah yang serius.
Kami mengerti maksud mas ardian dan berjanji menyelesaikan ini secepat mungkin.
“ Oiya paklek.. mohon maaf, Korek pemberian paklek saya serahkan kepada mbah rusman dan cucunya.. safa pikir, mungkin itu bisa membantu mereka” Ucap mas ardian lagi.

“Yang kamu lakukan sudah benar, korek itu sudah seharusnya berada di tangan mereka yang membutuhkan” Balas paklek sambil menepuk mundak mas ardian.

Setelah perbincangan serius itu.. kami berpisah , Cahyo mengajak teman-temanya itu melihat pabrik gula tempat kerjanya yang sudah direnovasi dan sore harinya mereka sudah berpamitan pergi.

“ Gak nyangka, kamu punya teman-teman sehebat itu” Ucapku pada cahyo.

“ iya donk, tapi sayangnya temanku yang paling hebat lagi galau gara-gara kehilangan perempuan.. “
Cahyo menyindirku , namun aku tahu maksud baiknya untuk menyemangatiku.

“ Panjul, Danan, Sekar… Kita kumpul di pendopo” Teriak paklek sambil berjalan ke halaman belakang.


Kami menyusul paklek ke pendopo dan duduk lesehan sekenanya. Suara pohon yang ditiup Hembusan angin malam memecah keheningan di halaman belakang rumah.

“Paklek sudah mampir ke desa windualit…” Paklek berbicara dengan wajah serius.
Kami saling menatap , sudah jelas paklek tidak pernah menginggalkan desa ini, Tapi kenapa paklek bisa berkata seperti itu.
“ Paklek ke sana dalam raga sukma, Warga disana masih selamat, namun banyak yang terbaring tak berdaya seolah kehilangan rohnya..
di sana seseorang, mungkin itu adalah ayahnya sekar… ia terlihat sibuk menjaga tubuh korban-korban itu siang dan malam” cerita paklek sambil menoleh pada sekar.”
Sekar terlihat menghela nafas , seolah lega mendengar kabar mengenai ayahnya.

“ Danan… walaupun kemarin eyang widarpa terlihat acuh , ternyata saat ini ia sedang berkeliling alas mayit mencari sesuatu , temui dia sebelum kamu masuk ke dalam hutan itu” Perintah Paklek.

“ Baik Paklek “ aku mengerti maksud paklek , eyang widarpa memang sama sekali tidak bisa ditebak.

“o iya, dan satu lagi… ini peninggalan nyai suratmi , tolong berikan pada eyang nanti “
Paklek menyerahkan sebuah kalung kuningan seperti yang biasa dipakai prajurit-prajurit jaman dulu. Aku segera mengambil dan menyimpanya. Sebenarnya aku penasaran , apa reaksi eyang widarpa saat menerima ini.

Paklek menutup perbincangan kami dengan mengajarkan sebuah mantra penyembuh kutukan, termasuk kepada sekar. Paklek bilang, mungkin nanti ayah sekar akan membantu kami di alas mayit, jadi sekar harus bisa membantu warga untuk menahan kutukan yang diterima warga desa.

Kami beristirahat dengan cukup, paginya bulek memberikan bekal kepada kami untuk persediana selama perjalanan ke desa windualit.
Paklek tidak ikut, ia masih bertugas menjaga pabrik gula yang ia kelola. Namun Paklek bilang bahwa ia sudah meninggalkan sesuatu untuk membantu kami di sana.

Kami berganti angkutan beberapa kali sampai akhirnya kami turun di sebuah persimpangan yang terdapat jalan setapak menuju hutan hutan.

“ Dari sini masih berapa lama?” Tanya cahyo pada sekar.
“ kalo jalanya cepet, mungkin bisa 2-3 jam” Jawab sekar.

“ Ya udah, kalo sekar capek bilang ya… nanti mas gendong” Goda cahyo dengan memasang wajah genit yang kususul dengan pukulan di kepalanya.

“ Inget , kita mau nolong orang.. jangan sampai ilmumu ga bisa dipake gara-gara kualat” Aku memperingatkan cahyo.
“iya.. mudeng kok, maksudnya biar ga terlalu tegang aja” jawab cahyo.

Aku tahu benar, cahyo memang tidak mungkin berbuat aneh aneh , daritadi ia memang terus memperhatikan sekar yang terlihat cemas selama perjalanan.

Kami melalui hutan-hutan yang rindang , sesekali kami beristirahat di pinggir sungai untuk sekedar menarik nafas dan mencuci muka sampai akhirnya kami sampai di desa sekar tepat sebelum malam.

Aku sedikit bernostalgia dengan desa ini , sudah ada kemajuan saat aku tersesat disini listrik masih belum menerangi desa ini. Selain itu tidak banyak yang berbeda , selain sebuah rumah yang terlihat cukup besar di tengah-tengah desa. Mungkin saja itu rumah juragan kaya yang bernama Aswangga.
Beberapa orang terlihat berkumpul di balai desa. Sekar segera berlari menuju kesana.

“ Bapak! Sekar pulang” teriak sekar yang bergegas menemui ayahnya di tempat itu.

“Sekar…” Ucap ayah sekar yang segera memeluknya , sepertinya ia juga sadar dengan keberadaanku.
Aku dan cahyo segera menyusul untuk menemui ayahnya sekar itu.

“ Mas Danan… kamu bener mas danan kan?” ucap pak sardi dengan senyuman di wajahnya.

“ Iya Pak Sardi , ini saya.. dan ini teman saya cahyo” jawabku sambil memperkenalkan cahyo.

Sekar menceritakan tentang bagaimana dia diselamatkan oleh cahyo dan dipertemukan denganku, termasuk mengenai mbah rusman.

“Wah ada tamu dari jauh nih… “ seorang pria paruh baya datang menghampiri kami.
“Eh pak kades.. lama sekali ndak ketemu “ ucapku menyambutnya.
Pak Kades dan Pak Sardi menceritakan panjang lebar mengenai apa yang terjadi di tempat ini dan bagaimana bisa banyak warga terbaring tak berdaya di tempat ini.
“ Mas Danan, Mas Cahyo ayo mampir ke rumah dulu… nanti tidur di rumah saya saja, ada kamar kosong disana” Ucap Pak Sardi.

“ Waduh ga usah repot-repot pak , nanti saya tidur di rumah singgah aja.. mau nostalgia “ Balasku pada pak sardi .
“ Pak Sardi , Istirahat dulu… warga yang terkena kutukan biar kami yang mengobati” ucap Cahyo kepada pak sardi.
Ternyata dari tadi cahyo memperhatikan kondisi pak sardi yang sudah terlihat sangat kelelahan, rasa capek kami selama perjalanan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding yang pak sardi rasakan.
“Bener nih, kalian habis perjalanan jauh lho.. pasti capek” Pak sardi memastikan pada kami.

“bener pak.. Sekar , tolong antar Bapak ke rumah ya.. suruh istirahat, biar kami ditemani sama pak kades.. “ Perintahku pada sekar.

Sekar mengangguk dan mengerti maksud kami , memang wajah kami terlihat serius setelah memasuki desa ini. Tak ada lagi candaan keluar dari mulut cahyo.

“Pak Kades.. saya mohon ijin memeriksa warga desa” Ucap cahyo sambil mepersiapkan peralatan dari ranselnya.
“Monggo mas… tapi jangan memaksakan diri ya” Jawab pak kades yang di susul dengan beberapa makanan ringan dan teh hangat yang diantar oleh warga desa.

Kami memeriksa seluruh warga yang terbaring disini , jelas terlihat.. roh mereka tidak berada pada tubuhnya, namun sebuah kekuatan menjaga agar tidak ada entitas lain yang masuk ke tubuh mereka. Mungkin itu adalah perbuatan pak sardi.

Kami hanya membacakan mantra pelindung untuk menahan serangan-serangan yang mungkin datang ke tempat ini.
“Danan… kita harus beresin ini semua , ini keterlaluan” Ucap Cahyo padaku.

“ Sabar jangan gegabah… malam ini kita persiapan dulu , malam ini bukan bulan purnama.. seharusnya aman” aku mencoba menahan emosi cahyo.

Setelah selesai memeriksa warga , kami berpamitan ke rumah singgah yang terletak tak jauh dari balai desa.

Setelah membereskan semua peralatan , kami melakukan persiapan untuk esok malam.
“ Cahyo.. tak coba cek dulu, paklek ninggalin apa di sini” ucapku pada cahyo sambil memasang posisi meditasi.
“ ya sudah sana… aku jagain” balas cahyo.
Aku memisahkan sukmaku dari raga, sebuah aura kelam terlihat mengelilingi hampir seluruh sudut desa ini, dan benar sumbernya dari alas mayit.
aku mencoba berkeliling desa dan mencari tahu lebih dalam mengenai aura kelam ini.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
mas444 dan 18 lainnya memberi reputasi
19 0
19
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Gending Alas Mayit
05-08-2021 10:19
Quote:
Dari perbatasan desa dan alas mayit, terlihat nyala api berwarna putih yang menambah besar secara perlahan.
Geni Baraloka , salah satu ilmu terhebat milik pakde.. dengan api ini, kami bisa menenangkan roh-roh penasaran yang belum tenang tanpa harus bertempur,

Tapi aku ragu besar api ini akan cukup besar untuk melawan seisi penghuni hutan ini.

Belum sempat menemukan petunjuk yang berarti , perlahan terdengar suara mendengung dari dalam hutan. Itu adalah suara gong yang dipukul pelan dan disusul dengan suara gamelan , persis seperti apa yang kudengar saat sekar kesurupan.

Tapi.. bukanya malam ini bukan purnama?
..
Layaknya iring-iringan kerajaan , dari dalam hutan muncul kereta kencana bersama dengan sinden yang melakukan tarian-tarian gemulai.
Bahaya semakin kurasakan, segera aku menarik sukmaku kedalam tubuh untuk memberitahu cahyo dan pak sardi.

“Cahyo… sepertinya kita harus bersiap , suara gamelan muncul dari dalam hutan.. “ aku memberi tahu cahyo dengan apa yang kulihat.

“ tapi sekarang bukan bulan purnama? “ bantah cahyo.
“ Sepertinya mereka merasakan ancaman, iring-iringan kereta demit itu juga mengarah kesini.. pokoknya siap-siap” perintahku
Kami mengambil tabuh waringin dan gong kecil yang kami bawa dan keluar dari rumah singgah.
Suara gamelan sudah terdengar dengan semakin jelas, semua warga termasuk pak sardi juga serentak keluar dari kediamanya dan berkumpul ke balai desa.
“ Mas danan, gimana ini.. jangan sampai ada korban lagi” Ucap pak kades yang menghampiri kami.

“Tenang pak , tidak akan kami biarkan.. “ aku menenangkan pak kades sambil memperhatikan gelagat warga mencari apakah ada yang terpengaruh suara gending itu.
“Pak Sardi… Sekar ? Mana sekar?” Cahyo yang tidak menemukan keberadaan sekar menanyakan kepada pak sardi yang datang bersama warga.

“ Lah nak cahyo, tadi sekar pamit mau mengantarkan makanan untuk kalian” ucap pak sardi yang mulai cemas.

Insting cahyo memaksanya untuk berlari ke balai desa, dan mendobrak pintu kayu yang tertutup disana.
“ Danan! Disini!” teriak Cahyo memanggilku.
Aku berlari dan segera memperhatikan apa yang dilihat oleh cahyo.
..
..
Di tengah-tengah warga yang terbaring , Sekar menari dengan gemulai mengikuti irama gamelan dan mengelilingi warga yang terkena kutukan.

“ Sekar , lawan sekar! “ teriak pak sardi yang mencoba menghentikan anaknya itu, namun itu semua sia-sia.
Pak sardi terpental dengan kekuatan besar yang memancar dari tubuh sekar, sekar menoleh dengan senyum mengerikan di wajahnya.

“ satu persatu kalian akan mati... tidak ada tempat bagi kalian untuk lari “ suara mengerikan terdengar dari mulut sekar.

cahyo berlari mendekat dan memukul gong dengan tabuh waringin pemberian mbah rusman.
Suara mendengung panjang terdengar ke seluruh penjuru ruangan, tarian sekar sempat terhenti.. ia terjatuh dan memuntahkan cairan berwarna hitam. Sekar mencoba menari lagi , dan dihentikan dengan suara gong yang dipukul oleh cahyo.

Sekar yang kesurupan terlihat semakin kesakitan, namun samar-samar terlihat bayangan wanita yang hampir terpisah dari tubuh sekar.

“ Laksmi… roh laksmi yang merasuki sekar!” Teriaku pada pak sardi.

Pak sardi mengambil posisi dan membacakan doa-doa untuk menghentikan pergerakan demit yang ada di tubuh sekar.
Aku teringat geni baraloka yang ditinggalkan paklek, sebuah mantra pemanggil kuucapkan untuk menarik sebagian dari api itu dan melemparkan kepada sekar.

Sekar yang merasa kepanasan mulai terjatuh dan kehilangan kesadaran.

Dihadapanku ada sesosok roh wanita berpakaian kebaya memandangku dengan wajah yang pucat.
Aku mengenalnya… itu Laksmi.

Suara gamelan terdengar semakin keras , Demit berwujud laksmi itupun mendekat hingga menembus tubuhku.

Aku kehilangan kesadaran, namun sebuah penglihatan muncul di kepalaku.
..
..

Terlihat seorang laki-laki berbicara dengan laksmi.
“ Lihat.. ini foto orang tuamu? “ aku pastikan mereka akan di hukum mati setelah ini.
Ucap orang itu mengancam laksmi.
“Jangan Aswangga… tolong , wis cukup kamu mengurung mereka bertahun tahun.. ” Laksmi memohon sambil menangis.
“ kesalahan mereka ra iso dimaafke, kecuali… kowe arep nuruti semua perintahku” Aswangga mencoba mengintimidasi laksmi.

“Apa…? Apa yang kamu mau?? Tak lakuin semua .. asal kamu berjanji membebaskan mereka” Ucap laksmi sambil menutup wajahnya menahan air mata yang menetes di pipinya.

“ Aku membangun sebuah rumah di sisi belakang hutan… temui aku di sana setiap malam bulan purnama” Perintah aswangga sambil melemparkan foto kedua orangtua laksmi dan meninggalkanya.

Sebuah rumah kecil terlihat di sisi belakang hutan, sebuah lampu minyak sudah menyala dengan terang di dalam.
Seorang wanita berjalan dengan ragu menuju rumah itu, ia sempat terhenti di depan pintu , namun rasa sayangnya kepada kedua orang tuanya memaksanya untuk masuk.

“Aku sudah di sini… apa yang kamu mau?” Tanya laksmi.
Aswangga tidak menjawab , ia hanya berjalan ke arah pintu dan menguncinya.

“Harusnya kamu sudah tau apa yang aku mau…” Ucap aswangga sambil menyentuh pipi Laksmi.

Laksmi mundur , namun Aswangga menahan kedua tanganya…

Aku tak sanggup melihatnya , bibir mungil laksmi di lumat dengan paksa oleh aswangga .
Tangan biadab itu meraba ke seluruh tubuh laksmi dengan penuh nafsu.
Laksmi mencoba melawan, namun tamparan keras menghantam ke pipinya.

“Jangan coba melawan! Kecuali.. kamu mau orang tuamu pulang tanpa nyawa” Ancam aswangga.

Laksmi ketakutan dan tak berani melawan , ia hanya pasrah saat kesucianya direnggut dan tubuhnya di nikmati oleh aswangga. Terlihat air mata laksmi tak henti-henti membasahi tempat itu.

Setiap malam purnama, laksmi harus melayani nafsu bejat Aswangga.
Sampai akhirnya ia merasakan hal yang aneh pada tubuhnya.

Laksmi mengandung anak dari aswangga…

Beberapa kali laksmi memberi tahu aswangga secara diam diam, namun Aswangga menentangnya tidak percaya. Sampai akhirnya , ia mengatakanya di depan warga desa.

“ Ini anakmu mas! Anakmu!” Ucap laksmi yang kepada aswangga yang dibalas dengan pukulan keras yang menyebabkan laksmi terjatuh.
Melihat kejadian itu, warga berkerumun dan anak buah aswangga segera menyusul menghampiri aswangga.
“ Perempuan brengsek! “ Aswangga memukuli laksmi tak hanya sekali, setiap ia akan berbicara aswangga menghentikanya dengan menghajarnya.

Tidak ada satupun warga yang berani percaya dengan kata-kata laksmi , temasuk istri aswangga.

“Uwis , Pateni wae” (sudah, bunuh saja) Teriak salah seorang anak buah Aswangga memanaskan emosi warga.

“Jangan pak , bicarakan baik-baik dulu” ucap salah seorang warga ,Sekali lagi pukulan yang keras menghantam laksmi , dan wanita itu hanya diam berlutut sambil melindungi janin di perutnya.

“ Sudah pak , Sudah… jangan sampai ada yang mati, kalau terpaksa.. usir saja dia dari desa ini” Ucap kepala desa yang merasa takut dengan pengaruh Aswangga dan anak buahnya yang terlihat bengis.

“Baik… Bawa dia! Usir dia dari desa ini!” Perintah Aswangga kepada anak buahnya.

Tiga orang bertubuh besar dengan kasar menarik tubuh Laksmi menyeretnya membawanya keluar dari desa.
Di tengah perjalanan , salah seorang anak buah aswangga tergoda dengan tubuh Laksmi yang terlihat dari bajunya yang terkoyak.

“ Gowo ning alas wae piye?” (Bawa ke hutan aja gimana?) ucap salah seorang anak buah aswangga sambil memberikan isyarat kepada teman temanya.

“Wah… pinter kowe “ Ucap temanya sambil tersenyum

Laksmi dipaksa berjalan menyusuri hutan di perbatasan desa itu, sampai di kedalaman hutan anak buah aswangga melucuti pakaian laksmi hingga tak sehelipun benang ada ditubuhnya.
Laksmi menangis sejadi-jadinya melindungi tubuhnya , satu persatu anak buah aswangga memperkosa laksmi dengan kejam…
Pukulan demi pukulan menghantam tubuh laksmi hanya untuk memuaskan nafsu anak buah aswangga yang biadab itu.

“ Emang dasar perempuan goblok! Orang tuamu itu udah mati! “ Ucap salah satu anak buah aswangga.

Ditengah tangisanya, laksmi mencoba melawan.
“ Gak mungkin, Aswangga sudah janji tidak akan membunuh mereka!” Teriak laksmi.

“ Bukan Aswangga yang membunuh mereka… warga desa kesayanganmu itu yang membuat kedua orang tuamu mati!” lanjut anak buah aswangga sambil tertawa.

“ Ibumu itu , selingkuh dengan kepala desa… dan ayahmu menghamili bocah dibawah umur saat di kota”

“ ayahmu dihukum rajam oleh warga kepala desa , dan melarikan diri ke hutan ini yang akhirnya gantung diri , ibumu tak berani menahan malu.. dia menenggalamkan diri di sungai”

Aku tidak percaya akan semua cerita ini, warga desa windualit yang begitu ramah ternyata begitu kejam terhadap laksmi dan kedua orang tuanya. Aku emosi, jika ini benar .. aku harus membuat perhitungan pada aswangga , pak kades dan warga desa..

“ Brengsek kalian! Bajingan kalian warga desa windualit! Aku akan membalas semua ini… “ Teriak laksmi yang dibalas dengan jambakan anak buah aswangga yang masih ingin melampiasakan nafsunya.

“ Dendam! Aku dendam! Kalian harus mati!!” Teriak laksmi dengan wajah yang putus asa.

Setelah puas menyiksa dan memperkosa tubuh laksmi, anak buah aswangga meninggalkan laksmi tergeletak begitu saja.

Hari semakin malam… tak ada satupun cahaya masuk ke hutan itu. Laksmi tersadar dan menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit.

Di tengah rasa dendam yang menyelimutinya, ia sampai ke sebuah sendang yang digenangi dengan air yang berwarna hitam.
Bau busuk mengelilingi tempat itu.

“ mati… warga desa harus mati…” bisik laksmi di setiap langkahnya.

Suara gemericik air terdengar, riak air muncul dari genangan air yang berwarna hitam itu.
Sebuah kepala dengan sanggul di kepala muncul dari dalam sendang, namun tak ada bola mata di wajah itu.
Makhluk itu berdiri dan semakin mendekat ke laksmi.

“ khikhikhi…. Aku iso nulungi kowe mateni wong wong kuwi” (aku bisa nolongin kamu membunuh orang-orang itu) ucap makhluk itu pada laksmi.

Laksmi memandang setan itu, setelah semua yang iya lalui , wajah seram setan itu sama sekali tidak membuatnya takut.
“ Tak wenehi opo wae.. sing penting warga desa mati!” Ucap Laksmi kepada makhluk itu.



Suara gong berbunyi , penglihatanku menjadi kabur..
Mataku kembali melihat orang-orang di balai desa, Aku masih terbawa emosi.. selain itu roh laksmi masih berdiri di depanku, dan wajahnya tidak lebih dari sejengkal dari wajahku.

“ Kamu sudah tau semuanya danan… kamu masih mau membantu warga desa yang biadab itu” ucap demit itu kepadaku.

Wajahku merah padam , terlihat di pintu ruangan pak kades berdiri dengan seseorang yang dijaga oleh beberapa anak buahnya..
Itu pasti Aswangga… aku merapalkan ajian lebur saketi pada tanganku dan bersiap menyerang mereka.

“ Balaskan dendamku danan! Balaskan rasa sakitku! Dan jadi lah pangeranku di Alas Mayit!” Ucap Roh laksmi diikuti dengan tawanya yang mengerikan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mas444 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Gending Alas Mayit
05-08-2021 13:54
mantapppp gannn..lanjoetttt
0 0
0
Halaman 2 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia