News
Batal
KATEGORI
link has been copied
87
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60d48c1489732b50bd73187d/bukan-portugis-tapi-nusantara-pemilik-kapal-terbesar-di-masa-lampau
Kalau berbicara tentang kapal pada masa lampau mungkin bayangan kita akan langsung menuju ke negara-negara barat seperti kapal milik Portugis Flor De La Mar yang karam dan diyakini membawa
Lapor Hansip
24-06-2021 20:43

Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau

Past Hot Thread


Kalau berbicara tentang kapal pada masa lampau mungkin bayangan kita akan langsung menuju ke negara-negara barat seperti kapal milik Portugis Flor De La Mar yang karam dan diyakini membawa harta rampasan perang berupa emas di selat Malaka yang pada tahun 1511 dan besarnya konon seukuran Titanic.

Kapal Djong Jawa



Atau kapal Santa Maria yang mengangkut Cristopher Columbus yang menemukan Dunia Baru, dan mendarat tanggal 12 Oktober 1492 di tempat yang saat ini disebut Bahama.

Tapi ternyata kita harus patut berbangga karena jauh sebelum era Columbus melakukan pelayaran dunia untuk mengeksplorasi bagian-bagian terjauh bumi, penjelajah laut Nusantara telah melakukan pelayaran hingga benua-benua lainnya. Jika melihat catatan perjalanan keagamaan yang ditulis oleh I-Tsing (671-695 M), ia melakukan perjalanan ke India Selatan menggunakan kapal dari Kerajaan Sriwijaya yang pada waktu itu dikenal sebagai penguasa Laut Selatan.

Puncak kejayaan perkapalan di Jawa adalah ketika orang Jawa berhasil membuat kapal Jung Jawa pada abad ke 8. Kapal ini menjadi perhatian kawasan Asia Tenggara, karena teknologi yang digunakan dalam pembuatan kapal ini cukup unik. Jung Jawa dibangun tanpa menggunakan paku, seperti halnya pembuatan Kapal Borobudur. Kapal ini terdiri dari empat tiang layar dan dinding, yang merupakan gabungan dari empat lapis kayu sehingga tahan akan tembakan meriam dari kapal-kapal Portugis. Berat dari Jung Jawa juga bervariasi, dari kisaran 600 ton hingga 1000 ton seperti yang digunakan oleh Kerajaan Demak dalam peperangan di Malaka tahun 1513.

Ukuran Jung Jawa berdasarkan pada catatan Tome Pires dan Gaspar Correia juga sangat besar. Bahkan Jung Jawa tidak dapat menepi ke daratan karena ukurannya yang begitu besar. Sehingga diperlukan kapal kecil untuk melakukan bongkat muat. Selain itu Jung Jawa menurut Gaspar Correia melebihi besar dari kapal terbesar Portugis pada waktu itu, Kapal Flor de La Mar.

Kapal Flor de La Mar



Kapal Flor de La Mar, dikenal memiliki kapasitas 500 orang pasukan dan 50 buah meriam. Data ini jika dibandingkan dengan kapasitas Jong Jawa, akan cukup timpang. Menurut buku “Majapahit Peradaban Maritim”, Jung Jawa memiliki ukuran 4 hingga 5 kali lipat Kapal Flor de La Mar. Jung Jawa memiliki panjang 300-400 meter. Sehingga jika dibandingkan dengan kapal milik Cheng Ho yang hanya memiliki panjang 138 meter, Jung Jawa jauh lebih besar dan setara dengan kapal induk di masa sekarang.

Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan, Kerajaan Majapahit menggunakan “jung” secara besar-besaran sebagai kekuatan lautnya. Mereka dikelompokkan menjadi 5 armada. Jumlah terbesar “jung” Majapahit mencapai 400 kapal, disertai jenis Malangbang dan Kelulus yang tak terhitung banyaknya.

Gaspar Correia, penulis sejarah abad 16 dari Portugis mencatat tentang pertemuan Alfonso Albuquerque dengan kapal raksasa Majapahit yang terjadi di Selat Malaka. Pramoedya menyebut, nama kapten terkenal Portugis itu berdasarkan penamaan orang Jawa pesisir yakni “Kongso Dalbi”. Catatan Gaspar itu menyebutkan bahwa kapal raksasa itu tidak mempan ditembak meriam yang terbesar. Hanya dua lapis papan yang bisa ditembus dari empat lapis papan kapal itu. Saat kapten mencoba untuk menaikinya bagian belakang kapal Flor de la Mar tidak bisa mencapai jembatannya.

Alfonso Albuquerque sendiri mencatat kalau jung itu memiliki empat tiang layar. Bobot muatannya sekitar 600 ton. Sedangkan yang terbesar tercatat dimiliki Kerajaan Demak dengan bobot mencapai 1.000 ton. Fernao Pires de Andrade mencatat dalam rangkuman Tome Pires kalau kapal itu butuh tiga tahun untuk membangunnya. Konon Albuquerque mempekerjakan 60 tukang kayu dan perancang kapal dari Jawa untuk bekerja bagi Portugis di Malaka. Satu buah jung tercatat berhasil dibawa ke Portugal dan digunakan menjadi kapal penjaga pantai di Savacem.

Pedagang Italia, Giovanni da Empoli, dalam surat-suratnya (1970) menulis bahwa di tanah Jawa, jung tidak berbeda dibanding benteng, karena memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri. Mereka berlayar bersama dengan wanita, anak-anak, dan keluarga mereka, dan semua orang menjaga kamarnya sendiri.

Fungsi Kapal

Kehadiran Jung Jawa pada dasarnya berfungsi sebagai kapal dagang dan juga kapal angkut militer. Berdasarkan pada catatan Duarte Barosa, Jung Jawa digunakan untuk melakukan perdagangan dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah. Sedangkan barang dagangan yang dibawa adalah beras, daging sapi, kambing, babi, bawang, senjata tajam, emas, sutra, kamper, hingga kayu gaharu.

Hilangnya Kapal

Anthony Reid berpendapat bahwa kegagalan Pati Unus di Malaka membawa pengaruh yang besar bagi hilangnya kapal-kapal besar dari galangan-galangan kapal di pesisir utara Jawa. Bergesernya kekuasaan Mataram ke pedalaman adalah salah satu yang membuat galangan-galangan kapal yang tersebar di pesisir ditinggalkan. Salah satu pukulan terbesar adalah saat penguasa Mataram menghancurkan sendiri kota-kota pesisir yang menyimpan peninggalan-peninggalan galangan.

Amangkurat 1



Perintah Amangkurat I pada 1655, dicatat Rendra F Kurniawan (2009) sebagai kebijakan represif Mataram yang paling memukul kota-kota pesisir. Perintah dia untuk menutup pelabuhan dan menghancurkan kapal-kapal agar tidak memicu pemberontakan membuat punahnya lapisan ahli-ahli pembuat kapal yang sejak masa Demak sendiri sudah tinggal sisa-sisa.

Kondisi itu semakin diperburuk ketika VOC mulai menguasai pelabuhan-pelabuhan pesisir di pertengahan abad 18. Pada saat itu VOC melarang galangan kapal membuat kapal dengan tonase melebihi 50 ton dan menempatkan pengawas di masing-masing kota pelabuhan.


Baca sejarah lain di web Lebih Bebas
profile-picture
profile-picture
profile-picture
greatryder dan 26 lainnya memberi reputasi
27
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 3
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 21:25
Jadi inget lagu nenek moyangku seorang pelaut. Kala itu memang nusantara begitu dikenal, rindu akan kebesaran nusantara di jaman dulu.
profile-picture
johanbaikatos memberi reputasi
1 0
1
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 21:32
HaLah ngaku3 doang tanpa bukti semua jg bisa




emoticon-Traveller
Barang bukti nya apa. Mesti Ada fisik
profile-picture
profile-picture
johanbaikatos dan kaum.surgawi memberi reputasi
2 0
2
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 21:51
Buktikan dengan bikin dokumenternya jgn sampai kecolongan lagi, legenda ikan emas sudah bukan punya Indonesia loh
profile-picture
profile-picture
johanbaikatos dan kaum.surgawi memberi reputasi
2 0
2
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 21:55
Yakin? Bukan overproud? Menang gede doang tp kalo gak tangguh buat peperangan atau minimal buat berdagang juga buat apaan.
profile-picture
profile-picture
johanbaikatos dan kaum.surgawi memberi reputasi
2 0
2
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 21:56
dahulu kala indo berjaya

krn kadrun jd primitif
profile-picture
johanbaikatos memberi reputasi
1 0
1
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 22:01
ilok 400 meter
profile-picture
johanbaikatos memberi reputasi
1 0
1
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 22:17
keknya berlebihan kapal sgede 300-400 meter deh dengan bbot seringan itu..kapal tergede portugis yg d bandingin d bwah 50 meter dgn berat 400T jg lbh kcil dr KRI dewa Ruci n bobot dewa ruci yg kurang 60 meter aja 850 Ton
profile-picture
johanbaikatos memberi reputasi
1 0
1
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 23:10
Jung Jawa kapal induk terbesar pada masanya, sayang penguasa pada zaman itu malah ada yg menghancurkan "peradaban sendiri" karena dikhawatirkan akan menjadi sumber pemberontokan. Sama persis dengan yang pernah saya tonton di guru gembul emoticon-Matabelo
profile-picture
johanbaikatos memberi reputasi
1 0
1
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
11-07-2021 23:44
Begini ceritanya : pd jaman dahulu......
profile-picture
johanbaikatos memberi reputasi
1 0
1
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
12-07-2021 00:00
Orang jawa emang luar biasa sedari jaman gak enak ya
profile-picture
johanbaikatos memberi reputasi
1 0
1
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
12-07-2021 00:26

Jangan lebay

300 sampai 500 meter terlalu lebay over proud lah. kapal sebesar itu setara panjang kapal induk modern. Ya memang secara panjang dan besar lebih besar dan panjang. namun secara persenjataan dan teknologi desain kalah jauh dengan negeri eropa.
profile-picture
johanbaikatos memberi reputasi
1 0
1
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
12-07-2021 05:55
Quote:Original Posted By lebihbebas


Kalau berbicara tentang kapal pada masa lampau mungkin bayangan kita akan langsung menuju ke negara-negara barat seperti kapal milik Portugis Flor De La Mar yang karam dan diyakini membawa harta rampasan perang berupa emas di selat Malaka yang pada tahun 1511 dan besarnya konon seukuran Titanic.

Kapal Djong Jawa



Atau kapal Santa Maria yang mengangkut Cristopher Columbus yang menemukan Dunia Baru, dan mendarat tanggal 12 Oktober 1492 di tempat yang saat ini disebut Bahama.

Tapi ternyata kita harus patut berbangga karena jauh sebelum era Columbus melakukan pelayaran dunia untuk mengeksplorasi bagian-bagian terjauh bumi, penjelajah laut Nusantara telah melakukan pelayaran hingga benua-benua lainnya. Jika melihat catatan perjalanan keagamaan yang ditulis oleh I-Tsing (671-695 M), ia melakukan perjalanan ke India Selatan menggunakan kapal dari Kerajaan Sriwijaya yang pada waktu itu dikenal sebagai penguasa Laut Selatan.

Puncak kejayaan perkapalan di Jawa adalah ketika orang Jawa berhasil membuat kapal Jung Jawa pada abad ke 8. Kapal ini menjadi perhatian kawasan Asia Tenggara, karena teknologi yang digunakan dalam pembuatan kapal ini cukup unik. Jung Jawa dibangun tanpa menggunakan paku, seperti halnya pembuatan Kapal Borobudur. Kapal ini terdiri dari empat tiang layar dan dinding, yang merupakan gabungan dari empat lapis kayu sehingga tahan akan tembakan meriam dari kapal-kapal Portugis. Berat dari Jung Jawa juga bervariasi, dari kisaran 600 ton hingga 1000 ton seperti yang digunakan oleh Kerajaan Demak dalam peperangan di Malaka tahun 1513.

Ukuran Jung Jawa berdasarkan pada catatan Tome Pires dan Gaspar Correia juga sangat besar. Bahkan Jung Jawa tidak dapat menepi ke daratan karena ukurannya yang begitu besar. Sehingga diperlukan kapal kecil untuk melakukan bongkat muat. Selain itu Jung Jawa menurut Gaspar Correia melebihi besar dari kapal terbesar Portugis pada waktu itu, Kapal Flor de La Mar.

Kapal Flor de La Mar



Kapal Flor de La Mar, dikenal memiliki kapasitas 500 orang pasukan dan 50 buah meriam. Data ini jika dibandingkan dengan kapasitas Jong Jawa, akan cukup timpang. Menurut buku “Majapahit Peradaban Maritim”, Jung Jawa memiliki ukuran 4 hingga 5 kali lipat Kapal Flor de La Mar. Jung Jawa memiliki panjang 300-400 meter. Sehingga jika dibandingkan dengan kapal milik Cheng Ho yang hanya memiliki panjang 138 meter, Jung Jawa jauh lebih besar dan setara dengan kapal induk di masa sekarang.

Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan, Kerajaan Majapahit menggunakan “jung” secara besar-besaran sebagai kekuatan lautnya. Mereka dikelompokkan menjadi 5 armada. Jumlah terbesar “jung” Majapahit mencapai 400 kapal, disertai jenis Malangbang dan Kelulus yang tak terhitung banyaknya.

Gaspar Correia, penulis sejarah abad 16 dari Portugis mencatat tentang pertemuan Alfonso Albuquerque dengan kapal raksasa Majapahit yang terjadi di Selat Malaka. Pramoedya menyebut, nama kapten terkenal Portugis itu berdasarkan penamaan orang Jawa pesisir yakni “Kongso Dalbi”. Catatan Gaspar itu menyebutkan bahwa kapal raksasa itu tidak mempan ditembak meriam yang terbesar. Hanya dua lapis papan yang bisa ditembus dari empat lapis papan kapal itu. Saat kapten mencoba untuk menaikinya bagian belakang kapal Flor de la Mar tidak bisa mencapai jembatannya.

Alfonso Albuquerque sendiri mencatat kalau jung itu memiliki empat tiang layar. Bobot muatannya sekitar 600 ton. Sedangkan yang terbesar tercatat dimiliki Kerajaan Demak dengan bobot mencapai 1.000 ton. Fernao Pires de Andrade mencatat dalam rangkuman Tome Pires kalau kapal itu butuh tiga tahun untuk membangunnya. Konon Albuquerque mempekerjakan 60 tukang kayu dan perancang kapal dari Jawa untuk bekerja bagi Portugis di Malaka. Satu buah jung tercatat berhasil dibawa ke Portugal dan digunakan menjadi kapal penjaga pantai di Savacem.

Pedagang Italia, Giovanni da Empoli, dalam surat-suratnya (1970) menulis bahwa di tanah Jawa, jung tidak berbeda dibanding benteng, karena memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri. Mereka berlayar bersama dengan wanita, anak-anak, dan keluarga mereka, dan semua orang menjaga kamarnya sendiri.

Fungsi Kapal

Kehadiran Jung Jawa pada dasarnya berfungsi sebagai kapal dagang dan juga kapal angkut militer. Berdasarkan pada catatan Duarte Barosa, Jung Jawa digunakan untuk melakukan perdagangan dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah. Sedangkan barang dagangan yang dibawa adalah beras, daging sapi, kambing, babi, bawang, senjata tajam, emas, sutra, kamper, hingga kayu gaharu.

Hilangnya Kapal

Anthony Reid berpendapat bahwa kegagalan Pati Unus di Malaka membawa pengaruh yang besar bagi hilangnya kapal-kapal besar dari galangan-galangan kapal di pesisir utara Jawa. Bergesernya kekuasaan Mataram ke pedalaman adalah salah satu yang membuat galangan-galangan kapal yang tersebar di pesisir ditinggalkan. Salah satu pukulan terbesar adalah saat penguasa Mataram menghancurkan sendiri kota-kota pesisir yang menyimpan peninggalan-peninggalan galangan.

Amangkurat 1



Perintah Amangkurat I pada 1655, dicatat Rendra F Kurniawan (2009) sebagai kebijakan represif Mataram yang paling memukul kota-kota pesisir. Perintah dia untuk menutup pelabuhan dan menghancurkan kapal-kapal agar tidak memicu pemberontakan membuat punahnya lapisan ahli-ahli pembuat kapal yang sejak masa Demak sendiri sudah tinggal sisa-sisa.

Kondisi itu semakin diperburuk ketika VOC mulai menguasai pelabuhan-pelabuhan pesisir di pertengahan abad 18. Pada saat itu VOC melarang galangan kapal membuat kapal dengan tonase melebihi 50 ton dan menempatkan pengawas di masing-masing kota pelabuhan.


Baca sejarah lain di web Lebih Bebas


Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau


Amangkurat 1 kok mirip SULTAN AGUNG emoticon-cystg
0 0
0
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
12-07-2021 05:59
Quote:Original Posted By learntorape
"Konon"


Quote:Original Posted By mamabraddox
Begini ceritanya : pd jaman dahulu......


ing sawijining ndino emoticon-Cool emoticon-Monggo
0 0
0
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
12-07-2021 08:06
David vs Goliath, cuma dg ketapel goliath lewat.
0 0
0
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
12-07-2021 11:36
trus katanya adabyg di bawa ke portugal, nasibnya bijimana itu
0 0
0
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
12-07-2021 21:27
Dari segi fungsi, kapal besar Era Renaisance gak terlalu efektif digunakan untuk pertempuran karena sulit buat manuver. Makanya kapal2 besar itu lebih cocok dijadikan sebagai floating fortress. Tapi walupun begitu kalau dihadapkan sama 1 squadron Galeon atau Galeases sudah pasti kalah. Seperti pertempuran Malaka 1511. Portugis tahu kalau kapal2 besar itu gak bisa manuver dengan cepat untuk mengarahkan semua meriam yang dia punya.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
13-07-2021 18:08
Taiklah bangsa kita adalah pelaut... Kalo pelaut tulen harusnya kayak britania raya, spanyol atau belanda jaman abis merdeka dari spanyol

emoticon-Ngakak
0 0
0
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
14-07-2021 17:48
Jung itu (yang berasal dari kebudayaan Majapahit) memang mantap, tapi tidak layak jadi kapal perang/kapal tempur. Memang harus diakui orang Eropa terinspirasi dengan Jung, tapi mereka membuat Jung buat jadi kapal layar, atau kapal barang (cargo), pokoknya cocok buat kapal eksplorasi pada periode kolonial, bukan buat kapal tempur. kelebihan kapal ini untuk eksplorasi adalah daya tahan material (karena dari kayu jati khusus), daya jangkau, dan daya angkut. makanya, kapal ini luar biasa kalo buat berlayar. kalo buat perang, kapal macem begini mah diserang meriam berkali-kali juga jebol. bangga berlebihan gak bagus juga, tapi terlalu merendahkan juga gak bagus.

sumber: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Djong_(ship)

yang penting dalam sejarah adalah ketahui faktanya dulu, baru menentukan narasi.
Diubah oleh tyrodinthor
0 0
0
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
15-07-2021 22:12
Setau saya dri yg saya bca, kapal terbesar y punyanya laksamana chengho waktu eksplorasi
Diubah oleh steven.thereds
0 0
0
Bukan Portugis, Tapi Nusantara, Pemilik Kapal Terbesar di Masa Lampau
29-07-2021 18:02
Quote:Original Posted By kantjutloreng
Taiklah bangsa kita adalah pelaut... Kalo pelaut tulen harusnya kayak britania raya, spanyol atau belanda jaman abis merdeka dari spanyol

emoticon-Ngakak



Kadang berasa aneh leluhur orang indon dari jaman jebot kayaknya pada superior banget tapi makin kesini malah makin terbelakang emoticon-Ngakak
Diubah oleh madnesscrew
0 0
0
Halaman 2 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia