News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Segera Daftarkan Komunitas Kalian Disini
67
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60bad814ab81002c326ac351/nadiem-makarim-diingatkan-jangan-berjudi-dengan-kesehatan-anak-indonesia
Kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim dinilai memaksakan pembukaan sekolah tatap muka di tengah pandemi COVID-19 mematikan yang belum terkendali. Alasan-alasan yang diberikan Nadiem Makarim untuk sikap ngototnya membuka sekolah juga dinilai kurang masuk akal, salah, dan sering berubah yang menunjukkan kebijakan tersebut tidak dilandasi den
Lapor Hansip
05-06-2021 08:49

Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia

Kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim dinilai memaksakan pembukaan sekolah tatap muka di tengah pandemi COVID-19 mematikan yang belum terkendali. Alasan-alasan yang diberikan Nadiem Makarim untuk sikap ngototnya membuka sekolah juga dinilai kurang masuk akal, salah, dan sering berubah yang menunjukkan kebijakan tersebut tidak dilandasi dengan pertimbangan matang dan terburu-buru.

Awalnya Nadiem Makarim menyatakan sekolah tatap muka baru dilaksanakan setelah semua guru mendapatkan vaksinasi. Sekarang Nadiem justru semakin ngotot agar sekolah dibuka walaupun walaupun belum semua guru divaksin. Baca juga: Jelang Pembelajaran Tatap Muka, 1,54 Juta Guru dan Dosen Telah Divaksinasi

Mantan Koordinator Tim Kampanye Nasional Jokowi–Ma’ruf Amin, Hendra Setiawan Boen mengatakan pemikiran Nadiem bahwa vaksinasi guru membuat sekolah tatap muka aman jelas salah besar. Terbukti cukup banyak kasus orang yang sudah mendapat vaksin justru kembali tertular. Selanjutnya ada juga virus COVID-19 varian baru yang justru kebal terhadap vaksin yang ada sekarang.

"Bukti lain yang memperlihatkan Nadiem terburu-buru dengan kebijakannya tersebut adalah dia melupakan bahwa komponen sekolah bukan hanya guru, melainkan juga ada staf administrasi, petugas kebersihan, petugas keamanan, bus antar-jemput sekolah, pihak penjemput anak yang bisa terdiri dari pengasuh, orang tua, hingga warga sekitar," ujarnya dalam keteranganya yang diterima SINDOnews, Jumat (4/6/2021).

Lantas, apakah Nadiem bisa menjamin semua komponen tersebut sudah divaksin dan/atau disiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan? Padahal Nadiem sendiri mengakui tidak ada anggaran untuk menyediakan alat tes COVID-19 di sekolah. Padahal tes PCR adalah cara paling akurat untuk men-screening apakah seseorang membawa virus COVID-19 atau tidak.

"Yang patut disayangkan, Nadiem juga menolak berbicara mengenai klaster di lingkungan sekolah yang muncul setelah kebijakan uji coba tatap muka dilaksanakan. Dari pemberitaan, terakhir kali Nadiem berbicara mengenai klaster sekolah adalah Agustus 2020 padahal akhir-akhir ini sudah cukup banyak klaster pendidikan misalnya di Pekalongan yang terjadi karena pegawai sakit namun tidak melapor dan berbaur dengan rekan lain di sekolah; klaster sekolah Tasikmalaya dan lain-lain. Bisa dibayangkan nasib anak-anak apabila klaster yang menimpa guru-guru di atas terjadi pada saat sekolah tatap muka sudah berjalan," jelasnya.

Hendra melanjutkan alasan utama yang diberikan Nadiem adalah sekolah di rumah merusak masa depan. Sebagai orang yang menyelesaikan hampir seluruh usia sekolahnya di luar negeri, seharusnya Nadiem Makarim sudah mengetahui bahwa sekolah di rumah (homeschooling) sudah menjadi salah satu pilihan orang tua untuk mendidik anak karena lebih fleksibel dan orang tua dapat menentukan sendiri mata pelajaran yang dipelajari anak sesuai minat dan bakat serta dapat melahirkan hubungan orang tua dan anak yang lebih baik.

Dengan semua kelebihan homeschooling ini, kata dia, tidak heran bahkan sebelum COVID-19, orang tua di Indonesia banyak mempercayakan pendidikan anak kepada sistem homeschooling seiring bertambahnya sekolah yang menyediakan program homeschooling. Selain dua alasan utama di atas, vaksin dan homeschooling buruk, alasan yang sering diutarakan Nadiem adalah angka pernikahan dini naik karena sekolah di rumah.

"Pernyataan tersebut membuktikan bahwa Nadiem memang tidak memahami kultur dan sosiologis di Indonesia. Faktanya, bahkan sebelum COVID-19, penikahan dini sudah marak ditemukan di seluruh Indonesia. Misalnya berdasarkan data 2018 atau satu tahun sebelum COVID-19, sebanyak 1.184.100 perempuan menikah di bawah 18 tahun dengan jumlah terbanyak di Jawa sebesar 668.900 perempuan. Jadi sama sekali tidak ada korelasi antara pernikahan dini dengan sekolah di rumah," paparnya.

Terakhir, Nadiem malah melontarkan pernyataan bahwa karena mall dan kantor sudah dibuka maka sekolah tatap muka juga harus dibuka. Tidak ada hubungan antara mal dan kantor dengan sekolah.

"Itupun, apabila Nadiem mau menggunakan kantor sebagai acuan, maka di Jakarta sendiri sudah ada ratusan klaster kantor dan ribuan orang melanggar protokol kesehatan di pusat perbelanjaan, padahal pekerja kantoran dan pengunjung mall adalah orang dewasa yang seharusnya memiliki kesadaran lebih menjaga protokol kesehatan dibanding anak-anak," jelas Hendra.

Menurutnya, masih belum terlambat untuk Nadiem merevisi kebijakan memaksakan sekolah tatap muka. Tidak mempertimbangkan sisi positif dan negatif sebuah kebijakan tapi tutup mata dan telinga untuk memaksakan pelaksanaan kebijakan tersebut sama saja dengan perjudian.

Kata dia, Nadiem tidak boleh berjudi dengan kesehatan anak-anak Indonesia. Memang sekolah online tidak mudah tapi itulah tugas seorang menteri yang membidangi pendidikan untuk memberikan fasilitas dan mendidik orang tua agar mampu dan terbiasa menjalankan sekolah online.

"Nadiem perlu membaca jurnal dalam International Journal of Infectious Diseases berjudul “Mortality in Children with positive SARS-CoV-2 polymerase chain reaction test: leason learned from a tertiary referral hospital in Indonesia” yang mencatat data pasien anak di RS Cipto Mangunkusumo dari Maret hingga Oktober 2020 menemukan bahwa tingkat kematian anak pada kasus terkonfirmasi COVID-19 adalah 40%." Baca juga: Jokowi-Nadiem Beri Opsi Ini Sebelum Sekolah Tatap Muka Digelar

"Jadi jelas sekolah online mungkin tidak ideal bagi beberapa orang tua tapi masih yang terbaik di masa pandemi. Sekolah tatap muka hanya boleh dilaksanakan apabila pandemi sudah menunjukkan tanda selesai," tutup dia.

https://nasional.sindonews.com/read/...sia-1622793997

setuju....
profile-picture
profile-picture
reid2 dan nomorelies memberi reputasi
2
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 2
Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia
06-06-2021 04:21
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210603202256-106-650164/82-ribu-anak-di-malaysia-positif-covid-19

https://internasional.kontan.co.id/news/alarm-dari-malaysia-dan-singapura-varian-baru-virus-corona-menyerang-banyak-anak

saudara serumpun....
Diubah oleh Kuratif
0 0
0
Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia
06-06-2021 07:56
ketakutan nya cuma di kepala pejabat aja ,realita nya anak2 udah pada berkerumun dari jauh2 hari di lingkungan masing2..

mall di buka
tempat wisata di buka
sekolah g boleh , bocil2 udah pada g ada kemauan sekolah emoticon-Ngakak
Diubah oleh bajiste
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia
06-06-2021 16:55
Gw baru balik dari RS. Baru selesai ngurus masukin bapak ke RS karena Covid.

Nyari RS dari kemarin malam baru dapat siang tadi padahal bapak cuma butuh ruang isolasi ga butuh ICU atau ventilator.

Ga pernah kepikiran bakal sampe ke kondisi sekarang. Kemarin-kemarin suka bantu orang cari kamar RS now I do it for my own family. Tadi tanya bapak dia kena di mana. Sheepishly he said, “Kayaknya mesjid” karena bapak ga pernah ke mana-mana ketemu orang kecuali mesjid.

Mind you, bapak sudah vaksinasi dua kali tapi saturasi di bawah 90 dan paru-parunya udah kayak Pangalengan di pagi hari, berkabut. Dan antigennya negatif 😅. Suami dan saya punya berbagai teori terkait ini heuheu.Masuk ke RS deket rumah kemarin malam. Proses cepet banget dan kemudian mentok karena RS deket rumah ga punya ruang buat suspect covid.

Kemarin bapak belum PCR karena antigen negatif tapi masuk RS karena banyak keluhan. Jadi kalau bergejala, mending PCR!Setelah nunggu sampe jam 12 malam dan ga dapat rujukan akhirnya saya bawa pulang bapak dulu. Temperamennya mirip saya heuheu jadi mending di rumah daripada gaje di RS malah bikin tambah sakit.Setelah via RS ga dapat rujukan akhirnya minta bantuan dan kmrn dapat tiga nama RS. RS pertama nelpon, nanya kondisi terus bilang ga bisa karena ga punya ruang observasi.

Akhirnya kontak temen yang punya RS dan setelah dia cek sana sini, ditolak juga karena penuh.Tadi pagi akhirnya saya memutuskan PCR dulu aja karena lebih gampang memasukkan bapak ke RS kalau status jelas.

Pagi hari pas siap-siap ke Advent yang punya same day service buat tes PCR (900 ribu saja) dikasih tau bahwa Advent punya kamar kosong. Sisa satu. Alhamdulillah.Pas nyampe sana pelayanan super mantap. Triase di pintu UGD, bapak ditaro di ruangan observasi yang kayaknya dibikin darurat khusus covid. Perawat ramah semua dan menenangkan semua (calon) pasien. Dikasih oksigen, EKG, PCR, infus, obat…Setelah seminggu ga bisa makan karena perut sakit (dan salah diagnosa) tadi siang bapak makan lahap. Sakit kepala langsung berkurang.

Setelah observasi panjang selama enam jam karena kayaknya harus mastiin masuk ruangan biasa atau ICU, tadi maghrib bapak masuk ruangan biasa.Dan baru kerasa capek sekarang hahaha. Tadi pagi juga udah panggil swab ke rumah buat contact tracing keluarga (950 ribu all in), yang ini hasilnya keluar besok.

Stay safe, rumah sakit penuh 😭😭😭.Pengennya sih marahin bapak ngapain atuh ke mesjid ga pake masker (karena yang lain g pake kan malu hhhhh) dan membahayakan emak gw tapi ya daripada imun ngedrop ya udah hhhhh…Tadi ngobrol sama perawat di Advent dia bilang kalau dari kmrn udah banyak menolak pasien dan dirujuk ke tempat lain karena penuh. Yang pasti ICU udah susah banget.

Kenapa kita kayak ga belajar-belajar ya?

https://bacautas.com/1401144509325479938
0 0
0
Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia
08-06-2021 05:15
Pesan Nadiem Makarim untuk peserta didik:

Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
0 0
0
Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia
08-06-2021 05:43
nadiem bingung,

1. emak2 pengen anak2nya sekolah karena males ngurusin
2. anaknya pengen ngumpul2 kek dulu
3. lum lagi pressure ke nadiem

emoticon-Ngakak

Fix lah G****K pada mikirnya.

divaksin dikata aman x ya

mending belajar offline dikurangin, seminggu 2x aja.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia
17-06-2021 06:15
ini ada foto pola pengajaran tatap muka:

Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia

si guru pake face shield tapi masker diturunkan ke dagu. ini jelas pelanggaran protokol kesehatan. yang lebih parah lagi mengajarkan kepada anak2 bahwa face shield bisa lindungi diri dari virus sehingga masker enggak diperlukan. dan, kalau si guru ternyata carrier, berapa banyak virus akan keluar dari mulut dia dan menyebar ke seluruh ruang kelas? brp banyak dari anak-anak PAUD dan SD selama pelajaran konsisten pake masker dgn benar?
0 0
0
Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia
19-06-2021 12:12
Sekolah tatap muka aja. Online gini dak efektif trutama di daerah2 dan pelosok2. Asal prokes ketat, ya bisa diminimalisir. Kerja aja bisa kok masak sekolah kagak
0 0
0
Halaman 2 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia