Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
19270
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f93fd65dbf764247a1f3c0d/hitamseason-2
 Halo agan dan sista semua.. jumpa lagi dalam threadku yang baru ini. Sesuai permintaan agan dan sista, maka TS akan melanjutkan lagi thread sebelumnya yang sudah tamat. Mohon diperhatikan, ini adalah cerita fiksi, hasil karangan TS yang diambil dari gabungan antara pengalaman pribadi, pengalaman temen-temen, mitos, urban legend dan ditambah banyak sekali imajinasi.  Jadi TS cuma orang b
Lapor Hansip
24-10-2020 17:09

HITAM Season 2

icon-verified-thread
HITAM
Season 2


HITAM
Season 2


Quote:

 Halo agan dan sista semua.. jumpa lagi dalam threadku yang baru ini. Sesuai permintaan agan dan sista, maka TS akan melanjutkan lagi thread sebelumnya yang sudah tamat. Mohon diperhatikan, ini adalah cerita fiksi, hasil karangan TS yang diambil dari gabungan antara pengalaman pribadi, pengalaman temen-temen, mitos, urban legend dan ditambah banyak sekali imajinasi.

 Jadi TS cuma orang biasa, TS cuma menuangkan gabungan antara nyata dan imajinasi ke dalam tulisan di thread ini dan thread sebelumnya. Maka dimohon jangan bertanya soal supranatural, karena TS cuma sedikit sekali mengerti tentang yang gaib.

 Thread ini dibuat bukan untuk menyinggung, menghina atau merendahkan orang lain atau suatu kelompok, karena thread ini hanyalah untuk hiburan semata. Kalau ada kata-kata yang tanpa di sengaja telah menyinggung atau merendahkan, TS mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga thread ini bisa berguna dan bisa diambil hikmahnya.

 Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau updatenya nggak bisa terus-terusan setiap hari seperti dulu lagi, update bisa  sehari sekali atau dua hari sekali, tapi tidak akan lebih dari dua hari.

 Terima kasih buat agan dan sista yang udah setia tongkrongin thread sebelumnya. Nggak nyangka thread sebelumnya itu akan banyak mendapat respon. Terima kasih juga atas saran dan kritiknya, hingga TS bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang nggak di sengaja. Tanpa pembaca, maka seorang penulis dan tulisannya nggak akan berarti apa-apa...

Selamat membaca…..





Prolog


 Ini adalah cerita fiksi, lanjutan dari thread sebelumnya yang berjudul HITAM. Menceritakan tentang anak yang bernama Aryandra, seorang anak yang ndableg, serba cuek dan nggak nggagasan.  Dari kecil Aryandra bisa melihat makhluk halus dan sebangsanya, dia juga punya kemampuan untuk melihat masa depan hanya dengan sentuhan, pandangan mata, dan juga lewat mimpi. 

 Karena sejak kecil Aryandra sudah terbiasa melihat makhluk halus yang bentuknya aneh-aneh dan menyeramkan, maka dia sudah tidak merasa takut lagi melihat makhluk alam lain itu. Setelah di beri tahu oleh mbah kakungnya, Aryandra baru tahu kalau kemampuannya itu berasal dari turunan moyangnya. Dengan bimbingan mbah kakungnya itulah, Aryandra bisa mengetahui seluk-beluk dunia gaib.

 Pada thread sebelumnya menceritakan tentang masa kecil Aryandra. Takdir telah mempertemukan dia dengan sesosok jin yang bernama Salma, jin berilmu sangat tinggi, tapi auranya hitam pekat karena rasa dendamnya yang sangat besar, dan juga karena dia mempelajari ilmu-ilmu hitam yang dahsyat. Tapi Salma telah bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi Aryandra, dan akhirnya merekapun bersahabat dekat. 

 Belakangan baru diketahui oleh Aryandra kalau Salma adalah ratu dari sebuah kerajaan di alam jin. Salma menampakkan diri dalam wujud gadis sangat  cantik berwajah pucat, berbaju hitam, memakai eye shadow hitam tebal, lipstick hitam, dan pewarna kuku hitam. Kehadiran Salma selalu ditandai oleh munculnya bau harum segar kayu cendana, 

 Salma juga sering berubah wujud menjadi sosok yang sangat mirip dengan kuntilanak hitam dengan wajah menyeramkan, memakai jubah hitam panjang, rambut panjang awut-awutan, mulut robek sampai telinga, mata yang bolong satu, tinggal rongga hitam berdarah. Tapi wujudnya itu bukan kuntilanak hitam. 

 Bedanya dengan kuntilanak hitam adalah, Salma mempunyai kuku yang sangat panjang dan sangat tajam seperti pisau belati yang mampu menembus batu sekeras apapun. Kuku panjang dan tajam ini tidak dimiliki kuntilanak biasa. 

 Dalam cerita jawa, sosok seperti Salma itu sering dikenal dengan nama kuntilanak jawa, sosok kunti paling tua, paling sakti dan paling berbahaya daripada segala jenis kuntilanak yang lain. Kuntilanak jawa sangat jarang dijumpai, karena makhluk jenis ini memang sangat langka. Manusia sangat jarang melihatnya, dan kalau manusia melihatnya, biasanya mereka langsung ketakutan setengah mati, bahkan mungkin sampai pingsan juga, dan setelah itu, dia akan menjadi sakit.

 Aryandra juga dijaga oleh satu sosok jin lagi yang dipanggil dengan nama eyang Dim, dia adalah jin yang menjaga nenek moyangnya dan terus menjaga seluruh keturunannya turun-temurun hingga sampai ke Aryandra. Dari eyang Dim dan Salma inilah Aryandra mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, beladiri, ilmu pukulan, tenaga dalam, dan ilmu-ilmu gaib.

 Perjalanan hidup Aryandra mempertemukannya dengan satu sosok siluman yang sangat cantik, tapi memiliki wujud perempuan setengah ular. Siluman itu mengaku bernama Amrita, dengan penampilan yang khas, yaitu serba pink, mulai pakaiannya dan bahkan sampai ilmu kesaktian yang dikeluarkannya pun juga berwarna pink. Amrita adalah siluman yang selalu menggoda manusia untuk berbuat mesum, yang pada akhirnya manusia itu dibunuh olehnya. Semua itu dilakukan karena dendamnya pada kaum laki-laki.

 Awalnya Aryandra berseteru dengan Amrita, dan Amrita sempat bertarung mati-matian dengan Salma, yang pada akhirnya Amrita bisa dikalahkan oleh Salma. Dan kemudian Amrita itupun bersahabat dekat dengan Aryandra dan Salma. Dia  juga bertekad untuk terus menjaga Aryandra. Jadi Aryandra memiliki 3 jin yang terus melindunginya kemanapun dia pergi.

 Di masa SMA itu Aryandra juga berkenalan dengan cewek yang bernama Dita, kakak kelasnya. Cewek manis berkacamata yang judes dan galak. Tapi setelah mengenal Aryandra, semua sifat Dita itu menghilang, Dita berubah menjadi sosok cewek yang manis dan penuh perhatian, Dita juga sangat mencintai Aryandra dan akhirnya merekapun jadi sepasang kekasih.

 Dalam suatu peristiwa, Aryandra bertemu dengan dua saudara masa lalu nya, saudara keturunan sang raja sama seperti dirinya. Mereka bernama Vano dan Citradani. Dan mereka menjadi sangat dekat dengan Aryandra seperti layaknya saudara kandung. Saking dekatnya hingga kadang menimbulkan masalah dan salah paham dalam kehidupan percintaannya.

 Aryandra mendapatkan suatu warisan dari nenek moyangnya yaitu sang raja, tapi dia menganggap kalau warisan itu sebagai suatu tugas untuknya. Warisan itu berupa sebilah keris kecil yang juga disebut cundrik. Keris itu bisa memanggil memerintah limaratus ribu pasukan jin yang kesemuanya ahli dalam bertarung, pasukan yang bernama Pancalaksa ini dibentuk oleh sang raja di masa lalu. Karena keris itu pula, Aryandra bisa kenal dengan beberapa tokoh jin yang sangat sakti dan melegenda. 

 Tapi karena keris itu jugalah, Aryandra jadi terlibat banyak masalah dengan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Dewa Angkara. Ternyata keris itu sudah menjadi rebutan para jin dan manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Keris itu menjadi buruan banyak makhluk, karena dengan memiliki keris itu, maka  akan memiliki ratusan ribu pasukan pula.

 Perebutan keris itulah yang akhirnya mengantarkan Aryandra pada suatu peperangan besar. Untunglah Aryandra dibantu oleh beberapa sahabat, yang akhirnya perang itu dimenangkan oleh pihak Aryandra, meskipun kemudian Aryandra sendiri memutuskan untuk mengorbankan dirinya untuk menghancurkan musuh utamanya. Dan karena itulah Aryandra jadi kehilangan kemampuannya untuk beberapa waktu, tapi akhirnya kemampuan itu kembali lagi padanya dengan perantara ratu utara.

 Pada thread kali ini akan menceritakan kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA, dari pertama masuk kuliah, tentang interaksinya dengan alam gaib dengan segala jenis makhluknya. Juga tentang persahabatan dengan teman kuliah dan dengan makhluk alam lain, percintaan, persaingan, tawuran, segala jenis problematika remaja yang beranjak dewasa, dan juga sedang dalam masa pencarian jati diri. Teman baru, musuh baru, ilmu baru dan petualangan baru.

 Sekali lagi, thread ini adalah cerita fiksi. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapinya. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan, kesalahan tentang fakta-fakta, dan kesamaan nama orang. Tidak ada maksud apa-apa dalam pembuatan thread ini selain hanya bertujuan untuk hiburan semata. Semoga thread ini bisa menghibur dan bisa bermanfaat buat agan dan sista semuanya. 

 Seperti apakah kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA ini..? Mari kita simak bersama-sama...



Salma




Amrita


Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dizzydeez dan 242 lainnya memberi reputasi
229
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 253 dari 321
HITAM Season 2
09-06-2021 11:56
Maaf pemirsah, hari ini libur
emoticon-Nyepiemoticon-Nyepiemoticon-Nyepi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
getukX dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
HITAM Season 2
09-06-2021 13:13
Ikut di kentangin jg sm si mbah.....
Saya dukung liburnya di undur kamis mbah........
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
HITAM Season 2
09-06-2021 17:23
Sorry gaess.. libur dulu..
Next chapter kamis..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngejleb dan 12 lainnya memberi reputasi
13 0
13
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
09-06-2021 17:31
Baru tau aku, si mbah tega banget. mau nolong saja kok pakai harus ditunda-tunda besok bacanya. kasihan bapaknya kinara.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
09-06-2021 19:28
Berharap simbah khilaf....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 05:48
Tinggal nunggu jam 5
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 10:27
Wayae wayae emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 14:06
Ae mbah tak enteni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pecong3 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 15:02
Ws jam,e mbah...wayae
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pecong3 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 16:55
cepak es teh, udut, ngurup ne kipas, nunggu update ning kene
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngejleb dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:08
Mbah ketiduran emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pecong3 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:10
g sabbar dah nunggu updateny mbah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pecong3 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:10

Tanpa pembantaian?

      Masalah Kinara ternyata jauh lebih besar dari yang kukira. Maka aku memutuskan untuk membantunya, baik dengan atau tanpa persetujuannya. Hari itu aku nekat berangkat ke kotanya Kinara, dan aku memutuskan malam itu aku akan menemani Kinara menjaga papanya. Setelah mama dan adik-adiknya pulang, sekarang giliran aku yang mencoba mengusir para jin yang telah membuat papanya Kinara lumpuh kayak terkena stroke itu. 

     Aku mulai mendekat ke arah tempat tidur itu, dalam jarak 1 meter, aku berhenti. Geraman dan desisan para makhluk itu mulai terdengar lagi, dan kali ini jauh lebih keras. Energi mereka juga makin menguat. Mendadak belasan makhluk mirip buto mini itu menyerbu serentak ke arahku!

      Tapi mendadak dari sampingku kudengar suara menderu yang dahsyat. Segera aku melompat ke belakang untuk menghindar. Ternyata Salma telah melepaskan pukulan Angin Samudra, satu gumpalan besar angin padat melabrak belasan makhluk yang coba menyerangku. Mereka berpelantingan menembus tembok ruangan, entah mereka udah mati atau cuma mencelat aja. Para jin qorin dari lorong rumah sakit segera berdatangan menembus tembok, tapi begitu melihat kami, mereka langsung lari berserabutan keluar lagi.

     Tapi masih ada 4 sosok yang masih bertahan dari pukulan itu, mereka adalah ular sanca, dua makhluk mirip buto ijo, dan sati makhluk hitam itu. Ternyata mereka hebat juga, tapi Salma emang nggak memakai tenaga dalam penuh pada pukulannya tadi. Mereka tampak marah sekali melihat teman-temannya tercerai berai kayak gitu. Dua makhluk berlidah sangat panjang yang membawa senjata itu bersiap menyerangku, tapi segera kuberi mereka peringatan.

Quote:    "Aku nggak mau berseteru dengan kalian! Lebih baik kalian tinggalkan tempat ini, bebaskan manusia itu dan jangan mengganggunya lagi.. ini adalah peringatan pertama!"

     "Percuma, mereka nggak akan dengerin kamu.." kata Salma.

     "Setidaknya aku mencoba dulu.."

     Tapi ternyata bener juga omongan Salma. Dua makhluk yang membawa gada dan golok itu meraung keras, senjata mereka diangkat tinggi-tinggi dan mereka berlari menyerbuku. Tapi sebelum mereka sampai kepadaku, pukulan Penghancur Sukma-ku telah melanda dada makhluk pembawa gada itu. Dan sabetan golok makhluk yang satunya tertangkis pedang cahaya ditangan kiriku.

     Buuukk…! Traangg..!

     Makhluk pembawa gada mencelat ke belakang dan menembus tembok ruangan dengan dada gosong bagai arang, sementara disaat yang bersamaan, benturan dua senjata itu memercikkan bunga api yang berhamburan. Tapi dengan cepat, golok itu kembali menyabet ke arah kepalaku. Aku bergulingan ke samping dan siapkan dua pedang cahaya. Serangan golok itu sangat cepat, dan aku meladeninya dengan dua pedang. Suara berdentrangan terdengar sangat riuh di telingaku. Ruangan yang cukup lebar itu ternyata masih terlalu sempit untuk sebuah pertarungan.

      Kalo gini terus aku nggak akan bisa memasukkan serangan, kecepatanku terbatasi oleh raga, bahkan dengan dua pedangpun semua seranganku bisa tertangkis. Maka aku putuskan menyerang dengan cara lain, kusalurkan sebagian tenaga dalam ke kaki. Semula aku ragu untuk melakukannya, tapi setelah melihat kakiku berpendar menyala merah, kini aku jadi yakin. 

    Sambil terus menyerang dengan pedang, kakiku ikut bergerak menendang  dan saat golok itu memapas leher, kutangkis dan kujepit dengan dua pedang, kakiku mencuat maju menghantam bagian pinggang. Makhluk itu meraung, bisa kulihat hancuran pinggangnya bertaburan dan berubah jadi nyala api. Sekali lagi kaki kiriku bergerak. 

      Buaak…!

      Dada makhluk itu jebol, kakiku sampai masuk ke dadanya, bau busuk langsung menyebar, tapi nggak lama, karena kemudian sosok itu langsung berkobar api, dia terbakar hingga jadi debu! Bagu busuk berubah jadi bau daging gosong. Pertarungan itu sebenarnya terjadi nggak lebih dari lima menit, semua berlangsung sangat cepat, dan butuh waktu lebih lama untuk menceritakannya. 

      Saat ku berbalik menghadapi makhluk hitam yang memegang tambang itu, ternyata dia udah jadi bulan-bulanan oleh Salma. Beberapa pukulan dan tendangan telah bersarang di tubuhnya, tapi makhluk itu masih bertahan, dan Salma seakan sengaja mengulur-ngulur pertarungan itu. Maka kutinggalkan aja mereka berdua, masih ada satu makhluk yang harus kuusir.

      Sosok ular sanca itu mendesis keras saat aku mendekatinya. Mulutnya terbuka lebar dan ada dua taring panjang di langit-langit mulutnya, adalah hal.yang sangat aneh kalo ular sanca memiliki taring. Kepalanya semakin tegak. Lalu mendadak kepala itu bisa molor panjang menuju ke arah leherku. Tapi sebelum kepala itu sampai, ilmu Jari Api telah menembus pertengahan matanya. 

       Makhluk itu meraung, kepalanya mengibas dan terhempas kesana-kemari, dan anehnya, tubuh papanya Kinara yang masih terlilit badan ular itu ikut terbanting-banting di tempat tidur. Lalu kudengar suara raungan serak dan panjang dari arah sampingku. ternyata sosok hitam yang bertarung melawan Salma tadi telah terbelah tubuhnya oleh sabit cahaya biru raksasa dari Salma. Bau busuk kembali menyebar seiring dengan menghilangnya makhluk hitam itu.

      Kini tinggal sosok ular yang masih menghempas-hempaskan kepalanya ke segala arah. Maka kutunggu kepala itu mendekatiku, lalu kucengkeram lehernya dengan keras, dan ilmu Penghancur Sukma kuterapkan untuk meremas lehernya hingga hancur dan berubah jadi arang yang rapuh. Kepala ular itu jatuh ke lantai, tapi tubuhnya masih melilit papanya Kinara. Dan sebelum aku melakukan sesuatu, dari arah sampingku melesat puluhan sabit cahaya biru kecil-kecil yang merajang tubuh ular jadi potongan kecil-kecil. Bau busuk dan daging gosong semakin pekat memenuhi ruangan itu.

      Keringat udah membanjir, aku kembali ke Kinara dan duduk di sebelahnya. Dia langsung mencengkeram erat tanganku, dan tangannya itu terasa gemetaran. Wajahnya menunjukkan kengerian, entah apa lagi yang dialaminya. Kuambil botol berisi air mineral yang kubawa dari rumah tadi, lalu kutenggak sampai setengahnya. Kuatur napasku agar nggak memburu. Baru kemudian kualihkan perhatian pada Kinara. 

Quote:    "Kamu kenapa Kin..?" tanyaku.

     "I-itu.. itu tadi ada suara binatang buas.."

     "Lah.. kamu sempet denger juga? Tapi udah nggak papa kok.. udah aman sekarang.."

      "Ini.. ini bau apa..? Dari mana datangnya..?"

      Aku melihat ke arah Salma, dia kibaskan tangannya, sesiur angin berbau harum kayu cendana menyebar, mengusir bau busuk dan bau daging gosong.

    "Udah nggak bau kan.." kataku.

    "Tapi kok malah wangi gini.. tambah serem…" Kinara mengelus leher belakangnya, duduknya makin mendekat padaku.

     "Udah nggak papa yo.. semua udah selesai…" kataku.

     "Selesai gimana..? Terus papaku gimana..?"

     "Ya tinggal penyembuhan aja..." jawabku sambil beranjak bangkit

     Kinara seakan nggak mendengar, dia malah menarik tanganku. "Mau kemana..?"

     "Mau lihat keadaan papamu.."

     "Aku ikut.. aku takut yo.."

     "Halah.. cuma dua meter gini kok.." kataku.

     "Pokoknya ikut..!"

     Akhirnya Kinara ikut mendekati papanya, dia masih aja mencengkeram tanganku. Papanya Kinara nggak sadarkan diri, tapi napasnya udah teratur. Bagian kakinya tampak terluka mengerikan, penuh bacokan dan bekas hantaman, setidaknya itulah yang terlihat oleh mataku. Luka itu adalah luka gaib, jadi sebenarnya yang terluka adalah sukmanya, mungkin akan lama sembuhnya.

     Dengan energiku, aku menyapu seluruh tubuh papanya Kinara, menghilangkan semua energi-energi gaib yang tersisa, juga memberinya tenaga, di bagian kaki kutransfer energi sejuk dari Ratu Utara. Beberapa saat lamanya aku mentransfer energiku. Dan saat itulah kudengar suara berkesiutan yang banyak banget menuju ke arah kami. Salma berada di sampingku menghadap tembok ruangan, kuku jari tangannya udah berubah jadi panjang. Kutarik Kinara kembali ke sofa. Dan saat itulah muncul serangan gelap yang menembus tembok.

     Dalam penglihatanku, tampak belasan senjata tajam melesat cepat ke arah papanya Kinara. Senjata itu berbentuk belati dan golok kecil. Salma gerakkan dua tangannya dengan cepat, belasan senjata itu ditangkisnya dengan kuku-kuku jari tangannya. Suara berdentrangan terdengar nggak berkeputusan. Aku masih fokus dalam pembersihan tubuh papanya Kinara, jadi nggak kugubris dulu serangan itu, karena udah ada Salma. 

     Tapi ternyata begitu tertangkis oleh Salma dan jatuh ke lantai, belasan senjata itu langsung mewujud jadi belati dan golok asli! Jadi ternyata itu adalah senjata tajam asli yang diubah ke dalam bentuk gaib untuk menyerang jarak jauh. Aku jadi kuatir kalo Kinara ikut jadi korban salah sasaran. Maka segera saja kupanggil tombak Sukmageni.

     Kuputar-putar tombak itu untuk menangkis semua senjata gaib itu. Suara berdentrangan terdengar makin ramai, senjata yang tertangkis itu bermentalan dalam keadaan patah dua dan  jatuh ke lantai, lalu patahan senjata itu segera mewujud. Untunglah serangan itu nggak lama, dan terhenti dengan sendirinya . Kini di lantai ruangan berserakan belasan belati dan golok yang sudah patah, bahkan ada yang menancap di tembok ruangan. Untung aja serangan itu nggak ada yang lolos dari tangkisan kami, kalo sampe lolos, maka Kinara bisa ikut terkena juga, padahal yang dituju adalah papanya.

     Di tangan Salma tergenggam sebilah golok kecil yang sempat ditangkapnya, golok itu masih berwujud gaib. Salma memegang golok kecil itu dengan kedua tangannya di depan dada, matanya terpejam, lalu dia lemparkan belati itu kembali ke arah datangnya tadi. Mendadak kudengar suara lolongan serigala di kejauhan sana, lolongan panjang memilukan mendirikan bulu roma. Tapi kemudian aku terjingkat kaget saat Kinara tau-tau merangkul pinggangku dari belakang, badannya terasa gemetaran.

Quote:     "Hii.. suara itu lagiii…!" 

     "Udah pergi yo Kin.. nggak usah takut.."

     "I-itu.. pisau-pisau itu.. da-darimana..? Gimana bisa muncul di sini..?"

     "Itu adalah serangan gaib, jadi bisa muncul mendadak gitu…" jawabku.

     "Ta-tapi.. mana mungkin..?!"

     "Dunia gaib emang gitu yo Kin.."

     "Kok serem banget gini sih Ndra.."

     "Kamu kalo takut keluar aja ya..?" kataku.

     "Diluar malah lebih takut…"

     Rangkulannya malah makin erat, aku cuma bisa geleng kepala. Gimana mau nerusin pembersihan kalo kayak gini caranya?! Lagian patahan senjata itu juga harus di beresin secepatnya, kalo ada orang lihat, bisa gempar ini rumah sakit. Perlahan aku berjalan ke tembok ruangan dengan Kinara yang masih merangkulku. Kucabuti senjata-senjata yang menancap pada tembok ruangan, tiga golok dan enam belati, Salma melayang mendekatiku. 

Quote:    "Tetap waspada Arya.. ntar pasti akan datang serangan lagi…"

     "Kamu tau dari mana asalnya..?" tanyaku.

     "Ada dua tempat asal.. yang satu…."

     "Ntar dulu.." potongku. "Dua tempat? Berarti dua orang..?" 

      "Iya.. dua orang yang utama yang satu memakai golok kecil, dan yang satunya lagi memakai pisau belati.. tapi sepertinya mereka punya anak buah sendiri-sendiri yang membantu mereka.. salah satu orang yang pake golok telah kuserang dengan senjatanya sendiri.. jadi masih ada satu yang akan menyerang lagi.."

     "Paling dia akan istirahat dulu.." kataku.

     Kinara masih aja merangkulku dan mengikuti kemanapun aku jalan, malah jadi kelihatan lucu banget, aku kayak diajari jalan sama Kinara. emoticon-Ngakak (S)  Maka kusalurkan hawa hangat padanya untuk menumbuhkan mental dn keberaniannya. Beberapa saat berlalu, dia nampak udah mulai tenang, rangkulannya udah dilepas meskipun dia masih mencengkeram erat pergelangan tanganku, tapi itu mending daripada merangkul.

     Aku mulai memunguti patahan-patahan senjata yang terserak di lantai, tentu aja sama Kinara juga. Delapan golok dan lima belati, semua dalam keadaan patah dua. Jadi total ada 22 bilah senjata tajam yang digunakan untuk serangan gaib itu. Semua senjata itu kumasukkan ke dalam tas ranselku, biar nanti aku buang di suatu tempat.

     Setelah bersih semuanya, aku balik ke papanya Kinara, dia masih nggak sadarkan diri. Kembali kusalurkan energi dingin padanya, terutama di bagian kaki dan lehernya. Setengah jam aku berdiri mentransfer hawa itu, Kinara juga ikut berdiri di sebelahku. Dan saat kurasa udah cukup, kuhentikan transferan itu dan aku balik duduk di sofa, lagi-lagi Kinara mengikutiku. Pengembalian kondisi semacam ini emang nggak bisa instan, pentransferan harus sedikit-demi sedikit tapi sesering mungkin. Seakan memberikan kesempatan buat sukma dan raganya dulu untuk memulihkan diri.

Quote:    "Katamu tadi papa udah dalam pemulihan..?"

     "Iya.. mungkin besok dia udah sadar.." jawabku.

     "Beneran?!" matanya berbinar. "Besok udah bisa bangun?!"

     "InsyaAllah.. tapi mungkin dia belum bisa jalan.." kataku.

     Mata itu kembali meredup, lalu dia berkata dengan lirih. "Untuk berapa lama..?"

      "Aku belum tau.. mungkin ntar aku akan cari cara biar papamu bisa sembuh lebih cepat.."

      "Tolong ya..?!" katanya dengan pandangan memohon sambil menggenggam tanganku.

      "Aku usahain, tapi belum bisa janji.. kamu doain papamu aja.." jawabku.

      Jam sudah menunjuk di angka 11 malam. Kinara tampak udah mulai mengantuk, jadi kuminta dia untuk tidur dulu. Lantai ruangan itu telah digelari karpet oleh mamanya Kinara, jadi bisa buat tidur juga. Bahkan saat mau tidur aja Kinara masih mencengkeram tanganku dan aku nggak boleh pindah ke sofa. Terpaksa aku duduk di sebelahnya dan menungguinya sampe tidur, di rumah sakit malah kayak nunggu 2 orang. emoticon-Cape d... (S)

      Saat Kinara udah tertidur, aku masih duduk di sebelahnya, kugunakan waktu untuk bermeditasi. Satu jam kemudian aku akhiri meditasi itu. Kini tinggal nunggu datangnya serangan susulan, biasanya serangan susulan semacam ini akan datang diatas jam 12 malam, dan tentu saja jauh lebih dahsyat dari serangan pertama tadi. Tapi Salma punya pendapat lain.

Quote:    "Daripada cuma nunggu, mending kita datangi aja sekalian.."

     "Kamu tau lokasi tepatnya..?" tanyaku.

     "Iya.. aku tau kok.. biar aku bawa kamu ke sana.."

     Kupanggil dulu Ekawadya untuk meminta tolong, dan dalam sekejap, dia udah berada di depanku.

     "Aku mau minta tolong, panggil prajuritmu secukupnya untuk menjaga tempat ini, menjaga ragaku dan dua manusia yang ada di tempat ini.." kataku.

     "Jangan kuatir raden.. hamba akan menjaga tempat ini baik-baik.."

     "Kalo nanti datang seramgan dan kau kesulitan, mintalah bantuan pada Mandala yang lain.." kataku.

     "Baik raden.."

     Dalam posisi meditasi, kuterapkan raga sukma. Salma merangkulku dan membawaku melesat cepat ke arah barat. Tapi belum lama kami melesat, mendadak aja di sekelilingku kayak ada kabut asap putih tebal, aku seakan masuk ke dalam gumpalan awan putih, sejauh mata memandang, cuma warna putih yang kulihat. Dan kurasakan kalo ternyata kakiku telah menapak semacam lantai yang juga berwarna putih. Lalu di depan sana kulihat sosok orang tua yang kukenali sebagai Rijalul Ghaib!

      Bagaimana aku bisa terdampar di dimensinya Rijalul Ghaib?! Tapi pertanyaan itu kusimpan aja karena aku sadar kalo sosok orang tua yang berada di depanku itu belum tentu Rijalul Ghaib, aku nggak mau tertipu untuk kedua kalinya. Tapi Salma memberi isyarat kalo sosok orang tua itu adalah Rijalul Ghaib yang asli. Aku sudah menaruh respek kembali padanya karena dia mau mengakui kesalahan waktu Cindy kena musibah dulu.

Quote:    "Aku menarikmu kesini hanya untuk memberi pesan.."

     "Pesan apa kek..?" tanyaku.

    "Sebaiknya sebisa mungkin kau hindari pembunuhan.."

      "Kakek sendiri tau, aku lebih mengutamakan damai dan perundingan dulu.." jawabku.

      "Iya aku tau itu, tapi itu cuma berlaku buat manusia, kau memang menghindari membunuh manusia, tapi bagaimana dengan bangsa jin..? Kau sudah membunuhi mereka seenaknya saja.."

     Aku tertegun sampe nggak bisa menjawab, seakan baru tersadar dari mimpi.

     "Ingatlah kalo jin itu juga makhluk Allah.. dan kalo kau membunuhi mereka, bukankah berarti kau nggak ada bedanya dengan manusia yang menyuruh mereka…? Kejam dan keji.."

     Tak pernah terpikiran sebelumnya tentang itu. Tapi kemudian aku teringat pertarunganku tadi. "Tapi gimana kalo aku diserang habis-habisan, dan satu-satunya cara agar bisa selamat adalah membunuhnya..? Gimana kek..?" tanyaku.

      "Sebaiknya kau lumpuhkan saja.. jangan dibunuh.."

      "Gimana caranya bisa melumpuhkan kalo diserang habis-habisan..?" tanyaku.

      "Manusia punya hati nurani dan akal, seharusnya kau memikirkan cara itu, bukan mencari jalan pintas dengan membunuh.."

     Ada benarnya omongan Rijalul Ghaib itu. "Ilmuku mungkin belum cukup tinggi untuk melakukan itu kek.."

     "Kau lupa kalo kau punya energi yang sangat kuat dan dahsyat, dengan energi sedahsyat itu, kau bisa menciptakan ilmu-ilmu untuk menunjang maksudmu tadi, yaitu melumpuhkan tanpa membunuh.."

     "Jadi aku harus mencari tau ilmu apa yang paling tepat untuk melumpuhkan ya kek..?"

     "Benar, manusia harus menggunakan akalnya.. jangan cuma egoisme dan arogansi aja yang diutamakan, merasa sudah berilmu tinggi terus membunuh seenaknya.."

      Kembali aku tertegun, mataku seolah baru saja terbuka. Kata-kata Rijalul Ghaib mengena dengan telak, aku sampai nggak bisa menjawab.

     "Ingatlah.. kau sudah satu kali diperingatkan oleh Allah.. waktu kau terkena pukulan beracun itu, ingatlah bagaimana sakitnya waktu itu. Dan kuharap kau jangan sampai mendapat peringatan dari Allah untuk kedua kalinya, karena peringatan kedua pasti jauh lebih sakit dari yang pertama. Atau bahkan mungkin tidak pernah ada peringatan kedua, dan nyawamu langsung dicabut dari ragamu. Gunakan kesempatan kedua ini untuk perbaiki diri.."

     "Terima kasih atas wejangan berharga ini kek.. akan kuingat dan akan kuusahakan mulai dari sekarang..." kataku.

     Untuk pertama kalinya kulihat si kakek tersenyum. "Sebenarnya kau adalah anak yang baik, mungkin karena sifat keturunan itu yang kadang membuatmu jadi salah langkah, dan itu bukanlah salahmu. Tapi seharusnya kamu juga bisa mengendalikannya. Ini adalah hidupmu, ragamu, hati dan pikiranmu sendiri,  jadi kau sendirilah yang harus mengendalikannya.."

    "Baik kek.. akan kuusahakan.." jawabku.

     "Sekarang lanjutkan perjalananmu, menolong orang lain adalah suatu kewajiban.."

     "Ada satu lagi yang ingin kutanyakan kek.. kalo aku butuh penjelasan dan wejangan dari kakek, apakah kakek akan mau datang…?"

     "Tentu saja… kau tinggal membayangkan saja, dan kau akan langsung berada di tempat ini. Tanyakan semua yang ingin kau ketahui.."

     "Terima kasih banyak kek…"

     Perlahan warna putih di sekelilingku memudar, seperti kabut yang sirna karena sinar matahari. Dan alam sekelilingku menjadi gelap, aku telah kembali berada di angkasa, dan Salma telah merangkulku dan membawaku melesat cepat menembus langit malam, menuju ke kediaman orang yang telah mengerjai papanya Kinara.


Lanjut bawah gan sist..

Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redrices dan 96 lainnya memberi reputasi
97 0
97
Lihat 29 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 29 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:11

Lanjutan

     Dalam perjalanan itu aku terus berpikir, ternyata selama ini aku egois dan arogan banget. Aku kayak udah berlaku sebagai Tuhan yang mencabuti nyawa makhluk-Nya. Mulutku langsung mengucap istighfar, memohon beribu ampun pada Allah, ternyata sudah banyak sekali dosa yang kulakukan.

     Ada satu hal lagi yang harus kupikirkan, gimana caranya mengalahkan orang yang saat ini aku datangi tanpa harus bentrok? Aku belum memiliki ilmu semacam itu, semua ilmuku diciptakan untuk satu tujuan, yaitu membunuh. Entah gimana jadinya nanti aja lah. Dan perjalanan ini terasa sangat lama, sepertinya Salma sengaja mengulur waktu, karena dia tau aku sedang berpikir keras. Tapi setidaknya sekarang aku punya tempat untuk bertanya hal yang belum kuketahui.

       Akhirnya kami tiba di sebuah rumah besar yang bagus, rumah ini berada di kota sebelah barat, di tengah-tengah pemukiman penduduk. Mungkin cuma orang tertentu aja yang tau kalo pemilik rumah ini adalah orang pintar. Salma membawaku menembus genting dan atap eternit, hingga tiba di sebuah ruangan cukup luas. Berbagai macam senjata pusaka tersusun di rak. Aku bisa merasakan energi jin dari senjata-senjata itu.

      Di tengah ruangan terdapat meja pendek tapi lebar, dan diatas meja itu terdapat berbagai macam ubo rampe dan juga benda-benda syarat untuk melakukan teluh. Ada juga sebuah baskom berisi air kembang tujuh rupa, dan di dalam air kembang itu ada sebuah foto yang ternyata adalah foto papanya Kinara. Kulihat ada belasan golok kecil tertata rapi di samping meja itu 

     Di belakang meja itu ada  seseorang terkapar nggak sadarkan diri di lantai. Baju bagian depannya penuh bercak darah, di lantai juga ada bekas muntahan darah. Kuperkirakan orang itu berusia lebih dari 50 tahun, beberapa bagian rambutnya mulai memutih. Dia adalah orang yang diserang balik oleh Salma dengan goloknya sendiri. Ternyata dia telah muntah darah dan pingsan tanpa satu orangpun tau.

Quote:    "Katamu masih ada kaki tangannya..? Kemana mereka..? tanyaku.

     "Mereka dari bangsa jin, dan mereka telah kabur duluan.."

     "Kirain kaki tangannya manusia juga.." jawabku.
     Kudekati orang itu, dia emang sudah berumur, terselip rasa iba melihat keadaannya. Tapi kemudian terlintas sebuah ide. Maka kutransfer energi padanya untuk meringankan lukanya. Salma langsung protes, tapi kuberi penjelasan kalo ini adalah strategiku, dan akhirnya dia menurut. Kembali kutransfer energi murniku untuk memberi tenaga dan meringankan luka dalamnya. 

     Seperempat jam kemudian orang itu sadar kembali, dia nampak terkejut melihatku, dan dia langsung beranjak duduk. Tapi mendadak wajahnya berubah merah padam, dia bertingkah seakan mau memuntahkan sesuatu, tapi nggak ada yang keluar. Maka aku pindah di belakangnya dan mentransfer energi dari punggungnya. Terakhir kuberi sedikit hentakan dengan telapak tangan pada punggungnya disertai energi yang lebih besar. 

     Laki-laki tua itu langsung muntah darah hitam beberapa kali, pakaiannya makin basah oleh darahnya sendiri. Napasnya tersengal-sengal dan wajahnya berubah pucat bagai mayat. Lalu dia memejamkan mata, berusaha bermeditasi, kutungguin dia sampai selesai. Dan setengah jam kemudian orang itu membuka matanya kembali. Wajahnya sudah nggak pucat lagi.

Quote:    "Kenapa kamu malah nolongin aku?"

     "Ada pepatah bilang, kalo kejahatan dibalas kebaikan, maka yang berbuat jahat akan berpikir kembali sebelum mengulang kejahatannya.. dan tentunya yang membalas dengan kebaikan itu mendapat pahala besar.." kataku, padahal itu cuma ngawur aja. emoticon-Ngakak (S)

     Orang itu tampak merenungi kata-kataku. "Apa maumu sebenarnya?"

     "Aku cuma ingin kau menghentikan apa yang telah kau lakukan ini.."

     "Sudahlah.. aku sudah kalah.. dan malah musuhku yang nolongin aku.. saat ini aku sudah hancur, nggak mungkin  kuteruskan lagi…"

     "Dan satu lagi.. sampaikan pada orang yang menyuruhmu untuk mengurungkan niatnya, dan kalo dia masih nekat, aku akan mengirim seratus jin untuk meneror dia dan keluarganya.." kataku. "Jangan meragukan kemampuanku!"

     Selesai berucap, langsung kukeluarkan seluruh energiku sampai ke puncaknya, lima energi berpendar keluar dari tubuhku. Bahkan Salma juga pancarkan energi hitamnya yang sejati. Orang tua itu tampak terkejut besar, badannya tampak gemetaran.

    "Baik… baiklah.. aku percaya kau mampu melakukannya. Maafkan aku.. Dan sebagai ucapan terima kasih karena telah menolongku. Maka aku akan mundur dari urusan ini, dan omonganmu tadi akan kusampaikan padanya.."

     "Kupegang kata-katamu! Kalo masih ada lagi laporan dari targetmu, maka dia akan kudatangi!"

     Kuberi isyarat pada Salma untuk pergi dari situ. Dan seperti tadi, Salma merangkulku dan membawaku melesat cepat ke atas menembus langit-langit ruangan. Yang aku katakan tadi bukanlah kesombongan, aku nggak berniat menyombongkan diri, itu adalah strategi, mengintimidasi lawan hingga dia mundur tanpa harus bertarung. Karena saat ini aku belum punya ilmu untuk melumpuhkan, maka kugunakan cara intimidasi tadi. Kini Salma udah paham apa yang kumaksudkan.

Quote:    "Kita mau kemana lagi..?" tanyaku.

     "Masih ada satu orang lagi yang harus kita datangi.. Dia sudah bersiap mau menyerang lagi.."

     "Baiklah.. tapi ntar biar aku yang ngomong.. kamu jangan bertindak duluan.." kataku.

     "Iya.. kita pakai caramu.."

     Kami melesat cepat menuju ke utara kota, Salma lah yang tau lokasi orang itu. Ternyata Salma membawaku sampai ke pinggiran perbatasan kota. Rumah-rumah penduduk masih jarang da berjauhan. Kebanyakan adalah lahan kosong ditumbuhi pohon-pohon. Salma berhenti disebuah rumah besar berdinding papan, halaman rumah itu termasuk sangat luas. 

    Kami melayang setinggi 20 meteran di atas halaman itu. Dan di bawah kami telah menunggu seorang laki-laki tua yang berdiri berkacak pinggang di tengah halaman. Rambut orang tua itu sudah memutih, mungkin usianya sekitar 65-70 tahun. Heran, sudah setua itu masih aja mau disuruh bermain teluh. Di kiri kanan dan belakang orang tua itu terlihat 7 sosok jin berenergi kuat, jadi mereka inilah makhluk kaki tangan si orang tua. Kami melayang turun dan langsung disambut sebuah bentakan keras.

Quote:    "Jangan campuri urusanku!"

     "Udah telat.." jawabku santai.

     "Bocah ingusan udah berani sombong didepanku?!"

     Aku jadi tergelitik untuk menjahilinya. "Kita ini sama! Kita sama-sama dimintai bantuan dan dibayar.. cuma bedanya, bayaranku jauh lebih tinggi daripada sampeyan… hehe…."

    Salma ikut ketawa cekikikan kenceng banget. Wajah orang tua itu merah padam. Mendadak dia pukulkan tangan kanannya ke arahku. Satu larik sinar merah terang melesat. Inilah saatnya strategi intimidasi itu kugunakan lagi. Sinar merah terang itu kuterima dengan telapak tangan kanan, langsung kuserap dan kubungkus dengan energiku. Tanganku terasa seperti ditempeli bara arang, panasnya luar biasa, tapi aku bertahan, karena aku pernah berlatih dengan bara arang. Lalu kudinginkan tanganku dengan energi dingin pemberian Ratu Utara. Orang tua itu tampak sangat terkejut.

    "Apa seranganmu itu perlu kukembalikan lagi padamu?" tanyaku. Kuangsurkan tangan kiri ke depan. Lalu muncullah sinar merah dari telapak tangan kiriku.

    "Jangan!" teriakan orang tua itu.

    Aku sempat heran mendengarnya, tapi terlambat, sinar merah terang itu telah terlepas dari tanganku dan kuarahkan ke tanah di depan si orang tua. Tapi si orang tua malah mengira kalo aku telah menyerangnya balik, maka dia dan 8 jin lainnya segera berlesatan dan berserabutan menghindar.

     Blegaarrr…!

     Ledakan dahsyat terdengar saat sinar merah menghantam tanah, tiupan angin jadi sangat kuat laksana topan. Aku sempat tertegun, nggak menyangka kalo energi serangan si orang tua sedemikian dahsyatnya. Kulihat si orang tua berjumpalitan meredam daya hentakan ledakan tadi. Aku langsung melayang mendekatinya.

Quote:    "Dengar! Aku nggak ingin bertarung dengan sampeyan! Aku cuma memberi peringatan!"

    "Aku belum kalah!" bentak si orang tua.

    Lalu dia memberi isyarat pada 8 jin peliharaannya untuk menyerang kami. Tapi sebelum para jin itu bergerak, mendadak kudengar suara gemuruh tiupan angin dahsyat, satu gelombang angin mirip asap berwarna biru yang sangat besar menerjang ke depan, melabrak 8 jin yang telah melompat hendak menyerang kami. Sontak mereka segera tergulung oleh gelombang angin itu. Salma telah lepaskan pukulan Badai Birunya!

     Tapi ternyata Salma nggak menggunakan banyak energi, dia mengikuti caraku, yaitu cuma mengintimidasi. Kulihat delapan jin itu berpelantingan, bahkan si orang tua itu terseret di tanah dan baru berhenti saat menabrak tiang di beranda rumahnya, tapi mereka semua nggak menderita cedera apa-apa. Si orang tua bangkit dan langsung menghunus sebuah tombak pendek bermata satu, ujung tombak itu ditempelkan ke dahi dan hidungnya. Lalu tombak pendek itu menyala merah terang disertai asap hitam mengepul.

     Aku menduga kalo si orang tua sedang memanggil bala bantuan karena dia merasa kalah energi denganku. Maka dengan tenaga dalam penuh untuk mendukung kecepatanku, aku melesat cepat dan langsung menangkap pergelangan tangan yang memegang tombak pendek itu. Si orang tua tampak berontak, maka kukerahkan energi lebih besar untuk mencengkeram tangannya.

Quote:    "Dengar! Aku nggak mau bertempur! Aku beri peringatan padamu!"

     Laki-laki tua itu babatkan tombak pendeknya ke arahku. "Mamp*slah kau bocah usil!"

     Cahaya merah terang berkeredap seiring dengan gerakan tombak, aku melompat mundur menghindar. Saat itulah tiupan angin terasa makin kencang, dan ada ratusan energi hitam yang mendekat, dan didepanku muncullah ratusan jin berbagai bentuk dan ukuran, jadi ternyata si orang tua memiliki pasukan juga, dan tombak pendek itu sebagai tongkat komandonya. Ratusan jin itu langsung merangsek ke arahku. Tiupan angin makin kencang disertai menghamburnya energi hitam ke segala penjuru.

      Tapi sebelum mereka sampai pada kami, Salma telah lebih dulu pukulkan kedua tangannya kedepan, dia kembali lepaskan dua pukulan Badai Biru, maka aku melompat mundur dan dengan dilambari ilmu Badai Putih, aku ikut pukulkan dua tanganku kedepan. Empat gelombang angin dahsyat berwarna biru dan putih menerjang, melabrak ke arah ratusan jin yang mau menyerbu itu, hingga membuat mereka berlompatan kalang kabut sendiri. Ternyata pukulan Badai emang benar-benar efektif untuk menghalau banyak musuh sekaligus.

     Saat mereka sedang sibuk dan berserabutan menghindar itulah aku gunakan kesempatan untuk keluarkan 3 energi sampai ke puncaknya, tubuhku berpendar cahaya 3 warna setebal setengah meter dari permukaan kulitku. Lalu sekalian kupanggil tombak Sukmageni, dan setelah tombak itu berada dalam genggaman, langsung kuacungkan tinggi-tinggi ke udara.

Quote:    "Mandala Pertama!"

     Tiupan angin kencang langsung berubah jadi badai dahsyat, kudengar suara teriakan, tawa keras, geraman, lolongan dan raungan di kejauhan. Mandala Pertama telah muncul di depanku dengan pedang besar yang telah terhunus. Dan dibelakangku telah muncul pasukan Pancalaksa. Energi hitam seakan memenuhi tempat itu, menghimpit dada dan menyesakkan pernafasan. Aku menduga jumlah mereka nggak sampe 100 ribu, mungkin nggak nyampe setengahnya, karena aku pernah melihat seberapa banyaknya 100 ribu jin itu, dan jumlah yang sekarang ini jauh lebih sedikit.

       Kulihat Salma yang berada di sebelahku telah berubah wujud ke mode tempurnya, sosok perempuan berjubah hitam berambut panjang awut-awutan, wajahnya sangat mengerikan, ditambah kuku hitam panjang setajam pedang, sepasang sayap kelelawar besar tumbuh di punggungnya. Aura hitam pekat menguar dahsyat. Dia sengaja keluarkan aura hitamnya, karena aura hitam lebih mengintimidasi daripada aura putih.

     Pasukan musuh kini telah bisa menguasai diri dari terjangan empat pukulan badai itu. Dua pasukan kini telah berhadapan. Ratusan jin pasukan si orang tua kini bergerombol berdesakan, mereka telah dikepung Pancalaksa dari segala penjuru, jumlah mereka kalah banyak, dan aura mereka seakan tertekan menghilang. Si orang tua menatapku dengan membelalak, mulut terbuka lebar. Tombak pendek yang telah dihunusnya itu diturunkan kembali, dan bisa kulihat kalo badannya gemetaran. Mendadak si orang tua jatuh ke tanah dengan dengkulnya lebih dulu, dia berlutut di depanku!

Quote:    "Aku tegaskan, apa sampeyan menginginkan perang ini?" tanyaku.

    "Si-siapa kau anak muda? Ke-kenapa kau bisa memiliki energi Ratu Selatan..?"

    "Siapa aku itu nggak penting, aku kesini cuma mau memperingatkan sampeyan, hentikan semua yang sampeyan lakuin.. masalah ini cukuplah sampai disini, jangan lagi mengerjai orang itu!" kataku.

     "A-aku cuma dibayar untuk melakukan pekerjaan ini.."

     "Seharusnya sebelum menerima kerjaan, sampeyan harus tau latar belakangnya dulu, jangan asal mau aja! Sampeyan rela kita saling bunuh demi orang lain? Sampeyan mau kehilangan ilmu kesaktian dan bahkan nyawa cuma demi uang yang nggak seberapa? Ditambah lagi dosa yang harus dipertanggungjawabkan kelak! Jika sampeyan mau, maka saat ini juga kita akan bertempur!" kataku.

     "A-aku.. aku mengaku kalah.."

     "Ini bukan soal kalah atau menang! Aku meminta sampeyan untuk menghentikan semua yang sampeyan lakukan pada orang itu!"

    "Ba-baiklah.. aku.. aku akan hentikan semua.. sudah cukup sampai di sini.. aku nggak mau kehilangan kesaktian bahkan nyawaku.."

    "Masih untung kami belum sempat membunuh semua jin sampeyan itu, karena kami kesini emang cuma mau bicara! Aku pegang kata-kata sampeyan! Sebagai orang tua, seharusnya sampeyan bisa memegang janji. Kalo nggak, aku akan memburu sampeyan lagi!" kataku.

    "Baik.. kau bisa memegang janjiku!"

    "Satu lagi, katakan pada orang yang membayarmu! Hentikan niatnya menyakiti orang lain, atau aku kan mengirim semua jin yang hadir di belakangku ini untuk meneror dia dan keluarganya! Aku nggak main-main!" kataku.

     "Akan kusampaikan padanya.. terima kasih kau masih mau memaafkanku. Tapi masih ada satu orang bayaran lagi.."

     "Aku sudah mendatanginya, dia telah muntah darah karena termakan senjatanya sendiri.. dan aku juga sempat menolongnya.." kataku.

     Orang itu tampak terkejut, tapi dia berusaha menyembunyikannya dengan berkata. "Kejadian ini kuanggap sebagai peringatan buatku. Sebagai orang tua, aku merasa malu, tapi aku nggak malu belajar dari yang lebih muda.."

     Kudekati Mandala Pertama, dia langsung menundukkan kepala. "Terima kasih atas kedatanganmu, aku menghargai bantuanmu ini.."

     "Sudah jadi tugas kami raden.."

     "Sekarang kalian bisa kembali ke tempat.." kataku.

     "Kita tidak jadi berperang raden?"

     "Musuh telah menyerah.. nggak ada gunanya lagi berperang.."

      "Baiklah raden.. kalo butuh bantuan lagi, jangan ragu memanggil kami.."

     "Iya… Sekali lagi terima kasih.."

     "Kami mohon pamit raden.."

     Mandala Pertama menundukkan kepala, diikuti semua prajurit Pancalaksa, lalu sosok mereka mengabur, berubah jadi bayang-bayang dan menghilang bagai asap tertiup angin. Aku menghembuskan napas lega, untuk sementara aku berhasil menghindari pembunuhan. Sebenarnya keadaan kayak ginilah yang selalu kuinginkan, tapi situasi kadang bertolak belakang dengan keinginan.

Quote:    "Bagaimana kau bisa menundukkan jin liar segitu banyak? Bahkan menggabungkan mereka jadi sebuah pasukan tempur? Siapa sebenarnya kamu ini anak muda? Apa kau adalah seorang keturunan salah satu tokoh di pulau ini?"

     "Aku cuma seorang anak manusia yang berusaha menolong seorang sahabat yang sedang dalam kesusahan.."

     Tanpa menjelaskan lebih lanjut, aku berpaling ke Salma, dia telah berubah kembali jadi gadis gothic yang cantik. Salma mendekat dan memelukku, lalu dia membawa sukmaku melesat cepat membelah gelapnya langit malam, kembali menuju rumah sakit tempat dimana ragaku berada.

     Sepanjang perjalanan itu Salma tak henti-hentinya tersenyum, pelukannya terasa makin erat, aku nggak tau apa yang dipikirkannya. Yang jelas saat itu aku merasa lega karena bisa melakukan apa yang disarankan Rijalul Ghaib, aku mau melakukannya karena memang aku sependapat dengannya. Semua akan terasa nyaman kalo dilandasi dengan jalan damai.

    Waktu udah menunjuk di angka 2 dini hari saat aku sampai pada ragaku, Kinara masih tertidur lelap. Aku beranjak memeriksa kondisi papanya, semua baik-baik aja. Dan kembali aku mentransfer energi padanya, agar penyembuhan bisa lebih cepat. Setelah selesai, aku pindah ke sofa dan merebahkan diri. Salma ikut rebah berdesakan denganku di sofa itu juga. Akhirnya aku bisa tidur nyenyak malam ini..


bersambung…



164

Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redrices dan 116 lainnya memberi reputasi
117 0
117
Lihat 30 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 30 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:13
Akhirnya ta enteni sui iki
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pecong3 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:19
Mana bawah mbah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:32
Suwun mbah apdetnya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:41
Nuhun om....emoticon-2 Jempolemoticon-I Love Indonesia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:47
Kayaknya harus gali ilmu lg gan yg lebih ke perdamaian, sukses selalu mbah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
10-06-2021 17:50
mantabb, mencabut nyawa bukan wewenang manusia, tapi kok mau dengerin rijalul gaib?? biasanya pake ngotot kalo ngomong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngejleb dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 253 dari 321
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
your-tea-love-story-17
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
kimpoi-sasuku
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia