Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Segera Daftarkan Komunitas Kalian Disini
213
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e11db4fa2d1957b5b433fd0/mereaksikan-kamu-dan-aku-menjadi-kita
Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain. Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk
Lapor Hansip
05-01-2020 19:49

Reaksi Hati

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Bereaksi

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain.

Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk menangkap segala aktivitas cowok bernama Elang.

Elok duduk di kursi belakang Elang. Sekedar untuk dapat menatap punggungnya sambil menikmati makan siang.

Rindu berjalan tergesa-gesa menghampiri Elok, memanggil namanya dua kali tapi cewek itu tetap bergeming seolah berada di dimensi lain.

Rindu menarik garis khayalan dari manik mata sewarna madu itu menuju ke depannya dan taulah apa yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba menjadi tuli akan panggilan.

Dia menarik cepat tisu yang ada di tengah meja kayu, mengelapkan di bibir Elok dengan kasar. "Lap dulu air liurmu yang banjir ini."

Menghempaskan diri dengan kesal ke bangku yang berada di seberang Elok. Elok memberikan tatapan protes. Untung itu sahabatnya kalau nggak pasti sudah dihabisi.

"Ngapain sih? Aku kan baru makan, nggak ada air liur yang menetes seperti orang kelaparan yang belum makan tiga hari." Elok mengelap mulut menggunakan tisu yang direbut dari tangan Rindu. Menunjukkan pada cewek itu kalau tidak ada satu tetes air liur pun yang menempel pada permukaan tisu.

"Nggak salah kok kalau mengagumi ciptaaan Tuhan yang demikian memikat. Nggak usah malu mengakui kalau sedari tadi kamu lihatin Elang terus." Rindu memiringkan kepala lalu mengerling.

Elok menyibukkan diri dengan mengaduk kuah soto untuk mencari daging sapi yang sebenarnya tidak ada karena sudah dimakan semua. Apakah dia terlalu ceroboh sampai perasaannya terlihat begitu jelas.

Sudah dua tahun ini dia berusaha mengekang rasa sukanya dengan berpura-pura tidak mengenali Elang. Mereka bahkan tidak pernah berbicara satu kali pun. Ajaibnya, tidak ada yang menyadari keganjilan itu.

Kesedihan kembali merayapi Elok. Sungguh dirinya tak layak untuk berada di dekat Elang sejak kejadian naas ketika mereka lulus SD.

Kalau bukan karena sifat manjanya pasti sekarang Elang masih bisa bersama-sama dengan mamanya. Elok mendesah, memaksa menyuapkan nasi soto ke dalam mulut kecilnya.

Elok menutup wajah dengan kedua tangan, mengingat kembali kejadian itu membuat hatinya sedih. Betapa pengecutnya karena sampai sekarang tidak berani meminta maaf pada Elang. Menelan sendiri rasa bersalah itu.

"Jadi begini." Elang bangkit lalu memutari meja. Menekankan kedua tangan di atas meja, tubuhnya condong ke depan hingga semua teman-teman mengikuti.

Elang mengangkat dagu sebentar agar matanya bisa menatap pemandangan yang tadinya tidak bisa dilihat. Dahi berkerut ketika melihat objek pemandangan malah sedang menutup mata dengan tangan. Sedang sedihkah dia? Apakah kembali memikirkan masa lalu.

Elang kembali menunduk, melanjutkan percakapan yang tertunda. Namun otaknya memikirkan hal lain. Dia ingin kembali bisa dekat dengan Elok. Namun sejak awal mereka bertemu di kampus, cewek itu seperti menghindar.

Rindu menyentuh lengan Elok. "Kamu kenapa?"

Elok menyingkirkan tangan yang menutup wajah, menggeleng lemah. "Nggak papa," ujarnya sambil tersenyum lemah.

"Makannya sudah selesai kan? Sekarang sudah hampir waktunya praktik." Rindu berdiri setelah melihat jam tangan.

Elok juga ikut berdiri, berlari kecil mengejar Rindu yang sudah pergi duluan.

"Eh, maaf," kata Elok setelah tidak sengaja menabrak Elang yang tiba-tiba berhenti.

Elok tidak memperhatikan secarik senyum yang coba disembunyikan Elang karena bisa mendengar suaranya kembali.

Praktik kali ini ada di lantai tiga. Elok menyesuaikan napas ketika memasuki ruangan. Terkesiap ketika melihat Elang sudah terlebih dahulu sampai. Pasti dia lewat tangga yang satunya.

Elok mencoba mengabaikan fakta bahwa Elang sama sekali tidak terengah-engah seperti dirinya sendiri. Pasti cowok itu sering berolahraga.

Elok berjalan melewati meja Elang untuk menuju mejanya sendiri yang hanya selisih satu bangku.

Fahmi tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Dengan tidak sabar menarik tangan Elok hingga cewek itu terduduk di bangkunya.

Cowok itu membantu Elok mempersiapkan box yang berisi perlengkapan praktik. Elok hanya bisa tersenyum menerima perhatian itu. Elok menyadari perasaan Fahmi, tapi apa daya hatinya sudah tertambat ke orang lain.

"Sudah siap dengan pretest? Jangan sampai kamu tidak boleh mengikuti praktek karena nilai yang kurang." Fahmi mengerling sebelum menyiapkan perlengkapannya sendiri.

Dosen dan juga asisten sudah memasuki ruang laboratorium, tapi Elani masih belum kelihatan. Waktu teori tadi dia juga tidak kelihatan. Elok melirik bangku yang berada di samping.

"Sebelum memulai pretest, saya ada sedikit pengumuman. Elani sudah mengajukan surat berhenti kuliah. Elok, kamu pindah di sebelah Elang. Kalian jadi partner. Yang lain silakan bergeser satu bangku." Bu Weni mengawasi mahasiswa yang mulai mengemasi perlengkapan untuk pindah.

Elok memberesi perlengkapan dengan berat hati. Dua tahun ini sudah berusaha keras menghindari cowok satu itu. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa harus mulai minta maaf. Ini terlalu berat baginya.

Elang melirik Elok yang terlihat lesu. Berbanding terbalik dengan dirinya. Rasanya ingin bersorak keras-keras untuk menyerukan kegembiraannya.

Bola lampu di otak Elang menyala. Ini saatnya dia bertindak agar Elok kembali mau berbicara lagi dengannya. Ini akan menyenangkan, benak Elang tertawa bahagia.

"Jangan dikira aku mau menjadi partnermu," bisik Elang untuk Elok gusar.

Mata Elok membelalak hingga terlihat begitu bulat. Ini pertama kalinya Elang bicara padanya. Nada bicara itu membuat Elok merinding. Apakah cowok itu masih begitu marah.

"Jangan sampai menyusahkan." Peringatan kedua yang diucapkan oleh Elang menyulut emosi.

Elok bersedekap dengan dagu terangkat. "Siapa juga yang mau berpartner dengan cowok kaya kamu. Masih lebih baik Fahmi kemana-mana."

Kata-kata itu sukses mengalihkan dunia Elang karena saat ini cowok itu memandang Elok dengan tatapan membunuh. Elok tidak tahu kalau itu benar-benar menyinggung harga dirinya.

Pretest sudah usai, waktunya membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar bu Weni memangggil nama mahasiswa. Kalau sampai namanya tidak dipanggil saat praktikum dimulai itu tandanya nilai terlalu rendah, tidak boleh ikut dan harus keluar dari laboratium.

Elok tersenyum ketika namanya dipanggil setelah Elang. Dia berderap maju untuk mengambil kunci laci. Masing-masing mahasiswa memiliki laci yang berisi set peralatan untuk praktikum. Harus bertanggung jawab dengan kebersihan dan kelengkapannya.

"Lho kok kuncinya macet," gerutu Elok sambil terus berusaha memutar ke kanan, tapi terasa berat.

Sebuah kunci diletakkan di meja Elok. Dia mendongak untuk memandang Fahmi yang tersenyum geli.

"Lok, kamu ambil kunci yang salah." Fahmi mengulurkan tangan untuk meminta kunci nomor lima.

Elok menepuk jidat pelan karena menyadari kesalahannya. Nyengir malu-malu, ini karena terbiasa mengambil kunci nomor lima padahal sekarang sudah duduk di nomor empat.

"Ceroboh."

Elok pura-pura tidak mendengar ejekan Elang itu. Mengeluarkan perlengkapan dari dalam laci lalu menata berurutan di atas meja. Sekarang tinggal mengambil mikroskop saja. Dia melangkah menuju rak penyimpanan mikroskop.

"Jangan salah lagi." Elang berjalan sambil memberi peringatan.

Elok meringis, untung diingatkan. Nyaris saja salah ambil mikroskop lagi.

Elok mengeluh dalam hati. Baru beberapa menit mereka menjadi partner tapi sudah mendengar kata-kata yang bikin bad mood. Tau gitu lebih baik tidak ikut praktik saja. Eh, sayang juga kalau harus mengulang semester gara-gara selalu tidak ikut praktik. Mereka kan sekarang jadi partner.

Anggap saja berpartner dengan cowok paling tampan di tingkat tiga. Eh, tunggu dulu, bukannya predikat itu disematkan pada Elang. Elok mendesah sebal.

Elang melirik cewek yang duduk di sampingnya. Cara ini rupanya cukup berhasil. Cewek itu pasti tidak tahan untuk menjawab setiap celaan yang terlontar dari mulutnya. Elok nggak bakal diam saja kalau terus dihina. Rupanya cewek masa kecilnya masih belum berubah banyak.

"Hari ini kita akan praktek hitung eosinofil. Di sini siapa yang punya alergi?" Bu Weni menunggu jawaban dari yang lain.

"Elok saja, Bu." Elang menunjuk Elok disertai dengan serigai liciknya.

"Memangnya Elok punya alergi apa?" Bu Weni mendekati meja mereka sambil membawa perlengkapan untuk mengambil sampel darah berupa vial yang berisi antikoagulan, spuit, alkohol swab, dan torniquet.

"Bukan alergi tapi cacingan. Lihat saja badannya yang kurus." Elang memandang Elok dari sudut mata hingga muncul kesan merendahkan.

"Ya sudah kalau begitu. Elang, kamu ambil darah Elok sebanyak 6 cc," perintah bu Weni.

Elok bergidik ngeri melihat serigai Elang. Ya ampun, 6 cc darah. Spontan menutup lengan kanan dengan memakai tangan kiri. Ini bukan mimpi kan? Semoga Elang bisa lancar mengambil darah.

"Ini tidak sakit kok." Elang memainkan alis sambil mengacungkan spuit 6 cc. Dalam hati menertawakan wajah panik Elok.

Elok menarik tangan saat Elang menggegam mantap. Elang melotot, dengan pandangan mengancam kembali menarik kembali lengan Elok agar posisinya pas. "Tenang aja."

Kata-kata dari Elang tidak membuatnya semakin santai malah makin tegang. Elok mengintip dari sela-sela telapak tangan yang harusnya digunakan untuk menutup wajah. Biasanya sih selalu berani kalau diambil darah. Namun kali ini plebotomisnya adalah Elang. Gimana kalau dia sengaja menusuk dua, tiga, atau bahkan empat kali untuk mengambil darah.

"Nggak sakit kan?" Elang menarik spuit dari lengan Elok dengan mulus.

Elok menggeleng lemah karena pikiran buruknya tidak terbukti. Bahkan tidak terasa sakit seperti kalau diambil oleh Fahmi. Dia meraih vial-vial yang sudah diisi Elang dengan darah, menutup dan mencampurnya dengan anti koagulan lalu membagikan ke pasangan-pasangan lain.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Sumber : atlm.web.id


Semua langsung berkonsentrasi untuk memulai praktikum sedangkan Elok baru saja mulai karena harus membagi vial terlebih dahulu.

Elang mengangkat tangan tanda dia sudah menemukan sel eosinofil. Bu Weni mendekat untuk melihat kamar hitung lalu memberikan tanda tangan di buku laporan. Elang menghitung jumlah Eosinofil yang ditemukan lalu segera mengumpulkan buku itu.

"Cepat seperti biasa." Bu Weni memuji Elang yang pertama kali menyelesaikan praktikum.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Elok yang masih berkutat dengan mikroskop. Mencari sosok eosinofil yang berbentuk seperti kacamata.

"Lima menit lagi. Segera bersihkan peralatan!" Suara Bu Weni membuat Elok semakin gugup.

Elang sudah selesai membereskan meja, malah duduk diam sambil terus memandangi. Enggan untuk membantu biar cewek itu semakin kesal.

Fahmi yang terakhir mengangkat tangan. Setelah memberi tanda tangan, Bu Weni menghampiri Elok untuk mengecek mikroskop dan memang tidak menemukan apa pun.

"Fahmi, tolong pinjamkan bilik hitungmu buat Elok," pinta bu Weni.

"Kamu cacingan ya? Sampai-sampai aku dapat banyak eosinofil. Minum obat cacingan biar gemukan sedikit," ejek Elang, tapi cewek itu masih berpura-pura tidak mendengar.

Elang tahu apa yang bisa membuat cewek itu bereaksi. "Jangan-jangan kamu punya asma. Ngik ... ngik ... ngik...." Elang memegang dada lalu berpura-pura menarik napas dengan kepayahan.

"Nggak lucu," gerutu Elok, membuang muka.

"Kalau begitu pasti alergi." Elang mencondongkan badan sambil menunjuk muka Elok.

Elok mengabaikan ucapan itu. Menyibukkan diri untuk mengemasi tas agar tidak perlu melihat wajahnya.

"Alergi kan?" Elang mengulangi pertanyaan lalu menyikut cewek itu.

Elok memberikan tatapan peringatan. Elang semakin merasa kegirangan. Wajah cewek itu malah jadi semakin menarik. Mungkin ini bisa dijadikan senjata untuk membuat cewek itu terus berbicara padanya.

Fahmi menghampiri. "Elok, ayo keluar."

Elok dan Fahmi berjalan bersisian. Mereka memang kompak sebagai partner karena sudah dari tingkat satu bersama. Sayangnya sekarang mereka terpisah.

Hampir saja Elok duduk di sebelah Fahmi. Namun cowok itu tersenyum geli sambil menunjuk kursi sebelah Elang. Elok menghembuskan napas kasar. Perubahan ini benar-benar membuatnya kacau. Capek hati dan capek pikiran kalau terus berada di dekat Elang.

"Cacingan, asma, alergi?" ejek Elang dengan nada riang.

Elok merasa heran, tumben-tumbenan cowok satu ini banyak bicara. Biasanya tampak cool. Ini sangat menyebalkan.

"Iya, aku punya alergi," ujar Elok ketus. Pada akhirnya memang harus menghadapi cowok itu.

Elang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Mendekati agar dapat mendengar lebih jelas. "Aku benar kan? Kamu alergi apa?" Dia memainkan alis demi melihat wajah Elok yang semakin memerah.

"Uhuk, uhuk, alergi kamu." Elok pura-pura batuk untuk menggoda. "Alergi dekat-dekat sama manusia bernama Elang." Kilat jail muncul dari manik sewarna madu.





Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.


Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cyb3r_thu6 dan 57 lainnya memberi reputasi
56
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 7 dari 7
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
22-04-2020 13:18
Quote:Original Posted By jiyanq
Hai,sis. Senang sekali ente bisa hadir lagi meski dalam kondisi yg kurang menyenangkan karena wabah ini. Ane seneng banget trit ini berjalan lagi, jadi bisa menikmati bucinnya Elang dan menggemaskannya Elok.
Semoga ente selalu dalam keadaan sehat,sis. emoticon-Toast


Semoga kita semua sehat selalu. Suasana memang baru tidak menyenangkan, semoga cepat selesai pandemi ini.
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
10-05-2020 23:56
Quote:Original Posted By jiyanq
Aamiin.


Lapak sebelah yang cerita fantasy udah update.
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
17-05-2020 16:32
Lori mulai post lagi cerita horor bisik kematian. Udah ga digembok lagi ya. Ini linknya (New) Bisik Kematian

Atau bisa klik gambar ini
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
0 0
0
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
13-07-2020 07:42

Hiatus

Mohon maaf karena belum bisa melanjutkan cerita di kaskus karena Lori update 3 cerita on going setiap hari. Kalau mau baca cerita ini bisa cek di instagram Galeri_lori.
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita


Edit by Canva
0 0
0
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
02-05-2021 08:06

Reaksi Hati

Judul cerita akan berubah dari "Mereaksikan Aku dan Kamu Menjadi Kita" menjadi "Reaksi Hati"

Cerita ini akan mulai update lagi ya.
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
04-05-2021 12:58

Reaksi Hati

Ada event nih buat pembaca. Yuk ikutan dukung Elok dari Reaksi Hati, dengan cara :

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
30-05-2021 17:34

Reaksi Hati

Berubah



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


"Selamat sore, Om. Saya Elang, salam kenal."

Mata Elok membulat ketika mendengar suara ramah yang keluar dari mulut Elang. Dia bertemu pandang dengan Rindu dan sama-sama mengangkat bahu.

Katanya Elang sudah tidak lagi mau berhubungan dengan Jesi? Namun gerak tubuhnya saat ini berbeda. Perasaan Elok jadi nggak enak.

"Pacarmu tampan dan sopan. Lusa Papa pulang, ajak Elang makan malam bersama kita. Ada sesuatu untuk dia juga. Jangan lupa berbelanja bersama Elang."

"Siap, Pah!" seru Jesi dengan sikap manja.

Setelah menutup panggilan, Jesi tanpa basa basi menarik tangan Elang. Cowok itu juga tidak terlihat keberatan.

"Aku duluan ya, Lok. Nanti kuhubungi," ucap Elang sebelum mengikuti Jesi.

Cewek ular itu sempat menoleh, hanya untuk memamerkan senyum kemenangan yang terlihat licik. Perut Elok seperti kena tonjok melihat kepergian mereka.

"Lok, Lok, kamu nggak apa-apa?"

Tubuh Elok bergoyang mengikuti arah tangan Rindu yang ada di kedua bahunya. Otak terasa membeku hingga tak bisa berpikir.

"Lok, jangan gini dong. Kita ikuti mereka aja yuk," ajak Rindu dengan suara bergetar.

"Aku pulang aja, Ndu."

Elok meninggalkan kantin dengan langkah sekaku zombie. Dia hanya harus nunggu kabar dari Elang. Langkah Elok dihentikan oleh Rindu yang menghadang di depannya.

"Kamu pulang naik apa? Sama siapa? Bukannya mau pulang sama Elang?"

Kedua bahu Elok terangkat dengan lemah. Haruskah dia tetap menunggu Elang di sini?

"Jangan bodoh! Nggak ada gunanya kamu nungguin Elang. Dia sudah pergi mengikuti cewek ular itu. Lebih baik kamu pulang sama aku saja," ucap Rindu yang menggandeng tangan Elok.

Butir air mata mengalir di pipi Elok. Teman dekatny ini memang paling bisa membaca isi hati. Sepertinya memang dia harus pulang dengan Rindu saja. Mengurangi resiko terdampar di bagian kota lain gara-gara pikiran kosong.

Pada akhirnya, Rindu benar-benar mengantar Elok sampai ke rumah. Padahal harusnya Rindu turun duluan dari angkot.

Sepanjang malam, Elok terus menerus mengecek gawai. Menunggu pesan atau panggilan dari Elang, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda cowok itu akan memberi kabar.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...






Indeks cerita dapat di klik di sini.

Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
01-06-2021 08:38

Reaksi Hati

Lepas Kendali



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


"Lang," panggil Elok dengan lirih ketika menemukan cowok itu berdiri kaku di belakang Fahmi.

Dengan cepat Fahmi berdiri menghadap Elang. Jemarinya merenggut kerah baju Elang.

"Apa kamu tidak bisa memperlakukan pacarmu dengan lebih baik? Jangan jadi cowok brengsek dan lepaskan dia," sembur Fahmi dengan sinis.

"Dan membiarkan dia bersamamu? Pergilah ke neraka!" seru Elang yang menepis tangan Fahmi.

Mata Elok membulat demi mendengar umpatan itu keluar dari bibir Elang. Tidak pernah cowok itu sekasar ini.

"Kamu masih berani berdiri di sebelahku sebagai sahabat ketika kamu melakukan kesalahan yang sama dua kali? Apakah Jesi tidak cukup bagimu sampai harus merebut Elok dariku?"

Jantung Elok terasa diremas, bukan karena mendengar tentang pengkhianatan Fahmi, melainkan karena Elang menunjukkan kepedulian terhadap Jesi. Apakah cowok itu masih cinta pada Jesi hingga mendendam dengan Fahmi? Jangan-jangan dirinya juga masuk dalam aksi balas dendam ini?

"Ada apa ini? Semuanya kembali ke tempat masing-masing. Kita mulai materinya!" seru Pak Setyo yang sudah berdiri di depan kelas.

Kedua orang itu berpisah di arah yang berbeda. Mereka seolah lupa dengan keberadaan Elok yang ditinggalkan di belakang.

"Ada apa dengan mereka berdua? Apa Elang putus dengan Jesi gara-gara Fahmi? Kenapa sih kehidupan cintamu rumit gini, Lok?" tanya Hera bertubi-tubi.

Namun, hanya Rindu yang ternyata memahami perasaan Elok. Cewek itu menepuk bahu Elok dengan perlahan kemudian membantu duduk.

Pikiran Elok sendiri malah semakin kosong. Dia sama sekali tidak bisa menyerap materi kuliah yang diberikan oleh Pak Setyo. Begitu juga keadaannya selama praktek. Dia hanya melakukan rutinitas tanpa banyak berpikir.

Anehnya, Elang seolah juga tenggelam dalam dunia yang berbeda. Mereka berdua tidak saling menyapa atau pun berdiskusi. Keadaan ini kembali seperti sebelum mereka menjadi parter.

Selesai praktek, Elok mencoba berbicara dengan Elang. Namun, cowok itu tidak menanggapi.

"Lang, apa kamu tidak akan menjelaskan situasi ini?"

Elok menarik Elang ke tangga yang menuju ke atas. Pandangan mata Elok sudah mengunci mata Elang. Sudah tidak lagi bisa bersabar karena setengah mati ingin tahu apa yang sedang disembunyikan oleh pacarnya.

"Waktunya tidak tepat. Hari ini aku ada janji nganterin Jesi buat beli sesuatu. Nanti aku kirim pesan kalau sudah sampai rumah," ucap Elang yang terburu-buru menuruni tangga.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...





Indeks cerita dapat di klik di sini.

Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 69banditos memberi reputasi
2 0
2
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
01-06-2021 08:53
Baru sadar kalau selama ini sudah salah nempel link indeks cerita. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Link indeks di tiap part sudah diperbaharui ya.
profile-picture
69banditos memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
06-06-2021 20:32

Reaksi Hati

Hati ke Hati



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


"Kenapa diam?" Tangan Elok bersedekap ketika membelakanginya Elang.

"Kenapa kamu nggak mau jawab?" tanya Elok dengan nada ketus.

Betapa terkejutnya Elok ketika kembali membalikkan tubuh dan menemukan Elang hanya menatapnya saja.

"Kenapa malah senyum-senyum? Elang nyebelin!" Suara Elok makin lama makin naik hingga akhirnya menjerit.

"Kamu cemburu sama Jesi?" Senyum lebar menghiasi wajah Elang.

Elok melirik Elang. Bisa-bisa cowok itu menanyakan hal yang sudah jelas.

"Aku sudah bilang kalau nggak ada hubungan lagi sama Jesi. Soal Fahmi dan Jesi, aku bisa jelaskan. Lebih baik kita duduk, karena ceritanya panjang."

Elang menuntun Elok ke kursi terdekat, kemudian membantunya duduk. Setelah itu Elang duduk di seberangnya.

"Jadi?" tagih Elok setelah menunggu selama beberapa menit dalam keheningan.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...


Indeks cerita dapat di klik di sini.

Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita


Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
12-06-2021 21:24

Reaksi Hati

Rencana Elang dan Jesi



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita

Gambar by : IztaLorie

Edit : Ibis Paint


...

"Om, apa kabar? Lama nggak bertemu," sapa Elang yang sudah balik badan untuk menghadapi orang tua Elok.

"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang," usir ayah Elok dengan terus terang.

"Baik, Om, Tante. Saya pamit dulu."

Elang pun menghampiri keduanya untuk berjabat tangan. Namun, ayah Elok malah beranjak ke dekat pintu, menanti dirinya keluar dari rumah.

Suara pintu yang dikunci setelah Elang melangkah keluar membuat Elok membelalak. Belum pernah Ayah bersikap sekeras itu sebelumnya.

"Ayah kok gitu sih? Bukannya Ayah sudah lama tidak bertemu dengan Elang?"

"Ya, gitu deh kalau orang baru cemburu. Ayahmu itu belum siap menyerahkanmu pada cowok lain," sindir Bunda yang melangkah ke ruang keluarga.

"Kalau udah seperti ini, Bunda pasti dicuekin deh," lanjut Bunda yang menjauh dengan memamerkan goyang pinggul.

"Nggak gitu, Bun. Ayah tetap cinta sama Bunda. Elok itu masih kecil, jadi belum waktunya berpacaran," ucap Ayah yang langsung paham kalau istrinya sedang merajuk.

"Terus, Elok boleh pacaran kalau umur berapa?" teriak Elok sambil berjinjit karena kedua orang tuanya sudah masuk ke kamar.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...



...



Indeks cerita dapat di klik di sini.

Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang. Jangan lupa share informasi ini ya.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
12-06-2021 21:30
Sebenarnya sudah dari sore mau update cerita Reaksi Hati, tapi dasar gaptek. Lori bingung gimana caranya post dengan tampilan web 😅
Akhirnya nunggu bisa online pakai hp baru bisa update.

Ngomong-ngomong, bagaimana kabar kalian. Sehat-sehat semua kan? Lori harap kalian taat dengan prokes mengingat kondisi sekarang. Terdapat lonjakan kasus Covid. Gimana dengan kondisi di daerah kalian? Salam sehat selalu
0 0
0
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
15-06-2021 21:08

Reaksi Hati

Mengenalimu



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita

Gambar by : IztaLorie

Edit : Ibis Paint


"Lalu aku harus percaya sama kamu?" balas Elok yang menepiskan tangan Fahmi.

"Apa kamu baik sama aku gara-gara mau balas dendam ke Elang? Teman baik macam apa yang senang dengan kehancuran sahabatnya?" lanjut Elok dengan nada tajam.

Fahmi bersedekap lalu memindai Elok dari ujung kaki hingga berhenti di wajah. "Aku benar-benar tidak mengenalimu sekarang. Kamu udah diracuni Elang hingga menentangku."

"Ternyata aku juga tidak mengenalmu dengan baik. Sikapmu ketika tidak ada Elang sangat berbeda ketika ada dirinya. Apa ini wajahmu yang sebenarnya?" Jari telunjuk Elok terarah pada Fahmi.

"Terserahlah, pokoknya aku sudah memperingatkanmu tentang Elang. Kalau nantinya kamu patah hati, datanglah padaku. Aku akan menghiburmu," ucap Fahmi sebelum meninggalkan Elok.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...




...

Indeks cerita dapat di klik di sini.

Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang. Jangan lupa share informasi ini ya.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
16-06-2021 18:53

Reaksi Hati

Calon Besan



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita

Gambar by : IztaLorie

Edit : Ibis Paint


Elok beringsut mendekati Mas Bagus kemudian duduk di sebelahnya. Suara helaan napas Ayah terdengar berat, hingga membuat Elok jadi gelisah. Jarang-jarang beliau mengumpulkan seluruh anggota keluarga untuk berbicara. Biasanya yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Nanti malam kita ada acara makan malam dengan keluarga calon besannya Ayah. Ayah dan Bunda mohon agar kalian berpakaian formal dan rapi. Jangan sampai membuat malu."

Ucapan Ayah membuat dahi Elok berkerut. Tanpa dikomando, Elok dan Mas Bagus saling pandang lalu angkat bahu secara bersamaan.

"Calon besan? Siapa maksud Ayah? Bagus saja udah putus," ucap Mas Bagus mewakili Elok yang sedari tadi menyikutnya.

"Nggak usah banyak tanya, nanti kalian juga akan tahu," lanjut Ayah dengan mata berkaca-kaca.

Bunda mengelus punggung Ayah dengan wajah tak kalah sendu. "Ayah jangan nangis, nanti matanya bengkak. Nggak enak dengan besan."

"Ayah kenapa? Kalau ada hutang, mending bicarakan dengan Mas Bagus saja. Suruh bayarin, nggak perlu menjodohkan anak dengan orang yang tidak diinginkan. Betul nggak, Mas?" tanya Elok yang sekali lagi menyikut kakaknya.

"Betul! Eh, tapi ada yang aneh dengan ucapanmu. Nggak gitu kali konsepnya, Lok. Masa aku disuruh bayarin hutang. Mending tumbalin Elok aja buat bayar hutang," balas Mas Bagus dengan ekspresi serius.

"Ayah tadi nggak bilang kalau mau nikahin aku, kali aja yang dimaksud itu Mas Bagus," ejek Elok dengan menjulurkan lidah.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...







Indeks cerita dapat di klik di sini.

Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang. Jangan lupa share informasi ini ya.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita



Reaksi Hati sudah hampir tamat. Satu hari setelah part terakhir di post, Lori mau hapus beberapa part karena cerita ini mau diterbitkan. Bagi yang berminat, bisa menunggu informasi lebih lanjut di instagram Galeri_lori. Jadi, jangan sampai ketinggalan informasi ya.
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
17-06-2021 19:22
Ayo update lagiiii.....
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
17-06-2021 21:16

Reaksi Hati

Klarifikasi

Part Sebelumnya
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita

Gambar by : IztaLorie

Edit : Ibis Paint


...

Part terakhir ya. Buruan baca sebelum dihapus.

...


"Alex? Mau apa kamu ke sini? Ini acara makan malam keluarga kami!" Kali ini ayahnya Elang yang angkat bicara.

Beliau bahkan menghampiri papanya Jesi dengan wajah merah padam. Sastro meraih kerah baju Alex yang berdiri dengan pasrah.

"Kebetulan ini juga acara makan malam keluarga kami dengan pacarnya Jesi," ucap Alex dengan kalem sambil melepaskan cengkeraman tangan Sastro.

"Jadi Jesi pacaran sama Elang? Ini gimana sih konsep makan malamnya? Elok kok bingung," cerocos Elok yang menoleh ke arah Elang, Jesi, dan ayahnya secara bergantian.

"Jesi itu anakmu? Ha,ha, lucu sekali. Bagaimana mungkin kamu membiarkan kedua anakmu menjalin hubungan," cemooh Sastro yang memutar tubuh karena ingin kembali duduk.

Secepat kilat Alex meraih tangan Sastro dan memaksa pria itu menghadap ke arahnya. "Apa maksud ucapanmu?"

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...




TAMAT

...

Indeks cerita dapat di klik di sini.

Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang. Jangan lupa share informasi ini ya.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita



Reaksi Hati sudah hampir tamat. Satu hari setelah part terakhir di post, Lori mau hapus beberapa part karena cerita ini mau diterbitkan. Bagi yang berminat, bisa menunggu informasi lebih lanjut di instagram Galeri_lori. Jadi, jangan sampai ketinggalan informasi ya.
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 69banditos memberi reputasi
2 0
2
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Halaman 7 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
warisan-itu-bernama-cenayang
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
kamar-kosong-chapter-1
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia