Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Segera Daftarkan Komunitas Kalian Disini
80
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60af87455fb4ec02c5003880/oleh-oleh-perjalanan-dinas-suamiku
Part 1 "Blugh!" Mas Raka menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Aku yang berdiri di depan pintu kamar sambil menggeret koper sisa perjalanan dinasnya, hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Pulang-pulang langsung 'ngebo', Mas?" ucapku sambil melangkah masuk. "Mas capek banget, Sayang ...," keluhnya dengan suara serak. "Ya sudah tidur aja dulu. Istirahat, biar nanti
Lapor Hansip
27-05-2021 18:49

OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU

Part 1

"Blugh!"

Mas Raka menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Aku yang berdiri di depan pintu kamar sambil menggeret koper sisa perjalanan dinasnya, hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Pulang-pulang langsung 'ngebo', Mas?" ucapku sambil melangkah masuk.

"Mas capek banget, Sayang ...," keluhnya dengan suara serak.

"Ya sudah tidur aja dulu. Istirahat, biar nanti bisa ... ehem-ehem."

Aku mengerlingkan mata padanya. Setelah seminggu berpisah karena Mas Raka harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, tentunya aku sangat merindukannya.

"Iya. Nanti malam, ya." Mas Raka berkata sembari melempar senyum. Mengerti akan kode yang kuberikan padanya tadi. Setelahnya, ia pun lantas tertidur.

Semula aku hendak langsung mandi karena hari sudah hampir sore. Tapi kuputuskan untuk membongkar koper Mas Raka dulu, mengeluarkan pakaian-pakaian kotor yang akan kuberikan pada Mbak Yah, asisten rumah tangga kami.

Setelah memutar kombinasi angka, koper pun langsung terbuka. Aku kemudian langsung memilah-milah pakaian bersih dan kotornya yang sudah ia packing terpisah dalam beberapa travel pouch.

Namun gerakan tanganku langsung terhenti, saat mataku menangkap sesuatu yang terselip di antara travel pouch tersebut. Sesuatu yang membuat darah dalam tubuh ini berdesir aneh.

Kutarik pelan berupa kain tipis berenda warna merah tersebut.

Astaghfirullah. Celana dalam wanita?

Kenapa bisa ada dalam koper Mas Raka? Benda ini tidak mungkin oleh-oleh yang dibawakan Mas Raka untukku, karena jelas bukan barang baru.

Label brand di bagian belakangnya sudah pudar, kentara kalau sudah sering di cuci-kering-pakai oleh pemiliknya.

Apakah ada teman Mas Raka yang iseng memasukkannya di sini?

Kutepis dugaan tersebut. Mana mungkin ada teman lelaki yang iseng dengan cara seperti ini, kecuali ... teman dinas Mas Raka adalah seorang perempuan.

Aku terhenyak oleh pikiranku sendiri. Apa sebenarnya yang telah terjadi pada suamiku?

Kutoleh ke arah tempat tidur. Di mana Mas Raka masih tampak pulas di sana. Terlihat sangat kelelahan, hingga dengkurannya terdengar begitu keras memenuhi kamar.

Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan sampai begitu kelelahan, Mas?

Aku menghela napas dalam, mencoba menenangkan pikiran, serta meredam gemuruh dalam dada. Aku harus tetap tenang dan tak boleh bertindak gegabah.

Kususun kembali benda-benda ke dalam koper Mas Raka. Termasuk celana dalam berenda warna merah tadi, meski aku harus memegangnya dengan perasaan jijik.

Kututup lagi koper, seolah aku tak pernah membongkar dan menyentuh isinya supaya Mas Raka tak curiga.

Aku terdiam sejenak. Memikirkan langkah apa yang harus kuambil setelah ini. Dan seolah langsung diberi petunjuk, mendadak aku tahu apa yang harus segera kulakukan.

Tujuanku sekarang adalah ponsel Mas Raka. Pada benda pipih berteknologi canggih itu, tentu tersimpan lebih banyak rahasia lagi di dalamnya.

Rahasia yang ingin segera aku kuak supaya aku tak terus menerus dibodohi oleh suamiku. Feelingku sebagai istri, mendorongku untuk segera merazia ponsel Mas Raka.

***




Quote:Original Posted By dwindrawati
"Dasar perempuan sok! Silakan kamu bawa Kayla. Tapi jangan harap, kamu bisa mendapat sepeserpun harta gono-gini, Nirmala!" ancam Mas Raka sambil menunjuk wajahku.

Ditunjuk-tunjuk dengan cara tak sopan begitu, tentu saja aku tak terima. Gegas aku bangkit berdiri sambil menatap murka pada Mas Raka.

"Jangan mimpi kalau kamu berpikir bisa mendapat semua harta yang kita kumpulkan bersama, Mas! Ada keringatku juga dalam setiap sen yang kita kumpulkan selama menikah!"

Aku menghardik Mas Raka sembari balas menuding wajahnya.

"Nirmala, yang sopan kamu sama Raka! Gimana pun juga dia masih suami kamu," ujar ibu Mas Raka.

Dia tak terima anaknya kutuding dan kuhardik, tapi diam saja ketika anaknya memperlakukan aku seperti itu. Benar-benar seorang ibu mertua teladan.

"Sebentar lagi akan jadi mantan, Bu!" tukasku cepat.

"Dan bukankah Ibu juga lihat, siapa dulu yang memulai, Bu? Ibu tadi lihat kan, bagaimana Mas Raka membentak-bentakku dengan cara tak sopan?

Dasar laki-laki tak tahu malu, sudah salah bukannya menyesal malah tambah belagu. Nggak punya otak kamu, Mas! Kalian pikir, mentang-mentang kalian bertiga dan aku sendirian, aku akan gentar?

Biarpun aku seorang wanita, tapi aku dididik oleh almarhum ayah untuk menjadi seorang pejuang. Bukan untuk menjadi seorang pecundang seperti kamu, Mas!" balasku tajam.

Cukup sudah aku mencoba berbaik-baik, percuma saja. Karena sedari awal tujuan diadakannya pertemuan ini pun memang untuk membela Mas Raka.

"Cukup ya, Nirmala. Jangan sombong kamu. Kalau Raka jadi duda sih, tetap gampang buat mencari penggantimu. Dia laki-laki, terpelajar pula.

Tapi kamu? Stigma seorang janda itu sudah telanjur buruk di mata masyarakat. Kamu hanya akan jadi bahan gunjingan orang-orang jika sampai menjadi janda.

Sudahlah, damai saja. Lupakan persoalan ini dan saling memaafkan. Namanya manusia kan wajar berbuat kesalahan." Ibu Mas Raka kembali urun bicara.

"Luar biasa memang cara didik Ibu terhadap Mas Raka. Memaafkan dan melupakan semua, setelah harga diriku diinjak-injak begitu rupa oleh dia?" Kutunjuk Mas Raka.

"Maaf, Bu, aku nggak bisa." Aku menegaskan.

"Anak Ibu ini, memang berpendidikan. Lulusan S2 dengan gelar cumlaude. Tapi sayang, dia sama sekali tidak bermoral!" tambahku lagi.

"Kamu memang benar-benar keras kepala, Nirmala." Ibu Mas Raka mendesis geram.

"Bukan keras kepala, Bu. Ini namanya aku membela harkat dan martabatku sebagai wanita terhormat.

Orang yang keras kepala sebenarnya, adalah orang yang tak mau mengakui kesalahan dan tetap bersikap jumawa. Dan contohnya saat ini tengah berdiri di depanku."

Aku memandang Mas Raka dengan tatapan sinis.

"Terserah kamu saja, Nirmala. Kalau mau cerai ya silakan! Kamu pikir, aku nggak bisa hidup tanpa kamu?

Jangan berharap aku mau menyembah-nyembah di bawah kakimu supaya kamu mau kembali. Aku ini lelaki, tinggal tunjuk saja perempuan mana yang kumau!"

Mas Raka bicara sambil balas menatap sinis padaku.

"Ya, baiklah. Kalau begitu kuanggap kita sudah sama-sama sepakat untuk bercerai. Jadi aku rasa sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita.

Satu yang harus kamu ingat, Mas, Kayla akan ikut denganku. Juga semua harta bersama akan kita bagi dua.

Tadinya mau kuambil semua, tapi menimbang jabatanmu di kantor sekarang sudah turun ke level cleaning servis, rasanya terlalu kejam jika kulaksanakan niatku itu."

Aku berkata sembari menatap mereka bertiga bergantian.

"Apa?! Cleaning service?!" seru ibu Mas Raka. Ia tampak shock ketika kubeberkan fakta tersebut.

Sepertinya Mas Raka belum mengatakan pada ibunya bahwa ia mengalami penurunan jabatan di kantor.

"Benar-benar kejam kamu ya, Mala. Tega kamu, menghinakan anak saya seperti itu.

Nggak heran kalau sampai Raka selingkuh, mungkin dia nggak pernah mendapat ketenangan batin selama ini hidup sama kamu."

Ibu Mas Raka meradang.

"Bukan nggak mendapat ketenangan batin, Bu. Tapi dasarnya Mas Raka aja yang kegatelan ingin mencicipi daun muda.

Apa Ibu tahu, selingkuhan Mas Raka itu masih berstatus seorang pelajar SMU?" balasku.

"Iya. Raka sudah menceritakannya pada saya. Memang ya, umur nggak jadi jaminan seseorang mampu bersikap bijak.

Dan kamu yang seharusnya bisa lebih dewasa, ternyata nggak kalah kekanakan dibandingkan anak sekolah," jawab ibu Mas Raka.

"Hmm, saya sependapat dengan Ibu. Ibu yang seharusnya menjadi teladan dan mengayomi anak serta menantu, ternyata sudah buta nuraninya.

Sudah jelas siapa yang salah, malah dibela mati-matian. Aku nggak apa-apa, Bu, jadi janda. Ketimbang jadi istri dari laki-laki tukang zinah." Aku membalas telak.

"Ya sudah, kenapa kamu masih di sini kalau begitu? Pergilah dari rumahku, Mala. Kan kamu maunya kita cerai," tukas Mas Raka sengit.

"Aku yang pergi? Nggak kebalik, kamu Mas? Rumah ini aku yang bayar, lho!" Aku balas menukas.

"Tapi uang DP-nya kan aku yang bayar!" sengit Mas Raka lagi.

"Uang DP cuma 20%, Mas! Selebihnya, cicilan rumah ini aku yang membayar sampai sekarang dengan hasil keringatku!"

Aku membalas tak mau kalah. Pokoknya, aku tak terima kalau Mas Raka sampai berhasil menduduki rumah ini.

Rumah ini adalah hak-ku dan Kayla. Rumah yang kubeli dari hasil memeras keringat bekerja di kantor.

"Biar pun cuma dua puluh persen, tapi tetap saja ada hak Mas Raka di rumah ini, Mbak. Jangan sewenang-wenang kamu jadi istri. Jangan menggunakan kesalahan kakakku ini untuk menguasai semua, termasuk merampas haknya." Alia, adik Mas Raka tiba-tiba berbicara.

"Benar itu, Mala. Apa yang dikatakan Alia itu benar seluruhnya. Kamu jangan ambil kesempatan, mentang-mentang Raka berbuat salah," timpal ibu Mas Raka.

Aku terdiam sejenak. Berpikir keras mencari cara terbaik untuk menyelesaikan masalah pembagian harta kami. Kuakui, sebenarnya yang dikatakan Alia dan ibu Mas Raka itu ada benarnya.

Dalam rumah ini, masih ada hak Mas Raka walaupun kecil jumlahnya.

Setelah beberapa saat berpikir, aku pun akhirnya menemukan solusi yang menurutku cukup adil untuk pihakku dan juga pihak Mas Raka.

"Begini saja, biar adil rumah ini surat-menyuratnya akan kit ganti menggunakan nama Kayla. Maka bisa dibilang, rumah ini adalah milik Kayla, anak kita," ujarku sambil menatap Mas Raka.

"Lho, enak saja kalau rumah ini jadi milik Kayla. Otomatis, setelah kalian bercerai, kamu dan Kayla dong yang akan menempati rumah ini. Kan nggak mungkin Kayla tinggal sendirian di sini."

Ibu Mas Raka mengungkapkan keberatannya. Sungguh tak habis pikir aku dengan isi kepala perempuan paroh baya ini. Padahal Kayla kan cucunya sendiri.

"Ya udah. Kalau kalian tidak setuju, kita jual rumah saja rumah ini dan dari hasil penjualannya nanti akan kuserahkan bagian dua puluh persen punya Mas Raka pada saat membayar DP pembelian rumah ini dulu.

Dan selama proses penjualan berlangsung, tidak ada satupun dari kita yang boleh menempati rumah ini sampai rumah ini benar-benar terjual!" tegasku.

Ketiga orang itu Saling pandang. Sepertinya saling meminta pendapat satu sama lain, apakah harus menyetujui usulku atau mereka masih keberatan dan merasa dirugikan dengan usulku tadi.

"Aku nggak punya tempat tinggal selain rumah ini, Nirmala. Kamu kan tahu, rumah Ibu sudah penuh oleh saudara-saudaraku yang juga tinggal di sana." Mas Raka kembali angkat bicara.

"Ya itu kan bukan urusanku, Mas. Kamu tinggal saja di rumah gundikmu itu. Bukannya kalian sangat saling mencintai?

Pokoknya, selagi rumah ini belum terjual, di antara kita berdua tidak ada yang boleh menempati rumah ini. Dan ini sudah mutlak keputusanku!" ucapku tegas.

"Kamu sudah nggak waras, ya? Perempuan itu kan masih anak-anak. Masih kecil, Mala. Bagaimana mungkin kamu suruh Raka tinggal di rumah orangtuanya dia?" Ibu Mas Raka lagi-lagi membela anaknya.

"Kecil-kecil tapi sudah jago bikin anak kecil?" tukasku tajam.

"Dan Mas Raka adalah gurunya," lanjutku sinis.

Wajah laki-laki itu kembali memerah.

"Sudah, aku capek. Silakan kamu kemasi pakaianmu, Mas. Aku juga akan sama berkemas. Mbak Yah akan ikut denganku," ujarku lagi.

"Ya nggak bisa gitu dong, Nirmala. Kamu ini jadi istri kok seperti kacang lupa kulit? Lupa kamu, dulu siapa yang mengangkat derajatmu?

Sebelum menikah dengan Raka, kamu itu hanyalah seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana. Beruntungnya kamu Raka menikahimu sehingga taraf hidup kamu serta keluargamu jadi ikut meningkat."

Ucapan ibu Mas Raka tentu saja menyinggung harga diriku.

"Atas dasar apa Ibu bicara begitu? Aku menikah dengan Mas Raka juga tetap bekerja mencari nafkah. Kalau bicara masalah derajat, apa Ibu lupa siapa almarhum ayahku dulu?

Beliau dulu adalah seorang perwira TNI. Keluarga kami adalah keluarga yang disegani dari dulu sampai sekarang, meski ayahku telah tiada.

Kami, anak-anaknya, mampu menjaga nama baik ayah dengan menjauhkan diri dengan tindakan tak terpuji. Berzina dengan anak di bawah umur, misalnya." Kembali aku menyindir telak Mas Raka dan ibunya.

"Mbak Yah ...!" Aku kemudian berseru memanggil Mbak Yah, asisten rumah tanggaku.

Tak lama, gadis itu kemudian tergopoh-gopoh datang menghadap.

"Iya, Bu?" ujar Mbak Yah.

"Mbak, tolong kemasi seluruh pakaian Pak Raka, ya. Pastikan tidak ada satu pun yang tertinggal.

Setelah itu, Mbak Yah bereskan juga barang-barang saya, Kayla, serta barang Mbak Yah sendiri. Malam ini juga kita akan pindah dari rumah ini. Rumah ini akan segera dijual."

Aku memberi perintah pada Mbak Yah. Sesaat, bisa kulihat pupil mata gadis itu membesar. Mungkin terkejut, kenapa tiba-tiba.

Tapi akhirnya gadis usia dua puluhan itu mengangguk dan langsung kembali masuk ke dalam.

"Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kudapatkan dua puluh persenku, Nirmala." Mas Raka tiba-tiba kembali bersuara.

"Boleh, silakan saja kamu tidur di teras kalau mau. Karena setelah ini, rumah akan aku kunci dan kugembok." jawabku santai.

"Nirmala!" bentak Ibu Mas Raka.

"Apa, Bu? Mau belain lagi? Kalau kalian masih ngotot juga, aku akan lapor ke RT sekaligus ke kantor polisi untuk melaporkan Mas Raka atas tuduhan perzinaan. Ingat, aku punya bukti kuat!

Jangan sampai, Mas Raka sudah turun jabatan, eh harus masuk penjara pula. Ibu nggak takut, keluara Ibu yang terhormat itu akan tercoreng dan jadi cemoohan jika orang-orang sampai tahu apa yang sudah dilakukan Mas Raka?"

Sengaja kutekan psikis Mas Raka dan ibunya supaya mereka takut dan ciut nyalinya.

Wanita berkaca mata tebal itu menelan ludah susah payah. Kurasa ia sudah mengenal karakterku yang punya sifat tegas dan tak mudah menyerah ini.

Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap marah ke arahku. Geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa, karena menyadari aku sudah menggenggam kartu As Mas Raka.


Quote:Original Posted By dwindrawati
Perlahan aku bangkit, kemudian berjalan menghampiri Mas Raka yang masih terlelap. Berusaha tak menimbulkan suara, aku akhirnya berhasil mencapai tempat tidur.

Namun aku kecewa, karena mendapati ponsel Mas Raka ternyata berada dalam saku celana yang tengah dipakainya saat ini.

Aku menghela napas sambil memandangi wajah dari ayah anakku itu. Dalam hati sejak tadi sudah dipenuhi oleh prasangka, apakah benar Mas Raka telah mendua?

Setega itukah ia pada kami? Jika tak memandangku, tidak kah ia memandang Kayla, putri kami satu-satunya?

Dadaku rasanya seperti sedang dihimpit sebuah batu besar. Berat dan sesak. Hingga tak terasa kedua mata ini terasa memanas. Kuhapus cepat bulir-bulir yang belum sempat tumpah.

Bukan saatnya menangis sekarang. Dan demi menetralkan perasaan sendiri, aku pun memutuskan ke luar kamar. Mencari Kayla, yang mungkin sedang bermain bersama Mbak Yah, asisten rumah tangga kami..

Benar saja, tiba di luar, mata ini menangkap pemandangan Kayla yang sedang asik bermain skuter bersama anak-anak komplek lainnya dengan diawasi oleh Mbak Yah.

Aku berdiri sembari menyandarkan pundak pada kusen pintu. Tawa Kayla di luar sana bersama teman-temannya, menerbitkan senyum di bibirku. Dalam segala kondisi, Kayla selalu menjadi penyejuk hatiku.

Kupejamkan mata kala teringat kembali pada benda yang kutemukan dalam koper suamiku. Darah ini kembali tiba-tiba mendidih. Cepat atau lambat, aku harus segera menemukan jawabannya.

Mas Raka, sudah pernah kukatakan padanya dulu. Tak akan pernah ada kata ampun untuk sebuah penghianatan.

Sekecil apa pun, dan seperti apa pun bentuknya, aku tak kan pernah sudi berbagi suami dengan wanita manapun. Dan dia sudah menyetujui itu sebelum akad kami.

Aku masuk, dan meneruskan langkah ke kamar mandi. Membersihkan diri sekaligus meredam panasnya bara yang menyala dalam dada lewat guyuran air dingin dari kran shower.

"Habis mandi, Sayang?"

Suara teguran Mas Raka membuatku yang sedang berdiri di depan cermin menoleh.

Aku tersenyum meski hatiku merasa teriris. Mas Raka balas tersenyum, kemudian bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke arahku, kemudian berhenti tepat di belakangku.

Dilingkarkannya kedua tangan di pinggang, ia memelukku dari belakang. Di kecupnya pelan pipiku, lalu kedua matanya menatap ke arah cermin. Sepasang mata kami saling bertatapan di sana.

Jika sebelumnya aku begitu merindukan sentuhannya, kini yang ada hanya rasa jijik yang kurasa.

"Ma ... kalau mulainya sekarang, gimana? Papa tiba-tiba__"

"Maaf, Mas. Aku tiba-tiba mendapat datang bulan. Pas mandi tadi baru ketahuan," ucapku memotong kalimatnya.

Dalam kondisi serba tak jelas begini, bagaimana bisa aku terima jika dia ingin mencampuriku?

"Hah? Bukannya sebelum Mas berangkat kamu udah dapet?" tanyanya dengan raut wajah heran.

Dasar laki-laki. Giliran soal selangkangan dia selalu ingat.

"Nggak tahu, nih. Tiba-tiba aku dapet. Mungkin pengaruh KB yang aku pakai, Mas," elakku lagi.

"Yah ...." Mas tampak kecewa.

"Sabar ya, Sayang," ucapku sembari melempar senyum padanya.

"Mas mandi, gih. Ditungguin Kayla, tuh. Nggak kangen?" Kerlingku manja.

"Oh ... ya, ya. Oke, Mas mandi dulu deh, baru main sama Kayla. Mau main sama mamanya, si brewok malah muntah darah," seloroh Mas Raka.

Jika biasanya kalimat itu akan membuatku tertawa, maka tidak kali ini. Aku mengawasi dengan tajam ketika Mas Raka melangkah ke luar kamar.

Arrggh ... sialan. Sepertinya ia akan langsung ke kamar mandi, dan bukannya melepas pakaiannya dulu di sini!

"Mas!" seruanku menghentikan langkahnya. Suamiku berbalik, memandangku dengan sorot tanya.

"Handuk kamu, jangan lupa. Mau mandi, kan?" ujarku pura-pura mengingatkannya.

"Oh ... iya. Mana sini, minta." Mas Raka berkata.

"Tuh, di belakang pintu. Buka aja bajunya di sini, biar sekalian nanti aku kasih ke Mbak Yah. Kamu suka lupa ninggalin baju di kamar mandi soalnya."

Aku tersenyum di ujung kalimat. Dan senyumku kian melebar saat ia mulai melepas pakaiannya satu per satu, menggantinya dengan sebuah lilitan handuk dari bawah ke pinggang.

Mas Raka berjalan ke luar kamar, meninggalkan pakaiannya teronggok begitu saja di atas lantai. Segera kuraih tumpukan pakaian tersebut. Meraba saku celananya dengan jantung berdebar kencang.


Diubah oleh dwindrawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fersayuti985 dan 16 lainnya memberi reputasi
9
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 4
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 14:47

Part 12

"Permisi, Bu, ini barang-barang Pak Raka sudah siap."

Kemunculan Mbak Yah, asistenku, menginterupsi sejenak ketegangan yang sedang berlangsung antara aku, Mas Raka, Alia, serta ibu mertua.

"Bagus. Taruh saja di depan pintu, Mbak Yah. Biar tinggal di angkut sama yang punya," jawabku sembari melirik Mas Raka dengan tatapan mengejek.

"Berhenti kamu, babu! Siapa kamu berani-beraninya lancang mengeluarkan barang-barang anakku!" teriak ibu Mas Raka tanpa kami duga.

Mbak Yah tampak terkejut sekaligus ketakutan dihardik kasar seperti itu. Gadis berambut panjang itu menatapku, seakan meminta perlindungan.

"Taruh saja di luar, Mbak Yah. Turuti perintah saya!" tegasku. Mbak Yah mengangguk patuh dan melaksakan perintah.

Ibu Mas Raka bangkit dari sofa. Dan ketika ia hendak menghampiri Mbak Yah, aku dengan sigap menghadang langkahnya.

"Kita sudah sepakat, Bu. Aku dan Mas Raka akan sama-sama meninggalkan rumah ini. Jadi tolong, jangan berbuat hal yang memaksaku untuk bertindak lebih ekstrem," desisku tepat di depan hidungnya.

"Raka! Jangan diem aja kamu diperlakukan seperti ini sama Nirmala! Jangan mau kamu diperlakukan sewenang-wenang sama istri durhaka ini!" Ia kemudian beralih pada Mas Raka.

Menyebutku istri durhaka? Lalu apa sebutan yang tepat untuk anaknya yang tukang zinah itu?

Mendengar seruan ibunya, membuat Mas Raka terprovokasi. Lelaki itu bangkit dan hendak menghalangi Mbak Yah, asistenku.

"Sekali kamu maju untuk menghalangi Mbak Yah, detik itu juga akan kusiarkan pada seluruh tetangga tentang perselingkuhanmu, Mas.

Dan tidak hanya itu, aku juga akan memviralkan foto-foto kamu dan gundikmu yang kemarin kuambil di kantormu ke medsos.

Aku tidak takut jika kamu akan mengancamku dengan pasal UU ITE. Yang terpenting, kamu dan seluruh keluarga besarmu juga menerima sanksi sosial.

Dari awal pun sudah kukatakan bukan, aku ... tidak mau hancur sendirian!"

Kata-kataku yang meluncur barusan, cukup ampuh untuk membuat Mas Raka mengurungkan niatnya yang hendak menuju Mbak Yah.

Lelaki itu menatapku geram, seakan ingin mencabikku namun langkahnya tertahan oleh ancaman yanh kulontarkan barusan.

Seperti makan buah simalakama, Mas Raka terlihat bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Haruskah menuruti ibunya, atau tunduk pada kata-kataku.

"Kalian keluarlah dari rumah ini baik-baik, maka semua akan berjalan sesuai rencana," ujarku lagi. Menatap mereka bergantian.

"Dasar perempuan jahat kamu, Nirmala!" maki ibu Mas Raka.

"Sudah kamu hancurkan karir anakku, sekarang kamu usir dia dari rumahnya sendiri. Lihat saja, Tuhan tidak tidur, Dia yang akan membalas semua perbuatanmu pada Raka-ku yang malang! Huhu ... huuhuu!"

Ibu Mas Raka menangis tersedu. Tapi sungguh menggelikan mendengarnya melontarkan makian serta sumpah serapah padaku.

"Punya kaca nggak Bu, di rumah? Harusnya Ibu sadar, apa yang Mas Raka alami sekarang, adalah balasan dari Tuhan atas perbuatannya padaku selama ini," kataku pada ibu Mas Raka.

Wanita paroh baya itu kini hanya diam setelah ku skakmat barusan.

"Sudahlah, Bu. Kita pergi saja. Biar Mas Raka dan Nirmala menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri."

Alia yang terlihat sudah mulai lelah dengan drama ibunya, beranjak bangkit dari sofa dan membujuk ibunya untuk pulang.

"Tunggu dulu." Mas Raka tiba-tiba bicara.

"Nirmala, mobil yang kamu pakai itu adalah hadiah ulang tahun dariku dua tahun lalu. Kembalikan! Sini, mana kunci, STNK, serta BPKB-nya?" Mas Raka mengulurkan tangan padaku. Menagih barang-barang yang disebutkannya barusan.

"Oh ya? Sayangnya, kendaraan itu sudah termasuk dalam harta gono-gini, Mas. Akan kukembalikan jika hasil sidang nanti menyatakan aku harus mengembalikannya padamu, Mas," jawabku ringan.

"Sudahlah, Mas Raka. Tunggu saja hasil sidang nanti. Kalian berdebat sampai pagi pun nggak akan menang melawan Nirmala. Dia ini licik dan banyak akal."

Alia berkata pada Mas Raka. Aku sangat terkejut mendengarnya, ternyata Alia dan ibunya merupakan setali tiga uang. Sama-sama picik, sama-sama tak punya empati terhadap sesama perempuan.

Darah memang lebih kental dari air, tapi itu tak lantas harus membuat kita membutakan hati nurani dan membela yang salah hanya karena sedarah.

Tapi ya sudahlah, percuma juga aku membela diri. Tak peduli sekeras apa pun berusaha, di mata mereka Mas Raka tetap selalu benar dan tak boleh disalahkan.

"Kamu lihat saja, Nirmala. Aku akan kembali mendapatkan jabatanku di perusahaan. Dasar perempuan bodoh!

Andai kamu diam-diam saja dan tak heboh di kantor seperti hari ini, tentu semua akan baik-baik.

Kamu dan aku tetap bisa melanjutkan pernikahan serta hidup harmonis seperti sebelumnya, dan Kayla tak perlu menjadi korban keegoisanmu.

Kamu itu cuma pegawai rendahan di kantormu. Seorang wanita, meski berpendidikan tinggi sekali pun, tetap akan dipandang sebelah mata oleh perusahaan.

Karirku akan kembali gemilang. Sedangkan kamu, akan hidup sendirian, membesarkan Kayla dengan gajimu yang pas-pasan. Cih!" ejek Mas Raka penuh percaya diri.

"Orang yang kompeten di dalam perusahaan sepertiku ini, mana mungkin akan dibuang. Pak Brahma hanya menyenangkanmu saja tadi.

Setelah ini, aku akan menghadap Pak Dahlan, pemilik perusahaan sekaligus ayah dari Pak Brahma. Aku akan mengadukan perbuatan Pak Brahma yang sudah sewenang-wenang menurunkan jabatanku.

Kamu berani taruhan, apakah aku akan berhasil atau tidak?" tantangnya dengan gaya jumawa yang membuatku merasa muak.

"Silakan saja, Mas. Semoga kamu beruntung," balasku acuh. Malas menanggapi ucapannya yang sesumbar.

Ketiga orang itu akhirnya keluar dari rumah. Dan pada saat melewatiku, ibu Mas Raka sengaja menyenggol pundakku hingga aku sedikit terhuyung.

Hmm ... andai dia bukan orangtua yang harus dihormati, ingin kudorong tubuhnya yang mulai renta itu biar jatuh sekalian di teras depan. Tapi untungnya, aku tak sejahat itu.

Sepeninggal Mas Raka, ibu, serta adiknya, aku dan Mbak Yah segera bergerak mengemasi barang-barang milik kami. Untuk beberapa hari, aku berencana akan menumpang tinggal di rumah ibu.

Setelah menenangkan diri, baru aku akan mencari apartemen atau rumah kontrakan untuk kutinggali bersama Kayla dan Mbak Yah.

"Mbak Yah kenapa nangis?" tanyaku ketika melihat gadis yang telah lumayan lama ikut bekerja denganku itu terisak-isak.

"Ndak papa, Bu. Saya hanya kasihan sama Adek. Ibu sama bapak jadi seperti ini," jawab Mbak Yah sambil menyeka airmatanya.

"Mbak Yah, kamu masih muda. Masih belum paham tentang konflik rumah tangga. Kesalahan bapak sangat fatal dan sulit saya maafkan.

Jalan ini adalah yang terbaik untuk kami semua, meski perceraian adalah perbuatan yang dibenci Allah. Mbak Yah masih mau kan, nemenin Kayla, meski kita tidak tinggal di rumah ini lagi?" uraiku panjang sekaligus melempar pertanyaan.

"I-iya, Bu. Saya mau, kemana pun Adek Kayla pergi, saya akan ikut ...." Jawaban Mbak Yah tentu saja membuat hati ini trenyuh.

Bersyukur aku tidak menghadapi ini sendiri. Sepanjang dua puluh sembilan tahun aku hidup di dunia, masalahku dengan Mas Raka adalah permasalahan terberat yang pernah kuhadapi.

Tetapi aku yakin, dengan ijin-Nya, aku akan bisa melewati semua.

Setelah selesai berkemas, aku pun segera mengunci pintu, sementara Mbak Yah membawa koper-koper milik kami ke bagasi mobil.

Kami meluncur menuju ke rumah ibuku tanpa ada yang berbicara. Tapi dalam kepala ini, aku sedang merencanakan sesuatu untuk si jalang kecil itu.

Mirna Indriani, tunggulah aku besok di sekolahmu. Akan kuberi kau kejutan yang pantas. Sepertinya mempermalukan gadis itu di hadapan para guru dan teman-teman sekolah, akan cukup setimpal buatnya.

Bisa dibayangkan bagaimana sadisnya anak-anak jaman sekarang dalam memberikan sanksi sosial terhadap seorang siswi seperti Mirna.

Andai gadis itu tahu diri dan tidak membuatku makin jengkel, tentu aku tak akan sedendam ini. Tapi bocah itu bahkan dengan lancang menyumpahi Kayla-ku mati.

Anak seumuran dia, yang seharusnya sibuk menuntut ilmu demi masa depan, malah merusak masa depannya sendiri dengan bermain api bersama suami orang. Melakukan hal-hal tak pantas yang dilarang agama.

Kedua tanganku mencengkeram setir dengan erat hingga buku jari-jariku memutih saat kembali membayangkan bagaimana dia menghinaku di depan Mas Raka dan juga Pak Brahma.

Arrggh ... makin tak sabar rasanya aku menunggu esok. Bertemu kembali dengan Mirna di sekolahnya. Entah apa kabar wajahnya setelah kucakar tadi. Pasti bekasnya akan lama hilang.

Lain kali, jika dia berani kurang ajar lagi, akan kuberi dia oleh-oleh yang lebih dahsyat lagi.

Kami akhirnya sampai di rumah ibu. Di teras, ibu menyambut kedatanganku dan Mbak Yah dengan raut wajah cemas.

Melihat aku dan Mbak Yah datang sambil membawa koper, ibu langsung bertanya, "kamu diusir, Nduk?"

Aku menggeleng pelan.

"Kita masuk dulu ya, Bu. Bicara di dalam saja, nggak enak kalau kedengaran tetangga," jawabku pelan.

"Kayla mana, Bu?" tanyaku saat tak mendapati sosok anakku.

"Baru aja tidur, Nir," jawab ibu.

"Nanyain aku, nggak?" tanyaku lagi.

"Iya, tadi. Mungkin bingung karena dari kemarin di sini terus," jawab ibu.

"Puspa, tolong bantu Mbak Yah beresin barang-barang kami ya, Dek," pintaku pada Puspa, yang baru saja muncul dari arah dalam.

"Iya, Mbak. Ayo, Mbak Yah, ikut sama aku," jawab Puspa. Mbak Yah segera mengikuti Puspa. Keduanya berjalan sambil menggeret koper masing-masing di tangan mereka.

"Gimana ceritanya, Nirmala? Kenapa kamu dan ART-mu jadi keluar dari rumah, Nduk? Raka dan ibunya, neken kamu?"

Ibu kembali menanyakan mengenai hal yang tadi sempat kutunda. Dan aku pun langsung menceritakan semuanya tanpa ada yang kututupi.

"Ya Allah ... gitu amat ibunya si Raka. Mentang-mentang Raka anaknya, salah pun tetap dibela. Mewajarkan sebuah perzinahan, seperti orang yang nggak punya iman saja!" ujar ibu dengan nada kesal.

"Begitulah, Bu. Nirmala juga sebenarnya kecewa. Padahal kita sesama perempuan, tapi mereka justru menganggap enteng masalah ini," balasku.

"Lalu, sekarang apa rencana kamu, Nak?"

"Tentu saja Mala akan menuntut cerai, Bu. Tapi sebelum itu, Mala akan memberi pelajaran pada pelacur cilik itu. Besok, Mala akan datang ke sekolahnya. Akan Mala beberkan segala bukti-buktinya.

Tujuan Mala melakukan ini bukan karena Mala masih mencintai Mas Raka, tapi karena ingin dia jera. Dan supaya tak ada lagi anak-anak sekolah dengan kelakuan liar seperti dia, Bu," jelasku panjang lebar.

Ibu menepuk punggung tanganku pelan, seakan sedang memberiku kekuatan.

Mirna Indriani, bersiaplah. Kita akan bertemu lagi besok.
Diubah oleh dwindrawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 14:48

Part 13

Pagi hari. Aku terbangun dengan kepala yang terasa sedikit pening. Mungkin karena aku kurang tidur semalam.

Bohong saja kalau kubilang bahwa aku bisa tidur nyenyak semalam. Siapa pun yang berada dalam posisiku saat ini, juga pasti merasakan hal yang sama denganku.

Marah, gelisah, sedih, kecewa, semua melebur jadi satu dalam pikiran. Jika ditanya apakah aku menangis? Maka jawabanku adalah tidak.

Tak setetes pun airmata yang kutumpahkan meski nyeri begitu terasa di dalam sini. Tangisku terlalu berharga untuk seorang pecundang seperti Mas Raka.

Bicara soal Kayla, putri semata wayangku, tak ada seorang pun ibu di dunia ini yang mau anaknya bersedih. Termasuk aku. Perceraianku dengan Mas Raka mungkin akan menggores luka pada jiwa kanak-kanak Kayla.

Tapi aku yakin, seiring waktu berjalan, luka batin itu akan sembuh. Kami akan menyembuhkan diri bersama dari pahitnya luka pengkhianatan Mas Raka.

Kayla-ku akan tumbuh menjadi anak cerdas, berbudi pekerti, serta menjunjung tinggi martabatnya sebagai wanita. Seperti itulah aku akan mengajarkannya nanti.

"Sudah bangun, La?"

Pintu kamar terbuka, dan wajah ibu menyembul dari baliknya.

"Sudah, Bu," jawabku seraya menurunkan kaki ke lantai.

Ada perasaan asing yang menyelinap ketika aku menyadari ini bukanlah kamar yang selama empat tahun terakhir menjadi peraduanku. Kamar yang selama ini kutempati bersama Mas Raka.

"Kayla sudah bangun, Bu?" tanyaku serak.

"Sudah, lagi dibuatin sarapan sama si Mbak," jawab ibu.

Aku mendesah lega. Setidaknya aku masih bersama orang-orang terbaik yang bisa kuandalkan dalam menjaga buah hatiku.

"Mala mandi dulu, Bu."

"Kamu ngantor?" tanya ibu.

Aku tersenyum, kemudian berkata, "tentu saja, Bu. Mulai sekarang dan seterusnya, Mala harus menjadi seorang single parents untuk Kayla."

Mata ibu tiba-tiba dipenuhi gumpalan kaca. Ia menatapku sendu, dan jujur aku tak suka. Karena bagiku, tangis adalah simbol dari kelemahan.

"Jangan menangis, Bu. Masih terlalu pagi untuk itu. Lagi pula, Mala baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan."

Usai berkata begitu, aku segera meninggalkan ibu menuju ke kamar mandi. Melewati dapur yang sekaligus difungsikan sebagai ruang makan, aku melihat Mbak Yah sedang menyuapi Kayla dengan nasi dan sebutir telur orak-arik.

Kayla memang sangat suka telur orak-arik. Kuusap puncak kepalanya pelan, anak itu mendongak menatapku.

"Kapan kita pulang, Ma?" tanyanya.

Bocah tiga tahun ini, sangat kritis. Aku tak boleh menjawab asal jika tak ingin mendapat pertanyaan demi pertanyaan sampai ia merasa puas dengan jawabanku.

"Kayla Sayang, sementara kita tinggal di sini dulu, ya, nemenin nenek dan Tante Puspa. Nanti kalau nenek sudah ada temennya, baru kita kembali ke rumah kita," jawabku.

"Papa nggak ikut?"

Hmm ... pertanyàan ini yang sulit untuk kujawab. Aku tahu, berbohong bukanlah sebuah hal yang benar. Tapi untuk saat ini, aku tak punya cara lain untuk menjawab pertanyaan anakku barusan.

"Papa lagi dinas luar kota, Sayang."

"Lagi?" Sepasang mata lebar yang dinaungi bulu lentik itu menatapku lekat.

Tuh, kan? Kayla memang kritis.

"Sudah dulu, ya. Mama mau mandi dulu biar nggak terlambat ke kantor. Makanannya Kayla habisin, ya?" ucapku sambil kembali mengusap kepalanya sebelum melesat menuju kamar mandi.

Kabur dari Kayla adalah satu-satunya jalan ketika aku sudah buntu menghadapi pertanyaan-pertanyaan anakku itu.

***

"Lo abis nangis ya, semalem?" Lesti menegur ketika aku baru saja menyalakan PC komputer di hadapanku.

"Hah? Enggak, kok," jawabku jujur.

"Mata kamu sembab soalnya, La. Tu coba lihat kalau nggak percaya." Lesti menyodorkan sebuah cermin kecil dengan gagang pendek yang selalu dibawanya kemana-mana.

Kuraih benda tersebut, dan menempatkannya tepat di depan wajahku. Benar saja, selain sembab, di area bawah mataku juga terdapat lingkaran hitam.

"Lo berantem sama Raka?" selidik Lesti.

"Nggak, kami baik-baik aja, kok. Ini pasti karena semalam gue begadang nonton drama," kilahku memberi alasan.

Aku belum siap mengungkapkan soal kisruh rumah tanggaku pada sahabat baikku ini. Belum saatnya, dan di samping itu juga aku enggan dijadikan bahan omongan orang-orang sekantor.

"Les, nanti siang gue mau ke kantornya Mas Raka. Biasa ...." Kukedipkan sebelah mata pada Lesti.

"Hmm ... manten anyar teross. Ya wes, kalo telat baliknya, bawain gue KFC satu." Lesti berkata.

"Beres!" sahutku kemudian mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan sebelum memulai aksiku nanti siang.

***

Jam istirahat pun tiba. Berbekal alamat sekolah asal Mirna yang kuperoleh dari sekretaris Mas Raka, aku pun segera meluncur ke sekolah gadis jalang itu.

Perasaanku kembali tak karuan. Rasanya seperti saat kemarin sewaktu aku menggeruduk Mas Raka di kantornya.

Mirna bersekolah di sebuah SMU Negeri yang cukup ternama. Aku ingat, dulu aku pernah punya keinginan untuk bisa bersekolah di salah satu sekolah ternama ini.

Sekolah yang terkenal di isi oleh anak-anak berprestasi. Tetapi sayang harus dicoreng namanya oleh seorang siswa seperti Mirna.

Tiba di sekolah yang kutuju, lingkungan sekolah tampak ramai. Maklum saja, sekarang adalah jam istirahat.

Tentunya para siswa pun keluar dari kelas masing-masing. Sebagian besar pasti menghabiskan waktunya di kantin sekolah.

Mengingat jejak cakaran dalam yang kemarin kutinggalkan di wajah jalang cilik itu, aku tak yakin jika dia masuk sekolah hari ini.

Tapi yah, siapa tahu dia ada di sini juga. Biar makin hot kabar yang akan kusampaikan pada kepala sekolah berikut jajaran guru-gurunya.

"Selamat siang, Ibu. Ada keperluan apa kemari?" Di depan gerbang, aku disambut pertanyaan oleh seorang satpam yang berjaga.

"Selamat siang, Pak. Saya kemari berkaitan dengan keponakan saya yang bermasalah. Kebetulan, saya kemari sebagai walinya," jawabku yang terpaksa berbohong pada si penjaga sekolah.

"Oh, baik. Mari, silakan masuk, Ibu ...." Sang penjaga sekolah segera membuka pagar dan mempersilakanku masuk.

"Mohon maaf, Pak, kantor guru di sebelah mana, ya?" tanyaku sebelum melangkah memasuki area sekolah yang cukup luas.

"Di sebelah barat, Ibu. Itu, yang di depan tiang bendera," jawab si penjaga sekolah ramah.

"Terima kasih, Pak," ujarku sebelum meninggalkan satpam beserta mobilku yang terparkir di luar pagar sekolah.

Aku berjalan melintasi halaman sekolah yang cukup luas. Halaman yang difungsikan sebagai lapangan upacara bila hari Senin tiba, sekaligus lapangan olahraga bagi para siswa dan siswinya.

Akhirnya kudapati sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Di atas kusen pintu, terdapat plang kecil bertuliskan ruang guru.

Beberapa pengajar tampak sedang berbincang ketika aku mengetuk daun pintunya pelan.

Kesemuanya menoleh ke arahku, termasuk beberapa siswi yang juga tengah berada dalam ruangan. Sepertinya mereka sedang berkonsultasi mengenai tugas dengan guru bidang studi masing-masing.

"Silakan masuk, Bu. Ada yang bisa kami bantu?"

Seorang wanita berhijab dengan pakaian dinasnya menyambutku di pintu. Kutaksir umurnya sekitar empat puluhan. Wajahnya tampak bersahaja dengan senyum terkembang di bibir.

"Permisi Ibu, di sini, kepada siapakah jika saya ingin melaporkan salah satu siswi yang bersekolah di sini?"

Pertanyaanku tak urung membuat wajah ibu guru tersebut berjengit. Mungkin terkejut.

"Mohon maaf Ibu, sebenarnya ... siswi kami yang mana yang hendak Ibu laporkan? Dan atas tuduhan apa?" tanya beliau.

Pembicaraan serius di antara kami kini sepertinya memancing perhatian para guru yang lain.

Oleh ibu guru pertama yang menyambutku tadi, aku pun diajak masuk dan dipersilakan duduk pada sebuah kursi di hadapan mejanya.

"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Hani. Sekarang, bisa tolong dijelaskan lebih detail mengenai tujuan kedatangan Ibu kemari," ulang ibu guru tersebut dengan raut wajah serius.

Kasak-kusuk di belakang kami pun mulai terdengar.

"Baik, Ibu. Nama saya Nirmala. Saya datang kemari karena ingin melaporkan salah satu siswi sekolah ini yang bernama Mirna Indriani atas tuduhan perselingkuhan dengan suami saya, Raka Prasetya."

"Astaghfirullahaladziim!"

"Allahu Akbar!"

"Naudzubillah!"

Seruan-seruan bernada kalimat istighfar yang diiringi raut wajah-wajah tak percaya seketika memenuhi ruangan ini.

Beberapa oknum guru wanita yang sepertinya ingin tahu lebih jelas.

Entah karena kepo atau karena penasaran, yang pasti mereka semua langsung memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Mohon maaf Ibu, apa Ibu Nirmala mempunyai buktinya?" tanya Bu Hani padaku dengan raut wajah pias.

"Iya, Bu. Saya punya. Tapi tentunya akan saya ungkap hanya di depan kepala sekolah atau guru BK terkait saja," jawabku.

Gumaman-gumaman bernada kecewa pun terdengar dari mulut guru-guru yang mengelilingiku di meja Bu Hani.

"Baik, karena ini perkara serius, mari saya antarkan Ibu Nirmala ke ruang Kepsek sekarang."

Bu Hani beranjak bangkit, mengajakku ke ruang Kepsek yang letaknya bersebelahan dengan ruang guru yang kumasuki.

Saat melewati pintu keluar, sepintas kulihat beberapa siswa sedang bergerombol menatap sambil berbisik-bisik ke arahku. Bagus. Tentu ini akan menjadi sebuah gosip yang menghebohkan seantero sekolah.

Kabar salah satu siswi yang dikirim magang ke sebuah perusahaan, tapi malah jadi pelakor jalang yang merusak rumah tangga orang.

"Maaf Bu, sebentar. Boleh saya ke kamar kecil lebih dulu?" ujarku pada Bu Hani.

"Oh, tentu saja, Bu. Kamar kecil terletak agak jauh di sana. Di ujung ruang kelas 3E." Bu Hani menunjukkan padaku ke satu arah. Aku mengangguk, kemudian pamit padanya.

Aku berjalan santai menelusuri selasar tiap kelas menuju ruang toilet di bagian ujung bangunan sekolah ini. Saat tiba di sana, tampak beberapa siswi juga sedang mengantre.

Ah, ini kesempatan bagus buatku untuk membuat Mirna dipermalukan oleh teman-teman satu sekolahnya.

"Permisi, Dek, apa kalian kenal sama Mirna? Saya cari-cari dari tadi kok nggak ketemu, ya?" Aku mulai mendekati dan membuka obrolan dengan salah satu gadis yang berdiri di sebelahku bersama beberapa temannya.

"Mirna? Mirna yang mana, Kak?" tanya gadis berambut panjang tersebut.

"Sebentar," ujarku, kemudian merogoh ponsel dalam tas jinjing yang kubawa.

"Yang ini, lho. Kalian kenal? Kebetulan saya ada perlu dengan dia ...." Kusodorkan layar HP yang menampilkan gambar Mirna dan Mas Raka saat kugrebek kemarin.

Gambar yang menunjukkan Mirna tengah terduduk di lantai, dengan beberapa kancing baju di bagian atas yang terbuka.
Diubah oleh dwindrawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prayformysky dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 15:13
Yaallo esmosi gw bacanya
profile-picture
profile-picture
gargantuar89 dan dwindrawati memberi reputasi
2 0
2
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 19:39
Semoga tidak kentang
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 19:59
SMA nggak ada magang kak, adanya SMK.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dwindrawati dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 21:21
gelar tikar dimari.
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
30-05-2021 09:19
Trit tema pelakor yg seru emoticon-Leh Uga
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
30-05-2021 19:48
Seru banget, semangat upnya min
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
31-05-2021 15:32
Mantep ini detail bgt penyampaianya
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
31-05-2021 16:09
Lanjut gan
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
02-06-2021 14:56
Ayo lanjut... lanjut ...
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
03-06-2021 07:43
mana lanjutnyaaaaaa
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
03-06-2021 08:35
Semoga tidak ada kentang diantara kita yaa emoticon-Malu
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
03-06-2021 18:54
kentang...kentang....masih anget...
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
03-06-2021 21:35
Mantab..jangan kasi kendor
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
05-06-2021 20:24
Yuhu ngopi dulu sambil sebats
profile-picture
dwindrawati memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
05-06-2021 21:45
Update napa gan... 😭😭😭😭
profile-picture
profile-picture
secangkir.panda dan dwindrawati memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
06-06-2021 17:44
Nunggu apdet
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
07-06-2021 15:07
JEJAK DOLO GAN
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
08-06-2021 08:02
jangan ada kentang diantara kita
0 0
0
Halaman 3 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
warisan-itu-bernama-cenayang
Stories from the Heart
kumpulan-cerpen-pulang-kampung
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia