Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Segera Daftarkan Komunitas Kalian Disini
19268
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f93fd65dbf764247a1f3c0d/hitamseason-2
 Halo agan dan sista semua.. jumpa lagi dalam threadku yang baru ini. Sesuai permintaan agan dan sista, maka TS akan melanjutkan lagi thread sebelumnya yang sudah tamat. Mohon diperhatikan, ini adalah cerita fiksi, hasil karangan TS yang diambil dari gabungan antara pengalaman pribadi, pengalaman temen-temen, mitos, urban legend dan ditambah banyak sekali imajinasi.  Jadi TS cuma orang b
Lapor Hansip
24-10-2020 17:09

HITAM Season 2

icon-verified-thread
HITAM
Season 2


HITAM
Season 2


Quote:

 Halo agan dan sista semua.. jumpa lagi dalam threadku yang baru ini. Sesuai permintaan agan dan sista, maka TS akan melanjutkan lagi thread sebelumnya yang sudah tamat. Mohon diperhatikan, ini adalah cerita fiksi, hasil karangan TS yang diambil dari gabungan antara pengalaman pribadi, pengalaman temen-temen, mitos, urban legend dan ditambah banyak sekali imajinasi.

 Jadi TS cuma orang biasa, TS cuma menuangkan gabungan antara nyata dan imajinasi ke dalam tulisan di thread ini dan thread sebelumnya. Maka dimohon jangan bertanya soal supranatural, karena TS cuma sedikit sekali mengerti tentang yang gaib.

 Thread ini dibuat bukan untuk menyinggung, menghina atau merendahkan orang lain atau suatu kelompok, karena thread ini hanyalah untuk hiburan semata. Kalau ada kata-kata yang tanpa di sengaja telah menyinggung atau merendahkan, TS mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga thread ini bisa berguna dan bisa diambil hikmahnya.

 Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau updatenya nggak bisa terus-terusan setiap hari seperti dulu lagi, update bisa  sehari sekali atau dua hari sekali, tapi tidak akan lebih dari dua hari.

 Terima kasih buat agan dan sista yang udah setia tongkrongin thread sebelumnya. Nggak nyangka thread sebelumnya itu akan banyak mendapat respon. Terima kasih juga atas saran dan kritiknya, hingga TS bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang nggak di sengaja. Tanpa pembaca, maka seorang penulis dan tulisannya nggak akan berarti apa-apa...

Selamat membaca…..





Prolog


 Ini adalah cerita fiksi, lanjutan dari thread sebelumnya yang berjudul HITAM. Menceritakan tentang anak yang bernama Aryandra, seorang anak yang ndableg, serba cuek dan nggak nggagasan.  Dari kecil Aryandra bisa melihat makhluk halus dan sebangsanya, dia juga punya kemampuan untuk melihat masa depan hanya dengan sentuhan, pandangan mata, dan juga lewat mimpi. 

 Karena sejak kecil Aryandra sudah terbiasa melihat makhluk halus yang bentuknya aneh-aneh dan menyeramkan, maka dia sudah tidak merasa takut lagi melihat makhluk alam lain itu. Setelah di beri tahu oleh mbah kakungnya, Aryandra baru tahu kalau kemampuannya itu berasal dari turunan moyangnya. Dengan bimbingan mbah kakungnya itulah, Aryandra bisa mengetahui seluk-beluk dunia gaib.

 Pada thread sebelumnya menceritakan tentang masa kecil Aryandra. Takdir telah mempertemukan dia dengan sesosok jin yang bernama Salma, jin berilmu sangat tinggi, tapi auranya hitam pekat karena rasa dendamnya yang sangat besar, dan juga karena dia mempelajari ilmu-ilmu hitam yang dahsyat. Tapi Salma telah bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi Aryandra, dan akhirnya merekapun bersahabat dekat. 

 Belakangan baru diketahui oleh Aryandra kalau Salma adalah ratu dari sebuah kerajaan di alam jin. Salma menampakkan diri dalam wujud gadis sangat  cantik berwajah pucat, berbaju hitam, memakai eye shadow hitam tebal, lipstick hitam, dan pewarna kuku hitam. Kehadiran Salma selalu ditandai oleh munculnya bau harum segar kayu cendana, 

 Salma juga sering berubah wujud menjadi sosok yang sangat mirip dengan kuntilanak hitam dengan wajah menyeramkan, memakai jubah hitam panjang, rambut panjang awut-awutan, mulut robek sampai telinga, mata yang bolong satu, tinggal rongga hitam berdarah. Tapi wujudnya itu bukan kuntilanak hitam. 

 Bedanya dengan kuntilanak hitam adalah, Salma mempunyai kuku yang sangat panjang dan sangat tajam seperti pisau belati yang mampu menembus batu sekeras apapun. Kuku panjang dan tajam ini tidak dimiliki kuntilanak biasa. 

 Dalam cerita jawa, sosok seperti Salma itu sering dikenal dengan nama kuntilanak jawa, sosok kunti paling tua, paling sakti dan paling berbahaya daripada segala jenis kuntilanak yang lain. Kuntilanak jawa sangat jarang dijumpai, karena makhluk jenis ini memang sangat langka. Manusia sangat jarang melihatnya, dan kalau manusia melihatnya, biasanya mereka langsung ketakutan setengah mati, bahkan mungkin sampai pingsan juga, dan setelah itu, dia akan menjadi sakit.

 Aryandra juga dijaga oleh satu sosok jin lagi yang dipanggil dengan nama eyang Dim, dia adalah jin yang menjaga nenek moyangnya dan terus menjaga seluruh keturunannya turun-temurun hingga sampai ke Aryandra. Dari eyang Dim dan Salma inilah Aryandra mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, beladiri, ilmu pukulan, tenaga dalam, dan ilmu-ilmu gaib.

 Perjalanan hidup Aryandra mempertemukannya dengan satu sosok siluman yang sangat cantik, tapi memiliki wujud perempuan setengah ular. Siluman itu mengaku bernama Amrita, dengan penampilan yang khas, yaitu serba pink, mulai pakaiannya dan bahkan sampai ilmu kesaktian yang dikeluarkannya pun juga berwarna pink. Amrita adalah siluman yang selalu menggoda manusia untuk berbuat mesum, yang pada akhirnya manusia itu dibunuh olehnya. Semua itu dilakukan karena dendamnya pada kaum laki-laki.

 Awalnya Aryandra berseteru dengan Amrita, dan Amrita sempat bertarung mati-matian dengan Salma, yang pada akhirnya Amrita bisa dikalahkan oleh Salma. Dan kemudian Amrita itupun bersahabat dekat dengan Aryandra dan Salma. Dia  juga bertekad untuk terus menjaga Aryandra. Jadi Aryandra memiliki 3 jin yang terus melindunginya kemanapun dia pergi.

 Di masa SMA itu Aryandra juga berkenalan dengan cewek yang bernama Dita, kakak kelasnya. Cewek manis berkacamata yang judes dan galak. Tapi setelah mengenal Aryandra, semua sifat Dita itu menghilang, Dita berubah menjadi sosok cewek yang manis dan penuh perhatian, Dita juga sangat mencintai Aryandra dan akhirnya merekapun jadi sepasang kekasih.

 Dalam suatu peristiwa, Aryandra bertemu dengan dua saudara masa lalu nya, saudara keturunan sang raja sama seperti dirinya. Mereka bernama Vano dan Citradani. Dan mereka menjadi sangat dekat dengan Aryandra seperti layaknya saudara kandung. Saking dekatnya hingga kadang menimbulkan masalah dan salah paham dalam kehidupan percintaannya.

 Aryandra mendapatkan suatu warisan dari nenek moyangnya yaitu sang raja, tapi dia menganggap kalau warisan itu sebagai suatu tugas untuknya. Warisan itu berupa sebilah keris kecil yang juga disebut cundrik. Keris itu bisa memanggil memerintah limaratus ribu pasukan jin yang kesemuanya ahli dalam bertarung, pasukan yang bernama Pancalaksa ini dibentuk oleh sang raja di masa lalu. Karena keris itu pula, Aryandra bisa kenal dengan beberapa tokoh jin yang sangat sakti dan melegenda. 

 Tapi karena keris itu jugalah, Aryandra jadi terlibat banyak masalah dengan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Dewa Angkara. Ternyata keris itu sudah menjadi rebutan para jin dan manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Keris itu menjadi buruan banyak makhluk, karena dengan memiliki keris itu, maka  akan memiliki ratusan ribu pasukan pula.

 Perebutan keris itulah yang akhirnya mengantarkan Aryandra pada suatu peperangan besar. Untunglah Aryandra dibantu oleh beberapa sahabat, yang akhirnya perang itu dimenangkan oleh pihak Aryandra, meskipun kemudian Aryandra sendiri memutuskan untuk mengorbankan dirinya untuk menghancurkan musuh utamanya. Dan karena itulah Aryandra jadi kehilangan kemampuannya untuk beberapa waktu, tapi akhirnya kemampuan itu kembali lagi padanya dengan perantara ratu utara.

 Pada thread kali ini akan menceritakan kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA, dari pertama masuk kuliah, tentang interaksinya dengan alam gaib dengan segala jenis makhluknya. Juga tentang persahabatan dengan teman kuliah dan dengan makhluk alam lain, percintaan, persaingan, tawuran, segala jenis problematika remaja yang beranjak dewasa, dan juga sedang dalam masa pencarian jati diri. Teman baru, musuh baru, ilmu baru dan petualangan baru.

 Sekali lagi, thread ini adalah cerita fiksi. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapinya. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan, kesalahan tentang fakta-fakta, dan kesamaan nama orang. Tidak ada maksud apa-apa dalam pembuatan thread ini selain hanya bertujuan untuk hiburan semata. Semoga thread ini bisa menghibur dan bisa bermanfaat buat agan dan sista semuanya. 

 Seperti apakah kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA ini..? Mari kita simak bersama-sama...



Salma




Amrita


Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dizzydeez dan 242 lainnya memberi reputasi
229
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 239 dari 321
HITAM Season 2
28-05-2021 21:28
Nungguin adegan pas pagut memagut......

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 03:37

GASKEUN NDRA

jgn kasih kendor ke kak silvy, itung2 streching lah persiapan gelud sm jrangkong, naikin imun sm vitalitas dulu
emoticon-Leh Uga emoticon-Cipok
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 12:48
Ijin nenda mbah, setelah marathon dari season 1. Setelah membaca sekian lama, jadi penasaran dengan plotting area nya. Dalam imajinasi saya, si Arya tinggal nya di suatu daerah di Jawa Tengah di area Karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Sedangkan mbah kakungnya tinggal di Jawa Timur. Mungkin seperti itu ya mbah?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 16:50
Ayo mbah perang mbah perang hahahahaha
Sebelum perang ada bumbu2 masuk hutan dulu kayanya ya mbah hahaha
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:04
udh jam 5, biasanya bntar lg update ni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tirtaarta dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:06

Bangkai hidup

      Tante Silvy telah menyembunyikan keadaan yang sebenarnya di desa itu, dia bilang pada ibuku kalo kami akan menginap di rumah pamannya, padahal kenyataannya kami akan menginap di rumah neneknya berdua saja. Keadaan ini membawa masalah tersendiri bagiku karena godaannya terlalu besar, tapi aku cuma bisa menurut, lagian mau menginap dimana ntar kalo nggak disitu.

      Saat ini kami telah berada di depan rumah neneknya itu. Baru berada di halamannya aja udah kurasakan aura energi dari beberapa jin yang berada di dalam rumah itu, karena emang sudah lama rumah itu nggak berpenghuni, dan ditambah lagi banyaknya jin di desa ini, maka tentunya rumah itu ikut dihuni oleh beberapa jin.

      Baru aja membuka pintu rumah itu, mendadak kulihat sebuah kepala genderuwo seukuran pintu yang nongol dari dalam rumah, cuma kepalanya saja dan nggak ada badannya. Matanya yang sebesar ember itu berwarna merah terang menyorot. Kulitnya hitam legam berkeriput dan sangat kasar ditumbuhi bulu hitam lebat. Bahkan taringnya aja sebesar paha orang dewasa.

      Karena terkejut, maka reflek tanganku bergerak sendiri memukul ke depan. Bola cahaya putih melesat, tapi kepala genderuwo itu berhasil menghindar ke samping dengan cepat. Lalu kulihat Amrita berkelebat, bola cahaya pink menyambar, kepala genderuwo itu berkobar api, satu raungan panjang terdengar, bau daging gosong memenuhi tempat itu. 

     Aku menoleh ke Salma untuk meminta bantuannya, dia mengangguk dan langsung melesat masuk menyusul Amrita. Sebentar kemudian terdengar suara gaduh dari dalam rumah, disusul suara jeritan, raungan dan lolongan, setelah itu semua jadi sepi. Lalu menguarlah bau busuk dan bau sangit. Tante Silvy masih merangkul pinggangku dengan erat, tampaknya dia juga merasakan aura-aura negatif itu, hingga dia tambah ketakutan aja.

     Kutuntun dia masuk ke rumah. Suatu tiupan angin berbau harum segar kayu cendana segera menyebar, mengusir bau busuk dan bau sangit tadi. Bau harum kayu cendana adalah bau khas yang dibuat oleh Salma. Aku memandang berkeliling, ruang tamu dalam rumah itu cukup luas, perabotan antik masih utuh seakan nggak tersentuh. Ada 4 kamar besar, karena emang rumah itu cukup besar. Aku memasuki salah satu kamar itu dan mendudukkan tante Silvy di tempat tidur, lalu aku beranjak mau keluar dari kamar itu, tapi tante Silvy masih  merangkul pinggangku dengan erat.
Quote:    "Mau kemana..?"

     "Mau ambil tas dulu di mobil.." jawabku.

     "Nggak usah.. besok aja.."

     "Lah.. kenapa harus besok..?" tanyaku.

     "Aku takut sendirian yo.."

     "Kan cuma di depan rumah to kak.." jawabku.

      "Pokoknya kamu tetep di sini..!"

      "Jadi ntar aku juga tidur sini?"

      "Iya lah.. gimana sih…"

      Hadeh.. kalo ngambek kayak gini jadi persis kayak abg. Orang lagi takut kok ya sempat-sempatnya ngambek lho. emoticon-Hammer (S)  Tapi ada hal lain yang kupikirkan, menginap satu tempat tidur dengan tante Silvy berarti resiko godaan yang sangat besar. Tapi mau gimana lagi, orang dia ketakutan gitu. Moga aja aku kuat menghadapi godaan. Tante Silvy merebahkan diri di kasur, dia menarikku sampe aku ikut rebah di sebelahnya, dia miring menghadapku sambil merangkul perutku. Salma dan Amrita duduk di kursi dalam kamar itu.
Quote:    "Nggak nyangka sekarang desa ini jadi serem banget.. dulu pas aku kecil kayaknya nggak seseram ini.."

     "Kakak sering kesini dulu..?" tanyaku.

     "Iya waktu kecil dulu.. mengunjungi nenek waktu beliau masih hidup. Menginapnya ya di rumah ini juga.. Rumah ini adalah tempat dimana ibuku dibesarkan.."

     "Berarti kakak tau seluk beluk desa ini donk..?" tanyaku.

     "Iya lah.. besok tak ajak keliling desa deh.." kata tante. "Tadi kenapa kamu nggak langsung masuk aja? Malah berdiri didepan pintu gitu..? Emang ada apa di rumah ini?"

      "Nggak papa kak.. cuma memeriksa rumah ini aja kok.." jawabku.

      "Kirain ada hantunya.."

      "Oiya.. kenapa tadi kakak bilang sama ibu kalo kita akan menginap di rumah paman..?"

       Tante Silvy tersenyum manis. "Masak aku bilang ke ibumu kalo kita akan tidur serumah dan seranjang kayak gini..? Ya nggak mungkin lah.."

      "Berarti kakak udah mempersiapkan jawaban ke ibuku itu..?"

      "Ya gitu deh.. hihi.."

      "Nakal juga ya kakak ini.."

      Tante Silvy tertawa renyah. "Nakalku gara-gara kamu nih.. dan cuma ke kamu aja.."

     Tau-tau bibirnya udah nempel di bibirku. Malam ini hawanya jadi terasa gerah, entah karena emang hawanya gerah, atau karena ada tante Silvy di dekatku. emoticon-Hammer (S) Kini dia malah meletakkan kepalanya di dadaku, dan menggunakan aku sebagai gulingnya. Ternyata sebentar kemudian napasnya terdengar makin pelan dan teratur, pertanda kalo dia udah tidur. Mungkin dia kecapekan karena perjalanan tadi, atau masih bergelut dengan ketakutannya sendiri, hingga nggak sempat mikir hal yang lain. Aku menarik napas lega, setidaknya kali ini nggak terjadi apa-apa.

     Malam ini rencanaku gagal semua, kalo tadi kami beneran menginap di rumah pamannya, tentu aku bisa mengeksplor seluruh desa dengan raga. Tapi ternyata kami malah tidur seranjang kayak gini, kalo aku beranjak bangun, tentunya tante Silvy akan bangun juga. Jadi sebaiknya aku menerapkan raga sukma aja.

      Setelah memastikan kalo tante Silvy benar-benar terlelap, maka kupanggil Ekawadya untuk meminta bantuannya. Saat dia muncul, kuminta dia memanggil anak buah secukupnya untuk menjaga ragaku. Dan nggak tanggung-tanggung, Ekawadya memanggil 50 prajurit untuk berjaga di sekitar rumah dan di dalam kamar itu. 

      Sukmaku melesat ke atas menembus genteng bersama Salma dan Amrita. Baru kusadari kalo di sekelilingku ada semacam kabut tipis berwarna merah yang sangat samar. Kabut tipis itu adalah aura aneh yang melingkupi desa, dengan memakai mata raga aku nggak bisa melihatnya, dan kini dengan berwujud sukma jadi terlihat jelas. Maka aku kembali membumbung ke atas lebih tinggi lagi, keluar dari kabut merah tipis itu.

     Dari ketinggian, bisa kulihat kalo seluruh desa terselimuti kabut merah itu, desa ini telah ditandai sebagai target. Dan aku harus mengetahui siapa atau apa yang telah menjadikannya sebagai target. Dan berdasar keterangan dari si paman, maka aku harus menyelidik ke arah timur desa karena dari sanalah kemunculan makhluk itu. 

      Pada ketinggian sekitar 20 meter dari atas tanah, sukmaku melayang menuju ke timur, menyusuri jalan beton desa. Para jin yang berada di sepanjang jalan itu cuma mengawasi kami dan nggak ada yang berani mendekat. Akhirnya sampai di sebuah pertigaan sebagai ujung jalan desa. Di sebelah timur jalan terdapat sawah seluas kira-kira 50 meter, dan sawah itu berakhir di pinggiran sebuah sungai. Kami terus melayang ke arah timur hingga tiba di atas sungai yang lebarnya sekitar 10 meteran itu. Pohon-pohon besar tumbuh di sepanjang pinggiran sungai itu.

      Di sebelah timur sungai masih ada sawah lagi yang nggak terlalu lebar, tapi memanjang mengikuti alur sungai. Dan disebelah timur dari sawah itu ada sebuah hutan yang sangat lebat dengan pohon yang besar-besar. Dan segerombolan jin telah menunggu kami di batas pepohonan itu. Jumlah mereka mencapai ratusan. Sepertinya mereka adalah jin penghuni hutan itu, jadi mereka nggak akan membolehkan makhluk asing masuk ke wilayah mereka. Aku nggak ada urusan dengan gerombolan jin itu, jadi aku nggak akan mengganggu mereka. Tapi masalahnya aku jadi nggak bisa menyelidiki hutan itu.
Quote:      "Aku akan memutar untuk menyelidiki hutan itu dari arah lain.." kata Amrita.

      "Hati-hatilah.. hindari konfrontasi dengan mereka.." jawabku.

      "Baik.. aku cuma akan lewat aja, dan menyelidiki dengan cepat.."

      Amrita melesat sangat cepat ke arah selatan, dalam satu kejapan aja dia udah menghilang dari pandanganku. Kini kami cuma bisa menunggu kabar dari Amrita, kami masih melayang di atas sawah sebelah timur sungai. Dan nggak sampai dua menit, kulihat Amrita melesat cepat dari arah hutan di depan kami dan menuju ke arah kami, dan di belakangnya tampak puluhan jin sedang mengejar. Maka para jin yang menjaga perbatasan itu bersiap menyambut Amrita dengan serangan.

       Tapi Salma kibas-kibaskan kedua tangannya ke arah para jin itu. Puluhan sabit cahaya biru kecil-kecil bertaburan. Sontak para jin itupun berserabutan menghindar, hingga tercipta sebuah celah jalan bagi Amrita. Dan saat Amrita sudah berada di sebelah kami, para jin yang mengejarnya berhenti di batas hutan.
Quote:      "Ada sebuah rumah di tengah hutan itu, setidaknya ada dua energi dari dua jin yang kuat, selebihnya cuma jin berenergi rendah. Juga ada satu energi kuat dari manusia.." kata Amrita.

       "Manusia? Beneran manusia..?" 

       "Iya emang manusia kok.."

       Berarti emang ada keterlibatan manusia dalam teror itu. Tapi pemikiranku langsung terputus saat kulihat ratusan jin penjaga hutan itu mulai mendekati kami, wajah mereka seram semua, aura hitam mulai melingkupi areal persawahan itu.sepertinya mereka siap menyerang kami. Aku nggak ingin bentrok dengan mereka, maka dengan pengerahan tenaga dalam, aku berteriak lantang ke arah mereka.
Quote:      "Kami nggak ada urusan dengan kalian! Dan kami nggak akan mengganggu kalian. Jadi kalian jangan mengganggu kami! Jangan sampai terjadi bentrokan yang nggak berguna!"

       Kudengar salah satu jin itu bertanya. "Lalu kenapa kalian menyusup masuk ke wilayah kami?!"

     "Kami cuma menyelidiki sesuatu, dan hal itu nggak ada hubungannya dengan kalian!"

    Para jin hentikan gerakan mereka, lalu mereka tampak saling berdiam diri, mungkin mereka lagi berunding menentukan langkah selanjutnya. Kamipun ikut menunggu karena aku juga sedang mikir apa yang akan aku lakukan setelah ini. Tapi mendadak..

      Kletek..! Kletek..! Trek..trekk..

      Kudengar suara aneh seperti dua benda keras yang berbenturan terus menerus. Dan ternyata di bawah sana, tepat di tengah pematang sawah itu telah berdiri satu sosok berjubah hitam panjang dan bertudung, dan suara aneh tadi berasal dari sosok ini. Bau sangat busuk menyebar di sekitar sawah itu. Aku ingat ini adalah ciri dari makhluk yang telah melakukan teror itu. Akupun melayang turun sampai berada di pematang sawah, mendekati sosok itu hingga berjarak 10 meter darinya. Kepala sosok itu terangkat, dan darahku tersirap.

       Sosok itu berwajah tengkorak nggak ada dagingnya sama sekali, ada beberapa  bagian tulang tengkorak yang gosong menghitam. Matanya bolong seperti rongga hitam gelap mengerikan, nggak seperti yang diceritakan si paman. Bisa kulihat jari-jari tangan dan kakinya cuma tulang belulang aja. Tapi dia nggak membawa celurit. 


HITAM
Season 2
Ilustrasi


      Dan dari sosok itu bisa kurasakan energi dari tujuh sosok jin yang berkumpul jadi satu, tapi ada satu yang dominan dan berenergi terkuat. Kini aku tau kalo makhluk itu bukan jin, tapi jasad manusia yang dirasuki oleh tujuh sosok jin! Entah bisa disebut dengan nama apa makhluk ini.
Quote:      "Kau bukan orang sini, kau nggak tau apa-apa soal kejadian di sini,  jadi jangan campuri urusanku!" suara makhluk itu sember dan serak, seakan keluar dari sebuah gua yang dalam.

      "Aku memang nggak tau urusannya, tapi aku dimintai bantuan untuk menyelesaikan masalah ini.."

      Makhluk itu tertawa mengekeh. "Lebih baik kau tinggalkan desa ini secepatnya, daripada kau ikut celaka!"

       "Aku nggak akan pergi sebelum masalah ini selesai! Dan lebih baik kau hentikan aja dendammu itu.. sudah banyak yang kau bunuh.. apa itu belum cukup?!" kataku.

      "Kau tau apa soal dendam?! Aku tidak akan berhenti kalo 15 orang itu belum mampus di tanganku!"

      Jadi ternyata ada 15 orang yang ikut dalam pembunuhan dan mutilasi itu, berarti masih ada 8 orang yang jadi target.

      "Tapi kau telah membunuh separuh dari jumlah itu! Nyawa 7 orang telah terbuang sia-sia cuma untuk membalas 1 nyawa?!" kataku.

      "Memang cuma 1 nyawa, tapi kau nggak tau gimana rasanya! Dibantai beramai-ramai, dipotong-potong lalu dibakar! Dan dikubur di pinggir sungai seperti seekor anjing!"

      Kini aku tau kalo jin yang terkuat itu adalah jin qorin. "Kau itu cuma jin qorin! Jadi berhentilah berkata kalo kau merasakan semuanya! Yang merasakan adalah manusia yang kau ikuti! Sedangkan kau sendiri nggak merasakan apa-apa! Jangan membodohiku dengan cerita arwah balas dendam itu!"

     Makhluk itu terdiam, giginya bergemeretakan. Mendadak dia berteriak keras dan pukulkan tangan jerangkongnya ke arah kami. Segumpal asap hitam padat berbau sangat busuk meluruk deras ke arahku. Reflek aku ikut pukulan tangan ke depan dengan setengah bagian tenaga dalam. Satu bola cahaya putih melesat, dan di kiri kananku juga melesat dua bola cahaya biru dan pink.

      Blegaaaarrrr….!

      Satu dentuman dahsyat terdengar. Sukmaku terlempar ke belakang, melayang-layang tanpa terkendali. Lalu kulihat satu bayangan hitam berkelebat mendahului lesatan sukmaku. Dan kemudian sukmaku terasa menabrak sesuatu yang empuk. Salma telah berada di belakangku sambil memelukku, dia tadi yang telah menghentikan laju lesatan sukmaku. Kini kami melayang di atas sungai. 

       Sukmaku terasa sangat panas. Aku telah meremehkan kekuatan makhluk itu dengan cuma mengerahkan setengah bagian tenaga dalam aja, dan kini terbukti kalo seranganku kalah kuat dari makhluk itu. Sambil melayang, kusalurkan energi dingin ke seluruh tubuh untuk meredam gejolak energi dari benturan tadi. Lalu aku melesat kembali ke persawahan tadi. Tapi makhluk itu sudah nggak ada di sana, bahkan para jin yang berada di perbatasan hutan tadi juga menghilang semua. Cuma Amrita yang masih berada di situ.
Quote:      "Kemana dia..?" tanyaku.

       "Tadi sempat kulihat dia melesat ke dalam hutan.. apa perlu aku kejar..?" jawab Amrita.

        "Lebih baik jangan dulu.." jawabku. "Kita belum tau apa yang kita hadapi dan apa yang menunggu di dalam hutan itu, lagian aku juga nggak mau bentrok dengan penunggu hutan."

       "Jadi akan kita biarkan..?" tanya Amrita.

        "Kita cari akal dulu.. mungkin besok siang aku akan masuk ke hutan itu dengan raga.." jawabku.

       Salma nyeletuk. "Aku sempat memindai makhluk tadi.. Dia bukan jin yang mewujud.. tapi jasad manusia, bangkai yang tinggal tulang belulang dan dikendalikan oleh jin yang merasukinya.."

      "Gimana caranya..? Jasad yang tinggal tulang bisa dirasuki jin..?" tanyaku.

      "Ada satu ilmu yang memungkinkan itu terjadi, termasuk ilmu kuno dan sangat sesat, ilmu itu butuh tumbal darah hewan besar, dan ilmu itu berasal dari iblis. Dan cuma manusia yang bisa menguasainya. Jadi aku yakin manusia yang ada di tengah hutan itulah yang memiliki ilmu itu.." 

      "Kenapa jin nggak bisa menguasainya..?"

      "Karena ilmu itu butuh energi kehidupan manusia, sebagai penghubung antara jasad dengan jin.. padahal jin nggak punya energi kehidupan, jadi nggak akan bisa menguasainya.."

      Baru kali ini kudengar adanya energi yang disebut energi kehidupan, padahal aku adalah manusia. Tapi untuk saat ini hal itu nggak penting. Karena pertanyaan yang terpenting adalah, kenapa ada manusia yang mau-maunya ikut andil dalam membalaskan dendam itu? Siapa dia sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan ahli santet yang dibantai beramai-ramai itu? Sukmaku melesat cepat menuju ke ragaku sambil terus memikirkan segala kemungkinan, tapi nggak ketemu jawabannya juga. 

       Sampai di rumah nenek, kulihat tante Silvy masih pulas sambil memeluk ragaku. Maka akupun segera masuk kembali ke raga. Kulihat jam di hp menunjuk di jam 1 dini hari. Kuminta pada Ekawadya untuk kembali, tapi dia masih meninggalkan 50 anak buahnya yang berjaga di sekitar rumah itu. Aku coba memejamkan mata, tapi dugaan-dugaan soal makhluk itu terus bermunculan. Akhirnya aku meminta Amrita untuk menerapkan ilmunya padaku hingga aku bisa terlelap.

       Salma membangunkanku jam setengah lima, aku masih mengantuk, mataku terasa pedas, tapi aku harus bangun untuk subuhan. Tante Silvy masih terlelap, aku nggak tega buat bangunin dia, maka kupindahkan tangan dan kakinya tante Silvy, lalu aku beranjak wudhu dan subuhan bersama Salma dan Amrita. Selesai subuhan, aku beranjak keluar rumah dan berdiri di pagar halaman.

      Kuhirup dalam-dalam udara yang terasa bersih dan sejuk itu, selalu terasa menyenangkan kalo bisa menghirup udara yang masih bebas polusi di pedesaan. Alam masih petang remang-remang beranjak pagi. Kulihat beberapa warga lewat di jalan depan rumah sambil membawa cangkul, sepertinya mereka mau pergi ke sawah. Setiap kali ada yang lewat, pasti menyapaku dengan ramah, berarti warga desa ini udah tau siapa aku dan untuk apa aku kesini.

       Lalu kulihat seorang gadis  manis lewat sambil membawa keranjang bambu, wajahnya manis khas gadis desa, nggak ada polesan apa-apa.  Dia tampak keberatan membawa keranjang bambu itu. Usianya mungkin baru lulus SMA. Dia tersenyum manis ke arahku, maka kubalas juga dengan senyuman dan anggukan. Setelah cewek itu berlalu, mendadak terasa ada yang menjewer telingaku dari belakang.
Quote:    "Udah nggak bangunin aku, malah ninggalin, masih tepe-tepe sama cewek juga?!"

     Ternyata tante Silvy udah berada di belakangku, aku cuma nyengir nggak jelas. "Kakak tidurnya nyenyak banget.. jadi nggak tega bangunin.."

     "Terus kenapa malah ditinggalin..? Udah tau kalo aku takut juga…"

     "Tapi kan ini udah pagi kak.." jawabku.

     "Masih gelap gini.. tetep aja takut.." bibirnya udah cemberut lancip.

     Kupegang tangannya dan kutuntun ke kursi beranda, kududukkan dia di sana dan aku menuju mobil, membuka bagasi dan mengambil dua tas di dalamnya. Lalu kami balik lagi ke kamar. Kadang aku heran banget, kenapa tante Silvy bisa manja banget gitu ke aku, tingkahnya jadi kayak anak abg yang merajuk. emoticon-Hammer (S)  Salma dan Amrita cuma saling pandang dan mengangkat bahu. Tante Silvy merebahkan diri lagi di kasur, akupun ikut ditarik untuk menemaninya, daripada ribet urusannya, mending aku nurut aja.
Quote:      "Mau tidur lagi..?" tanyaku.

      "Enggak.. tapi aku masih ngantuk.."

       "Mandi aja kalo gitu.. pasti nggak ngantuk.." kataku.

       "Ntar aja.. masih dingin.."

       Tante Silvy merangkulku, bahkan kakinya bergelung di pinggangku. Jadi bingung harus ngapain. Maka kubuka-buka hp aja. Ada chat dari Dita, Dinda dan Citradani, chat itu udah dari semalem tadi, maka kubalas satu persatu. Entah berapa lama kami terdiam dalam posisi itu, tante Silvy malah memejamkan mata. Hingga akhirnya sinar matahari menerobos masuk melalui genting kaca yang berada tepat di atas tempat tidur, tante Silvy beranjak bangun, mengambil handuk dan peralatan mandi dari dalam tas, lalu dia keluar dari kamar, aku masih tenggelam dengan hpku, berbalas chat dengan Dita. Setengah jam kemudian, tante Silvy masuk lagi, dan ini giliranku untuk mandi 


Lanjut bawah gan sist..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redrices dan 91 lainnya memberi reputasi
92 0
92
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:07

Lanjutan

        Kini kami berdua udah rapi, maka kami keluar rumah untuk mencari sarapan. Kata tante Silvy, ada pasar kecil di dekat balai desa, dan kami akan kesana untuk membeli sarapan. Jalan kaki berdua menyusuri jalan beton desa. Setiap ada warga yang berpapasan dengan kami, selalu menyapa dengan ramah. Hingga kami sampai di depan rumah paman, ada sebuah suara memanggil kami. Ternyata dia adalah si paman sendiri.
Quote:    "Kalian mau kemana..?"

     "Mau cari sarapan paman.." jawab tante Silvy.

     "Sarapan disini aja.. nggak usah beli.."

     "Ntar malah ngerepotin bulek…." jawab tante.

     "Nggak ada yang repot kok.. sini masuk dulu.."

      Kami saling berpandangan, tapi akhirnya tante Silvy menurut juga. Kami makan bersama seluruh keluarga. Menu sarapan itu sederhana, tapi terasa nikmat juga. Sayuran dan bumbu segar hasil dari kebun sendiri, tentu rasanya beda. Selesai makan, kami masih ngobrol ngalor-ngidul, dan masih disuguhi teh manis juga.
Quote:    "Kamu menginap 3 hari aja ya.. nanti aku kenalin sama pemuda-pemuda desa, pilih perjaka atau duda, siapa tau bisa cocok.."

     "Paman ini mesti gitu deh.." sahut tante Silvy.

     "Hehe.. kadang aku ngerasa kasihan sama kamu yo.. hidup sendirian di kota, tentunya berat banget.."

      "Nggak kok.. aku sendiri aja udah seneng.." 

       "Yaudah.. terserah kamu aja.." kata si paman. "Oiya Ndra.. ntar siang polisi jadi kesini.. ntar kita harus ke balai desa untuk membicarakannya.. kalo kamu punya saran, ntar kamu omongin aja.."

      "Iya paman, ntar siang kami kesini aja.. biar aku bisa bareng sama paman.." jawabku.

    Selesai sarapan itu kami nggak balik lagi ke rumah nenek, karena tante Silvy mengajakku muter-muter seluruh desa. Kami meminjam motor bebek milik si paman. Waktu kami udah nyampe di areal persawahan, dia membonceng dengan ketat sambil merangkul dengan erat. Tante Silvy hapal betul dengan jalan-jalan di desa itu, katanya desa itu emang nggak banyak berubah, jadi dia masih hafal. 

      Aku juga sempat menuju ke sungai di sebelah timur desa untuk memeriksa. Bahkan di siang hari aja hutan di timur desa itu kelihatan singup dan angker, apalagi kalo malam hari. Kami sempat duduk-duduk di pinggiran sungai itu, di bawah sebuah pohon yang teduh, meski cuaca panas, hawa di pinggiran sungai itu tetap nyaman. Cuma sebentar kami disana, lalu muter-muter lagi. 

     Jam 12 siang kami udah berada di rumah si paman lagi. Tante tetap berada di rumah paman, sementara aku dan si paman menuju ke balai desa. Ternyata disana para sesepuh udah banyak yang datang, termasuk enam orang polisi yang akan membantu kami. Mereka adalah empat polisi dari polsek , dan dua polisi dari polres . 

     Perundingan berjalan lambat, masing-masing mengutarakan pendapat, tapi disangkal oleh yang lain, dan kalo aku lihat, orang yang menyangkal juga cuma itu-itu aja, satu orang yang selalu membantah dengan argumen sendiri. Hingga perundingan itu jauh dari kata sepakat. Dari tadi aku cuma diam aja, jadi kini aku coba untuk mengutarakan pendapat, dan yang kuajak ngomong adalah para polisi itu.
Quote:      "Aku kemarin udah menyelidiki tempat itu pak.. bahkan aku sempat ketemu dengan makhluk itu.."

    Baru sampe di situ aja omonganku udah dibantah. "Nggak mungkin, kalo kamu ketemu makhluk itu, tentunya kamu nggak berada disini saat ini, nggak ada yang bisa selamat dari makhluk itu.."

      Nggak aku gubris omongan orang itu. "Dia bukan arwah gentayangan atau hantu. Dia adalah bangkai yang sudah jadi tulang belulang, dan dihidupkan kembali oleh seorang penganut ilmu hitam. Orang itu memasukkan jin pada jerangkong itu hingga dia bisa berjalan dan melakukan pembunuhan.."

    "Nggak ada ilmu semacam itu didunia ini!" lagi-lagi orang itu yang membantah.

      Salah satu polisi segera menghardik. "Lebih baik kita dengarkan penjelasan adek ini dulu!"

      Orang itu langsung terdiam, sedangkan yang lain cuma mengangguk. Maka aku teruskan penjelasanku.

      "Ada manusia yang terlibat dengan ilmu hitamnya. Di tengah hutan sebelah timur aku menemukan sebuah rumah gubuk yang dihuni seseorang, aku menduga orang itulah si penganut ilmu hitam itu.."

     "Hutan itu adalah hutan angker, nggak ada yang berani masuk ke sana, apalagi mendirikan rumah disana!"

     Si polisi mulai jengkel. "Sampeyan kalo nggak ada saran, lebih baik diam aja! Daripada bikin ruwet kayak gini!"

     Kuteruskan penjelasanku. "Makhluk itu muncul dari arah timur, dari arah hutan, itu sudah merupakan bukti. Sebaiknya kita cegat makhluk itu di perbatasan timur desa dan kita tangkap dia disana.."

     "Apa adek ada saran gimana cara menangkapnya..?" tanya polisi itu.

     "Kalo bapak percaya sama aku, biarlah aku yang akan melumpuhkannya ntar.. lalu bapak-bapak yang menangkapnya.." jawabku.

     "Anak kemarin sore emang bisa apa?"

     Setelah dari tadi aku coba menahan, lama-lama aku jadi jengkel juga mendengarnya. "Pak! Aku datang jauh-jauh kesini niatnya mau membantu! Kalo cuma gini aja perlakuannya, mending aku nggak usah kesini aja! Kalo bapak nggak percaya dan nggak butuh bantuanku yaudah! Atau sampeyan sendiri aja yang menangkap makhluk itu?!" kataku.

    "Aku cuma menyangsikan kemampuanmu! Jangan-jangan kamu nggak berhasil dan malah membahayakan warga yang lain!"

    "Kalo bapak nggak percaya.. apa perlu aku buktikan sekarang?! Aku bisa bikin bapak muntah darah sekarang, nggak perlu sampe mati, cukup muntah darah aja tanpa menyentuh bapak!"

    Wajah orang itu langsung memucat, dia tampak ketakutan. Sepertinya emang ada yang nggak beres dari orang itu, mungkin otaknya udah bergeser atau gimana. Beberapa sesepuh sampe berdiri dan mendekatiku, mereka berusaha meredam emosiku. Sementara para polisi mulai menasehati orang itu. Akhirnya para polisi lah yang memutuskan.
Quote:    "Baiklah.. nanti malam kita sergap makhluk itu di batas timur desa sebelum dia sempat masuk ke pemukiman. Kalo sekiranya ada yang mau ikut ya silahkan. Kita akan berkumpul di balai desa ini dulu nanti setelah isya, baru kita berangkat bareng-bareng ke timur! Dan buat sampeyan! Kalo sampeyan takut, mending nggak usah ikut, daripada nanti malah menggagalkan rencana!"

   "Baik pak.." kalo sama polisi aja nurut dia.

   "Dek.. nanti tolong bantuin.kita buat melumpuhkan makhluk itu ya.."

     "Siap pak.. akan kulakukan sebisaku.." jawabku.

    Akhirnya rapat itu mencapai kata mufakat, itupun harus pake sedikit ancaman dari polisi, kalo nggak, maka nggak akan pernah mencapai hasil. Jam dua siang itu rapat dibubarkan. Aku balik ke rumah paman, dan bersama tante Silvy, aku kembali ke rumah nenek. Aku harus tidur siang dulu untuk persiapan nanti malam. 

     Malam harinya sehabis isya, kami telah berkumpul kembali di balai desa. Ternyata banyak.juga yang berkumpul, tapi cuma ada 12 orang warga yang berani ikut, termasuk pak kades, dua sesepuh, para pemuda desa, dan 4 orang tua berusia 50-an termasuk si paman. Juga 6 orang polisi ditambah aku. Sedangkan yang lainnya berjaga-jaga di balai desa dan ada yang meronda keliling sambil membawa senjata tajam dan kentongan. Seperti yang kuduga, orang yang selalu menyangkal tadi siang nggak ikut. Setelah doa bersama, dengan penerangan lampu senter dan obor, kamipun berjalan ke timur desa, ke arah sungai perbatasan.

    Suasana sangat sepi meski baru jam 8 malam, penduduk nggak ada yang berani keluar. Langit sangat gelap, bahkan bintang dan bulanpun tertutup mendung. Menambah seram suasana. Aura aneh yang menyelimuti desa terasa makin kuat, menekan mental para penduduk yang ikut. Kami memutuskan untuk mencegat makhluk itu di pertigaan ujung jalan utama desa.

    Baru setengah jam menunggu, kami sudah dilanda kebosanan. Maka kami mulai jalan bolak-balik ke utara-selatan, menyusuri jalan paling pinggir dari desa itu. Tapi satu jam kemudian kami jadi capek sendiri dan balik lagi ke pertigaan dan duduk-duduk disana. Nggak ada percakapan diantara kami. Kulihat sorot mata para pemuda desa itu menunjukkan kegentaran, tapi mereka nekat untuk ikut, aku jadi salut pada mereka. Salma dan Amrita cuma terdiam, tapi aku tau mereka sangat waspada dan menebar energi untuk mendeteksi.

     Makhluk-makhluk penghuni desa mulai berdatangan, mereka berkerumun di sekitar kami dalam jarak 20 meteran, mereka penasaran dengan apa yang kami lakukan, tapi mereka nggak berani mendekat karena ada Salma dan Amrita. Total dua jam kami menunggu di sini, tapi nggak ada tanda-tanda kedatangan makhluk itu. Namun mendadak Salma bicara.
Quote:  "Makhluk itu sudah berada di pemukiman warga.."

     Aku tersentak kaget, ternyata makhluk itu telah mengelabui kami dengan lewat jalan lain.

      "Arah mana..?" tanyaku.

      "Barat, nggak jauh dari sini.."

      Akupun berteriak pada para polisi itu. "Pak..! Makhluk itu ada di barat!"

      Lalu aku berlari secepat-cepatnya ke arah barat. Para polisi dan semua warga ikut berlari mengikutiku. Lalu kami mendengar suara kentongan yang dipukul bertalu-talu dan bersahut-sahutan di seluruh desa. Setelah berlari sekitar 300 meter, kulihat makhluk itu sedang berjalan dengan pelan dan sangat kaku. Terdengar suara kletek-kletek dari seluruh tubuhnya, itu adalah suara tulang yang bergesekan satu sama lain. Bau busuk kayak bangkai menyebar, karena sejatinya makhluk itu emang bangkai hidup. Sebilah celurit berkilat tergenggam di tangan yang hanya berupa tulang belulang itu.

     Kulihat para warga yang meronda bergerombol di depan makhluk itu, mereka melemparinya dengan batu dan kayu, mereka nggak berani mendekat karena takut terluka oleh celurit itu. Enam polisi segera maju dan menodongkan senjata api masing-masing pada makhluk itu. Aku berdiri dibelakang mereka. Dan salah satu polisi berteriak pada peronda yang melempari makhluk itu 
Quote:    "Kalian mundur semua! Menjauh dari makhluk itu! Dan kau! Letakkan senjata dan menyerahlah!"

     Makhluk itu berbalik dan tertawa mengekeh. "Ekhekh.. khekh.. khekh.. khekh.. " tawanya sangat aneh dan bikin merinding bulu kuduk, lalu dia menunjuk tepat ke arahku. "Kau! Sudah kubilang agar jangan ikut campur!"

     "Kau sudah keterlaluan! Korbanmu sudah terlalu banyak! Jadi aku harus menghentikanmu!!" jawabku.

     "Berarti kau juga akan jadi korban bersama mereka!"

    Makhluk itu mengacungkan celuritnya, lalu dia berjalan sangat cepat ke arah kami, terlihat sangat aneh, gerakannya aja kaku banget kayak robot, tapi bisa berjalan sangat cepat. Satu polisi menembak ke udara, tapi makhluk itu nggak menggubrisnya, dia terus jalan cepat setengah berlari dengan celurit yang siap dibacokkan. Maka enam revolver menyalak bersamaan, nggak cukup sampai disitu, enam polisi terus menembakinya.

     Bisa kulihat dengan jelas kalo sosok itu tersentak-sentak ke belakang akibat terjangan peluru, tapi jangankan terjatuh, luka aja nggak. Tulang tengkoraknya seakan terbuat dari baja yang nggak bisa ditembus peluru. Tembakan-tembakan itu cuma menghentikan langkahnya sesaat, tapi setelah 36 butir peluru revolver itu habis ditembakkan, makhluk itu menggeram marah, lalu kembali berjalan cepat ke arah kami. Celuritnya terangkat dan dibacokkan ke polisi terdepan. Padahal polisi itu lagi nggak siap, dia berusaha mundur menjauh, tapi sudah sangat terlambat. Maka kupanggil tombak Sukmageni dan aku berlari ke depan. Kupalangkan tombak di depan polisi itu untuk memapaki sabetan celurit itu.

      Trang..! Trang..! Trang..! Trang…!

     Dalam waktu dua detik, empat sabetan terarah pada polisi itu. Meskipun gerakannya terlihat kaku, tapi ternyata gerakan makhluk itu luarbiasa cepat. Tapi untunglah aku sempat menangkisnya. Kudorong polisi itu ke belakang hingga dia terjengkang di jalan beton. Makhluk itu mengalihkan serangannya padaku. Dia terus menyabetkan senjatanya dengan gencar, aku cuma bisa menangkis dan nggak bisa membalas. Kalo terus kayak gini, lama-lama aku bisa kena juga ntar.

     Maka di satu kesempatan, aku menjatuhkan diri di tanah dan bergulingan menjauh. Kupegang gagang Sukmageni dengan dua tangan, dan kupisahkan menjadi dua trisula kembar. Lalu aku maju merangsek sambil meningkatkan kecepatanku. Kini aku bisa membalas, trisula tangan kiri untuk menangkis, sedangkan yang kanan untuk membalas. Tapi makhluk itu memang luar biasa, dia bisa menyerang dan langsung menghindar dengan cepat.

     Malam yang sangat gelap dan sepi itu dihiasi suara dentrangan dua senjata beradu dan menghamburnya bunga api. Saat makhluk itu menyabet dari bawah ke atas, kupapaki dengan ujung tombak hingga celuritnya masuk ke celah antara tiga mata trisula. Kuputar tombak hingga celurit itu terkunci, lalu kuhantamkan trisula kanan ke kepalanya.

    Buaakk..! Praak..!

    Bunyi tulang tengkorak yang berderak retak terdengar sangat mengerikan. Makhluk itu terjengkang ke belakang, tapi segera bangkit lagi, dan dengan tawa mengekeh dia kembali menyerangku. Ternyata makhluk ini nggak bisa dilumpuhkan dengan menghancurkan raganya saja! Aku harus bisa mengeluarkan jin yang ada di dalamnya.

    Lalu kulihat Salma dan Amrita berkelebat cepat, menarik sesuatu dari raga jerangkong makhluk itu. Untuk sesaat gerakan makhluk itu terhenti. Lalu muncullah 6 sosok jin mengikuti gerakan tarikan tangan Salma dan Amrita. Saat itulah kakiku bergerak cepat menendang dadanya, kembali terdengar suara tulang berderak remuk. Makhluk itu terlempar ke belakang. Salma dan Amrita udah terlibat pertarungan dengan 6 jin yang mereka tarik tadi. Tapi masih ada 1 jin yang berada dalam raga itu.

     Makhluk itu berusaha bangkit lagi, maka aku satukan kembali Sukmageni dan kupindah ke tangan kiri, lalu berlari ke arah makhluk itu. Tangan kananku sudah berpendar merah menyala bagai besi yang dibakar. Lalu bogemanku mendarat telak di dadanya dan melepas pukulan Bara Pembakar Raga. Tapi aku terkejut sendiri karena tanganku jeblos masuk ke dadanya sampai lengan, dan kepalan tanganku tembus dan muncul di punggungnya.

     Segera kutarik kembali tanganku, bau sangat busuk menempel di tanganku hingga perutku terasa mulai. Kulihat raga makhluk itu berkobar api. Raungan keras dan panjang menggidikkan terdengar. Tapi kobaran api itu cuma sebentar karena kemudian ada satu tiupan angin dingin memadamkan kobaran api itu. Ditengah kebingunganku, kulihat jin yang berada di dalam raga makhluk itu keluar. Wujudnya cuma berupa siluet hitam berbentuk humanoid dengan mata merah menyala, dan makhluk itu langsung melesat menyerangku. Kembali kusiapkan pukulan Bara Pembakar Raga dan langsung kuarahkan ke makhluk itu.

     Tapi sebelum pukulanku mengenainya, kulihat bola cahaya biru dan bola asap pink melesat lebih cepat dari pukulanku dan dan menghantam sosok jin itu, tapi makhluk itu masih sempat menangkis dengan ilmu pukulan juga, dua ledakan terdengar keras. Saat itulah bola api dari pukulan Bara Pembakar Raga menghantamnya kembali. Makhluk itu meraung dan melolong, sosoknya dikobari api yang sangat besar. 

    Beberapa saat kemudian, api itu padam, sosok jin itupun juga musnah tak berbekas, cuma meninggalkan bau sangit dan bau sengak yang bikin orang bersin. Kulihat raga jerangkong itu masih tergeletak di jalan beton. Aku memandang berkeliling, para warga dan juga polisi itu menatapku dengan pandangan bergidik ngeri, tapi nggak ada yang bersuara, apalagi mendekat. Kudekati raga itu untuk memeriksa. Aku masih heran siapa yang telah memadamkan api dari pukulanku tadi. Salma dan Amrita ikut mendekat, dan Salma mengaku.
Quote:    "Aku yang padamkan apinya tadi.. Kita masih butuh raga itu untuk penyelidikan.."

     "Yaudah kalo gitu, emang jerangkong ini mau di apain..?" tanyaku.

     "Kamu lepas dulu jubahnya, maka kamu akan tau.."

       Kuikuti kata-kata Salma, kulepas jubah yang sebagian masih terbakar itu. Tampaklah sebuah kerangka manusia yang masih lengkap, mengepulkan asap berbau sangit, tulang belulang itu ada yang gosong di beberapa bagian. Tulang dadanya hancur berlubang akibat pukulanku tadi. Tapi setelah kuperhatikan, ada bagian yang aneh. Tulang-tulang itu di beberapa tempat kayak pernah patah dan disambung kembali, sepertinya kerangka itu pernah dimutilasi. 

    Salma memegang ubun-ubun tengkorak itu, matanya terpejam, ada suatu energi berpindah dari tubuhnya, tapi cuma sebentar, setelah itu dia membuka mata, pendaran energi itu juga menghilang. Entah apa yang dilakukannya, tapi sebelum aku bertanya, dia telah menjawab.
Quote:    "Jin yang musnah terakhir tadi adalah jin qorin dari kerangka ini sendiri.. sama saja dia telah merasuki raga manusia yang diikutinya yang telah mati, tapi jin qorin itu juga dikendalikan seseorang."

     "Lalu keenam jin yang lain tadi..?" tanyaku.

     "Mereka cuma pelengkap kesaktian, dua jin ahli ilmu kebal, dua jin ahli kanuragan dan senjata,dua jin lagi ahli ilmu pukulan, sedangkan jin qorin itu sebagai otak penggeraknya.."

     Aku sempat tertegun, 7 jin bisa berkumpul dalam satu raga dan bekerja sama dengan sangat baik. Ini sungguh luar biasa, aku jadi ingin tahu siapa yang menguasai ketujuh jin itu. Lalu kudengar suara langkah kaki mendekat. Para polisi itu melangkah ke arahku, diikuti oleh semua warga yang berada di sekelilingku. Mereka semua mengerumuniku.
Quote:    "Terima kasih banyak ya dek.. kamu udah nyelametin nyawaku, aku berutang nyawa padamu.." kata polisi yang tadi hampir tersabet celurit, dia menjabat tanganku dengan erat.

     "Aku cuma ngelakuin yang seharusnya pak.. emang kita harus saling menjaga dan melindungi satu sama lain.." jawabku.

    Si paman ikut mendekat dan merangkulku. "Nggak kusangka ternyata kamu hebat banget Ndra..  bisa beladiri dengan hebat gitu.."

     "Nggak segitu hebatnya yo paman.." jawabku.

     Salah satu sesepuh mendekat dan mengamati kerangka itu. "Ini.. ini adalah jasad dari orang yang pernah kita kubur di pinggiran sungai, dia adalah korban amuk massa 20 tahun yang lalu..! Kuburan itu telah terbongkar dan jasadnya sudah hilang dari sana, ternyata makhluk yang menebar teror itu adalah jasad dari orang itu..!"

     "Berarti dia emang bener-bener bangkit dari kubur untuk membalas dendam..?" tanya sesepuh yang lain.

     "Nggak seperti itu bapak.." jawabku. "Ada orang yang menganut ilmu hitam, dia mencuri jasad ini dari kuburannya, lalu dengan ilmu hitamnya dia menggerakkan jasad ini untuk membunuh warga desa.."

    "Lalu siapa orang itu..? Apa tujuannya dia membunuhi warga desa dengan memakai jasad ini..?"

    "Itulah yang harus kita selidiki pak.." jawabku. "Malam ini juga kita harus ke hutan itu, aku yakin orang itu tinggal di dalam hutan.."

     Wajah semua orang berubah pucat, aku tau mereka nggak akan berani memasuki hutan itu, apalagi waktu malam hari gini.

     "Biar kami aja yang masuk ke hutan itu bersama adek ini.." kata salah satu polisi. "Yang lainnya biar mengurus jasad ini dan menguburkannya kembali.."

     "Apa jasad itu boleh dibakar pak..?" tanyaku. "Daripada nanti digunakan kembali oleh orang itu..?"

     "Itu juga lebih baik.." jawab pak polisi itu.

     "Baiklah.." kataku. "Mohon bapak-bapak disini membakar jasad ini dulu, tunggu hingga semua berubah jadi abu, lalu abu itu baru bisa dikuburkan."

    "Baik.. kami akan melakukannya.." pak kades yang menjawab.

     "Ada yang punya perahu nggak pak..?" tanyaku. "Soalnya nanti akan menyeberangi sungai.."

     Salah seorang warga maju. "Saya punya.. udah tertambat di sungai itu juga.."

    "Mohon antar kami kesana ya pak..?" kata salah satu polisi.

      Bapak yang punya perahu itu mengajak 3 warga yang lain untuk menemaninya mengantar kami ke sungai. Maka aku, enam polisi dan empat warga desaitu jalan kembali menyusuri jalan utama desa menuju ke timur, ke arah sungai itu. Masih ada yang harus kami lakukan, yaitu menangkap si pelaku utama. Moga aja kami berhasil nanti..



bersambung…




156

profile-picture
profile-picture
profile-picture
redrices dan 115 lainnya memberi reputasi
115 1
114
Lihat 32 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 32 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:08
Suwun updatenya mbah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tebokribo dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:09
Tengkyu mbah buat apdetnya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:47
nunggu meneh, mbah aku mbok di wa lanjutan e..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngejleb dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:52
Siap menuju ke seberang sungaiemoticon-Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:58
Benar2 seru ceritanya......
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 17:59
Mantap Mbah.thx updetnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 18:02
Akhirnya bara pembakar raga dpt korban lg.jdi kek sesuatu gitu.
dan pelaku utama harus dpt pukulan itu juga,,,,kan udh ngabisin nyawa banyak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 18:03
Mantap mbah....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 18:06
"Moga aja kami berhasil nanti.."


Ya harus berhasil ndra....
Kalo nggak ceritanya tamat. Kalo tamat kasihan mbah joyo gak bisa dagang kentang trus pelanggan pada beli ke siapa ????


emoticon-Ngacir2 kabur.....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 18:13
Sesok prei....sesok prei....mksh mbh update nya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 18:17
Mantul mbah 👍👍👍
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 18:28
Pertamax mbah,updatenya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
HITAM Season 2
29-05-2021 18:29
Duh besok libur dikentangin🤕🤒
profile-picture
profile-picture
profile-picture
phntm.7 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 239 dari 321
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
your-tea-love-story-17
Stories from the Heart
pernikahan-sasuku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia