Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Segera Daftarkan Komunitas Kalian Disini
80
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60af87455fb4ec02c5003880/oleh-oleh-perjalanan-dinas-suamiku
Part 1 "Blugh!" Mas Raka menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Aku yang berdiri di depan pintu kamar sambil menggeret koper sisa perjalanan dinasnya, hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Pulang-pulang langsung 'ngebo', Mas?" ucapku sambil melangkah masuk. "Mas capek banget, Sayang ...," keluhnya dengan suara serak. "Ya sudah tidur aja dulu. Istirahat, biar nanti
Lapor Hansip
27-05-2021 18:49

OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU

Part 1

"Blugh!"

Mas Raka menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Aku yang berdiri di depan pintu kamar sambil menggeret koper sisa perjalanan dinasnya, hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Pulang-pulang langsung 'ngebo', Mas?" ucapku sambil melangkah masuk.

"Mas capek banget, Sayang ...," keluhnya dengan suara serak.

"Ya sudah tidur aja dulu. Istirahat, biar nanti bisa ... ehem-ehem."

Aku mengerlingkan mata padanya. Setelah seminggu berpisah karena Mas Raka harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, tentunya aku sangat merindukannya.

"Iya. Nanti malam, ya." Mas Raka berkata sembari melempar senyum. Mengerti akan kode yang kuberikan padanya tadi. Setelahnya, ia pun lantas tertidur.

Semula aku hendak langsung mandi karena hari sudah hampir sore. Tapi kuputuskan untuk membongkar koper Mas Raka dulu, mengeluarkan pakaian-pakaian kotor yang akan kuberikan pada Mbak Yah, asisten rumah tangga kami.

Setelah memutar kombinasi angka, koper pun langsung terbuka. Aku kemudian langsung memilah-milah pakaian bersih dan kotornya yang sudah ia packing terpisah dalam beberapa travel pouch.

Namun gerakan tanganku langsung terhenti, saat mataku menangkap sesuatu yang terselip di antara travel pouch tersebut. Sesuatu yang membuat darah dalam tubuh ini berdesir aneh.

Kutarik pelan berupa kain tipis berenda warna merah tersebut.

Astaghfirullah. Celana dalam wanita?

Kenapa bisa ada dalam koper Mas Raka? Benda ini tidak mungkin oleh-oleh yang dibawakan Mas Raka untukku, karena jelas bukan barang baru.

Label brand di bagian belakangnya sudah pudar, kentara kalau sudah sering di cuci-kering-pakai oleh pemiliknya.

Apakah ada teman Mas Raka yang iseng memasukkannya di sini?

Kutepis dugaan tersebut. Mana mungkin ada teman lelaki yang iseng dengan cara seperti ini, kecuali ... teman dinas Mas Raka adalah seorang perempuan.

Aku terhenyak oleh pikiranku sendiri. Apa sebenarnya yang telah terjadi pada suamiku?

Kutoleh ke arah tempat tidur. Di mana Mas Raka masih tampak pulas di sana. Terlihat sangat kelelahan, hingga dengkurannya terdengar begitu keras memenuhi kamar.

Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan sampai begitu kelelahan, Mas?

Aku menghela napas dalam, mencoba menenangkan pikiran, serta meredam gemuruh dalam dada. Aku harus tetap tenang dan tak boleh bertindak gegabah.

Kususun kembali benda-benda ke dalam koper Mas Raka. Termasuk celana dalam berenda warna merah tadi, meski aku harus memegangnya dengan perasaan jijik.

Kututup lagi koper, seolah aku tak pernah membongkar dan menyentuh isinya supaya Mas Raka tak curiga.

Aku terdiam sejenak. Memikirkan langkah apa yang harus kuambil setelah ini. Dan seolah langsung diberi petunjuk, mendadak aku tahu apa yang harus segera kulakukan.

Tujuanku sekarang adalah ponsel Mas Raka. Pada benda pipih berteknologi canggih itu, tentu tersimpan lebih banyak rahasia lagi di dalamnya.

Rahasia yang ingin segera aku kuak supaya aku tak terus menerus dibodohi oleh suamiku. Feelingku sebagai istri, mendorongku untuk segera merazia ponsel Mas Raka.

***




Quote:Original Posted By dwindrawati
"Dasar perempuan sok! Silakan kamu bawa Kayla. Tapi jangan harap, kamu bisa mendapat sepeserpun harta gono-gini, Nirmala!" ancam Mas Raka sambil menunjuk wajahku.

Ditunjuk-tunjuk dengan cara tak sopan begitu, tentu saja aku tak terima. Gegas aku bangkit berdiri sambil menatap murka pada Mas Raka.

"Jangan mimpi kalau kamu berpikir bisa mendapat semua harta yang kita kumpulkan bersama, Mas! Ada keringatku juga dalam setiap sen yang kita kumpulkan selama menikah!"

Aku menghardik Mas Raka sembari balas menuding wajahnya.

"Nirmala, yang sopan kamu sama Raka! Gimana pun juga dia masih suami kamu," ujar ibu Mas Raka.

Dia tak terima anaknya kutuding dan kuhardik, tapi diam saja ketika anaknya memperlakukan aku seperti itu. Benar-benar seorang ibu mertua teladan.

"Sebentar lagi akan jadi mantan, Bu!" tukasku cepat.

"Dan bukankah Ibu juga lihat, siapa dulu yang memulai, Bu? Ibu tadi lihat kan, bagaimana Mas Raka membentak-bentakku dengan cara tak sopan?

Dasar laki-laki tak tahu malu, sudah salah bukannya menyesal malah tambah belagu. Nggak punya otak kamu, Mas! Kalian pikir, mentang-mentang kalian bertiga dan aku sendirian, aku akan gentar?

Biarpun aku seorang wanita, tapi aku dididik oleh almarhum ayah untuk menjadi seorang pejuang. Bukan untuk menjadi seorang pecundang seperti kamu, Mas!" balasku tajam.

Cukup sudah aku mencoba berbaik-baik, percuma saja. Karena sedari awal tujuan diadakannya pertemuan ini pun memang untuk membela Mas Raka.

"Cukup ya, Nirmala. Jangan sombong kamu. Kalau Raka jadi duda sih, tetap gampang buat mencari penggantimu. Dia laki-laki, terpelajar pula.

Tapi kamu? Stigma seorang janda itu sudah telanjur buruk di mata masyarakat. Kamu hanya akan jadi bahan gunjingan orang-orang jika sampai menjadi janda.

Sudahlah, damai saja. Lupakan persoalan ini dan saling memaafkan. Namanya manusia kan wajar berbuat kesalahan." Ibu Mas Raka kembali urun bicara.

"Luar biasa memang cara didik Ibu terhadap Mas Raka. Memaafkan dan melupakan semua, setelah harga diriku diinjak-injak begitu rupa oleh dia?" Kutunjuk Mas Raka.

"Maaf, Bu, aku nggak bisa." Aku menegaskan.

"Anak Ibu ini, memang berpendidikan. Lulusan S2 dengan gelar cumlaude. Tapi sayang, dia sama sekali tidak bermoral!" tambahku lagi.

"Kamu memang benar-benar keras kepala, Nirmala." Ibu Mas Raka mendesis geram.

"Bukan keras kepala, Bu. Ini namanya aku membela harkat dan martabatku sebagai wanita terhormat.

Orang yang keras kepala sebenarnya, adalah orang yang tak mau mengakui kesalahan dan tetap bersikap jumawa. Dan contohnya saat ini tengah berdiri di depanku."

Aku memandang Mas Raka dengan tatapan sinis.

"Terserah kamu saja, Nirmala. Kalau mau cerai ya silakan! Kamu pikir, aku nggak bisa hidup tanpa kamu?

Jangan berharap aku mau menyembah-nyembah di bawah kakimu supaya kamu mau kembali. Aku ini lelaki, tinggal tunjuk saja perempuan mana yang kumau!"

Mas Raka bicara sambil balas menatap sinis padaku.

"Ya, baiklah. Kalau begitu kuanggap kita sudah sama-sama sepakat untuk bercerai. Jadi aku rasa sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita.

Satu yang harus kamu ingat, Mas, Kayla akan ikut denganku. Juga semua harta bersama akan kita bagi dua.

Tadinya mau kuambil semua, tapi menimbang jabatanmu di kantor sekarang sudah turun ke level cleaning servis, rasanya terlalu kejam jika kulaksanakan niatku itu."

Aku berkata sembari menatap mereka bertiga bergantian.

"Apa?! Cleaning service?!" seru ibu Mas Raka. Ia tampak shock ketika kubeberkan fakta tersebut.

Sepertinya Mas Raka belum mengatakan pada ibunya bahwa ia mengalami penurunan jabatan di kantor.

"Benar-benar kejam kamu ya, Mala. Tega kamu, menghinakan anak saya seperti itu.

Nggak heran kalau sampai Raka selingkuh, mungkin dia nggak pernah mendapat ketenangan batin selama ini hidup sama kamu."

Ibu Mas Raka meradang.

"Bukan nggak mendapat ketenangan batin, Bu. Tapi dasarnya Mas Raka aja yang kegatelan ingin mencicipi daun muda.

Apa Ibu tahu, selingkuhan Mas Raka itu masih berstatus seorang pelajar SMU?" balasku.

"Iya. Raka sudah menceritakannya pada saya. Memang ya, umur nggak jadi jaminan seseorang mampu bersikap bijak.

Dan kamu yang seharusnya bisa lebih dewasa, ternyata nggak kalah kekanakan dibandingkan anak sekolah," jawab ibu Mas Raka.

"Hmm, saya sependapat dengan Ibu. Ibu yang seharusnya menjadi teladan dan mengayomi anak serta menantu, ternyata sudah buta nuraninya.

Sudah jelas siapa yang salah, malah dibela mati-matian. Aku nggak apa-apa, Bu, jadi janda. Ketimbang jadi istri dari laki-laki tukang zinah." Aku membalas telak.

"Ya sudah, kenapa kamu masih di sini kalau begitu? Pergilah dari rumahku, Mala. Kan kamu maunya kita cerai," tukas Mas Raka sengit.

"Aku yang pergi? Nggak kebalik, kamu Mas? Rumah ini aku yang bayar, lho!" Aku balas menukas.

"Tapi uang DP-nya kan aku yang bayar!" sengit Mas Raka lagi.

"Uang DP cuma 20%, Mas! Selebihnya, cicilan rumah ini aku yang membayar sampai sekarang dengan hasil keringatku!"

Aku membalas tak mau kalah. Pokoknya, aku tak terima kalau Mas Raka sampai berhasil menduduki rumah ini.

Rumah ini adalah hak-ku dan Kayla. Rumah yang kubeli dari hasil memeras keringat bekerja di kantor.

"Biar pun cuma dua puluh persen, tapi tetap saja ada hak Mas Raka di rumah ini, Mbak. Jangan sewenang-wenang kamu jadi istri. Jangan menggunakan kesalahan kakakku ini untuk menguasai semua, termasuk merampas haknya." Alia, adik Mas Raka tiba-tiba berbicara.

"Benar itu, Mala. Apa yang dikatakan Alia itu benar seluruhnya. Kamu jangan ambil kesempatan, mentang-mentang Raka berbuat salah," timpal ibu Mas Raka.

Aku terdiam sejenak. Berpikir keras mencari cara terbaik untuk menyelesaikan masalah pembagian harta kami. Kuakui, sebenarnya yang dikatakan Alia dan ibu Mas Raka itu ada benarnya.

Dalam rumah ini, masih ada hak Mas Raka walaupun kecil jumlahnya.

Setelah beberapa saat berpikir, aku pun akhirnya menemukan solusi yang menurutku cukup adil untuk pihakku dan juga pihak Mas Raka.

"Begini saja, biar adil rumah ini surat-menyuratnya akan kit ganti menggunakan nama Kayla. Maka bisa dibilang, rumah ini adalah milik Kayla, anak kita," ujarku sambil menatap Mas Raka.

"Lho, enak saja kalau rumah ini jadi milik Kayla. Otomatis, setelah kalian bercerai, kamu dan Kayla dong yang akan menempati rumah ini. Kan nggak mungkin Kayla tinggal sendirian di sini."

Ibu Mas Raka mengungkapkan keberatannya. Sungguh tak habis pikir aku dengan isi kepala perempuan paroh baya ini. Padahal Kayla kan cucunya sendiri.

"Ya udah. Kalau kalian tidak setuju, kita jual rumah saja rumah ini dan dari hasil penjualannya nanti akan kuserahkan bagian dua puluh persen punya Mas Raka pada saat membayar DP pembelian rumah ini dulu.

Dan selama proses penjualan berlangsung, tidak ada satupun dari kita yang boleh menempati rumah ini sampai rumah ini benar-benar terjual!" tegasku.

Ketiga orang itu Saling pandang. Sepertinya saling meminta pendapat satu sama lain, apakah harus menyetujui usulku atau mereka masih keberatan dan merasa dirugikan dengan usulku tadi.

"Aku nggak punya tempat tinggal selain rumah ini, Nirmala. Kamu kan tahu, rumah Ibu sudah penuh oleh saudara-saudaraku yang juga tinggal di sana." Mas Raka kembali angkat bicara.

"Ya itu kan bukan urusanku, Mas. Kamu tinggal saja di rumah gundikmu itu. Bukannya kalian sangat saling mencintai?

Pokoknya, selagi rumah ini belum terjual, di antara kita berdua tidak ada yang boleh menempati rumah ini. Dan ini sudah mutlak keputusanku!" ucapku tegas.

"Kamu sudah nggak waras, ya? Perempuan itu kan masih anak-anak. Masih kecil, Mala. Bagaimana mungkin kamu suruh Raka tinggal di rumah orangtuanya dia?" Ibu Mas Raka lagi-lagi membela anaknya.

"Kecil-kecil tapi sudah jago bikin anak kecil?" tukasku tajam.

"Dan Mas Raka adalah gurunya," lanjutku sinis.

Wajah laki-laki itu kembali memerah.

"Sudah, aku capek. Silakan kamu kemasi pakaianmu, Mas. Aku juga akan sama berkemas. Mbak Yah akan ikut denganku," ujarku lagi.

"Ya nggak bisa gitu dong, Nirmala. Kamu ini jadi istri kok seperti kacang lupa kulit? Lupa kamu, dulu siapa yang mengangkat derajatmu?

Sebelum menikah dengan Raka, kamu itu hanyalah seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana. Beruntungnya kamu Raka menikahimu sehingga taraf hidup kamu serta keluargamu jadi ikut meningkat."

Ucapan ibu Mas Raka tentu saja menyinggung harga diriku.

"Atas dasar apa Ibu bicara begitu? Aku menikah dengan Mas Raka juga tetap bekerja mencari nafkah. Kalau bicara masalah derajat, apa Ibu lupa siapa almarhum ayahku dulu?

Beliau dulu adalah seorang perwira TNI. Keluarga kami adalah keluarga yang disegani dari dulu sampai sekarang, meski ayahku telah tiada.

Kami, anak-anaknya, mampu menjaga nama baik ayah dengan menjauhkan diri dengan tindakan tak terpuji. Berzina dengan anak di bawah umur, misalnya." Kembali aku menyindir telak Mas Raka dan ibunya.

"Mbak Yah ...!" Aku kemudian berseru memanggil Mbak Yah, asisten rumah tanggaku.

Tak lama, gadis itu kemudian tergopoh-gopoh datang menghadap.

"Iya, Bu?" ujar Mbak Yah.

"Mbak, tolong kemasi seluruh pakaian Pak Raka, ya. Pastikan tidak ada satu pun yang tertinggal.

Setelah itu, Mbak Yah bereskan juga barang-barang saya, Kayla, serta barang Mbak Yah sendiri. Malam ini juga kita akan pindah dari rumah ini. Rumah ini akan segera dijual."

Aku memberi perintah pada Mbak Yah. Sesaat, bisa kulihat pupil mata gadis itu membesar. Mungkin terkejut, kenapa tiba-tiba.

Tapi akhirnya gadis usia dua puluhan itu mengangguk dan langsung kembali masuk ke dalam.

"Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kudapatkan dua puluh persenku, Nirmala." Mas Raka tiba-tiba kembali bersuara.

"Boleh, silakan saja kamu tidur di teras kalau mau. Karena setelah ini, rumah akan aku kunci dan kugembok." jawabku santai.

"Nirmala!" bentak Ibu Mas Raka.

"Apa, Bu? Mau belain lagi? Kalau kalian masih ngotot juga, aku akan lapor ke RT sekaligus ke kantor polisi untuk melaporkan Mas Raka atas tuduhan perzinaan. Ingat, aku punya bukti kuat!

Jangan sampai, Mas Raka sudah turun jabatan, eh harus masuk penjara pula. Ibu nggak takut, keluara Ibu yang terhormat itu akan tercoreng dan jadi cemoohan jika orang-orang sampai tahu apa yang sudah dilakukan Mas Raka?"

Sengaja kutekan psikis Mas Raka dan ibunya supaya mereka takut dan ciut nyalinya.

Wanita berkaca mata tebal itu menelan ludah susah payah. Kurasa ia sudah mengenal karakterku yang punya sifat tegas dan tak mudah menyerah ini.

Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap marah ke arahku. Geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa, karena menyadari aku sudah menggenggam kartu As Mas Raka.


Quote:Original Posted By dwindrawati
Perlahan aku bangkit, kemudian berjalan menghampiri Mas Raka yang masih terlelap. Berusaha tak menimbulkan suara, aku akhirnya berhasil mencapai tempat tidur.

Namun aku kecewa, karena mendapati ponsel Mas Raka ternyata berada dalam saku celana yang tengah dipakainya saat ini.

Aku menghela napas sambil memandangi wajah dari ayah anakku itu. Dalam hati sejak tadi sudah dipenuhi oleh prasangka, apakah benar Mas Raka telah mendua?

Setega itukah ia pada kami? Jika tak memandangku, tidak kah ia memandang Kayla, putri kami satu-satunya?

Dadaku rasanya seperti sedang dihimpit sebuah batu besar. Berat dan sesak. Hingga tak terasa kedua mata ini terasa memanas. Kuhapus cepat bulir-bulir yang belum sempat tumpah.

Bukan saatnya menangis sekarang. Dan demi menetralkan perasaan sendiri, aku pun memutuskan ke luar kamar. Mencari Kayla, yang mungkin sedang bermain bersama Mbak Yah, asisten rumah tangga kami..

Benar saja, tiba di luar, mata ini menangkap pemandangan Kayla yang sedang asik bermain skuter bersama anak-anak komplek lainnya dengan diawasi oleh Mbak Yah.

Aku berdiri sembari menyandarkan pundak pada kusen pintu. Tawa Kayla di luar sana bersama teman-temannya, menerbitkan senyum di bibirku. Dalam segala kondisi, Kayla selalu menjadi penyejuk hatiku.

Kupejamkan mata kala teringat kembali pada benda yang kutemukan dalam koper suamiku. Darah ini kembali tiba-tiba mendidih. Cepat atau lambat, aku harus segera menemukan jawabannya.

Mas Raka, sudah pernah kukatakan padanya dulu. Tak akan pernah ada kata ampun untuk sebuah penghianatan.

Sekecil apa pun, dan seperti apa pun bentuknya, aku tak kan pernah sudi berbagi suami dengan wanita manapun. Dan dia sudah menyetujui itu sebelum akad kami.

Aku masuk, dan meneruskan langkah ke kamar mandi. Membersihkan diri sekaligus meredam panasnya bara yang menyala dalam dada lewat guyuran air dingin dari kran shower.

"Habis mandi, Sayang?"

Suara teguran Mas Raka membuatku yang sedang berdiri di depan cermin menoleh.

Aku tersenyum meski hatiku merasa teriris. Mas Raka balas tersenyum, kemudian bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke arahku, kemudian berhenti tepat di belakangku.

Dilingkarkannya kedua tangan di pinggang, ia memelukku dari belakang. Di kecupnya pelan pipiku, lalu kedua matanya menatap ke arah cermin. Sepasang mata kami saling bertatapan di sana.

Jika sebelumnya aku begitu merindukan sentuhannya, kini yang ada hanya rasa jijik yang kurasa.

"Ma ... kalau mulainya sekarang, gimana? Papa tiba-tiba__"

"Maaf, Mas. Aku tiba-tiba mendapat datang bulan. Pas mandi tadi baru ketahuan," ucapku memotong kalimatnya.

Dalam kondisi serba tak jelas begini, bagaimana bisa aku terima jika dia ingin mencampuriku?

"Hah? Bukannya sebelum Mas berangkat kamu udah dapet?" tanyanya dengan raut wajah heran.

Dasar laki-laki. Giliran soal selangkangan dia selalu ingat.

"Nggak tahu, nih. Tiba-tiba aku dapet. Mungkin pengaruh KB yang aku pakai, Mas," elakku lagi.

"Yah ...." Mas tampak kecewa.

"Sabar ya, Sayang," ucapku sembari melempar senyum padanya.

"Mas mandi, gih. Ditungguin Kayla, tuh. Nggak kangen?" Kerlingku manja.

"Oh ... ya, ya. Oke, Mas mandi dulu deh, baru main sama Kayla. Mau main sama mamanya, si brewok malah muntah darah," seloroh Mas Raka.

Jika biasanya kalimat itu akan membuatku tertawa, maka tidak kali ini. Aku mengawasi dengan tajam ketika Mas Raka melangkah ke luar kamar.

Arrggh ... sialan. Sepertinya ia akan langsung ke kamar mandi, dan bukannya melepas pakaiannya dulu di sini!

"Mas!" seruanku menghentikan langkahnya. Suamiku berbalik, memandangku dengan sorot tanya.

"Handuk kamu, jangan lupa. Mau mandi, kan?" ujarku pura-pura mengingatkannya.

"Oh ... iya. Mana sini, minta." Mas Raka berkata.

"Tuh, di belakang pintu. Buka aja bajunya di sini, biar sekalian nanti aku kasih ke Mbak Yah. Kamu suka lupa ninggalin baju di kamar mandi soalnya."

Aku tersenyum di ujung kalimat. Dan senyumku kian melebar saat ia mulai melepas pakaiannya satu per satu, menggantinya dengan sebuah lilitan handuk dari bawah ke pinggang.

Mas Raka berjalan ke luar kamar, meninggalkan pakaiannya teronggok begitu saja di atas lantai. Segera kuraih tumpukan pakaian tersebut. Meraba saku celananya dengan jantung berdebar kencang.


Diubah oleh dwindrawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fersayuti985 dan 16 lainnya memberi reputasi
9
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 4
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 09:58
ninggalin jejak dulu
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 10:22
episode selanjutnya silahkan berlangganan dan bayar emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
secer dan 2 lainnya memberi reputasi
2 1
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 10:41
Minyak
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 11:48
bagus banget cara menceritakan nya...
Diubah oleh kuz1toro
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 12:51
Lanjoootken
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 12:51
Apakah ts pelakunya?
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 13:56
Gelar tikar ya gan ane, holeb kan
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 14:41
Wahh gawat nih suami ente gan 🤧
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 15:11
Bikin tenda ☕
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 15:46
Nah ini gunanya cewe kudu mandiri emoticon-siul emoticon-siul
profile-picture
Rainbow555 memberi reputasi
1 0
1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 16:33
waduh main sama bocil #akubencipikiranku
di lanjut aja sis dari pada pikiran gw kemana-mana
emoticon-Toast
profile-picture
Lusi.perr memberi reputasi
0 1
-1
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 19:04
Seru banget nih
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 19:32
Jejak dulu ah
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 21:03
Kpn ni lanjutannya... Hahahaha
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 21:49
Mana lanjutan nya nih
0 0
0
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
28-05-2021 21:52
Sponsor by goplay
profile-picture
profile-picture
Rainbow555 dan muhyi8813 memberi reputasi
2 0
2
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 14:39

Part 8

Aku dan Mirna berdiri saling berhadapan. Dasar jalang kecil, berani-beraninya ia mencaci maki aku seperti tadi.

Bukan Nirmala namanya kalau diam saja saat dihina. Biarpun lawannya seorang bocah kegatalan seperti si Mirna ini.

"Dasar pelacur jalang! Kamu bangga, dapat bekas orang, ya? Kamu sadar nggak, kalau kamu cuma dimanfaatkan laki-laki buaya ini? Dia tidak mungkin menikahimu, dia cuma mau menikmati tubuhmu saja.

Jangan bangga dulu kamu, apalagi buru-buru tersanjung oleh semua kalimat gombalannya dia. Hanya dibayar recehan, tapi dipakai sepuasnya."

Kuhantam harga diri bocah SMA itu. Itu juga kalau dia masih punya. Mirna melirik Mas Raka tajam. Seakan berharap sebuah penyangkalan dari laki-laki itu.

"Nirmala! Jaga bicara kamu. Kamu punya bukti apa kalau kami sudah tidur bersama? Hati-hati, ya. Aku bisa tuntut kamu atas pencemaran nama baik, lho!" Mas Raka menyela ucapanku.

"Ck ck, kamu nantangin aku buat nunjukin bukti, Mas? Sebentar," jawabku kalem.

Aku kemudian merogohkan tangan ke dalam tas jinjing yang kubawa. Mengeluarkan kembali ponsel yang tadi sempat kugunakan untuk mengambil gambar mereka.

"Ini, Mas. Baca!"

Kusodorkan layar ponsel ke arah Mas Raka. Ia hendak meraih benda tersebut, namun dengan cepat kutepis tangannya dengan kasar.

"Cukup kamu baca aja, jangan coba-coba kamu ambil handphone aku!" tukasku garang.

Mas Raka hanya bisa diam dengan bola mata yang bergerak liar membaca pesan demi pesan antara dia dengan Mirna yang dinamainya 'Arman'.

"Mau ngelak apalagi kamu sekarang? Oh iya, aku masih punya satu bukti lagi," kataku, kembali merogoh tas setelah menyimpan ponsel dalam saku celana.

Kukeluarkan sebuah bungkusan dalam kantong yang berisi celana dalam berenda warna merah di dalamnya. Terdengar hela napas terkejut dari mulut Mas Raka.

Mengesampingkan rasa jijik, kukeluarkan benda tersebut dan langsung kulemparkan tepat mengenai wajah Mas Raka. Laki-laki itu gelagapan.

"Itu kan, benda yang kamu cari-cari setelah aku berangkat bekerja? Sengaja kuambil setelah kamu menyembunyikannya dalam laci, Mas! Dasar laki-laki menjijikkan!" seruku murka.

"Apa Bapak masih akan mempertahankan seseorang dengan bad attitude seperti ini, untuk bekerja di kantor Bapak?" Aku beralih pada Pak Brahma yang menyaksikan semuanya tanpa kedip.

Bisa jadi dia shock karena disuguhi sesuatu yang tak pernah terlintas sebelumnya dalam pikiran. Lelaki itu kemudian menatapku, tapi bibirnya sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun.

Bisa jadi bingung harus mengatakan apa karena ini memang masalah rumah tangga yang berawal dari pekerjaan.

"Bu Nirmala, harap tenang dulu. Saya pribadi, jujur sangat malu dan menyayangkan kejadian ini. Tapi sayang sekali, untuk melakukan pemecatan, kami sudah telanjur teken kontrak.

Jika pihak perusahaan melanggar kebijakan yang telah disepakati, maka kami harus membayar denda yang cukup besar kepada Pak Raka Prasetya."

"Tapi Pak, sudah jelas suami saya melanggar__" Aku langsung menyambar karena tak percaya pada apa yang sedang kudengar dari mulut Pak Brahma.

"Tunggu dulu, Bu Nirmala. Tolong biarkan saya selesai bicara," potong Pak Brahma tenang, membuatku merasa malu dengan sikapku yang tak sabaran.

"Maafkan saya, Pak," ucapku pelan. Lelaki berwajah kharismatik itu tersenyum memaklumi.

"Untuk pemecatan, kami tidak bisa melakukannya begitu saja. Kecuali Pak Raka melakukan tindak pidana yang merugikan perusahaan. Seperti korupsi, misalnya." Pak Brahma melanjutkan.

Aku menahan napas dalam ketegangan. Menyiapkan diri ini dihantam rasa kecewa yang diakibatkan oleh ucapan atasan Mas Raka.

"Tapi saya kan tidak melakukan itu, jadi Pak Brahma tidak bisa dong, memenuhi tuntutan istri saya untuk memecat saya. Ingat Pak Brahma, selama ini saya berperan cukup penting untuk memajukan perusahaan."

Mas Raka yang merasa sedang di atas angin, berbicara dengan nada jumawa.

"Betul, Pak Raka. Secara langsung, Anda memang tidak merugikan perusahaan yang telah susah payah dibangun oleh saya ini.

Akan tetapi, jelas perbuatan yang Anda lakukan bersama anak magang ini telah mencoreng nama baik perusahaan.

Dan akan menjadi contoh buruk bagi karyawan lain jika saya tidak memberikan sanksi tegas pada Pak Raka."

Ucapan Pak Brahma memeberiku sedikit harapan, bahwasanya keadilan masih dapat ditegakkan untukku hari ini.

"Hu-hukuman apa, Pak?" tanya Mas Raka dengan sedikit tergagap.

"Pak Raka, atas perbuatan Bapak yang tidak terpuji, maka mulai hari ini, jabatan Bapak saya turunkan. Tidak lagi menduduki jabatan sebagai general manager, tapi Anda saya tempatkan di bagian cleaning service."

"Cleaning service?!" seru Mas Raka seperti disambar gledek.

Mampus!

Aku menoleh ke belakang, di mana Mirna juga menampakkan keterkejutan yang sama dengan Mas Raka. Wajah gadis itu tampak pias.

Entah terkejut atas keputusan Pak Brahma yang ekstreme, atau karena kecewa jabatan mentereng Mas Raka telah dicopot oleh Pak Brahma, sehingga tentu saja pendapatan Mas Raka turun drastis setelah ini.

"Kenapa harus cleaning service, Pak? Ijazah saya S2, lho. Ini sama saja pelecehan terhadap karir saya!" Mas Raka terlihat panik.

Namun hebatnya, Pak Brahma tetap terlihat santai dan tenang dalam menghadapi protes lelaki tak tahu diri itu.

"Ini adalah keputusan paling bijak yang bisa saya ambil. Jika Pak Raka keberatan, silakan saja mengajukan pengunduran diri," ujar lelaki itu kemudian.

Puas sekali rasanya aku melihat wajah shock Mas Raka saat ini. Ternyata, Pak Brahma cukup bijak dalam memandang kasus rumah tanggaku bersama Mas Raka.

Ia tidak serta merta menyalahkan Mas Raka atas perbuatannya, tapi memberikan hukuman setimpal untuk menekan mental laki-laki itu.

Mas Raka yang punya ego dan gengsi tinggi, sudah pasti menolak jika ditempatkan di bagian cleaning service. Apa kata dunia? Jadi, Pak Brahma bisa mengeluarkan Mas Raka dari perusahaan tanpa perlu membayar uang kompensasi.

Cukup cerdas.

Kembali aku menoleh pada Mirna yang tampaknya sudah mati beku di belakang.

"Hei kamu, berikutnya giliran kamu. Bersiaplah," ujarku pada gadis itu, sembari menyunggingkan senyum termanis penuh sarkas padanya.

Diskusi pun berakhir. Permohonan Mas Raka yang mengiba, sama sekali tak membuat Pak Brahma merubah keputusannya.

Bahkan ketika Mas Raka menyembah di depanku untuk dimaafkan supaya Pak Brahma menarik lagi ucapannya pun sama sekali tak berguna.

"Tak ada gunanya kamu meminta maaf, Mas. Malam ini juga, kamu angkat kaki dari rumah. Dan jangan pernah berharap kamu bisa menemui Kayla.

Aku nggak sudi anakku mendapat contoh buruk dari tingkah liarmu bersama pelacur itu! Perceraian kita segera aku urus.

Dan kamu, Mirna. Mulai detik ini laki-laki ini resmi menjadi milik kamu sepenuhnya. Kuserahkan laki-laki rongsokan ini buat kamu dengan ikhlas. Nikmatilah kehancuran kalian.

Untuk Pak Brahma, saya ucapkan terima kasih banyak atas keputusan Bapak yang adil. Memang sudah seharusnya Bapak membersihkan perusahaan Bapak dari orang-orang seperti mereka."

Pak Brahma mengangguk pelan. Senyum tipis terkembang di bibir lelaki itu. Setelahnya, aku pun pamit dari ruangan tersebut.

Saat melintasi Mirna, sengaja kusenggol pundak gadis itu hingga ia oleng ke samping.

"Dasar setan tua! Semoga kau dan anakmu mati saja!" desisnya yang membuat darahku langsung tersirap ke kepala seketika.

Berani-beraninya ia menyebut nama Kayla-ku dengan mulutnya yang kotor itu. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berbalik dan menjambak rambutnya sekuat tenaga.







Diubah oleh dwindrawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 14:43

Part 9

Jika menghinaku, terserah. Tapi jika berani membawa-bawa anakku yang tak bersalah, maka kau akan menyesal! Itulah prinsip yang kujunjung tinggi selama ini.

Pantang bagiku membiarkan seseorang menyeret-nyeret apalagi bicara buruk tentang keluarga yang tak tahu apa-apa dalam permasalahannya denganku.

Mirna menjerit keras ketika dengan sekuat tenaga aku menarik rambutnya yang panjang dengan kedua tanganku. Mas Raka serta Pak Brahma juga serta merta berdiri. Pastinya hendak memisahkan kami.

Tapi sebelum itu terjadi, aku harus melakukan sesuatu terhadap jalang cilik ini. Sesuatu yang akan membuatnya mengenangku seumur hidup.

Mirna sempat mencakar tanganku dalam upayanya melepaskan diri. Aku mencengkeram makin kuat hingga cewek sundal itu meraung menangis kesakitan.

Kurasakan dua buah tangan melingkari pinggangku, berusaha menarikku menjauh dari tubuh Mirna. Aku tahu aku pasti akan kalah tenaga pada siapapun yang berusaha menarik tubuhku saat ini.

Karena itu, sebelum cengkramanku terlepas dari rambut gadis itu, dengan sekuat tenaga kugoreskan cakaran kuku-kuku cantik hasil manicure-ku ke wajah Mirna. Tepat mengenai bagian pipinya.

"Aaarggghh ... sakiitt! Aaaarhh!" Mirna melolong panjang, sembari memegangi pipinya yang berdarah-darah. Bahkan kulit wajahnya pun ada yang menempel pada kuku-ku.

"Sudah gila kamu, Nirmala!" teriak Mas Raka sembari mendekap gadis itu.

Jika Mas Raka ada di dekat Mirna, berarti tangan yang masih melingkari pinggangku saat ini tangan Pak Brahma, dong.

Aku refleks menoleh, laki-laki itu langsung melepas kedua tangannya sembari melangkah mundur menjauhiku.

"Uuhuuhuu ... sakit, Abaaangg!" Mirna menangis seraya memeluk manja Mas Raka yang sedang berusaha menenangkannya. Benar-benar menggelikan.

"Benar-benar sudah kehilangan nurani kamu, Nirmala. Dia ini masih anak kecil!" Mas Raka lagi-lagi menghujatku demi membela Mirna.

"Nuranimu yang sudah mati, Mas! Kamu tuli, ya, nggak denger tadi dia ngomong apa ke aku? Kalian memang pasangan yang cocok. Sama-sama menjijikkan!" semburku pedas.

"Ya wajar Mirna marah, wong kamu ngancem mau lapor ke sekolah dan orangtuanya!" sungut Mas Raka. Benar-benar sudah cacat otak laki-laki ini.

"Wajar, kamu bilang? Hey Raka Prasetya, dia nyumpahin anak kamu mati, lho. Kayla! Kalau dia hanya menyumpahiku, aku mungkin akan memilih diam daripada meladeni jalang kecil itu.

Tapi Kayla, oh ... jelas aku tak kan terima! Cakaran itu saja masih kurang sebenarnya. Jika kalian tak ikut campur, tentu sudah kurobek mulutnya!" semburku murka.

"Huhu ... huuuhu ... wajahku rusak, Abang. Wajah Mirna udah nggak cantik lagi. Tuntut dia Abang karena sudah bikin Mirna begini. Tuntut dan masukin dia ke penjara!" tangis Mirna diiringi hasutan pada Mas Raka.

"Iya ... tenang ya. Nanti kita ke dokter buat ngobatin wajah kamu." Mas Raka sungguh tak tahu malu. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu di depanku dan Pak Brahma, atasannya sendiri.

Aku sudah tak dianggapnya sebagai istri dengan berlaku seperti itu di depan mata kepalaku. Ingin rasanya kuangkat kursi lalu menghantam kepala sepasang insan laknat tersebut biar mampus sekalian.

"Pokoknya Abang harus tuntut perempuan itu. Aku nggak terima diginiin, Bang! Uhuhu ... wajahku ... wajahku!"

"Iya, pasti Abang tuntut dia nanti." Jawaban Mas Raka membuatku semakin naik pitam. Aku hendak menyemburkan makian, tapi gerakan tangan Pak Brahma yang mencekal tangan ini, mencegahku.

"Kalau Anda menuntut Ibu Nirmala, maka saya tak akan segan berdiri di belakangnya, Pak Raka. Akan saya sewa pengacara terbaik di negeri ini untuk melawan Anda.

Sebagai laki-laki, Anda sungguh memalukan. Semoga hanya Anda, satu-satunya suami dengan perilaku menjijikkan di dunia ini."

Mendengar ucapan Pak Brahma, Mas Raka seakan beku di tempatnya. Begitu pun aku, langsung menoleh kaget dan tak menyangka.

***

"Darimana sih, kok lama amat urusan lo, Nek?" Lesti menegurku dengan suara berbisik ketika aku akhirnya kembali ke kantor.

"Hei, muka lo napa pucet? Abis berantem lo, sama orang di jalan?" Lesti kembali menanyaiku.

Aku tak mungkin menceritakannya sekarang pada Lesti. Jiwaku saja masih dihantam shock.

Ya, meskipun aku telah berhasil mempermalukan Mas Raka dan selingkuhannya yang masih bocah itu, tapi tak kupungkiri ada rasa nyeri yang menusuk dada

Merasa harga diri ini telah tercabik-cabik oleh perbuatan Mas Raka yang ternyata lebih membela pelacur kecil itu ketimbang aku dan Kayla, anaknya sendiri.

Semakin bulat tekadku untuk menyudahi mahligai rumah tangga bersama lelaki pecundang itu. Tak ada gunanya dia dipertahankan.

Toh tanpa dia aku masih bisa berdiri di atas kaki sendiri. Aku masih bisa menafkahi diri sendiri dan juga Kayla, putri semata wayang kami.

"Hei, Mala, ditanya malah diem aja? Kalau nggak enak badan mending pulang aja, La." Lesti mencolek pundakku.

Aku tersenyum tipis pada sahabatku itu, kemudian menggeleng lemah.

"Nggak apa-apa kok, Les. Aku baik-baik saja. Sudah yuk, balik kerja. Maaf ya, tadi aku kelamaan izin keluarnya," ujarku mengalihkan pembicaraan dari Lesti. Aku masih terlalu jengah untuk ditanya-tanyai saat ini.

Gadis berambut sebahu itu hanya mengangguk, kemudian kembali ke meja kerjanya. Masing-masing kami pun tenggelam dalam pekerjaan hingga jelang waktu pulang.

Tak ada yang tahu apa yang baru saja kualami. Aku berusaha bersikap seakan semuanya baik-baik saja.

Mengobrol dan tertawa bersama teman-teman kerjaku, agar mereka tak mencium gelagat mencurigakan jika aku aku bersikap murung.

Biarlah untuk sementara semuanya kupendam sendiri. Toh masalah rumah tanggaku, aku tidak ingin menjadikannya sebagai konsumsi publik.

Biar masalah ini kuselesaikan dengan pihak keluarga saja nantinya.

Sepulang dari kantor, aku tidak langsung menuju rumah, melainkan ke rumah Ibuku terlebih dahulu. Aku ingin menumpahkan semua uneg-unegku pada wanita yang telah melahirkanku itu.

Setegar tegarnya seorang wanita, tetap akan menjatuhkan air mata jika dirinya diuji dengan masalah hati dan perasaan. Salah satunya adalah aku.

Meski tadi siang aku begitu garang melabrak Mas Raka di kantornya, tetapi tetap saja perasaan ini juga ikut hancur bersamaan dengan karamnya biduk rumah tanggaku bersama lelaki itu.

Dengan berurai air mata, aku pun menceritakan semuanya pada ibu. Bersimpuh di bawah kakinya, kucurahkan rasa hancur dan tersakiti yang sedang kurasakan saat ini.

Wanita yang sangat kucintai itu juga ikut menangis, membayangkan nasib rumah tangga putrinya terancam kandas karena hadirnya orang ketiga.

"Ya Allah, Nirmala ... yang sabar ya, Nduk. Ibu yakin kamu pasti kuat dan kamu harus kuat. Jangan lemah, jangan tunjukan air matamu di depan Raka.

Tunjukkan padanya bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dengan memilih berselingkuh bersama perempuan lain.

Tunjukkan padanya bawah kamu terlalu berharga untuk disia-siakan begitu saja. Buktikan pada Raka, bahwa tanpa dia, kamu dan Kayla akan tetap baik-baik saja."

Ibu berkata untuk menguatkanku yang sedang merasa rapuh saat ini.

"Iya, Bu. Insya Allah, Nirmala akan kuat. Mana Kayla, Bu?" tanyaku begitu menyadari sejak kedatanganku tadi aku belum melihat sosok putri kesayanganku itu.

"Tadi dibawa sama Puspa, mungkin sebentar lagi pulang. Hapus airmatamu, Nduk. Jangan sampai Kayla melihatnya.

Dia pasti akan sangat sedih jika melihat mamanya menangis," ucap ibu sembari menyeka pipiku dengan ujung jarinya yang gemetar.

Aku tahu pasti, saat ini, ibu sedang sama hancurnya denganku. Ibu juga merasa terkhianati oleh Mas Raka. Luka seorang anak, adalah juga merupakan luka bagi orangtuanya.

Jika anak terluka, maka orangtua juga akan ikut sakit. Pun sebaliknya, jika orangtua terluka, maka anak juga akan ikut sakit.

Saat baru hendak beranjak berdiri, mendadak ponselku berbunyi. Kukeluarkan dari saku celana, dan terkejut saat melihat siapa nama pemanggilnya.





Diubah oleh dwindrawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 14:44

Part 10

Aku cukup terkejut saat mengetahui siapa yang menelepon. Ibunya Mas Raka. Dia menghubungiku pasti karena telah mendapat aduan dari Mas Raka, putra kesayangannya.

Kuhela napas panjang sejenak, sebelum menjawab panggilan wanita yang sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi mantan mertua itu.

"Assalamualaikum, Bu," sambutku tetap berusaha menjaga kesopanan meskipun putranya telah menggoreskan luka batin yang begitu dalam padaku.

"Halo, Nirmala. Ada di mana kamu sekarang?" sahutnya tanpa basa-basi, tanpa membalas salam yang kuucapkan di awal kalimat.

"Mala sedang di rumah ibu, Bu. Ada apa?" balasku tetap tenang.

"Ngadu kamu, di situ? Sini, pulang. Ada yang harus kita bicarakan segera mengenai Raka!" tuduhnya sambil menyuruhku pulang.

"Ngadu? Memangnya hanya Mas Raka yang boleh mengadu ke Ibu? Aku juga masih punya orangtua, Bu. Wajar kalau aku mengadu pada ibuku," balasku mulai sengit. Mulai terpancing emosi atas ucapan kasar ibu Mas Raka.

"Sudah, kita nggak usah ribut di telepon. Sekarang juga, kamu pulang. Kita adakan rapat keluarga. Sekalian kamu bawa cucuku pulang!" sentaknya kemudian langsung menutup telepon.

Nggak usah ribut di telepon, katanya. Lantas siapa yang tadi memulai? Demit?

Arghh ... Mas Raka dan ibunya memang sama saja. Sama-sama egois dan tak pernah mau mengaku salah.

"Mertuamu, La?" tanya ibu dengan tatapan iba padaku. Aku mengangguk, kemudian menepuk lengan ibu pelan.

"Mala pulang dulu ya, Bu. Kayla titip di sini dulu, boleh? Mala nggak mau psikis Kayla terguncang karena menyaksikan kedua orangtua serta neneknya ribut-ribut di rumah," pintaku pada ibu.

"Tentu saja, Nak. Tentu saja boleh. Lagipula, Ibu juga tidak rela jika sampai Kayla diambil sama mereka. Biar saja Kayla di sini, ibu dan Puspa yang akan menjaganya," jawab ibu.

"Terima kasih ya, Bu. Mala pamit, dan minta doanya. Assalamualaikum," pamitku seraya mencium punggung tangan ibi dengan khidmat.

Ibu menyentuh pelan puncak kepalaku. Saat aku kembali menatapnya, sepasang netra itu telah basah oleh kaca-kaca yang menggumpal di pelupuknya.

***

Aku mengemudikan kendaraan menuju rumah yang selama ini kutempati bersama Mas Raka dengan perasaan tak karuan. Benakku sibuk mengira-ngira. Apa saja yang telah diadukan Mas Raka pada ibunya.

Satu hal yang pasti, dalam cerita versi lelaki itu, pastilah hanya berupa hal yang menyudutkanku saja.

Lelaki dengan ego setinggi langit itu, mana mungkin mau tampak bersalah di hadapan orang lain, meskipun itu di hadapan ibunya sendiri.

Sudah bisa kutebak, diskusi yang dikatakan ibu mertua di telepon tadi, tak akan lebih dari sekedar upaya untuk memojokkanku saja. Tapi aku Nirmala, tentu tak akan mau kalah begitu saja.

Aku seorang wanita baik-baik yang menjunjung tinggi harga diri serta kehormatanku. Jika Mas Raka pikir dia akan menang hanya karena mendapat backingan dari keluarga, maka dia salah.

Akan kubuat dia sekalian tak bisa menunjukkan mukanya di hadapan dunia.

Setibanya di rumah, aku terpaksa memarkir kendaraan di luar pagar karena mobil Mas Raka serta mobil Alia, adik Mas Raka, sudah memenuhi halaman rumah yang tak seberapa luas.

Berjalan memasuki halaman, aku disambut oleh Mbak Yah dengan wajah kebingungan. Wajar, dia yang tak tahu apa-apa, tentu bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal, hingga tadi pagi semua masih tampak baik-baik saja.

Aku tersenyum saat melewati gadis yang selalu telaten mengasuh Kayla itu. Mengisyaratkan padanya, bahwa aku tak apa-apa, dan akan baik-baik saja.

"Assalamualaikum." Kuucapkan salam saat tiba di depan pintu masuk rumah utama.

Di ruang tamu, tampak ibu mertua, Mas Raka, serta Alia, adik Mas Raka sedang duduk di sofa. Sikap tubuh mereka terlihat langsung menegang begitu melihat aku datang.

Ibu Mas Raka mengangguk sekilas, memberi kode padaku untuk langsung masuk. Lucu, aku perlakukan bagai tamu di rumahku sendiri.

"Duduklah, Mala," perintah ibu Mas Raka dengan tatapan mengawasi ke arahku.

Alia sedikit beringsut untuk memberiku tempat. Kupilih duduk dekat adik Mas Raka, karena aku sama sekali tak sudi duduk dekat lelaki yang tak punya martabat seperti dia.

"Mana Kayla?" Ibu Mas Raka bertanya padaku.

"Kayla sedang di rumah neneknya, Bu." Aku menjawab pelan.

Ibu Mas Raka langsung mendengkus kesal.

"Kan tadi Ibu bilang untuk membawa Kayla pulang?" ujarnya. Wanita paroh baya itu tampak gusar.

"Supaya Kayla bisa melihat bagaimana mamanya dipojokkan oleh kalian semua dalam forum debat ini?" pungkasku sambil menatap Ibu Mas Raka tajam.

"Lho, siapa yang ngajak debat? Kita ini mau diskusi lho, Mala." Ia membantah. Aku tersenyum sinis mendengar jawabannya.

"Perempuan seperti Mala ini, mana ngerti bedanya debat sama diskusi, Bu!" Mas Raka tiba-tiba angkat bicara setelah sedari tadi menunduk diam.

Merasa mendapat angin atas dukungan ibunya, lelaki ini mau berani-berani unjuk gigi di depanku.

"Terserah apa katamu, Mas. Yang jelas aku tahu apa tujuan kalian datang dan mengajakku berkumpul di sini," ujarku sambil melemparinya tatapan sinis.

"Sudah ... sudah! Kalian ini, nggak bisa apa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin?

Mala, apa benar kamu sengaja ke kantor Raka untuk mempermalukan dia dan ingin dia dipecat?" Ibu kembali mengambil alih kendali acara debat kusir ini.

"Benar, Bu," jawabku mantap.

Sepasang mata milik ibu Mas Raka melebar demi mendengar pengakuanku yang tanpa keraguan.

"Kamu sadar nggak, Mala, yang kamu lakukan itu sama saja dengan membuka aib suamimu sendiri! Kamu permalukan laki-laki yang seharusnya kamu hormati, kamu jaga aibnya?" Wanita itu mulai mencecar.

"Masih pantaskah suami yang berselingkuh dan berzina untuk dihormati, Bu?" sahutku tajam.

"Namanya laki-laki itu wajar kalau sesekali khilaf, Mala. Allah saja maha pemaaf, masa kita sebagai manusia enggak?"

Aku spontan mendengar ucapan Ibu Mas Raka.

"Ibu menganggap sebuah perzinahan itu wajar? Lalu apa artinya hijab yang melekat di kepala Ibu? Apa itu ilmu yang Ibu dapat dalam setial majelis taklim yang ibu hadiri? Zinah itu wajar?" sindirku pedas.

Wajah ibu Mas Raka langsung memerah.

"Jaga mulut kamu, Mala!" Mas Raka menghardik.

"Kamu yang diam, Mas! Dasar tak tahu malu, begitu bangganya kamu dengan dosamu yang menjijikkan itu. Tapi lebih menjijikkan lagi ketika aku mengetahui fakta ada seorang muslimah yang mewajarkan perbuatan zinah!" Aku balas menghardik.

Emosiku mulai naik. Emosi sekali terhadap sikap ibu Mas Raka yang tak masuk akal.

"Mbak Mala, aku tahu Mas Raka bersalah. Tapi ingatlah, Mas Raka juga ayah dari Kayla. Kalau Mas Raka sampai kehilangan pekerjaan, bagaimana dia akan menghidupi kalian?"

"Ingat, Mbak, surga istri itu ada pada suaminya. Mbak Mala jangan egois dong, lebih mengedepankan emosi. Pikir panjang dulu sebelum berbuat," lanjut Alia lagi.

Alia mulai ikut bicara. Meski nada bicaranya terdengar lebih santun, tapi tetap saja aku merasa geli. Adik iparku itu, bicara seakan Mas Raka lah satu-satunya tulang punggung di rumah ini.

Juga, apakah dipikirnya aku masih mau melanjutkan pernikahan yang telah hancur ini?

"Maaf Alia, tapi setelah ini Mas Raka tak perlu repot-repot memikirkan nafkah untuk kami. Insya Allah, Mbak masih mampu dan kuat mencari nafkah untuk diri sendiri dan Kayla.

Jika kamu di posisi Mbak, masih bisa kah kamu bicara seperti itu? Kita ini sama-sama perempuan. Harusnya kalian lebih berempati. Masalah perselingkuhan dalam rumah tangga, bukanlah perkara ecek-ecek.

Setelah ini, Mbak akan segera mengurus perceraian kami. Biar Mas Raka bebas mau bersama gundiknya yang masih seorang pelajar SMU itu," ujarku sambil melirik tajam pada Mas Raka.

"Cerai?! Kamu ini jadi perempuan kok belagu banget ya, Mala? Kamu pikir gampang jadi janda?

Terus, kamu tuh mikir nggak gimana nasib Kayla kalau kalian sampai bercerai? Mikir nggak kamu, Mala?!" teriak ibu Mas Raka dengan mata melotot lebar.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Kayla, Bu. Dia akan baik-baik saja dalam asuhanku." Aku berkata.

"Tidak bisa! Kayla akan ikut aku!" Mas Raka berteriak.

"Ikut kamu dan membiarkan anak kita meniru kelakuanmu yang amoral itu, Mas? Demi Allah, dunia akhirat aku nggak akan rela," pungkasku.

"Nirmala, pikir-pikir dulu kamu. Bisa nggak sih, kamu turunin sedikit gengsi dan ego? Bukan demi siapa-siapa, tapi demi Kayla!"

Ibu Mas Raka kembali bersuara. Masih berupaya membujuk tapi tak sadar pada kesalahan anak sendiri.

"Kenapa harus aku Bu, yang menurunkan ego? Sudah jelas yang bersalah di sini adalah Mas Raka.

Dari awal kepergok selingkuh pun, dia sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Minta maaf pun tidak. Apa pernikahan seperti ini yang harus kupertahankan?

Jika Mas Raka sangat berharga bagi Ibu, maka begitu juga aku di mata ibuku, Bu. Mana ada orangtua yang sudi melihat harga diri anak perempuannya diinjak-injak oleh suaminya sendiri?

Selain sudah berselingkuh dan berzina, Mas Raka juga sudah terang-terangan berat sebelah pada gadis lacur pujaannya itu.

Aku tetap pada keputusanku untuk bercerai. Kayla ikut aku. Tak akan kubiarkan anakku mendapat contoh buruk dari ayahnya sendiri!"

Mas Raka tiba-tiba beranjak berdiri.

"Dasar perempuan sok! Silakan kamu bawa Kayla. Tapi jangan harap, kamu bisa mendapat sepeserpun harta gono-gini, Nirmala!" ancamnya sambil menunjuk wajahku.

Tak terima ditunjuk-tunjuk begitu, aku pun sigap berdiri dan langsung membalasnya. Sedikit pun aku tak gentar.

Jangankan ibu Mas Raka dan Alia, dia membawa seluruh keluarganya pun akan kuhadapi dengan berani, karena aku bukan pecundang!
Diubah oleh dwindrawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
OLEH-OLEH PERJALANAN DINAS SUAMIKU
29-05-2021 14:46

Part 11

"Dasar perempuan sok! Silakan kamu bawa Kayla. Tapi jangan harap, kamu bisa mendapat sepeserpun harta gono-gini, Nirmala!" ancam Mas Raka sambil menunjuk wajahku.

Ditunjuk-tunjuk dengan cara tak sopan begitu, tentu saja aku tak terima. Gegas aku bangkit berdiri sambil menatap murka pada Mas Raka.

"Jangan mimpi kalau kamu berpikir bisa mendapat semua harta yang kita kumpulkan bersama, Mas! Ada keringatku juga dalam setiap sen yang kita kumpulkan selama menikah!"

Aku menghardik Mas Raka sembari balas menuding wajahnya.

"Nirmala, yang sopan kamu sama Raka! Gimana pun juga dia masih suami kamu," ujar ibu Mas Raka.

Dia tak terima anaknya kutuding dan kuhardik, tapi diam saja ketika anaknya memperlakukan aku seperti itu. Benar-benar seorang ibu mertua teladan.

"Sebentar lagi akan jadi mantan, Bu!" tukasku cepat.

"Dan bukankah Ibu juga lihat, siapa dulu yang memulai, Bu? Ibu tadi lihat kan, bagaimana Mas Raka membentak-bentakku dengan cara tak sopan?

Dasar laki-laki tak tahu malu, sudah salah bukannya menyesal malah tambah belagu. Nggak punya otak kamu, Mas! Kalian pikir, mentang-mentang kalian bertiga dan aku sendirian, aku akan gentar?

Biarpun aku seorang wanita, tapi aku dididik oleh almarhum ayah untuk menjadi seorang pejuang. Bukan untuk menjadi seorang pecundang seperti kamu, Mas!" balasku tajam.

Cukup sudah aku mencoba berbaik-baik, percuma saja. Karena sedari awal tujuan diadakannya pertemuan ini pun memang untuk membela Mas Raka.

"Cukup ya, Nirmala. Jangan sombong kamu. Kalau Raka jadi duda sih, tetap gampang buat mencari penggantimu. Dia laki-laki, terpelajar pula.

Tapi kamu? Stigma seorang janda itu sudah telanjur buruk di mata masyarakat. Kamu hanya akan jadi bahan gunjingan orang-orang jika sampai menjadi janda.

Sudahlah, damai saja. Lupakan persoalan ini dan saling memaafkan. Namanya manusia kan wajar berbuat kesalahan." Ibu Mas Raka kembali urun bicara.

"Luar biasa memang cara didik Ibu terhadap Mas Raka. Memaafkan dan melupakan semua, setelah harga diriku diinjak-injak begitu rupa oleh dia?" Kutunjuk Mas Raka.

"Maaf, Bu, aku nggak bisa." Aku menegaskan.

"Anak Ibu ini, memang berpendidikan. Lulusan S2 dengan gelar cumlaude. Tapi sayang, dia sama sekali tidak bermoral!" tambahku lagi.

"Kamu memang benar-benar keras kepala, Nirmala." Ibu Mas Raka mendesis geram.

"Bukan keras kepala, Bu. Ini namanya aku membela harkat dan martabatku sebagai wanita terhormat.

Orang yang keras kepala sebenarnya, adalah orang yang tak mau mengakui kesalahan dan tetap bersikap jumawa. Dan contohnya saat ini tengah berdiri di depanku."

Aku memandang Mas Raka dengan tatapan sinis.

"Terserah kamu saja, Nirmala. Kalau mau cerai ya silakan! Kamu pikir, aku nggak bisa hidup tanpa kamu?

Jangan berharap aku mau menyembah-nyembah di bawah kakimu supaya kamu mau kembali. Aku ini lelaki, tinggal tunjuk saja perempuan mana yang kumau!"

Mas Raka bicara sambil balas menatap sinis padaku.

"Ya, baiklah. Kalau begitu kuanggap kita sudah sama-sama sepakat untuk bercerai. Jadi aku rasa sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita.

Satu yang harus kamu ingat, Mas, Kayla akan ikut denganku. Juga semua harta bersama akan kita bagi dua.

Tadinya mau kuambil semua, tapi menimbang jabatanmu di kantor sekarang sudah turun ke level cleaning servis, rasanya terlalu kejam jika kulaksanakan niatku itu."

Aku berkata sembari menatap mereka bertiga bergantian.

"Apa?! Cleaning service?!" seru ibu Mas Raka. Ia tampak shock ketika kubeberkan fakta tersebut.

Sepertinya Mas Raka belum mengatakan pada ibunya bahwa ia mengalami penurunan jabatan di kantor.

"Benar-benar kejam kamu ya, Mala. Tega kamu, menghinakan anak saya seperti itu.

Nggak heran kalau sampai Raka selingkuh, mungkin dia nggak pernah mendapat ketenangan batin selama ini hidup sama kamu."

Ibu Mas Raka meradang.

"Bukan nggak mendapat ketenangan batin, Bu. Tapi dasarnya Mas Raka aja yang kegatelan ingin mencicipi daun muda.

Apa Ibu tahu, selingkuhan Mas Raka itu masih berstatus seorang pelajar SMU?" balasku.

"Iya. Raka sudah menceritakannya pada saya. Memang ya, umur nggak jadi jaminan seseorang mampu bersikap bijak.

Dan kamu yang seharusnya bisa lebih dewasa, ternyata nggak kalah kekanakan dibandingkan anak sekolah," jawab ibu Mas Raka.

"Hmm, saya sependapat dengan Ibu. Ibu yang seharusnya menjadi teladan dan mengayomi anak serta menantu, ternyata sudah buta nuraninya.

Sudah jelas siapa yang salah, malah dibela mati-matian. Aku nggak apa-apa, Bu, jadi janda. Ketimbang jadi istri dari laki-laki tukang zinah." Aku membalas telak.

"Ya sudah, kenapa kamu masih di sini kalau begitu? Pergilah dari rumahku, Mala. Kan kamu maunya kita cerai," tukas Mas Raka sengit.

"Aku yang pergi? Nggak kebalik, kamu Mas? Rumah ini aku yang bayar, lho!" Aku balas menukas.

"Tapi uang DP-nya kan aku yang bayar!" sengit Mas Raka lagi.

"Uang DP cuma 20%, Mas! Selebihnya, cicilan rumah ini aku yang membayar sampai sekarang dengan hasil keringatku!"

Aku membalas tak mau kalah. Pokoknya, aku tak terima kalau Mas Raka sampai berhasil menduduki rumah ini.

Rumah ini adalah hak-ku dan Kayla. Rumah yang kubeli dari hasil memeras keringat bekerja di kantor.

"Biar pun cuma dua puluh persen, tapi tetap saja ada hak Mas Raka di rumah ini, Mbak. Jangan sewenang-wenang kamu jadi istri. Jangan menggunakan kesalahan kakakku ini untuk menguasai semua, termasuk merampas haknya." Alia, adik Mas Raka tiba-tiba berbicara.

"Benar itu, Mala. Apa yang dikatakan Alia itu benar seluruhnya. Kamu jangan ambil kesempatan, mentang-mentang Raka berbuat salah," timpal ibu Mas Raka.

Aku terdiam sejenak. Berpikir keras mencari cara terbaik untuk menyelesaikan masalah pembagian harta kami. Kuakui, sebenarnya yang dikatakan Alia dan ibu Mas Raka itu ada benarnya.

Dalam rumah ini, masih ada hak Mas Raka walaupun kecil jumlahnya.

Setelah beberapa saat berpikir, aku pun akhirnya menemukan solusi yang menurutku cukup adil untuk pihakku dan juga pihak Mas Raka.

"Begini saja, biar adil rumah ini surat-menyuratnya akan kit ganti menggunakan nama Kayla. Maka bisa dibilang, rumah ini adalah milik Kayla, anak kita," ujarku sambil menatap Mas Raka.

"Lho, enak saja kalau rumah ini jadi milik Kayla. Otomatis, setelah kalian bercerai, kamu dan Kayla dong yang akan menempati rumah ini. Kan nggak mungkin Kayla tinggal sendirian di sini."

Ibu Mas Raka mengungkapkan keberatannya. Sungguh tak habis pikir aku dengan isi kepala perempuan paroh baya ini. Padahal Kayla kan cucunya sendiri.

"Ya udah. Kalau kalian tidak setuju, kita jual rumah saja rumah ini dan dari hasil penjualannya nanti akan kuserahkan bagian dua puluh persen punya Mas Raka pada saat membayar DP pembelian rumah ini dulu.

Dan selama proses penjualan berlangsung, tidak ada satupun dari kita yang boleh menempati rumah ini sampai rumah ini benar-benar terjual!" tegasku.

Ketiga orang itu Saling pandang. Sepertinya saling meminta pendapat satu sama lain, apakah harus menyetujui usulku atau mereka masih keberatan dan merasa dirugikan dengan usulku tadi.

"Aku nggak punya tempat tinggal selain rumah ini, Nirmala. Kamu kan tahu, rumah Ibu sudah penuh oleh saudara-saudaraku yang juga tinggal di sana." Mas Raka kembali angkat bicara.

"Ya itu kan bukan urusanku, Mas. Kamu tinggal saja di rumah gundikmu itu. Bukannya kalian sangat saling mencintai?

Pokoknya, selagi rumah ini belum terjual, di antara kita berdua tidak ada yang boleh menempati rumah ini. Dan ini sudah mutlak keputusanku!" ucapku tegas.

"Kamu sudah nggak waras, ya? Perempuan itu kan masih anak-anak. Masih kecil, Mala. Bagaimana mungkin kamu suruh Raka tinggal di rumah orangtuanya dia?" Ibu Mas Raka lagi-lagi membela anaknya.

"Kecil-kecil tapi sudah jago bikin anak kecil?" tukasku tajam.

"Dan Mas Raka adalah gurunya," lanjutku sinis.

Wajah laki-laki itu kembali memerah.

"Sudah, aku capek. Silakan kamu kemasi pakaianmu, Mas. Aku juga akan sama berkemas. Mbak Yah akan ikut denganku," ujarku lagi.

"Ya nggak bisa gitu dong, Nirmala. Kamu ini jadi istri kok seperti kacang lupa kulit? Lupa kamu, dulu siapa yang mengangkat derajatmu?

Sebelum menikah dengan Raka, kamu itu hanyalah seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana. Beruntungnya kamu Raka menikahimu sehingga taraf hidup kamu serta keluargamu jadi ikut meningkat."

Ucapan ibu Mas Raka tentu saja menyinggung harga diriku.

"Atas dasar apa Ibu bicara begitu? Aku menikah dengan Mas Raka juga tetap bekerja mencari nafkah. Kalau bicara masalah derajat, apa Ibu lupa siapa almarhum ayahku dulu?

Beliau dulu adalah seorang perwira TNI. Keluarga kami adalah keluarga yang disegani dari dulu sampai sekarang, meski ayahku telah tiada.

Kami, anak-anaknya, mampu menjaga nama baik ayah dengan menjauhkan diri dengan tindakan tak terpuji. Berzina dengan anak di bawah umur, misalnya." Kembali aku menyindir telak Mas Raka dan ibunya.

"Mbak Yah ...!" Aku kemudian berseru memanggil Mbak Yah, asisten rumah tanggaku.

Tak lama, gadis itu kemudian tergopoh-gopoh datang menghadap.

"Iya, Bu?" ujar Mbak Yah.

"Mbak, tolong kemasi seluruh pakaian Pak Raka, ya. Pastikan tidak ada satu pun yang tertinggal.

Setelah itu, Mbak Yah bereskan juga barang-barang saya, Kayla, serta barang Mbak Yah sendiri. Malam ini juga kita akan pindah dari rumah ini. Rumah ini akan segera dijual."

Aku memberi perintah pada Mbak Yah. Sesaat, bisa kulihat pupil mata gadis itu membesar. Mungkin terkejut, kenapa tiba-tiba.

Tapi akhirnya gadis usia dua puluhan itu mengangguk dan langsung kembali masuk ke dalam.

"Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kudapatkan dua puluh persenku, Nirmala." Mas Raka tiba-tiba kembali bersuara.

"Boleh, silakan saja kamu tidur di teras kalau mau. Karena setelah ini, rumah akan aku kunci dan kugembok." jawabku santai.

"Nirmala!" bentak Ibu Mas Raka.

"Apa, Bu? Mau belain lagi? Kalau kalian masih ngotot juga, aku akan lapor ke RT sekaligus ke kantor polisi untuk melaporkan Mas Raka atas tuduhan perzinaan. Ingat, aku punya bukti kuat!

Jangan sampai, Mas Raka sudah turun jabatan, eh harus masuk penjara pula. Ibu nggak takut, keluara Ibu yang terhormat itu akan tercoreng dan jadi cemoohan jika orang-orang sampai tahu apa yang sudah dilakukan Mas Raka?"

Sengaja kutekan psikis Mas Raka dan ibunya supaya mereka takut dan ciut nyalinya.

Wanita berkaca mata tebal itu menelan ludah susah payah. Kurasa ia sudah mengenal karakterku yang punya sifat tegas dan tak mudah menyerah ini.

Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap marah ke arahku. Geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa, karena menyadari aku sudah menggenggam kartu As Mas Raka.
Diubah oleh dwindrawati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prayformysky dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Halaman 2 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
warisan-itu-bernama-cenayang
Stories from the Heart
kumpulan-cerpen-pulang-kampung
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia