News
Batal
KATEGORI
link has been copied
476
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6064a0604dbf7b60f66ab151/akar-krisis-di-dunia-islam-kemerosotan-intelektual-berkepanjangan
Ketika para ulama menjaga jarak dengan kekuasaan, dunia Islam mencapai zaman keemasannya. Pudar kala ambisi militer dan relasi ulama-penguasa menguat. Dunia muslim kontemporer mengidap penyakit kekerasan dan otoritarianisme. Sejak 1994 hingga 2008, seturut catatan BBC
Lapor Hansip
31-03-2021 23:16

Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan

Past Hot Thread
Quote:

Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan

Penulis: Savran Billahi 29 Maret 2021

Ketika para ulama menjaga jarak dengan kekuasaan, dunia Islam mencapai zaman keemasannya. Pudar kala ambisi militer dan relasi ulama-penguasa menguat.

tirto.id - Dunia muslim kontemporer mengidap penyakit kekerasan dan otoritarianisme. Sejak 1994 hingga 2008, seturut catatan BBC dan King's College London, kelompok Islamis melakukan tiga per lima dari 204 kasus pengeboman teroris di seluruh dunia.

Bahkan hanya dalam satu bulan, pada November 2014, tercatat lebih dari 5 ribu orang tewas akibat serangan 16 kelompok jihadis muslim. Fenomena kekerasan itu terjadi di tengah indeks demokrasi dunia muslim, yang menurut Freedom House, rendah.

Hanya kurang dari satu per lima negara muslim yang menganut demokrasi elektoral. Fenomena itu juga terjadi di tengah negara-negara mayoritas muslim yang memiliki pendapatan nasional bruto (PNB), tingkat melek huruf, literasi, akses ke air bersih dan harapan hidup di bawah rata-rata dunia.

Kalangan esensialis, seperti Bernard Lewis dan Samuel Huntington, berpendapat bahwa ajaran Islam sendiri-lah yang menjadi penyebab kemunduran itu. Mereka menganggap Islam pada dasarnya "memiliki perbatasan berdarah" yang menyebabkan stagnansi kemajuan.

Lewis dan Huntington juga menganggap Islam adalah penyebab maraknya otoritarianisme di negara-negara Muslim. "Tidak seperti Kristen, Islam menolak konstitusi sekular. Penolakan itu membawa negara-negara muslim pada otoritarianisme," ungkap Lewis dalam The Political Language of Islam (1988).

Charles Rowley dan Nathanael Smith juga berpendapat, defisit demokrasi di negara-negara muslim berasal dari jantung ajaran Islam itu sendiri. Karena itu, bagi kalangan esensialis, kemajuan dunia muslim baru bisa dicapai dengan memisahkan agama dan negara.

Sementara itu, para pemikir muslim seperti Mohammed Ayoob dalam The Many Faces of Political Islam (2008) menyalahkan intervensi Barat sebagai penyebab munculnya budaya kekerasan dan stagnansi dunia muslim. Ayoob berpendapat, "Intervensi Barat di Timur Tengah tidak terbatas pada penjajahan, tapi lebih jauh bertranformasi ke dalam berbagai bentuk pada masa kontemporer."

Mencari Sumber Krisis Guru Besar Ilmu Politik San Diego State University, Amerika Serikat, Ahmet Kuru dalam karya terbarunya Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan Ekonomi (2019) berpendapat, tesis-tesis kalangan esensialis itu mengandung kelemahan.

Kelemahan para esensialis itu, menurut Kuru, adalah tidak melihat sejarah Islam secara komprehensif. Para esensialis mengabaikan fakta bahwa pada periode abad ke-8 hingga ke-11, dunia muslim melahirkan ilmuwan-ilmuwan polimatik dan menguasai perdagangan lintas benua.
Karena itu, Kuru menolak tesis yang menganggap Islam sebagai alasan dasar ideologi kekerasan dan stagnansi kemajuan.
Intelektual asal Turki juga menyanggah generalisasi negara-negara muslim pasti sepenuhnya berideologi Islam. Kuru menemukan, di antara 49 negara mayoritas penduduk muslim, ada 22 negara yang justru merupakan negara sekular. Hanya 8 negara muslim yang mengakui Islam sebagai agama resmi negara dan 19 lainnya menjadikan "syariah" sebagai sumber hukum negara.

Kuru sekaligus menunjukkan, banyak negara sekular yang menerapkan otoritarianisme, seperti di China, Brazil, dan Turki. Sebab itu, stagnansi negara-negara muslim tidak sesederhana karena tidak menerapkan konstitusi sekular.
Kuru dalam karyanya menjelaskan, kolonialisme juga bukanlah akar masalah karena dunia muslim sudah mengalami kemunduran ketika intervensi Barat datang bersamaan dengan kolonialisme.

Kekuatan terbesar Islam, Kesultanan Utsmani, baru memproduksi mesin cetak secara massal pada abad ke-18. Kala itu, kedai-kedai kopi dilarang. Observatorium dan planetarium untuk penelitian ilmu astronomi bahkan sudah ditutup sejak abad ke-16. Kesultanan menganggap semua itu adalah instrumen berbahaya yang mengundang setan serta malapetaka.

Musabab inti kemunduran Islam, menurut Kuru, adalah kemerosotan berkepanjangan intelektual muslim akibat menguatnya relasi kekuasaan-ulama-militer.
Relasi ini setidaknya dimulai sejak abad ke-13 dan mapan pada abad ke-15. Saat itu, sistem militer mulai dilembagakan secara resmi oleh para penguasa muslim.


Faktor eksternal, seperti invasi Mongol dan Perang Salib, yang merusak infrastruktur kota dan ekonomi dunia muslim menguatkan fenomena itu. Di saat relasi negara-ulama-militer menguat di dunia muslim, Eropa justru mengalami fenomena sebaliknya.
Relasi negara dan pendeta yang sebelumnya kuat di Benua Biru mulai mengendur. Hingga abad ke-16, fenomena itu menciptakan sistem merkantilisme yang kemudian diikuti kapitalisme.

Dengan pendekatan sejarah pada karyanya, Kuru ingin menekankan bahwa krisis dunia muslim berakar pada paradigma tentang relasi kuasa dan turunannya.
Kuru juga ingin mendekatkan masyarakat pada sejarah Islam yang tidak hitam-putih.
Sejarah adalah basis material untuk mereformasi struktur dunia muslim dengan konteks kekinian. Kuru mengakui, tidak sedikit yang mengkritik karyanya sangat pesimistis dan mempromosikan kapitalisme muslim.

Namun, dalam forum Urban Sufism Cak Nurian, Kuru membantah pesimisme itu. "Beberapa pihak menganggap karya saya pesimistis terhadap dunia muslim dan cenderung mempromosikan kapitalisme.
Saya justru ingin menekankan bahwa untuk mencapai kemajuan, dunia muslim tidak perlu secara total meniru Barat.
Mereka memiliki inspirasi dari sejarah mereka sendiri," kata Kuru. Relasi Ulama-Penguasa Pada abad keemasan Islam, para intelektual muslim mengambil jarak dari kekuasaan.

Menurut Guru Besar Hukum Islam Columbia University Wael Hallaq, mereka mengambil sikap itu karena pemahaman hukum Islam kerap kali justru diperuntukkan bagi kepentingan kekuasaan yang sangat individualistis.

Para ulama yang mengambil sikap berbeda sering kali menemui nasib buruk. Para Imam mazhab, misalnya, wafat di tangan kekuasaan. Abu Hanifa dipenjara, Imam Malik dicambuk, Imam Syafi'i ditahan dan dirantai, Ibn Hanbal dipukuli di penjara, dan Jafar al-Sadiq diracun hingga tewas.
Ada pula Imam Bukhari yang pernah diminta untuk mengajar anak-anak penguasa Khurasan di istananya. Bukhari menolak permintaan itu dan menyerukan agar raja menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah ilmu hadits milik Bukhari. Tanggapan Bukhari itu membuatnya diasingkan ke sebuah desa—tempat dia meninggal kemudian.

Independensi itu masih kuat hingga abad ke-11, tapi mulai mengendur pada abad ke-12 dan ke-13. Kuru menjelaskan, abad ke-12 dan 13 adalah masa transisi penting relasi antara penguasa dan ulama. Penguasa dan ulama yang sebelumnya memiliki garis independensi tegas, pada abad-abad selanjutnya semakin erat berintegrasi.

Kuru menggambarkan transisi itu melalui sikap ambivalen Imam Ghazali pada akhir abad ke-11 hingga awal abad ke-12. Semula, sang Imam adalah seorang penasehat kerajaan, kemudian merasa resah dan lalu keluar mengasingkan diri. Tapi, pada akhirnya, dia pun kembali lagi menjadi seorang guru di lingkaran kekuasaan.

Diragukan Ulama Pada abad ke-12 dan ke-13, gagasan tentang penaklukan menguat.
Hingga abad-abad seterusnya, panglima perang menjadi lebih populer di dunia muslim daripada saintis.
Gagasan penaklukan semakin menjadi karakter penguasa dunia muslim.
Di masa itu, para penguasa muslim menjadi bergantung pada tentara bayaran.

Perubahan itu membawa dampak pada karakteristik ekonomi militer yang berfokus pada pencarian keuntungan melalui penaklukan. Pada abad-abad itu, para penguasa menerapkan sistem iqta—memberikan tanah-tanah yang dikuasai kepada panglima militer.

Invansi Mongol dan Perang Salib yang berkepanjangan merusak struktur kota dan memunculkan budaya nomaden di dunia muslim. Fenomena itu membuat penguasa mengalihkan fokusnya, dari pengembangan sains menjadi pertahanan kekuasaan.
Madrasah-madrasah yang berdiri pada masa itu juga ditujukan untuk melegitimasi kekuasaan. Pada tahap inilah, ortodoksi muslim tercipta.

Menguatnya ambisi militeristik para penguasa sejak abad ke-12 pada akhirnya juga merusak perekonomian dunia muslim. Hal itu secara tak langsung juga ikut memengaruhi independensi para ulama terhadap penguasa.
Pasalnya, sebagian besar keluarga ulama pada abad ke-8 hingga ke-11 adalah pedagang.Jadi, ketika perekonomian terguncang, independensi finansial para ulama pun ikut goyah.

Sejarawan Eliyahu Ashtor mengungkapkan, pada masa Abbasiyah, setiap pedagang tertarik pada persoalan sains. Dalam beberapa kasus, anak-anak para pedagang itu mengabdikan diri sepenuhnya pada kehidupan ilmiah.

Perlindungan Intelektual Meski begitu, ulama juga tetap berelasi dengan penguasa pada aspek tertentu. Bagaimana pun, dukungan dan perlindungan politik sangat penting bagi kerja-kerja ilmiah mereka.


Beberapa khalifah Ummayah, misalnya, mendukung terjemahan teks-teks kuno berbahasa Latin, Yunani, dan Ibrani di berbagai bidang ke bahasa Arab.
Contoh utama dari perlindungan intelektual yang dilembagakan adalah Khizanat al-Hikmah (House of Wisdom) yang didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid (Abbasiyah) di Baghdad.

Khizanat al-Hikmah menjadi simpul kunci gerakan penerjemahan di dunia muslim. Di lembaga itu juga berkembang karya-karya orisinal, seperti pembuatan bola dunia, peta, hingga observatorium.
Perlindungan politik khalifah menjadikan setiap wilayah muslim memiliki kota-kota yang menjadi pusat pengetahuan.

Selain Baghdad, ada pula Damaskus dan Aleppo di Syria, Basra di Iraq, Nushapur, Rayy, dan Tus di Iran, Kairo di Mesir, Balkh, Bukhara, Gurganj, dan Merv di Asia Tengah, hingga Kordoba di Andalusia Spanyol.

Dimensi lain pada abad keemasan muslim adalah keberagaman dan koeksistensi muslim dengan kelompok agama lain. Pada era Dinasti Abbasiyah, tidak sedikit birokrat yang berasal dari komunitas Kristen dan Yahudi.

Adam Mez dalam The Renaissance of Islam menjelaskan, di Baghdad, warga muslim lazim turut dalam perayaan-perayaan umat Kristiani.
Meski saat itu khalifah menerapkan kebijakan politik yang agak diskriminatif terhadap nonmuslim—mereka diharuskan mengenakan pakaian dan kendaraan hewan yang berbeda, penerapan perintah dalam kehidupan sehari-hari nyatanya lebih longgar.

Perkembangan pengetahuan di dunia muslim juga didorong oleh disiplin etik. Sensitivitas terhadap waktu menghasilkan prototipe manajemen waktu modern.
Demikian pula aturan Islam tentang mencuci tangan, menyikat gigi, membersihkan toilet, hingga mandi setelah hubungan seksual menjadi topik-topik penting dunia muslim saat itu.


Ahli orientalisme Paulina Lewicka menemukan, buku-buku etiket tentang makan pada abad ke-10 hingga ke-15 pada umumnya ditulis di dunia muslim. Namun, pada periode berikutnya, topik-topik itu justru ditulis di Eropa.

Pada abad ke-11, Ghazali menulis buku tentang tata krama yang berpengaruh. Topik-topiknya mencakup tentang adab menjaga makanan, cuci tangan, meletakkan penutup di atas makanan, posisi duduk saat makan, menghindari makan sendiri, menjaga suapan dengan kunyahan yang baik, cara memilih makanan dari yang paling dekat secara jarak, hingga larangan untuk meniup makanan panas.

Laporan "Cleanliness is Next to Growth" yang terbit di The Economist pada Agustus 2020 lalu menjelaskan bagaimana etika kebersihan—seperti yang ditulis orang Islam di masa silam—turut mendorong pula ekspansi ekonomi.

========== Savran Billahi adalah mahasiswa magister Departemen Sejarah Hacettepe University Ankara, Turki. Setelah lulus S1 dari Departemen Sejarah Universitas Indonesia, ia menulis Bangkitnya Kelas Menengah Santri, Modernisasi Pesantren di Indonesia (2018). Baca juga artikel terkait PERADABAN ISLAM atau tulisan menarik lainnya Savran Billahi

Baca selengkapnya di artikel "Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan", https://tirto.id/gaJ1.




Sumber




Waktu remaja ane sering dengar pernyataan dari pengajian atau guru agama "Kemunduran dunia Islam terjadi karena umat semakin jauh dari nilai2 agama nya". Namun semakin dewasa ane berpikir bahwa kesalehan itu baik namun tidak ada hubungannya dengan kemajuan atau kemunduran umat tersebut.
Menjadi Ortodok tidak masalah juga namun akan menjadi buruk jika setiap pertanyaan kritis ttg nilai agama selalu dibalas dg pemberian stigma sesat, fasik, penistaan atau lebih jauh lg dg kafir. Meski ane pribadi kata kafir sekarang ini tidak semenakutkan itu.
Mengapa perdebatan seputar agama hanya berkisar ajaran mana yg paling benar dan bukan pada ajaran mana yg bisa solutif dalam menjalani kehidupan?
Apakah menjadi makhluk yg paling benar akan menawarkan kesadaran utk menjadi makhluk yg lebih baik?

Ada jargon yg menyebutkan Iman tanpa akal itu bla bla bla, atau akal tanpa iman itu begini begini begini.
Jika fungsi iman dan akal itu check and balance, kenapa saat nilai agama dipertanyakan justru berkilah akal manusia itu terbatas tidak bisa menjangkau kehendak Tuhan maka cukup diimani saja?
Kenapa agama tidak mendorong akal dan pribadi manusia utk berkembang dan memecahkan segala persoalan.?
Bukankah sejarah membutikan seiring waktu akal manusia bisa menjawab segala misteri yg dulu nya dianggap God of the Gaps .
Apakah agamawan takut jika manusia bisa memecahkan segala persoalan maka dia tidak butuh pertolongan Tuhan lagi ?
Menurut ane Tuhan adalah perlambang Harapan, Sekalipun tanpa perlu memainkan narasi pahala (reward) dan azab (punishment). selama manusia masih percaya akan harapan yg lebih baik maka manusia akan tetap membutuhkan Tuhan.

Ok mari bahas artikel nya aja dr sisi sejarah, komen ane hanya berisi latar belakang bagaimana kemunduran intelektual masih dirasa hingga kini. Tidak perlu lah dihitung penerima nobel atau jumlah CEO global dari kalangan muslim

Kesimpulan utk diskusi ane rasa sudah ckup mengingat cukup banyak masukan dan kontribusi post dari agan2 semua. Utk pembahasan selanjutnya nanti bisa dibuat thread baru.



Mod @khiekhan thread ini bisa di gembok aja

Quote:Original Posted By tyrodinthor
back to topic, jadi akar kemunduran peradaban Islam itu bukan meninggalkan Al-Qur'an dan hadits, tapi karena gak ada lagi yang mengkaji Al-Qur'an dan hadits dengan kritis seperti yang telah dilakukan para 'ulama salaf dulu.

di jaman keemasan Islam dulu, semua sekte mau yang lurus kek, sesat kek, semuanya ada. semuanya saling mengkaji dan mengkritik. terbuka terhadap ilmu. makanya kita sering nemu di jaman salaf itu, banyak orang yang tadinya Syi'ah jadi Sunni, tadinya Sunni jadi Mu'tazilah, tadinya Mu'tazilah jadi Sunni Hanafi, tadinya Sunni Hanafi jadi Syi'ah Imami, tadinya Syi'ah Imami jadi Sunni Syafi'i, dstnya.

bahkan gak segan-segan di masa ulama salaf hidup dulu, ada orang yang aqidahnya Syi'ah Ja'fari tapi fiqh nya Sunni Hanafi, ada yang aqidahnya Qadari tapi fiqh nya Ushuli, ada yang aqidahnya Mu'tazili tapi fiqh nya Syafi'i (contohnya ya Ibnu Sa'ad penulis Thabaqatul-Kubra'). bahkan ada yang bangun aqidah sendiri, as well misalnya Ibnu Sina dengan aqidah Avicennaisme nya. zaman salaf adalah zaman liberal, terbuka, plural, toleran, sehingga zaman ini maju. itu berkat para khalifah Mu'tazilah yang berhasil menyeimbangkan pengaruh masing-masing sekte dan agama.

begitu peradaban ini mulai dipengaruhi satu sekte aja, maka itulah awal mula mundurnya peradaban ini. sekte Hanabilah inilah yang kemudian merusak citra Hanbali dan citra salaf, bahkan citra Islam sendiri yang terkenal terbuka dan plural. dari sekte inilah delusi "mengikuti salaf" tercipta, walau faktanya kita tahu sendiri, mereka tidak pernah sedikitpun mengikuti salaf.

ketok palu gak nih puh @mamorukun?


Quote:Original Posted By tyrodinthor
@mamorukun @TheJanise itu baru soal antar sekte lho, belum antar agama emoticon-Big Grin

pasti banyak yang gak tahu kan kalo Al-Manshur itu menunjuk ketua tim penerjemah kitab-kitab Hindu dan Buddha berbahasa Persia ke bahasa Arab yang seorang tokoh Manuwi (Manichaean) emoticon-Embarrassment

pasti banyak yang gak tahu kalo salah seorang rabi Yahudi terkenal yang membangun sekte Qara'it itu pernah berguru sama Abu Hanifah ketika sama-sama dipenjara emoticon-Embarrassment

pasti banyak yang gak tahu kan kalo ada seorang pendeta Kristen sekte Maronit, salah satu tokoh kesayangan khalifah Al-Mahdi yang bergabung di Ahlur-Ra'yi, duduk bersama para kalam Hanafi dan Maliki di sana emoticon-Embarrassment

pasti banyak yang gak tahu kan kalo ada seorang 'ulama salaf yang pernah berguru bahasa Arab sama seorang pendeta Kristen sekte Nestorian emoticon-Embarrassment

pasti banyak yang gak tahu kalo wazir (penasehat khalifah) di masa itu hanya dari satu keluarga Buddhis emoticon-Embarrassment

pasti banyak yang gak tahu kan kalo ada seorang sufi awal di masa salaf dulu yang menulis syarah tentang pemikiran filsuf Yunani seperti Aristoteles, Galen, dan Epicurus, lalu membelanya.

pasti banyak yang gak tahu kan kalo sebelum Ibnu Sina muncul, ilmu kedokteran dan pengobatan terbaik itu di tangan mayoritas tokoh Kristen, dan 5 khalifah selalu mempercayakan salah seorang dokter Kristen sebagai dokter pribadinya.

di jaman itu, debat 'aqidah dan filsafat antar tokoh sekte dan agama biasanya melalui tulisan. sedangkan debat oral biasanya hanya tentang hukum dan hanya dilakukan di saat digelarnya pengadilan Qadhi'al-Qudha'at, dan biasanya ditonton langsung sama khalifah dan terbuka oleh umum. tapi pernah ada debat 'aqidah yang dilakukan di Qadhi'al-Qudha'at, dan pasti banyak yang gak tahu juga kalo debat ini melibatkan salah seorang pendeta Nestorian dan menang debat, debatnya melawan khalifahnya malah emoticon-Big Grin

itu semua adalah kemajuan peradaban Islam, itu semua jamannya salaf.

jadi, yang mau kusampaikan, kemunduran peradaban Islam juga disebabkan oleh ketidaktahuan tentang kemajuan peradaban Islam dan tentang zamannya para salaf. ini tolong diketok palu juga emoticon-Leh Uga
Diubah oleh mamorukun
profile-picture
profile-picture
profile-picture
boedaghsengeti dan 86 lainnya memberi reputasi
81
Tampilkan isi Thread
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 4 dari 6
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 19:11
Dizaman apa Islam mencapai kejayaan dengan adanya jarak antara ulama dan penguasa?
Mulai dari zaman khulafaur rasyidin sepeninggal Rasul, penguasa nggak lepas dari ulama. Bahkan ulama itu sendiri memegang kekuasaan. Sampai kesultanan ottoman yang terakhir Mehmet IV pun masih didampingi ulama. Bukti sejarah, kekuasaan hanya dapat kokoh ketika didampingi ulama. Dan kesederhanaan pemimpin yang masih memegang fungsi2 syariah.
Yang bikin Islam merosot ini kan doktrin2 yahudi dan nashoro yang menyasar kepada anak2 muda. Mereka itu berabad2 lamanya nggak senang kalau pemuda Islam dekat dengan norma2 Islam.
Di surat Al Baqarah ayat 120 dijelasin dengan gamblang kondisi di akhir zaman. "Orang2 Yahudi dan Nashoro tidak akan senang hingga kamu mengikuti agama mereka". Bukan hanya agama mereka, tapi gaya mereka hidup, merusak agama, merusak adabul mufrod.
Dulu Yahudi dirusak, lalu setelahnya kekristenan dengan merusak ayat2nya, lalu terakhir Islam. Namun Alhamdulillah Allah menjaga Al Quran hingga akhir zaman.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dias456 dan 4 lainnya memberi reputasi
1 4
-3
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 19:14
btw

Kapan kita mendarat di Mars?
Kapan kita bikin matahari buatan?

Ahhhh, sudahlah
Memang ga menarik pertanyaan itu.
Lebih asik bahas cewe sekolah harus pake hijab, aparat ga bole pake celana cingkrang.
emoticon-Betty
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idiotane dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 19:17
well said TS
0 0
0
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 19:21
Sependapat ane dengan sista karena memang pada dsarnya yang namanya agama itu bukan untuk unsur politik melinkan untuk mslah diri sendiri sesuai syariat agama.
0 0
0
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 19:27
Quote:Jika fungsi iman dan akal itu check and balance, kenapa saat nilai agama dipertanyakan justru berkilah akal manusia itu terbatas tidak bisa menjangkau kehendak Tuhan maka cukup diimani saja?
Kenapa agama tidak mendorong akal dan pribadi manusia utk berkembang dan memecahkan segala persoalan.?


Ane tertarik ama agan sama ini, karena ane secara pribadi mikir juga gt, kenapa berlomba-lomba untuk iman tapi akal ditinggalkan.

Kayak jaman kuliah ada temen yg ngaji nya jago kalo g salah hafiz juga, tapi kewalahan di materi kuliah (ane teknik sipil).

Makanya ane agak aneh orang berlomba-lomba untuk hafiz Al Qur'an dengan tujuan kuliah ke-teknikan. Kecuali kalo hafiz Al Qur'an plus nilai sekolah diatas rata2 ane juga pasti bangga.
profile-picture
idiotane memberi reputasi
1 0
1
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 19:53
Jujur aja lah, kemerosotan intelektual ini ujung2nya ya dari akar ajarannya. Bahwa islam sudah pasti benar tentang dunia, semuanya sudah ditulis dalam quran, mempertanyakan ayat suci adalah dosa besar, dst...dst....

Ujung2nya ajaran islam hanya berpaku pada iman dan tidak berpaku pada akal.

Segala macam percobaan untuk memaknai quran dalam perspektif lain dipandang bid'ah. Ujung2nya islam seperti terperangkap di jaman kehidupan nabi. Sementara kehidupan jaman nabi sudah tidak relevan dengan jaman modern.

Contoh : jaman nabi marak perang, sehingga banyak tafsir ayat yg merujuk pada kondisi perang. Sayangnya tafsir itu masih dipakai di jaman modern yg notabene sudah tidak perang. Hasilnya, muncul jihaders ga jelas dengan halusinasi akut tetang memerangi kafir dan jadi bomber
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Adit.m.n dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 20:04
kbanyakan menggagumi masa kejayaann kata ane mah gann, sama kata ts terlalu orthodox bener, liat ajj tuh kaya acehh modelnyaa😅
profile-picture
profile-picture
idiotane dan jerrystreamer1 memberi reputasi
2 0
2
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 20:12
Dunia cmn sementara

Yg fenting funya kapling sorga
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan Sadhunter memberi reputasi
2 0
2
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 20:31
Ini lagi ngomongin apa ?
0 0
0
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 20:31
jejek dulu
0 0
0
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 20:40
Slogan "makmurkan masjid"


Pikir sendiri emoticon-Ngacir
0 0
0
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 20:46
Buih di lautan....ini beneran bakalan terjadi atau udah terjadi??
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan wen12691 memberi reputasi
2 0
2
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 21:13
Pencipta anugerahkan akal bagi manusia sebagai bekal berpikir kritis dari lingkungan serta merumuskan kemajuan dan agama diciptakan sebagai pegangan agar manusia tidak greedy dalam menggunakan akalnya.. sayangnya dlm meredam akal terkadang agama gunakan doktrinasi,dan cenderung digunakan utk menguasai..
Dahh cm mw komen itu ajah
0 0
0
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 21:31
gara2 janji surga jadi teroris
gara2 janji bidadari jadi teroris
coba gak ada janji, pasti gak ada yg jadi teroris


profile-picture
jerrystreamer1 memberi reputasi
1 0
1
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 21:43
Apa yang menjadi penyebab hancurnya masa peradaban emas Islam?

Pertama adalah kritik dari Al Ghazali yang menentang pengaruh dari filsafat Yunani yang mejunjung tinggi logika dalam penalaran ilmu dalam peradaban dunia Islam. Kendati Ibn Rushd bersikeras bahwa tidak ada kontradiksi antara filsafat Avicenna dan Al Farabi dengan ajaran agama, Al Ghazali tetap menyatakan "perang" terhadap pengaruh filsafat Yunani dan menginginkan pemurnian ajaran agama Islam. Sejak perubahan filosofi pemurnian itulah, Zaman Keemasan Islam mengalami kemunduran drastis, sehingga jarang sekali menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti pada abad 9-11 silam.
Kedua, faktor lain yang turut mendorong runtuhnya era emas ini adalah serbuan dari bangsa Mongol yang akhirnya meluluhlantakkan Baghdad bersama dengan perpustakaan sekaligus pusat ilmu pengetahuan paling lengkap saat itu, Bayt Al Hikmah. Penghancuran ini sering dianggap sebagai titik balik penurunan dunia Islam di bidang pengetahuan. Untungnya, ratusan ribu manuskrip dari Bayt Al Hikmah sempat diselamatkan oleh Al-Tusi ke Observatorium Maragheh, Azerbaijan yang kemudian menjadi sumber referensi dan inspirasi para ilmuwan Eropa pada zaman Renaissance dan Enlightenment.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idiotane dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Post ini telah dihapus oleh khiekhan
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 22:26
Quote:Original Posted By mamorukun
Sumber




Kata kemerosotan Intelektual di dunia Islam pada artikel diatas membuat ane tertarik karena ini yg menjadi keingintahuan ane sejak dulu

Waktu remaja ane sering dengar pernyataan dari pengajian atau guru agama "Kemunduran dunia Islam terjadi karena umat semakin jauh dari nilai2 agama nya". Namun semakin dewasa ane berpikir bahwa kesalehan itu baik namun tidak ada hubungannya dengan kemajuan atau kemunduran umat tersebut.
Menjadi Ortodok tidak masalah juga namun akan menjadi buruk jika setiap pertanyaan kritis ttg nilai agama selalu dibalas dg pemberian stigma sesat, fasik, penistaan atau lebih jauh lg dg kafir. Meski ane pribadi kata kafir sekarang ini tidak semenakutkan itu.
Mengapa perdebatan seputar agama hanya berkisar ajaran mana yg paling benar dan bukan pada ajaran mana yg bisa solutif dalam menjalani kehidupan?
Apakah menjadi makhluk yg paling benar akan menawarkan kesadaran utk menjadi makhluk yg lebih baik?

Ada jargon yg menyebutkan Iman tanpa akal itu bla bla bla, atau akal tanpa iman itu begini begini begini.
Jika fungsi iman dan akal itu check and balance, kenapa saat nilai agama dipertanyakan justru berkilah akal manusia itu terbatas tidak bisa menjangkau kehendak Tuhan maka cukup diimani saja?
Kenapa agama tidak mendorong akal dan pribadi manusia utk berkembang dan memecahkan segala persoalan.?
Bukankah sejarah membutikan seiring waktu akal manusia bisa menjawab segala misteri yg dulu nya dianggap God of the Gaps .
Apakah agamawan takut jika manusia bisa memecahkan segala persoalan maka dia tidak butuh pertolongan Tuhan lagi ?
Menurut ane Tuhan adalah perlambang Harapan, Sekalipun tanpa perlu memainkan narasi pahala (reward) dan azab (punishment). selama manusia masih percaya akan harapan yg lebih baik maka manusia akan tetap membutuhkan Tuhan.

Ok mari bahas artikel nya aja dr sisi sejarah, komen ane hanya berisi latar belakang bagaimana kemunduran intelektual masih dirasa hingga kini. Tidak perlu lah dihitung penerima nobel atau jumlah CEO global dari kalangan muslim


Ane sih maklum2 aja ya.. krn agama islam itu msh kurang pengalaman.. toh seiring jaman islam akan maju juga kok.. hanya cukup belajar dr sejarah..

Ane ambil contoh
- thn 1950an ada dokter bedah yg ber upaya mencari tahu sumber penyakit "Baby blue". Belio dibantu assistennya melakukan percobaan yg akhirnya menemukan tekhnik bedah by pass jantung bayi.
Waktu mau praktek kemanusia siapa yg menentang?
Gereja katholik krn mengganggap ikut campur dan merusak ciptaan YME yg sdh baik, serta meniadakan takdir.. hitungannya dosa besar, blm lagi blm ada yg bs menguji tekhnik tsb tidak akan mengakibatkan kematian pada bayi tsb.
Sang dokter maju terus.. hasilnya sukses.. dan menjadi trobosan dunia medis modern..
Disisi lain Gereja mulai melakukan intropesksi diri.. dan mulai melakukan review ttg metoda tafsir ajaran agamanya.

- sejak awal abad 19 tanda2 ledakan jumlah penduduk makin kuat, semua ahli kepe dudukan ahli pangan dibuat pusing untuk melihat masa depan dunia..
Mereka pada akhirnya menelurkan ide alat kontrasepsi..
Siapa yg menentang pertama? Gereja katholik..
Jauh sebelum umat islam yg pada saat itu masib sibuk dengan urusan konflik penjajahan dinasty Ottoman di jazirah arab / timur tengah, afrika dst.. ilmuwan udh berkinflik dng gereja masalah alat kontrasepsi.
Dan puncaknya gereja katolik pad thn 60an mengeluarkan fatwa haram alat konttasepsi buatan manusia, mengharamkan bayi tabung. Mengharamkan pengguguran kandungan.
Fatwa ini msh berlaku hingga kini.

Ane bs nulis gara2 gusdur pernah bilang, salah satu hal yg beliau pelajari dr agama katholik adalah KONSILI VATICAN II.
Dan dari sana ane mendapat pengetahuan konvlik gereja katholik dng dunia ilmu pengetahuan dan bagaimana Gereja harus bersikap.

Jd kalau islam indonesia bangga dng fatwa2 haram ttg alat kontrasepsi mulai dr thn 1980 s.d kini..
Ane sbg pihak netral krn ane kaum penghayat..
Tertawa terpingkal2.. Islam indonesia itu katak dalam tempurung.
Gereja katholik udah ber tempur melawan legalitas alat kontrasepsi buatan manusia itu udh 1 abad lebih, saat dunia islam msh ribut rebuta kekuasaan dan memberontak terhadap DINASTY OTTOMAN.

Dan hanya GusDur yg mau membuka diri..
makanya pikiran2 beliau melampaui generasi2 seangkatannya.
profile-picture
profile-picture
Sadhunter dan mamorukun memberi reputasi
2 0
2
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 22:52
Perkiraan sekitar puluhan tahun lagi islam terpuruk, lalu mulai bangkit, perang besar2an seluruh dunia, kematian besar2an kejadian besar dan aneh lalu damai dan mencapai puncak selama 2 generasi, benar2 total seluruh permukaan bumi hanya mengenal islam. Lalu perlahan menurun lagi dgn rentang berabad abad sampai habis total tak ada 1 pun muslim didunia, berzina pun bebas dijalanan, Sudah tak dikenal lg agama, tak ada lg tempat ibadah... hanya ada 1 orang didunia yg masih menyebut ALLAH..ALLAH... Tinggal menunggu orang ini mati....Dan tadaaa ...kiamat datang
0 0
0
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 23:10
PEMIKIRAN YG KELIRUemoticon-Blue Guy Bata (L)

ada tuh video di youtube yg menjelaskan mengapa sekarang islam mengalami kemunduran,inti dari video tsb menjelaskan

"jika jamaah sholat subuh di masjid jumlahnya sama bahkan lebih banyak daripada jamaah sholat maghrib maka umat islam bisa mengalahkan israel"














emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Diubah oleh amekachi
profile-picture
profile-picture
Sadhunter dan mamorukun memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Akar Krisis di Dunia Islam: Kemerosotan Intelektual Berkepanjangan
03-04-2021 23:10
gimana ga bodoh, dilarang berpikir. simpelnya baca al quran aja ga boleh. iya boleh sekedar baca, tapi tidak boleh mengartikan wkwkwk. cuma orang2 tertentu yang boleh mengartikan. lu memperdebatkan pun ga ada yg mau dengar bahkan bisa dibilang kafir lu, kecuali lu dah gabung golongannya.

di cerita nabi ibrahim aja dia mencari2 tuhan. tapi sekarang dikit2 divonis kafir ya jadi kafir aja sekalian daripada jadi zombie. hidup tapi goblok emoticon-Leh Uga

gua ga tau sih ini budaya indo apa budaya islam. dari pengalaman gua jaman sekolah dulu keliatan anak2nya males/takut bertanya. tapi juga ya dipergaulan pun keliatan kayanya orang bertanya tuh stigmanya berarti orangnya goblok wkwkwk. gua ga tau disemua tempat begini apa ngga, tapi di lingkungan gua kaya gitu. padahal dari pertanyaan2 itu pikiran manusia berkembang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 4 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia