Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
481
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eee4243dbf76452d12cf0e2/the-second-session-2---the-killing-rain--mystic---love---humanity
Aku membolak-balikkan badanku dikasur nan empuk. Dengan perasaan yang campur aduk. Mengingat bahwa dua jam sebelumnya aku masih erat memeluk Rhea di restoran. --- “Rhea.. boleh aku memelukmu?” tanyaku dengan sedikit malu. Kami sudah menyelesaikan makan malam dan sudah waktunya Rhea pulang ke apartemennya. Sedikit pelukan sebelum ia beranjak pergi mungkin akan terasa menyenangkan.
Lapor Hansip
21-06-2020 00:07

The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity

Past Hot Thread
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
Note from Author
Salam! Gue ucapin banyak terima kasih buat yang masih melanjutkan baca kisah tentang Danang dan Rhea. Sorry banget untuk dua chapter awal sempat gue masukin di The Second yang pertama. Soalnya waktu itu gue belum sempat bikin cover dll, hehe...

Nah berhubung sekarang dah sempat bikin cover, akhirnya gue bisa secara resmi memboyong The Second – Session 2 ke trit baru. Session kedua ini gue cukup lama nyari inspirasinya. Soalnya gue gak mau terjebak kembali menyamai alur cerita lama, jadi terpaksa nyari sesuatu yang rada-rada shocking. Harus cukup heboh untuk bisa membawa nuansa baru ke cerita Danang dan Rhea ini.

Apa itu?
Ya dengan ada Killing Rain.
Apa itu Killing Rain?
Ah ente kebanyakan nanya nih.. hehe.. Baca aja di tiga chapter awal. Yang jelas di cerita kali ini, tetap ada nuansa magis dengan adanya sosok Wulan (ternyata dulu pernah jadi pacarnya Danang lhooo... Haaaa?! Kok bisaaa.....).
Tetap ada romansa full of love dengan hadirnya Rhea.
Tetap ada unsur horror karena adanya Emon. Lho? Maaf salah. Maksudnya ada unsur komed dengan adanya Emon. Yaa.. kalau ente bisa liat mukanya Emon, emang jadi komedi seram sih.. wkwkwkw..
Dan ditambah lagi ada tokoh baru yang kemaren hanya cameo sekarang jadi bakal sering muncul. Siapakah dia??
Jeng jeng..
Upin Ipin!
Haaaaa???
Ya bukanlah!
Tapii... Yoga! Si anak indigo!
Tau lah kalo indigo gini senengnya apa.. liat demit dan kawan-kawannya! Hehehe..
So! Siap-siap ngerasain manis asem asin di cerita ini!

Akhirul kalam,
Selamat ‘menyaksikan’ yaa!
Ruli Amirullah


Bagi yang belum baca The Second Session 1.. klik dibawah ini yaa
The Second Session 1 - Jadikan Aku yang Kedua


The Second
Session 2 – The Killing Rain

Chapter 1 - Back to the Past


Index
Chapter 2 - Live From New York
Chapter 3 - The Killing Rain
Chapter 4 - Death Experience
Chapter 5 - Kesurupan
Chapter 6 - Mata dibalas Mata
Chapter 7 - Chaos
Chapter 8 - Contingency Plan
Chapter 9 - Kemelut di Tengah Kemelut
Chapter 10 - Please Welcome, Khamaya!
Chapter 11 - Mengundi Nasib
Chapter 12 - Vision
Chapter 13 - First Rain
Chapter 14 - Between Dream and Rhea
Chapter 15 - Dilema
Chapter 16 - Ready to Take Off
Chapter 17 - Melayang di Tengah Maut
Chapter 18 - Walking in Dream
Chapter 19 - In The Middle of The War
Chapter 20 - Missing
Chapter 21 - Yoga
Chapter 22 - Sleeping with The Enemy
Chapter 23 - Who is Mya?
Chapter 24 – I Miss You Rhea
Chapter 25 - Telepati
Chapter 26 - Next Level of Telephaty
Diubah oleh abangruli
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 25 lainnya memberi reputasi
22
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 5 dari 5
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
01-02-2021 21:33
Satu purnama berlalu, muncullah penyambung cerita....emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
abangruli dan rinandya memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
01-02-2021 22:55
Akhirnya update jg setelah nunggu sekian lama
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abangruli dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
02-02-2021 06:22
Emon nya mana bang ruli.... Dah kangen banget ne emoticon-Belo
profile-picture
profile-picture
abangruli dan senja87 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
02-02-2021 06:56
Asyik nich bs telepati.....
Siapa yg menculik rhea.....???!!
profile-picture
profile-picture
abangruli dan rinandya memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
19-02-2021 14:08
I miss u bang Rulli..... masih belum ada tanda tanda kemunculan.... emoticon-Bingung
Diubah oleh key.99
profile-picture
profile-picture
abangruli dan rinandya memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
20-02-2021 00:00
abang ruli yg sering komen di thread gw ternyata punya thread sendiri
Diubah oleh vigojinggo
profile-picture
abangruli memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
08-03-2021 20:56
Chapter 25 – Telepati

“Rhea! Kamu kenapa??” tanyaku mulai panik. Bahkan dari telepati seperti ini aku baru sadar bahwa sebenarnya ada aura takut dari suara Rhea.

“Aku gak bisa gerak, tangan dan kaki terikat…”

“Hah? Diiket?? Diiket siapa?”

“Gak tau mas, sejak aku bangun aku udah diiket kayak gini…”

Perutku mendadak mules membayangkan hal-hal yang sangat tidak ingin aku bayangkan terjadi pada Rhea, “Tapi.. kamu…” pertanyaanku mengambang dan lenyap ditelan angin. Tak sanggup kulanjutkan

“I think nothing happen to me…” jawab Rhea. Dia tahu apa yang aku pikirkan. Aku lupa kalau aku sedang bicara dengan hati. Percuma aku menghilangkan kalimat berikutnya, karena saat ini Rhea bisa mendengar dan mengetahui apapun yang sedang aku pikirkan.

“Gimana kamu bisa begitu yakin?”

“Gak tau juga sih. Perasaan aku aja, soalnya bajuku aja masih sama persis dengan yang aku kenakan saat naik pesawat. Mungkin malah kering di badanku. Luka di kaki ku aja masih ada, celanaku robek di bagian dengkul dan disitu ada luka yang masih belum kering..”

“Tapi kenapa kamu diiket sih?? Siapapun yang melakukan pasti niatnya jelek, pasti penjahat. Mana mungkin kamu diiket kalau gak ada niat jahat…

“Iyalah Mas… jahat itu pasti. Tapi apa sebabnya aku gak tau..”

“Emon gimana? Apa kamu tau kabar dia?”

“Emon? Gak tau mas, aku bangun udah kayak begini… aku belum ketemu satu orangpun..”

Aku menghela nafas panjang, bingung dengan keadaan yang ada, andai saja Rhea bisa kabur keluar…“Rhea.. coba kamu sekarang..”

Belum selesai aku bicara, tiba-tiba Rhea berkata dengan dengan cepat di benakku, “Mas udah dulu, ini aku denger ada orang di depan pintu, kayaknya mau masuk ke dalam. Aku pura-pura tidur dulu ya…”

“Eh.. Rhea jangan putus koneksi…” aku tak sempat menemukan padanan kata yang tepat untuk percakapan telepati yang sedang aku lakukan saat ini. Jadi terpaksa aku gunakan kata-kata koneksi, “kamu merem aja tapi jangan putus koneksi ama aku. Mereka kan gak akan tau kalo kamu lagi bicara ama aku..”

“Oiya ya.. oke..”

Suasana hening, aku tak mendengar suara apapun, “Rhea kamu masih disanakah?”

“Iya mas… bentar mas.. ini pintunya lagi mau dibuka. Aku denger suara kunci..”

Ritme detak jantungku meningkat dengan pesat. Aku tak bisa mendengar suara pintu, yang aku dengar hanyalah suara Rhea. Suara telepati ini hanya menyambungkan antar hati. Heart to heart only. Suara selain hati tidak akan bisa didengar lawan bicara.

“Gimana Rhea? Ada siapa disana??”

“Gak tau mas.. aku gak berani buka mata… aku takut mas.. dia lagi mendekat..” bisik hati Rhea. Aku yang mendengarnya menjadi semakin panic. Dia? Dia itu siapa? Laki kah? Perempuan kah? Arab kah? Bule kah?

“Coba ngintip aja dikit..” pintaku pada Rhea. Aku sungguh penasaran ingin tahu siapa yang berbuat jahat pada Rhea. Dua detik, tiga detik hingga lima detik tak ada suara dari Rhea, “Rhea.. Rhea…”

Hening. Keheningan yang sangat menyiksa

“Rheaaaaaaa…….” jeritku

Aku membuka mata dan bagai orang kesurupan menatap nyalang ke sekeliling ruangan. Entah apa yang aku cari. Aku sendiri tak bisa mengetahui dengan jelas apa mauku. Sadar tak ada gunanya aku membuka mata, aku kembali memejamkan mata. Mencoba mendengar suara-suara di dalam benak. Nihil. Aku hanya mendengar keheningan yang dalam.

“Ya Tuhan.. tolong sambungkan aku kembali dengan Rhea” pintaku dalam hati. Aku masih belum paham bagaimana cara kerjanya telepati. How it works? Bagaimana cara menyambungkan kembali koneksi yang terputus? Menyebalkan, jerit hatiku. Aku seperti menjadi orang dari jaman batu sedang bingung menatap smartphone. Kembali mengiba pada Tuhan adalah satu-satunya cara.

10 menit dalam kekhawatiran ternyata bagai 10 jam yang menyiksa. Aku terus pejamkan mata, menanti panggilan telepati dari Rhea. Dan sepanjang 10 menit itu pula aku terus berdoa, berharap dan memohon. Hingga akhirya aku kembali mendengar suara Rhea, “Mas… Mas Danang…”

Ya Rabb… ingin rasanya menangis kembali mendengar suara Rhea, “Iya.. kamu gimana? Baik-baik aja kah??”

“Baik Mas.. baik banget malah… ternyata orang yang masuk tadi itu.. hayo tebak mas..” Tanya Rhea dengan nada yang riang. Aku ternganga, ini aku lagi hampir meledak karena khawatir ternyata yang dikhawatirkan malah asyik tertawa. Eh tapi bukankah aku harusnya bersyukur mendengar suara Rhea yang tak lagi ada takut-takutnya.

“Alhamdulillah kamu baek-baek aja.. siapa tadi yang masuk??”

“Tebak Mas…” walau tak tertawa tapi dengan sambungan telepati ini aku bisa merasakan aura tertawa dalam suara Rhea. Seolah tawa itu menjadi music latar dalam kata-katanya.
“Entahlah… upin ipin mungkin?” jawabku asal. Aku sungguh enggan bercanda sesaat setelah hatiku amat lelah memikirkan Rhea.

“Hahaha… ayolah…masa Upin Ipin…”

Ini mulai sedikit menyebalkan. Cinta sih tapi menyebalkan juga jadinya kalo begini, “Gak tau ah, ayo cepetan kasih tau…”

“Emon!! Yang masuk tadi itu Emon! Ini dia lagi sama aku sekarang..’

‘Lha Emon???” ini kejutan lagi. Untungnya kejutan yang menyenangkan juga, “Mana aku mau bicara…”

“Ealah.. emang ini sambungan telepon mas.. hihi.. Cuma kita berdua yang bisa begini..”

Aku menyadari ketololanku, tapi wajar mengingat baru pertama kali main telepati, “Lha terus kenapa kaki dan tangan kamu diiket??”

“Ini udah dilepas, jadi kata Emon, aku sempat kayak kesurupan waktu pingsan.. “

“Hah.. kesurupan gimana?”

“Iya.. aku tuh katanya mukul-mukul kepalaku sendiri. Sempat juga loncat-loncat gak karuan mau jedot-jedotin kepala ke tembok. Makanya akhirnya di iket..”

“Ih serem amat…. Kesurupan apa?” tanyaku penasaran. Mendadak aku teringat ucapan Yoga. Jangan-jangan benar yang dibilang Yoga tentang Rhea

“Yoga itu siapa? Dia bilang apa?” tiba-tiba Rhea mengubah topic pembicaraan. Aku terkejut luar biasa. Seperti orang yang sedang ngebut 120km/jam mendadak diajak banting setir ke kanan. Atau lagi naik jet coaster yang lagi turun menghujam bumi dan mendadak belok dengan kecepatan tinggi. Mual.

“Kamu kok tau?”

“Tau apa?”

“Tentang Yoga…” tanyaku dengan nada mengambang karena perlahan menyadari sesuatu. Anjriiitt.. ini pasti karena sambungan telepati yang sedang aku lakukan. Jadi tak ada filter dalam pembicaraan kami. Semua yang aku pikirkan langsung terdengar oleh Rhea.

“Nah itu jawabannya, what you think is what you say…” jawabnya jenaka. Duh.. sebagai lelaki dengan ribuan pemikiran aku jadi canggung dengan komunikasi model begini. Masa kalo aku mikir yang sedikit ‘aneh’ dia juga bakal tau?

“Hahaha…. Jadi gak bisa bo’ong ya mas..?! makanya jangan mesum…”

Au ah! Menyebalkan.

“Siapa itu Yoga Mas? Dia bilang apa tentang aku?”

Aku terdiam memikirkan ribuan cara enak untuk menjawabnya. Tapi lagi-lagi aku lupa… Makin lama aku berpikir berarti makin banyak yang aku ceritakan kepada Rhea

“Dan mas percaya pada ucapan dia?” Tanya Rhea lagi, padahal aku merasa tak bilang apa-apa. Ini sungguh menyedihkan. Suara Rhea terdengar dingin, seperti tiupan angin di musim dingin.

“You know what I thinking… gak perlu aku jawabkan?” tanyaku pasrah, andai aku memang ada keraguan, tapi prosentase tidak percaya jauh lebih besar, “lebih banyakan gak percayanya kan?”

“Tapi ada percayanya kan?” buru Rhea lagi, seperti massa sedang mengejar maling motor

Ini khas wanita sekali. Aku menarik nafas panjang. Okelah gak masalah, lagian aku mencintai Rhea sepenuh hati. I love you so much Rhea..,“Jadi gini Rhea..”

“Cukup..” putus Rhea di awal aku ingin menjelaskan, “I love you, too…”

Anjrit. Aku meleleh lagi

[Bersambung]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
omie073 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
09-03-2021 07:01
sedikit lega mendengar Emon dan Rhea masih baik baik saja...... emoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol
profile-picture
abangruli memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
09-03-2021 21:39
Akhirnya..


Emon & rhea selamat....
profile-picture
abangruli memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
10-03-2021 05:57
dari sekian puluh purnama akhirnya update juga... seneng juga akhirnya Rhea selamat..UWUemoticon-Cendol Gan
profile-picture
abangruli memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
06-04-2021 21:40
Chapter 26 – Next Level of Telepathy

“Cukup..” putus Rhea di awal aku ingin menjelaskan, “I love you, too…”

Anjrit. Aku meleleh lagi

“Rhea…. Aku merindukanmu.. “ ujarku dalam hati. Mendadak saja aku ingin bernyanyi, tentang keabadian cinta. Lagu lama yang pernah begitu membekas dihati.

Aku merinduuuu
Ku yakin kau tahu
Tanpa batas waktu…

Ku terpaku

Aku meminta
Walau tanpa kataaa
Cinta berupaya

Engkau jauh dimata
Tapi dekat di doa..
Aku merindukanmu..


Terdengar suara tawa Rhea, “Lagu itu… lagu lama ya.. “

“Iya, kamu tau?”

“Pernah denger, coba kamu nyanyi lagi…” pintanya

Aku bernyanyi lagi, dengan mata terpejam, dari awal hingga akhir. Dari hati, hati yang terdalam… langsung ke hatinya Rhea. Dengan rindu yang begitu memuncak. Dan dalam kegelapan setiap nada bagai cahaya bintang yang menari di langit malam.

Tiba-tiba aku merasakan tanganku digenggam dengan lembut.

“Sssst… teruslah menyanyi mas.. jangan berhenti..” bisik suara dari hadapanku. Hanya suara tapi tanpa rupa. Aku bingung apa yang terjadi, tapi aku tak banyak tanya dan melanjutkan bernyanyi

Aku meminta
Walau tanpa kata
Cinta berupaya


Genggaman itu terasa semakin nyata, bahkan kini terasa tangaku terangkat. Posisi berdansa. Aku merasakan posisi berdansa.

“Terus mas, tetap nyanyi dengan hati, dengan rasa rindu yang luar biasa. Ini sepertinya kemampuan telepati kita sedang selangkah meningkat .. mas gak usah bicara, nyanyi terus..” bisik Rhea.

Menyenangkan sekali. Kini aku tak hanya bisa mendengar suaranya tapi juga mulai merasakan sentuhan Rhea. Ini rasanya menyenangkan!

Engkau jauh dimataaaa
Tapi de….


PLAK!!

Dalam hitungan seperkian detik aku merasakan panas di pipi, dan sepersekian detik kemudian tubuhku terasa melayang, dan seperkian detik kemudian rasa sakit menjalar di sekujur tubuhku diiringi suara terjerembab yang keras.

GEDUBRAAAAK!!!

Anjaaaay! Aku membuka mata dengan cepat. Siapa yang kehilangan otaknya maen pukul seenaknya? Sosok perawat berkebangsaan India berbadan tegap hadir didepanku dengan wajahnya yang terlihat tegang. Aku bisa melihat dengan jelas telapak tanganya yang besar. Gilee.. pantas aku merasa sakit luar biasa, pantas aku sampai terpelanting ke lantai, dimensi tangan yang menamparku benar-benar luar biasa.

“Why???” jeritku, kupegang pipiku yang kini terasa panas membara. Belum lagi kepalaku yang terasa senut senut gara-gara menghantam lantai.

“You were….you…” jawabnya terengah-engah. Kalau dilihat, sosok dihadapanku mirip tokoh uncle Muthu di serial Upin Ipin, “You were possessed!!”

Ebused, aku dibilang kesurupan, “Noo… I just sing a song!!”

“That was a song???” tanyanya heran, “Sound like you said something scary!”

Sambar geledek tuh orang. Udah nampar, ngeledek pula. Kalau badannya sedikit lebih kecil mungkin aku balas gampar. Sayangnya aku lagi terpuruk dilantai. Dengan susah payah aku menggapai pinggir kasur dan berupaya bangkit, “Woy tolongin gue napa??”

“What??”

“Help me!! Please HELP ME!!” seruku kesal. Untung dengan sigap ia menarik badanku dan mendudukkan aku ke kasur.

“What happened? Why you come??” tanyaku jutek. Sebal dengan kondisi dadakan yang membuyarkan komunikasiku dengan Rhea.

“Don’t you hear that??”

Aku terdiam dan baru sadar bahwa ada suara sirine yang meraung. Wah, kenapa aku tadi gak dengar ya? Mungkin karena sedang bertelepati dengan Rhea, “So what? Practice huh?”

Wajah India itu “No no no… this is real. They will come…”

“Who?? Soldier?? Iraq??” eh kok jadi nanya Iraq? Itu kasus jaman kapan? Ngapain aku bahas lagi. Rasanya benturan kepalaku sedikit berdampak pada kepintaranku. Sebenarnya ada apa ya?

“Meteor!!!” terlihat mukanya sangat kesal ketika menjawab itu.

“Oh My God!!” kali ini aku yang menjerit. Bayangan hujan meteor saat lepas landas dari bandara Maroko langsung menguak kembali ingatanku. Ngeri. Saat itu mengerikan sekali. Rasanya nyawaku sudah digenggam oleh malaikat maut saat itu, “So what we have to do??” tanyaku panik

“Run!! Run to basement!” jawabnya sambil ngacir. Tubuh besarnya terlihat begitu ringan saat melarikan diri. Ajib. Aku ditinggal sendiri.

Dengan rasa takut yang ada aku mendadak tak lagi merasakan sakit. Aku meloncat dari kasur dan segera berlari juga. Kubuka pintu kamar dan menyaksikan beberapa orang berlari menuju ke arah kananku. Karena tak tahu arah dan tujuan, akupun mengikuti aliran yang ada. Wait. Eh sebentar. Bagaimana dengan Rhea? Apa dia tahu akan ada hujan meteor sesaat lagi? Gimana cara menghubungi Rhea? Sambil merem kali ya? Dengan terus berlari aku kembali memejamkan mata dan mencoba mencari frekuensi untuk bisa berkomunikasi lagi dengan Rhea. Ayo Rhea, bicaralah padaku, Rhea… Rhe….

GEDUBRAKK…

Aku kembali jatuh berguling-guling. Anjrit. Kali ini karena menabrak orang lain yang juga sedang berlari. Aku membuka mata dan melihat seorang lelaki berkebangsaan Arab sedang tersungkur di lantai.

“Are you crazy??? Open your eyes!!” makinya murka padaku. Ia segera bangkit dan kembali berlari menyusuri selasar.

Ini aku yang salah memang tapi tak sempatku terucap maaf. Beberapa orang berlari melewati diriku, “Sir are you okay?” tanya seorang pemuda yang menghentikan larinya, tanganya terulur hendak menggapaiku.

“It’s okay.. thanks” jawabku sambil menyuruhnya terus berlari. Aku berdiri merapat di tembok agar tak tertabrak orang lain. Kupejamkan mata kembali dan mencoba mencari Rhea

Rheaaaa…. Rheaaa……….

Nihil tak ada suara jawaban. Mungkin karena aku tak konsentrasi. Gimana mau focus kalau selasar penuh dengan teriakan-teriakan dari berbagai bahasa. Aku bingung. Ingin berlari juga, tapi bagaimana dengan Rhea? Akhirnya aku memutuskan masuk ke salah satu kamar yang paling dekat. Pintunya sudah terbuka dan tak ada siapapun didalam. Dengan cepat kututup pintu dan memejamkan mata untuk focus.

Rheaa… Rheaaaa….

….

“Mas Danang!”

Aha! “Rhea cepat sembunyi! Sebentar lagi akan ada hujan meteor!!” jeritku. Sesungguhnya aku cukup bicara lewat benak, tapi dalam kondisi panik gini lebih afdol kalo tereak langsung

“Aku udah ngumpet mas! Bareng Emon dan keluarga Arab disini… mas dimana?”

Lho kok dah ngumpet duluan? “Kamu kok tau?”

“Iya ada suara sirine barusan.. mas udah ngumpet kah??”

“Belum…”

“Cepetan ngumpet masss!!”

Ealah. Sekarang aku yang harus menyelamatkan diri sendiri. Aku segera membuka mata dan berlari ke pintu sebelum suatu suara terdengar dari belakang, “Please…. Please help me…”

Aku menoleh kaget, aku kira kamar ini kosong. Sesosok nenek tua sedang meringkuk ke bawah ranjang dengan gemetar. Wajahnya menatapku dengan penuh rasa takut, “Don’t leave me alone…”

Aku bengong.
Aih.
Ada yang minta tolong disaat seperti ini. Perfect!

[Bersambung]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
07-04-2021 12:24
Perfect...!!! yang ditunggu akhirnya update juga......emoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol
profile-picture
abangruli memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
The Second Session 2 - The Killing Rain . Mystic - Love - Humanity
10-04-2021 11:03
Updatenya terlalu lamaemoticon-Bingung
profile-picture
abangruli memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 5 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
irasional-love
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia