Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
202
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cafc8572f568d4e05260a43/bisik-kematian-based-on-true-story
Cerita yang ada di sini adalah berdasarkan kisah nyata yang berhubungan dengan kematian. Percaya atau tidak, aku mengalami semua kejadian ini. Mungkin bagi kalian ini hal yang biasa, buatku ini mengerikan. Jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan cerita selanjutnya. Jangan lupa kasih cendol dan komentar juga ya. Mohon maaf kalau tidak sesuai bayangan kalian. ... K
Lapor Hansip
12-04-2019 06:05

Bisik Kematian (Based On True Story)

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Bisik Kematian (Based On True Story)
Sumber : pixabay.com


Cerita yang ada di sini adalah berdasarkan kisah nyata yang berhubungan dengan kematian. Percaya atau tidak, aku mengalami semua kejadian ini. Mungkin bagi kalian ini hal yang biasa, buatku ini mengerikan.

Jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan cerita selanjutnya. Jangan lupa kasih cendol dan komentar juga ya. Mohon maaf kalau tidak sesuai bayangan kalian.

...

Kami berdua di rumah, tentu saja tidak boleh ikut ke rumah sakit. Kabar mengejutkan itu datang dari keluarga ibu. Buliknya saat ini sedang berada di rumah sakit.

"Ibu pulang jam berapa?" tanyaku pada adik yang sedang asik nonton ftv kesukaannya.

"Mungkin sore, tadi nggak bilang apa-apa sih."

Aku memang belum di rumah ketika bapak ibu berangkat. Rumah terasa sepi, jadinya ikut nonton sama adik.

"Mbak," panggil Kemala.

"Masuk aja," teriak adikku tanpa mengalihkan perhatian.

Bukan hanya Kemala yang masuk rumah, ternyata ada Wanda dan juga Lydia. Mereka ikut bergabung dengan kami.

Sering kali orang salah menilai rumah kami. Penuh dengan anak gadis dan pintu yang berderet membuat orang mengira ini adalah kos-kosan. Padahal kami berkumpul karena semua orang tua sibuk bekerja jadi lebih baik menghabiskan waktu di satu tempat.

Hari-hari kami seperti ini. Bermain bersama, nonton tv dengan heboh. Apa lagi kalau nonton tayangan vampir, hantu cina yang melompat-lompat.

Suara teriakan terdengar. Buru-buru tutup mata tapi masih ngintip dikit-dikit karena penasaran. Vampir buat kami tegang yang nonton.

Menjelang sore, teman-teman berpamitan mau mandi. Sebentar lagi orang tua mereka datang. Kalau hari-hari normal sih orang tua kami yang pulang duluan, tapi ini tidak seperti biasanya.

"Sudah jam segini kok belum pulang juga ya, Mbak?"

"Mungkin nggak ada yang gantiin nunggu." jawabku.

"Makan dulu aja, yuk."

Belum juga beranjak untuk mengambil makanan, telepon yang ada di ruang keluarga berdering. Adikku melesat mengangkat telepon mendahului. Pasti sudah kangen banget sama ibu.

"Ibu kapan pulang?"

"..."

"Oke," balasnya sebelum menutup panggilan.

Adik menatap lesu ke arahku. "Ibu pulang malam, Mbah Lik dirawat di ICU. Nggak ada yang nungguin."

Aku maklum dengan tindakan ibu karena Mbah Lik yang sedang sakit sudah seperti orang tua kedua bagi beliau. Sejak dari kecil ibu sudah bersama keluarga Mbah Lik.

"Paling juga nggak lama lagi meninggal," ujarku tanpa bisa dicegah.

Bola mata adik membesar. "Mbak ini lho. Kalau ngomong dijaga. Gimana kalau keluarga Mbah Lik ada yang dengar? Pasti tersinggung. Masa nyumpahin cepet meninggal."

Aku tahu ini salah, tapi perkataan ini meloncat keluar tanpa bisa diperiksa. Aku bahkan tidak memikirkan hal itu. Memang terdengar keterlaluan. Mungkin harus menahan mulut baik-baik biar nggak terlontar kata-kata seperti itu lagi.

Dering telepon kembali terdengar. Adik mengangkatnya sambil masih memandang tajam diriku. Sudah seperti ibu memarahi anaknya saja.

"Apa? Iya, kami ke sana." Tubuh adik gemetaran ketika menutup telepon.

"Ada apa?" Kusentuh bahunya.

"Mbah Lik meninggal, kita harus segera ke rumahnya."

Aku tertegun, perkataan yang keluar ini benar-benar terjadi. Ini pasti hanya sebuah kebetulan semata.

-bersambung-

Jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan cerita selanjutnya. Kasih cendol dan komentar juga ya. Ini salah satu penyemangat TS buat update 😊
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 67 lainnya memberi reputasi
64
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 10 dari 10
Bisik Kematian (Based On True Story)
17-05-2020 20:47
wahh bau2nya ada yg mau meninggal lagi nih kalau Tia udah mimpi...
profile-picture
profile-picture
IztaLorie dan Cupu1971 memberi reputasi
1 1
0
Bisik Kematian (Based On True Story)
18-05-2020 05:18
Quote:Original Posted By jiyanq
Pembukaan yg suram...

Ini memang kisah yang suram.

Quote:Original Posted By yunie617
wahh bau2nya ada yg mau meninggal lagi nih kalau Tia udah mimpi...

Bau-Bau nya khas ya emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
yunie617 dan jiyanq memberi reputasi
2 0
2
Bisik Kematian (Based On True Story)
18-05-2020 06:51
Quote:Original Posted By jiyanq
Seru juga ternyata. Kayaknya ente lebih pas maen d genre horor deh, sis.


Sepertinya memang begitu. Cuma kadang ga tahan sama gangguannya yang bikin horor. Itu ada 1 lagi thread horor yang masih kugembok gara-gara belum siap lanjutin.
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Bisik Kematian (Based On True Story)
18-05-2020 14:10
Quote:Original Posted By jiyanq
Duuh, bikin jantungan ya?


Iya, bikin senam jantung aja.
0 0
0
Bisik Kematian (Based On True Story)
18-05-2020 15:15

(New) Bisik Kematian

Part 4 Duka Keluarganya Mas Vano




Langsung saja Tia melompat turun dari tempat tidur lalu menyambar selimut tebal yang masih terlipat rapi di kaki ranjang. Dia kemudian menggunakannya untuk mendorong air keluar menuju balkon lalu memeras selimut agar airnya berkurang.

Namun hujannya bukan makin reda malah semakin deras membuat punggung Tia sakit karena mengepel lantai terlalu lama. Kalau ini berlangsung lebih lama lagi, dia bakalan ambruk karena sudah tidak kuat. Rasanya juga semakin dingin karena terkena air terlalu lama. Apa ada kemungkinan terkena flu karena mimpi basah-basahan?

Untungnya mimpi itu segera berakhir karena Tia terbangun di dalam kamar asrama. Ini masih terlalu pagi, masih jam tiga pagi, tapi dia tetap memaksakan bangun sambil mengingat-ingat lagi mimpinya.

Tumben mengalami mimpi normal yang melibatkan ruangan lain, biasanya dia kecapekan karena mimpi dikejar-kejar oleh berbagai bentuk hantu. Tia berusaha berpikir jernih dan menganggap itu hanyalah bunga tidur lalu memutuskan kembali tidur.

Dua jam kemudian dia sudah kembali terbangun dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum yang lainnya bangun. Hari ini kuliah dimulai jam sembilan jadi mereka pasti bangun agak siang.

Dugaan Tia meleset karena ketika keluar dari kamar mandi, mereka bertiga sudah bangun dan merapikan tempat tidur lalu bergantian mandi tanpa banyak berkomentar. Tia sendiri lebih memilih untuk duduk di ranjang sambil mengecek gawai.

Beberapa pesan dari Mama langsung dibalas oleh Tia, sedangkan Papa sama sekali belum mengirim pesan. Mereka memang masih belum berkomunikasi sejak kejadian Lola datang ke rumah.

Perhatian Papa sepenuhnya tercurah untuk Lola yang masih berduka , tapi sempat mengajak debat mulut dan mengerjain Tia untuk kemudian berbuat seolah-olah dialah korban di depan Papa.

Mereka berempat turun ke ruang makan lalu lanjut ke belakang untuk melakukan tugas cuci piring sambil bersenda gurau. Hati yang gembira tentu membuat pekerjaan jadi terasa lebih ringan.

Lola bersandar di sudut dapur sambil memperhatikan gerakan keempat orang yang ada di hadapannya. “Kalian mau dengar kabar menarik nggak?”

Lastri melirik Lola kemudian kembali memusatkan perhatian pada piring yang dicuci, sedangkan yang lain memilih untuk mengacuhkannya.

“Yakin nggak mau dengar? Nyesel lho,” ucapnya sambil memperhatikan kuku jari yang dirawat dengan baik.

“Udah deh nggak usah gangguin. Pergi sana!” hardik Erina merasa terganggu dengan kehadiran Lola.

Namun cewek itu tak juga beranjak, malah berjalan mendekat. Berbisik di dekat telinga Lastri. “Ayahnya Mas Vano yang tinggal di depan asrama meninggal dunia.”

“Bohong! Pasti bohong kan? Kemarin beliau terlihat sehat-sehat saja,” ucap Mimi yang ikut mendengar bisikan Lola.

“Ya, udah kalau nggak percaya. Aku juga nggak rugi, kalian nanti yang rugi.” Dia lalu melenggang pergi sambil tak lupa menggoyang bokong dengan berlebihan untuk mengejek.

Tia nggak habis pikir dengan Lola, bagaimana dia bisa membicarakan kematian seseorang dengan begitu santai dan terkesan bercanda padahal dia sendiri juga baru saja mengalami sedihnya ditinggal oleh orang terkasih. Apa dia sudah tidak punya perasaan?

Lastri meremas spon kuat-kuat lalu melemparkannya kembali ke tempat semula, pelan-pelan menaruh piring yang masih di pegangnya lalu mencuci tangan.

“Aku akan memastikannya.” Lastri mengeringkan tangan lalu berlari keluar.

“Aku ikut,” teriak Mimi sambil membasuh tangan.

Erina dan Tia tidak mempunyai pilihan lain selain menyelesaikan tugas sampai akhir karena memang ini tanggung jawab mereka. Setelah selesai mereka langsung berlari menuju rumah depan asrama.

Tia memperlambat lari lalu berjalan santai ketika memasuki rumah yang sudah ramai pelayat, beberapa diantaranya adalah teman-teman mereka sendiri karena Bu Marni merupakan tetangga yang dermawan karena sering bagi-bagi cemilan pada para mahasiswi.

Tia menemukan Lastri dan Mimi sedang memeluk Bu Marni dari sisi kanan dan kirinya untuk berbagi simpati. Dia menunggu kedua temannya melepaskan pelukan lalu gantian memeluk Bu Marni sambil membisikkan ucapan bela sungkawa dan kata-kata untuk menguatkan beliau.

“Sebelumnya beliau baik-baik saja ketika Nak Lastri dan Nak Mimi ada di sini untuk berkunjung. Lalu beliau masuk ke kamar karena sudah mengantuk, padahal biasanya beliau selalu tidur lebih larut,” ucap Bu Marni ketika ada tetangga yang menanyakan penyebab kematian suaminya. Sesekali ucapannya terhenti karena isak tangis.

“Jam 02.50 pagi beliau masih sempat membangunkan saya dan minta tolong dibikinkan cokelat panas. Ketika saya masuk kamar, beliau sudah menutup mata. Saya pikir sudah tidur, tapi karena ingat beliau bilang ingin minum jadi saya bangunkan. Tapi, tapi, tapi beliau tak juga bangun. Saya langsung memanggil Vino yang langsung mengecek nadi. Karena tidak bisa merasakan denyut nadi Bapak maka dia langsung berlari ke kamar Ikhsan-kakaknya yang dokter untuk memastikan dugaannya.” Bu Marni kembali terisak dan membersit ingus dengan tisu yang diberikan oleh Lastri.

“Jam berapa beliau meninggal?” tanya Erina yang penasaran.

“Kata Ikhsan jam tiga pagi,” jawab beliau sebelum kembali tersedu-sedu.

Ucapan Bu Marni bagai petir yang menyambar, begitu mengejutkan bagi Tia. Jam tiga pagi bukannya itu waktu dia terbangun dari mimpi aneh. Apakah ini artinya mimpinya jadi kenyatan?

Hujan deras menggambarkan air mata yang tidak berhenti, sedangkan jumlah yang sangat banyak itu berarti tangis dari banyak orang karena total anggota keluarga Pak Anwar ada sembilan orang yang semuanya saat ini sedang menangis.

Rupanya Tia memang tidak pernah yang namanya bermimpi secara normal karena mimpi ini pun mempunyai arti yang begitu mengerikan. Tanpa sadar Tia memeluk dirinya sendiri. Kenapa kematian seolah mengirim pesan padanya agar dia mengetahuinya lebih awal. Apa maksud semua ini? Apa dia bakal lebih cepat meninggal?

...

Part Selanjutnya

Jangan lupa share cerita ini kalau kamu menyukainya. Biar lebih banyak lagi yang baca.


Indeks cerita bisa di klik di sini.
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
boredmother dan jiyanq memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Bisik Kematian (Based On True Story)
18-05-2020 20:21
wahhh semakin menarik, Tia jadi pembawa pesan kematian.. Mimpi memang ada yg sebagai firasat sist, apalagi klo mimpi"y d sepertiga malam.
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bisik Kematian (Based On True Story)
18-05-2020 20:50
Quote:Original Posted By jiyanq
Tia indigo?

Indigo nggak ya? Ya cuma sebatas itu sih.

Quote:Original Posted By yunie617
wahhh semakin menarik, Tia jadi pembawa pesan kematian.. Mimpi memang ada yg sebagai firasat sist, apalagi klo mimpi"y d sepertiga malam.

Ini sih nggak cuma mimpi malam. Sewaktu-waktu mimpinya. Tidur siang aja suka mimpi juga emoticon-Cape d...
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Bisik Kematian (Based On True Story)
19-05-2020 04:50
Quote:Original Posted By yunie617
wahhh... serem juga klo gtu


Iya, nggak bisa tidur nyenyak lah
profile-picture
yunie617 memberi reputasi
1 0
1
Bisik Kematian (Based On True Story)
19-05-2020 18:03

(New) Bisik Kematian

Part 5 Tia Juga Bisa Kejam


...

Seminggu berlalu sejak kejadian mimpi buruk itu, Lastri dan Mimi menjadi semakin akrab dengan keluarga bu Marni sedangkan Tia dan Erina juga semakin sering menghabiskan waktu bersama.

Berhubung kuliah sedang tidak padat jadwalnya jadi mereka bisa bersenang-senang. Kali ini mereka mau nonton sebuah film action di bioskop. Mereka janjian bertemu dengan teman-teman dekat Erina di lantai dasar SGM.

Tia tersenyum ketika keempat cowok teman Erina mendekat dan mereka melakukan jabat tangan unik. Betapa menyenangkan punya teman dekat cowok yang memperlakukan diri kita dengan baik. Tia tentu sja tidak memiliki pengalaman itu karena selama ini hanya memiliki teman dekat cewek saja.

“Kenalkan ini Tia.”

“Dio. Tumben Erina punya teman yang manis gini,” puji Dio.

Tia tersipu mendengar pujian yang dilontarkan bergantian oleh mereka berempat, tapi dia merasa diperhatikan berlebihan oleh Dio.

Cowok itu bahkan berjalan di belakangnya agar dapat mengawal Tia dan Erina yang diapit di tengah. Seperti putri yang dilindungi oleh para bodyguard.

"Jangan geer, dia bilang gitu karena biasanya temanku cowok semua. Baru kali ini aku bawa teman cewek buat ketemuan sama mereka," bisik Erina.

“Aku sekarang mengerti kenapa kamu sudah dapat cowok,” bisik Tia begitu pelan hingga hanya dapat didengar oleh Erina.

Erina terkikik lalu ikut berbisik. “Sebentar lagi kamu bakal merasakan apa yang kurasakan. Mereka juga bakal melakukan hal yang sama padamu. Lihat saja nanti.” Erina mengedip sementara Tia tiba-tiba menghentikan langkah dengan mulut terbuka karena tidak bisa membayangkan bakal dikawal oleh cowok-cowok ini.

Dio yang berada di belakang Tia tentu saja tidak berhasil mengerem langkah dengan cepat hingga mengakibatkan mereka bertabrakan.

“Biasanya kalau jodoh bakal sering tabrakan seperti ini lho,” ujar Dio sambil mengerling.

Tia tertawa garing lalu segera menyusul Erina yang menunggu beberapa langkah di depannya.

“Kenapa aku merasa Dio aneh ya.”

“Mungkin dia naksir kamu,” goda Erina.

Tia kembali tertawa garing lalu mengamit lengan Erina agar dapat berjalan lebih cepat. Barisan itu kembali rapi seperti semula.

Mereka berdua mendapatkan tatapan iri dari para cewek yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Iri karena ada empat cowok cakep yang mengawal.
Namun bukan hanya cewek-cewek yang memandang mereka. Tak jarang ada cowok yang terlihat penasaran tapi tak berani mendekat untuk berkenalan karena sudah takut duluan melihat badan Gading dan Wasis yang terlihat sangar ketika mendapati ada cowok yang menatap terlalu lama.

Ternyata punya teman cowok memang mengasikkan. Tia sangat menikmati acara hari ini. Lastri dan Mimi sampai heran melihat Tia banyak tersenyum. Namun mereka mencibir tak percaya ketika Tia bercerita tentang hari yang dialaminya.

“Biasa aja keles, kalau nonton sama Mas Vano baru luar biasa.” Lastri yang belum pernah melihat teman-temannya Erina merasa tidak percaya.

“Pasti nggak ada yang secakep Mas Vano, iyakan?” tambah Mimi.

“Ah, siapa bilang nggak ada yang cakep. Mereka semua cakep, terutama Dio. Iya nggak, Tia?” Erina menyenggol bahu Tia.

“Jangan bilang kalau kamu naksir Dio,” selidik Lastri.

“Menurutku Dio itu imut,tapi aku lebih suka cowok yang lebih terlihat dewasa dan juga lebih tinggi.”

“Seperti Vincent?” tanya Lastri sambil menggoyangkan gawai yang berbunyi dan menampilkan nama Vincent.

Langsung saja gawai itu menjadi barang yang diperebutkan oleh mereka berempat. Lastri mengoperkan pada Erina, Erina pada Mimi, lalu kembali ke Lastri yang langsung disambar oleh Tia yang mukanya sudah memerah.

Tia menjawab panggilan itu sambil berkelit dari Mimi yang hendak menangkapnya ketika dia mau pergi ke balkon. Erina menghentikan kedua temannya serta meminta mereka untuk memberi privasi pada Tia yang terlihat berbunga-bunga.

Sekarang Tia sudah lebih siap ketika kembali ke dalam kamar dan mendapati ketiga temannya sedang duduk berjajar di ranjang untuk menunggunya memberi penjelasan. Bahunya bergerak naik perlahan-lahan lalu turun dengan perlahan sebelum mulai menjelaskan.

“Itu tadi Vincent yang telepon.”

“Itu kami sudah tahu, terus?” pancing Mimi dengan tidak sabar.

“Pasti dia ngajak kamu kencan kan?” desak Lastri.

Wajah Tia memanas, rona merah pasti sudah merata ke seluruh wajah. Dia bahkan mengibas-kibaskan tangan di depan wajah untuk mengurangi efek panas.

“Aku benar, pasti itu yang terjadi. Omg, ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Vincent ngajak kencan seorang Tia, wow.” Lastri melompat bangun kemudian mengitari Tia sambil melompat kecil-kecil.

“Kapan kencannya? Janji ngasih tahu aku biar kamu dapat kudandani biar nggak terlalu polos,” pinta Lastri.

“Trus gimana dengan Dio?” tanya Mimi.

“Yang pasti dia bakal patah hati kalau tahu,” jawab Lastri mewakili Tia.

Namun Erina tidak ikut antusias seperti Lastri dan Mimi. Dahinya berkerut tanda tak setuju, tapi tidak bisa berkomentar apa-apa karena akan mengganggu kesenangan mereka.

Sebuah panggilan menyadarkan Erina. “Halo, gimana, Ko?”
Tia meletakkan jari telunjuk menyentuh bibir agar kedua temannya diam karena merasakan ada hal buruk yang sedang terjadi dan ini ada hubungannya dengan Dio. Entah apa sebabnya, tapi firasatnya pasti benar.

Erina buru-buru menyambar kunci motor ketika menutup panggilan dari Eko-salah satu teman dekatnya yang lebih pendiam. “Aku harus pergi dulu, Dio kecelakaan.”

“Aku ikut.” Tia sudah berdiri, tapi Erina menggeleng.

“Lebih baik aku sendiri saja. Ruangannya pasti penuh dengan teman-teman dekat kami.”

Tia terduduk dengan lemas di ranjang. Mengira kalau dia bisa masuk dalam lingkaran pertemanan Erina, ternyata dia tetap orang luar dan itu membuatnya kecewa.

Lastri dan Mimi sudah berpindah tempat untuk belajar sambil mendengarkan lagu dangdut kesukaan mereka. Ini berarti Tia tidak akan bisa langsung bicara dengan Erina tentang kondisi Dio karena dia bakal tidur lebih cepat. Pasti susah berusaha tetap bangun ketika lagu pengantar tidur mengalun mendayu-dayu.

Pagi harinya Tia tidak juga bisa berbincang dengan Erina karena dia bersiap-siap berangkat lebih awal dan sarapan tanpa menunggu yang lain karena Vincent bakal menunggunya agar mereka dapat berangkat kuliah bersama-sama.

Ini hal yang konyol karena kampus mereka ada di antara asrama cowok dan cewek, jadi Vincent harus melewati kampus sebelum sampai di asrama cewek. Itu membuat gelembung bahagia di hati Tia membesar karena merasa diperhatikan.

Sepanjang hari ini dia bahkan lupa dengan teman-temannya yang lain karena terus berduaan dengan Vincent selama waktu senggangnya. Mereka bahkan makan siang di luar kampus.

Pulang kuliah pun Tia tidak bercakap-cakap dengan yang lain karena mereka sibuk mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing karena ini hari sabtu. Erina tentu saja langsung pulang tanpa mampir ke asrama, pasti sedang menuju ke rumah Dio.

Tia sudah tidak memikirkan tentang Erina dan teman-temannya karena kebersamaannya dengan Vincent membuatnya lupa segalanya.
Bagimana tidak lupa, cowok yang selama ini dikaguminya diam-diam ternyata juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya.

Mereka berdua sempat berkeliling kota untuk berkencan dan makan malam di angkringan, tentu saja sudah sepengetahuan Mama Tia agar beliau tidak khawatir ketika Tia pulang lebih malam.

Dari kejauhan Tia sudah dapat melihat Lola yang mondar-mandir di jalanan depan rumah, seolah-olah menanti kepulangannya. Itu jelas halusinasi saja karena tidak mungkin Lola terlihat tidak sabar untuk bertemu dengannya, saudara tirinya pasti menunggu Papa.

“Akhirnya datang juga.” Lola berlari mendekat ketika Vincent mematikan kunci motor.

“Mampir dulu ya, Cent,” pinta Lola.

Vincent tidak langsung menjawab melainkan memandang Tia dan Lola bergantian. “Kalian tetanggaan? Wah, nggak nyangka kalau kalian akur juga padahal kalau di kampus sudah seperti Tom dan Jerry saja.”

“Mampir dulu ya.” Lola meraih tangan Vincent lalu menggoyang-goyangkan untuk merayu.

Ada apa dengan nada suaranya yang tiba-tiba manja dan sok imut gitu, seperti artis Korea yang bergaya imut. Namun kali ini tidak terlihat menyenangkan buatnya.

Tia menepis tangan Lola dengan kasar. “Vincent nggak mampir, dia mau langsung pulang.”

Vincent tersenyum lalu mencubit pipi Tia dengan perlahan. “Pacarku gemesin kalau lagi cemburu gini.”

Tanpa bisa dicegah, pipi Tia langsung memerah. Bukan karena cubitan Vincent tapi karena pengakuan sebagai pacar membuatnya bangga.

“Aku pulang dulu ya, jangan lupa mimpiin aku.”

Serbuan rasa panik ketakutan membuat Tia hanya bisa melambaikan tangan dengan kaku ketika Vincent berlalu. Ini tidak boleh terjadi, Tia berharap dengan sangat untuk tidak memimpikan Vincent. Bahkan tidak untuk mimpi yang terlihat normal dan biasa saja karena Tia tahu kalau tidak ada yang biasa dalam mimpinya.

“Pacar apaan? Vincent pasti sudah kena jampi-jampimu sampai lebih tertarik pada cewek cebol dan biasa saja sepertimu. Harusnya dia denganku, pasti kami lebih serasi.” Lola memberikan tatapan mencela pada Tia.

Tia menghentakkan kaki ketika meninggalkan Lola, tapi cewek itu tidak berencana membuat Tia tenang karena terus mengikuti sambil terus berbicara.

“Masih nggak ngerti sama Vincent, kenapa bisa milih kamu? Jangan-jangan kamu cuma jadi bahan becandaan saja? Dia tu kan nggak pernah terlihat dekat sama kamu, kok tiba-tiba jadian?”

Tia berhenti lalu menatap tajam ke arah Lola yang terlihat salah tingkah. “Bukan urusanmu!”

“Tentu saja ini jadi urusanku, nggak rela kalau ada cowok keren yang jadian sama kamu.” Lola menghadang langkah Tia.

“Kenapa aku berasa dalam cerita Cinderela ya, bedanya tuh si saudara tiri nggak punya ibu dan saudara yang mendukung tapi masih pede gitu bully sendirian. Jangan salah ya, Cinderela yang ini nggak bakal segan-segan menjadi kejam untuk membela diri,” ancam Tia.

Suara tertawa sumbang keluar dari mulut tipis Lola. “Yakin bisa kejam? Pengecut sepertimu bisa kejam? Nggak bisa dipercaya, ini namanya lelucon.”

Tia tidak mau membahas lebih lanjut dan lebih memilih mengambil bantal, guling, dan juga selimutnya
.
“Kamu mau kemana?”

“Tidur sama Mama,” jawab Tia dengan singkat.

“Asik, aku jadi bisa menikmati kamar ini sendirian.” Lola menjatuhkan diri di atas ranjang dengan tangan terbuka lebar lalu menggerak-gerakkan ke atas dan ke bawah seperti orang yang membuat malaikat di salju.

Tia menghentikan langkahnya beberapa langkah sebelum pintu kamar karena kembali dapat melihat wanita berkebaya, tapi kali ini matanya memerah penuh amarah seperti hendak mencekik seseorang. Sudut bibir Tia terangkat sebentar lalu melanjutkan langkahnya.

“Silakan nikmati kamar ini, tapi jangan harap kamu bakal sendirian di sini karena ada wanita cantik yang mau menemanimu." Tia menunjuk sambil pura-pura takut ke arah hantu wanita berkebaya.

"Bu, jangan sungkan-sungkan kalau mau ngobrol sama Lola ya. Dia suka banget bicara omong kosong,” ujarnya sambil mengedip ke arah hantu itu. Benci membuat dia tidak memikirkan resiko kalau Lola beneran diserang oleh sosok tak kasatmata.

“Tia...” Lola menghambur ke arahnya, bahkan mendahului keluar kamar.

“Kenapa? Takut?” Tia menelengkan kepala untuk mengejek.

“Kamu becanda kan? Nggak mungkin ada hantu kan?” Lola melirik ke kiri ke kanan.

Hanya cibiran yang didapatkan Lola karena Tia mendorongnya agar tidak menghalangi jalan menuju kamar Mama. Tia tidak peduli kalau Lola benar-benar ketakutan sampai terus memegangi lengan bajunya.

“Minggir, sana kembali ke kamar. Jangan ganggu aku!” Tia kembali mendorong Lola.

“Please, kembalilah ke kamar. Temenin aku. Kamu nggak mau aku mati ketakutan di kamarmu kan? Kalau itu terjadi, aku pasti akan gentayangan menghantui kamu.”

“Kamu ngancam aku? Dikira aku nggak tega apa sama kamu? Aku juga bisa bersikap sekejam kamu!” Tia berbalik untuk menghadapi Lola yang sudah mengatupkan tangan dengan tatapan memohon yang paling memelas. Hilang sudah sikap arogan dan sombongnya selama ini.

...

Part Selanjutnya

Jangan lupa share cerita ini kalau kamu menyukainya. Biar lebih banyak lagi yang baca.


Indeks cerita bisa di klik di sini.
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Bisik Kematian (Based On True Story)
19-05-2020 21:59
wahhh bagus Tia berani melawan Lola biasanya kan anak kandung klo d tindas ama saudara tirinya selalu pasrah.
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bisik Kematian (Based On True Story)
20-05-2020 07:18
Quote:Original Posted By yunie617
wahhh bagus Tia berani melawan Lola biasanya kan anak kandung klo d tindas ama saudara tirinya selalu pasrah.


Tia mulai berani nih emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
yunie617 memberi reputasi
1 0
1
Bisik Kematian (Based On True Story)
21-05-2020 06:16

(New) Bisik Kematian

Part 6 Mungkin Berjodoh



...

“Ada apa ini? Kok kamu bawa bantal, mau kemana?” Mama muncul dari arah dapur.

Ekspresi Tia melembut ketika menghadap Mama. “Mau tidur sama Mama, boleh ya.”

Mama memandang Lola dan Tia bergantian. “Kamu tidur sama Lola saja, dia pasti belum terbiasa tidur di kamarmu. Temani dia.”

“Tapi, Ma. Kali ini saja.”

Mama menggeleng dengan tegas membuat Tia akhirnya balik badan dengan muka yang ditekuk. “Iya deh, Tia tidur di kamar.”

“Mama sebenarnya ibunya Cinderela atau ibu tiri sih, baik banget sama anak haram,” gerutu Tia dengan suara yang dipelankan hingga hanya Lola yang bisa mendengarnya.

Namun Lola tidak memepedulikan kekesalan Tia. Senyum lebar tersungging di wajah lalu memeluk Tia yang terasa tegang ketika mengurai pelukan.

“Terima kasih,” ucap Lola yang terdengar begitu tulus.

Bantal, guling, dan selimut sudah berpindah tangan karena diambil paksa oleh Lola. Cewek itu bahkan menata tempat tidur dan mempersilakan Tia untuk tidur.

Namun Tia hanya mengumamkan ucapan terima kasih terus langsung rebahan. Tak mempedulikan si hantu yang sedang mendekati Lola.

"Tia!" teriak Lola ketakutan ketika merasakan hawa dingin berhembus di telinga.

"Tia, Tia..." Lola menarik-narik selimut Tia agar cewek itu bangun.

"Tiaaaa...." Teriakan Lola lebih kencang ketika merasakan bahunya dicolek-colek.

Terpaksa Tia balik badan menghadap Lola karena terganggu dengan rengekannya.

Hantu wanita itu terkikik membuat Lola memeluk Tia dengan erat. Seluruh tubuhnya gemetaran membuat Tia iba juga.

"Tolong pergilah, biarkan kami tidur," pinta Tia pada hantu itu.

Tidak ada ekspresi kesal yang muncul di wajah hantu itu, yang ada malah senyum simpul lalu perlahan-lahan menghilang.

Keesokan paginya ketika bangun tidur Tia tidak menemukan Lola di kamar, dia pasti sudah bangun dari tadi. Tia bergegas mandi lalu menuju ke dapur untuk membantu Mama membuat sarapan, tapi di sana sudah ada Lola yang bercanda dengan Mama.

Tia memutar bola mata, Mama pasti beneran malaikat karena bisa menerima Lola dengan mudahnya tanpa mengingat masa lalu.

“Eh, Tia sudah bangun. Anterin Mama beli sayur ya,” pintanya.

“Kenapa nggak Lola saja, Tia masih ngantuk.”

Mama menyerahkan kunci kontak motor pada Tia. “Lola nggak bisa naik motor.”

Tia menatap Lola untuk bertanya dan dijawab dengan gelengan lemah dan juga senyum tipis minta dimaklumi.

“Ya, udah. Tia anterin.”
Rencananya mau belanja sayuran untuk stok dan juga bubur untuk Lola, tapi mereka mau beli cemilan dulu karena ini rute terdekat. Papa bakal pulang dari dinas luar hari ini makanya Mama beli macam-macam cemilan.

“Beli bubur dulu baru belanja,” ujar Mama.

Perasaan tidak enak menyergap, sebuah suara berbisik untuk mengingatkan Tia agar tidak mengambil jalan yang biasanya.

“Beli sayur dulu saja di ujung jalan itu baru beli bubur. Muter sedikit nggak apa-apa kan, Ma. Aku pengen lewat sana.” Tia menunjuk lurus ke depan.

“Nggak, nggak, beli bubur dulu biar nggak kelupaan. Ini pesanan Lola.”

Kembali Tia memutar bola mata, meragukan sikap Mama yang begitu baik pada Lola. Kapan-kapan mereka harus membahas masalah ini. Bukankah seharusnya Lola diusir atau dikucilkan. Lha ini malah kebalik.

“Iya deh.” Akhirnya Tia memutuskan untuk mengabaikan suara peringatan itu. Mungkin hanya halu saja, merasa mendengar sesuatu padahal tidak ada suara apa-apa.

Ketika mendekati pertigaan tempat seharusnya belok, Tia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan. Bagian belakang kosong, begitu pula bagian depan. Sekali lagi Tia menoleh ke belakang sambil berbelok, tanpa diduga sekelebat penampakan motor melintas hingga bertabrakan dengan bagian depan motornya.

Tia terlempar dari motor, dia sempat menoleh untuk memastikan keadaan Mama.

Beliau terlihat ikut terbawa motor yang bergerak menyusur aspal menjauhi tempat kejadian. Sedangkan Tia sediri terjatuh tepat di body motor penabrak, perutnya terasa seperti ditonjok keras-keras. Ketika motor itu berhenti, Tia bahkan tidak bisa menggerakkan anggota tubuh karena terasa kaku.

Sebentar saja kerumunan memenuhi tempat kejadian. Tia dibantu berdiri, tapi tubuhnya terlalu kaku untuk dapat berdiri tegak hingga harus dipapah untuk masuk ke puskesmas. Beruntung kejadian terjadi di dekat puskesmas hingga dia dapat segera ditangani oleh perawat.

Mama tergopoh-gopoh mendekati brankar tempat Tia dibaringkan. Namun beliau malah dihalangi oleh perawat yang hendak meminta keterangan dan menyuruh untuk mengurusi administrasi sementara dokter memeriksa.

Tidak ada luka parah yang diderita oleh Tia, hanya beberapa lecet dan juga luka di punggung tangan. Berhubung tidak mual, pusing, atau pun muntah, Tia sudah langsung boleh pulang.

“Papa kok sudah sampai sini?” tanya Tia keheranan.

Papa menggendong Tia dengan lembut sedangkan Lola membukakan pintu mobil lalu masuk ke dalam untuk membantu Papa agar Tia dapat duduk dengan nyaman.

“Tadi ada tetangga yang ke rumah buat nganterin motor lalu memberitahu kalau kamu kecelakaan dekat puskesmas jadi kami nyusul.”

Menjelang petang ada beberapa orang yang ke rumah, rupanya orang yang sudah menabrak Tia hendak minta maaf. Tia sendiri heran bagaimana bisa orang itu muncul begitu saja di belakangnya padahal seharusnya jalanan itu kosong. Ternyata orang itu muncul dari gang di dekat situ, berbelok dan langsung ngebut karena takut terlambat kerja. Itu yang Tia dengar dari Mama karena tidak ikut menemui orang itu.

Tia sudah menghubungi teman-teman dan juga Vincent hingga cowok itu sudah datang berkunjung meski pun hanya sebentar. Papa juga sudah menghubungi pihak kampus untuk meminta izin istirahat beberapa hari.

Sore harinya Erina datang berkunjung, dia masuk ke kamar diantarkan oleh Lola setelah itu ditinggalkan hanya berdua dengan Tia.

“Kok Lola bisa ada di sini?” Erina menatap kepergian Lola.

Tia menghembuskan napas, akhirnya semua ini bakal terbongkar juga. Dia lalu bercerita tentang hubungannya dengan Lola dan meminta Erina untuk tidak bercerita pada yang lainnya.

“Eh, Dio mau ngomong sesuatu sama kamu.” Erina mengeluarkan gawai lalu menghubungi Dio untuk video call.

“Hai, gimana kondisimu?” tanya Dio dengan senyum menghiasi wajah, membuatnya tampak imut bahkan dengan adanya beberapa bekas luka yang sudah mengering di bagian pelipis.

“Kamu sendiri bagaimana?” Bukannya menjawab, Tia malah balik bertanya.

Keduanya mengangkat tangan kanan secara bersaman untuk menunjukkan besarnya perban yang melilitnya. Mereka tertawa bersamaan karena menyadari mendapatkan luka di tempat yang sama.

“Bukannya kita berjodoh karena mengalami luka yang sama?” goda Dio.

Tubuh Tia menegang, ingatannya berputar kembali pada mimpi yang dialaminya tadi malam.
Dalam mimpi itu Tia berhadapan dengan Dio untuk menunjukkan tangan mereka yang sama-sama membengkak karena kecelakaan.

Mereka bahkan mengatakan sesuatu tentang jodoh dan juga betapa beruntungnya sudah bisa lepas dari kematian. Rasanya seperti mengalami de javu.

Erina menggoyangkan lengan Tia yang tidak terluka. “Bumi memanggil Tia, apakah orangnya masih ada di sini?”

Tia tersenyum tipis. “Kenapa?”

“Kamu yang kenapa kok melamun begitu padahal Dio sedang ngomong sama kamu.”

“Maaf, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Rasanya sangat lelah dan ingin tidur.”

Erina buru-buru memutus sambungan dengan Dio lalu pamit pulang agar Tia dapat beristirahat.

Sepeninggal Erina, Tia merenung seorang diri di kamar. Apakah ini artinya dia benar-benar lolos dari kematian atau ini hanyalah sebuah pesan pendahuluan dari kematian agar dia dapat bersiap ketika saatnya tiba?

...

Jangan lupa share cerita ini kalau kamu menyukainya. Biar lebih banyak lagi yang baca.

Indeks cerita bisa di klik di sini.
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Bisik Kematian (Based On True Story)
21-05-2020 13:44
wahh. baik bgt y Ibu Tia seperti malaikat, mau menerima kehadiran Lola. jarang2 loh ada wanita seperti itu.
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bisik Kematian (Based On True Story)
13-07-2020 07:43

Hiatus

Mohon maaf karena belum bisa melanjutkan cerita di kaskus karena Lori update 3 cerita on going setiap hari. Kalau mau baca cerita ini bisa cek di instagram Galeri_lori.
Bisik Kematian (Based On True Story)

Bisik Kematian (Based On True Story)


Edit by Canva
0 0
0
Bisik Kematian (Based On True Story)
25-01-2021 21:13
Ngeri nih ceritanya, tapi seru
0 0
0
Bisik Kematian (Based On True Story)
26-01-2021 18:31
Tapi tak seserem kisah dalam podcast ini
0 0
0
Bisik Kematian (Based On True Story)
26-01-2021 18:35
Thread keren sis
0 0
0
Halaman 10 dari 10
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia