Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
467
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f375b768d9b175af43ae2d3/angus-poloso-legenda-ki-ageng-selo
Oke, sebelum mimin bercerita, mimin kasih tahu kalau cerita ini adalah cerita fiksi belaka, yang di dasarkan dengan legenda dan mitos di daerah mimin. Maaf sebelumnya jikalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan dll. Ini murni kebetulan belaka. Oh ya, maaf kalau ada kata-kata aneh dan nyeleneh, karena ini baru kali pertamanya aku bikin thread. Oke, check this out! Sekitar dua abad yang lalu, saat terja
Lapor Hansip
15-08-2020 10:50

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Oke, sebelum mimin bercerita, mimin kasih tahu kalau cerita ini adalah cerita fiksi belaka, yang di dasarkan dengan legenda dan mitos di daerah mimin. Maaf sebelumnya jikalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan dll. Ini murni kebetulan belaka.

Oh ya, maaf kalau ada kata-kata aneh dan nyeleneh, karena ini baru kali pertamanya aku bikin thread.

Oke, check this out!

Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.

Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.

Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.

Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.

Oke kita lanjut.

Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.

Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.

Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.

Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.

Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.

Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.

Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Quote:Original Posted By umanghorror
Arc 1 - Legenda Ki Ageng Selo.


Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.


Horror 0 - Prolog
Horror 1 - Misi Pertamaku.
Horror 2 - Demit Kepala Kambving.
Horror 3 - Siapa Penyebar Rumor itu??
Horror 4 - Tanah Perjanjian.
Horror 5a - Diary Cynthia Part.01
Horror 5b - Diary Cynthia Part.02
Horror 6 - Tumbal.
Horror 7 - Kepingan Ingatan Vita.
Horror 8 - Hati Pramesella.
Horror 9 - Pertanda.
Horror 10 - Pria Bersorban Putih.
Horror 11 - Nagasaka dan Nagalacakra.


==========================




Quote:
Arc 2 - Tests of Faith.


Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.


Horror 12 - Perjalanan Berujung Petaka.
Horror 13 – Berkemah di BPM Angker.
Horror 14 – Demit Hutan Pembunuh Sukma.
Horror 15 – Demit Gedhe Duwur (Gawur).
Horror 16 – Dimulainya Test of Faith.
Horror 17 – Keselamatan yang Berarti.
Horror 18 – Pesan Mbah Jayos.
Horror 19a – Kediaman Keluarga Immas yang Mengerikan Part.01
Horror 19b – Kediaman Keluarga Immas yang Mengerikan Part.02
Horror 20 – Test of Faith.
Interlude - Mesin Waktu.
Horror 21 – (Test I) Pelet Pengasihan.
Horror 22 – (Test I) Demit Alas Ireng.
Horror 23 – (Test I) Kisah Kyai Ghofar yang Melegenda.
Horror 24 – (Test II) Gadis Lotus Hitam
Horror 25 – (Test II) Desa yang Hilang Arah Mata Angin.
Horror 26 – (Test II) Ilmu Hitam Palasik dan Keluarga Wiraatmaja yang Bengis.
Horror 27 – (Test II) Ikatan Batin Restu Wiraatmaja.


==========================



Quote:
Arc 3 - Istana Mangkupati yang Hilang.


Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.


Horror 28 - (Test III) Dukun Mahasakti.
Horror 29 - (Test III) Akhir Keluarga Wiraatmaja.
Horror 30 - (Test III) Tersesat di Kampung Gaib.
Horror 31 - (Test III) Terror di Kampung Gaib.

Polling

Poll ini sudah ditutup - 3 Suara

Apakah Cerita ini Menarik?? 
100%
Iya, Seru banget kisahnya.
0%
Tidak, boring amat. Tulisannya jelek, dsb.
0%
Netral. Mungkin karena ini tulisan pertama.
Diubah oleh umanghorror
profile-picture
profile-picture
profile-picture
inginmenghilang dan 49 lainnya memberi reputasi
50
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 6 dari 8
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
14-01-2021 08:19
Lanjut gan makin seru aja
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
15-01-2021 08:47
Ijin nenda ya gan
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
15-01-2021 16:14
Kirain ad apdetan...oke lanjut patroli duluemoticon-Hansip
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
15-01-2021 22:48
Masih nunggu 😊
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
17-01-2021 10:17
Di horror 27 nanti kayaknya gak ada horrornya sih. Cuman diawal doang. So stay terus gan...
profile-picture
profile-picture
yusuf1312 dan banditos69 memberi reputasi
2 0
2
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
18-01-2021 18:35
Pasang patok dulu gan disini
profile-picture
profile-picture
umanghorror dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
18-01-2021 19:46
Enak baca maraton, nungguin bisa lama
profile-picture
profile-picture
umanghorror dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
18-01-2021 20:47

Horror 27 – (Test II) Ikatan Batin Restu Wiraatmaja.

Tak berlangsung lama, tiba-tiba kejadian anehpun terjadi. Nenek Sumatri yang dipastikan sudah tak bernyawa itu, tiba-tiba kepala dan organ-organ dalamnya terlepas dari tubuhnya. Membuatku bergidik ngeri sekaligus ingin muntah.

Ternyata benar rumor itu kalau ...

Nenek Sumatri adalah sesosok Palasik!

“Akhirnya kau menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya, Sumatri,” ujar pak Hendro memunculkan senyum liciknya. “Namun jangan harap kali ini aku akan melepasmu seperti ayahku dulu. Karena aku lebih bengis daripadanya,”

“Hihihi ... jangan harap kau bisa mengalahkanku, Hendro!” sahut kuyang Sumatri itu dengan tawa remehnya.

Dan akhirnya pertarungan mereka berdua di mulai. Pak Hendro dengan keris pusakanya berhasil beberapa kali menusuk-nusukan keris ke tubuh kuyang itu. Kuyang Sumatri juga sama. Dia beberapa kali berhasil melancarkan serangannya sampai mengenai tubuh pak Hendro.

Pertarungan ini terlihat seimbang di kedua sisi. Sampai aku melihat ada gerakan mencurigakan dari kuyang Sumatri itu. Dia seperti melambat dan membiarkan dirinya terkena serangan bertubi-tubi dari pak Hendro.

Dalam keadaan bengong, memperhatikan pertarungan mereka berdua yang seru, tiba-tiba kuyang Sumatri melesat mendekatiku sampai 60 cm dari mukaku.

Dengan senyum liciknya, dia bilang, “Hihihi ... kau sudah terlambat, cu! Gadis itu sudah menjadi wadahku yang selanjutnya. Dia telah mewarisi seluruh ilmu kanuraganku. Hihihi ...”

Aku pun segera menoleh ke arah Cici. Sudah kulihat badan dari kuyang Sumatri itu ternyata secara pelan-pelan bergerak sendiri, walaupun tanpa kepala dan organ tubuh lainnya. Tangannya terus-terusan menyentuh dadanya sambil mengalirkan sebuah energi hitam yang tak kasat mata.

Dalam keadaan demikian, sajadah hijau yang kusimpan di tas ranselku, langsung keluar dan membelit kuyang Sumatri itu, dan tak lama kemudian, kuyang itu meledak, hancur berkeping-keping. Sementara itu, pak Hendro yang sempat terkecoh, menebas tubuh nek Sumatri yang tanpa kepala dan organ-organ dalam itu sampai hancur berkeping-keping pula.

“Dasar nenek busuk,” umpat pak Hendro geram. “Tak kusangka dia akan memikirkan cara itu untuk mewariskan ilmunya ke gadis ini!”

Tak mau menunggu lama, dan tak punya pilihan lain, pak Hendro pun segera mengayunkan kerisnya untuk menebas tubuh Cici yang masih tak sadarkan diri itu. Akupun bergegas menghalanginya, sehingga tebasan keris Naga Kembang itu menyayat tangan kiriku sampai berdarah-darah.

“Apa yang kau lakukan!?” tanyanya geram. Dia menatapku layaknya sudah ingin membunuhku saja. “Gadis ini sudah tak tertolong lagi. Jika aku tidak membunuh gadis ini sekarang juga, maka dia akan membawa teror yang jauh lebih berbahaya pada siapapun, bocah!!”

“Aku tak bisa membiarkanmu untuk melukai temanku! Dia masih hidup, tau!” jawabku yang berani membentak kepada pak Hendro saat itu.

Pak Hendro yang waktu itu geram karena ada yang coba menghalanginya, bergegas mendekatiku dan menjambak rambutku dan menghajarku dengan pukulan-pukulan kegeramannya. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah bertahan akan pukulan demi pukulan yang dilakukan oleh pak Hendro padaku.

Tak beberapa lama kemudian, Cici yang semula diam, tiba-tiba mengerang-erang seperti kesakitan. Dia seperti ingin mencekik dirinya sendiri. Dia meronta-ronta yang dengan itu memaksa kami untuk menenangkan dirinya.

Sajadah hijau kembali melesat, membungkus lehernya, yang dengan itu, Cici kembali tenang. Namun di dahinya tiba-tiba muncul sebuah simbol aksara yang sama sekali tak kumengerti. Kata pak Hendro, itu adalah sebuah bukti kalau Cici telah menjadi penganut ilmu palasik.

Tepatnya Ratu Palasik.

Tidak ada yang bisa kulakukan saat itu untuk menolongnya. Aku sempat ketakutan untuk menceritakan semua ini kepada teman-temanku yang lain, terlebih Andre. Dengar-dengar sih, Andre dengan Cici saling berpacaran.

Kemudian, dari semak-semak muncul tiga orang jawara yang ternyata adalah penjaga keluarga Wiraatmaja. Pak Hendro pun memerintahkan mereka untuk membawaku, Cici, dan Rizal untuk ikut bersamanya.

Tak punya pilihan lain, akupun menurutinya.

“Aku dan yang lain mau di bawa ke mana?” tanyaku yang waktu itu dongkol karena shok mendapati apa yang telah terjadi dan menimpaku. Ketiga jawara sudah mengeluarkan parangnya. “Apa kalian akan membunuhku?”

Pak Hendro sedikit menoleh ke arahku. “Apa maksudmu, bocah? Meski keluarga kami terkenal akan kebengisannya, namun kami tak bisa sembarangan untuk membunuh orang!”

“Sebenarnya apa yang terjadi di antara keluarga Raden Hendro Wiraatmaja dengan nek Sumatri. Apakah kalian punya dendam pribadi?” tanyaku yang masih dalam keadaan kalut. “Kalau kuingat-ingat, nek Sumatri pernah mengatakan kalau ayah Raden, yaitu Herman Wiraatmaja pernah membantai anak dan cucunya,”

“Hmph, ceritanya panjang, nak! Yang bisa kukatakan saat ini adalah nini Sumatri itu pernah menjadi pengasuh bayi di keluarga kami. Dan dia bekerja cukup lama, yaitu lima belas tahun.” Jawab pak Hendro dengan nada yang kurang mengenakkan. “Sampai saat dia berniat untuk menjadikan kakak perempuanku, Irene Wiraatmaja sebagai wadal untuk menyempurnakan ilmu palasiknya. Dan rencananya itupun berhasil, kakakku tewas di tangan nenek sialan itu.”

“Lalu?”

“Sebelumnya kami tidak ada yang menduga kalau nenek tua yang sudah melayani keluarga kami selama lima belas tahun itu tega menghianati kami. Dan selanjutnya, kau pasti sudah tahu, bukan? Kami menggorok leher anak dan cucunya untuk balas dendam sekaligus mencegah nenek tua itu mewariskan ilmu palasiknya ke anak keturunannya,”

...

Setelah berjalan menyusuri jalan makadam cukup jauh, kami akhirnya sampai di villa keluarga Wiraatmaja. Di sana, aku dipaksa untuk menghadap ke aula utama villa yang di sana sudah ada seorang kakek-kakek berusia sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh tahunan juga beberapa orang gadis cantik dan pemuda yang ganteng.

“Oh, dia ini toh orang yang berasal dari masa depan, seperti apa yang kau lihat di dalam mimpimu, Restu?” tanya kakek tua itu yang ternyata dia adalah Raden Herman Wiraatmaja, ayah dari pak Hendro. “Melihat penampilan dan wajahnya, memang benar-benar berbeda dari orang-orang yang pernah kita temui di masa ini,”

“Iya, kakek. Dia orangnya,” jawab Restu Wiraatmaja dengan kalem dan penuh hormat ke kakeknya itu. “Dia adalah orang yang tepat untuk mengetahui siapa yang mempunyai aura membunuh yang bahkan sampai dirasakan oleh seluruh desa Witiran beberapa hari lalu,”

Tiba-tiba Ayu menyela ucapan Restu. “Apa kau yakin, Restu? Kita harus benar-benar yakin kalau dia takkan membelot dari kita nantinya!”

“Iya, itu benar, kak. Oleh karena itu, untuk memastikannya, maka dia harus jadi pengantinku.” Jawab Restu dengan memunculkan senyum lebar indahnya. “Hai pemuda, apa kau bersedia untuk menikah denganku dan jadi pengantinku?”

Mendengar tawaran itu, aku dengan halus menolaknya. Pasalnya aku sudah bertunangan dan selain itu, aku memikirkan apa yang dikatakan kyai Abdurrahman padaku beberapa hari lalu.

“Maaf, Nona Restu, saya tidak bermaksud lancang atau semacamnya, namun saya dirasa tak pantas menerima tawaran berharga itu. Lagian, saya juga sudah bertunangan,” jawabku dengan sedikit menundukkan badan memberi penghormatan penuh padanya.

Restu ketika mendengar jawabanku itu langsung tersentak kaget. Dipikirnya, tiada seorang lelakipun yang sanggup menolak tawaran indahnya tersebut, karena sudah banyak pemuda-pemuda ganteng dan kaya yang datang dari berbagai penjuru desa dan kota yang siap melamarnya.

Penolakan itu juga membuat Raden Herman geram. Dia pun menyuruh salah satu penjaga untuk memancungku di depan villa.

“Kurang ajar, kau bocah! Kau berani menolak keinginan cucuku. Padahal tidak ada seorang lelakipun yang sanggup menolak ajakan cucuku barusan. Tau!!” kek Herman itu murka sambil menunjuk-nunjukku. “Penjaga, cepat kalian pancung pria ini di depan villa, biar masyarakat sini bisa melihat pecundang ini!!”

“Hentikan, kek! Biarkan dia untuk tinggal di sini dulu selama beberapa hari. Dan jika dia tetap bersikeras, maka dirikulah yang akan memancung kepalanya,” kata Restu dengan nada mengancam.

Aku tak bisa apa-apa untuk menolak tawaran Restu yang ini. Setidaknya untuk beberapa hari ini aku akan selamat dari hukuman pancung.

Aku pun diajak berkeliling oleh Restu. Dia sepertinya ingin semakin mengenalku dan mendekatkan hubungan kami. Tentu saja aku tak sanggup menolaknya.

“Ah, terima kasih kau telah menolak lamaranku, pemuda ganteng. Kalau tidak, kau bakal jadi tumbal untuk kejayaan keluarga ini,” ujar Restu tiba-tiba saat kami berdua sampai di taman belakang villa. “Lagian, kau bukanlah tipe-ku. Kalau kau tadi menerima tawaranku, pastinya setiap hari aku akan direndung rasa sedih dan penyesalan.”

“Lalu, kenapa tadi kau mengatakan hal itu kalau kau tidak mencintaiku, Restu?” tanyaku keheranan. Pastinya Restu punya alasan tersendiri untuk menyembunyikan perasaannya.

“Itu harus kulakukan, karena sebentar lagi sudah jatuh tempo dan tuan kami, menginginkan tumbal seorang pemuda yang dirasa cocok, dan dirimulah orang yang cocok itu, pemuda!” jawab Restu dengan nada sedikit resah. “Jika tidak menumbalkan seseorang saat bulan purnama minggu depan, kami semua akan mati oleh demit pesugihan itu!”

Aku terdiam cukup lama mendengar kata-kata Restu barusan.

Sampai ...

“Pemuda, gimana kabar Rizal. Apa dia baik-baik saja?” tanya Restu dengan nada dingin dan penuh kekhawatiran. “Sudah lama aku ingin menemuinya, namun ayah dan kakekku selalu mengawasiku ketika aku ingin keluar dari villa.”

“He, bukankah Rizal tadi dibawa ke sini juga oleh pak Hendro? Apa kau tidak tahu?” jawabku yang kaget mendapati kalau Restu tidak tahu kalau Rizal telah dibawa ke keluarga ini. “Kemaren malam dia ikut membantuku untuk menolong temanku dari ritual ilmu palasik dari nek Sumatri. Sayangnya, ia langsung pingsan setelah terkena pukulan dari tongkat nenek tua sialan itu!”

“Hee, benarkah itu? Itu berarti sekarang ini dia sedang ada di penjara bawah tanah. Aku harus menemuinya sekarang,” Restu bergegas meninggalkanku sendirian di taman itu. “Untuk temanmu itu, dia sudah menjadi Ratu Palasik sekarang. Kau harus lebih berhati-hati padanya sekarang! Padahal kau bisa menyelamatkan gadis itu dengan membunuhnya kemaren,”

Begitu Restu pergi.

Tiba-tiba aku meneteskan air mata. Aneh, air mata apa ini?

“Dia seperti seorang gadis yang pernah kukenal dan kucintai dulu. Seseorang yang pernah membuatku membuka mata akan keindahan dunia. Seseorang yang selalu ada di sampingku dan mendukungku,” gumamku pelan dan sedih. “Astrid ... ah, jangan-jangan dia benar-benar ibunya Astrid.”

...

Waktu berjalan cepat, cahaya mentari yang menyengat di waktu siang, kini telah menutup mata sehingga digantikan oleh bulan. Selama itu juga aku terus berada di dekat Cici yang masih terbaring dan belum sadarkan diri itu.

Sempat aku kepikiran mengenai teman-temanku yang lain, yang entah sekarang ada di mana dan juga Mela. Aku terus berpikir-pikir mengapa dia meninggalkanku di kediaman kak Ratih saat itu. Apa aku telah berbuat sesuatu yang membuatnya kesal?

“Cici ... sekarang apa yang harus kukatakan pada teman-teman mengenai kondisimu saat ini? Mengapa setiap nasib buruk selalu terjadi kepada orang-orang yang berada di sisiku. Apa ini kutukan?” gumamku lirih memandang ke arah Cici yang masih terlelap. “Seharusnya aku tak memaksakan dirimu untuk mengikutiku ke desa ini, Ci. Memang seharusnya aku harus menyelesaikan semuanya sendirian,”

Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dan mengerikan akan terjadi. Ku coba diriku untuk mengamati apa yang bakal terjadi di sini, namun tetap tak bisa, karena ilmu kanuraganku telah disegel.

Tak lama kemudian, aku melihat bola api berwarna merah darah seukuran kepala manusia terbang melesat menuju ke aula utama villa. Tak salah lagi, itu adalah santet kiriman yang di masaku sudah punah. Santet Loro Geni.

Tak mau mengambil resiko, dan tahu kalau keluarga Wiraatmaja sudah mengantisipasi serangan ini, aku bergegas untuk duduk bersila dan membacakan doa-doa penangkal santet dan doa pelindung dari angkara murka.

Untunglah, si penyantet itu tergolong lemah, sehingga santetnya bisa kuatasi dengan doa-doaku saja, dan keluarga Wiraatmaja tak perlu turun tangan mengatasi ini. Namun, ketika aku pikir semua sudah selesai, muncul bara api yang langsung menghantamku.

Aku menjerit kesakitan, bara api itu mulai membakar seluruh tubuhku, setelah berhasil membakar seluruh pakaianku sampai jadi abu. Namun alhamdulillah, tiba-tiba sajadah hijau yang membelit leher Cici itu bergerak dan langsung membelitku, dan anehnya lagi, bara api dari santet itu langsung padam.

Setelah selesai, sajadah hijau itu kembali membelit leher Cici.

Tak mau ada yang melihatku dalam kondisi telanjang seperti ini, aku bergegas mengambil pakaian gantiku di tas, dan segera kukenakan. Setelah selesai, aku bergegas untuk keluar dan memberitahu Restu soal ini.

Tak kutemukan Restu di mana-mana, bahkan aku sempat bertanya ke Ayu, kakaknya, namun dia juga tak melihat Restu dari tadi. Karena sempat teringat kalau Restu berkeinginan untuk menjenguk Rizal di penjara bawah tanah, aku putuskan untuk segera ke sana.

Yang jadi masalahnya, aku tak tahu letak penjara itu berada. Namun, syukurlah kak Ayu bersedia menemaniku untuk mencari penjara itu.

Dan tiba-tiba puluhan, bahkan ratusan bola api pun pada bermunculan. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang kuyakini adalah banyak orang yang merasa sakit hati dengan keluarga Wiraatmaja ini.

...

Sementara itu, di aula utama, kek Herman sedang berdiskusi dengan anggota keluarga lain tentang masalah ini. Mereka menduga kalau serangan santet ini berasal dari sekelompok sekte pemuja setan, di sana sering dikenal sebagai sekte Getih Ireng.

Memang sudah lama sekte itu membenci keluarga Wiraatmaja, apalagi kemaren, Pak Hendro berhasil membunuh salah satu pemimpin mereka. Nek Sumatri.

“Hendro, penyerangan sekte Getih Ireng sudah tak bisa kita biarkan. Kalau mereka terus menyerang seperti ini, maka keluarga ini lama-kelamaan bakal musnah oleh sekte sesat itu!” gerutu kek Herman ke pak Hendro karena kurang sigap dan hanya bersikap defensif.

“Tenang saja, ayahanda. Aku sudah memprediksi hal ini setelah diriku menghabisi salah satu pemimpin mereka. Nini Sumatri kemaren malam,” jawab pak Hendro sembari tangannya ia tekuk di belakang punggungnya sembari menatap jendela luar. “Jadi, semua tanggung jawab ini ada dalam pundakku. Setelah serangan malam ini berakhir, aku sendiri yang akan memimpin untuk menghancurkan sekte pemuja setan itu!”

Kek Herman terkejut mendengar kalau pak Hendro membunuh nek Sumatri. “Apa? Kau membunuhnya? Kenapa? Apa kau tak tahu akan konsekuensinya, Hendro!?”

“Itu tak bisa dihindarkan, ayahanda. Nini Sumatri berniat untuk mewariskan ilmu palasiknya kepada seorang gadis yang datang dari masa depan dengan pemuda itu. Aku tak bisa mengambil resiko apabila gadis itu akan membunuh kita semua nanti.” Jawab pak Hendro tenang dan kalem, seolah tak akan terjadi apa-apa.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan terhadap gadis itu, Hendro?” tanya kek Herman memastikan akan sesuatu.

Mendengarnya, Pak Hendro langsung memunculkan senyuman licik dan menyeramkan. “Begitu dia menjadi Ratu Palasik, kita akan memanfaatkannya untuk membunuh semua anggota sekte pemuja setan itu!”

...

Tiba-tiba dari luar, terdengar suara teriakan yang begitu mengerikan dan mengancam. “Herman, Hendro ... keluar kalian!!!”

Ternyata suara itu berasal dari seorang gadis berusia lima belas tahunan yang bernama Surti. Gadis itu datang dengan membawa tujuh sosok genderuwo. Dan setelah diselidik, Surti ini adalah adik dari Rizal yang saat ini sedang ditawan oleh keluarga Wiraatmaja di penjara bawah tanah.

Mendapati suara teriakan itu, seluruh penghuni villa keluarga Wiraatmaja keluar, ingin tahu siapa yang secara berani terang-terang ingin menantang keluarga paling berpengaruh di daerah itu.

“Oh, ternyata kau, Surti. Sudah berani kau menginjakkan kaki di sini setelah beberapa tahun lalu kami jadikan pemuas nafsu syahwat penjaga-penjaga di sini,” kata Pak Hendro mengejek. Sepertinya mereka berdua memang punya sejarah satu sama lain. “Apa kau masih belum puas akan kekalahanmu dua tahun lalu, cah ayu?”

Surti pun meludak ke samping mendapati penghinaan itu. “Cuih! Amit-amit, Hendro busuk! Aku tak ingin memulai pertarungan saat ini kalau kau bersedia untuk melepaskan kakakku,”

Tentu saja seluruh keluarga Wiraatmaja tertawa mendengar permohonan itu. “Hahaha ... lucu, lucu! Kalau kau yakin mampu melawan kami, silahkan saja!”

Dengan segera, Surti mengayunkan tangannya ke depan, memberi isyarat kepada ketujuh genderuwo itu untuk menyerang. Dan tanpa basa-basi lagi, terjadilah pertarungan seru antara Surti melawan keluarga Wiraatmaja.

Saat itu, Surti berhadapan head to head melawan pak Hendro kembali, sementara yang lain melawan para genderuwo-genderuwo itu. Yang saat itu masih terduduk santai hanyalah kek Herman semata. Sepertinya ia ingin mengukur ilmu kanuragan si Surti itu sebelum terjun ke medan pertarungan untuk membantu anak-cucunya.

Tak berlangsung lama, terdengarlah suara ledakan yang begitu keras, yang terjadi di tengah pertarungan Surti dengan pak Hendro. Dengan mudahnya, si Surti mampu menendang pak Hendro sampai terpental dan memuntahkan banyak darah.

Iya, kemampuan si Surti saat ini tak bisa dianggap remah.

“Hahaha ... bagaimana dengan ilmu kanuraganku saat ini, Hendro!? Kau pasti tercengangkan melihat perkembanganku yang sangat pesat setelah pertarungan kita dua tahun lalu!!” tawa Surti menghina pak Hendro yang sudah hampir sekarat itu. Kek Herman masih memandang si Surti itu tanpa melakukan apapun.

Di saat yang bersamaan, ketujuh genderuwo itupun juga berhasil mengalahkan sembilan orang dari keluarga Wiraatmaja. Membuat si Surti semakin tinggi hati.

Tiba-tiba, tak disangka dan tak terduga, kek Herman itu langsung melesat cepat, secepat kilat yang langsung menebas kepala tujuh genderuwo itu dengan tongkatnya. Tak mau buang-buang waktu, di saat si Surti belum siap, kakek tua itu langsung memutilasi tubuh Surti jadi lima bagian.

Kemudian, kek Herman kembali ke posisinya semula. Seolah tidak pernah bergerak selangkahpun dari tempatnya semula.

Namun, beberapa menit kemudian kelima tubuh si Surti tiba-tiba bergerak sendiri dan langsung kembali menyatu tanpa bekas luka apapun. Bahkan dia jauh lebih segar dari sebelumnya. Sementara itu, dilihatnya para penjaga tubuhnya sudah kering kerontang, seperti hawa kehidupannya disedot.

“Hahaha ... kau takkan bisa membunuhku, kakek tua!”

Dengan tanpa mengurangi ketenangannya, kek Herman pun bergumam. “Oh, ajian serat jiwa dan pancasona ya? Hohoho...!”

-BERSAMBUNG-

So that's it guys untuk horror 27 nya. Di horror 28 nanti Umam akan membantu keluarga Wiraatmaja dalam menghadapi dan menyadarkan si Surti yang ternyata waktu itu dia sedang dikendalikan oleh seseorang.

Dan orang yang mengendalikan si Surti adalah ... Ki Sugeng! (Spoiler dikit)
Horror 28 nanti akan berjudul "Dukun Mahasakti!"

Thank you and see you soon~Minna.
Arigatoo Gozaimasu...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
senja87 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
18-01-2021 23:40
Ok gan di tunggu kelanjutannya
Ha ha ha lama lama bikin nagih kisahmu
emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh Arikempling78
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
19-01-2021 08:27
Lanjut gan makin penasaran aja ... 😂😂😂
profile-picture
profile-picture
umanghorror dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
19-01-2021 12:44
Ajian serat jiwa,
Jadi ingat ajian Waringin sungsang.
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
2 0
2
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
20-01-2021 15:57
Nanti post cerita romance aja ya? Aku dah dibolehin oleh si authornya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rijalbegundal dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
21-01-2021 08:00
mntap.. jdi ingat drama kolosal indosiar masa 2000an
profile-picture
profile-picture
profile-picture
senja87 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
23-01-2021 00:24
Belum ada kelanjutannya.
Udah lama padahal.
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
24-01-2021 18:50
@umanghorror lanjut om, dah banyak yg nunggu
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
28-01-2021 08:20
Makin penasasan sama kelanjutannya
0 0
0
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
28-01-2021 08:39
Updatenya kalo bisa seminggu sekali aja gan
profile-picture
widi0407 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
28-01-2021 15:31

Kereennn

Lanjut gan
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
29-01-2021 22:21

Horror 28 - (Test III) Dukun Mahasakti.

Namun, beberapa menit kemudian kelima bagian tubuh si Surti tiba-tiba bergerak-gerak sendiri dan langsung kembali menyatu tanpa bekas luka apapun, bahkan kondisinya jauh lebih segar dari sebelumnya. Sementara itu, dilihatnya para penjaga tubuhnya sudah kering kerontang, seperti hawa kehidupannya disedot habis.

“Hahaha ... kau takkan bisa membunuhku, kakek tua.”

Dengan tanpa mengurangi ketenangannya, kek Herman pun bergumam, “Oh, ajian serat jiwa dan ajian pancasona ya? Hohoho...!”

Dengan cepat, Surti kembali menyerang kek Herman dengan keris Bathara. Meski itu adalah salah satu pusaka terkenal, tetapi jikalau yang menggunakannya tidak cukup cekatan, hasilnya akan tetap sama saja.

Dengan mudahnya, kek Herman bergerak ke belakang untuk menghindari tusukan dari keris itu, ketika mentok, dia langsung bergerak ke kiri. Dengan ilmu meringankan badan miliknya, tidak sulit baginya untuk menghindari serangan keris itu.

Tak hanya itu, diapun malah berhasil melancarkan serangannya, menendang pergelangan tangan si Surti sehingga keris itu terlepas dari tangannya. Kemudian kek Herman mengambil alih keris itu dan menodongkannya ke muka si Surti.

“Cih! Aku tak punya urusan denganmu, kakek tua. Bebaskan kakakku supaya pertarungan tak berarti ini bisa cepat selesai.” Kata Surti menggeram mendapati ilmu kanuragannya kalah jauh dengan kek Herman. Dan dengan cepat tendangan kek Herman berhasil menghantam tubuh si Surti sampai ia terpental, tergeletak, dan memuntahkan darah segar.

Jujur dengan kemampuannya saat ini, mustakhil dia bisa menang melawan kek Herman.

Tetapi, di saat yang tak terduga itu, dengan memakan rasa putus asanya, dia melakukan hal yang benar-benar diluar nalar.

“Mahaguru, datanglah! Tolong muridmu ini!”

...

Sementara itu, di penjara bawah tanah, aku dan kak Ayu mendapati Restu dan Rizal sedang ngobrol akan sesuatu di dalam penjara. Mereka berdua tak sadar kalau bahaya sedang terjadi di luar sana.

“Restu, Rizal, gimana kabar kalian?” tanyaku yang terlihat khawatir, terlebih ke Rizal, karena peristiwa semalam. “Kau kemaren terkena sadukan tongkat Nek Sumatri karena aku. Aku merasa bersalah karena itu.”

“Aku baik-baik saja kok, tuan. Setelah terkena pukulan dari nek Sumatri kemaren, aku seperti kebingungan, aku hampir tak bisa mengingat apa yang terjadi kemaren, bahkan aku hampir tak mengenalimu juga Restu. Tapi untunglah Restu ada di sini sekarang untuk menolongku. Berkatnya, aku sudah sedikit baikan,” jawab Rizal yang sedikit AFK (away from keyboard). Aku mengira mungkin karena benturan kemaren.

“Apaan sih, Zal. Tentu saja aku akan menolongmu, karena kau adalah teman baikku.” Sahut Restu, kulihat pipinya sedikit merona kala itu.

Aku melirik ke arah Restu. “Ah,. Jadi Rizal ini ya, pria yang kau sukai itu, Res? Pantesan kau begitu care padanya...”

Muka Restu langsung merona. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan menyilangkan kedua tangannya ke depan. “Apa-apaan sih kamu!? Nggak, tentu saja nggak!”

Di saat itu, tiba-tiba kak Ayu yang awalnya diam melulu, kemudian dengan sinis menatapku. Dia sepertinya merasakan ada sesuatu yang mengerikan akan terjadi.

“Nak Umam, apa kau merasakannya? Ada hawa jahat yang sedang menuju ke kediaman Wiraatmaja. Hawa jahat hampa yang begitu kuat, aku bisa merasakannya dari jarak sejauh ini.” Tanya kak Ayu tiba-tiba sembari menoleh ke atap, ke kiri dan ke kanan.

Aku bergegas untuk memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi dengan mata batinku. Dan apa yang dirasakan oleh kak Ayu memang benar adanya. Ada sebuah kekuatan jahat sedang menuju ke mari.

Aku semakin merasakan kalau sebuah bahaya besar akan mendatangi keluarga ini. Untuk itu, aku mewanti-wanti Restu dan kak Ayu untuk bersembunyi di sini sembari menjaga Rizal. Mereka seperti tak tahu apa-apa dengan maksudku, namun mereka mengiyakan permintaanku saat itu.

Aku kembali ke tempat Cici berada. Di sana, dia terlihat sedang meronta-ronta kesakitan, bahkan dia sudah hampir mencekik lehernya sendiri. Sajadah hijau itu kembali melesat ke pangkuanku, seolah dia tak sanggup lagi untuk menghambat sesuatu yang jahat di dalam diri Cici tersebut.

“Cici, tenanglah, tenanglah!” kataku sembari mencoba menyemangati dan menenangkannya supaya bisa bertahan dari goyangan iblis yang ada di dalam tubuhnya. “Ingatlah Tuhanmu, Ci. Ingatlah Dia!”

Aku membuka kedua tanganku dan mengadahkannya ke atas. “Ya Allah, Ya Rabb-ku. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Raja dari segala Raja. Yang berkuasa atas Kehidupan dan Kematian. Aku memohon akan kewelasasihan-Mu. Tiada Daya dan Upaya yang sanggup menghalau ketentuan-Mu. Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tolong sembuhkanlah temanku ini dari jeratan setan dan iblis yang kini menghuni jasadnya, Ya Allah, sedangkan dia adalah jiwa yang murni. Amiin.”

Setelah itu, aku mengambil wudhu di luar, dan kembali ke kamar untuk menunaikan salat tahajud dua rokaat dan melakukan Qiyamul Lail lain, seperti berdzikir. Karena di sana tak kutemukan Al-Qur’an pun untuk kubaca.

Kondisi Cici pun sedikit tenang setelah itu. Aku bersyukur masih ada Tuhan yang Dialah sebaik-baik penolong, tanpa kenal waktu, syarat, lagi kekal abadi.

Tiba-tiba terdengar suara yang entah darimana asalnya. “Temuilah Mbok Ruqayah, nak! Hanya dia yang Insya’allah bisa menyembuhkan pengaruh sesat ilmu Palasik itu. Temuilah dia dalam kurun waktu kurang dari sepuluh hari. Dan mudah-mudahan, Allah SWT meridhoi perjalananmu ini.”

Dan suara itu tak terdengar lagi.

“Ya, Allah, barusan itu suara siapa?” gumamku lirih. “Mbok Ruqayah, ya? Bukankah itu adalah istri dari Mbah Jayos. Di masaku, dia telah tiada, dia dipanggil Tuhan ketika usiaku baru tiga belas tahun. Di masa ini, pastinya dia masih hidup, ‘kan?”

Balik lagi di penjara bawah tanah, di mana Rizal sedang diobati oleh Restu dengan obat yang sangatlah sederhana, dari daun-dedaunan. Dia merawatnya dengan telaten. Itu terlihat oleh kak Ayu yang melihat akan kepedulian Restu pada pria penggembala kambing satu ini.

“Rizal, kau ini benar-benar ceroboh, ya? Sudah tahu kalau nenek Sumatri mempunyai ilmu kanuragan yang sangat tinggi, eh malah kau sok-sokan mau membantu pemuda dari masa depan itu.” Gerutu Restu manja. Dia membalut luka Rizal dengan lembut. “Kau itu selalu bikin aku khawatir saja. Setidaknya khawatirlah kepada perasaanku juga!”

“Maaf, maaf, Non Restu. Saya hanya tak tega melihat tuan Umam terus tinggal di rumah dukun Palasik itu. Itu saja kok.” Jawab Rizal dengan mantap. “Lagian, dialah yang membuka mata saya untuk terus berjuang demi teman-temanku. Kau juga termasuk, Non Restu.”

Tak beberapa lama kemudian, datanglah kedua penjaga yang memberi kabar kalau yang menyerang keluarga Wiraatmaja adalah si Surti, adik dari Rizal itu sendiri.

Kaget, Rizal pun segera memaksakan dirinya untuk menemui adiknya di luar, namun segera dicegah oleh kak Ayu.

“Mau kemana kau, Rizal?” tanya kak Ayu sinis, diapun segera menghadangnya untuk pergi. “Apa kau tahu kalau adik perempuanmu sudah membuat kekacauan di luar sana. Keluarga kami, keluarga Wiraatmaja adalah keluarga paling berkuasa di daerah sini. Tidak mungkin kami bisa memaafkan adikmu setelah apa yang terjadi malam ini, nak Rizal. Setidaknya hanya dirimulah, orang yang takkan menerima murka keluarga ini.”

“Minggirlah, Non Ayu! Aku harus segera menemui adik perempuanku. Biar aku yang membujuknya untuk menghentikan kekacauan ini.” Jawab Rizal yang terlihat kalau dia sudah terlalu memaksakan dirinya. Tanpa iba, kak Ayu pun menyuruh kedua penjaga itu untuk kembali memasukkan Rizal ke dalam sel.

Tentu saja hal ini ditentang oleh Restu, namun kak Ayu hanya mengabaikan saja kata-kata yang keluar dari mulut adiknya itu.

...

Tiba-tiba dari arah luar, terdengar suara kilatan petir yang menyambar-nyambar. Aku pikir akan segera ada badai yang datang, mengingat langit malam sudah terlihat mendung. Namun itu semua ternyata salah besar. Aku bergegas keluar dari kamar untuk melihat kondisi.

Suara kilatan itu terjadi di luar sana. Dan suara itu berasal dari aura seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahunan. Dan aku sangat mengenali tubuh tua renta itu.

“Ki Sugeng...!” umpatku kesal, menahan deru amarahku yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Ki Sugeng, yang terkenal sebagai dukunnya para dukun hebat, sehingga dia mendapatkan gelar sebagai dukun mahasakti. Bahkan santet-santet kelas atas, seperti Santet Malam Satu Suro, Santet Janur Ireng, Santet Sepertiga Malam, Santet Darah, tidak berarti apa-apa buatnya. Malah santet itu balik mengenai sang penyantet apabila berurusan dengan Ki Sugeng itu, sehingga banyak orang yang menjuluki kalau Ki Sugeng adalah satu-satunya orang yang kebal terhadap santet.

Bagaimana bisa dia ada di sini??

Sesaat setelah datangnya, dari rumah-rumah penduduk, terdengar teriakan dan jeritan Cumiik yang keluar dari setiap penduduk. Mereka keluar dari rumah mereka dengan muka penuh borok dan ada juga yang mengelupas, bahkan ada beberapa orang yang kedua matanya hilang, atau kakinya hilang, atau tangannya hilang. Semuanya punya cerita-cerita sendiri.

“Huh, dasar manusia lemah. Mereka pikir bisa menyantetku. Kau harus berterima kasih padaku nanti, Wiraatmaja, karena orang-orang yang sedang menyantet keluargamu, sudah aku binasakan semuanya.”

Kek Herman dan Pak Hendro terkejut setengah mati. “Apa!? Kau menghabisi sebagian penduduk desa Witiran?”

“Jadi kau sudah tahu, hahaha...! dengan tidak adanya mereka, kurasa pertarungan kita akan semakin menarik karena tidak akan ada siapapun yang mengganggu kita berdua.” Ki Sugeng menatap mereka berdua dengan penuh kengerian, mengakibatkan ketiga orang tersebut bergidik ngeri melihatnya. “Ternyata kau masih terlalu lemah, Surti? Kau bahkan tak bisa mengatasi ketiga kroco itu,” tambah Ki Sugeng sumringah menatap kek Herman, Pak Hendro, dan juga kak Anton.

Sebelum Ki Sugeng melangkah, dari dalam rumah, tiba-tiba keluar tiga demit raksasa yang jauh lebih tinggi dan besar ketimbang empat belas genderuwo. Mereka adalah demit pusaka milik keluarga Wiraatmaja, yang bernama Ki Jokoro Nula, Ki Jokoro Geni, dan Ki Jokoro Kala.

Mereka keluar karena mendapati ancaman serius yang muncul dari diri Ki Sugeng itu. Dengan cepat, Ki Jokoro Nula itupun membawa semua orang yang ada di sana ke dalam dunia hampa gaib, di mana pertarungan seru akan terjadi dan habis-habisan melawan Ki Sugeng.

“Ki Jokoro Nula, apa yang kau lakukan? Mengapa kalian bawa kami semua ke duniamu?” tanya kek Herman sedikit geram, namun segera ditepis ketika melihat wajah Ki Jokoro Nula, Ki Jokoro Geni, dan Ki Jokoro Kala yang sudah berkeringat dingin saking takutnya pada Ki Sugeng.

“Ayahanda, sepertinya guru dari Surti itu teramat berbahaya. Apa yang harus kita lakukan sekarang ini?” tanya Pak Hendro berbisik.

“Tidak ada cara lain selain bertarung dengannya. Pastinya dia takkan mau membiarkan kita kabur, setelah apa yang kita lakukan ke muridnya, ‘kan? Lagipula, aku cukup penasaran dengan ilmu kanuragan yang ia punya.” Jawab kek Herman merinding mendapati aura hitam yang terus keluar dari tubuh Ki Sugeng.

Ki Sugeng pun akhirnya melangkahkan kakinya mencoba mendekat.

“Apa kalian sudah siap untuk mati setelah apa yang kalian lakukan ke muridku?” Ki Sugeng memulai obrolannya sebelum memulai pertarungan. Dia mengatakannya dengan penuh ancaman. “Jangan harap di antara kalian akan selamat maupun bisa lari dariku, bedebah!!”

Untuk membantu ketiga orang keluarga Wiraatmaja, Ki Jokoro Nula, Ki Jokoro Geni, dan Ki Jokoro Kala memanggil semua anak buahnya, berjumlah ratusan. Yang paling banyak adalah Demit Gawur, Siluman Ular, Siluman Kelabang, Pocong Ireng dan Kuntilanak Hitam. Mereka semua berasal dari Alas Ireng. Tak lupa juga, ada demit Brajadh juga di sana.

Dengan sekali hentakan kaki, Ki Sugeng berhasil membunuh kesemua demit-demit itu dengan tanpa pusaka apapun. Semakin memperjelas kesaktian dan ilmu kanuragan yang dipunyai Ki Sugeng memang benar-benar diluar nalar.

...

Sementara itu, jauh di perbatasan desa Witiran, Feby, Andre, Agung, Siti, dan Wulan sedang menunggu kedatanganku dan juga Cici. Mereka mengeluhkan apa yang terjadi kemaren lusa, di mana tiba-tiba Cici berubah menjadi demit Brajadh setelah mendengar suara Adzan Maghrib. Untunglah mereka bisa melarikan diri, kalau tidak, pastinya mereka sudah mati.

Mereka bahkan harus tersesat berkali-kali ketika menghindari kejaran demit Brajadh, sampai mereka sempat menginap di Alas Ireng segala.

“Untung saja kita bisa lolos dari demit Brajadh itu,” seru Andre lega. “Kalau nggak, pasti kita sudah mati sekarang cok!~”

Mendengar umpatan Andre, membuat yang lainnya sebel dan eneg.

“Kamu tuh jangan Cuma ‘cok, cok’ mulu. Harusnya pria garang dan besar seperti dirimu bisa melawan tuh demit! Garang kok penakut,” ejek Siti kala itu yang akhirnya sudah kembali ke Siti yang sedia kala. “Agung dan Feby saja berani lawan tuh demit ... ya walaupun mereka tak berdaya di hadapan demit-demit itu, tapi setidaknya mereka sudah berusaha gitu.”

Mendengarnya, Andre malam semakin geram. “Kau pikir aku pengecut, he!? Harusnya kau saja yang melawan demit-demit itu tadi. Kau kan punya penjaga gaib!!”

“Cukup... cukup!” lerai Feby tiba-tiba. “Aku sudah eneg dengan perdebatan kalian mulu. Yang terpenting saat ini kita harus segera mencari Mela yang menghilang entah kemana, sekaligus menunggu kedatangan kak Umam.”

Mereka berdua pun diam seketika. Siapa juga yang berani mendengar bentakan keras dan garang Feby tadi. Tapi setidaknya dengan begitu, kondisi yang sempat memanas, kini kondusif kembali.

Setelah berjalan selama sepuluh menit, mereka pun sampai di tugu perbatasan desa yang dimaksud, namun sesampainya di sana mereka tidak mendapatiku dan Cici yang katanya akan segera menyusul.

Di samping tugu perbatasan desa, terlihat ada sebuah pos ronda. Di sana terlihat samar-samar ada seorang gadis yang tergeletak. Oleh karena itu, mereka putuskan untuk segera menghampirinya.

Dan setelah dicek, gadis itu ternyata adalah Mela yang entah mengapa tak sadarkan diri.

“Lho, bukankah dia itu Mela. Kenapa dia bisa tergeletak tak sadarkan diri di sini?” tanya Agung kaget dan keheranan melihat Mela yang ternyata berada di sana dan tak sadarkan diri pula. “Ayo kita segera bangunkan dia!”

Sebelum itu, Feby segera angkat bicara ke semua teman-temannya mengenai suatu hal tentang Mela.

“Mela adalah gadis yang teramat misterius. Itulah yang dikatakan Danang dan kak Vita padaku. Sejak kecil dia selalu dikurung dan diasingkan oleh keluarganya di villa kakeknya sampai berusia sembilan tahun, karena suatu alasan tertentu,” kata Feby memulai obrolan, dan yang lainnya pun dengan senang hati mendengarkan sembari duduk beristirahat. “Sikap dan sifat Mela sering tak stabil, maka dari itu, dia selalu mengubah ingatannya sendiri, demi beradaptasi dengan kondisi disekelilingnya. Itulah yang dikatakan oleh Danang juga kak Vita padaku.”

“Hm... apa Mela mengalami kekerasan fisik dan mental saat diasingkan itu?” tanya Wulan yang terlihat sudah iba dan berkaca-kaca.

“Katanya sih, iya,” jawab Feby mengiyakan. “Bahkan dia mendapati perlakuan yang tak manusiawi dari ayahnya sendiri. Menurut penyelidikan kepolisian, mereka mendapati kalau selama ini Mela telah dikurung ke dalam kandang anjing yang terbuat dari besi, dan setiap kali ingin makan, dia hanya diberi makan roti basi, minuman darah busuk, dan di depan kurungannya, selalu terpampang jelas sesajen-sesajen aneh dan mengerikan gitu. Bahkan menurut kabar, Mela sering sekali memakan karpet dan pakaiannya sendiri karena tak mau memakan sesajen dan juga meminum darah busuk itu.”

Mereka semua langsung bergidik ngeri mendengar penjelasan dari Feby tadi. Kecuali Andre dan Agung yang terlihat antusias dan penasaran mendengar cerita kelam Mela.

“Terus, terus...?”

“Sayang sekali hanya itu yang kudapat dari informasi-informasi yang kukumpulkan. Tapi yang jelas, keluarga Immas tidak pernah berurusan dengan polisi sekalipun, padahal mereka telah menyiksa anak kandung mereka sendiri sebegitu kejamnya.” Jawab Feby yang juga heran dan iba saat menjelaskannya. “Tapi beberapa hari lalu, aku mendapat penjelasan dari kak Umam kalau Mela-lah yang membunuh ayah dan juga seluruh keluarga Immas kala itu, bahkan ada yang lebih buruk lagi. Mela merubah ayah dan seluruh keluarganya sebagai wanita dan menjadikan mereka sebagai pelayan atau abdinya yang dengan setia selalu melayaninya.”

“Gile betul. Bukankah dengan begitu, kita juga terancam akan keberadaan Mela ada di kelompok kita?” tanya Andre yang sudah merasa ketakutan itu.

“Kata kak Umam sih, dia berada dalam kondisi yang stabil beberapa hari ini, jadi kalian tak perlu khawatir gitu,” jawab Feby tenang. “Lagipula, Mela bukanlah orang yang akan melukai sahabatnya sendiri. Itulah yang kak Umam dan aku yakini saat ini.”

Setelah selesai bercerita, Feby bergegas membangunkan Mela yang masih tak sadarkan diri itu. “Mel... Mel, bangun, Mel! Bangun...”

Syukurlah, Mela pun mampu membuka matanya. Dengan segera, Wulan menanyakan bagaimana Mela bisa ada di sini, namun Mela hanya menggeleng. Diapun juga tidak mengerti bagaimana dia bisa ada di sini.

“Mela, kami sudah mencarimu selama sepuluh hari penuh loh. Bahkan, kak Umam saat ini tengah mencarimu di desa Witiran belakang sana.” Kata Wulan memberitahu Mela kalau aku masih mencarinya.

Tiba-tiba Mela tersentak, dan mengangkat kerah baju Wulan. “Dimana Darling, dimana Darling saat ini??”

Dengan cepat, Feby dan yang lainnya berusaha melepaskan tangan Mela dari kerah baju Wulan, dan setelah beberapa menit, akhirnya mereka berhasil juga melepaskan tangannya dari kerah baju Wulan.

“Hey, Mel. Apa yang kau lakukan ke Wulan barusan, he?” bentak Agung seketika. Sepertinya dia sedikit terbakar emosi. “Apa kau tahu kalau selama sepuluh hari ini kami semua selalu mencarimu, dan inikah balasanmu pada kami??”

Mela pun akhirnya menunduk, menyesali perbuatannya barusan. Tapi bagaimana lagi, dia juga terlihat khawatir dan cemas padaku.

Tiba-tiba dari arah hutan Alas Ireng, terlihat ribuan orbs yang melesat pergi menuju ke suatu tempat di desa Witiran, seperginya orbs-orbs itu dari hutan Alas Ireng, tiba-tiba terjadilah gempa dan seluruh hutan Alas Ireng pohon-pohonnya ambruk ataupun terbakar, hingga menutupi jalan.

Mela pun merasakannya, dan langsung bilang. “Darling... darling dalam bahaya besar!”

-BERSAMBUNG-

So that's it guys, buat chapter 28 nya. Maaf lama karena aku sempat revisi dulu chapter 28 ini karena tulisannya tak beraturan dan mencar ke mana2, jadi aku revisi dulu cerita ini. Dan selain itu, aku juga sibuk RL dan menulis untuk cerita fantasy.

Di horror 29 nanti akan berjudul "Akhir Dari Keluarga Wiraatmaja."
so stay tune terus di sini. Oh ya, horror 28 ini, kita sudah tak masuk dalam Arc 2 ya, tapi sudah masuk arc 3.

So, thanks for all of you yang setia menunggu cerita ini update.
And see you next time ... emoticon-Smilie emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
senja87 dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
30-01-2021 01:58
Pantes suwi updet gan
Ternyata draf podo demo dewe dewe to
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rijalbegundal dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Halaman 6 dari 8
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
aku-mencintai-bandot-tua
Heart to Heart
apakah-ini-cinta
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia