Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1014
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e4fcf409a972e05b10e0324/tulah-jasadnya-mati-dendamnya-beranak-pinak--based-on-true-story
Namanya Mas Adil (nama disamarkan), kawan dekat dari kakak salah satu admin The Dark Tales yang dulu pernah aktif berkegiatan sebagai relawan di salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang lumayan gede dan punya anggota/relawan yang tersebar di kota-kota di pulau Jawa. Dan dari Mas Adil inilah cerita itu pertama kali kita denger. Cerita tentang pengalaman beliau waktu masih aktif di organisasi y
Lapor Hansip
21-02-2020 19:38

TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story

Past Hot Thread
Salam kenal semuanya, agan-agan kaskuser dan para penghuni forum SFTH...

Perkenalkan, kami adalah empat orang anonim yang berdasar pada kesamaan minat, memutuskan untuk membuat akun yang kemudian kami namai THE DARK TALES.

Dan kehadiran kami di forum ini, adalah untuk menceritakan kisah-kisah gelap kepada agan-agan semua. Kisah-kisah gelap yang kami dengar, catat dan tulis ulang sebelum disajikan kepada agan-agan.

Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.

Tanpa banyak berbasa-basi lagi, kami akan segera sajikan thread perdana kami.

Selamat menikmati... 


Quote:
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story

Kisah ini berdasarkan kejadian nyata, berdasarkan penuturan beberapa narasumber dan literasi tambahan. Beberapa penyamaran, penambahan dan pengurangan mengenai lokasi, nama tokoh dan alur cerita kami lakukan untuk kepentingan privasi dan keamanan.





Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mefriction dan 120 lainnya memberi reputasi
107
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 20 dari 34
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
22-07-2020 20:17
Noted ah
0 0
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
28-08-2020 04:08
Cerita lbh dr setengah taon mandeg.. Kentangnya ampe ude jd frenchfries ini coeg
0 0
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
28-08-2020 09:11
Makin banyak aja potato storie di mari
0 0
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
28-08-2020 13:07
TS nya nanem kentang di mariemoticon-Ngakak
0 0
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
22-09-2020 22:06
hmmmmmm
0 0
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
23-09-2020 11:07
sampe skr blm update , eek la
Delete aja udh ini gaje emoticon-No Hope
0 0
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
23-09-2020 14:39
Kelihatan bgt fiktif, kentang dimana mana
0 0
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
23-09-2020 17:23
Heh ts tukang tipu..
profile-picture
profile-picture
rotten7070 dan mfzanonym memberi reputasi
1 1
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
09-10-2020 07:12
Kayaknya beneran TS kena tulah...sampe skrg gk update...
0 0
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
09-12-2020 23:47
MASIH ADA YANG MAU BACA GAK ANDAI CERITA INI DILANJUTIN?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
09-12-2020 23:57
Ane masih setia kok gan
profile-picture
doelviev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
10-12-2020 00:05
@aan1984 mari kumpul-kumpul semua disini gan
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan doelviev memberi reputasi
2 0
2
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 08:54

FIX LANJUT, YA! TAPI...

Quote:Halo agan-agan semua, sebelumya ane mewakili tiga member The Darktales yang lain mengucapkan maaf yang sebesar2nya karena cerita ini molor sedemikian lama dan tanpa ada kejelasan dari kita semua.

Kita enggak ada maksud untuk ngasih kentang atau bahkan memanfaatkan cerita ini untuk keuntungan semata seperti dibukukan atau yang lain sejenisnya. Kita murni hanya ingin share cerita ini kepada agan-agan semua, karena kami pikir cerita ini sangat menarik untuk dinikmati oleh kita semua. Benar-benar murni itu.

Tapi hutang janji tetaplah hutang. Harus ditepati. Jadi dengan ini kita yang tersisa di The Darktales akan tetep ngelanjutin cerita TULAH ini sampai selesai, dengan dukungan agan-agan semua tentu saja, apapun yang terjadi.

Begitupun dengan alasan kenapa cerita ini molor sedemikian lama, kita merasa perlu menjelaskan secara terbuka kepada agan-agan semua tentang apa yang sebenernya terjadi.

Untuk diketahui oleh agan-agan semua

Kami mengerti kekecewaan agan-agan semua dan kami menerima itu sebagai kesalahan kami. Tapi, kami berusaha menepati janji dan melanjutkan cerita ini sampai selesai Jadi, dengan beribu maaf dan hormat, ijinkan kami untuk melanjutkan cerita TULAH ini.


Sedikit minta saran gan, mending dilanjut di sini apa bikin trit baru lagi?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prayformysky dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 11 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 09:09
Gimana enaknya aja,dan kalo bisa sepuh2 trid horor dimari juga biaa kasih masukan gimana enaknya buat kelanjutannya
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan aan1984 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 10:42
Lanjuttt wae nang kene bosss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 13:43
Lanjut di sini lagi aja....harus baca maraton dr awal lagi ini, ud lupa alur ceritanya gmnemoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 10 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 15:24

BAGIAN 2

Quote:
Hujan turun untuk kedua kalinya.

Jam dinding di sudut sana menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit.

Jari-jari Adil lincang menaik-turunkan layar ponselnya. Mencari-cari nama seseorang yang dia kenal, yang memungkinkan untuk dimintai bantuan di deretan daftar kontaknya. Jantungnya berdegup kencang akibat adrenalin yang bergejolak. Bagaimana bisa di jam sekarang ini, masih ada orang yang memperlakukan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dengan cara yang tidak beradab seperti itu? Apalagi korbannya adalah seorang perempuan. Fakta itu menambah kegusaran yang dirasakan Adil.

Tak lebih dari dua menit, Adil menemukan nama yang dia cari. Seorang kawan sekaligus rekan sesama organisasi, dan kebetulan lokasi tempat tinggalnya paling dekat dengan lokasi Dea menjalankan program KKN-nya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia segera memencet tombol PANGGIL. "Halo, Eko? Lagi neng ngendi Ko? (Lagi dimana Ko?)"

"Halo, Adil. Piye Kabarmu, Dil? Biasa, aku masih di kota Y*******. Gimana, gimana?" Suara serak itu terdengar begitu ramah. Suara milik Eko, seseorang yang dia kenal ketika gathering organisasi setengah tahun lalu.

"Baik, Ko. Dadi ngene (Jadi begini) Ko, aku butuh bantuan evakuasi. Bisa? Tadi temen adikku telepon, katanya butuh bantuan evakuasi ODGJ yang dipasung. Lokasinya masih satu daerah sama tempatmu."

Eko terdengar antusias. Sama antusiasnya dengan Adil sendiri ketika pertama mendengar kabar itu dari Dea. "Boleh, boleh! Ini aku juga lagi ndak ada kegiatan. Kirimin saja nama lokasinya sama kontak temennya adikmu itu. Nanti biar aku follow-up..."

"Namanya Dea. Nomornya nanti aku kirim lewat BBM wae. Lokasinya di Kabupaten G*********. Nama desanya Srigati..."

"Kosek, kosek (bentar, bentar)! Desa mana??"

Adil kaget omongannya dipotong seperti itu, apalagi dengan nada yang seperti kaget dan tak menduga. "Desa Srigati. Ngopo emangnya?"

"Sepurane, Dil. Aku ndak bisa kesana."

Dan panggilan diputus begitu saja.

Adil termangu di tempatnya duduk. Dia bingung setengah mati dan butuh waktu baginya untuk mencerna apa yang barusan terjadi. Adil mencari-cari jawaban, kenapa nada bicara Eko langsung berubah ketika mendengar nama desa itu. Apa yang salah? Apa yang membuat Eko begitu tiba-tiba keras menolak untuk memberi bantuan ketika mendengar nama desanya?

Tapi belum juga dia mendapat jawaban, ponselnya kembali berdering. Ada pesan BBM masuk. Dari Eko.

"Aku ndak mau ikut campur kalau udah menyangkut desa itu, Dil. Maaf."

BBM kedua masuk sepuluh detik kemudian.

"Lagian, ngopo kancane adikmu pecicilan tekan kono? Aku ra percoyo yen mereka mung KKN thok neng desa kui! (Lagian, kenapa teman adikmu itu pecicilan sampai ke sana? Aku tidak percaya kalau mereka cuma KKN di desa itu!) Dan saranku, kamu mending ndak usah ikut-ikut campur...”

Belum juga dia menemukan jawaban atas kebingungan-kebingungan sebelumnya, kini ada pertanyaan lain yang menghantam kepala Adil...

ADA APA SEBENARNYA DENGAN DESA ITU?


Quote:

Karena memang pada awalnya, nama desa Srigati bahkan tidak disebut dalam proposal KKN mereka. Program kegiatan hanya meliputi tiga desa, dan untuk tempat tinggal dan program utama mereka dipusatkan di satu desa yang paling besar yaitu desa Jatiasih (bukan nama sebenarnya).

Dua desa lain yang lebih kecil, yaitu dusun Waru dan Giriwatu (bukan nama sebenarnya) hanya mendapatkan program minor karena dua daerah itu secara lokasi dianggap sebagai daerah satelit dan tak bisa dipisahkan dari Jatiasih itu sendiri.

Selain itu, ketiga desa tersebut memiliki kesamaan. Secara kontur, tanah di sana adalah tanah karst yang kering dan tandus. Setiap musim kemarau datang, dapat dipastikan para warga mengalami kesulitan air bersih.

Begitupun di bidang pertanian, tak banyak yang bisa diharapkan. Mereka hanya bisa menggarap tanah ketika musim penghujan tiba, itupun hanya beberapa komoditas seperti jagung, ubi atau singkong. Selain itu tak ada yang bisa mereka lakukan. Para orang tua memilih mengurus ternak, yang muda nekat merantau ke kota.

Dari hasil observasi awal, ternyata sudah ada tiga kali KKN yang dilakukan di Jatiasih. Dua yang awal bahkan dari kampus yang sama dengan kampus Dea. Jadi, otomatis mereka tinggal melanjutkan program-program yang dulu sudah dijalankan. Seperti perbaikan saluran air yang diambil dari sumur-sumur yang ada serta edukasi tentang pertanian di tanah kapur kepada para petani.

Dua minggu berlalu, semuanya berjalan sesuai rencana. Warga dan Pak Kusno, Kepala Desa Jatiasih, begitu ramah dan kooperatif. Lalu hari itu tiba...

Malam dimana Gilang menarik tangan Dea. Mengajaknya menyingkir sejenak dari anak-anak yang lain. Menuju ke halaman belakang rumah salah satu warga yang mereka tumpangi. Ada yang ingin dia bicarakan kepada Dea secara pribadi, karena dia pikir cuma Dea-lah yang bisa diajak diskusi soal ini.

"Di sebelah selatan desa ini ada satu Dusun. Kemarin aku ndak sengaja kesana pas jalan-jalan. Aku lihat dusun itu sepertinya lebih butuh bantuan."

Dea sedikit kaget. Baginya ini terasa begitu tiba-tiba. "Dusun apa sih, Gil? Kemarin pas diantar keliling Pak Kusno, seingatku di selatan Jatiasih cuma ada Dusun Waru dan abis itu hutan."

Gilang menelan ludah. Dia tampak ragu melanjutkan kalimat berikutnya. "Habis hutan itu, De. Kan ada jalan itu, jalan kecil yang diplester semen. Ingat, kan?"

"Maksudnya jalan masuk hutan?? Dusun itu masuk hutan??"

Gilang jadi tambah ragu. "I..Iya. Tapi ndak jauh kok. Masuknya paling dua kilometer aja. Habis itu udah ketemu sama gerbang dusunnya."

Kamu juga ngapain jalan-jalan sampai sana sih, Gil? Batin Dea. Tapi itu tak ditanyakannya langsung.

"Besok kamu lihat sendiri deh, De. Tapi berdua aja. Jangan bilang anak-anak yang lain dulu. Pak Kusno juga."

Dahi Dea berkerut. Dan sepertinya Gilang paham kalau lawan bicaranya itu curiga kepadanya.

"Ora-ora yen kowe tak perkosa! (Enggak-enggak kalau kamu aku perkosa!) Kamu tahu sendiri kan aku udah punya pacar!"

Dea menyeringai. "Tapi pacarmu ndak ada disini, kan?" Ucapnya sambil berbalik badan dan masuk kembali ke dalam rumah.


Quote:
Dan entah apa yang merasuki Dea, besoknya, di sore setelah mereka kabur sembunyi-sembunyi dari kegiatan kerja bakti bersama warga Jatiasih, dia sudah duduk di jok belakang motor Gilang.

"Udah? Ayo berangkat..." Gilang menoleh ke belakang sambil melempar senyum. Tampaknya anak ini sudah siap membawanya pergi ke dusun antah berantah itu.

Dea hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan motor Gilang melaju meninggalkan markas KKN. Walau pikiran-pikiran jelek itu masih nongkrong di kepala, tapi setidak-tidaknya Dea sudah pasang tameng untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Dan terlepas dari itu, semalaman tadi Dea terus berpikir; kenapa Gilang begitu tertarik dengan dusun itu, dan kenapa tak boleh ada orang lain yang tahu? Bahkan Pak Kusno kepala desa...

Dan tak lebih dari sepuluh menit perjalanan melewati Jatiasih dan Waru, Gilang menghentikan tarikan gasnya tepat di depan sebuah hutan jati yang terakhir kali Dea lihat di hari pertama mereka datang ke Jatiasih. Ketika itu Pak Kusno mengajak seluruh anak-anak KKN berkeliling sambil memberikan penjelasan singkat tentang keterkaitan antara Jatiasih dan dua dusun di sekelilingnya. Kalau mau pengabdian di Jatiasih, maka otomatis Waru dan Giriwatu juga harus masuk dalam proker mereka. Begitu kata Pak Kusno dulu.

Dan dari apa yang masih diingat Dea, tur singkat itu berakhir di sini. Tepat di tempat dimana saat ini motor Gilang berhenti.

"Kenapa berhenti, Gil?"

Di hadapan Dea kini terbentang sebuah hutan yang dipenuhi deretan pohon-pohon jati raksasa yang nyaris semuanya meranggas. Hanya ada beberapa daun yang masih bertahan, seolah menolak gugur di tengah gersangnya tanah ini. Dahan-dahannya meliuk, menyeramkan, seakan tampak seperti figur ratusan manusia raksasa yang sedang menari. Dan di antara rapatnya deretan pohon-pohon itu, nampak satu jalan kecil yang diplester dengan semen membelah lebatnya hutan.

Memori-memori di hari pertama itu terputar kembali di kepala Dea. Bagaimana di tempat ini dulu, Pak Kusno menghentikan langkahnya. Mengehela nafas panjang sambil membenarkan posisi kopiah warna hitam yang selalu dipakainya itu.

“Ini adalah batas dusun Waru. Saya harap adik-adik ini mampu memaksimalkan program kerja dan selalu ingat untuk menjaga diri dan lingkungan. Tetap fokus dan jangan aneh-aneh. Batas kalian di sebelah selatan adalah hutan ini. Jadi saya ingatkan sekali lagi...”

Butuh beberapa saat bagi Dea untuk mengingat utuh kalimat terakhir dari Pak Kusno.

“...jangan melewati batas!”

Sekarang, Dea benar-benar menyesali pilihannya. Tak ada hal lain yang dia inginkan kecuali segera berbalik ke Jatiasih. Bulu kuduknya meremang. Tapi belum juga sempat ia mengutarakan niatnya, Gilang lebih dulu angkat bicara.

"Jalan aspalnya cuma sampai sini, De. Habis ini kita masuk ke dalam sana..."

"Bentar, Gil! Aku ingat Pak Kusno pernah..."

"Wis, to! (Sudahlah!)" Gilang memotong omongan Dea, dan entah kenapa Dea tak memprotes sedikitpun. Sepertinya rasa takut itu lebih menguasai dirinya. "Pokoknya nanti di sana, bilang saja kita mau memeriksa sumber air untuk dialirkan ke Waru, Giriwatu dan Jatiasih. Bicara saja seperlunya."

"Gil, aku gak mau kalau..."

Terlambat. Gilang menarik kembali gas motornya kencang-kencang. Membiarkan mereka berdua ditelan hutan Jati yang bagi Dea seakan begitu luas dan tak memiliki ujung ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kаskus dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 15:34
Silakan gan sambil memutar kembali memori ke awal-awal cerita, ane udah posting ulang dan sekaligus ngerapiin cerita dari Prolog sampe Bagian 2. Semuanya bisa di cek di bagian Index di page one.

Untuk Bagian terbaru sejak kita hiatus lama banget, yaitu Bagian 3, akan ane posting nanti malem jam 8 ya??

Matur tengkyu semuanyaaa...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 20:16

BAGIAN 3

Terimakasih agan-agan semua yang udah mau kembali gelar tenda di trit kami yang sempat mandeg lebih dari setahun ya kayaknya hehehhehee...

Dan malam ini kami, The Darktales, mempersembahkan Bagian 3 dari trit TULAH ini. Selamat menikmati!!


Quote:
Terakhir kali Dea merasakan ketakutan seperti ini adalah ketika dia berumur sepuluh tahun. Lift yang membawanya beserta bapak dan ibunya ke lantai tiga sebuah pusat perbelanjaan, tiba-tiba kehilangan daya tarik dan macet di tengah jalan. Suatu kejadian yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup, tentang bagaimana sensasi terkurung di ruangan sempit selama lebih dari dua jam. Gelap, pengap dan merasa terancam. Bahkan untuk bernafaspun, rasanya Dea kesulitan.

Dan kini, trauma 12 tahun lalu itu mendatanginya lagi. Kali ini, bukan di lift atau ruangan sempit lainnya. Tapi di atas motor Gilang yang melaju kencang di atas jalan tanah berbatu yang membelah hutan jati. Hutan jati, yang di kemudian hari mereka berdua kenal memiliki nama hutan Randuwangi.

Sensasinya sama. Dea merasa terkurung di tempat ini. Pohon-pohon jati yang meranggas ini seperti memiliki sepasang mata yang menatap tajam kepada dia dan Gilang. Seakan mengawasi keberadaan dua anak muda asing yang datang kesini tanpa permisi. Pun, dengan cara Gilang mengemudikan sepeda motornya seperti orang gila. Tak peduli bagaimana parahnya jalan yang kini mereka lewati, Gilang seperti hanya tahu cara menarik gas dan motor yang terus melompat-lompat tidak stabil. Semakin membuat Dea merasa tidak nyaman.

Tapi lidahnya sudah terlampau kelu untuk memaki dan tangannya benar-benar seperti enggan digerakkan untuk memukul kepala Gilang. Rasa cekam sudah terlanjur menguasai dirinya. Membuatnya kehilangan segala daya. Bahkan dia tak mampu berbuat apa-apa ketika dia sadar bahwa Gilang sudah berbohong soal jarak dua kilometer yang ia katakan kemarin malam. Dea merasa ini bahkan sudah lebih dari tiga kilometer dan belum terlihat tanda-tanda deretan pohon jati ini akan berakhir. Bahkan gerbang dusun Srigati yang diceritakan oleh Gilang tadi, belum juga terlihat oleh pandangan mata.

"Gil..." Hanya itu yang keluar dari mulut Dea. Itupun dengan gemetar dan lebih seperti bisikan. Tenggelam dalam deru motor Gilang yang makin ugal-ugalan.

Tapi diluar dugaan Dea, ternyata Gilang mendengar panggilan itu. "Sabar, to! Dikit lagi...ini kita udah bener kok jalannya!"

Tidak! Dea berteriak dalam hati. Ini tidak benar! Bahkan semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, Dea semakin yakin bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini adalah sesuatu yang salah. Apalagi sejak masuk tadi, tak sekalipun mereka berpapasan atau berbarengan dengan motor lain. Tak satupun, walau hanya sekadar orang mencari rumput.

Tetiba, Dea merasa rindu akan suasana markas KKN mereka di Jatiasih. Saat ini dia merasa tersesat, ketakutan, dan takut tak bisa lagi kembali. Tubuhnya lemas, dan makin lemas. Nyaris saja dia kehilangan kesadaran sepenuhnya, andai Gilang tak memanggil namanya...

"De, Dea! Itu dusunnya...kita udah sampai!"

Motor perlahan-lahan berhenti. Dengan sisa tenaganya yang nyaris dihabisi oleh rasa takut dan trauma, Dea mendongakkan kepala dan memandang ke depan. Sebuah gapura besar dengan bentuk khas Jawa menjadi pembatas antara hutan jati dengan kebun jagung -yang pastinya- adalah milik warga. Di kejauhan, tampak panorama deretan rumah-rumah dan asap mengepul di jauh sana.

Di sini benar-benar masih ada sebuah dusun?? Dea bahkan tak percaya pada apa yang kini terhampar di depan matanya.

"Kita sudah sampai Srigati, De!"



Quote:
Adil sadar dia tak bisa pergi ke Srigati seorang diri. Dia perlu untuk melihat keadaan di sana, setidaknya untuk kunjungan pertama. Penolakan yang diberikan Eko membuatnya terus berpikir; apa yang salah dengan desa itu, sampai seseorang yang ia kenal punya jiwa sosial dan simpati tinggi seperti Eko memutuskan untuk tidak mau ikut campur dan mengabaikan kenyataan bahwa di sana ada seseorang -perempuan- yang butuh bantuan?

Kalau aku nekat pergi kesana sendirian dan ternyata desa itu adalah kampung begal, sama saja aku bunuh diri! Pikir Adil.

Dia bisa saja menjadi seperti Eko. Memilih abai dan tidak peduli. Toh, proyek kegiatannya bulan ini saja sudah begitu padat. Tapi entah mengapa, telepon dari Dea kemarin membuatnya sampai tak bisa tidur.

Bagaimana seorang perempuan yang membutuhkan bantuan atas penyakit jiwanya, malah dipasung kedua kakinya di kandang kambing? Manusia-manusia macam apa yang tega melakukan dan membiarkan sesuatu yang bagi Adil tidak beradab itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu seakan menjelma menjadi hantu yang menggentayanginya semalam suntuk.

Adil harus kesana, untuk kemanusiaan. Dia sudah memutuskan. Tapi dia juga tak mau gegabah. Adil harus mencari satu teman dari sini, orang yang multifungsi; tak cuma bisa menjadi teman, tapi juga kemampuan dan pengetahuan yang berguna di sana nanti.

Dan alasan itulah yang lalu membawanya ke sini, pagi ini. Di lobi gedung fakultas Psikologi sebuah kampus ternama di kota ini. Hanya dengan ditemani ponsel digenggaman dan tas pinggang warna coklat andalannya, Adil menunggu di ruang tunggu. Sesekali dia melongokkan kepala ke arah pintu masuk. Kakinya terus bergerak-gerak, menandakan perasaan tak sabar dan resah yang campur aduk menjadi satu.

Lima belas menit berlalu, suara tapak sepatu di lantai keramik terdengar menggema di seluruh ruangan lobi. Adil bangkit dari duduknya, dan melihat apakah itu orang yang sejak tadi ia nantikan kedatangannya.

"Mel?" Seru Adil dengan rasa bahagia yang membuncah begitu saja. Si pemilik nama, seorang wanita muda berumur 27 tahun dengan rambut hitam lurus berponi lempar, langsung menghentikan langkah. Sepasang mata indah yang terbingkai lensa minus satu itu langsung melemparkan tatapan menyelidik ke arah Adil.

"Adil..."

Merasa disambut dengan baik, Adil langsung mengambil inisiatif untuk mendekat. Tapi sepertinya, ia terlalu cepat menyimpulkan. Gadis Ibukota yang dulu pernah sangat dekat dengannya itu malah mengambil satu langkah mundur.

"Ngapain lo ke sini?"

"Eh, anu..." Adil jelas salah tingkah. "Semalem aku wis nyoba BBM dan telepon kamu. Tapi enggak ada jawaban. Kamu masih jadi asisten Dosen di sini?"

Melia melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai. "Emang sengaja enggak gue bales. Dan gue lagi males banget nih buat basa-basi."

Adil kemudian merenungi kembali pilihannya semalam; apakah meminta bantuan kepada mantan pacar (yang putusnya pun tidak dengan cara baik-baik) adalah pilihan bijak? Tapi, tak ada nama lain di pikirannya kecuali Melia. Sekeras apapun dia mencari, hanya nama -dan wajah- itu yang ada di kepalanya. Entah karena Adil tahu bahwa Melia memiliki kapasitas, perhatian dan empati yang sama tingginya dalam masalah kejiwaan...

...atau sebenarnya, ini hanya memang sebatas perkara rindu yang belum selesai.

Tapi apapun itu, Adil tahu kalau Melia saat ini adalah seorang asisten dosen psikologi di kampus ini. Dia butuh Melia untuk dibawanya ke Srigati.

"Terserah kalau lo ngelamun dan berdiri di sini sampai nanti malem, tapi maaf...gue ada kelas dan gue sedang buru-buru. Permisi!"

Brengsek! Bahkan aroma parfum yang merasuk ke hidung Adil ketika tubuh Melia berlalu melewatinya masih sama seperti dua bulan yang lalu. Aroma parfum penuh nostalgia yang sekaligus menyeretnya kembali ke kenyataan. Buru-buru dia memutar badan dan setengah berteriak, mencoba menghentikan Melia yang sosoknya nyaris hilang dari pandangan.

"Kosek, to! (Bentar, dong!) Ada kasus pemasungan, korbannya perempuan!!" Berhasil. Langkah Melia terhenti seketika.

"Aku butuh bantuanmu Mel..."
Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kаskus dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 20:46
Waw finally lanjut lagi dong
emoticon-Matabelo
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 20 dari 34
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
adikku-kekasihku
Stories from the Heart
burung-kertas-merah-muda-2
Stories from the Heart
kau-tetap-perempuan-surgaku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
kencan-pagi
Stories from the Heart
sweetseventeen
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia