Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
350
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ed513dd7e3a720d597d76f7/antara-rasa-dann-logika--final-chapter---true-story
Assalamu'alaikum penghuni KASKUS. Salam hormat bagi momod. Selamat datang, Melanjutkan Thread sebelumnya dari "Antara Rasa dan Logika". Dan mohon maaf, pertanyaan dari para reader yang gue jawab kemarin di Thread sebelumnya itu gak semuanya sesuai RL. Kenapa? Karena akan gue jawab semuanya disini. Segitu aja jadi, selamat membaca. Demi apapun. Aku gak mau menyebutmu sudah tak cantik lagi
Lapor Hansip
01-06-2020 21:42

Antara Rasa dan Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]

Quote:Assalamu'alaikum penghuni KASKUS. Salam hormat bagi momod. Selamat datang, Melanjutkan Thread sebelumnya dari "Antara Rasa dan Logika". Dan mohon maaf, pertanyaan dari para reader yang gue jawab kemarin di Thread sebelumnya itu gak semuanya sesuai RL. Kenapa? Karena akan gue jawab semuanya disini. Segitu aja jadi, selamat membaca
.



Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]





Quote:Demi apapun. Aku gak mau menyebutmu sudah tak cantik lagi. Jadi diamlah dan percaya padaku.


Part 1


Hai pagi. Apa kabar denganmu? Bagaimana dengan bulir embun yang menggenang di atas daun lalu jatuh perlahan dari sudutnya? Apakah sudah menyentuh membuat sedikit tanah menjadi kecoklatan lebih tua dari sisi lainnya? Ah, tentu saja begitu. Apakah kau tahu bahwa ada perempuan yang kini setia menunggumu, pagi? Harusnya kau tahu. Perempuanku saat ini sangat menyukaimu.

Semilir angin masuk melalui sela-sela jendela yang sedikit menganga. Udara yang segar menyeruak keseluruh sudut kamar. Kamar kami. Gue kerjip kan mata. sinar matahari pagi yang menelusup melewati tirai yang sudah tidak menutupi jendela sebagian membuat silau. Tentu saja, dia pasti yang melakukan ini. Ah, gue lupa kalo tadi sehabis shalat subuh, malah terlelap lagi.

Gue melirik ponsel di atas nakas. Menyambarnya. Menyipitkan mata lalu menatapnya. Pukul 06.15. masih ada satu jam lebih untuk bermalas-malasan. Tapi suara remaja tanggung itu membuat mata enggan untuk menutup lagi. Gue sibakan selimut. Duduk. lalu berjalan keluar dan berdiri di bawah bingkai pintu.

"Ini bekal nya udah teteh masukin di tas. Jangan lupa dimakan kalo istirahat. Terus, inget, jangan kebanyakan jajan. Ditabung uangnya, ya?" Ujar perempuan yang kini menjadi teman hidup gue ke ramaja tanggung itu. Membereskan tasnya. Lalu memberikannya.

Remaja tanggung itu menyandang tasnya lalu melempar senyum lebar, "siap bos," seraya menggerakan tangannya layaknya hormat kepada komandan. Seragam putih birunya terlihat sedikit kebesaran. Membuatnya agak lucu. Tapi tak apalah.

"Yaudah gih, nanti telat" balasnya tersenyum. Membelai kepalanya lembut.

"Assalamu'alaikum" lalu meraih tangan perempuan itu untuk menyaliminya.

Remaja tanggung itu lekas berjalan. Melirik gue. Dan mengurungkan langkahnya menuju pintu depan. Lalu berjalan menghampiri gue.

"A, aku berangkat dulu"

Gue tersenyum lalu mengangguk. Telapak tangannya yang lebih kecil dari gue kini menggenggam tangan gue, lalu diarahkannya punggung tangan gue ke keningnya. Beberapa detik. Ia lepaskan kembali. "assalamu'alaikum". Lalu berjalan keluar.

"Wa'alaikumsalam. Hati hati dijalan"

Ah, mungkin sekolah adalah hal menyenangkan untuknya sekarang. Hal baru dia dapatkan. Teman baru. Terutama ilmu. Suatu saat nanti ia akan menjadi orang hebat. Sehebat perempuan yang berada di samping gue saat ini.

Teringat waktu itu. Beberapa bulan yang lalu. Gue dan istri mendapati remaja tanggung itu duduk di tepi pelataran masjid tempat dia berteduh. Duduk memeluk lututnya. Membenamkan wajah diantara lututnya. Sepertinya hari itu adalah hari ke-tidak beruntungannya. Langit malam pekat. Tersaput awan. Tidak seperti biasanya. Bintang tidak menunjukan jati dirinya. Bahkan formasinyapun entah kemana.

Remaja tanggung itu terisak. Terisak dalam.

Istri gue menepuk pundaknya. Remaja tanggung itu Mengangkat wajahnya pelan. Sangat pelan. Matanya basah. Bibirnya bergetar. Nafasnya tercekat. Ia duduk di sampingnya. Membelai wajahnya lalu memeluknya. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ibu meninggal teh". Ucapnya bergetar. Hampir tidak terdengar. Istri gue menatap kosong ke arah depan. Tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca. Lalu memeluk remaja tanggung itu semakin erat. Sejak itulah, istri gue membawanya ke rumah ini. Menjadi bagian dari keluarga kecil kami. Memberi warna baru setiap hari. Tawa nya. Candanya. Ocehannya. Ah, itu semua sudah bagian dari kami. Gue tahu, istri gue sangat menyayangi remaja tanggung yang tubuhnya tak sesuai dengan usianha kebanyakan. Ia terlalu kecil. Ringkih. Dengan kulit kecoklatan.

Istri gue sudah menyiapkan kopi hitam di atas meja makan lengkap dengan sebungkus rokok.

Dia tentu tahu betul kebiasaan gue. Kopi, rokok, itu sudah menjadi bagian dari pagi. Bagian dari cahaya matahari yang sedikit memberi warna kuning pucat di kaki cakrawala.

"Kamu kok gak bangunin aku sih?"

"Udah, tapi dasar kamunya aja yang kebo, malah tidur lagi!" Cibirnya.

"Yee, enggak ya, tadi subuhkan udah bangun" balas gue.

"Tetep aja, udah gitu ngebo lagi." Cibirnya lagi.

Ups, itulah kelemahan gue. Selepas subuh, malah ketiduran. Atau lebih tepatnya sengaja terlelap lagi.

Gue hanya tersenyum lebar. Menggaruk tengkuk yang gak gatal.

Senyum nya yang hangat mengalahkan hangatnya matahari yang baru muncul ke permukaan

***

Jam 07.15. waktunya menemui setumpuk kerjaan di kantor. Menemui hiruk pikuknya dunia demi sesuap nasi.
Jam 07.50. gue sudah berada di lobi. Pak Yanto, Office boy di kantor gue menyapa dengan senyuman dan anggukan. Gue membalasnya. Berjalan Melewati koridor yang tiap sisinya adalah ruangan staff dan pegawai lainnya.

Gue sampai di meja. Menyimpan tas. Mengeluarkan flashdisk. Menancapkannya pada lubang USB di PC. Ah, tentu saja pekerjaan kemarin telah menunggu.




Lanjut ke part 2 gan-sis emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sukhhoi dan 29 lainnya memberi reputasi
26
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 7 dari 12
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-10-2020 20:31
Hilang namun kemudian datang, setelah datang lalu meninggalkan kentang lagi. huft

hahaha
0 0
0
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-10-2020 21:55
Nambah dong a' apdetnya.. itung2 gantinya kemaren2 ngilang.. ngareep..
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
26-10-2020 11:05
Bingung kan kang sama hati perempuan, coba tanya pada rumput yg bergoyang emoticon-Ngakak
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
27-10-2020 15:54
Part 26


Keesokan harinya, sore, sebelum senja merubah warna langit, Lili meminta gue untuk menemaninya di halaman rumah sakit. Lili duduk di kursi roda, sementara gue membantunya bergerak menuju halaman.

Rumah sakit terlihat ramai. Banyak orang lalu lalang, hilir mudik. Beberapa dari mereka membawa berkas atau mungkin ada juga yang menjenguk. Orang yang memeriksakan dirinya juga, ada. Entahlah, terlalu banyak jika di sebutkan satu persatu.

Lili belum membaik. Wajahnya masih terlihat pucat. Tubuhnya semakin kurus sekarang. Tangannya lemah mengusap wajah.

Tiga puluh menit berlalu, tanpa suara. Lili hanya mematut memandang langit yang mulai berubah warna.

Gue jadi ingat perkataan Lili tahun lalu, soal senja. Ketika kami belum menikah. Dan itu membuktikan bahwa Lili memang benar-benar kuat. Buktinya dia masih berada di samping gue sampai saat ini.

Gue berdiri di sampingnya. Mengusap lembut pucuk kepalanya. Pelan Lili meraih tangan gue. Menggenggamnya erat.

"Aa."

"Iya Li?"

"Aku pengin es krim."

"Mana boleh, lah. Nanti kalau kamu udah baikan, aa bawain es krim, ya?"

Lili mendesah kecewa.

Harusnya mungkin gue langsung mengindahkan keinginan Lili. Tapi gue nggak mau ambil resiko. Lili belum sehat betul. Itu malah akan memperburuk keadaannya.

"Banyak banget pantangannya ya, A?"

"Enggak banyak, cuma belum waktunya aja."

"Ya udah, nanti kalau aku udah sehat, ke tempat es krim biasa, ya? Janji?"

Gue melipat lutut, sedikit berjongkok. Mendongak untuk menatap Lili.

"Iya, janji. Mau berapa porsi?" Gue tersenyum.

"Lima?"

"Pilek kamu nanti!" Gue terkekeh.

"Barusan nawarin pengin berapa porsi, A." Lili ikut terkekeh.

"Ya jangan lima juga. Satu setengah deh nggak pa-pa!" Canda gue.

"Ya udah, ambil tengahnya. Dua, gimana?"

"Deal!"

"Oke, Deal!"

Lili kembali mengalihkan atensinya pada langit. Matanya berbinar-binar menatap langit yang sempurna berwarna jingga.

"A, Aurel nggak kesini?"

Gue terdiam. Kenapa tiba-tiba Lili nanyain Moci?

"Se-semalem dia kesini, tapi kamunya udah tidur sayang."

Lili mengangguk samar.

"Salam katanya buat kamu," gue mengada-ada. Ah sudahlah, nggak masalah, bukan?

"Wa'alaikumsalam."

"Aku kangen sama dia," Lili tersenyum tipis.

"Mau aa telepon? Biar dianya kesini?"

"Nggak usah a, takut dianya lagi sibuk. Lagi pula toko kan nggak ada yang ngontrol kalau dia kesini. Aku malah ngerepotin."

"Nggak ngerepotin lah. Kalian kan partner. Ya, emang harusnya saling membantu aja. Gantian. Toh, kalau kamu sehat, mana mungkin lepas tanggung jawab, iya, kan?" Tukas gue.

Lili kontan mengangguk meskipun air muka bersalah masih menggantung di wajahnya.

Gue jadi teringat informasi terbaru mengenai Moci semalam. Soal dia udah punya pasangan. Mungkin gue harus memberi tahu Lili soal kabar baik ini.

"Oh iya, Aurel udah punya pacar, loh, sayang."

Lili mematung. Matanya sedikit terbuka lebar. Tangannya lebih erat menggenggam tangan gue. Apa gue salah udah ngasih tahu Lili soal kabar itu? Tapi salahnya dimana?

Lili mengangguk tipis. Seolah ia tidak peduli dengan apa yang gue utarakan barusan.

***

Waktu melesat bagai busur panah. Wabah virus terbaru sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri. Semua terkena dampaknya. Termasuk gue, karena kantor tutup untuk waktu yang nggak bisa di tentukan. Meskipun begitu, gue tetap bekerja di rumah. Tapi untung lah, gue bisa menemani Lili.

Bulan puasa tiba beberapa minggu yang lalu. Hari ini kami akan mengadakan buka bersama dengan Moci dan kekasihnya. Meskipun sedang PSBB, tapi Lili bersikeras untuk mengajak Moci buka bersama. Katanya, "kan nggak main ke mall, cuma makan di rumah aja." Akhirnya, Moci mengiyakan ajakan Lili.

Lili sudah mendengar langsung dari Moci mengenai kekasih barunya. Tapi anehnya, raut bahagia di wajah Lili terlihat di paksakan ketika membicarakan hal tersebut dengan Moci. Entahlah, gue nggak mau ambil pusing soal itu.

Keadaan Lili agak baikan sekarang. Meskipun nggak sebaik sebelum-sebelumnya. Tapi yang terpenting, dia nggak drop seperti beberapa minggu yang lalu.

"Masuk yuk!" Ajak Lili pada Moci yang baru tiba dengan Bastian.

Moci mengangguk, segera berjalan mengikuti Lili dari belakang. Dan Bastian, ia duduk dengan gue di ruang tamu.

"Gimana kabar lo, Bas?" Tanya gue sok akrab. Ya meskipun gue baru sekali ketemu dengan cowok ini.

"Baik-baik. Jadi nggak enak, nih, ngerepotin."

"Enakin aja, lagian istri gue yang minta, Bas," gue tertawa kecil. Bastian ikut tertawa.

"Eh iya, gue mau nanyain sesuatu sama lo, Al. Tapi jangan bilang-bilang Aurel, ya?" Bastian agak menurunkan volume suaranya.

Gue mengernyit. Mau nanya apaan coba, sampai Moci nggak boleh tahu? Apa dia mau nanyain stock cewek? Wakakak. Sialan, gue gampar dia kalau berani-berani nanya kayak gitu. Astagfirullah, lagi puasa, nggak boleh suudzon Le!!!

"Mau nanya apaan? Serius banget kayaknya."

"Gini, gue pernah denger dari Aurel, kalo lo... Sahabatnya dari kecil, bener?" Bastian ragu-ragu bertanya.

Gue menggaruk kening, "i-iya sih. Gue udah sahabatan sama dia dari kecil. Tapi dia sempat pindah ke Palembang. Lama nggak ketemu. Baru tahun ini ketemu lagi."

Bastian samar mengangguk. Entah apa yang di pikirkan cowok tinggi, tampan, di hadapan gue ini.

Benar kata Moci. Kalau Bastian itu jauh banget sama gue. Wakakakak. Tampannya, putih, tinggi, berisi dengan rambut agak ikal tapi rapih.

"Aurel cewek yang baik, Al."

Gue terdiam sejenak. Kemana arah pembicaraan cowok ini?

"Lo beruntung dapetin dia, Bas!"

Bastian mengangkat wajahnya. Menatap gue penuh tanda tanya.

"Dia belum pernah pacaran sebelumnya. Dia susah jatuh cinta. Dan lo cowok pertama yang buat dia jatuh cinta. Gue harap, lo bisa ngejaga dia, Bas."

Sebentar, apa yang udah gue bicarakan barusan? Kok kayak wejangan saja? Gue menelan ludah.

Bastian mengangguk.

"Gue pasti jagain dia, Al!"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
27-10-2020 15:57
Quote:Original Posted By nyahprenjak
Nambah dong a' apdetnya.. itung2 gantinya kemaren2 ngilang.. ngareep..


Wakakak ini deh update satu lagi sis.

Quote:Original Posted By kaduruk
Bingung kan kang sama hati perempuan, coba tanya pada rumput yg bergoyang emoticon-Ngakak


Asli kang, teu ngarti sumpah. emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan nyahprenjak memberi reputasi
2 0
2
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
27-10-2020 18:37
Poho ieu timeline cerita na iraha, tiba" geus psbb wae haha
profile-picture
kaduruk memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
27-10-2020 19:27
Lnjt
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
28-10-2020 15:11
Quote:Original Posted By tom122
Poho ieu timeline cerita na iraha, tiba" geus psbb wae haha


Jadi kieu mang.... Tah, soalna saencan psbb eweh nu penting wakakak matak di gancangkeun

Quote:Original Posted By aleexanderr
Lnjt


Siap gan
profile-picture
Herisyahrian memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
30-10-2020 01:25
Part 27


Gue baru pulang dari rumah sakit. Setelah tadi ada janji dengan dokter yang saat ini khusus menangani Lili. Namanya Dokter Hendro. Beliau udah berkepala empat. Bertubuh gemuk, dan punya kumis tebal.

Setelah hasil lab keluar, Gue dan Dokter Hendro membicarakan soal keadaan Lili, tadi. Males banget sebenernya kalau harus tahu kenyataan bahwa kondisi Lili belum stabil meskipun udah membaik. Katanya istri gue bisa drop kapan aja. Iya, kapan aja. Dan itu bikin kepala gue terasa berat.

Demi menghilangkan penat dan sekalian ngabuburit, gue dan Iki memilih main game consol di ruang tengah. Ya, seenggaknya itu bisa membuat kepala gue sedikit ringan.

"Yaaahh, kalah mulu ah, a!" Iki frustasi. sedikit membanting stick ke atas karpet.

"Makanya latihan yang bener dong. jadi nggak akan kebobolan terus!" cibir gue.

"Aa mah pake cheat ya? sok lah ngaku sama Iki!" Iki menyelidik, menunjuk wajah gue. gue kontan terbahak. Apaan coba main game bola pakai cheat? kalau GTA mungkin, ya kan?

"Mana ada main game bola pake cheat, dodol! yang ada kamu aja yang kurang pro!"

Iki mendengus, meraih kembali sticknya, "sok lah sekali lagi, a!" tantang Iki.

"Okeee!!" Gue nggak mau kalah.

kami segera larut kembali dalam permainan. Menyusun serangan silih berganti. Beberapa kali Iki teriak frustasi karena tendangannya nggak sanggup menembus gawang gue. Gue terpingkal-pingkal. Jujur aja, remaja tanggung ini SENSORai pikiran gue yang lagi nggak keruan.

Menit selanjutnya, Lili datang menghampiri. Duduk di sofa tepat belakang gue. Tangannya pelan melingkar di dada gue.

"Serius banget, a!"

"Ini si Iki ngotot pengin ngalahin aa.. hahaha!!" gue terbahak lagi.

Iki melirik dengan ekor matanya. Mulutnya mengkerucut beberapa senti.

"Teh, A Aldi mah curang, pake cheat!" Iki berasumsi lagi. Berharap Lili ada di pihaknya sekarang.

"Iya gitu, a?" tanya Lili ke gue.

"Ngarang bebas Iki mah. Biasa, kalah mulu jadi aja frustasi. Hahaha."

"GOAAAALLLLL!!!" pekik gue. Iki kesal menjatuhkan sticknya. Lili ikut tertawa.

"Udah ah. Ngantuk, Iki mending tidur siang. Nunggu buka puasa. Bosen di curangin terus!!" Ingki bangkit, bergerak menuju kamarnya. Gue kembali terbahak.

"A, ih, udah kasian!" Lili sambil tertawa kecil.

"Abisnya lucu. Daru tadi kan kalah terus, malah nyangka aa curang, coba," gue menjelaskan.

***

Hari beranjak sore. Gue dan Lili ngabuburit di Rooftop. Gue doang sih yang puasa, Lili enggak. Jadi dia nemenin gue di atas sini.

Langit lagi cerah. Meskipun nggak secerah keadaan sekarang, pandemi. Ah bodo lah, gue nggak terlalu peduli sebetulnya. Yang gue pedulikan sekarang hanya istri yang lagi duduk di samping gue saat ini.

"Nanti mau buka sama apa?" Tanya Lili.

"Sama pindang, kangkung, sambal, lalapan.. ah, malah ngiler, sayang."

"Ya jangan di pikirin juga a!" Lili tertawa kecil.

"Gimana nggak di pikirin, itu mah auto kebayang."

"Ya udah nanti aku masakin, a."

"Jangan, biar aa aja. Gampang kok itu mah. Nggak ribet bumbunya juga. kamu istirahat aja," gue mengusap lembut pucuk kepala Lili.

"Terus tugas aku apa, a?" tanya Lili pelan. Sedikit kecewa karena larangan gue.

"Tugas kamu.. emmm, nyemangatin aa masak aja. okay?" gue tersenyum.

Sejenak Lili terdiam. Perlahan ia menarik ujung bibirnya lantas mengangguk.

"Oh iya, sama nyicipin. Aa kan puasa, nggak bisa ikut nyicipin."

"Nah, makanya aku yang masak, a. Nanti aa kegoda, lagi, sama masakannya. Kan sayang, tuh!"

"Pengajuan banding di tolak!" canda gue.

"Pokoknya kamu jadi juru nyicipin, udah. titik!!" gue mengusap lembut pipinya. Lili kembali mengangguk, tersenyum tipis.

"A."

Gue mengangkat kedua halis demi menjawab panggilan Lili.

"Gimana kata Pak Hendro? ada kemajuan nggak?"

Gue tersentak. Jantung gue berhenti sepersekian detik. Rasanya, mulut gue tiba-tiba terkunci. Sendi-sendi tubuh gue terasa membeku.

Apa yang harus gue utarakan sama Lili sekarang? Soal kenyataan bahwa kondisi Lili belum stabil? Enggak! gue nggak mau buat Lili pesimis.

"A, ditanya kok malah diem!"

"Eh, emmm. kata Pak Hendro, semuanya baik-baik aja, kok, sayang."

Lili mengalihkan pandangannya ke depan. Raut wajahnya berubah seketika. Apa dia tahu kalau gue berbohong?

"Susah ya a penyakit kayak gini. Aku capek, a!" Lirih Lili.

Gue memegang bahunya lantas membalikan badannya agar menghadap gue. Lili menatap gue sendu.

"Kamu nggak boleh bilang gitu. Kamu pasti sembuh, kok. Pasti!"

Gue nggak tahu kata pasti itu tepat atau nggak. Gue nggak tahu. Sungguh, melihat wajah Lili yang putus asa membuat gue semakin tenggelam dalam lubang hitam keniscayaan.

"Aku pengin banget istirahat, a. Aku nggak mau ngerepotin aa terus. Aa tau, kalau lagi kumat, rasanya itu sakit banget. Aku udah nggak kuat a sebenernya."

Dada gue tiba-tiba sesak. Helaan nafas gue berat. Gue menggigit bibir bawah demi melerai rasa sesak di dada.

"Kamu... kuat. Jangan bilang kayak gitu lagi, ya? Aa mau sama siapa kalau kamu nggak ada?"

Lili mengangkat kedua tangannya, membelai lembut pipi gue. Matanya mulai berembun.

"Aku nggak akan kemana-mana, a."

Lili menurunkan tangan kanannya, bergerak menyentuh dada sebelah kiri gue.

"Aku ada di sini. Akan tetap di sini, a. Mau aku istirahat atau pun enggak, aku akan tetap di sini. Nggak akan pergi kemana-mana."

Gue mengangkat wajah demi Menahan bulir air itu agar tidak jatuh. Ucapan Lili membuat hati gue tersayat perlahan.

"A."

Gue menggelengkan kepala.

"Aa."

Sekali lagi gue menggelengkan kepala.

Lili menarik paksa wajah gue yang mendongak. Jemarinya yang lentik pelan menghapus air mata gue yang berada di pelupuk.

"Puasa loh, a. Batal dong kalau nangis!" goda Lili

Gue terkekeh pelan. Sial, gue lupa kalau lagi puasa. Tapi sungguh, air mata itu nggak gue minta untuk keluar.

"Sekarang aa yang harus kuat, bukan aku."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
30-10-2020 08:03
duh, neng lili 😭
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
30-10-2020 08:34
Part nya sedih terus emoticon-Sorry
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
30-10-2020 20:39
Baru tau kalo ada thread lanjutan.
Ijin ngemper dimari gan emoticon-Cendol (S)
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
10-11-2020 08:34
Lanjutkeun terus a haha, loba pisan cobaan teh nya
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
10-11-2020 10:52
hampir 2 minggu gak ada update lg nih kang........
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
10-11-2020 22:17
Berat bgt ya kang, part yg kesekian kali sedih..

apalagi pas ngomong gini
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
11-11-2020 17:37
Baru hari ini saya baca cerita ini....jadi ingat kejadian cerita seorang sahabat...........terima kasih ceritanya.......emoticon-thumbsup
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
19-11-2020 05:35
Part 28


Gue benci sama diri gue sendiri. Jika lo pikir gue kuat, lo salah. Gue lebih lemah dari siapapun yang ada di muka bumi ini. Bahkan lebih lemah dari setangkai bunga yang layu tersiram matahari. Dan yang lebih parah, gue menjadi orang munafik sekarang. Berpura-pura baik-baik saja di depan Lili, padahal nyatanya tidak.

Setiap memandang wajah Lili yang damai ketika tertidur, hati gue tergores. Apa yang salah dengan dia, sehingga Tuhan memberikan cobaan yang berat? Berkali-kali gue bertanya, berkali-kali gue mengadu, tetapi nggak ada jawaban.

Hari beranjak sore. Gue dan Lili lagi di dapur. Tangan gue kaku mengiris bawang merah, sementara Lili duduk dengan menyangga dagunya mengamati.

“Perih banget mata ya kalo ngiris bawang?!” gue mengeluh.

“Jangan dihirup a, aku aja gitu, kok,” saran Lili.

“Oh iya? Tahan napas dong?”
Lili tersenyum, mengangguk.

“Ya udah deh, di cobain.”

Setelah gue mengikuti intruksi Lili, ternyata itu bekerja. Mata gue nggak terlalu perih sekarang. Bukan apa-apa, gue ngirisnya nggak konsen. Masa dikit-dikit harus ngusap air mata. Kan nggak lucu!

Waktu berputar, akhirnya sesi masak selesai. Dan mohon maaf, gue juru masaknya hari ini. Gue dan Lili segera menyiapkan makanan yang udah bertengger di wadahnya masing-masing ke atas meja makan. Aroma lezat mengambang di langit-langit rumah. Iki yang sedari siang berada di kamarnya, beringsut, ikut ke meja makan.

“Wih mantap, wangi banget a!”

“Gak usah ngiler juga, Ki!” canda gue.

“Ih, siapa juga yang ngiler, orang biasa aja, kok!” sanggah Iki, Lili terkekeh.

“Mandi dulu gih, Ki. Bentar lagi kan adzan.” Balas gue.

Iki menggaruk tengkuknya, mengangguk, “Iya deh, Iki mau mandi dulu,”

Iki segera berlalu dari meja makan.

Gue dan Lili memilih duduk di ruang tengah setelah menyelesaikan semuanya. Lili memilih untuk nonton Teve, sementara gue membuka laptop untuk melanjutkan cerita gue yang di upload ke kaskus beberapa minggu yang lalu. Sebelum puasa sih kegiatan tambahan gue ya, itu, nulis cerita di kaskus. Menyenangkan sih, punya temen banyol yang baru. Kadang gue suka ngakak so hard sendiri waktu baca komen penghuni kaskus yang mampir di cerita gue. Lili sampai ikut-ikutan liat dan ikutan ngakak juga.

“Nulis lagi, a?” tanya Lili.

“Iya, biar nggak kentang.”

“Emang ada kentangnya?” Lili mengerutkan keningnya.

Aduh gue lupa kalo Lili nggak ngerti istilah itu. Tapi jangankan Lili, gue aja waktu pertama buka kaskus, nggak ngerti apa itu arti kentang. Lah gue kira itu kentang beneran, persis apa yang dipikirin Lili sekarang.

“Itu istilah, Kena Tanggung maksudnya,” Gue tersenyum lebar.

“Ih kan geje!” Lili mencubit lengan gue. Gue meringis, tertawa. Sambil ngedumel, Lili mengalihkan pandangannya lagi ke Teve.

“Sayang,” gue menatap Lili menggoda.

“Apa a?” Lili menjawab tanpa menoleh, ia sibuk menonton teve.

“Abis isya jangan sampe kena tanggung, ya?” gue mengulum senyum.

“Ya udah, lanjutin aja, a,” Lili datar, gue menghela napas. Gue kira Lili ngerti candaan gue itu, tapi ternyata enggak wakakakak. Dari pada mengganggu aktivitas Lili, gue melanjutkan mengetik di papan ketik laptop.

***

Sekitar jam 10 malam, Lili sudah terlelap. Sebenernya gue udah disampingnya tadi. Tapi nggak tahu kenapa, gue malah terjaga. Karena mata gue yang masih sehat dan segar, gue memutuskan untuk duduk di teras sambil menyesap rokok.

Menit selanjutnya, ponsel bergetar, gue raih benda pipih itu yang berada di atas meja tepat disamping gue duduk.
Dahi gue menekuk, Moci? Ngapain malam-malam nelepon gue?

Quote:“Hallo Ci.”

“Hallo Le, sorry ya gue ganggu lo malem-malem kayak gini.”

“Iya nggak pa-pa, gue doyan diganggu kok hahaha, eh,” gue menutup mulut, lirik kanan-kiri. Ketawa gue kekencangan kayaknya.

“Gila, kan. Padahal udah punya bini, masih aja kayak gitu.”

“Jangan salah, Lili aja doyan banget ketawa gue. Kadang dia mesen banyak.”

“Le, serius ih!!!”

“Iya, ini gue serius, kenapa? Tumben banget lo nelepon jam segini?”

“Gue udah ngechat Lili sih barusan sebelum nelepon. Tapi nggak di bales, udah tidur, ya?”

“Iya, udah tidur, ada apaan sih? Misterius banget?!”

“Gue mau minta pendapat tadinya sama Lili. Tapi karena udah tidur, jadi gue mau minta pendapat sama lo aja.”

“Gila, gue di jadiin referensi!”

“ALE!!! GUE SERIUS!!!”

Gue menjauhkan ponsel dari telinga. Gokil, teriakannya kenceng banget. Bisa budek gue.

“Iya, iya, pake teriak segala, mau minta pendapat apaan?”

“Lo nya sih ngeselin mulu!”

“Ya udah iya, lo mau minta pendapat soal apa?”

“ ... “

“Lah, tidur, lo?”

“Enggak, Le.”

“Terus lo mau ngomong apaan, sih? Kok jadi penasaran tingkat kelurahan gue!”

“Le ... “

Gue mendengus, Moci aneh banget. Mau ngomong aja nggak sat set.

“Hem ... “

“Menurut lo Bastian cocok nggak sama gue?”

“Cocok banget. Bastian ganteng, baik, mapan, top deh.”

“Gue serius Ale, ish!!!”

“Yehhh, gue lebih serius. Lo kira gue becanda?”

“Mungkin nggak sih kalau Bastian itu jodoh gue?”

“Kenapa nggak mungkin? Mungkin aja kok.”

“Gue belum lama punya hubungan sama dia. Lo tau sendiri, kan. Tapi ...”

“Tapi apaan? Lo kayak ngomong di sinetron-sinetron, pemenggalannya dibagian tapi!”

“Tapi Bastian udah berani ngajak gue nikah.”

“ ... “

“Le, ih, malah diem.”

“B-bagus lah. Dia berarti emang sayang sama lo. Apapun yang terbaik buat lo, gue akan dukung.”

“Gitu ya?”

“I-iya gitu Ci.”

“Jadi gue terima nih ajakan Bastian?”

“Terima aja.”

“Gue ngantuk, Le. Makasih ya, maaf ganggu malem-malem. Bye Le.”


Sambungan telepon terputus. Gue menaruh kembali ponsel ke tempat asalnya dan segera menyulut batang rokok kedua.

Gue tersenyum tipis, mengingat persahabatan gue sama Moci dulu. Kalau bukan gara-gara Iki ketabrak, mungkin kami nggak akan ketemu lagi. Sahabat gue sebentar lagi akan memiliki keluarga, sama seperti gue. Mendengar dia bercerita demikian, sangat m e n y e n a n g k a n.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
19-11-2020 05:50
Quote:Original Posted By jaran.pengkor
duh, neng lili 😭
tengkyu masih dimari gan ...

Quote:Original Posted By nyahprenjak
Part nya sedih terus emoticon-Sorry
susah milihin alurnya sis hehe

Quote:Original Posted By unregistered99
Baru tau kalo ada thread lanjutan.
Ijin ngemper dimari gan emoticon-Cendol (S)
Siap, tencu udah mampir. selamat membaca gan

Quote:Original Posted By salepat
Lanjutkeun terus a haha, loba pisan cobaan teh nya
teu ka otakan a euy haha lieur.

Quote:Original Posted By danmarket
hampir 2 minggu gak ada update lg nih kang........
hehe maapkan, kemaren beberapa kali udah nulis part 28 tapi kehapus terus.

Quote:Original Posted By kaduruk
Berat bgt ya kang, part yg kesekian kali sedih..

apalagi pas ngomong gini
mau milihin yang seneng2nya, minim banget kang hehe

Quote:Original Posted By rmhhrd
Baru hari ini saya baca cerita ini....jadi ingat kejadian cerita seorang sahabat...........terima kasih ceritanya.......emoticon-thumbsup


sama-sama gan, selamat membaca. dan makasih udah mampir disini.
profile-picture
profile-picture
nyahprenjak dan Herisyahrian memberi reputasi
2 0
2
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
19-11-2020 07:23
Hahaha karunya, kentang jeng pamajikan eh dipotek deui eta hate ku moci haha
profile-picture
botemcf memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
19-11-2020 08:15
Akhirnya kentangnya di lanjut lagi.........terima kasih........emoticon-thumbsup
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 7 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
irasional-love
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia