News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
51
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f92aebdf4ae2f3ee2504b25/open-discuss-memahami-g30s-dan-pembantaian-massal-1965-1967-dengan-pikiran-jernih
Opening Statement TS ada di bawah. Apabila thread ini melanggar ketentuan Forsex dan Forum Edu, agar agan-agan membantu untuk request delete thread ini. Sengaja tidak ane posting di tanggal 30 September kemarin, supaya tidak mengundang kaskuser lainnya yang tidak berniat tulus untuk belajar sejarah. Terima kasih. Selamat berdiskusi.
Lapor Hansip
23-10-2020 17:21

[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih

icon-verified-thread
Opening Statement TS ada di bawah.

Apabila thread ini melanggar ketentuan Forsex dan Forum Edu, agar agan-agan membantu untuk request delete thread ini.

Sengaja tidak ane posting di tanggal 30 September kemarin, supaya tidak mengundang kaskuser lainnya yang tidak berniat tulus untuk belajar sejarah.

Terima kasih. Selamat berdiskusi.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pakisal212 dan 8 lainnya memberi reputasi
7
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
23-10-2020 17:23

2 Analogi

Jujur, saya bingung mau menyebut peristiwa ini peristiwa apa namanya. Kalau disebut "Pembersihan PKI", faktanya korban yang "dibersihkan" itu tidak cuma PKI, tapi ada juga dari PNI. Bahkan, ada juga yang cuma sekedar nge-fans sama Bung Karno. Bahkan, ada juga yang cuma sekedar pernah ngisi acara sebagai penyanyi di suatu hajatan pernikahan seorang keluarga simpatisan PKI. Bahkan, ada juga yang cuma karena pernah ikut pentas seni budaya yang diselenggarakan Lekra. Bahkan, ada juga yang cuma karena punya banyak kenalan sama anggota Pemuda Rakjat. Mereka semua secara mudah dituduh PKI. Mereka semua di-PKI-kan oleh para pembantai yang mengaku patriot pembela Pancasila dan NKRI.

Semua ini memang diawali oleh G30S, dan selalu saja kita melihat G30S ini berdasarkan delusi bahwa sejarah itu mengandung dualisme/hitam-putih. Ada baik, ada jahat. Ada pahlawan, ada pengkhianat. Ada perjuangan, ada pemberontakan.

Untuk itu, dalam memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967, izinkan ane memberikan 2 (dua) buah analogi. Mohon maaf apabila merk disebutkan dalam analogi, semata-mata untuk memudahkan agan-agan untuk membayangkan analogi tsb.

====================


Analogi pertama sbb:

Kamu dan aku adalah warga Lamongan. Kamu adalah seorang anggota FPI, sedangkan aku bukan anggota FPI. Tapi kita berdua sama. Kita sama-sama mengagumi figur Habib Rizieq. Kita sama-sama memiliki keyakinan bahwa Islam di tangan Habib Rizieq akan gemilang dan meraih kemenangan. Kita (kamu dan aku) sama-sama menolak pemerintahan Jokowi. Kita sama-sama memiliki keyakinan bahwa Jokowi telah menindas kaum Muslim.

Tiba-tiba, pada tanggal 30 September 2021, terjadi sebuah peristiwa mengejutkan. Presiden Jokowi mati terbunuh oleh 10 menterinya. Kesepuluh menterinya itu mengumumkan bahwa Presiden Jokowi adalah pengkhianat, dan mereka meminta rakyat untuk tenang dan patuh kepada "pemerintah" untuk sementara waktu sampai ada pengganti presiden selanjutnya. Kesepuluh menteri ini juga mengumumkan agar rakyat melakukan mobilisasi mendukung gedung MPR/DPR untuk mendukung aksi "penyelamatan terhadap Negara" ini.

Di hari yang sama, belum sempat rakyat bergerak ke gedung DPR, para menteri ini sudah berhasil diringkus oleh TNI tapi tanpa sepengetahuan rakyat, karena semua media dilarang meliput oleh TNI, untuk menghindari adanya provokasi lebih lanjut. Rakyat jadi bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi, sehari kemudian, larangan itu dicabut. Tidak perlu waktu lama, semua media baik itu Kompas TV, Net TV, dll memberitakan adanya kudeta dari 10 menteri kepada pemerintahan Jokowi. Tapi, media FPI TV justru memberitakan sebaliknya, bahwa 10 menteri tsb telah menyelamatkan Negara dari rezim jahat Jokowi.

Meskipun belum bisa dipastikan kebenarannya, rakyat sudah keburu curiga bahwa FPI yang telah menjadi dalang di balik pembunuhan Presiden Jokowi. TNI juga mengumumkan bahwa Habib Rizieq bergerak di belakang sebagai dalang yang merencanakan pembunuhan Presiden Jokowi. Tidak perlu waktu lama, massa dari berbagai elemen mengadakan aksi massa gabungan menuntut Wapres Ma'ruf Amin untuk melarang FPI. Bahkan, TNI turut melakukan agitasi secara tidak langsung dalam aksi massa, bahwa FPI bermaksud jahat untuk menggulingkan NKRI dan menggantinya dengan Khilafah, namun niat jahat tsb telah gagal karena TNI telah menyelamatkan NKRI. Massa semakin tersulut emosi dan kebenciannya menjadi semakin meluap kepada FPI. "FPI Pengkhianat! Bunuh FPI! Bantai FPI! Ganyang Kadrun!!!, begitulah yel-yel yang disorakkan rakyat.

Tapi karena tidak ada kejelasan dari pemerintah, maka massa mengeruduk markas besar FPI, menghancurkan dan membakar semua kantor-kantor FPI. Tidak cuma itu, mereka juga menciduk seluruh anggota FPI dimanapun mereka berada, langsung dibunuh di tempat. Dan kejadian ini terjadi selama berturut-turut sampai beberapa bulan ke depan secara bertahap dan semakin meluas ke seluruh Jawa. Bahkan, tensinya naik ke tingkat nasional. TNI telah mengumumkan bahwa Habib Rizieq terlibat dalam pembunuhan Presiden Jokowi dan berencana melakukan makar. Rakyat bersama TNI yakin bahwa FPI sedang mengkudeta negara. Begitulah yang setiap hari kita dengar di berita dan medsos.

Suatu hari, sekelompok massa di Lamongan mendatangi dan mengepung ke rumah kamu. Mereka meneriaki "FPI bangshad!!! Keluar kamu, dasar kadrun anjink!!!". Kamu pun takut. Apa salah kamu? Kamu kan bukan pembunuh Presiden Jokowi. Kamu juga bukan orang yang terlibat dalam pembunuhan itu. Bahkan kamu pun juga masih kekeuh gak percaya kalo Habib Rizieq adalah dalang pembunuhan itu dan bermaksud untuk mengadakan makar dan kudeta. Jangankan terlibat, kamu aja gak tahu kalo Habib Rizieq berencana mengkudeta Jokowi. Jangankan tahu. Kamu selama ini ikut pengajian FPI, tidak pernah sekalipun mendengar informasi resmi dari FPI bahwa FPI akan membunuh Presiden Jokowi. Yang kamu bahas selama pengajian hanyalah tentang agama, walaupun ada beberapa kritik terhadap pemerintahan Jokowi, tapi tidak pernah terdengar ada rencana bahwa FPI akan membunuh Presiden Jokowi. Kamu sama sekali gak tahu dengan pembunuhan Presiden Jokowi tsb dan sudah pasti gak terlibat dalam pembunuhan itu.

Tapi massa sudah marah. Mereka mendobrak rumah kamu. Harta kamu dijarah. Kamu bersama istri dan anak kamu diciduk paksa oleh massa. Rumah kamu kemudian dibakar massa. Kamu diarak ke sebuah lapangan. Di sana kamu lihat ada banyak prajurit TNI, tapi mereka diam saja. Kamu ditelanjangi. Istri kamu juga. Anak kamu juga. Massa berteriak: "Hei kadrun pengkhianat! Gue matiin lu!". Istri dan anak kamu berteriak minta tolong, tapi sudah pasti gak ada yang nolongin. Istri kamu langsung dipancung di lapangan. Anak kamu dibawa sekelompok massa ke suatu tempat yang kamu tidak tahu. Kamu pun kemudian dibunuh di situ.

Aku juga bernasib sama seperti kamu. Padahal aku bukan anggota FPI. Aku hanya kagum sama Habib Rizieq. Di rumahku pun ada foto sang Habib yang kupajang di ruang tamu. Tiba-tiba massa datang dan mengepung. Sama seperti kamu, aku dan istriku diciduk paksa oleh massa. Untungnya, anakku sedang berada di rumah neneknya di Kediri. Istriku dibawa ke lapangan, sementara aku dibawa ke sebuah sekolah. Di sana aku kaget melihat anakmu sedang diperkosa. Aku juga lihat banyak mayat dikumpulin di sana. Aku jadi khawatir sama anak aku. Aku yakin kamu sudah dibunuh, dan aku yakin aku akan segera dibunuh. Tapi massa membawaku kepada pak Lurah, di kanan kirinya ada prajurit TNI. Aku diinterogasi. Aku ditanya apakah FPI atau bukan. Aku pun menjawab bukan. Mereka tidak menemukan kartu anggota FPI ku, karena memang aku bukan anggota FPI. Tapi, aku gak bisa mengelak ketika ditanya: "Kamu bersimpati kan sama Habib Rizieq? Kamu simpatisan FPI kan?". Aku menjawab tidak, tapi massa membawa foto-foto sang Habib yang kupajang di rumah. Mereka juga membongkar isi rumahku dan menemukan beberapa keping rekaman ceramah Ustadz Abdul Somad, pengajian Majelis Rasulullah, dan tentu saja mereka memeriksa HP ku dan menemukan banyak sekali video rekaman ceramah Ustadz Abdul Somad. Pak Lurah bertanya: "Kalo bukan FPI, kenapa banyak ceramah Abdul Somad?". Lalu kujawab: "Ustadz Abdul Somad kan juga bukan FPI, pak!". Tapi prajurit TNI menyela: "Tapi dia sahabat dekat Habib Rizieq, dia itu kadrun! Kamu juga kadrun! Kamu pengen mengganti Pancasila dengan Khilafah radikalmu itu!". Aku berusaha mengelak lagi, tapi aku diancam dibunuh, istriku yang sedang berada di lapangan juga diancam mau dibunuh.

"Aku tidak terlibat dalam pembunuhan Presiden Jokowi!

Aku juga tidak tahu akan ada pembunuhan Presiden Jokowi!

Aku juga bukan FPI! Aku cuma kagum sama Habib Rizieq!"


Begitulah jeritanku di dalam hati. Tapi apa daya, kesaksianku tidak ada gunanya. Mereka memang sengaja pengen membersihkan semua lawan politik Jokowi. Akhirnya aku dibawa ke sebuah pulau bernama pulau Buru dan sekaligus menyandang status sebagai tapol.


Dari analogi di atas, siapa yang jahat?
1. Kamu?
2. Aku?
3. Habib Rizieq?
4. FPI?
5. Jokowi?
6. Rakyat?
7. TNI?

Susah menjawabnya siapa yang jahat, tapi jawaban yang pasti adalah kamu dan aku tidak jahat dan tidak punya maksud jahat, dan setiap aksi main hakim adalah jahat, apapun alasan dan sangkaannya.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah rakyat dan TNI boleh membunuhi anggota FPI dan kadrun hanya karena peristiwa ini?

Jawabannya, atas nama kemanusiaan dan dasar Pancasila Sila Kedua: "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab", maka tentu saja tidak boleh!

Biar ane gak dituduh kadrun, sekarang ane kasih analogi lainnya sbb:

Kamu dan aku tinggal di Magelang. Kamu dan aku bukan simpatisan partai manapun. Tapi kita berdua sama. Kita bersimpati pada Presiden Jokowi. Kita percaya bahwa Indonesia akan maju di bawah pemerintahan Jokowi. Kita juga percaya bahwa Jokowi dapat melindungi minoritas.

Tiba-tiba, pada tanggal 30 September 2021, terjadi peristiwa mengejutkan. Sejumlah perwira TNI dibunuh oleh sekelompok gerakan yang menamai dirinya "Gerakan Menyelamatkan Indonesia" (GMI). GMI mengumumkan lewat TVRI bahwa para perwira TNI ini adalah kadrun yang ingin mengkudeta Jokowi dan mendirikan Khilafah. Mereka menyatakan bahwa GMI telah menyelamatkan Presiden Jokowi dan NKRI dari kudeta tsb. GMI juga meminta rakyat agar patuh pada mereka sementara mereka akan melakukan pembersihan "para menteri kadrun" yang ada dalam Kabinet Kerja Jokowi. Tidak lama setelah itu, TNI mengeluarkan larangan untuk meliput berita apapun tentang pembunuhan para perwira TNI ini untuk mencegah adanya provokasi. Rakyat bingung apa yang sebenarnya terjadi. Namanya juga rakyat, ya kita ikutin aja perkembangan selanjutnya.

Sehari kemudian, larangan itu dicabut. Semua media, mulai dari TV One sampai Indosiar memberitakan bahwa GMI telah melakukan kudeta militer untuk menjatuhkan Presiden Jokowi. Tapi, cuma Metro TV yang memberitakan sebaliknya, bahwa GMI telah menyelamatkan Presiden Jokowi dan NKRI dari kadrun. Karena rakyat tahu bahwa Metro TV adalah media sayap kanan pendukung koalisi PDIP-Golkar-Gerindra, maka tersiar isu bahwa partai koalisi terlibat sebagai dalang di balik GMI ini. Isu ini pada intinya adalah bahwa para partai koalisi berusaha memfitnah Islam sebagai penjahat yang ingin merubah Pancasila menjadi Khilafah. Rakyat pun jadi marah sama partai koalisi.

Meskipun belum bisa dipastikan kebenarannya, rakyat sudah keburu marah sama koalisi. TNI juga yakin bahwa partai koalisi bergerak di belakang sebagai dalang pembunuhan para perwira TNI tsb. Tidak perlu waktu lama, massa dari berbagai elemen mengadakan aksi massa gabungan menuntut Presiden Jokowi untuk membubarkan partai koalisi. Bahkan, TNI turut melakukan agitasi secara tidak langsung dalam aksi massa, bahwa partai koalisi bermaksud jahat untuk menghancurkan Islam dan mengganti Indonesia menjadi negara yang anti-Islam, liberal, dan sekuler. Namun niat jahat tsb telah gagal karena TNI telah menyelamatkan Islam dan NKRI dari provokasi anti-Islam. Massa semakin tersulut emosi dan kebenciannya menjadi semakin meluap kepada partai koalisi. "Partai Koalisi adalah Kafir! Munafiq! Musuh Islam! Pengkhianat Negara dan Pancasila! Bantai PDIP! Bantai Golkar! Bantai Gerindra! Ganyang anti-Islam! Tegakkan syari'at! Turunkan Jokowi!!", begitulah yel-yel yang disorakkan rakyat.

Tapi karena tidak ada kejelasan dari Presiden Jokowi, maka massa mengeruduk kantor-kantor DPP dan DPW PDIP, Golkar, Gerindra, Hanura, dll. Massa menghancurkan dan membakar semua kantor-kantor tsb. Tidak cuma itu, mereka juga menciduk seluruh kader partai koalisi dimanapun mereka berada, langsung dibunuh di tempat. Mereka juga menduduki gedung MPR/DPR, meskipun gedung tsb sudah kosong dan para anggota dewan telah mengevakuasi diri. Dan kejadian ini terjadi selama berturut-turut sampai beberapa bulan ke depan secara bertahap dan semakin meluas ke seluruh Jawa. Bahkan, tensinya naik ke tingkat nasional. TNI telah mengumumkan bahwa Megawati dan Prabowo terlibat dalam pembunuhan terhadap para perwira TNI dan berencana melakukan makar. Rakyat bersama TNI yakin bahwa partai koalisi sedang mengkudeta Negara karena ingin mengendalikan Jokowi sepenuhnya. Begitulah yang setiap hari kita dengar di berita dan medsos.

Suatu hari, sekelompok massa mendatangi dan mengepung ke rumah kamu. Mereka meneriaki "Cebong bangshad!!! Keluar kamu, anjink!!!". Kamu pun takut. Apa salah kamu? Kamu kan bukan pembunuh para perwira TNI. Kamu juga bukan orang yang terlibat dalam GMI. Bahkan kamu pun juga masih kekeuh gak percaya kalo partai koalisi bermaksud untuk mengadakan makar menjatuhkan Islam. Kamu juga seorang Muslim, hanya saja kamu yakin bahwa pembunuhan para perwira TNI yang "kadrun" oleh GMI itu bukan berarti anti-Islam. Tapi yang jelas kan kamu tidak terlibat dengan GMI. Jangankan terlibat, kamu aja masih gak bisa bayangin dimana letak kesamaannya antara anti-kadrun dengan anti-Islam.

Tapi massa sudah marah. Mereka mendobrak rumah kamu. Harta kamu dijarah. Kamu bersama istri dan anak kamu diciduk paksa oleh massa. Rumah kamu kemudian dibakar massa. Kamu diarak ke sebuah lapangan. Di sana kamu lihat ada banyak prajurit TNI, tapi mereka diam saja. Kamu ditelanjangi. Istri kamu juga. Anak kamu juga. Massa berteriak: "Hei cebong pengkhianat! Gue matiin lu!". Istri dan anak kamu berteriak minta tolong, tapi gak ada yang mau nolongin. Istri kamu langsung dipancung di tempat. Anak kamu dibawa sekelompok massa ke suatu tempat yang kamu tidak tahu. Kamu pun kemudian dibunuh di situ.

Aku juga bernasib sama seperti kamu. Padahal aku bukan kader partai koalisi. Aku hanya simpatisan Presiden Jokowi yang kagum dengan visi-misi Presiden. Di rumahku pun ada foto sang Presiden yang kupajang di ruang tamu. Tiba-tiba massa datang dan mengepung. Sama seperti kamu, aku dan istriku diciduk paksa oleh massa. Untungnya, anakku sedang berada di rumah neneknya di Klaten. Istriku dibawa ke lapangan, sementara aku dibawa ke sebuah kantor dinas. Di sana aku kaget melihat anakmu sedang diperkosa. Aku juga lihat banyak mayat dikumpulin di sana. Aku jadi khawatir sama anak aku. Aku yakin kamu sudah dibunuh, dan aku yakin aku akan segera dibunuh. Tapi massa membawaku kepada pak Lurah, di kanan kirinya ada prajurit TNI. Aku diinterogasi. Aku ditanya apakah kader PDIP atau bukan, Golkar atau bukan, ikut salah satu partainya "cebong" atau nggak, dan aku juga ditanya apakah aku anti-Islam atau nggak. Aku pun menjawab bukan dan nggak. Mereka tidak menemukan kartu anggota partai koalisi ku, karena memang aku bukan anggota partai koalisi. Mereka menemukan KTP ku dan di situ tertulis jelas kalo aku Muslim, bukan anti-Islam. Tapi, aku gak bisa mengelak ketika ditanya: "Kamu simpatisan Presiden Jokowi kan? Berarti kamu ini cebong anti-Islam yang mendukung GMI dan partai koalisi dong?". Aku menjawab tidak, tapi massa membawa foto-foto sang Presiden yang kupajang di rumah. Mereka juga membongkar isi rumahku dan menemukan beberapa buku tentang anti-Khilafah, dan tentu saja mereka memeriksa HP ku dan menemukan aku men-subscribe channel Cokro TV dan Agama Akal TV, dua channel pendukung Jokowi. Pak Lurah bertanya: "Kalo bukan cebong, bukan anti-Islam, kenapa punya buku anti-Khilafah?". Lalu kujawab: "Anti-Khilafah kan bukan berarti anti-Islam, pak! Dan bukan berarti saya cebong". Tapi prajurit TNI menyela: "Tapi para perwira TNI yang dibunuh itu adalah para Muslim yang dibunuh cebong, sedangkan kamu itu pasti cebong! Kamu pengen Indonesia jadi anti-Islam, kan!". Aku berusaha mengelak lagi, tapi aku diancam dibunuh, istriku yang sedang berada di lapangan juga diancam mau dibunuh.

"Aku tidak terlibat dalam GMI!

Aku juga tidak tahu akan ada pembunuhan terhadap para perwira TNI yang kadrun itu!

Aku juga bukan kader partai manapun! Aku cuma kagum sama Jokowi!"


Begitulah jeritanku di dalam hati. Tapi apa daya, kesaksianku tidak ada gunanya. Mereka memang sengaja pengen membersihkan cebong. Akhirnya aku dibawa ke sebuah pulau bernama pulau Buru dan sekaligus menyandang status sebagai tapol.


Dari analogi di atas, siapa yang jahat?
1. Kamu?
2. Aku?
3. PDIP?
4. Golkar?
5. Gerindra?
6. Partai Koalisi MPR/DPR?
7. Jokowi?
8. Rakyat?
9. TNI?

Sama seperti analogi pertama, pasti susah menjawabnya siapa yang jahat, tapi jawaban yang pasti adalah kamu dan aku tidak jahat dan tidak punya maksud jahat, dan setiap aksi main hakim adalah jahat, apapun alasan dan sangkaannya.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah rakyat dan TNI boleh membunuhi simpatisan Partai PDIP-Golkar-Gerindra dan cebong hanya karena peristiwa ini?

Jawabannya, atas nama kemanusiaan dan dasar Pancasila Sila Kedua: "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab", maka tentu saja tidak boleh!

====================
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ffsuperteam dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
23-10-2020 17:26

Ringkasan Sejarah G30S

Berangkat dari kedua analogi di atas, beginilah cara memahami apa yang terjadi di tahun 1965-1967. Saya coba ringkas sejarahnya.

Dalang G30S adalah:
  1. Oknum agen ganda PKI-AD (Sjam alias Kamaruzaman alias Djimin alias Tjugito).
  2. Oknum agen PKI (Soepono Marsudidjojo alias Pono).
  3. Oknum perwira AURI / skrg TNI-AU (Mayor Udara Soejono).
  4. Oknum perwira AD / skrg TNI-AD (Letkol. Untung Sutopo bin Sjamsuri dan Kol. Abdul Latief).


Dalang tunggal G30S tidak ada, yang sekalipun ada, maka dalang tsb adalah Sjam. tapi Sjam bukan seorang yang jenius merancang gerakan ini. dia memanfaatkan kinerja intel ganda antara dirinya dengan Aidit di satu sisi, dan dirinya dengan para perwira muda AD di sisi lain. gerakan ini pada awalnya adalah inisiatif perwira muda AD (TNI-AD) yang kemudian membuat sejumlah elit pimpinan PKI dan sejumlah elit pimpinan AURI (TNI-AU) untuk ikut serta dalam G-30-S. tidak ada dalang tunggal, sebab gerakan ini tidak memiliki koordinasi yang baik, banyak miskomunikasi di antara para pesertanya, dan tidak memiliki perencanaan yang matang. jika dalangnya itu ada, maka seharusnya gerakan ini paling tidak akan sulit ditumpas dan akan menunjukkan perlawanan militer. lagian logika dasar aja, kalo elit pimpinan PKI adalah dalang G30S, kok para perwira dan prajurit G30S mau-maunya nurut di bawah komando sipil? dalam "prosedur" kudeta militer di belahan dunia manapun, militer gak akan mau tunduk sama sipil untuk melancarkan kudeta. karena, pertama, pasti militer akan mewaspadai kekuasaan mutlak baru sipil setelah memenangkan kudeta. ibaratnya, gw yang beraksi militer, kok lo yang akhirnya duduk manis di atas setelah gw menangin aksi militernya? kedua, sipil gak ngerti dunia kemiliteran, gak ngerti strategi dan taktik, gak paham urusan logistik, gak punya pangkat yang menjamin rantai komando mereka, dan gak punya mental dan insting perang. faktanya, gerakan ini tidak terencana dengan baik, tidak ada plan A, B, C, dstnya, utak-atik gathuk dan serampangan, banyak debat kusir antara 5 pimpinan inti G30S (Sjam, Pono, Mayor (U) Soejono, Kol. Latief, dan Letkol. Untung). pun Sjam akhirnya ambil aksi sepihak di siang harinya sehingga membuat publik yg paginya "percaya" sama G30S menjadi curiga. bahkan hingga di saat-saat terakhir, para pimpinan inti ini makin gak jelas arahnya mau kemana. Yon 454 pun kocar-kacir, Yon 540 gabung ke Kostrad, AURI dikepung RPKAD, Aidit malah diterbangin ke Yogya, Marsekal Omar Dani malah diterbangin ke Semarang. sempat ada miskom antara Mayjen. Pranoto yg diangkat Presiden jadi Menpangad sementara, dikira jebakan sama Mayjen. Soeharto yg sudah mengangkat dirinya sendiri (caretaker) Menpangad, dia melarang Pranoto ke Halim, dan menolak memenuhi panggilan Presiden. Marsekal Omar Dani pun merasa Kostrad telah membangkang dan berniat ngebom udara Kostrad. pokoknya, banyak alur fakta yang aneh, yang sebenarnya keanehan ini mencerminkan betapa sembarangan dan amatirannya gerakan ini.

PKI sebagai organisasi/lembaga bukan sebagai dalang G30S, sebagaimana AURI sebagai organisasi/lembaga juga bukan sebagai dalang G30S, karena rencana G30S hanya dilakukan secara tersembunyi tanpa sepengetahuan masing-masing organisasi. Maksudnya tersembunyi adalah bahwa hanya pimpinan inti saja yang tahu tujuan akhir G30S, tidak pernah dibahas secara resmi dan detail melalui organisasi. Semua dilakukan di belakang dan tersembunyi.

PKI sebagai organisasi tidak terlibat, sebagaimana AURI sebagai organisasi juga tidak terlibat, karena G30S direncanakan secara kilat dan tersembunyi, tanpa melibatkan banyak orang, dan tanpa sepengetahuan organisasi masing-masing. justru yang benar adalah mereka yang terlibat ini berharap jika G30S berhasil, maka mereka dapat "menyatukan" semua unsur politik menjadi loyalis Soekarno. dan mereka memang berharap dapat lebih mudah menyetir Soekarno apabila tidak ada gangguan/infiltrasi dari perwira petinggu AD yang kurang loyal.

PKI secara organisasi memang mendukung G30S, tapi dukungan bukan berarti merancang. dukungan resmi organisasi tsb baru keluar di tanggal 2 Oktober 1965 melalui Harian Rakjat. pada tanggal tsb, G30S sudah ditumpas (kecuali di Jawa Tengah). dukungan tsb dikeluarkan setelah G30S ditumpas, sebenarnya sudah membuktikan bahwa PKI secara lembaga dan seluruh kader yang mengikatkan dirinya pada AD/ART PKI, tidak tahu menahu tentang G30S. pada saat dukungan itu dikeluarkan, PKI mengira G30S masih belum ditumpas alias berhasil.

Nah, isu palsu "Dewan Djenderal" yang ingin mengkudeta Soekarno tanggal 5 Oktober 1965 inilah yang menjadi penyebab khusus diadakannya G30S. Isu ini mungkin berasal dari Sjam Kamaruzzaman (Biro Chusus PKI). Dan isu ini berhasil membuat D.N. Aidit dan beberapa elit PKI percaya. Tapi, tidak semua elit PKI percaya, di antaranya Sudisman yang tidak percaya isu "Dewan Djendral" akan mengkudeta Soekarno (menariknya, Sudisman dalam pledoinya Uraian Tanggung-Djawab dan edaran Otokritik CC PKI tahun 1966 menuding "NATO" - Nasution-Harto lah yang pada akhirnya telah mengkudeta Soekarno).

Isu "Dewan Djendral" ini juga berhasil membuat Brigjen. Soepardjo bersama segelintir elit TNI AD percaya. Dan inilah yang jarang diketahui publik, bahwa tampaknya dialah yang sangat ambisius dalam menyukseskan G30S. Dia adalah brigadir jenderal, dia adalah perwira TNI AD. Memang benar dia bersimpati dengan PKI, itu karena dia percaya dengan isu "Dewan Djendral". Dan dia melihat bahwa PKI adalah sekutu terbaik untuk menggagalkan "kudeta" yang akan dilancarkan "Dewan Djendral".

Dalam kesaksiannya di Mahmillub, Brigjen. Soepardjo, Mayor Bambang Soepeno, dan Njono sebenarnya ragu dengan G30S, bahkan Aidit sendiri sempat sangsi G30S bisa mencegah kudeta "Dewan Djendral" karena ketidakjelasan langkah selanjutnya jika G30S gagal/berhasil. Namun, Sjam meyakinkan di setiap rapat rahasia rencana pelaksanaan G30S, bahwa apabila ada yang ragu jika G30S berhasil, maka jawab aja: "Ja, Bung, kalau mau revolusi banyak jang mundur, tetapi kalau sudah menang, banjak jang mau ikut", yang penting adalah propaganda kepada rakyat setelah G30S, maka dengan sendirinya rakyat akan mendukung G30S. Dengan cara itulah, dia sebagai perwira menjadi yakin bahwa satu-satunya jalan untuk mencegah "Dewan Djendral" untuk mengkudeta adalah G30S. Semboyannya: "Apa boleh buat, kita tidak bisa mundur lagi!", karena tanggal 5 Oktober itu semakin dekat.

Bahkan, isu palsu "Dewan Djendral" ini juga berhasil membuat Soekarno percaya. Soekarno sebenarnya telah memanggil para perwira yang difitnah sebagai "Dewan Djenderal" itu, dan para perwira tsb telah menanggapi dengan tegas bahwa tidak ada yang namanya "Dewan Djendral" yang loyal kepada Amerika Serikat. Sebaliknya, para perwira yang difitnah ini menjawab bahwa yang ada adalah Wandjakti yang berhubungan dengan kepangkatan dan pengawasan profesi. Namun, karena tidak ada tindak lanjut lagi setelah itu, sehingga elit-elit itu menjadi semakin was-was dengan isu "Dewan Djendral" ini, sehingga mereka merencanakan G30S untuk tujuan mencegah terjadinya kudeta "Dewan Djendral". Tujuan akhirnya adalah menyatukan TNI-AD dengan PKI dengan harapan dapat dengan mudah mengendalikan Soekarno.

Adapun mereka yang terlibat G30S sebagai "pemain figuran" hanya melaksanakan tugas sesuai perintah, dan itu pun mereka tidak tahu apa sebenarnya tujuan akhir G30S. mereka ini juga korban agitasi dari para elit tadi, yang terdiri dari sebagian kecil militer Resimen Tjakrabirawa, Yon 434 dan Yon 530, sebagian kecil perwira tinggi dan prajurit AURI di Halim, dan sebagian kecil massa sipil dari Pemuda Rakjat dan Gerwani di Lubang Buaya yang kebetulan sedang ikut program diklat kemiliteran yang diselenggarakan AURI. bahkan, massa sipil itu tidak dimobilisasi untuk turun ke jalanan, mereka direkrut melalui agitasi, tanpa mereka tahu tujuan asli G30S. Namun demikian, apapun alasannya, dalam sudut hukum positif, mereka semua tetap bersalah.

dan di mata hukum yang menjunjung keadilan dan azas praduga tak bersalah, seharusnya delik perkara suatu pidana yang apabila terbukti dilakukan oleh oknum, maka baginya berlaku hukumnya. ini bukan perdata yang bisa diterapkan hoofdelijk (tanggung-renteng). dengan kata lain, kalo menjunjung keadilan dan azas praduga tak bersalah, maka seharusnya yang dihukum adalah mereka yang benar-benar terlibat sebagai dalang dan pelaku, bukannya malah ditanggung-rentengkan ke seluruh kader PKI, apalagi simpatisan yang gak tahu apa-apa.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
Bocahsableng777 dan yoseful memberi reputasi
2 0
2
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
23-10-2020 17:28

Ringkasan Sejarah Pembantaian Massal 1965-1967 (Berdasarkan Putusan IPT 65)

Nah, masih dengan kedua analogi di atas sebelumnya, ini bagian yang terpenting, yaitu pasca G30S. Dan bagian ini jarang sekali dibahas di ruang publik. Setelah RPKAD di bawah komando Soeharto berhasil membuat "insyaf" para prajurit yang sempat terpropaganda G30S oleh Letkol. Untung dalam RRI, maka Soeharto berusaha membantu massa yang anti-PKI untuk memobilisasi "pembersihan".

Episode pembersihan itu, atau yang disebut Pembantaian Massal 1965-1967, harus dipisahkan dari episode G30S, karena pembersihan ini bertujuan untuk mengarahkan PKI secara organisasi sebagai dalang G30S. Tujuan akhir dari pembersihan ini adalah melanggengkan kekuasaan Orde Baru.

Berdasarkan putusan dan rekomendasi IPT 65 tahun 2015, terungkap fakta sbb:

  1. Korban 1965-1967 adalah orang-orang yang tidak terlibat sama sekali dengan G30S.
  2. Korban 1965-1967 terdiri dari:
    • Kader PKI.
    • Simpatisan PKI.
    • Para anggota ormas yang berafiliasi dengan PKI (Pemuda Rakjat, Sobsi, Gerwani, Lekra, dll).
    • Kader PNI.
    • Simpatisan PNI.
    • Dan yang paling parah: korban "asal main tuduh" sebagai PKI.

  1. Korban "asal main tuduh" PKI ini skenarionya begini:
    • Ada yang cuma karena nge-fans sama Soekarno, lalu dituduh PKI.
    • Ada yang cuma karena pernah nanggep karawitan di sebuah hajatan pernikahan salah seorang keluarga simpatisan PKI, lalu dituduh PKI.
    • Ada yang cuma karena sering ngisi acara sebagai penyanyi di berbagai event yang diadakan PKI, atau Lekra, atau Pemuda Rakjat, lalu dituduh PKI.
    • Ada yang cuma karena pernah ikut sebuah acara sosialisasi yang diadakan Gerwani, lalu dituduh PKI.
    • Ada yang cuma karena punya banyak kenalan di Pemuda Rakjat, meskipun dia sendiri bukan anggota Pemuda Rakjat, lalu tetap dituduh PKI.
    • Ada yang cuma karena terdaftar ikut kursus seni/budaya yang diadakan Lekra, lalu dituduh PKI.
    • Ada yang cuma karena sedang kuliah di luar negeri karena beasiswa dari pemerintah Orde Lama, namun karena tidak setuju dengan pemerintahan Orde Baru, lalu dituduh PKI.
    • Bahkan ada juga yang sedang bertani di sawah, lalu dia melihat truk-truk barak yang sedang diisi banyak orang, tapi dia tidak tahu bahwa mereka sedang "diciduk", kemudian dia pun mengejar truk tsb karena mengira mereka rame-rame berombongan akan nonton pagelaran wayang, akhirnya truk pun berhenti dan mengangkut dia, dan dia pun dibawa ke pulau Buru.
    • Dstnya.

  1. Para korban 1965-1967 ini mengalami pembunuhan dan pembantaian. Jumlah korbannya tidak pasti karena belum ada penelitian khusus dan obyektif terkait pembantaian massal ini, tapi jumlah minimalnya adalah 500.000 korban jiwa, tapi diduga lebih. Selain pembunuhan dan pembantaian, juga ada persekusi seperti penangkapan, penyiksaan, pemerkosaan, penghinaan, intimidasi, dan tentunya jadi tapol dan dibuang ke pulau Buru, tanpa pengadilan. Termasuk beberapa orang yang sedang kuliah di luar negeri tsb, mereka dicekal untuk pulang ke Indonesia.
  2. Skenario umum pembantaiannya begini:
    • Di banyak daerah sebenarnya tidak ada gejolak apapun, namun RPKAD datang dan dengan sengaja melakukan agitasi dan propaganda "membersihkan" sisa-sisa G30S, sehingga menyulut emosi massa di daerah itu, dan mereka sendiri lah yang melakukan pembantaian. Dan kebanyakan korban yang diincar adalah seperti yang disebutkan di atas.
    • Hanya di beberapa daerah saja, pembantaian telah terjadi sebelum RPKAD datang, namun kedatangan RPKAD bukannya mengamankan para korban yang sedang dipersekusi oleh massa, malah membiarkan massa membantai mereka.

  1. Dengan demikian, Soeharto dan RPKAD lah yang bertanggungjawab terhadap pembantaian 1965-1967. Bahkan, patut diduga, Soeharto adalah dalang Pembantaian Massal 1965-1967. Dan karena ini sering tercampur-campur dengan isu dalang G30S, maka biar kuulangi lagi. Soeharto bukan dalang G30S, tapi dia dalang Pembantaian Massal 1965-1967 terhadap simpatisan PKI dan "tertuduh" PKI. Mungkin Soeharto bukan dalang tunggal pembantaian ini, tapi dia jelas adalah dalang pembantaian ini, sehingga penelitian terhadap pembantaian ini seharusnya didorong untuk mengungkapkan siapa dalang sebenarnya.
  2. Rekonsiliasi diadakan dengan menulis ulang sejarah ini untuk tujuan agar tidak ada lagi:
    • Main asal tuduh PKI hanya karena berbeda pendapat politik, terlebih karena budaya kolektif kita adalah sering asal tuduh, bahkan untuk di zaman sekarang, banyak dari kita main asal tuduh kadrun/cebong berniat menghancurkan Indonesia.
    • Stigmatisasi atau nge-"cap" PKI dan/atau komunis kepada korban yang survive, serta nge-"cap" PKI bagi kita yang ingin agar kasus pelanggaran HAM ini dikupas tuntas.
    • Dan tetap tidak bermaksud mengubah larangan bagi PKI untuk bangkit, karena organisasi yang sudah dilarang memang tidak bisa lagi dicabut, dan kita tahu tidak cuma PKI kan. HTI juga dilarang, tapi kita tidak boleh mempersekusi mereka yang berakibat pada kekerasan terhadap simpatisan HTI.

  1. Sangat disayangkan ketika banyak loyalis Orba yang mengklaim Soeharto dan RPKAD tidak bertanggungjawab karena pembantaian itu adalah respon alami gejolak sosial yang diakibatkan G30S. Padahal, jika itu memang respon alami dan Soeharto (setidaknya terhitung sejak Supersemar 1966) memang berniat lurus menyelamatkan Indonesia, seharusnya dia melakukan:
    • Upaya pencegahan terhadap aksi main hakim oleh massa dengan cara tidak menambah provokasi sentimen anti-PKI yang sudah sangat tinggi tensinya.
    • Amankan sejumlah anggota PKI yang dipersekusi massa untuk dibawa ke lembaga rehabilitasi untuk diberikan pembinaan Pancasila dan anti-komunisme.
    • Dengan begitu maka tercipta rasa aman bagi anggota eks-PKI yang tidak terlibat G30S serta rasa aman bagi mereka yang dituduh PKI padahal bukan.

  2. Sayangnya, Soeharto tidak melakukan itu, sehingga benarlah bahwa Soeharto dan RPKAD memang sengaja mendalangi pembantaian 1965-1967 dan itu bukan respon alami.


Untuk putusan dan rekomendasi persidangan IPT 65, dapat ditonton langsung di video di bawah ini:



IPT 65 yang diadakan tahun 2015 BUKAN pengadilan pidana HAM yang diadakan oleh pemerintah Belanda, BUKAN juga yang diadakan oleh Lembaga Amnesti Internasional. IPT 65 adalah Tribunal Court yang diselenggarakan oleh aktifis HAM, yang melibatkan advokat hukum, tim ahli sejarah, dan para saksi sejarah. Sifat pengadilan itu adalah memberi rekomendasi, bukan memberi hukuman/sanksi. Rekomendasi tsb diserahkan kepada pemerintah Indonesia, dan selanjutnya terserah apakah Indonesia mau mengikuti rekomendasinya atau tidak.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ffsuperteam dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
23-10-2020 17:34

Info Lainnya

Brief history behind IPT 65:



Ini ada paparan bagus dari Dr. Yosef Djakababa, Ph.D



Semoga sejarah biadab ini tidak terulang lagi. Junjung selalu kemanusiaan. Silahkan berdiskusi.
profile-picture
profile-picture
Bocahsableng777 dan abdurrahman19 memberi reputasi
2 0
2
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
03-11-2020 21:42
nih trit bagus banget, netral.
kliatan niatan tulus buat indonesia ke arah lebih baik.
tp sepi gila ni trit ampe mundur kebelakang.
btw komen ke trit ini,
sifat barbar dan main hakim sendiri bangsa inilah rasanya yang suharto paham betul (bisa jadi CIA/barat) makanya pembantaian massal itu terjadi dan mereka bisa cuci tangan atas masalah ini.
dan sampe sekarang mayoritas masyarakat kita masih seperti itu gampang dihasut dan diadu domba.
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
1 0
1
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
04-11-2020 21:15
Quote:Original Posted By angelpesek
nih trit bagus banget, netral.
kliatan niatan tulus buat indonesia ke arah lebih baik.
tp sepi gila ni trit ampe mundur kebelakang.


thanks gan emoticon-Big Grin

thread ini sepi ya karena memang belum ada yang mulai diskusi gan. di sini terbuka mau diskusi, tuker informasi, sharing sumber -maybe considered- primary sources, ide alternatif, dll.

sebenernya ane juga berencana bikin thread khusus tentang G30S -based on John Rossa's Pretext alias Dalih Pembunuhan Massal. nantinya akan membentuk sintesis dari versi-versi yang ada (Orde Baru, Cornell Paper, Crouch, dll) yang akan menghasilkan narasi G30S yang sehat dan bebas dari bias kebencian. mau itu kebencian terhadap PKI, komunis, Orba, Soeharto, Soekarno, dll.

Quote:Original Posted By angelpesek

btw komen ke trit ini,
sifat barbar dan main hakim sendiri bangsa inilah rasanya yang suharto paham betul (bisa jadi CIA/barat) makanya pembantaian massal itu terjadi dan mereka bisa cuci tangan atas masalah ini.
dan sampe sekarang mayoritas masyarakat kita masih seperti itu gampang dihasut dan diadu domba.


sebenarnya bangsa kita tidak sebarbar itu. memang sih beberapa kali kita menemui beberapa kasus persekusi nasional yang mengandung kejahatan kemanusiaan, misalnya Masa Bersiap, Anti-PKI, Kerusuhan '98, dll, tapi itu semua baru terjadi dalam kurun waktu 75 tahun terakhir, trend nya hanya dekat-dekat masa perubahan rezim/pemerintahan.

Soeharto memang dibantu CIA untuk membantai PKI and alleged PKI. dokumen rahasia yang resmi dari CIA circa 1965-1968 yang baru dibuka pasca Reformasi sudah membuktikannya, IPT 65 pun sudah ketok palu bahwa, yang diperankan CIA, telah menghubungkan mata rantai "bantuan dana hibah" dari AS, Inggris, dan Australia, untuk program "penumpasan G-30-S/PKI". secara de facto, tongkat komando sudah berpindah kepada Soeharto dari Soekarno sejak Oktober 1965. ketika KAP-Gestapu dibentuk tanggal 12 Oktober, semua tokoh ormas non-komunis sudah menunjukkan loyalitas mereka untuk Soeharto. dalam hal ini, Soekarno memang gagal dalam melakukan penyelesaian politis, tapi, kegagalan itu juga dipengaruhi dari AD-Soeharto yang terus-terusan menekan Soekarno sampai-sampai, demi supaya tidak ada konflik antara dirinya dengan Soeharto, maka dia pun memilih mengalah. dan sebenarnya saat itu Soekarno sudah sadar, dirinya akan segera lengser entah kapan.

satu hal sederhana yang kurang disadari masyarakat/publik adalah ketidakmampuan dalam membedakan antara kader parpol dengan simpatisan parpol. adanya generalisasi diksi "PKI" dan "Orang PKI" menunjukkan ketidakmampuan tsb.

kelembagaan PKI menganut sistem komisional terpusat/terkomando (centralized comission), yaitu sebuah komite tertinggi yang menjalankan kegiatan eksekutif partai melalui demokrasi, namun tidak berhaluan bebas, haluannya diatur oleh pimpinan. sistem ini oleh kalangan internal PKI sering disebut sebagai "sentralisme demokrasi", ada di AD/ART PKI tahun 1952. nah, komite ini disebut Central Comite (CC). CC membawahi ranting-ranting komite, di antaranya CDR (Comite Djakarta Raja) khusus di DKI, dan CDB (Comite Daerah Besar) di tingkat provinsi.

di dalam CC, diketuai Ketua CC dan membawahi juga "Politbiro". Politbiro adalah jabatan umum anggota tinggi CC, mengacu pada model Soviet Politicheskoye Buro (biro politisi). anggota Politbiro ada 80 orang, dan masing-masing memiliki tugas eksekutif sendiri-sendiri, mirip kayak "menteri". nanti di antara anggota itu, ada yang menjadi pembinanya, yang disebut "Dewan Harian Politbiro". Dewan Harian ini tidak cuma menjalankan fungsi pembinaan, namun juga pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan eksekutif. mereka semua bertanggungjawab kepada ketua CC.

di luar CC, CDR, CDB, adalah "anggota PKI" pada umumnya. mereka adalah kader-kader yang membaktikan hidupnya untuk partai, tapi tidak punya wewenang apa-apa terhadap partai. walau begitu, mereka memang dipersiapkan sebagai penerus apabila terjadi regenerasi (kaderisasi). mereka yang termasuk "anggota PKI" adalah masyarakat yang secara individu mendaftarkan diri ke dalam keanggotaan partai, mengikuti program diklat kepemimpinan partai, dan memiliki kartu keanggotaan sebagai anggota PKI. mereka tidak memiliki akses internal CC. tapi mereka diikutsertakan dalam rapat-rapat pleno (semacam musyawarah nasional partai / munas). mereka juga dikenai iuran bulanan wajib yang harus dibayarkan setiap bulannya untuk kelangsungan pendanaan partai secara berkala.

nahh, mereka semua di atas, baik itu CC, Politbiro, CDR, CDB, Dewan Harian, maupun anggota, secara keseluruhan dapat disebut sebagai "Anggota PKI" atau "kader PKI". persamaan mereka adalah terdaftar sebagai anggota, pernah mengikuti diklat kepemimpinan, dan memiliki kartu anggota PKI. persamaan lainnya adalah kewajiban membayar iuran bulanan. bedanya, untuk level bawah, besaran iurannya tidak tinggi dan jumlahnya selalu tetap sama. sedangkan untuk level pengurus/elit (CC, Politbiro, CDR, CDB, Dewan Harian), selain juga wajib membayar iuran yang sama dengan level bawah, mereka juga dikenai iuran tambahan yang besaran iurannya cukup tinggi, tergantung penghasilan masing-masing individu.

kelembagaan dan pengorganisasian seperti ini sama seperti misalnya Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri). seluruh anggota Korpri adalah PNS, tapi tidak semua PNS adalah pengurus/elit Korpri, tidak termasuk dalam Komite Tinggi Korpri. PNS tidak memiliki kewenangan eksekutif apa-apa terhadap Korpri. PNS mungkin tahu apa saja kegiatan yang direncanakan atau sedang diselenggarakan oleh Korpri melalui Surat Edaran (SE), tapi tidak punya kewenangan apa-apa. seluruh PNS, baik yang umum maupun pengurus Korpri, juga diwajibkan membayar iuran Korpri tiap bulan dengan besaran yang sama dan tetap (Rp.7.500,-). tapi untuk pengurus dikenai iuran tambahan (sebutannya iuran komite) yang besarannya beda-beda setiap individu.

nah.....

sedangkan masyarakat umum, yang tidak termasuk di dalam kategori-kategori di atas, tapi memiliki simpati dengan PKI, baik secara ideologis, teknis (pelaksanaan rogram/kegiatan), maupun hanya tertarik saja dengan arah politik dan/atau kader PKI, mereka inilah yang bisa disebut sebagai "simpatisan PKI". mereka adalah masyarakat biasa aja seperti kita. mereka tidak pernah mendaftar sebagai anggota PKI. mereka juga tidak pernah ikut diklat kepemimpinan PKI. mereka juga tidak punya kartu keanggotaan PKI. sebagaimana seperti masyarakat pada umumnya, yang bersimpati dengan parpol tertentu. mungkin ketika Pemilu, kita juga mencoblos partai X walaupun kita tidak tahu programnya apa saja, atau kita tidak ngerti ideologinya, dan tentu kita tidak memiliki kartu keanggotaan. mungkin kita hanya tahu tokoh parpol tsb yang sering nampang di berbagai media, dan sebagian besar pandangan-pandangannya mungkin sesuai dengan harapan pribadi kita, atau cocok dengan pemikiran kita.

nah, misalnya anggaplah PKI adalah dalang G30S. itu artinya, PKI sebagai organisasi/lembaga secara resmi merancang/merencanakan dan melaksanakan G30S. maka, tetap saja, dengan demikian, yang bersalah dan bertanggungjawab adalah hanya kader PKI saja. simpatisan PKI ya tetap orang-orang yang tidak bersalah. mereka tidak tahu-menahu, tidak ikut rapat perencanaannya, tidak punya akses ke kalangan internal PKI, tidak tahu segala apa yang direncanakan oleh internal PKI, dan sama saja seperti masyarakat biasa pada umumnya.

logikanya, jika ingin menumpas G30S dan menumpas PKI, maka harusnya yang disasar Orba adalah kader-kadernya, bukan simpatisan-simpatisan. faktanya kan nggak. malah yang gak ada hubungannya pun ikut-ikut kena tuduh.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muh.al.fathir dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
05-11-2020 02:58
nyimak buat nambah wawasan gan,nice thread
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
05-11-2020 18:56
Yah, emang untuk sejarah Indonesia, saya kurang tertarik karena gak ada sumber yang memadai selain dari buku putihnya pemerintah mengenai sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat ringkas itu. Makanya kadang kalau ada yang bahas hal kayak gini agak malas bahasnya karena sumbernya kurang. Yang bisa dilakukan untuk menguak sejarah itu rata2 cuma dari sisi para korban saja. Tentang bagaimana ini terjadi masih abu2, dan semuanya masih aja ngutip dari "Buku Putih". Emang sial sekali bangsa ini, nulis sejarahnya sendiri aja gak boleh. Makanya gampang sekali budaya kita dirubah sama budaya impor dan ideologi impor.
profile-picture
profile-picture
tyrodinthor dan angelpesek memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
06-11-2020 09:54
2 cerita pertama Analogi TS tidak sama dg kisah PKI.
Dan hampir semua yg TS tulis... dasarnya cuma 1... ASUMSI.
tak ada bukti kuat apapun yg mendukung khayalan TS ini.

Syam intel ganda? apa bukti nya...
Dan masih banyak lagi.... semuanya jelas hanya asumshit ts hasil dr mimpi siang....
Diubah oleh TERA.SERVO
profile-picture
muh.al.fathir memberi reputasi
1 0
1
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
07-11-2020 14:03
Quote:Original Posted By TERA.SERVO
2 cerita pertama Analogi TS tidak sama dg kisah PKI.
Dan hampir semua yg TS tulis... dasarnya cuma 1... ASUMSI.
tak ada bukti kuat apapun yg mendukung khayalan TS ini.

Syam intel ganda? apa bukti nya...
Dan masih banyak lagi.... semuanya jelas hanya asumshit ts hasil dr mimpi siang....


ini forum sejarah om, bukan BPLN/DC.

lagian anggapan bahwa Sjam hanya bekerja untuk Aidit juga asumsi. faktanya, Aidit sendiri gak pernah ketemu sama para perwira kiri (Letkol. Untung, Kol. Latief, Mayor Udara Soejono, Brigjen. Supardjo, dll). satu-satunya yang menghubungkan Aidit dengan para perwira kiri itu ya cuma Sjam. bahkan Aidit gak mencoba mengkonfirmasi info-info dari Sjam, percaya buta sama Sjam. dan dia juga gak menaruh intel lain buat ngawasin Sjam.

yang kumaksud Sjam sebagai agen ganda bukan berarti Sjam bekerja untuk 2 pihak, tapi Sjam lebih memiliki keleluasaan ketimbang hanya dianggap sebagai intel bagi 1 pihak. dia punya kartu keanggotaan intelijen militer, secara resmi ya dia intel ABRI. dia leluasa masuk berbagai fasilitas militer manapun, mau itu kantor, markas, dll. banyak perwira progresif/kiri yang menaruh kepercayaan kepada dia, gak ubahnya Aidit juga menaruh kepercayaan kepada dia. itu yang membuat dia berada di tengah-tengah dua pihak (Aidit dan para perwira kiri), sebagai perantara tanpa satupun pengawasan, Aidit tidak mengawasi dia, para perwira kiri juga tidak mengawasi dia. dengan begitu, dia punya keleluasaan dan bisa bergerak bebas.

penting untuk diketahui bahwa intelijen di masa itu tidak terpusat pada satu komando, sama seperti sekarang juga sebenarnya. di SUAD sendiri, Deputi I Urusan Intelijen lah yang membawahi intelijen resmi AD, dikepalai Mayjen. S. Parman. bahkan, S. Parman sendiri punya intel kepercayaan pribadi dia. begitu juga Letjen. A. Yani dan Jend. A.H. Nasution, masing-masing punya intel pribadi. pengembangan jaringan intel di masa Demokrasi Terpimpin tidak cuma AD. ALRI, AURI, dan AKRI punya sendiri dinas intelijen resminya. KOTI dan KKO-AL juga punya. dan tidak cuma ABRI, tapi juga operasi militer, badan, dan parpol. BPI punya secara resmi, sekaligus juga Waperdam I Kepala BPI Subandrio juga punya secara pribadi. Begitu juga Komdis juga punya secara resmi, sekaligus juga Waperdam II Menko-Komdis Leimena juga punya secara pribadi. Khusus untuk parpol, karena parpol adalah sipil, maka jaringan intelijen nya tidak ada yang resmi masuk dalam organisasi. tapi jelas ada. misalnya PSI juga punya secara tidak resmi, sekaligus juga Waperdam III Ketua PSI Chaerul Saleh juga punya secara pribadi. PKI juga punya secara tidak resmi yang disebut-sebut "Biro Chusus" (Sjam, Pono, Bono, Hamim, dan Wahjudi), sekaligus juga Wakil Ketua MPRS Ketua CC-PKI D.N. Aidit juga punya secara pribadi (Sjam).

karena hectic nya arus informasi intelijen yang seperti ini, akhirnya tidak satupun intel yang bisa dikatakan kompeten. contoh, Letjen. A. Yani pernah diberitahu intelnya kalo akan terjadi aksi/tindakan yang mengancam dirinya di minggu kedua September, pengawalan sempat ditambah. tapi ternyata tidak ada apa-apa. begitu juga di minggu ketiga dan keempat, sampai-sampai Yani menolak diberikan pengawalan tambahan lagi di rumahnya. dia menolak ya tentu saja karena merasa itu cuma desas-desus.

begitu juga Mayjen. S. Parman. intel-intel pribadi dia sebenernya canggih-canggih. mereka bahkan tahu kalo Sjam sebagai intel militer juga sering muncul di kantor-kantor militer. Parman sendiri juga menaruh intelnya ke dalam internal PKI. walau demikian, mereka tetap gak tahu kalo Sjam juga bekerja untuk Aidit, dan sudah tentu mereka gak tahu kalo Sjam sedang merencanakan aksi yang akan mengancam Parman. kalo mereka tahu, pasti Parman sudah nyuruh intel-intelnya buat ngawasin Sjam. fakta bahwa akhirnya dia diculik G30S adalah bukti kalo dia dan intel-intelnya gak tahu tentang Sjam.

lalu tentang analogi, yang jadi analogi bukan cerita seputar G30S. tapi situasi sejak G30S sampai pembantaian massal terhadap terduga PKI. rentang waktu paling pendek adalah 1965-1966. analoginya sudah sangat akurat untuk menggambarkan situasi yang menggambarkan sentimen anti terhadap sayap politik tertentu hingga berujung pada rasa anti kemanusiaan.
Diubah oleh tyrodinthor
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
08-11-2020 06:05
purge politik pasca gatot nya g30s pki 1965 adalah hal yg awajar, pd masa itu, gan......

purge politik tuk de-sukarnoisasi itu berarti semua loyalis, pres SK, berikut penganut aliran politik nasakom, khusus nya PKI, harus diberangus, karena terbukti malah jd biang kerok kerusuhan sospol dlm tingkat elitis......

soal, mengapa ABRI, khususnya TNIAD serta RPKAD pd saat itu tak bs berbuat banyak tuk menghadapi kerusuhan sospol pd akar rumput, lebih semata karena keterbatasan jumlah personel TNI AD berikut sistem komunikasi yg serba sangat terbatas, karna pd saat yg sama, era 1965-66, RI masih dalam sikon darurat perang, RI lagi berperang dengan pasukan neo koloni, eh pasukan persemakmuran UK di wilayah kalimatan utara sampe singapura......

harap diingat bhw jumlah anggota TNI (minus polri) pd saat itu hny sekitar 200rb personel, sedangkan jumlah personel polri jg diperkirakan tak lbih dr 100rb personel tuk seluruh wilayah di RI.....yg sebagian besar personel nya (diatas 50%) berada di wilayah perbatasan terluar, seperti di sumatera, kalimantan utara, sulawesi, kep maluku, irian jaya..... sehingga jumlah personel TNI-Polri yg ada di pulau jawa jg ikut menipis.... jumlah anggota TNI hny sebanyak 200rb itu berkat hasil program RERA pd belasan tahun sebelumnya..... sedangkan, jumlah anggota RPKAD, eh anggota KOSTRAD sebagai tulang punggung pasukan TNI yg anti PKI, mreka masih blum pnya pasukan sendiri melainkan hny mendapat pasukan sewaan dr divisi2 TNI AD lainnya....

wilayah pulau jawa-bali, berikut banyak pulau besar lainnya di RI, masih kekurangan sistem transportasi, komunikasi, dll, yg mmbuat kesulitan bg pihak TNI tuk bs merasuk ke dalam wilayah terpencil di pulau2 besar tuk memburu 3 juta anggota PKI serta 20 juta simpatsian massa PKI (sesuai jargon DN Aidit pd HUT PKI di gelora senayan 1965).....

mau tidak mau, suka tak suka, akibat berbagai keterbatasan sarana & prasarana dlm bnyk hal..... pasukan TNI harus melibatkan pasukan milisi2 lokal serta kegiatan aktif para rakyat yg anti komunis tuk memberantas genk PKI sampe tuntas..... yg terjadi di lapangan, mengakibatkan muncullah aksi purge politik secara sepihak di dlm masyarkat akar rumput secara luas, masif, massal..... yg berujung muncullah chaos alias bentrokan di bnyk tempat, antara kaum anti komunis dgn kaum pro komunis.....

sebagai contoh, jumlah anggota RPKAD yg masuk ke jateng itu hny sekitar 1000 personel saja..... wilayah jateng pd 1965-66, jgn dibayangkan spt prov jateng pd 2020, gan..... selain itu, jgn melihat kekuatan TNI, khusus nya RPKAD pd 1965-66 dengan ukuran standar kekuatan RPKAD eh KOpassus pd 2020, yg sdh jelas2 akan sangat jauh berbeda, gan.......

Diperparah....Pihak TNI, pasca g30s pki 1965 jg msh blum tahu bnyk, atas siapa saja pejabat pki berikur 3 jt anggota pki tsb....

tp, jumlahnya korban tewas, kemungkinan besar, takkan lebih dari 500rb jiwa, apalg sampe jutaan...... sebab, korban tewas saat purge politik sampe jutaan jiwa itu hny mitos yg disebarkan luaskan oleh cornell paper yg pro kaum kiri (komunis) pd saat itu, yg berujung stigma & mitos2 sesat atas jutaan tewas nya warga PKI sampe skrg ini, gan...... para poenulis cornel paper itu tiada satupun yg melakukan penelitian secara lngsung dlm wilayah RI dlm kasus g30s pki 1965, mreka hny bs mereka-reka via di negara asing saja.......

satu hal yg terpenting, atas semua chaos yg terjadi itu 1965-66, presiden RI pd saat itu masih SK, bukan jenderal SH, sebagaimana penegasan pres SK usai memberikan ucapan selamat thd jenderal SH atas pelaksanaan SUPERsemar nya di muka publik..... yg cuplikan videonya sdh bnyk beredar luas di yutub......

Sbg tambahan, itulah sebab nya, bbrp minggu kmudian, pasca g30s pki 1965, CIA mmbantu pasukan TNI yg anti komunis tuk pertama kali nya, slain mmberikan bantuan keuangan, jg mmberikan daftar nama para petinggi PKI di pusat-daerah serta alat2 n sistem komunikasi......


CMIIW.....
Diubah oleh yoseful
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
1 0
1
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
08-11-2020 07:05
ada 1-2 hal yg mmbuat mengapa g30s pki 1965 berakhir gatot.....

1. dukungan pres SK, mau sebobrok apapun rencana biro khusus CC PKI, selama ada dukungan penuh dr pres SK maka semua rencana kontra kudetanya akan berjalan sukses 100%..... faktanya, entah kenapa pres SK bgitu tahu ada kasus g30s pki 1965, malah menunjukkan hal yg sebaliknya, maka hancur lah semua itu operasi g30s pki 1965....

2. jenderal TNI AD yg tak masuk dalam penculikan pasukan TNI yg pro PKI pd saat itu tak hanya jenderal SH, tp jg ada beberapa lainnya, salah satunya pangdam jaya umar wirahadikusumah.....

3. sebenarnya janggal bngt sih, jarang ketemuan n berkomunikasi, tp si kolonel latief malah mrasa SKSD ama jenderal SH, pangkostrad yg tak pny pasukan sendiri, sehingga mengklaim ketemuan langsung dgn jenderal SH di RSPAD pd tengah malam 30 9 1965, lalu sekonyong2 memberitahu kan sebuah operasi rahasia, semuanya kpd jenderal SH, bhw ybs akan segera menculik para jenderal TNI yg antek2 CIA tuk dihadapkan langsung kpd pres SK.....


CMIIW......
Diubah oleh yoseful
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
1 0
1
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
08-11-2020 11:05
Ttg keterlibatan agen2 intelijen asing.....

1. Sejauh ini, dr semua dokumen cia yg sdh dibuka tuk publik seputar masa 1960-an, khusus nya 1965-66 di RI, bhw CIA tak terlibat langsung maupun tak langsung pd masa pra kasus g30s pki 1965, mksd nya itu bhw bukan cia lah yg bikin itu g30s pki 1965, gan.... Lain halnya usai kasus g30s pki 1965.... Cia br ikutan nyebur ke kolam yg basah.....

2. Dinas intelijen inggris jg, MI6, sepertinya peranan mreka, laporan yg sdh terbuka ke publik, isi nya jg gak jauh beda dgn CIA, bhw tugasnya hny sebatas pengamatan semata pra g30s pki 1965....

3. KGB, cabang cekoslovakia, trbukti jd biang kerok pembuatan n penyebaran dokumen gilchrist, tujuan utamanya itu tuk mnyudutkan peranan amrik di RI..... Tp, kegiatan propaganda tersebut tak berkaitan erat dgn agenda tersendiri dr biro khusus cc pki yg pro beijing, slama masa ORLA, gan......

4. Dinas intelijen RRT, sayangnya skrg PKT msh brkuasa penuh di sono, jd keterlibatan nya sejauh apa tak bs di teliti lbih jauh.... Walopun kini ada bbrp laporan bhw PKT mngklaim tak terlibat sama skali dlm kasus g30s pki 1965... Tp, originalitasnya sangat meragukan karna PKt serba tertutup n rahasia, slain itu PKT jg hobi, sdh dr dulu sampe skrg, bhw mreka sk bikin laporan aspal tuk memutihkan citra mreka secara nasional n internasional....

CMIIW.....
Diubah oleh yoseful
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
1 0
1
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
08-11-2020 14:51
hallo puh @yoseful emoticon-Big Grin
selamat bergabung, gw suka kalo ada pro-kanan yang kayak om yos gini emoticon-Ngakak (S) mungkin perlu mengundang om @mamorukun biar makin rame emoticon-Embarrassment

kita diskusi aja ya om, gak perlu tegang urat syaraf, maklum, ane suka kumat kelenjar getah beningnya kalo tegang hahahaa emoticon-Ngakak (S)

Quote:Original Posted By yoseful
purge politik pasca gatot nya g30s pki 1965 adalah hal yg awajar, pd masa itu, gan......

purge politik tuk de-sukarnoisasi itu berarti semua loyalis, pres SK, berikut penganut aliran politik nasakom, khusus nya PKI, harus diberangus, karena terbukti malah jd biang kerok kerusuhan sospol dlm tingkat elitis......

soal, mengapa ABRI, khususnya TNIAD serta RPKAD pd saat itu tak bs berbuat banyak tuk menghadapi kerusuhan sospol pd akar rumput, lebih semata karena keterbatasan jumlah personel TNI AD berikut sistem komunikasi yg serba sangat terbatas, karna pd saat yg sama, era 1965-66, RI masih dalam sikon darurat perang, RI lagi berperang dengan pasukan neo koloni, eh pasukan persemakmuran UK di wilayah kalimatan utara sampe singapura......

harap diingat bhw jumlah anggota TNI (minus polri) pd saat itu hny sekitar 200rb personel, sedangkan jumlah personel polri jg diperkirakan tak lbih dr 100rb personel tuk seluruh wilayah di RI.....yg sebagian besar personel nya (diatas 50%) berada di wilayah perbatasan terluar, seperti di sumatera, kalimantan utara, sulawesi, kep maluku, irian jaya..... sehingga jumlah personel TNI-Polri yg ada di pulau jawa jg ikut menipis.... jumlah anggota TNI hny sebanyak 200rb itu berkat hasil program RERA pd belasan tahun sebelumnya..... sedangkan, jumlah anggota RPKAD, eh anggota KOSTRAD sebagai tulang punggung pasukan TNI yg anti PKI, mreka masih blum pnya pasukan sendiri melainkan hny mendapat pasukan sewaan dr divisi2 TNI AD lainnya....


kalo dibilang keterbatasan jumlah personil agak berlebihan deh. faktanya AD sudah menguasai media massa. dengan terus memviralkan G30S, akan terus membangkitkan sentimen anti-komunis begitu tinggi, yah semacam pembentukan opini untuk memancing hysteria massal. bahkan gak segan-segan isi beritanya ada yang direkayasa seperti tari telanjang Gerwani, pesta seks Lubang Buaya, penyiletan penis, pipi, dan tubug para jenderal korban, dll. selalu mengungkit-ungkit rekayasa tsb sampai publik pun kebakar amarahnya.

yang perlu diperhatikan bukan sentimen anti-komunis tsb sebenarnya. tapi bagaimana gerak-gerik RPKAD dalam pembantaian massal yang terjadi saat itu. dengan jumlah personil terbatas bukan sebuah alasan yang layak diterima akal sehat ketika itu terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia secara berkala. memang benar, ada beberapa daerah yang sudah melakukan aksi pembantaian lebih dulu, misalnya Bali. sejak November 1965, mereka sudah gorok-gorokin simpatisan PKI dan/atau Soekarnois, dan terus berlanjut sampai tahun 1966. RPKAD datang ke Bali di bulan Desembernya, ya you know lah abis itu RPKAD ngapain: ikut-ikutan bantai. yaa logika sehat aja sih, kalo memang sentimen anti-komunis itu respon alami sehingga membuat massa marah dan bertindak sendiri, ngapain akhirnya RPKAD ikut-ikutan bantai? emoticon-Big Grin

sebenarnya yang diincar RPKAD itu jelas, menumpas sisa-sisa G30S dan memburu para terduga yang terlibat G30S. sampai tahun 1966 itu, tokoh yang saat itu diduga berperan inti dalam G30S (meskipun ternyata bukan otaknya) yang masih dalam perburuan adalah eks-Brigjen. Supardjo yang terus lolos dalam persembunyian dan penggrebekan. amarah massal di daerah-daerah terpencil sudah pasti bukan terpancing oleh media massa, tapi oleh RPKAD sendiri yang masuk ke desa-desa mencari-cari -salah satunya- Supardjo. sudah cukup kebayang sebenarnya akhirnya terjadi pembantaian massal, mungkin RPKAD sendiri sudah merasa Supardjo memakai nama samaran, tinggal di pemukiman dalam, berbaur dengan masyarakat, dsbnya. dengan bantuan massa, terutama yang terorganisasi dalam bentuk paramilisi, mudah saja bagi RPKAD untuk meminta warga di suatu desa untuk menciduk siapapun yang dianggap kiri.

ane setuju apa yang terjadi dalam fakta G30S terkait pembunuhan jenderal adalah cara yang biadab, dan sangat tidak etis apabila ternyata itu semua dilatarbelakangi rasa takut berlebihan terhadap isu para jenderal ingin melakukan kup. di satu sisi, apa yang telah menjadi fakta kebiadaban peserta G30S tidak dapat ditoleransi dari sudut pandang apapun, apalagi didukung tensi politik Perang Dingin, segala kekerasan yang dilakukan tentu dilatarbelakangi faktor politik ini. tapi di sisi lain, menimbang banyaknya "fakta semrawut" pada saat terjadinya G30S, sebenarnya peristiwa ini gak bisa dikategorikan sebagai suatu makar besar. makar iya, tapi besar sih nggak. nyaris menang, mungkin. karena memang pada pagi harinya komplotan G30S masih di atas angin. tapi karena gak ada perencanaan matang, semua serba dadakan, bisa kita lihat hasilnya, yaitu "fakta semrawut". nah, "fakta semrawut" ini sebenarnya bukan benar-benar semrawut. tapi kita akan mikirnya semrawut karena asumsi awal kita: G30S direncanakan matang dan tunggal oleh PKI.

padahal, rencana G30S sama sekali gak matang. rencana asli G30S cuma menculik. gak ada rencana selanjutnya, gak ada juga plan B, C, dstnya. banyaknya miskom yang terjadi di kalangan peserta G30S juga membuktikan tidak hanya tidak memiliki perencanaan yang baik, tapi juga tidak memiliki tujuan yang jelas. abis diculik, terus diapain? gak jelas. Sjam dalam hal ini menganggap penculikan itu seperti sumbu mercon. yang diperlukan adalah nyalakan sumbunya. lalu biarkan merconnya meledak. dia terlalu menyepelekan sumbu mercon, alih-alih dengan harapan dengan cara menculik lalu mengumumkan agitasi atas nama "penyelamatan terhadap Presiden/Pangti/PBR", maka akan dengan sendirinya rakyat akan mendukung. mungkin, yang ada dalam bayangan Sjam dan para perwira progresif itu adalah penculikan dalam arti terhormat, sebagaimana tradisi culik-menculik yang kerap terjadi pada saat revolusi nasional (penculikan Rengasdengklok atau penculikan 3 Juli 1946, entah yang mana yang mau dijadikan contoh, dugaanku sih mereka ingin mencontoh penculikan Rengasdengklok, yang diculik adalah angkatan tua sayap kanan, yang menculik adalah angkatan muda sayap kiri). tapi karena tidak ada rencana selanjutnya, akhirnya semua di luar bayangan mereka. 3 jenderal mati, 3 jenderal sisanya dianggap gak penting, 1 jenderal berhasil lolos. kalo udah begini, mau berhenti juga gak bisa.

Quote:Original Posted By yoseful

tp, jumlahnya korban tewas, kemungkinan besar, takkan lebih dari 500rb jiwa, apalg sampe jutaan...... sebab, korban tewas saat purge politik sampe jutaan jiwa itu hny mitos yg disebarkan luaskan oleh cornell paper yg pro kaum kiri (komunis) pd saat itu, yg berujung stigma & mitos2 sesat atas jutaan tewas nya warga PKI sampe skrg ini, gan...... para poenulis cornel paper itu tiada satupun yg melakukan penelitian secara lngsung dlm wilayah RI dlm kasus g30s pki 1965, mreka hny bs mereka-reka via di negara asing saja.......


kalo ane sih lebih percaya hasil sidang IPT 65. jumlah rata-rata minimalnya 500.000 yang tewas, diperkirakan lebih. tapi selama tidak ada penelitian khusus yang terbuka diadakan tentang pembantaian massal ini, kita hanya bisa menduga-duga saja. barangkali 1 sampai 3 juta bisa berlebihan, tapi kalo cuma puluhan ribu juga gak masuk akal. PKI sudah gak punya ruang untuk beraktifitas dan bergerak.

Quote:Original Posted By yoseful
satu hal yg terpenting, atas semua chaos yg terjadi itu 1965-66, presiden RI pd saat itu masih SK, bukan jenderal SH, sebagaimana penegasan pres SK usai memberikan ucapan selamat thd jenderal SH atas pelaksanaan SUPERsemar nya di muka publik..... yg cuplikan videonya sdh bnyk beredar luas di yutub......


kalo ini sih menurutku gak ada hubungannya yah. BK sendiri memang sudah kehilangan pengaruh. hampir seluruh pengaruh politik ada di tangan PH. dan dengan bargaining power yang sudah lebih kuat dari BK itu, PH secara perlahan merongrong BK, dan BK udah gabisa semena-mena lagi kayak sebelum G30S.

Supersemar menurutku asli, meskipun pasti ada bargaining dari PH yang merongrong BK, entah itu katanya sambil ditodong dll. tapi seluruh isi Supersemar itu BK pasti sudah baca, sudah memahami, dan tampaknya meskipun draf awalnya dari pihak PH, tapi setidaknya ada unsur BK juga di dalamnya. terutama yang dia sebutkan berulang-ulang saat pidato ucapan terima kasih kepada PH: "SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Pengamanan jalannya ini pemerintahan. Demi kukatakan dalam pelantikan kabinet. Kecuali itu, juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah Pengamanan beberapa hal". apa yang diulang-ulang BK itu menunjukkan satu unsur yang tampaknya ditambahkan dari BK sendiri, yaitu yang ada di poin 1 Supersemar: "..... mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. ....... melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi". unsur lainnya adalah berkas draf awal yang diajukan ke BK sebelum ditandatangani.

Quote:Original Posted By yoseful

Sbg tambahan, itulah sebab nya, bbrp minggu kmudian, pasca g30s pki 1965, CIA mmbantu pasukan TNI yg anti komunis tuk pertama kali nya, slain mmberikan bantuan keuangan, jg mmberikan daftar nama para petinggi PKI di pusat-daerah serta alat2 n sistem komunikasi......


setuju puh.

Quote:Original Posted By yoseful
ada 1-2 hal yg mmbuat mengapa g30s pki 1965 berakhir gatot.....

1. dukungan pres SK, mau sebobrok apapun rencana biro khusus CC PKI, selama ada dukungan penuh dr pres SK maka semua rencana kontra kudetanya akan berjalan sukses 100%..... faktanya, entah kenapa pres SK bgitu tahu ada kasus g30s pki 1965, malah menunjukkan hal yg sebaliknya, maka hancur lah semua itu operasi g30s pki 1965....


setuju. BK sendiri sebenarnya sudah cukup senang begitu gerakan ini akhirnya timbul: "ini biasa, biasa dalam sebuah revolusi". karena dia sendiri juga gak suka sama pimpinan AD Letjen. Yani dkk. bagi dia, kalo ini udah beres, yaudah cukup.

perlu diketahui bahwa para organisator G30S (kecuali Sjam) sebenarnya justru patuh sama BK. begitu BK gamau memberi dukungan dan menyuruh G30S distop, mereka semua sudah stop. itu distop sebelum pengumuman kedua RRI dibunyikan. dan ini cukup bisa menjawab kenapa:

pengumuman pertama kontradiksi dengan pengumuman kedua.

pengumuman pertama (yang menyatakan telah menyelamatkan Presiden) berbeda dengan pengumuman kedua (yang menyatakan kabinet Dwikora demisioner). yang pertama menyelamatkan, yang kedua malah menggulingkan.

pengumuman kedua itu dibikin dadakan setelah BK nyuruh stop. saat itu Supardjo (yang jadi penghubung kelima gembong G30S dengan BK) jadi saksi ketika Sjam berdebat dengan Untung, Latief, dan Soejono, Pono mungkin gak ngeluarin pendapat. Untung dkk ingin patuh sama BK, yaitu di stop saja. Supardjo sendiri sih gak masalah mau distop apa terus aja, yang penting cepat diputuskan. tapi karena gak ada keputusan jelas, dia melihat suara mayoritas ada di kelompok Untung dkk, maka dia mengambil langkah stop. tapi Sjam masih aja ngotot, dan akhirnya dia gerak sendiri dan mengumumkan pengumuman kedua itu. ketika BK mendengar pengumuman kedua itu, dia langsung ngamuk. dia segera memanggil Pranoto (yang sebelumnya sudah diangkat jadi Menpangad sementara menggantikan Yani) ke Halim untuk dipertemukan dengan G30S dan menyelesaikan masalah ini secara politis. tapi Pranoto gabisa kemana-mana karena dilarang Soeharto yang sudah mengambil alih sementara Menpangad. ada miskom di sini antara Halim dan Kostrad.

Quote:Original Posted By yoseful

2. jenderal TNI AD yg tak masuk dalam penculikan pasukan TNI yg pro PKI pd saat itu tak hanya jenderal SH, tp jg ada beberapa lainnya, salah satunya pangdam jaya umar wirahadikusumah.....

3. sebenarnya janggal bngt sih, jarang ketemuan n berkomunikasi, tp si kolonel latief malah mrasa SKSD ama jenderal SH, pangkostrad yg tak pny pasukan sendiri, sehingga mengklaim ketemuan langsung dgn jenderal SH di RSPAD pd tengah malam 30 9 1965, lalu sekonyong2 memberitahu kan sebuah operasi rahasia, semuanya kpd jenderal SH, bhw ybs akan segera menculik para jenderal TNI yg antek2 CIA tuk dihadapkan langsung kpd pres SK.....


kalo ini sih yang perlu diperhatikan adalah bagaimana para organisator ini menentukan mana jenderal yang harus diculik. dan mereka cuma mengandalkan kabar burung, bukan penelitian. sasarannya cuma pimpinan tertinggi AD (dan Menko-Hankam/KASAB). Soeharto dan Umar kan bukan petinggi AD. meskipun sama-sama jenderal, tapi mereka tidak menjabat sebagai Pimpinan AD. Soeharto cuma Pangkostrad, Umar cuma Pangdam Jaya. yang diincar G30S cuma:
1. Menko-Hankam/KASAB (Nasution).
2. Menpangad (Yani).
3. SUAD.

[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
yang diwarnai merah adalah para jenderal yang diculik


makanya Soeharto memang tidak jadi target penculikan. organisator G30S ini cuma utak atik gathuk, alih-alih istilah "Dewan Djenderal", maka yang ada di kepala mereka ya cuma oknum jenderal pimpinan AD yang dianggap tidak loyal sama BK. cukup lucu sih, dan mungkin ini bisa menjawab kejanggalan yang puh yos sebut di poin 3, bahwa:

  1. Soeharto tidak dianggap berbahaya, karena Pangkostrad gak punya pasukan apa-apa, cuma dalam keadaan tertentu Kostrad baru ngambil pasukan dari Kodam-kodam dll. ada semacam menyepelekan gitu lah dari kalangan organisator G30S.
  2. rekam jejak Soeharto sampai G30S tidak dikenal sebagai seorang jenderal yang anti-kom, juga tidak pro-kom. dia cukup dianggap Soekarnois.
  3. ada semacam harapan agar Soeharto bergabung ke G30S. makanya Kol. Latief mengabarkan langsung ke Mayjen. Soeharto yang saat itu di RSPAD bahwa dia dkk akan bergerak malam ini. ya mungkin miskom juga ketika Soeharto cuma diam saja, dianggap Latief sebagai lampu hijau.


dan bisa menjawab juga kenapa Soeharto diam saja.

karena Soeharto adalah oportunis. sebagai seorang oportunis, lebih baik diam dan lihat kemana arahnya, lalu kalo ada kesempatan caper, ambillah kesempatan itu.

Quote:Original Posted By yoseful
Ttg keterlibatan agen2 intelijen asing.....

1. Sejauh ini, dr semua dokumen cia yg sdh dibuka tuk publik seputar masa 1960-an, khusus nya 1965-66 di RI, bhw CIA tak terlibat langsung maupun tak langsung pd masa pra kasus g30s pki 1965.... Lain halnya usai kasus g30s pki 1965....


setuju. bahkan usai G30S, CIA bahkan tidak benar-benar membantu. dari laporan-laporan tsb, CIA cuma memberikan saluran/jalan bagi AD (Soeharto) untuk berhubungan dengan diplomat AS. dan beberapa laporan pemantauan aktifitas pendanaan.

Quote:Original Posted By yoseful

2. Dinas intelijen inggris jg, MI6, sepertinya peranan mreka, laporan yg sdh terbuka ke publik, isi nya jg gak jauh beda dgn CIA, bhw tugasnya hny sebatas pengamatan semata pra g30s pki 1965....


setuju. sejauh ini memang tidak ada dari postingan ane yang mengatakan bahwa asing menjadi dalang G30S. asing terlibat pasca G30S, paling cepat mungkin tanggal 4 Oktober, atau sebelum KAP-Gestapu dibentuk tanggal 12 Oktober.

Quote:Original Posted By yoseful

3. KGB, cabang cekoslovakia, trbukti jd biang kerok pembuatan n penyebaran dokumen gilchrist, tujuan utamanya itu tuk mnyudutkan peranan amrik di RI..... Tp, kegiatan propaganda tersebut tak berkaitan erat dgn agenda tersendiri dr biro khusus cc pki yg pro beijing, slama masa ORLA, gan......


setuju juga. KGB Cekoslovakia membuat dan menyebarkan, tapi tidak dalam rangka mendalangi G30S, ataupun dalam agenda terselubung BC/PKI. isu-isu begitu memang untuk mendiskreditkan lawan politik dan mengagitasi tensi curiga-mencurigai. yaa mungkin gerakan semacam G30S itulah yang diharapkan akan terjadi dengan disebarkannya isu itu.

perlu dipertimbangkan juga faktor lain, mungkin malah faktor utama, dari disebarkannya isu "Dewan Djenderal" adalah karena Dubes AS untuk Indonesia yang ditugaskan adalah Marshall Green pada bulan Juli 1965. sebelumnya, Green adalah Dubes AS untuk Korsel pada tahun 1961. dan baru 2 bulan saja menjabat sebagai Dubes di Korsel, Jenderal Park Chung Hee (jenderal sayap kanan pro-AS) melancarkan kup terhadap pemerintahan sipil Chang Myon yang sayap kanan tapi tidak pro-AS. Jendral Hee kemudian menggantikannya dengan pemerintahan semi-militer. KGB mungkin mencurigai peran serta Green dalam kup di Korsel, dan mereka khawatir Green akan berbuat yang sama di Indonesia. tensi politiknya pun agak mirip antara Chang Myon dengan Soekarno (Demokrasi Terpimpin) yang mana keduanya dianggap sering merintangi kepentingan AS di Indonesia. sangat mungkin KGB sengaja menyebarkan isu Dewan Djenderal dengan harapan agar pemerintah Soekarno mewaspadai Green.

Quote:Original Posted By yoseful

4. Dinas intelijen RRT, sayangnya skrg PKT msh brkuasa penuh di sono, jd keterlibatan nya sejauh apa tak bs di teliti lbih jauh.... Walopun kini ada bbrp laporan bhw PKT mngklaim tak terlibat sama skali dlm kasus g30s pki 1965... Tp, originalitasnya sangat meragukan karna PKt serba tertutup n rahasia, slain itu PKT jg hobi, sdh dr dulu sampe skrg, bhw mreka sk bikin laporan aspal tuk memutihkan citra mreka secara nasional n internasional....


PKT sendiri tampaknya cuma sebatas memberikan bantuan pucuk senjata cuma-cuma. mungkin secara terselubung mereka menyerahkan langkah politik selanjutnya kepada PKI sendiri.

CMIIW.

pada intinya sih prinsipku sederhana om. tidak ada manusia yang superpower banget di muka bumi ini, dengan segala kejeniusannya, merancang sesuatu yang jahat, ataupun yang baik.

makanya, anggapan bahwa G30S itu makar luar biasa adalah cacat analisa dan bertentangan dengan fakta G30S itu sendiri. anggapan bahwa G30S didalangi pun juga cacat secara logika. baik itu yang bilang dalangnya PKI, atau Aidit, atau Sjam, atau Soekarno, atau Soeharto, atau para perwira progresif, semuanya tidak logis dan lemah bukti. inisiator jelas ada, peran utama/major role juga ada, organisator juga pastinya ada, tapi tidak ada single mastermind yang merancang G30S. dan ini sangat sesuai tidak hanya dengan konteks zaman, namun juga konteks budaya dan tradisi. kalo melihat misalnya para perwira itu memutuskan stop atas perintah BK, atau Yon 530 yang memutuskan bergabung ke Kostrad, itu semua menunjukkan adanya tradisi patriarkal yang segan sama orang yang derajatnya lebih tinggi, yang dianut bangsa Indonesia. dan ini sering luput dari perhatian bagi penggemar sejarah G30S.

termasuk ketika kita katakan Soeharto sebagai dalang pembantaian massal pun, aku masih menganggapnya omong-kosong. jika dikatakan dia sebagai salah satu dalang, itu sih pasti. pembantaian massal 1965-1966/1967 itu harus dilihat sebagai fase konsolidasi kekuatan politik bersama antara Soeharto dengan AD, dan antara AD dengan ormas-ormas sipil non-komunis, dan antara sesama ABRI (AD, ALRI, AURI, AKRI).
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bontakkun dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
08-11-2020 18:36
Quote:Original Posted By tyrodinthor


Dalang tunggal G30S tidak ada, yang sekalipun ada, maka dalang tsb adalah Sjam. tapi Sjam bukan seorang yang jenius merancang gerakan ini. dia memanfaatkan kinerja intel ganda antara dirinya dengan Aidit di satu sisi, dan dirinya dengan para perwira muda AD di sisi lain. gerakan ini pada awalnya adalah inisiatif perwira muda AD (TNI-AD) yang kemudian membuat sejumlah elit pimpinan PKI dan sejumlah elit pimpinan AURI (TNI-AU) untuk ikut serta dalam G-30-S. tidak ada dalang tunggal, sebab gerakan ini tidak memiliki koordinasi yang baik, banyak miskomunikasi di antara para pesertanya, dan tidak memiliki perencanaan yang matang. jika dalangnya itu ada, maka seharusnya gerakan ini paling tidak akan sulit ditumpas dan akan menunjukkan perlawanan militer. lagian logika dasar aja, kalo elit pimpinan PKI adalah dalang G30S, kok para perwira dan prajurit G30S mau-maunya nurut di bawah komando sipil? dalam "prosedur" kudeta militer di belahan dunia manapun, militer gak akan mau tunduk sama sipil untuk melancarkan kudeta. karena, pertama, pasti militer akan mewaspadai kekuasaan mutlak baru sipil setelah memenangkan kudeta. ibaratnya, gw yang beraksi militer, kok lo yang akhirnya duduk manis di atas setelah gw menangin aksi militernya? kedua, sipil gak ngerti dunia kemiliteran, gak ngerti strategi dan taktik, gak paham urusan logistik, gak punya pangkat yang menjamin rantai komando mereka, dan gak punya mental dan insting perang. faktanya, gerakan ini tidak terencana dengan baik, tidak ada plan A, B, C, dstnya, utak-atik gathuk dan serampangan, banyak debat kusir antara 5 pimpinan inti G30S (Sjam, Pono, Mayor (U) Soejono, Kol. Latief, dan Letkol. Untung). .


anu, tambahan sedikit.... ane lupa pernaha dibaca dimana....

1. tp, bgini, mgkn bg orang awam, sulit memahami, mengapa kok bs biro khusus cc pki, yg di dominasi oleh elite pimpinan sipil PKI bs memerintahkan para pama, pamen, pati nya TNI..... ??

-- > mgkn sejak awal, agan perlu tau bahwa pd semua hirarki komando partai komunis di manapun diseluruh dunia, ini, dengan mencontoh vietnam utara, korut, RRT, USSR, dsb..... pasukan militer itu harus berada di bawah komando partai komunis, khususnya ketua partai komunis..... pasukan militer dis etiap negara komunis, itu sejatinya, tujuan utamanya bukan tuk membela bangsa & negara nya, melainkan membela partai...... urusan rakyat & negara itu nomor sekian...... hal tsb terus berlanjut sampe skrg.....

makanya, di manapun di dunia pd masa perang dingin, khususnya di negara2 amerika latin, faksi militer itu paling anti dengan faksi komunis, bgitu pula sebaliknya...... karena sdh jelas, pihak militer murni jelas alergi banget tuk berada di bawah ketiak partai komunis yg jelas2 dominasi kaum sipil, bgitu pula pihak komunis murnis, yg jelas2 menolak jk status faksi militer itu setara dengan faksi partai komunis, pasukan militer hrs secara mutlak berada di bawah komando partai komunis, tidak boleh tidak.....

makanya, bgitu faksi militer di negara2 amerika latin itu, pd masa perang dingin, sukses mengkudeta pemerintahannya sendiri, entah sipil atau tidak, musuh utama yg akan diberangus duluan usai pihak militer berkuasa penuh di negara tsb adlh kaum kiri (sosialis, komunis, dsb), sebagaimana yg trjd di negara2 chili, argentina, brazil, dll.....

bgitu pula sebaliknya, jk pihak komunis yg sukses mengkudeta pemerintahan nya sendiri, musuh utama yg duluan di berangus ya faksi militer yg di anggap tak loyal dgn kepemimpinan partai komunis yg revolusioner..... spt, contohnya di soviet, RRT, korut, dsb....

sampe skrg, semua pasukan militer yg berada di laos, vietnam, korut, kuba, RRT, harus setia & patuh 100% thd partai komunis, yg tentunya elite pimpinan nya adlh oarng2 sipil.... selain itu, partai komunis jg akan slalu curiga dengan segala gerak gerik apsukan militernya, makanya di setiap satuan militer tertentu, entah itu pleton, kompi, batalyon, divisi, brigade, harus selalu ada namanya perwira politik (komisar politik) yg tugas utamanya cek ricek ideologi komunis pd setiap prajurit dr pangkat-jabatan a-z....

2. atau, mengapa komando utama operasi g30s pki 1965 malah berada di tangan seorang letkol untung, bukan kolonel latief, bukan brigen suparjo, yg notabene berpangkat lebih tinggi ??

--- > biasanya, pd masa perang dingin maupun sebelumnya, gerakan kudeta yg dipelopori kaum revolusioner yg berasal dr faksi militer, di pimpin oleh para perwira yg lebih rendah pangkatnya, spt dlm kasus libya oleh muammar khadafy...... nantinya, para pewira muda tsb, jk sukses akan bs mengontrol semua tentara yg berpangkat lbh tinggi dari dirinya, kelihatan konyol mmg jk dilihat pd saat ini, tp itulah kenyataan sejarah nya.....

Quote:Original Posted By tyrodinthor
hallo puh @yoseful emoticon-Big Grin
selamat bergabung, gw suka kalo ada pro-kanan yang kayak om yos gini emoticon-Ngakak (S) mungkin perlu mengundang om @mamorukun biar makin rame emoticon-Embarrassment

kita diskusi aja ya om, gak perlu tegang urat syaraf, maklum, ane suka kumat kelenjar getah beningnya kalo tegang hahahaa emoticon-Ngakak (S)

kalo dibilang keterbatasan jumlah personil agak berlebihan deh. faktanya AD sudah menguasai media massa. dengan terus memviralkan G30S, akan terus membangkitkan sentimen anti-komunis begitu tinggi, yah semacam pembentukan opini untuk memancing hysteria massal. bahkan gak segan-segan isi beritanya ada yang direkayasa seperti tari telanjang Gerwani, pesta seks Lubang Buaya, penyiletan penis, pipi, dan tubug para jenderal korban, dll. selalu mengungkit-ungkit rekayasa tsb sampai publik pun kebakar amarahnya.

yang perlu diperhatikan bukan sentimen anti-komunis tsb sebenarnya. tapi bagaimana gerak-gerik RPKAD dalam pembantaian massal yang terjadi saat itu. dengan jumlah personil terbatas bukan sebuah alasan yang layak diterima akal sehat ketika itu terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia secara berkala. memang benar, ada beberapa daerah yang sudah melakukan aksi pembantaian lebih dulu, misalnya Bali. sejak November 1965, mereka sudah gorok-gorokin simpatisan PKI dan/atau Soekarnois, dan terus berlanjut sampai tahun 1966. RPKAD datang ke Bali di bulan Desembernya, ya you know lah abis itu RPKAD ngapain: ikut-ikutan bantai. yaa logika sehat aja sih, kalo memang sentimen anti-komunis itu respon alami sehingga membuat massa marah dan bertindak sendiri, ngapain akhirnya RPKAD ikut-ikutan bantai? emoticon-Big Grin



anu, tambahan seidkit jg ya, gan......

3. jumlah personel terbatas itu tak ada hubungan nya dengan keberhasilan ABRI dlm menguasai media massa, gan..... karna apa ya.... pd saat itu, sikon RI msih dalam darurat sipil, karena RI lagi berperang dgn pasukan persemakmuran inggris di wilayah kalimantan utara hingga singapura..... tp, bgitu pecah kasus g30s pki 1965, maka darurat sipil berganti segera menjadi darurat militer, makanya pimpinan abri yg anti komunis segera mendeklarasikan bhw media massa hrs menuruti semua perintah ABRI......

4. oleh karne keterbatasan personel militer itulah, pihak PKI sempat mengusulkan angkatan V yg berisi 5 juta buruh-tani dipsersenjatai, pd awal 1965..... alasan formalnya sih tuk membantu ABRI dalam invasi militer ke kalimantan utara, tuk menghancurkan negara boneka inggris di sono..... pihak ABRI, khusus nya TNI AD yg sdh tau akan trik nya pKI itu jelas2 menolak keras, yg para PATi yg menolaknya itu yg biasa muncul di media massa selama 1965...... tp usulan pembentukan angkatan V tersebut berakhir buntu di tangan presiden SK yg memilih bersikap netral.....

5. tuk menjalakan operasi pemberangusan PKI secara efektif nan efisien di tengah2 keterbatasan personel militer, transportasi, informasi, komunikasi, keuangan, dll..... pihak ABRI memobilisasi pasukan milisi lokal, para santri, masyrakat kelas bawah lainnya tuk membantu ABRI dlm memberantas sekian juta anggota PKI serta jutaan simpatisan massa lainnya.... hal tsb bs termasuk konsep sistem pertahanan rakyat semesta..... yg sebelumnya sukses tuk memberantas genk DI TII di jabar, beberapa tahun sebelumnya..... pihak ABRI jelas, traget utamanya hny antek2 PKI saja, tp.... yg jd masalah besar, di banyak medan lapangan, sulit tuk membedakan mana yg benar2 antek PKi atau tidak, akhirnya malah jd main pukul rata oleh masyarkat secara luas, yg berujung pd penghakiman massal serta pembunuhan liar yg merajalela.... pihak ABRI jelas tak bs sepenuhnya mengtonrol sikon sospol tsb yg akibatnya berakhir chaos di tengah2 rakyat banyak.........

pihak PKI sendiri pun jg tak tinggal diam, mreka jg ikut membalas serangan2 tsb..... spt dalam kasus di blitar......

untuk melakukan poengadilan massal pun jg dana nya negara terbatas..... adanya itu hny mahmilub pasca g30s pki 1965 yg dibentuk oleh pres SK..... para terdakwa nya ada sekitar 1000 orang sbg antek2 PKI......

6. pihak RPKAD ikut bantu, ya tugas mreka kan mmg tuk memberantas PKI, gan..... chaos sdh terjadi duluan di pulau bali..... pasukan RPKAD istilahnya hny sekedar numpang lewat saja..... sekalian nyebur ke kolam penuh darah tsb di pulau bali.....

7. ttg chaos pasca g30s pki 1965.......




CMIIW..........

profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
1 0
1
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
09-11-2020 04:26
semakin seru nih kalo udah ada puh-puh macem om yos emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By yoseful
anu, tambahan sedikit.... ane lupa pernaha dibaca dimana....

1. tp, bgini, mgkn bg orang awam, sulit memahami, mengapa kok bs biro khusus cc pki, yg di dominasi oleh elite pimpinan sipil PKI bs memerintahkan para pama, pamen, pati nya TNI..... ??

-- > mgkn sejak awal, agan perlu tau bahwa pd semua hirarki komando partai komunis di manapun diseluruh dunia, ini, dengan mencontoh vietnam utara, korut, RRT, USSR, dsb..... pasukan militer itu harus berada di bawah komando partai komunis, khususnya ketua partai komunis..... pasukan militer dis etiap negara komunis, itu sejatinya, tujuan utamanya bukan tuk membela bangsa & negara nya, melainkan membela partai...... urusan rakyat & negara itu nomor sekian...... hal tsb terus berlanjut sampe skrg.....

makanya, di manapun di dunia pd masa perang dingin, khususnya di negara2 amerika latin, faksi militer itu paling anti dengan faksi komunis, bgitu pula sebaliknya...... karena sdh jelas, pihak militer murni jelas alergi banget tuk berada di bawah ketiak partai komunis yg jelas2 dominasi kaum sipil, bgitu pula pihak komunis murnis, yg jelas2 menolak jk status faksi militer itu setara dengan faksi partai komunis, pasukan militer hrs secara mutlak berada di bawah komando partai komunis, tidak boleh tidak.....

makanya, bgitu faksi militer di negara2 amerika latin itu, pd masa perang dingin, sukses mengkudeta pemerintahannya sendiri, entah sipil atau tidak, musuh utama yg akan diberangus duluan usai pihak militer berkuasa penuh di negara tsb adlh kaum kiri (sosialis, komunis, dsb), sebagaimana yg trjd di negara2 chili, argentina, brazil, dll.....

bgitu pula sebaliknya, jk pihak komunis yg sukses mengkudeta pemerintahan nya sendiri, musuh utama yg duluan di berangus ya faksi militer yg di anggap tak loyal dgn kepemimpinan partai komunis yg revolusioner..... spt, contohnya di soviet, RRT, korut, dsb....

sampe skrg, semua pasukan militer yg berada di laos, vietnam, korut, kuba, RRT, harus setia & patuh 100% thd partai komunis, yg tentunya elite pimpinan nya adlh oarng2 sipil.... selain itu, partai komunis jg akan slalu curiga dengan segala gerak gerik apsukan militernya, makanya di setiap satuan militer tertentu, entah itu pleton, kompi, batalyon, divisi, brigade, harus selalu ada namanya perwira politik (komisar politik) yg tugas utamanya cek ricek ideologi komunis pd setiap prajurit dr pangkat-jabatan a-z....


kurasa ini cukup beda deh, kalo di Kuba, Vietnam, Tiongkok, dll itu bukan kudeta melainkan perang terbuka/perang revolusi. kalo seperti itu, akan sangat meyakinkan jika sipil memimpin. dan itu tidak berbeda dengan revolusi nasional 1945, kan yang memimpin sipil (Soekarno-Hatta dan PM-PMnya).

tapi kalo kudeta militer, itu gak masuk akal kalo sipil memimpin, kecuali jika kita setuju bahwa G30S bukan kudeta militer.

tapi secara garis besar memang apa yang om sebut di atas tentang komisar politik dalam gerakan komunis pasti diperankan sipil, dalam hal ini partai komunis. dan ini, kalo boleh gw mencerna sedikit terkait G30S, Brigjen. Supardjo menulis dalam analisis dia ketika dalam perburuan RPKAD, tentang sebab-sebab gagalnya G30S. di situ dia menyayangkan bahwa "kawan pimpinan", yang dia rujuk sebagai Sjam, tidak menentukan arah yang jelas bagi gerakan ini. Supardjo sendiri tidak mempermasalahkan mau kemana tujuan akhir gerakan ini, mau sekedar kup militer, kudeta Soekarno, ataupun perang terbuka. yang dia permasalahkan adalah rantai komando yang gak jelas sehingga pengambilan keputusan menjadi bertele-tele dan debat kusir. di situ dia mengkritik Sjam bahwa seharusnya Sjam memilih rantai komando "revolusi" nya seperti apa (tentu kata "revolusi" di sini bukan berarti revolusi komunis, kata "revolusi" kerap digunakan di masa Demokrasi Terpimpin untuk merujuk Panca Azimat Revolusi, tapi lama-lama artinya menjadi bias dan kabur karena suka gak jelas, apa-apa selalu pake kata "revolusi"). nah, kata Supardjo, Sjam seharusnya memilih:
  1. komando di tangan Sjam sendiri saja, atau
  2. komando di tangan Untung saja (dan ini jelas merujuk prosedur kudeta militer nasionalis di belahan dunia manapun), atau
  3. komando militer di tangan Untung, sedangkan Sjam sebagai komisar politik (dan ini jelas merujuk gaya revolusi komunis Mao/Tiongkok), atau
  4. komando diserahkan saja ke Presiden, G30S sudah cukup menculik saja (anyway Supardjo mungkin baru tahu jenderal-jenderal itu sudah mati semua di jam 09.00 pagi ketika Sjam vs Untung dkk sedang berdebat).


nah, dari sini saja sudah jelas. G30S tidak seperti di Tiongkok, Kuba, Vietnam, dll. bahkan dari apa yang disaksikan Supardjo, G30S ini gak jelas mau kemana.

dan penting juga untuk mempertimbangkan arah politik PKI. PKI tidak sama dengan partai-partai komunis lainnya dimana PKI justru berada cukup kanan di ketek Soekarno (dan oleh sebab itu, Sudisman menulis Otokritik PKI tahun 1967 bahwa PKI seharusnya tidak ikut terjun dalam politik borjuasi nasional, karena dalam keyakinan marxisme-leninisme, seharusnya PKI membangun kesadaran kelas yang tajam bahwa kelompok nasionalis pasti akan menghantam komunis cepat atau lambat, memilih bergabung dengan nasionalis sama saja dengan cari mati, dan akhirnya PKI berhasil menuju kematiannya). PKI bisa dikatakan partai komunis yang berbeda sendiri, tidak seperti PKT atau Soviet. PKI mengikuti arus politik mainstream konstitusional yang elit: ikut serta dalam Pemilu, bergabung ke parlemen, menjabat-jabat di kabinet, berpartisipasi dalam penyuluhan dan sosialisasi, mengadakan diklat-diklat, dan yang paling menonjol adalah mendukung Soekarno. dan ini bertentangan dengan garis Lenin dan garis Mao.

nah, makanya penting sekali memahami G30S dari sudut pandang organisatornya sendiri. gerakan ini menurutku bukan kudeta militer, yang disasar pun bukan Soekarno, dia benar-benar kup internal AD. PKI dalam hal ini terlibat bukan sebagai perancang, dan keterlibatannya itu jelas cuma oknum. apa yang diinginkan Sjam (besar kemungkinan adalah Sjam, bukan Aidit) adalah gerakan ini nantinya akan menyulut mobilisasi massa secara spontan/alami. mobilisasi ini bisa jadi aksi massa seperti demonstrasi besar-besaran, yaitu demo yang mendukung G30S. harapannya, jika G30S berhasil, maka hanya ada satu kekuatan politik gabungan pro-Nasakom, baik dari kalangan Soekarnois, komunis, maupun agama (yes, agama! G30S mencoba merangkul tokoh-tokoh Islamis, lihat aja di pengumuman keempat RRI, ada daftar tokoh Muslim yang di-asal-catut di Dewan Revolusi Indonesia).

jika PKI sebagai dalang, tentu para anggota Politbiro seharusnya sudah tahu bahwa pada tanggal 1 Oktober sekitar jam 19.00 malam, gerakan ini gagal total, dan Aidit sudah diterbangkan dari jam 17.00. Mayjen. Soeharto hanya mengumumkan kutukan bagi G30S melalui RRI jam 20.45, yang waktu itu dia menyebutnya sebagai gerakan kontra-revolusioner, dia gak bilang gerakan ini gagal, tapi dia menyerukan agar rakyat meningkatkan kewaspadaan.

tapi fakta berkata lain, PKI mengumumkan mendukung G30S melalui Harian Rakjat tanggal 2 Oktober. aneh kan? jika PKI adalah dalang, kenapa PKI nekat menerbitkan Harian Rakjat di saat gerakan ini sudah jelas-jelas gatot? jawabannya ya karena memang PKI bukan dalangnya, justru karena PKI gatau kalo G30S sudah gatot, PKI hanya mengira gerakan ini masih berlanjut, dan ini mencerminkan bahwa PKI memang bukan dalangnya. kesimpangsiuran tentang meletusnya gerakan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, which was not eligible sebagai satu rangkaian G30S, membuat Politbiro PKI berasumsi gerakan ini masih berlanjut.

selain itu, ada fakta yang cukup menarik untuk jadi pertimbangan terkait Harian Rakjat edisi terakhir ini.

fakta pertama, Mayjen. Umar sudah mengeluarkan surat perintah harian (SPH) tentang larangan media massa manapun untuk terbit di tanggal 2 Oktober, kecuali dua media massa AD. SPH ini terbit jam 18.00, tapi tidak diumumkan. tentara lah yang digerakkan menuju semua kantor media massa untuk menghentikan aktifitas untuk sementara/melakukan penutupan paksa. tentara baru datang ke kantor Harian Rakjat jam 23.00 malam. biasanya, Harian Rakjat mulai menerima draf berita untuk esok hari dari para jurnalis dan koresponden mereka maksimal jam 21.00 malam, tenggat waktu penyelesaian pengetikan selalu ditargetkan jam 23.00 (peraturan kerja formal yang ditetapkan pimred Mula Naibaho), sedangkan percetakan selalu ditargetkan jam 01.00 atau maksimal jam 02.00 dini hari. nah, ketika tentara datang jam 23.00, kemungkinan format final untuk laman koran besoknya sudah jadi. saat sekelompok tentara ini datang, Wahjudi (ketua tim editor) meminta sprint (surat perintah tugas) sekelompok tentara tsb. kemungkinan tentara tsb hanya menunjukkan copy SPH, bukan sprint mereka. nah, sebelum tentara bisa menunjukkan sprint dari komandannya, Wahjudi menolak menutup kantornya. akhirnya, tentara tsb bergegas tuh minta/bikin sprint nya. sambil menunggu sprint tsb, Harian Rakjat juga sambil melanjutkan kegiatan mencetak koran edisi terakhirnya itu. kemungkinan, setelah sprint itu ditunjukkan, Harian Rakjat sudah selesai mencetak dan sudah terlanjur mendistribusikannya melalui loper. dengan demikian, isi laman koran tsb udah gabisa diralat.

kedua, penyelia yang mengatur format dan kata-kata dalam ketikan koran edisi terakhir itu adalah Dahono. Dahono sebenarnya gak punya keahlian di bidang copywriting ataupun jurnalistik, dia bisa bekerja di Harian Rakjat karena kecintaannya kepada PKI semata dan sebelumnya juga dikenal sebagai aktivis kom. bisa dibayangkan orang yang tidak punya keterampilan semacam ini menjadi penyelia/pengatur format dan kata-kata. bahkan keliatan tidak profesional banget, di koran edisi terakhir itu, kata-kata "semata² gerakan intern Angkatan Darat" terus diulang-ulang. karena dia gak bisa bedain mana yang materi berita dan mana yang disclaimer. akhirnya, koran tsb jadi terkesan PKI sedang "cuci tangan".

dari kedua pertimbangan di atas, cukup sulit untuk dikatakan PKI mengeluarkan pernyataan resmi mendukung. dia lebih keliatan seperti berita mentah yang bersumber dari sumbernya Dahono, atau Dahono sendiri.

ketiga, ini yang terpenting. sedari awal, G30S itu direncanakan sangat rahasia. dengan melibatkan PKI secara organisasi, itu artinya membuka peluang risiko untuk bocor. semakin sedikit yang tahu, semakin aman, itu yang ada di kepala Sjam dan Aidit. itu sebabnya "PKI secara organisasi" (dalam hal ini CC-PKI dan para anggota Politbiro serta Dewan Harian) tidak tahu-menahu tentang rencana G30S dan tidak pernah ikut/mengadakan rapat rencana G30S. sebagian anggota Politbiro memang tahu di malam 30 September nya bahwa akan ada gerakan pembersihan. yang memberitahu adalah Aidit langsung. saat itu Aidit tidak menjelaskan bagaimana persisnya rencana tsb dan apa yang harus dilakukan PKI. yang dikatakan Aidit cuma satu: "akan ada gerakan perwira militer progresif nanti malam, kalian standby dengerin berita RRI besok pagi ya" (kurang lebih begitu kata-katanya). dengan demikian, PKI memang tidak tahu menahu tentang rencana G30S dan tidak mendalangi G30S. PKI hanya tahu akan ada gerakan, persisnya entah apa. inilah apa yang dimaksud dengan: "PKI jelas terlibat G30S". tahu akan terjadi berarti terlibat. begitu juga Soeharto. dia jelas tahu dari Latief langsung di malam itu juga. dengan demikian, Soeharto pun sebenarnya terlibat juga. jangankan PKI dan Soeharto, Yani pun tahu. dia tahu dari intelnya. hanya saja, Yani menganggap informasi dari intelnya itu cuma desas-desus. bukan sekali itu saja intelnya memberitahu akan ada gerakan/aksi mengancam nyawa dia, kira-kira 2 minggu sebelumnya juga Yani sudah diberitahu intelnya dan direkomendasikan untuk menambah pasukan penjaga di rumahnya. sudah ditambah, tapi tidak terjadi apa-apa. ya sudah, Yani menganggap itu cuma desas-desus. hasilnya sudah kita tahu bersama.

Quote:Original Posted By yoseful

2. atau, mengapa komando utama operasi g30s pki 1965 malah berada di tangan seorang letkol untung, bukan kolonel latief, bukan brigen suparjo, yg notabene berpangkat lebih tinggi ??

--- > biasanya, pd masa perang dingin maupun sebelumnya, gerakan kudeta yg dipelopori kaum revolusioner yg berasal dr faksi militer, di pimpin oleh para perwira yg lebih rendah pangkatnya, spt dlm kasus libya oleh muammar khadafy...... nantinya, para pewira muda tsb, jk sukses akan bs mengontrol semua tentara yg berpangkat lbh tinggi dari dirinya, kelihatan konyol mmg jk dilihat pd saat ini, tp itulah kenyataan sejarah nya.....


kalo dikatakan meniru Kolonel Muammar Gaddafi jelas fail, karena kudetanya baru terjadi tahun 1969.

pengumuman pertama RRI itu jam 07.00 pagi, berisi tentang berita penyelamatan Presiden Soekarno. siaran itu berbentuk berita. dibacakan dari sudut pandang pihak ketiga (pembaca berita) sehingga seolah-olah seperti berita biasa: "Letnan Kolonel Untung berhasil menyelamatkan blablabla".

pengumuman kedua RRI itu jam 12.00 atau 12.30 siang, berisi tentang pendemisioneran Kabinet Dwikora dan berdirinya Dewan Revolusi Indonesia. pengumuman kedua ini isinya mengcounter yang pertama. siarannya pun dibacakan dari sudut pandang pihak pertama (G30S sendiri) dalam bentuk Dekrit No. 1. di sini untuk pertama kali disebutkan list komandan G30S:
  • Komandan: Letkol. Untung.
  • Wakil Komandan: Brigjend. Supardjo.
  • Wakil Komandan: Letkol. Udara Heru.
  • Wakil Komandan: Kol. Laut Sunardi.
  • Wakil Komandan: Kombes. Pol. Anwas.

coba perhatiin deh. ada yang kocak dan jelas utak atik gathuk dari pengumuman kedua ini.

pertama, semua wakil komandannya diwakili 4 angkatan ABRI, tampaknya niat awalnya biar keliatan mempersatukan semua angkatan ABRI:
1. Brigjend. Supardjo (AD)
2. Letkol. (U) Heru (AURI).
3. Kol. (L) Sunardi (ALRI).
4. Kombes. Pol. Anwas (AKRI).

kedua, semua wakil komandannya gak ada yang setara pangkatnya, cuma Supardjo yang levelnya jenderal. sisanya perwira di bawah jenderal (kombespol setara dengan kolonel).

ketiga, cuma nama Supardjo dan Heru Atmodjo yang terlibat sebagai peserta G30S, sedangkan Sunardi dan Anwas nggak.

dari ketiga keanehan ini, kita sudah bisa menebak bahwa besar kemungkinan Sjam asal taro nama mereka. kenapa hanya Sjam saja? karena para organisator G30S lain (Untung, Latief, dan Soejono) tampaknya sudah memilih untuk berhenti saja seperti perintah Soekarno. Sjam, tipikal orang yang gegabah, mungkin mengambil langkah sendiri. di situ, dia asal catut nama komandan dan wakil komandan. saat itu mungkin Sjam belum sadar kalo list yang dia catut itu ada kesalahan fatal: brigjen di bawah letkol, brigjen disetarakan kolonel.

akhirnya dia menyadari, dan mengumumkan bahwa pangkat tertinggi adalah letkol, di atas letkol diturunkan jabatannya, dstnya. pengumuman itu yang keempat, atau Keputusan No. 2 (FYI, pengumuman ketiga dan keempat RRI itu jam 14.00-15.00 siang menjelang sore, formatnya sama seperti pengumuman kedua (dibacakan dari sudut pandang pihak pertama yaitu G30S sendiri).

bila dipertimbangkan dari jarak waktunya yang pendek antara kedua dan keempat (cuma selang 3 jam), tampaknya Sjam baru menyadari kekeliruan Letkol di atas Brigjen sekitar jam 2an, dan segera mengumumkan yang keempat setelah yang ketiga (daftar 45 anggota Dewan Revolusi Indonesia).

so, menurutku sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya revolusi Gaddafi. ini faktor human error semata.

memang benar bahwa Brigjen. Supardjo menyatakan kesediaannya di bawah Letkol. Untung. kalo gak salah dia bilang: "Pangkat saya lebih tinggi dari kamu, tapi dalam gerakan ini, saya di bawah kamu". tapi harus diingat, Supardjo baru mengatakan ini di Halim sebelum bertemu Presiden, berarti sebelum jam 10.00 pagi.

Quote:Original Posted By yoseful

anu, tambahan seidkit jg ya, gan......

3. jumlah personel terbatas itu tak ada hubungan nya dengan keberhasilan ABRI dlm menguasai media massa, gan..... karna apa ya.... pd saat itu, sikon RI msih dalam darurat sipil, karena RI lagi berperang dgn pasukan persemakmuran inggris di wilayah kalimantan utara hingga singapura..... tp, bgitu pecah kasus g30s pki 1965, maka darurat sipil berganti segera menjadi darurat militer, makanya pimpinan abri yg anti komunis segera mendeklarasikan bhw media massa hrs menuruti semua perintah ABRI......


nah iya maksudku kan begitu om. ketika AD menguasai media, AD bisa mengatur informasi. jika AD memang berniat tulus cuma menumpas G30S dan melucuti kekuatan komunisme, seharusnya sih yang dilakukan AD adalah meminta rakyat membantu melaporkan daftar komunis, nanti mereka diamankan (entah oleh RPKAD atau oleh KAP-Gestapu). tapi kan faktanya tidak. malah yang ada AD melalui media massa semakin giat ngomporin.

gw lebih bisa memaklumi jika AD menangkapi anggota PKI dan simpatisan PKI, yang anggota dibawa ke pengadilan, yang simpatisan diberi pembinaan/rehabilitasi. tapi itu juga tidak dilakukan AD.

Quote:Original Posted By yoseful

4. oleh karne keterbatasan personel militer itulah, pihak PKI sempat mengusulkan angkatan V yg berisi 5 juta buruh-tani dipsersenjatai, pd awal 1965..... alasan formalnya sih tuk membantu ABRI dalam invasi militer ke kalimantan utara, tuk menghancurkan negara boneka inggris di sono..... pihak ABRI, khusus nya TNI AD yg sdh tau akan trik nya pKI itu jelas2 menolak keras, yg para PATi yg menolaknya itu yg biasa muncul di media massa selama 1965...... tp usulan pembentukan angkatan V tersebut berakhir buntu di tangan presiden SK yg memilih bersikap netral.....


hmm maaf om, sepertinya om salah menempatkan konteks. yang kita bicarakan pasca G30S kan, bukan pra G30S?

pasca G30S, keterbatasan personil RPKAD adalah alasan yang tidak masuk akal jika dikatakan "pembantaian massa terhadap simpatisan PKI dan Soekarnois adalah respon alami/spontanitas massa akibat G30S". kemarahan rakyat tak terbendung, RPKAD keterbatasan personil untuk menindak langsung ataupun mencegah kemarahan rakyat, sehingga pembantaian terjadi secara spontan dari rakyat. >> begini kan narasi versi pemerintah?

biar gimanapun, AD (yang membawahi RPKAD) sudah menundukkan media massa sepenuhnya. jika spontanitas massa itu adalah fakta, maka dari media itu, AD seharusnya membuat tenang massa, bukannya malah bikin massa panik.

tapi jelas itu bukan fakta. spontanitas alami itu gak ada, yang ada spontanitas yang terorganisir, alias memang bukan spontanitas. yang ada malah sebaliknya, AD memang sengaja membentuk opini melalui media bahwa PKI biadab, bahaya laten, dan harus ditumpas. massa/publik menerjemahkan berita ini cuma dalam 2 respon "alami": marah dan takut. siapa yang gak marah kalo didongengin bahwa ada pesta seks ketika jenderal itu disilet-silet penisnya lalu dibunuh? siapa yang gak takut kalo didongengin bahwa para pelaku pembunuh para jenderal itu ada di tengah-tengah masyarakat?

nah, jadi, bukan spontanitas. AD memang sengaja supaya rakyat marah sama PKI, dan rakyat sendiri yang akhirnya bantai PKI. >> nah ini baru fakta.

jadi dengan kata lain, pembantaian massal ini jelas kejahatan HAM, AD sendirilah dalangnya. pembantaian massal ini bukan respon alami/spontanitas massa.

ingat, di tanggal 12 Oktober nya, AD mengumpulkan semua ormas sipil non-komunis, dan membentuk KAP-Gestapu. aksi-aksi brutal KAP-Gestapu seperti pembakaran gedung kantor CC-PKI, penggrebekan kampus Akademi Aliarkham, penggrebekan kantor CDR dan CDB, ranting-ranting lain, kantor Pemuda Rakjat, Gerwani, GMNI, BTI, Sobsi, dan aksi brutal lainnya seperti pembakaran buku dan simbol komunis, itu semua tujuannya untuk memancing massa agar bertindak vandalisme tanpa harus takut tuntutan hukum di kemudian hari.

dan dengan kerangka inilah, kedatangan RPKAD di berbagai desa dapat dipahami: untuk menjamin aksi pembantaian oleh massa aman dan terbebas dari tuntutan hukum di kemudian hari.

segala alasan tentang spontanitas rakyat, keterbatasan personil RPKAD, dll terkait pembantaian massal ini tidak ada yang sehat secara fakta maupun logika.
Diubah oleh tyrodinthor
0 0
0
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
09-11-2020 04:28
(lanjutan)

Quote:Original Posted By yoseful

5. tuk menjalakan operasi pemberangusan PKI secara efektif nan efisien di tengah2 keterbatasan personel militer, transportasi, informasi, komunikasi, keuangan, dll..... pihak ABRI memobilisasi pasukan milisi lokal, para santri, masyrakat kelas bawah lainnya tuk membantu ABRI dlm memberantas sekian juta anggota PKI serta jutaan simpatisan massa lainnya.... hal tsb bs termasuk konsep sistem pertahanan rakyat semesta..... yg sebelumnya sukses tuk memberantas genk DI TII di jabar, beberapa tahun sebelumnya..... pihak ABRI jelas, traget utamanya hny antek2 PKI saja, tp.... yg jd masalah besar, di banyak medan lapangan, sulit tuk membedakan mana yg benar2 antek PKi atau tidak, akhirnya malah jd main pukul rata oleh masyarkat secara luas, yg berujung pd penghakiman massal serta pembunuhan liar yg merajalela.... pihak ABRI jelas tak bs sepenuhnya mengtonrol sikon sospol tsb yg akibatnya berakhir chaos di tengah2 rakyat banyak.........


yang ini sudah cukup jawaban yang di atas ya om. paling kalo dariku bukan ABRI, tapi cuma AD. saat itu AURI masih konsolidasi kekuatan internal, gak sempat ngurusin soal "penumpasan" G30S.

Quote:Original Posted By yoseful

6. pihak RPKAD ikut bantu, ya tugas mreka kan mmg tuk memberantas PKI, gan..... chaos sdh terjadi duluan di pulau bali..... pasukan RPKAD istilahnya hny sekedar numpang lewat saja..... sekalian nyebur ke kolam penuh darah tsb di pulau bali.....


nah, ini yang salah.

pertama, tugas asli RPKAD bukan memberantas PKI. yang ditugaskan kepada RPKAD sebenarnya adalah "menumpas G30S dan sisa-sisa G30S". nah, sisa-sisa ini yang diterjemahkan sebagai PKI. kenapa bisa? ya jawabannya sederhana: AD udah duluan langsung nuduh PKI sebagai dalang. itupun gak dibedain antara anggota dengan simpatisan. padahal jelas-jelas beda. kalo memang mau nuduh PKI sebagai dalang, ya kenapa gak bantai anggotanya aja? kenapa akhirnya simpatisan juga disasar? padahal simpatisan gatau dan gak terlibat G30S, mereka juga kebanyakan gatau apa-apa tentang apa itu komunisme, dan segala keruwetan filsafat marxisme.

dengan yang katanya terbatas personilnya, faktanya malah bisa tuh ngebantai sampai termasuk simpatisannya tanpa harus turun tangan. emoticon-Big Grin seperti yang kutulis di atas om, RPKAD memang tidak berniat melindungi "korban amukan massa". bagi RPKAD, yang penting bantai aja. itulah yang terjadi yang om bilang di atas: "numpang lewat". mereka gak benar-benar numpang lewat, tapi ikut-ikutan.

dan ini yang aku aneh, kok masih bisa-bisanya kita menganggap RPKAD (atau sebenarnya AD) tidak bertanggungjawab terhadap pembantaian massal terhadap minimal 500 ribu jiwa ini?

Quote:Original Posted By yoseful

Hermawan Sulistyo:"Versi Tentara Tidak Benar, Tapi Omong Kosong Kalau PKI Tak Terlibat"

Dalam buku Anda, ditulis empat komunitas yang kemudian saling berseteru ...
Itu semacam pandangan filosofis suatu komunitas ditambah life style-nya, perilaku sehari-hari mereka. Ada loji (permukiman pegawai kelas satu dari sebuah perkebunan), kemudian ada pesantren, ada lagi komunitas sekuler, lalu komunitas masyarakat pedesaan lokal yang berada di bawah bayang-bayang pesantren dan dunia pegawai (kelas) dua dan buruh. Ada empat kelompok yang saling bersentuhan, tapi sebenarnya hidup sendiri-sendiri.
Komunitas loji itu kompleksnya tertutup, dikelilingi tembok. Di dalamnya ada lapangan tenis, kolam renang. Itu kelas atas untuk masyarakat lokal. Hal ini selalu ada pada mayoritas pabrik gula di negeri ini.
Komunitas pesantren juga begitu, tertutup dan menjadi suatu enclave yang jarang bersentuhan dengan dunia luarnya, dunia yang mayoritasnya terdiri dari petani dan penduduk yang mencari patronase kultural dan politik ke pesantren. Kemudian ada lagi komunitas pegawai (kelas) dua dan buruh. Nah, kuncinya ya di empat itu

Perseteruan yang terjadi berada di kelas sosial apa?
Di menengah lokal. Konfliknya konflik horisontal dalam masyarakat lokal, karena urusannya adalah membunuh atau dibunuh. Semuanya bersikap begitu. Setelah belasan tahun saya tekuni, lama-lama saya bisa mengerti alasan mereka membunuh. Ini bukan berarti justifikasi; tapi bayangkan, selama 10 tahun masing-masing komunitas kemana-mana bawa celurit. Ya, kan akhirnya jadi seperti api dalam sekam.
Setiap bulan terjadi kekerasan antarkelompok, sudah sejak 1957. Lebih lagi sejak tahun 1960, ketika diterapkan UU Pokok Agraria dan UU Bagi Hasil, PKI punya andil dalam memanas-manaskan situasi.

Jadi, kesimpulan yang Anda ambil?
Mereka semua, baik korban PKI dan yang bukan PKI, bukan korban konflik politik tiba-tiba yang terjadi di Jakarta (peristiwa G30S), tapi mereka adalah korban konflik longitudinal yang sudah lama terjadi. Seperti api dalam sekam, konfliknya sudah bertahun-tahun terjadi. Kemudian tercetus sebuah konflik di pusat, dan terjadi kevakuman kekuasaan politik, sehingga situasinya jadi anomi -- nilai baru belum terbentuk, nilai lama sudah tidak ada. Sama seperti sekarang, negara lemah dan pemerintahan pusat lemah, jadi orang merasa bisa berbuat apa saja. Bedanya, dulu konflik tajam itu memasukkan juga unsur ideologis. Sekarang, tidak ada unsur itu, melulu ekonomi.

Menurut Anda, mungkinkah rekonsiliasi terwujud?
Kalau kita ibaratkan kejahatan kemanusiaan pasca peristiwa G 30 S dengan kejahatan partai Nazi Jerman, mungkinkah peristiwa yang katanya memakan puluhan hingga ratusan ribu korban itu diadili seperti pengadilan Nuremberg 1948? Tidak, karena kejahatan Jerman tahun 1942-1945 itu tergolong state genocide (pembantaian oleh negara). Itu state violence (kejahatan kemanusiaan oleh negara). Di Indonesia, itu lebih sebagai social conflict (konflik sosial). Kalau yang terjadi social conflict, yang menang secara politik pada saat inilah yang bisa melakukan eksekusi atau proses peradilan.
Katakanlah, ada orang-orang yang dianggap bertanggung jawab pada masa itu, dibawa ke pengadilan, diadili dan dihukum mati. Nanti, kalau kelompok orang itu 10 tahun lagi menang secara politik, hakimnya akan disalahkan lagi. Akan terus begitu, dan tidak akan selesai.


terkait keterlibatan PKI dalam G30S kurasa sudah cukup gamblang kutulis di atas om. apa yang ditulis oleh Hermawan Sulistyo hanya mencoba menarik mundur benang kekerasan dan agitasi PKI dalam tahun 1957-1965, tidak dalam arti konteksnya sebatas G30S.

tapi yang mau kusoroti adalah tentang rekonsiliasi. di situ, jelas om Hermawan alias Kiki sendiri mengatakan bahwa social conflict tetap bisa diadili karena ada unsur kejahatan HAM. dan apabila dalam pengadilan itu terbukti AD secara sengaja memprovokasi massa untuk membantai, maka status social conflict itu jadi gak penting lagi.

nah, om harus mencermati inti dari om Kiki ini, yaitu: sebaiknya jangan digelar pengadilan HAM. nanti akan terus-terusan begitu. di situ om Kiki tidak menyangkal sama sekali adanya unsur kejahatan HAM. yang ditolak adalah pengadilan HAM. karena menurut opini om Kiki, dengan digelarnya pengadilan akan terus-terusan "dendam".

sampai sini, kita harus memahami makna penting rekonsiliasi ini, yang bagiku bukan soal pengadilan. tapi lebih penting lagi, memurnikan sejarah (dalam hal ini G30S dan pembantaian massal) sesuai jalur akademis, yang didasari oleh analisis sejarah dan kritik interteks, bukan didasari rasa kebencian terhadap PKI, Soekarno, ataupun terhadap Soeharto. demi supaya generasi berikutnya bisa pinter.

sampai saat ini, hasil putusan IPT 65 tahun 2015 adalah yang terbaik untuk dijadikan rujukan, bahwa Indonesia (secara tanggungrenteng) jelas bertanggungjawab terhadap pembantaian massal tsb. kalo dikerucutkan, maka AD lah yang bertanggungjawab. putusan IPT 65 memang tidak mengerucutkan tanggungjawab, karena AD sendiri kan sudah berubah formatnya dari AD jadi TNI-AD, dari dwifungsi jadi militer murni, dari yang punya hak politik jadi tidak punya hak politik, dstnya. yang tidak berubah adalah Indonesia sebagai negara, dalam hal ini pemerintah.

dan harus diingat, putusan IPT 65 bukan memberikan sanksi untuk Indonesia, tapi rekomendasi. rekomendasi IPT 65 tidak wajib diikuti. rekomendasinya meliputi pengadilan, rekonsiliasi, dan rehabilitasi. mungkin yang sebaiknya condong adalah rekon dan rehab. kalo pengadilan sih menurutku udah terlambat. tapi yang belum terlambat dan masih bisa dilakukan adalah rekon dan rehab.
Diubah oleh tyrodinthor
0 0
0
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
09-11-2020 05:58
Anu, bentar2, koreksi agan TS....

1. Ane gak prnah mnyamakan kasus g30s pki 1965 dgn kasus kebangkitan komunis di ussr, rrt, korut, vietnam utara, lho.... Yg ane mksd itu penjelasan ttg kontekjs nya bhw adlh hal wajar jk faksi militer itu hrs tunduk di bawah komando sipil dr partai komunis.... Sebagaimana dlm kasus partai2 komunis yg sdh brkuasa absolut nan tunggal di negara2 komunis lain nya, gan....

2. Kasus kudeta muammar khadafy itu trjd beberapa tahun kmudian pasca 1965.... Ini jg ane hny jelaskan konteks nya, bhw adlh hal yg biasa bg perwira muda yg beraliran progresif n revolusioner tuk jd pemimpin dlm suatu gerakan kudeta di negara2 lain nya, slama masa perang dingin, gan.... atau contoh terbaru si hugo chaves, penganut aliran komunis lenin.... saat ybs masih jd letkol AD, sempat mencoba bikin operasi militer tuk mengkudeta presiden carloz andres perez pd 1992, gan.....

3. PKI jelas berbeda dgn partai2 komunis yg sdh berdiri tegak sblum nya di ussr, rrt, korut, vietnam utara, gan.... Karna PKI memulai segalanya dr NOL besar, di tengah2 negara yg sdh berdiri tegak, pasca gatot nya kudeta madiun 1948.... Makanya PKI, sebagaimana parpol2 lain nya, jg turut memutihkan citra diri sendiri, mmpropagandakan jargon2 popularitas nya tuk menarik simpati massa di muka umum, gan..... Tentu nya sesuai dgn aturan hukum yg brlaku di RI pd dekade 1950 an.....

Itu semua diatas adlh hal yg lumrah pd saat itu.....
Diubah oleh yoseful
0 0
0
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
09-11-2020 08:23
Jejak dulu bikin kopi
0 0
0
[OPEN DISCUSS] Memahami G30S dan Pembantaian Massal 1965-1967 Dengan Pikiran Jernih
11-11-2020 22:57
Quote:Original Posted By yoseful
Anu, bentar2, koreksi agan TS....

1. Ane gak prnah mnyamakan kasus g30s pki 1965 dgn kasus kebangkitan komunis di ussr, rrt, korut, vietnam utara, lho.... Yg ane mksd itu penjelasan ttg kontekjs nya bhw adlh hal wajar jk faksi militer itu hrs tunduk di bawah komando sipil dr partai komunis.... Sebagaimana dlm kasus partai2 komunis yg sdh brkuasa absolut nan tunggal di negara2 komunis lain nya, gan....


makanya kubilang puh yos, tergantung bagaimana pendapatmu tentang G30S, kalo puh berpendapat G30S adalah revolusi komunis (perang terbuka), ya silahkan saja gunakan konteksnya.

perang terbuka itu maksudnya adalah perang yang benar-benar perang dalam kaitannya dengan revolusi. dan sebenarnya, kepemimpinan sipil dalam perang terbuka bukan karakter komunis doang, tapi juga karakter nasionalis. contoh yang gausah jauh-jauh, yaitu revolusi nasional 1945-1949. perang "kemerdekaan" ini kan juga dipimpin sipil, yaitu Soekarno-Hatta dan para perdana menterinya. jadi dari sini aja anggapan bahwa kepemimpinan sipil oleh komunis itu wajar dalam konteks perang terbuka, ya memang wajar, tapi itu bukan hanya komunis. nasionalis pun juga begitu.

sedangkan G30S menurutku jelas bukan perang terbuka. siapapun yang mengikuti narasi versi apapun, baik Orba maupun bukan, akan menemukan bahwa gerakan itu memang bukan perang terbuka. bahkan, jika dikatakan kudeta militer juga bukan (karena bukan Soekarno yang dijadikan sasaran). itu lebih tepatnya kup militer internal AD.

Quote:Original Posted By yoseful

2. Kasus kudeta muammar khadafy itu trjd beberapa tahun kmudian pasca 1965.... Ini jg ane hny jelaskan konteks nya, bhw adlh hal yg biasa bg perwira muda yg beraliran progresif n revolusioner tuk jd pemimpin dlm suatu gerakan kudeta di negara2 lain nya, slama masa perang dingin, gan.... atau contoh terbaru si hugo chaves, penganut aliran komunis lenin.... saat ybs masih jd letkol AD, sempat mencoba bikin operasi militer tuk mengkudeta presiden carloz andres perez pd 1992, gan.....


yes, but remember, kudeta militer seperti Hugo Chaves ataupun Gaddafi bukan sesuatu yang menjadi karakteristik revolusi komunis. kita cuma menemukan gejala seperti ini lebih menunjukkan kuatnya loyalitas para prajurit kepada perwira tsb. kalo kita baca-baca teori marxisme-leninisme, bahkan kita tidak menemukan model revolusi seperti ini.

kalo dari pendapatku di atas, penempatan letkol sebagai komandan, lalu penurunan pangkat di atas letkol, lebih mencerminkan sekedar human error si Sjam. pertama, pada pengumuman kedua itu, dia keliru menaruh nama Brigjen. Supardjo sebagai wakil dari AD (karena asal catut nama) pada dekrit gerakan. dan dia baru menyadari kekeliruannya mungkin di jam 2 siang, setelah pengumuman ketiga. karena udah terlanjur dan gabisa diralat, Sjam lalu mengumumkan penurunan pangkat di atas letkol pada pengumuman keempat.

logika sederhana aja. kalo bukan human error, lalu kenapa pengumuman keempat (tentang penurunan pangkat) itu gak diumumkan bersamaan dengan pengumuman kedua (dekrit gerakan)?

coba menurut om kenapa?

Quote:Original Posted By yoseful

3. PKI jelas berbeda dgn partai2 komunis yg sdh berdiri tegak sblum nya di ussr, rrt, korut, vietnam utara, gan.... Karna PKI memulai segalanya dr NOL besar, di tengah2 negara yg sdh berdiri tegak, pasca gatot nya kudeta madiun 1948.... Makanya PKI, sebagaimana parpol2 lain nya, jg turut memutihkan citra diri sendiri, mmpropagandakan jargon2 popularitas nya tuk menarik simpati massa di muka umum, gan..... Tentu nya sesuai dgn aturan hukum yg brlaku di RI pd dekade 1950 an.....

Itu semua diatas adlh hal yg lumrah pd saat itu.....


nah itu sebabnya, PKI sendiri tidak marxis-leninis sejati. dalam teori marxisme-leninisme, partai tidak seharusnya ikut kontestasi politik praktis yang elit konstitusional. coba tengok bagaimana partai komunis yang menang revolusi di belahan dunia manapun, Soviet, RRT, or even Korut & Kuba, mereka lebih suka mencari simpati secara klandestin dan tidak mau ikut-ikutan kontestasi politik praktis.

CMIIW.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia