Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1633
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f83e52610d2957b3744d9f2/son-of-the-rich-reborn
Lembaran pertama - Kota Malang Bokap gua kerja di salah satu perusahaan asing penambang emas di pulau sumbawa sedangkan nyokap mempunyai beberapa butik dan bisnis makanan yang cukup besar di kota kelahiran gua. dan Perkenalkan nama Gua adrian, anak semata wayang dua sejoli yang bertemu saat bermitra bisnis 25 tahun yang lalu. Gua lahir ke dunia dengan sebuah pengharapan yang besar. Karena untuk m
Lapor Hansip
12-10-2020 12:09

Son of the Rich (Reborn)

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Son of the Rich (Reborn)


Quote:Lembaran pertama - Kota Malang

Bokap gua kerja di salah satu perusahaan asing penambang emas di pulau sumbawa sedangkan nyokap mempunyai beberapa butik dan bisnis makanan yang cukup besar di kota kelahiran gua. dan Perkenalkan nama Gua adrian, anak semata wayang dua sejoli yang bertemu saat bermitra bisnis 25 tahun yang lalu. Gua lahir ke dunia dengan sebuah pengharapan yang besar. Karena untuk mendapatkan Gua, orang tua gua harus menunggu lebih dari 5 tahun.

Hidup serba ada bahkan terlalu berlebihan, pakaian serba bermerk gadget yang selalu menemani gua setiap saat dan mobil yang selalu menemani gw kemana aja, semua itu cukup membutakan gua seperti apa arti dari sebuah perjuangan hidup. Jujur, gua
ga pernah merasakan rasanya mengumpulkan uang sendiri bahkan hanya untuk membeli sepeda yang gua pengen. ketika mata ini melihat sebuah benda menarik, maka nyokap gua akan bilang, "Adrian Mau?" dan sorenya barang itu sudah ada di rumah. Gua paham nyokap ingin sekali membuat gua bahagia tapi kadang gua merasa ga bisa menikmati hidup ini dengan baik. Dengan Uang mungkin kita bisa bahagia, tapi kita tidak bisa membeli kebahagiaan dengan uang.

Super Duper Over Protektif
itulah hal yang bisa gua simpulkan tentang keluarga gua. Walau Gua hanya bertemu mereka saat weekend saja tapi kalau sudah menyangkut tentang masa depan gua, mereka akan melupakan semuanya dan menitik beratkan fokusnya ke gua.

Gua bukan orang yang bodoh, gua selalu mendapat peringkat 1 dari Sekolah dasar hingga sekarang, tentu kecerdasan gua turun dari bokap dan nyokap. Mereka adalah dua sejoli yang sangat ideal, mereka sama sama pintar dan mereka adalah 2 manusia yang diberikan paras yang cantik dan tampan oleh tuhan , alhasil semua kelebihan itu menurun ke gua.

Untuk urusan masuk sekolah, Orang tua gua selalu sangat hati hati. Saking hati hatinya, Gua bahkan sudah diterima di sekolah menengah atas sebelum gua menjalankan tes masuk. Apalagi lagi kalo bukan karena bokap gua menghubungi kepala sekolah yang merupakan teman lamanya, padahal gua sangat yakin, gua tetep bisa masuk tanpa bantuan mereka. Waktu itu gua marah besar tapi orang tua tetaplah orang tua, mereka selalu ingin anaknya bahagia apapun caranya.

Ketika para siswa sibuk mencari PTN dengan mengikuti berbagai macam Bimbingan Belajar, gua dengan begitu Mudah mendapat tiket masuk disalah satu PTN terbaik di indonesia, tentu sudah bisa ditebak , semua ini karena bokap gua. Untuk kali ini gua memutuskan untuk berontak, tak ingin lagi rasanya gua mengunakan kekuatan orang tua gua buat ngelakuain semuanya.

Hanya berbekal baju yang gua masukin ke Tas Ransel, serta Dompet yang berisi hanya beberapa uang lima puluh ribuan dan ATM yang entah berapa isinya dan ijazah SMA. Gua menuju terminal Bus, mencari loket tiket yang berangkat hari itu juga, Gua memutuskan naik Bus karena Beberapa orang di bandara mengenal Gua. Satu persatu Loket tiket gua datangi, mancari bus-bus yang bisa segera berangkat, menuju Jogja, solo surabaya, bandung, atau entahlah, yang penting gua harus segera pergi dari pulau yang gua diami 17 tahun terakhir, Lombok.
Hanya Tiket Mataram~malang yang ada untuk keberangkatan 1 jam lagi, yang akhirnya diputuskan mungkin gua harus pergi ke malang, 1 jam lagi bus tiba, dan ini pertama kalinya gua harus jauh dari kedua orang tua gua.

NEXT

Sekitar Pukul 4 pagi, bus sudah tiba di sebuah terminal kota malang, ada nuansa berbeda yang gua rasakan di sini. Hawa yang lebih dingin dan tentu perasaan gua yang ga menentu akibat ulah gua ini. Mungkin bokap nyokap gua lagi panik di rumah, ada sedikit rasa bersalah dalem diri gua tapi semoga surat yang gua tulis bisa membuat nyokap gua agak lega.
Ponsel gw sempat berbunyi saat gua menyebrang dari bali ke banyuwangi. Mungkin 10 kali atau 20 kali atau mungkin lebih, dan semua adalah misscall dari nyokap gua. Tanpa pikir panjang ponesl itu gua buang ke laut, beberapa saat kemudian gua sedikit menyesal, kenapa harus gua buang, kenapa ga gua kasih ke orang agar lebih bermanfaat, mungkin ini hasil dari didikan manja orang tua gua, semua jadi serba mudah.

Uang di dompet gua udah kosong melompong untuk membeli tiket dan beli makanan di jalan. Gua mencoba mengelilingi Terminal arjosari untuk mencari ATM di deket sana. Hampir 10 menit gua lalu lalang lalu akhirnya gua bisa bernafas lega, ternyata ATM tidak terlalu jauh dari tempat gua turun tadi. Setelah mengambil beberapa juta dari mesin ATM setelah menarik uang sebanyak 2 kali,
Gua mengambil kertas struk yang sudah gua buang ke tempat sampah tadi. Saat gua mengecek nominalnya sebuah angka 1 dan ada 8 digit angka mengikutinya dibelakang, waw... sebanyak inikah uang yang dikirimkan bokap Gua selama ini, setahuku ATM ini diberikan saat ujian nasional kemarin, gua meminta uang hanya buat perpisahan dengan teman teman kelas gw. "Pa ini terlalu banyak".....

Gua masih berdiri di depan ATM. Gua sedang berfikir untuk segera mencari kendaraan untuk menuju kampus-kampus yang ada di kota ini, yang pertama terfikirkan adalah taxi tapi beberapa saat kemudian gua menghapus jauh jauh fikiran itu, gua harus hidup sederhana dan pilihan gua jatuh ke angkot. Mungkin karena gua terlalu fokus menyusun rencana , gua ga sadar bahwa ada seseorang di dekat gua, dari perawakannya dia masih seusia gua, dan dia seorang cewek.

"Mahasiswa baru juga?"

Gua celingak celingkuk mencari siapa yang diajak ngobrol cewek ini.

"Gua bukan indigo yang ngomong sendiri, gua ngomong sama elo" tanya cewek itu sedikit tersenyum melihat kebingungan gua.

"Oh Maaf, maaf. gak kok, eh ya."

Gadis itu lalu tertawa kecil melihat kebingungan gua. Ia sepertinya sudah berdiri di depan ATM sejak gua datang tadi. mungkin dia sedang bosan menunggu.
"Ya atau ga?" pancingnya.

"Gak, gua baru mau tes" jawab gua jujur, walau gak tahu harus tes dimana.

"Oalah, mau ikut tes mandiri toh"

"Mungkin begitu"

"Mungkin?" cewek itu mengerutkan dahu lalu dia tersenyum lebar melihat gua.

"Elu lucu ya, kok kayak linglung gitu" sambungnya.

"Makasih" jawab gua ragu.

"Itu bukan pujian loh"

"Oh maaf" jawabku ragu.

"Hahaha, Bercanda kok,emang elo mau kemana?"

"Kampus" jawabku ragu.

"Kampus apa? kan di sini ada puluhan kampus"

"Yang ada di malang"

"kan memang kita kan lagi dimalang"

"Yang deket deket aja mungkin" jawabku ragu. bodohnya aku gak cari referensi sebelum datang ke sini"

"hahaha... deket dari mana, kamu lucu ya"

"Gua harus bilang makasih atau maaf nih?" takut itu malah hinaan.

"Apa aja deh, kenalin nama gua Friska. Gua mahasiswa baru di Universitas Wijaya" dia mengulurkan tangannya untuk menjabat.

"Gua Adrian.. mmm mantan anak SMA " Jawab gua seraya menjabat tangannya.

"hahaha... ada ada sih aja elo"
"elo ngambil apa di Wijaya?"

"Gua?, Biologi"

"Biologi? mmm belajar biologi seru?" tanyaku penasaran.

"Kalo Gua sih suka, emang elo minatnya apa?"

"Yang bisa ngebuat hidup ini lebih seru dan asik" jawabku jujur. Selama ini hal yang gua idam idamkan.

"hahaha diplomatis bin ngawur jawaban elo" jawab friska.

"Bukan diplomatis, lebih tepatnya Gua bingung aja"

"Bingung? Bingung kenapa?"

TIIIINNN TIIINNNN
Suara klakson motor membuyarkan obrolan kami, seorang cewek berhenti di depan kami berdua.

"Frish udah lama?" tanya cewek yang baru datang itu.

"Udah kering neh gigi gua nunggu elo" jawab friska.

"Maaf maaf, tadi agak macet maklum weekend"

"Gua maafin asal lo traktir gua es cream" goda Friska.
"Ih maruk sekali, udah minta di jemput, sekarang minta di traktir. Nunggunya sama cowok ganteng lagi"

"Eh dasar mulut elo nyablak bener seh, oh iya adrian gw duluan ya, sukses buat Tesnya, ayok bela, tarik"

"Tarik tarik, emang gw angkot"..

"Becanda bela"

"Bener neh gua ga dikenalain nih?"

"Eh elo apa apan sih, malu maluin aja, ayo berangkat"

"Duluan ya ganteng" kata cewek yang dipanggil bela oleh Friska tadi.

Mareka akhirnya melaju memecah kota malang.
Friska, orang pertama yang gua kenal di kota ini.
Oke, Gua udah mutusin buat ikut tes mandiri Universitas Wijaya, jurusan Biologi.

Polling
126 Suara
Terlepas dari plot kisah ini, ada di team manakah kalian? 
Diubah oleh kawan.betina
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wong.tanpo.aran dan 122 lainnya memberi reputasi
109
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 11 dari 61
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 11:11
ikutan numpang disini, TLBK (Trit Lama Bersemi Kembali) emoticon-Jempol
profile-picture
ouzel92 memberi reputasi
0 1
-1
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 11:34
kumenunggu apdet~
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 12:11
Setia menunggu updetan
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 14:50
Wess ndang dilanjut update Sam ian ....emoticon-Toast
Diubah oleh blckmmb7
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 14:59
Tumben belom ada update
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 15:36
tolong di update boskuh....
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 16:19
Mending dibikin gaya tulisan yg baru om daripada motong jalan cerita. Dulu jalan ceritanya padat tapi sekarang banyak yg diskip.
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 17:07
Lanjut, gan emoticon-2 Jempol
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 17:20

[BOOK II] Lembaran ke dua sembilang (2) - hari kedua

Quote:Pagi itu Papa dan Mama pergi bersama Anis ke pusat perbelanjaan dan oleh oleh. Padahal ini hari kedua Anis di Lombok, Mama gua memang selalu melakukan hal di luar kebiasaan. Kali ini alasannya agar mereka bisa berbelanja dengan tenang dan tidak harus terburu buru. Kak Desi masih belum keluar dari Kamar, kata ANis kak desi masih tidur. Mungkin tadi malam Kak desi tidak tidur.

Matahari sudah sampai di pucuk siang. Panasnya udara Lombok sampai pada titik tertinggi di hari itu. Sejak Pagi sampai sekarang gua beraktivitas sendiri, dari berjalan jalan pagi, berenang di kolam renang di depan kamar gua sampai duduk di café hotel sambil meminum minuman bersoda guna melepas hawa panas Lombok yang menyegat.

Kak Desi akhirnya keluar dari kamarnya, Ia tampak sudah segar dengan aroma harum yang terasa nyaman di hidung.

“Selamat pagi adikku sayang,” Sapa kak desi. Ia duduk disebelahku lalu mengacak ngacak rambut gua yang tadinya masih Rapi.

“Lama sekali hibernasinya,” sindir gua.

Kak Desi hanya tersenyum. Berapa menit kemudian pelayan membawa segelas kopi dan roti bakar untuk Kak desi.

“Sarapan?”

Kak desi mengangguk.

“Kenyang makan Roti aja? Harusnya dirapel dong sama makan siang,” Usul gua.

“Ini aja cukup,” kata Kak desi.

Kami tidak banyak bicara, Fikiran Kak desi sepertinya sedang tidak bersama gua. Gua hanya memperhatikan suasana sekitar, memperhatikan orang orang yang lalu lalang bersama keluarga, kekasih berlibur dengan penih sukacita.

30 Menit berlalu tanpa ada obrolan berarti. Kak Desi menghela nafas dengan berat. Ingin gua bertanya apa yang dia fikirkan namun gua yakin bertanya bukanlah sebuah solusi, gua menunggu agar dia menumpahkan apa yang dia rasakan dengan sendirinya.

“Kau tahu ian? 3 Minggu lalu gua bertemu mamamu di depan rumah,”

“Ya, mama sudah cerita,”

“Kau tahu aku bilang apa? Aku bilang aku pulang untuk merayakan ulang tahun mamaku,”

“Kakak memang dari dulu kan sayang sama mereka,”

“Dulu? Kakak sayang sama mereka. Kini? Aku benci dengan mereka! Ulang tahun? Mamaku ulang tahun bulan juli ian. Itu hanya alasanku aja. Aku hanya jengah berada di Malang, jengah dengan hidup yang gua jalani setelah gua pindah ke Surabaya. Semua yang gua khayalkan sebagai masa depanku, ternyata berbeda dengan realita yang gua jalani sekarang.”

Gua hanya bisa mendengarkan.

“Tapi pulang ke Lombok tak mengubah apapun, perasaanku sama aja. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu mamamu mengajak aku ikut liburan. Mamamu bilang kamu akan pulang. Dan sekarang aku ada di sini. Sekarang rasanya jauh lebih baik, bertemu kamu ternyata menggali semua emosi dan rasa yang dulu ada saat gua masih menjadi kakakmu yang ceria. Makasih ian,” Kata Kak desi.

“kak?”

“Ya?”

“Apakah kakak yakin akan mengandalkan masa lalu untuk mengobati perasaan kakak?”

“Maksud kamu?”

“Masa lalu tetaplah masa lalu, tak akan bisa kembali. Setiap detik masa lalu akan semakin jauh dari kita yang hidup di masa kini. Yang harus kakak lakukan adalah memperbaiki masa kini,” kata gua.

Obrolan serius itu tiba tiba terpotong oleh suara Anis dan Mama gua yang hehoh dengan tas belanjaan yang luar biasa banyak. Kak Desi langsung berinisatif mengambil barang bawaan yang di bawa mama gua dan membantu Anis membawa barang barang ke kamar mereka.

“Anis kekamr dulu ya, Mas” kata Anis.

“Tante, sekalian saya bantu Anis bawa belanjaannya” kata Kak Desi yang pergi bersama Anis.

Mama diam bersama gua di café itu. Ia lalu duduk bersama gua di sana, gua yakin ada banyak hal yang akan diomongkannya setelah menyelediki kegiatan gua di malang.

“Sayang”

“Ya ma,”

“Setelah kamu lulus, kamu bantu mama di butik sama di resto ya?”

“Boleh ian tidak menjawabnya sekarang?”

“Beberapa lamapun kamu berfikir, Anak mama satu satunya hanya kamu. Dan tidak mungkin usaha ini dipegang orang lain bukan? cuman ian satu satunya”

“Ya. Kalau jawaban itu yang Mama mau,” jawab gua yang tidak mau memperpanjang obrolan masalah pekerjaan mama.

“Anis anak yang baik, setahun lagi dia akan Lulus SMA. Kamu harus nikahi dia langsung,”

Gua menarik nafas panjang. Bisa bisa mama gua malah memikirkan hal seperti itu diusia gua yang masih belum genap 20 tahun.

“Mama? Ian masih kuliah. Mana mungkin ian nikah?”

“Anis nanti tinggal sama mama, sambil mama ajarin cara mengurus semua usaha mama. Mama lihat dia anak yang teliti dan cerdas,”

“Ian masih muda ma, Ian belum tahu apa yang ian lakukan ini benar apa salah. Ian masih jauh dari kata dewasa,” bela gua.

“Menurut Mama, ian sudah mulai dewasa, Anis sudah cerita semuanya kepada mama. Tentang kos di rumah Anis dan tentang kamu yang menyembunyikan semua fasilitas yang mama kasih. Mama tidak melarang, mama malah setuju. Kalau ian merasa dengan cara itu ian bisa menjadi lebih dewasa, mama rasa cukup baik untuk dicoba. Papa juga setuju.

“Maaf kalau ian gak bilang bilang kepada mama,”

“gak apa apa, mama paham. Masalah nikah ini bukannya tanpa pertimbangan ian. Mama sudah membicarakannya kepada Papa. Tapi kembali kepada kamu, mama ingin kamu segera siap untuk berkeluarga,”

“Baik ma,”

“Terima kasih sudah bawa Anis buat mama ya,” kata mama. “Tolong jaga hubunganmu Dengan Anis, jangan sampai kamu melakukan hal yang membuat hubungan kalian berantakan. Mama dan papa akan marah,” Lanjut mama.

“Baik Ma,”

Apa yang gua lakukan sepertinya dianggap berlebihan oleh kedua orang tua gua. Padahal gua membawa Anis hanya untuk menyenangkan mereka saja. Ternyata gua berhasil, mereka senang tapi malah terlalu senang sampai memvonis bahwa Anis harus jadi istri gua.

*************************************

Malam itu, Kak desi dan Mama keluar berdua. Sepertinya mereka sedang mengobrol tentang masa lalu dan kehidupan Kak desi di Surabaya. Gua memutuskan pergi kekamar Anis sambil membawa beberapa makanan yang gua beli dari café depan.

Anis tampak capek karena seharian mencari oleh oleh bersama mama. Ia rebahan sambil mencoba menghilangkan pegal pegal di badannya.

“Capek?”

“Ya, Mas.”

“Sini aku pijetin kakinya, kamu tidur aja,”

“Gak usah Mas,”

“Udah kamu tidur aja, aku jago pijet kok,” Gua memijat kaki Anis dengann pelan. Otot kakinya terasa keras karena mungkin ia banyak jalan seharian.

“Anis pingin bilang jangan tapi ternyata pijetan Mas ian enak,” kata Anis. “Mas?”

“ya,”

“Sebenarnya Anis Masih shock dengan semua yang Anis tahu sekarang tentang Mas ian,”

“Gak ada yang beda kok Nis,”

“Beda kak, bukan berarti Anis bilang gini karena Anis membedakan status sosial kakak tapi deskripsi yang Anis kasih kehati Anis tentang Mas ian harus Anis revisi. Tentu rasanya membingungkan.”

“Semoga kamu bisa mengerti Nis,”

“Siapa aja yang tau masalah ini Mas?

“cuma linda”

“kok kak linda bisa tahu ?

“Dulu aku ketahuan saat make mobil”

“Berarti Anis orang kedua yang tahu,” jawab Anis kecewa.”Mama pengen kita menikah saat anis lulus SMA, Mas ian sudah tahu?”

“Sudah”

“Padahal sekarang kita aja belum pacaran”

“Jangan terlalu difikirkan kata-kata mama, Anis boleh menerima maupun menolak, jangan sampai kamu gak bisa menikmati masa mudamu.” Nasihat gua.

“Mas ian, boleh mas berbaring didekat Anis,” Gua mengangguk. Gua lalu berbaring disebelah Anis sambil memandangi langit langit kamar hotel yang indah dihiasi lampu gantung yang berkelap kelip.

“Jujur Mas, Anis senang banget hari ini. Mama mas ian baik banget sama Anis. Mereka memperlakukan Anis dengan sangat istimewa,”

“Mama memang begitu, kalo udah suka sama orang, mama pasti heboh”

“Apakah Mas ian akan memperlakukan Anis seperti itu, menjadi wanita istimewa? Apa Mas ian sayang sama ANis?”

Gua memiringkan badan ke hadapan Anis, kami berbaring sambil saling berhadapan. Gua membelai rambut Anis dengan pelan.

“Mas ian nyaman di deket Anis, Mas ian juga merasa penting banget di mata Anis,”

“Mas, Anis takut”

“Takut apa?

“Takut kebahagiaan ini cuman sementara”

“Tak pernah ada kebahagiaan yang abadi Nis, Bahagia dan kesedihan itu hanya dibatasi oleh kertas tipis.

“Anis sayang Mas,”

“Mas juga,”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
enz076 dan 31 lainnya memberi reputasi
31 1
30
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 17:30
ipeh lovers emoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mirzazmee dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 20:43
ok jejak dulu
profile-picture
raiteii memberi reputasi
1 0
1
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 20:46
Nah di chapter ini agak beda nih alurnya sama cerita lama. Gapapa beda asal ga kayak ada plot yg bolong kayak di chapter2 sebelumnya. Maaf banyak komen dari kemarin soalnya gw masih inget jelas cerita ini walau dah lama ga baca bertahun2.
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan raiteii memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Son of the Rich (Reborn)
23-10-2020 21:20
Cendol sent.. semangat mengobati rasa kangen reader mas broo
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
24-10-2020 08:23
Mass aku.........aku...aku...
0 0
0
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Son of the Rich (Reborn)
24-10-2020 13:52
Ipeh ipeh kimochi
Nyimekk
profile-picture
danymarta. memberi reputasi
0 1
-1
Son of the Rich (Reborn)
24-10-2020 14:43
sip, keren gan ceritanya... ada sedikit perubahan dari cerita sebelum reborn tapi jadinya lebih dapat sih emosi dan alurnya... jgn di skip2 kayak season 1 yah gan, agak miss emosinya di season 1...emoticon-Belo
Diubah oleh peterpetreli
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
24-10-2020 16:11
Lanjut meneh Sam emoticon-Cendol (S)....kangen karo hepi emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
pradanto17 memberi reputasi
1 0
1
Son of the Rich (Reborn)
24-10-2020 20:21

[BOOK II] Lembaran ke tiga nol (3) - hari terakhir

Quote:Kak Desi kaget mendapati gua ada di kamarnya bersama Anis. Anis tertidur lelap sedangkan gua duduk bersandar diatas kasur sambil mengelus elus rambut Anis.

“kamu Di sini ian?”

“Ya,” suara gua berbisik.

“Di luar aja yuk, takut Anis kebangun.”

“Oke,”

Kami berjalan menelusuri lampu remang remah hotel yang membuat hati tenang.

“Ngomong apa aja sama mama?”

“Nanya kabar kakak aja, dulu kan kakak sering kerumah kamu jadi mungkin mamamu kangen aja pengen tahu kabar aku,”

“aKU masih pengen ngobrol sama kamu tapi AKU capek juga jalan sama mamamu, “

“Ke kemar ian aja deh,”

Setelah mengobrol ringan sambil duduk duduk santai di sofa, Gua dan Kak Desi memutuskan untuk rebahan dikasur lalu menutupi badan dengan selimut.

“Ah Enak begini,”

“Ya Mbak,”

“Apa arti kesucian buat kamu, ian?” Tanya Kak desi tiba tiba.

“Maksud kakak?” Gua bingung.

“Kesucian wanita?” Ulang kak Desi.

“Entahlah kak, ian rasa hal itu bukan urusan ian. “ Jawab gua yang memang tidak pernah peduli dengan hal itu.

“Berarti kamu gak peduli kalau istrimu tidak virgin saat kamu menikah?” Tanya kak desi.

“Mungkin enggak, karena ian sendiri merasa sering sekali salah. Sering juga tak bisa menahan diri, mana mungkin ian harus menghakimi wanita gara gara hal yang ian saja belum tentu suci.” Balas gua.

Kak desi meninggika posisi tidurnya sehingga kepalanya ada diatas gua. Dia lalu mengelus elus rambut gua dengan lembuat seolah seperti seorang kakak yang sedang menunggu adiknya tertidur.

“Kenapa aku merasa kamu lebih dewasa dari pada kakak?” lanjut Kak desi.

“ian masih labil kak,” jawab gua jujur.

Kak desi mengambil nafas panjang, matanya melihat dengan tatapan kosong seolah sedang berfikir jaug ke masa lalu. “Pindah kesurabaya membuat kakak menjadi-jadi. Pemberontakan karena perceraian kedua orang tua kakak mengarah ke hal hal negatif. Kakak mengenal alkohol dari pacar kakak yang dulu anak kuliahan. Kakak pulang malam sampai papa kakak marahnya minta ampun. Tapi kakak selalu punya energy lebih untuk berontak lebih keras lagi. Dan saat itu juga kakak membuktikan cinta kakak kepada pacar bukan hanya dengan perhatian tapi juga dengen seks.” Kata Kak Desi. Matanya mulai berair. Dia tampak sedang membuka luka yang dulu ia pendam.

“Kau tahu kata kata bodoh yang dia lontarkan dulu sampai aku percaya. Aku akan menikahimu nanti, ini adalah bukti cinta kita. Dan kamu satu satunya. Bullshit sekali bukan? Gua percaya. Lalu sebulan kemudian dia mutusin kakak. Kakak stress, kakak cinta buta sama pria itu. Kakak seperti orang gila. Padahal jelas jelas dia jahat. Namun ada orang lain yang datang memberikan obat untuk hati kakak yang sakit. Tapi sama saja. Seolah semua itu berulang ulang terjadi dengan pria lain.” Lanjut Kak desi.

“kakak rindu saat kakak selalu mencoba menjadi gadis teladan untuk memberikan contoh kepadamu.”

“Sekarang kak? Ian lihat kakak sudah tidak seperti yang kakak ceritakan tadi. Lingkungan kakak sudah berbeda lalu apa masalahnya?

“Pacar kakak, mungkin sekarang mantan kakak.” Kak desi tak bisa meneruskan ucapannya.

“Dia kenapa kak?”

“Dia putusin kakak 3 minggu yang lalu. Makaknya kakak pergi ke Lombok. Kakak cerita masa lalu kakak, lalu ia belum bisa menerima itu. Dia pria baik baik dari keluarga yang sangat baik. Ketika dia berharap mendapat wanita suci yang bisa menjaga diri malah mendapat wanita seperti kakak,”

“hal itu tak bisa jadi tolak ukur orang kak!, terserah masa lalu itu sehitam apa tapi yang penting adalah seperti apa kita sekarang. Apakah cinta orang sedangkal itu.”

“Andai mantan kakak berifikir yang sama sepertimu. Dia sangat baik ian, dia pintar, dia bisa jaga aku. Dia bisa bimbing aku tapi aku malah mengecewakannya dengan masa lalu aku,”

“Persetan dengan masa lalu, bagi ian. Kakak selalu jadi yang terbaik. Bukan kakak yang tidak pantas untuk dia tapi dia yang tidak pantas untuk kakak.”

“Makasih ian, kamu orang yang paling baik yang kakak punya” kata Kak desi. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan langsung berdiri, “kakak balik ke kemar dulu,”

Aku ikut berdiri dan untuk mengantarnya keluar kamar. Saat Kak desi sampai di depan pintu ia terhenti ia lalu berbalik lalu mendekapku dengan erat.

“Gak bisakah semua berjalan seperti ini selamanya?”

Gua terdiam lalu kak Desi mendekatkan wajahnya ke wajah gua. Dekat dekat sekali sampai bibir kami bertemu. Awalnya itu hanya kecupan biasa. Hangat. Nyaman. Lalu ciuman itu berlanjut lebih dalam, meransang syaraf syaraf bibir lalu membuat suasana jadi lebih hangat. Tangan gua yang awalnya menggantung perlahan bergerak menekan tengkuk Kak desi yang membuat Kak desi bereaksi tapi tak menghentikan aksi kami. Hembusan nafas kami hangat membentur kulit wajah yang diiringi suara bibir kami yang mulai basah. Kejadian itu terjadi cukup lama sampai tiba waktunya kami sama sama melepas ciuman itu lalu terdiam memikirkan apa yang telah terjadi.

“Aku balik ya,” kata Kak Desi.

“Ya kak,”

******************
Hari liburan berikutnya berjalan cukup seru, kami banyak mengexplore tempat tempat baru di sekitar hotel itu. Rasa bahagia seolah memenuhi persaan gua. Gua dan Anis banyak bermain dan bercanda. Dia selalu bisa membuat gua tertawa dengan tingkah lucunya. Malamnya kami selalu kelelahan namun selalu ada waktu itu bicara berdua dengan Kak desi.

Hubungan kamu menjadi semakin Aneh. Kadang kami berciuaman cukup panas tapi kami tak pernah sekalipun membicarakan perasaan apa yang kami rasakan hingga kami bisa ada di titik itu.

Hari terakhir di sini. Anis kembali pergi bersama mama untuk membeli oleh oleh, padahal dulu awal kami kesini mereka juga pergi dengan alas an agar saat pulang nanti mereka tidak buru buru. Nyatanya mereka tetap saja pergi. Sore itu hujan sangat lebat, Anis belum juga pulang. Gua memberanikan diri untuk pergi ke kamar Kak Desi karena sebentar lagi kami akan berpisah. Mungkin kami akan bertemu lagi di kampus tapi tentu dengan suasana yang jauh berbeda.

“Masuk ian,” kata kak Desi saat melihat gua berada di depan kamarnya.

Gua duduk dipinggir kasur sedangkan kak Desi sedang merapikan kopernya.

“Perlu Aku bantu kak?”

“Gak usah,”

Setelah selesai Kak Desi ikut didik di sisi kasur bersama gua. Kami terdiam saling menatap. Menerang fikiran masih masing. Lalu kami tersenyum tanpa arti, hanya karena hati ini rasanya nyaman saja. Gua lalu membelai rambut kak desi, kak desi mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada gw, hening sekali, hanya ada suara hujan yang deras dan hanya terdengar sayup sayup debur pantai dari kejaugan, entah apa yang difikirkan kak desi saat mendorong tubuh gua hingga terbaring dengan betis masih menjuntai di kasur.

Kak Desi lalu naik dan duduk di paha gua dengan kaki menekuk kebawah. Ia lalu menempelkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah gua. Sentuhan hangat bibirnya dengan indah menyentuh bibir gua, dia mencium gua dengan tiba tiba, tak dilepaskan, hembusan nafas itu terasa di wajah ini, walau hati ingin menolak tapi insting menyuruh untuk menanggapi. Kak desi lalu membuka kancing bajunya satu persatu, dan entah kenapa tangan ini ikut membantu. Baju gua lalu ikut ditanggalkan. Gua menarik nafas dengan berat lalu dengan cepat insting ini memerintah. Tangan ini menari dalam birahi menganggalkan semua yang terlindung, meraba semua yang terasa, mencium dengan penuh hawa nafsu. nafas ini berhembus dalam dosa, entah siapa yang memulai, kini nafsu sudah merajai, detik demi detik logika sudah tergadaikan dan , hanya ada desahan yang membawa gua dalam lingkaran kenikmatan.

Dosa memang nikmat dan membawa lupa, entah berapa lama kami bercumbu dan menyatu dalam dosa, kisah pertama gua, yang terjadi dengan cewek yang notabene adalah seorang yang gua anggap sebagai kakak sendiri. Yang gua nasihati tentang betapa berharganya dia lalu kini gua bagian dari luka yang mungkin akan dia ingat nantinya.

Dosa membuat gua lupa kalau waktu. Entah apa yang terjadi diantara kami sehingga kami sangat terobsesi. Sampai akhirnya.

Klek.

Pintu terbuka.

Sebuah teriakan dari seorang yang sangat gwuakenal.

Anis.

Anis shock melihat kami berdua di tempat tidur tanpa busana. Berpelukan berpeluh keringat dengan kami yang masih dalam posisi bercinta.

Mama dan papa datang saat mendengar teriakan Anis. Anis menangis, Kak Desi langsung menutupi badannya dengan selimut dan gua mengambil pakaian yang sudah bercecearan di lantai.

Saat melihat kami, mama hanya bisa menangkan anis namun dia juga tak dapat membendung air matanya melihat apa yang terjadi di depan mata mereka. Papa masuk kamar, matanya penuh amarah , wajahnya memerah penuh rasa benci sambil melihat ke arah gua. Lalu sebuah tamparan keras berasa di pipi dan ini bukan satu satunya, tamparan kedua , tamparan ketiga dan terakhir tangan itu mengepal dan mendarat di wajah gua. Wajah gua berlumuran darah. Gua bisa merasakan kulit pipi ini menghantam gigi sehingga ada robek di dalam.

Harusnya gua manangis, Harusnya gua menyesal harusnya gua meminta ampun, namun raga dan hati ini penuh amarah. Kak Desi berulang kali mengatakan bukan gua yang salah sambil ikut menangis. Gua marah dengan keadaan ini, gua salah tapi tak sepeuhnya salah. gua tak ingin menyalahkan diri. Saat gua sedang berkelahi dengan ego gua sendiri, tangan papa masih ingin mendarat di wajah gua yang sudah penuh darah segar mengucur. Gua Reflek, Gua memegang tangan papa yang hampir mengenai wajah gua.

Lalu gua tersenyum...


Diubah oleh kawan.betina
profile-picture
profile-picture
profile-picture
enz076 dan 23 lainnya memberi reputasi
24 0
24
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Son of the Rich (Reborn)
24-10-2020 21:23
Wah kerenn kerenn, izin bacaa kisah seru ya gan emoticon-linux2
0 0
0
Son of the Rich (Reborn)
24-10-2020 22:06
Lama bener perasaan copas doang aja balik 2 bulan kemudian deh mungkin ada yang baru -_-
0 0
0
Halaman 11 dari 61
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
little-albert
Stories from the Heart
mistery-royal-princes-of-kuyang
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia