Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
62
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c98f752e83c724d671673fc/cinta-tak-bisa-disalahkan-part-2
Aku memang biasa dipanggil Aik, nama panggilan semenjak kecil yang diberikan orang tuaku. Sebetulnya itu diambil dari nama belakangku, Aji. Buat mudahnya bagi lidah jawa, huruf "j" dihilangkan dan diakhiri konsonan "k", jadilah Aik. Demikian aku berkenalan sama semua orang di sini, nggak dosen, senior, pegawai kampus, t
Lapor Hansip
25-03-2019 22:44

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)


Sebelumnya : Part 1

Part 2

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

CUITAN DARI ATAS BALKON

Aku memang biasa dipanggil Aik, nama panggilan semenjak kecil yang diberikan orang tuaku. Sebetulnya itu diambil dari nama belakangku, Aji. Buat mudahnya bagi lidah jawa, huruf "j" dihilangkan dan diakhiri konsonan "k", jadilah Aik. Demikian aku berkenalan sama semua orang di sini, nggak dosen, senior, pegawai kampus, tukang parkir, junior sampai orang-orang kampung mengenalku dengan nama Aik.

Yang tampak saat kutolehkan wajahku adalah sebuah rumah besar yang terletak berseberangan dengan rumah kost yang baru akan kutempati. Tertutup pintunya, semacam pintu garasi lebar bersegmen-segmen terbuat dari bahan kayu kayak di senetron-sinetron atau FTV. Tidak tampak seorangpun di depan pintu itu. Kudongakkan kepalaku segera mengikuti sumber suara, ternyata ada dua gadis yang senyum-senyum memandangku di teras balkon lantai 2.

Ya, rumah besar itu memang susun bentuknya, hanya 2 lantai. Lantai pertama yang pintunya tertutup itu garasi buat nyimpen motor anak-anak kost, lantai kedua adalah kamar kost dengan teras balkon los, tak bersekat, memanjang di depan kamar-kamar kos. Empat orang senior cewek, setingkat di atasku memang tinggal di situ. Dan salah satunya itulah yang memanggilku, namanya Ica. Rupanya sejak tadi dia mengamati proses pemindahan barang-barangku dari pick-up ke kamar kost, bersama kawan kostnya.

"Hai !", jawabku setengah berteriak. "Ngapain Ca pagi-pagi nongkrong aja di atas? Nggak pada ngikut ngandong?" tanyaku kemudian. Ica memang setingkat di atasku, tapi tahun kelahiran kita sama, makanya aku takpernah memanggilnya Mbak atau Kak sebagaimana kawan seangkatannya yang lain.

"Lagi males, begadang semalem", jawabnya dengan seulas senyum. Kawan di sebelahnya juga ikut senyum-senyum, malah tampak serius mengamati wajahku meski terkesan jaga image. Senyumnya manis juga dengan deretan gigi yang rapi. Hidungnya mancung lebih mancung dari hidungku, sedang matanya lebar - jelas lebih lebar dari mataku yang sipit ini. Mata kami sejenak beradu, aku menangkap kesan seolah ingin mengajakku berkenalan.

Kualihkan lagi pandanganku ke Ica yang lebih dulu kukenal. Baik anaknya, tergolong pinter dan rajin di angkatannya, aku sering pinjam catatannya atau minta keterangan untuk pelajaran yang aku kurang mengerti. Sebagai anak pintar, Ica tidak egois seperti kebanyakan, dia tidak pernah menolak berbagi catatan dan pemahamannya pada siapa saja.

"Udah sarapan Ca? Yuk!" ajakku.

"Udah dong, pagi tadi kami masak berdua", kata Ica sambil melirik kawan di sebelahnya.

"Widiiih, masak apa? Boleh dong ngicipin...", sahutku berbasa-basi, masih dengan mendongakkan kepala.

Disenggollah dengan sikut kawan di sebelahnya, dua kali. Merah padam mukanya, tawanya lepas sambil memegangi lengan Ica dan mengguncangkannya. Kepalanya digeleng-gelengkan menatap Ica, bahasa isyarat agar masakannya jangan dibagikan. Ica juga tergelak tawanya melihat tingkah itu, dengan sigap lalu dialihkannya pandangan kembali ke bawah - ke arahku.

"Restu malu Ik, kami masih belajar memasaknya, masih agak hambar rasanya. Ini nih chefnya...," kata Ica menunjuk kawan di sebelahnya sambil menahan tawa geli. Sedang kawannya itu mengangguk-angguk, isyarat mengiyakan jawaban Ica dengan ekspresi malu.

"Yo wis ( ya sudah ). Aku pegel ndangak ( aku capek mendongak) terus. Kalau mau lanjut ngobrol sini turun ke bawah", celetukku kemudian.

"Udah kamu sarapan aja dulu !", jawabnya.

"Oke !", jawabku langsung berbalik badan menghampiri motor di depan kamar kostku.

Lupa mengunci pintu kamar, turunlah lagi aku dari motor yang terlanjur sudah kustarter. Setelah yakin aman terkunci, kembali kunaiki motor dan kulajukan mengikuti naluri perut yang sudah keroncongan sejak tadi.

Sepanjang jalan, ingatanku pada percakapan tadi masih mengiang, terutama kesan pada ekspresi spontan kawan kost Ica saat aku berbasa-basi pengin mencicipi masakan mereka.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Continue to part 3part4part5part6part7part8part9part10InterlogPart11Part12Part13Part14Part15Part16Part17Part18Part19Part20Part21Part22Part23Part24Part25Selembar TestimoniPart26Part27Part28Part29Part30
Diubah oleh wowonwae
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yambu668 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 3
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
05-05-2019 04:02
wah apdetannya makin seru nih , ikutan bikin tenda ahhhh........

0 0
0
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
06-05-2019 00:01
Part 28
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Benci Tuk Mencintai

Tak selang berapa lama Restu pun kembali, menuruni tangga penghubung lantai dua kostnya dengan ruang tamu ini. Headphone yang kupinjam tampak sudah dalam genggaman tangan kanannya. Aku sedang membutuhkannya buat ngedengerin rekaman seminar tadi pagi dengan lebih teliti. Pak Muh, dosen pembimbing PKL (Praktek Kerja Lapangan) ku meminta dibuatkan resume tertulis hasil seminar dimana beliau jadi salah satu keynote speaker nya. Ada beberapa bagian suaranya yang kurang bisa terdengar dengan jelas sehingga kuperlukan alat bantu dengar dan aplikasi audio khusus di komputer.

Raut wajah Restu kali ini tampak berubah tak seperti sedia kala, mengundang tanyaku. Setelah kembali duduk di sebelahku dan memberikan headphone miliknya padaku, tak bisa lagi kubendung rasa penasaranku.

"Kenapa Res ? Siapa tadi yang nelpon ?" tanyaku.

Kutanya begitu sebab kudengar samar-samar dia terima telepon saat di lantai 2 tadi. Kondisi di kost Restu sedang tak jauh beda dengan kost Yuna, lengang untuk beberapa bulan. Mayoritas kawan kostnya lagi pada KKN di luar kota, ya termasuk para seniorku yang tinggal di sini, makanya aku tau persis. Tinggal Restu, Eni yang penghuni baru dan satu lagi mahasiswi tertua yang tak pernah kuingat namanya karena ribet ngucapinnya. Lagipula orangnya terlalu introvert nyampe gak kelar-kelar kuliahnya.

"Temen Mas, mau ke sini katanya", jawab Restu.

"Temen apa fans...?!" godaku.

Restu tak menjawab, tersenyum sebentar tapi segera menegang lagi.

Sebentar kemudian terdengar suara motor berhenti di luar, gak kelihatan dari dalam karena terhalang pintu bersegmen ruang tamu yang cuma dibuka Restu satu segmen saja tadi.

"Sebentar ya Mas...", pamit Restu lanjut bangkit berdiri dan bergegas melangkah keluar ruang.

Kupastikan yang datang adalah kawan yang dimaksudkannya tadi nelepon. Kutunggu sambil menengok beberapa pesan masuk di hape yang belum sempat kubuka saat masih asyik ngobrol dengan restu. Rupanya ada 3 pesan dari tiga nomor berbeda. Satu pesan dari kakak sulungku yang mengkonfirmasi tentang pindah kerjaan dan domisilinya di Jakarta. Satu pesan lagi dari Ano yang pamit mau minjem motor, berarti sekarang paling udah dibawa kabur tuh motor. Terakhir dari Ica yang nyindir kegiatan ngapelku malam ini, paling Restu tadi yang ngasih tau. Kudengar memang dua kali tadi dia nerima telepon waktu kebetulan pas di lantai dua ngambilin headphone pesananku.

Belum selesai kubalas semua sms, Restu sudah masuk ruangan lagi dan duduk di sebelahku. Buku yang dibawanya saat masuk tadi diletakkan di sebelahnya. Lagunya kemudian  ngintip kegiatanku mbales sms, padahal aku cuek-cuek aja karena tak ada yang perlu kusembunyikan.

"Hayoo..., dari siap hayo...?!" godanya.

"Dari sephia (istilah pacar gelap yang dipopulerin group band SO7)..." jawabku sekenanya.

"Iya Mas ?!"

"Yee..., nih ! Baca sendiri nih !" kataku sambil nyerahin hapeku padanya.

Diterimanya hapeku lalu dibacanya sekilas.

"Eh, kok Mbak Ica ?!"

"Iya, kamu kasih tau kan tadi ?"

"Hehe..., he-em, tadi nelpon dari tempatnya KKN. Minta tolong besok dipaketin sepatunya yang ketinggalan via pos ke alamatnya sana".

"Kok nggak kupingnya yang ketinggalan tuh anak...?!"

"Hahaha..., dia berangkatnya nyusul Mas, nggak bareng rombongan. Mberesin urusan nge-lab nya dulu katanya, makanya buru-buru banget kemarin. Jadi gak teliti ngemasin barang-barangnya..."

"O...iya, dia ngikut proyek penelitiannya dosen kayaknya. Lah, gimana sih si Ica ? Terus penelitiannya siapa yang ngurusin kelanjutannya ?"

"Nggak perlu, udah selesai katanya, udah dapet datanya. Diprosesnya ntar habis KKN".

"O...berarti dia cuman mberesin peralatan yang dipinjem sebelum berangkat KKN. Kamu kok kayak jubir (juru bicara) nya si Ica malah..."

"Ya gimana sih ? Orang temen sekamar, ya pasti dibagi ceritanya dong...!"

Kulirik buku yang ditaruh di sebelahnya itu, tampaknya buku catatan kuliah.

"Temen kamu ngembaliin buku itu tadi ?"

"Iya, kemarin dia pinjem. Halah, formalitas, biasa..."

"Tuh kan..., fans kamu berarti itu tadi".

Restu mengangguk sambil tersenyum malu-malu.

"Eh, gimana tadi ceritanya ? Lanjutin dong...!" katanya kemudian.

Jadi pembicaraan kita kemarin di wana wisata terputus gara-gara do'a tolak hujannya Restu ma Irin gak manjur. Terpaksa kuhentikan lalu kuajak dia pindah berteduh di teras perkantoran wana wisata di samping pos jaga pintu masuk. Sesampainya ternyata tak hanya kita berdua yang bakal berteduh, di situ sudah ada beberapa orang wisatawan yang berteduh. Salah satunya bule cewek dari Perancis yang kacamatanya setebal kaca TV. Kami berkenalan awalnya, tapi ternyata si bule yang kulitnya kayak tokek itu lumayan fasih berbahasa Indonesia, jadilah kemudian kami ngobrol lama berempat dengan seorang guide yang disewanya. Gagal total akhirnya semua rencanaku yang telah kususun rapi sebelumnya.

Nha hari ini, sebetulnya aku tak ada rencana, Restu sendiri yang memintaku melanjutkan cerita, sekalian nemenin dia yang kesepian di kostnya. Lagi berperan jadi operator telepon kost-kost an katanya. Aku sendiri sedang sibuk ngedit video hasil shooting seminar Pak Moh di lab sewaktu dia nelpon tadi. Kutinggal aja kerjaan isengnya Pak Moh yang gak diburu deadline itu sekalian ngambil headphone ke kost Restu.

"Segitu aja dulu deh Res ceritanya, disambung lagi besok-besok aja ya...?!"

Kusampaikan kalimat itu sambil memandang jam dinding di ruang tamu yang sudah menunjukkan jam 8 malam.

"Emang mau balik lagi ke kampus ?"

"Iya kayaknya".

"Kan nggak penting kerjaannya, ngapain buru-buru ?"

"Enggak, nggak buru-buru. Lagian motor dipinjem si Ano, tadi sms dia."

"Terus ? Kenapa nggak mau ngelanjutin cerita ?"

"Nggak cukup waktunya Res..., aku nyampe jam 9 aja rencananya. Tinggal ada waktu 1 jam, gak bakalan tuntas".

"Emang di lab ada siapa aja temennya ?"

"Lagi rame, lantai 1 sama 3 ada yang pakai malam ini buat penelitian. Cuma lantai 2 yang gelap-gulita tadi".

Kami saling diam kemudian, sudah kuminta dia agar gantian cerita dan dijawabnya dengan menggeleng. Sekarang malah asyik dia mengamati telapak tangan kananku yang dipegangnya dari tadi. Kugerakkan tangan kiriku membelai rambutnya yang terurai, kurapikan agar tak banyak yang menutupi wajahnya.

"Mas, aku mau nanya ya...?"

"Soal ramalan telapak tangan lagi ? Ogah ah !"

"Eh, enggaaaak..., bukan itu. Aku kan udah tau kamu gak suka ramalan."

"Ya udah, apa ?" tanyaku melembut.

"Kamu percaya takdir kan ?"

"Iya, percaya, sekalipun gak bisa dijadiin alasan untuk membahas hasil penelitian".

"Seandainya..., takdirmu berjodoh dengan orang yang kamu benci gimana Mas ?"

"Widiiih..., dalem amat pertanyaannya non...!"

"Ya kan kita udah dewasa ? Sudah menikah mungkin kalau saja nggak kuliah. Wajar kan ?"

"Iya, kamu udah cerita juga kalau beberapa temen masa kecilmu udah menikah".

Restu mengangguk-angguk dan menatapku dengan senyumannya. Dia tampaknya mencoba perhatikan perubahan gestur wajahku atas pertanyaannya dan menunggu jawabanku.

"Ntar Res..., kamu lagi dijodohin nih ceritanya ? Atau ada yang melamar lewat ortu gitu ?"

"Haha...! Enggaklah..., mana berani Bapakku Mas..."

"Iya, karaktermu dari kecil udah pemberontak, dan kamu sebenernya yang paling beliau sayang dibanding kakak dan adikmu".

Restu masih menatapku dengan senyumnya, tanda menunggu jawabanku. Tiba-tiba di luar terdengar suara helm nggelinding dan suara sandal diseret dua kali. Sepertinya ada orang di luar, di sebalik pintu ruang tamu, bukan suara orang yang sedang lewat. Biasanya kawan penghuni kost sini kalau yang dicari gak muncul-muncul kemudian akan duduk menunggu sambil jongkok di depan pintu itu menghadap ke jalan. Kalau anak-anak kampung sini nggak mungkin, gak ada yang berani nongkrong di situ, segan sama Bapak si empunya kost.

Kulihat jam di dinding masih nunjukin angka yang aman, masih dalam range jam bertamu, tak mungkin bapak kost. Penasaran aku udah mau berdiri, tapi buru-buru ditahan sama Restu. Dia yang kemudian berdiri dan melangkah keluar, melihat ada siapa sebenarnya. Terdengar pelan sekali dan samar, suara Restu tengah bercakap-cakap dengan seorang lelaki sebentar. Lalu kulihat dia kembali masuk dan menyusulku duduk, tapi wajahnya agak tegang, setegang waktu ada kawannya datang tadi mengembalikan buku.

"Siapa ?" tanyaku penasaran, tak segera dijawabnya, malah menunduk.

"Siapa Res ?" ulang tanyaku.

"Temen", jawabnya singkat lalu mencoba kembali tersenyum.

"Kok nggak disuruh masuk ?"

"Biarin ah...!"

"Fans kamu lagi ?"

Restu mengangguk dan pandangannya masih tetap menunduk.

"Suruh masuk aja biar kita kenalan, nggak papa Res..."

Diangkat wajahnya menatapku dengan pandangan yang sulit kuterjemahkan. Mungkin memastikan bahwa aku tak marah, atau mungkin...ah, entahlah ! Baru kali ini kulihat tatapannya yang seperti itu. Tak tahan aku ingin bangkit berdiri, tapi lagi-lagi ditahannya.

"Res..., nggak papa, aku malah gak suka lho kamu mengabaikan orang, apalagi temenmu sendiri. Kamu bilang temen kan tadi ?"

"Iya, tapi..."

"Seangkatan ?"

"Iya".

"Sekampus ?"

"Iya".

"Kok nggak nyariin kamu nengok ke dalem ?"

"Dia udah dari tadi Maaas..."

"Maksudnya ?"

"Ya dia itu temen yang ngembaliin buku ini tadi...", jelasnya sambil menunjuk buku catatan yang tergeletak di sampingnya.

Aku menghela nafas sambil menatapnya serius, dia juga sama sebaliknya, membalas tatapanku dengan serius. Kupegang telapak tangannya gantian, kugenggam agak kencang.

"Jadi di luar itu temen kamu yang tadi nelefon terus ke sini ngembaliin buku, oke. Kamu khawatir mempersilahkan masuk karena komitmen kita dari awal dulu, maksudku tentang ikrarku bahwa aku tak akan marah kalau ada yang ngapelin kamu asal tidak sedang kuapelin. Begitu kan ?"

Restu mengangguk dan tersenyum karena aku mulai paham tentang kegalauannya. Kubelai lembut rambutnya lalu kupegang lengan kirinya. Aku sendiri sebetulnya bimbang bagaimana harus bersikap karena toh sebentar lagi aku harus tegas mengakhiri hubungan kami.

"Ikrarku waktu dulu itu sekarang kupikir kayak kelakuan anak SMA aja Res, waktu itu kita sedang saling tergila-gila satu sama lain, lama mengalami kekosongan dan tiba-tiba saling mengisi. Setelah sekian lama kita berhubungan, mestinya kita sudah mengalami banyak proses pendewasaan berpikir. Betul nggak ?"

Restu mengangguk lagi, dia sabar mendengar kalau aku sudah serius bicara sok kebapakan begini. Entah sabar entah memang inilah bagian diriku yang paling dia suka dari sejak awal, bahkan sebelum kami berpacaran.

"Terus sekian lama ini kamu sudah mengenalku, mosok kamu masih belum bisa mbedain mana aku, mana mantan pacarmu yang arogan dan possesif itu ?"

Restu makin melebarkan senyumannya, tapi kini tak berani  kutatap senyum itu berlama-lama, sejak kemarin bahkan. Mengkonsumsi candu senyumnya yang manis berhias deretan gigi yang rapi itu meski aku kurangi.

"Jadi, boleh kan aku menemuinya dan berkenalan ?"

"Iya tapi...."

"Tapi jangan berantem gitu ? Alasannya buat berantem apa Res...? Apa salahnya dia ? Aku nggak ngerasa dia ganggu kita dari tadi kok. Dia bisa aja berdehem atau bikin gaduh apa kek kalau memang berniat ngganggu," jelasku panjang lebar.

"Kamu gak curiga dengan suara helem nggelinding sama sandal diseret tadi Mas?" tanya Restu mencoba menguji pendirianku.

"Kesannya sih nggak sengaja kalau menurutku".

"Tapi kan akhirnya obrolan kita terputus, mengganggu juga kan berarti ?"

"Ah, sudahlah ! Kalau menduga-duga terus kapan bisa narik kesimpulan yang tepat Res ? Biar kutemui saja", kataku, kuikuti dengan melepas pegangan tanganku dan memutar badan lalu berdiri.

"Mas...!" seru Restu pelan sambil memegang tanganku bermaksud menahan.

"Aku percaya kamu nggak marah, tapi aku memang nggak suka sama dia...", lanjutnya.

"Maksudmu...? Bukannya semua fans yang pernah kamu ceritakan padaku itu nggak kamu suka juga ? Tapi kayaknya kamu nggak setega ini deh memperlakukan mereka....!?"

"Yang ini kebangetan Mas, bukan cuma nggak suka, tapi benci !"

"Jangan berlebihan..., nggak baik ! Masih inget kan pepatah Jawa : 'gething kuwi nyandhing'(benci yang keterlaluan itu bisa membuat kita justru semakin dekat dengan yang dibenci) ?"

"Iya sih..."

"Ya udah, lepasin dong...!"

Aku melangkah mendekat ke pintu tapi tak segera keluar, melainkan membuka gerendel yang menahan empat segmen pintu di bagian atas dan bawah, lalu kubuka lebar-lebar ke empat segmen pintu itu. Begitu pintu terbuka penuh, tampaknya laki-laki yang sekilas kulihat masih duduk di depan pintu kini sudah berdiri penuh pula.

Rupanya lelaki fans Restu ini bukan wajah baru lagi buatku, sering aku melihatnya saat berpapasan di jalanan kampus. Namanyapun sudah kukenal, dialah yang kukhawatirkan saat dulu menyepakati ide Restu yang dia namakan "puasa asmara" itu. Mahasiswa yang sekampus dengan Restu tapi beda jurusan ini pula yang kutitipkan ke Edi  agar diawasi.

"Eri kan ?!" sapaku sambil menunjuk dadanya.

"Eh, iya...", jawabnya terkejut, kami belum pernah berkenalan sebelumnya.

Kuulurkan jabat tanganku dan langsung disambutnya dengan sopan. Posisi kami kini sejajar di luar ruangan. Sekali-kalinya bertemu, kesan yang kutangkap dia ini lumayan sopan. Senyum dan gerak setengah membungkukkan badannya bahkan sudah seperti orang Jawa, padahal kabarnya dia asli dari Sumatra bagian utara, beda sekali dengan gaya-gaya Yuna ataupun Ano.

"Kenapa nggak masuk aja dari tadi Er...?" tanyaku berbasa-basi akhirnya, batal beraksyen tegas.

"Hehe...", jawabannya hanya tawa ringan yang sopan.

"Silahkan masuk !" kataku mempersilahkan, lalu kualihkan pandangan ke arah Restu yang masih duduk di dalam.

Bangkit berdiri Restu akhirnya melihatku melotot padanya, tapi tampak canggung. Kualihkan lagi pandanganku ke arah jam dinding bermaksud memberi kode ke Restu. Tanggap dia, ditolehkan kepalanya dan ikutan melihat jam dinding.

"Kamu selesaikan aja dulu urusannya...", kata Eri.

"Hahaha..., kalau kamu bilang urusan, aku cuman minjem ini lho !" jelasku.

"Sudah ?"

"Ya kalau urusan sudah dari tadi selesainya. Kamu urusannya ngembaliin buku udah juga kan tadi ?" tanyaku kali ini tetap berbasa-basi dengan senyuman tapi tatapan mataku kupertegas, kayak bos mafia kalau lagi menggertak di film-film.

"Hehe...", jawab Eri lagi-lagi dengan tawa ringan dan gestur sopan.

Coba, tingkahnya yang begitu sopan itu  mana mungkin bisa memancing kemarahanku ? Bahkan andai dia mahasiswa baru sekalipun. Akhirnya langkah tegas kuambil, berpamitan dengan Restu dan memberinya kesempatan bertamu yang tinggal setengah jam. Tapi diam-diam aku salut dengannya, hampir dua jam total waktunya bersabar menunggu jika kuhitung-hitung.

Di kemudian hari, dialah orang yang kumaksudkan di Part 1, suami resminya Restu. Dan pertanyaan Restu soal takdir tadi, belakangan hari baru kusadari kalau mengarahnya ke hubungan mereka berdua, setelah kudapatkan kabar menikahnya dari seorang kawan baik yang bekerja di Semarang.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
Continue to Part 29
Diubah oleh wowonwae
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
07-05-2019 17:42
Part 29Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Restoe Boemi

Baru separuh dari total seluruh barang yang berhasil diturunkan dari kontainer truk, tapi mereka berdua kulihat sudah kelelahan, maka kusarankan agar istirahat sejenak , lalu kuberikan selembar duit 120 ribu ke Mas NCip dan kunci motor. Dia udah paham kalau maksudku minta tolong dibelikan makanan dan minuman buat semua yang masih berada di kompleks pergudangan sini, baik yang memang sedang lembur ataupun yang masih asyik internetan, belum mau pulang.

"Sampeyan (Anda) nitip e opo' o (nitipnya apa) Pak ?" tanya Mas Ncip dengan logat Maduranya setelah terima duit dan kunci motor.

"Kopi wae (aja) aku Mas, bungkuske loro (dua) ya...?!" jawabku.

Seperti biasa, Mas Ncip nggak njawab apa-apa kalau disuruh, semacem "siap" atawa "oke" gitu nggak pernah terucap dari mulutnya. Jawabannya kalau disuruh cuma meringis lebar lanjut balik badan ngerjain perintah, selama perintahnya jelas. Kalau perintahnya kurang jelas, dia minta diterangkan dulu maksud perintahnya sampai paham, baru beraksi.

Seperti ini tadi, karena perintahnya gampang, ya langsung aja balik kanan ambil motor. Ngajak si Tikno, lalu segera melaju keluar kompleks pergudangan menuju jalan raya. Nggak pakai baju mereka berdua bawa motor itu, kaosnya ditinggal tergantung di pintu gudang. Maklum, keringatnya masih deras bercucuran setelah separuh barang dalam kontainer truk dikeluarkannya dengan kompak berdua.

Aku sendiri lanjut melangkah masuk lagi ke dalam kantor yang tak begitu luas, hanya seukuran kamar kost sewaktu masih kuliah dulu. Tapi ruang gudang di samping kantor yang juga jadi wilayah kekuasaanku sebagai HOW (Head of Warehouse) sangatlah luas, 25 x 40 meter persegi. Isinya tumpukan berkarton-karton produk industri dalam berbagai bentuk. Mulai produk konsumsi hingga peralatan rumah tangga yang semuanya berlisensi SNI. Kuatur rapi sesuai SOP (Standard Operating Procedure) perusahaan, terkelompok - berderet dan bersusun. Ragam jenis produknya saja kalau dihitung ada 600 item, masing-masing item jumlah stok berbeda-beda tergantung banyak-sedikit market demand.

Lanjut kuteliti invoice dan surat jalan yang dibawa si sopir truk yang baru masuk kompleks jam 7 malam tadi. Blackberry Message dari si boss udah "klunthang--klunthing" dari tadi nanyain hasil checking beserta foto-foto barang yang baru datang. Begini ini aktivitas kerjaan tetapku di sebuah perusahaan distributor besar untuk distrik area Jember - Banyuwangi. Jadi skill komputerkulah yang sebetulnya dibutuhkan oleh perusahaan, sedang semua wawasan ilmu pengetahuan yang kudapat di bangku kuliah, tak banyak terpakai. Pengalaman berorganisasi justru yang dominan bermanfaat buat kerja di sini, bagaimana aku harus lihai mengkoordinir kerja petugas gudang dan 8 armada pengiriman biar kompak dan semangat.

"Kriiiing...kriiiing...kriiiing...!" bunyi ringtone blackberry yang kusetting pilih mode dering pesawat telepon antik jaman doeloe.

"Malem boss...! Ada yang bisa dibantu ?" kujawab telepon setelah kulihat gambar si boss bergerak naik-turun di screen bb dan kusentuh tombol terima.

"Malam Pak Tri, gimana ? Udah turun semua barangnya ?" tanya si boss, menyebutku biasa dengan panggilan Pak Tri. Tak seorangpun di sini yang tau kalau panggilan kecilku adalah Aik.

"Baru separuh boss, sabar dikitlah..., anak-anak masih pada kecapean itu. Biar istirahat bentar lah...!"

"Nggak masalah selesainya mau kapan Pak, ada info dari orang dalem barusan kalau ada 40an karton jatah retur diikutin di situ. You telititi baik-baik ED (Expired Date) nya ! Suruh bawa balik sopirnya !"

"Wokeh, siyap bos !"

Beginilah di bagian gudang, rawan kecurangan, meski teliti betul kalau gak pengin kena potong gaji. Sejak awal ditempatkan sini, kulihat personel tim kerja di distrik area sini sudah professional, aku tak meragukannya. Belum pernah terjadi kesalahan ampe sekarang ini. Kuakui, orang Jember kinerjanya luar biasa dibanding distrik lain, kalau belum selesai betul kerjaannya suka gak mau pulang, nggak tenang katanya. Meskipun tak dihitung kerja lembur. Mungkin itu juga yang jadi alasan BI (Bank Indonesia) bikin salah satu cabangnya di sini, pikirku.

"Sama nanti you siap-siap buat besok ikut meeting ke Banyuwangi !"

"Lha kok, rubah jadwalnya boss ?!"

"Besok kita ketemuan sama owner-nya langsung, bukan manajernya, mumpung lagi di sini. Kita meski cepet-cepet sebelum dia balik lagi ke Bali !"

"Oh gitu ? Okelah ! Trus saya naik apa boss ?"

"Haiyah ! Jangan manja ! Ngikut aja armada yang kirim ke sana seperti biasa, ntar I samperin !"

"Uang sakunya boss ? Kan belum jadwal dianggarin...?!"

"Alaaahhh ! Gampang itu, besok dipikirin di Banyuwangi".

"Okelah kalau begitu !"

"Yes, oke, see ya tomorrow !" pamit si Boss langsung dimatiin teleponnya sebelum sempat kubalas.

Begitulah lagaknya, sok kebarat-baratan, padahal sekolahnya cuma nyampe SMP. Dia menang di pengalaman, terkenalnya di sini anak emasnya si boss besar, CEO perusahaan. Kerjaannya bolak-balik terbang Surabaya - Bali untuk urusan loby sama investor, makanya bahasa Inggrisnya lancar. Salut juga kalau denger ceritanya, belajarnya otodidak, gak pernah ikutan kursus.

Kami lanjutkan lembur pekerjaan sesuai tupoksi masing-masing malam ini, jam 11 malam baru total kelar semuanya. Sopir truk segera menutup pintu kontainer lalu ambil surat jalan yang telah kukoreksi dan kutandatangani lengkap dengan stempel perusahaan. Mas Ncip tampak menutup pintu gerbang ruang gudang dan menguncinya, lalu menyerahkan ke Kang Yayat, satpam jaga shift malam ini.

Truk kontainer panjang itu lalu sebentar kemudian melaju pelan di komando Kang Yayat dengan semangat '45 nya. Biasa, habis dapat cuan (uang tips) dia dari si sopir. Mas Ncip dan Tikno menyusul di belakangnya, boncengan sama Tikno yang masih tetep gak mau pakai kaosnya, disampirin di pundak kanan. Kuseruput kopi terakhir lalu kututup satu-persatu semua jendela aplikasi komputer di meja kerja, sampai yang terakhir jendela facebook kuhentikan niatku karena kulihat ada pemberitahuan inbox.

Satu pesan dari kawan baik di Semarang, alumni seangkatan kuliah dulu yang dapet suami satu daerah denganku. Daerah yang dijuluki Ahmad Dhani sebagai "kota seribu paranormal". Isi pesannya ngasih tanya kabar sama ngasih tau akun fb Restu yang baru. Di main page juga tampak nge-share foto Restu bersama anak perempuannya yang kira-kira berumur 5 tahunan.

"Waduh ! Ngapain juga nih anak kurang kerjaan...", gumamku pelan.

Aku senyum-senyum aja memperhatikan gambar di layar monitor itu, Restu kini udah emak-emak, pakai kerudung putih seputih deretan gigi yang menghiasi senyumnya. Yang kemudian ada di pikiranku adalah keheranan, ini mantan udah bertahun-tahun gak pernah ketemu, lha kok masih ngikut aja kabarnya keliling Jawa, dari Jawa Barat nyampe ke Jawa Timur. Sudah lupa jadi keinget lagi, lupa - keingetan lagi, begitu berkali-kali. Ada apakah gerangan ?

"Pak Tri masih sibuk aja...?!" tanya Kang Yayat mengejutkanku.

"Nggak Kang udah selesai kok..., yang lain udah pada pulang semua ?"

"Sudah".

"Yang di Principal ?"

"Pak Helly? Wah udah dari tadi pak nganterin SPG (Sales Promotion Girls) nya pulang."

"Cakep-cakep SPG nya Kang ?"

"Hot ! Hahaha...!" jawabnya sambil mengacungkan dua jempol.

Aku tersenyum aja ngeliatnya over kegirangan, paling tadi kenyang nggodain SPG. Ya begini ini kondisi di tempat kerjaku yang baru, namanya juga perusahaan distributor, seharian konsentrasi kita seputar stok barang, harga dan even-even promo yang selalu melibatkan SPG. Mereka akan jadi hiburan tersendiri bagi karyawan cowok di kompleks ini, hampir tiap hari.

"Dapat cuan berapa tadi kamu Kang ?"

"Hehe..., lumayan Pak Tri, 50 ribu !" jawabnya sambil mengeluarkan selembar duit dari saku seragam satpamnya dan memakerkannya.

"Tapi, dibagi tiga ini sama Ncip dan Tikno", lanjutnya.

"Ya udah, nih tak tambahin ! Tulung dibeliin kopi sama rokok !" kataku lanjut ngeluarin dompet lalu mengambil selembar 20 ribuan dan memberikan padanya.

"Siap Pak Tri !  Lhah, Bapak nggak pulang?"

"Weh, ngusir nih ?!"

"Ya bukan gitu Pak...hehe..."

"Mene (besok) aku nong (ke) Mbanyuwangi, diajak si Bos. Dadi gak enek gawean isuk ( jadi gak ada kerjaan pagi), takkancani jogo (taktemenin jaga) gudang kon (kamu) mbengi iki (malam ini)", jawabku pake logat daerah sini.

"Wah, siyap pak !" kata Kang Yayat girang sambil hormat gaya militer.

"Laksanakan !" kataku sambil membalas hormatnya.

Lantas kami tertawa bareng seperti biasa kalau habis bercanda model begitu. Kang Yayat segera beranjak jalan kaki menuju warung 24 jam yang letaknya tak jauh dari kompleks pergudangan ini. Nggak kutawari naik motor karena dia gak bisa naik motor, malah istrinya yang mahir pakai motor. Jadi Kang Yayat ini sering sampai ke sininya justru dianter sama istrinya diboncengin motor.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Jadi teringat lagi deh kenangan saat Restu maksa-maksa mboncengin pake motornya yang baru dibawa ke lokasi kost untuk mengantisipasi padat kesibukan di akhir semester ini dan berikutnya. Dia sungkan kalau sampai merepotkanku yang kebetulan sama-sama sibuk, sesuai paket kurikulum di jurusan kami masing-masing. Setelah naik membonceng di belakangnya, aku jadi canggung rasanya.

"Ntar, ntar....! Terus aku pegangan apa nih Res ?" godaku sebelum dia tarik gas.

"Pokoknya jangan pegang pinggang !" jawabnya.

"Kalau pegang perut ?"

"Iiii...iih ! Nggak boleh ! Pokoknya nggak boleh di titik-titik sensitif !"

"Ya udah, pegang pundak aja deh...!" kataku lalu memegang pundaknya dan kupijit-pijit pelan.

"Aaa...aaah...! Geliii..., nggak mau !" jeritnya tiba-tiba, membuatku kaget dan segera melepaskannya sambil tolah-toleh kiri kanan.

Tampak beberapa penduduk kampung yang memperhatikan kami dari kejauhan, suara teriakan Restu terlalu kenceng, aku yang akhirnya  dibikin malu.

"Hush ! Jangan teriak-teriak gitu dong...!" seruku pelan.

"Hahaha..., habis..., geli Mas...!"

"Udah, tarik gas Mbakyu !" kataku sambil pegangan behel samping kiri-kanan jok motor bebeknya.

Tertawa lagi dia denger kupanggil "Mbakyu", panggilan untuk senior cewek di organisasi Pe-A jurusanku. Motor akhirnya melaju membawa kita berdua hingga ke jalan utama menuju kampus.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Kang Yayat yang sedari tadi melihatku senyum-senyum sendiri mengamati gambar di layar monitor akhirnya penasaran lalu kursinya dipindahkan dan ikutan duduk di sampingku.

"Siapa tuh Pak ?"

"Hihihi..., mbuh iki (nggak tau nih) Kang, ngikutin aja dari Jakarta ampe ke Jember...!"

"Maksudnya nyusul ke sini Pak ?"

"Bukan Kang, kabar beritanya aja yang ngikutin".

"Janda ya Pak ?"

"Hish ! Ngawur, ada suaminya tuh...!" jawabku lanjut kubukakan gallery foto utama pada akun fb Restu, lalu kutunjukkan foto yang ada sang suami bersamanya.

"Kok cuma sedikit fotonya Pak ?"

Kujawab dengan mengangkat kedua bahuku.

"Eh, Kang Yayat bisa pakai komputer kan kulihat kemarin ?"

"Hehe..., cuma facebook an aja Pak bisanya...

"Ya udah sini, tukeran...!" jawabku lanjut bangkit berdiri, bertukar tempat duduk dengan Kang Yayat.

Karena banyak nanya, akhirnya kubagikan saja kisah masa laluku itu dalam obrolan di sela-sela Kang Yayat buka-buka fb, bersama segelas kopi, dua bungkus rokok mild dan nasi jagung khas Jember yang dibelinya tadi. Tak banyak kubagi kisah yang kukenang, sebab niatku sebetulnya lebih buat mancing dia aja biar gantian cerita tentang kisah asmaranya yang denger-denger dari karyawan lain cukup unik. Dan usahaku berhasil, akhirnya Kang Yayat tuturkan kisah-kisah asmaranya yang menarik. Tak kusangka, nggak cuma satu-dua kisah, dia ini dulunya seorang petualang lokal dengan banyak kekasih, seru juga ndengerinnya. Rupanya pandai mendongeng dia ini, seperti seorang dalang yang membawakan lakon wayang hingga subuh menjelang.

"Pak Tri kenapa belum menikah juga ?" tanyanya setelah tuntas ceritanya.

Di luar terdengar suara puji-pujian di beberapa masjid tampak sudah mengalun. Kukecilkan volume mp3 player di komputer yang dari tadi memutar lagu-lagu osing banyuwangian.

"Mbuh (nggak tau) Kang..., belum ada yang ngeklik dari Jawa Barat ampe Jawa Timur sekarang ini...", jawabku sambil memijit-mijit belakang leherku sendiri. Gerak refleks tiap kali ada "pertanyaan wajib" seperti itu.

"Lha ini, temen-temen fb nya Pak Tri banyak yang cakep lho !"

"Hahaha..., kok sing nong (kok yang di) dunia maya, lha saben dino nong kene (lha tiap hari di sini) SPG ne (nya) rak yo ayu-ayu tah Kang (kan ya cantik-cantik)....?"

"Iya udah, dicobain aja Pak satu-satu !"

"Hahaha..., dicobain apanya Kang ?"

"Ya maksudnya, dipacarin gitu..., saling mempelajari dulu..."

"Ah, males pacaran aku wis (sudah) Kang !"

"Eh, bentar-bentar Pak...!" katanya lanjut memainkan mouse pad dengan masih agak kaku.

Dikliknya perintah kembali ke tampilan sebelumnya hingga akun Restu lagi lalu berhenti. Dibacanya nama profil lagi dengan teliti. Aku sendiri penasaran apa maksud Kang Yayat.

"Kawan Bapak yang kabarnya selalu ngikutin ini namanya Restu ya ?" tanyanya kemudian.

Aku mengangguk sekali ditanggapinya dengan mengangguk berkali-kali alias manggut-manggut.

"Opo'o (apa maksudmu) Kang ?"

"Ini ma'af-ma'af sebelumnya ya..., Bapak boleh percaya boleh tidak..." kata Kang Yayat merendah, gaya khas orang sini jika sudah menyangkut keyakinan masing-masing, bikin aku makin penasaran.

"Ada mitos ???" tanggapku segera, mengingat di distrik area sini denger-denger kaya sekali dengan mitos, terutama yang Banyuwangi.

"Mungkin perlambang itu Pak Tri...".

"Lambang opo' o...?"

"Pak Tri diperjalankan dari Jawa Barat hingga Jawa Timur itu mungkin untuk meminta "restu" leluhur bumi Jawa. Pak Tri mungkin di kehidupan sebelumnya banyak melakukan pengrusakan di bumi Jawa...", jelas Kang Yayat panjang lebar dan bikin aku tertegun.

"Wah, wah, wah...boleh juga nih Kang Yayat ! Ada lagunya tuh..."

"Hehehe...Ma'af ma'af lho Pak..hehe...", katanya dengan menelangkupkan kedua telapak tangan di dadanya.

"Eh, iya nggak papa Kang. Maksudku pendapat Kang Yayat bisa jadi bener, siapa tau ?!"

"Jangan diambil hati lho pak...hehe..."

"Daripada diambil hati mending diambil buat ide tulisan sticker truk Kang, gimana ?"

"Maksudnya ? Mau dipesenin sticker Pak ?"

"Iya, keponakanmu katanya bisnis cutting sticker kan ?! Pesenin buat delapan truk armada kita, tulisannya " R-E-S-T-O-E  B-O-E-M-I, tempelin di bawah tulisan : District Area Jember-Banyuwangi !" suruhku.

"Hehehe..., bagus Pak !"

"Iya udah, sms atau telepon keponakanmu Kang. Aku tak pulang dulu, nanti balik ke sini jam-jam 10 an sesuai jadwal armada yang ke banyuwangi. Stikernya kalau bisa udah nempel, bisa nggak ?"

"Siyyap pak !" kata Kang Yayat girang sambil hormat gaya militer.

"Laksanakan !" kataku sambil membalas hormatnya.

Lantas kami tertawa bareng seperti biasa kalau habis bercanda model begitu. Kutinggalkan Kang Yayat yang berpatroli keliling sendirian, menyelesaikan sisa jam kerjanya yang tinggal beberapa saat sebelum pergantian shift petugas jaga.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah kontrakan, sembari kurenungkan pendapat Kang Yayat yang agak condong ke teori reinkarnasi itu. Otak-atik logika asyik berputar-putar di otakku, kutambah sekalian dengan memutar lagu favoritku sewaktu SMA dan mendengarkannya melalui earphone yang terhubung ke blackberry di kantong jaket. Sengaja kusempatkan browsing lagu di mbah Google dulu tadi, sebelum beranjak dari masjid.



Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
Continue to Part30
profile-picture
profile-picture
kuahsayur dan pulaukapok memberi reputasi
2 0
2
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
07-05-2019 18:37
lanjoetkan bang karni


0 0
0
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
08-05-2019 12:38
Part 30
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Laku Dewa Ruci si Lucky Luke

Kupandangi patung di tengah taman di depan kamar hotel itu agak lama, diantara beberapa patung mulai yang di depan gerbang depan, inilah yang paling berkesan. Patung tokoh pewayangan Bima yang berdiri dengan gagahnya memegang kepala ular, tangan kirinya menahan rahang atas sedang yang kanan menahan rahang bawah. Sementara badan hingga ekor si ular melilit tubuhnya dari kaki hingga dada. Aksyen Bima seperti ini sangat familier bagiku sedari kecil, menggambarkan adegan perkelahian Bima dengan seekor ular dalam lakon pewayangan berjudul Dewa Ruci.

Kubilang paling berkesan karena selalu mengingatkanku pada nasehat-nasehat Bapak kala masih kuliah dulu. Menuntutku untuk bersikap tegas ambil keputusan mengakhiri hubunganku dengan Restu.

"Elingono lakon ndewo rucine Bimo (ingatlah perjalanan Bima dalam lakon Dewa Rucinya) !" kata Bapak dulu.

"Sing pundi (yang mana) Pak ?" tanyaku berpura-pura tak mengerti.

"Dalam menuntut ilmu, kamu harus patuh pada guru. Selain itu, kamu harus bisa melawan dirimu sendiri dari keinginan-keinginan yang melenakanmu dari fokus belajar. Ular yang diperangi Bima hingga akhirnya tahkluk dan berubah jadi kalung yang melingkar di lehernya itu adalah lambang godaan dari dalam dirimu sendiri, yang sering menuntunmu menuruti kesenangan-kesenangan yang melencengkanmu dari fokus belajar".

"Contohnya Pak ?"

"Ya termasuk kerja sampinganmu itu, ndak perlu itu ! Kamu kalau sudah kenal uang, lama-lama bakalan malas belajar".

"Nggak kok, asal bisa mbagi waktu ndak masalah ! Buktinya di transkrip nilai bisa bisa dapet nilai A", protesku.

"Iya ada yang A, tapi ada CD dan D juga. Terus yang E dulu itu sudah kamu ulang ?!"

"Ya, kalau itu kan sampun takjelaske (sudah takjelasin) dulu karena faktor dosen pengajarnya yang terlalu killer (istilah buat buat dosen yang takkenal kompromi) Pak..."

"Nah, itu ! Jangan membenci guru, apalagi melawan ! Bima itu patuh dan tunduk sama gurunya, Resi Drona, tak pernah banyak protes dan tanya, padahal sesungguhnya gurunya itu mencoba membuat Bima terbunuh dengan tugas-tugas yang diberikan..."

"Iya iya sudah hapal ceritanya Pak, tapi sekarang kan jaman keterbukaan, demokrasi dijunjung tinggi. Orde baru sudah runtuh ! Mahasiswa sekarang boleh kasih penilaian atas kinerja dosen yang kurang berkualitas", jelasku.

"Ojo nang (jangan nak) ! Ndak usah ikut-ikutan ! Percayalah, pegang teguh ajaran leluhurmu !" jawab Bapak bersikukuh.

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala kalau sudah dibenturkan ajaran leluhur begitu, mau dihantam argumen bagaimanapun gak bakalan mempan.

"Kalau pacaran Pak ?" godaku, sudah bisa kutebak jawabannya.

"Apa lagi itu ! Ular yang dilawan Bima itu ular betina, sangat dekat untuk ditafsirkan sebagai godaan wanita."

"Ah, darimana taunya kalau itu ular betina Pak ?" protesku menggoda, biar tak terlalu tegang.

"Sabar nang, kalau sudah selesai kuliah dan sudah kerja, soal gampang itu nanti..."

Nah kalau nasehat yang terakhir ini jelas tak akan kuprotes, pasalnya selama sekolah dulu beliau memang takpernah berurusan dengan asmara. Om Harun, kawan sekolah sekaligus rekan kerjanya yang sering menceritakan padaku tentang masa mudanya, tak bercacat sedikitpun. Dapetnya nyokap juga pas udah kerja, itupun kisahnya tanpa pacaran - langsung menikah.

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Sewaktu kuceritakan nasehat bokap ini ke Restu, aura keibuannya mendadak terpancar dengan jelas. Bahkan tampak lebih keibuan dia daripada tampang kebapakanku yang sudah terkenal. Malah dia tambahkan dengan pemikiran bijak yang dipegang jadi prinsipnya.

"Kalau dipikir-pikir kita ini memang masih jauh dari dewasa Mas. Kita masih sering tak bisa menahan diri dari gejolak keinginan yang menggebu. Padahal dewasa itu adalah ketika kita bisa menerima kenyataan, mengalami keadaan yang tidak kita inginkan", katanya panjang lebar, aku sampai takjub memandangnya waktu itu.

Sadar kalau kuperhatikan dengan tatapan serius begitu, buru-buru ditutupnya wajahku dengan telapak tangannya. Dia pikir aku sedang menggodanya.

"Aaa...aah, jangan gitu-gitu amat dong...!" serunya dengan nada khasnya kalau sedang malu.

"Eh, beneran lho Res ini... Aku takjub tadi melihatmu !"

"Halah ! Bo'ong ah...!" katanya masih takpercaya, raut keibuannya kembali memudar.

"Jadi gimana Res ? Kita sahabatan aja mulai sekarang ?!"

Restu tak segera menjawab, tawanya mereda tinggal tersisa senyum dikulum. Rona keibuannya kembali memancar, tapi aku was-was kalau berubah jadi kesedihan.

"Res...!" kataku lembut, kurapatkan lagi dudukku yang sedari tadi sengaja kujaga jarak.

Tiba-tiba kedua telapak tangannya ditutupkan ke wajah, membuatku merasa bersalah. Waduh ! Gawat nih kalau sampai nangis..., gumamku dalam hati. Kuraih lengannya, tapi begitu terpegang, ternyata buru-buru dilepasnya telangkup telapak tangan yang menutup wajahnya. Tersenyum simpul dia sambil menatapku, tak ada tanda matanya berkaca-kaca. Legalah aku akhirnya.

"Ma'af ya...", ucapku lembut.

"Jangan khawatir Mas, aku bisa menguasai diri sekarang. Nggak tau kalau nanti...", jawabnya.

Mendengar jawabannya, malah mataku yang kini berkaca-kaca tanpa kusadari. Restu menatapku dengan pandangan heran.

"Lha kok malah gantian kamu yang cengeng....!"

"Eh, enggak..., aduh...!" kataku salah tingkah sambil mengucek-ucek mataku.

"Kelilipan nih...!" lanjutku bercanda.

"Hahaha....!", tawa Restu tak kuduga, kuikuti juga dengan derai tawa.

Hingga kemudian tawa kami mereda, berlanjut kemudian dengan saling diam lama sekali. Duduk kami merenggang lagi, masih sejajar, tapi pandangan kami kosong menatap ke depan. Masing-masing kami mencoba menguasai diri, melawan gejolak kesedihan dalam hati. Ruang tamu kost Restu dengan dua bangku panjang, jam dinding, anak tangga dan pintunya yang bersegmen adalah saksi bisu jika masih seperti sediakala, belum direnovasi.

Sejak malam itu, hubungan kami berubah tak lebih dari sekedar sahabat. Berakhir baik-baik seperti yang kuharapkan, saling tegur sapa seperti sedia kala jika berpapasan, tentu dengan senyum-pandang yang menyimpan sejarah. Beberapa kali aku masih main ke kostnya sekedar bertukar pikiran atau karena dimintanya saat butuh kawan curhat atas kelakuan para fans nya. Saling telepon atau sms kadang-kadang masih berlangsung, setelah aku terpaksa pindah kost lagi karena kesulitan buat melupakannya. Hingga akhirnya lenyap sama sekali hubungan kami, terlelap dengan kesibukan-kesibukan studi sampai lulus dan sesudahnya. Menguap begitu saja !

Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

"Pak Tri, mau ngikut keluar nggak ?" tanya Pak Nana, Supervisor Marketing yang turut serta diajak si boss ke Banyuwangi.

Buyar lamunanku, semua memori kembali tersimpan rapat di folder otak. Kali ini kutolak ajakan Pak Nana tak seperti biasanya, kusampaikan alasan sekenanya. Jari-jariku rasanya gatal pengin ngetik, menambahkan catatan harian di blog pribadi atau sekedar mengetik status di fb. Seperginya Pak Nana bersama satu rekan divisi markertingnya, kukeluarkan laptop dari tas dan mulai berselancar aku di jaringan internet dengan bantuan modem.

Quote:
Wejangan Bapak tentang laku dewa ruci Sang Bima itu masih kuingat, tapi sepertinya terlalu sempit jika hanya dimaksudkan untuk masa-masa menempuh jalur pendidikan saja. Di dunia kerja, bahkan si ular berevolusi dengan wujud lebih mengerikan. Kepalanya tak hanya satu, bercabang banyak dan semuanya berbisa mematikan. Jika dulu si ular itu Bapak bilang betina, di sini lambang ular itu malah berkepala pria berkumis lebat, banyak terpampang sebagai patung atau sekedar desain grafis.

Jika bukan restu yang mengiringiku, tentulah sudah remuk tubuhku ini tercabik-cabik oleh taringnya atau ditelannya mentah-mentah. Terimakasih atas restu Bapak dan Ibu yang selalu mengiringi perjalananku mencari banyu panguripan (air kehidupan) di negeri-negeri antah berantah, dari ujung kulon (barat) hingga ujung wetan (timur).

Wahai restu, tersenyumlah. Lihatlah diriku yang tak sedikitpun ada luka membekas.

Telah kupintakan pula ampunan Sang Hyang atas kisah yang pernah kita lalui bersama dalam keterbatasan pengetahuan tentang batas-batas murka-Nya. Di atas sajadah panjang tadi telah kupintakan pula perjumpaan, walau hanya dalam dimensi batin, sebab dimensi ruang dan waktu telah lama menghilang dari hadapan kita. Jalanilah takdirmu bersama mereka yang kau sayangi, dan biarkan kujalani takdirku sebagaimana si Lucky Luke yang menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri itu. Akan kulanjutkan pengembaraan dalam kekosongan hati ini hingga ada yang kembali mengisi, setelah hanya dirimu seorang tuk yang terakhir kali.

Banyuwangi, 25 Oktober 2010


Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
End with Epilog
profile-picture
profile-picture
kuahsayur dan pulaukapok memberi reputasi
2 0
2
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
08-05-2019 12:58
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Epilog

Ibu masih terlelap saat kuambil air untuk membasuh wajah, tangan dan kakiku. Suara puji-pujian di masjid yang khas itu selalu mengingatkanku pada bulan-bulan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Tak terasa, sudah delapan tahun kulewati bulan suci di tempat kelahiranku sendiri, di Pati, kota seribu paranormal versi Ahmad Dhani. Sebelumnya, bulan suci ini kuperingati di berbagai tempat yang masih di seputaran kawasan Pulau Jawa, hingga terbentur kondisi yang mengharuskanku pulang dan menghentikan petualangan. Tak pernah kusangka kalau akhirnya pulang kembali ke rumah, bahkan sejujurnya tak pernah kuharapkan.

Lega rasanya setelah akhirnya bisa menuntaskan cerpen ini meskipun molor dari jadwal. Harapanku sih sebelum puasa sudah terselesaikan biar bisa beribadah dengan tenang. Apa boleh buat jika mood menulis mendadak "mbolos" selama berhari-hari. TS sampaikan terimakasih kepada agan-aganwati yang setia mengikuti penulisan karya sederhana yang jauh dari sempurna ini hingga bisa naik HT. Dan ijinlah TS lalui sebulan ke depan dalam tenang.

Quote:Special Thanks to :

♡ Sang Pengasih dan Penyayang yang  berkenan meminjamkan waktu dan kesehatan bagi TS hingga terselesaikannya cerpen yang boleh dibilang sebagai "pengakuan dosa tertulis" ini.

♡ Kaskus atas wahana penyaluran hobby menulis. emoticon-I Love Kaskus

♡ Restu, atas segala pengalaman bersama yang menjadi inspirasi penulisan. emoticon-Maaf Agan

♡ Suami Restu, atas ijinnya. Peace bro, hidup tak lebih dari sekedar permainan dan senda-gurau belaka. emoticon-Salaman

♡ Almarhum Bapak, atas wejangan-wejangannya. emoticon-Nyepi

♡ Yuna, atas segala pengalaman yang menjadi inspirasi, motivasi dan kritiknya. emoticon-Menang

♡ Arviansih, atas motivasi dan supportnya. emoticon-Gotta catch 'em all!

♡ Semua kawan alumni kuliah yang tak bisa TS sebutkan satu persatu.

♡ Kawan baik di Semarang, atas informasinya tentang Restu. emoticon-Shakehand2

♡ Indah adikku atas ngetawain aktivitas nulis cerpennya. emoticon-Blue Guy Bata (L)

♡ Facebook, atas penyimpanan foto-foto kita semua.



Kuucap sekali salam sambil kutolehkan kepalaku ke kanan, lanjut sekali lagi salam sambil kutolehkan kepalaku ke kiri. Belum genap kembali kepala ini mengarah lurus lagi ke depan, kudengar suara samar-samar di belakangku. Kuputar sekalian badanku untuk memastikan suara apa gerangan itu. Tapi rupanya taknampak apapun walau telah kuperhatikan dengan seksama.

Yang mencuat kemudian malah bayangan Restu kembali, seolah berada di belakangku dalam balutan mukenanya. Seperti waktu dulu, di sebuah musholla kecil di tengah perkampungan kumuh dekat wartel tempatku kerja part time. Musholla yang punya sumur keramat di sampingnya, yang tak pernah kering dengan airnya yang jernih dan segar hingga sering diambilin orang kampung sekitar, kata mereka air sumurnya pada keruh tercemar.

Quote:Rupanya kau masih mengikuti Res ? Tak kau restuikah jikalau ada yang menggantikanmu duduk di posisi itu ?

Pati, 8 Maret 2019




Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
The End
Diubah oleh wowonwae
profile-picture
profile-picture
kuahsayur dan pulaukapok memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
08-05-2019 13:04
Quote:Original Posted By temanbaik19
emoticon-Ngacir2


Quote:Original Posted By sandyarkie
sembari menunggu part 27 , izinkan sekiranya hamba untuk menggelar tikar dan menyiapkan cemilan serta kopi hitam yg dibeli di angkringan sebeh.



Quote:Original Posted By sandyarkie
wah apdetannya makin seru nih , ikutan bikin tenda ahhhh........



Quote:Original Posted By sandyarkie
lanjoetkan bang karni




emoticon-Nyepiemoticon-Imlekemoticon-Maaf Agan
profile-picture
sandyarkie memberi reputasi
1 0
1
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
08-05-2019 14:44
Sing sabar yo boss .......




Btw ente dateng nggak waktu restu merit?
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
08-05-2019 16:09
baru kelar maraton nih gan. asik juga ceritanya. tuh nama mantan pacar di jadiin nama truk? emoticon-Wow
Lanjut lagi gan. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
08-05-2019 17:39
Iki wes tamat kang?
Tak kiro akhire sampean bakal nikah karo restu, tibakno ga nikah
Eh, durung ding..
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
22-09-2020 11:07
Di tunggu alur crita berikutnya gans
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scarlot dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
27-11-2020 23:54
Gelar tiker dulu
0 0
0
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
28-11-2020 09:42
Apik ceritane lur.. pati ne endi?
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 3 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
air-mata-sang-kupu-kupu-malam
Stories from the Heart
terulang-kembali
Stories from the Heart
urban-legend-pantai-trisik-1990
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
apakah-ini-cinta
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia