Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
8735
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3bf826af7e930dd41807cf/catatan-yang-terbuka
Cerita soal kegagalan. Bagi orang-orang di sekitar gw ga pernah tahu apa saja kegagalan yang sudah gw buat. Mereka melihat hidup gw serba indah. Tidak salah, karena itulah yang selalu gw tampilkan.
Lapor Hansip
14-01-2019 09:47

Catatan Yang Terbuka

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Catatan Yang Terbuka

Quote:
Catatan "Yang" Terbuka. Apanya sih yang terbuka? Semua yang selama ini gw tutup rapat. Apa itu? Cerita soal kegagalan. Bagi orang-orang di sekitar gw, bahkan teman gw sekalipun, ga pernah tahu apa saja kegagalan yang sudah gw buat. Mereka melihat hidup gw serba indah. Tidak salah, karena itulah yang selalu gw tampilan.


Buat gw, kegagalan adalah tanggung jawab personal, bukan untuk dibebankan kepada orang lain. Biarkan mereka tahu yang indah indah saja soal gw. Problem, atau masalah, biar gw yang merasakannya. Itulah mengapa hidup gw terlihat indah. Percayalah, hidup ga ada yang seindah itu.

Namun, ada sebuah nilai yang bisa dipetik dari kegagalan-kegagalan yang gw rasakan. Saat keputusan gagal yang gw buat saat membeli tanah dari Pak Bams, akhirnya gw punya usaha baru. Otak mesum gw menangkap peluang untuk buka bengkel modifikasi bekerja sama dengan U**** adalah jawaban, atas kerugian finansial yang gw dapat dari membeli tanah mati itu.

Apakah Papa tahu tanah itu mati? Tahu, dan beliau membiarkan gw gagal! jahat? Tidak! Justru gw bersyukur! Awalnya jengkel, tapi setelah gw tahu maksud kenapa Papa tetap membiarkan gw gagal, kejengkelan gw berubah menjadi sujud sungkem terima kasih atas ilmu yang Papa ajarkan dalam diam.

Itulah salah satu kegagalan gw. Kegagalan, yang membuat Mama melarang gw untuk terjun di dunia yang ingin gw tekuni. Tapi, gw seperti terlahir untuk hidup dengan hal-hal yang menyerempet bahaya. Setelah gw bisa bangkit, gw memulai lagi. Itulah alasan, mengapa proyek di Gunungpati, gw sebut sebagai proyek perdana. Well, inilah kisah gw. Kisah yang tidak hanya indah, tapi juga mengenaskan. Kisah ketika Tuhan mulaimenyapa dan membuka mata hati ku, bahwa aku hanyalah seorang hamba!


-------------+++++++++++++----------------


Diana dan Vina masih terkapar di kasur yang ada di kosan gw. Sesuatu yang indah, sudah terjadi semalam. Membayangkan pun, rasa nya gw ga sanggup. Tapi Tuhan terlalu baik kepada gw. Hingga sesuatu yang jauh dari jangkauan gw pun bisa gw rasakan. Apa itu? Lu bebas mengimajinasikannya.

Quote:"Mba, mba, bangun. Sudah siang. Ga capek tha tidur terus." Ujar gw sambil terus menggoyangkan badan mereka berdua.

"Oahm. Jam berapa sih ndo? Masih malam kan ini?" Tanya Diana yang mulai bergeliat dari tidurnya.

"Sudah pagi mba. Kalau pacar ku ke sini, aku yang repot."

"Hehehe. Bagus dong, kita ajakin gabung aja sekalian."

"Duh. Jangan gitu dong mba." Ujar gw, lalu memanaskan air untuk membuat sesuatu yang hangat.

Gw biarkan mereka bangun, sambil sekali-kali melirik. Ternyata mereka benar-benar bangun, meskipun gw tahu itu terpaksa. Jam di kamar, masih menunjuk angka 05.15. Masih sangat pagi memang, tapi itu sama sekali ga membuat gw tenang. Lina terlalu sering datang sangat pagi ke sini.

Dua gelas, teh jahe hangat gw sajikan untuk mereka berdua. Untuk mengurangi cemas, yang mulai melanda, sebatang rokok pun gw hisap dalam-dalam. Diana nampak bereskan "arena perang" semalam. Sedangkan Vina, dia ke kamar mandi. Baguslah, paling ga, tanda-tanda mereka akan pulang dan berkemas sudah ada di depan mata.

Quote:"Ga mandi mba?" Tanya gw ke Vina.

"Ga lah ndo, nanti aja di kosan. Sebenarnya masih ngantuk, tapi demi kamu."

"Hehehee. Ya udah sih, teh nya diminum dulu biar segeran."

Diana pun bergabung dengan kita. Setelah tadi beres-beres, dia ke kamar mandi. Yah, sekedar cuci muka untuk menyegarkan diri saja, sama seperti yang Vina lakukan tadi. Obrolan pagi itu ga berlangsung lama. Yang memotong bukan gw, tapi Diana. Dia paham posisi gw yang sedang terjepit.

Beres-beres kamar adalah hal yang pertama gw lakukan pagi ini. Mengganti sprei lengkap dengan sarung bantal dan guling gw lakukan demi keamanan bersama. Ga lupa, wangi-wangian untuk menghilangkan bau dua cewe sexeh yang semalam nebeng tidur di sini, ga lupa gw lakukan. Yah mskipun Diana sudah membereskannya tadi, tapi gw rasa itu masih belum sempurna.

Quote:"Ayanxxx..." Sapaan yang nyaris membuat gw melompat. Untung saja, gw terlatih dibentak-bentak.

"Kamu Taaa, pagi-pagi dah ngagetin aja ih..." Ujar gw...

"Hayooo lagi mikirin apa???" Dia mendekat ke gw yang sedang merapikan sprei...

"Mikirin proposal, Mama dan semua..."

Kegagalan gw dulu memaksa gw untuk lebih selektif dan hati-hati, ga keras kepala dengan ga menerima uluran tangan dari Papa. Gw mengajukan proposal, dan Papa akan menjadi investor buat gw. Hubungan kita murni profesional, karena ada hitam di atas putih yang mengikat, beserta jaminan yang akan dilelang Papa, jika gw gagal bayar.

Jangan salah, mungkin kalau gw gagal orang pikir hidup gw akan enak. Toh masih ada Papa, bisa lah nebeng ke beliau. Lu salah! Gagal adalah mati buat gw! Gw sudah ambil sikap, jika emang ini gagal lagi, gw akan ke Papua! Entah kerja apa! Yang jelas, malu jika gw gagal dan masih di rumah.

Quote:"Hm. Makanya tho yanx, mending kamu tuh jujur aja sama semua. Biar beban mu itu ga terlalu berat." Lina selalu punya alasan untuk menentramkan hati gw.

"Udah ga ada yang tersembunyi Ta. Mama juga udah tau semuanya."

"Terus?"

"Ya meski keberatan, beliau ga kuasa nahan aku."

"Ya sudah! Terus apalagi? Kamu punya Papa mu yang udah kasih lampu hijau. Kamu juga punya Papa ku, yang juga dukung kamu."

"Mungkin masih ada sisa trauma. Trauma pernah gagal, dan mangkrak ga ada gunanya."

"Semua pernah gagal. Coba kasih tau aku yanx, orang yang ga pernah gagal? Ga ada. Kalau yang gagal, lalu menyerah dan pasrah, banyak yanx. Kamu mau?"

"Hehehehe. Mainstream adalah sesuatu yang paling aku benci Ta. Jadi aku ga mau."

"Nah. Ayo dong semangat! Hari ini semangat nya kuliah dulu. Hehe."

"Nanti siang, aku ke proyek Ta."

"Ya udah gapapa yanx, yang penting kamu harus optimis, OK?"

"OK..."

"Itu baru pacar ku." Sebuah kecupan mendarat di jidat gw. Semoga Cinta ga mencium sesuatu yang aneh.

Hangat pelukan dari Cinta membuat gw jadi lebih baik. Entah bahasan tadi hanya sebagai pelarian untuk menutupi kegilaan yang tadi malam gw lakukan bersama Vina-Diana atau murni gw memang ingat dengan kegagalan yang gw derita. Entahlah, semua menjadi abu-abu sekarang. Mungkin benar kata Arief ke gw, "kurangi hal-hal yang ga perlu dan dianggap tabu..."

Kuliah sudah ga ada menarik-menariknya di mata gw. Materi yang cuma itu-itu saja, dan stop pada ranah teori membuat gw bosan... Mungkin benar kata beberapa teman, gw ini anak alam, bukan anak sosial. Anak alam, itu suka membuktikan sesuatu, menguji hipotesa dan mendapatkan jawabannya saat itu juga. Beda dengan anak sosial yang lebih "sabar" mencari jawaban dari hipotesa yang mereka munculkan.

Quote:emoticon-mail: "Selamat siang mas, saya boleh ketemu pean ga?" Sms masuk dari Pak Atmo. Tokoh yang dituakan di lokasi proyek gw.

emoticon-mail : "Bisa Pak. Ada yang penting? Ini saya mau naik Pak."

emoticon-mail : "Oh. Kebetulan kalau gitu mas, nanti kalau sudah sampai, nyuwun tulung dikabari njih."

emoticon-mail : "Siap Pak."


Gw paham apa yang ingin Pak Atmo bahas dengan gw. Pasti soal kelanjutan nasib orang orang yang kerja sama gw. proses urug yang gw lakukan sudah hampir selesai. Sedangkan gw belum memperoleh pembeli potensial, meski proposal sudah gw sebar. Ini jelas bukan kabar bagus buat meyakinkan investor untuk menanamkan modalnya pada gw. Sh*t! Kerja apa ya yang duitnya gede, tapi cuma butuh waktu singkat? Balap liar? Oh, tidak!, gw sudah pensiun.

Gw menuju parkiran lanjut keluar jalan Kaki menuju kosan. Kan tadi gw nebeng Cinta, kalau mobilnya gw pakai nanti dia pulangnya gimana? Terpaksa deh ambil mobil dulu di kosan. Di depan gw ada gerombolan celana cingkrang, plus mba-mbanya yang seperti itulah busananya. Gw tidak mau ribet. Namun dalam hati gw sudah membatin. Kalau sampai mereka cari gara-gara sama gw, akan gw hajar saat itu juga. Mood gw sedang ancur kok diajakin bercanda. Untungnya mereka paham, dan memilih membiarkan gw lewat.

Quote:"Seperti dugaan gw, Pak Atmo mau bahas soal kelanjutan proyek yang sedang gw kerjakan. Ga ada jalan lain selain jujur. Gw pun menjelaskan semuanya kronologi dari awal sampai akhir. Berat memang membuat orang kecewa, tapi apa mau dikata, emang inilah kenyataannya."

Otak lagi buntu kayak gini, temuin Eka kayak nya cocok deh. Sayangnya, nasib gw kurang baik hari ini. Eka sedang ada kuliah yang ga bisa dia tinggalkan. Katanya sih, mata kuliah utama. Untuk membuang waktu, gw memutuskan untuk mencari warnet. Jangan salah, sekarang gw sudah bukan si gaptek dan cuek teknologi seperti saat SMA dulu.

Quote:emoticon-mail: "Hi ndo, gw putuskan untuk memberikan kesempatan kepada Seno untuk mendekat ke gw. How about you, dear? Awas aja kalau lu bilang gw ini kekanakan karena memilih berdasar persamanaan negara, dan agama."


Jangan Buka, Nyesel Lho


Email yang terus terang membuat gw hanya tersenyum simpul sedikit kecut. Pengirim nya itu lho yang bikin gw gimana gitu. Reni! Gw mencoba melucu untuk balas email yang baru masuk beberapa jam lalu itu. Namun, apakah feel lucunya dapat, gw sendiri kurang yakin.

Quote:emoticon-mail: "Lu dimana? Gw udah bubaran nih." Sms masuk dari Eka.

emoticon-mail : "Bentar, lu tunggu di parkiran B6 aja ya?"

emoticon-mail : "Wong edan, ditanya kok ga jawab sih."

emoticon-mail : "Pertanyaan lu basi. Udah jelas gw di hati lu lho ya."

emoticon-mail : "Kepreeettt ndooo... Londooo..."


Dasar cewe antagonis. Gw kira cuma muka nya doang yang sadis, ternyata sifatnya pun ga kalah sangar. Gw sudah matikan billing warnet, bayar, lalu bergegas menuju tempat parkir yang tadi gw maksud. Terlambat jelas bukan ide bagus. Bisa kena omelan Eka gw.

Quote:"Siang cewe." Goda gw, ketika stop persis di depannya.

"Lamaaa lu ndo." Dia pun buka pintu kiri, lalu naik.

"Lu dari mana ndo? Cek kerjaan ya?" Tanya dia kemudian.

"Yappp. Udah mau selesai sih."

"Lhah, kalau udah selesai, terus nasibnya gimana ndo?"

"Ya ga gimana-gimana. Mungkin stop dulu beberapa saat sambil nunggu peminat dan juga investor."

"Nganggur dong abis ini."

"Ga juga Ka. Gw udah punya usaha baru yang bisa gw kerjain."

"Dasar otak bisnis. Kuliah selesaikan woi."

"Aman lah. Kemana kita?"

"Kosan ndo, gw udah masak tadi pagi, hehe."

"Apa?" Gw menatap heran ke Eka, pengen ngakak tapi gw tahan. Eka masak?

"Sialan lu ndo!!! Meremehkan banget lu! Gini-gini gw bisa masak woiii!!! Hahaha..." Ngakak dia.

"Lihat muka dan kelakuan lu, emang salah ya kalau gw curiga dengan rasa masakan lu? Hehehehe." Ejek gw

"Bodo amat ndo, awas aja kalau lu ga abisin masakan gw!"

"Kenapa emang? Hehehehee."

"Jangan ke kosan gw lagi!"

"Ya elah, sadis amat lu Ka!"

"Bodo amat! Salah sendiri menghina gw!"

"Ga menghina sayang, cuma memastikan." Gw pegang rambutnya.

"Apa lu pegang-pegang."

"Jiah, kekasih gw lagi ngambek."

"Kekasih pala lu ndo."

"Ngoahahahahaaa."

Gw sudah menyiapkan mental dan lidah gw untuk menghadapi situasi terburuk. Nunggu di kamar, sementara Eka sibuk menyiapkan hasil karyanya. Ayam goreng, sup wotel, kol, dan teman-temannya. Oiya, ada juga sambal yang terlihat menggoda dengan warna merah agak sedikit gelap.

Satu suapan masuk, ini ga buruk! Emang sih ga enak-enak banget. Cenderung agak asin di lidah gw. Tapi masih masuk toleransi lah. Sambalnya itu yang gw suka. Manisnya biasa saja, pedasnya juga biasa, tapi gurihnya itu lho. Overall, not bad. Namun ga bisa dibilang istimewa juga.

Quote:"Doyan lu ndo? Hehehe." Tanya Eka, saat gw nambah sayur plus sambalnya.

"Hehehehe. Lu beli di mana?" Ejek gw.

"Sialan lu! Plakkk!" Bahu gw kena tampol.

"Mau penilaian jujur?"

"Iyalah! Gila aja lu bohong."

"Overall, enak! Cuma asinnya kagak nahan mba nyaaa. Lu pengen kimpoi ya?"

"Huahahahahahahaa. Beneran asin berarti ya ndo? Teman gw tadi juga bilang gitu. Itu sayurnya udah tak tambahi air tadi, kalau ayamnya. Pasrah deh."

"Besok lagi, kalau masak kurangi garam ya? Asin ga baik buat darah."

"OK Pak Boss!"

"Dan ini." Gw angkat sambal di depan matanya.

"Juara! Lu kalau buat lagi, pakai takaran ini. Gw bukan pecinta pedas, gw juga ga suka sambal, tapi gw suka sambal lu! Boleh ga boleh, sisanya gw bawa pulang!"

"Hahahahahaaa. Koplak lu ndo!"

"Ga boleh?"

"Boleh-boleh. Semua aja boleh."

"Ogah, asin sayang. Udah pengen yah?" Ulangi lagi pertanyaan pertama tadi.

"Kalau iya, lu mau apa?" Mampus gw. Mana mukanya serius lagi.

"Kapan? Ortu ku otw rumah mu nih?"

"Hihihihi. Salah nantang orang, sabar ndo. Lulus dulu."

Gw kok dikasih tantangan, ya gw makan lah sampai abis. Mood gw agak membaik pasca bertemu dengan Eka. Selain perut kenyang, gw juga dapat belaian kasih sayang. Gw rasa itu adalah instrumen penting untuk balikin semangat gw, setelah kegagalan-kegagalan yang gw alami. Caranya mungkin salah, tapi ya sudahlah.

Sebelum Magrib, gw sudah berada di kosan lagi. Sms-sms dari Lina baru gw balas di sini. Waktu ketemu Eka, hp dalam posisi super silent. Jadi bukan cuma ga berdering, getar pun ga. Anggap saja gw sedang memainkan protokol buaya. Tapi entah mengapa, gw agak ga nyaman akhir-akhir ini. Gw seperti sudah lelah bermain dari hati ke hati.

Quote:"Jika kepala pusing kayak gini, paling enak itu vodka. Untungnya, gw selalu sedia di kamar. Gapapa main single, yang penting happy dan sedikit meringankan beban di kepala ini. Juga sebagai bekal hari esok yang lebih baik."

Pagi yang cerah. Sebelum jam 7, Lina sudah di depan kosan. Dia sepertinya mulai suka dengan kegiatan barunya, barengin gw tiap berangkat kuliah. Memang kampus kita dekat, tapi tetap saja beda. Biasanya sih, gw drop dia, lalu mobilnya gw bawa ke parkiran kampus gw. Kecuali kalau gw ada acara kayak kemarin, dia yang drop gw di jurusan gw.

Quote:"Yanx, kamu dicariin tuh sama Mama..." Ujarnya saat gw sudah siap di balik kemudi mobilnya.

"Hah? Mama ngapain nyari aku Taaa?" Agak heran gw.

"Iya, kangen katanya. Kamu sih jarang maen ke rumah."

"Ya udah, besok malam minggu aku apelin kamu ya?"

"Wuuu. Kalau gitu aku ke gerejanya minggu pagi aja yanx."

"Siappp. Udah sampai, semangat ya Ta." Yap, jarak kosan gw ke kampus, memang dekat.

"Iya. Kamu tuh yanx yang semangat, jangan mikirin gagal terus." Pegang pipi gw.

"Gagal? Apaan tuh gagal? Hehehe."

"Ahahahaa. Bye yanx, nanti beres kuliah langsung ke sini aja ya?"

"Boleh?"

"Boleh lah. Asal kamu ga rusuh aja!"

"Hehehe. Siap cintaaa."

Gw memiliki riwayat yang kurang baik sama anak ekonomi. Biasalah, mereka jual, ya gw borong. Jangankan mereka yang muka-muka alim tapi dibuat sangar, yang beneran sangar macam anak Teknik aja gw gass kok. Kalau gw mau, bisa aja sih gw minta tolong ke anak hukum. Namun itu bukan karakter gw. Masalahnya, anak hukum suka main kotor. Kalau kata orang jawa sih, "nabok nyilih tangan." Itu bukan karakter gw.

Quote:"Tuing." Sebuah notifikasi YM masuk ke HP gw sesaat setelah gw di parkiran.

emoticon-mail : "Gw diajak makan malam sama Seno nih." Reni! Bego ya gw, ada YM di HP, kenapa kemarin gw ke warnet? Anggap aja buang waktu.

emoticon-mail : "Pamer mulu. Coba sini liat gambar nya Seno kayak apa." Balas gw, keluar mobil, pastikan terkuci, lanjut jalan ke kelas.

emoticon-mail : "Jangan ndo, minder lu ntar, soalnya gantengan dia daripada lu. Haha."

emoticon-mail : "Ganteng tapi kecil buat apa?"

emoticon-mail : "Njir. Dari mana lu simpulin dia kecil?"

emoticon-mail : "Karena yang bisa ngalahin joni cuma negro, arab dan bule."

emoticon-mail : "Wkkwkwkwkwk. Ntar gw lihat dulu, kalau lu bener, gw puji."

emoticon-mail : "Puji doang? Ga guna kaleee. Tidur bersama kek biar sangar."

emoticon-mail : "Iya, nunggu gw balik ya?"

emoticon-mail : "Deal."

emoticon-mail : "Bye mantan, jalan dulu yakkk."

emoticon-mail : "Pala lu mantan."

emoticon-mail : "Bodo amatt."


Manasin gw kok pakai pacar baru. Mana bisa boss? Tapi kenapa ada semacam ketidak suka-an ya di hati gw? Ga bisa gw bantah sih, mungkin karena gw memang masih ada hati ke Reni. Ya sudah, mari dihapus dengan ikut kuliah Hukum Acara Pidana di pagi yang panas ini. Panas bukan karena cewe-cewe dan dipamerin Reni ya, tapi emang karena panas beneran oleh matahari.

Sepertinya, gw butuh piknik. Pulang lanjut ketemu Arief bisa menjadi solusi yang baik. Tapi besok gw sudah ada janji untuk ngapelin Cinta. Di sinilah repotnya. Apa nanti sore saja ya gw baliknya. Ada banyak hal yang ingin gw bahas dengan Kampret. Sebaiknya ga gw tunda, kalau gw ingin semua tetap on the track.

Gw mulai percaya, jika Tuhan mulai menyapa dan menunjukkan kuasanya, serta memberitahu gw, bahwa gw ini buka siapa-siapa. Gw ini hanya hamba yang bisa diatur sesukanya. Pertanyaannya, apakah gw bisa memanipulasi keputusan Tuhan agar mau berada di kubu gw? Only time will tell.



Ciaooo
Diubah oleh londo.046
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 311 lainnya memberi reputasi
296
Tampilkan isi Thread
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 399 dari 403
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 14:16
Akhire dilanjut juga critone...

Suwe ra krungu kbarmu Mas...
Piye kabare Mas?
😄😄😄
profile-picture
17062018 memberi reputasi
1 0
1
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 14:40
Samangat om.
Lanjutkan, diriku menanti cerita mu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sliubk dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 14:54
Terima kasih om londo udah nyempetin waktunya buat updatr. Menunggu mas arief kampret nyamperin om londoo, dah lama gak keliatan ni
profile-picture
profile-picture
17062018 dan antzoor memberi reputasi
2 0
2
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 17:49

Lega...

Quote:
emoticon-phone: "Hallo mas Ndo." Sapaan dari Kevin di ujung sana.

emoticon-phone : "Siap mas, ada yang bisa dibantu?" Tanya gw sambil berharap ga ada pembatalan.

emoticon-phone : "Gini mas, saya kan baru dapat durian runtuh. Nah, dari pada duitnya kececer di mana-mana, saya mau kasih mas Ndo saja buat nyicil kurangan rumah." Ini beneran?

emoticon-phone : "OK mas, mau ditransfer langsung atau gimana mas? Saya manut jenengan saja." Senang, tapi mencoba untuk biasa saja.

emoticon-phone : "Dana saya cash mas, dan posisi masih di Surabaya. Kalau saya bayarnya sore atau malam gimana mas?"

emoticon-phone : "Ga masalah mas. Saya tunggu dan saya siapkan bukti pembayaran nya mas."

emoticon-phone : "Mantab mas, saya mau bayar 75juta dulu mas, boleh?" Nah kan, candaan dari Tuhan itu indah.

emoticon-phone : "Ya boleh lah mas. Ini saya buatkan kuitansinya sekarang ya mas? Dengan dominal yang mas sebut tadi." Ujar gw memastikan.

emoticon-phone : "Iya mas, gapapa. Kalau gitu sampai ketemu nanti ya mas. Semoga urusan saya cepat kelar."

emoticon-phone : "OK mas, ditunggu."

Panggilan diakhiri. Meskipun senang, gw masih 50-50. Kenapa? Karena kalimat penutupnya itu lho. "Semoga urusan saya cepat kelar."Bukankah ini kode kalau urusan dia masih belum 100% selesai? Masih ada space untuk gagal dan batal bayar. Tapi ga masalah sih, paling ga harapan itu masih ada. Gw bisa alokasikan dana cadangan, sambil berharap Kevin benar-benar bayar hari ini. Kadang, berharap pada manusia itu ga enak, tapi jika itu satu-satunya jalan, ya mau diapakan lagi?

Meninjau perkembangan proyek adalah hal yang gw lakukan pagi-siang hari ini. Terutama soal proyeknya Kevin. Gw harus memastikan kastamer loyal kayak dia puas dengan kinerja gw. Ke sananya gimana? Masih sama dengan beberapa hari ke belakang. Angkot dan bus kota menjadi teman baik yang antarkan gw ke mana gw mau. Tawaran bantuan memang ada, tapi sekali lagi jalan susah atau menyusahkan dirilah yang gw ambil. Anggap saja ini bagian dari tirakat dan laku prihatin yang sedang gw jalani.

Quote:
Kejutan selanjutnya datang saat gw masih bersama para mandor dan tukang proyek. Sebuah pesan yang dikirim oleh Lina lewat YM. Dasar Cinta, dia emang suka aneh-aneh. Padahal ada BBM kan? Kenapa di memilih kirim pesan lewat YM?

Quote:
emoticon-mail: "Yanx aku mau balik ke Semarang! Aku seneng banget ayanx. Jangan lupa janji mu ya!

Janji? Apa janji gw ke Lina kalau dia balik ke Semarang? Menikahinya? Jelas akan dengan senang hati gw lakukan. Tapi kalau janji itu, bukankah ga harus ditagih ya? Pasti ada janji lain yang lebih spesifik yang gw janjikan sama dia. Apa ya? Ayolah otak, bongkar memory mu. Tunjukkan, apa sih janji gw ke Lina?

Setengah mati gw mengingat, tak juga gw temukan. Untuk mengingat, gw kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan di lapangan. Gw abaikan dulu pesan dari Lina. Gw baru akan balas, kalau gw ingat apa janji gw kepada dia. Hampir setengah jam mengingat sambil menyibukkan diri, gw akhirnya temukan apa janji gw. Aneh ya cara gw? Kalau ga aneh dan mainstream, bukan gw namanya. Gw ambil BB yang ada di saku kemeja dan segera membuat panggilan ke Lina.

Quote:
emoticon-phone: "Hallo ayanx." Khas suara Lina yang manja dan menggoda.

emoticon-phone : "Cintaaa, maaf tadi ketemu client." Terpaksa gw berbohong. Gapapa lah, meski jelek. Dari pada Lina merasa ga diingat.

emoticon-phone : "Ihhh, kirain ga suka yanx, aku mau pulang, lama banget balesnya." Masih dengan nada manja, gimana gitu.

emoticon-phone : "Gila aja cinta, jika aku ga suka, itu aja tadi aku percepat urusannya. Udah kangen nih sama kamu." Kibul dikit gapapa dong.

emoticon-phone : "Kasihan lah yanx tamunya. Masak kamu usir gitu aja? Hehehehe." Udah bisa ketawa riang dia.

emoticon-phone : "Gapapa Ta, toh aku ngusirnya alus kok. Apa sih yang ga buat kamu cinta? Btw km pengen aku jemput pake apa?" Kalau ingat gini kan enak.

emoticon-phone : "Ahahaha. Ingat aja kamu yanx. Apa aja ayanx. Ketemu kamu itu lebih dari segalanya buat aku. Beneran, kamu jangan maksa ya."

emoticon-phone : "Ya ga bisa gitu Ta. Namanya janji kan? Btw, Papa gimana cinta?" Tanya gw agak melebar.

emoticon-phone : "Kamu tenang yanx, beliau udah di semarang kok. Udah banyak berubah, suatu saat mungkin kamu akan ditemui sama beliau." Sepertinya info dari teman nya om Lee beneran A1.

emoticon-phone : "Serius Ta?" Kembali gw ingin menegaskan.

emoticon-phone : "Kamu takut yanx? Hehehe." Ini sih tawa yang melecehkan.

emoticon-phone : "Aku takut Ta? Jangan bercanda ah. Takutnya Londo udah dibagi gratis Ta." Songong itu wajib.

emoticon-phone : "Hahahahaha.. Kayaknya yang ini aku percaya yanx. Nyali mu kan emang lebih-lebih.

emoticon-phone : "Aaaaeeee hehem hem aaaakkk" Suara bayi, dan gw yakin itu suara Justi anak gw. Shit! Kenapa ada getaran di hati gw ya? Berasa ada perih-perihnya.

emoticon-phone : "Aih, dedek Justi lagi ngapain?" Bukan jawaban yang gw dapat. Hanya suara bayi yang makin keras. Sampai..

emoticon-phone : "Obat kangen yanx. Bentar lagi kita akan bersama kan?" Sumpah di sini air mata seolah ingin pamer ekistensinya.

emoticon-phone : "Cepetan sini yanx, pengen gendong nih." Masih sambil menahan perasaan yang susah terdefinisi.

emoticon-phone : "Gendong siapa ayanx? Mamanya atau dedek?" Bisa aja nih Cinta menggoda gw. Lumayan menghapus pilu di hati. OK, ini berlebihan.

emoticon-phone : "Dua-duanya lah Ta." Jawab gw cepat.

emoticon-phone : "Emang kuat yanx? Ahahahah." Masih kena troll gw.

emoticon-phone : "Kuatt cinta. Awas aja kalau ketemu."

emoticon-phone : "Yanx, aku bahagia tahu ga? Bisa pulang, bisa ketemu kamu. Eh tapi ntar buat lagi ya yanx, buat cewe lagi. Hihihihi." Tantangan nih?

emoticon-phone : "Enak aja. Cowo lah, biar bisa balapan sama papa nya." Kali ini gw ga mau kalah.

emoticon-phone : "Ga, nanti malah kamu ajak balapan, minum-minum. Kalau cewe kan isa aku ajak nyalon, belanja, ihhh seru banget yanx." Obsesi emak-emak.

emoticon-phone : "Wuuu. Cinta egois ah."

emoticon-phone : "Biarin, wekk. Hahahaha."

Bahagia dan ceria. Itulah dua kata yang pas untuk bisa menggambarkan kondisi Lina hari ini. Gw ikut senang dengan kondisi dia sekarang. Meskipun jujur, gw masih ada beban soal penebusan ijo dan janji gw ke Lina. Yah, gw memang janji akan menjemput dia dengan mobil saat dia balik dari tempat pengasingan nya di Singapura. Gw ga akan jemput dia dengan ijo yang menurut dia motor ga jelas. Bayangkan sekelas ijo lho dikatakan ga jelas. Padahal kalau menurut para kimcil dan cewe mainstream, ijo jelas motor yang super keren.

Hari berjalan lambat, apalagi menjelang petang dan malam. Kevin belum juga menghubungi gw. Teman gw di Salatiga, bahkan sudah mulai mengeluarkan warning jika sampai malam ini belum ada uang dari gw, maka dengan sangat terpaksa dia akan menjual ijo ke orang lain. Jelaa ini bukan kabar baik buat gw. Bukan hanya karena ijo akan hilang, tapi gw juga akan kehilangan kredibilitas di matanya.

Harapan seolah sirna dan berlari dari gw. Sampai waktu Magrib Kevin ga ada tanda-tanda merapat ke kantor. Yap, gw memang masih menunggu di kantor. Seperti menunggu harapan kosong. Tapi seperti lagu nya Padi, kadang menanti keajaiban itu ada titik terangnya. Gw baru saja mengunci pintu kantor, ketika Kevin datang! Bener-bener datang di saat injury time nih orang.

Quote:
"Ah, mas Ndo masih di sini. Kirain udah pulang mas. Kalau udah pulang, mau tak bayar besok pagi hehehe." Fyuh, apa jadinya kalau tadi gw ga standby kantor?

"Hehehehe iya mas, masih ada beberapa kerjaan nih yang harus aku selesaikan. Makanya agak telat pulangnya."

"Masuk mas." Gw buka pintu kantor dengan perasaan yang susah dijabarkan dengan kata-kata. Senang, pakai banget tentu saja.

"Waduh, mengganggu aja nih. Tadi terlalu lama mampir di Rembang mas, makanya datangnya telat banget." Jelas Kevin.

"Ah, pas kok mas. Kan jenengan datang, saya masih di sini. Jadi ya belum telat lah hehehe." Kita berdua berjalan ke meja yang biasa Eka gunakan untuk beraktivitas di pagi hari.

"OK mas Ndo, langsung saja ya. Ini ada 75 juta. Tolong diterima dulu. Nanti kekurangan nya, saya selesaikan saat proyek berakhir." Ujarnya sambil menyerahkan beberapa gepok uang.

"Siap. Saya terima ya mas."

"Hitung mas Ndo, jangan cuma diterima aja hehehe."

"Kayaknya ga perlu deh mas. Ada logo bank, jadi udah dibantu ngitung sama bank. Hehehehe."

"Saya buatkan kuitansinya dulu mas." Ujar gw.

Kevin hanya tersenyum dan bahkan meminta izin ke gw untuk meminta air dari dispenser yang ada di pojok ruangan. Sial, saking senengnya sampai gw lupa menawari dia minum. Gapapa lah, anggap saja poin kelalaian hehehe.

Kevin beranjak setelah menerima kuitansi dan sedikit berbasa-basi dengan gw. Gw sendiri gass ke Salatiga setelah mengirimkan BBM ke teman, kalau ijo akan gw tebus malam ini. Ke sana naik apa? Bus Semarang-Solo! Karena nanti dari sana kan gw pakai ijo. Misalkan gw pinjam mobil mba Fara, ijo mau gw bawa pakai apa? Naikin atap? Kan ga mungkin. Apa pun itu, kelegaan gw rasakan sekarang. Paling ga, gw ga punya tanggungan lagi sama orang.

Quote:
"Dingin. Udara malam di Salatiga berbeda jauh dengan udara Semarang. Gw melaju di atas ijo saat sang waktu sudah beranjak ke dini hari. Sudah lewat jam 00.00 dan gw konstan membawa ijo dengan rpm tinggi. Bukan karena diburu waktu, tapi lebih pada kewaspadaan pada potensi terjadinya kejahatan. Jalanan, dini hari dan banyak spot sepi bukanlah kabar baik untuk bersantai menikmati riding di atas dua roda.

Meskipun gw masuk kosan di atas jam 01.00 dini hari, gw tetap terhaga sebelum jam 05.00 pagi. Yah, namanya kebiasaan memang susah untuk diubah. Pagi ini suasana hati gw baik. Selain ijo sudah kembali, gw juga mulai memikirkan opsi untuk mencari kendaraam roda empat untuk Lina dan anak gw. Ga lucu juga sih, kalau gw bonceng mereka berdua naik ijo. Batita, rasa nya kok kurang bagus kalau terlalu sering kena angin. Baik itu pagi atau malam.

Aktivitas pagi, gw akhiri dengan sarapan. Setelah sarapan, gw jalankan ijo menuju ke kantor. Pada titik ini, gw dapat merasakan nikmatnya punya kendaraan pribadi. Pada titik ini, kesadaran untuk bersyukur tumbuh dengan subur. Memang benar, kita akan lebih menghargai sesuatu ketika kita pernah kehilangan.

Quote:
"Syukurlah motor lu udah balik Ndo." Ujar Eka dengan senyum manisnya. Dia baru saja datang, saat gw akan membuka pintu kantor.

"Hehehehe iya Ka. Kemarin Kevin jadi bayar, makanya gw bisa ambil motor kan?"

"Sippp. Udah dilunasin Ndo?" Tanya Eka.

"Belum sih Ka. Baru bayar 75 juta dia. Tapi gapapa lah, yang penting untuk operasional dan jalan ada." Jelas gw.

"Yap. Btw, lu ga ngampus Ndo?" Tanya Eka.

"Nanti agak siangan Ka. Lu juga, emang hari ini ga ada kelas? Pagi-pagi kok udah di sini?" Tanya gw balik.

"Hahahaha ga ada Ndo. Lagian ada kerjaan yang harus gw selesaikan ini." Jelasnya.

"OK lah, yang penting jangan sampai kuliah lu terbengkalai ya." Saran gw.

"Siap boss. Hehehehe."

Meskipun senang, gw tetap memikirkan pekerjaan. Ga ada yang namanya euforia berlebihan. Karena pada hakekatnya, gw masih orang gagal. Gw masih dalam status membuktikan kepada Om Lee, kalau gw masih layak untuk menjadi pendamping bagi anaknya. Gw ga boleh lepas fokus gw, hanya karena keberhasilan kecil kemarin. Kalau sampai itu terjadi, dan gw terlena. Siap-siap saja gw akan menjadi calon manusia gagal.

Quote:
Kampus. Dunia yang sebenarnya ingin gw tinggalkan. Bukan karena gw merasa pintar dan ga butuh pendidikan formal. Gw hanya ingin ada satu titik fokus. Kelak, jika gw sudah berhasil dengan kerjaan, gw akan kembali ke kampus. Namun, semua rencana gw harus gw sisihkan demi Mama. Yah, beliau yang selalu menekanagar gw selesaikan pendidikan S1 tanpa penundaan.

Kampus sudah tidak menarik lagi. Meskipun di dalam sana tersimpan jutaan hal indah, namun itu ga cukup untuk membuat gw betah berlama-lama di sana. Gw lebih tertarik untuk secepatnya mencari kendaraan baru untuk Lina dan anak gw. Selain janji, belakangan gw sadar kalau motor kurang aman untuk pasangan yang punya anak bayi. Emang gw dan Lina pasangan? Saat ini belum, tapi besok? Lusa? Siapa yang tau. Lalu sumber dari mana yang akan gw pakai untuk beli?

Sisa uang dari Kevin, bisa lah untuk bayar DP. Pada akhirnya, gw akan memakai skema kapitalis untuk memenuhi kebutuhan gw. Haram? Riba? Biarkan itu jadi urusan gw sama Tuhan. Gw malas dan sedang enggan berdebat dengan manusia-manusia yang udah merasa menjadi wakil Tuhan di atas Bumi. Bahkan mereka lebih Tuhan dari Tuhan itu sendiri. Tuhan itu Maha Pengasih, mereka? Bar-bar iya.

Quote:
"Ndo, ada waktu buat diskusi ga?" Gw ga kenal dengan orang yang menyapa gw di parkiran pagi jelang siang ini.

"Diskusi? Soal apa? Tapi bentar, lu siapa ya? Gw ga kenal lu kan?" Tanya gw ke cowo yang ada di depan gw.

"Oh iya. Kenalin Ndo, gw Bram. Manajemen semester 7. Gw atau lebih tepatnya grup diskusi gw tertarik dengan cara jualan lu."

"Jualan? Emang gw jualan apa?" Sok bego.

"Hahahahahaha.. Sialan lu Ndo, jangan pura-pura napa? Gw tau persis kok bisnis lu apa." Ujarnya sambil tersenyum.

"Apa emang? Ngoahahahaha." Ngakak aja deh.

"Hahahahahaha." Sialan, ini kenapa dia ngakak juga? Berasa jijik gw ketawa bareng cowo, berdua lagi.

"Stop bercanda deh Ndo, kita serius ini. Ingin tahu kok lu bisa sih menjual property dengan begitu mudahnya. Dalam tanda kutip ya Ndo. Gw tau pasti susah, tapi faktanya jualan lu udah banyak terjual." Gw suka nih dengan argumentasinya.

"Boleh deh. Tapi lu jangan tanya gw pakai referensi apa ya? Lu tau kan gw anak hukum. Gw ga paham soal teori-teori marketing." Jelas gw.

"Justru di situ menariknya Ndo. Siapa tahu kan ada teori baru?" Gw selalu suka dengan orang-orang yang mencintai ilmu.

"Siap. PIN BB lu berapa?" Tanya gw.

"2xxxxxxx"

"Udah gw invite." Ujar gw setelah tekan tuts BB putih pemberian Lina.

"Siap Ndo, kabari gw ya kalau lu sela. 24 jam siap merapat Ndo." Ujarnya.

"Ok boss. Gw cabut ya." Gw ulurkan tangan untuk salaman dengan dia.

"Ok Ndo."

Gw tinggalkan si anak manajemen untuk kemudian cabut ke lokasi proyek. Ga lupa gw kabari Eka, kalau gw ga akan balik ke kantor. Dari pada dia nunggu gw kan kasihan. Di lokasi gw ga cuma bengong atau sok jadi boss. Gw bantu apa yang bisa gw bantu. Pokoknya apapun yang bisa mempercepat pekerjaan akan gw lakukan. Maklum, gw itungan nya masih kere kan? Jadi apa-apa ya harus gw lakukan sendiri.

Jam 5 sore, pekerjaan untuk hari ini selesai. Gw balik, pun dengan para pekerja. Pulang bareng dengan mereka para pejuang keluarga. Iya, orang-orang yang berangkat kerja pagi, dan pulang petang untuk rezeki keluarga mereka. Padat dan macet, yang idealnya akan bikin gw misuh-misuh. Namun entah kenapa sore ini gw jadi kalem dan menikmati semuanya.

Quote:
Beberapa hari ke belakang, saat gw balik ke kosan pasti ada "teman." Iya, teman yang menyambut di kamar entah sebelum atau sesudah gw datang. Kali ini "teman" seperti itu sidah ga ada. Reni udah balik ke tempatnya menimba ilmu di Boston sana. Seperti ada yang hilang. Kegilaan dan celetukan ajaibnya hilang, dan itu cukup untuk mengurangi kebahagiaan gw.

Gw isi sore ini dengan mengontak beberapa teman yang paham soal dunia permobilan. Konsultasi sama mereka, membuat gw mantab untuk membeli unit baru dari pada membeli bekas. Harganya nyaris sama, dan lebih enak merawat kendaraan baru.

Quote:
"Mas Londo ya?" Nampak seorang yang gw ga tau dari kapan ada di sana menyapa gw. Posisi gw memang di pintu kamar.

"Iya. Kenapa?" Jawab gw tetap waspada, lalu berdiri dan mencoba untuk mengingat siapa laki-laki ini.

"Hendro mas, XX." Gw tau ini nama salah satu organ preman di Semarang. Yah, ngakunya sih Ormas.

"Oh, ada yang bisa gw bantu?" Tanya gw kemudian.

"Gw datang untuk menawarkan sesuatu mas." Ujarnya dengan senyum yang mengembang.

"Tanah?" Tukas gw cepat.

"Bukan mas. Kesempatan untuk bergabung dengan kami."

"Hehehehe. Ga salah? Gw punya banyak musuh. Dan itu akan membuat lu dan teman-teman lu repot." Ujar gw.

"Justru itu mas. Kami ingin membantu mas Londo." Membantu?

"Makasih sebelumnya boss. Tapi sejujurnya gw ga tertarik untuk bergabung dengan organisasi apa pun hari ini. Lu bisa cek kalau ga percaya."

"Kami tau mas, makanya itu kami menawarkan mas Londo buat gabung. Kalau mas ada apa-apa bisa share dengan kami. Ga perlu mas hadapi sendiri."

"Sekali lagi makasih mas. Tapi saya lebih nyaman untuk jalan sendiri seperti hari ini."

"Mas, dunia yang kamu masuki hari ini berbeda lho dengan..." Sampai sini gw potong omongan nya.

"Gw tau dunia gw kayak apa bos. Dan gw juga 100% sadar soal bahaya yang gw hadapi. Makasih udah perhatian, namun gw akan tetap seperti ini.

"Hehehehe benar-benar punya karakter. Nanti kalau mas Londo berubah pikiran, hubungi saja ya. 24 jam siap mas." Ujarnya sambil menyerahkan sebuah kartu nama.

Berbasa-basi sejenak lalu pergi begitu saja. Gw ga sajikan apa-apa untuk dia. Kenapa? Karena gw sama sekali ga ada respect untuk dia dan organisasi di belakangnya. Mereka itu bukanlah organisasi yang baik. Mereka itu hanya sekumpulan preman yang tugasnya memalak dan menindas mereka yang lemah. Mereka punya power? Mungkin, tapi gw yakin kalau ketemu dengan orang-orang "di dunia bawah" mereka pasti akan mikir ratusan kali untuk berduel terbuka.

Malam turun, dan gw belum mandi. Entah kenapa raga ini agak malas beranjak. Kalau begini terus, sampai besok gw ga akan mandi, dan itu jelas ga bener. Gw segera mengumpulkan niat untuk beranjak ambil handuk dan mandi. Sialnya, wanita itu sudah ada di sana. Dengan senyum aneh yang sukar untuk gw terjemahkan. Ah.. Tuhan memang kalau bercands suka mengarhkan ke hal-hal penuh bahaya.




Ciaooo...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 48 lainnya memberi reputasi
49 0
49
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 18:32
Makasih om apdetnya, sepertinya eka muncul nih depan kosan. feeling kali ya klo kesempatan ngecengnya akan segera berkurang hehe
profile-picture
profile-picture
17062018 dan kkaze22 memberi reputasi
2 0
2
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 20:05
Mantap.... D tunggu kelanjutan ny lg mas
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 22:05
Ah...masih karakter om londo...motong ceritanya passss....jadi berasa kentang banget....btw terimakasih update om...🙏
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 23:38
Kayaknya mbak mbak kamar sebelah ki
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
08-09-2020 23:40
Kabar keluarga gimana mas Ndo? Sehat walafiat semua kan?
Semoga diberikan kelancaran dan kemudahan di segala bidang yaa mas 🙏
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
09-09-2020 01:39
Antara Eka dan Astrid yg muncul
Tapi kyake Astrid
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
09-09-2020 06:51
bibi lung, diana, esti atau mahasiswi dari ibu kota? entahlah wkwk
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
09-09-2020 08:58
Rejeki datang pas Takarannya, pass g berlebihan. Datang di waktu yg tempat asal kita percaya
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
09-09-2020 09:20
Mantep update nya ndo...
Lika liku jualan produk yg ga semua orang bisa... Klo ga keberatan dibabar sithik nang kene lah
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
09-09-2020 10:59
Lha rak tenan....
Kadang berharap pada manusia itu ga enak... Masuk banget iki dan nyata.
profile-picture
17062018 memberi reputasi
1 0
1
Catatan Yang Terbuka
09-09-2020 11:00
welkombekk om
profile-picture
olien21 memberi reputasi
1 0
1
Catatan Yang Terbuka
09-09-2020 16:54
Catherine dtg mnggoda ya om....

Lama gk update, sehat?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
17062018 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Catatan Yang Terbuka
09-09-2020 22:33
Malem buka kaskus eh ternyata dapet bonus 2 update..
Semoga updatenya kembali seperti dulu hihihi kadang kali ada update suka lupa yg terakhir apa kmrn
Tetap semangat dan tetap sehat ya buat mas ndo n keluarga
Saya tunggu update an selanjutnya
😊
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
10-09-2020 02:35
Terima kasih om londoo updatenyaa
Wahh lhainii siapa yang datengg
0 0
0
Catatan Yang Terbuka
10-09-2020 05:59
Makasih om londo updatenya pasti sibuk banget, apa lagi pandemi gini. Semoga lancar om rizkynya, Amin.
profile-picture
profile-picture
17062018 dan amuuu memberi reputasi
1 1
0
Catatan Yang Terbuka
10-09-2020 14:22
Bau" tread terakhir ini
Dilihat dari mood mas londo emoticon-Cape d...
Cuma mau selesaikan yg sdh di buat mas?
0 0
0
Halaman 399 dari 403
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
is-it-my-truly-first-love
Stories from the Heart
senja-di-asakusa-tokyo
Stories from the Heart
hunter-pemburu-fantasy
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia