Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
175
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f22ec320577a936297a46dd/quotmendung-di-langit-demakquot-bara-di-kademangan-dawungan
“..Matahari terlihat mulai merambat condong kearah barat. Sinarnya yang tidak seterik beberapa saat sebelumnya terlihat mulai kesulitan menembus kelebatan hutan di kaki Gunung Lawu. Samar samar di kejauhan, terlihat dua orang yang sedang berjalan beriringan keluar dari dalam kelebatan hutan yang tidak terlalu besar tersebut. Kedua orang itu nampaknya baru saja menempuh perjalanan yang panjang da
Lapor Hansip
30-07-2020 22:50

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK"

Past Hot Thread
Thread INDEX
Cerita bersambung
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK"

(Bara Di Kademangan Dawungan)


Pengantar. https://www.kaskus.co.id/show_post/5...77a936297a46de

Bagian 01.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...bdb27e0a645932

Bagian 02.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d69530541b5a80

Bagian 03.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9364b533d152

Bagian 04.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc953194225a64

Bagian 05.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95367c43a9c8

Bagian 06.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9b1755e61084cc

Bagian 07.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...37725797617267

Bagian 08.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9311345ca1ac

Bagian 09.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b5ca27cf782096

Bagian 10.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95772e6f1de4

Bagian 11.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...276834b3695946

Bagian 12.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d2954edc289a10

Bagian 13.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...25c356bd0da5f8

Bagian 14.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c991488533c5af

Bagian 15
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95068005d4db

Bagian 16.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b5ca478d6f4e48

Bagian 17
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb955b855229a3

Bagian 18
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...972e728f7c4fa9

Bagian 19.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...40883ba8721993

Bagian 20.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d2950aca51f606

Bagian 21.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...ae2f70756646d3

Bagian 22.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb282171aff7

Bagian 23
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb0f954736b5

Bagian 24.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...751368695de7f1

Bagian 25.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9373ef39f3a7

Bagian 26.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9b177cf9181343

Bagian 27.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f7642fd72898e8

Bagian 28.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d49521801d7d54

Bagian 29.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...77a959440bba96

Bagian 30.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a55502d0ed0

Bagian 31.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7f930b480f02f0

Bagian 32.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3a723f0e2418ff

Bagian 33.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d4956ac3084fc8

Bagian 34.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a3899078511

Bagian 35.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e933d8a64eb8c

Bagian 36.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...4088544a6d6e50

Bagian 37.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3a7271350b60f7

Bagian 38.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a62e267c4b0

Bagian 39.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb4ffc7575c0

Bagian 40.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f6c4580b206944

Bagian 41.


















MENDUNG DILANGIT DEMAK”
“Bara di Kademangan Dawungan”

(Cuplikan...)

“..Matahari terlihat mulai merambat condong kearah barat. Sinarnya yang tidak seterik beberapa saat sebelumnya terlihat mulai kesulitan menembus kelebatan hutan di kaki Gunung Lawu.

Samar samar di kejauhan, terlihat dua orang yang sedang berjalan beriringan keluar dari dalam kelebatan hutan yang tidak terlalu besar tersebut. Kedua orang itu nampaknya baru saja menempuh perjalanan yang panjang dan baru saja melintasi jalan yang membelah hutan tersebut....”

-------

“Bagus. Majulah bersama sama agar waktuku tidak banyak terbuang. Jangan cemaskan kedua saudara seperguruanku itu. Aku pastikan keduanya tidak akan membantuku meskipun kalian semua yang ada ditempat ini akan maju bersama sama menghadapiku”.

Sesaat setelah menyelesaikan kata katanya, terlihat adik seperguruan Ki Pradangga itu telah saling menggosokkan keduan telapak tangannya. Dan seperti ilmu yang dimilikki oleh kakak seperguruannya, terlihat kedua pergelangan tangan adik seperguruan Ki Pradangga telah menjadi membara.

“Aku akan membunuh diriku sendiri seandainya aku tidak bisa membunuh kalian berempat dalam hitungan tak lebih dari jumlah jari kedua tanganku.”, berkata adik Ki Pradangga menebarkan ancamannya.

*********

Agan semuanya,

Demikianlah cuplikan beberapa paragraf dari sebuah dongeng yang berkisah tentang satu kemelut yang pernah terjadi dimasa pemerintahan Kasultanan Demak dibawah kepemimpinan Sultan Trenggana.

Dongeng saya ini ber genre cerita silat Jawa Klasik dengan setting peristiwanya di masa kerajaan Jawa (Kasultanan Demak).

Karena bukan pendongeng dan penulis yang profesional, mungkin alur ceritanya kurang smooth atau bahkan menghentak. Harap dimaklumi saja, hanya sekedar hobi dan mencoba memaksakan diri menjadi pendongeng. Sementara gaya bertutur/mendongeng saya mungkin juga terkesan lambat.

O ya, mohon maaf juga kalau agak gagap berinteraksi dengan beberapa istilah di Kaskus, maklum pendatang baru di dunia Kaskus.

Terima kasih gan selamat menikmati dongeng saya semoga berkenan.

Matur Nuwun.

Quote:Original Posted By Panuntun645
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 40.



“Selamat datang di Demak Kyai Bahuwirya. Aku tidak menduga sama sekali bahwa hari ini Kyai telah datang mengunjungiku. Aku memang menjadi terkejut ketika pelayan dalam menyampaikan pesan kepadaku bahwa ada seseorang yang menyebut sebagai Lintang Wetan ingin menghadapku”, berkata Sultan Demak kepada Kyai Bahuwirya itu.

“Maafkan kalau kedatangan hamba telah mengganggu Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Aku sebenarnya telah merencanakan mengirim seseorang untuk menemui Kyai, namun ternyata aku belum sempat melaksanakannya karena ada beberapa persoalan yang belakangan ini telah menyita perhatianku”, berkata Sultan Demak.

Dan selanjutnya terdengar Sultan Demak telah memperkenalkan orang yang bersamanya itu kepada Kyai Bahuwirya.

“Kyai, yang bersamaku ini adalah Tumenggung Kertapura. Ia adalah salah satu tumenggung kepercayaanku. Aku sengaja membawanya untuk menemui Kyai karena panggraitaku mengatakan bahwa kedatangan Kyai kali ini tentu membawa kabar penting yang terkait dengan Demak”.

“Tumenggung Kertapura adalah Tumenggung yang aku percayai untuk bertanggung jawab atas seluruh persoalan yang berkaitan dengan rencana kunjunganku ke berbagai wilayah di daerah Timur”.

Terlihat Kyai Bahuwirya membungkukkan badannya sebagai isyarat penghormatannya kepada Tumenggung Kertapura.

Dan selanjutnya, kepada Tumenggung Kertapura, Sultan Demak juga telah memperkenalkan tentang jati diri Kyai Bahuwirya.

“Tamuku ini bernama Kyai Bahuwirya. Sementara Lintang Wetan adalah sebutan yang dipergunakannya secara khusus ketika Kyai Bahuwirya ingin menemuiku”.

Sambil memandang ke arah Kyai Bahuwirya, Kangjeng Sultan Demak meneruskan penjelasannya.

“Kyai Bahuwirya adalah sahabatku sejak aku masih muda. Ia pernah menolongku ketika aku sempat mengalami kesulitan dalam pengembaraanku. Sejak semula Kyai Bahuwirya memang tinggal di kademangan yang berada di kaki gunung Lawu itu”.

“Dalam kaitannya dengan rencana lawatanku ke wilayah timur, Kyai Bahuwirya adalah mata dan telinga bagi Demak. Kyai Bahuwirya menjadi sumber keterangan dari segala persoalan yang sedang terjadi di kaki Gunung Lawu sebelah utara dan juga daerah daerah di sekitarnya. Aku mempercayai Kyai Bahuwirya sepenuhnya seperti aku mempercayaimu”, berkata Kangjeng Sultan Demak memberikan penjelasannya kepada Tumenggung Kertapura.

Terlihat Tumenggung Kertapura telah mengangguk sambil berkata.

“Selamat datang di Demak Kyai”.

Sejenak setelah Tumenggung Kertapura memberikan salamnya kepada Kyai Bahuwirya, terdengar Sultan Demak telah berkata kepada Kyai Bahuwirya.

“Kyai, persoalan apakah yang Kyai bawa kali ini. Sejujurnya aku memang menjadi berdebar debar dengan kedatangan Kyai justru karena Demak sendiri saat ini sedang menghadapi beberapa persoalan yang telah menyita perhatianku”.

“Maaf Kangjeng Sultan, tentu hamba tidak bermaksud untuk menambah persoalan baru atas beberapa persoalan yang saat ini sedang Kangjeng Sultan hadapi. Hamba terpaksa harus menyampaikannya justru karena hamba telah menjadi cemas melihat keadaan yang saat ini sedang berkembang di kademangan Dawungan”, berkata Kyai Bahuwirya.

“Akupun tentu tidak akan mengingkarinya Kyai, karena memang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang pemimpin Demak”, Jawab Sultan Trenggana.

Sesaat Sultan Trenggana menghentikan perkataannya kembali seolah sedang memikirkan sesuatu yang ada didalam angannya.

Namun tak lama kemudian Sultan Trenggana berkata.

“Kyai, sebelum kyai menceritakan persoalan yang terjadi dikademangan itu, biarlah terlebih dulu Aku memberitahukan kepada Kyai beberapa persoalan yang saat ini sedang dihadapi Demak”.

“Aku menganggap perlu menceritakannya agar Kyai mendapatkan satu pengetahuan bahwa saat ini Mendung sedang menyaput di Langit Demak”.

Lalu dengan nada suara yang lebih bersungguh sungguh, terdengar Kangjeng Sultan meneruskan perkataannya.

“Namun sebelum aku menceritakannya kepada Kyai, Aku perlu memberikan pesan bahwa apa yang akan aku ceritakan ini tidak menjadi berkembang kemana mana karena persoalan ini hanya diketahui oleh orang yang sangat terbatas, bahkan tak semua pemimpin Demak mengetahuinya”.

Sambil menatap kearah Kyai Bahuwirya, terdengar Kangjeng Sultan Demak berkata.

“Aku mempercayai Kyai sepenuhnya meskipun Kyai bukan salah satu pemimpin di pemerintahan Demak”.

Mendengar penuturan dari Sultan Demak, hati Kyai Bahuwirya telah menjadi berdebar debar.

Sementara itu terlihat Sultan Demak telah membenarkan letak duduknya, sebelum akhirnya berkata.

“Beberapa waktu yang lalu Demak telah kehilangan dua pusaka yang menjadi lambang kebesaran dan kemakmuran bagi Demak. Kedua pusaka itu telah jengkar dari tempatnya”, desis Sultan Trenggana.

Kyai Bahuwirya tak bisa menutupi debar jantungnya yang semakin berdetak didalam dadanya mendengar keterangan dari Sultan Demak.

Meskipun Kyai Bahuwirya belum mengetahui pusaka apakah yang telah jengkar dari tempatnya namun Kyai Bahuwirya dapat menduga bahwa kedua pusaka itu tentu pusaka yang dianggap mempunyai pengaruh di pemerintahan Demak.

“Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten lah yang saat ini tidak ada ditempatnya”, desis Sultan Trenggana.

Lalu dengan nada suara yang dalam Kangjeng Sultan telah menyambung perkataanya.

“Beberapa senopati terpilih telah disebar untuk melacak keberadaan dari kedua pusaka itu. Saat ini persoalannya telah menjadi semakin kisruh, karena kabar tentang hilangnya dua pusaka itu ternyata juga telah didengar oleh beberapa kalangan diluar pemerintahan Demak”.

“Nampaknya mereka mencoba mengambil kesempatan untuk turut serta melacak keberadaan kedua pusaka itu meskipun untuk kepentingannya sendiri sehingga diluaran sana seolah telah terjadi semacam perlombaan dalam perburuan untuk saling memperebutkan kedua pusaka itu”.

“Maaf Kangjeng Sultan, Apakah sudah ada tanda tanda tentang keberadaan dari kedua pusaka itu”, tanya Kyai Bahuwirya.

“Itulah yang telah merisaukan hatiku. Keberadaan kedua pusaka itu seolah telah menjadi lenyap sama sekali tanpa bisa terlacak dengan cara apapun, sementara pihak pihak yang terlibat dalam perburuan justru semakin bertambah sehingga telah menimbulkan kekisruhan yang baru”.

“Dan yang semakin mencemaskan hatiku”, berkata Sultan Demak selanjutnya.

“Kalau kedua pusaka itu tidak segera dapat ditemukan, sementara kabar hilangnya kedua pusaka itu mulai menyebar luas hingga akhirnya diketahui oleh siapapun tentu akan membuat keadaan semakin tidak menguntungkan bagi Demak”.

Kyai Bahuwirya dapat memahami kecemasan dari Sultan Demak itu justru karena kedua pusaka itu terlanjur dipercayai sebagai salah satu pusaka yang menjadi lambang kebesaran dan kemakmuran bagi Demak.

Bahkan selama ini kedua pusaka itu telah dianggap sebagai pusaka yang menjadi pertanda jatuhnya wahyu keprabon bagi kekuasaan kasultanan Demak.

Bagi pihak pihak tertentu, hilangnya kedua pusaka itu tentu dapat dimanfaatkan untuk mendukung kepentingan yang dibawanya masing masing.

Pihak pihak yang hanya sekedar ingin memperkeruh suasana tentu akan menyebarkan desas desus bahwa Demak dianggap telah kehilangan pamornya seiring dengan lenyapnya pusaka yang menjadi syarat dari jatuhnya wahyu keprabon.

Dalam keadaan yang demikian itulah nampaknya yang telah membuat Sultan Demak menjadi cemas.

Sebenarnya di bangsal pusaka Istana Demak masih tersimpan bermacam macam pusaka yang pamornya tak kalah dari kedua pusaka yang hilang itu.

Namun memang tidak dapat di pungkiri bahwa keberadaan pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten memang mempunyai pamornya tersendiri bagi Demak.


Bersambung bagian 41.
Diubah oleh Panuntun645
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 38 lainnya memberi reputasi
39
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 5 dari 6
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
22-08-2020 17:59
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 40.



“Selamat datang di Demak Kyai Bahuwirya. Aku tidak menduga sama sekali bahwa hari ini Kyai telah datang mengunjungiku. Aku memang menjadi terkejut ketika pelayan dalam menyampaikan pesan kepadaku bahwa ada seseorang yang menyebut sebagai Lintang Wetan ingin menghadapku”, berkata Sultan Demak kepada Kyai Bahuwirya itu.

“Maafkan kalau kedatangan hamba telah mengganggu Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Aku sebenarnya telah merencanakan mengirim seseorang untuk menemui Kyai, namun ternyata aku belum sempat melaksanakannya karena ada beberapa persoalan yang belakangan ini telah menyita perhatianku”, berkata Sultan Demak.

Dan selanjutnya terdengar Sultan Demak telah memperkenalkan orang yang bersamanya itu kepada Kyai Bahuwirya.

“Kyai, yang bersamaku ini adalah Tumenggung Kertapura. Ia adalah salah satu tumenggung kepercayaanku. Aku sengaja membawanya untuk menemui Kyai karena panggraitaku mengatakan bahwa kedatangan Kyai kali ini tentu membawa kabar penting yang terkait dengan Demak”.

“Tumenggung Kertapura adalah Tumenggung yang aku percayai untuk bertanggung jawab atas seluruh persoalan yang berkaitan dengan rencana kunjunganku ke berbagai wilayah di daerah Timur”.

Terlihat Kyai Bahuwirya membungkukkan badannya sebagai isyarat penghormatannya kepada Tumenggung Kertapura.

Dan selanjutnya, kepada Tumenggung Kertapura, Sultan Demak juga telah memperkenalkan tentang jati diri Kyai Bahuwirya.

“Tamuku ini bernama Kyai Bahuwirya. Sementara Lintang Wetan adalah sebutan yang dipergunakannya secara khusus ketika Kyai Bahuwirya ingin menemuiku”.

Sambil memandang ke arah Kyai Bahuwirya, Kangjeng Sultan Demak meneruskan penjelasannya.

“Kyai Bahuwirya adalah sahabatku sejak aku masih muda. Ia pernah menolongku ketika aku sempat mengalami kesulitan dalam pengembaraanku. Sejak semula Kyai Bahuwirya memang tinggal di kademangan yang berada di kaki gunung Lawu itu”.

“Dalam kaitannya dengan rencana lawatanku ke wilayah timur, Kyai Bahuwirya adalah mata dan telinga bagi Demak. Kyai Bahuwirya menjadi sumber keterangan dari segala persoalan yang sedang terjadi di kaki Gunung Lawu sebelah utara dan juga daerah daerah di sekitarnya. Aku mempercayai Kyai Bahuwirya sepenuhnya seperti aku mempercayaimu”, berkata Kangjeng Sultan Demak memberikan penjelasannya kepada Tumenggung Kertapura.

Terlihat Tumenggung Kertapura telah mengangguk sambil berkata.

“Selamat datang di Demak Kyai”.

Sejenak setelah Tumenggung Kertapura memberikan salamnya kepada Kyai Bahuwirya, terdengar Sultan Demak telah berkata kepada Kyai Bahuwirya.

“Kyai, persoalan apakah yang Kyai bawa kali ini. Sejujurnya aku memang menjadi berdebar debar dengan kedatangan Kyai justru karena Demak sendiri saat ini sedang menghadapi beberapa persoalan yang telah menyita perhatianku”.

“Maaf Kangjeng Sultan, tentu hamba tidak bermaksud untuk menambah persoalan baru atas beberapa persoalan yang saat ini sedang Kangjeng Sultan hadapi. Hamba terpaksa harus menyampaikannya justru karena hamba telah menjadi cemas melihat keadaan yang saat ini sedang berkembang di kademangan Dawungan”, berkata Kyai Bahuwirya.

“Akupun tentu tidak akan mengingkarinya Kyai, karena memang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang pemimpin Demak”, Jawab Sultan Trenggana.

Sesaat Sultan Trenggana menghentikan perkataannya kembali seolah sedang memikirkan sesuatu yang ada didalam angannya.

Namun tak lama kemudian Sultan Trenggana berkata.

“Kyai, sebelum kyai menceritakan persoalan yang terjadi dikademangan itu, biarlah terlebih dulu Aku memberitahukan kepada Kyai beberapa persoalan yang saat ini sedang dihadapi Demak”.

“Aku menganggap perlu menceritakannya agar Kyai mendapatkan satu pengetahuan bahwa saat ini Mendung sedang menyaput di Langit Demak”.

Lalu dengan nada suara yang lebih bersungguh sungguh, terdengar Kangjeng Sultan meneruskan perkataannya.

“Namun sebelum aku menceritakannya kepada Kyai, Aku perlu memberikan pesan bahwa apa yang akan aku ceritakan ini tidak menjadi berkembang kemana mana karena persoalan ini hanya diketahui oleh orang yang sangat terbatas, bahkan tak semua pemimpin Demak mengetahuinya”.

Sambil menatap kearah Kyai Bahuwirya, terdengar Kangjeng Sultan Demak berkata.

“Aku mempercayai Kyai sepenuhnya meskipun Kyai bukan salah satu pemimpin di pemerintahan Demak”.

Mendengar penuturan dari Sultan Demak, hati Kyai Bahuwirya telah menjadi berdebar debar.

Sementara itu terlihat Sultan Demak telah membenarkan letak duduknya, sebelum akhirnya berkata.

“Beberapa waktu yang lalu Demak telah kehilangan dua pusaka yang menjadi lambang kebesaran dan kemakmuran bagi Demak. Kedua pusaka itu telah jengkar dari tempatnya”, desis Sultan Trenggana.

Kyai Bahuwirya tak bisa menutupi debar jantungnya yang semakin berdetak didalam dadanya mendengar keterangan dari Sultan Demak.

Meskipun Kyai Bahuwirya belum mengetahui pusaka apakah yang telah jengkar dari tempatnya namun Kyai Bahuwirya dapat menduga bahwa kedua pusaka itu tentu pusaka yang dianggap mempunyai pengaruh di pemerintahan Demak.

“Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten lah yang saat ini tidak ada ditempatnya”, desis Sultan Trenggana.

Lalu dengan nada suara yang dalam Kangjeng Sultan telah menyambung perkataanya.

“Beberapa senopati terpilih telah disebar untuk melacak keberadaan dari kedua pusaka itu. Saat ini persoalannya telah menjadi semakin kisruh, karena kabar tentang hilangnya dua pusaka itu ternyata juga telah didengar oleh beberapa kalangan diluar pemerintahan Demak”.

“Nampaknya mereka mencoba mengambil kesempatan untuk turut serta melacak keberadaan kedua pusaka itu meskipun untuk kepentingannya sendiri sehingga diluaran sana seolah telah terjadi semacam perlombaan dalam perburuan untuk saling memperebutkan kedua pusaka itu”.

“Maaf Kangjeng Sultan, Apakah sudah ada tanda tanda tentang keberadaan dari kedua pusaka itu”, tanya Kyai Bahuwirya.

“Itulah yang telah merisaukan hatiku. Keberadaan kedua pusaka itu seolah telah menjadi lenyap sama sekali tanpa bisa terlacak dengan cara apapun, sementara pihak pihak yang terlibat dalam perburuan justru semakin bertambah sehingga telah menimbulkan kekisruhan yang baru”.

“Dan yang semakin mencemaskan hatiku”, berkata Sultan Demak selanjutnya.

“Kalau kedua pusaka itu tidak segera dapat ditemukan, sementara kabar hilangnya kedua pusaka itu mulai menyebar luas hingga akhirnya diketahui oleh siapapun tentu akan membuat keadaan semakin tidak menguntungkan bagi Demak”.

Kyai Bahuwirya dapat memahami kecemasan dari Sultan Demak itu justru karena kedua pusaka itu terlanjur dipercayai sebagai salah satu pusaka yang menjadi lambang kebesaran dan kemakmuran bagi Demak.

Bahkan selama ini kedua pusaka itu telah dianggap sebagai pusaka yang menjadi pertanda jatuhnya wahyu keprabon bagi kekuasaan kasultanan Demak.

Bagi pihak pihak tertentu, hilangnya kedua pusaka itu tentu dapat dimanfaatkan untuk mendukung kepentingan yang dibawanya masing masing.

Pihak pihak yang hanya sekedar ingin memperkeruh suasana tentu akan menyebarkan desas desus bahwa Demak dianggap telah kehilangan pamornya seiring dengan lenyapnya pusaka yang menjadi syarat dari jatuhnya wahyu keprabon.

Dalam keadaan yang demikian itulah nampaknya yang telah membuat Sultan Demak menjadi cemas.

Sebenarnya di bangsal pusaka Istana Demak masih tersimpan bermacam macam pusaka yang pamornya tak kalah dari kedua pusaka yang hilang itu.

Namun memang tidak dapat di pungkiri bahwa keberadaan pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten memang mempunyai pamornya tersendiri bagi Demak.


Bersambung bagian 41.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
22-08-2020 18:44
Semangat gan, bagus ceritanya
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
22-08-2020 22:40
mantap.. nyambung ke nagasasra sabuk inten..
lanjut gan.. semangat
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
24-08-2020 12:49

Mendung Di Langit Demak.

SISIPAN

Saya menulis Dongeng Mendung Di Langit Demak karena terinspirasi oleh salah satu karya almarhum SH. Mintardja (Api Di Bukit Menoreh).

Dongeng Mendung Di Langit Demak adalah dongeng yang mengisahkan tentang jejak petualangan tokoh Kyai Gringsing ketika masih berusia muda. (Kyai Gringsing adalah salah satu tokoh favorit saya di ADBM)

(Bagi penggemar karya karya alm. SH Mintardja tentu sudah mengenal dengan baik sosok KG ini, karena KG adalah salah satu tokoh utama dalam cerita Api Di Bukit Menoreh).

Saya menulis cerita ini sebagai apresiasi sekaligus ungkapan atas kecintaan saya pada karya karya sang maestro Alm. SH. Mintardja.

Karena ceritanya mengisahkan tentang jejak petualangan Kyai Gringsing muda maka cerita saya ini tentu mempunyai keterkaitan dengan dongeng karya Almarhum khususnya Api Di Bukit Menoreh juga Nagasasra Sabuk Intan.

Setidaknya ada beberapa nama tokoh di ADBM yang saya sisipkan dalam cerita yang saya tulis, bahkan ada tokoh di ADBM yang pada saatnya nanti akan mempunyai peran didalam dongeng saya.


Terima kasih.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lonelylontong dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
24-08-2020 12:57
MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 41.



Untuk beberapa saat ruangan itu menjadi hening. Ketiga orang yang berada diruangan itu nampaknya tengah tenggelam dalam angannya masing masing.

Namun tak lama kemudian Kangjeng Sultan telah memecah keheningan suasana ruangan itu dengan suaranya.

“Kyai..,” terdengar Sultan Trenggana berkata.

“Itulah persoalan yang saat ini harus dihadapi oleh Demak. Meskipun sampai saat sekarang ini belum ada tanda tanda tentang keberadaan dari kedua pusaka itu, tapi aku meyakini bahwa pada saatnya kedua pusaka tersebut dapat segera dikembalikan ketempatnya”.

Kyai Bahuwirya hanya menundukkan kepalanya saja tanpa menanggapi keterangan dari Sultan Trenggana.

Ia mengetahui bahwa Kangjeng Sultan nampaknya masih akan melanjutkan keterangannya.

“Sementara itu”, berkata Sultan Trenggana lebih lanjut.

“Masih ada persoalan lain yang saat ini juga telah menyita perhatianku. Satu persoalan yang benar benar telah menyulitkan kedudukanku, baik dalam kedudukanku sebagai seorang pemimpin di pemerintahan Demak maupun kedudukanku sebagai seorang ayah”.

“Dalam persoalan ini, Aku harus benar benar mempunyai pertimbangan yang mapan dan penuh kehati hatian untuk mencari jalan penyelesaiannya”.

Kyai Bahuwirya terlihat mengerutkan dahinya mendengar keterangan dari Sultan Trenggana itu. Ia sama sekali tidak mengetahui bahkan untuk sekedar menebak persoalan apakah yang dimaksud oleh Sultan Trenggana itu.

Meskipun demikian Kyai Bahuwirya tidak berani menanyakan kepada Sultan Trenggana terkait peroalan yang disebutnya itu.

Kyai Bahuwirya hanya menunggu keterangan lebih lanjut dari Sultan Trenggana. Dan nampaknya Sultan Trenggana memang bermaksud mengatakannya kepada Kyai Bahuwirya.

Terdengar Sultan Trenggana itu berkata.

“Aku telah mengusir prajurit muda dari Tingkir itu atas kesalahan yang telah dilakukannya. Akupun telah menjatuhkan hukumanku dengan melarang anak muda itu menginjakkan kakinya di kota Demak dengan alasan apapun”.

“Aku harus melakukannya meskipun sebenarnya aku menaruh harapan besar pada lurah prajurit muda itu. Dengan segala kelebihan yang dimilikkinya, anak itu sebenarnya mempunyai masa depan yang cemerlang. Sayang anak itu telah membuatku kecewa bahkan telah menggoreskan arang dimukaku”.

Kyai Bahuwirya menarik nafasnya dengan dalam. Ia mengetahui siapakah anak muda dari Tingkir yang dimaksud oleh Sultan Trenggana itu.

Anak muda yang dikabarkan mempunyai bakat luar biasa sehingga karirnya sebagai prajurit Demak telah menanjak dengan cepatnya.

Bahkan dengan kelebihan yang dimilikkinya, anak muda itu telah mendapat kepercayaam dari Sultan Trenggana untuk menjadi lurah prajurit khusus dalam kedudukkannya sebagai pasukan pengawal pribadi Sultan Demak.

Kyai Bahuwirya pernah bertemu dengan prajurit muda tersebut ketika Kyai Bahuwirya berkunjung ke istana Demak beberapa waktu yang lalu.

Meskipun demikian Kyai Bahuwirya belum bisa menangkap sepenuhnya keterangan dari Sultan Trenggana terkait dengan yang dimaksud sebagai kesalahan itu.

Bagi Kyai Bahuwirya, tentu bukanlah hal yang mengherankan sebuah hukuman bagi prajurit yang melakukan kesalahan, apalagi kalau kesalahan itu telah dianggap mencoreng kewibawaan Sultan Trenggana sebagai pemimpin dari Kasultanan Demak.

Bahkan dalam keadaan tertentu, seorang prajurit yang dianggap telah melakukan kesalahan yang berat dapat saja dijatuhi hukum mati.

Untuk sesaat Sultan Demak terdiam. Beberapa kali terlihat Sultan Demak menarik nafasnya dengan dalam seolah ada sesuatu yang sedang mengganjal didalam dadanya.

Sementara itu Tumenggung Kertapura yang berada didekatnya telah tertunduk dengan wajah yang menyiratkan kegelisahannya seolah Tumenggung Kertapura itu dapat merasakan apa yang sedang direnungkan oleh Sultan Trenggana.

Dengan sebuah tarikan nafas yang panjang terdengar Sultan Trenggana itu berkata dengan perlahan seolah perkataannya itu hanya ingin didengarnya sendiri.

“Yang sama sekali tidak aku perhitungkan adalah, keputusanku untuk mengusir lurah prajurit itu ternyata telah membawa akibat lain yang telah membuatku berada dalam keadaan yang sulit untuk membuat pertimbangan pertimbangan yang jernih dan mapan justru karena persoalannya telah menyangkut kepentingan anakku”.

“Jerat yang di tebarkan oleh Lurah prajurit itu nampaknya telah berhasil membuat anakku terperangkap didalamnya sehingga putri bungsuku seolah telah menjadi kehilangan kendali atas dirinya sendiri”.

“Bahkan ketika Ia mengetahui aku telah mengusir prajurit muda itu, putriku seolah semakin menjadi kehilangan akalnya. Dalam beberapa kali kesempatan, Ia telah bertindak nekat untuk mengakhiri hidupnya karena merasa hidupnya seolah menjadi tidak berarti setelah dipisahkan dari seseorang yang terlanjur ada disudut hatinya”.

“Aku dapat merasakan bahwa hidupnya seolah telah menjadi hancur berantakan bagai sebuah belanga yang terjatuh dari atas tebing berbatu”.

Untuk beberapa saat terlihat Sultan Trenggana telah kembali terdiam. Matanya menatap dinding ruangan itu dengan pandangan yang seolah menyiratkan kecemasannya atas keadaan putrinya saat ini.

Beberapa kali terlihat Sultan Trenggana telah menarik nafasnya dengan dalam seolah ingin menghirup udara segar diruangan itu sebanyak banyaknya untuk sekedar melapangkan dadanya.

Sementara itu Kyai Bahuwirya mulai dapat menangkap dengan jelas seluruh keterangan dari Sultan Trenggana.

Bagaimanapun Kyai Bahuwirya memang terkejut mendengar penuturan dari Sultan Demak itu sehingga Kyai Bahuwirya dapat memahami kecemasan serta kegelisahan yang sedang dirasakan oleh Kangjeng Sultan Demak.

Ia tidak menduga sama sekali bahwa prajurit muda yang pernah bertemu dengannya itu ternyata mempunyai belitan asmara dengan putri Sultan Demak.

Untuk sejenak ruangan itu telah menjadi hening. Baik Kyai Bahuwirya maupun Tumenggung Kertapura hanya bisa terdiam dan terlihat menundukkan kepalanya.

Namun tak lama kemudian keheningan suasana didalam ruangan itu telah dipecahkan oleh suara dari Sultan Trenggana.

“Baiklah Kyai, itulah beberapa persoalan yang saat ini telah banyak menyita perhatianku. Persoalan putriku itu memang tidak terkait langsung dengan persoalan Demak secara keseluruhannya karena aku menyadari bahwa persoalan itu adalah persoalan yang ada didalam keluargaku, namun demikian Aku tidak bisa mengingkari bahwa persoalan itu ternyata telah mempengaruhi pertimbangan pertimbanganku dalam menyikapi seluruh permasalahan yang saat ini sedang di hadapi oleh Demak”.

“Meskipun demikian aku tetap meyakini bahwa dalam waktu secepatnya aku akan dapat mencari penyelesaiannya termasuk persoalan yang menyangkut keluargaku itu”.

Lalu sambil membetulkan letak duduknya, Kangjeng Sultan Trengggana melanjutkan perkataannya.

“Selebihnya, terlepas dari semua permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh Demak, rencana kunjunganku untuk melakukan lawatan ke beberapa wilayah di bagian timur merupakan kebijakkan yang paling penting yang harus segera aku lakukan dalam kedudukanku sebagai pemimpin Demak. Aku tidak ingin Demak terlambat mengambil sikap atas perkembangan yang saat ini sedang terjadi dibeberapa wilayah Timur”.

“Menurut laporan terakhir yang aku terima, beberapa wilayah di bang wetan nampaknya telah mulai bertindak sendiri sendiri dan mencoba mengabaikan paugeran dalam tatanan pemerintahan. Bahkan beberapa diantaranya telah bertindak berlebihan dan bersikap kladuk wani kurang duga dengan mulai berani menyatakan sikapnya untuk tidak mengakui keberadaan Demak sebagai sebuah pemerintahan yang syah atas negeri ini”, berkata Sultan Trenggana dengan nada yang tinggi.

“Maaf Kangjeng Sultan”, tiba tiba terdengar suara Kyai Bahuwirya menyela keterangan dari Kangjeng Sultan Demak.

“Gejolak gejolak seperti itulah yang saat ini telah mulai tumbuh dan berkembang di Kademangan Dawungan”, kata Kyai Bahuwirya.

Terlihat Sultan Trenggana dan Tumenggung Kertapura telah menjadi terkejut mendengar perkataan dari Kyai Bahuwirya.

Sambil mencondongkan badannya Sultan Trenggana telah berdesis.

“Jadi persoalan seperti itukah yang ingin Kyai sampaikan kepadaku”.

“Demikianlah Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Kyai, sepengetahuanku kademangan itu adalah kademangan yang tidak terlalu besar”, kata Sultan Trenggana.

“Demikianlah Kangjeng Sultan, kademangan itu masih seperti kademangan yang pernah Kangjeng Sultan singgahi beberapa puluh tahun yang lalu. Meskipun saat ini kademangan itu telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan namun perubahan yang terjadi adalah perubahan yang sewajarnya”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Apakah dengan demikian dapat diartikan bahwa ada kekuatan besar yang berasal dari luar kademangan yang telah memanfaatkan wilayah itu sebagai alas dari tujuannya”, berkata Sultan Trenggana.

“Tanda tanda seperti itulah yang nampaknya memang terjadi dikademangan itu. Meskipun yang bisa hamba lihat saat ini masih pada permukaannya saja”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Baiklah, agar persoalannya menjadi lebih jelas silahkan Kyai menceritakannya secara utuh dan runtut agar kita bisa memberikan penilaian sesuai dengan perkembangan yang terjadi dikademangan itu”, kata Sultan Trenggana.

-----

Bersambung bagian 42.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
24-08-2020 19:52
“MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 42.



Demikianlah untuk selanjutnya, sesuai dengan permintaan dari Kangjeng Sultan Trenggana, Kyai Bahuwirya telah menceritakan seluruh peristiwa yang terjadi di Kademangan Dawungan.

Dengan hati hati Kyai Bahuwirya memberikan keterangannya berdasarkan pada urut urutan peristiwanya hingga sampai pada perkembangan terakhir yang saat ini terjadi di kademangan Dawungan.

Terlihat Kangjeng Sultan Demak dan Tumenggung Kertapura telah mendengarkan keterangan dari Kyai Bahuwirya itu dengan bersungguh sungguh seolah keduanya tidak ingin kehilangan bagian bagian yang disampaikan oleh Kyai Bahuwirya.

Sesekali terlihat keduanya mengangguk anggukkan kepalanya, namun terkadang keduanya terlihat mengerutkan dahinya ketika mendengar bagian cerita yang dianggap tidak teruraikan dengan jelas.

Meskipun demikian, baik Kangjeng Sultan Demak maupun Tumenggung Kertapura nampaknya hanya terdiam saja dan tidak ingin memotong keterangan yang sedang di sampaikan oleh Kyai Bahuwirya.

Dan demikianlah selanjutnya, sesaat setelah Kyai Bahuwirya menyelesaikan keterangannya, Sultan Trenggana dan Tumenggung Kertapura masih terdiam.

Nampaknya keduanya sedang mengurai keadaan berdasarkan dari keterangan yang diberikan oleh Kyai Bahuwirya.

Dan beberapa saat kemudian terdengar suara dari Sultan Trenggana.

“Sebelum aku menanggapi keterangan yang telah Kyai sampaikan itu, bagaimanakan pendapat Kyai sendiri dengan keadaan yang terjadi dikademangan itu. Maksudku adalah, kemungkinan kemungkinan apakah yang sedang direncanakan oleh Paman dan kemenakkannya itu”

“Maaf Kangjeng Sultan barangkali pendapat hamba keliru, namun menurut dugaan hamba keduanya nampaknya mempunyai kepentingan dengan rencana Lawatan Kangjeng Sultan ke Wilayah Timur”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Dan pertimbangan apakah yang mendasarinya”, kata Sultan Trenggana.

Lalu dengan berhati hati, Kyai Bahuwirya memberikan pejelasannya.

“Mereka memang telah dengan sengaja memilih kademangan tersebut sebagai alas berpijaknya meskipun mereka mengetahui bahwa kademangan Dawungan sebenarnya tidak memilikki kekuatan yang dapat mendukung rencananya. Hal yang demikian nampaknya telah mereka perhitungkan karena menurut dugaan hamba kademangan itu hanya akan mereka pergunakan sebagai alas dari perjuangannya”.

Terlihat Kyai Bahuwirya telah menghentikan keterangannya untuk sekedar menunggu barangkali ada tanggapan dari Kangjeng Sultan Trenggana.

Tetapi nampaknya Sultan Trenggana justru telah meminta Kyai Bahuwirya melanjutkan penjelasannya.

“Silahkan Kyai melanjutkan, aku justru telah menjadi tertarik dengan pendapat dari Kyai itu”.

“Terima kasih Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bauwirya sambil kembali melanjutkan keterangannya.

“Letak dan keberadaan dari kademangan itulah yang nampaknya telah menjadi perhitungan mereka. Maksud hamba adalah, bukankah kademangan itu berada pada jalur lintasan yang akan Kangjeng Sultan lalui dalam rencana lawatan ke wilayah timur. Hamba menduga mereka merencanakan untuk mengganggu perjalanan Kangjeng Sultan, baik langsung ataupun tidak langsung. Mereka dengan cerdik akan meminjam kademangan itu sebagai landasan gerakannya sehingga ada kesan seolah olah gerakan yang mereka lakukan merupakan gerakan dari kademangan tersebut”.

Mendengar perkataan dari Kyai Bauwirya itu terlihat Tumenggung Kertapura tidak bisa menutupi keterkejutannya sehingga terdengar Tumenggung Kertapura itu telah berkata.

“Apakah dengan demikian mereka ingin menghadang iring iringan dari Kangjeng Sultan dalam kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi dari Kasultanan Demak. Perjalanan Kangjeng Sultan ke wilayah timur merupakan perjalanan yang bersifat perjalanan resmi Seorang Pemimpin Kasultanan Demak dengan segala tunggul dan lambang kebesarannya”.

“Demikianlah salah satu tujuan jangka pendek dari kemungkinan yang terjadi, dan Aku meyakini bahwa mereka memang merencanakan untuk menghadang secara langsung iring iringan dari Kangjeng Sultan itu. Kademangan Dawungan adalah tempat yang paling memungkinkan untuk menghadang rombongan dari Kangjeng Sultan. Mereka tentu telah memperhitungkan kekuatan pasukan yang akan mengawal iring iringan dari Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bahuwirya kepada Tumenggung Kertapura.

Sambil mengangguk angguk terlihat Sultan Trenggana berkata.

“Oleh sebab itu mereka telah memilih kademangan itu untuk dijadikan alas untuk mempersiapkan seluruh rencananya. Dan merekapun telah mulai mempersiapkannya jauh sebelum aku melakukan lawatanku. Nampaknya mereka ingin membuat persiapan yang benar benar matang”.

“Maaf Kangjeng Sultan”, desis Tumenggung Kertapura.

“Bukankah berdasarkan keterangan dari Kyai Bahuwirya kademangan itu tidak memilikki kekuatan yang memungkinkan untuk mendukung rencana itu. Dan seandainya mereka ingin membentuk satu kekuatan dengan menggerakkan seluruh kekuatan yang ada di kademangan itu tentu membutuhkan waktu yang panjang”.

“Bagaimana kalau mereka telah menyusun atau bahkan telah memilikki kekuatan untuk mendukung rencananya. Sebuah kekuatan besar dan siap digerakan kapan saja. Pada saatnya kalau mereka telah mampu menguasai dan mengendalikan kademangan itu, kekuatan yang masih disembunyikannya itu tentu akan mulai dialirkannya menuju kademangan itu”, berkata Sultan Trenggana kepada Tumenggung Kertapura.

“Maaf Kangjeng Sultan, apakah ada tanda tanda yang menyiratkan hal yang demikian”, jawab Tumenggung Kertapura sambil membungkukkan badannya.

“Bagaimana dengan pertanyaan dari Tumenggung Kertapura itu Kyai. Apakah memang ada tanda tanda kearah itu”, berkata Sultan Trenggana yang justru melemparkan pertanyaan Tumenggung Kertapura kepada Kyai Bahuwirya.

“Tumenggung Kertapura, untuk persoalan itulah aku menghadap Kangjeng Sultan Trenggana saat ini. Meskipun masih samar samar, sebenarnya sudah ada tanda tanda yang mengisyaratkan bahwa mereka memang menyimpan sebuah kekuatan yang siap digerakkan kapan saja dan kemana saja. Namun aku memang belum mempunyai keterangan yang cukup memadai untuk mendukung keteranganku itu justru karena keberadaanku dikademangan itu”.

Sesaat Kyai Bahuwirya telah menghetikan keterangannya kepada Tumenggung Kertapura, dan melanjutkan perkataannya yang kali ini ditujukan kepada Sultan Trenggana.

“Maaf Kangjeng Sultan”, berkata Kyai Bahuwirya kepada Sultan Trenggana.

“Hamba ingin menyampaikan pendapat, apakah tidak lebih baik Demak mengirimkan seorang petugas sandinya untuk secara khusus mengamati perkembangan yang terjadi di kademangan itu agar dapat diperoleh satu keterangan yang lebih lengkap dan menyeluruh terkait dengan persoalan yang ada di kademangan itu. Hamba mencemaskan perkembangan keadaan yang saat ini terjadi di kademangan Dawungan”.

-----


Bersambung bagian 43.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
26-08-2020 02:16
Wah blm apdet nih
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
28-08-2020 08:15
updatenya ditunggu gan
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
28-08-2020 13:49
masih belum ada update emoticon-Hammer2
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
29-08-2020 19:09
Ditunggu update nya gan emoticon-Matabelo
profile-picture
profile-picture
Marutoklopokono dan marutobotokono memberi reputasi
2 0
2
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
08-09-2020 10:41
hai kak, ceritanya menarik rutin juga updatenya, apa kakak tertarik menjadi penulis di NovelMe? banyak keuntungan yg bisa didapat kak emoticon-Smilie
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
09-09-2020 01:29
Kasih tanda dlu
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
09-09-2020 22:36
TS nya kemana nihemoticon-Cape d...
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
09-09-2020 22:37
Mohon maaf, masih ada kesibukkan di dunia nyata. Semoga secepatnya bisa melanjutkan kembali sambungannya.
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
10-09-2020 19:32
“MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 43.



Untuk beberapa saat Sultan Trenggana telah terdiam. Persoalan yang telah disampaikan oleh Kyai Bahuwirya nampaknya benar benar telah menambah kegelisahan hatinya.

Rencana lawatannya ke wilayah timur adalah rencana yang telah menjadi kebijakkan resmi dari pemerintahan Demak.

Bahkan dalam sebuah acara pisowanan agung, rencana tersebut telah mendapat persetujuan dari seluruh pemimpin tertinggi kasultanan Demak termasuk juga telah mendapatkan restu dari para sesepuh yang ada.

Bagi Demak, gejolak yang terjadi dibeberapa wilayah di daerah timur dianggap sebagai satu gerakan yang berupaya untuk mengingkari kekuasaan Demak yang secara syah diakui keberadaannya sebagai sebuah pemerintahan dengan seluruh cakupan wilayahnya.

Pengaruh kekuasaan Demak yang sedikit demi sedikit telah mulai memudar dan semakin rapuh di wilayah Timur nampaknya telah mendorong Sultan Trenggana untuk segera mengambil satu keputusan yang jelas dan tegas.

Bahkan kalau dianggap perlu pemerintah Demak nampaknya tidak akan segan untuk melakukan tindakan yang keras agar Demak tidak benar benar kehilangan seluruh pengaruhnya di wilayah Timur.

Meskipun demikian Sultan Trenggana memang tidak bermaksud melakukan rencananya itu dengan serta merta begitu saja.

Bagaimanapun juga Sultan Trenggana nampaknya memerlukan untuk bersikap dengan penuh ke hati hatian agar segala sesuatunya dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Sebagai langkah awal, Demak terlebih dulu mengirimkan utusannya secara resmi dalam upaya merintis jalan serta melakukan upaya upaya penjajagan dan pendekatan lainnya.

Untuk memberikan isyarat dan tekanan atas kesungguhan rencana tersebut, Sultan Trenggana telah menyertakan sepasukan prajurit dalam jumlah segelar sepapan dengan segala pertanda dan panji panji kebesaran Demak.

Utusan itu sendiri dipimpin oleh seseorang yang mendapat kepercayaan secara khusus dari Sultan Trenggana dan orang tersebut merupakan salah satu pemimpin Demak dalam kedudukannya sebagai seorang Tumenggung dengan pengalamannya yang luas.

Sementara itu, seorang senopati muda yang mempunyai kecakapan dan kemampuan mumpuni telah ditunjuk sendiri oleh Sultan Trenggana untuk memimpin sepasukan prajurit yang mempunyai tugas melakukan pengawalan dan pengamanan terhadap utusan resmi dari pemerintahan Demak tersebut.

Selain melakukan upaya penjajagan dan pembuka jalan, utusan itu sendiri ternyata telah mendapatkan wewenang secara khusus dari Sultan Trenggana sebagai Duta Ngrampungi.

Sebagai seorang pemimpin dari sebuah negeri yang besar, Sultan Trenggana telah sampai pada keputusannya bahwa rencana lawatannya ke timur merupakan satu upaya pemerintahan Demak untuk menegakkan kembali kebesaran dan kedaulatan Demak.

Sultan Trenggana nampaknya telah berniat untuk mulai mewujudkan cita citanya untuk mempersatukan kembali wilayah wilayah yang selama ini telah mulai tercerai berai.

Sebuah cita cita yang memang telah di rintis oleh para pendahulunya dalam upayanya mempersatukan seluruh wilayah dari mulai ujung Timur sampai ke Ujung Barat ke dalam panji panji kebesaran Demak.

Dan demikianlah selanjutnya, untuk beberapa saat lamanya Sultan Trenggana telah tenggelam bersama angan angannya.

Beberapa kali terlihat Sultan Trenggana telah menarik nafasnya dengan dalam untuk sekedar menyusupkan udara segar ke dalam rongga dadanya.

Sementara itu Kyai Bahuwirya dan Tumenggung Kertapura juga masih diam dalam keadaannya. Keduanya nampaknya masih menunggu sikap dan perintah lebih lanjut dari Sultan Trenggana.

Hingga akhirnya terdengar Sultan Trenggana berkata.

“Kyai, dalam menyikapi perkembangan keadaan yang terjadi di kademangan itu, tentu saja Demak akan mengirimkankan petugas sandinya untuk mengumpulkan keterangan yang lebih lengkap agar pada saat selanjutnya Demak bisa mengambil sikap dan keputusan yang tepat sesuai dengan persoalan yang berkembang”.

“Meskipun demikian”, berkata Sultan Trenggana lebih lanjut

“Seperti yang sudah aku sampaikan dimuka, saat ini Demak sedang menghadapi beberapa persolan yang juga memerlukan penyelesaian secepatnya, untuk itulah aku tentu memerlukan waktu untuk dapat mengambil keputusan yang berkaitan dengan persoalan di kademangan itu”.

Sambil mengangguk hormat Kyai Bahuwirya berkata.

“Terima kasih Kangjeng Sultan. Hamba akan menunggu keputusan itu datang. Meskipun demikian, menurut penilaian hamba, perkembangan keadaan dikademangan itu telah semakin mencemaskan”, jawab Kyai Bahuwirya.

Sambil menganggukan kepalanya Sultan Trenggana itu berkata.

“Aku dapat merasakan kecemasan itu Kyai, karena aku pun mempunyai kecemasan yang sama atas persoalan yang saat ini terjadi di kademangan itu”.

Sultan Trenggana sejenak menghentikan kata katanya. Lalu kepada Tumenggung Kertapura Sultan Trenggana berkata.

“Tumenggung Kertapura, bagaimanakah pendapatmu dengan keadaan di kademangan Dawungan itu. Atau barangkali kau bisa memberikan gambaran siapakah kira kira seseorang yang mempunyai kemampuan mumpuni dan bisa aku percayai untuk melakukan tugas yang berbahaya itu”.

“Kangjeng Sultan, menurut pendapat hamba, Demak memang harus secepatnya mengirimkan petugas sandinya untuk mengamati perkembangan keadaan di kademangan itu. Seorang petugas sandi khusus dengan bekal kemampuan yang mumpuni”.

Setelah berhenti sejenak berkata, terdengar Tumenggung Kertapura kembali menyambung perkataannya.

“Bukankah berdasarkan keterangan dari Kyai Bahuwirya, salah seorang diantara keduanya itu mempunyai kemampuan yang tinggi dengan ilmunya, bahkan menurut dugaan hamba, seorang yang satunya, yang disebut sebagai pamannya itu tentu juga memilikki ilmu yang pilih tanding”, jawab Tumenggung Kertapura.

“Tentu akupun mempunyai penilaian seperti itu. Untuk itulah aku meminta pendapatmu siapakah petugas sandi atau senopati yang pantas aku kirim dalam tugas itu”, desis Sultan Trenggana.

“Maaf Kangjeng Sultan, saat ini beberapa senopati utama telah berada dalam tugasnya masing masing. Sementara beberapa senopati lainnya harus tetap berada dalam kesiagaannya untuk menjaga keamanan dan ketentraman di ibu kota Demak. Namun demikian kalau Kangjeng Sultan menghendaki hamba bisa menarik salah satu senopati yang saat ini sedang dalam tugasnya melacak keberadaan dari kedua pusaka itu”, jawab Tumenggung Kertapura.

“Kita tidak bisa menarik senopati yang saat ini sedang melacak keberadaan dari kedua pusaka itu. Paningron dan Gajah Alit harus tetap pada tugasnya. Menurut keterangan terakhir yang aku terima dari satu sumber yang aku percayai sepenuhnya, perburuan kedua pusaka itu telah semakin menjadi kisruh dengan hadirnya beberapa kelompok yang justru telah membuat arena perburuan semakin melebar kemana mana”.

“Aku mendengar kabar, beberapa angkatan tua nampaknya juga telah mulai terseret masuk kedalam pusaran kekisruhan itu sehingga suasana perburuan kedua pusaka itu seolah telah dipenuhi oleh orang orang yang mempunyai kemampuan ilmu yang aneh aneh dalam dunia kanuragan”, kata Sultan Trenggana.

Sambil menganggukkan kepalanya, Tumenggung Kertapura itu berkata kepada Sultan Trenggana.

“Bagaimana pendapat Kangjeng Sultan apabila hamba memanggil pulang senopati muda yang saat ini memimpin pasukan perintis yang sedang berada dalam perjalanan menuju ke timur. Hamba dapat menggantikan kedudukannya dengan senopati lainnya sementara senopati muda itu akan menjalankan tugasnya di kademangan Dawungan”.

“Apakah yang kau maksud Arya Teja dari Menoreh itu”, tanya Sultan Trenggana.

“Demikianlah Kangjeng Sultan. Senopati muda dari Menoreh itu mempunyai kemampuan pribadi yang mengagumkan. Sementara sebagai seorang pemimpin pasukan, senopati itu mempunyai jejak tugas yang memuaskan. Ia selalu dapat menyelesaikan setiap tugas yang dibebankan kepadanya”, jawab Tumenggung Kertapura.

“Aku tidak mungkin menarik anak muda dari Menoreh itu dari tugasnya yang sekarang. Aku sendirilah yang telah memilih anak muda itu untuk memimpin pasukan pendahulu sebagai pembuka jalan dalam rencana lawatanku ke Timur”.

“Sebuah tugas yang berat dan penuh tantangan karena anak muda itu harus mengendalikan pasukan segelar sepapan dengan segala kelengkapannya. Kecerdasan dan kelebihan yang dimilikkinya itulah yang telah membuat aku mempercayakan tugas berat kepada anak muda dari Menoreh tersebut”.

“Pada saatnya anak muda itu akan mendapatkan masa depannya yang cerah. Demak pantas menjadi bangga mempunyai senopati seperti anak Menoreh itu”.

Mendengar penuturan dari Kangjeng Sultan itu, Tumenggung Kertapura telah terdiam.

Tumenggung Kertapura nampaknya masih merenung untuk sekedar mencari sosok yang dianggap mampu untuk melakukan tugas yang menurut penilaiannya memang sebuah tugas yang berat.

Beberapa senopati utama Demak telah berada dalam tugasnya masing masing, sementara beberapa lainnya harus tetap berada dalam kesiagaannya menjaga ibu kota Demak sehingga tidak mungkin untuk diberikan tugas diluar wilayah ibu kota apalagi dalam waktu yang tdak terbatas.

Sementara itu Sultan Trenggana sendiri nampaknya juga sedang memikirkan satu kemungkinan kemungkinan yang dapat diambilnya sebagai jalan keluar berkaitan dengan perkembangan keadaan yang terjadi di Kademangan Dawungan.

Dan sejenak kemudian terdengar Sultan Trenggana bertanya kepada Kyai Bahuwirya.

“Kapan Kyai akan kembali”.

“Hamba harus secepatnya kembali Kangjeng Sultan. Kepergian hamba yang terlalu lama mungkin dapat menimbulkan kecurigaan kecurigaan yang pada akhirnya justru akan menyulitkan kedudukan hamba di kademangan itu”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Apakah sejauh ini Kyai dapat merasakan ada pihak pihak yang mulai mencurigai Kyai”, tanya Sultan Trenggana.

“Sepengetahuan hamba belum ada Kangjeng Sultan, meskipun demikian hamba merasakan bahwa anak muda yang bernama Jatmika itu nampaknya mempunyai sikap yang lain terhadap hamba meskipun secara kewadagan anak muda itu selalu bersikap sewajarnya bahkan telah menunjukkan unggah ungguhnya kepada hamba”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Baiklah Kyai, Aku sebenarnya berharap Kyai dapat tinggal disini untuk beberapa hari sampai aku dapat memberikan keputusan menyikapi persoalan di kademangan itu. Namun kalau Kyai telah memutuskan untuk segera kembali berdasarkan pertimbangan yang Kyai katakan itu tentu aku tidak mungkin untuk memaksa Kyai tetap tinggal di sini”.

“Meskipun demikian”. Berkata Sultan Trenggana lebih lanjut

“Aku perlu menyampaikan bahwa tidak lebih dari sepekan sejak hari ini aku akan mengirimkan seseorang untuk menemui Kyai. Ia akan membawa kepercayaan dan wewenangku sepenuhnya untuk mengamati perkembangan yang terjadi di tempat itu”.

“Bagaimanakah hamba mengenal orang tersebut”, tanya Kyai Bahuwirya.

“Saat ini aku belum bisa mengatakan nama orang yang kumaksud. Pada saatnya orang itu akan menemukan rumah Kyai dan akan memperkenalkan dirinya dengan menyebut nama Kyai yang khusus itu”.

Terlihat Kangjeng Sultan Demak menghentikan perkataanya, lalu mengambil sebuah benda dari dalam bajunya dan memberikannya kepada Kyai Bahuwirya.

Sebuah benda dalam ujud sebuah kepingan perak berbentuk bulat pipih kecil yang pada kedua sisinya terdapat lukisan ukir kepala burung cabak.

“Bawalah benda ini. Pada saatnya Akupun akan membekali orang tersebut dengan benda yang sama persis seperti ini sebagai tanda pengenal khusus agar Kyai bisa memastikan bahwa yang datang menemui Kyai adalah orang yang benar benar membawa pesanku”.

“Terima kasih Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bahuwirya sambil menyimpan benda tersebut ke dalam kantong ikat pinggangnya.

“Pertanda seperti itu hanya aku berikan kepada orang orang yang aku anggap mempunyai kedudukan khusus dan tidak semua pemimpin Demak mengetahui keberadaan dari pertanda seperti itu. Aku mohon Kyai pun dapat menyimpannya dengan baik”, berkata Sultan Demak kepada Kyai Bahuwirya.

“Hamba Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bahuwirya sambil mengangguk hormat.

Beberapa saat kemudian Kangjeng Sultan Demak telah berkata kembali.

“Aku berharap orang itu dapat tinggal bersama Kyai dengan alasan apapun sehingga Kyai dapat selalu berhubungan setiap saat”, berkata Sultan Trenggana.

“Baiklah Kangjeng Sultan, hamba dapat mengakuinya sebagai kerabat hamba dalam hubungan apapun. Hamba tinggal menunggu waktu itu datang”, Jawab Kyai Bahuwirya.

“Terima kasih Kyai. Kalau memang tidak ada lagi yang perlu Kyai sampaikan, Aku kira pembicaraan kita untuk saat ini telah selesai. Semoga semuanya dapat berjalan dengan lancar. Aku minta untuk hari ini Kyai dapat bermalam di sini. Malam nanti Aku ingin mengundang Kyai dan juga Tumenggung Kertapura untuk menemaniku makan malam sambil sekedar berbincang bincang tentang persoalan yang ringan ringan saja. Aku ingin sejenak menyegarkan pikiranku dan melupakan sesaat semua persoalan yang akhir akhir ini telah banyak menyita perhatianku”.
.

-------

Bersambung bagian 44.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
MFriza85 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
17-09-2020 14:33
Salam dari bumi wali
profile-picture
Panuntun645 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
17-09-2020 17:06
Belum ada lanjutannya gan??
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
29-09-2020 19:58
Belum update juga om TS nya


Padahal bagus ceritanya


emoticon-Bingung emoticon-Bingung
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
29-09-2020 20:27
Kirain ad apdetanemoticon-Hammer
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
11-10-2020 03:58
Kapan update lagi ne.
Apa udah TAMAT ya.
0 0
0
Halaman 5 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
irasional-love
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia