Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
175
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f22ec320577a936297a46dd/quotmendung-di-langit-demakquot-bara-di-kademangan-dawungan
“..Matahari terlihat mulai merambat condong kearah barat. Sinarnya yang tidak seterik beberapa saat sebelumnya terlihat mulai kesulitan menembus kelebatan hutan di kaki Gunung Lawu. Samar samar di kejauhan, terlihat dua orang yang sedang berjalan beriringan keluar dari dalam kelebatan hutan yang tidak terlalu besar tersebut. Kedua orang itu nampaknya baru saja menempuh perjalanan yang panjang da
Lapor Hansip
30-07-2020 22:50

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK"

Past Hot Thread
Thread INDEX
Cerita bersambung
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK"

(Bara Di Kademangan Dawungan)


Pengantar. https://www.kaskus.co.id/show_post/5...77a936297a46de

Bagian 01.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...bdb27e0a645932

Bagian 02.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d69530541b5a80

Bagian 03.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9364b533d152

Bagian 04.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc953194225a64

Bagian 05.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95367c43a9c8

Bagian 06.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9b1755e61084cc

Bagian 07.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...37725797617267

Bagian 08.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9311345ca1ac

Bagian 09.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b5ca27cf782096

Bagian 10.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95772e6f1de4

Bagian 11.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...276834b3695946

Bagian 12.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d2954edc289a10

Bagian 13.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...25c356bd0da5f8

Bagian 14.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c991488533c5af

Bagian 15
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cc95068005d4db

Bagian 16.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b5ca478d6f4e48

Bagian 17
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb955b855229a3

Bagian 18
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...972e728f7c4fa9

Bagian 19.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...40883ba8721993

Bagian 20.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d2950aca51f606

Bagian 21.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...ae2f70756646d3

Bagian 22.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb282171aff7

Bagian 23
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb0f954736b5

Bagian 24.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...751368695de7f1

Bagian 25.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e9373ef39f3a7

Bagian 26.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9b177cf9181343

Bagian 27.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f7642fd72898e8

Bagian 28.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d49521801d7d54

Bagian 29.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...77a959440bba96

Bagian 30.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a55502d0ed0

Bagian 31.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7f930b480f02f0

Bagian 32.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3a723f0e2418ff

Bagian 33.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d4956ac3084fc8

Bagian 34.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a3899078511

Bagian 35.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e933d8a64eb8c

Bagian 36.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...4088544a6d6e50

Bagian 37.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3a7271350b60f7

Bagian 38.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...393a62e267c4b0

Bagian 39.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb4ffc7575c0

Bagian 40.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f6c4580b206944

Bagian 41.


















MENDUNG DILANGIT DEMAK”
“Bara di Kademangan Dawungan”

(Cuplikan...)

“..Matahari terlihat mulai merambat condong kearah barat. Sinarnya yang tidak seterik beberapa saat sebelumnya terlihat mulai kesulitan menembus kelebatan hutan di kaki Gunung Lawu.

Samar samar di kejauhan, terlihat dua orang yang sedang berjalan beriringan keluar dari dalam kelebatan hutan yang tidak terlalu besar tersebut. Kedua orang itu nampaknya baru saja menempuh perjalanan yang panjang dan baru saja melintasi jalan yang membelah hutan tersebut....”

-------

“Bagus. Majulah bersama sama agar waktuku tidak banyak terbuang. Jangan cemaskan kedua saudara seperguruanku itu. Aku pastikan keduanya tidak akan membantuku meskipun kalian semua yang ada ditempat ini akan maju bersama sama menghadapiku”.

Sesaat setelah menyelesaikan kata katanya, terlihat adik seperguruan Ki Pradangga itu telah saling menggosokkan keduan telapak tangannya. Dan seperti ilmu yang dimilikki oleh kakak seperguruannya, terlihat kedua pergelangan tangan adik seperguruan Ki Pradangga telah menjadi membara.

“Aku akan membunuh diriku sendiri seandainya aku tidak bisa membunuh kalian berempat dalam hitungan tak lebih dari jumlah jari kedua tanganku.”, berkata adik Ki Pradangga menebarkan ancamannya.

*********

Agan semuanya,

Demikianlah cuplikan beberapa paragraf dari sebuah dongeng yang berkisah tentang satu kemelut yang pernah terjadi dimasa pemerintahan Kasultanan Demak dibawah kepemimpinan Sultan Trenggana.

Dongeng saya ini ber genre cerita silat Jawa Klasik dengan setting peristiwanya di masa kerajaan Jawa (Kasultanan Demak).

Karena bukan pendongeng dan penulis yang profesional, mungkin alur ceritanya kurang smooth atau bahkan menghentak. Harap dimaklumi saja, hanya sekedar hobi dan mencoba memaksakan diri menjadi pendongeng. Sementara gaya bertutur/mendongeng saya mungkin juga terkesan lambat.

O ya, mohon maaf juga kalau agak gagap berinteraksi dengan beberapa istilah di Kaskus, maklum pendatang baru di dunia Kaskus.

Terima kasih gan selamat menikmati dongeng saya semoga berkenan.

Matur Nuwun.

Quote:Original Posted By Panuntun645
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK”
(Bara Di Kademangan Dawungan)

Bagian 40.



“Selamat datang di Demak Kyai Bahuwirya. Aku tidak menduga sama sekali bahwa hari ini Kyai telah datang mengunjungiku. Aku memang menjadi terkejut ketika pelayan dalam menyampaikan pesan kepadaku bahwa ada seseorang yang menyebut sebagai Lintang Wetan ingin menghadapku”, berkata Sultan Demak kepada Kyai Bahuwirya itu.

“Maafkan kalau kedatangan hamba telah mengganggu Kangjeng Sultan”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Aku sebenarnya telah merencanakan mengirim seseorang untuk menemui Kyai, namun ternyata aku belum sempat melaksanakannya karena ada beberapa persoalan yang belakangan ini telah menyita perhatianku”, berkata Sultan Demak.

Dan selanjutnya terdengar Sultan Demak telah memperkenalkan orang yang bersamanya itu kepada Kyai Bahuwirya.

“Kyai, yang bersamaku ini adalah Tumenggung Kertapura. Ia adalah salah satu tumenggung kepercayaanku. Aku sengaja membawanya untuk menemui Kyai karena panggraitaku mengatakan bahwa kedatangan Kyai kali ini tentu membawa kabar penting yang terkait dengan Demak”.

“Tumenggung Kertapura adalah Tumenggung yang aku percayai untuk bertanggung jawab atas seluruh persoalan yang berkaitan dengan rencana kunjunganku ke berbagai wilayah di daerah Timur”.

Terlihat Kyai Bahuwirya membungkukkan badannya sebagai isyarat penghormatannya kepada Tumenggung Kertapura.

Dan selanjutnya, kepada Tumenggung Kertapura, Sultan Demak juga telah memperkenalkan tentang jati diri Kyai Bahuwirya.

“Tamuku ini bernama Kyai Bahuwirya. Sementara Lintang Wetan adalah sebutan yang dipergunakannya secara khusus ketika Kyai Bahuwirya ingin menemuiku”.

Sambil memandang ke arah Kyai Bahuwirya, Kangjeng Sultan Demak meneruskan penjelasannya.

“Kyai Bahuwirya adalah sahabatku sejak aku masih muda. Ia pernah menolongku ketika aku sempat mengalami kesulitan dalam pengembaraanku. Sejak semula Kyai Bahuwirya memang tinggal di kademangan yang berada di kaki gunung Lawu itu”.

“Dalam kaitannya dengan rencana lawatanku ke wilayah timur, Kyai Bahuwirya adalah mata dan telinga bagi Demak. Kyai Bahuwirya menjadi sumber keterangan dari segala persoalan yang sedang terjadi di kaki Gunung Lawu sebelah utara dan juga daerah daerah di sekitarnya. Aku mempercayai Kyai Bahuwirya sepenuhnya seperti aku mempercayaimu”, berkata Kangjeng Sultan Demak memberikan penjelasannya kepada Tumenggung Kertapura.

Terlihat Tumenggung Kertapura telah mengangguk sambil berkata.

“Selamat datang di Demak Kyai”.

Sejenak setelah Tumenggung Kertapura memberikan salamnya kepada Kyai Bahuwirya, terdengar Sultan Demak telah berkata kepada Kyai Bahuwirya.

“Kyai, persoalan apakah yang Kyai bawa kali ini. Sejujurnya aku memang menjadi berdebar debar dengan kedatangan Kyai justru karena Demak sendiri saat ini sedang menghadapi beberapa persoalan yang telah menyita perhatianku”.

“Maaf Kangjeng Sultan, tentu hamba tidak bermaksud untuk menambah persoalan baru atas beberapa persoalan yang saat ini sedang Kangjeng Sultan hadapi. Hamba terpaksa harus menyampaikannya justru karena hamba telah menjadi cemas melihat keadaan yang saat ini sedang berkembang di kademangan Dawungan”, berkata Kyai Bahuwirya.

“Akupun tentu tidak akan mengingkarinya Kyai, karena memang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang pemimpin Demak”, Jawab Sultan Trenggana.

Sesaat Sultan Trenggana menghentikan perkataannya kembali seolah sedang memikirkan sesuatu yang ada didalam angannya.

Namun tak lama kemudian Sultan Trenggana berkata.

“Kyai, sebelum kyai menceritakan persoalan yang terjadi dikademangan itu, biarlah terlebih dulu Aku memberitahukan kepada Kyai beberapa persoalan yang saat ini sedang dihadapi Demak”.

“Aku menganggap perlu menceritakannya agar Kyai mendapatkan satu pengetahuan bahwa saat ini Mendung sedang menyaput di Langit Demak”.

Lalu dengan nada suara yang lebih bersungguh sungguh, terdengar Kangjeng Sultan meneruskan perkataannya.

“Namun sebelum aku menceritakannya kepada Kyai, Aku perlu memberikan pesan bahwa apa yang akan aku ceritakan ini tidak menjadi berkembang kemana mana karena persoalan ini hanya diketahui oleh orang yang sangat terbatas, bahkan tak semua pemimpin Demak mengetahuinya”.

Sambil menatap kearah Kyai Bahuwirya, terdengar Kangjeng Sultan Demak berkata.

“Aku mempercayai Kyai sepenuhnya meskipun Kyai bukan salah satu pemimpin di pemerintahan Demak”.

Mendengar penuturan dari Sultan Demak, hati Kyai Bahuwirya telah menjadi berdebar debar.

Sementara itu terlihat Sultan Demak telah membenarkan letak duduknya, sebelum akhirnya berkata.

“Beberapa waktu yang lalu Demak telah kehilangan dua pusaka yang menjadi lambang kebesaran dan kemakmuran bagi Demak. Kedua pusaka itu telah jengkar dari tempatnya”, desis Sultan Trenggana.

Kyai Bahuwirya tak bisa menutupi debar jantungnya yang semakin berdetak didalam dadanya mendengar keterangan dari Sultan Demak.

Meskipun Kyai Bahuwirya belum mengetahui pusaka apakah yang telah jengkar dari tempatnya namun Kyai Bahuwirya dapat menduga bahwa kedua pusaka itu tentu pusaka yang dianggap mempunyai pengaruh di pemerintahan Demak.

“Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten lah yang saat ini tidak ada ditempatnya”, desis Sultan Trenggana.

Lalu dengan nada suara yang dalam Kangjeng Sultan telah menyambung perkataanya.

“Beberapa senopati terpilih telah disebar untuk melacak keberadaan dari kedua pusaka itu. Saat ini persoalannya telah menjadi semakin kisruh, karena kabar tentang hilangnya dua pusaka itu ternyata juga telah didengar oleh beberapa kalangan diluar pemerintahan Demak”.

“Nampaknya mereka mencoba mengambil kesempatan untuk turut serta melacak keberadaan kedua pusaka itu meskipun untuk kepentingannya sendiri sehingga diluaran sana seolah telah terjadi semacam perlombaan dalam perburuan untuk saling memperebutkan kedua pusaka itu”.

“Maaf Kangjeng Sultan, Apakah sudah ada tanda tanda tentang keberadaan dari kedua pusaka itu”, tanya Kyai Bahuwirya.

“Itulah yang telah merisaukan hatiku. Keberadaan kedua pusaka itu seolah telah menjadi lenyap sama sekali tanpa bisa terlacak dengan cara apapun, sementara pihak pihak yang terlibat dalam perburuan justru semakin bertambah sehingga telah menimbulkan kekisruhan yang baru”.

“Dan yang semakin mencemaskan hatiku”, berkata Sultan Demak selanjutnya.

“Kalau kedua pusaka itu tidak segera dapat ditemukan, sementara kabar hilangnya kedua pusaka itu mulai menyebar luas hingga akhirnya diketahui oleh siapapun tentu akan membuat keadaan semakin tidak menguntungkan bagi Demak”.

Kyai Bahuwirya dapat memahami kecemasan dari Sultan Demak itu justru karena kedua pusaka itu terlanjur dipercayai sebagai salah satu pusaka yang menjadi lambang kebesaran dan kemakmuran bagi Demak.

Bahkan selama ini kedua pusaka itu telah dianggap sebagai pusaka yang menjadi pertanda jatuhnya wahyu keprabon bagi kekuasaan kasultanan Demak.

Bagi pihak pihak tertentu, hilangnya kedua pusaka itu tentu dapat dimanfaatkan untuk mendukung kepentingan yang dibawanya masing masing.

Pihak pihak yang hanya sekedar ingin memperkeruh suasana tentu akan menyebarkan desas desus bahwa Demak dianggap telah kehilangan pamornya seiring dengan lenyapnya pusaka yang menjadi syarat dari jatuhnya wahyu keprabon.

Dalam keadaan yang demikian itulah nampaknya yang telah membuat Sultan Demak menjadi cemas.

Sebenarnya di bangsal pusaka Istana Demak masih tersimpan bermacam macam pusaka yang pamornya tak kalah dari kedua pusaka yang hilang itu.

Namun memang tidak dapat di pungkiri bahwa keberadaan pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten memang mempunyai pamornya tersendiri bagi Demak.


Bersambung bagian 41.
Diubah oleh Panuntun645
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 38 lainnya memberi reputasi
39
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 6
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
08-08-2020 01:07
Lanjutkaaaaan
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
08-08-2020 07:48

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 20.

Bagian 20.


Rumah Ki Demang adalah rumah yang besar dan megah. Tiang tiang utama bangunan induk maupun tiang pendapa berasal dari kayu jati pilihan dengan sunggingan yang halus.

Ada beberapa bilik dan gandok disetiap bagian bangunan rumah. Sementara itu, disamping pendapa bagian kanan dan kiri terdapat masing masing dua bilik yang nampaknya memang dipersiapkan untuk menginap tamu tamu Ki Demang.

Meskipun bilik bilik itu berada menyatu dalam satu bangunan pendapa, tetapi letak bilik telah diatur sedemikian rupa sehingga bilik bilik tersebut seolah telah terpisah dari pendapa sehingga tamu tamu yang kebetulan menginap di bilik bilik tersebut tidak terlalu terganggu dengan apa yang ada di pendapa.

Apalagi disamping pendapa kanan kiri itu memang diberikan sekatan berupa gebyok berukir yang nampaknya juga sekaligus dimaksudkan sebagai perlengkapan untuk lebih memperindah ruangan pendapa tersebut.

Halaman rumah Ki Demang juga luas dan tertata rapi. Di beberapa sudut halaman terlihat tanaman bunga beraneka jenis yang terawat dengan baik.

Beberapa pohon buah juga terlihat tumbuh dihalaman bagian depan dan samping sehingga halaman rumah Ki Demang itu terasa menjadi teduh meskipun saat matahari bersinar terik disiang hari.

Malam itu adalah hari kedua Ki Wilaga dan Jatmika berada dirumah Ki Demang. Beberapa saat yang lalu keduanya baru saja berada dipendapa untuk sekedar berbincang dengan tamu tamu Ki Demang dan juga beberapa bebahu kademangan Dawungan.

Sejak Ki Demang dalam keadaan sakit, rumah Ki Demang memang telah menjadi sedikit sibuk. Setiap saat selalu saja ada yang datang ke rumah untuk melihat keadaan Ki Demang.

Meskipun pada akhirnya mereka tidak bisa bertemu dan melihat secara langsung keadaan Ki Demang, tapi mereka tidak menjadi kecewa karenanya.

Mereka memahami bahwa kondisi Ki Demang nampaknya memang belum memungkinkan untuk menerima setiap tamu yang datang.

Beberapa saat yang lalu Ki Wilaga dan Jatmika juga baru saja berada di pendapa untuk sekedar berbincang bincang dengan para bebahu kademangan dan juga dengan beberapa tamu yang lainnya.

Namun ketika malam telah semakin larut Ki Wilaga dan Jatmika telah meninggalkan pendapa untuk beristirahat didalam biliknya.

Ketika keduannya telah berada didalam bilikya, terdengar Ki Wilaga berkata kepada Jatmika.
“Apakah besok kau jadi berangkat”.

“Ya paman. Bahkan dipendapa tadi aku sudah sempat mengutarakan niatku ini pada Ki Bekel dan Apsara”, jawab Jatmika.

“Apakah ada perubahan pada rencanamu selanjutnya”, desis Ki Wilaga lirih.

“Sejauh ini tidak Paman. Kita tinggal melihat perkembangan keadaan di kademangan ini. Besok sebelum matahari sepenggalah aku akan berangkat. Aku membutuhan setidaknya tiga atau empat hari untuk keperluanku ini”, jawab Jatmika.

‘Baiklah. Sekarang pergunakan waktumu yang tersisa untuk beristirahat”.

Sambil merebahkan tubuhnya di amben, Ki Wilaga melanjutkan perkataannya.

“Besok Akupun ingin berkeliling dikademangan ini untuk sekedar melihat lihat keadaan kademangan. Tentu aku akan meminta ijin Ki Bekel terlebih dahulu untuk melaksanakan niatku ini”.

“Apakah paman mempunyai maksud lain dengan keinginan paman itu”, tanya Jatmika.

“Tidak. Belum waktuya. Bukankah kita melakukan semuanya harus sesuai dengan urutannya. Setidaknya demikianlah yang telah kita rencanakan selama ini”, desis Ki Wilaga.

“Jadi paman hanya sekedar ingin menghilangkan kejenuhan saja”, tanya Jatmika.

“Ya. Aku telah menjadi bosan, karena disini aku hanya duduk dan tidur tanpa berkegiatan sama sekali”, berkata Ki Wilaga yang nampaknya mulai benar benar merasa mengantuk.

Tanpa menanggapi perkataan pamannya, terlihat Jatmika juga telah membaringkan tubuhnya diamben yang ada disebelahnya.

Jatmika memang bermaksud untuk mempergunakan sisa waktu yang ada untuk beristirahat karena besok Ia akan melakukan perjalanan. Sebuah perjalanan yang memang telah direncanakannya sebelumnya.

Dipendapa, keadaan juga telah menjadi sepi karena beberapa orang yang sebelumnya masih berada dipendapa telah meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumahnya masing masing.

Yang tersisa hanya beberapa peronda yang memang sedang bertugas. Sejak Ki Demang dalam keadaan sakit beberapa peronda memang telah ditempatkan untuk menjaga rumah Ki Demang.

Ada sebuah gardu yang cukup besar didekat pintu regol rumah Ki Demang yang biasa dipakai untuk para peronda.

Ketika malam telah sampai pada puncaknya, biasanya para pembantu Ki Demang telah menyuguhkan minuman hangat dan beberapa penganan bagi para peronda atau siapapun yang masih terjaga di rumah Ki Demang.


------


Bersambung bagian 21.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
08-08-2020 07:53

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK' (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 21.

Bagian 21.

Demikianlah di ke esokan harinya, seperti yang telah direncanakannya, ketika matahari telah mulai menghangatkan tubuh dengan sinarnya, Jatmika telah mempersiapkan diri meninggalkan rumah Ki Demang.

Jatmika masih menyempatkan untuk makan pagi yang memang telah disiapkan oleh pembantu Ki Demang. Bahkan Ki Wilaga dan Apsara sendiri ikut menemani Jatmika makan pagi.

Sesaat ketika Jatmika telah bersiap untuk meninggalkan rumah Ki Demang, Jatmika berkata kepada Apsara.

“Sampaikan kepada ayahmu dan juga Ki Bekel, aku mohon diri. Aku harus memenuhi janji untuk mengunjungi bibiku. Semoga dalam waktu tidak lebih dari empat hari aku sudah kembali lagi ke kademangan ini”, berkata Jatmika kepada Apsara.

“Baiklah kakang Jatmika, hati hatilah dijalan ”, jawab Apsara singkat.

Dan demikianlah selanjutnya, terlihat Jatmika telah meninggalkan rumah Ki Demang.

Jatmika terlihat mulai menyusuri jalan jalan induk kademangan. Di sepanjanng jalan yang dilaluinya Jatmika begitu menikmati suasana dan keadaan di kademangan Dawungan.

Menurut penilaiannya, Kademangan Dawungan memang bukan kademangan yang tergolong besar ditilik dari luas wilayahnya, tetapi Ia beranggapan bahwa kademangan Dawungan nampaknya mempunyai kelebihan di banding dengan wilayah wilayah lain disekitarnya.

Jatmika mengagumi kepemimpian dari Ki Demang Dawungan yang dianggapnya mampu membawa wilayah yang dipimpinnya menjadi wilayah yang subur dan kaya.

Disepanjang jalan induk kademangan, parit parit terlihat terjaga kebersihan dan kerapiannya seingga air dapat mengalir dengan lancar ketika musim hujan datang. Jalan induk kademangan pun terlihat lebar dan rata.

Sementara di sepanjang tepian kiri dan kanan jalan telah ditanami pohon turi dengan jarak yang telah diatur sedemikian rupa sehingga jalan induk kademangan terlihat indah dan asri.

Dan memang demikianlah keadaannya. Kademangan Dawungan memang satu kademangan yang dianggap paling maju dan ramai diantara beberapa wilayah yang berada di kaki Gunung Lawu sebelah Utara.

Pasar induk kademangan yang baru saja dilalui oleh Jatmika juga terlihat ramai. Apalagi hari itu adalah hari Anggoro Manis yang merupakan hari pasaran.

Bermacam macam kebutuhan pokok dan hasil bumi dari penghuni kademangan tersedia dan diperjual belikan di pasar tersebut.

Untuk kebutuhan lainnya yang belum bisa dipenuhi sendiri oleh penghuni kademangan seperti kain, gerabah dan sebagian kecil kebutuhan pokok lainnya, biasanya dijual oleh pedagang yang datang dari luar kademangan.

Termasuk barang barang jenis perhiasan dan wesi aji atau keris pusaka maupun bermacam jenis senjata dengan kualitas yang bagus biasanya juga tersedia.

Sementara kebutuhan alat alat pertanian sebagian besar sudah tersedia di pasar induk kademangan karena ada beberapa penghuni kademangan Dawungan yang mempunyai keahlian dan menekuni usaha sebagai pandai besi.

Sebagai pelengkap umum dari keramaian sebuah pasar terdapat beberapa kedai disekitar pasar induk kademangan yang menyediakan bermacam makanan dan minuman ataupun juga jajanan pasar.

Kedai kedai itu selalu ramai dipenuhi pengunjung apalagi ketika hari pasaran tiba. Dua kali dalam sepekan, yaitu pada hari pasaran Manis dan Cemengan pasar induk kademangan selalu ramai pengunjung karena hari itu memang hari pasaran.

Disepanjang perjalanannya, beberapa kali Jatmika berpapasan dengan penghuni kademangan yang nampaknya satu dua orang diantaranya telah mengenalnya.

Sesekali dengan sudut matanya ia melihat beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya itu telah memperhatikannya dengan sungguh sungguh.

Pun demikian ketika Ia harus melewati sekelompok orang yang nampaknya sedang melakukan gotong royong untuk membersihkan parit.

Terlihat Jatmika telah melambatkan langkah kakinya untuk sekedar menyapa sekelompok orang itu meskipun ia tidak menghentikan langkahnya.

Sekelompok orang itu telah membalas sapaannya sambil memperhatikan Jatmika dengan saksama. Nampaknya sekelompok orang itu ada yang sudah mengenalnya.

Sekilasan Jatmika bisa mendengar salah seorang diantaranya berbisik kepada temannya.

“Anak muda itulah salah satu dari tamu Ki Demang”.

“Yang kabarnya mempunyai kesaktian melebihi Ki Demang sendiri”, bisik kawanya yang seorang lagi.

“Demikianlah kabar yang terdengar selama ini. Anak muda itu bernama Jatmika”, jawab kawannya.

“Mau kemanakah anak muda itu. Kenapa ia hanya sendirian saja”, terdengar bisikan kawannya.

Beberapa kali Jatmika memang menjumpai hal hal yang semacam itu ketika ia berpapasan dengan penghuni kademangan.

Namun Jatmika memang tidak begitu menghiraukannya. Ia terus saja melangkahkan kakinya untuk meneruskan perjalanannya.

Justru Jatmika terlihat mulai mempercepat langkah kakinya karena Ia memang ingin secepatnya keluar dari induk kademangan.

Namun tiba tiba saja Jatmika mendengar seseorang telah menyebut namanya sehingga Jatmika telah menghentikan langkahnya.

“Mau kemanakah angger Jatmika”.
Terdengar suara itu menyebut nama Jatmika. Dan terlihat dari halaman sebuah rumah telah muncul seseorang berjalan bergegas menghampiri Jatmika.

Untuk sejenak Jatmika mengerutkan keningnya, namun tak lama kemudian Jatmika telah melangkah menepi dan menghampiri orang itu sambil menjawab pertanyaannya.

“Oh..., Kyai Bahuwirya. Maaf Kyai, aku lupa bahwa ternyata aku telah melintas didepan rumah Kyai”.

“Apakah angger akan meninggalkan kademangan ini. Kenapa angger sendirian, dimanakah paman angger? Nampaknya angger terburu buru”, berkata Kyai Bahuwirya dengan pertanyaannya yang beruntun.

Jatmika sesaat terdiam seolah menjadi bingung menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Kyai Bahuwirya, meskipun akhirnya Jatmika berkata.

“Aku memang bermaksud meninggalkan kademangan ini Kyai. Aku harus memenuhi janjiku untuk mengunjungi bibiku. Sementara pamanku sendiri masih berada dirumah Ki Demang”.

“Apakah itu berarti angger Jatmika akan kembali lagi ke kademangan ini”, tanya Kyai Bahuwirya lebih lanjut.

“Demikianlah Kyai. Ki Demang telah meminta kami untuk bersedia tinggal dikademangan ini setidaknya sampai kondisi Ki Demang menjadi lebih baik”, jawab Jatmika dengan suara yang datar.

Sambil mengangguk angguk Kyai Bahuwirya berkata.

“Nampaknya Ki Demang ingin mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepada angger dan paman angger sebagai bentuk penghargaan Ki Demang atas apa yang telah angger lakukan untuk kademangan ini”.

“Ahh.. tentu tidak demikian Kyai. Apa yang aku lakukan tentu juga akan dilakukan oleh siapapun ketika melihat peristiwa seperti itu terjadi”, jawab Jatmika.

“Mungkin memang demikian ngger. Tetapi seandainya yang melakukan itu orang yang tidak mempunyai kemampuan seperti angger, bukankah akibatnya akan menjadi lain”, jawab Kyai Bahuwirya.

“Aku yakin, meskipun saat itu Ki Demang telah terluka, bukankah masih ada Ki Bekel, Putra Ki Demang dan para peronda yang berada ditempat itu. Secara bersama sama mereka tentu dapat mengusir orang orang yang berniat membuat kerusuhan itu”, jawab Jatmika.

Sambil mengangguk angguk Kyai Bahuwirya berkata.

“Setidaknya kesediaan angger untuk melibatkan diri telah mempercepat satu penyelesaian yang terjadi serta tidak sampai ada yang menjadi korban, terkecuali Ki Demang sendiri yang nampaknya telah menderita luka cukup parah”.

Jatmika sesaat terdiam dalam keadaannya. Nampaknya Ia merasa enggan membicarakan persoalan itu sehingga Jatmika memilih untuk tidak memberikan tanggapannya lagi atas perkataan dari Kyai Bahuwirya tersebut.

Jatmika Justru telah mencoba mengalihkan pembicaraan itu dengan bertanya kepada Kyai Bahuwirya.

“Apakah Kyai juga mengetahui peristiwa yang pernah terjadi di halaman banjar itu”.

“Demkianlah ngger. Maksudku adalah, aku mengetahuinya hanya sebatas dari kabar dan cerita yang berkembang”.

“Siapakah yang menceritakannya Kyai”, desis Jatmika mengerutkan dahinya.


Sambil mendekat ke arah Jatmika, Kyai Bahuwirya berkata.

“Hampir semua penghuni kademangan ini telah mengetahui peristiwa yang terjadi dibanjar itu. Beberapa saat setelah peristiwa itu terjadi, telah mulai berkembang pembicaraan dari mulut ke mulut yang menceritakan tentang peristiwa yang terjadi dihalaman banjar tersebut”.

Kyai Bahuwirya berhenti sejenak, dipandangi Jatmika yang berdiri dihadapannya, lalu kembali berkata.

“Nama angger saat ini telah banyak disebut oleh banyak penghuni kademangan meskipun aku meyakini kebanyakan dari mereka tentu belum mengetahui dan mengenal angger secara langsung”.

“Kenapa mereka menyebut namaku Kyai”, desis Jatmika.

“Angger dianggap telah berjasa pada kademangan ini. Mereka mulai mengagumi angger karena angger dianggap mempunyai kemampuan kanuragan yang mumpuni”, jawab Ki Demang.

“Itu adalah anggapan yang terlalu berlebihan Kyai. Dalam peristiwa dibanjar itu aku tidak berbuat apa apa. Aku hanya berusaha menyombongkan diriku untuk menakut nakuti mereka, dan ternyata hal itu berhasil membuat perampok itu mengurungkan niatnya”.

Jatmika menghentikan perkataannya untuk sekedar melihat tanggapan dari Kyai Bahuwirya. Namun karena Kyai Bahuwirya hanya terdiam, akhirnya Jatmika telah menambahkan keterangannya.

“Bukankah saat itu aku tidak sendirian Kyai. Seandainyapun aku harus melawan para perampok tersebut, aku dapat menghadapinya bersama sama dengan Ki Bekel, Putra Ki Demang dan beberapa peronda yang jumlahnya cukup banyak”, berkata Jatmika memberikan penjelasannya.

“Angger nampaknya anak muda yang suka merendahkan diri”, desis Kyai Bahuwirya dengan nada yang dalam.

“Tapi sudahlah ngger”, berkata Kyai Bahuwirya lebih lanjut.

“Bagaimanapun kekaguman itu terlanjur berkembang dihati para penghuni kademangan ini. Mungkin kekaguman itu adalah satu bentuk penghargaan kepada angger karena angger telah dengan sukarela membantu menjaga ketentraman di kademangan ini”.

Sekilas terlihat Jatmika menatap tajam Kyai Bahuwirya. Entah mengapa, Jatmika merasa kurang mapan mendengar tanggapan dari Kyai Bahuwirya itu sehingga Jatmika justru menjadi terdiam.

Untuk sesaat Jatmika termenung seolah sedang memikirkan sesuatu.

Dan memang demikianlah yang sebenarnya terjadi. Ada yang terasa bergejolak didalam hatinya setiap kali Ia bertemu dengan orang tua yang saat ini berada di hadapannya.

Sejak pertama kali Ia mengenal orang tua yang pernah menolong dan membantunya menemui bebahu kademangan, panggraitanya sudah mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang tidak sewajarnya didalam diri orang tua itu.

Meskipun Ia belum menemukan jawaban apa yang menjadi ketidak wajaran dari orang tua tersebut, namun Ia mempercayai sepenuhnya pada panggraita yang dimilikkinya.

Dan sekarang, panggraitanya seolah menjadi semakin menajam ketika saat ini orang tua itu telah berpanjang lebar memberikan sesorah dan penilaiannya yang berkaitan dengan keterlibatannya dalam peristiwa yang pernah terjadi di halaman banjar beberapa waktu yang lalu.

“Keberadaan orang tua ini selalu saja mengganggu perasaanku”, berkata Jatmika didalam hatinya.

Sementara itu, Kyai Bahuwirya mengetahui bahwa Jatmika nampaknya sedang memikirkan sesuatu meskipun Kyai Bahuwirya tidak bisa menduga apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Jatmika.

Seperti Jatmika, Kyai Bahuwirya sendiri sebenarnya juga mempunyai penilaian yang kurang mapan terhadap anak muda bernama Jatmika tersebut.

Menurut penilaiannya, keberadaan anak muda bernama Jatmika beserta pamannya di kademangan Dawungan yang diikuti dengan terjadinya satu peristiwa di halaman banjar itu mungkin saja memang satu rangkaian peristiwa yang terjadi secara kebetulan semata.

Meskipun demikian Kyai Bahuwirya tidak bisa menutupi kegelisahan hatinya bahwa peristiwa yang nampaknya terjadi secara kebetulan itu mungkin juga mempunyai makna yang berbeda dari arti kebetulan yang sebenarnya.

Atas kegelisahan yang mulai mengganggu perasaannya itulah yang nampaknya telah mendorong keinginan Kyai Bahuwirya untuk mengetahui lebih dekat terhadap kedua orang paman dan kemenakkannya yang kebetulan salah satunya berada dihadapannya kali ini.

Demikianlah selanjutnya, untuk beberapa saat kedua orang itu justru saling berdiam diri dan tenggelam dalam pikirannya masing masing meskipun keduanya menyadari bahwa mereka sedang berdiri di tepian jalan.

Tiba tiba Jatmika telah menengadahkan kepalanya dan tidak bisa menutupi kegelisahannya ketika dilihatnya dari kejauhan dua orang berjalan menuju kearah tempatnya berdiri bersama Kyai Bahuwirya.

Kedua orang itu nampaknya bermaksud pergi kesawah karena keduanya membawa cangkul yang disangkutkan pada pundaknya masing masing.

Kyai Bahuwirya dapat menangkap kegelisahan pada wajah Jatmika. Dan Kyai Bahuwirya mengetahui, Jatmika nampaknya tidak menginginkan kedua orang itu akhirnya ikut bergabung dan bertanya tentang berbagai hal yang tidak ada ujung pangkalnya, sehingga Kyai Bahuwirya telah mempersilahkan Jatmika untuk melanjutkan perjalanannya.

“Baiklah ngger. Nampaknya aku telah menghambat perjalanan angger. Silahkan angger meneruskan perjalanan. Semoga perjalanan angger tidak mengalami gangguan apapun”.

“Terima kasih Kyai”, jawab Jatmika singkat sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Kyai Bahuwirya.

Untuk sesaat Kyai Bahuwirya masih berdiri ditepi jalan itu. Ia masih memandangi Jatmika yang berjalan semakin menjauh meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya.

Ada yang mulai mengelayuti perasaan Kyai Bahuwirya tentang anak muda yang bernama Jatmika itu.

“Sayang, Aku tidak ada dihalaman banjar ketika peristiwa itu terjadi. Aku tidak memperkirakan bahwa hal itu akan terjadi”, desis Kyai Bahuwirya sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.

Sementara Jatmika yang telah kembali melanjutkan perjalanannya terlihat semakin jauh meninggalkan Kademangan Dawungan.

Jatmika nampaknya tidak ingin terburu buru dalam menempuh perjalanannya meskipun jarak yang akan ditempuhnya bukanlah jarak yang dekat.

Ia telah memperhitungkan, sebelum tengah malam ia tentu sudah sampai ditempat yang ditujunya.


------

Bersambung bagian 22.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
08-08-2020 14:34
suwun lanjutannya gan...
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
08-08-2020 17:14

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 22.

Bagian 22.

Di suatu tempat,

Dalam kegelapan malam yang terasa begitu menghitam, terlihat bayangan seseorang tengah berjalan melintasi padang perdu yang tidak terlalu luas.

Diujung padang perdu itu terdapat sebuah hutan kecil yang tidak terlalu lebat. Langkah kaki bayangan seseorang itu nampaknya mengarah pada hutan kecil tersebut.

Udara malam yang dingin nampaknya tidak begitu dirasakannya. Di kejauhan mulai dilihatnya setitik cahaya dengan bias sinarnya berwarna kemerahan.

Sesekali ditengadahkannya kepalanya untuk sekedar menikmati gemerlapnya beberapa bintang dilangit. Malam memang terlihat cerah meskipun demikian gelap tetap saja terasa menghitamkan tempat itu.

Langkahnya yang ringan semakin mendekati mulut hutan kecil itu sehingga cahaya kemerahan itu mulai terlihat semakin jelas. Cahaya yang nampaknya berasal dari sebuah perapian ditepi hutan itu.

Ketika langkah kaki orang itu telah mendekati mulut hutan tersebut, tiba tiba dari balik sebuah pohon besar terdengar suara yang nampaknya ditujukan kepada orang yang baru datang itu.

“Berhentilah ditempatmu. Sebutkan jati diri dan keperluanmu memasuki wilayah ini”, terdengar suara dari dalam kegelapan tepian hutan itu.

Orang yang baru datang itu memang terlihat sejenak menghentikan langkah kakinya, namun sambil menjawab pertanyaan terlihat orang itu telah melangkahkan kakinya kembali.

“Buka matamu.., Apakah kau tidak mengenaliku”.


Tiba tiba saja dari balik pohon besar yang ada dimulut hutan itu muncul dua orang dengan senjata yang masih tergenggam dalam tangannya.

“Maaf Raden, aku tidak menyangka bahwa Radenlah yang datang” jawab salah satu dari kedua orang itu.

Terlihat orang yang baru datang dan di panggil dengan sebutan Raden itu hanya terdiam, sementara matanya yang tajam telah menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat itu.

Dan sesaat kemudian terdengar Ia berkata.

“Berapa orang yang berjaga di tempat ini”.

“Kami berempat Raden”, jawab salah satu dari kedua orang tersebut.

Dan tak lama kemudian kembali muncul dua orang dari balik pohon besar tersebut. Keduanya juga terlihat menggenggam senjatanya masing masing.

“Selamat malam Raden”, berkata kedua orang yang baru muncul itu bersamaan.

Tanpa menanggapi perkataan dari kedua orang itu, orang yang dipanggil dengan sebutan Raden tersebut justru telah berkata untuk memberikan perintahnya.

“Salah satu dari kalian, panggil Klabangkara dan Kebo Ireng kesini. Aku ingin berbicara dengan keduanya ditempat ini”.

“Baiklah Raden, aku akan memanggilnya”, jawab salah seorang diantaranya.

Terlihat salah satu dari ke empat orang yang nampaknya sedang berjaga di mulut hutan kecil itu telah berjalan masuk ke dalam kelebatan hutan kecil tersebut.

Tidak terlalu jauh dari mulut hutan tersebut ternyata terdapat beberapa bangunan sejenis barak barak dalam jumlah yang cukup banyak. Bahkan satu dua diantara barak barak tersebut mempunyai ukuran yang cukup besar.

Barak barak itu letaknya mengelilingi sebuah bangunan besar tak berdinding layaknya sebuah bangunan pendapa dengan letaknya persis berada ditengah tengahnya.

Bangunan besar yang menyerupai pendapa itu nampaknya difungsikan sebagai tempat pertemuan ataupun mungkin sebagai sebuah sanggar.

Ketika orang itu telah sampai didepan pintu salah satu barak yang berukuran besar, orang itu telah mengetuk pintu barak dengan keras.

Ketika ketukannya tak segera mendapat jawaban, terlihat orang itu telah mengulanginya dengan ketukan yang lebih keras, hingga akhirnya terdengar bentakan dari dalam barak itu.

“Setan alas.., siapa yang telah mengganggu tidurku”.

“Aku mendapat perintah dari Raden Janatu Prabaswara untuk memanggil Ki Lurah Klabangkara dan Ki Kebo Ireng”, jawab orang yang mengetuk pintu itu.

“Katakan aku sedang tidur, aku akan menemuinya besok”, terdengar suara dari dalam barak itu.

Terlihat orang yang mengetuk pintu itu telah mengerutkan dahinya, namun belum sempat orang itu mengatakan sesuatu, ia mendengar seseorang telah meloncat dari ambennya, dan sesaat kemudian pintu barak itu telah terbuka.

“He.., siapa yang telah memanggilku”, bentak orang yang baru saja membuka pintu barak itu.

“Raden Janatu Prabaswara saat ini telah menunggu Ki Lurah diujung hutan”.

“Kenapa tidak dari semula kau katakan bahwa Raden Prabaswara lah yang telah memerintahkanmu”, geram orang yang dipanggil dengan sebutan Ki Lurah itu.

“Bukankah sejak semula aku telah mengatakannya. Selain Ki Lurah, Raden Prabaswara juga memanggil Ki Kebo Ireng”, jawab orang itu.

Tanpa menjawab lagi, terdengar orang yang dipanggil dengan sebutan Ki Lurah Klabangkara telah memanggil seseorang yang nampaknya juga berada didalam barak itu.

“He Kebo Ireng, Raden Prabaswara telah memanggil kita berdua”.

Orang yang bernama Kebo Ireng memang telah terbangun karena mendengar kegaduhan yang terjadi, sehingga sesaat kemudian terlihat seseorang telah berdiri disamping Ki Lurah Klabangkara.

“Marilah”, desis orang bernama Kebo Ireng singkat.


-------


Bersambung bagian 23.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
08-08-2020 23:14

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 23.

Bagian 23.


Demikianlah selanjutnya, Ki Lurah Klabangkara dan Ki Kebo Ireng terlihat meninggalkan baraknya untuk menuju tempat dimana orang yang disebut Raden Janatu Prabaswara itu menunggunya.

Ketika Ki Lurah Klabangkara dan Ki Kebo Ireng melihat seseorang sedang duduk didepan perapian, keduanya telah menghampirinya dan mengambil tempat untuk duduk dihadapannya.

“Apakah Raden baru saja datang dari perjalanan Raden”, berkata Ki Lurah Klabangkara.

Sambil menganggukan kepalanya terdengar orang yang dipanggil sebagai Raden Prabaswara itu berkata.

“Aku hanya singgah untuk sekedar memberitahu kalian perkembangan keadaan saat ini”.

“Apakah ketiga saudara seperguruan itu sempat menceritakan peristiwanya”, berkata Raden Prabaswara selanjutnya.

“Demikianlah Raden, hanya sebatas ketika peristiwa itu terjadi”, jawab Ki Lurah Klabangkara.

“Ketiga orang saudara seperguruan itu hampir saja gagal menjalankan rencananya. Maksudku adalah, Pradangga hampir saja dikalahkan oleh lawannya”, desis Raden Prabaswara.

“Bukankah masih ada kedua adik seperguruannya seandainya Ki Pradangga memang dapat dikalahkan oleh lawannya”, jawab Ki Lurah Klabangkara.

“Itulah yang kumaksud Pradangga hampir gagal menjalankan rencananya. Pradangga telah memancing perselisihannya dengan tantangan perang tanding. Beruntung adik seperguruannya tanggap dengan keadaan yang terjadi”.

Sambil mengangguk angguk orang yang disebut sebagai Ki Lurah Klabangkara itu berkata.

“Nampaknya itulah yang telah membuat Ki Pradangga menjadi uring uringan ketika Ia menceritakan perkelahian dengan lawannya”.

“Keterangan apakah yang telah Pradangga katakan kepada kalian”, desis Raden Janatu Prabaswara.

Sambil menghela nafasnya Ki Lurah Klabangkara berkata.

“Ki Pradangga telah menjadi marah karena keterangan yang didapatkan tentang kelebihan lawannya itu tidak lengkap. Lawannya ternyata mempunyai kemampuan melebihi keterangan yang disampaikan kepadanya”.

“Pradanggalah yang nampaknya telah menjadi ceroboh dan sombong. Ia terlalu bangga pada dirinya sendiri seolah olah ilmu yang dimilikkinya merupakan ilmu yang tiada bandingnya di muka bumi ini”, geram orang yang bernama Kebo Ireng menanggapi percakapan Raden Prabaswara dengan Ki Lurah Klabangkara.

Tanpa menghiraukan perkataan dari Kebo Ireng, Raden Janatu Prabaswara berkata.

“Apakah ketiganya saat ini masih berada ditempat ini”.

“Tidak Raden. Sejak kemarin ketiganya telah meninggalkan tempat ini. Mereka mengatakan, membutuhkan waktu paling cepat dua atau tiga pekan untuk melakukan persiapan sebelum membawa seluruh anggota perguruannya untuk menggabungkan diri ditempat ini”, jawab Lurah Klabangkara.

“Baguslah kalau demikian. Aku memang menginginkan kecepatan untuk melaksanakan langkah langkah yang telah kita rencanakan bersama. Aku harap kekuatan yang dimilikki perguruan itu sesuai dengan apa yang pernah dikatakannya, baik dalam soal jumlah maupun tingkat kemampuannya”.

Sesaat Raden Prabaswara menghentikan kata katanya, sebelum akhirnya melanjutkannya kembali dengan sebuah pertanyaan.

“Bagaimana dengan perkembangan kekuatan orang orang kita ditempat ini”.

“Beberapa kelompok orang yang berasal dari beberapa padepokan telah mulai mengalir ke tempat ini. Termasuk juga sekelompok orang yang terdiri dari prajurit yang sesungguhnya”, jawab Ki Lurah Klabangkara.

“Darimana kau mengetahui kelompok itu adalah prajurit yang sesungguhnya”, sela Raden Prabaswara.

“Menurut keterangan yang disampaikan oleh pemimpin kelompok itu, mereka merupakan prajurit dari sebuah wilayah di daerah timur yang dikirim untuk mewakili wilayahnya”, jawab Ki Lurah Klabangkara memberikan keterangannya.

“Siapakah yang memimpin sekelompok prajurit itu”, tanya Raden Prabaswara.

“Orang itu menyebut dirinya sebagai Tumenggung Basupati dari Panarukan. Tumenggung itu mengatakan bahwa sebelumnya Ia telah membuat hubungan dengan Raden”, jawab Ki Lurah Klabangkara.

“Ya. Aku memang sudah menjalin hubungan dengan Tumenggung Basupati dalam persoalan ini. Ia mempunyai pemikiran yang sejalan dengan apa yang menjadi cita cita dan gegayuhan kita bersama”.

“Pada saatnya, prajurit yang dibawa oleh Tumenggung Basupati itulah yang akan menjadi kekuatan utama pasukan kita”. berkata Raden Prabaswara lebih lanjut.



------

Bersambung bagian 24.
Diubah oleh Panuntun645
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
09-08-2020 08:25

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 24.

Bagian 24.


Beberapa saat selanjutnya terlihat Raden Prabaswara terdiam seolah sedang merenungkan sesuatu.

Namun sesaat kemudian terdengar Ia telah bertanya kepada orang yang disebut dengan Kebo Ireng itu.

“Bagaimana dengan persoalan perguruan Turi Putih di lembah bukit lanang itu”.

“Maaf Raden, aku terpaksa membunuh pemimpin perguruan itu”, jawab Kebo Ireng.

“Apakah maksudmu”, tanya Raden Prabaswara dengan nada yang berat.

Terlihat Ia telah menengadahkan kepalanya. Matanya menatap tajam ke arah orang yang bernama Kebo Ireng itu.

“Pemimpin perguruan itu dengan sombongnya telah menolak tawaran untuk bergabung dan mendukung apa yang menjadi tujuan kita hingga akhirnya terjadi perselisihan diantara kami. Aku terpaksa membunuh pemimpin perguruan itu. Bahkan dua dari enam anak buahku juga telah kehilangan nyawanya”, jawab Kebo Ireng sambil menundukkan kepalanya.

Raden Prabaswara terlihat masih menatap tajam ke arah Kebo Ireng yang masih tertunduk itu. Ada kemarahan yang tersirat dari raut wajahnya.

Dengan nada yang semakin memberat, terdengar Raden Prabaswara menggeram.

“Kau selalu saja tidak mampu mengendalikan dirimu dalam mengahdapi setiap persoalan yang ada. Tindakanmu itu telah membuka kemungkinan terjadinya permusuhan baru dengan perguruan itu”.

Raden Prabaswara berhenti sejenak seolah ingin menata perasaan amarah yang bergejolak didalam dadanya.

Dan sesaat kemudian kembali Ia berkta.

“Tujuan kita saat ini adalah mencoba menghimpun kekuatan dari beberapa perguruan maupun padepokan yang mempunyai kesamaan pandangan dengan apa yang kita cita citakan”.

“Maaf Raden. Kalau aku tidak membunuhnya, akulah yang justru terbunuh dalam perselisihan itu. Masing masing diantara kami harus menghadapi lawan dengan jumlah berlipat, aku sendiri harus menghadapi pemimpin perguruan itu dengan seorang murid utamanya”, desis Kebo Ireng masih dengan kepala tertunduk.

“Apakah dengan demikian kau ingin menunjukkan kepadaku bahwa kau adalah seseorang yang tidak tertandingi karena mampu membunuh pemimpin sebuah perguruan dengan seorang murid utamanya sekaligus”, bentak Raden Prabaswara.

Kebo Ireng tidak berani lagi membantah perkataan Raden Prabaskara. Ia dapat merasakan bahwa Raden Prabaswara benar benar telah menjadi marah atas apa yang dilakukannya terhadap pemimpin perguruan itu.

Sesaat tempat itu telah menjadi hening. Meskipun udara malam terasa semakin dingin, tetapi ditempat itu sedikit menjadi hangat karena nyala perapian yang ada.

Beberapa saat selanjutnya terdengar suara Raden Prabaswara memecah keheningan tempat itu.

Kali ini suaranya telah terdengar merendah.

“Dengarlah baik baik karena apa yang akan aku sampaikan kepada kalian kali ini adalah bagian terpenting dari keseluruhan bagian yang telah kita rencanakan selama ini”.

“Aku tidak ingin diantara kalian melakukan kesalahan kesalahan yang disebabkan oleh persoalan persoalan yang seharusnya bisa kalian hindari. Untuk itulah aku memerlukan perhatian kalian sepenuhnya”.

Raden Prabaswara berhenti sejenak berkata. Terlihat Ia menyurukkan ranting ranting kering kedalam perapian untuk sekedar menjaga agar nyala apinya tidak menjadi padam.

Dan sesaat kemudian Ia telah meneruskan keterangannya.

“Untuk selanjutnya, aku akan lebih banyak mempergunakan waktuku untuk berada dikademangan itu karena aku merasa itulah bagian terpenting yang harus aku jalankan berdasarkan pada apa yang telah kita rencanakan selama ini”.

Dengan nada yang semakin bersungguh sungguh, terdengar Raden Prabaswara meneruskan perkataannya.

“Ketiga saudara seperguruan itu telah berhasil memercikkan api dikademangan itu, dan sesuai dengan apa yang telah aku perhitungkan, percikan api itu nampaknya telah menuntun kademangan itu untuk membuka pintunya dan memberiku kesempatan untuk memasukinya”.

“Untuk selanjutnya, Aku akan mulai mematangkan rencanaku dari kademangan itu. Aku akan mengendalikan percikan api itu agar tidak membesar, karena aku ingin agar percikan api itu hanya menjadi sebuah bara".

"Dan pada saatnya nanti, bara itulah yang akan aku pergunakan untuk menghanguskan pemerintahan Demak yang sekarang ini”.

"Ketahuilah", berkata Raden Prabaswara lebih lanjut.

“Kademangan itu sangat penting artinya bagi tujuan dan gegayuhan kita, karena kademangan itu adalah pintu masuk sekaligus akan menjadi alas yang penting dari perjuangan kita. Dan pada saatnya, dikademangan itu pula kita akan membuat sebuah pertanda sebagai cikal bakal perjuangan kita dalam mengembalikan kejayaan yang pernah dicapai oleh pendahulu kita”.

Kedua orang yang mendengarkan sesorah dari Raden Prabaswara terlihat diam dan menunduk.

Keduanya terlihat bersungguh sungguh dalam mendengarkan keseluruhan keterangan dari Raden Prabaswara.

Selanjutnya, terdengar Raden Prabaswara telah menyambung kembali perkataannya.

“Dalam waktu dekat ini, aku ingin kalian menyiapkan satu atau dua orang terpilih sebagai penghubung. Melalui penghubung itu aku akan terus mengabarkan perkembangan keadaanku dikademangan kepada kalian dan juga kepada para pemimpin kelompok lainnya. Aku harap dua pekan dari sekarang penghubung itu telah mulai melakukan tugasnya”, berkata Raden Prabaswara.

“Bagaimanakah cara penghubung itu menemui Raden”, tanya Ki Lurah Klabangkara.

“Dikademangan itu namaku adalah Jatmika, sementara Ki Ajar Astamurti adalah pamanku yang dipanggil sebagai Ki Wilaga. Katakan bahwa penghubung itu adalah saudaraku dari padukuhan Bayanan”, jawab Raden Prabaswara memberikan penjelasannya.

"Baiklah Raden. Aku akan memilih dua anak buahku yang kupercayai untuk melakukan tugas sebagai penghubung tersebut", jawab Ki Lurah Klabangkara.

Tiba tiba saja Kebo Ireng yang selama ini hanya terdiam saja telah berkata.

“Raden, aku menawarkan diriku untuk menjadi penghubung itu. Aku menjadi bosan dengan keadaan di tempat ini karena aku hanya bisa tidur dan makan saja”.

Sesaat Raden Prabaswara terdiam. Dipandanginya orang yang bernama Kebo Ireng itu seolah Raden Prabaswara ingin menjajagi kesungguhan permintaan dari Kebo Ireng trsbut.

“Orang ini sebenarnya mempunyai kemampuan yang tak kalah dahsyatnya dengan ketiga saudara seperguruan itu. Bahkan secara orang per orang nampaknya ketiga saudara seperguruan itu kemampuannya tidak bisa menandingi kemampuan dari orang yang ada dihadapannya saat ini. Sayang Kebo Ireng mempunyai sifat yang mudah kehilangan kendali atas kemarahan yang dirasakannya”, berkata Raden Prabaswara didalam hatinya.

Beberapa saat setelah Raden Prabaswara merenungkan permintaan dari Kebo Ireng tersebut akhirnya terdengar Ia berkata.

“Baiklah, kau akan menjadi penghubung yang akan mengalirkan semua perkembangan keadaan yang terjadi. Bawalah satu anak buahmu untuk sekedar menemanimu dalam perjalanan”.

Sementara itu terdengar Ki Lurah Klabangkara berkata untuk menanggapi keputusan dari Raden Prabaswara tersebut.

“Baiklah Raden, perosalan penghubung nampaknya sudah menemukan jalan keluarnya. Apakah masih ada keterangan dan pesan lainnya yang perlu Raden sampaikan, mungkin juga pesan untuk ketiga orang saudara seperguruan itu”.

“Sampaikan perintahku kepada ketiga saudara seperguruan itu. Untuk sementara, ketiganya jangan sampai menampakkan diri dikademangan itu untuk keperluan apapun. Pada saatnya, keberadaan ketiga nya tentu sangat diperlukan untuk tugas tugas yang sifatnya lebih khusus”.

“Sementara itu”, berkata Raden Prabaswara lebih lanjut.

“Sampaikan hasil pembicaraan kita saat ini kepada seluruh pemimpin kelompok termasuk kelompok kelompok yang baru datang dari timur itu. Kepada Tumenggung Basupati sampaikan permintaan maafku karena saat ini aku belum sempat untuk menemuinya”.

"Baiklah Raden", jawab Ki Lurah Klabangkara.

Demikianlah selanjutnya, untuk beberapa saat Raden Prabaswara terdengar masih memberikan pesan pesan serta petunjuk petunjuk lainnya kepada Ki Lurah Klabangkara dan Ki Kebo Ireng.

Dan ketika telah dianggap cukup terdengar Raden Prabaswara berkata.

“Aku tidak akan singgah dibarak, waktuku terlalu sempit sementara aku masih harus mengunjungi seseorang yang aku percayai mengetahui perkembangan keadaan diistana Demak”.

“Aku telah mendapatkan satu kabar bahwa di istana Demak saat ini sedang meningkatkan kesiagaannya berkaitan dengan hilangnya beberapa pusaka yang dipercaya sebagai piandel dari Kasultanan Demak yang sekarang. Beberapa senopati terpilih nampaknya telah dikerahkan untuk melacak keberadaan pusaka tersebut”.

”Aku harus memikirkan satu kemungkinan para senopati itu akan sampai juga ditempat ini ”, berkata Raden Prabaswara sambil bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada Ki Lurah Klabangkara dan Ki Kebo Ireng.

“Apakah Raden tidak memerlukan berstirahat barang sekejap, nampaknya sebentar lagi fajar mendatang”, berkata Ki Lurah Klabangkara.

“Aku akan tidur sambil berjalan”, desis Raden Prabaswara sambil melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

--------

Bersambung bagian 25.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
09-08-2020 11:39
makin mantap ceritanya... lanjut gan
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
09-08-2020 20:39

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 25.

Bagian 25.


Demikianlah selanjutnya, seiring waktu yang terus berjalan, perputaran roda kehidupan dikademangan Dawungan telah kembali berjalan sewajarnya.

Peristiwa yang pernah terjadi dihalaman banjar telah mulai dilupakan oleh para penghuni kademangan.

Meskipun demikian, bagi Ki Demang sendiri peristiwa di halaman banjar itu nampaknya masih menyisakan akibat yang sampai dengan saat ini masih harus dirasakannya.

Luka di dalam tubuh Ki Demang nampaknya memang membutuhkan waktu yang panjang untuk dapat disembuhkannya.

Meski Ki Demang sudah mampu berjalan dan melakukan kegiatan ringan lainnya, namun seringkali Ki Demang masih harus merasakan sakit didalam dadanya.

Karena keadaan Ki Demang yang demikian itulah, akhirnya Ki Demang telah mengambil satu keputusan bahwa untuk sementara waktu kepemimpinan dikademangan dipercayakan kepada putranya yang bernama Apsara.

Ki Demang juga telah menunjuk Ki Bekel untuk mendampingi putranya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Sementara itu, kepada kedua tamunya, Ki Wilaga dan Jatmika, secara khusus Ki Demang telah menyampaikan permintaannya agar keduanya bersedia untuk tinggal lebih lama lagi di kademangan Dawungan.

Meskipun pada awalnya Ki Wilaga dan Jatmika menolak tawaran dari Ki Demang, tetapi dengan beberapa alasan dan pertimbangan yang disampaikan oleh Ki Demang akhirnya keduanya menerima permintaan Ki Demang tersebut.

Permintaan itu sendiri telah disampaikan Ki Demang beberapa waktu yang lalu.

Ketika itu,
Bertempat di pendapa rumahnya, dengan didampingi putranya dan juga Ki Bekel serta Ki Jagabaya, Ki Demang telah berkesempatan mengutarakan permintaannya kepada Ki Wilaga dan Jatmika.

Ki Demang yang ketika itu masih dalam keadaan lemah telah menyampaikan berbagai alasan dan pertimbangan pertimbangan yang menjadi dasar permintaannya.

“Ki Wilaga dan angger Jatmika”, berkata Ki Demang ketika itu.

“Sebelum aku mengundang KI Wilaga dan angger Jatmika dalam pembicaraan ini, aku terlebih dahulu telah membahasnya dengan para bebahu kademangan dan tentunya dengan anakku sendiri, Apsara”.

“Dan nampaknya mereka tidak berkeberatan, atau lebih tepatnya mereka meyetujui apa yang menjadi keinginanku ini”.

Sambil memandang kearah Ki Wilaga dan juga Jatmika, Ki Demang melanjutkan perkataannya.

“Aku ingin angger Jatmika bisa menjadi kawan yang baik sekaligus bisa memberikan bimbingan dan petunjuk kepada anakku dalam memecahkan bermacam persoalan yang dihadapinya”.

“Memang ada Ki Bekel dan juga Ki Jagabaya yang telah aku percayai untuk mendampingi anakku, tetapi nampaknya anakku akan lebih mudah belajar dari seseorang yang mempunyai usia yang sebaya dengannya. Bukankah umur angger Jatmika hanya terpaut beberapa tahun dari umur anakku”.

“Ki Wilaga dan juga angger Jatmika”, berkata Ki Demang lebih lanjut.

“Dalam pembicaraanku dengan para bebahu kademangan sebelumnya, dan berkaca dari peristiwa yang pernah terjadi di halaman banjar beberapa waktu yang lalu, ternyata telah tumbuh pemikiran dan keinginan diantara kami untuk mulai membangkitkan satu kekuatan yang berasal dari kademangan ini sendiri.”

“Kami bersama sama dengan bebahu yang lain telah bersepakat untuk membentuk semacam pasukan pengawal kademangan agar ke depannya nanti kademangan ini mampu menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan kemungkinan terjadinya gangguan oleh pihak pihak yang ingin membuat kerusuhan di kademangan ini”.

“Ki Wilaga..”

“Apa yang baru saja aku sampaikan itu bukanlah satu satunya alasan yang mendasari keinginanku meminta kesediaan Ki Wilaga dan anggger Jatmika tinggal di kademangan ini lebih lama lagi”.

Ki Demang menghentikan kata katanya. Terlihat Ki Demang telah menghela nafasnya dengan dalam seolah Ki Demang ingin memenuhi rongga dadanya dengan udara yang dihirupnya.

Dan sesaat kemudian, setelah Ki Demang membetulkan letak duduknya, Ki Demang telah memberikan keterangan dan pejelasannya yang berkaitan dengan keinginan Ki Demang tersebut.

Bahkan untuk melengkapi keterangannya, Ki Demang juga telah mengemukakan alasan alasan lainnya yang melatar belakangi keinginannya tersebut.

Ki Wilaga dan Jatmika yang memang telah bersungguh sungguh mendengarkan keseluruhan keterangan yang disampaikan oleh Ki Demang pada akhirnya memang tidak kuasa untuk menolak permintaan dari Ki Demang tersebut.

Nampaknya Ki Wilaga tidak tega untuk menolak permintaan itu mengingat kondisi Ki Demang yang memang belum pulih sepenuhnya dari luka luka yang dideritanya.

Hingga akhirnya ketika pembicaraan di pendapa itu telah sampai pada ujungnya, Ki Demang telah berkata.

“Maaf Ki Wilaga dan juga angger Jatmika”, berkata Ki Demang saat itu.

“Nampaknya pembicaraan kita saat ini telah menemukan kesepakatannya. Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan kalian berdua untuk tetap tinggal di kademangan ini.”.

Lalu dengan suara yang terdengar lebih berhati hati seolah Ki Demang tidak ingin salah dalam memilih kata kata yang ingin diucapkannya, Ki Demang melanjutkan perkataannya.

“Aku memang tidak akan menjanjikan apapun kepada Ki Wilaga dan angger Jatmika karena kalau hal yang demikian itu aku sampaikan, aku justru telah bersikap deksura seolah olah aku telah memberikan harga dan imbalan atas kesediaan dari Ki Wilaga dan angger Jatmika tersebut”.

“Meskipun demikian”, berkata Ki Demang lebih lanjut.

“Aku tetap akan menyiapkan sebuah rumah yang cukup layak sebagai tempat tinggal Ki Wilaga dan angger Jatmika selama berada di kademangan ini. Seluruh kebutuhan sehari haripun akan disediakan oleh kademangan”.

Demikianlah akhirnya, persoalan pokok yang dibicarakan kala itu nampaknya telah dianggap selesai.

Namun demikian orang orang yang ketika itu ada di pendapa nampaknya masih belum ingin mengakhiri pertemuan tersebut.

Mereka telah memperbincangkan berbagai persoalan lainnya, baik yang berkaitan dengan rencana rencana yang baru saja dibicarakan maupun persoalan sehari hari lainnya.

Keinginan Ki Demang untuk menghidupkan satu kelompok pasukan pengawal kademangan juga telah dibahas dengan lebih cermat.

Beberapa perencanaan juga telah disusun dengan pertimbangan dan perhitungan yang mapan agar dalam pelaksanaan nantinya lebih mudah untuk dijalankannya.

Setelah beberapa saat lamanya pembicaraan itu berlangsung, akhirnya Ki Demang telah menganggap pertemuan di pendapa itu benar benar selesai.

Ki Demang telah menutup pertemuan kala itu dengan sebuah pemberitahua bahwa Ki Demang memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pemimpin di kademangan Dawungan.

“Untuk sementara, aku akan menunjuk putraku menggantikan kedudukkanku sebagai seorang Demang. Pada saatnya, ketika luka lukaku telah menjadi sembuh sama sekali Aku akan memimpin kembali kademangan ini”, berkata Ki Demang kala itu.

“Aku akan lebih banyak mempergunakan waktuku sebaik baiknya untuk memulihkan kesehatanku. Meskipun demikian, dalam beberapa persoalan yang aku anggap penting karena menyangkut keselamatan dan masa depan kademangan dengan seluruh penghuninya, aku tetap akan mencampurinya”.

Kepada putranya Ki Demang telah memberikan pesan dan nasehatnya.

“Apsara. Bawalah Ki Bekel, Ki Wilaga dan juga angger Jatmika untuk membicarakan setiap persoalan yang kau hadapi. Mintalah nasehat dan pertimbangan pertimbangan kepada mereka”.

Demikianlah, Ki Demang telah menyerahkan kepemimpinannya kepada putranya, sementara Ki Demang telah menunjuk Ki Bekel untuk mendampingi putranya dalam kedudukannya sebagai seorang Demang.

Sementara kepada Ki Wilaga dan Jatmika, Ki Demang telah meminta keduanya untuk memberikan saran dan nasehat serta pertimbangan pertimbangan lainnya kepada putranya dan para bebahu lainnya.

Ki Demang menganggap Ki Wilaga tentu mempunyai pengalaman yang luas dan pengetahuan yang cukup untuk memberikan masukan dan pendapatnya dalam mencari kemungkinan kemungkinan yang lebih baik bagi kemajuan kademangan Dawungan.

Sementara Jatmika dengan kemampuan yang dimilikkinya diharapkan dapat membantu putranya dalam membentuk sekelompok pasukan pengawal kademangan.


------

Bersambung bagian 26.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
10-08-2020 10:06

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 26.

Bagian 26.


Demikianlah yang terjadi selanjutnya, suasana dikademangan itu terasa menjadi lebih hidup dengan kesibukkan kesibukan baru yang nampaknya justru telah disambut dengan antusias oleh kebanyakan penghuni kademangan.

Anak anak muda kademangan, dengan sukarela telah menawarkan dirinya untuk bergabung dalam kelompok kelompok pengawal kademangan.

Nampaknya kehadiran Jatmika yang sering mendampingi Apsara didalam banyak kesempatan telah menjadi daya tarik tersendiri bagi anak anak muda dan orang orang di kademangan Dawungan.

Sejak terjadinya peristiwa dihalaman banjar itu, Jatmika memang telah banyak dikagumi penghuni kademangan sehingga Jatmika dengan mudah dapat menjalin keakraban dengan setiap penghuni kademangan.

Sementara Apsara sendiri nampaknya tidak berkeberatan dengan suasana yang demikian.

Apsara justru menjadi senang karena hal itu justru telah dianggap membantu dan mempermudah tugasnya dalam kedudukannya sebagai Pemimpin di kademangan itu.

Lebih dari itu, Apsara sendiri nampaknya tak bisa menutupi satu kenyataan bahwa Ia pun juga mengagumi anak muda yang bernama Jatmika itu.

Dan demikianlah selanjutnya, dalam waktu yang singkat telah terbentuk satu kelompok pasukan pengawal kademangan yang beranggotakan para pemuda kademangan.

Beberapa diantaranya memang tidak bisa disebut muda lagi, tetapi nampakya orang orang yang demikian ini memilih untuk menjadi bagian dari pasukan pengawal kademangan karena merasa terpanggil untuk mengabdikan dirinya pada tanah kelahirannya.

Bahkan orag orang yang tidak berusia muda lagi itu nampaknya justru terlihat lebih mantap karena ternyata mereka mempunyai bekal dan kelebihan didalam dirinya.

Mungkin dimasa mudanya orang orang ini pernah berguru di sebuah padepokan atau barangkali kelebihan yang dimilikkinya itu merupakan ilmu yang temurun dari leluhurnya.

Jumlahnya memang belum memadai untuk bisa disebut sebagai pasukan pengawal kademangan, tetapi setidaknya hal yang demikian itu menjadi permulaan yang baik bagi pelaksanaan dari sebuah rencana.

Sesuai petunjuk Jatmika serta pertimbangan lainya, sekelompok pasukan pengawal kademangan itu akan mulai berlatih di malam hari dalam waktu sepekan dua kali.

Apsara, Ki Jagabaya bahkan Jatmika sendirilah yang dikabarkan akan memberikan tuntuan dan bimbingan secara langsung dalam setiap latihan yang diadakan.

Dan demikianlah selanjutnya, dalam suasana dan keadaan seperti itu, Jatmika mulai mengambil peran untuk menjalankan rencananya.

Berbekal kepercayaan yang telah diberikan oleh Ki Demang, serta kakaguman dari kebanyakan penghuni kademangan, kesempatan Jatmika justru telah menjadi semakin terbuka lebar.

Dalam setiap kesempatan yang ada, Jatmika telah mulai menyusupkan gagasan dan pandangan pandangannya kepada penghuni kademangan.

Untuk tidak menimbulkan kecurigaan, pada awalnya Jatmika hanya sekedar memberikan gambaran gambaran tentang satu kemungkinan kehidupan yang lebih baik bagi masa depan kademangan dan seluruh pemghuninya.

Sementara kepada beberapa orang yang nampaknya mempunyai pengaruh pada lingkungannya serta mempunyai pengaruh kepada orang orang disekitarnya, Jatmika telah memberi tekanan yang lebih bersungguh sungguh dalam setiap sesorahnya.

“Kademangan ini adalah kademangan yang subur dan mempunyai kekayaan yang tak ternilai”.

Berkata Jatmika kepada beberapa orang kademangan yang ketika itu sedang duduk bersamanya.

“Keadaan yang demikian ini sebenarnya merupakan bekal yang cukup bagi kademangan ini untuk mulai memikirkan satu kemungkinan yang lebih baik bagi masa depan Kademangan”.

“Apakah yang kau maksud dengan kemungkinan yang lebih baik itu”, berkata salah seorang yang berada ditempat itu.

“Kenapa kita tidak memikirkan satu kemungkinan untuk membuat kademangan ini menjadi sebuah wilayah yang lebih besar baik ditilik dari luas wilayahnya maupun kekuasaan yang dimilikkinya”, jawab Jatmika.

“Apakah harapan seperti bisa diwujudkan, sementara kademangan ini tak lebih besar dari padukuhan padukuhan yang lainnya”, jawab orang yang lainnya.

Sambil menyapukan pandangannya ke setiap orang yang ada di tempat itu Jatmika memberikan penjelasannya.

“Bukankah Majapahit yang besar dan mempunyai kekuasaan sampai di seberang lautan itu pada awalnya juga hanya sebuah padukuhan yang tak lebih besar dari Kademangan ini”.

Orang orang yang mendengarkan penjelasan Jatmika itu terlihat mengangguk anggukan kepalanya.

Meskipun orang orang itu belum bisa memahami sepenuhnya penjelasan dari Jatmika, tetapi orang orang yang telah mendengarkan sesorah Jatmika tersebut nampaknya justru telah mulai memikirkan apa yang telah disampaikan oleh Jatmika.

Bahkan beberapa orang diantaranya mulai dapat melihat kebenaran dari apa yang dikatakan Jatmika tersebut.

Dan demikianlah, dalam setiap kesempatan Jatmika selalu saja menyusupkan gagasan dan pandangan pandangannya kepada para penghuni kademangan.


-----

Bersambung bagian 27.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
10-08-2020 22:36
Makin penasaran nihemoticon-Matabelo
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
11-08-2020 07:18

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 27.

Bagian 27


Sementara kepada Apsara sendiri nampaknya Jatmika justru telah bersikap lebih terbuka dalam menyampaikan pangaruhnya.

Jatmika mengetahui, bahwa Apsara mengaguminya sehingga Jatmika memilih untuk lebih tajam dan berterus terang dalam menyusupkan pengaruhnya.

“Apsara..”, berkata Jatmika dalam satu kesempatan ketika mereka berdua sedang duduk dibawah pohon yang berada dihalaman rumah Ki Demang.

“Kau adalah anak muda yang mempunyai kemungkinan untuk tumbuh menjadi besar melebihi ayahmu. Pada saatnya, kau akan mewarisi sepenuhnya kepemimpinan ayahmu atas kademangan ini. Dan apabila saat itu tiba, apakah kau merasa cukup puas hanya dengan mewarisi kedudukan ayahmu, sementara sebenarnya kau memilikki kesempatan untuk meraih yang lebih tinggi lagi”.

“Apakah yang kakang maksudkan dengan kesempatan yang lebih tinggi itu”, jawab Apsara yang nampaknya memang belum memahami perkataan dari Jatmika.

Dengan penuh kesabaran Jatmika memberikan penjelasannya.

“Apakah kau tidak pernah memikirkan untuk membuat kademangan ini menjadi lebih besar. Mungkin menjadi sebuah tanah perdikan yang mempunyai banyak ke istimewaan atau bahkan mungkin lebih tinggi dari itu”.

Apsara nampaknya justru telah menjadi semakin tidak mengerti dengan perkataan dari Jatmika tersebut hingga Ia berkata.

“Kakang aku justru semakin tidak paham atas apa yang kakang katakan”.

Terlihat Jatmika telah beringsut mendekat ke arah Apsara, dan sesaat kemudian terdengar kata katanya.

“Apsara, siapakah yang telah memberi pengakuan wilayah ini menjadi sebuah kademangan. Tentu bukan kasultanan Demak yang sekarang ini, karena kademangan ini, termasuk juga beberapa wilayah disekitar kademangan ini telah ada justru sebelum Kasultanan Demak itu berdiri”.

Jatmika berhenti berkata. Dilihatnnya Apsara yang nampaknya telah bersungguh sungguh mendengarkan penjelasannya.

Sesaat kemudian Jatmika telah melanjutkan kembali perkataannya.

“Demak yang kabarnya menjadi penerus dari pemerintahan Majapahit itu, saat ini pengaruh kekuasaannya telah semakin jauh menjadi susut”.

“Lihatlah beberapa wilayah didaerah timur, mereka telah saling memisahkan diri dan memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri, bahkan beberapa diantaranya tidak bersedia terikat dengan kekuasaan Demak dalam bentuk apapun”.

Sejenak Jatmika menghentikan perkataannya untuk menunggu tanggapan dari Apsara. Tetapi nampaknya Apsara hanya terdiam sehingga Jatmika telah meneruskan keterangannya.

“Sementara wilayah timur yang tercerai berai itupun pengaruh kekuasaannya tak mampu untuk menjangkau sampai ketempat ini karena wilayah wilayah itu terlalu sibuk mengurus dirinya sendiri”.

“Dalam keadaan seperti itulah, seharusnya kademangan ini berani mengambil sikap seperti apa yang dilakukan oleh beberapa wilayah di bang wetan itu”.

Apsara yang nampaknya mulai dapat menemukan arah dari perkataan Jatmika itu telah berdesis perlahan. Desis yang nyaris hanya bisa didengarnya sendiri.

“Apakah itu berarti kademangan ini harus memisahkan diri dari kekuasaan Kasultanan Demak”.

“Kenapa kau katakan memisahkan diri. Apakah kau pernah merasakan kehadiran Demak di kademangan ini?. Apakah kau pernah melihat tangan tangan kekuasaan Demak membantu kesulitan yang pernah dialami oleh kademangan ini?”, berkata Jatmika dengan nada yang dalam.

Terlihat Apsara hanya diam dan menundukkan kepalanya, hingga akhirnya terdengar kembali suara Jatmika menyambung perkataannya.

“Tidak Apsara. Demak terlalu sibuk dengan persoalannya sendiri sehingga Demak tidak mempunyai waktu untuk sekedar memberikan perhatiannya terhadap kademangan ini juga ke wilayah disekitar kaki Gunung Lawu ini”.

Mendengar keterangan dari Jatmika, terlihat Apsara terdiam. Nampaknya Ia sedang merenungkan apa yang telah disampaikan oleh Jatmika tersebut.

Bagi Apsara, apa yang telah disampaikan oleh Jatmika adalah pengetahuan yang baru pertama kali didengarnya sehingga Apsara tak segera dapat mencerna dengan mantab keseluruhan perkataan Jatmika.

Lebih dari itu, Apsara nampaknya masih mempunyai beberapa persoalan yang memerlukan penjelasan lebih rinci dan juga beberapa pertanyaan pertanyaan yang terasa masih mengganjal didalam hatinya.

Meskipun demikian secara keseluruhannya Apsara mulai dapat memahami bahkan menjadi tertarik dengan keterangan Jatmika tersebut.

Sementara itu kekaguman Apsara kepada Jatmika telah menjadi semakin menebal karena Apsara menganggap bahwa selain mempunyai ilmu kanuragan yang seoalah tidak dapat dijangkau dengan nalarnya, ternyata Jatmika juga mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas berkaitan dengan tata pemerintahan.

Sementara Jatmika sendiri nampaknya juga tidak ingin terburu buru menjalankan apa yang telah menjadi rencananya.

Bagaimanapun Jatmika perlu bersikap hati hati dan harus memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat agar apa yang telah direncanakan dan dipersiapkannya dalam waktu yang panjang tidak menjadi sia sia atau bahkan menjadi berantakan sama sekali.

“Aku memang harus lebih bersabar dan berhati hati dengan rencanaku ini”, desis Jatmika didalam hatinya.

“Aku meyakini, tidak terlalu sulit untuk mempengaruhi anak Ki Demang ini. Dan semoga Ki Demang sendiri juga akan mengikuti keinginan anaknya. Seandainya Ki Demang ternyata mempunyai sikap lain, apaboleh buat, Kademangan ini memang harus dimusnahkan sama sekali”.


-----

Bersambung bagian 27.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
11-08-2020 13:15
Bagi agan agan yg mengikuti dongeng ini, mohon tetesan cendolnya biar semangat nulis dongengnya

🙏🙏🙏
Diubah oleh Panuntun645
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sugarbeet dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
12-08-2020 00:06
Lanjut ganemoticon-Toast
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
12-08-2020 06:15

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 28.

Bagian 28.

Pada waktu waktu selanjutnya, apa yang telah dilontarkan oleh Jatmika itu ternyata mulai mendapat sambutan oleh kebanyakan penghuni kademangan.

Orang orang telah mulai memperbincangkannya dengan penghuni kademangan lainnya. Beberapa orang nampaknya telah mulai tertarik atau bahkan mulai memberikan sikap dukungannya.

Meskipun demikian tak sedikit juga penghuni kademangan lainnya yang kurang menyetujui pendapat yang dilontarkan oleh Jatmika tersebut.

Namun nampaknya pendapat yang tidak bersetuju dengan gagasan Jatmika itu tidak sebesar pendapat yang menyetujuinya sehingga suara yang lebih banyak muncul ke permukaan adalah suara dukungan terhadap gagasan Jatmika tersebut.

Ki Bekel sendiri nampaknya juga sudah mulai mendengar perbincangan perbincangan yang semacam itu.

Pada awalnya Ki Bekel manganggap bahwa desas desus itu hanya sekedar satu cara dari Jatmika ataupun Apsara untuk membakar semangat anak anak muda kademangan.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, Ki Bekel mulai dapat merasakan bahwa desas desus itu nampaknya mulai diperbincangkan dengan sungguh sungguh oleh beberapa penghuni kademangan.

Beberapa orang baik secara sendiri sendiri atau berkelompok bahkan telah mulai berani bersikap lebih terbuka dalam memberikan dukungannya pada gagasan yang dilontarkan oleh Jatmika tersebut.

Di sisi lainnya Ki Bekel juga mendengar sebagian orang yang mempunyai pendapat berbeda dalam menanggapi persoalan yang telah dihembuskan oleh Jatmika tersebut.

Mereka beranggapan bahwa gagasan Jatmika itu bisa diartikan sebagai satu sikap mbalelo pada pemerintahan yang sah.

Dan Ki Bekel juga mengetahui bahwa kelompok yang mempunyai sikap tidak setuju dengan gagasan Jatmika ini jumlahnya memang lebih sedikit sehingga pendapat yang disuarakannya tidak sampai muncul ke permukaan karena tenggelam oleh suara suara dukungan yang nampaknya terus semakin membesar.

Ki Bekel mulai mencemaskan perkembangan keadaan yang demikian itu. Sebagai seorang bebahu kademangan yang telah diberi kepercayaan oleh Ke Demang untuk mendampingin putranya sebagai seorang Demang, Ki Bekel tidak menginginkan munculnya benih benih pertentangan diantara sesama penghuni kademangan karena perbedaan pendapat tersebut.

Atas perkembangan keadaan yang demikian itulah Ki Bekel nampaknya memerlukan untuk membicarakannya dengan Apsara dalam kedudukannya sebagai pemimpin kademangan menggantikan ayahnya.

Dan demikianlah, dalam satu kesempatan dan waktu yang dianggap tepat, Ki Bekel telah memutuskan untuk menemui Apsara dirumahnya.

“Marilah Ki Bekel, silahkan duduk terlebih dahulu”, kata Apsara mempersilahkan ketika Ki Bekel telah berada di rumah Ki Demang.

Ketika Ki Bekel telah duduk di pendapa, terdengar Apsara kembali berkata.

“Kebetulan sekali Ki Bekel datang menemuiku saat ini. Ayah memang bermaksud ingin berbicara dengan Ki Bekel, meskipun sebenarnya bukan saat sekarang ini, tetapi karena Ki Bekel telah datang, nampaknya Ayah telah memutuskan untuk membicarakannya sekalian”.


“Apakah maksudnya Ki Demang mengetahui bahwa saat ini aku datang untuk menemui anakmas Apsara”, jawab Ki Bekel dengan wajah yang menyiratkan keheranannya.

“Demikianlah”. Jawab Apsara.

“Ketika Ki Bekel datang, aku sedang berbincang dengan Ayah di ruang dalam, sehingga Ayah mengetahui kalau Ki Bekel yang datang. Nampaknya ayah sudah dapat menduga maksud dan tujuan Ki Bekel datang menemuiku saat ini”, kata Apsara.

Sebelum Ki Bekel sempat menanggapi perkataan Apsara, terlihat pembantu rumah Ki Demang telah keluar dari dari dalam rumah dan menghampiri keduanya.

“Ki Demang minta agar anakmas Apsara membawa Ki Bekel ke ruang dalam”.

Tanpa menjawab perkataan dari pembantu rumahnya itu, Apsara berkata kepada Ki Bekel.

“Marilah Ki Bekel, kita akan menghadap ayah bersama sama”.

Demikianlah selanjutnya, keduanya telah menuju ke ruang dalam untuk bertemu dengan Ki Demang.

Di ruang dalam terlihat Ki Demang sedang duduk menunggu keduanya, bahkan telah disediakan pula tiga mangkuk minuman hangat dan sepiring penganan.

Terdengar Ki Demang telah mempersilahkan keduanya. Dan sesaat setelah keduanya duduk, Ki Demang berkata.

“Sebelum Ki Bekel datang, aku memang sedang berbincang dengan Apsara. Ada beberapa persoalan yang telah disampaikan oleh Apsara berkaitan dengan perkembangan keadaan di kademangan saat ini”.

“Secara keseluruhannya Aku senang mendengar keterangan dari Apsara atas perkembangan yang terjadi dikademangan ini. Nampaknya kalian telah mampu membuat kademangan ini menjadi lebih bergairah dan mempunyai gejolak untuk merubah dirinya kearah yang lebih baik”.


-----

Bersambung bagian 29.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
12-08-2020 06:26

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 29.

Bagian 29.


Tetapi Ki Demang, ada persoalan lain yang nampaknya memerlukan perhatian secara khusus”, terdengar Ki Bekel telah menyela perkataan dari Ki Demang.

Aku memang akan membicarakan persoalan yang kau maksud itu. Aku sudah menduga maksud dan kedatanganmu menemui Apsara tentu karena persoalan yang kau bawa itu”, jawab Ki Demang.

Demikianlah Ki Demang”, jawab Ki Bekel.

Apsara telah menceritakan persoalan itu kepadaku beberapa waktu yang lalu. Bahkan sebenarnya Ki Wilaga sendiri pernah menyinggungnya ketika sedang berbincang denganku, Tetapi saat itu aku memang belum menanggapinya karena keadaanku”.

Sesaat Ki Demang menghentikan perkataannya, diraihnya mangkok minuman yang ada dihadapannya dan terlihat Ki Demang mereguk wedang jahe untuk sekedar menghangatkan badannya.

Sesaat kemudian sambil mempersilahkan Ki Bekel untuk menikmati minuman yang telah disuguhkan, Ki Demang telah melanjutkan perkataanya.

Pada mulanya Aku memang terkejut mendengar cerita dari Apsara. Bahkan aku sempat berpikir untuk mengusir kedua tamuku itu meskipun ada kemungkinan akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan atas kademangan ini”.

Tetapi setelah Apsara memberikan keterangan secara lebih lengkap dengan berbagai alasan yang mendasarinya aku justru menjadi tertarik untuk mempertimbangkan gagasan yang dilontar oleh Jatmika dan pamannya”.

Meskipun demikian Aku tentu masih harus membuat penilaian secara menyeluruh untuk bisa menanggapi secara utuh persoalan yang saat ini sedang berkembang itu”.

“Maaf Ki Demang dan angger Apsara, bukankah maksud sebenarnya dari gagasan yang dimunculkan oleh angger Jatmika itu dapat juga diartikan bahwa kademangan ini ingin melepaskan diri dari Demak”, berkata Ki Bekel dengan raut wajah yang menyiratkan akan kecemasan didalam hatinya.

Sambil menarik nafas yang dalam, Ki Demang berkata.

Mungkin bisa dikatakan demikian. Tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan begitu saja keterangan dari Jatmika yang disampaikan kepada Apsara bahwa kademangan ini sejak semula memang tidak dibawah kekuasaan dari Demak. Bahkan surat kekancingan yang menyatakan wilayah ini menjadi sebuah kademangan ternyata juga telah ada jauh sebelum Kasultanan Demak itu sendiri lahir”.

Tetapi bukankah Demak yang sekarang merupakan kelanjutan dari pemerintahan sebelumnya, sehingga Demak memang seharusnya mewarisi seluruh wilayah yang menjadi kekuasaan dari pemerintahan sebelum Demak”, berkata Ki Bekel.

Dan terdengar Ki Demang menanggapinya.

Akupun tentu mempunyai pemikiran seperti apa yang Ki Bekel katakan itu, tetapi bagaimana pendapat Ki Bekel sendiri dengan beberapa wilayah di bang wetan yang saat ini telah dengan terang terangan memutuskan untuk berdiri sendiri. Bukankah wilayah wilayah di bang wetan itu sebelumnya juga wilayah yang menjadi kekuasaan dari pemerintahan sebelum Demak”.

Sesaat Ki Bekel terdiam, Ia memang dapat merasakan kebenaran dari kata kata itu tetapi Ki Bekel tak bisa menutupi perasaannya bahwa masih ada sesuatu yang terasa mengganjal didalam hatinya. Namun Ki Bekel nampaknya kesulitan untuk mengungkapkannya.

Justru Ki Demanglah yang telah terdengar melanjutkan perkataannya.

“Ki Bekel..”, berkata Ki Demang selanjutnya.

Sejak aku menjadi pemimpin di kademangan ini, belum pernah sekalipun tangan tangan kekuasaan dari Demak hadir di kademangan ini untuk keperluaan apapun. Aku justru baru menyadari bahwa ternyata kademangan ini nampaknya menjadi satu wilayah yang tidak terikat dengan kekuasaan manapun. Dan kenyataan seperti itulah yang nampaknya bisa dilihat oleh angger Jatmika dan Ki Wilaga, sehingga keduanya mempunyai gagasan yang memang pantas untuk dipertimbangkan”.

“Dan seandainya gagasan itu memang bisa diwujudkan, lantas dimanakah sebenarnya kedudukan dari angger Jatmika dan kedudukan kademangan ini?”
, berkata Ki Bekel.

Persoalan seperti itulah yang saat ini masih belum aku ketahui. Seandainya aku menyetujui dan mendukung gagasan dari Jatmika aku harus mendapatkan kejelasan terlebih dahula bagaimana dengan kedudukan dan masa depan kademangan ini selanjutnya. Untuk itulah aku berencana untuk membicarakannya dengan kedua tamuku itu bersungguh sungguh. Apabila ternyata keduanya hanya sekedar ingin memanfaatkan kademangan ini untuk dijadikan sebagai alas perjuangannya, apaboleh buat.., seluruh penghuni kademangan harus bersatu untuk mengusirnya”, jawab Ki Demang.


------

Bersambung bagian 30.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brigadexiii dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
12-08-2020 18:11

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 30.

Bagian 30.


Untuk beberapa saat ketiga orang itu telah menjadi diam. Bagi Ki Demang persoalan yang saat ini mulai mengemuka di kademangan yang dipimpinnya memang memerlukan penyelesaian secepatnya.

Meskipun kesehatannya belum pulih sepenuhnya nampaknya Ki Demang tidak mungkin untuk terus berdiam diri dalam keadaannya.

Putranya yang didampingi oleh Ki Bekel memang dianggapnya telah mampu menjalankan tugasnya memimpin kademangan.

Namun dalam persoalan yang berkaitan dengan masa depan dan keberlangsungan dari kademangan dan seluruh penghuninya nampaknya Ki Demang tidak ingin menyerahkan sepenuhnya kepada putranya.

Ia menganggap putranya masih belum mempunyai pengalaman yang cukup dalam menghadapi persoalan yang rumit dan membutuhkan perhitungan yang cermat.

Sementara itu Ki Bekel sendiri nampaknya mempunyai pertimbangan yang kurang mapan dengan persoalan yang saat ini sedang berkembang.

Ia tak bisa menutupi atas kecemasan yang ada didalam hatinya bahwa gagasan yang dikemukakan oleh kedua orang yang saat ini menjadi tamu dari Ki Demang itu pada saatnya tentu akan membawa akibat yang buruk bagi kademangan dan seluruh penghuninya.

Ki Bekel pun nampaknya juga tidak puas dengan tanggapan dari Ki Demang, meskipun demikian Ki Bekel belum berniat untuk mendesaknya lebih lanjut.

Bagaimanapun juga Ki Demang memang belum mengambil keputusan atas persoalan yang berkembang.

Apsaralah yang nampaknya telah mempunyai pertimbangan dan keputusan yang jelas.

Mungkin karena dipengaruhi oleh gejolak kemudaanya dan juga kedekatannya dengan Jatmika, telah membuat Apsara mempunyai sikap yang mantap bahwa Ia akan mendukung sepenuhnya gagasan yang telah ditawarkan oleh Jatmika.

Bahkan Apsara telah mulai membayangkan bahwa dimasa yang akan datang, Ia akan mewarisi kedudukan ayahnya bukan sekedar sebagai pemimpin dari sebuah kademangan, tetapi yang diwarisinya adalah kedudukan yang lebih dari itu atau setidaknya kedudukan sebagai seorang pemimpin dari sebuah Tanah Perdikan dengan segala keistimewaan yang dimilikkinya.

Dan demikianlah selanjutnya, keheningan ditempat itu telah dipecahkan oleh suara Ki Demang.

Pada saatnya aku ingin membicarakan persoalan ini dengan beberapa bebahu dikademangan ini. Tetapi sebelumnya aku memerlukan untuk berbicara dengan kedua tamuku itu agar aku mempunyai bahan yang cukup untuk membuat satu penilaian atas apa yang akan menjadi keputusanku nanti. Aku menganggap penting untuk mengetahui siapakah sebenarnya kedua orang itu meskipun aku sudah mempunyai dugaan bahwa keduanya nampaknya adalah orang orang yang merasa mempunyai hak untuk mempersoalkan kekuasaan atas Demak”.

Kepada Ki Bekel dan kau sendiri Apsara”, berkata Ki Demang lebih lanjut.

Aku perlu memberi tekanan pada perkataanku ini, bahwa saat ini aku belum mengambil sikap apakah aku akan mendukung atau menolak gagasan yang telah disampaikan oleh Jatmika itu. Aku ingin kalian menyesuaikan diri dengan sikapku ini”.

Dan sebelum Ki Demang menutup dan mengakhiri pembicaraan diruangan itu, Ki Demang ternyata memerlukan menanyakan satu permasalahan kepada Apsara.


Namun sebelum Ki Demang berkata kepada Apsara, terdengar Ki Demang justru berkata kepada Ki Bekel.

Ki Bekel, sebenarnya apa yang ingin aku katakan ini tidak mempunyai kaitan secara langsung dengan persoalan yang baru saja kita perbincangkan karena ini menyangkut dengan keluargaku. Aku tidak berkeberatan Ki Bekel mendengarnya karena aku menganggap Ki Bekel telah menjadi batihku sendiri”.

Silahkan Ki Demang”, jawab Ki Bekel singkat.

Terlihat Ki Demang telah beringsut maju.

Apsara, akhir akhir ini aku melihat keanehan pada tingkah adikmu. Ibumu mengatakan, dengan berbagai alasannya adikmu telah beberapa kali menanyakan tentang Jatmika. Nampaknya adikmu telah menaruh perhatian yang berlebihan kepada anak muda itu. Apakah tanggapanmu dengan tingkah adikmu ini”, desis Ki Demang.

“Aku justru baru mengetahuinya dari Ayah terkait dengan sikap anehnya itu”, jawab Apsara.

Bagaimanakah dengan Jatmika sendiri”, desis ayahnya kembali.

Kakang Jatmika tidak pernah sekalipun menanyakan apalagi membicarakan persoalan apapun yang ada kaitannya dengan Iswari. Iswarilah yang nampaknya memang bersikap ganjen”, jawab Apsara.

Bukankah yang kau sebut ganjen itu adalah adikmu sendiri”, desis ayahnya.

Anak itu menjadi manja ayah. Ia sekarang sudah mulai malas untuk mengirim makanan ke sawah. Setiap hari kesibukannya hanya didepan cermin”, jawab Apsara.

Ki Demang yang nampaknya tidak ingin menanggapinya lebih lanjut telah berkata.

Baiklah kalau demikian, kita akan membicarakan persoalan adikmu pada kesempatan yang lain. Tetapi aku minta cobalah sesekali berbicara dengan adikmu agar kau mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi dengan adikmu itu”.

Demikianlah akirnya Ki Demang telah menganggap pertemuan itu selesai dan menutupnya dengan sebuah pesan agar apa yang telah dibicarakan saat itu untuk sementara hanya boleh diketahui oleh beberapa bebahu kademangan saja.


-------

Bersambung bagian 31.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
12-08-2020 23:20
Lanjuttemoticon-Toast
0 0
0
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
13-08-2020 21:40

"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan) Bagian 31.

Bagian 31


Demikianlah perkembangan selanjutnya, suasana di kademangan Dawungan nampaknya sudah mulai terasa adanya perubahan perubahan dalam kesehariannya.

Meskipun kehidupan sehari hari para penghuni kademangan tetap berjalan seperti biasanya namun dari sisi sikap dan pandangan mereka yang berkaitan dengan masa depan kademangannya telah mengalami pergeseran.

Mereka mulai berangan angan bahwa pada saatnya nanti kehidupan mereka tentu akan semakin bertambah baik seiring dengan perubahan yang terjadi pada kademangannya.

Sementara itu, beberapa penghuni kademangan yang mempunyai sikap berbeda atas apa yang saat ini sedang bergejolak telah menjadi gelisah.

Beberapa orang diantaranya, dengan alasannya masing masing justru telah menjadi khawatir melihat perkembangan yang terjadi.

Bahkan mereka telah mulai menjadi kecewa dengan sikap pemimpinnya yang dianggap telah membiarkan keadaan semakin mengarah pada upaya upaya yang menurut mereka adalah upaya untuk mbalelo pada kekuasaan Demak.

Namun sayang, penghuni kademangan yang mempunyai sikap berbeda ini jumlahnya terlalu sedikit sehingga kegelisahan dan kekecewaan yang mereka rasakan seolah tidak muncul ke permukaan.

Apalagi kelompok ini nampaknya merasa enggan atau bahkan juga tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya tersebut secara terbuka.

Sikap diam kelompok ini akhirnya justru telah menumbuhkan kesan seolah olah seluruh penghuni kademangan mempunyai pandangan dan gejolak yang sama dalam menyikapi persoalan yang berkembang.

Dan salah satu dari penghuni kademangan yang juga telah menjadi cemas atas perkembangan yang terjadi di kademangan Dawungan adalah orang tua yang disebut sebagai Kyai Bahuwirya.

Peristiwa yang pernah terjadi halaman banjar beberapa waktu yang lalu memang telah menarik perhatian Kyai Bahuwirya, dan sejak itu pula lah Kyai Bahuwirya mulai terus mengikuti perkembangannya.

Bahkan secara diam diam, dengan caranya Kyai Bahuwirya telah berusaha menyerap sebanyak mungkin keterangan yang berkaitan dengan persolan yang ada.

Keberadaan Kyai Bahuwirya yang dikenal sebagai dukun hewan nampaknya telah mempermudah usahanya.

Hampir seluruh penghuni kademangan mengenal dengan baik Kyai Bahuwirya, sehingga Kyai Bahuwirya lebih leluasa untuk mendengarkan berbagai pendapat dari orang orang yang ditemuinya.

Untuk menyamarkannya, biasanya Kyai Bahuwirya melakukan usahanya tersebut ketika Ia sedang diminta oleh orang yang kebetulan sedang membutuhkan keahliannya.

Dari keseluruhan keterangan dan pegetahuan yang di dapatkannya, Kyai Bahuwirya memang mempunyai tanggapan yang kurang mapan dengan keadaan di kademangan akhir akhir ini.

Dan yang demikian itulah yang telah membuat Kyai Bahuwirya terlihat lebih banyak menghabiskan waktunya di malam hari untuk duduk termenung dan bergulat dengan angan angannya.

Seperti yang terlihat malam itu. Ketika malam telah mulai wayah sepi uwong.

Dalam kesendiriannya, Kyai Bahuwirya tengah duduk di salah satu ruang yang ada didalam rumahnya.

Ditemani semangkok wedang sere yang baru saja dibuatnya serta sepiring kecil ubi rebus, Kyai Bahuwirya terlihat merenung.

Kyai Bahuwirya nampaknya sedang tenggelam bersama angan dan pikirannya menyikapi persoalan yang saat ini sedang berkembang di kademangan yang di huninya.

Dalam keadaan seperti itu, sesekali terlihat dahinya telah berkerut sebagai ungkapan gejolak perasaan yang ada didalam hatinya.

Tak jarang pula Kyai Bahuwirya terlihat menghela nafasnya dengan dalam seolah orang tua itu ingin menghirup sebanyak banyaknya udara malam yang segar untuk sekedar melapangkan dadanya yang terasa menjadi sesak.

Tergambar pada raut wajah tuanya, ada rasa cemas menyelimuti hatinya melihat perkembangan yang terjadi saat ini.

Dan kecemasan serta kekhawatiran yang dirasakan oleh Kyai Bahuwirya tersebut nampaknya memang mempunyai alasannya.

Kyai Bahuwirya adalah seseorang yang mempunyai banyak pengalaman dalam kehidupan. Selain itu Kyai Bahuwirya pun sebenarnya adalah seseorang yang mempunyai pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk dijadikannya bekalnya dalam membuat sebuah penilaian dari satu persoalan yang terjadi.

Gejolak hatinya yang telah mengendap membuat Kyai Bahuwirya mampu memberikan sebuah tanggapan secara jernih terhadap sebuah persoalan.

Kyai Bahuwirya pun mempunyai ketajaman penalaran, sehingga Ia mampu menganyam potongan potongan peristiwa yang terjadi, dan untuk selanjutnya menyusunnya menjadi sebuah gambaran yang lebih utuh dari kemungkinan terjadinya sebuah peristiwa di waktu selanjutnya.

Dan berdasarkan pada perhitungannya tersebut, serta bermacam keterangan yang telah didapatkannya, Kyai Bahuwirya nampaknya mulai dapat melihat sebuah gambaran yang lebih jelas dari keseluruhan rangkaian peristiwa yang selama ini terjadi di kademangan Dawungan.

Dan gambaran yang mulai membayang dalam angan dan pikirannya itulah yang telah mencemaskan dan menggelisahkan hati Kyai Bahuwirya belakangan ini.

Atas keadaan yang demikian itu, Kyai Bahuwirya pun juga menyayangkan sikap dari para pemimpin kademangan yang dianggapnya kurang mempunyai ketegasan dan kecepatan dalam menanggapi persoalan yang ada.

Kyai Bahuwirya pun juga menjadi kecewa dengan sikap dari para bebahu kademangan termasuk juga sikap Ki Demang sendiri.

Apakah sebenarnya yang telah terjadi dengan Ki Demang dan para pembantunya”, desah Kyai Bahuwirya didalam hatinya.

Aku tidak menyangka bahwa kedatangan paman dan kemenakkanya itu ternyata mempunyai tujuan dan maksud yang memang telah direncanakannya sejak semula. Bahkan ketiga perampok yang datang mendahuluinya itu nampaknya menjadi bagian dari keseluruhan rencana tersebut”.

Meskipun demikian, seperti sikap dari beberapa penghuni kademangan lainnya yang mempunyai perasaan yang sama dengannya, nampaknya Kyai Bahuwirya juga tidak ingin mengungkapkan apa yang menjadi kecemasan didalam hatinya itu kepada siapapun.

Dan Kyai Bahuwirya mempunyai alasannya tersendiri atas sikapnya tersebut.

Sebuah sikap yang memang seharusnya dilakukannya berdasarkan pada pertimbangannya yang berkaitan dengan keberadaan dan jati dirinya yang lain yang memang di milikkinya.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya Aku harus terlibat juga dalam persoalan ini”, desis Kyai Bahuwirya.

“Aku memang harus secepatnya mengabarkan persoalan yang terjadi di kademangan ini sebelum segalanya menjadi terlambat”.

“Nampaknya dua orang yang mengaku sebagai paman dan kemenakkan itu mempunyai rencana besar yang telah dipersiapkannya dengan matang”.

“Aku meyakini, pada saatnya nanti rencana dari kedua orang itu pasti akan menimbulkan gejolak bagi ketentraman kademangan ini, dan gelombang yang ditimbulkannya akan dapat menggetarkan dinding istana Demak”
, desis Kyai Bahuwirya.

Dalam keadaan yang demikianlah itulah Kyai Bahuwirya justru telah teringat bahwa dirinya telah menyanggupi untuk mengunjungi beberapa orang yang memerlukan bantuanya terkait dengan kemampuan yang dimilikkinya.

Meskipun orang yang akan dikunjunginya itu tinggal diluar kademangan, tetapi Kyai Bahuwirya tidak mungkin untuk membatalkannya justru karena Ia telah terlanjur mengucapkan janji kesanggupannya.

Dan Kyai Bahuwirya menganggap itulah kesempatan terbaik yang dimilikkinya sehingga Kyai Bahuwirya memutuskan untuk mempergunakan kesempatan tersebut.

Bahkan Kyai Bahuwirya telah memutuskan untuk melaksanakan rencana itu esok hari


----

Bersambung bagian 32.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"MENDUNG DI LANGIT DEMAK" (Bara Di Kademangan Dawungan)
14-08-2020 22:59
Waitingemoticon-Belgia
0 0
0
Halaman 3 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
irasional-love
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia