Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
356
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ed513dd7e3a720d597d76f7/antara-rasa-dann-logika--final-chapter---true-story
Assalamu'alaikum penghuni KASKUS. Salam hormat bagi momod. Selamat datang, Melanjutkan Thread sebelumnya dari "Antara Rasa dan Logika". Dan mohon maaf, pertanyaan dari para reader yang gue jawab kemarin di Thread sebelumnya itu gak semuanya sesuai RL. Kenapa? Karena akan gue jawab semuanya disini. Segitu aja jadi, selamat membaca. Demi apapun. Aku gak mau menyebutmu sudah tak cantik lagi
Lapor Hansip
01-06-2020 21:42

Antara Rasa dan Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]

Quote:Assalamu'alaikum penghuni KASKUS. Salam hormat bagi momod. Selamat datang, Melanjutkan Thread sebelumnya dari "Antara Rasa dan Logika". Dan mohon maaf, pertanyaan dari para reader yang gue jawab kemarin di Thread sebelumnya itu gak semuanya sesuai RL. Kenapa? Karena akan gue jawab semuanya disini. Segitu aja jadi, selamat membaca
.



Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]





Quote:Demi apapun. Aku gak mau menyebutmu sudah tak cantik lagi. Jadi diamlah dan percaya padaku.


Part 1


Hai pagi. Apa kabar denganmu? Bagaimana dengan bulir embun yang menggenang di atas daun lalu jatuh perlahan dari sudutnya? Apakah sudah menyentuh membuat sedikit tanah menjadi kecoklatan lebih tua dari sisi lainnya? Ah, tentu saja begitu. Apakah kau tahu bahwa ada perempuan yang kini setia menunggumu, pagi? Harusnya kau tahu. Perempuanku saat ini sangat menyukaimu.

Semilir angin masuk melalui sela-sela jendela yang sedikit menganga. Udara yang segar menyeruak keseluruh sudut kamar. Kamar kami. Gue kerjip kan mata. sinar matahari pagi yang menelusup melewati tirai yang sudah tidak menutupi jendela sebagian membuat silau. Tentu saja, dia pasti yang melakukan ini. Ah, gue lupa kalo tadi sehabis shalat subuh, malah terlelap lagi.

Gue melirik ponsel di atas nakas. Menyambarnya. Menyipitkan mata lalu menatapnya. Pukul 06.15. masih ada satu jam lebih untuk bermalas-malasan. Tapi suara remaja tanggung itu membuat mata enggan untuk menutup lagi. Gue sibakan selimut. Duduk. lalu berjalan keluar dan berdiri di bawah bingkai pintu.

"Ini bekal nya udah teteh masukin di tas. Jangan lupa dimakan kalo istirahat. Terus, inget, jangan kebanyakan jajan. Ditabung uangnya, ya?" Ujar perempuan yang kini menjadi teman hidup gue ke ramaja tanggung itu. Membereskan tasnya. Lalu memberikannya.

Remaja tanggung itu menyandang tasnya lalu melempar senyum lebar, "siap bos," seraya menggerakan tangannya layaknya hormat kepada komandan. Seragam putih birunya terlihat sedikit kebesaran. Membuatnya agak lucu. Tapi tak apalah.

"Yaudah gih, nanti telat" balasnya tersenyum. Membelai kepalanya lembut.

"Assalamu'alaikum" lalu meraih tangan perempuan itu untuk menyaliminya.

Remaja tanggung itu lekas berjalan. Melirik gue. Dan mengurungkan langkahnya menuju pintu depan. Lalu berjalan menghampiri gue.

"A, aku berangkat dulu"

Gue tersenyum lalu mengangguk. Telapak tangannya yang lebih kecil dari gue kini menggenggam tangan gue, lalu diarahkannya punggung tangan gue ke keningnya. Beberapa detik. Ia lepaskan kembali. "assalamu'alaikum". Lalu berjalan keluar.

"Wa'alaikumsalam. Hati hati dijalan"

Ah, mungkin sekolah adalah hal menyenangkan untuknya sekarang. Hal baru dia dapatkan. Teman baru. Terutama ilmu. Suatu saat nanti ia akan menjadi orang hebat. Sehebat perempuan yang berada di samping gue saat ini.

Teringat waktu itu. Beberapa bulan yang lalu. Gue dan istri mendapati remaja tanggung itu duduk di tepi pelataran masjid tempat dia berteduh. Duduk memeluk lututnya. Membenamkan wajah diantara lututnya. Sepertinya hari itu adalah hari ke-tidak beruntungannya. Langit malam pekat. Tersaput awan. Tidak seperti biasanya. Bintang tidak menunjukan jati dirinya. Bahkan formasinyapun entah kemana.

Remaja tanggung itu terisak. Terisak dalam.

Istri gue menepuk pundaknya. Remaja tanggung itu Mengangkat wajahnya pelan. Sangat pelan. Matanya basah. Bibirnya bergetar. Nafasnya tercekat. Ia duduk di sampingnya. Membelai wajahnya lalu memeluknya. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ibu meninggal teh". Ucapnya bergetar. Hampir tidak terdengar. Istri gue menatap kosong ke arah depan. Tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca. Lalu memeluk remaja tanggung itu semakin erat. Sejak itulah, istri gue membawanya ke rumah ini. Menjadi bagian dari keluarga kecil kami. Memberi warna baru setiap hari. Tawa nya. Candanya. Ocehannya. Ah, itu semua sudah bagian dari kami. Gue tahu, istri gue sangat menyayangi remaja tanggung yang tubuhnya tak sesuai dengan usianha kebanyakan. Ia terlalu kecil. Ringkih. Dengan kulit kecoklatan.

Istri gue sudah menyiapkan kopi hitam di atas meja makan lengkap dengan sebungkus rokok.

Dia tentu tahu betul kebiasaan gue. Kopi, rokok, itu sudah menjadi bagian dari pagi. Bagian dari cahaya matahari yang sedikit memberi warna kuning pucat di kaki cakrawala.

"Kamu kok gak bangunin aku sih?"

"Udah, tapi dasar kamunya aja yang kebo, malah tidur lagi!" Cibirnya.

"Yee, enggak ya, tadi subuhkan udah bangun" balas gue.

"Tetep aja, udah gitu ngebo lagi." Cibirnya lagi.

Ups, itulah kelemahan gue. Selepas subuh, malah ketiduran. Atau lebih tepatnya sengaja terlelap lagi.

Gue hanya tersenyum lebar. Menggaruk tengkuk yang gak gatal.

Senyum nya yang hangat mengalahkan hangatnya matahari yang baru muncul ke permukaan

***

Jam 07.15. waktunya menemui setumpuk kerjaan di kantor. Menemui hiruk pikuknya dunia demi sesuap nasi.
Jam 07.50. gue sudah berada di lobi. Pak Yanto, Office boy di kantor gue menyapa dengan senyuman dan anggukan. Gue membalasnya. Berjalan Melewati koridor yang tiap sisinya adalah ruangan staff dan pegawai lainnya.

Gue sampai di meja. Menyimpan tas. Mengeluarkan flashdisk. Menancapkannya pada lubang USB di PC. Ah, tentu saja pekerjaan kemarin telah menunggu.




Lanjut ke part 2 gan-sis emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sukhhoi dan 29 lainnya memberi reputasi
26
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 6 dari 12
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-08-2020 01:57
Part 23


"Nyo!! Wah lo makin kelimis aja sekarang! Ayo masuk deh!" ajak gue ke Munyo

"Bisa aja lo" terkekeh. Mengikuti gue dari belakang.

Siang ini jam sebelas Munyo sampai dirumah gue. Gak banyak sih yang berubah dari dia. Hanya mungkin, rambutnya yang lebih tertata rapi karena menggunakan minyak rambut. Kalau muka mah tetap. Gak berubah sih. Tetap Munyo.

Jadi inget masa-masa di kosan. Sobat terdebest. Hampir lima tahun sama dia. Ya ditambah dia kan mahasiswa abadi. Satu tahun adalah bonusnya dia kuliah.

Lilipun menyambut Munyo di ruang tamu. Lalu menyiapkan kopi hitam untuk kami berdua. Tapi, gue gak biarin si Munyo di ruang tamu. Gue ajak dia ke rooftop. Biar dapetin angin sepoi sepoi. Lagian diatas ada kanopinya. Jadi terlindung dari sinar matahari.

Setelah Lili beres membuatkan kopi, kami segera berjalan ke rooftop. Duduk di kursi favorit gue dan Lili.

Matahari cukup terik. Sudah mulai di atas kepala. Tapi angin di atas sini membuat rasa panas menjadi terkikis. Sejuk.

"Ah buset, enak banget dah disini" ujar Munyo. Menyandarkan punggungnya di kursi. Begitupun gue.

"Gimana kerjaan lo nyo?" tanya gue. Menyulut rokok.

"Gitu-gitu aja sih kalo kerjaan. Malah bikin gue autis" katanya.

"Yaaah, perlu bantuan medis dong lo?" gue tertawa.

Munyo terbahak, "bangsad!! Gue kaya orang kurang se-setrip dong ya?"

"Lah, kan emang dari dulu nyo! Lupa lo?"

Munyo melipat bibirnya. Matanya memicing.

"Sembarangan!! Kalo keren, emang iya, gue dari dulu keren!"

Gue tertawa lagi. Ah sial, kapan lagi gue bisa ketawa kaya gini? Ditambah nostalgia bareng si kunyuk satu ini.

Munyo lalu cerita panjang lebar mengenai hubungannya dengan Indah. Pasang surut katanya. Entah, apa arti ungkapan itu. Tapi menurut gue mereka kuat sih. Kuat LDR maksudnya. Mungkin karena emang sudah sama-sama sayang makanya masih bertahan sampai sekarang. Munyo juga bercerita tentang niat dia untuk melamar indah tahun ini. Keputusan yang bagus.

"Nah gitu dong, dari pada keburu di embat orang! Lo kan jauh soalnya. Mending cepet di halalin!" ujar gue.

"Makanya itu. Gue juga udah bosen ngebujang. Pengen kaya lo, hidup bahagia!" katanya. Menaik turunkan halisnya.

Senyum gue memudar.

Bahagia? Ah, tentu saja gue bahagia bukan? Punya istri seperti Lili. Tentu saja gue bahagia bukan? Punya kehidupan seperti sekarang. Tapi sekarang, definisi bahagia itu menjadi samar bagi gue.

"Eh, lo kapan mau ngasih gue keponakan men? Udah pengen nimang ponakan nih gue"

Ah iya, mungkin nanti kalau gue punya anak, dia akan manggil Munyo om.

Tapi gue tahu. Itu gak akan terjadi. Hanya keajaiban yang bisa merubah keadaan ini semua.

"Lah, malah bengong nih orang!! Wah, gue tahu nih, model muka kaya begini nih, ini pasti lagi ada masyalah. Lo lagi ada masalah apaan sih? Cerita lah! Mumpung ada gue disini"

Gue masih tepekur. Memandang langit biru. Memandang awan yang menggelayut di dindingnya.

Gue menghela nafas berat, "ngasih ponakan ya nyo? Itu.. Gak mungkin." kata gue lirih.

"Gak mungkin gimana? Ah becanda lo! Tinggal set set set kan?" katanya sambil terkekeh.

Gue memandangnya. Datar.

Kekehan Munyo perlahan hilang. Ditelan tatapan gue.

"Eh.. Waduh, salah ngomong gue" ujar Munyo, menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.

Gue memalingkan wajah. Menghisap rokok dalam-dalam.

"Lili sempet hamil nyo. Tapi.. belum lama ini dia keguguran. Terus gak bisa hamil lagi" kata gue datar.

Mata Munyo melebar, "ya ampun men. Sorry banget! Gue gak tahu. Duh, kok bisa men kaya gitu?"

"Rahimnya Lili lemah nyo. Ditambah kondisi Lili gak memungkinkan untuk dia hamil lagi."

"Berat.." katanya.

"Lo yang sabar men. Buset dah, gak abis-abis ya lika liku lo!" lanjutnya kemudian.

Gue membuang nafas panjang. Kasar.

"Ya.. Gitu deh nyo. Takdir." jawab gue singkat.

Hening beberapa saat.

Hanya terdengar desau angin. Menggelitik. Mengibaskan rambut. Menelisik telinga. Syahdu. Berbeda dengan rambutnya Munyo yang tetap diam. Kaku.

""Eh lo udah yakin mau ngelamar si Indah?" gue mengalihkan pembicaraan.

Munyo mengangguk. Senyumnya mengembang.

"Yakin gue. Cape gue kalo mulai dari nol terus. Lagian udah waktunya nikah juga. Nyokap udah minta cucu mulu" ujarnya diakhiri tawa. Susul gue.

"Ada warasnya juga lo ternyata nyo" gue terbahak.

"Bentar, jadi selama ini lo nganggep gue gila gitu?" munyo menyipitkan mata. Bibirnya maju beberapa senti.

Gue menggedikan bahu. Tertawa.

"Bangsad emang. Gue kira sehabis nikah, lo bakalan berubah men. Taunya sama aja" Munyo menggeleng. Berdecak. Gue makin tertawa.

Pikiran kalut gue sedikit reda. Pembicaraan kami membuat suasana menjadi lebih cair.

Siang ini menjadi menyenangkan. Bertemu kawan lama memang menentramkan hati juga pikiran. Padahal dulu kami sering duduk berdua, ngobrol kesana kemari. Ah memang waktu berjalan begitu cepat. Hidup sudah sedikit berubah. Hanya pertemanan kami yang tidak berubah.

"Men, gue yakin dah, dari semua kejadian yang lo alamin, semua ada hikmahnya"

Gue mengangguk.

"Semoga nyo."

"Sini gue peluk" ujar Munyo. Mimik mukanya menjijikan. Ha ha ha.

Gue menatapnya jijik. Bangkit.

"Ogaaaaahh!!! Lo kok malah gak normal si nyo?? Wah parah lo!!"

Munyo melempar gue dengan puntung rokok.

"Mata lo gak normal pe'a. Gue laki tulen!!"

Gue tertawa.

Ada-ada saja. Tapi, iya, semoga. Semoga ada hikmah di balik semua kejadian yang gue hadapi sekarang. Semoga.

DUUUAAGG!!! Samar terdengar suara benturan keras dari dalam rumah. Nafas gue tercekat tiba-tiba. Lili!!!
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-08-2020 02:00
Quote:Original Posted By tom122
Mantul ~ lili terbaik lah pokoknya hahay


Eh mang tom euy.. Kumaha damang?

Quote:Original Posted By Tole1224
Lama nggak update....
Kok cuma segini....
Hehehehe.....


Bagian dari otak ngefreeze gan wakakak

Quote:Original Posted By ym15
Santai aja gan, RL lebih prioritas.
Ane masih sering nengok kok ke cerita agan.
Semoga masalah di RLnya cepat terselesaikan.


Aamiin gan. Makasih banyak. Dan tencu masih mantengin trit ane.

Quote:Original Posted By diy46
gpp update macet , asal tetep diterusin. gasss pol emoticon-Ngacir2


Haha siap gan. Bakal ane tamatin kok. Cuman gak bisa gas pol aja update nya.
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-08-2020 06:31
Waduh lili emoticon-Frown...
Takdir...kah?
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-08-2020 12:24
Update lagi yee, tetap setia menunggu updatean😁
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
09-08-2020 17:48
Udah lama gak mampir dimari... Merinding dong ane bacanya, berat banget ya cobaannya bang...

Asli ane udah berkaca kaca saat part lili keguguran emoticon-Frown dan disaat begitu ada aja temen lama yg datang buat menghibur yaemoticon-Cool



Istri idaman banget lili, betapa tegarnya dengan merelakan suami tercintanya bisa bahagia dengan menikah lagi agar mendapatkan anak...
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
14-08-2020 23:41
Dilanjut maneh kang emoticon-Sundul
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
15-08-2020 20:40
Dilanjut ....
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
16-08-2020 01:20
Nyieun kopi heula emoticon-Toast
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
17-08-2020 23:15
Masih memantau..
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-08-2020 05:49
Quote:"Ngetik terus sampe kapalan!" ucapnya sarkas.

"Baru juga hari ini. Sayang aja kalo kentang!" gue terkekeh.

"Emang kuat ngelanjutinnya?"

Gue menoleh, lalu mengangguk pelan, "mungkin iya, mungkin enggak"

Dia memeluk gue, dan berbisik lirih, "buat ceritamu yang baru"

Gue hanya melengkungkan sedikit senyum mendengarkan perkataannya. Perkataan istri gue
.

Part 24


Gue beringsut. Segera lari menuju asal suara. Munyo yang bertanya demikian rupa, gue abaikan. Langkah kaki gue gemetar. Menuruni tangga. Harusnya gue tahu dari mana asal suara itu. DAPUR!! Gue jalan dengan jantung yang berdetak cepat.

Celaka!!

"LILI"

Gue segera meraihnya yang sudah tergelatak di atas lantai. Beberapa piring sudah pecah berserakan. Ini kacau.

"Men, kenapa Lili?" tanya Munyo panik.

"Nyo, gue harus ke RS!" jawab gue panik. Gue segera membawa Lili ke dalam mobil.

"Oke oke, gue anter men!" Munyo berjalan di depan gue. Membukakan pintu mobil. Gue meletakan Lili di kursi belakang. Sementara Munyo menyetir.

"Sayang, yang kuat!" lirih gue yang saat ini duduk di sampingnya.

***

Kejadian yang berulang. Gue sudah muak sama tempat ini. Tempat dengan aroma khasnya. Entah sudah berapa kali gue keluar masuk tempat terkutuk ini.

Lili masih terpejam. Gue duduk di sampingnya. Menatap wajah pucat itu lekat. Wajah yang biasanya mendamaikan. Kini terlihat begitu mengkhawatirkan. Ditambah kabel-kabel yang menghujam tubuhnya, membuat perasaan gue tambah kacau. Tapi gue tahu, Lili kuat. Dia pernah melewati yang lebih berat dari ini. Gue menarik selimut yang membalut tubuh Lili agar sedikit lebih naik. Lalu mengecup keningnya.

Setengah jam yang lalu Munyo pamit untuk ke tempatnya Indah. Jadi gue disini hanya sendiri, menunggu. Pikiran gue melayang jauh. Ucapan dokter tadi membuat oksigen di ruangan ini terasa berkurang. Dada gue sesak. Tapi Lili butuh gue, dia butuh suaminya yang kuat pula.

Jam dinding berdetak bersahutan dengan suara mesin medis dengan tulisan hijau yang berada disamping ranjang Lili. Hening terpecah.

Satu jam berlalu, Lili belum sadar. Dua jam berlalu, langit mulai redup. Dan di atas sofa ini gue duduk. Jaraknya beberapa langkah dari ranjang itu. Gue sedikit meregangkan otot. Menyenderkan punggung di sofa ini. Entah kenapa, mata gue terasa berat. Dan sepertinya, gue kehilangan kesadaran.

***

Perlahan gue membuka mata. Suara itu masih terdengar meskipun lirih. Melihat ke arah asal suara, kesadaran gue kembali seutuhnya. Gue beranjak dan menghamipirinya. Duduk di tepi ranjang.

"Kamu udah bangun? Sejak kapan?" tanya gue.

Bibir pucat itu tersenyum, "maaf, tidur kamu jadi keganggu a"

Gue menggeleng, "sama sekali enggak. Aku tadi cuman ketiduran. Gimana keadaan kamu sayang?"

"Aku gapapa kok a."

"Yaudah, kamu istirahat yang cukup. Jangan terlalu banyak pikiran. Hilangin apa yang seharusnya gak kamu pikirin"

Lili menggenggam tangan gue. Lalu berkata, "aku pengen shalat a. Aa imamin ya"

Gue tersenyum simpul. Gak nunggu waktu lama, gue segera mengambil wudhu. Ah tentu, ini memang waktunya shalat maghrib. Kami segera melaksanakan perdibadahan. Selesai sudah.

"A" panggilnya.

Gue segera melipat sejadah dan beranjak menghampirinya yang berbaring di atas ranjang. Lili meraih tangan kanan gue dan menciumnya.

"Makasih, udah jadi suami yang baik buat aku a. Aku bahagia" ujarnya seraya tersenyum.

"Aa yang seharusnya bilang gitu. Kamu itu istri terbaik dari sabang sampai merauke," goda gue. Mencairkan suasana. Lili terkekeh pelan.

Kami mengombrol kesana kemari. Membicarakan topik terkini. Dan yang paling bikin agak merinding adalah soal desas desus virus yang berasal dari cina. Lili menanggapi itu dengan ekspresi ngeri. Katanya, kita harus mulai waspada dengan adanya berita itu. Tapi toh belum sampai indonesia kan.

"Ngeri ya a" Lili bergidik.

"Lebih ngeri lagi waktu bapaknya aa ghibahin si Siti. Abis berbatang-batang rokok. Suer."

Lili tertawa. Memamerkan deretan gigi nya yang rapih.

"Terus-terus?" meminta lanjutan dari pernyataan gue.

"Ya gitu, karena si Siti primadona, jadi bahan perghibahan yang pas. Abis udah di katain sama Bapak. Udah di bilang kaya rebana, bas betot, ah banyak deh" tukas gue.

Maaf Sit, lo lagi-lagi gue ghibahin juga akhirnya. He he he

"Aa sempet suka gak?" tanya Lili dengar senyumnya yang melebar.

Gue memicingkan mata, "ih, enggak lah. Mending sama tembok!"

Tawa Lili pecah. Bisa-bisa emang nanya kaya gitu sama gue. Tawa Lili mereda. Kini dia terdiam.

"Malah diem" protes gue.

Lili tersenyum simpul, kini menatap gue lekat, "a, aku takut"

"Takut kenapa?" gue heran. Kenapa tiba-tiba Lili bicara seperti itu?

"Takut gak bisa kaya gini lagi a. Ngeliat kamu. Ketawa bareng. Bahagia itu mahal. Gak bisa di beli. Gak bisa di tukar dengan apapun. Aku takut gak bisa liat kamu dalam jarak sedekat ini a" matanya mulai berkaca-kaca. Lili berhasil membungkam gue, "kalo aja langit warna nya tetap biru, mungkin gak akan ada yang namanya perpisahan a." air matanya sempurna jatuh.

"Lili.."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 14 lainnya memberi reputasi
14 1
13
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-08-2020 05:51
Quote:Original Posted By hakkekkyu
Dilanjut maneh kang emoticon-Sundul

Udah ane update gan hehe.

Quote:Original Posted By ipung1976
Dilanjut ....
siap, udah gan. Selamat membaca. Hehe

Quote:Original Posted By shura28
Nyieun kopi heula emoticon-Toast


Wah iyeu, kamana waeee atuh?

Quote:Original Posted By kaduruk
Masih memantau..


Ashiap 86 kang kaduruk. Lama tak jumoa duh. Kumaha kabarna?
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan Herisyahrian memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-08-2020 06:00
Quote:Original Posted By kkaze22
Waduh lili emoticon-Frown...
Takdir...kah?

Takdir gak ada yang tau sih gan mwehehe.

Quote:Original Posted By ChiefMarsekal
Update lagi yee, tetap setia menunggu updatean😁


Siap gan, selamat mmbaca emoticon-Big Grin
profile-picture
Herisyahrian memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-08-2020 08:31
Lanjut a... Jan bikin kentang... emoticon-Jempol
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-08-2020 14:58
nunggunya lama...bacanya bentar doang..emoticon-Shutup
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-08-2020 15:18
Nahh akhirnya update kembali euyy, semangat terus kang emoticon-2 Jempol
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
09-10-2020 14:20
Kentang kh
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
21-10-2020 21:54
Wah ts nya sibuk karena coronceu emoticon-Wakaka
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-10-2020 20:02
Part 25


Malam semakin matang. Gue memilih diam di area parkir setelah Lili terlelap 15 menit yang lalu. Membakar rokok pertama sejak gue duduk di atas jok motor yang entah pemiliknya siapa.

Setiap hisapan membuat hati gue semakin remuk redam, bukan membuat gue lebih baik.

Ada apa ini?

Kepala gue mendongak, menatap langit dengan seksama. Bintang-gemintang sedang bersinar. Bertebaran indah mengukir angkasa.

CiptaanMu ya Allah.

Saat ini, gue hanya ingin bertanya pada pencipta bintang. Pada pencipta Lili, bahkan pada pencipta semesta alam ini tanpa perantara.

"Kenapa Kau memberikan hamba cobaan terus menerus ya Allah? Tidak cukupkah dengan cobaan yang Engkau berikan sebelumnya?"

Dada gue sesak seketika. Demi menahan air mata yang akan meluncur, gue menggigit bibir bawah.

"T-tolong, jangan Kau ambil Lili dari hamba ya Allah!"

Susah payah gue menahan air itu agar tidak meluncur, dalam satu kedipan, air itu beringsut turun menyusuri pipi.

Gue nggak sanggup!!!

Bukankah Tuhan tidak akan memberi cobaan melampaui kemampuan hambanya?

Sungguh, ini sudah di luar dari kemampuan gue. Gue nggak sanggup lagi kalau harus menerima cobaan yang lebih berat.

Angin berhembus, menelisik setiap inchi wajah gue. Gue masih mematut. Tergugu menatap langitNya, menunggu jawaban.

Tidak! Tidak ada jawaban sama sekali. Pelan gue menundukan kepala. Menikmati setiap sayatan di hati gue.

Hening.

Sejurus kemudian, seseorang menepuk pelan bahu gue, "Le?

Gue mengusap wajah, pelan menoleh.

"Kok lo ada disini ci?" Tanya gue, terdengar parau.

"Lo abis nangis Le?" Moci memperhatikan mata gue.

"Enggak! Gue abis ngerokok, terus abu nya masuk ke mata gue!"

"Lah, lo colokin gitu rokoknya ke mata lo?" Sarkas Moci.

"Yakali gue gila!"

Moci mengalihkan pandangannya.

"Lo sama siapa kesini Ci?"

Moci menghela nafas. Kembali menatap gue.

"Sama Bastian..." Katanya lirih.

Bastian? Gue baru dengar nama itu. Siapa?

Mulut gue membentuk huruf O, mengangguk pelan. Gue memutuskan untuk tidak menanyakan siapa orang yang bernama Bastian itu pada Moci. Lagi pula, itu urusannya.

"Lo nggak pengin tau siapa Bastian?" Lanjut Moci. Menggigit bibir bawahnya.

Dahi gue berkerut, "enggak kok!"

Moci berdecak. Menendang batu kerikil yang berada dekat kakinya.

"Gue kasih tau mau, nggak?"

Gue kembali mengkerutkan dahi.

Ini perempuan kenapa coba? Gue malah geli mendengarnya berkata kayak gitu. Lucu.

"Iya-iya, mau."

"Bastian pacar gue, Le!" Moci menundukan kepalanya.

Gue sempat tertohok mendengar pengakuan Moci. Pacar? Sejak kapan? Gue menelan ludah.

"B-bagus dong lo punya pacar. Akhirnya lo ngebuka hati lo untuk cowok, Ci," gue sedikit gugup berkata demikian, nggak tahu kenapa.

Bukannya gue harusnya senang ya?

***

"Lili gimana keadaannya, Le?"

Gue menghentikan tangan yang sedari tadi mengaduk kopi.

Gue mengangguk, "so far so good."

"Lo yang sabar ya, Le. Gue yakin Lili pasti kuat kok."

Gue mengangkat wajah, menatap Moci sendu, "makasih Ci."

Warkop ini sepi. Dari parkiran, gue di ajak Moci ke Warkop ini. Lagian gue juga belum ngopi, makanya gue iyakan ajakan Moci.

"Eh ceritain dong gimana lo bisa jadian sama, emm siapa tadi?" Gue pura-pura lupa nama cowok itu.

"Bastian! Pikun banget sih!" Sarkas Moci, gue menggaruk belakang telinga, terkekeh.

"Iya itu maksud gue, Bastian."

"Ya gitu, dia temennya temen kantor gue, jadi di comblangin gitu. Ya udah deh jadi kenal," Moci malas menjelaskan.

"Ganteng nggak?" Gue menggodanya.

Mata Moci memicing, "apaan sih Le??"

"Emmm, pasti cowok nya kayak gue ya makanya lo mau?" Kejar gue mencibir.

Moci memutar bola matanya, "lebih ganteng dia kemana-mana! Gak kurus, putih, kalem, nggak bego. Peka juga!"

"Lo nyindir apa gimana, nih?" Gue terkekeh.

"Dan yang pasti, dia sayang sama gue," Moci lirih, kembali menundukan kepalanya.

Ada apa dengan dia? Harusnya dia bahagia bukan? Punya pacar yang sempurna, meskipun gue nggak tahu sosok cowok yang meluluhkan hati Moci itu seperti apa. Tapi gue pikir, cowok yang bernama Bastian itu baik.

"Syukur kalo dia sayang sama lo Ci. Gue ikut bahagia."

Tiba-tiba, sebuah tetesan jatuh dari wajah Moci. Gue tertohok, segera mengangkat dagunya.

"Ci, lo kenapa nangis?"

Moci menggelengkan kepalanya, segera menghapus air mata itu.

"Air mata bahagia ya, kan? Tau gue, nggak usah lo bilang juga. Gue juga ikut senang banget Ci, lo punya cowok sekarang. Ada yang jagain lo. Lo bisa..."

"CUKUP LE!!" Bentak moci. Ia lantas berlalu dengan matanya yang terus meluncurkan air bening itu.

Gue terdiam, memandang punggung Moci yang semakin lama, semakin menghilang dari pandangan gue.

Moci kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan gue?

Gue juga bingung. Apa gue senang mendengar kabar itu dari mulut Moci?

Sial, gue segera menghilangkan pikiran gila kayak gitu. Tentu saja gue senang. Moci akhirnya mempunyai dambaan hati. Gue tahu, Bastian spesial banget buat Moci. Karena kalau dia bukan orang spesial, nggak mungkin Moci menerimanya.
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-10-2020 20:04
Sorry agan-agan, ane baru bisa Update!! Wakakak. Ngentanginnya cukup lama ya? emoticon-Ngakak (S)

Tapi pasti ane kelarin kok gan thread ini. Nggak bakal kentangssss dan nggak ada kelanjutannya.

emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Herisyahrian dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
24-10-2020 20:07
Quote:Original Posted By nyahprenjak
Lanjut a... Jan bikin kentang... emoticon-Jempol


Enggak, ini udah update sis wakakak

Quote:Original Posted By jaro77
nunggunya lama...bacanya bentar doang..emoticon-Shutup

Hooh ya, yamponemoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By hakkekkyu
Nahh akhirnya update kembali euyy, semangat terus kang emoticon-2 Jempol


Haha siap siap kang. Pasti di rampungin kok. Tapi agak slow gitu wakakak

Quote:Original Posted By aleexanderr
Kentang kh


Nggak gan, pasti di rampungin hehe.

Quote:Original Posted By kaduruk
Wah ts nya sibuk karena coronceu emoticon-Wakaka


Coronceu membabi buta kang kaduruk wakakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Herisyahrian dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Halaman 6 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
little-albert
Stories from the Heart
mistery-royal-princes-of-kuyang
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
B-Log Collections
Girls & Boys's Corner
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia