Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4821
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3
Setelah menyelesaikan hubungannya dengan Keket, Ija berhasil mendapatkan pengganti yang sepadan dengan Keket, yaitu Dee. Hubungan keduanya sangat langgeng dan lancar serta minim polemik. Tentunya banyak bumbu yang hadir seperti kehadiran orang ketiga yang tidak diketahui Dee dan Ija sendiri, perbedaan pendapat mengenai rencana pernikahan, domisili pekerjaan, pengekangan aturan berpacaran yang tida
Lapor Hansip
29-11-2019 15:25

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Selamat Datang di Thread Gue 
(私のスレッドへようこそ)


Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI DUA TRIT GUE SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT SELANJUTNYA INI, GUE DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK GUE DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DISINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR



Last Season, on Muara Sebuah Pencarian - Season 2 :
Quote:Setelah menyelesaikan hubungannya dengan Keket, Ija berhasil mendapatkan pengganti yang sepadan dengan Keket, yaitu Dee. Hubungan keduanya sangat langgeng dan lancar serta minim polemik. Tentunya banyak bumbu yang hadir seperti kehadiran orang ketiga yang tidak diketahui Dee dan Ija sendiri, perbedaan pendapat mengenai rencana pernikahan, domisili pekerjaan, pengekangan aturan berpacaran yang tidak disukai Ija, serta hubungan yang lambat laun semakin membosankan dan tidak jelas arahnya.

Pada puncaknya, hubungan ini kalah oleh ego masing-masing, baik itu Ija dengan keinginannya untuk menetap di ibukota, bekerja sampai menikah dan membina rumah tangga disana, sementara Dee yang ingin kembali kekampung halamannya dan menetap disana, jauh dari hiruk pikuk kehidupan metropolitan yang membuatnya tidak nyaman. Hubungan yang telah terjalin lama akhirnya harus kandas ditengah jalan. Untungnya hubungan keduanya tetap baik sehingga tidak meninggalkan kekecewaan mendalam seperti yang dulu Ija alami saat bersama Keket.




INFORMASI TERKAIT UPDATE TRIT ATAU KEMUNGKINAN KARYA LAINNYA BISA JUGA DI CEK DI IG: @yanagi92055 SEBAGAI ALTERNATIF JIKA NOTIF KASKUS BERMASALAH


INDEX SEASON 3


LINK BARU PERATURAN & MULUSTRASI SEASON 3



Quote:Original Posted By yanagi92055
D I S C L A I M E R


1. Melalui tulisan ini, gue Firzy Andreanoatau dikenal sebagai Ija, menyatakan bahwa gue HANYA membuat tulisan atau cerita di subforum SFTH KASKUS

2. Gue TIDAK melakukan repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun selain di FORUM KASKUS.

3. Gue TIDAK PERNAH MEMBERIKAN IZIN KEPADA SIAPAPUN untuk melakukan repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

4. Gue HANYA MEMPERBOLEHKAN untuk share INFORMASI bahwa tulisan ini sudah ada update terbaru dengan menyertakan DIRECT LINK ke update-an terbaru atau ke trit tulisan-tulisan gue, dan bukannya repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

5. Gue sudah membuatkan INDEX di pejwan untuk membantu reader tulisan ini terkait dengan update terbaru dari tulisan ini, sehingga tidak ada lagi alasan untuk meminta pihak lain selain gue untuk repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

6. Mohon bantuan para reader disini jika berkenan ketika mendapati tulisan gue, ataupun screenshoot dan bentuk lainnya ada diforum, blog, atau akun media sosial manapun selain KASKUS agar bisa PM atau report ke gue, terkait dengan urusan Karya Cipta.

7. Jika ternyata masih ditemukan hal-hal seperti yang sudah disebutkan pada poin-poin diatas, mohon maaf, gue akan MENGHAPUS keseluruhan tulisan yang pernah gue post disini.


MARI BELAJAR MENGHARGAI HASIL KARYA CIPTA ORANG LAIN DENGAN MEMBACA DARI SUMBER ASLINYA DAN MEMINTA IZIN TERLEBIH DAHULU SEBELUM MENGANGKAT TULISAN / KARYA ORANG LAIN UNTUK KEPENTINGAN DAN KEUNTUNGAN PRIBADI


Quote:PENJELASAN TERKAIT DISCLAIMER

Quote:UPDATE KASUS DISCLAIMER
Polling

Poll ini sudah ditutup - 83 Suara

Perlukah Seri ini dilanjutkan? 
98.8%
Perlu
1.2%
Tidak Perlu
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yudhiestirafws dan 133 lainnya memberi reputasi
126
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 113 dari 121
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
15-07-2020 11:07
Kebiasaan tuh kalau lagi hamil tua ya gitu rese.. hahaha
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
22-07-2020 00:57
Akhirnya beres sudah migrasi ke tempat baru. Sekarang rencana mau ngelanjutin tulisan, tapi apa masih pada berminat sama ini cerita ya?


profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 16 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
22-07-2020 22:41

Spill_Part 1

Alah. Yaelah. Masa sih.

Kata-kata di atas mungkin kata-kata yang seringkali didengar di sekitar kita. Dan tanpa disadari, sebenarnya kata-kata tersebut dapat menimbulkan efek yang sangat negatif bagi si penerima. Keluarnya kata-kata tersebut terkesan meremehkan si penerima dan membuat apapun yang telah dilakukan oleh si penerima terkesan sia-sia atau tidak berguna.

Biasanya ketika si penerima mendapat ucapan tersebut, akan disertai sikap acuh yang kemudian akan mengalami efek domino dimana yang akan diingat oleh si pengucap adalah hal-hal negatif yang telah dilakukan oleh si penerima. Rasanya hilang begitu saja segala hal yang positif yang telah dilakukan oleh si penerima. Dan sikap tersebut dapat menghancurkan mental seseorang cepat atau lambat.

Kenapa gue berkata demikian? Karena gue dan Emi menjadi penerima kata-kata tersebut di rumah masing-masing. Salah satu penyebab gue jengah dengan keadaan di dalam rumah adalah bagaimana ibu dan adik gue melontarkan kata-kata tersebut atas apapun yang telah gue lakukan serta korbankan untuk mereka. Keadaannya menjadi semakin berat untuk kami karena kami mendapatkan sikap demikian dari sistem pendukung kami, yaitu keluarga kami sendiri.

Gue yakin, pasti banyak orang yang pernah merasakan hal seperti yang gue rasakan ini. Hanya saja mungkin banyak pula nggak menyadarinya. Atau mungkin di antara kita pernah ada yang tanpa disadari berkata demikian? Alih-alih memberikan dukungan, malah jadinya menjatuhkan secara tidak langsung. Percayalah, diperlakukan demikian itu sangat tidak menyenangkan dan bisa menghancurkan mental seseorang.

Mungkin keluarga gue akhirnya bersikap demikian karena merasa gue sudah menjadi sosok yang tidak lagi memiliki masa depan. Belum lagi entah bagaimana mereka menilai Emi sehingga berpikir kalau Emi menjadi salah satu faktor kemunduran diri gue ini. Semuanya menjadi terlihat sempurna, sempurna untuk dihinakan di hadapan mereka. Padahal apa yang gue lakukan di sini (yang tentunya tidak mereka ketahui) adalah usaha gue untuk membuat mereka bangga, untuk membuat mereka merubah penilaian mereka tentang gue, dan untuk membuat mereka bisa menerima Emi sebaik-baiknya Emi yang sebenarnya. Tetapi ya semua percuma saat ini.

Bahkan sekedar urusan menjemput Mama, Kakek, dan Nenek gue di Bandara pun, masih mereka ragukan. Dan gue sangat amat yakin, mengetahui kalau gue tidak menjemput mereka, Mama akan menghubungkan ini dengan hubungan gue dan Emi.

Kepulangan Mama dari Tanah Suci malah nggak membawa sesuatu yang baik buat gue. Padahal gue berharap, ketika Mama melihat gue dan Dania ada di rumah dan menyambut mereka, Mama, Kakek, dan Nenek akan tersenyum bahagia. Gue berharap banget akan ada lontaran senyum bahagia nan penuh rindu terpancar dari wajah beliau.

Itu harapan gue dan hanya sekedar menjadi harapan gue. Karena Mama bersikap seperti apa yang gue khawatirkan kemarin, Mama kecewa gue tidak datang untuk menjemput mereka di bandara. Bukannya disapa terlebih dahulu dan menunggu waktu istirahat baru mulai berbincang dengan gue. Ketika Mama melihat gue, beliau langsung berkata “Kamu kemana lagi sama Emi? Udah lupa sama Mama dan Mbah saking sibuknya pacaran sampe nggak bisa jemput di bandara? Kamu lebih khawatir diputusin Emi daripada kehilangan keluarga sendiri? Iya begitu, Kak? Kamu ini, ampun deh. Ditinggal Mama ibadah kok ya malah sibuk ngurusin dunia mulu.” Gumam Mama sambil masuk ke dalam rumah.

Gue terdiam tak berkutik. Gue kaget dan bingung mau bersikap seperti apa saat itu. Gue malu, karena ada Om Dani dan keluarga di sana menyambut kedatangan Mama, Kakek, dan Nenek. Gue sedih, karena hal pertama yang diucapkan oleh Mama setelah 10 hari tidak bertemu adalah kalimat-kalimat yang kurang menyenangkan. Gue kecewa, karena Mama percaya sepenuhnya pada adik gue dan tidak mau mendengarkan penjelasan gue sama sekali.

Daripada gue menjadi kehilangan akal dengan berteriak atau membanting sesuatu di rumah, gue masuk ke kamar gue dan mengurung diri di sana. Biar Mama dan seluruh keluarga gue semakin puas menilai negative tentang diri ini.

Karena gue terlalu sibuk dengan urusan emosional yang merusak mental gue dari dalam ini dengan keluarga, gue sampai lupa memberi kabar pada Emi kalau kami tidak jadi menjemput Mama ke bandara. Saat itu Emi berpikir kalau gue sudah membawa mobil dari rumah dia dan akan menjemput dia di stasiun dekat rumah gue. Tapi ketika dia sudah menunggu beberapa lama di stasiun, dia melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah saat gue memberi tahu kalau Mama sudah sampai di rumah.

“Yaudah aku nyambut Mama kamu via chat aja nggak apa apa ya? Nggak enak kalau aku ke rumah kamu sekarang, pasti lagi banyak tamu dan keluarga kan.” Ucapnya via chat. Andai dia tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Tetapi gue yakin, itu akan semakin menyakiti perasaannya.

---

Tamu Mama satu per satu datang ke rumah untuk mengucapkan selamat datang dan selamat karena Mama telah menyelesaikan ibadah umrohnya dengan lancar. Mama menerima mereka dengan baik dan ramah. Begitupun dengan ucapan via telepon dan chat. Satu per satu Mama balas. Entah bagaimana nasib chat Emi ke Mama karena gue yakin ucapannya sudah sampai dan dibaca sama Mama. Ingin rasanya gue menanyakan Mama apa Mama menerima chat dari Emi dan apa Mama sudah membalasnya. Tapi gue yakin, Mama pasti murka. Dan gue males harus merusak mood baiknya saat ini.

“Haduh Mama capek. Mama mau istirahat dulu.” Ucap Mama sambil duduk bersandar di ruang keluarga. Gue duduk di depan TV sedangkan Dania duduk sembari memainkan handphone dia di sebelah Mama.

“Istirahat dulu Ma. Mama dari sampe kemarin belum istirahat lho. Nerima tamu terus. Padahal tamunya pasti gapapa kalau misalnya tau Mama lagi istirahat tidur. Mbah aja langsung istirahat di rumah Om Dani saking capenya.” Kata gue mencoba menenangkan Mama.

“Emang kamu bisa dipercaya buat ngeberesin rumah, buat nerimain tamu, dan buat bagi-bagiin oleh-oleh begini ke orang-orang? Jagain adik sendiri aja nggak bisa. Apalagi dikasih amanah kayak begitu. Yang ada malah kabur kamu entar kalau dikasih tugas begitu.”

“Kok malah bawa-bawa jagain adik sendiri? Mama emangnya ngeliat Dania kenapa-kenapa? Dania biasa aja kan? Sehat walafiat pas Mama pulang kemarin. Nggak ada lecet sedikitpun. Kenapa masih aja aku yang disalahin sih?”

“Emangnya Mama nggak tau kalau kamu kerjaannya pacaran terus. Sibuk kesana sini, nginep mulu di rumah Emi, atau pulang kerja tapi sampe di rumah dini hari. Apa-apaan kayak begitu? Siapa yang ngajarin kamu jadi berandalan kayak begitu? Kalau tau ibunya lagi ibadah di sana mbok ya di rumah banyak-banyak berdoa buat keselamatan Mama, bukannya malah jadi kabur-kaburan nggak betah banget di rumah. Lagipula udah tau Dania kondisinya lagi begini, bukannya diperhatiin dan dijagain. Malah sibuk merhatiin dan jagain anak orang yang nggak jelas---”

“Mama emang tau darimana aku ngapain aja di sini?”

“Mama itu ibu kamu! Mama tau lah kelakuan kamu kayak gimana kalau ditinggalin sama Mama!”

“Mama tau kelakuan akua tau MAMA DIKASIH TAU DANIA tentang kelakuan aku? Iya kan?

“Kok lo kesannya bilang gue tukang ngadu sih Kak?” Dania terlihat nggak terima dirinya dibawa-bawa di dalam debat gue dengan Mama. Tapi gue nggak salah.

“Gue bilang apa kemarin? Nggak usah ngehubungin Mama terus! Biarin Mama tenang gitu ibadahnya. Jangan digangguin terus. Ngapain sih lo malah ngehubungin setiap saat dari sini? Gue paham lo kangen Mama, gue juga. Tapi ya nggak kayak gitu caranya lah. Eh ujung-ujungnya malah cerita gue ngapain aja di sini yang nggak lo tau. Apa namanya kayak lo bukan tukang ngadu?”

“IJA! Dania itu lagi hamil! Jangan dibentak gitu!”

“Mama juga kenapa sih Mama nggak pernah mau dengerin penjelasan Ija? Mama cuma mau denger dari satu sisi doang. Mama cuma mau dengerin apa yang Dania bilang daripada omongan Ija. Aku masih anak Mama kan? Aku masih punya hak yang sama kan kayak Dania buat didenger?”

“Buat apa nanya ke kamu lagi kalau Mama udah dapet dari Dania, Ja? Yang ada kamu malah belain diri sendiri dan bela-belain pacar kamu itu. Udah, kamu diem aja Ja. Nggak usah teriak-teriak lagi. Kamu itu cuman bikin Dania stres di kehamilannya ini. Kamu nggak boleh mikir negative sama adik sendiri. Paham kamu?”

“Mikir negatif? Nggak kebalik Ma? Adanya juga Dania kan yang selalu ngabarin hal-hal negatif tentang aku. Kalau dia nggak ngabarin Mama tentang hal-hal negatif, yang sebenarnya cuma suudzon dia doang, Mama nggak akan bersikap kayak begini kan?”

“………”

“Terus lagi, ketika kemarin ini aku udah janji sama Mama buat jemput Mama di bandara terus tiba-tiba aja Dania bilang kalau Mama dijemput sama Om Dani. Mama langsung nyalahin aku kan setelahnya? Mama emang nanya ke aku kenapa aku bisa nggak jemput Mama? Nggak kan? Tapi Mama malah dengerin semua yang Dania bilang begitu aja. Kalau sekarang aku bilang fakta kalau ternyata Dania itu asumsi sendiri dan bikin aku batal jemput Mama, apa Mama mau percaya dan salahin Dania?”

“………”

“Kenapa diem aja Ma?” Gue mengalihkan pandangan ke adik gue, “Kenapa lo ga bela diri Dania?” Gue kembali ke Mama, “Sadar kalau omongan Ija bener sekarang?”

“Udah ah Kak! Sekarang nggak usah nyalah-nyalahin orang Kak.”

“Salah-salahin orang? Kok kesannya Ija yang nyalahin orang? Masih nggak mikir Dania juga salah? Mama sekarang masih belain Dania jadinya? Yang duluan mulai nyalah-nyalahin orang siapa sekarang? Bukannya Dania ya? Aku yang ngapa-ngapain loh.”

“Tapi sampai kemarin ini kan lo masih sibuk ada acara di luar kan? Sama band lo juga? Apa lo nggak banyak acara namanya? Bukannya mau jemput Mama tuh ya di rumah, jangan keluyuran mulu!”

“Udah nggak usah bahas urusan gue dan band gue. Lo sama Mama nggak mau perkarain juga fakta kalau Adit nggak meluangkan sedikit waktunya untuk jemput Mama juga? Cuman gue terus yang diperkarain. Padahal kalau gue jadi jemput, gue pasti bawa Emi. Tapi kalau lo ikutan jemput, emang Adit bakal ikut? Nggak kan? Terus gimana sikap Mama?”

“Yeee bawa-bawa suami gue. Dia jauh kali. Lo cuma nyari-nyari kesalahan orang namanya Kak! Udah nggak usah ngeles lagi lo!”

“Dania! Ija! Udah udah! Mama capek denger kalian berantem terus kayak gini! Mama pusing dengernya!”

“Aku sama Dania nggak ribut-ribut. Dia juga sebenernya nggak nyusahin aku kok. Hanya aja, mindset Mama dan Dania ke aku itu udah keburu negatif duluan dan terus menerus. Jadinya apapun yang aku lakuin akan ada salahnya. Orang dimana-mana mengambil hikmah dari sebuah kejadian, lah Mama dan Dania malah mengambil sisi buruk, bukan baiknya. Gimana sih?”

“Makanya kamu itu jagain adik kamu yang bener. Kan mama udah nitip sama kamu.”

“Aku kurang bener apa jagainnya? Emang sekarang Dania kenapa-kenapa? Bayinya mati di dalam kandungan? Kan nggak. Semua baik-baik aja. Nah ini contohnya sekarang. Dania nggak kenapa-kenapa, kandungannya nggak bermasalah. Tapi apa? Aku tetap aja ada salahnya. Padahal AKU NGGAK NGAPA-NGAPAIN! Kalau aku ngapa-ngapain, mungkin Dania udah mati bareng bayinya sekarang Ma!”

“KAK! Kamu apa-apaan sih ngomong kayak gitu? Seneng kamu kalau adik kamu kenapa-kenapa?”

“Sekarang aku tanya Mama. Mama seneng kalau anak sulungnya ini kenapa-kenapa? Pernah mikir begitu nggak? Jangan mentang-mentang Dania lagi hamil terus aku dianggep bukan anak Ma. Aku bisa aja stres sampai akhirnya berpikir buat bunuh diri karena selalu disalahin di setiap pergerakan aku. Apa Mama pernah berpikir sampai kesana? Karena aku udah berpikir sampai di titik itu kalau Mama mau tau!” Emosi gue mulai nggak terkendali. Gue berbicara sambil menghentakkan kepalan tangan kiri gue ke meja.

“Kok kamu kayak nggak punya agama sih Kak? Sampai begitu mikirnya. Kamu emang pernah diajarin jalan pintas kayak gitu sama Papa Mama selama ini? Diajarin nyontek aja nggak pernah kan?”

“Nah, liat lagi nih sekarang. Aku udah ngeluarin unek-unek kayak gini aja, bukannya Mama merubah pola pikir, malah nyalahin aku lagi kan kenapa sampai berpikir kayak gitu? Bukannya Mama mikir kek dikit, kenapa kok anak Mama bisa sampai punya pikiran begitu? Apa yang salah? Gitu Ma harusnya. Masa kayak gitu mesti aku yang ajarin?”

“Kamu ini sekarang berani banget kalau ngomong sama orang tua…..”

“Dania aja berani ngomong negatif dan selalu nyalahin aku. Aku kakaknya. Aku lebih tua dari dia. Tapi kenapa dia boleh aku nggak?”

“Siapa yang ngebolehin Dania sih kak?” Mama mulai emosi juga sekarang.

“Ya Mama, masa Mbah?! Mama kan selalu denger omongan Dania. Secara nggak langsung Mama memberi lampu hijau buat Dania, seolah semua pemikiran Dania tentang dunia ini pasti benar menurut sudut pandang dia. Termasuk jelek-jelekin kakaknya sendiri. Iya apa iya, Ma?”

“…….”

“Kok Mama diam? Berarti baru sadar sekarang? Selama ini kemana aja Mama? Ya Mama pergi terus ke alam pemikirannya Dania. Tapi nggak pernah mampir ke alam pemikiran aku. Makanya jadi Mama nggak tau apa yang terjadi di sekeliling selain dari Dania, Dania, dan Dania terus……”

“…….” Mama melanjutkan diamnya.

“Inget kita dulu pernah punya rumah yang sangat besar dan semua yang kita impikan ada disana? Tapi liat komplek perumahannya? Kanan kiri nggak kenal. Nggak pernah tegur sapa. Hanya Papa dan Pak Toni aja yang akrab karena suka ngobrol di pos satpam sama orang-orang kelas bawah tapi punya andil besar di pengamanan komplek kita. Nah Mama ini posisinya kayak tetangga-tetangga tajir parlente kita yang nggak peduli kanan kiri. Sementara aku ada di posisi seperti Papa yang bisa berbaur kemanapun, tapi nggak keliatan sama orang-orang disekitarnya. Bener apa nggak?”

“……..”

“Nah, Mama aja selama dulu bertahun-tahun tinggal disana selalu mengeluhkan keadaan yang sangat berbeda dengan komplek rumah lama kita yang kembali kita tinggali ini sekarang kan? Disini kehangatan bertetangga sangat terasa. Walaupun komplek ini pun banyak sekali orang-orang mapan, tapi kanan kiri saling kenal dan peduli. Sekarang Mama malah termasuk jadi golongan yang dulu selalu Mama keluhkan. Itu kan namanya kemunduran Ma? Iya nggak? Mama daritadi diam aja, ngerti nggak yang aku omongin? Nanti aku udah ngomong panjang lebar dengan analogi-analogi yang mudah dipahami, ujung-ujungnya aku tetep disalahin. Tetep nyari celah kesalahan yang bisa diambil dari aku.”

“Mama itu nggak nyalah-nyalahin Kamu ataupun adik kamu loh, Ja.”

“Kan, bener kan. Belum juga beberapa detik aku ngomong. Kembali lagi kayak gitu. Udah jelas-jelas aku selalu disalahin. Sekarang malah bilang nggak nyalahin siapapun. Udahlah, kayaknya emang tinggal nunggu matinya aja baru pada sadar….”

Seperti biasa, gue langsung membanting pintu dan keluar rumah. Gue mengendarai motor dan mampir ke rumah Drian yang memang sangat dekat jaraknya dengan rumah gue. Disana pun gue disambut oleh Neneknya yang memang tinggal disana. Beliau sudah lama sekali nggak melihat gue main kerumah itu dan merasa sangat senang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 25 lainnya memberi reputasi
26 0
26
Lihat 13 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 13 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 06:40
duhhh, parah banget nih mama sama dania. bisa gak sehat mental klo negatiiiiiiiiiif wae komentar yang didapat, dirumah pula. semoga skrg udah much better yah
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 07:56
Melu prihatin ya Ja.....
profile-picture
profile-picture
ariel2057 dan yanagi92055 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 09:16
-----
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
Arikempling78 memberi reputasi
1 0
1
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 11:41
batu banget sih om...
buset dahh...
sabaarr om...
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 13:30
Duh greget pisan sih eta nyokap, sing sabar lah bre. Itung" latian kompetisi debat antar daerah lah klo jaman sekolah haha
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 13 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 13 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 16:17
Nah gini dong bang ija, update awkwk

emoticon-terimakasih
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 17:22

Spill_Part 2

Dulu waktu SMA gue sangat sering main kerumah Drian dan sebaliknya. Tau pertama kali musik-musik jepangan juga di rumah ini. Bahkan pengalaman plus-plus Drian ketika SMP waktu berpacaran dengan kakaknya Mila pun diceritakan dirumah ini. Haha.

Dirumah ini pula kali pertama band gue dinyatakan akan diseriusin. Awalnya adalah investasi double pedal drum untuk Arko. Arko dan gue menyusun proposal sponsor yang ditujukan untuk ayah Drian agar bisa membantu pendanaan untuk pengadaan double pedal ini.

Lalu pada akhirnya daripada tanggung, ayah Drian malah membuatkan sebuah studio mini untuk kami latihan, tanpa harus susah-susah membayar sebuah studio karena tau kami semua adalah anak sekolah yang masih meminta uang ke orangtuanya.

Keluarganya Drian adalah keluarga yang sangat hangat, pada saat sebelum bapak dan ibunya berpisah. Gue sempat merasakan kehangatan keluarga ini sesaat ketika gue mengenal Drian waktu SMP.

Saat ini dirumah Drian hanya ada bapaknya, dua adiknya dan neneknya yang dari bapaknya. Adiknya yang seorang mantan artis cilik semakin dewasa, makin cantik dan semakin menggiurkan dari segi proporsi badan.

Namanya Driana. Beda tipis sama kakaknya Haha. Dia sekarang ini sudah meninggalkan dunia modeling dan keartisannya demi menjadi pengajar bahasa di sebuah sekolah. Seorang Driana yang dulu gue anggap adalah spoiled brat, kini menjadi orang yang bisa mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menjadi guru.

Drian dan adik-adiknya adalah orang-orang yang terlahir dengan rupa terbaik bagi sebagian besar orang Indonesia, bernasib baik pula karena mempunyai keluarga yang memiliki segalanya dan pada akhirnya gue dulu sempat berpikir kalau Drian ini adalah orang yang memanfaatkan privilege yang dia punya sebelum mengenalnya lebih dekat.

Ternyata Drian tidak seperti dua adiknya yang selalu memanfaatkan secara maksimal privilege yang mereka punyai dari orangtua mereka. Drian nggak suka terlalu banyak dipuji dan dimanja oleh ayah ibunya. Bahkan beberapa kali gue dan Arko main kerumahnya, dia terlihat sama sekali nggak nyaman dimanja oleh ayah ibunya didepan kami berdua. Beli barang-barang keperluannya seperti laptop atau HP pun dia menggunakan uang tabungannya sendiri, ketika adik-adiknya tinggal tunjuk dan minta dibelikan oleh ayahnya. Pun ketika bepergian, dia lebih suka memakai angkot daripada meminta supir keluarganya mengendarai salah satu dari 6 mobil mewah yang dipunyai keluarganya.

Menjadi seorang Drian saat gue SMA dulu adalah impian bagi sebagian besar cowok di sekolah gue. Punya orangtua yang sangat berkecukupan secara materi, punya adik yang seorang selebriti cilik terkenal, dan keluarga utuh yang selalu terlihat harmonis membuat kami semua iri. Pada kenyataannya, itu semua hanya tampilan luarnya saja. Tapi itu sepertinya tidak dipedulikan oleh cewek-cewek. Yang mereka lihat adalah, Drian adalah seorang yang ganteng, kaya, jago main gitar. Nggak peduli keadaan keluarganya kayak apa.

Keadaan dalam keluarganya amat sangat berbeda, bertolak belakang. Dan itu pula yang mengubah sikap Drian pasca perceraian orangtuanya. Dari yang awalnya selalu ceria, santai, senyum menjadi orang yang sangat dingin, nggak banyak omong kalau dengan orang yang nggak terlalu dekat dengannya, dan lebih senang menyendiri.

Gue mulai bercerita tentang kisruh yang terjadi dirumah gue dan juga melibatkan Emi ketika masuk ke kamar Drian. Drian pun menyarankan untuk bercerita pula kepada Ara. Mungkin dia bisa ada pendapat lain lagi. Hal ini mengingat Drian pun tau kalau Ara sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh keluarga gue.

Selain membicarakan masalah keluarga gue, yang tentu aja nggak semuanya gue ceritakan, gue dan Drian iseng-iseng jamming yang malah bisa dijadikan materi lagu baru untuk single band kami yang berikutnya. Benar saja, dengan adanya permasalahan yang sedang mendera gue, ide untuk menciptakan sebuah lagu atau lebih itu menjadi semakin mudah. Ujian dan cobaan adalah salah satu keresahan yang dapat di konversi menjadi sebuah karya yang inspiratif. Bisa musik, bisa bahan standup comedy, bisa bahan tulisan satir atau bahkan karya lugas yang nggak kenal batas.

Setelah waktu menunjukkan pukul 17.00 yang tentunya sangat nggak terasa karena serunya jamming gue dan Drian, akhirnya gue pamit dari rumahnya. Bukan pulang, tapi gue menuju ke rumah Ara. Ara rumahnya juga nggak jauh dari rumah Drian sebenarnya. Ara adalah pilihan terakhir gue untuk mencurahkan semuanya.

“Ija? Kok kamu nggak bilang-bilang dulu mau kesini?” Tanyanya dengan nada setengah tidak percaya ketika gue muncul didepan rumahnya.

“Haha, emang sejak kapan aku dateng kerumah kamu bilang-bilang dulu? Dulu aja aku suka mampir kesini tanpa harus ada kamu dirumah bukan?” Jawab gue dengan pertanyaan baru.

“Hehehe. Iya sih. Kamu masih inget aja. Yuk deh masuk.”

“Ya inget lah. Itu kan masa-masa seru kita Ra. Haha.”

Nggak banyak yang berubah dari interior rumah Ara. Perubahan terbesarnya ada pada foto pernikahan Ara dengan almarhum suaminya. Tapi sepertinya Ara sudah coba move on dari apa yang sudah terjadi beberapa waktu lalu ini. Entah seperti apa persisnya gue nggak tau, yang jelas, raut kesedihan sudah tidak tampak lagi di wajah awet mudanya itu.

Gue pada akhirnya menceritakan semuanya ke Ara. Dari dulu memang Ara yang selalu jadi tumpahan cerita-cerita gue, mulai dari cerita senang sampai yang sedih-sedih, dia tau.
Ara benar-benar nggak percaya dengan apa yang gue ceritakan mengenai Mama dan Dania.

“Atau mungkin kamunya kali yang emosian kalau ngobrol sama mereka, Ja.” Lanjut Ara.

“Aku udah sesantai mungkin ngomongnya, Ra. Asli deh. Aku juga bingung sejak sama Emi bawaannya mereka tuh suudzon aja. Padahal, seperti yang udah kamu tau, Emi itu kayak gimana bantuin akunya. Aku berada di jalur prestasi disegala bidang yang aku jalanin pun ya karena dia. Bahkan dia bisa ngehidupin band yang aku pikir udah mati semenjak kamu nggak ada dan berhasil ngumpulin member-member yang nggak kalah keren sama band kita dulu.”

“Iya aku ngerti banget Ja gimana concern kamu. Aku juga bingung sebenernya kalau ada di posisi kamu. Kamu udah jelasin semuanya, tapi kayaknya orang rumah takut kamu nggak peduli lagi sama mereka Ja. Apalagi konsentrasi kamu kan ke Emi terus tuh, lebih banyak porsi untuk Emi daripada Mama dan Dania.”

“Tapi aku itu maunya ya jangan terus-terusan ngebelain Dania lah. Aku juga punya porsi untuk didengerin, Ra. Itu aja yang aku pingin sebenarnya. Nggak lebih. Aku mau Mama lebih mengenal Emi dan nggak terus-terusan menunjuk Emi ketika aku terlihat salah dimata Mama dan juga Dania.”

“Dari yang aku dengar, aku bisa kasih kesimpulan kalau kamu itu ketergantungan banget sama Emi, Ja. Dulu aku juga ngerasa kamu kayak gitu ke aku, dan memang ternyata begitu kan setelah menjelang perpisahan angkatan kamu, kamu bilang ke aku kalau aku selalu jadi yang terpenting buat kamu, walaupun kita nggak pernah benar-benar resmi hubungannya. HTS-an kita bikin kamu sangat tergantung sama aku. Apalagi kegiatan kamu di Paskib, OSIS, teater, (sepak)bola dan akademisnya sendiri itu udah bener-bener nyita waktu dan pikiran kamu. Kalau nggak dibantu pasti kamu keteteran Ja. Dan sekarang apa yang dulu aku lakuin, dilakuin lagi sama Emi dan bikin kamu ketergantungan. Emi lebih baik dan lebih cerdas dari aku, wajar kalau kamu jadinya kayak gitu ke dia. Tapi inget ya, rasa nyaman karena Emi mem-provide semua yang kamu butuhkan itulah yang bikin kamu ketergantungan. Dan itu berarti ada yang salah dari pola kehidupan kamu sekarang Ja.”

“Tapi selama ini aku emang nyari orang yang seperti dia, Ra. Aku bahkan bisa nemu sosok kamu di dia. Dari segi fisik mirip, pola pikirnya juga mirip, udah gitu sama-sama pemaaf, sabar, selalu ceria, dan lainnya deh. Bedanya, kamu punya image yang baik di mata keluargaku, beda dengan Emi.”

“Semuanya udah ada jalannya masing-masing, Ija. Kamu nggak bisa maksain semua yang kamu mau pasti ada terus di kehidupan kamu. Intrik yang sedang terjadi antara kamu sama Mama dan Dania itu ya salah satu bumbu dalam perjalanan kehidupan kamu, terutama perjalanan menemukan cinta sejati kamu. Selama ini kamu kan nyari orang yang benar-benar pas, tapi belum nemu. Ya sabar, lika likunya pasti ada aja.”

“Ngerti Ra. Tapi…..”

“Udah ya Ja. Maafin Mama sama Dania. Berikan mereka kesempatan untuk selalu bisa menyayangi kamu utuh. Tanpa distraksi apapun. Oke?” Katanya sambil mengulas senyum yang jika diperhatikan lebih lama, amat mirip dengan senyum Emi.

“Ja…..” Katanya melanjutkan, “kamu harus berani dulu untuk mengambil resiko. Aku tau kamu takut kehilangan Emi, tapi kamu juga takut kehilangan Mama dan Dania. Pilihan yang sulit. Tapi kamu mesti berani untuk menentukan. Ija yang aku kenal adalah orang yang selalu berani dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang dia ambil. Aku tetep ngenal Ija yang kayak gitu kan?”

Gue hanya mengangguk. Tanpa sadar, gue bersandar di bahu sebelah kanan Ara yang duduk disebelah kiri gue. Kini Ara mengelus lembut pipi kanan gue dengan jempol kanannya. Rasa nyaman begitu terasa. Gue merasakan kenyamanan yang sama dengan apa yang diberikan Emi selama ini dalam dekapan Ara.

“Eh, maaf Ra. Nggak sengaja. Kebiasaan. Hehehe.” Gue langsung menegakkan tubuh gue untuk duduk kembali disampingnya.

“Nggak apa-apa Ja. Aku tau kamu lagi susah banget saat ini. Aku udah hafal banget kebiasaan kamu. Dulu kamu kan selalu kesini kalau lagi ada masalah disekolah, atau lagi ada urusan dikampus yang bikin bete. Paling seru itu kalau lagi ngediskusiin soal band dan konsep-konsep manggungnya kan? Hehehe.” Ara sedang mencoba menjernihkan pikiran gue. Cara seperti ini juga selalu dilakukan Emi ketika gue sedang menghadapi sebuah masalah. Bedanya, ya sudut pandangnya.

Gue langsung memeluk Ara dengan erat. Diluar dugaan, Ara balas memeluk gue juga dengan erat. Sesaat setelah berpelukan, gue merasakan ada getaran teratur dari tubuh Ara. Ternyata dia menangis sesenggukan dalam dekapan gue.

“Loh, kok kamu nangis, Ra? Kenapa? Yang punya masalah kan aku?” Gue memundurkan badannya dan menatap matanya yang mulai banyak mengeluarkan airmata.

“Nggak apa-apa. Aku terharu aja. Nggak nyangka aku bisa sedekat ini lagi sama kamu. Aku berpikir setelah menikah dulu, aku nggak bakalan bisa ketemu dan komunikasi dengan baik lagi sama kamu. Tapi ternyata takdir berkata lain. Dan malahan sekarang aku dipertemukan lagi sama kamu yang udah susah payah aku hindarin selama ini.”

“Udah, nggak usah mikir gimana-gimana Ra. Aku nggak mau kamu sedih kayak gini ah. Udah yuk, mendingan juga kita jalan aja, gimana?”

Ara hanya tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian menyeka airmatanya. Ara masuk ke kamarnya dan berganti pakaian ke pakaian mau keluar rumah. Make upnya pun tipis aja. Benar-benar mirip dengan kebiasaan Emi yang selalu simpel dalam berdandan dan berpakaian.

Gue pun mendatangi sebuah mal yang sudah ada dari jaman kami masih sekolah dulu. Banyak tenant yang sudah berubah. Tapi gedung dan tata letaknya masih sama kebanyakan. Nggak banyak yang berubah dari gedung dan penataan ruangannya. McD langganan kami pun masih tetap berada ditempatnya. Kamipun mampir kesana dan membeli dua Mcflurry. Dulu perasaan mahal banget, sekarang malah berasa murah harganya. Haha.

Kami pun melanjutkan menonton bioskop. Kebetulan ada film horor yang lagi banyak dibahas orang-orang. Akhirnya kami pun menonton disana. Gue udah lama banget nggak nonton bioskop. Apalagi nonton sama Ara berdua doang. Udah lama banget nggak kami lakukan.

Tanpa terasa, waktu udah menunjukkan pukul 21.00 dan itu berarti sudah saatnya mengantar Ara pulang. Gue dan Ara pun pulang dengan mood yang sangat bagus. Utamanya gue. Gue sudah bisa kembali tertawa dan ceria. Gue sedikit bisa melupakan masalah yang sedang gue hadapi dirumah.

“Makasih ya, Ra. Kamu udah bisa balikin mood aku lagi.” Kata gue.

“Sama-sama. Aku juga makasih. Udah lama aku nggak diajak kemana-mana sama cowok. Hehe.” Kata Ara dengan nada ceria khas anime-nya.

“Hahaha, anggap aja kita lagi reunian ya. Yaudah aku pulang dulu ya Ra. Kamu hati-hati dirumah sendiri ya. Ibu kamu kapan pulang?”

“Mungkin dua atau tiga hari lagi. Nanti kalau aku takut, aku tinggal manggil kamu aja kesini. Ahaha.”

“Sejak kapan kamu manggil-manggil aku kesini? Aku kan kalo kesini nggak bilang-bilang. Haha.”

“Haha yaudah, sana pulang. Nanti diomelin Mama.”

“Dih, berasa bocah banget aku perasaan. Hahaha.”

Ara melambaikan tangan dari balik pagar rumahnya. Gue pun memakai helm full face gue dan menutup keseluruhan wajah gue dari pandangan Ara. Gue sangat senang hari ini. Apalagi bisa jalan sama Ara yang awalnya nggak direncanakan sama sekali. Emang Drian idenya brilian banget.

--

Pagi masih terasa sejuk. HP gue bergetar dan berdering tanda notifikasi masuk. Gue langsung segar bugar dan mendadak nggak ngantuk sama sekali melihat apa yang tertera dilayar HP gue. Sebuah kabar yang sangat diluar dugaan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 21 lainnya memberi reputasi
22 0
22
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 17:57
Salam buat kak ara bang
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 18:08
Huaaaaa kak Ara muncul lagi di cerita ini, so happy 😭😭 jan jangan nnti ada part yg iya2 nya nih hahahahahahaa
Btw mulustrasinya kak Ara gk ada nih om?
Pinisirin bingit nih emoticon-Big Grin
Diubah oleh exliminho
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 21:35
Duh ara come back, reunian emg paling seru sih haha
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-07-2020 22:06
yaaaaaaahu Ara kembali, pelipur lara ya bang
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-07-2020 12:22
Quote:Original Posted By tom122
Duh ara come back, reunian emg paling seru sih haha


Quote:Original Posted By Tika1909
yaaaaaaahu Ara kembali, pelipur lara ya bang


Yoi asik loh ketemu temen lama emang, apalagi yang ga diduga bakalan ketemu lagi wkwkwk
0 0
0
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-07-2020 14:49
Lanjut omm...
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-07-2020 16:04
Wah kisah lama belom kelar nih bre😅😅😅😅
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-07-2020 21:46

Unpredictable_Part 1

Bulu kuduk gue merinding dan badan gue gemetar. Tapi bukan gemetar karena ketakutan ataupun karena hal-hal mistik lainnya. Gue gemetar karena kaget, bingung, dan kesal sehingga membuat gue ingin marah. Namun, amarah ini masih berusaha gue tahan karena gue masih butuh kejelasan kenapa semua ini bisa terjadi?

Dalam hati, gue bertanya-tanya. “Ada apa ini sebenarnya? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?” Gue nggak bisa berpikir jernih sama sekali. Chat tersebut masuk terus menerus dan hanya menambah kepedihan, bukan kejelasan. Dan hal tersebut membuat darah gue mendidih di pagi hari.

CALL EMI

Quote:“Emi! Kamu apa-apaan sih? Kamu kenapa?”

“Udah ya, Zy. Maafin aku… Keputusan aku udah final. Aku udah ga bisa lagi. Maaf banget.”

“Ga mau! Aku ga akan pernah mau! Aku ga mau putus! Apaan sih anj*ng!”

“Maafin aku, Zy.”

“Kamu kenapa sih? Ini karena Debby lagi?”

“Ga ada urusannya sama Debby!”

“Terus siapa? Bimo?”

“………”

“Jawab bangs*t!”

“Maafin aku…”

“T*i anj*ng! Kenapa sih? GUE GA AKAN MAU PUTUS KALAU GA JELAS BEGINI!”

“Jadi kalau aku jelasin, kamu pasti mau putus kan?”

“YA GA LAH, BANGS*T AMAT! GA AKAN MAU! BURU BILANG SIAPA YANG MINTA KITA PUTUS?”

“Aku kirimin tapi aku ga mau ganggu gugat keputusan aku ya…”

“Ga ada.”

“Yaudah ga usah.”

“Buru kirim. Anj*ng!”

“Ga usah ngata-ngatain aku. Walaupun kita putus----”

“GA ADA PUTUS BANGS*T!”

“Maafin aku. Aku udah ga mau ubah keputusan aku, aku mau kita pisah, Zy…”

“Aku akan bikin kamu bisa balik sama aku… Ayo kasih tau aku kenapa. Ayo, Mi.”

“………”

“Ini pasti keluarga aku?”

“Kamu selesein urusan sama keluarga kamu ya. Kalau kamu sayang aku, kamu pasti mau dengerin aku. Biar nama kita sama-sama kembali baik, Zy… Maafin aku Zy, selama ini aku udah bikin keadaan di keluarga kamu jadi ga nyaman. Maafin aku, cuman karena keberadaan aku yang ga ada apanya ini, kamu sampe dinilai negatif terus di keluarga kamu. Maafin aku juga, kalau ternyata deket sama aku sampe bikin kamu ngabisin banyak uang dan harta. Maaf aku jadi pembawa sial di hidup kamu. Andai kita ga pernah ketemu dan ga pernah kenal, mungkin hidup kita ga akan kayak sekarang ini. Mungkin kamu udah bisa ada di pencapaian tertinggi kamu dan titik terbaik di hidup kamu, tanpa aku. Karena bukan aku yang seharusnya ada di sisi kamu…”

“Tapi----"

“Maafin aku Zy kalau aku selama ini selalu ngecewain kamu, nyusahin kamu, bikin kamu marah, bikin kamu jadi jauh dari keluarga, dan bikin kamu ga pernah ngerasa bahagia. Janji ya sama aku buat jangan pernah menyerah? Janji ya buat jangan pernah putus asa dan banyak ngeluh? Inget, aku ga pernah ngerasa salah mencintai orang. Kamu bukan orang gagal oke? Kamu itu cowok terhebat yang pernah aku kenal. Maafin aku Zy. Maaf aku harus pergi kayak begini di hidup kamu… Maafin aku untuk semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Semoga kamu bisa segera menemukan kebahagiaan kamu sendiri.”

“…”

“Jangan pernah lagi balik ke aku. Jangan pernah lagi mikirin aku. Jangan pernah lagi nengok ke belakang untuk tau aku ada di mana. Terus maju dan kembali ke jalan terbaik kamu… Fokus buat selesein S2 kamu dan fokus di kerjaan kamu. Jaga kesehatan, jangan keluyuran malem lagi. Jangan kebanyakan naik motor, kan kamu udah bisa make mobil kamu di aku kemanapun kamu pergi. Nanti aku kirim ke rumah kamu ya… Jangan ngegombal kemana-mana lagi, kasian kamunya. Capek kebanyakan pilihan. Pokoknya berenti berpetualang cinta kalau kamu udah nemuin the one yang terbaik untuk kamu ya.”

“T*i!”

“Maafin aku, Zy… Satu lagi yang perlu kamu tau, walaupun kita harus berakhir begini tapi rasa sayang dan cinta aku ini tulus dari hati aku yang terdalam. Ga pernah aku boongin.”

“Semoga ini yang terakhir kali-nya aku minta putus sama kamu, Zy…”


Telpon terputus. Gue mencoba menelpon Emi kembali, tapi di-reject oleh-nya. Kemudian gue mencoba untuk mengirim chat pada dia, tapi tidak terbalas. Gue nggak menyerah begitu saja, gue coba menelepon kembali dan terus mengirimkan chat. Hingga akhirnya, gue nggak bisa menghubungi dia lagi, karena telepon dan chat gue sudah diblokir oleh dia. Dia memblokir seluruh kontak gue dari segala macam aplikasi. Kali ini Emi benar-benar ingin menjauh dari gue. Emi minta putus dari gue, ketika gue bahkan sedang berada dalam kekacauan mental yang amat dahsyat. Lengkap sekali penderitaan gue. Padahal hari kemarin, hubungan kami masih sangat baik-baik saja. Mendadak dalam semalam, semuanya berubah.

Gue sangat paham Emi. Dia nggak mungkin melakukan hal begini tanpa alasan, atau hanya ingin gue mengejar dia. Biasanya Emi selalu punya kekuatan untuk bertahan di dalam hubungan ini. Walaupun ketika gue pernah menyakiti dia atau dulu pernah meminta putus dari dia, dia akan terus berusaha mempertahankan hubungan kami ini. Tetapi entah kenapa kali ini Emi berbeda. Dia terdengar sangat putus asa dan….sakit hati. Gue yakin, Emi pasti udah disakiti sama seseorang. Seseorang yang gue kenal…

Gue langsung mengarahkan tuduhan gue ke Dania. Gue yakin 100% pasti dia yang telah mengintimidasi Emi, entah lewat telpon atau chat juga. Sebenarnya bisa saja gue menuduh cewek lain yang sekiranya pernah gue sakiti sehingga mereka membalas dendam ke Emi. Bisa saja Keket atau Dee yang memang pernah punya track record semacam itu.

Belum lagi deretan cewek-cewek selingan lainnya yang ada ketika hubungan gue dan Emi berjalan. Tetapi, Emi itu nggak pernah seputus asa ini kalau berurusan dengan mereka. Kali ini dia pasti sangat tersakiti dan tidak punya pilihan lain.

Gue yakin, ini semua karena cewek tersebut adalah cewek yang sangat berarti di hidup gue. Selain Emi, siapa lagi yang berarti di hidup gue selain Mama dan Dania? Dan gue sangat yakin juga Mama nggak akan seperti itu.

Hmm. Mungkin juga bisa dengan Ara, tetapi Ara nggak akan pernah melakukan hal demikian sama Emi. Tapi gue butuh bukti terlebih dahulu. Gue nggak bisa asal tuduh begitu, karena gue mau kalau sudah ada bukti, lebih enak menunjuk langsung mukanya. Dia nggak akan bisa berkelit lagi.

Pagi itu gue langsung bergegas mandi. Gue mau berangkat ke kantor Emi untuk meminta kejelasan. Gue nggak bisa menunggu lagi. Gue nggak mau kehilangan cinta dan hidup gue begitu saja. Apalagi menerima keadaan dan keputusan hanya lewat chat saja. Gue harus mengejar Emi sampai gue mendapatkan dia kembali. Emi adalah yang sangat langka, mungkin seribu tahun lagi baru ada yang seperti dia.

Kantor Emi itu sangat jauh lokasinya. Kantor gue ada di Selatan Ibukota, sedangkan kantor Emi ada di ujung Utara sana. Kebayang bukan bagaimana perjuangan Emi untuk berangkat ke kantor setiap harinya? Tetapi cewek mungil itu tetap semangat menempuh perjalanan setiap harinya turun naik kendaraan umum—karena dia sama sekali nggak bisa mengendarai kendaraan bermotor, tanpa mengeluh.

Gue nggak boleh menyerah. Gue harus mengejar dia! Walaupun gue kesana harus naik motor gue sendiri. Karena kalau gue naik mobil di rumah, pasti gue terjebak macet dimana-mana. Dan itu sangat nggak efektif.

Gue langsung mengeluarkan motor gue dan bergegas menuju kantor Emi menggunakan motor gue dari rumah. Mama dan Dania hanya melihat gue bingung. Mungkin mereka bertanya-tanya, mau kemana gue sepagi itu? Mereka berusaha menyapa dan menegur gue. Tetapi gue sama sekali nggak menggubris mereka. Gue fokus pada tujuan gue. Gue harus segera sampai di kantor Emi.

Saat itu, gue menjadi sangat emosional. Gue membawa kendaraan dengan penuh amarah. Gue marah-marah ke setiap orang-orang yang melakukan kebodohan di sepanjang jalan. Gue mengumpat dengan segala macam kebun binatang dan kata-kata kasar lain yang gue tau. Gue harus mengeluarkan amarah gue ini, agar gue bisa berpikir jernih ketika gue ada di hadapan Emi. Gue nggak boleh kehilangan Emi hanya karena gue salah bertindak di hadapannya nanti.

Gue sampai di sana jelang tengah hari. Wajar, perjalanannya sangat jauh. Gue kini berada di daerah pantai yang luar biasa panas. Gue yang memakai cologne pria keluaran merk sepatu terkenal pun berkeringat dan kini aroma wangi segar dari cologne tersebut sudah berganti dengan bau matahari. Kondisi gue saat ini udah nggak jelas banget.

Ketika gue masuk lobi, gue disambut ramah oleh sekuriti di sana. Tapi karena gue masih agak jarang kesini, mereka nggak tau kalau gue adalah pacar Emi. Maklum, sekuriti yang menyambut gue kali ini, berbeda dengan sekuriti sebelumnya. Kantor ini pasti punya lebih dari selusin sekuriti setiap harinya, wajar mereka belum mengenal gue. Gue meminta sekuriti menghubungi Emi di dalam untuk sejenak menemui gue. Gue merasa lega ketika sekuriti mengatakan kalau Emi ada di dalam kantor. Gue diminta menunggu di lobi hingga Emi keluar.

Lima menit…

Lima belas menit…

Dua puluh lima menit berlalu dan Emi tak kunjung keluar.

Satu per satu karyawan kantor Emi sudah terlihat menggendong tas kerja mereka untuk melakukan fingerprint yang terletak di belakang meja sekuriti. Gue lihat jam di tangan kiri gue, sudah masuk jam pulang kerja. Hari ini Emi masuk setengah hari. Tetapi nggak satu pun dari mereka, ada Emi. Sedangkan pintu keluar dan fingerprint staf kayaknya hanya satu juga. Nggak mungkin kan Emi keluar lewat jendela kantornya?

Ketika gue mau meminta sekuriti untuk kembali menghubungi Emi, gue melihat Bimo yang baru saja kembali dari lapang. Dia datang bersama teman kantor Emi lainnya, Fadil. Bagaimana gue hapal dan tau kalau itu Fadil? Karena Emi itu orang yang bisa menjelaskan dengan sangat detail sehingga kita bisa ikut membayangkan apa yang dia ceritakan.

“Bim…” Gue berteriak memanggil. Maklum, karena saat itu lobi sedang ramai oleh mereka yang sedang mengantri fingerprint.

“Bang Ija?” Bimo menghampiri gue, sedangkan Fadil hanya tersenyum dan pamit untuk lebih dulu masuk ke dalam. “Tumben jemput Emi sampe di sini, Bang?” Tanya Bimo sopan.

“Hahaha. Iya nih… Kebetulan lagi kosong waktunya, sekalian gue samperin kesini. Bisa tolong panggilin Emi nggak? Dari tadi gue tungguin dia belum keluar juga.” Gue sedikit berbohong sama dia. Gue nggak mungkin ceritain cerita yang sebenarnya pada Bimo. Karena kalau Bimo tau yang sebenarnya, dia pasti nggak akan mau memanggil Emi.

“Oh gitu. Mungkin dia lagi sibuk laporan mingguan. Tadi dia telat soalnya dateng ke kantor. Kesiangan dia. Hahaha. Santai dulu di sini ya, Bang. Gue panggilin Emi dulu.”

“Makasih ya Bim.” Semoga ekspresi gue nggak terlalu kelihatan butuh banget ketemu Emi. Nanti malah makin runyam karena Bimo kepo atau semacamnya.

Tidak lama setelah gue lihat Bimo masuk ke dalam ruangannya, gue melihat Debby masuk dari pintu dimana Bimo datang sebelumnya. Dia adalah orang yang paling tidak ingin gue temui, apalagi di saat kondisi seperti ini. Belum lagi ketika gue mendengar setiap cerita kelakuan cewek ini dari Emi. Gue semakin benci sama dia. Bukannya bertobat, dia malah terus menerus merusak hidup dan mental Emi. Oke lah paras dia cantik, badan dia pun oke punya, dan dia terlihat pintar di antara karyawan lainnya. Tetapi dia nggak lebih dari seorang psikopat.

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3Mulustrasi Debby saat ini, 97,3% mirip Sumber Gambar


Kalau melihat penampilan dia sekarang, wajar laki-laki disini, baik yang jomblo maupun sudah beristri bakalan nyangkut. Dia terlihat anggun banget, pakaiannya senada walaupun dia juga baru kembali dari lapangan. Make up-nya pun senada dengan warna pakaian tetapi tidak membuat dia terlihat norak. Itu malah terlihat match dan cocok.

Walaupun pakaiannya terlihat besar, tapi karena memang badannya bagus, tetap aja terlihat lekukannya. Bagian bemper mundur sempurna ke belakang, dan bagian dada juga sangat menyembul, mungkin 36 kali ukurannya. Semakin mirip Melody eks JKT48 ketika dia sudah memutuskan memakai jilbab. Atau memang muka seperti itu pasaran ya? Haha. Setidaknya itu yang terlihat dari luar. Padahal busuk banget hatinya.

“Ah, bangs*t, kenapa malah ngeliat dia sih, bikin makin emosi gue aja…..” Kata gue dalam hati.

Debby sempat melihat ke arah gue. Tapi bukannya nyamperin seperti Bimo tadi, dia malah berpaling dan kemudian berjalanan berlawanan dan kembali keluar dari pintu dimana dia masuk tadi. Sepertinya dia berusaha menghindar dari gue. Gue nggak peduli juga sebenarnya. Yang gue butuh adalah penjelasan Emi terkait dengan isi chatnya tersebut.

Waktu berlalu dan kini lobi sudah mulai sepi. Berarti Bimo juga nggak berhasil untuk membujuk Emi keluar menemui gue. Sempat terpikir untuk pulang dan menyelesaikan langsung dengan Dania, tetapi gue butuh bukti. Gue putusin untuk terus menunggu Emi. Emi nggak mungkin menolak keluar sampai sore atau malam hari bukan? Gue akan terus menunggu dia.

Benar saja, kurang lebih 30 menit setelahnya gue akhirnya melihat Emi keluar. Gue terdiam ketika melihat dia berjalan ke arah gue. Entah kenapa, gue melihat Emi sangat mirip Ara yang belum lama ini baru aja gue temui. Gue memutuskan untuk membiarkannya untuk fingerprint terlebih dahulu baru menghampiri dia.

Tetapi bukannya menghampiri gue, dia malah berjalan langsung keluar kantor menuju ke halte bus yang ada di depan kantornya persis. Gue pun mengejarnya.

“Emi! Tunggu sebentar!” Gue akhirnya berhasil mengejar dia. “Tolong jelasin semuanya… Jangan diemin aku begini terus. Aku butuh penjelasan.” Kata gue sambil memegang lengan kanannya.

“Kurang jelas apa lagi sih Zy? Sampe kamu butuh penjelasan begitu? Aku cuma mau putus Zy. Udah titik. Aku nggak minta apa-apa lagi dari kamu. Aku cuma minta kita putus, pisah, dan nggak pernah ketemu lagi. Udah ya Zy. Aku udah capek sama semuanya.”

“Ya tapi kan nggak bisa begitu aja dong? Aku juga butuh penjelasan kenapa kemarin masih baik-baik aja terus mendadak pagi-pagi begini kamu minta putus?”

“Zy…” Emi menatap mata gue tajam. Matanya terlihat sembab. Sepertinya dia juga terluka dengan keputusan yang dia buat sendiri. Terus kalau dia tersiksa seperti ini, kenapa dia malah terus bersikukuh untuk pisah? “Hubungan kita ini dimulai dengan kondisi yang tidak bagus. Perjalanan hubungan ini pun tidak semulus yang kita bayangkan bukan? Belum lagi kamu berkali-kali mencoba untuk berpetualang di belakang aku sedangkan aku di sini mencoba untuk bertahan dengan sikap kamu yang seperti itu…”

“Aku minta maaf… Aku udah nggak seperti itu lagi Mi.”

“Tapi nggak cuma itu aja. Kamu nggak boleh terus menerus menutupi fakta dari aku Zy…”

“Fakta apa?”

“Fakta kalau keluarga kamu juga nggak bisa menerima keberadaan aku. Nggak merestui hubungan kita ini. Dan nggak suka sama aku----”

“Apaan sih? Kok kamu bilang begitu?”

“Zy… Masih sempet ya kamu mau boongin aku sekarang?”

“Boong? Aku nggak pernah bilang kalau mereka…. Oh aku paham. Aku paham sekarang! Bangs*t! Ini pasti Dania kan? PASTI DANIA ATAU NYOKAP GUE KAN YANG NGELABRAK KAMU TERUS BILANG BEGITU? IYA KAN???”

“Udah Zy! Nggak usah jadi nyalahin orang lain! Emang hubungan kita aja yang nggak sehat!”

“HALAH! INI PASTI KELUARGA GUE YANG NGERONGRONG LO BIAR MINTA PISAH SAMA GUE BUKAN?”

“………”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Shi15 dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-07-2020 21:49

Unpredictable_Part 2

Gue sebenernya nggak mau ngeliat Emi menangis lagi. Tapi gue udah nggak bisa menahan amarah gue lagi.

“MEREKA EMANG NGGAK PERNAH BISA NGGAK IKUT CAMPUR URUSAN GUE YA? SAMPE URUSAN MASA DEPAN GUE PUN MEREKA RUSAK BEGINI! HERAN GUE!”

“Zy… Mereka keluarga kamu, wajar mereka ikut campur. Mereka pingin yang terbaik buat kamu. Jadi… Tolong kembali ke mereka… Biar…” Emi menjeda omongannya. “Biar aku dan keluarga aku nggak dinilai jelek lagi sama mereka. Biar kamu bisa menjadi pribadi lebih baik dan bisa menemukan pasangan yang lebih pantas buat kamu daripada aku… Oke? Maafin aku selama ini aku jadi pengaruh jelek di hidup kamu… Maafin aku ya Zy. Aku mohon… Aku mohon kembali ke keluarga kamu lagi. Jangan pernah balik lagi ke aku.”

Gue menarik napas dalam-dalam. “Siapa?

Emi menghapus air matanya. “Siapa apanya?”

“Siapa yang ngehubungin kamu? Mama atau Dania?”

“Kenapa emangnya? Penting banget? Udah ya. Mereka cuma berusaha nyadarin aku kok---”

“SIAPA YANG NGEHUBUNGIN LO! BANGS*T! JAWAB AJA SUSAH AMAT! ANJ*NG BANGET SIH ORANG-ORANG!!!”

“Zy!” Emi menarik gue untuk berdiri ke tempat yang lebih kosong. Dia nggak mau kita menjadi tontonan orang.

“Dania yang ngomong begitu kan? IYA KAN?! JAWAB!!!” Nada gue sedikit membentak.

“………”

“JAWAB EMI!” Gue menggenggam tangannya lebih keras.

“………” Emi menangis kembali di hadapan gue. Gue paham kok, Emi ada di posisi yang berat saat ini. Gue pengen banget peluk dia dan menenangkan dia. Dia pasti ditekan oleh keluarga gue tadi, eh sekarang dibentak begini sama gue. Kurang berat apa lagi kondisi dia sekarang?

“Emi… Ayo… Kasih tau aku.” Gue berusaha menenangkan diri gue.

“Kalau… Kalau aku… Aku kasih liat semuanya ke kamu… Aku mohon dengan sangat, jangan ubah keputusan aku ya Zy? Jangan pernah minta aku kembali.”

“Yeee… Nggak bisa gitu lah. Nggak adil di aku dong? Lagipula aku udah bilang kan berkali-kali, KITA NGGAK AKAN PERNAH PUTUS!”

“Nggak adil Zy? Menurut kamu….” Emi terlihat marah. “Zy… Menurut kamu… selama ini kamu emang udah berlaku adil sama aku? SELAMA INI SIAPA YANG BERJUANG DAN BERTAHAN DI DALAM HUBUNGAN KITA INI ZY? SIAPA YANG MENGORBANKAN PERASAAN CINTANYA CUMA DEMI UNTUK MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN SAMA KAMU? SIAPA YANG MEMOHON SAMA KAMU KETIKA KAMU MINTA PUTUS DULU? DAN SEKARANG SIAPA YANG MALAH DISEBUT PENGARUH JELEK DAN KELUARGA YANG NGGAK JELAS BIBIT, BEBET, BOBOTNYA ZY? SIAPA? AKU ZY! AKU!!”

“………”

“APA KAMU PERNAH MIKIRIN SEDIKIT AJA PERASAAN AKU DI SINI? APA KAMU PERNAH MIKIRIN GIMANA RASANYA TERUS MENERUS DISELINGKUHIN DI BELAKANG KETIKA DI SINI AKU LAGI BERJUANG UNTUK MEMBANTU KAMU? PERNAH NGGAK? AKU PERNAH MENUNGGU KAMU, BERDOA UNTUK KESELAMATAN KAMU, BERDOA BIAR SEGALA USAHA KAMU DILANCARIN. TAPI APA? KAMU DI LUAR SANA MALAH SEDANG ASYIK CHAT ATAU KETEMU DENGAN CEWEK LAIN! ITU ADIL NAMANYA???”

“………”

“DI SINI AKU BERJUANG BUAT DAPETIN RESTU KELUARGA KAMU! AKU BANTU ADIK KAMU, AKU BERUSAHA DAPETIN RESTU NYOKAP KAMU! TAPI KAMU? KAMU ENTAH GIMANA CERITANYA MALAH MEMBUAT…. MEMBUAT AKU HINA DI MATA KELUARGA KAMU! ZY. GIMANA PERASAANNYA KAMU DIBILANG KELUARGA NGGAK JELAS? GIMANA PERASAAN KAMU PAS DENGER ORANG TUA KAMU DIBILANG NGGAK BISA DIDIK ANAKNYA SENDIRI? DAN GIMANA PERASAAN KAMU PAS DIBILANG AKU MOROTIN KAMU PADAHAL DI SINI AKU KERJA JAUH-JAUH BERJUANG SENDIRI DEMI NGGAK NYUSAHIN KAMU ZY! TAU GIMANA RASANYA?”

“………”

“ZY… NYOKAP AKU ITU DI RUMAH LAGI SAKIT ZY. BOKAP AKU DI RUMAH BERJUANG DEMI NYOKAP BISA KEMBALI BERDIRI! DEMI NYOKAP BISA SEHAT KEMBALI! TAPI APA PERNAH GUE DAN BOKAP NYUSAHIN KAMU SAMPE KAMI PANTES DISEBUT BEGITU ZY?”

“………”

“BOKAP BAHKAN SANGAT BERTERIMA KASIH SAMA KAMU KARENA KAMU DINILAI UDAH NGEJAGAIN AKU, UDAH BANTUIN NYETIRIN KELUARGA AKU, DAN MAU BERUSAHA DITERIMA SAMA KELUARGA AKU… WALAUPUN FAKTANYA APA? KAMU NYAKITIN AKU… DAN SEKARANG, KELUARGA KAMU BEGITU SAMA AKU. APA AKU BILANG SAMA MEREKA? NGGAK ZY… KARENA AKU NGGAK MAU MEREKA KECEWA.”

“………”

“TAPI APA YANG KAMU PERJUANGIN DI KELUARGA KAMU??? NOTHING ZY! BUKTINYA? AKU DIPERLAKUKAN BEGITU, DIKATAIN BEGITU. YAKIN KAMU UDAH BERJUANG DI HADAPAN MEREKA?”

“Tapi---”

“Zy… Dalam hubungan itu nggak bisa berjuang sendiri. Nggak bisa cinta sendiri. Kalau ternyata bertahun-tahun kebersamaan kita begitu, berarti ada yang salah… Dan pastinya… Ya Alloh.” Emi menghapus air matanya. “Ada yang lelah. Dia yang berjuang pun pasti lelah diperlakukan seperti itu…”

“Mi… Aku juga mau berjuang buat hubungan ini.”

“Cukup Zy… Udah. Nggak apa-apa… Pisah udah jadi jalan terbaik saat ini. Mungkin yang terbaik untuk selamanya… Aku lelah Zy. Maaf… Aku bukan wanita yang sekuat kamu pikir.”

“……….”

“Aku udah sangat lelah Zy menahan semuanya. Aku bahkan udah nggak punya kekuatan dan pegangan lagi untuk berjuang. Percuma juga kalau misalnya nanti aku kembali berjuang, tetapi kamunya nggak sama sekali menghargai perjuangan aku di sini. Nggak gila dan nggak bunuh diri aja, udah syukur banget Zy.”

“………” Gue tetap diam dan semakin mengepalkan tangan ingin melampiaskan amarah dengan memukul sesuatu.

“Zy… Yang perlu kamu tau. Aku… Di dalam hati aku… Aku sangat sayang sama kamu. Aku cinta banget-banget sama kamu… Dan aku… Aku nggak pernah anggep kamu adalah laki-laki yang gagal. Aku nggak pernah anggep kamu laki-laki yang nggak guna. Oke? Aku mencintai kamu karena kamu adalah laki-laki hebat yang pernah aku temui… Selain bokap aku. Jadi, jangan pernah berpikir kalau aku pisah karena aku kemakan omongan orang yang berpikir kamu orang gagal oke?” Emi memegang kedua pipi gue.

“………”

“Aku sayang banget banget banget sama kamu Zy… Tapi maaf banget. Aku harus pergi karena aku emang nggak pantas untuk kamu… Kamu harus dapetin wanita terbaik di hidup kamu ya. Jangan pernah salah lagi. Jangan pernah kecewain keluarga kamu lagi. Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu pasti bisa ngedapetin cinta sejati kamu itu… Dan itu bukan aku Zy. Maafin aku…”

“Emi…”

Emi memeluk gue. “Maafin aku udah ngabisin banyak waktu kamu selama ini hanya untuk mendampingi orang yang salah… Maafin aku juga udah ngabisin banyak materi dan tenaga kamu untuk ngebahagiain aku. Maaf aku nggak pernah sedikit pun bikin kamu bahagia. Maaf aku dan keluarga aku selalu nyusahin kamu. Maafin aku udah ngecewain kamu selama ini… Zy… Aku sayang kamu. Maaf ya Zy…”

“Aku juga sayang banget sama kamu…”

“Tolong lupain itu semua…” Emi melepas pelukannya. “Nanti aku kirimin semua chat itu dan tolong jangan pernah balik lagi ke aku ya…”

“Nggak mau.”

“Maafin aku Zy…”

“Gue nggak mau!”

Emi jalan mundur dan menjauh dari gue. “Mungkin kita masih bisa temenan. Tapi kasih aku waktu untuk nenangin diri aku ya Zy… Aku butuh waktu.”

“Nggak. Gue nggak mau!”

“Maafin aku.”

“Mi… Semua masih bisa diperbaiki, Mi. Atas nama keluarga aku, aku minta maaf banget sama kamu….”

“Aku nggak butuh kamu atau Kak Dania minta maaf. Aku cuma mau kita udahan Zy.”

“Harapan aku cuma tinggal kamu Mi. Please…” Gue mulai mengiba. Hati gue mulai gusar. Gue menggenggam tangan kanan Emi.

“Please Mi….”

Untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue berlutut dihadapan seorang cewek. Nggak ada dalam kamus gue sebelum bertemu Emi kalau gue akan ditinggalkan cewek bakal mohon-mohon untuk kembali. Kalau putus yaudah putus, kalau mau nggak berhubungan ya nggak berhubungan lagi. Nggak ada ceritanya gue memohon mohon supaya tetap bersama. Tapi Emi berhasil mengubah skema yang gue tetapkan sendiri itu.

Please. Aku nggak pernah kayak gini sama semua cewek yang pernah dekat dan berhubungan dengan aku Mi. Tapi aku rela ngelakuin apapun demi kamu. Demi masa depan kita. Aku nggak tau lagi bakal kayak gimana kehidupan aku kedepannya kalau nggak ada kamu. Ya, kamu memang bikin aku sangat ketergantungan sama kamu. Tapi bukan berarti aku nggak bisa jalan sendiri. Nah, aku memilih untuk nggak menjalani kehidupan aku sendiri. Aku udah yakin banget, kamu adalah jodoh aku. Dengan segala kesamaan dan kebiasaan kita, kamu adalah yang terbaik buat aku. Please Mi……” gue sudah sangat mengiba dan merangkul lutut Emi.

“Zy. Kamu kenapa sih? BURU DIRI!” katanya sambil mengedarkan pandangan dengan panik.

“Biarin aja aku terlihat kampungan kayak gini. Asal kamu tetep sama aku, Mi. Aku nggak akan pernah mau kehilangan kamu lagi…..”

“ZY! DIRI BURU!” Emi membentak gue.

“Oke, aku berdiri. Tapi tolong Mi. Jangan tinggalin aku. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku. Cuma kamu yang bisa menghidupkan hidup aku. Bikin aku ceria, bikin hidup aku berwarna, dinamika hidup aku berwarna warni karena kamu. Kamu segalanya buat aku, Mi.”

“Tapi aku udah nggak betah dengan keadaan ini. Mungkin memang cinta ini nggak bisa dimiliki Zy. Dan mungkin juga kamu harus belajar melupakan semua cerita dan kenangan yang udah kita ukir bersama selama ini Zy.” Emi diam, kemudian tersenyum. Walaupun pipinya basah dengan air matanya. “Zy… Mungkin kita sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan kamu banyak, pun aku begitu. Tetapi kadang orang yang memiliki banyak kelebihan tidak ditakdiran untuk bersatu dengan orang yang memiliki banyak kelebihan juga. Kadangkala kelebihan kita bisa untuk menutupi kekurangan jodoh kita dimasa depan, Zy. Kita nggak bisa egois mau bisa menaklukan semuanya. Ada takaran-takaran yang berbatas. Dan aku rasa, kita sudah melewati batas-batas itu. Makanya cobaannya jadi makin berat untuk terus bersama Zy.”

“Udahlah Mi! Please…”

“Maaf Zy. Aku nggak bisa… Makasih buat semuanya ya. Sampein maaf juga buat Mbah ya. Maaf kalau aku nggak bisa ngejaga hubungan ini…. Maaf aku ingkar janji. Maaf aku nggak kuat lagi pertahanin hubungan kita ini.”

“Hah? Maksudnya gimana Mi?”

“Mbah dulu pernah ngomong sama aku tolong jagain kamu. Jangan tinggalin kamu.”

“Mbah aja yakin….Masa kamu malah nggak yakin, Mi?”

“Mbah nggak melewati apa yang aku udah lewati kan Zy. Segalanya bisa berubah sesuai dengan bergulirnya waktu. Tolong kamu pahami soal ini. Aku udah terlalu lelah dengan tekanan demi tekanan. Kamu dulu pernah bilang kalau pacaran ya yang asyik-asyik aja, ngapain sedih-sedih. Inget kan? Nah sekarang aku maunya juga begitu. Apa kamu bisa jamin kedepannya kita bakal asyik-asyikan kayak dulu? Nggak ada tekanan disana sini?”

“Aku belum bisa jamin, tapi aku pasti bisa usahakan….”

“Kamu aja nggak yakin Zy.”

“Kasih aku kesempatan……”

“Berapa kali lagi kamu minta dikasih kesempatan? Berulang kali kamu udah nyakitin aku dan aku selalu kasih kesempatan. Kesabaran aku juga ada batasnya Zy. Dan kali ini aku udah capek. Aku butuh ketenangan dalam kehidupan aku. Solusinya aku nggak melanjutkan hubungan aku dengan kamu. Satu lagi, sebuah hubungan akan langgeng kalau misalnya ada restu dari keluarga. Dan keluarga aja nggak merestui hubungan ini---”

“BANGS*T! KENAPA PAKE ACARA NGASIH RESTU APA SEGALA MACEM SIH?! AKU YANG AKAN NGOMONG NANTI SAMA MEREKA, MI.”

“Nggak perlu Zy. Udah cukup nggak perlu ada permasalahan baru lagi. Sudah cukup sampai disini aja ZY. Kalau kamu sayang aku, biarkan aku melepas semua beban ini Zy.”

“Mi….”

Emi tiba-tiba kembali memeluk gue. Erat banget. Dia menangis sejadi-jadinya. Gue pun nggak kuasa menahan tangis. Batin gue terasa teriris-iris. Hati gue berantakan. Sepertinya ini adalah akhir. Akhir yang menyedihkan untuk kami berdua. Terlalu banyak halangan. Terlalu banyak tantangan. Terlalu banyak tentangan. Terlalu banyak tekanan.

Gue mau mulai berpikir jernih dan realistis. Hati dan otak gue sangat nggak sinkron pada posisi ini. Keadaannya sangat rumit. Hati ingin bertahan, tapi otak berlogika untuk berakhir. Bersama Emi gue merasakan perbedaan yang sangat signifikan dalam kehidupan.

Sayangnya, perbedaan ini nggak bisa diterima oleh banyak pihak. Dari mulai dulu penolakan teman-teman Emi, fitnah dari adik kelas dan mantan, sampai akhirnya pihak keluarga juga terlibat dalam intrik.

Jika ditelusuri lebih dalam, sebenarnya permasalahan dihubungan ini hampir selalu disebabkan oleh orang luar. Bahkan ketika gue mulai meleng, itu karena ada godaan dari luar.

Sisanya, semua yang sudah tersaji dalam rangkaian konflik cerita dalam perjalanan hidup gue. Hubungan gue terpaksa harus diakhiri karena nggak didukung oleh sistem pendukung, yakni semesta. Terlalu banyak kontradiksi.

Gue melepas pelukan Emi, kemudian tersenyum getir. Gue menatap Emi begitu dalam.

“Zy… Maafin aku ya. Aku harus pergi, dari hidup kamu… Maafin aku Zy. Tolong kali ini aja, hargai pendapat dan keputusan aku… Kalau kamu sayang aku dan nggak mau liat aku sedih lagi, kamu harusnya nggak maksa…”

"Please, Mi. Aku mohon banget.”

“Maaf Zy. Aku nggak bisa….” Tutupnya dengan senyum amat manis yang pernah gue lihat.

Gue sudah nggak bisa berkata-kata lagi. Segala yang bisa gue coba lakukan sia-sia belaka. Emi mengirimkan chat terakhirnya yang berisi forward-an chat dari Dania.

Sesuai dugaan gue, pasti Dania yang menghubungi dia. Dan ketika membaca tiap kalimat yang dikirimkan Dania, gue paham apa yang dirasain Emi saat ini. Sakit yang teramat sangat. Wajar kalau dia bersikukuh ingin berpisah dengan gue. Dan salah banget gue meminta keadilan dari dia karena memang, gue dan keluarga gue nggak bersikap adil atau segala perjuangan yang udah dia lakukan…

Terhitung mulai sekarang, hubungan Emi dan gue benar-benar resmi berakhir. Kisah yang nggak pernah sempurna ini ternyata harus diakhiri dengan cara seperti ini.

Tetapi inilah hidup. Semua yang bergulir akan ada di atas dan akan ada dibawah. Lagi-lagi gue harus menelan pil pahit sebuah hubungan percintaan yang selalu digadang akan berakhir bahagia.

Suara angin membawa terbang pergi jauh kehancuran hati gue. Ingin rasanya gue menangis kembali, tapi gue udah nggak mampu lagi. Semuanya kalah dengan keadaan perasaan gue yang sudah nggak karuan. Lengkap sudah penderitaan gue.

Kehilangan kepercayaan dari keluarga dan dianggap nggak berguna, ditambah gue harus kehilangan penyemangat gue satu-satunya yang bisa gue harapkan. Hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan gue disaat seperti ini.

Ini lagu yang gue putar setelah kejadian

Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
maccer4 dan 28 lainnya memberi reputasi
29 0
29
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-07-2020 22:06
Gila merinding gw bacanya..
profile-picture
profile-picture
indriwp dan yanagi92055 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 113 dari 121
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
ibuku-pelacur-bertarif-15k
Stories from the Heart
pacarku-hidup-kembali
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
setelah-semuanya-tiba
Stories from the Heart
ketika-mata-batin-terbuka
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia