Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2103
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e044c8d8d9b175fd07aa942/akhir-penantianku-jilid-iv--20-true-story
SELAMAT DATANG AGAN SISTA Halo! :kiss Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etc yak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya... Ga pernah g
Lapor Hansip
26-12-2019 13:00

AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]

icon-verified-thread
SELAMAT DATANG AGAN SISTA


Halo! emoticon-Kiss

Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etc yak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...

Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.

Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.

Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai! emoticon-Peluk

Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanyaemoticon-Malu


AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]




INDEX




PERATURAN




Quote:Original Posted By dissymmon08
Halo agan sista!

Hapunten pisan belum sempet balesin komen aku satu per satu... Insya Alloh ane kejarin untuk balesin komen-komennya. Tapi semua komen agan sista selalu ane baca kok. Karena komen, cendol, kritik, dan saran agan sista selalu nyemangatin ane untuk terus nulis cerita! Wuff yu! emoticon-Kiss

Pada kesempatan ini juga ane mau sekalian ngumumin kalau kali ini ane mutusin buat kolaborasi sama Bang Firzy alias Bang Ija (@yanagi92055 untuk nulis sekuel cerita AKHIR PENANTIANKU (THE SERIES) ini! Yay~ Well, kalau Bang Ija mah nulis sekuel ini dalam rangka melanjutkan cerita MUARA SEBUAH PENCARIAN (THE SERIES) punya dia ya... Judul cerita sekuel kami adalah :



Untuk gambaran ceritanya, bisa dibaca di PROLOGUE pejwan di thread-nya. Mungkin agan sista ada yang tertarik baca kisah ane ini, bisa dimampirkan ke thread tersebut. JILID I dan JILID II untuk AKHIR PENANTIANKU (THE SERIES), insya Alloh akan segera rilis juga. Semoga agan sista mau bersabar menunggu emoticon-Malu

Kebetulan, kami juga udah bikin beberapa FAQ untuk menjawab beberapa pertanyaan yang belum terjawab hingga akhir cerita AKHIR PENANTIANKU (THE SERIES). Agan sista bisa mampir ke SINI.

Dan sebagai bonus, kami kasih sopiler TEASER beberapa percakapan di cerita baru kami tersebut. Bisa agan sista cek di SINI.

Semoga cerita lanjutan dari ane dan Bang Ija ini bisa kembali menghibur, mengisi waktu luang, sekaligus menjawab segala puzzle yang mungkin masih ada dari cerita ane sebelumnya! Amiiin~

Sampai jumpa di cerita AMOR & DOLOR! emoticon-Peluk
Polling

Poll ini sudah ditutup - 37 Suara

Kepikiran untuk mulai post JILID I... Setuju kah? 
48.65%
Boleh juga Mi dicoba.
51.35%
Nanti aja, Mi.
Diubah oleh dissymmon08
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 87 lainnya memberi reputasi
82
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 41 dari 46
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
06-07-2020 13:00

Ehm

Yakali... gaji nya emi gueeede.....
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
06-07-2020 13:09
Tumben lama jedanya? Jangan2 ada part yg 'berat' lagi nih...
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan bozbuzbizbez memberi reputasi
1 1
0
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
06-07-2020 14:30
msh menunggu update terbaru
Diubah oleh do.pistols
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
07-07-2020 00:13
Jadi ada 2 judul muncul bareng keknya...
hehehehe..... semoga.... semoga...
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
07-07-2020 12:25
KISAH TENTANG F: RAPUH (PART 09)


Quote:10 missed call(s) from Kak Dania


Quote:16 missed call(s) from Bang Firzy


Quote:8 missed call(s) from Mama Bang Firzy


Gue baru aja beres meeting dengan Divisi Maintenance terkait reparasi instalasi air bersih. Soalnya ada air yang bocor ke jalanan dan itu sayang banget kebuang-buang. Nah namanya lagi meeting, dan saat itu kebetulan momennya gue lagi ditunjuk sebagai notulen sekaligus yang bawa bahan meeting, ga mungkin dong gue sibuk sama handphone gue? Jadi gue terlalu fokus di ruangan meeting sampe ga inget waktu. Well, gue tau ini udah jam 5 lewat, tapi gue ga bisa ninggalin meeting begitu aja.

Ketika gue baru aja keluar ruangan meeting lantai 3… “Bu Emilya… Ada tamu atas nama Bapak Firzy di lobi. Sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu.” kata salah satu Security Receptionist kami. Gila, sampe rela nyamperin gue di lantai 3! Niat banget. Entah berapa lama dia nungguin.

“Makasih, Pak. Nanti saya temuin orangnya sendiri. Tapi kalau orangnya ada di bawah, bilang aja kalau saya udah beres meeting. Suruh tunggu sebentar…”

“Baik, Bu…” Security tersebut langsung lari ke lantai bawah.

Gue telepon Bang Firzy. “Halo?”

“Kamu udah beres meeting-nya?”

“Sebentar ya, aku tinggal beresin meja kerja----”

“MASIH LAMA GA SIH? UDAH TINGGALIN AJA SIH KAK! KAYAK GA BISA BERANGKAT SENDIRI AJA?” Gue dapat pastikan itu suara nyokapnya dia.

“INI UDAH SELESAI! SABAR KENAPA SIH? DIA TINGGAL BERESIN MEJANYA!”

“HADEUH! BERAPA LAMA LAGI? ENTAR ADA AJA LAGI MESTI DIURUSIN? INI MAMA SAMA MBAH MAU UMROH LHO KAK!” Kayaknya mereka lupa kalau anaknya masih terhubung sama gue di telepon. Gue bisa denger dengan jelas percakapan mereka.

“Aku tau, Ma! Tapi ini----”

“Udah ya, aku naik taksi aja. Kalian berangkat duluan aja.” kata gue sambil beresin meja kerja gue.

“GA ADA! GUE TUNGGUIN SAMPE LU KELUAR!” Bang Firzy tutup teleponnya. Kayaknya dia bener-bener marah dirongrong begitu sama nyokapnya.

Gue auto ngebut beresin meja dan ruangan gue. Gue pamitan sama seluruh tim gue plus Pak Edward dan langsung lari ke lobi depan kantor. Di sana udah ga ada orang.

“Pak, Bapak Firzy-nya dimana?” tanya gue ke Security.

“Oh sudah jalan ke mobil Bu dengan keluarganya.”

“Baik, makasih banyak, Pak…” Gue lari ke arah parkiran untuk ngejar mereka. Gue ga mau mereka ribut.

Di sana, gue liat Bang Firzy udah berdiri di samping mobil dengan muka emosinya. Mobil kami nyala dan semua keluarganya ada di dalam mobil. “Eh Emi!” Raut muka Bang Firzy langsung cerah pas ngeliat gue.

“AYO BURU MASUK, MI! UDAH TELAT NIH!” teriak nyokapnya Bang Firzy dari jendela mobil.

Namun ketika gue sampe di samping mobil… “Maaf ya, Mi. Kamu duduk di seat paling belakang.” kata Kak Adit, suami Kak Dania, sambil turun dari mobil biar gue bisa masuk ke seat paling belakang.

Ketika gue mau naik ke mobil, gue ngeliat Kak Dania dan nyokapnya Bang Firzy sama-sama sibuk dengan handphone mereka. Muka mereka kayak cewek lagi ngambek gitu. Mereka sama sekali ga nyapa gue. Nengok aja ga. Cuman Mbah Uti dan Mbah Kakung yang nyapa gue dan bilang untuk salim sama beliau-nya nanti aja pas udah sampe di sana.

Gue nengok ke seat belakang dimana gue harus duduk… Sebentar... SEAT BELAKANG FULL KOPER! Cuman ada sedikit space buat gue duduk, palingan pantat gue juga ga ada 100% bisa muat di situ. “Kenapa barang-barang begini ga dibawa ke mobil mereka aja sih?” tanya gue di dalem hati.

“Kamu bisa duduk, Mi?” tanya Bang Firzy.

“Makanya dikata, dia mending naik taksi sendiri aja. Kan kalau ga nungguin dia, udah sampe di sana jadinya kita. Ujung-ujungnya ga muat kan udah ditungguin begini juga.” gerutu nyokapnya tanpa nengok sama sekali ke gue maupun Bang Firzy.

“Bisa kok. Masih muat.” Well, gue coba muat-muatin. Udah males banget gue dapet nyinyiran begini. Cape hati asli dengernya.

Awalnya sih duduk di belakang begini, ga berasa sempit banget. Tapi pas seat tengahnya udah dibenerin dan didudukin sama Kak Adit, baru berasa banget sempit-nya. Gue berasa barang asli. Gue kesusahan duduk di mobil gue sendiri! HAHAHA. Eh ga ding, ini mobilnya Bang Firzy.

“Buru, Kak!”

“Apaan sih diburu-buru? Ini tuh cuman buat check-in hotel doangan lho! Pesawatnya berangkat tengah malem nanti. Ini Magrib aja belum… Paling lambat nyampe sana jam 8 malem kan? Kenapa ribet banget sekarang hah?”

“Kan siapa tau ada hal lain---”

“Udah deh, Ma. Ga usah jadi mikir ribet---” Bang Firzy motong omongan dari nyokapnya.

“IJA!” bentak kakeknya. “Udah jangan ribut terus. Mama kamu itu mau berangkat umroh. Jangan sampe kamu nyesel karena kata-kata terakhir yang kamu ucapin ke Mama malah hal-hal yang ga enak!”

“…” Bang Firzy terdiam dan kembali fokus ke jalanan. Kami semua pun akhirnya diem dengan entah apa yang ada di dalam pikiran kami.

Ting.

Quote:Fazli Ramadhan : Sent a photo




Quote:Fazli Ramadhan : Suka senyum lu difoto ini.
Fazli Ramadhan : Udah lama ga liat lu senyum begini.


Fazli ngirimin foto kami pas jalan-jalan kemarin bareng anak-anak. Ternyata ada foto candid dari anak-anak yang nangkep momen bersama kami ini. Karena terus menerus dicengin sama mereka, lama-lama tanpa gue sadari gue jadi kembali akrab dengan Fazli. Dari yang tadinya kami jauh-jauhan pun, akhirnya kami jadi bisa duduk deket-deketan lagi dan jadi lebih sering ngobrol di chat private berdua. Ya walaupun ga sebanyak bahasan antara gue dengan Bang Firzy.

Kenapa gue malah dapet kenyamanan sama orang lain selain Bang Firzy?


XOXOXO


Ternyata kami ga langsung pergi ke bandara, tapi kami dateng ke salah satu hotel dekat bandara. Ya itu, untuk kepentingan check-in sebelum keberangkatan mereka di dini hari nanti. Gue bantu Bang Firzy nurunin barang-barang, sedangkan Kak Dania dan Bang Adit melipir untuk cari makan. Maklum, Kak Dania saat itu lagi hamil besar.

“Maafin aku ya…”

“Mobil kamu emang kemana sih? Semuanya jadi diangkut di sini semua…” Maaf gue jadi julid. Tapi emang gue kejepit banget duduk di belakang.

“Mobil aku mendadak ga mau nyala. Sedangkan mereka udah sibuk aja kepengen berangkat, jadi deh dipaksain naik mobil kita.”

“Oh gitu… Ya gapapa sih. Santai aja make mobil ini. Hmm. Cuman... Tadi... Omongan nyokap dan Kak Dania aja yang ga enak banget. Aku yang ga enak sama Mbah kan, Zy… Kesannya kayak aku pembawa sial di keluarga kalian.”

“Iya aku paham… Maafin aku ya.”

“Kenapa jadi makin kacau begini sih? Kenapa? Apa karena Kak Dania lagi hamil? Makanya mereka jadi bebas bersikap kayak begitu? Terus ada gitu mereka nengok ke aku selama ngomong tadi? Ga ada lho.”

“Maaf ya…” Bang Firzy meluk gue.

“Aku gapapa kok.” Gue ngelepas pelukan Bang Firzy. “Aku ga mau kamu harus milih antara keluarga dan pasangan… Soalnya aku mau kamu lebih milih keluarga, daripada aku. Kamu udah ngerasa ga guna bukan hidupnya dan di mata mereka? Jangan sampe kamu jadi semakin dianggep ga berguna cuma karena milih aku. Nanti abis ini aku pulang sendiri aja. Ga usah anterin aku. Pake aja mobilnya, toh kalian pasti butuh.”

“Ga usah, apaan sih.”

“Iya bener…” Kak Dania mendadak nimbrung di belakang. “Biar lu ga usah kemana-mana lagi… Di rumah nemenin gue. Mama kan minta lu di rumah nemenin gue. Jangan pacaran terus, Kak.”

“…” Gue ga mau ngegubris omongan Kak Dania. Ya Alloh, kapan nyinyiran hari ini berakhir? Gue cape banget asli.

“Gampang itu diatur, ga usah ngelarang gue gitu.”

“Liat aja. Mama paling juga nanti ngomong yang sama kayak gue.” Kak Dania pergi ninggalin kami dan masuk ke dalam lobi hotel.

Heran banget gue, tau istrinya ngomong begitu ke kakaknya kenapa didiemin aja coba sama suaminya? Jelas bersikap begini itu ga baik. Kalau gue posisinya udah jadi istrinya Bang Firzy gimana? Gue itu sebenernya kakak iparnya dia lho, walaupun gue umurnya lebih muda dari dia.

“Mi…” Mbah manggil gue. Gue samperin Mbah sambil ngebopong Mbah Uti masuk ke dalam hotel. Bang Firzy udah masuk duluan sama Mbah Kakung.

“Ati-ati, Mbah…”

“Kamu yang ati-ati ya… Maafin omongan Dania dan ibu-nya Ija ya.” gumam Mbah lirih.

Gue nengok ke arah Mbah. Gue liat senyum manis dan tulus dari Mbah Uti ke arah gue. “Makasih udah amanah sama janji kamu ke Mbah untuk ga ninggalin Ija. Mbah mohon maaf sikap mereka kayak begitu sama kamu… Mbah makasih banyak kamu mau banyak berkorban buat keluarganya Mbah Uti…”

“Mbah jangan ngomong begitu…”

“Mbah mau umroh… Mbah, Mbah Kakung, dan ibunya Ija mau pergi ke tanah suci sebentar. Mbah titip Ija ya. Tolong jaga dia dan rawat dia. Ingetin Ija untuk terus doain ibunya… Ingetin Ija untuk jadi pribadi lebih baik yang bisa ngebanggain ibu dan almarhum ayah-nya, Mi.”

“Nanti Emi ingetin Bang Ija buat jagain Kak Dania---”

“Nda papa kalau misalnya kamu dan Ija sesekali ketemu. Atau kamu main ke rumah buat jenguk Dania. Sing penting Ija ga lupa sama Dania…” Ini intinya Bang Firzy tetep jagain Kak Dania kan?

“Iya, Mbah…”

“Mbah ga minta Ija full jagain Dania. Mbah cuman nitip Ija ga lupa sama Dania… Ija tetep harus jaga hubungan baik sama kamu, Mi.”

“Mbah…” Gue salah sangka ke Mbah.

“Kalau misalnya umur Mbah ga sampe---”

“Mbah jangan bilang gitu.”

“Wallahualam, Mi… Mbah pengen ngeliat Ija bisa nemuin kebahagiaannya sama orang yang Ija sayang, yang bisa ngerawat Ija dengan baik, bisa ingetin Ija untuk berubah, dan bisa menghargai ibunya Ija.”

“Kayaknya bukan Emi, Mbah…” gumam gue, berusaha mencairkan suasana.

“Mbah doain di sana, kebahagiaannya Ija itu sama kamu, Mi…” kata Mbah sambil megang pipi gue.

Gue harus jawab apa ini???


XOXOXO


“Lho, Deb? Tumben lu udah di kantor?” tanya gue ke Debby yang lagi duduk serius di depan komputernya.

“Lu yang kesiangan, Mi. Orang-orang udah pada dateng bahkan dari tadi… Udah lengkap banget, ga tau kenapa tumben banget.”

Gue masukin tas gue ke loker tempat nyimpen perlengkapan kami, tepat di belakang meja kerja. “Terus mereka pada dimana sekarang? Kok pada ga ada?”

“Gue juga ga tau… Tadi gue Sholat Dhuha di mushola, eh dateng-dateng udah pada ga ada. Pak Irwan juga gue tanyain ga jawab-jawab…”

Gue terdiam ketika nama Pak Irwan disebut sama Debby. Kenapa coba mesti nanya ke Pak Irwan sedangkan ada Bimo yang bisa ditanyain? Emang ga ada orang lain di tim ini selain Pak Irwan? “Bimo emang belum dateng?”

“Udah juga… Kan gue bilang udah dateng lengkap semuanya. Bimo juga ga jelas banget chat gue.”

“Mungkin mereka pada langsung ke lapangan, Deb.”

“Rina? Menurut lu dia kemana? Ke lapangan gitu?” tanya Debby sambil nunjuk meja Rina yang masih kosong.

“Bukannya Rina emang ga masuk ya hari ini?”

“Ga masuk? Kok kebetulan banget pada begini sih. Ada apa sih ini?”

“Ya jangan suudzon dulu atuh. Lagian apa sih yang lu takutin?” tanya gue. Gue duduk di samping meja dia dan nyalain komputer yang biasa gue pake.

“Gue curiga aja mereka ngelakuin hal yang ga gue tau di belakang dan itu ngerugiin gue. Gue percaya banget sama firasat gue.”

“Ngerugiin kayak gimana maksud lu?”

“Ya gue juga ga tau, pokoknya pasti gue ga suka.”

“Udah ah jangan banyak dipikirin. Lu ga ke lapang?”

“Siangan. Hari ini harus ambil sampel dari lapang… Lu mau ikut? Biasanya gue pergi sama Pak Irwan soalnya.”

Pak Irwan terus bangs*t! “Pak Irwan juga megang kerjaan yang sama kayak lu emang?”

“Ya ga, minta bantuan aja. Hahaha.”

“Hahaha.” Kali ini gue ketawa template aja untuk ngebales dia. Ya gue mesti ngebales gimana coba?

“Mi… Lu…”

Gue nengok ke arah dia. “Apaan? Jangan sok misterius lu!”

“Ga jadi deh… Hahaha. Gue cuman lagi curiga aja si Rina segala ijin masuk siang.”

“Kenapa emang?”

Awalnya Debby diem aja. Sampe akhirnya dia ngedeketin gue dan ngomog pelan-pelan. Bener-bener pelaaan banget. “Dia keliatan pulang sama Fajar ga kemaren?”

“Hah? Mana gue tau dia pulang sama Fajar apa ga. Itu idup-idup dia. Hahaha.”

“Mi… Sumpah ya! Dia itu sama Fajar udah boong tau! Jadi kalau misalnya dia ijin, lu mesti cari tau dia beneran ijin kayak begitu atau ga?” Ini masih pelaaan banget, tapi lebih excited gitu.

“Kenapa emangnya?”

“Dulu, pas Ninda dan Faldi nikah di Jawa Tengah sana kan kita semua diundang tuh. Gue baru banget masuk… Jadi belum ada Bimo. Baru ada gue, Ninda, dan Rina. Faldi aja belum masuk kok. Faldi masuk barengan sama Bimo soalnya. Terus gue dan Pak Edward bilang ga bisa dateng, Si Rina pun bilangnya ga bisa dateng. Nah di hari pernikahan Ninda, Rina mendadak bilang ijin sakit. Nah pas gue liat di Instagram, eh ternyata si Rina tetep berangkat dong! Lu tau berangkatnya sama siapa? Sama si Fajar! Gila ga tuh!” Dia langsung nyerocos gitu aja tanpa gue minta.

“Biasa kan kalau boong begitu? Hahaha. HRD juga ga peduli kita boong apa ga selama ada surat sakit. Hahaha.” Gue tau ngeboongin HRD dengan surat sakit palsu itu salah banget, tapi kasus begini udah rahasia umum kan?

“Bukan begitu, dia perginya sama Fajar, Mi! Sama pacar sendiri! Gila kali beberapa hari pergi sama pacar!” Ini anak lagi mau ngarahin omongannya kemana sih? Dia mau nunjukin kalau si Rina itu berpotensi berzina gitu sepanjang perjalanan? Apa gimana? Kalau iya bener dia mikir begitu, TERUS DIA SELAMA INI NGAPAIN??? “Ya lu kayak ga paham aja kalau cewek sama cowok berduaan perjalanan jauh ngapain aja… Pasti yang ga-ga bukan?”

“Terus?” Dalam hati gue ngomong, ini anak juga udah nyobain tytyd-tytyd kakak kelas sampe pada ribut aja sok suci bener.

“Mi! Fajar itu suka sama gue! Dia nunjukin kok kalau dia itu suka sama gue! Terus dia mau ngajakin Rina sok dateng ke nikahannya Ninda? Ih boong banget!”

“Yakin ini Fajar beneran suka sama Debby ya? Gue mesti percaya ga ya?” tanya gue dalam hati.

“Lu harus percaya gue, Mi! Lu harus ati-ati sama siapapun di kantor ini! Apapun itu… Termasuk Bimo pokoknya!”

“Bimo?”

Kring. Kring. Kring.

Handphone gue bunyi.

Tanpa minta ijin dari Debby, gue langsung angkat telepon yang masuk itu. “Halo, Bim?”

“Jangan bilang kalau ada gue yak! Gue mau cabut dulu!” bisik Debby.

“Lha? Lu katanya mau nemenin gue keliling?”

“Besok-besok aja ya! Kan kemaren udah… Bye!” Debby pergi dari penglihatan gue.

“Bim? Kenapa?”

“Lu dimana sih?”

“Di kantor lah. Lu yang pada dimana?”

“Kita nungguin lu sama Debby di tempat makan dari tadi pagi! Sampe makanan abis, lu berdua ga ada yang dateng. Ini udah pada mau jalan balik. Kemaren kan udah dibilang buat dateng pagian…”

“Kemaren? Gue ga tau kalau kemaren ada info begitu.”

“Lu kemaren balik duluan kan… Nah Pak Edward bilang kalau hari ini kita mau makan mewah rame-rame. Tapi makan pagi aja… Soalnya kalau siang kan suka pada pulang duluan, namanya juga setengah hari kan masuknya Sabtu.”

Gue bingung dong. Gue kemarennya balik duluan karena gue mau bantu beresin rumah Bang Firzy, besoknya kami mau jemput nyokapnya pulang umroh soalnya. “Gue ga tau Pak Edward bilang begitu…”

“AH SAMPAH! TAU GITU GUE YANG BILANG SENDIRI SAMA LU! Pak Edward nitip pesen lewat Debby soalnya! Nah tadi pagi Debby bilang ga mau ikut pas kita ajak keluar! Entah dia lupa apa gimana, bukannya buru-buru malah Sholat dulu. Gue suruh dia merapat ke tempat makan, eh si Debby ga mau terus. Bingung gue sumpah dia itu kenapa.”

Gue kaget dong! “Bim, dari tadi gue dateng tuh dan Debby ngobrol sama gue. Dia bilang ga tau apapun--- ANJ*NG!”

“Gue ke kantor ya, abis ini kita keliling deh. Lu belum pernah keliling bareng gue kan. Sama Debby mulu…”

“Oke lah!” Gue udah kebawa kesel soalnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oktavp dan 26 lainnya memberi reputasi
27 0
27
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 16 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
08-07-2020 16:07
Ending kah sis @dissymmon08 gw tinggal berapa bulan aja ceritanya tambah uWoW aja.. hahahaha
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
09-07-2020 21:46
Sis Emi..
Kamu dimana???
Kangeeennnnn..

Ngomenin update terakhir : gemes yah punya temen kerja kaya gitu.. Tp yg paling bikin gemes adalah lo Mi.. Kom masih aja di temenin?! 😅😅😅
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan deawijaya13 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
11-07-2020 06:11
Pengen baca tapi ngk nemu bab I sma II dimana ya ?
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
11-07-2020 14:49
Bener2 dah kelakuan si debby, bisa banget kayak gitu. Jadi pen nampol
emoticon-Blue Guy Bata (L)
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
13-07-2020 15:15
KISAH TENTANG F: RAPUH (PART 10)


Gue dan Bimo keliling kawasan lingkungan yang jadi lingkup kerja kami naik motor. Sebenernya gue udah beberapa kali diajak keliling sama Debby dan merhatiin gimana cara kerja masing-masing tim gue. Tetapi emang terkadang Debby agak buru-buru jelasinnya dan berujung kami malah nongkrong di satu tempat yang biasa dipake sama para karyawan ngaso di jam kerja

Ya, akhirnya gue paham kenapa pada demen banget di lapang. Ternyata pas di lapang, mereka bisa ngaso sambil ngopi atau makan di warung yang tersebar di seluruh ruang lingkup kerja kami. Dan ga jarang gue ngeliat mereka pada tidur di tempat Security atau di ruang istirahat tenaga outsource. Parahnya ya ada juga beberapa karyawan yang pada balik dulu ke rumah kalau rumah atau kontrakan mereka deket dari kantor. Pantesan mereka betah banget seharian di lapangan.

Nah sama Bimo ini, setiap pertanyaan gue tentang lapangan ini dibantu dijelasin sama dia. Walaupun ga semuanya bisa dijawab karena masih ada yang Bimo ga tau juga. Bedanya Debby dan Bimo adalah gue dipaksa untuk hapal cepet sama Bimo ini. Kalau gue lupa, dia pasti ngata-ngatain gue dengan halus.

Well, di sini, Bimo terlihat berubah emang. Dia jadi terlihat lebih dewasa dan totalitas pas dia lagi kerja begini. Bimo yang dulu keliatan masih suka bingung setiap kali lagi ngebahas . Tapi Bimo yang sekarang teges banget dan ga segan bilang ‘Lu bodoh’ atau ‘Lu ga bisa kerja’ ke orang lain kalau menurut dia salah, tanpa pandang bulu. Gue cuma khawatir aja ada orang yang ga suka disebut begitu sama Bimo.

Kemudian gue inget cerita Debby tentang Bimo… Gimana Bimo katanya sangat ga terima tentang nominal gaji gue. Lagipula gimana sih HRD sini? Masa gaji orang baru main disebar begitu aja? Mana confidential dan privacy-nya urusan gaji begini?

“Mi… Debby udah bilang apa aja sama lu?”

Gue kaget kenapa Bimo mendadak nanyain itu sama gue. “Kenapa?” Gue takut nanti gue dan Bimo berujung ribut.

“Jujur ya, Mi. Gue khawatir pas lu balik lagi deket sama Debby… Gue harap Bang Ija juga ngerasain apa yang gue rasain.”

“Kenapa jadi bawa-bawa Bang Ija?”

“Soalnya gue bingung kenapa Bang Ija bolehin lu ngelamar di sini yang jelas ada Debby-nya?”

“Ini kan karir gue, Bim. Bang Ija ga mungkin ngelepas kesempatan berkarir gue di perusahaan ini cuma karena baper ada si Debby…”

“Debby lho, Mi! Bukan yang lain… Lu kan ga sekali dua kali disakitin sama Debby.”

“Bim… Itu masa lalu. Udah ya ga usah dibahas.”

“Terus maunya dibahas gimana? Masa kini?”

Kayaknya gue harus omongin sama Bimo nih. “Bim… Kita masih sahabatan kan?”

“Kok lu ngomong begitu, Mi? Iyalah! Apaan sih?”

“Ga ada kan yang kita tutupin satu sama lain?”

“Heh kenapa bilang begitu?”

Gue pegang pundak Bimo. “Sini jari kelingking lu! Janji buat jujur dan ga ada yang ditutupin!” Bimo kasih jari kelingking tangan kiri dia ke gue. “KOK TANGAN KIRI SIH? GA SOPAN BANGET BANGS*T!”

“TANGAN KANAN GUE MEGANG GAS, MI! ALLOHU AKBAR!”

“Eh iya yak! Hahaha.” Gue keplak helmnya Bimo. “Buru sini tangan kiri lu!”

“RIBET BANGET SUMPAH INI ANAK SETAN!”

“HAHAHASYUUU!”

“APAAN BURU! UDAH BIKIN GUE EMOSI JANGAN BIKIN GUE MAU LEMPAR LU KE DANAU YAK!”

Gue peluk Bimo dari belakang. “Sayang Bimooo!”

“SAMPAAAH!”

Gue dan Bimo ketawa bareng dulu. Maklum, udah lamaaaa banget ga kayak begini sama dia. Jujur, gue kangen banget sama keakraban kita di Crocodile. Entah kenapa, sebenci gimanapun Bang Firzy sama Crocodile, gue masih tetep kangen ketemu sama mereka.

“Bim… Jujur ya sama gue. Lu tau nominal gaji gue?”

“…” Bimo ga jawab.

“Bim? Kok diem aja?”

“Iya gue tau, Mi.”

“Kok lu bisa tau? Tau darimana? Siapa lagi yang tau?”

“Gue tau dari Debby, Mi… Pas lu abis tandatangan kontrak sama HRD waktu itu, gue liat dia nyelinap ke ruangan HRD dan ngobrol di dalem lama banget. Balik-balik dari sana, dia ngomongin tentang gaji lu berapa ke ggue… Gue ga tau dia cerita ke siapa lagi tentang gaji lu itu. Dia juga cerita ke gue, gimana dia ga terima kalau lu sebagai anak baru nominalnya udah segitu. Dia ngerasa Pak Edward ga adil… Apalagi pas tau lu diterima walaupun lu ga bisa naik motor. Dia marah banget aslinya.”

“APA?” INI MANA YANG BISA GUE PERCAYA???

“Gaji gue, Debby, dan semua tim pun si Debby tau. Bahkan gaji karyawan lain Debby juga tau. Masuk perusahaan ini tuh harusnya digaji UMR dulu, baru bisa naik tiap tahunnya. Jadi jangan aneh kalau ada yang sampe gajinya udah hampir dua digit padahal kerjanya gitu-gitu doang… Soalnya mereka udah lama kerja di sini, bukan karena mereka berprestasi. Kalau lu ga percaya, coba deh tanyain ke Debby gajinya si A berapa, terus lu tanyain orangnya bener ga jawaban Debby.”

“NGAPAIN GUE NANYAIN GAJI ORANG-ORANG?”

“Soalnya itu hobinya Debby buat cari tau gajinya orang-orang.”

Gue ngurut jidad gue. “Bim… Gue nego gaji gue lah di awal, gue mau peningkatan karir di sini dan ngeliat dari job desk gue yang seharusnya, gue merasa gue bisa nego. Makanya gue ga nerima UMR doangan. Lagipula gue udah bilang kok di awal kalau gue itu ga bisa naik motor sendiri. Gue minta gaji gue segitu karena mereka butuh skill gue di bidang lain. HRD Pusat, HRD kita, dan Pak Edward terima aja pas gue nego begitu. Gue salah apa coba? Kenapa jadinya malah ngerasa ga adil?”

“Ya soalnya kan lu jarang ke lapang, Mi. Kalaupun lu ke lapang bareng sama kita. Nah si Debby itu bilang ke orang-orang kalau lu itu…” Bimo ngelirik gue dari spion. “Mi, gue mohon jangan jadinya marah-marah ya di kantor?”

“Gue emang pernah marah-marah di kantor?”

“Gue khawatir lu jadinya ribut sama Debby di kantor…”

“Lu emang ga mau ngeributin orang yang nyebarin gaji lu ke seantero kantor?”

“Gue paham… Tapi menurut gue nunggu waktu yang tepat aja. Jangan sekarang, Mi.”

“Nunggu waktu yang tepat itu kapan? Pas gue difitnah kayak gimana lagi?”

“…”

“JAWAB, BIM!”

“Biarin gue selesein dulu cerita gue…”

“…”

“Mi?”

“Iya udah buru. Entar keburu siang nih!”

“Debby bilang dan berusaha ngeyakinin orang-orang kalau lu itu dari di Kampus sampe sekarang kerjanya CUMA JAGO ADMINISTRASI doangan. Lu ga bisa kerja di lapang. Mereka ngegaji lu segitu overprice banget. Lu… Hmm. Ga bisa apa-apa menurut Debby.”

“… Semua orang tau masalah itu?”

“Gue ga tau, Mi. Gue tau dari omongan Security… Mereka juga ngerasa ga terima ngelayanin orang kayak lu katanya pas tau kayak begitu. Lu dikira dzolim sama mereka yang gajinya kecil tapi lebih beresiko tinggi…”

“Bim… Ya Alloh, Bim.” Gue lemes banget denger itu. “Bim… Gue…”

“Mi… Ayo dong jangan nangis.”

“Gue ga nangis. Gue cuman ga tau lagi harus bersikap kayak gimana sekarang di kantor… Pantesan gue suka sendirian dan ga diajakin sama orang-orang kantor. Mereka itu mikir gue dzolim sama mereka? Mereka ga berusaha baca CV gue? Mereka ga nanya track record gue pas kuliah dan kerja sebelumnya gimana? Atau mereka ga nanya langsung Pak Edward tentang gue kenapa gue diterima? Masa mereka lebih percaya omongan Debby? Apa gue harus resign sekarang, Bim?”

“GA BOLEH! KALAU LU RESIGN, BERARTI LU KALAH SAMA DEBBY!”

Gue tarik napas dalem-dalem. “Gue udah ga mikirin lagi gue kalah atau menang lawan Debby. Gue lebih mikirin nama baik gue, apa nama baik gue bisa balik lagi di kantor ini… Gue belum setaun di sini, udah begini aja nasibnya. Ya Alloh…” Gue kaget tapi gue sangat lemes denger gosip yang ada. Anj*ng banget! Asli deh! Orang yang selama ini gue dengerin curhatnya malah biang gosip selama ini!

“Debby ada ngomongin tentang gue ga?” tanya Bimo.

“Kalau gue ceritain… Nanti lu mau marah ke Debby juga?”

“Gue udah kebal diomongin tenaga lapangan karena gosip dari Debby. Dia sok jadi pahlawan di depan tenaga lapangan, padahal ujungnya dia mau ngambil spotlight gue dengan ngejelekin gue.” Bimo diem sebentar. “Debby bilang apa, Mi?”

Gue ceritain semua yang Debby bilang tentang Bimo. Bimo oportunis lah, Bimo mau nyikat kerjaan Debby lah, Bimo ga terima gaji gue lah, pokoknya semuanya! Gue ceritain semuanya sama Bimo. Gue ngerasa ga perlu ada lagi yang disembunyiin dari Bimo. Cape gue begini terus. Debby jatuhin Bimo, eh Bimo juga jatuhin Debby. Debby jatuhin gue, apa kali ini gue bisa dibilang ngejatuhin Debby juga? Gue ga mau bales dendam lho ini, gue cuman mau jujur sama Bimo.

Tetapi apa gue bisa percaya sama Bimo?

“WOY BIMO! MAU KEMANA?” Ada suara bapak-bapak dari sebrang jalan, tempat mie ayam di pinggir jalan.

“WOY PAK SIGIT! APA KABAR? TUMBEN JAM SEGINI ADA DI SINI! HAHAHA.” Bimo melipir ke tempat mie ayam itu.

“Saya mau ke kantor ketemu Rina, tapi katanya Rina ga masuk….”

“Hari ini Rina ijin. Niatnya dia dateng jam 10an katanya, tapi Pak Edward bilang nanggung, mending ga masuk aja sekalian. Toh kita hari ini kan pulang jam 1, Pak.”

“Iya sih… Cuma mau kasih berkas tagihan soalnya.”

“Senin aja, Pak.”

“Iya deh. Hahaha. Eh iya, udah pada makan?”

“Saya sih udah sarapan tadi. Emi nih ga tau udah makan apa belum.”

Bapak-bapak yang namanya Pak Sigit ini ngeliat jam tangannya. “Udah mau jam 11 lho. Udah mau jam makan siang. Ayo ikut saya semuanya… Saya traktir makan mie ayam dulu.”

Gue bisikin ke Bimo. “Ah ga enak, Bim. Ini jam kerja sih.”

“Udah gapapa. Ini hari Sabtu, Mi. Santai aja… Lagian lu ga baik nolak rejeki sih.”

“Iya sih, Bim… tapi…”

“Ayo sini, udah saya pesenin dua nih.” Pak Sigit ini narik tangan Bimo untuk masuk ke tempat duduk yang ada di warung itu. “Ini anak barunya Pak Edward yang diomongin terus sama Pak Edward ya? Namanya siapa?”

Gue mengulurkan tangan gue. “Nama saya Emi, Pak… Salam kenal.”

“Saya Sigit, salah satu kontraktor di kantor. Saya langganan tiap minggu ke kantor buat nagih bayaran. Hahaha. Tapi saya kalau di kantor lebih sering ngobrol sama Rina… Kalau di lapang, saya banyak koordinasinya sama Bimo dan Pak Irwan.” Mie ayam kami dateng. “Ayo dimakan… Kalau masih kurang, nambah aja. Saya yang bayar, tenang aja…”

“Bim, kita ga bilang sama Debby---” bisik gue ke Bimo.

“MI! LU ITU UDAH DIJAHATIN SAMA DEBBY! LU MASIH MAU NGAJAK DEBBY? LU GA ADA SAKIT HATINYA? LU LUPA SAMA KEKECEWAAN LU TADI SAMA DEBBY? LAGIAN INI TUH DIKASIH SAMA ORANG! JANGAN KAYAK ORANG MALAK SEGALA BAWA ORANG SEKAMPUNG!” bisik Bimo balik tapi lebih kayak ngomel-ngomel kayaknya.

“Kenapa toh? Kurang? Atau ga enak?” tanya Pak SIgit.

“Eh gapapa, Pak… Hehehe.” Gue dan Bimo langsung makan mie ayamnya dengan lahap.

Pak Sigit mendadak nerima telepon di handphone-nya. Dia langsung buru-buru abisin makanannya, bayar semua makanan kita, dan pamitan pergi. Katanya dia disuruh merapat ke tempat lain. Ga lupa dia bilang kalau misalnya kurang, kami ga usah bayar tetapi dia yang bayarin. Cukup bilang aja mau dibayar sama Pak Sigit. Tukang mie ayam-nya udah ceesan kayaknya sama dia.

Ketika kami mau selesai makan, ga lama handphone Bimo dan gue bunyi bersamaan. Ada chat dari satu nama yang sama. Kalian pasti bisa nebak siapa yang chatbukan?

Quote:Jurusan AB – Debby : Oh begitu ya? Kalau lagi seneng suka lupa sama temen!
Jurusan AB – Debby : Makan aja terus sampe mati di sana!


Gue dan Bimo liat-liatan. “Lha kok dia bisa tau?”


XOXOXO


Gue ga ikut jemput nyokapnya Bang Firzy di bandara, karena ternyata nyokapnya udah perjalanan pulang ke rumah mereka dijemput adik nyokapnya. Akhirnya gue memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, sendirian. Gue ngebiarin Bang Firzy buat stay di rumah dia, biar dia nyambut keluarganya yang baru aja pulang dari sana. Gue khawatir situasinya ga baik kalau misalnya ada gue di antara mereka.

Selama nyokapnya pergi umroh, Bang Firzy ga melulu ada di rumah. Dia masih tetep main di rumah gue dan pulang malem-malem. Walaupun kadang ada hari dimana gue juga main di rumahnya Bang Firzy untuk masak-masak dan ngabisin waktu. Tapi nanti ujungnya Bang Firzy bakalan ikut ke rumah gue. Alesannya dia ke adiknya ya buat anterin gue. Gue ga tau adiknya nerima gitu aja atau ga, soalnya gue juga ga banyak interaksi secara langsung sama Kak Dania.

Ya, gue bener-bener ga banyak interaksi secara langsung. Kenapa? Karena Kak Dania selalu memilih untuk ngomong via kakaknya, alias Bang Firzy, even saat kami lagi ada di dalam ruangan yang sama! Gue ga tau kenapa. Dia juga keliatan berusaha ngehindar untuk kontak mata dengan gue. Kalau mau ikut ngerespon gue, dia berusaha masukin sosok kakaknya di obrolan kami. Kayak misalnya begini :

“Eh apa tadi katanya, Kak? Siapa tadi artisnya? Iya gue juga suka denger tuh doi begitu.”

“Dia tadi darimana katanya, Kak? Kayaknya gue juga pernah kesitu.” Dia yang dimaksud di sini itu gue.

“Kata temennya apaan tadi, Kak? Gue juga pernah tuh punya pengalaman begitu.”

Padahal di sisi lain, gue selalu merespon secara langsung pas dia cerita. Kalau dia lagi ada cerita tentang masalah di kantornya, ada informasi yang sekiranya gue tau juga, atau cerita apapun yang sekiranya gue bisa ikut nimbrung lah. Gue pasti langsung nyebut ‘Kak Dania’ dan ikutan nyapa dia.

T-A-P-I dia tetep ga mau ngomong langsung dengan gue, ga mau cipika cipiki sama gue ketika gue pamitan pulang sama dia, dan ga mau chat langsung gue lagi. Dia selalu minta tolong kakaknya untuk sampein ke gue. Gue ga tau salah gue dimana sama dia sampe dia bersikap kayak begitu sama gue.

Segitu hinanya kah buat dia berinteraksi sama gue? Padahal gue udah berusaha semaksimal mungkin untuk tetep mendekat sama keluarga mereka walaupun gue tau gimana sikap keluarganya ke gue lho. Gue ga ngerti banget saat itu.

Btw Mi, lu ingetin Ija ga sih? Sadarin dia gitu kalau dia harus mengalah saat keluarganya butuh dia begini?

1.000.000% gue selalu ingetin dia. Gue selalu bawelin dia. Gue selalu bilang sama dia untuk tetep keep in touch sama nyokap, apalagi dia lagi jauh sama beliau. Gue juga selalu minta dia untuk ngabarin nyokap kalau ada sesuatu atau sekedar nanya kabar nyokap. Soalnya dengan begitu, pasti bakalan bikin nyokapnya lega. Gue ga pernah minta dia diem aja. Tapi entah dia tetep ngabarin apa ga. Tugas gue mengingatkan, bukan memaksa. Soalnya gue (masih) ga punya hak untuk itu.

Gimana dengan adiknya? Gue juga ingetin dia untuk jangan bela-belain gue yang sehat walafiat sedangkan adiknya kondisinya lagi hamil tua. Gue khawatir adiknya kenapa-napa karena banyak pikiran. Ya mikirin kakaknya lah, ya mikirin ibunya lah, atau ya mikirin suaminya lah. Cewek lagi sendirian di rumah aja, suka ada aja yang dipikirin lho! Hmm. Itu gue sih, tapi gue yakin semua cewek pasti ada masa kayak begitu bukan? Dan kembali lagi, gue hanya mengingatkan dia, bukan memaksa.

Gue ga mau lagi deh buat ngecek-ngecekin handphone dia, “Si bangs*t beneran udah ngabarin keluarganya belum sih?” Lagipula handphone dia masih juga dikunci dan ga kasih gue akses untuk liat ke dalemnya.

Jadi ya buat gue, insya Alloh gue udah melakukan kewajiban gue sesuai porsi gue, semampu gue, dan berdasarkan apa yang gue tau plus rasakan. Khusus untuk keluarganya, gue ga mau banyak suudzon atau asumsi. Gue orangnya sangat baperan, gue khawatir kalau nanti sisi negatif mereka terus melekat di pikiran, gue takut jadinya ga pernah ngeliat sisi baik mereka. Bawaannya suudzon aja terus.

Quote:Me : Alhamdulillah udah sampe di rumah ya, Tante…
Me : Aku dapet kabar dari Bang Ija barusan.
Me : Maaf ga sempet jemput ke bandara.
Me : Maaf juga ga dateng ke rumah…
Me : Tenang aku denger Tante dan Mbah udah sampe dengan selamat, alhamdulillah.
Me : Selamat istirahat ya, Tante!
Me : Semoga Alloh menerima umrah Tante dan Mbah… Amiiin.


Tetapi chat gue itu cuman sekedar dibaca aja sama beliau, tanpa balesan sama sekali. “Ya mungkin beliau lagi sibuk, makanya jadi ga sempet balesin chat orang. Apalagi ternyata ini tuh chat dari gue. Lagipula ini doa, ga penting-penting amat buat dibales…” Walaupun dalam hati gue, tetep ada rasa sedih. Maaf.


XOXOXO


Kondisi nyokap gue terus ada perubahan. Gue selalu dikirimin sama bokap foto progres nyokap setiap harinya. Nyokap akhirnya udah bisa kembali ngelangkah lagi, walaupun harus pake tongkat. Tangannya sedikit demi sedikit udah bisa digerakin lagi, walaupun pelaaan banget dan kadang dibantu sama tangan kanannya. Sayang, bibirnya nyokap masih sedikit miring, jadi omongannya nyokap ga terlalu jelas. Tetapi nyokap terus berusaha untuk ngomong, jadi kami yang berusaha untuk paham maksud dari nyokap.

Gue tau, bokap gue udah sangat cape ngurusin nyokap. Tapi gue ngeliat diwajahnya tuh rasa bahagia setiap kali bokap gue ngeliat bokap gue lagi nontonin video perkembangan nyokap yang sengaja beliau ambil pas lagi terapi. Gue bisa ngeliat dan ngerasain, di sini rasa sayang dan cinta itu dipertaruhkan.

Bokap dan nyokap gue udah cukup tua. Apalagi kondisi nyokap yang lagi sakit ini, bokap gue udah ga bisa ngajak nyokap gue jalan-jalan atau diurusin sama nyokap gue. Pernah denger kalau rasa sayang dan cinta akhirnya dipertaruhkan saat kita cuma bisa mengandalkan komunikasi di pernikahan kita, bukan lagi sex semata? Nah kalau begitu, apa lagi yang diandalkan sama bokap gue kalau nyokap gue juga susah dalam komunikasi?

Kadang gue ngeliat bokap gue kewalahan sendiri pas harus ganti popok nyokap, harus nyiapin nyokap mandi, atau saat pilihin baju buat nyokap. Jadi gue akan standby untuk ajarin bokap semua itu, perlahan. Karena gue ga bisa selalu ada untuk mereka, jadi gue harus selalu ada untuk jadi konsultan mereka. Kalau gue lagi ada di rumah, ya gue pasti bantu mereka. Makanya akhirnya, gue lebih memilih untuk ngabisin waktu weekend di rumah gue (ya sesekali keluar untuk jalan-jalan ke luar rumah sebentar), daripada pergi ke luar kota lagi.

Perubahan drastis itu berasa banget di rumah gue. Saat nyokap masih sehat walafit, rumah gue itu adem ayem, bersih tanpa debu, kulkas selalu terisi, kamar mandi selalu kinclong, dapur apalagi, bahkan sampe ke bawah-bawah kompor pun kinclong. Nyokap gue itu ga bisa ngeliat kotor dikit. Pasti deh beliau bawel dan nyinyir kalau misalnya usaha dia buat bersihin semuanya jadi sia-sia pas berubah jadi kotor karena kesalahan orang. Efeknya ya rumah kita bersih dan terorganisir dengan baik.

Gimana sekarang? Kebayang dong gimana kondisinya karena gue cuman bisa bersihin rumah di weekend? Jadi ada beberapa pekerjaan yang ga sempet gue kerjain terus-terusan. Palingan yang bisa di-handle sama gue kalau gue pulang kerja cuma nyapu, ngepel, dan masak. Sisanya, gue bayar orang untuk kerjain atau ya ga sama sekali. Kulkas pun jadi sering kosong karena jadinya kami lebih sering beli makanan daripada masak sendiri. Dan entah kapan terakhir kali bersihin dapur.

Di sini berasa banget istilah ‘istri adalah jantung keluarga’. Mama sakit, semuanya kena efeknya lagi. Sebenernya kan dulu udah berasa ya, pas Mama masuk ICU dan hampir koma. Tapi mungkin dulu ga terlalu berasa karena ga ngabisin berminggu-minggu dan rumah gue juga banyak kosongnya. Sekarang? Semuanya ada di rumah dan bokap gue juga dalam kondisi fokus sama nyokap doang. Jadi ya berasa aja kayak lebih kacau.

Gue kepengen banget bisa kayak nyokap gue. Beliau bisa tetep ngurusin rumah, merhatiin anak (walaupun kadang juga penuh asumsi sendiri), dan ngurusin suaminya. Segitunya gue masih muda, harusnya gue bisa lebih dari nyokap gue karena gue belum ngurusin anak dan suami. Tapi faktanya apa? Gue malah cuma bisa bantu sedikit-sedikit. Ga bisa sehebat nyokap gue.

“Ma, Emi rindu…” ucap gue dalam setiap doa gue. “Maafin Emi ya, Ma… Mama cepet sembuh. Nanti kita jalan-jalan bareng dan insya Alloh Emi siap kasih jawaban untuk hubungan Emi sama Bang Ija.”
Diubah oleh dissymmon08
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oktavp dan 25 lainnya memberi reputasi
26 0
26
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
14-07-2020 00:23
Emii... Kangeenn emoticon-Peluk
Baru beres maraton emoticon-Cendol Gan
Ceritanya lebih kuat, seru emoticon-Rate 5 Star
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
14-07-2020 00:36
Gaji gede bukanya bangga, malah sedih. Pendapat orang sbegitu pengaruhnya di kehidupan Sist Emi....
Mudh2an skarang lebih seimbang.

Deby ini spesial sekali, Sist Emi seneng mungkin krna Deby cenderung blak2an, Sist Emi jaga perasaan pakai banget.....
Bertolak belakang bgt, bukan brarti gak cocok ya.... hehehe...

Ketika adem ayem, dr keluarga Gan biji ye Sist ada kendala.

Kluarga sendiri Mamah Sist masih pemulihan.

Perbaikan masih terasa pelan...
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan deawijaya13 memberi reputasi
2 0
2
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
14-07-2020 21:38
Mau tanya dong (kepo banget wkwk), mba Emi sama si bangs*t Debby masih komunikasi ga sampai sekarang? Kalau masih berarti Emi tahan banget berteman sama dia ya. Atau mungkin dia yg udah berubah ke arah yg lebih baik sekarang. Semoga.
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
16-07-2020 14:12
KISAH TENTANG F: RAPUH (PART 11)


Gue dan Fazli cuma mengandalkan komunikasi kami via chatuntuk menjaga silaturahmi. MENJAGA SILATURAHMI lho ya, bukan diem-diem kami pacaran lagi di belakang. Sekarang Bang Firzy terus ada di rumah, ya ga mungkin dong gue tetep ketemu sama Fazli di depan rumah? Fazli tau kok, kalau gue masih jadi pacarnya Bang Firzy. Gue aja ga pernah cerita juga tentang jalan gue sama Fazli ke Bang Firzy. Karena ya dia kayaknya juga ga peduli juga sama urusan itu. Mungkin karena dia berpikir gue ga akan pernah berani berpaling dari dia? Entahlah.

Tapi di sisi lain kalau gue pikir-pikir, kayaknya hati gue saat itu pun udah saklek sayangnya sama Bang Firzy. Sebagaimanapun Fazli berusaha bawa-bawa bahasan kenangan masa lalu kami, gue cuma dapet degdegannya aja. doang. Gue ga serta merta jadi kepengen memulai hubungan sama dia, lagi.

Oh gue ga benci dia kok. Toh waktu kita pisah pun, dia ga bikin kesalahan yang membuat gue jadi benci sama dia. Keadaan yang memaksa kami untuk membuat keputusan untuk berpisah dulu. Jadi ya, mungkin yang bikin gue pun jadi masih berusaha bersikap biasa aja sama Fazli. SEBISA MUNGKIN bersikap BIASA AJA, yang grogi atau degdegan.

Quote:Fazli Ramadhan : Lu masih inget ini ga?
Fazli Ramadhan : Sent a photo




Quote:Emilya R Oktariani : Hmm… Inget, Zli.
Fazli Ramadhan : Emang sih bukan cincin yang sama. Ga mirip banget juga sama yang dulu.
Fazli Ramadhan : Tapi ya dikit-dikit ada kesamaannya lah… Hehehe.


Ngeliat chat dia ada kata 'hehehe' itu tuh rasanya kadang bikin gue makin degdegan aja. Fazli orangnya dingin dan cool banget. Suka bercanda juga, tapi ga rutin haha hihi basa basi sama orang. Jadi gue suka degdegan sendiri kalau misalnya dia berekspresi jarang-jarang kayak begini. Gue dulu hapal banget sama dia, sebagaimana gue hapal sama Bang Firzy.

Quote:Emilya R Oktariani : Ya namanya juga cincin jaman kita SD, udah ada ribuan model yang baru kali.
Fazli Ramadhan : Iya, ribuan model yang baru tapi nyari yang sepasang begitu itu susah lho, Mi.
Fazli Ramadhan : Apalagi posisinya gue juga masih kecil.
Fazli Ramadhan : Gue sengaja nabung buat beli cincin itu dulu.
Fazli Ramadhan : Gue kan sampe minta masukan dari Bang Arya gimana cara ngasihnya ke lu.
Fazli Ramadhan : Katanya suruh tambahin rantai, biar bisa dikalungin sama Emi.
Fazli Ramadhan : Takut kita ribet pas main kalau make cincin, jadi ya cincinnyadikalungin aja.
Fazli Ramadhan : Makanya gue nyusul deh beli rantai kalungnya juga buat lu.
Fazli Ramadhan : Sent a photo




Quote:Fazli Ramadhan : Eh gara-gara hasutan Lila, Amelia, sama Riri, cincin gue malah lu balikin.
Fazli Ramadhan : Di depan anak-anak pulak.
Emilya R Oktariani : Maaf ya, Zli.
Emilya R Oktariani : Gue masih kecil banget, jadi nurut-nurut aja sama mereka…
Fazli Ramadhan : Padahal gue serius lho Mi ngasihnya dulu…
Emilya R Oktariani : Serius?
Fazli Ramadhan : Iya, gue bener-bener serius ngasih cincin itu buat lu.
Fazli Ramadhan : Nyesek lho, Mi.
Fazli Ramadhan : Maaf ya gue jadinya makin dingin sama lu dulu, sampe sekarang.
Fazli Ramadhan : Soalnya pas itu gue masih kecil. Ngerasa ditolak kayak begitu tuh bikin gue keingetan terus.
Emilya R Oktariani : Maaf ya, Zli.


Kan jadinya gue yang ga enak sendiri pas dibahas begini di masa kini. Sumpah, kalau gue pikir-pikir ternyata gue udah suka nurut sama omongan temen gue dari gue kecil yak? Bodoh banget Emi. BODOH!

Quote:Fazli Ramadhan : Yaudah gapapa. Gue udah ga marah sama lu kok.
Fazli Ramadhan : Itu kan masa lalu.
Fazli Ramadhan : Apalagi sekarang udah bisa ngobrol lagi begini. Jadi lumayan mengobati lah.
Fazli Ramadhan : Tapi nih ya Mi, kalau misalnya nih...
Fazli Ramadhan : Gue kasih lagi cincin kayak dulu itu sekarang-sekarang...
Fazli Ramadhan : Hmm. Lu bisa bikin keputusannya sendiri kan?


“BANGS*T! APA-APAAN NIH MAKSUDNYA HAH?! AYO MI! PURA-PURA BEGO! PURA-PURA BEGO! AYOOO!” teriak gue di dalam hati.

Quote:Emilya R Oktariani : Maksudnya? Mau beliin cincin yang begitu lagi?
Emilya R Oktariani : HAHAHAHAHAHAHAHAHA


“Sial. Gue ketawanya berlebihan!”

Quote:Fazli Ramadhan : Kenapa lu ketawa begitu? Lu ga mau yang sama persis?
Fazli Ramadhan : Atau mau diganti modelnya?
Fazli Ramadhan : Soalnya gue pribadi sih ga mau beli yang sama kayak begitu.
Fazli Ramadhan : Model kayak begitu udah jadi bad memories buat gue.
Fazli Ramadhan : Gue maunya yang baru dan bisa dimodif begini nantinya.
Fazli Ramadhan : Sent a photo




Quote:Fazli Ramadhan : Biar kali ini bener-bener ngiket, biar ga lepas lagi.


“ANJ*NG! GUE JADI PENGEN SHOLAT MINTA UJAN!”

Quote:Emilya R Oktariani : Ga lepas lagi? Apaan sih lu? HAHAHAHA
Emilya R Oktariani : Abis nyemilin sajen di kuburan yak lu?
Emilya R Oktariani : Atau lagi inget mantan lu ya? HAHAHAHA
Fazli Ramadhan : Aneh ya bahasan gue?
Fazli Ramadhan : Ga tau kenapa, gue lagi inget mantan gue yang udah lamaaa banget gue tunggu.
Fazli Ramadhan : Tiap hari cuman bisa liat dia doang dari jauh, walaupun setiap hari juga sih bisa ngeliat dia.
Fazli Ramadhan : Kadang, ada rasanya keinginan untuk balikan sama dia biar bisa liat dia terus…
Fazli Ramadhan : Tapi dari deket, di rumah yang sama.


“WADOH KONT* KERITING INI NAMANYA! GA BOLEH DEGDEGAN! GA BOLEH DEGDEGAN! GA BOLEH DEGDEGAN!"

Quote:Emilya R Oktariani : Sent a photo




Quote:Emilya R Oktariani : Move on, Zli! Masih aja ngarep ke mantan lu yang model itu.
Emilya R Oktariani : HAHAHA
Fazli Ramadhan : Cih. Malah jadi bahas dia sih? Malesin.
Fazli Ramadhan : Katanya pinter, gitu aja ga peka lu!
Fazli Ramadhan : Gue mau off. Mau cabut ke basecamp.
Fazli Ramadhan : Tidur sana, Pegawai!


“Fiuh! Untung aja dia kena jebakan batman gue. Ga mau kegeeran lagi gue!” Gue ngeliat foto gue dan Bang Firzy yang gue pajang di meja belajar gue. “Aku bisa lho Zy tetep jaga hati walaupun hubungan kita lagi ga baik. Apa kamu pas ada godaan kayak tadi bisa mikirin aku?” tanya gue dalam hati.


XOXOXO


Di kantor, Debby jadi ga ngajak ngobrol gue dan Bimo lagi. Gue perhatiin, dia malah banyak ngabisin waktu di lapang tanpa ke kantor sama sekali. Palingan ke kantor kalau emang bener-bener ada urusan atau ya pas fingerprint untuk presensi. Pas meeting pun dia duduknya ngejauh dari gue dan Bimo, padahal biasanya ga pernah begitu. Bahkan dia keliatan lebih terang-terangan nunjukin kalau dia akrab sama Pak Irwan. Entah maksud dia begitu itu apaan.

Di sisi lain, Debby pun jadi lebih memilih ngobrol bareng Ninda dan Rina daripada sama gue dan Bimo. Dia ikut makan siang bareng mereka dan bahkan turun ke parkiran bareng mereka. Dia seakan bikin gue dan Bimo ga punya temen. Gue dan Bimo bener-bener cuma berdua. Dan kelakuan dia yang bangs*t begini, sukses bikin ada gosip ke gue sama Bimo.

“Pak Bimo dan Bu Emi jahat banget, kok Bu Debby dijauhin sih?”

“Masa karena Pak Bimo sekarang udah ada Bu Emi jadi lupa sih sama Bu Debby?”

“Bu Emi juga jadi lupa kalau banyak dianterin kesana sini sama Bu Debby ya?”


Dan banyak lagi gosip lainnya. Ini gosip apaan lagi coba yang dibikin sama Debby? Ini orang kantor bikin asumsi sendiri, Bu Dina bikin gosip, atau Debby yang ngebacot kesana sini coba? Apaan sih elah!

“Bim, udah sarapan?” tanya Pak Edward ke Bimo yang baru aja simpen tasnya ke loker.

“Belum, Pak. Ini baru aja mau ngajak Emi sarapan bareng.” jawab Bimo sambil nunjuk gue yang lagi main komputer.

“Yaudah, ayo sarapan bareng sama saya!” Pak Edward ngerangkul Bimo buat jalan ke luar ruangan. Bimo nengok ke gue buat ngodein gue untuk ikut. Kebetulan pagi itu anak-anak yang lain belum pada dateng. Jadi cuma gue dan Bimo yang diajak. Mungkin kalau ada yang lain, pasti diajak juga. Ya kan?

Gue tau kalau Debby lagi diemin gue dan Bimo. Tapi ga ada salahnya kan kalau gue ngehubungin dia dan ajakin dia juga? Dia kemarin kan ribut sama gue karena gue ditraktir dan ga bilang-bilang. Baiknya gue bilang deh sama dia sekarang.

Quote:Me : Deb udah dimana? Ayo ke kantin bawah deket basement!
Me : Sarapan bareng gue, Bimo, dan Pak Edward.
Me : Ditunggu ya!


Tapi chat-nya pending. Ga terkirim sama sekali. Gue masih berpikir itu karena sinyal. Namanya juga turun ke basement, kan sinyal suka ilang-ilangan. Gue pun akhirnya nyoba telepon Debby buat memastikan kalau ini emang karena sinyal internet-nya yang kacrut. Tapi ternyata nomor handphone Debby yang ga aktif. Bukan karena sinyal.

“Lagi nelponin siapa lu?” tanya Bimo ke gue saat kami udah duduk di meja makan. Pak Edward lagi ngobrol sama Manager lain yang kebetulan ada di kantin juga.

“Debby… Chat-nya pending tadi. Eh ternyata handphone-nya yang ga aktif.”

“Mi, lu itu kelewat polos apa tolol beneran sih? Gue kata ga usah mikirin dia begitu banget kenapa sih? Lagian dia bukannya lagi diemin kita??? Biarin aja!”

“Tapi Bim, kan ini cuman sarapan dan ga ditraktir siapapun. Siapa tau dia jadinya luluh sekarang kan? Kali aja dia itu dulu ga 100% mempermasalahkan dia yang ga ikut ditraktir sama Pak Sigit, tapi dia cuma kepengen bareng sama kita doangan. Bisa aja begitu kan? Mungkin."

“Mi! Pak Edward atau siapapun yang suka ngajak makan diluar itu udah 100% pasti bayarin makan kita! GUE YAKIN DEBBY PASTI TAU ITU! Dan dia marah karena itu! Jadi dia pasti ga terima karena GA DITRAKTIR JUGA! Bukan karena ga diajakin doangan!”

“Anj*r! Masalah makanan doangan masa sampe sebegitunya? Kayaknya ga mungkin Bim!”

“Percaya sama gue! Entar kita coba aja bayar sendiri, palingan bilangnya udah dibayarin Pak Edward.” Gue ga percaya sama omongan Bimo. Masa iya ada orang yang segitu ngarepnya ditraktir? Ada gitu orang yang sampe rela ribut sama temennya cuma karena dia ga ikut ditraktir?

Karena gue masih kepikiran sama Debby, gue sengaja pesenin makanan kesukaan Debby sebelum balik. Pak Edward kaget pas gue pesen makanan lagi. Dikirain gue masih belum kenyang kali, makanya gue jadi nambah lagi. Pas gue bilang kalau itu buat Debby, Pak Edward no comment. Gue juga bingung kenapa beliau memilih diem aja.

Pas gue mau bayar… “Semuanya udah dibayar Pak Edward, Mbak…”

“Yang dibungkus juga?”

“Iya, semuanya Mbak…”

“Oh gitu, makasih, Bu.” Gue jalan ke meja makan lagi.

Ngeliat gue udah dateng, Pak Edward dan Bimo langsung berdiri. “Kenapa? Ada yang mau dibeli lagi?”

“Makasih banyak Pak udah ditraktir.” kata gue sambil nunjukin bungkusan makanan buat Debby.

“Lagi ada rejeki… Itung-itung bersihin harta sama tim sendiri. Hahaha. Nanti langsung ke ruangan aja ya. Saya mau langsung ke lapang, mumpung ada di basement. Duluan ya…” Pak Edward langsung jalan ke arah parkiran.

Gue dan Bimo lanjut naik ke atas untuk balik ke ruangan. “Bener kan apa kata gue? Traktir kita di kantin kantor begini mah cuman recehan banget buat mereka, Mi. Hahaha. Ga enak kan lu nambah bungkusan begitu buat Debby?”

“Iya, Bim…”

“Belajar. Lain kali ga usah mikirin orang lain lagi, termasuk gue.”

“Lu gapapa emang?”

“Santai, Mi. Gue ga sengarep begitu sama makanan doangan… Emangnya Debby! Hahaha." jawab Bimo.

Sesampainya gue di dalam ruangan, ternyata Debby baru aja simpen tasnya dan lagi persiapan buat kembali ke lapangan. Biar makanan yang gue bawa ga mubazir karena dia pasti balik lagi sore hari, gue langsung kejar dia dan kasih makanannya.

“Deb! Ini sarapan buat lu! Tadi gue chat dan telepon lu, eh handphone lu ternyata mati.” Gue simpen plastik makanannya di hadapan dia.

“…” Dia diem aja sambil ngeliatin plastiknya.

“Kenapa? Kok diem aja?” tanya Bimo. Kayaknya Bimo ga suka kalau misalnya Debby ga bilang terima kasih ke gue.

“Gapapa. Tadi kalian MAKAN LAGI TANPA GUE?”

“Kan gue bilang, tadi gue chat dan telepon lu ga bisa karena handphone lu mati. Makanya ini gue sengaja bungkusin buat lu.”

“Ga bisa ya usaha nelepon orang lain gitu? Pak Irwan kek?”

Lha kok Pak Irwan? “Emangnya kenapa sih handphone lu? Mana kepikiran gue buat ngehubungin Pak Irwan pas lu ga bisa dihubungi?” jawab gue. Mana ada gue mikir kalau dia lagi sama Pak Irwan pagi-pagi kan?

Handphone gue eror, kemaren keujanan.” Dia buka bungkusan plastik gue.

“Itu makanan kesukaan lu… Gue yakin lu pasti suka!”

Ada secercah senyuman dari bibir dia. “Makasih.” Gue ngelirik Bimo dan kasih kode kalau kayaknya Debby udah ga marah lagi. “Beli dimana tadi?”

“Di kantin bawah. Tadi gue, Bimo, sama Pak Edward sarapan di----”

“Pak Edward???” Debby kaget dan mendadak ngelepas genggamannya dari plastik yang dia pegang, bikin plastik yang dia pegang itu jatuh lagi ke meja.

“Iya, Pak Edward. Kenapa emangnya?” Gue dan Bimo liat-liatan. Aneh banget dia.

“LU KASIH MAKANAN KE GUE YANG DIBELI MAKE DUITNYA PAK EDWARD???” Oke dia tau kalau gue dan Bimo ditraktir sama Pak Edward. Kayaknya orang-orang di kantor ini demen banget traktirin karyawan yang lebih muda kali yak?

“Iya, emang kenapa sih, Deb? Heran! Bukannya bersyukur malah begitu ngomong lu!”

“LU KASIH MAKANAN YANG DIBELI MAKE UANG HARAM??? LU MAU JAHATIN GUE APA GIMANA HAH??? KALIAN KALAU BENCI SAMA GUE BILANG LAH! GA BEGINI JUGA CARANYA! UNTUNG BELUM GUE MAKAN!” Debby jalan ke arah tempat sampah dan dia ngebuang makanan yang gue kasih tadi. “GUE GA MAU MAKAN MAKANAN YANG DIKASIH SAMA DIA! GUE GA MAU MAKAN HASIL UANG HARAM!”

Gue narik tangannya Debby. Gue minta dia duduk. Jangan sampe dia teriak-teriak di kantor begini didenger sama tim yang lain. Semoga aja BELUM ADA yang nguping. “Debby! Lu jangan main nuduh Pak Edward itu make uang haram, Deb! Apaan sih lu? Ga enak didenger orang tu ga!”

“Mi! Pak Edward itu koruptor! Dia suka nilep fee client! Dia suka disuap sama client buat kepentingan dia makanya dia jadi punya banyak uang buat traktir ini itu! YA KARENA ITU BUKAN UANG DIA SENDIRI! ITU UANG HARAM! Gue juga dikasih tau sama dukun gue tentang itu! Jadi gue ga mau makan apapun dari dia! GUE GA MAU MAKAN HASIL UANG HARAM!”

“LU GA BOLEH NUDUH BEGITU, DEB! APA-APAAN SIH LU!” Bimo nunjuk-nunjuk muka Debby.

“Terserah lu pada mau percaya sama gue apa ga! Gue udah peringatin lu berdua! Mending lu berdua sekarang tobat deh. Biar lu pada dibukain pikiran dan matanya… Ga malah terlena terus ikut-ikutan makan uang haram dia!” Debby langsung pergi ninggalin gue dan Bimo. Gue dan Bimo terdiam. Dan di ruangan kami, udah ada Ninda, Fadli, dan Rina yang kayaknya ngeliat semua adegan itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oktavp dan 24 lainnya memberi reputasi
25 0
25
Lihat 24 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 24 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
16-07-2020 18:39
Gw kebawa ceritanya sis, kaya sinetron aja.. hahaha,
Ga di kampus, ga di tempat kerja tetep aja br*ngs*k yaa,
Ceritanya makin campursari ya ada lucunya, sedihnya, emosinya tapi banyak sedihnya sih.

Ending masih lama kah sis??? 😂
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
16-07-2020 19:00
Dari Debi cerita jadi berwarna warni....
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
23-07-2020 06:34
Debby manusia langka yang perlu dilestarikan he...he...
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
23-07-2020 17:34
emiiiiii dicariiin kucing gue, katanya lo kemana udah lama nggak nongol2 emoticon-Ngakak
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
23-07-2020 19:49
hahah haduuh dukun lagi dukun lagi 🤣 otaknya sengklek apa gmna sih asumsinya debby berlebihan banget sabar yya sis @dissymmon08 kek nya otknya debby kudu di rendem pake minyak tanah 🤣🤣😁😁
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
23-07-2020 22:21
dukun mulu anjeeeeeer debby, cocok tuh jadi antagonisnya indosiar
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 41 dari 46
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia