Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
4282
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3
Setelah menyelesaikan hubungannya dengan Keket, Ija berhasil mendapatkan pengganti yang sepadan dengan Keket, yaitu Dee. Hubungan keduanya sangat langgeng dan lancar serta minim polemik. Tentunya banyak bumbu yang hadir seperti kehadiran orang ketiga yang tidak diketahui Dee dan Ija sendiri, perbedaan pendapat mengenai rencana pernikahan, domisili pekerjaan, pengekangan aturan berpacaran yang tida
Lapor Hansip
29-11-2019 15:25

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Selamat Datang di Thread Gue 
(私のスレッドへようこそ)


Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI DUA TRIT GUE SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT SELANJUTNYA INI, GUE DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK GUE DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DISINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR



Last Season, on Muara Sebuah Pencarian - Season 2 :
Quote:Setelah menyelesaikan hubungannya dengan Keket, Ija berhasil mendapatkan pengganti yang sepadan dengan Keket, yaitu Dee. Hubungan keduanya sangat langgeng dan lancar serta minim polemik. Tentunya banyak bumbu yang hadir seperti kehadiran orang ketiga yang tidak diketahui Dee dan Ija sendiri, perbedaan pendapat mengenai rencana pernikahan, domisili pekerjaan, pengekangan aturan berpacaran yang tidak disukai Ija, serta hubungan yang lambat laun semakin membosankan dan tidak jelas arahnya.

Pada puncaknya, hubungan ini kalah oleh ego masing-masing, baik itu Ija dengan keinginannya untuk menetap di ibukota, bekerja sampai menikah dan membina rumah tangga disana, sementara Dee yang ingin kembali kekampung halamannya dan menetap disana, jauh dari hiruk pikuk kehidupan metropolitan yang membuatnya tidak nyaman. Hubungan yang telah terjalin lama akhirnya harus kandas ditengah jalan. Untungnya hubungan keduanya tetap baik sehingga tidak meninggalkan kekecewaan mendalam seperti yang dulu Ija alami saat bersama Keket.




INFORMASI TERKAIT UPDATE TRIT ATAU KEMUNGKINAN KARYA LAINNYA BISA JUGA DI CEK DI IG: @yanagi92055 SEBAGAI ALTERNATIF JIKA NOTIF KASKUS BERMASALAH


INDEX SEASON 3


LINK BARU MULUSTRASI SEASON 3


Peraturan



Quote:Original Posted By yanagi92055
D I S C L A I M E R


1. Melalui tulisan ini, gue Firzy Andreanoatau dikenal sebagai Ija, menyatakan bahwa gue HANYA membuat tulisan atau cerita di subforum SFTH KASKUS

2. Gue TIDAK melakukan repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun selain di FORUM KASKUS.

3. Gue TIDAK PERNAH MEMBERIKAN IZIN KEPADA SIAPAPUN untuk melakukan repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

4. Gue HANYA MEMPERBOLEHKAN untuk share INFORMASI bahwa tulisan ini sudah ada update terbaru dengan menyertakan DIRECT LINK ke update-an terbaru atau ke trit tulisan-tulisan gue, dan bukannya repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

5. Gue sudah membuatkan INDEX di pejwan untuk membantu reader tulisan ini terkait dengan update terbaru dari tulisan ini, sehingga tidak ada lagi alasan untuk meminta pihak lain selain gue untuk repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

6. Mohon bantuan para reader disini jika berkenan ketika mendapati tulisan gue, ataupun screenshoot dan bentuk lainnya ada diforum, blog, atau akun media sosial manapun selain KASKUS agar bisa PM atau report ke gue, terkait dengan urusan Karya Cipta.

7. Jika ternyata masih ditemukan hal-hal seperti yang sudah disebutkan pada poin-poin diatas, mohon maaf, gue akan MENGHAPUS keseluruhan tulisan yang pernah gue post disini.


MARI BELAJAR MENGHARGAI HASIL KARYA CIPTA ORANG LAIN DENGAN MEMBACA DARI SUMBER ASLINYA DAN MEMINTA IZIN TERLEBIH DAHULU SEBELUM MENGANGKAT TULISAN / KARYA ORANG LAIN UNTUK KEPENTINGAN DAN KEUNTUNGAN PRIBADI


Quote:PENJELASAN TERKAIT DISCLAIMER

Quote:UPDATE KASUS DISCLAIMER
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hsajie dan 126 lainnya memberi reputasi
121
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 111 dari 116
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
27-06-2020 22:24
aduh berapa hari ga mampir langsung marathon 👍🏻
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
27-06-2020 23:02
lebih afdol liat notif kaskus sih tapi ya auto follow lah buat bang ija hahahah
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
27-06-2020 23:21
Quote:Original Posted By yanagi92055
UNTUK INFORMASI UPDATE TERBARU TRIT (DAN MUNGKIN KARYA LAINNYA) BISA JUGA DILIHAT DI IG GUE YA (JIKA TIDAK ADA NOTIF DARI KASKUS) SEBAGAI ALTERNATIF, DENGAN NAMA YANG SAMA KAYAK AKUN INI. BIASANYA GUE INFORMASIKAN VIA IG STORIES (KARENA TAHANNYA 24 JAM SAJA, SELEBIHNYA BISA LIHAT DI HIGHLIGHT). JIKA BERKENAN SILA BERKUNJUNG KESANA.
TERIMA KASIH ATENSINYA.


Ecieee udah ada IG nya awkwkwk
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan nyahprenjak memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 14:44
Quote:Original Posted By Tika1909
aduh berapa hari ga mampir langsung marathon 👍🏻


Quote:Original Posted By Tika1909
lebih afdol liat notif kaskus sih tapi ya auto follow lah buat bang ija hahahah


Haha iya, dipantau2 aja dulu sis..info alternatif bisa diliat dari sana..
0 0
0
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 18:58

Surprise Lagi

Gue kaget saat gue disapa oleh orang ini, karena gue sangat nggak menduga dia bisa ada di sini. Bener-bener random banget. Kabar terakhir yang gue tau tentang dia adalah dia berangkat ke Sulawesi untuk melanjutkan pekerjaannya di sana. Gue aja lupa kapan terakhir gue ketemu sama dia. Kayaknya pas nikahan adik gue. Gue lupa banget. Eh pas gue lagi mampir ke stasiun ini, malah ketemu sama dia di sini? Aneh banget.

Adinda Kiara Fitria.

Itulah nama lengkap orang ini. Namun dia lebih senang memakai dua kata terakhir dari namanya. Sosok yang sudah sangat tidak asing di mata gue dan juga keluarga gue. Sosok yang selama ini selalu ada di dekat gue sampai akhirnya dia menghilang karena mau sekolah lagi di tempat yang jauh dari gue. Sosok yang katanya mau menjauh dari gue selamanya. Kini dia ada di hadapan gue lagi—in a bizzare way.

“Ara? Kamu ngapain disini?” tanya gue, masih nggak percaya dengan apa yang gue lihat.

“Aku yang nanya duluan kok kamu malah balik nanya? Haha. Aku habis dari rumah temenku tadi. Semenjak aku balik lagi kesini, aku belum pernah ketemu sama dia lagi. Ini aku lagi mau ke Gambir, Ja. Aku mau jemput saudara dari Bapak (ku). Mereka datang dari Rembang.” Seperti biasa, senyum lebar dan ceria selalu menghiasi kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Dari Rembang? Aku baru tau kamu punya saudara disana.” Tanya gue keheranan.

“Hehehe. Iya, ini saudara jauhnya bapak. Mereka mau kesini katanya mau jalan-jalan. Soalnya salah satu sepupuku ada yang baru pulang dari luar negeri.”

Saudara yang dimaksud oleh Ara ini adalah Toni, sepupu Ara dari keluarga ayahnya yang bekerja di kapal sebagai ABK. Gue sama sekali nggak mengetahui kalau Ara bisa kembali dekat dengan keluarga ayahnya. Atau mungkin gue yang sudah benar-benar menutup rapat-rapat lembaran kehidupan gue dengannya sehingga gue nggak tau lagi bagaimana perkembangan dia.

Kami berbincang ringan sesaat di depan stasiun tersebut. Sekedar menanyakan kabar, pekerjaan, dan cinta. Semenjak kepergian dia memang gue sudah nggak menghubungi dia sama sekali, kecuali di beberapa kali pertemuan kami. Gue sibuk dengan kehidupan gue, begitupun dengan dia.

Ketika dia menceritakan ke gue kalau dia memutuskan untuk kembali karena nggak betah ada di pulau seberang sana, ada secercah ketenangan dan kebahagiaan di diri gue kalau suatu saat nanti gue bisa kembali bertemu sama dia. Ya mungkin untuk sekedar curhat atau quality time bareng sahabat. Terkadang, gue juga rindu sosok dia ini. Sosok yang mendampingi gue semenjak gue duduk di bangku sekolah.

Gue memperhatikan Ara lebih detail, bagaimana dia bercerita dan bagaimana perkembangan fisik dia. Sekilas, gue melihat Ara ini makin terlihat seperti Emi. Buat gue, gaya Emi yang sederhana dan nggak ribet ini sudah menjadi ciri khas dia. Hanya dia seorang diri. Tetapi apa yang gue lihat saat ini di hadapan gue, Ara terlihat menggunakan gaya yang sama ketika dia sedang pergi santai.

Oh iya, ada perbedaan pada diri Ara saat ini. Kini dia memakai kacamata. Entah dia mulai memakai kacamata ini sekedar untuk fashion atau memang untuk membantu pengelihatannya seperti Emi. Seingat gue, dia nggak memakai kacamata kala terakhir gue bertemu dengannya di pernikahan Dania tempo hari. Seinget gue, gue belum pernah ketemu lagi sama dia. Mungkin bagi beberapa orang yang melihat, gue yakin Ara akan disangka seorang mahasiswa tingkat awal, bukan seorang janda yang ditinggal meninggal suaminya. Dia masih terlihat sangat muda untuk cewek seumuran dia.

Nggak cuman cara berpakaiannya saja, tetapi postur tubuh dan bentuk tubuh mereka pun sama. Kecil, ramping, tetapi menggoda hasrat gue. Haha. Selain itu, cara mereka tersenyum dan tertawa juga mengundang candu untuk gue. Tone suara mereka memang berbeda, tetapi melihat mereka tersenyum dan tertawa membuat gue selalu ingin terus mendengarnya. Gue juga ternyata bisa serindu ini sama dia. Haha.

Sayang, pertemuan ini harus berlangsung sangat singkat karena Ara harus mengejar kereta menuju ke Stasiun Gambir. Dia nggak mau membuat saudaranya tersebut menunggu lama. Dia berjalan cerita menuju pintu masuk stasiun. Ada sedikit kekecewaan di diri gue ketika harus berpisah dengannya. Gue terus menatap diri dia yang sudah berjalan memunggungi gue. Tetapi, tepat sebelum dia menghilang dari pandangan gue, dia kembali menengok ke arah gue. Dia berhenti dan tersenyum dengan kedipan satu mata kirinya. Jantung gue mendadak berdegup kencang, nggak karuan. Gue nggak mengerti kenapa gue seperti ini. Waduh bikin berat aja ini.

Setelah dia benar-benar menghilang dari pandangan gue, mendadak gue kembali terpikir sesuatu. Apa alasan sebenarnya Ara kembali ke sini? Apa benar dia pindah hanya karena dia nggak betah di sana? Atau ini ada urusannya sama kedekatan dia dengan keluarga ayahnya lagi?

Gue sangat mengenal Ara. Gue nggak cuma satu atau dua tahun mengenal dia. Ara itu tipikal orang yang kalau punya keinginan, akan terus dia kejar sampai dia berhasil. Berarti ketika dia akhirnya memutuskan untuk bekerja di luar kota, harusnya ya dia tetap dia sana apapun konsekuensi yang akan dia rasakan di sana. Tetapi Ara malah menyerah dan memilih kembali ke sini? Pasti terjadi sesuatu sama diri dia, tetapi kembali nggak dia ceritakan sama gue. Fakta ini membuat gue sedikit khawatir dengan keadaan Ara saat itu.

“Firzy!” sapa suara lain dari arah belakang gue.

Gue sempet berpikir kalau Ara kembali pada gue, tetapi Ara nggak pernah memanggil gue dengan panggilan ini. Ketika gue menengok ke arah sumber suara, di sana gue melihat Emi. Sosok yang mirip dengan Ara, atau Ara yang mirip dengan Emi? Ya mereka terlalu identik dan tidak mau gue bandingkan.

Gue harus mengabaikan sementara tentang kekhawatiran gue terhadap Ara ketika gue bersama Emi. Kondisi hubungan gue dan Emi sedang tidak baik. Gue nggak mau jadi ribut karena Emi mendengar bagaimana gue khawatir dengan kondisi Ara. Emi paham bagaimana kedekatan gue dengan Ara, gue hanya khawatir nanti Emi malah memilih mundur dan meminta gue fokus dengan Ara daripada dia. Emi itu orang yang rela berkorban untuk pertemanan, apalagi ketika dia tau kalau gue sedang khawatir dengan sahabat gue, Emi pasti akan memaksa gue untuk nggak memikirkan dia. Itu sudah pasti.

Walaupun gue juga nggak pernah bisa menebak apa jalan pikiran Emi. Satu yang gue tau saat ini, posisi gue di hubungan kami pun sepertinya sedang tidak baik. Gue yang penuh kesalahan pada Emi ini sedang bersaing dengan sosok lain yang seharusnya nggak pernah kembali, Fazli, mantan pertama Emi itu. Gue khawatir, kalau misalnya Emi kembali menjauh sama gue, gue nggak akan bisa mengembalikan Emi ke pelukan gue lagi.

Oke gue mungkin bisa kembali dekat dengan Ara, tetapi gue akan kehilangan Emi. Memangnya gue lebih membutuhkan Ara daripada Emi di hidup gue? Gue paham, kalau pacar itu bisa dicari lagi tetapi sahabat itu nggak akan bisa gue temuin lagi. Tetapi apa pacar seperti Emi ini mudah untuk dicari lagi? Apa Ara yang identik dengan Emi ini akan membuat gue merasakan getaran yang sama seperti ketika gue dengan Emi? Utamanya sih memang Ara juga merasakan dan menginginkan hal yang sama dengan gue?

Eh, gue nggak berpikir untuk mencintai Ara lho. Apa sih yang sedang gue pikirkan saat ini. Atau….gue memang berpikir untuk mencintai Ara?

---

Gue berangkat berboncengan motor dengan Emi ke rumah Tante Lili. Gue berusaha kembali fokus pada Emi, tanpa sedikit pun membahas Ara. Apalagi kalau gue tanpa sengaja memanggil Emi dengan sebutan Ara. Kata ‘Emi’ dan ‘Ara’ itu jauh. Ga akan mungkin salah sebut. Bisa rusak dunia persilatan. Haha.

Di rumah Tante Lili, kami disambut dengan ramah oleh Tante Lili dan keluarganya. Mereka juga menyambut Emi seperti Emi adalah bagian dari keluarga kami sejak lama. Ramah dan tidak membuat Emi canggung. Gue memperhatikan kalau Tante Lili seperti menerima Emi sepenuhnya. Beliau terlihat senang sekali berinteraksi dengan Emi. Sepertinya beliau bisa melihat kalau Emi memang sangat tepat dan cocok untuk gue.

Tidak lupa, Tante Lili terus memberikan compliment kepada Emi bagaimana beliau sangat terkesan dengan diri Emi ketika gue menceritakan garis besar sosok Emi yang gue kenal ini. Beliau juga mengutarakan rasa senangnya melihat bagaimana sikap sopan dan bahasa Emi yang santun. Dia nggak tau aja gimana Emi kalau lagi berkata-kata ‘mutiara’. Bikin pingin masukin mulutnya ke Dinas Sosial biar dimasukin rehabilitasi. Haha.

Tante Lili segera menyerahkan laptop pesanan gue tersebut. Beliau sendiri yang meminta kami untuk segera pulang, bukan karena beliau nggak betah dengan keberadaan kami. Lebih tepatnya meminta gue untuk segera mengantarkan Emi pulang ketika melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam. Selain concern dia karena faktor kesehatan (karena motoran malam hari) dan faktor keamanan juga untuk kami. Bawa dus laptop baru, naik motor, di jalanan ibu kota? Kami seakan sengaja mengundang kejahatan mendekat. Kami segera berpamitan dengan beliau dan keluarga.

Semenjak di kantor barunya, Emi selalu punya cerita. Cerita Emi memang selalu menemani perjalanan kami, dia nggak pernah berdiam diri atau tidur ketika dalam perjalanan kami. Sejauh apapun perjalanan kami, dia pasti nggak akan berhenti bercerita. Pernah sesekali dia meminta untuk istirahat ketika kami diperjalanan, tetapi itu membuat gue rindu dan gue akan meminta dia kembali bercerita ketika dia sudah bangun.

Kalau begini, berarti gue masih tetap mencintai Emi kan? Bukan Ara?

Cerita-cerita Emi selalu membuat gue ketagihan mendengarkan. Bertahun-tahun gue bersama Emi, tiada hari tanpa cerita baru. Cara Emi bercerita itu bisa membuat gue ikut terbawa emosi, apalagi Emi suka menambahkan gimmick dan detail yang jelas banget. Hal itu membuat kita seakan ada di momen yang sama seperti Emi.

Cara Emi melihat sekitar pun berbeda. Dia bisa melihat hal yang biasa menjadi sesuatu yang unik. Terkadang hal tersebut membuat gue iri, bagaimana dia dengan kreatifnya bisa berpikir unik seperti itu. Mungkin kalau dia mencoba untuk jadi stand-up comedian dan open mic, dia bisa pecah mungkin materi yang dibawakannya.

Semenjak di kantor barunya juga, gue dan Emi punya kebiasaan baru. Memang ini gue yang buat, karena gue nggak mau hanya sebentar ketemu dengan Emi. Fakta kalau Emi itu mandiri dan pernah menghindar dari gue membuat gue khawatir gue jadi jarang ketemu sama dia. Apalagi kalau mengikuti jadwal kerja dia, gue hanya bisa bertemu dengannya di Sabtu sore dan hari Minggu. Sisanya dia banyak menghabiskan waktu di perjalanan dan di kantor barunya.

Jadi gue meminta dia yang sudah naik kereta, untuk turun di stasiun dekat kantor gue, kemudian gue akan meminta dia untuk pulang ke rumahnya dengan berboncengan sama gue naik motor. Terdengar nggak praktis ya? Padahal kan kalau dia naik kereta, dia bisa lebih cepat untuk sampai di rumah ketimbang harus selalu memaksakan diri balik bareng gue? Ini perjuangan kami untuk terus bisa menyempatkan diri ketemu setiap hari.

Gue merasa nggak cukup hanya komunikasi lewat HP. Lagipula komunikasi lewat hp itu terkesan seperti LDR. Gue nggak akan pernah mau LDR dengan Emi. Titik. Kalau bisa ketemu setiap hari, kenapa nggak?

Selama perjalanan kami pulang beberapa minggu ini, gue sudah dapat membayangkan bagaimana kondisi kantor Emi. Emi sudah menceritakan bagaimana perjuangan dia di hari-hari awalnya dia di kantor barunya. Emi ini orang yang memang nggak bisa diem aja menerima keadaan kalau dia belum ada yang dikerjain di awal dia bekerja di sana.

Dia akhirnya mencari tau sendiri bagaimana dia bisa paham seluruh ruang lingkup pekerjaan dia di sana, seorang diri. Gue sudah tidak meragukan kemampuan dia yang ini. Tidak perlu gue pertanyakan lagi bagaimana cara dia melakukannya. Gue percaya sama dia.

Dari cerita-cerita Emi selama ini, gue dikasih tau kalau kini dia tergabung dalam tim. Satu tim dia ini terdiri dari 9 orang yang di dalamnya termasuk Bimo dan Debby tentunya. Emi nggak lagi menjadi pemimpin di timnya karena kini dia sudah memilih seorang Manajer, namanya Pak Edward. Gue lega sih, Emi jadi nggak harus pusing sendirian untuk menyelesaikan pekerjaan dia.

Fakta kalau Emi nggak bisa menyetir motor sepertinya menjadi penyebab dia kesulitan juga untuk beradaptasi disana. Soalnya gue yakin pekerjaan dia banyak di lapangan. Jadi agak sedikit susah memang kalau Emi harus terus meminta tolong antara Bimo atau Debby yang bisa mengendarai motor.

Emi sebenarnya bisa melakukan apapun apalagi pekerjaan lapang yang harus jungkir balik panas-panasan dibawah teriknya matahari utara ibukota. Itu nggak menjadi masalah. Dia nggak takut kulitnya kusam dan terbakar. Gue pun nggak pernah mempermasalahkan.

Dari jaman gue pacaran dengan yang sebelum-sebelum Emi pun gue nggak pernah mempermasalahkan soal penampilan. Justru gue lebih nyaman kalau pasangan gue tampil apa adanya, nggak banyak make up dan polesan, serta pakaiannya pun kasual aja. Natural lebih indah menurut gue yang tipenya nggak mau ribet ini.

Karena belum banyak pekerjaan di lapang, maka Emi lebih banyak di kantor dan berinisiatif untuk banyak bertanya dengan admin divisi yang bernama Rina. Lucunya, anak ini setiap ditanya ini itu selalu jawabannya nggak tau. Iya, nggak tau.

Pertanyaannya adalah, anda selama kerja ini ngapain aja? kata Emi dia udah pegang admin ini selama kurang lebih dua tahun. Dua tahun anda bekerja, tapi nggak pernah tau apa yang anda lakukan? Waw, pintar sekali anda.

Sementara diluar sana banyak calon pekerja yang dapat bekerja dengan baik tapi nggak dapat kesempatan kerja di PT besar seperti itu. Anda malah menyia-nyiakan kesempatan dan membuang waktu anda dengan bilang nggak tau tentang seluk beluk pekerjaan dan apa yang sudah anda lakukan? Mantap!

Sebenernya yang membuat gue agak degdegan setiap kali Emi mau bercerita urusan kantor barunya adalah urusan lain di luar pekerjaan. Mungkin karena fakta kalau Emi kembali bersama Bimo dan Debby. Susah payah gue menjaga Emi selama ini dari teman-temannya itu, eh Emi malah kembali lagi bersama mereka. Semoga saja nggak ada yang aneh-aneh lagi dari teman-temannya itu. Seharusnya mereka sudah mau berubah ketika mereka sudah bekerja.

Kembali dekatnya Emi dengan Debby ini lebih membuat gue takut dibandingkan kedekatan Emi dengan Bimo. Banyak informasi tentang orang-orang di kantor dan tentunya keburukan mereka, diceritakan oleh Debby. Kenapa keburukan? Debby bakal cari bahan apaan lagi kalau bukan keburukan orang? Orang yang udah buruk pasti nyari celah buruk juga dari orang lain. Tujuannya supaya kalau dia dikatain buruk, dia juga bisa nunjuk orang lain dengan mengatakan keburukan orang tersebut. Tipikal kang adu domba.

Gue sudah mewanti Emi agar selalu jaga jarak dengan Debby dan juga Bimo, sekedar untuk jaga-jaga. Gue sudah kasih pelajaran dan contoh langsung dengan cara posting foto gue dengan Mila tempo hari. Bagaimana ternyata pancingan gue sukses membuat Emi termakan omongan negatif teman-temannya (lagi).

Memang kesannya jadi gue yang salah karena nggak ngomong dulu. Namun kalau ngomong dulu itu namanya bukan ngasih pelajaran dan pengingat untuk membuka mata Emi lebar-lebar tentang toxic-nya lingkaran pertemanannya, tapi pamitan.

Semoga Emi kali ini paham bagaimana concern gue terhadap dia di kantor barunya ini.

--

Sesampainya kami di rumah Emi, gue segera unboxing laptop baru gue tersebut. Excited dan degdegan banget rasanya. Gue nggak nyangka jalan gue untuk kembali memiliki laptop baru bisa dipermudah oleh Tuhan.

Ketika gue membuka laptop gue, gue nggak kaget dengan bentuk laptopnya yang ternyata sama persis dengan laptop gue yang hilang sebelumnya dan laptop Emi. Ya mungkin karena merk satu ini selalu mengeluarkan model laptop yang itu-itu saja. Bedanya laptop baru gue ini lebih berat dan lebih besar karena memang dimensinya yang lebih besar juga.

“Alhamdulillah Mi. Akhirnya kesampaian juga punya laptop ini. Semoga awet deh ya Mi. Hehe.” kata gue sumringah.

“Amiiin. Mudah-mudahan makin produktif ya Zy dengan laptop ini. Jadiin pelajaran tuh pengalaman dari laptop lama. Biar nggak kejadian lagi. Diambil juga hikmah kehilangan laptop lama. Biar lo mau lebih bersabar ketika ada musibah. Insha Allah pasti diganti sama yang jauh lebih baik nanti di masa depan. Ya kayak sekarang ini buktinya.” Kata Emi.

“Iya, gue pasti selalu inget semua kejadian dan belajar dari pengalaman kemarin. Gue juga udah janji buat ngelunasin ini sampai akhir taun. Gue yakin bisa kok.”

“Semoga Zy. Utang itu wajib di selesaikan loh. Ok?”

“Beres Mi….”

“Zy, gue ada bahasan menarik nih tentang beberapa kejadian di kantor.”

“Hmm.. Soal apaan dulu nih? Kayaknya nih lebih ke personal daripada kerjaan ya kan? Haha. Apalagi personil di divisi lo kali ini kan pada ajaib-ajaib gitu.” Perbincangan mengenai kehidupan di kantor barunya Emi kembali berlanjut. Lumayan mengisi waktu sambil menunggu laptop gue siap digunakan.

“Tau aja lo! Haha.” Kemudian Emi ketawa sendiri dengan apa yang ada di pikirannya.

“Lah emang lucu ini? Kok lo udah ketawa aja? Haha.” Gue jadi ikutan ketawa karena dia. Gue bilang kan kalau ketawa Emi ini bikin nagih dan membuat kita ikut tertawa karenanya.

“Soal si Debby….” Ekspresi dia kemudian berubah menjadi lebih serius.

“Kenapa lagi dia di kantor baru? Jadi koruptor apa jadi pelakor? Haha.”

Tetapi Emi tidak menanggapi bercandaan gue saat itu. Gue merasa ada pertanda nggak baik dari bahasannya ini. “Tapi sebelumnya ada yang mau gue ceritain dulu ke lo… Duuh mulai darimana ya? Gue bingung mau cerita darimana nih…”

“Udah ceritain aja semuanya….. Gue dengerin kok semuanya.”

“Hmm.”

“Ayo buru. Nanti keburu malem….”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 19:10
Mantul dah, dua2 nya update awwkwk

sering2 aja update ye bang wkwk
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan nyahprenjak memberi reputasi
2 0
2
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 19:10
Quote:Original Posted By adityasatriaji
@yanagi92055 @tom122 usahain HB stabil bre bini kemaren mpe kena transfusi krn HB rendah

Kang adit kemana aja kok gak keliatan?
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 19:12
Quote:Original Posted By nyahprenjak
Ayuk cepetan di follow... emoticon-Smilie

Mbak nyah kok lama gak keliatan? Sibuk tah?
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan nyahprenjak memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 19:13
Quote:Original Posted By tom122
@adityasatriaji @yanagi92055 siap om" skalian. iya ini lg rutin minum jus beet sama kmrn smpe infus venofer buat bantu. ya semoga lancar deh nanti biar bisa normal lagi. Aamiin. mksh ya om" skalian hehe

Amin. Moga lancar dah semuanya ye bang tom hehehe
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan adityasatriaji memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 19:27
Quote:Original Posted By tom122
Duh ketauan sama gadis lg hehe. Aamiin makasih ya dis hehe

Apasih yg aku gak tau dari bang tomemoticon-Embarrassment

emoticon-Goyang
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan tom122 memberi reputasi
2 0
2
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 19:40
Quote:Original Posted By adityasatriaji
Baru repot nih dis pasca anak kedua lahir

Wah selamat kang adit.
Btw kok bisa kompakan sama bang @tom122 yak? emoticon-Embarrassment

Tinggal nunggu bang ija @yanagi92055 ajanih kayaknya
emoticon-Goyang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
28-06-2020 21:38
Karena udah ga lama mampir di om ija jadi banyak ketinggalan part deh emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan adorazoelev memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
29-06-2020 12:06

Menyangkal

“Jadi gini Zy. Udah lama sih kejadiannya. Jadi awalnya itu Lidya ngehubungi gue Zy. Dia cerita ada gosip di kampus kalau ‘Debby itu harusnya ada di posisi Emi, untuk mendampingi Bang Ija. Bang Ija itu juga tadinya ngejar-ngejar Debby mati-matian. Tetapi karena ga bisa dapetin Debby yang udah punya Bang Irfan dan Bang Herman, makanya Bang Ija jadi berpaling ke Emi. Soalnya Emi saat itu jomblo dan galau mulu. Jadi gampang didapetin… ’ Gue denger begitu nggak terima Zy. Ini udah dikasih bumbu dan pengawetnya banyak banget! Akhirnya gue konfirmasi lah ke Debby.”

“Terus lo ngehubungin Debby duluan jadinya?” tanya gue penasaran.

“Iya. Pas gue nelepon dia, gue konfirmasi ke dia kenapa bisa-bisanya ada gosip kayak begitu? Dia jelasin begini ‘Mungkin kalau nggak ada Emi dan gue membuka kesempatan untuk Kak Ija, gue PASTI UDAH ADA DI POSISI Emi sekarang. BUKAN EMI. Gue NGGAK AKAN NGERASA sendiri kayak sekarang. DAN EMI, bisa dapetin yang lebih baik UNTUK DIA! ’”

“Berarti dia ngarep banget dong buat mendampingi gue?”

“Bukan ngarep, tapi dia percaya sama omongan dukunnya dia…”

“Dukun?!” gue nggak percaya apa yang gue dengar barusan.

“Jadi begini, pas banget setelah kejadian itu, dukun kepercayaan keluarga dia mendadak menghubungi dia. Gue nggak tau sih ini cuma akal-akalan dia kalau memang mendadak kebetulan menghubungi dia atau dia duluan yang menghubungi dukunnya itu…..” Emi mengangkat piring yang selesai dipakai makan oleh gue.

Emi lalu lanjut bicara, “dia akhirnya curhat sama beliau tentang kondisi dia yang ternyata sesuai sama apa yang udah diprediksi sama beliau. Dia bilang jalan bakalan kayak begitu biar Debby dan Emi sama-sama bisa belajar dan memilah siapa yang harusnya ada di masa depan. Dukunnya juga bilang kalau Debby harus bantuin gue Zy.“

“Dukun mau bantuin apaan coba?”

“Hmm. Beliau minta Debby nyampein pesen dia ke gue tentang penerawangannya kalau…. Hmm. Seumur hidupnya, seorang Ija kalau nantinya menikah dengan Emilya, dia NGGAK AKAN PERNAH SETIA dan AKAN SELALU NYAKITIN HATI EMI. Kalau Emi nggak kuat, Emi bisa dibikin mati berdiri sama kelakuan Ija saking brengs*k-nya Ija.”

“APA-APAAN ITU BANGS*T! BISA-BISANYA DIA BILANG BEGITU! ITU FITNAH BESAR! ITU JUGA NAMANYA MERUSAK NAMA BAIK GUE LAH! BRENGS*K JUGA ITU DUKUNNYA! Terus lo percaya gitu aja Mi?” intonasi gue meninggi mendadak.

“Ya nggak lah Zy… Apalagi pas dia bilang kalau jalan terbaik untuk bikin orang kayak Ija sadar itu cuman dia bisa nemuin orang yang bisa handle dia. Dan mungkin orang yang bisa bantu Ija itu ya Debby! Jelas itu namanya mengarahkan bukan? Gue nggak seharusnya untuk percaya kan Zy?

“Jangan lah! Gila! Musyrik itu namanya kalau lo percaya omongan dukun kayak begitu! Lagian Kok bisa-bisanya jaman sekarang ada yang punya dukun di keluarga mereka dan masih percaya omongan dukunnya itu? Gila asli! Gila emang temen lo!”

“Gue juga nggak ngerti kenapa dia begitu, Zy… Maaf ya gue baru cerita sekarang.”

“Kalau lo cerita begini lebih dulu, gue nggak akan izinin lo untuk masuk ke kantor baru lo itu karena ada Debby di sana. Bangs*t banget jadi orang!”

“Zy. Omongan dukunnya beneran salah kan? Kamu nggak akan kayak begitu kan seumur idup kamu?”

“Nih begini nih yang gue nggak mau. Kalau apapun ada omongan jelek tentang gue, pasti ngerusak mindset lo dan bikin rusak kepercayaan lo yang emang udah rusak tentang gue. Gue sekarang nggak ngapa-ngapain. Gue udah kebanyakan yang dipikirin dengan semua masalah gue, masa gue masih mikir buat nyakitin lo lagi? Gue aja susah payah ngedapetin lo eh gue malah begitu.”

“Ya kali aja…”

“Berarti lo secara nggak langsung percaya kata-kata si anj*ng itu dong? LO MAU JADI MUSYRIK EMANG SEKARANG? HAH?!” ujar gue dengan nada sedikit menghentak.

“Nggak lah! Tapi kan segala kemungkinan masih bisa terjadi kan di masa depan? Lo sendiri yang suka bilang ‘Siapa yang tau di masa depan?’ Gimana gue bisa percaya begitu aja?”

“Mi….. Aku itu di sini sedang mencoba untuk memperbaiki keadaan kita loh. Tolonglah kamunya jangan begini mulu. Kamu selalu ngarahin aku ke arah yang bahaya. Ibaratnya, aku lagi anteng-anteng aja gara-gara nggak mau kecebur sungai lagi, eh kamu malah arahin aku ke pinggir sungai terus kamu dorong aku ke sungai itu lagi. Ya akhirnya aku bakalan hanyut lagi…. Gimana sih? Bukannya kamu bersikap bodo amat sama omongannya Debby dan kasih kesempatan untuk percaya sama aku, eh kamu malah ragu dan seakan kasih aku jalan untuk nyakitin kamu lagi.”

“Aku kan cuma mau antisipasi…”

“Ini bukan mau antisipasi namanya. Tetapi percaya sama omongan dukun bangs*t itu dan kamu secara nggak sadar juga udah nuduh aku jadinya. Aku nggak ngapa-ngapain, tapi dipancing gini terus. Giliran beneran aku iyain, kamunya nanti pasti baper nggak karuan. Mau kamu apaan jadinya?” Emosi gue terus meningkat.

“Aku cuma mau mastiin aja kalau nggak akan ada lagi. Kamu mau setia sama aku.” Ujarnya lirih sambil memejamkan mata.

“Ya semua butuh proses Mi. Nggak bisa instant. Emangnya mie? Makanya kamu juga bantu aku dong.”

“Iya….”

“Yaudah nggak usah ngebahas dukun-dukunan itu lagi. Ayo terus lanjutin. Tadi kan mau bahas kejadian di kantor? Kenapa jadi malah ngarah ke aku sih?”

“Iya. Ini aku lanjutin.”

Emi kembali bercerita bagaimana setelah kejadian curhatan urusan dukun tersebut, Debby kembali menghubungi dia untuk curhat. Gue bingung sama Emi, kenapa masih mau dengerin curhatan teman toxic-nya itu.

Emi cerita kalau Debby sudah kembali mencari pengganti dari dua pacarnya sebelumnya. Iya, cewek secantik Debby itu pada akhirnya ternyata ditinggalin sama kedua pacarnya yang dia pacarin sekaligus. MAMPUS! Dia nggak bisa ngerusak hubungan gue sama Emi, eh hubungan dia juga akhirnya rusak dan dia ditinggalin.

Gue udah prediksi sih, cewek kayak Debby ini bakalan gampang untuk ganti cowok baru lagi. Bener aja, dia curhat ke Emi kalau ternyata dia sedang dekat dengan dua orang cowok di kantornya. Pertama dengan seorang Supervisor dan satu lagi awalnya Debby nggak cerita apapun detailnya. Debby hanya bilang kalau keduanya suka sama Debby tetapi Debby hanya menaruh hati pada si Supervisor tersebut. Saat itu Emi memutuskan untuk nggak melanjutkan curhatannya dengan Debby tersebut.

Tetapi ketika dia sudah bergabung di kantor barunya, diperkenalkan dengan seluruh timnya, dan menjalani hari-hari di kantornya, akhirnya Emi tau siapa cowok yang dimaksud Debby tersebut. Yang bikin gue ikut kaget adalah fakta kalau Supervisor yang dimaksud Debby adalah Supervisor tim mereka yang notabene sudah berumah tangga dan dikaruniai empat orang anak. Sedangkan cowok lainnya yang dimaksud Debby adalah Security di kantornya, yang merupakan pacar dari Admin mereka, si Rina. Anak ini benar-benar tidak berubah. Bahkan lebih parah.

Lucunya yang gue dapetin saat ini adalah ketika dia bersikap kayak gitu, dia masih sempet-sempetnya ngingetin Emi kalau gue bukan orang baik dan bakalan meleng seumur hidup gue kalau terus berpasangan dengan Emi? Terus dia yang jadi orang ketiga di rumah tangga orang dan hubungan orang itu merasa dirinya lebih baik gitu? Gila banget ini anak.

Debby ternyata nggak berubah. Masih sama aja kayak dulu. Dulu dia sukses membuat dua sahabat baik, Herman dan Irfan, saling bermusuhan hingga kini, sekarang malah lebih gila lagi. Gue tau itu sangat salah, tapi gue nggak mau menghakimi Debby karena dia pasti punya alasan tersendiri dengan perbuatannya yang seperti itu.

“Jadi kalau begini ceritanya, berarti si Debby upgrade diri lah namanya! Dulu kepingin ngerusak hubungan orang yang lagi pacaran dan ngerusak persahabatan orang…. Nah sekarang target diri dia meningkat. Dia milih buat ngerusak hubungan pernikahan orang! Haha. Ini baru namanya the next level of kebrengs*kan! Kayak nggak puas gitu kalau nggak ngerusak hubungan orang! Haha. Sumpah gue nggak bisa bayangin kalau misalnya Debby digrebek sama bininya Pak Irwan!” ujar gue sambil tergelak.

“Ya jangan sampe lah Zy. Kasian.” Kata Emi mengiba.

“Kok kasian? Kasian bininya Pak Irwan?”

“Ya kasian Debby-nya lah. Kan dia yang digrebek. Who knows ternyata dia sebenernya nggak tau----”

“Nggak tau apaan? Nggak tau kalau Pak Irwan udah bapak-bapak? Nggak tau kalau Pak Irwan udah punya istri dan anak emapt? Bimo aja lho kalau Pak Irwan masih berkeluarga. Masa cewek macem Debby yang kerjaannya ngegosip di kantor malah nggak tau apa-apa? Masa iya lo masih mau mikir Debby nggak tau? Lo demen banget sih ngebelain Debby mulu! Udah tau disakitin sama dia terus juga! Rusak pikiran lo!”

“Lah? Kenapa malah gue yang diomelin sih?”

“Ya abis masih aja ngebelain si Debby bangs*t itu! Intinya dia itu salah. Apa yang dia lakuin sekarang ini salah! Udah stop. Nggak usah dibelain lagi! Lo aja marah kan kalau gue ketauan deket sama cewek lain dan lo berani nunjuk kalau gue salah. Terus kenapa lo udah tau kalau temen lo itu mau ngerusak hubungan orang tapi tetep teruuuus aja dibelain? Denial itu namanya!”

“………”

“Diem kan lo? Udahlah. Emang bangs*t aja pada dasarnya temen lo itu! Haha. Gue doain, biar dia digrebek sama istrinya Pak Irwan! Biar mampus! Enak aja ngatain gue nggak akan pernah setia. Kayak dia orang bener aja! Bangs*t! Si dukunnya tau ga tuh kalau si Debby punya bibit jadi pelakor di masa depan? Haha.”

“Ya mana aku tau. Udah ah jangan bahas dia begitu!”

“Nah kalau dukunnya nggak tau, berarti fix dukunnya kang tipu! Haha. Lagian hari gini masih percaya begituan. Masih jaman banget yak?”

Kami kembali fokus dengan laptop gue. Kami membahas dan mengoprek laptop gue biar senyaman laptop lama gue. Ketika gue sedang fokus dengan laptop gue, Emi tertidur di samping gue. Mendadak gue kepikiran sesuatu.

Gue jadi takut sendiri dengan ramalan dukun tersebut. Walaupun gue nggak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan dukunnya Debby tersebut. Hanya saja, gue tetep takut, apakah gue akan kuat dan tahan dengan godaan diluar sana yang bakalan makin terus luar biasa?

Emi pernah bilang kalau gue memiliki banyak kemampuan, bahkan sebenarnya gue sendiri nggak sadari. Apalagi dengan status akademik gue yang akan segera bertambah, itu akan membuat gue semakin kinclong di mata beberapa orang. Hanya Emi mungkin yang menganggap gue biasa-biasa aja. Ya wajar, karena ibaratnya, gue dipoles jadi kinclong kan sama dia.

Kemampuan menyanyi gue habis-habisan diasah lagi. Kemampuan gue menjadi seorang vokalis band sekaligus leader di band juga Emi yang asah lagi. Akademis? Inilah yang paling menonjol. Gue benar-benar habis-habisan digeber sama Emi. Umur boleh lebih tua gue. Tapi dari sisi logika berpikir akademis, pola belajar, cara menangani tugas-tugas yang ribet, sampai bikin presentasi, semuanya dipoles dan dibabat habis-habisan oleh Emi sampai titik dimana kemampuan tersebut bisa gue optimalkan.

Gue selalu nurut sama semua instruksi dia, karena gue sadar kemampuan gue jauh di bawah dia. Makanya gue mau coba mengejar ketertinggalan gue, walaupun nggak akan pernah setara dengannya sampai kapanpun. Ya setidaknya gue sudah berusaha untuk mengejar kemampuan akademis Emi.

Dulu gue sudah cukup bangga bisa ikutan dalam tim yang mewakili kampus ikutan lomba sains nasional, berangkat ke luar negeri karena menulis essay ilmiah, dan beberapa prestasi akademis lainnya. Tapi setelah ketemu sama Emi, gue berasa jadi nggak ada apa-apanya sama sekali.

Sayangnya, Emi adalah tipe orang yang nggak mau muncul dipermukaan. Dia jago dibelakang layar, mumpuni mengkreasi, cerdas mengarahkan, dan pintar memoles. Sementara gue sangat percaya diri kalau tampil dihadapan publik. Jadi, kolaborasi antara gue dan Emi itu seperti sutradara dan aktor.

Hal inilah yang membuat gue takut menjadi terbuai seperti yang sudah-sudah. Gue selalu takut karena orang selalu berpikir gue mampu dalam banyak hal. Padahal, semua itu bisa gue optimalkan kalau ada Emi disamping gue. Emi seperti sukses mencetak gue dengan atribut yang sekarang gue miliki, yang menurut orang oke banget. Apalagi, mungkin bagi sebagian orang atribut ini adalah modal besar banget untuk mendapatkan apa yang gue mau, terutama pasangan. Dilema ini terus berlangsung dalam benak gue.

Bukannya gue kebingungan mau cari siapa lagi, tapi justru sebaliknya. Ketika gue anteng-anteng aja, ada aja godaan yang masuk. Seperti contoh Fani kemarin yang sangat nggak terduga. Kejutan-kejutan seperti itulah yang sangat gue takutkan. Gue takut nggak bisa mengendalikan diri dan malah terbuai yang pada akhirnya membawa pada kehancuran hubungan gue dengan Emi, yang sebenarnya sudah banyak retakan dimana-mana.

Saat gue berusaha menambal retakan-retakan yang gue buat, selalu saja ada yang berusaha untuk merubuhkannya kembali. Caranya pun macam-macam dan kadang nggak terduga. Menurut gue, inilah ujian yang sebenarnya. Ketika diberikan kesusahan, itu ujian yang diketahui dan disadari. Tapi kalau ujiannya itu seperti rezeki berlebih atau kemudahan-kemudahan lainnya, ini yang bahaya. Karena kita nggak tau dan nggak sadar kalau sebenarnya sedang diuji.

“Gue cuma takut aja Mi. Kadangkala gue berpikir, dengan lo udah moles gue jadi kayak gini, ini malah jadi bumerang buat gue, dan akhirnya ngefek terus ke hubungan kita.” Ujar gue perlahan. Gue mengelus pipi dia perlahan. Gue nggak mau membangunkan dia. Dia pasti udah cape banget. Perjuangan dia untuk bekerja lebih berat daripada gue, mengingat jauhnya kantor dia dan harus berganti moda transportasi sampai beberapa kali setiap harinya.

“Itu ujian buat lo Zy.” Emi ternyata belum tertidur pulas. Emi masih bisa mendengar apa yang gue bilang tadi. “Tuhan tau yang terbaik buat lo, makanya lo dikasih ujian kayak begitu terus. Godaan berupa kenikmatan dunia yang sulit untuk lo tolak. Ujian dari Tuhan itu nggak melulu berupa kesusahan. Tetapi juga bisa berupa kenikmatan…… Kenapa? Ya bikin lo nanti jadi lupa bersyukur dengan nikmat-Nya. Ujian lebih berat itu kalau berupa kenikmatan, daripada berupa kesusahan.”

“Makanya Mi. Gue takut gue nggak sadar kalau gue sedang diuji sama Tuhan. Secara mental sepertinya gue juga belum siap yang begini. Apalagi yang lebih berat dari ini? Gue takut nanti kalau pas mau menikah, hubungan kita malah makin kacau. Gue takut banget kehilangan lo lagi Mi.” suara gue bergetar.

“Zy, gue itu sayang sama lo, selalu. Dan gue yakin kalau emang lo mau serius, pasti Tuhan bakalan kasih jalan. Bakalan ada kemudahan untuk usaha lo. Buktinya, ketika lo stuck pas laptop lo hilang, akhirnya lo dapat solusi dengan adanya Tante Lili. Kenapa? Karena lo serius berdua dan tulus niatnya ketika lo mau beli laptop lo itu. Lo pengen pake laptop lo untuk menyelesaikan tesis lo, lo mau serius ngerjain kerjaan lo, dan keseriusan lainnya yang bisa terbantu dengan adanya laptop itu. Akhirnya apa sekarang? Lo bisa kan dapet laptop lo itu?”

“……..” Gue nggak bisa menyangkal apapun lagi omongan dia. Apa yang dia bicarakan itu udah benar.

“Nah di hubungan kita pun sama Zy. Kalau emang lo serius dan beneran sayang sama gue, pasti kita dikasih kemudahan nantinya Zy. Cobaan kayak cewek-cewek yang lebih sempurna buat kita, jadi nggak ada harganya dimata lo. Ya kalau lo mau berusaha untuk benar-benar berubah. Nggak malah jadi mencari kemudahan untuk sedikit menikmati dikelilingi dan dikejar oleh mereka. Kalau misalnya suatu saat nanti kita dilanda kesusahan, jangan malah lo berpaling dari gue dan mencoba mencari pelarian ke mereka… Tetapi jujur dan terbuka sama gue, biar kita bisa saling memperbaiki diri kita berdua dan mencari solusinya bersama….”

“Iya Mi, gue ngerti. Makasih ya Mi udah selalu ngasih solusi terbaik kalau gue lagi kebingungan kayak begini. Lo itu selalu bisa bikin gue semangat lagi, pede lagi sama kemampuan gue, dan bikin gue percaya sama apa yang ada di dalam diri gue.”

Gue memeluk Emi dengan erat. Gue berniat di dalam hati gue kalau gue akan segera membicarakan hal-hal yang lebih serius lagi. Gue merasa ini waktu yang tepat. Gue merancang di dalam pikiran gue, akan gue mulai darimana omongan ini…

Tetapi kemudian… Ketika gue baru aja mulai merancang omongan, gue mendapat telpon dari Mama.

Tanpa mengucapkan salam apapun, Mama langsung marah-marah sama gue. Mama nyariin dimana keberadaan gue. Mama marah-marah Mama nggak suka gue masih aja pulang terlambat padahal Mama sudah mau berangkat umroh. “KAMU MASIH ADA MAMA AJA, NGGAK BERUSAHA PULANG CEPET BUAT NEMENIN DANIA? GIMANA NANTI KALAU MAMA LAGI UMROH? NGGAK PULANG-PULANG KALI KAMU! PACARAN TERUS AJA SAMA EMI! DANIA ITU SENDIRIAN JA! KAMU TUH MIKIR KEK!”

Sukses besar membuat mood gue rusak.

Dania yang LDR kenapa malah gue yang susah. Anj*ng banget kan? Bukannya gue nggak mau menjaga adik gue, tetapi cara menitipkan Dania kenapa harus seperti itu? Kenapa seolah gue ini adalah orang yang nggak becus jika beri amanah?

Kenapa juga menjadikan Emi sebagai penyebab ketidakbecusan gue ketika Emi nggak melakukan apapun yang merugikan mereka? Kalau emang mereka nggak percaya, ngapain nitipin ke gue kan? Toh gue udah dianggap susah diatur, nggak jelas hidupnya, dan segala-gala yang negatif lainnya. Sekarang malah masih minta tolong gue.

Udah untung gue masih menyanggupi menemani Dania, walaupun nggak 24 jam waktu gue fokus sama Dania. Gue yakin, Emi pasti tau kalau dia menjadi korban kambing hitam perubahan sikap gue oleh keluarga gue. Tapi emangnya ada gitu Mama dan Dania minta maaf dan terima kasih ke gue dan Emi selama ini sebagaimanapun kami ada untuk mereka? Nggak ada. Adanya malah gue selalu disalahkan dan Emi jadi penyebab kesalahan gue itu.

SUAMINYA MANA ANJ*NG?! DANIA ITU UDAH PUNYA SUAMI! KENAPA GUE YANG SELALU HARUS STANDBY DAN BERTANGGUNG JAWAB BANGS*T?! MEREKA SENDIRI YANG MEMILIH BUAT LDM! YA DITERIMA LAH KONSEKUENSINYA! KENAPA MEREKA YANG MUTUSIN TERUS GUE JADI YANG HARUS NANGGUNG BEBAN ATAS KEPUTUSAN GOBL*KNYA MEREKA ITU?! KEPUTUSAN ITU AJA DIBUAT ATAS DISKUSI MEREKA BERDUA, TANPA GUE. TAPI SETELAHNYA, GUE YANG KENA IMBASNYA! GUE YANG DISALAH-SALAHIN KARENA NGGAK SESUAI RENCANA MEREKA, PACAR GUE YANG DISALAH-SALAHIN, GUE YANG DIMARAH-MARAHIN! GUE UDAH KAYAK NGGAK BISA NENTUIN IDUP GUE SENDIRI AJA! KAN BANGS*T SEBANGS*T BANGS*TNYA ORANG INI NAMANYA. MANA INI KELUARGA GUE SENDIRI LAGI, ANJ*NG!

NYOKAP GUE MAU UMROH, KENAPA GUE YANG JADI RIBET SIH? NYOKAP MAKE ALASAN KALAU ADIK GUE HAMIL TUA, JADI GUE HARUS MENJAGA DIA. HANYA FOKUS SAMA ADIK GUE. NGGAK BOLEH GUE MIKIRIN EMI!

SUAMINYA MANA SEKARANG? ADA DIA NGOMONG SAMA GUE BUAT JAGAIN ISTRINYA KARENA DIA JAUH DI BANDUNG SANA? NGGAK ADA! SUAMINYA YANG TOL*L TAPI DI BANGGA-BANGGAIN INI NGGAK PERNAH ADA OMONGAN APAPUN SAMA GUE! DIA YANG NGGAK BIJAK BIKIN KEPUTUSAN KAYAK SEKARANG, MALAH DIBELAIN TERUS DAN NYARI CELAH BUAT NYALAHIN GUE! SEKARANG YANG NGGAK BISA DIANDALKAN SIAPA? YANG NGGAK JELAS SIAPA? YANG BODOH SIAPA? YA ADIK GUE DAN SUAMINYA LAH! BIKIN KEPUTUSAN GOBL*K NGGAK PAKAI RUNDINGAN DAN SOK NGERENCANAIN SENDIRI! UJUNG-UJUNGNYA NYUSAHIN GUE AJA! BANGS*T!

UDAH GITU NYOKAP GUE JUGA JADINYA MENGIYAKAN SEMUA OMONGANNYA ADIK GUE YANG PENUH BUMBU KARENA ALIBI HORMON IBU HAMIL JUGA HARUS GUE MAKLUMI! GUE YAKIN, NGGAK ADANYA RESTU DARI NYOKAP GUE TENTANG HUBUNGAN GUE DAN EMI PASTI KARENA BUMBU TAMBAHAN DARI DANIA JUGA!

Amarah gue sangat memuncak malam itu. Gue juga pulang dengan tergesa-gesa dari rumah Emi. Ini sudah sangat nggak fair. Dulu gue pernah curhat ke keluarga kecil gue tentang keluhan gue terhadap keluarga besar Papa, tetapi malah gue disalahkan. Sekarang gue ada di posisi yang harusnya sama sekali nggak bertanggung jawab, tapi masih juga disalahkan karena nggak ‘be there’ buat adik gue.

Gue bukan suaminya. Gue kakaknya—yang selalu dianggap salah memilih jalan hidup oleh Mama dan adik gue sendiri. Gue juga selalu dalam posisi salah kalau gue melakukan apapun yang mereka inginkan. Jadi kapan gue dianggap sebagai orang yang bener? masa dengan nurutin kemauan mereka terus baru dianggap benar? dikiranya gue nggak punya cita-cita kali.

ANJ*NG! Gue mengumpat dalam hati.

Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
29-06-2020 13:01
Quote:Original Posted By adorazoelev
Mantul dah, dua2 nya update awwkwk

sering2 aja update ye bang wkwk


Quote:Original Posted By adorazoelev
Kang adit kemana aja kok gak keliatan?


Quote:Original Posted By adorazoelev
Mbak nyah kok lama gak keliatan? Sibuk tah?


Quote:Original Posted By adorazoelev
Amin. Moga lancar dah semuanya ye bang tom hehehe


Quote:Original Posted By adorazoelev
Apasih yg aku gak tau dari bang tomemoticon-Embarrassment

:goyang


Quote:Original Posted By adorazoelev
Wah selamat kang adit.
Btw kok bisa kompakan sama bang @tom122 yak? emoticon-Embarrassment

Tinggal nunggu bang ija @yanagi92055 ajanih kayaknya
:goyang


Haha doain aja yak..

Buset dia sibuk nyariin orang wkwkwk

Itu tandanya emang kompak luar dalem mereka sis. Alhamdulillah lah, yang penting pada sehat2 keluarganya..

Nunggu gue ngapain ni maksudnya? Haha
0 0
0
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
29-06-2020 23:40
apdetane berat....
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
30-06-2020 10:45
pernah gk sih Om ija nanya baik baik ke Ibunya om ija, apa sih yg bkin beliau "sensitif bgt" ke Kak Emi?
(selain dr perubahan pribadi Om ija sendiri yg dianggap mkin gk karuan)
mksd sy, pernah gk kak emi sengaja/tdk sengaja menyinggung beliau gitu...

Soalnya sy heran bgt, kok sampe segitu berlebihannya nyalahin kak emi gitu loh...
Kasian jg sm Om ija kan, karna psngan sendiri dinilai gk baik bahkan gk direstui sm ortua pst ada beban tersendiri
Diubah oleh exliminho
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
30-06-2020 17:30
nandain dlu ahhh emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

Sambil nunggu update terbaru

profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
30-06-2020 23:38
Team Ara...
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
01-07-2020 04:51
Dulu sebelum kuliah dan pacaran, lo anak rumahan y om?!
Setelah dtinggal bokap, terus kenal Emi, nyaman klo lg berdua sm dy, lebih bnyk ngabisin waktu sm dy, berakibat ada kecemburuan dr sisi keluarga inti (ibu dan adik).

Klo bener begitu, kita sama.. 😁
Nyokap ngerasa anak cowo yg sharusnya gantiin figur bokap, lebih baik banyak ngabisin waktu di rumah..
Tetapi di lain sisi, gw butuh perhatian jg yg mau ngertiin kondisi "beban" ini, yg ternyata di dapat dr pacar (yg skrg dah jd istri)..
Yg dlakukan cewe gw?
Bersikao baik ke keluarga inti gw, sering habisin waktu drumah gw, dan di bikin jd 50-50 porsi kunjungan klo pacaran, seimbang antara kerumah dy atau kerumah gw..
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
01-07-2020 19:10

Candu Hebat

Prediksi gue dimana gue akan sangat repot dan ribet di rumah, benar saja kejadian. Di rumah, Mama, Kakek, dan Nenek terus menerus mengulang nasihat serta bahasan mengenai apa saja yang harus gue lakukan selama gue menjaga adik gue yang sedang hamil tua. Gue ulang lagi ya, ADIK GUE YANG SEDANG HAMIL TUA. Bukan adik gue yang masih sekolah, apalagi adik gue yang masih batita (bawah tiga tahun). Tetapi sekali lagi gue ulang, ADIK GUE YANG SEDANG HAMIL TUA. Which means, dia bukan anak kecil lagi yang harus selalu dipantau dan dipantengin terus 24jam.

Dia sudah menikah dan memiliki suami. Gue ulangi lagi deh, DIA SUDAH MEMILIKI SUAMI. Apa lagi yang kurang? Apa lagi yang membuat gue selalu diposisi salah sekarang? Apa lagi yang terus menerus Emi selalu dikambing hitamkan coba? Oh iya gue baru inget, ada tiga celah yang membuat semua ini beralasan (menurut mereka), keluarga kecil adik gue LDM, gue berubah karena Emi, dan gue belum menikah. Tiga celah tersebut menjadi alasan dimana umur gue, keputusan gue, dan mungkin hidup gue juga dirasakan tidak berguna sama sekali di mata mereka.

Gue paham dan gue tidak sebodoh itu untuk tidak bisa menempatkan diri gue ketika ditinggal sama Mama, Kakek, dan Nenek gue yang pergi umroh, dimana gue bisa saja lupa rumah, gue bisa saja lupa tanggung jawab, serta gue bisa saja nggak mau berangkat kerja. Sekalian saja doain gue untuk jadi anak berandalan yang kerjaannya hamilin anak orang, mabuk-mabukan, malingin rumah tetangga, atau jadi buronan.

Mereka nggak sadar ya kalau setiap suudzon mereka itu bisa berubah menjadi doa di hidup gue? Mereka nggak sadar juga ya kalau misalnya gue udah kesambet setan, gue bisa saja berubah seperti apa yang mereka pikirkan selama ini? Mereka memang selama ini nggak pernah merasa mendidik dan merawat gue dengan baik apa?

Oh iya, kembali lagi. Ini semua disebabkan gue yang berubah karena Emi dan gue belum menikah. Ya, gue paham. Gue memang harus segera pergi dari rumah ini. Apa gue nggak sekalian saja menghilang dari keluarga kecil gue ini kalau gue sudah menikah nanti? Harusnya Mama, Kakek, dan Nenek gue, termasuk Dania, sudah nggak bisa judge ataupun menuntut gue apapun lagi bukan kalau nanti gue sudah memiliki kehidupan dan keluarga yang baru? Itu kan yang mereka inginkan?

Perkara nanti kehidupan dan keluarga gue akan rusak atau nggak, itu urusan gue. Hidup mati gue, bukan urusan mereka lagi. Kecuali hubungan gue dan Mama. Gue nggak ada niat untuk memutus tali silaturahmi dengan Mama kok, gue hanya butuh sedikit apresiasi dan kebebasan untuk menentukan keputusan di hidup gue sendiri.

Satu yang bikin gue bingung juga, gue itu nggak pernah berpikir berubah karena Emi. Tetapi ini adalah diri gue yang sebenarnya. Setelah ketemu dengan Emi, gue akhirnya bisa menjadi diri gue sendiri. Gue juga akhirnya bisa melalukan apa yang gue mau selama ini. Dan gue bisa mengejar semua mimpi yang selama ini cuma ada diangan-angan gue. Seharusnya mereka tahu itu semua karena hidup bersama dengan mereka selama ini. Tetapi kenapa mereka malah menyalahkan Emi dan bersikap seolah Emi itu adalah bad influence di hidup gue ini? Mereka benar-benar tidak pernah mengenal siapa gue yang sebenarnya dan apa yang benar-benar gue inginkan (serta butuhkan) selama ini.

“Mama udah pernah coba tanya sama Adit belum? Kapan dia mau dateng hari ini Ma?” tanya gue di akhir pekan yang mendung.
Gue sengaja membahas ini ketika Mama sedang istirahat setelah packing-nya selesai. Kakek dan Nenek gue pun sedang istirahat di kamarnya. Gue nggak mau mereka mendengarkan obrolan gue dengan Mama.

“Udah. Dia lagi di perjalanan kayaknya. Palingan nanti sore juga udah dateng. Kan biasanya juga kalau weekend gini dia selalu datang. Apalagi lusa Mama dan Mbah mau berangkat. Paling dia di sini sampai hari Senin.” Ucap Mama.

“Oh bagus deh kalau gitu. Berarti dia bisa kan dateng dan tanggung jawab ke Dania sampai Mama dan Mbah berangkat nanti? Aku mau keluar soalnya.” Gue sengaja melempar isu ini duluan. Syukur-syukur gue memang bisa pergi keluar hari ini.

“Kan Aditnya belum datang. Paling lama dia dateng kan habis magrib. Lagian kamu mau kemana lagi sih?”

“Lah, mau dia datang abis magrib kek atau dini hari kek, emang itu urusan aku? Aku yang punya rencana dan acara sendiri kenapa jadi ketergantungan terhadap kedatangan orang lain yang bukan anggota keluarga kandung kita?”

“Dia juga anggota keluarga dong! Dia kan suami Dania! Gimana sih kamu ini?”

Yes, Mama kepancing. Obrolan ini sudah sesuai keinginan gue. “Nah, kalau dia anggota keluarga kita juga dan suami Dania, kenapa nggak dia aja yang repot? Kenapa aku terus yang disuruh repot apalagi ngurusin kebutuhan Dania ini? Aku kan sudah menyerahkan tanggung jawab dan seluruh hidup Dania ke dia. Oh nggak, KITA SEMUA KAN SUDAH MENGIKHLASKAN untuk menyerahkan tanggung jawab dan seluruh hidup Dania ke dia. Iya kan? Mereka sendiri yang memutuskan untuk LDM tanpa diskusi sama kita, eh ujung-ujungnya malah aku yang ketiban susahnya. Enak amat idupnya. Giliran nanti misalnya aku yang bikin keputusan yang nyusahin Mama dan Dania, apa Mama dan Dania mau? Pasti nggak mau kan? Yang ada aku yang diomelin pasti nanti.”

Mama akhirnya bisa full fokus dengan gue. “Kamu itu ngebahas ituuu terus. Mau kamu tuh apa sih kak?” Mama meletakkan kacamata yang ia gunakan untuk menatap gue lebih jelas. Saat itu kami sedang duduk berdua di ruang makan. Dania juga sedang tidur siang di kamarnya.

“Mama nanya apa mau aku? Mau aku itu aku bisa LEPAS DARI TANGGUNG JAWAB TERHADAP DANIA!” kata gue menegaskan. Gue nggak peduli, Dania bisa mendengar omongan gue atau nggak dari dalam kamarnya.

“Kamu udah gila ya, Kak? Kamu itu kakaknya! Masa kamu nggak ada kasian-kasiannya liat adik kamu sekarang? Kondisi lagi kayak begini masih aja mikirin diri sendiri sih!”

“Mikirin diri sendiri? Haha. Apa Mama dan Dania pernah mikirin aku? Nih ya Ma… Aku kasian mah kasian ngeliat kondisi mereka yang jauhan begitu saat kondisinya Dania hamil tua seperti ini. Tapi mereka yang mau kan? Mereka emang izin sama Mama pas mereka akhirnya mutusin untuk LDM? Nggak kan? Mereka bikin keputusan sendiri tanpa mikir apa mereka akan merepotkan orang lain! Paling mereka mikirnya, ‘Tenang aja ada si Kakak’. Itu tanpa mempertimbangkan aku punya kehidupan atau nggak! Di pikiran mereka mungkin aku memang nggak punya kehidupan dan masa depan hanya karena mereka sudah menikah lebih dulu daripada aku!”

“Kakak! Apa-apaan sih kamu? Bisa-bisanya kamu mikirnya kayak begitu sama adik kamu sendiri?”

“Sekarang, apa Adit pernah minta tolong secara langsung ke aku buat FULL 24 JAM jagain istrinya? Pernah emang? NGGAK PERNAH! Yang ada dia enak aja taunya istrinya udah dijagain dan diurus sama aku. Dia terima beres doang! Aku nggak tau nih, apa dia menganggap aku ini kakak iparnya apa nggak kalau sikap dia seperti itu! Nguntungin aku juga nggak.”

“Adit itu pasti anggap kamu kakak iparnya lah, Kak! Emang mau anggap apa lagi?”

Gue nggak menggubris pertanyaan terakhir Mama. “Terakhir. Emang Mama dan Dania pernah bilang SATU KALI AJA ‘makasih’ ke aku dan Emi selama ini? Kita selalu mengalah loh demi SELURUH kepentingan Dania? Ada nggak bilang makasih? Perasaan nggak pernah denger aku… Dania dan suaminya apa lagi. Mereka minta tolong secara langsung sama aku aja emang pernah? NGGAK PERNAH Ma! Selalu Mama yang dimintain tolong buat ngomong ke aku, biar aku nggak bisa nolak.”

“Kok kamu jadi pamrih gini sih kak sama adik kamu sendiri?”

“Ini bukan urusan pamrih Ma. Aku di sini juga punya banyak kepentingan dan urusan. Aku bukan orang yang nggak punya tujuan hidup sama sekali. Tetapi apa sekarang? Semuanya HARUS aku kalahkan demi permintaan Mama. Hebat banget Dania di sini. Kalau punya keinginan apapun dan butuh bantuan aku, dia langsung minta tolong Mama untuk nyuruh aku. Biar apa? Ya biar semuanya bisa sesuai keinginan dia. Karena aku anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Aku harus selalu patuh sama Mama. Mama sadar nggak?” Biar Dania dengar sendiri apa yang sebenarnya dia lakuin ke gue. Dia benar-benar memanipulasi Mama untuk kepentingan dia sendiri. Gue sudah sadar itu dari lama, tetapi baru kali ini gue utarakan ke Mama.

“……” Gue yakin Mama pasti bingung bagaimana harus merespon pernyataan gue itu.

“Mama akhirnya bersikap nggak adil antara aku dan Dania. Mama terus ngebelain Dania yang berujung Mama jadinya terus menyalahkan aku, hanya karena urusan hamil dan akhirnya muncul pemakluman-pemakluman terus. Apapun yang aku lakuin kalau di luar keinginan kalian, aku pasti salah di mata kalian! Apa Mama dan Dania pernah mikir kalau aku di sini juga punya kehidupan aku sendiri? Setelah akad Dania kemarin pun sudah jelas serta sah secara agama dan hukum, kalau sekarang aku sudah nggak ada tanggung jawab apapun di sini, kecuali hubungan aku dengan Mama.”

“Lah kok jadi kemana-mana ini? Bawa-bawa agama dan hukum segala?”

“OH IYA JELAS. Kalau ini jadinya HARUS bawa-bawa urusan agama dan hukum, aku geber sekarang juga! Semuanya udah ada undang-undangnya Ma. Dan itu juga dibilang dan dijelaskan waktu akad nikah. Emang Dania dan suaminya nggak sadar itu? Mereka cuma fokus dan menunggu kata ‘SAH’ doang gitu? Ustadz yang dipilih sama Mama juga bilang kan waktu itu, kalau urusan keluarga kecil Dania harus diselesaikan oleh pasangannya itu dulu baru melibatkan orang lain.”

“……”

“Mama dan aku adalah orang lain buat keluarga mereka. Walaupun ada ikatan darah, kita tetap orang lain bagi Dania sekarang. Semua keputusan dan perizinan segala hal yang dilakukan Dania harus izin ke suaminya. Masa Mama lupa yang begitu? Logikanya gini deh, aku yakin banget almarhum Papa pasti nggak akan mau kalau Om Dani masih ikut campur urusan keluarga Mama dan Papa kan?”

“……”

“Sekarang Mama malah minta aku untuk ikut campur urusan keluarga Dania dan Adit, apa jadinya itu langkah yang benar? Udah gitu ya kayak yang tadi aku bilang, Adit itu setiap kali ketemu sama aku pun nggak pernah minta tolong ataupun minta izin apapun terkait Dania. Jadinya buat apa malah Mama yang marahin aku terus dan menuntut aku untuk fokus sama Dania? Suaminya aja diem aja. Mau aku bilang suaminya Dania—yang jadi kebanggaan Mama dan Dania itu, adalah suami nggak bertanggung jawab? Soalnya kok dia terima dan mau aja aku ikut campur urusan keluarga kecil dia? Logis nggak perkataan aku?”

“……” Mama masih terus diam saja tanpa ekspresi.

“Gimana? Mau ngebantah apa lagi Ma? Mama masih mau bilang kalau aku anak jahat dan nggak jelas? Nih ya, urusan kayak begini bisa saja aku bawa ke ranah hukum. Jadinya kasus ini bisa perdata, bahkan bisa sampai ke pidana. Soalnya Mama merusak nama baik Emi juga. Keluarga Emi bisa saja nggak terima. Tapi sampe sekarang aku lakuin? Emi juga lakuin langkah hukum kayak gitu? Nggak Ma. Aku tetap menghargai Mama. Aku tetap menghargai Dania. Aku juga menghargai Adit yang sampai saat ini juga nggak berusaha mengenal aku. Emi aja masih terus membantu dan mengingatkan aku untuk memprioritaskan keluarga aku, sebagaimanapun kalian menilai dia. Kurang sering apa Emi main kesini dan berusaha akrab dengan Mama dan Dania coba?”

“Tapi …..”

Gue langsung memotong, “di sisi lain, Mama dan Dania terus nyalahin aku atas apapun yang aku lakukan? Aku mau kesana salah, kesini salah, mau ini itu salah. Bahkan urusan mau umroh aja rempongnya minta ampun, padahal semuanya bisa dibawa santai karena udah ada jadwal jelasnya semua. Kurang apa lagi aku belain keluarga daripada urusan aku sendiri?”

“……”

“Mama kalau udah gini bisanya cuma diam aja. Kemarin aku ngomong juga panjang lebar nggak didengerin. Mama diem aja eh Mama malah sibuk mikirin mau make mobil Emi buat nganter Mama dan Mbah pergi besok. Mama nggak peduli sama sekali dengan apa yang aku omongin. Iya kan? Apa ada yang Mama inget dari semua yang aku omongin saat itu? Ada? Aku nggak yakin.”

“Terserah kamu lah Kak! Kamu itu susah kalau dibilangin! Ada aja balesannya!”

“Aku dibilangin kayak gimana? Mama aja nggak ada ngerespon omongan aku sedikitpun! Mama itu cuma fokus sama urusan Dania, dibanding apapun yang aku bilang! Jadi, aku yang sekarang bilangin Mama, dengerin Ma tolong. Aku bilangin tentang segala macem fakta yang ada, yang mungkin Mama nggak sadar. Soalnya mau begini terus sampai kapan? Omongan aku nggak pernah didengerin, hidup aku nggak pernah dihargain. Aku dianggap nggak jelas hidupnya dan Mama seakan menganggap aku itu orang paling gobl*k yang nggak pernah punya prestasi seumur hidupnya. Cuma gara-gara aku freelance yang kerjanya fleksibel, semua yang udah aku raih jadi mentah. Nggak ada bekasnya. Tau gitu aku nggak usah sekolah dan kerja bener aja dari dulu kalau tau akhirnya bakalan tetep kayak begini.”

“Lah kok kamu malah jadi ngungkit jaman dulu sih? Kamu nggak bersyukur amat…”

“Siapa disini yang posisinya nggak bersyukur Ma? Mama itu melahirkan anak-anak yang nggak nyusahin orang tuanya dari dulu, kita nggak pernah susah nyari sekolah karena kita selalu bisa memenuhi standar kelulusan dan persyaratan masuk ke sekolah favorit dari jaman SMP, bahkan sampai aku S2 sekarang. Terus Mama mikir ‘Liat Dania yang kerja settle di perbankan, kamu malah jadi freelance?’ Tapi liat, apa aku yang notabene-nya freelance ini, dengan asumsi dimana penghasilan aku nggak tetap, pernah nyusahin Mama dan Dania? Apa aku pernah minta uang sama Mama dan Dania untuk kebutuhan hidup aku? Coba bilang. Kapan?" gue memukul meja makan marmer yang dingin itu.

"Yang ada aku dengan penghasilan yang nggak tetap ini malah ikut berkontribusi di rumah ini untuk uang bulanan. Aku juga bisa tetap ngurus kehidupan aku dan Emi berdua. Bahkan aku bisa biayain pendidikan aku sendiri plus beli mobil sendiri. Pernah mikir sampai kesana? Nggak pernah pasti. Karena standar di keluarga ini jadi bergeser. Nggak lagi logika dan fakta, tetapi Dania-sentris. Apa yang Dania lakuin, ya itu jadi standar yang terbaik.” kata gue berapi-api dan sangat gregetan.

“Mama nggak pernah mikir begitu.”

“Mama emang nggak pernah mikir begitu. Tetapi MAMA MELAKUKAN ITU! Aku sekarang udah tinggal membereskan S2 aku, dengan biaya aku sendiri dan nabung buat menikah---"

“Apa?? Nikah? Kamu mau nikah? Kamu punya modal apa emang sekarang? Kamu aja hidupnya nggak jelas, pikirannya nggak jelas juga---”

Sesuai dugaan gue. Pasti kayak begini. “Kan? Bener kan apa yang aku bilang barusan? Semua omongan aku yang tadi panjang lebar MENTAH SEMUANYA!”

Nggak butuh waktu lama, gue langsung keluar, membanting pintu rumah sekencang-kencangnya dan pergi dengan mobil Emi, soalnya motor gue masih ada di rumah Emi. Gue mencoba menenangkan diri gue sendiri dengan keliling sekitaran kota tempat tinggal gue saja. Siang hingga menjelang malam, gue habiskan di coffee shop seorang diri. Setelahnya gue pergi ke toko buku untuk menambah koleksi buku gue dengan Emi.

“Sepertinya kalau mendadak dateng ke rumah Emi sambil bawa buku, Emi pasti senang banget…” kata gue dalam hati. Mendadak gue jadi pingin banget ke rumah Emi malam itu, tetapi tetap ada rasa khawatir di diri gue kalau misalnya nanti gue berujung curhat, Emi malah jadi pelampiasan emosi gue. Jadi gue mencoba ngobrol sama dia dulu. Gue nggak tau, apa dia masih bangun atau nggak.

“Zy… Line kamu aktif kan?” ujarnya di layar HP gue. Tepat ketika gue mau mulai mengetik pesan untuknya.

Panjang umur. Ketika gue memikirkan dia, dia malah chat gue lebih dulu. Chemistry di antara kami inilah yang sulit untuk gue cari di cewek lain. Dia selalu ada sebagai obat di hidup gue yang sakit ini. Tetapi karena gue males menggunakan aplikasi Line, gue membalas chat dia menggunakan aplikasi Whatsapp. Terlalu banyak memori jahat gue di aplikasi tersebut.

Quote:“Aku chat kamu via Line, Zy… Bukan di Whatsapp. Lagipula, kenapa kamu bales chat Line aku di Whatsapp? Ada yang ngelarang ya? Maaf kalau begitu.”
“Ya nggak ngelarang. Siapa yang mau ngelarang gue di sosial media gue sendiri?”
“Terus kenapa aku ga pernah bisa chat kamu di Line?”
“ Soalnya ribet segala pindah-pindah aplikasi gtu. Whatsapp ya Whatsapp, Line ya Line. Ngapain jadi banyak-banyak begitu sih?”
“Nggak banyak-banyak kok. Aku kan penasaran.”
“Udah nggak usah dibahas. Nggak penting.”


Nah ini yang membuat gue ragu kalau gue lagi emosional seperti ini dan gue berada di dekat Emi. Gue khawatir, gue bisa menyakiti Emi. Gue dan keluarga gue kurang jahat apa lagi untuk terus menyakiti Emi coba? Tetapi karena gue memang sedang membutuhkan Emi, tanpa pemberitahuan Emi, gue langsung pergi ke rumah Emi malam itu. Gue mau menenangkan diri di sana.
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Lihat 16 balasan
Memuat data ..
Halaman 111 dari 116
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
merinduimu-itu-menyakitkan
Stories from the Heart
pengantin-berdarah
Stories from the Heart
dendam-arwah-dari-masa-lalu
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
klinik-aborsi
Heart to Heart
B-Log Collections
Stories from the Heart
nama-gue-nuradi-saputro
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia