Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
59
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef58be065b24d3cbd391470/kurelakan-suamiku-untukmu-part-3
Aku menarik koper keluar kamar, melemparnya ke arah Randi yang sedang duduk di kursi. “Apa-apaan ini Rei!” teriaknya. “Apa?! Apa kamu bilang!” jawabku, aku mendorong tubuh pria yang sudah mengisi hari-hariku beberapa tahun ini. “Pergi kamu dari sini, Mas! Aku sudah tidak sudi melihat wajahmu lagi!” “Apa kamu bilang?!” ucapnya marah. Dia mendekat, menarik rambutku yang tergerai. “
Lapor Hansip
26-06-2020 12:47

Kurelakan Suamiku Untukmu part 3

Past Hot Thread
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3Kurelakan Suamiku Untukmu part 3Aku menarik koper keluar kamar, melemparnya ke arah Randi yang sedang duduk di kursi.

“Apa-apaan ini Rei!” teriaknya.

“Apa?! Apa kamu bilang!” jawabku, aku mendorong tubuh pria yang sudah mengisi hari-hariku beberapa tahun ini. “Pergi kamu dari sini, Mas! Aku sudah tidak sudi melihat wajahmu lagi!”

“Apa kamu bilang?!” ucapnya marah. Dia mendekat, menarik rambutku yang tergerai.

“Kamu pikir bisa hidup tanpa aku! Kamu itu cuma seorang istri dalam sangkar emas, yang tidak tahu dunia luar, mana mungkin kamu bisa bertahan tanpa seorang suami!” Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Lepaskan! Bila menyakitiku bisa membuatmu bahagia, maka lakukanlah itu, tanpamu aku pasti bisa! Ceraikan saja aku!” Aku berusaha melepaskan tangannya dari rambutku. Dia menghempaskan lalu mendorongku, hingga aku terjerembap ke lantai.

“Kau mau berpisah denganku?” Dia berdiri membelakangiku. Mas Randi berubah, tidak lagi seperti suami yang aku kenal, suami yang penuh dengan kasih sayang.

“Ceraikan saja aku, Mas! Kau hadirkan dia dalam rumah tangga kita, yang ada hanya akan menyisakan luka. Nikahilah wanita itu, Mas! Dari pada kau berzina dan berbuat dosa. Kalau kamu tidak dapat bicara sama kedua orang tuamu.” Aku berbicara sedikit pelan terhadap ayah dari kedua putriku. “Aku yang akan berbicara dengan mereka agar melamarkan wanita itu untukmu.”

“Tidak perlu! Baiklah Reina Atmaja aku jatuhkan talak satu padamu.” Pria itu menarik koper, pergi meninggalkan rumah pemberian orang tuaku. Mungkin ini memang jalan takdirku, jodoh kami hanya sampai di sini.

Seketika badanku luruh ke lantai. Aku menangis, meratapi dirinya yang telah menyakitiku. Rumah tangga yang kami jalani selama lima tahun, harus berakhir.

***AyraFarzana***

“Aku benci kamu, Mas! Aku benci kamu!” Aku berteriak, melempar segala benda yang ada di hadapanku.

“Reina, kamu kenapa?” Mila kaget melihat keadaanku, membawa kedua anakku masuk ke dalam kamar, lalu kembali menghampiriku.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Aku mengusir Mas Randi dari rumah, dia telah menjatuhkan Talak satu terhadapku.” Mila membantuku berdiri, memapah untuk duduk di kursi.

“Apa dia benar berselingkuh?” tanyanya, Mila memandangku. Aku mengangguk mengiyakan.

“Nama wanita itu Raya, manajer di tempatnya bekerja. Dia tampak masih muda, cantik, dan seksi. Dia bilang bosan terhadap penampilanku yang hanya memakai daster, dan tak pernah dandan,” ucapku terisak.

“Dasar kurang ajar si Randi.” ucap Mila kesal.

“Memang lebih baik tinggalkan saja pria macam itu, pria yang tak pernah mau tahu, betapa repotnya seorang istri saat di rumah. Menjadi seorang ibu rumah tangga itu bukan berarti tak bekerja. Justru ibu rumah tangga tak pernah selesai tugasnya dari pagi, siang, dan malam. Bersabarlah Reina.” Mila menghapus air mataku dengan selembar tisu.

“Sebelum dia pergi, dia bilang kalau aku tak akan mampu bisa bertahan hidup tanpa seorang suami,” ucapku terisak, Mila membelai punggungku.

“Buktikan padanya, kalau kamu bisa hidup tanpa dirinya, aku pasti akan membantumu, Rei!” Mila menggenggam erat kedua tanganku. “Aku pernah berada di posisimu, tetapi sekarang, kamu bisa lihat sendiri bagaimana aku! Hanya duduk manis di rumah, uang masuk ke dalam rekeningku.” Mila memang pernah berada di posisiku. Dia memiliki seorang putra, tapi mantan suaminya yang mendapat hak asuhnya. Sekarang, Mila menjadi pengusaha sukses, dia mempunyai beberapa cabang cafe di kota ini. Ada tim pengelola tersendiri, dia hanya mengunjunginya sesekali untuk mengecek saja.

“Semangat Reina, kamu pasti bisa!” Aku mengangguk mengiyakan.

“Ayo, anak-anak membutuhkanmu.” Mila menggandengku, kami berjalan menuju kamar, menemui si kembar. Mereka tampak sedang bermain di atas tempat tidur. Aku berhambur memeluk mereka berdua.

“Unda, kenapa anis?(Bunda, kenapa nangis?)” tanya Nela.

“Bunda, nggak apa-apa, Sayang.” Aku melepaskan pelukan. Tak disangka Neli menghapus air mataku dengan tangan mungilnya. “Ayo kita makan, kalian pasti belum makan kan?” ajakku, mencoba tersenyum di hadapan Nela dan Neli, seperih apa pun rasa di hati, aku harus tetap tegar di hadapan mereka. Mila tersenyum melihat kebersamaan kami.

“Nggak unggu ayah uyu ya, Unda?(Nggak menunggu ayah duli ya, Bunda?)” Neli bertanya dengan wajah polosnya.

“Ayah, keluar kota, Sayang. Jadi pulangnya lama,” jawabku asal. “Mil, yuk makan bareng! Aku tadi masak banyak lho! Sayang kalau enggak dimakan,” ajakku menggandeng Mila menuju meja makan untuk makan bersama.
Melihat keceriaan putri kembarku, sejenak aku melupakan masalahku dengan Mas Randi.

“Reina, kok enggak makan sih!” ucapan Mila membuyarkan lamunanku. “Sudah jangan pikirkan Randi lagi, enggak pantas pria seperti itu untuk dipikirkan! Pikirkan saja masa depan kedua anakmu. Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya.

Selesai makan dan membantuku membereskan piring kotor Mila pamit pulang.

Anak-anak sudah tidur, mungkin mereka kelelahan setelah seharian main di rumah Mila. Tinggal aku sendiri berteman sepi.
Memori masa lalu, saat bersama Mas Randi berputar di kepalaku. Mungkin kebahagiaan bersama Mas Randi hanya seperti mimpi, tapi biarlah mimpi itu terus menemani di setiap tidurku.

***Bersambung***
Diubah oleh AyraNFarzana91
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 7 lainnya memberi reputasi
6
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
27-06-2020 18:48
maaf gan
kalo bisa ceritanya jangan di pisah pisah gini
profile-picture
profile-picture
nunuahmad dan AyraNFarzana91 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
28-06-2020 13:12
lanjut dong
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 6 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
28-06-2020 18:51
kutunggu update nya lagi.
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
28-06-2020 19:20
#Kurelakan_Suamiku_Untukmu4
#Cinta_Reina
Ayra N Farzana

Hingga larut malam, aku belum bisa tidur, berdiri di samping jendela, memandang keluar, menikmati indahnya gelap malam. Semilir angin membelai wajah, lalu masuk ke dalam kamar, bulan berbentuk sabit, menyubangkan sedikit sinarnya agar gelap malam tak terlalu mencekam. Kelelawar nampak beterbangan berpindah dari dahan ke dahan lainnya, mencari buah yang mulai masak. Tak terasa tetes-tetes air mulai berjatuhan membasahi pipi, mengingat kebersamaan kami.

🌹🌹🌹

Pagi menjelang, mataku bengkak sisa tangis semalam, si kembar masih tampak nyenyak dalam mimpi mereka. Aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan, membuka kulkas, mencari sesuatu yang bisa aku masak, tapi tidak ada apa pun di sana.

Sayup-sayup suara tukang sayur terdengar. Aku keluar untuk berbelanja. Tampak empat ibu mengerumuninya.

“Pak, bayam, sama cabainya mana?” tanyaku.

“Ini, Bu,” ucap tukang sayur, menunjuk barang yang aku pinta.

Aku lihat Bu Mirna dan Bu Anna sedang berbisik, sesekali melirik ke arahku.

“Kami sudah bilang kemarin! Jadi istri itu, harus pintar dandan. Sekarang terbukti ‘kan! Suaminya di ambil orang!” ucap Bu Ana. Aku tak menghiraukan omongan Mereka. Segera kuambil segala keperluan yang dibutuhkan, dan bergegas kembali ke rumah.

Aku membanting pintu dengan keras, suara nyaring dentuman terdengar sampai ke telinga mereka yang sedang bergunjing. Mereka memandangku dengan mulut yang komat-kamit entah apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka justru menyalahkanku yang jelas-jelas menjadi korban?

“Ada apa?” Mila masuk ke dalam rumah, menghampiriku yang duduk di meja makan. “Aku tadi mendengar suara dentuman keras dari sini, ada apa Reina?” tanyanya. Melihat aku menangis, dia duduk, meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat.

“Aku, tidak kuat dengan hinaan mereka, Mil!” keluhku menumpahkan segala luka.

“Jangan dengarkan mereka, jadikanlah apa yang menimpamu kemarin, sebagai pelajaran untukmu, Rei. Esok pasti ada sebuah kebahagiaan untukmu,” nasihatnya.

“Tapi, rasanya sungguh sulit sekali, Mil. Aku ... aku belum bisa melupakan rasa sakit atas pengkhianatan Mas randi, aku juga masih mencintainya, Mil,” ungkapku.

“Ayolah! Mana Rei yang selalu ceria, semua pasti akan segera berlalu. Kamu pasti bisa Rei, ayo bangkit dari kesedihan ini,” ujarnya menyemangatiku. Mila menepuk pundakku pelan. “Ayolah Reina, pikirkanlah masa depan anak-anakmu. Mereka membutuhkanmu! Tersenyumlah dan lupakan semuanya!” pintanya. Mila tersenyum, memandang ke arah kamar. Aku juga memandang ke arah yang sama. Kedua putriku, tengah berjalan ke arah kami. Mila menunjuk mataku, memberi kode agar menghapus air mata di pipi.

“Kalau kamu mau? Kamu bisa bekerja di tempatku, mulai besok!” tawarnya, tanpa dia, entah akan jadi seperti apa aku ini. “Anak-anak sementara biar bersamaku.”

“Terima kasih, ya, Mil!” Aku memeluk tubuh kurus Mila.

“Santai, aja! Aku juga suka kesepian di rumah sendiri. Jadi dengan keberadaan mereka bisa menemaniku,” ucapnya.

🌹🌹🌹

Hari ini merupakan hari pertama Aku berangkat kerja. Aku mengenakan kemeja berwarna kuning, dengan setelan rok di bawah lutut berwarna hitam. Aku memoles wajah dengan sedikit bedak, lantas memakai mate lipstik berwarna merah muda di bibir.

Aku berjalan dengan menenteng sebuah tas kecil di bahu. Ibu-ibu kompleks yang sedang berbelanja, memandangku takjub. Mereka tampak berbisik menggunjingkanku.

“Percuma dandan, kalau suaminya sudah direbut orang!” Bu Anisa tertawa, diikuti dua ibu kompleks lainnya. Abang tukang sayur hanya menggelengkan kepala, menanggapi mereka. Aku terus berjalan tak menghiraukan segala ucapan mereka.

***AyraFarzana***

Aku bekerja di Cafe Mila, yang terletak dekat kompleks. Dia sengaja menempatkanku di kafe terdekat agar bisa pulang saat istirahat.

“Mbak!” panggil, seorang pria yang duduk di kursi nomor delapan.

Aku bergegas berjalan menghampirinya “Selamat siang, Kak,” sapaku. “Mau pesan apa Kak?” tanyaku. Aku mencatat makanan yang dia pesan ke dalam sebuah buku catatan kecil.

Tak butuh waktu lama aku kembali untuk mengantarkan makanan. “Silakan ... Kak,” ucapku seraya meletakan makanan di atas meja.

“Mau ke mana?” pria itu menarik tanganku, saat aku akan kembali ke belakang.

“Maaf, Kak, saya masih ada pekerjaan,” ucapku.

“Sebentar saja! Aku akan memberimu uang tips yang besar,” ucapnya merendahkanku.

“Kak, tolong lepaskan saya,” ucapku memohon.

“Temani aku sebentar saja, Cantik,” rayunya.

“Maaf, saya tidak bisa!” tolakku, aku menepis tangannya kasar, lantas berjalan meninggalkannya.

“Jangan sok jual mahal, Kamu!” teriaknya, semua orang yang ada di kafe memandang ke arahku.

“Ada apa ini?” ucap manajer kafe menghampiriku.

“Dia, menggodaku, Pak” aduku.

“Hei! Jelas kamu yang telah menggodaku, Nona,” ucapnya menyudutkanku.

“Pak ....” belum selesai aku menyelesaikan ucapan, Pak Manager meminta untuk kembali ke tempat dengan mengibaskan tangan. Dari kejauhan aku melihatnya sedang membicarakan sesuatu dengan pria tersebut.

“Reina, ke ruangan saya sekarang, ada yang akan saya bicarakan!” perintahnya saat kembali.

“Baik, Pak.” Aku mengikuti berjalan menuju ruangannya.

“Reina, aku harap kau bisa bersikap lebih sopan terhadap pelanggan,” tegurnya.

“Tapi, Pak, dia yang berusaha menggoda saya,” bantahku membela diri.

“Tidak ada kata tapi Reina, kalau kamu bukan sahabat Mila, mungkin saat ini juga kamu sudah saya pecat!” ucapnya.

“Rei, aku tahu kamu butuh uang, aku dengar dari Mila, suamimu pergi dengan wanita lain,” ucapnya.

“Apa maksud, Bapak?” tanyaku.

“Aku bersedia, memenuhi segala kebutuhanmu dan kedua anakmu, asal kamu mau menuruti kemauan saya,” tawarnya.

“Maaf, Pak. Saya bukan perempuan murahan!” ucapku marah meninggalkan pria itu.

“Reina ....”

***Bersambung***
profile-picture
profile-picture
near3st dan nunuahmad memberi reputasi
2 0
2
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
28-06-2020 19:41
Kurekakan Suamiku untukmu5
CintaReina
Oleh Ayra N Farzana

“Assalamualaikum.” Aku mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah Mila.

“Wa’allaikum salam,” jawab Mila. “ Kamu, enggak mandi dulu?” tanyanya.

“Enggak ah ... aku sudah kangen sama anak-anak,” ucapku menghampiri mereka.
Mana mungkin aku bisa dengan santai saat anak-anak masih ada di rumahnya, dia sudah terlalu banyak membantu, jadi aku tidak mau terlalu merepotkannya.

“Mil, kalau aku bekerja mengenakan jilbab gimana?” tanyaku memandang Mila.

“Enggak apa-apa sih! Itu kan hak kamu,” jawabnya yang sedang duduk di lantai bermain lego bersama kedua putriku.

“Aku takutnya, kalau aku berjilbab akan mempengaruhi pelanggan kafe kamu,” terangku sambil membereskan mainan yang berserakan di lantai.

“Enggaklah ... terserah kamu yang penting kamu nyaman,” ucapnya yang juga membantu membereskan mainan.

“Terima kasih ya, Mil.” Aku memeluk Mila.
Aku ingin menutup aurat, mungkin kejadian di kafe adalah teguran dari Allah, mereka menggodaku karena auratku yang masih terbuka. Kejadian di kafe tidak aku ceritakan pada Mila, karena dia sudah terlalu banyak membantu, aku tidak ingin merepotkannya lagi dengan masalah yang aku alami.

“Mil, aku pulang dulu, terima kasih, ya.” Aku pamit setelah selesai membereskan semua mainan yang berserakan. Aku menggandeng Nela dan Neli, berjalan pulang ke rumah.

“Mas Randi!” ucapku terkejut melihat Mas Randi datang bersama dengan Raya, ketika aku dan kedua putriku akan masuk ke dalam rumah.

“Aku hanya ingin mengambil berkas-berkas yang tertinggal,” ucapnya masuk ke dalam, melewatiku yang masih berdiri di ambang pintu.

Sebenarnya aku merindukannya, hidup bersama selama beberapa tahun, tak mungkin dapat begitu saja aku melupakan sosok Mas Randi yang selama ini mengisi hari-hariku. Suka maupun duka kami lalui bersama, hingga kehadiran orang ketiga, menghancurkan segalanya.

“Oh ... jadi, kamu istri Mas Randi, pantas saja dia ninggalin kamu, kusut gitu,” ucap Raya menghinaku. Dia berjalan mendekati kami, berdiri dengan tangan bersila di depan dada, matanya tajam menelisik setiap inci tubuhku.

“Sayang, kalian masuk dulu, ya!” perintahku pada Nela dan Neli.

“Iya, Unda.” Mereka berlari masuk ke dalam rumah.

“Heh, jaga bicaramu! Kau yang merampas Mas Randi dengan segala daya pikatmu.” Aku menunjuk wajahnya, ingin sekali aku menarik rambutnya yang panjang, tapi enggan aku lakukan, bukan tidak berani, melainkan demi harga diri.

“Aku tidak merampasnya, suamimu saja yang tidak tahan melihat kecantikanku,” ucapnya membela diri.

Aku memang mengakui, kalau dia itu, cantik, menarik, dan kaya, jika dia berdiri bersanding denganku, perbedaan kami memang terlalu jauh, bagaikan langit dan bumi.

“Ayo, Sayang, sudah ketemu,” ucap Mas Randi menunjukkan sebuah map di tangannya.

“Ayah!” teriak kedua putriku berlari keluar mengejar ayah mereka, yang berjalan akan meninggalkan rumah.

“Mas, tak bisakah kau menemui kedua putrimu sebentar,” pintaku menarik tangannya.

“Maaf, aku sibuk,” jawabnya menepis tanganku.

Mereka berjalan bergandengan tangan, masuk ke dalam sebuah mobil berwarna merah milik Raya. Mobil melaju membelah jalanan bersamaan dengan tangis putriku yang pecah karena rasa rindu akan pelukan ayah mereka.

“Cup ... Sayang, ayah ada pekerjaan, Nela dan Neli kan anak pintar jangan menangis, ya,” ucapku menenangkan mereka. Dia memang keterlaluan, mengabaikan anak-anak hanya demi wanita lain.

Hatiku begitu teriris melihat perlakuannya terhadap kami. Luka yang belum sembuh, kini semakin menganga.

***AyraFarzana***

Hari ini, aku berangkat kerja tidak lagi mengenakan rok di bawah lutut, melainkan rok panjang dan lebar, dengan jilbab berwarna hitam sebatas dada.

“Bunda, kerja dulu ya, Sayang, kalian baik-baik sama tante Mila. Jangan nakal, ya!” pamitku. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan mereka, tapi apa daya aku bekerja juga untuk mereka.

“Ya, Unda, “ jawab mereka kompak, sebelum pergi aku mencium mereka bergantian.

“Mil, titip ya, minimal sampai aku bisa bayar asisten rumah tangga buat mengasuh mereka,” kataku mendekati sahabatku itu.

“Ih ... apaan sih?! Aku ikhlas melakukan semua ini,” ucap Mila.

“Terima kasih, ya Mil.” Aku memeluknya.

“Da ... Sayang.” Aku berjalan meninggalkan mereka menuju tempat kerja.

***

“Ya, ampun Rei, kamu cantik sekali mengenakan hijab,” ucap Nadia memujiku saat kami sedang mencuci gelas dan piring kotor di dapur.

“Apaan sih, Nad?!” ucapku sambil mengelap gelas yang baru di cuci Nadia.

“Iya, kamu terlihat lebih anggun,” pujinya.

“Bukankah, menutup aurat merupakan kewajiban setiap muslim,” terangku.

“Iya, juga ... emang Pak Herman mengizinkanmu memakai jilbab?” tanya Nadia.

“Mila, pemilik kafe ini yang memberi izin.”

Nadia memandangku. “Kamu kenal, Bu Mila?” tanyanya.

“Dia sahabatku,” jawabku.

“Rei, kamu dipanggil Pak Herman,” ucap Anto berdiri di ambang pintu.

“Sudah, sana! Biar aku saja yang mengerjakan.” Nadia mengambil Alih gelas yang ada di tanganku.

“Terima kasih, Ya.” Aku mengelap tangan dengan kain yang tergantung di dinding sebelum ke ruangan Pak Herman.

***

“Assalamualaikum, Pak,” sapaku pada Pak Herman yang duduk di meja kerjanya.

“Reina, kenapa sekarang kamu berpakaian seperti ini?” Dia memandangku dari ujung kaki ke ujung rambut.

“Iya, Pak, saya rasa kejadian yang menimpa saya kemarin, karena saya tidak menutup aurat, sehingga pria tersebut tergoda,” terangku yang masih berdiri di depan meja kerjanya.

“Oh ....” Dia menganggukkan kepala. “Duduklah, Reina,” ucapnya mempersilahkan. Dia yang awalnya duduk bersandar, menegakkan badan ke depan, memandangku.

Aku langsung duduk dengan posisi tangan berpangku pada paha. “Ada apa ya, Bapak, memanggil, saya?”

“Reina, kamu jangan bekerja di kafe ini lagi!”

“Maksud, Bapak?” tanyaku kaget mendengar ucapannya, aku memandang pria yang berusia sekitar empat tahun di atasku.

“Reina, menikahlah denganku, aku akan mencukupi segala kebutuhanmu.” Dia berdiri di dekat jendela, memandang keluar.

“Maaf, Pak, tidak pantas bagi Bapak, melamar saya yang masih berstatus istri orang,” terangku.

“Aku akan menunggumu, Reina, sampai kamu benar-benar bercerai dengan suamimu.” Dia memandangku, berjalan dan kembali duduk.

“Maaf, Pak cari saja wanita lain yang lebih baik dari saya,” tolakku.

“Tapi ... Rei, aku menyukaimu, sejak pertama melihatmu.” Dia mencoba meraih kedua tanganku, tapi aku menepisnya.

“Kalau sudah tidak ada yang ingin di sampaikan lagi, saya permisi, Pak. Saya masih ada banyak pekerjaan.” Aku berdiri, berlalu meninggalkannya.

Aku tidak memiliki pikiran untuk menikah lagi, walau nanti pada akhirnya aku bercerai dengan Mas Randi, rasanya sulit untuk menjalin suatu hubungan yang baru, bila nanti akhirnya akan kembali terluka.

***

“Ada Rei, kenapa Pak Herman memanggilmu? Apa dia marah karena kamu berhijab?” tanya Nadia saat aku kembali ke dapur.

“Tidak, dia memintaku untuk berhenti bekerja, Nad.” Aku berdiri di dekatnya. Menata segelas moccacino dan ketang goreng ke atas nampan.

“Kenapa?” Nadia memandangku penasaran.

“Dia ingin aku menikah dengannya.” Aku menghela nafas, melepaskan sesak di dada. Ujian datang bertubi-tubi menghampiriku.

“Sudah, terima saja Pak Herman, dia itu duda, kalau aku jadi kamu, aku pasti akan menerima cintanya,” ucap Nadia yang sedang menggoreng kentang.

“Apaan sih?! Aku belum resmi bercerai, Nad. Aku juga tidak akan gegabah dalam memilih pendamping hidup, kalau benar-benar suamiku telah resmi menceraikanku, apalagi aku bukan gadis lagi, melainkan ibu dari dua orang anak,” ucapku sebelum meninggalkannya, mengantarkan makan ke pelanggan.

“Pelayan!” teriak seorang yang duduk di meja nomor sepuluh, saat aku akan berjalan kembali ke dapur. aku bergegas menghampirinya.

“Maaf, Kak, mau pesan apa?” tanyaku mengeluarkan sebuah catatan kecil yang berada di saku celemek.

“Kamu ....” ucapnya menunjuk wajahku. Memandangku dari unjung ke ujung, dengan tawa mengejek.

“Reina ....” timpal lelaki yang berjalan dari belakangku lalu duduk di samping wanita itu.

***Bersambung***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nunuahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 4 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
28-06-2020 22:21
Ikut baca ya emoticon-Smilie
Lanjut di sini aja emoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
AyraNFarzana91 dan near3st memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
29-06-2020 01:45
lanjutin ceritanya
treadnya jadi satu aja gan
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
29-06-2020 03:30
ini mah indosiar
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
30-06-2020 07:31

Kurelakan suamiku untukmu part 6

Kurelakan Suamiku Untukmu part 6
Cinta Rena
Oleh Ayra N Farzana


“Mas Randi,” ucapku kaget melihatnya berada di kafe. Jarak kantor tempatnya bekerja, memang agak jauh dari kafe, jadi hampir tidak pernah dia ke kafe ini saat jam istirahat.

Raya berdiri. “Jadi, kamu sekarang bekerja sebagai pelayan!” hinanya dengan intonasi tinggi, membuat semua mata tertuju padaku.

“Iya, tak ada yang salah dengan pekerjaan ini,” jawabku.
“Dasar rendahan,” makinya mempermalukanku di hadapan semua orang.

Aku memang wanita miskin, tidak sekaya dan secantik dirinya. Ibarat jatuh tertimpa tangga, begitulah nasibku, Mas Randi sudah di ambilnya dan kini dia mempermalukanku.

“Lebih mulia menjadi pelayan, dari pada menjadi perebut suami orang!” sungutku kesal.

“Apa kamu bilang!” ucap Raya tak terima seraya menggebrak meja.

“Ada apa ini?” tanya Pak Herman yang berjalan menghampiri kami.

“Pelayan ini, telah menghina saya!” fitnah Raya menunjukku.

“Dia ....”

“Reina, kamu ke dalam!” Perintah Pak Herman sebelum aku menjawab.

“Baik, Pak.” Dengan perasaan kesal berjalan meninggalkan mereka.

Aku mengamati mereka dari dalam, tampak mereka sedang membicarakan sesuatu, Raya sesekali menunjukku. Entah apa yang Pak Herman katakan padanya hingga dia terdiam dan duduk.

Pria itu berjalan melewatiku yang masih berdiri di samping pintu, membawa catatan kecil, menyerahkan pada Nadia, setelah apa yang tertulis telah tersaji di atas nampan. Pak Herman membawanya keluar meletakkan di meja mereka.

“Reina, ke ruangan saya!” perintahnya menghampiriku, saat dia kembali ke belakang.

“Baik, Pak,” ucapku berjalan mengikutinya. Entah apa yang akan dia bicarakan, aku pasrah bila akhirnya dia memecatku.

“Apa yang kamu lakukan Reina?” tanya Pak Herman saat kami sampai di ruang kerjanya. Dia berdiri, menunduk dengan kedua tangan bertumpu pada meja. “Kemarin, ribut dengan seorang pemuda, sekarang mereka, kamu bisa kerja enggak sih!” katanya berjalan menghampiriku, memandangku sesaat lalu duduk bersandar di kursinya. Wajahnya Tampak penuh amarah.

“Maaf, Pak, kemarin pemuda itu merendahkan saya, dia memaksa saya untuk duduk bersamanya,” terangku yang masih berdiri.

“Apa salahnya, duduk sebentar menemani dia!” bentak Pak Herman, matanya melotot.

“Maaf, Pak, saya bukan wanita murahan yang bisa di sentuh sembarangan pria. Aku punya agama dan harga diri, kejadian kemarin aku anggap sebagai teguran karena lalai dengan perintah agama, karena itu hari ini, aku menutup aurat, untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Oh iya ... Pak, wanita tadi adalah orang yang menghancurkan rumah tangga saya, dan pria itu suami saya. Silakan kalau Bapak mau memecat saya!” ucapku marah merasa terhina dengan perkataan Pak Herman, yang memintaku untuk duduk menuruti pemuda yang akan melecehkanku kemarin.

“Aku, tidak bisa memecatmu, karena kamu sahabat, Mila,” terangnya.

“Kalau begitu permisi, Pak, saya masih ada pekerjaan,” pamitku keluar dari ruangan Pak Herman.

Statusku memang belum jelas, tapi bukan berarti mereka dapat memperlakukan seperti itu. Aku masih punya harga diri dan tahu batasan-batasan, mana yang baik dan mana yang buruk.

“Sabar, Rei.” Nadia yang berdiri menguping pembicaraan di samping pintu berjalan mengikutiku.

“Terima kasih.” Aku meninggalkan Nadia, berjalan menuju kamar mandi untuk menumpahkan segala luka yang ada di dada.

Jam dua belas, saatnya istirahat, seperti biasa aku pulang ke rumah untuk makan bersama dengan anak-anak.

“Nad, aku tinggal sebentar, ya,” pamitku. Aku melepas celemek, menaruhnya di meja dapur.

“Hati-hati, ya, Rei,” ucapnya melambaikan tangan.

“Reina, tunggu!” panggil Pak Herman saat melihatku berjalan keluar kafe.

“Maaf, ada apa, Pak, apa ada pekerjaan?” Aku menghentikan langkah, memandangnya.

“Maafkan, sikap saya tadi,” katanya.

“Tidak apa-apa, sudah kewajiban, Bapak, menegur bawahan. Oh, Ya, Pak saya permisi untuk pulang sebentar, sekedar untuk menengok anak saya yang ada di rumah.” Aku melangkah meninggalkan pria yang masih berdiri di depan kafe.

Dia berlari kecil menghampiriku. “Bolehkah saya antar, agar lebih cepat.”

“Terima kasih, tidak usah, Pak, dekat kok, saya jalan kaki saja,” tolakku, aku lantas berjalan dengan langkah cepat agar lekas sampai rumah.

Aku berjalan, dengan pikiran yang entah ... bingung antara keluar dari kafe dan tidak enak pada Mila yang terlalu banyak membantu, apalagi anak-anak selama ini aku titipkan di tempatnya.

***

“Alhamdulillah,” ucapku bahagia mendapat slip gaji pertama setelah genap sebulan bekerja di kafe Mila.

“Gajian, mau jalan-jalan ke mana?” tanya Nadia yang wajahnya berbinar-binar melihat enam nol di belakang angka.

“Enggak ke mana-mana, aku mau cari asisten rumah tangga untuk menjaga kedua putriku.” Aku masih memandangi slip gaji, berpikir keras, apakah gaji yang tersebut cukup untuk membayar asisten rumah tangga. Kedua putriku tidak mungkin terus-terusan dititipkan kepada Mila.

“Kedua putrimu usia berapa tahun?” tanya Nadia. Kami lantas duduk, di kursi yang berada di dapur, karena sudah malam, kafe juga sudah hampir tutup.

“Mereka berusia lebih dari tiga tahun.” Bekerja hingga malam, membuatku kehilangan waktu untuk Nela dan Neli. Aku selalu berpikir untuk keluar dari kafe, mencari pekerjaan lain yang jam kerjanya lebih pendek, tidak sampai malam, agar bisa mempunyai waktu lebih untuk mereka.

“Kamu, masukan saja mereka ke PAUD Bunda. Kedua putrimu setiap pagi akan belajar sesuai dengan usia mereka, di sana juga di ajarkan ilmu agama! Kamu bisa jemput mereka setelah pulang kerja,” terang Nadia.

“Di sana hanya sampai sore, sedang bekerja hingga malam. Sebenarnya aku juga pengen, mencari pekerjaan lain, agar bisa memiliki lebih banyak untuk kedua
putriku, apalagi hari minggu kafe tetap buka.”

“Oh iya, di jalan Merdeka ada butik membutuhkan karyawan, kalau kamu mau bisa saja melamar di sana,” kata Nadia memberi saran, mungkin ada baiknya mencoba melamar di sana. Besok aku akan mencoba berbicara pada Mila, tidak enak kalau tiba-tiba berhenti bekerja.

***AyraNFarzana***

“Rei ....” panggil Mila saat aku berjalan menghampirinya.

Kebetulan Mila sedang duduk di teras, menikmati secangkir kopi dengan sebuah novel di tangan. Hari ini aku ingin membicarakan rencanaku untuk menyekolahkan Nela dan Neli di PAUD Ibunda seperti saran Nadia, sekalian berbicara tentang keputusanku untuk berhenti bekerja di kafe.

“Hai, Mil.” Aku mendekat, duduk di sampingnya.

“Nela dan Neli, mana?” tanyanya meletakan majalah ke atas meja.

“Mereka, masih tidur. Mil aku mau berbicara sesuatu ....” Aku menjelaskan semua pada Mila. Dia setuju dengan segala keputusanku.

“Iya, enggak apa-apa, kamu masih bisa kok menitipkan anak-anak kepadaku. Aku senang bisa bersama mereka, apalagi mereka anak anteng dan tidak rewel.” Mila memang sangat baik terhadapku dan anak-anak.

Terkadang dia juga membelikan baju dan mainan untuk mereka, hal tersebut membuatku sungkan karena selalu merepotkannya.

“Terima kasih, ya, Mil.” Aku memeluknya.

***

“Aduh!” Tanpa sengaja aku menabrak seorang pria saat akan masuk ke dalam sebuah butik ternama yang tempo hari di sebutkan Nadia sedang mencari karyawan.

“Tidak apa-apa, saya juga minta maaf.” Pria berjalan tampak terburu-buru menuju sebuah mobil.

Aku bergegas masuk ke dalam butik. Nuansa sejuk menyentuh kulit saat menginjakkan kaki ke dalam, berbagai gaun terpampang rapi, mataku tertuju pada sebuah gamis berwarna merah yang melekat pada sebuah manekin, anggun, cantik, dan indah. Namun, mustahil aku memilikinya, gaji sebulan pun tak cukup untuk membelinya.

Aku bergegas menuju ruang pemilik butik.
“Assalamualaikum.” Aku mengetuk pintu tiga kali.

“Wa’allaikumsalam.” Terdengar sahutan dari dalam. “ Silakan masuk!” perintahnya.

Aku mendorong pintu, membukanya perlahan, lalu masuk ke dalam. Seorang gadis muda dan cantik duduk di meja. Dia sedang memandang laptop di hadapannya.

“Maaf, saya dengar di sini ada lowongan pekerjaan?” tanyaku tho the point.

“Iya, masih. Kakak bisa menjahit?” tanyanya.

“Insya Allah bisa.” Alhamdulillah aku bisa menjahit, karena dulu Almarhum ibu merupakan seorang penjahit. Aku sering membantunya.

“Kalau begitu Kakak, diterima bekerja di sini, oh ya, perkenalkan saya Meisa.” Dia mengulurkan tangan.

Aku membalas uluran tangan. “Reina.”

“Kakak, bisa bekerja mulai besok, jam kerja kakak dari jam delapan pagi sampai jam empat sore,” tutur gadis itu sangat ramah.

“Iya, terima kasih. Kalau begitu saya permisi.” Aku menjabat tangannya. “Assalamualaikum.”

“Wa’allaikumsalam.”

***

Cuaca hari ini begitu cerah, jalanan senggang karena waktu sudah mulai siang, tak tampak para pengemudi yang saling berlomba untuk sampai di tujuan. Aku dengan bahagia berjalan pulang, membawa sebuah kebahagiaan, sebuah pekerjaan.

“Reina!” Sebuah mobil berhenti saat aku tiba di gang masuk menuju rumah. Dia turun, berdiri di sampingku.

“Pak Herman.” Pria yang ingin sekali aku hindari justru kembali menemuiku.

“Reina, aku antar kamu pulang, ada sesuatu yang akan harus di bicarakan.”

Aku terus berjalan tak menghiraukannya. Tetapi, pria itu justru terus mengikuti sampai rumah.

“Reina, kenapa kamu tidak berangkat bekerja beberapa hari ini?” tanyanya saat kami sampai di depan pintu pagar rumah.

“Saya berhenti bekerja di kafe, Pak.” Setelah berbicara dengan Mila waktu itu, aku memang tak lagi berangkat bekerja karena mengurus sekolah Nela dan Neli di PAUD Ibunda.

“Apa kamu marah dengan perkataanku?” tanyanya memandangku.

“Maaf, Pak. Saya tidak marah dengan Bapak. Saya hanya ingin sedikit meluangkan waktu untuk anak-anak,” terangku.

Aku berhenti bekerja juga karena ingin menghindari Pak Herman. Dia telah menyakitiku dengan segala perkataannya waktu itu, tapi tak pernah ada rasa dendam di hati ini untuknya.

“Reina ....” ucap seorang pria menghampiri kami yang masih berdiri di luar pagar.

“Mas Randi!”

***Bersambung***

Diubah oleh AyraNFarzana91
profile-picture
nunuahmad memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
30-06-2020 08:04
keren ceritanya.. kapan update lg nih?
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
30-06-2020 17:38
gak tau kenapa
jadi ingin nyanyi
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
30-06-2020 21:57
SEDIH BGT PLEASE
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
01-07-2020 08:55
Kurelakan Suamiku Untukmu (Cinta Reina) part 7
Oleh Ayra N Farzana



“Mas Randi!” ucapku kaget.

“Oh, jadi begini kelakuan Kamu, di belakangku! Dasar murahan!”

Aku hanya terdiam, mendengar segala ucapannya. Justru, dia yang berkhianat, mengapa sekarang dia menyalahkanku.

“Apa kamu bilang? Bukankah kamu yang menghianati Reina!” Pak Herman mendekati Mas Randi, mendorongnya.

“Kamu siapa? Berani melawan saya! Dia itu masih istri saya!” kata Mas Randi menantang Pak Herman.

“Suami macam apa yang tega menduakan istrinya, demi perempuan lain yang lebih kaya! Ceraikan Reina, karena dia tak pantas untuk pria sepertimu!” Pak Herman menonjok wajah Mas Randi.

Mas Randi seketika memegang wajahnya yang melebam.

“Hentikan!” teriakku saat Mas Randi ingin membalas pukulan Pak Herman. “Apa-apaan kalian ini! Pergi Mas, aku sudah tak sudi lagi melihat wajahmu! Jangan pernah kembali lagi dalam kehidupanku!” Aku mengusirnya pergi.

Sudah cukup segala derita yang dia torehkan di hati. Aku tidak ingin dia kembali di saat diri ini telah mampu menghapus namanya dalam hati.

“Maaf, Pak, sebaiknya Bapak pulang saja, saya butuh waktu untuk menyendiri.”

“Rei!” panggil Pak Herman. Namun, aku terus melangkah meninggalkannya yang masih berdiri.

Aku menangis menumpahkan segala luka. Hanya sedikit bahagia yang kudambai, tapi mengapa selalu duka yang kurasakan.

***

“Reina, tolong kamu ambil gaun ungu yang ada di sana.” Meisa menunjuk sebuah lemari kaca.

“Kamu, pakaikan pada manekin yang ada di depan,” perintahnya.

“Baik, Kak,” ucapku.

“Meisa, saja. Aku kan lebih muda darimu,” katanya, selain cantik dia juga baik hati.

“Oke, Meisa,” ucapku mengacungkan jempol.

Aku bergegas mengambil gaun memakaikannya dengan hati-hati pada manekin yang terletak di dekat pintu. Hari pertama rasanya berdebar-debar, takut melakukan sebuah kesalahan. Tugas pertama selesai, aku bergegas kembali ke dalam, menjahit sebuah gaun mewah, dengan desain yang luar biasa. Aku tidak menyangka Meisa sangat ahli dalam mendesain pakaian.

“Aduh!” pekikku tanpa sengaja menabrak seorang pria. “Maafkan saya, Pak.”

Pria itu hanya mengangguk, berjalan meninggalkanku.

“Mei, gaun untuk pernikahan Ayna sudah kelar belum?” ucapnya menghampiri Meisa.

“Belum, empat puluh persen lagi kelar, tuh!” Meisa menunjuk gaun yang sedang aku jahit.

Pria itu tak asing, aku seperti pernah melihatnya. Pria yang menabrakku kemarin, mungkin gaun yang aku jahit ini milik calon istrinya.

Dia berjalan mendekatiku, memegang gaun yang sedang aku jahit. “Ayna terus saja menanyakan gaun ini.”

“Iya, Kak, bentar lagi juga kelar,” ucap menghampiri kami. “Kak Hasan, perkenalkan dia karyawan baru kita, Reina.” Meisa memegang pundakku. “Jangan khawatir, jahitannya rapi dan bagus kok!” Meisa berjalan menghampiriku.

“Reina, ini Hasan kakakku.”

Aku menangkupkan tangan di dada. Aku kembali melanjutkan menjahit gaun. Pak Hasan duduk di sofa yang terletak di samping jendela.

“Assalamualaikum,” salam seorang wanita masuk ke dalam.

“Wa’allaikumsalam,” jawab kami hampir bersamaan.

Wanita itu kelihatan sangat cantik dan elegan. Dia menghampiri Meisa, memeluk dan mencium kedua pipinya.

“Mei, gaunku sudah kelar belum?” tanyanya.

“Tuh!” Meisa menunjuk ke arahku. “Jadwalmu fiting baju kan masih seminggu lagi, pernikahanmu juga masih satu bulan lagi,” ucap Meisa.

“Aku sudah enggak sabar mau lihat hasil desainmu!” ujarnya. “Hasan, kapan kamu akan menyusulku untuk menikah?” tanyanya mendekati Hasan.

“Sudah jangan menggoda terus Kak Hasan,” bela Meisya.

Ayna duduk di sofa. “Ayolah bangkit dari kesedihanmu. Move on, ikhlaskan Humaira, tak mungkin selamanya kau hidup sendiri,” nasehat Ayna.

Pria itu hanya diam tak menimpali, bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka. Seperti ada luka yang tak terlihat di dalam hatinya.

Meisa menepuk pundak Ayna pelan. “Sudahlah ... mungkin suatu saat dia akan menemukan jodohnya.”

“Reina, habis ini temani aku beli kain, ya?” ajak Meisa.

“Baik, Mei,” jawabku mengangguk.

“Ya sudah Mei, aku pergi dulu ya! Ada meetting soalnya,” pamit Ayna mencium kedua pipi Meisa.

“Hati-hati, jangan ngebut, ngebut bawa mobilnya,” pesan Meisa.

“Jangan khawatir,” jawabnya berlalu meninggalkan kami.

Beberapa saat setelah Ayna pulang, Hasan kembali masuk ke dalam. Dia memeriksa berkas-berkas yang ada di meja Meisa.

“Mei, gimana penjualan bulan ini?” tanyanya.

“Ada peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan bulan lalu si, Kak.” Meisa menatap kakaknya. “Kak, bisa enggak beli bahan sebentar, aku lagi sibuk banget nih!” pintanya.

Pria itu hanya mengangguk mengiyakan.

“Reina, temani kakakku beli bahan-bahan,” pinta Meisa. Dia memandangku penuh harap.

“Baik, Mei,” jawabku mengiyakan.

Aku tak berani membantahnya karena aku hanya karyawan baru.

“Jangan khawatir, ada Pak Mahmud sopir kakak juga yang menemani kalian. Aku mengangguk mendengar penuturan Meisa.

Di butik aku hanya bertugas membantu menjahit di bagian yang mudah-mudah saja, sedang bagian yang sulit Meisa yang mengerjakan. Aku lebih banyak melayani pelanggan atau membantu menyiapkan apa yang dia butuh kan.



Kami hanya terdiam saat berada di dalam mobil. Pak Hasan duduk di depan bersama Pak Mahmud.

“Nak Reina tinggal dimana?” tanya Pak Mahmud memecah keheningan.

“Di Jalan Tentara, Pak,” jawabku.

“Tinggal siapa, Nak?”

“Bersama kedua putri saya, Pak.” Aku memandang ke arah luar saat lampu merah. Ada banyak anak jalanan, menghampiri mobil-mobil yang terparkir menunggu lampu hijau. Ada yang mengamen, ada pula yang menjual koran. Seorang gadis kecil seusia Nela dan Neli menghampiri mobil yang kami tumpangi bersama kakaknya.

Miris saat mendengar mereka menyanyikan lagu yang tak sesuai dengan umur mereka. Aku lantas membuka tas mengambil sedikit uang untuk mereka.

Aku mengurungkan niat untuk membuka kaca jendela, karena Pak Hasan telah lebih dulu memberikan selembar uang seratus ribuan untuk mereka. Aku kembali meletakan uang

yang tak seberapa banyak kembali ke dalam tas. ‘Tak menyangka orang angkuh seperti Pak Hasan memiliki hati yang baik.

Aku berbasa-basi sama Pak Mahmud selama di perjalanan. Sesekali aku melirik Pak Hasan melalui kaca spion. Aku penasaran dengan sikapnya. Mana mungkin pria semapan dan sebaik dia belum menikah di usia yang sudah cukup matang.

Sesampainya di toko, Pak Hasan membeli Berbagai jenis kain seperti kain Brokat, kain ini paling sering digunakan sebagai gaun pesta, gamis ataupun kebaya. Kain Organza, jenis kain ini biasanya hanya digunakan sebagai pemberi aksen mewah atau bahan tambahan yang di jahit di bagian luar gaun, ada juga kain satin, kain Embrador, lace dan kain lainnya.

Tak memerlukan waktu lama untuk memilih karena semuanya telah dipersiapkan oleh toko. Pak Hasan dan Meisa sudah biasa mengambil kain di toko kain Pak Tarno.

Saat perjalanan pulang pun masih sama hening ... tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

***

Tepat jam empat sore aku pulang menunggu angkutan umum, karena jarak rumah dan butik lumayan jauh. Sebelum pulang ke PAUD Bunda untuk menjemput Nela dan Neli.

“Ayo Nak, Bapak antar,” tawar Pak Mahmud.

“Tapi, Pak.” Aku memandang Pak Mahmud dan Pak Hasan bergantian takut sang pemilik mobil tak setuju.

“Naiklah!” perintah Pak Hasan.

Aku pun ikut pulang bersama mereka.

“Pak Mahmud, saya berhenti di PAUD Bunda saja,” pintaku.

“Loh, kenapa enggak sekalian sampai rumah?” tanyanya melirikku melalui kaca spion.

“Saya mau jemput anak-anak saya dulu, Pak.”

***AyraNFarzana***

“Terima kasih, Pak,” ucapku sebelum keluar dari mobil. Pria itu hanya mengangguk.

Aku bergegas masuk ke dalam.

“Assalamualaikum.” Aku mengucap salam saat masuk ke dalam kelas.

“Bunda!” teriak mereka berhambur memelukku.

“Tadi gimana belajarnya, Sayang?” tanyaku menatap mereka.

“Bunda, tadi kami bikin gambar ini.” Nela menunjukkan buku gambarnya. “Ini Bunda, Ayah, Nela dan Neli.” Dia menunjuk satu-satu gambar di bukunya.

Aku terharu melihatnya, tak tahu harus bagaimana memberitahu mereka, bahwa ayah dan bundanya kini tak mungkin lagi dapat bersama.

“Bu Reina,” ucap Bu Ayu menghampiri kami.

Aku menjabat tangannya. “Maafkan saya ya Bu, karena terlambat menjemput mereka. Terima kasih juga, karena Ibu, sudah membimbing dan menjaga anak-anak saya.”

“Itu sudah kewajiban saya. Nela dan Neli pintar dan baik dalam mengerjakan tugas, mereka juga tidak rewel,” terangnya.

“Kalau begitu saya permisi, Bu Ayu.” Aku menggandeng Nela dan Neli berjalan keluar untuk pulang.

“Reina ....”

“Ada apa kamu menemui saya, lagi!”

“Reina, maafkan saya.”

***Bersambung***
profile-picture
profile-picture
Mario042416 dan nunuahmad memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
02-07-2020 01:07
weh ngebut gan updetnyaemoticon-2 Jempol
Tandai dulu biar gampang
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
02-07-2020 06:55
bodoh amat sih
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
04-07-2020 09:33

Kurelakan suamiku untukmu part 8



“Reina, maafkan saya,” ucap Pak Herman menghampiriku yang baru keluar dari sekolah.

Entah, mau apalagi dia menemuiku. Aku merasa tidak dengan kehadirannya. Apalagi beberapa kali dia mengutarakan keinginannya untuk menikah.

“Bapak tidak salah, tidak perlu meminta maaf.” Aku berjalan meninggalkannya. Pria itu tetap kekeh berjalan mengikutiku.

“Saya antar pulang,” tawarnya.

“Maaf, Pak. Saya tidak ingin ada fitnah di antara kita karena saya masih berstatus istri orang. Sekali lagi maaf.” Aku menangkupkan kedua tangan di dada.

“Baiklah, tunggu sebentar.” Pria itu berlari menuju mobilnya, tak lama dia kembali menghampiri kami membawa sebuah kantong keresek yang berisi penuh. Dia mendekati putriku, berjongkok dan berbicara pada mereka. “Kalian mau es krim tidak?” tanyanya.

“Mau, Om, tapi ....” Nela memandangku. Begitu juga Pak Herman.

“Jangan takut, Om, teman mama kamu kok!” akunya pada anak-anak.

“Boleh enggak, Bunda?” tanya Neli memandangku.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Hore ... makasih ya Om,” ucap mereka bersamaan.

“Terima kasih,” ucapku berjalan meninggalkannya pulang ke rumah.

Bukan cuma es krim, ada banyak makanan ringan di dalam kantong keresek dengan merek minimarket ternama.

Sejak saat itu Pak Herman sering menemui kedua putriku, baik di rumah ataupun di sekolah. Membawakan mereka beraneka es krim dan makanan ringan, terkadang mainan. Namun, dia tak pernah menemuiku atau sekedar berbicara. Dia datang mengantar makanan untuk anak-anak kemudian pulang.

Aku tidak membencinya, walau dia dulu sering menggodaku saat masih bekerja di kafe. Sebenarnya dia memiliki hati yang baik, tapi salah dalam mengungkapkan. Mungkin dia berpikir, seorang wanita akan terpikat hanya dengan iming-iming harta. Namun, tak semua wanita tertarik pada seorang pria yang memiliki harta. Sejatinya seorang wanita menyukai pria dari sifat dan pribadinya.

🌾🌾🌾🌾

“Reina, aku ingin rujuk kembali,” ucap Mas Randi setelah hampir lima bulan dia pergi meninggalkan kami.

Rasa sakit dan kecewa akan luka yang dia goreskan, membuatku lupa akan rasa cinta yang pernah ada. Sungguh sebuah keputusan sulit untuk menerimanya kembali ke dalam kehidupanku.

“Maaf Mas, aku tidak bisa. Sudah banyak luka yang kau torehkan.” Aku menunduk, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Maafkan aku. Aku menyesal telah menyakitimu.”

“Aku sudah memaafkanmu, Mas, sebelum Kamu meminta maaf. Walau bagaimanapun, kamu adalah ayah dari Nela dan Neli. Oh ... ya, perceraian kita, insya Allah aku akan segera mengurusnya.”

“Apa kamu tidak mau mempertimbangkannya lagi?” tanyanya menatap penuh harap.

“Tidak, Mas.”

Aku dan Mas Randi duduk di teras, menatap Nela dan Neli yang sedang bermain. Hujan lebat membuatnya tertahan lebih lama.

“Besok hari Minggu, aku mau mengajak anak-anak jalan-jalan,” ungkapnya.

“Terserah, Kamu—Mas, tanyakan saja sendiri ke anak-anak!” ucapku menunjuk si kembar.

Mas Randi bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Nela dan Neli, duduk di samping mereka dan bermain bersama.

“Kalian besok mau enggak jalan-jalan sama ayah!” ajaknya.

“Mau, Ayah,” ucap Nela dan Neli serempak. Mereka tampak bahagia.

“Sama Bunda ‘kan, Ayah?” tanya Neli.

Aku hanya mampu tersenyum getir. Mereka masih terlalu kecil, belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua orang tua mereka.

“Insya Allah, Sayang,” jawabku tak ingin membuat mereka kecewa.

“Hore ...!” teriak mereka meloncat-loncat bergandengan tangan.

Ingin rasanya keluargaku utuh dan sempurna, tidak ada luka, ataupun duka. Namun, semua itu sekarang hanya impian belaka. Semua karena kehadiran orang ketiga. Andai waktu dapat kembali diputar, aku akan menjaga keluarga ini, menjaga Mas Randi agar tidak berpaling ke lain hati. Tapi kini semua itu hanya sia-sia yang ada hanya luka yang sudah terlanjur menganga.

Walaupun berat aku harus melepaskannya. Sekali berkhianat suatu saat dia pasti akan mengulanginya. Sedari awal hubungan kami, telah ditegaskan bahwa aku membenci sebuah kebohongan.

Setelah menemani anak-anak bermain Mas Randi berpamitan untuk kembali ke kontrakannya.

Begitu banyak kenangan yang dia tinggalkan. Begitu banyak pula penderitaan yang dia torehkan. Dia pria pertama yang memberiku cinta. Namun, dia juga pria pertama yang membuatku terluka.

***AyraNFarzana***

Mas Randi menepati janjinya. Dia datang mengajak kami jalan-jalan ke kota lama. Anak-anak begitu bahagia saat bersepeda berkeliling bersama. Desiran cinta kembali terasa, apakah aku harus bertahan atau meninggalkannya? Keraguan kini merasuk ke dalam dada.

“Bunda, foto yuk!” ajak mereka.

Kami berdiri di dekat sepeda ontel, mengambil foto bersama berlatar kan kota tua.

‘Ah ... kenapa kau berkhianat Mas, tidakkah kau lihat, betapa bahagia anak-anak saat bersamamu?’ gumanku dalam hati.

“Ayah, kenapa Ayah tidak tinggal di rumah bersama kami lagi?” tanya Nela saat kami sedang menikmati makan siang di sebuah resto makanan cepat saji.

“Iya, kapan Ayah pulang ke rumah?” timpal Neli.

“Nanti, Sayang kalau pekerjaan Ayah sudah selesai,” jawabku memandang Mas Randi.

Dia hanya diam tak bisa menjawab pertanyaan kedua buah hati kami.

Dia tak hanya mengajak kami ke kota lama, kami mampir juga ke sebuah mall ternama, membeli beberapa mainan dan keperluan si kembar.

Tak terasa waktu telah menginjak malam. Mas Randi mengendong Nela dan aku mengendong Neli yang tertidur di jok belakang saat di perjalanan. Mas Randi menyewa sebuah mobil agar kami nyaman saat perjalanan.

“Randi!” teriak Raya.

Saat kami berjalan memasuki rumah.

“Mas dari mana saja kamu dengan dia?” Dia menunjukku.

Nela yang berada di gendongan Mas Randi terbangun dan turun. Aku membawa mereka ke kamar agar tidak melihat pertengkaran kami.

***Bersambung***
Diubah oleh AyraNFarzana91
profile-picture
profile-picture
kaskus.novia dan nunuahmad memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
05-07-2020 03:12
tinggalkan jejak dlu..
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
07-07-2020 09:23
nyimak sambil ngopi...
profile-picture
AyraNFarzana91 memberi reputasi
1 0
1
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
07-07-2020 18:32

Kurelakan Suamiku Untukmu 9



"Reina!” teriak Raya berjalan mendekatiku.

“Jauhi Randi atau akan aku membuat perhitungan denganmu!” ancamnya.

“Tidak perlu teriak, insya Allah sebentar lagi aku akan menggugat cerai, Mas Randi,” ucapku menahan amarah. “Kalau sudah tidak ada yang akan dibicarakan, silahkan pergi!” perintahku.

“Ayo pulang!” Mas Randi menarik tangan Raya. “Maaf,” pintanya sebelum meninggalkanku.

Aku masih terpaku memandangnya pergi. Tak perlu lagi kusesali ataupun tangisi, biarlah yang terjadi, semua sudah takdir Illahi.
Aku kembali ke dalam, ternyata Nela berdiri di pintu.

“Bunda, siapa tante tadi, kenapa, dia ajak Ayah pergi?” tanyanya.

Aku memeluk Nela, tidak menjawab pertanyaannya. Dia masih terlalu kecil, belum saatnya dia untuk tahu. Tanpa terasa air mataku mengalir membasahi pipi.

“Ayo, Sayang sudah malam bobok.” Aku melepas pelukan, menggendong Nela masuk ke dalam, merebahkannya di atas tempat tidur dan membelainya hingga dia tertidur lelap.

Aku duduk memandang foto pernikahan kami yang masih terpampang di dinding kamar. Aku mengenakan gaun berwarna putih gading, sedang dia mengenakan tuksedo berwarna senada. Dalam foto kami tersenyum bahagia, tapi kini semua telah hancur karena kehadiran orang ketiga.

Sebenarnya begitu berat untuk melepas Mas Randi, tapi aku juga tidak bisa mempertahankannya, karena jika tetap bersama justru akan semakin membuat terluka. Bila bertahan itu menyakitkan maka tinggalkan adalah pilihan yang tepat.

Aku beralih memandang cincin pernikahan dengan ukiran nama kami berdua, memutar-mutarnya di jari, melepasnya dan meletakkan ke dalam kotak beludru berwarna biru yang terletak di laci nakas.

Pada sepertiga malam, aku terbangun. Berjalan menuju kamar mandi, mengambil air wudu, lantas menunaikan salat tahajud, disambung salat istikharah. Memohon kepada Allah subhanahu wa ta'alla agar diberi kemudahan dalam mengambil keputusan.
Usai salat aku memandang si kembar. Mereka kekuatanku dalam menjalani hidup. Di dunia ini tidak ada yang paling berharga selain mereka. Keputusanku sudah bulat untuk berpisah dengan Mas Randi.

***AyraNFarzana***

Sebulan telah berlalu, gugatanku disetujui oleh hakim. Aku dan Mas Randi akhirnya resmi berpisah. Ada kelegaan tersendiri, karena aku tidak lagi terbelenggu olehnya.

“Reina, aku minta maaf atas segala yang telah aku lakukan,” ucapnya selesai sidang.

“Tak perlu minta maaf, aku sudah memaafkanmu, Mas.”

Walau rasa sakit yang dia torehkan begitu dalam, tapi begitu sulit untukku membencinya.

“Aku akan tetap menunaikan kewajibanku terhadap anak-anak,” ujarnya.

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Hak asuh anak-anak jatuh ke tanganku, dengan alasan mereka masih kecil dan masih membutuhkan belaian ibu.

“Ayo Ran, pulang” Raya menghampiri kami, mengamit lengan Mas Randi. Mereka berjalan pergi dari pengadilan agama.

Aku ikhlas melepas, Mas Randi. Ini mungkin jalan terbaik untuk kita. Semoga kau bahagia bersamanya. Aku sadar tidak ada hidup yang sempurna. Takdir hidup hanya Allah subhanahu wa ta'alla yang tahu.

***AyraNFarzana***

Hari ini begitu melelahkan, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kerja sama dengan perusahaan Ekspo yang diterima Meisa membuat butiknya semakin maju, gaun produksinya diekspor keluar negeri.

“Rei, masih kurang berapa gaun lagi?” tanya Meisa mendekatiku.

“Masih kurang lima lagi, Mei,” jawabku.

Setiap model gaun yang diproduksi, Meisa hanya dibuat tiga potong dengan varian warna dan hiasan yang berbeda.

“Mbak ada paket.” Seorang kurir masuk ke dalam butik membawa sebuah kotak terbungkus kertas berwarna merah muda.

“Paket untuk siapa ya, Pak?” tanya Sifa—karyawan baru Meisa.

“Reina Maharani,” ucapnya.

Aku menghampiri kurir saat dia menyebut namaku.

“Dari siapa, Pak?”

“Tidak ada nama pengirimnya, Bu,” terangnya.

“Oh, terima kasih ya, Pak.”

Aku menerima paket, membolak-baliknya, memeriksa setiap bagian, mencari nama pengirim paket.

“Dari siapa, Rei?” tanya Meisa.

“Enggak tahu ni, tidak ada pengirimnya.”
Aku meletakan kotak tersebut di atas meja, melanjutkan kembali menjahit.

“Mei, aku haus tolong buatkan minum,” pinta Hasan yang baru saja tiba dan duduk di sofa.
Hasan hanya datang ke butik Meisa hanya beberapa kali saja dalam seminggu untuk mengecek. Hasan memiliki perusahaan garmen yang memproduksi kaos.

“Kak, aku sedang sibuk sekali, ambil sendiri saja, ya,” pinta Meisa.

“Biar aku ambilkan,” ucapku menawarkan diri.

“Terima kasih ,Rei,” kata Meisa.

“Oh iya, Pak Hasan mau minum apa?”

“Kopi saja.”

Aku bergegas ke belakang membuatkannya segelas kopi.

“Ini, Pak, kopinya.”

Aku meletakan kopi di meja, tanpa sengaja melihat foto seorang wanita berjilbab di HP Pak Hasan. Apa mungkin dia Humaira—wanita yang pernah dibicarakan Ayna dan Meisa. Dia begitu cantik dan anggun.

“Terima kasih,” ucap Pak Hasan.

“Permisi, Kak Mei ada yang ingin bertemu,” ucap Sifa yang masih berdiri di ambang pintu.

“Suruh ke sini,” ucap Meisa.

Butik memang terdiri dari beberapa ruangan. Di depan merupakan ruang store, sendang di dalam, ruang yang biasa aku dan Meisa tempati adalah ruang produksi sekaligus ruang kerja Meisa.

“Permisi.” Seorang wanita cantik dan modis masuk ke dalam ruangan.

“Ada yang bisa saya bantu?” tawar Meisa.

“Reina,” ucap pria yang berjalan bersama wanita itu kaget melihatku.

“Ya, ampun! Dimana-mana ketemunya kamu terus,” cerca Raya.

“Silakan duduk, Pak, Bu.” Meisa berdiri mempersilakan mereka berdua untuk duduk.

“Kedatangan kami ke sini ingin memesan gaun pengantin untuk acara pernikahan kami.”

Mereka akan melangsungkan pernikahan dua bulan lagi. Raya menyebutkan segala detail gaun yang dia minta pada Meisa.

“Terima kasih kerja samanya,” kata Meisa berdiri saat Mas Randi dan Randi akan beranjak pulang.

Aku berjalan mendekati mereka, mengulurkan tangan. “Selamat ya, Mas. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.”

“Terima kasih,” ucap Mas Randi, sedang Raya tampak tidak suka dengan kehadiranku.

****

Nela dan Neli sudah lelap dalam mimpi mereka. Aku masih duduk termangu memandang kotak berwarna biru.
Aku mengambilnya dari nakas dan membukanya perlahan. Satu set gamis berwarna merah dengan merek ternama beserta secarik kertas berwarna merah muda.

[Tersenyumlah, karena senyummu sangat berharga bagiku. Jangan menangis, tangisanmu adalah deritaku. Selamat ulang tahun Reina. From me to you.]

Seperti ada rasa hangat yang menjalar di dada. Aku tersenyum membaca setiap kata yang tertulis di sana. Siapa gerangan dia yang bisa paham akan diri ini, dan bagaimana bisa dia mengerti tentang rasa sakit hati yang kualami?

Sejatinya ujian yang aku alami, mungkin adalah sebuah teguran karena aku lalai menjalankan kewajiban terhadap Allah subhanahu wa ta'alla.
Diubah oleh AyraNFarzana91
profile-picture
kkaze22 memberi reputasi
1 0
1
Kurelakan Suamiku Untukmu part 3
09-07-2020 06:44
sapa ya yg ngirim paket....

curiga nih siapa dia





Siapa yaaaaaa?
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
mau-gak-jadi-istriku
Stories from the Heart
olivia
Stories from the Heart
kamu-hujan-yang-kunantikan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
true-story-yellow-raincoat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia