Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4260
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de0d5ec337f9364df2d12f0/pencarian-belum-usai-true-story---season-3
Setelah menyelesaikan hubungannya dengan Keket, Ija berhasil mendapatkan pengganti yang sepadan dengan Keket, yaitu Dee. Hubungan keduanya sangat langgeng dan lancar serta minim polemik. Tentunya banyak bumbu yang hadir seperti kehadiran orang ketiga yang tidak diketahui Dee dan Ija sendiri, perbedaan pendapat mengenai rencana pernikahan, domisili pekerjaan, pengekangan aturan berpacaran yang tida
Lapor Hansip
29-11-2019 15:25

Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Selamat Datang di Thread Gue 
(私のスレッドへようこそ)


Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI DUA TRIT GUE SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT SELANJUTNYA INI, GUE DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK GUE DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DISINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR



Last Season, on Muara Sebuah Pencarian - Season 2 :
Quote:Setelah menyelesaikan hubungannya dengan Keket, Ija berhasil mendapatkan pengganti yang sepadan dengan Keket, yaitu Dee. Hubungan keduanya sangat langgeng dan lancar serta minim polemik. Tentunya banyak bumbu yang hadir seperti kehadiran orang ketiga yang tidak diketahui Dee dan Ija sendiri, perbedaan pendapat mengenai rencana pernikahan, domisili pekerjaan, pengekangan aturan berpacaran yang tidak disukai Ija, serta hubungan yang lambat laun semakin membosankan dan tidak jelas arahnya.

Pada puncaknya, hubungan ini kalah oleh ego masing-masing, baik itu Ija dengan keinginannya untuk menetap di ibukota, bekerja sampai menikah dan membina rumah tangga disana, sementara Dee yang ingin kembali kekampung halamannya dan menetap disana, jauh dari hiruk pikuk kehidupan metropolitan yang membuatnya tidak nyaman. Hubungan yang telah terjalin lama akhirnya harus kandas ditengah jalan. Untungnya hubungan keduanya tetap baik sehingga tidak meninggalkan kekecewaan mendalam seperti yang dulu Ija alami saat bersama Keket.




INFORMASI TERKAIT UPDATE TRIT ATAU KEMUNGKINAN KARYA LAINNYA BISA JUGA DI CEK DI IG: @yanagi92055 SEBAGAI ALTERNATIF JIKA NOTIF KASKUS BERMASALAH


INDEX SEASON 3


LINK BARU MULUSTRASI SEASON 3


Peraturan



Quote:Original Posted By yanagi92055
D I S C L A I M E R


1. Melalui tulisan ini, gue Firzy Andreanoatau dikenal sebagai Ija, menyatakan bahwa gue HANYA membuat tulisan atau cerita di subforum SFTH KASKUS

2. Gue TIDAK melakukan repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun selain di FORUM KASKUS.

3. Gue TIDAK PERNAH MEMBERIKAN IZIN KEPADA SIAPAPUN untuk melakukan repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

4. Gue HANYA MEMPERBOLEHKAN untuk share INFORMASI bahwa tulisan ini sudah ada update terbaru dengan menyertakan DIRECT LINK ke update-an terbaru atau ke trit tulisan-tulisan gue, dan bukannya repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

5. Gue sudah membuatkan INDEX di pejwan untuk membantu reader tulisan ini terkait dengan update terbaru dari tulisan ini, sehingga tidak ada lagi alasan untuk meminta pihak lain selain gue untuk repost, re-upload atau re-share tulisan ini di forum, blog, atau akun media sosial manapun.

6. Mohon bantuan para reader disini jika berkenan ketika mendapati tulisan gue, ataupun screenshoot dan bentuk lainnya ada diforum, blog, atau akun media sosial manapun selain KASKUS agar bisa PM atau report ke gue, terkait dengan urusan Karya Cipta.

7. Jika ternyata masih ditemukan hal-hal seperti yang sudah disebutkan pada poin-poin diatas, mohon maaf, gue akan MENGHAPUS keseluruhan tulisan yang pernah gue post disini.


MARI BELAJAR MENGHARGAI HASIL KARYA CIPTA ORANG LAIN DENGAN MEMBACA DARI SUMBER ASLINYA DAN MEMINTA IZIN TERLEBIH DAHULU SEBELUM MENGANGKAT TULISAN / KARYA ORANG LAIN UNTUK KEPENTINGAN DAN KEUNTUNGAN PRIBADI


Quote:PENJELASAN TERKAIT DISCLAIMER

Quote:UPDATE KASUS DISCLAIMER
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hsajie dan 126 lainnya memberi reputasi
121
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 110 dari 116
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
20-06-2020 20:06

HEADACHE MAN

Gue sudah super frustasi dengan keadaan yang ada. Gue mendapatkan tekanan dari sana sini. Apalagi pembahasan urusan pernikahan ini, membuat gue semakin nggak nyaman. Gilanya, rasa ketidaknyamanan tersebut kenyataannya datang dari orang yang sangat gue sayangi, yaitu ibu gue sendiri. Tekanan ini makin terasa berat dan menyakitkan karena gue harus berkonfrontasi dengan Mama.

Di sisi lain ketika gue sedang tertimpa musibah karena laptop gue yang hilang, pekerjaan gue di kantor malah lagi banyak-banyaknya. Banyak data gue yang hilang, sehingga membuat gue harus kembali menyusun dan mengumpulkan ulang data yang gue butuhkan untuk penyelesaian pekerjaan gue.

Saat itu pun, gue sedang mengerjakan proyek besar dari salah satu BUMN terkemuka di negeri ini yang tentunya ada tekanan tersendiri juga. Apalagi gue diharapkan untuk standby terus di kantor, bahkan selepas office hour.

Efek domino dari segala masalah di atas membuat urusan tesis gue pun terbengkalai. Gue ngerasa buntu. Ide gue banyak yang mentok. Gue ga bisa diskusi dengan siapapun dan ga tau gimana cara solving problem yang ada saat itu.

Gue bener-bener keabisan ide untuk nyelesein tesis gue. Bayang-bayang horor dimana gue harus membayar denda keterlambatan lulus (yang nominalnya bisa mencapai puluhan juta kalau gue semakin lama lulus) pun terus datang.

Di sini gue sangat rindu Emi. Biasanya ketika gue sedang kebingungan, buntu, dan banyak masalah, akan ada dia yang bisa membantu gue mencari solusi atau bahkan memberikan solusi terbaik untuk semua permasalahan gue. Kali ini, gue harus berusaha mencari jalan keluarnya sendiri.

Dulu, biasanya ketika suntuk gue bisa mencari pelarian dengan coba latihan band dengan anak-anak. Walaupun memang belum ada panggungan lagi, tapi latihan band di studio akan cukup membuat diri gue sedikit refreshing.

Tapi kali ini gue nggak bisa. Kenapa? Karena band gue masih vakum karena urusan dengan Arko belum menemukan titik terang. Selain itu ya kembali lagi, di band ini nggak ada Emi yang membantu menyelesaikan masalah band gue.

Sebelum kejadian cekcok antara gue dan Emi di Coffee Shop, dia mengajak gue untuk menurunkan ego gue dengan mengusulkan pertemuan bersama Arko dan juga keluarganya. Gue yang merasa nggak dalam posisi bersalah masih belum mau untuk mengiyakan ide Emi ini. Gue masih berpikir, yang salah itu Arko dan anak-anak lainnya pun beranggapan yang sama.

Dalam hal ini, keluarga yang gue maksud adalah istrinya. Karena band ini adalah keluarga kedua bagi kami, jadi pasangan masing-masing dari personil adalah anggota band juga (secara non-teknis). Kecuali gue dan Emi yang notabene-nya adalah sama-sama anggota band. Walaupun Emi adalah Manajer, tapi Emi adalah anggota ke-6 di band.

Keinginan gue untuk fokus menyelesaikan masalah gue satu per satu menjadi semakin buyar. Gue benar-benar butuh sosok Emi. Tapi Emi sendiri sedang sengaja gue jauhi dulu, untuk menghindari keributan-keributan yang sebetulnya nggak penting. Di saat ini pulalah akhirnya gue nggak kuat. Gue berserah diri kepada Tuhan. Tuhan menjadi satu-satunya tempat gue curhat.

Ini pula yang membuat emosi gue menjadi sangat tidak stabil. Mungkin bagi sebagian orang, mendapati beberapa masalah dalam satu waktu dapat mereka selesaikan dengan baik. Mereka memiliki cara-caranya tersendiri untuk menyelesaikan masalah mereka tersebut. Tapi tidak dengan gue. Ketika gue merasa sangat capek dan frustasi seperti saat ini, yang ada di pikiran gue hanya : semuanya akan berakhir pada kegagalan.

Gue mengeluh kepada Tuhan. Tetapi bukan untuk menanyakan kenapa segala cobaan seperti ini dialamatkan ke diri gue. Melainkan gue ingin menanyakan, kenapa gue nggak bisa menyelesaikan segala sesuatu yang menjadi konsekuensi tindakan yang gue ambil. Pada titik ini pulalah tingkat ketergantungan gue dengan Emi terasa sangat besar.

Di sini gue akhirnya semakin sadar bagaimana berharganya seorang Emi di hidup gue. Ketika gue dan dia berpisah untuk beberapa waktu, hidup gue jadi terasa kacau. Nggak ada teman diskusi dan orang yang memberikan solusi untuk setiap permasalahan gue.

“….Emi belum bisa gue hubungi. Gue nggak mau ribut dengan dia. Kondisi mental dan emosi gue sangat labil. Nanti adanya bukannya dapat solusi, Emi malah akan semakin sakit hati.” Ujar gue dalam hati.

Tanpa memperkeruh suasan, gue jatuh ke pilihan terakhir gue dengan lebih banyak berdiam diri di rumah. Gue bener-bener berdiam diri. Gue nggak bertegur sapa dengan Mama maupun Dania, walaupun ketika kami berada di satu atap yang sama. Gue lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk bermain game, menulis artikel atau sekedar menulis unek-unek gue, atau malah menonton beberapa film dari DVD yang gue beli.

“Kamu itu kok makin nggak jelas aja sih kak?” kata Mama suatu siang.

“Nggak jelas gimana sih?” tanya gue heran.

“Sekarang kamu malah ada di rumah terus. Kamu nggak kerja sama sekali. Cuma main game, tiduran, nonton mulu. Kamu itu kerjanya niat nggak?”

“Nggak bosen amat Ma ngebahas kerjaan aku terus? Emang kerja aku kenapa sih? Aku lagi pegang proyek gede di BUMN. Emang harus banget diliatin dan dikasih tau ke semua orang kalau aku lagi kerjain ini itu? Terus kalaupun aku jelasin apa yang lagi aku kerjain, emang Mama bakalan ngerti? Nggak juga kan?”

“Ya bagus kalau kamu emang ada yang dikerjain. Tapi ya kalau misalnya mau kerja itu yang bener. Liat orang-orang kalau kerja. Mereka kalau berangkat ya pagi, terus pulangnya sore. Jangan kayak kamu sekarang, kadang kerja kadang nggak. Gimana orang ga mikir kamu kerja beneran apa nggak.”

“Lah, aku begini kan karena aku nggak terikat sama perusahaan manapun. Status aku freelance di kantor. Jadi ya bebas. Aku bisa ngerjain kerjaan aku dimana aja. Di rumah bisa, di kantor juga bisa. Yang penting pekerjaan aku kelar sesuai deadline. Kehadiran aku di kantor mah ga perlu di pikirin, santai-santai aja. Kantor aku fleksibel.”

“Ya itu mah sama aja nggak jelas namanya.”

“Perlu berapa kali lagi sih aku jelasin ke Mama soal kerjaan aku? Aku freelance, Ma. Bukan sama kayak tetangga yang pada kerja jadi PNS atau Dania yang kerja di bank. Lagipula aku kerja juga jujur, aku dapet kantor yang jam kerjanya fleksibel. Masa segitu aku masih dibilang nggak jelas? Tapi coba Mama pikir, dari hasil KERJA NGGAK JELAS yang Mama pikirin itu, aku sekarang udah punya mobil sendiri dari hasil jerih payah aku. CASH! NGGAK NYICIL! Kurang jelas apa lagi Ma?”

“Ya pokoknya orang kerja itu ya berangkat ke kantor walaupun jam kerjanya fleksibel sekalipun. Itu namanya niat kerja. Bukan tidur-tiduran sambil main game kayak kamu begini. Udah tidurnya tengah malem, bangunnya juga siang. Kerja apaan coba kayak begitu?”

“Lah kalau developer game gimana? Kerjaan dia tiap hari main game loh. Dapet duit dari bikin game. Terus berarti kalau Mama berpikir begitu, Mama liat mereka nggak kerja serius dong? Nggak kerja yang bener. Soalnya kerjaan mereka cuman main game melulu di depan TV.”

“…..” Mama diam saja.

“Main game itu ada tim nya bahkan sekarang. Kalau ikut kejuaran, hadiahnya ratusan juta, bahkan miliaran. Terus itu namanya nggak berhasil? Punya duit miliaran hasil bikin game atau main game itu namanya tetep gagal? Terus yang berhasil yang gimana? Yang pake kemeja dan dasi terus berangkat pagi pulang sore gitu? Ma, sales panci juga suka begitu dandanannya.”

“Kamu kalau dikasih tau suka ngebales.”

“Coba Mama inget, bahkan dulu Papa kalau berangkat kerja kadang-kadang cuma pake kaos polo dan celana pendek. Baru deh di kantor Papa ganti celana panjang dan kemeja kan? Udah gitu emang Papa kalau kerja berangkatnya pasti pagi? Nggak kan? Papa kadang kerjain kerjaan di rumah tanpa berangkat ke kantor juga kayak aku searang. Soalnya kadang aku pulang sekolah sore aja ternyata Papa di rumah…”

“Ya beda dong, papamu kan yang punya kantor.”

“Nah, sama aja kan? Mama kan mempermasalahkan ‘kerja nggak bener, nggak serius’. Jadi mau CEO, Direktur Utama, Office Boy, pegawai tetap, atau freelance harusnya sama aja dong? Semuanya harus sesuai standar ‘berangkat pagi, pulang sore’ sama kayak yang Mama bilang tadi. Kenapa sekarang jadi menilai orang dari kegiatannya?”

“Capek Mama ribut sama kamu.”

“Ma, sekarang beda bidang dan posisi ya beda jam kerjanya. Bahkan jaman sekarang, bisa namanya kerja mobile alias kerja tanpa harus ada di kantor tanpa terikat waktu tertentu. Mama tau? Lagipula kalaupun aku jadi pegawai tetap di kantor, aku nggak selalu harus datang jam 9 pagi pulang jam 5 sore Ma. Terus kalau aku nanti beneran jadi pegawai tetap dan kebiasaannya masih tetep kayak begini, aku tetep dianggep kerja nggak bener? Bagaimanapun cara kerja masing-masing pekerjaan saat ini, semuanya menghasilkan uang yang bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari loh.”

“Ya beda dong. Orang kerja bener itu nggak akan banyakan dikamar.”

“Ini kok jadi muter-muter aja? Kan tadi udah aku jelasin analoginya. Mama itu umur aku satu tahun udah jadi istri Direktur Utama kan? Masa nggak bisa bedain penjelasan aku tadi?” Nada bicara gue mulai meninggi dan gue mulai nggak sabar.

“Mama ngerti. Tapi Papamu dulu nggak kayak kamu gini waktu awal-awal membangun kantor.”

“Kan aku bilang tadi. Setiap orang punya cara kerjanya masing-masing Ma. Mungkin cara aku ini salah kalau ditakar dengan standar jaman dulu. Cara kerja orang dulu sama sekarang juga udah beda. Dulu teknologi masih belum secanggih sekarang. Kalau sekarang kerjaan aku pun bisa aku kirim sekarang juga dari rumah, tanpa aku harus datang ke kantor. Sedangkan dulu, Papa harus memeriksa segalanya manual setiap kerjaan yang masuk. Papa harus pake kertas, corat coret sana sini, ngitung pake kalkulator manual, dan sebagainya. Sedangkan sekarang, ku bisa ngelakuin itu semua bahkan dari HP ini doang Ma. Jaman udah beda.”

“Kamu kalau di bilangin sekarang ini makin susah. Capek Mama ngomong sama kamu. Gimana nanti kamu mau nikah kak? Mama aja kamu giniin, istri kamu bisa nggak kamu dengerin. Emang ada yang mau nikah sama cowok yang kerjanya nggak jelas kayak kamu gini?”

“Lah kenapa jadi bawa-bawa urusan nikah lagi sih? Lagian emang dengan aku begini udah pasti aku bakalan gagal ngurusin rumah tangga? Tau darimana Mama teori begini?”

“Ya soalnya kamu aja ngurus diri kamu sendiri aja nggak jelas begini gimana mau ngurusin anak orang nanti? Tanggung jawab kamu gimana ke keluarganya?”

“Nggak jelas? Mau muter gimana lagi aku jelasinnya? Terserah Mama aja deh kalo gitu. Aku jelasin kayak apapun juga, aku bakalan tetep dibilang nggak jelas cuma karena aku jadi freelance. Intinya mah. Nanti giliran aku jadi pegawai tetap, tetep dibilang nggak jelas juga kan karena jam kerja aku fleksibel. Yaudah sekalian aja anggep aku nggak bisa kerja. Toh bagaimanapun usaha aku, aku bakalan terus dibilang nggak jelas sama orang tua aku sendiri.” Gue sangat emosional menghadapi Mama yang terus menerus seperti ini.

Gue membanting pintu kamar gue dengan amat kencang, padahal di depan pintu masih ada Mama berdiri. Gue tau itu salah dan sangat nggak sopan. Nggak baik untuk dilakuin, apalagi ke orang tua sendiri. Gue merasa sangat bersalah karena melakukan hal ini.

Tapi gue juga nggak bisa terus menerus berada dalam posisi seperti ini. Gue selalu disalahkan orang tua gue, apapun yang gue lakukan. Hanya karena gue nggak menjalani hidup seperti yang mereka inginkan. Gue seakan nggak boleh menentukan jalan hidup gue sendiri.

Dulu, Mama nggak pernah seperti ini. Memang ada kecenderungan untuk meminta Papa menjadi seperti apa yang menurut Mama benar, tapi nggak gini-gini amat. Dari dulu memang kedua orang tua gue membiasakan diri untuk hormat kepada orang lain.

Kalau ada kesalahan apapun, pasti yang disalahkan gue dulu di depan orang lain, barulah mereka akan meminta penjelasan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Itu karena kedua orang tua gue sangat peduli terhadap perasaan orang lain. Gue yakin, Mama bersikap kayak begini karena nggak enak dengerin omongan orang dan dapet masukan dari orang tentang masa depan gue.

Hal ini pulalah yang akhirnya menjadi bumerang. Sikap nggak enakan sama orang lain inilah yang membuat Papa seringkali dimanfaatkan sebagian orang. Akhirnya malah menyisakan kesusahan bagi Mama. Perusahaan habis, harta benda habis, semua-semua habis tapi mereka-mereka yang dulu ditolong Papa dan dipikirkan benar-benar perasaan dan nasibnya oleh Papa, malah menyusahkan keluarga Papa pada saat ini.

Ibaratnya, orang-orang yang dulu dibelain abis-abisan supaya tetap bertahan di tengah gempuran krisis finansial negara saat itu malah menyusahkan keluarga Papa sendiri pada akhirnya. Papa ngebelain mereka agar keluarga mereka tetap bisa makan, anak-anaknya bisa tetap sekolah, bahkan bapaknya (yang saat itu notabenenya sedang bekerja untuk Papa) juga akhirnya disekolahkan agar bisa jadi sarjana dan mendapatkan kehidupan yang layaknya di masa depan nanti.

Gue dan Dania hampir aja putus sekolah karena nggak ada lagi yang tersisa dari peninggalan Papa karena semuanya habis akibat ulah anj*ng-anj*ng yang selalu dipikirkan oleh Papa tersebut. Urusan perusahaan dulu itu pun akhirnya sangat membuat gue trauma.

Orang-orang yang pernah ditolong sama Papa bisa sebegitu jahatnya sama kami. Apa ada di antara mereka yang mikirin perasaan, masa depan, dan hidup gue, Mama, dan adik gue sepeninggal Papa? Nggak ada. Mereka mencoba menjaga silaturahmi dengan kami aja nggak. Bangs*t emang.

Nah, sekarang, hal ini masa mau diulang lagi? Tapi datangnya sekarang dari Mama sendiri. Berawal dari Mama yang malah lebih mikirin kepentingan dan perasaan saudara-saudara gue yang sebenarnya nggak peduli-peduli amat dengan keberadaan gue.

Kemudian gue selalu berakhir disalahkan ketika gue mengutarakan perasaan gue ke Mama. Bukannya gue ditenangkan atau dibela, gue malah langsung disalahkan karena gue dianggap nggak tau berterima kasih masih dianggap keluarga oleh mereka dan pernah dibantu dulu ketika Papa baru saja meninggal.

Serangan ke gue dari Mama, nggak berhenti sampai disitu. Mama selalu berpikir kalau pekerjaan yang gue jalani saat ini dianggap nggak jelas terus. Puncaknya ketika Mama mempertanyakan hubungan gue dengan Emi. Gue nggak mau ribut terus sama Mama. Tapi keadaanlah yang membuat gue harus melalui fase kontra dengan Ibu gue sendiri. Eh ketika gue ingin mencoba mencari pencerahan dan kenyamanan di keluarga Emi, ibunya Emi pun menanyakan ke gue mengenai hubungan gue dengan Emi.

Kepala gue rasa-rasanya mau pecah.

---

Beberapa hari ini Emi menanyakan keadaan gue dan mencari keberadaan gue. Tapi nggak satupun gue balas. Gue nggak mau kondisi emosi gue yang kacau ini memperkeruh keadaan gue dan Emi. Dia satu-satunya tempat gue mencari kenyamanan. Gue nggak mau dia yang seharusnya gue lindungi, malah jadi sakit hati karena sikap gue yang sedang emosional ini.

Sampai pada satu bahasan telpon di sore hari yang mendung, jelang gue pulang dari kantor.

EMI CALL

Quote:“Zy, Halo?”

“Iya, Mi.”

“Kamu kemana? Hampir seminggu nggak ada kabar begini. Kamu masih marah sama aku?”

“Aku nggak kenapa-kenapa, biasa aja kok ini. Lagi ada yang dikerjain aja.”

“Kamu ada dimana sekarang?”

“Kantor lah. Dimana lagi, Mi? Kenapa emangnya?”

“Kenapa emangnya? Kamu hampir seminggu nggak ada kabar terus kamu ngerasa nggak ada yang salah?”

“Mi…”

“Ini kita udah putus apa gimana ya? Maaf nih kalau ternyata kita udah putus terus aku sampe nggak tau. Kamu nggak bilang apa-apa soalnya. CUMAN ILANG AJA!”

“Apaan sih? Kok malah putus-putus begitu? Aku bilang kan, kita nggak akan pernah putus.”

“Terus kalau kita nggak akan pernah putus, KAMU KEMANA KEMARIN INI? Oke kalau lo cuman nggak ada kabar sehari dua hari, gue bisa paham. Kita emang lagi ribut. Ini BERAPA HARI, ZY? BERAPA HARI?”

“Aku lagi ada yang dikerjain, Mi.”

“Sibuk?”

“Ya semacam itu…”

“Sekedar bales chat aku, satu pun kamu nggak sempet? Satu doang, Zy.”

“Maaf, aku lupa. Kayaknya skip chat-nya.”

“Skip? Bisa ya chat aku kamu skip? Aku lho, Zy! Pacar kamu! Kamu lagi sibuk sama siapa lagi? Dee lagi di Jakarta? Atau Lira ngajak balik lagi? Atau kali ini Mila yang ngelarang kamu? Atau malah ada yang lain lagi sampe aku jadi prioritas terakhir di hidup kamu?”

“Apaan sih? Malah ngebahas cewek-cewek nggak jelas gitu!” emosi gue mulai naik lagi.

“Terus apaan, Zy?”

“Kamu kan tau, Dania lagi hamil. Aku harus jagain dia. Suaminya itu jauh di Bandung. Masa aku ninggalin dia di rumah sendirian terus?”

“Dania??? Biasanya juga…. Kamu itu udah dilarang ngehubungin aku ya sama keluarga kamu? Makanya kamu sampe ngehindar dari aku gitu, Zy? Hah? Kalau emang keluarga kamu udah SANGAT GA SETUJU SAMA AKU, mending bubar aja, Zy! Cape aku juga. Sekarang kamu bertahan tapi masih aja terus diemin aku, buat apa lagi?”

“Mi, dengerin dulu.”

“Aku capek nunggu terus, Zy. Aku di sini sendirian. Aku butuh support dari pacar aku aja nggak bisa sampe aku harus ngejar kamu kesana sini. Aku harus ngejar dan nunggu kamu kayak gimana lagi sih, Zy? Mau kamu kayak gimana, Zy?”

“HEH! EMI! DENGERIN! JANGAN NYEROCOS MULU, ANJ*NG! GUE UDAH BERUSAHA SABAR YA SAMA LO. DARI TADI NYEROCOOOS TERUS NGGAK UDAH-UDAH! BANGS*T!” Gue membentak keras. Emosi gue nggak terkendali lagi. “DENGERIN DULU! GUE PUNYA ALASAN SENDIRI KENAPA GUE NGEHINDARIN LO BEBERAPA HARI INI! TAPI GUE NGGAK SELINGKUH! GUE JUGA NGGAK MINTA PUTUS! GUE NGGAK AKAN PERNAH MINTA KITA PISAH SAMA LO! NGERTI LO?! JADI NGGAK USAH BAWA-BAWA ITU LAGI! TUNGGU AJA KENAPA SIH? NANTI JUGA GUE BAKALAN JENGUKIN EMAK LO! NGGAK SABARAN AMAT!” lanjut gue dengan perasaan bersungut-sungut.

“Andai stroke nyokap gue juga bisa menunggu… Gue bukannya ga sabaran. Gue cuman butuh kepastian. Gue butuh support lo, Zy. Gue ga butuh harta lo. Gue ga butuh uang lo. Kalau lo ga bisa kesini pun gapapa. Gue butuh kabar dari lo… Tapi apa? Lo bahkan akuin kan kalau lo ngehindarin gue? Terus gue harus gimana, Zy? Gue masih kurang sabar ya dibeginiin sama lo?”

“Heh….” Emi memotong omongan gue.

“Maafin gue, Zy. Maaf banget. Lo nggak usah ngehindarin gue lagi. Biar gue yang ngejauh dari lo. Biar lo bisa puas-puasin waktu lo untuk ngerjain semua kesibukan lo…”

“EMI! MI!” ujar gue dengan nada keras.

“Salam buat Kak Dania dan nyokap lo. Jaga kesehatan ya, Zy. Jangan banyak motoran dan begadang. Bye, Zy!”


See, benar kan? Pasti akan seperti ini sesuai dengan dugaan gue. ini yang membuat gue semakin kacau aja. Emang ini salah gue, nggak langsung cerita ke Emi tentang apa saja yang sudah gue lalui selama gue jauh dari Emi. Gue bertambah salah ketika gue nggak bisa kasih alasan kenapa gue masih juga belum dateng ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya Emi.

Andai Emi tau kalau gue sangat amat nggak tega melihat orang-orang yang dekat dengan gue dirawat di rumah sakit. Apalagi gue sudah diberitahu kalau ibunya Emi ini masuk rumah sakit karena terkena serangan stroke. Hancur hati gue mendengar ini. Gue juga bisa membayangkan bagaimana perasaan hancurnya Emi dan bagaimana dia sangat membutuhkan support dari gue.

Tapi kondisi diri gue saat itu sedang nggak karuan. Gue saja butuh support untuk diri gue sendiri. Bagaimana bisa gue juga memberikan support ke Emi. Gue hanya takut gue malah berakhir menyakiti Emi.

Kondisi mental gue yang sedang drop ini pun membuat gue flashback kejadian dulu ketika Papa pernah dirawat satu minggu karena diabetes, hingga akhirnya Papa meninggal karena penyakitnya itu. Selama Papa di rumah sakit, gue hanya menjenguk satu kali saja. Itu semua karena gue nggak pernah tega melihat orang-orang dirawat di rumah sakit.

Akhirnya malam itu, gue pun menyerah. Gue menangis sejadi-jadinya ditengah curhat gue kepada Tuhan. Satu hal yang amat langka untuk gue lakukan dalam kehidupan gue. “Laki-laki juga boleh menangis.” Itu yang ada dalam pikiran gue.

Lagu yang Pas menggambarkan perasaan gue, HEADACHE MAN by the GazettE

profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
Lihat 7 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
20-06-2020 20:28
Sebel banget pasti punya orang tua jadul gitu. Untung emak ane masih bisa dikasih tau perkembangan zaman dan masalah cara kerja gitu. Sebenernya bisa diskak sih pernyataan ortu om ija di kondisi corona gini. Semuanya kerja di rumah, seluruh dunia kerjanya ga bener semua berarti wkwk.
profile-picture
profile-picture
magogeh dan yanagi92055 memberi reputasi
1 1
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
21-06-2020 07:08
Wadidaww keknya harus marathon dari thread 1 sampai 3 nih.
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
21-06-2020 17:19
Masih mantau perkembangan....
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
21-06-2020 18:29
Gak ada suatu yg kbetulan, smuanya ada sebab akibat, stiap orang ngalamin. lagi Numpuk2 Gan Biji cobaanya, klo pas lagi melalui itu yg sperti se batang kara...

Yg ane selalu pengn gak lalui itu yg ke2 atau yg ke3 (cobaan yg numpuk2).

Meski nanti udah nikah,atau udah ada anak2. (Yg model numpuk2 slalu mengintai... waspadalah... waspadalah.... hehehe)
Lanjutkan Gan...
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
22-06-2020 14:19

Penerangan_Part 1

Gue memutuskan untuk menemui Emi hari ini. Gue langsung berangkat ke rumah sakit tanpa bilang sama dia. Sengaja gue datang nggak bilang dulu sebelumnya sama dia kalau gue mau dateng ke ke rumah sakit. Karena kalau gue bilang, Emi pasti akan langsung menghindari gue. Dia nggak akan mau nemuin gue. Gue hapal kebiasaan Emi yang satu ini. Dia selalu kayak gitu kalau lagi ribut-ribut sama gue.

Sebenernya gue udah berusaha untuk menghubungi Emi dari hari kemarin. Sekedar untuk ngobrol dan coba tanya sama dia bagaimana kondisi ibunya Emi. Tapi Emi sama sekali nggak bisa dihubungi. Nomornya nggak aktif. Berulang kali gue coba, tetap aja nggak nyambung. Bahkan ketika gue sudah di rumah sakit, nomornya masih nggak aktif juga.

Gue coba baca ulang chat dengan Emi dan gue datangi ruang rawat inap yang dikasih tau oleh Emi di chat. Tetapi ternyata Mama Emi sudah nggak ada di tempat. Kemungkinan sudah pindah ke kamar lain. Suster yang menghantarkan gue juga keliatan kaget kalau pasien atas nama Mama Emi sudah nggak ada di tempat. Ketika gue menanyakan kira-kira dipindah ke kamar yang mana dan di sebelah mana ke suster tersebut. Dia malah menjawab tidak tau sama sekali. Gue diminta menghubungi keluarga dari Mama Emi atau gue coba bertanya ke Resepsonis Utama yang berada di paling depan. Gue males banget harus ke depan lagi, soalnya rame dan ngantri.

Lagipula, ini administrasi rumah sakitnya gimana? Kok ada pasien dengan penyakit berat begitu bisa nggak ketauan kalau sudah pindah kamar? Bukannya membantu gue, mereka malah meminta gue menghubungi keluarga dari Mama Emi sendiri. Gue paham, gampang aja sebenarnya. Tinggal menghubungi Papanya Emi saja. Tapi kan akan lebih baik dibantu oleh mereka juga. Aneh banget kan? Tapi seharusnya gue nggak heran lah, namanya juga di Indonesia. Haha.

Setelah gue baca ulang, ternyata Emi pun sudah memberitahu kalau kamar ibunya sudah dipindah. Gue coba menelusuri dimana kamar baru Mamanya Emi, tetapi kurang jelas. Akhirnya gue mencoba untuk menelpon Papanya Emi. Gue memang punya nomor Papa dan Mamanya. Untungnya Papanya angkat telepon gue dan akhirnya memberi tahu gue dimana letak pastinya Mamanya Emi. Papanya pun bilang kalau Emi sedang bersama beliau. Papanya heran kenapa gue nggak menghubungi Emi saja. Gue akhirnya cerita kalau HP-nya Emi mati sejak kemarin.

Dari Papanya juga akhirnya gue diberi tahu kalau Mamanya sudah bisa pulang. Gue berpikir agak aneh awalnya. Masa iya stroke bisa cepat banget dibawa pulangnya. Gue khawatir mereka mempersingkat perawatan di rumah sakit atas kehendak mereka. Gue khawatir itu membahayakan Mamanya Emi. Gue sempatkan diri gue untuk browsing mengenai penyakit stroke, dan ternyata memang ada yang seperti itu. Dilanjutkan rawat jalan di rumah dan dilanjutkan fisioterapi. Intinya untuk menyembuhkan penyakit ini harus sering-sering dilatih lagi bergerak. Kalau dirawat terus di RS malah akan menghabiskan banyak biaya.

Sebenarnya di rumah sakit yang merawat Mamanya Emi, sudah ada bagian fisioterapis yang menangani. Jadi sambil dirawat inap, juga sekalian terapi. Tetapi sepertinya Papanya Emi berpikiran kalau fisioterapi bisa dijalankan sembari rawat jalan. Gue yakin ini terkait sama biaya. Soalnya mereka menginap di rumah sakit setiap harinya hanya untuk menunggu kedatangan fisioterapis dan melakukan terapi kurang lebih satu jam. Setelah itu, Papa dan Mamanya Emi istirahat lagi dan menunggu keesokan harinya lagi. Biaya rumah sakitnya itu yang sepertinya memberatkan Papanya Emi. Makanya mereka bertanya pada dokter apa sudah diperbolehkan untuk bawa pulang Mamanya Emi atau belum.

Papa dan Mamanya Emi ini sudah pensiun. Mereka mengandalkan tabungan yang mereka punya untuk membiayai hidup mereka sehari-hari dan biaya Mamanya di rumah sakit ini. Gue yakin uang mereka lambat laun akan habis karena keduanya sama sekali nggak bekerja lagi atau nggak melakukan kegiatan yang dapat memutar uang yang tersisa.

Dari cerita dan selama ini gue mengenal keluarganya Emi, tambahan dari luar ya uang pensiun yang masih diterima Mamanya Emi setiap bulan yang nggak seberapa dan pemasukan dari kontrakan yang mereka miliki. Kalau biaya perawatan Mamanya Emi membengkak, gue khawatir uangnya habis sebelum Mamanya Emi benar-benar sembuh.

Ketika gue menyusuri lorong rumah sakit, gue berpapasan dengan satu orang cowok yang diliatin sama beberapa orang. Gue perhatiin dia sesaat, kayaknya gue mengenal dia. Dia baru sadar ternyata dia adalah tetangganya Emi. Dia terlihat sedang mengangkat telepon dan tidak menyadari kalau papasan dengan gue. Gue juga nggak tau sih dia kenal gue apa nggak atau dia sadar nggak kalau gue itu pacarnya Emi.

“Iya gue abis ketemu sama Emi. Abis ini gue kesana. Haha. Apaan sih gue nggak balikan kok. Belum balikan sih pastinya. Haha. Ngaco lo! Bentar gue kesana.” Kata dia ketika melewati gue. Dia ternyata mantan pacarnya Emi.

“Jadi ini mantan pacarnya yang selama ini Emi ceritain.” Yang gue tau, cowok ini bersama teman-teman Emi di komplek lainnya suka pada nongkrong menghabiskan malam minggunya bersama didepan rumah, di jalan lingkungan komplek. Biasanya anak-anak ini suka menggelar tikar dan biasanya main kartu, entah remi atau gaple. Bodo amat juga sebenarnya gue. Gue nggak pernah ketemu langsung atau dikasih fotonya sama Emi.

Gue lebih peduli adalah fakta yang baru gue tau kalau ternyata mantan pacarnya Emi yang satu ini ganteng pake banget. Beda banget sama mantannya yang sebelum gue, si Fani itu. Emi cuma bilang kalau salah satu cowok-cowok yang suka nongkrong itu adalah mantan pacarnya dia. Dia nggak bilang kalau mantannya adalah orang ini, orang seganteng ini.

Perawakannya tinggi, kurang lebih setinggi gue dan badannya berisi. Kulitnya putih, serta potongan rambutnya selalu cepak. Hal ini juga yang membuat gue langsung ngeh kalau dia adalah tetangga Emi karena perawakannya ini. Dia terlihat beda sendiri dengan teman-teman yang suka nongkrong, yang rata-rata kulitnya coklat kayak gue.

Gimana perasaan gue saat itu? Nggak usah ditanya. Ada rasa jealous yang besar di diri gue saat ini. Gimana nggak? Emi yang lagi jauh sama gue dan nggak bisa gue hubungi, ternyata malah ketemu sama mantan pacarnya? Gue nggak tau berapa kali mereka ketemu selama gue jauh dari Emi. Gue paham kalau ini salah gue yang menghindar dari dia sehingga posisi gue diisi oleh mantan pacar yang dateng lagi. Gue hanya nggak merasa nyaman dengan fakta yang gue rasakan saat ini.

---

Singkat cerita, gue kembali ke rumah Emi bersama Emi. Malamnya kami makan di sebuah rumah makan yang menyediakan masakan padang. Tempat favorit kami makan malam dikala semua tempat makan sudah tutup karena di sini mereka buka sampai dini hari. Saat perjalanan, gue cerita ke Emi kalau gue berpapasan dengan cowok yang setau gue itu tetangga dia. Gue jelaskan semua ciri-cirinya ke Emi.

Di sanalah Emi akhirnya mengaku, kalau Emi memang bertemu dengan mantan pacarnya itu tepat sebelum kedatangan gue. Gue diam, nggak berkata-kata lagi. Gue minta dia menjelaskan mengenai mantannya itu. Gue emang nggak suka kalau Emi diem-diem masih ketemu sama mantannya tanpa bilang sama gue. Tapi gue nggak adil kalau gue marah sama Emi. Karena di belakang Emi, gue sadar kalau gue pun masih punya rahasia yang nggak gue kasih tau ke Emi.

Gue bersyukur Emi masih mau jujur dan menceritakan tentang pertemuan dia dengan mantannya ini? Sedangkan gue di sisi lain nggak pernah mau menceritakan lebih dulu karena gue nggak mau Emi tersakiti kalau dia tau bagaimana diri gue di luar sana. Apalagi kasus yang terakhir, bagaimana Fani dan Mila akhirnya bisa suka sama gue.

Gue minta Emi cerita tentang cowok ini. Namanya Fazli. Dia adalah mantan Emi sewaktu mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Bah! Gue kaget. Emi pas SD sudah pacaran? Haha. Dulu memang sempat gue pacaran pas SMP. Tapi nggak gue hitung sebagai pacaran beneran karena kami nggak pernah jalan bareng, nggak pernah makan bareng, apalagi belajar bareng.

Gue akhirnya menghabiskan waktu bareng dengan pacar gue di SMP dulu ya cuma saat pulang sekolah aja. Itu pun karena kebetulan komplek dia tetanggaan sama komplek gue. Plus lagi, gue yang ditembak sama dia kala itu. Pertama kali berhubungan sama cewek, gue ditembak, bukan nembak. Haha. Makanya jadi nggak ada rasa yang gimana-gimana. Nggak ada perjuangannya sama sekali.

Begitupun saat gue duduk di bangku SMA. Makin banyak lagi suka-sukaan sama cewek. Tapi gue masih belum kepikiran buat pacaran yang serius. Mungkin adalah beberapa kali yang coba gue seriusin sedikit, tapi tetap aja nggak pacaran bagi gue karena zaman gue dulu, baru dibilang resmi pacaran ketika ada proses menyatakan alias menembak calon pasangan.

Kegiatan gue yang cukup padat waktu SMA membuat gue lebih banyak menghabiskan waktu ngurus itu daripada ngurus cinta-cintaan. Mulai dari ekskul paskib, teater, futsal, ngurus OSIS, sampai ngeband. Dan di hampir seluruh kegiatan gue selama SMA, selalu ada satu nama yang terus nempel dan deket sama gue, Kiara Fitria atau biasa dipanggil Ara.

Mantan pacar Emi ini amat sangat ganteng. Gue aja minder, kalau boleh jujur. Kalau gue disandingkan dengan mantannya Emi, mungkin akan lebih banyak yang memilih dia dibandingkan gue. Tapi dari Emi pun gue tau, kalau ternyata dia nggak sehebat tampilan luarnya, terutama di sisi akademis. Emi memang tidak mempermasalahkan kecerdasan dari mantannya itu, tetapi mantannya sendiri yang memilih untuk mundur dari Emi ketika dia nggak bisa mengejar Emi ketika mereka masuk SMP hingga Emi menyelesaikan pendidikannya. Beda sekolah, ya beda lagi kisah cinta. Mungkin gitu ya menurut mereka. Haha.

Emi menjelaskan bagaimana sifat mantannya itu. Dia kayak flashback masa lalu mereka yang membuat gue sedikit gusar. Gue nggak suka aja Emi begitu. Fakta kalau hubungan gue dan Emi yang kurang baik dan Emi kembali dekat dengan mantannya, membuat hati gue nggak tenang. Apalagi ketika Emi menjelaskan kalau mantannya ini ternyata memiliki sifat yang identik dengan gue.

Gue nggak tau Emi sadar atau nggak. Emi bilang kalau mantannya tempramen, orangnya vokal, dan suka to the point sama pendapatnya. Mantannya pun jago di beberapa bidang olahraga dan suka traveling. Bedanya di selera musik. Musik kesukaan mantannya ini adalah musik kesukaan anak Selatan Jakarta. Musik-musik indie label. Di sana perbedaannya dengan gue. Tentu fakta ini sangat membahayakan buat hubungan kami.

Obrolan terhenti ketika kami tiba di rumah makan tersebut. Gue dan Emi memesan langsung makanan favorit kami. Gue memesan gulai otak, sementara Emi memesan soto padang.

Awalnya gue ragu mau membahas apa sama dia setelah dia selesai menceritakan tentang mantan pacarnya itu. Tetapi gue nggak mau kami terus diem-dieman begitu. Gue coba merancang bahasan di benak gue. Kami pun terlibat obrolan yang sebenarnya udah gue tunggu.

“Kamu nggak ada yang mau diomongin sama aku?” Emi membuka obrolan kami.

“Ada kok.” ujar gue santai

“Oh, apaan?”

“Kamu pingin ngomongin apaan dulu? Nanti aku kasih jawabannya.” Gue sengaja memancing Emi untuk melontarkan pertanyaan ke gue.

“Kok malah aku yang ditanyain mau ngomongin apaan? Kan kamu yang mau ngomong sama aku bukan?”

“Aku yakin kamu udah tau apa yang pengen aku omongin.”

“Apaan sih.”

“………” Gue ngeliatin dia. Gue yakin dia punya banyak pertanyaan dan bahan obrolan yang mau dia bahas ke gue.

“Teserah kamu lah. Malah diem lagi.”

“………” Gue masih menunggu dia.

“Kenapa? Bingung ya mau mulai darimana? Apa mau minta putus sama aku sekarang karena disuruh sama Mila? Atau kali ini mau ngomong duluan kalau ada cewek lain lagi? Udah ngomong aja jujur sama aku.”

“Tuh kan. Segini aku diem aja loh. Tapi kamu asumsi serenceng udah kayak kopi sachet grosiran. Gimana tadi aku bilang kalau aku mau ngomongin cewek, pasti asumsinya satu karung kali. Haha.”

“Nggak lucu.”

“Dih, siapa yang ngelucu? Orang aku ketawain kamu. Kan kamu yang lucu.”

“Nggak-lu-cu.”

Raut muka cemberutnya benar-benar membuat gue kangen.

“Mi, ada kalanya aku nggak bisa ceritain apa aja yang aku alami selama aku jauh dari kamu, Mi… Maafin aku. Aku ga bisa jujur tentang kejadian apa aja yang terjadi sama aku selama kemaren aku pisah dari kamu.”

“Tentang cewek? Kamu putus sama Mila?”

“Mila melulu. Kenapa sih sama Mila?”

“Kamu nggak ngerasa aneh aku perkarain Mila lagi?”

“Udah nggak usah bahas Mila dulu. Mi, aku minta maaf banget. Kemarin pas kamu benar-benar lagi butuh support aku, aku nggak ada di samping kamu. Maaf, karena saat itu aku egois malah lebih mikir gimana aku butuh support kamu karena aku lagi frustasi banget kemarin.”

“………”

“Aku kemarin lagi ngerasa down karena diterpa masalah yang bersamaan. Ribut sama kamu, laptop hilang, aku nggak ada ide buat ngelanjutin dan ngembangin tesis aku, aku mesti ngulang kerjaan aku dari awal, ditambah kemarin… Hmm. Aku juga ribut sama nyokap. Aku frustasi Mi. Aku ngerasa benar-benar jadi orang yang gagal. Nggak guna. Sama kayak apa yang nyokap aku suka tuduhin ke aku. Dalam sekejap, aku ngerasa hidup aku berantakan.”

“………”

“………cuma karena aku jauh dari kamu. Di sini aku sadar. Aku butuh kamu. Aku butuh support kamu. Aku sadar, betapa berharganya kamu di hidup aku pas kita berdua lagi jauh begitu. Padahal aku sengaja jauhin kamu, biar aku bisa coba nyelesein semua masalah aku sendiri, tanpa nyusahin atau nyakitin kamu. Tapi faktanya? Emang dasar aku orang goblok nggak bisa apa-apa, aku malah nggak bisa nyelesein satupun masalah aku.”

“Zy…”

“Sampe akhirnya aku nangis. Aku berserah diri, pasrah. Aku buntu. Aku nggak tau harus gimana lagi di hidup aku.”

“Untung aja kamu nggak sampe bunuh diri ya.”

“Sempet kepikiran, ngilang dari kalian semua. Tapi mendadak aku kangen sama kamu. Aku mau nemuin kamu. Aku pingin ada di samping kamu dan coba nyelesein masalahnya satu per satu, bukan malah ngehindar kayak sekarang. Soalnya aku ingat, gimana kamu selalu bisa nyelesein masalah kamu sendiri, kadang tanpa bantuan aku. Gimana kamu bisa nyelesein masalah kita, tanpa aku kasih clue apapun. Gimana kamu tetep menghadapi aku, biang masalah di hidup kamu, walaupun kamu tau, aku pasti akan nyakitin dan ngecewain kamu. Cuman karena, kamu sayang aku dan ngerasa bertanggungjawab untuk ngurus aku…”

“………”

“Mi, maafin aku… Pas aku butuh kamu, kamu selalu ada buat aku. Tapi pas kamu butuh aku, aku malah mikirin diri aku sendiri. Maafin aku…”

“Kamu nggak usah minta maaf sama aku… Aku cuman butuh kesetiaan sama kejujuran kamu aja. Percuma kamu ngaku salah, kalau kamu-nya nanti bikin salah lagi.”

“Aku coba ya…”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-06-2020 07:09
lanjut Ja...curhate baru separo nasi gule otak udah abis aja, nambah lagi seporsi biar tuntas curhatanya he...he...
0 0
0
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
23-06-2020 12:13

Penerangan_Part 2

“Selalu kamu bilang ‘Aku coba’… Tapi selalu hasilnya nggak bisa. Dimana bukti kamu mau berubah, Zy?”

“Maafin aku. Kali ini aku benar-benar mau coba.”

“Semoga, Zy…”

“Kok semoga terus sih?” Emi kayak nggak yakin kalau dia terus menerus bilang begitu.

“Semoga aku masih punya stok kesabaran dan rasa sayang buat nungguin kamu nyoba buat berubah…”

“………”

“Zy, semua orang bisa berubah kok. Kalau ada niatnya… Pasti bisa berubah.”

“Iya, Mi…”

“Kalau kamu yakin dan mau beneran buat berubah, kamu pasti bisa.”

“Iya…”

“Kalau berat, mendingan nggak usah.”

“Kok gitu?”

Kebiasaan Emi. Dia suka underestimate gue.

“Nggak apa-apa, nggak usah berubah aja. Biar begini aja. Daripada kamu berubah, terus berusaha bikin aku senang, taunya ujung-ujungnya kamu cuman bikin aku lebih sakit dari sekarang. Kamu selalu begitu.”

“Lah kok jadi asumsi begitu dulu sih? Kan aku bilang aku mau coba?”

“Bukti kamu mau coba duluan apaan?”

“………”

“Nggak bisa buktiin kan?”

“Bisa.”

“Apaan?”

“Masalah foto aku sama Mila. Kamu waktu itu minta penjelasan kan? Tapi aku belum sempet jelasin apapun. Pasti kamu tau pertama kali bukan karena kamu nemuin sendiri kan? Tapi pasti ada temen kamu yang ngasih tau kan?”

“Bentar. Bukti kamu nyoba berubahnya darimana?”

“Kamu pingin aku lebih jujur kan? Ini aku jujur duluan sama kamu.”

“Tapi kamu ngomong tuh bukan kayak orang nyesel, tapi lebih kayak orang nuduh! Nanti ujung-ujungnya palingan aku yang kamu tuduh salah!”

“Dengerin dulu makanya.”

“Iya. Palingan nanti kamu jujur, terus ujung-ujungnya mau nuduh aku salah.”

“Lo selalu ngebahas Mila terus kan dan gue yakin, di dalem pikiran lo pasti nyangkut-pautin gue sama Mila terus selama gue jauh dari lo. Kenapa? Karena lo masih belum dapet penjelasan apapun dari gue tentang kasus foto yang-kata-orang-keliatan-kayak-foto-prewedding itu. Lo pasti mikir udah sejauh mana hubungan gue dengan dia? Gue sayang sama dia atau ga, dan asumsi-asumsi lain seolah gue masih juga selingkuh di belakang lo? Iya kan?”

“………”

“Gue nggak mempermasalahkan itu. Gue udah nebak lo bakalan mikir begitu karena berdasarkan pengalaman lo pas gue terus-terusan nyakitin lo, makanya lo akhirnya mikir gue akan terus bermodus begitu. Iya kan? Tapi maaf lo salah. Gue nggak ada apa-apa sama Mila.”

“Terus lo ada hubungan sama siapa lagi selain Mila?”

“Ya nggak ada siapapun lagi.”

“Nggak ada siapapun lagi. Tanya aja Mando atau siapapun di Kampus gue. Tanya, gue lagi deket sama siapa? Paling banter mereka gosipin gue sama Mila, tapi ga akan ada yang ngomong gue sama siapapun lagi.”

“Bohong.”

“Terserah!”

“………”

“Asumsinya jadi panjang, cuman karena ngeliat foto di media sosial doangan. Lagian nih ya, kalau emang gue mau posting foto itu ke sosial media gue, kenapa emangnya? Ada yang salah? Terus kalau di-posting lagi sama temen gue yang emang kerjaannya fotografer dan dia emang yang fotoin kita saat itu karena buat portfolio dia, emang salah juga?”

“Ya nggak kalau diliat dari sudut pandang gitu. Tapi kan seenggaknya bisa ngasih tau gue dulu, Zy. Bilang apa kek. Jelasin dulu kek. Nggak apa-apa nggak izn sama gue dulu, tapi kan bisa bilang dulu sebelum di-posting. Emang gue pernah ngelarang lo bersosial media? Kan nggak. Gue cuman males aja bikin salah paham. Udah tau gue baperan orangnya.”

“Lah? Kan kemaren gue juga kirimin kalau ada beberapa foto gue di Bromo. Bahkan ada foto ramean yang difotoin sama Mando juga, walaupun nggak diupload semuanya sama dia. Lo juga tau. Kenapa itu semua nggak diperkarain? Lo aja nggak nanya-nanya lagi kan ada foto lain lagi ga atau gimana? Ya gue kan pingin bikin surprise aja, sekalian gue tau, pasti jadi drama. Tapi kan logikanya, selama gue nggak ada apa-apa sama Mila, harusnya nggak salah dong? Dan nggak akan jadi masalah juga kan?”

“Buat gue nggak akan jadi masalah, KALAU EMANG NGGAK ADA APA-APA antara lo sama Mila. Milanya juga nggak berujung kegeeran terus demen sama lo. Tapi di luar sana banyak orang yang nggak tau apa-apa dan akhirnya salah paham, Zy. Akhirnya mikir kalau kita putus. Makanya, adanya foto ini di sosial media, ya jadinya salah.”

“Salahnya di sebelah mana?”

“Salahnya, karena lo foto sama cewek lain Zy. Padahal lo udah ada gue kan. Udah gitu fotonya profesional banget, berasa kayak prewed.”

“Hahaha. Foto sama cewek lain jadi salah? logikanya terbalik apa gimana?”

“Maksud lo gimana nih?”

“Iya. Lo bilang salah karena gue udah punya cewek. Terus apa kabar Dian Sastro sama Nico Saputra bisa ciuman di film AADC yang hampir seluruh remaja se Indonesia Raya ini tau? Itu salah juga dong? Berarti hal itu nggak bisa juga dong? Kan saat itu Dian Sastro pun punya cowok. Atau siapa lagi? Model-model ternama luar negeri yang bahkan bisa foto naked bareng cowok lain dengan alasan art atau apapun. Salah juga dong?”

“Lo ngambilnya kejauhan lah. Mereka kan artis. Lo kan bukan?”

“Sebentar… mereka artis jadi boleh, gue yang orang biasa jadi salah? berasa dapet privilege amat ya berarti? Artis mah bebas. Orang biasa mah jadi salah…gitu? Gimana sih pikiran lo Mi?”

“Lo ngerti nggak sih poinnya?”

“Ngerti. Lo ngerasa apa yang gue lakukan salah, karena menurut orang lain itu salah? atau spesifiknya, menurut temen-temen lo yang pada kayak anj*ng itu melihatnya salah, karena gue seorang Ija yang di mata mereka selalu deket sama banyak cewek dan diduga pernah menyakiti beberapa cewek yang bahkan nggak pernah gue temui secara langsung, gitu? Coba buka pikiran lo. Lo selalu bilang lihat dari dua sisi sudut pandang. Tapi lo bisa berasumsi karena denger dari temen-temen lo, dan nggak dengerin sudut pandang gue berpikir. Lo mau objektif tapi denial, malah jadi sangat subjektif kalau gini caranya Mi.”

“Lo malah jadi cari pembenaran sih Zy dengan jualan logika-logika lo itu?”

“Siapa yang cari pembenaran. Gue mencari analogi yang pas. Ketika orang lain dengan status artis bisa kayak gitu, kenapa gue nggak? Apa bedanya? Mereka sama-sama tampil didepan publik, gue pun sama. tapi apa itu merubah hati dan perasaan mereka ke pasangan mereka masing-masing? Kan nggak… begitu pula gue…. dan kalau begini ceritanya, lo nggak bener-bener percaya gue kan seratus persen Mi?”

“…. Iya, gue nggak percaya seratus persen. Siapa pula yang bisa pulih kepercayaannya setelah di boongin melulu?”

“Oke, itu gue tau gue salah. Kertas nggak akan bisa halus lagi kalo udah diremuk. Tapi poinnya bukan itu Mi. sekarang gue nurutin omongan lo, masalah poin yang dibahas. Ini masalah kepercayaan. Lo emang udah gue bikin kecewa berulang kali. Tapi bukan berarti gue terus-terusan akan begitu. Bukan berarti juga jadi terkena batasan sana sini, jadi nggak boleh ini itu. Kalau seandainya ini pekerjaan gue, lo mau apa? mau baper terus tiap saat ngeliat gue deket sama cewek-cewek cantik, peluk sana sini, pegangan tangan, bahkan sampai ciuman? Nggak capek lo?”

“Tapi masalahnya lo bukan artis atau model Zy.”

“Lo yang ngomong soal poin, tapi lo sendiri yang nggak ngerti poin obrolan ini. Gimana sih Mi?”

“Kok jadi gue yang nggak ngerti?”

“Iya, obrolan ini membahas tentang gue dan Mila yang berpose seperti itu, yang menurut orang mesra. Tapi pada dasarnya, ini hanya untuk keperluan portofolio si Mando. Mando juga izin sama gue untuk upload itu di IG dia. Ternyata ada sedikit viral mungkin karena bagus jadi diapresiasi banyak orang diluar sana. Terus lo berasumsi gue tetep ada rasa dengan Mila? Hei. Gue itu cintanya cuma sama lo. dan nggak ada gue suka sama Mila. Itu hanya urusan keperluan mempercantik foto. Titik.”

“Ya tetep aja Zy……”

“Tetep salah gitu? Haha. Buset. Udah gue jelasin pake analogi dian sastro di AADC masih nggak ngerti juga gue. Susah emang. Emang gue yang salah sih, gue udah banyak nyakitin lo, jadinya ya terus aja lo bakalan berpikir negatif tentang seluruh kegiatan dan gerak gerik gue. apalagi kalau lo terus di gosok sama temen-temen toxic lo yang selalu suudzon terus tanpa pernah mengenal gue secara personal. Cuma jadi t*i doang hidupnya. Sampah. Lo kalau pola pikirnya masih sama kayak mereka, nggak beda juga lo sama mereka.”

“Kenapa gue jadi yang salah sih Zy disini? Gue kan cuma mau konfirmasi doang….”

“Konfirmasi apa interogasi soal hubungan gue dengan Mila? Gue udah bilang kan, Mila teman deket gue di kampus. Sampai disitu aja. Nggak ada lagi urusan lebih dari itu. Kalau dia cantik dan menarik, terus itu emang salah dia? logika lo dimana Mi? Anak cerdas yang otak kanan kirinya seimbang masa bedain kayak gini aja mesti bingung dan galau dulu? Terus kalau gue boleh temenan sama cewek, hanya yang fisiknya biasa aja gitu bolehnya? Kalau nyatanya temen-temen cewek gue di S2 pada cakep-cakep termasuk yang udah tante-tante kayak Mbak Disya, terus mau gimana? Gue nggak boleh temenan sama mereka karena mereka cakep, pinter, kaya? Gitu?”

“Ya nggak gitu juga Zy…lo nggak ngerti….”

“Ya terus aja lo bilang gue nggak ngerti. Karena gue mungkin gue nggak akan pernah ngerti pola pikir lo yang rusak sama asumsi-asumsi yang terus menerus lo asah, ditambah lagi gosokan temen-temen lo itu.”

“Terus berarti gue yang salah disini? Salah gue kalau gue bilang gue nggak suka sama sikap lo yang memberi peluang Mila, atau mungkin Fani untuk foto begitu sama lo nantinya bakal jadi suka sama lo?”

“Mi… suka atau nggak suka seseorang sama kita itu bukan kita yang nentuin. Kita bikin mereka suka mungkin bisa, tapi kita nggak bisa nentuin mereka mau suka atau nggak sama kita. Mau dibikin kayak gimanapun kalau dasarnya nggak suka ya nggak suka, dan sebaliknya, kita nggak ngapa-ngapain, kalau suka ya suka aja. Pilihan terakhirnya, kita usaha dengan trik untuk mengarahkan, supaya orang lain bisa menentukan pilihannya untuk suka sama kita. The choice is theirs…”

“…..”

“Udahlah, gue emang salah, mau kayak gimanapun logika yang gue ungkapkan. Tapi coba lo berpikir lebih logis. Perasaan lo mungkin udah gue rusak abis-abisan. Nah, lo juga harus inget, lingkungan pertemanan lo juga punya andil besar untuk ngerusak perasaan lo….. so, the choice is yours.” Gue menghela nafas panjang.

“Udah ya. Case closed. Gue ga mau bahas ini lagi. Kalau di masa depan nanti ternyata Mila bilang sama gue kalau kalian ada hubungan...”

“NGGAK AKAN MUNGKIN!” kata gue tegas.

“Ya kalau ternyata bilang gimana?”

“Ya soalnya nggak akan mungkin.”

“Aku ASUMSI sendiri nggak apa-apa kan?”

“Terserah kamu.”

“Kalau ternyata di masa depan Mila atau ada cewek mendadak dateng ke aku dan bilang kalau kalian udah jadian entah ternyata udah jalan beberapa bulan sama kamu, kamu mau ya nanggung konsekuensinya?”

“Siap. Toh nggak ada siapapun lagi.”

“Beneran?”

“Iya. Buktiin aja.”

“Oke.”

Sesuai yang gue perkirakan. Teman-teman Emi merusak mindset Emi kembali. Emi pasti jadi kayak begini karena gosokan dari mereka. Ketika gue trigger dengan meng-upload beberapa foto tanpa Emi, teman-teman toxic-nya langsung berbisik entah apapun ke Emi, yang pastinya berita negatif tentang gue. Gue yakin kayak begitu. Sungguh berbahaya lingkaran pertemanan Emi ini.

Pada sisi lainnya, gue sadar juga kalau kepercayaan yang sudah dirusak, sangat sulit untuk dipulihkan seperti sedia kala. Ada rasa paranoid pastinya di hati Emi saat ini makanya dia pun akhirnya bisa ikut terbawa omongan dari teman-temannya lagi.

Gue sangat mengerti dan gue mengaku itu murni kesalahan gue. Tetapi apa ada teman-teman Emi pernah menyatakan permintaan minta maaf ke gue setelah seluruh fakta gue beberkan beberapa waktu lalu atas kasus pemfitnahan gue? Nggak ada satupun.

Hal inilah yang sebenarnya gue mau beritahu ke Emi. Itulah poin yang mau gue tunjukkan. Gue bukan orang suci, banyak salah dan menyakiti orang lain, tapi setidaknya gue masih memiliki attitude untuk mengakui kesalahan, sedangkan teman-teman toxic Emi nggak begitu.

Berangkat dari titik ini, gue pun punya alasan kuat untuk meminta Emi benar-benar menjauhi mereka, tanpa memutus tali silaturahmi. Cukup jaga jarak dengan mereka.

Emi terlalu polos untuk membedakan mana yang baik dan buruk untuk diri dia.
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 18 lainnya memberi reputasi
19 0
19
Lihat 4 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
24-06-2020 12:25
dobel
lanjut mas
ditunggu kisah selanjutnya
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
24-06-2020 17:28
dulu ngikutin season 1 sampe tengah jalan, terus lama gak buka kaskus...
lanjutin baca marathon sampe season 2...
mau baca season 3, tandain dulu takut ilang...
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
24-06-2020 19:44
sebenarnya adalah hal yg ga baik kalo pasangan kt tau sesuatu bukan dari kita langsung. tp dari orang lain which is kemungkinan udah ditambahin bumbu penyedap ataupun dia cari tau sendiri dan mulai berasumsi sana sini. bagi pria mgkn ga penting, tp bagi wanita, sedetil apapun itu penting banget. trs yg ane gemes jg cowo sekaliber bang ija ini, yg bisa bikin nyaman cewe2 yg deket sama dia, ga open with his relationship status. alhasil cewe2 itu td pada berasa dikasih harapan. but well yaa.. namanya jg cerita hidup yaa bang Ija. lanjutkaannemoticon-Keep Posting Gan
profile-picture
profile-picture
maccer4 dan yanagi92055 memberi reputasi
1 1
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
25-06-2020 08:00
Analogi sama Artis, well bisa diterima logikanya, cuma non artis mau pcrn sama artis udah siap mental biasanya,klo gak siap bakalan mundur dr awal. Nah ini Gan biji punya analogi diterapkan sama yg Baperan, trus juga beberapa kali tersakiti. Nyatanya sekuat apapun argumen, Gan Biji punya rekam jejak yg buruk, bukan sekedar gampang dekat, tapi mnurut ane diakui atau tidak, gan Biji rapuh urusan Napsu2 gitu. Gak ada cocok2nya emang dari sisi mental, bakalan ada kcurigaan trus, gak akan kuat Sist Emi...

Beberapa temen ane karna dia "rapuh" tergoda, udah ada anak istri ya menghindar Gan, dr pada kluarga berantakan.
pada ahirnya cwe2 yg brusaha deketin kan menghindar juga, klo dikasih angin mah cuma soal nunggu moment aja ,bakaln kjadian enak2, dengan atau tanpa hati.

Kalo Sist Emi dianggap calon, ya hindari Fitnah demi sist Emi. Klo tetep pertahanin kbiasaan, mending cari yg orangnya lebih gak cemburuan, kmudian di mata si cewe itu rekam jejak ente gak ternoda.










profile-picture
profile-picture
profile-picture
yanagi92055 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-06-2020 12:40
cek dl blm apdet ben gampang mulai lg....
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-06-2020 13:32
ninggalin jejak duluemoticon-Traveller
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-06-2020 19:10

Sikap Berlawanan

Emi sudah mulai masuk ke kantor barunya dan gue masih meminjam laptop Emi. Untungnya kantor baru Emi ini menyediakan komputer untuk karyawannya, jadi Emi masih belum minta balik laptopnya yang ini. Dia masih mengalah dan bertahan dengan laptop lama dia. Gue jadi nggak enak sama dia yang selalu mengorbankan segalanya demi kepentingan dan kebahagiaan gue.

Contohnya ini, dia adalah otak dari tesis gue dan sesekali ngebantuin gue untuk cari data pekerjaan gue (karena data gue banyak yang ikut hilang bersama laptop gue) tetapi dia yang mesti struggling ngebantu gue make laptop dia yang udah tua dan lemot itu. Sedangkan gue yang enak-enak make laptop dia yang lebih baru. Dia cuma nggak suka gue ngeliat gue marah-marah dengan keadaan dan putus asa. Itu bikin gue semakin nggak enak hati sama dia. Gue bertekad untuk segera cari uang tambahan agar gue bisa beli laptop baru buat gue.

Tapi di sisi lain, gue bingung gimana gue bisa mendapatkan uang tambahan itu. Posisinya gue saat ini freelance yang pemasukannya nggak selalu sama setiap bulannya. Kondisi keuangan gue pun saat ini sedang nggak bagus. Bukan karena gue banyak menghabiskan uang di mobil yang sengaja gue beliin buat Emi. Tapi ya emang guenya aja yang terlalu bodoh dalam manajemen keuangan gue sendiri kayaknya. Apalagi ketika gue dan Emi mulai banyak intrik, Emi nggak lagi bantu gue untuk manajemen keuangan gue.

Semenjak pacaran, gue dan Emi sudah melebur keuangan kami. Dulu sempet sih saat awal pacaran, gue dan Emi memberlakukan sistem pinjam meminjam di hubungan kami. Tetapi karena gue rasa jadinya kayak terlalu ribet, gue memutuskan untuk menghapus sistem itu dan melebur keuangan kami. Jadi, di tahun kesekian kami pacaran, kami sudah terbiasa manajemen keuangan kami bersama. Seperti pasangan kebanyakan, perempuan jadi Manajer Keuangannya.

Ketika kami sering debat dan ribut, Emi nggak lagi bantu gue manajemen keuangan gue. Memang sih parahnya ya baru akhir-akhir ini ketika hubungan kami jadi tarik ulur dan kami saling menghindar dari satu sama lain, sehingga emang ngebahas keuangan ketika kami bertemu itu nggak banget. Efeknya jadi seperti sekarang ini, gue yang semakin bodoh ini jadi nggak bisa manajemen keuangan gue dan kondisi gue menjadi morat marit.

Gue juga bingung, dulu gue hidup berpuluh-puluh tahun dengan manajemen keuangan gue sendiri. Tanpa bantuan siapapun, termasuk orang tua gue dan pacar gue sendiri. Tetapi semenjak kehadiran Emi di hidup gue, gue jadi ketergantungan dibantu dan diatur oleh dia. Gue jadi berasa jadi orang bodoh yang nggak bisa mengurus diri gue sendiri.

Entah apa yang terjadi di diri gue kalau Emi nggak ada di samping gue. Emi ngehindar dari gue beberapa hari saja, hidup gue sudah kacau banget kemarin. Apalagi kalau gue dan Emi berpisah? Gue nggak sanggup ngebayanginnya.

Gue browsing di internet. “Kayaknya gue harus menurunkan ego gue dan mencoba cari laptop yang lebih affordable, jadi biar nggak terlalu mahal tetapi sesuai kebutuhan gue…” Kata gue.

Selama ini gue selalu bermimpi kalau gue bisa punya laptop mahal semacam ASUS ROG (Republic Of Gamers) melihat gue yang aktif bermain game yang berat seperti Assassins Creed series (seri Syndicate), gue juga aktif menggunakan aplikasi video editor seperti VEGAS Pro, Adobe Premiere atau Filmora dan aplikasi audio editor semacam FL Studio, Cubase dan sejenisnya, serta yang terpenting bisa membuka aplikasi AUTOCAD untuk kebutuhan pekerjaan gue yang membutuhkan beberapa aplikasi berat. Gue membutuhkan laptop dengan VGA yang mumpuni. Tetapi dengan kondisi gue yang seperti ini, kayaknya beli ASUS ROG itu bakalan cuman jadi mimpi aja terus.

Sangat pusing gue memikirkan pilihannya. Tentunya nggak akan terlalu pusing ketika uangnya banyak. Tapi ini kan nggak. Jadinya gue harus putar otak. Cari referensi di Youtube untuk rekomendasi serta review laptop kere hore seperti yang gue mau. Akhirnya gue memilih pilihan laptop yang menggunakan prosesor AMD, bukan Intel. Lumayan bisa menghemat lebih dari satu jutaan harganya.

Terlebih lagi, AMD sudah menjadi pilihan gue sejak jaman gue masih sekolah dulu (waktu itu masih populer dengan nama ATI). Untuk gaming memang gue mempercayakan AMD. Hanya saja, gue harus pintar mengakali overheat dari hardware yang satu ini. Apalagi seringkali gue sering memaksa laptop atau PC gue untuk overclocking biar performa main gamenya makin yahud.

“Kayaknya aku pilih merk yang sama, tapi speknya yang lebih bagus. Terus ukuran layarnya juga 15,6 (inch), kalau kamu sama punya aku yang dulu kan 14.” Kata gue ke Emi.

“Ini sih kalau dari spek udah oke kayaknya ya. aku kan nggak terlalu tau detail kayak kamu. Aku tau yang umum-umum aja. terus dari komparasi sama review di Youtube sama sumber-sumber lain kayaknya ini sih emang yang paling cocok, Zy.” kata Emi memberi masukan.

“Makanya itu. Tapi ini uangnya masih belum cukup. Gimana baiknya ya Mi menurut kamu?”

“Kamu udah coba ngomong sama kantor belum?”

“Udah. Tapi mereka nggak bisa ngasih fasilitas kayak gitu. Bugdet mereka terbatas. Kalau mau potong gaji, aku kan bayarannya per pekerjaan, nggak ada gaji tetap.”

“Hmmm. Kalau saudara kamu, kira-kira siapa yang bisa? Emir gitu?”

“Emir? Haha. Jangan ke Emir lah. Ke Bapak atau ibunya. Kan yang tajir mereka, bukan Emirnya.”

“Ya itu maksudnya, ke om tante kamu.”

“Aku nggak mau ah. Mama itu udah sering bilang kalau keluarga mereka udah banyak banget bantu keluarga aku, jadi aku nggak mau nambah-nambah urusan atau beban moral yang lain lagi sama mereka.”

“Terus mau siapa lagi?”

Gue cukup berpikir keras sampai akhirnya gue menemukan satu nama. Tante Lili. Tante Lili sangat dekat dengan keluarga gue. Tante Lili sebenarnya adalah saudara jauh banget kalau dihitung-hitung. Bukan saudara dari satu garis keturunan lagi.

Adik Mama satu-satunya, Om Dani, menikah dengan istrinya yang bernama Tante Fida. Nah, Tante Fida punya adik yang namanya Tante Lili ini. Jadi sebenarnya ya nggak ada hubungan keluarga langsung. Bahkan termasuk keluarga jauh harusnya.

Nah, hal ini seperti nggak berlaku di hubungan antar keluarga dari Mama. Ipar-iparnya pada rukun, sampai ke adik-adiknya yang seharusnya nggak berhubungan langsung sama Mama. Kalau dibandingkan dengan keluarga besar Papa, di masa lalu sempat pecah hubungannya karena ipar-ipar (pasangan suami/istri) dari kakak beradik kandung Papa yang terlalu banyak ikut campur, sampai akhirnya ribut-ribut besar.

Sementara di keluarga Mama, Tante Lili yang notabene adik dari adik iparnya Mama malah punya hubungan yang sangat dekat dengan keluarga gue. Ironis. Semua keretakan keluarga besar Papa didasari oleh uang. Lain hal dengan keluarga besar Mama yang memang nggak terlalu mempersoalkan masalah uang ini.

Gue dan Dania di didik oleh Papa Mama untuk hidup dengan menghargai apa yang sudah dipunyai dan nggak usah berlebihan, karena harta bersifat sementara. Karena itu pulalah, Karena itu pulalah, ketika kondisi keluarga kami dalam berputar 180◦ semenjak kepergian Papa, kami tetap bisa bertahan dan menjalani hidup seperti biasa. Walaupun sempet ngerasa terseok-seok dan frustasi karena nggak ada uang tetapi kami masih bisa bertahan hidup hingga saat ini. Memang saat ini, kondisi gue kembali berada di bawah lagi. Tetapi gue selalu mengingatkan diri gue kalau gue pasti bisa mengembalikan keadaan gue kembali.

Saat ini, gue berpikir Tante Lili adalah orang yang tepat. Beliau ini adalah orang yang super royal, dan saking royalnya, beliau beberapa kali kena tipu oleh teman-temannya sendiri. Kebanyakan adalah penipuan dengan kedok usaha bersama.

Gue mengutarakan maksud gue. Gue ingin meminjam uang di awal untuk membeli laptop gue dan gue akan membayarkan ke beliau dengan menyicilnya selama dua atau tiga bulan kedepan. Gue nggak mau terikat bunga yang cukup besar karena gue menyicil dengan kreditur yang ada saat itu. Tetapi gue ya nggak bisa berharap banyak pada Tante Lili karena uang yang mau gue pinjam itu pun nggak sedikit. Emi yang mengingatkan gue untuk berserah diri pada Tuhan setelah gue mengutarakan ke Tante Lili, semoga Tuhan memberikan jalan lewat Tante Lili.

Tetapi ternyata, nggak pakai lama dan berpikir panjang, Tante Lili langsung mengiyakan permintaan gue tersebut dan mentransfer uang sesuai dengan kebutuhan yang gue utarakan sebelumnya! Gue langsung sujud syukur dan berterima kasih pada Tuhan yang selalu memberikan jalan pada hamba-Nya ketika dibutuhkan.

Kabar gembira ini tentu aja langsung gue kabari ke Emi. Gue kemudian meminta restu ke Emi juga untuk membeli laptop pilihan gue, dan akhirnya gue memesan online via e-commerce karena ada best deal disana serta gue mengaktifkan fitur-fitur cashback, sehingga gue benar-benar mendapatkan harga terbaik.

--

Gue sengaja nggak menceritakan segala yang terjadi antara gue dan Tante Lili ini ke Mama ataupun Dania. Gue nggak mau mereka malah mencemooh gue atau ngebawelin gue setiap hari untuk segera mengembalikan uang Tante Lili demi nama baik keluarga. Gue punya perjanjian tersendiri dengan Tante Lili kok. Gue janji kalau gue akan patuh dan amanah dengan perjanjian kami tersebut. Mama dan Dania nggak perlu tau. Yang perlu mereka tau hanya kakaknya ini sudah bisa beli laptop baru dengan uangnya sendiri.

“Kak, kamu ingat kan minggu depan Mama sama Mbah mau pergi umroh?”

“Inget, Ma.”

“Inget sama adik kamu ya. Jangan keluyuran terus sama Emi. Mama cuman pergi 10 hari, jadi kalau bisa nggak usah ketemu Emi dulu selama 10 hari kedepan biar kamu bisa fokus sama Dania. Dania itu lagi hamil besar, kasian dia kalau harus sendirian.”

“Aku bisa jagain Dania kok walaupun aku tetep ketemu sama Emi. Dania udah gede, Ma. Dania nggak perlu dijagain 24jam sama aku. Lagian Dania juga udah punya suami, suruhlah suaminya yang perhatiin Dania juga. Masa udah nikah semuanya masih harus aku?”

Gue bukannya mau lepas tanggungjawab begitu saja dengan Dania pasca Dania menikah. Gue bener-bener merasa kehilangan dan itu nggak bohong. Mulai dari lamaran Dania sampai akhirnya Dania benar-benar menjalankan pernikahannya. Gimana nggak, puluhan tahun gue hidup bersama dengan dia, tapi sejak pernikahan Dania sudah disahkan gue harus rela melepaskan kepergiannya untuk membina rumah tangga dengan Adit.

Gue cuman nggak bisa terima aja fakta kalau pasca Dania menikah dan akhirnya memutuskan untuk LDM, gue malah lebih disusahkan lagi. Semuanya semakin parah karena Mama yang sepertinya tidak setuju dengan hubungan gue dan Emi sehingga Mama jadi bersikap nggak adil terhadap gue. Mama selalu bawa-bawa bagaimana Dania dan suaminya berjuang menjalani LDM, makanya gue yang diminta untuk jangan egois dan gue harus berkorban untuk Dania.

Apa Mama dan Dania mikir untuk berkorban buat gue dan masa depan gue sama Emi? Gue selalu menjadi mempertanyakan keadaan, bagaimana kabarnya nanti kalau gue udah menikah tetapi adik gue masih LDM? Gue harus mengesampingkan istri gue gitu nanti? Apa Mama akan bersikap sama kalau gue yang menikah terlebih dahulu daripada Dania?

“Nggak mungkin bisa! Kamu aja setiap hari sama Emi terus walaupun ada Mama. Bagus kemarin sempet di rumah terus, eh sekarang malah balik keluyuran lagi. Emi ini emang nggak baik buat hidup kamu!”

“Jangan ngomong begitu tentang Emi, Ma! Aku nggak mungkin bisa kayak sekarang kalau nggak karena Emi! Udah, Ma! Aku capek ngebahas seperti ini terus. Aku mau pergi dulu.” Kata gue sambil mengeluarkan motor gue.

“Pergi kemana? Ke rumah Emi lagi? Sore baru berangkat kesana. Emang Emi nggak kerja?”

“Emi itu sekarang kerja di perusahaan yang lebih besar daripada perusahaan aku ataupun Dania! Gaji dia juga lebih besar daripada kita berdua! Emi nggak minta bantuan aku untuk bisa kerja di sana! Emi itu mandiri! Nggak pernah sebegitu ngarepnya bantuan aku!”

“Ya bagus dong kalau begitu, jadi kamu nggak perlu nemuin dia terus. Dia bisa mandiri kan? Berarti dia bisa ngurus diri dia sendiri. Dia nggak perlu bantuan kamu lagi. Adik kamu di sini yang butuh bantuan kamu, tetapi kamu selalu egois nggak pernah mikirin dia? Kamu malah ngurusin anak orang yang katanya nggak butuh bantuan kamu. Buat apa? Buang-buang waktu dan tenaga sia-sia…..”

“Buat apa? Buat kepentingan mental aku karena aku yang butuh nemuin dia. Dia yang sebaliknya selalu bantu aku untuk menghibur dan nyemangatin aku selama ini. Aku yang butuh dia…”

“Kamu jadi cowok jangan mau kayak kerbau dicocok hidung begitu sama cewek, Ja. Kamu harus punya pendirian. Nggak ada tuh dulu Papa seperti itu sama Mama.”

“Nggak ada? Nggak ada atau Mama yang nggak peka? Papa itu butuh bantuan Mama makanya Papa nikahin Mama dulu. Kalau Papa nggak butuh bantuan Mama, Papa nggak akan berjuang ke pelosok desa untuk nikahin Mama. Papa bisa dapetin semua cewek yang ada di ibukota, bahkan dulu Om Reza cerita Papa pernah pacaran sama anak Bupati dan anak Menteri, tetapi karena Papa butuh Mama, Papa rela mengabaikan semua cewek itu dan memilih Mama. Itu bukan karena butuh bantuan Mama emang? Itu karena Papa butuh Mama. Papa sangat membutuhkan Mama karena Mama sangat berarti buat Papa… Aku di sini paham apa yang Papa rasain. Aku mau ngejar sosok yang aku butuhin seperti bagaimana Papa butuhin Mama. Aku butuh Emi. Makanya aku mau berjuang untuk terus bersama Emi.” Kata gue panjang lebar. Gue mengeluarkan motor gue. Gue harus menenangkan diri dengan ketemu Emi. Gue lihat dari spion gue kalau Mama terdiam dengan pernyataan gue sebelumnya.

“KAKAK!” Mama kembali panggil gue. Gue berharap Mama mau sadar dan berpikir ulang terhadap penilaian beliau terhadap Emi.

“Apa?” tanya gue dengan nada tinggi.

“Jangan lupa, minggu depan ambil mobil kamu di Emi. Kita mau pake mobilnya, buat kita pergi ke bandara. Nggak akan muat kalau make mobil kita doang, kan Mbah kita yang bawa. Jadi, jangan lupa ya ambil mobilnya. Kalau bisa ambil sekarang juga nggak apa-apa. Toh di sana juga nggak dipake sama Emi juga kan?”

“……” Gue nggak menjawab omongan Mama dan pergi melajukan motor gue. Omongan gue sebelumnya bener-bener sia-sia.

Mama seperti udah nggak peduli lagi dengan apapun yang gue sampaikan. Bahkan fakta tentang bagaimana Papa berjuang untuk bersama Mama pun, udah nggak Mama pedulikan. Mama hanya fokus dengan kehidupan Dania. Semua hanya karena Mama nggak setuju dengan Emi dan Dania sudah menikah mendahului gue.

Mama pun nggak setuju dengan Emi tanpa sebab, murni hanya karena asumsi beliau kalau Emi full control terhadap hidup gue dan merasa gue berubah karena Emi. Beliau nggak pernah mencoba memahami gue dari sisi gue yang memang ingin berubah dan gue yang juga sangat membutuhkan Emi di hidup gue. Seperti Papa dulu.

EMI CHAT

Quote:“Kamu udah dimana?”
“Stasiun, Zy.”
“Nanti kita ambil laptop ya di Tante Lili.”
“Oke.”
“Sekalian aku ijin sama kamu ya. Minggu depan aku mau pinjem mobil.”
“Santai aja, segala ijin. Emang kamu mau kemana, Zy? Ambil data lagi? Mau aku temenin?”
“Nyokap sama Mbah mau berangkat umroh, Mi. Jadi butuh mobil tambahan untuk berangkat ke bandaranya.”
“Oh yaudah. Santai aja kalau gitu. Kak Dania juga ikutan?”
“Ini bangs*t-nya.”
“Hah? Maksudnya?”
“Gue disuruh standby 24 jam jagain Dania selama mereka umroh. Gue dilarang ketemu sama lo nanti. Elah.”


Emi nggak lagi membalas chat gue itu. Dia paham, kalau gue melanjutkan chat dengan dia, yang ada gue full ngamuk-ngamuk ke dia. Makanya dia nggak membalas lagi chat gue itu.

Gue menunggu dia di stasiun yang mengarah ke rumah Tante Lili, agar mempermudah Emi juga. Biar dia nggak jalan terlalu jauh. Berjuang naik kereta di jam pulang kerja itu sudah cukup melelahkan. Apalagi jarak kantor barunya dengan stasiun pun cukup jauh. Eh gue malah nyuruh dia untuk jalan kaki juga? Tega banget gue jadi orang.

“Ija? Lagi ngapain di sini?” Gue nengok. Gue kaget dengan siapa yang gue temuin saat itu.

Sosok yang cukup familiar.
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-06-2020 19:14
wah keliwat brp part ini emoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan yanagi92055 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 14 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
26-06-2020 19:24


UNTUK INFORMASI UPDATE TERBARU TRIT (DAN MUNGKIN KARYA LAINNYA) BISA JUGA DILIHAT DI IG GUE YA (JIKA TIDAK ADA NOTIF DARI KASKUS) SEBAGAI ALTERNATIF, DENGAN NAMA YANG SAMA KAYAK AKUN INI. BIASANYA GUE INFORMASIKAN VIA IG STORIES (KARENA TAHANNYA 24 JAM SAJA, SELEBIHNYA BISA LIHAT DI HIGHLIGHT). JIKA BERKENAN SILA BERKUNJUNG KESANA.
TERIMA KASIH ATENSINYA.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
27-06-2020 06:19
walah Ja...ane males mainan IG he...he...
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
27-06-2020 16:06
Sering banget kayanya lu konfrontasi ama nyokap ya bang soal pekerjaan dan lain2, yg ujung2nya disangkut pautin gara2 hubungan lu ama emi penyebanya. Emang mbak emi jarang ya bang main ke rumah lu? Kenapa gitu?. Kan kalo sering main, mereka juga pasti sering ngobrol, sering berdiskusi. Jadi nyokap lu tau emi itu kaya gimana orangnya, kalo jarang kan nyokap lu mikir tentang emi tuh yg engga2, bukan?
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Pencarian Belum Usai [TRUE STORY] - SEASON 3
27-06-2020 17:18
Kemauan Ibu Gan Biji dari kacamata ane "tersirat", Kya menantang biar anak cowo atu2nya cepet Nikah...(nebak2 krna gak kenal)
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Halaman 110 dari 116
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
dua-menit-memelukku
Stories from the Heart
cinta-di-balik-layar
Stories from the Heart
true-story-yellow-raincoat
Stories from the Heart
mau-gak-jadi-istriku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Stories from the Heart
quothancur-karena-ribaquot
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia