Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
350
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ed513dd7e3a720d597d76f7/antara-rasa-dann-logika--final-chapter---true-story
Assalamu'alaikum penghuni KASKUS. Salam hormat bagi momod. Selamat datang, Melanjutkan Thread sebelumnya dari "Antara Rasa dan Logika". Dan mohon maaf, pertanyaan dari para reader yang gue jawab kemarin di Thread sebelumnya itu gak semuanya sesuai RL. Kenapa? Karena akan gue jawab semuanya disini. Segitu aja jadi, selamat membaca. Demi apapun. Aku gak mau menyebutmu sudah tak cantik lagi
Lapor Hansip
01-06-2020 21:42

Antara Rasa dan Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]

Quote:Assalamu'alaikum penghuni KASKUS. Salam hormat bagi momod. Selamat datang, Melanjutkan Thread sebelumnya dari "Antara Rasa dan Logika". Dan mohon maaf, pertanyaan dari para reader yang gue jawab kemarin di Thread sebelumnya itu gak semuanya sesuai RL. Kenapa? Karena akan gue jawab semuanya disini. Segitu aja jadi, selamat membaca
.



Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]





Quote:Demi apapun. Aku gak mau menyebutmu sudah tak cantik lagi. Jadi diamlah dan percaya padaku.


Part 1


Hai pagi. Apa kabar denganmu? Bagaimana dengan bulir embun yang menggenang di atas daun lalu jatuh perlahan dari sudutnya? Apakah sudah menyentuh membuat sedikit tanah menjadi kecoklatan lebih tua dari sisi lainnya? Ah, tentu saja begitu. Apakah kau tahu bahwa ada perempuan yang kini setia menunggumu, pagi? Harusnya kau tahu. Perempuanku saat ini sangat menyukaimu.

Semilir angin masuk melalui sela-sela jendela yang sedikit menganga. Udara yang segar menyeruak keseluruh sudut kamar. Kamar kami. Gue kerjip kan mata. sinar matahari pagi yang menelusup melewati tirai yang sudah tidak menutupi jendela sebagian membuat silau. Tentu saja, dia pasti yang melakukan ini. Ah, gue lupa kalo tadi sehabis shalat subuh, malah terlelap lagi.

Gue melirik ponsel di atas nakas. Menyambarnya. Menyipitkan mata lalu menatapnya. Pukul 06.15. masih ada satu jam lebih untuk bermalas-malasan. Tapi suara remaja tanggung itu membuat mata enggan untuk menutup lagi. Gue sibakan selimut. Duduk. lalu berjalan keluar dan berdiri di bawah bingkai pintu.

"Ini bekal nya udah teteh masukin di tas. Jangan lupa dimakan kalo istirahat. Terus, inget, jangan kebanyakan jajan. Ditabung uangnya, ya?" Ujar perempuan yang kini menjadi teman hidup gue ke ramaja tanggung itu. Membereskan tasnya. Lalu memberikannya.

Remaja tanggung itu menyandang tasnya lalu melempar senyum lebar, "siap bos," seraya menggerakan tangannya layaknya hormat kepada komandan. Seragam putih birunya terlihat sedikit kebesaran. Membuatnya agak lucu. Tapi tak apalah.

"Yaudah gih, nanti telat" balasnya tersenyum. Membelai kepalanya lembut.

"Assalamu'alaikum" lalu meraih tangan perempuan itu untuk menyaliminya.

Remaja tanggung itu lekas berjalan. Melirik gue. Dan mengurungkan langkahnya menuju pintu depan. Lalu berjalan menghampiri gue.

"A, aku berangkat dulu"

Gue tersenyum lalu mengangguk. Telapak tangannya yang lebih kecil dari gue kini menggenggam tangan gue, lalu diarahkannya punggung tangan gue ke keningnya. Beberapa detik. Ia lepaskan kembali. "assalamu'alaikum". Lalu berjalan keluar.

"Wa'alaikumsalam. Hati hati dijalan"

Ah, mungkin sekolah adalah hal menyenangkan untuknya sekarang. Hal baru dia dapatkan. Teman baru. Terutama ilmu. Suatu saat nanti ia akan menjadi orang hebat. Sehebat perempuan yang berada di samping gue saat ini.

Teringat waktu itu. Beberapa bulan yang lalu. Gue dan istri mendapati remaja tanggung itu duduk di tepi pelataran masjid tempat dia berteduh. Duduk memeluk lututnya. Membenamkan wajah diantara lututnya. Sepertinya hari itu adalah hari ke-tidak beruntungannya. Langit malam pekat. Tersaput awan. Tidak seperti biasanya. Bintang tidak menunjukan jati dirinya. Bahkan formasinyapun entah kemana.

Remaja tanggung itu terisak. Terisak dalam.

Istri gue menepuk pundaknya. Remaja tanggung itu Mengangkat wajahnya pelan. Sangat pelan. Matanya basah. Bibirnya bergetar. Nafasnya tercekat. Ia duduk di sampingnya. Membelai wajahnya lalu memeluknya. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ibu meninggal teh". Ucapnya bergetar. Hampir tidak terdengar. Istri gue menatap kosong ke arah depan. Tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca. Lalu memeluk remaja tanggung itu semakin erat. Sejak itulah, istri gue membawanya ke rumah ini. Menjadi bagian dari keluarga kecil kami. Memberi warna baru setiap hari. Tawa nya. Candanya. Ocehannya. Ah, itu semua sudah bagian dari kami. Gue tahu, istri gue sangat menyayangi remaja tanggung yang tubuhnya tak sesuai dengan usianha kebanyakan. Ia terlalu kecil. Ringkih. Dengan kulit kecoklatan.

Istri gue sudah menyiapkan kopi hitam di atas meja makan lengkap dengan sebungkus rokok.

Dia tentu tahu betul kebiasaan gue. Kopi, rokok, itu sudah menjadi bagian dari pagi. Bagian dari cahaya matahari yang sedikit memberi warna kuning pucat di kaki cakrawala.

"Kamu kok gak bangunin aku sih?"

"Udah, tapi dasar kamunya aja yang kebo, malah tidur lagi!" Cibirnya.

"Yee, enggak ya, tadi subuhkan udah bangun" balas gue.

"Tetep aja, udah gitu ngebo lagi." Cibirnya lagi.

Ups, itulah kelemahan gue. Selepas subuh, malah ketiduran. Atau lebih tepatnya sengaja terlelap lagi.

Gue hanya tersenyum lebar. Menggaruk tengkuk yang gak gatal.

Senyum nya yang hangat mengalahkan hangatnya matahari yang baru muncul ke permukaan

***

Jam 07.15. waktunya menemui setumpuk kerjaan di kantor. Menemui hiruk pikuknya dunia demi sesuap nasi.
Jam 07.50. gue sudah berada di lobi. Pak Yanto, Office boy di kantor gue menyapa dengan senyuman dan anggukan. Gue membalasnya. Berjalan Melewati koridor yang tiap sisinya adalah ruangan staff dan pegawai lainnya.

Gue sampai di meja. Menyimpan tas. Mengeluarkan flashdisk. Menancapkannya pada lubang USB di PC. Ah, tentu saja pekerjaan kemarin telah menunggu.




Lanjut ke part 2 gan-sis emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sukhhoi dan 29 lainnya memberi reputasi
26
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 12
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
15-06-2020 16:20
Part 10


Sekarang jam 8 malam. Gue duduk di samping ranjang Iki. Duduk di atas kursi kayu berwarna coklat mengkilat. Remaja tanggung itu masih terlelap. Kepalanya dililit perban sekarang. Pun dengan tangan kirinya. Tapi terlihat lukanya sudah mengering. Membaik.

Gue memperhatikan wajahnya yang tenang. Tapi mungkin waktu dia bangun nanti akan mengaduh kesakitan. Bagaimana tidak, luka di kepalanya membuat dia masih tak sadarkan diri hingga sekarang. Kamu beruntung punya teteh yang sayang banget sama kamu ki. Bathin gue.

Lili memperlakukan Iki sangat baik. Tak ada cela. Setiap hari Lili memberikan perhatiannya pada Iki. Mengurus makannya, sekolahnya, pakaiannya, ah, segala kebutuhannya Lili utamakan. Dan saat Iki seperti ini, khawatirnya bukan main.

Gue tersenyum tipis.

Terbesit wajah Lili yang kadang membuat gue tergelitik. Lucu.

Tapi ada satu hal yang membuat gue kadang menjadi termenung. Mungkin itu akan gue uraiakan nanti.

Gue berdiri. Meregangkan tangan kiri dan kanan. Menguap. Gue butuh kopi dan rokok. Ah tentu saja, sejak tadi pulang bekerja, gue belum sempat menghisap tembakau itu.

Gue berjalan keluar ruang IGD. Meninggalkan Iki sejenak yang tengah terlelap.

Sampai di depan rumah sakit. Dekat parkiran. Dari arah pintu masuk gerbang, sinar mobil yang masuk membuat gue mengernyit. Menyipitkan mata. Silau. Mobil itu parkir di di sebelah kiri gue. Jaraknya hanya sepelemparan batu.

Gue kenal mobil itu.

Seorang perempuan keluar dari mobil. Menghampiri gue.

"Aurel?" gumam gue.

"Hei, ngapain kamu di luar gini le?" sapanya.

"Hah? Ah engga, gue cuman pengen ngerokok, sama mau cari kopi." jawab gue kikuk.

Aurel mengangguk.

"Lo mau ngapain lagi njir kesini?" lanjut gue kemudian.

Aurel menatap gue. Tajam. Manik matanya seakan berkata, dia ingin menerkam gue.

"Ih, lo kenapa? Wah aing macan ini mah" canda gue.

Aurel cemberut. Dan seketika memeluk gue.

Nafas gue macet. Sial, apa-apaan ini? Untung sepi.

"Bego!!! Gue kangen banget sama lo. Lo kapan pinternya sih le? Lama banget kita gak ketemu le... " rengek nya.

Yaah, gue kira dia udah berubah. Ternyata pencitraan doang pas ada Lili. Masih sama ngebacot aja kaya dulu.

"Rel" bisik gue di telinganya.

"Rel rel. Emang gue rel kereta api apa?"

Lah ini anak gimana sih? Kan Aurel namanya. Masa gue panggil Au, Angkatan Udara dong?

"Yeeh, kan itu nama lo!!"

Aurel mengurai pelukannya. Wajahnya masih cemberut. Jemarinya mengusap ujung matanya.

"Moci, gue Moci." tegasnya sambil memonyongkan bibir.

"Itu kan dulu waktu lo pergi ninggalin gue"

"Eh yang ninggalin lo siapa?? Ah elo mah, udah umur segini masih gak peka-peka." katanya. Memalingkan wajahnya.

"Iya-iya, gue tau. Lo jealous kan? Galau kan? Patah hati kan? Waktu gue sama Alis jadian?" ejek gue.

Aurel kembali menatap gue. Menggigit bibirnya.

"Lo galau gak waktu gue tinggalin?" tanya nya sedikit lirih.

Gue sedikit berpikir. Mendongak. Memonyongkan bibir.

"Biasa aja sih gue" canda gue.

Aurel menajamkan kembali matanya. Mengepalkan tangannya. Dan satu pukulan melayang di perut gue.

Mata gue membulat. Badan sedikit membungkuk. Kedua tangan gue memegang perut. Sakit. Pukulannya istimewa. Gue kira udah jadi perempuan beneran, ternyata masih sama. Ya ampun.

"Sukurin lo, bacot lu sih gak enak. Makanya jadi cowok itu yang peka. Jangan pe'a"

Kata-kata dia sama seperti... Seperti seseorang yang pernah berarti di hidup gue. Kenapa Aurel bisa berkata persis seperti yang dia katakan? Ah sial.

***


"Satu kopi item, sama susu putih pak ya" kata gue ke yang empunya warung kopi.

Gue dan Aurel lagi di warung kopi sebrang rumah sakit.

"Gila, pukulan lo makin kenceng aja. Pantes aja lo belum kimpoi njir"

"Enak aja, gini-gini, yang antri banyak tau" katanya.

"Antri apaan? Antri beli sembako sama lo?" ejek gue.

"Antri mau jadi cowok gue lah!!" tegasnya. Sedikit meninggi.

"Ya terus kenapa lo masih sendiri rel"

"Mociiiii!!! Gak usah sok manis lo bilang gue Aurel, malah geli gue. Udah cukup geli dari tadi siang ya!!"

Yasalam, nih anak ngegas terus.

"Iya iya ci. Yaampun, emosian banget lo!!"

"Lagian lo nya sih bikin gue emosi mulu"

"Iya iya maaf. Yaudah jawab, kenapa lo masih sendiri sampe sekarang?"

Aurel menunduk.

Mamang empunya warung nganterin pesanan kami. Diletakannya kopi dan susu di depan kami. Di atas meja. Kepulan asap terbang dari gelas kami masing masing. Gue minum satu teguk. Sebelumnya gue tiup. Enak memang.

"Lo tau gak?" ujarnya tiba-tiba.

Gue menoleh.

"Gue belum bisa jatuh cinta sama orang lain lagi semenjak gue patah hati le. Sampe sekarang, yang ada di hati gue cuman dia. Sebenernya, waktu gue di palembang, ada cowok yang bener bener sayang sama gue. Tapi gue tetep gak bisa. Bagi gue jatuh cinta itu hanya sekali Le. Mungkin yang kedua kalinya itu hanya kebijakan. Kebijakan untuk menerima cintanya orang lain. Bukan jatuh cinta lagi. Bodoh gak sih gue?"

Gue hanya terdiam. Memandang kopi yang masih mengepulkan asap. Apa yang udah gue lakuin sebetulnya sama dia?
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
15-06-2020 16:26
mohon maaf gan sis. ane gak bisa update tiap hari. tapi ane tetep update kok. bakalan nyelesein trit ini. makasih banyak yang masih mantengin sampe sekarang. emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
herywang19 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
15-06-2020 16:32
nah kan anak org dibuat susah move on. blm kepatil padahal hahaha
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
15-06-2020 16:36
Quote:Original Posted By tariganna
emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo

Aurel ya... baiklah... aurel atau moci sudah berubah... tapi memang bener juga seh... semua pasti berubah... setidaknya penantian moci selama ini sudah terbayar... semangat.. hihihi..


Mociers bat dah agan ini. Hihi. Enjoy terus gan emoticon-Cendol Gan

Quote:Original Posted By kaduruk
kayanya pas lili sama moci duduk berdua gitu, agan berasa don juanemoticon-Cool


senangnya dalam hati, kalo beristri dua. Seperti dunia ana yg punya emoticon-Ngacir


Wah, kasus udah gan kalo langsung dinyanyiin kek gitu kek nyaemoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By jaran.pengkor
kangen moci yg ceplas ceplos

emoticon-Mewek
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
15-06-2020 20:48
komen
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
15-06-2020 23:31
Part 10b


Apa gue harus manggil dia sebagai Moci yang gue kenal dulu? Moci sahabat gue yang dalam diam menyukai gue? Kenapa harus ada cinta lebih dari seorang sahabat diantara kami? Tidak kah dengan menjadi sahabat seterusnya itu lebih baik? Siapapun tolong jawab pertanyaan gue!.

Gue masih tertunduk. Menghisap rokok. Dan mengeluarkan asapnya yang keputihan. Suara deru kendaraan bermotor yang melintas di hadapan kami menjadi backsound malam ini.

Diantara kami, senyap. Sunyi. Membisu.

Kenapa Moci harus terjebak dengan perasaannya bertahun tahun? Apa yang telah gue lakukan?.

"Le". Panggilnya membuka pembicaraan.

"Hemm?" Jawab gue. Menoleh.

"Bapak, Abay sama Fahri apa kabar?" Tanya nya mengalihkan pembicaraan.

"Mereka baik kok. Alhamdulillah. Kangen tuh mereka sama lo. Main cabut aja sih gak pamit" cibir gue.

"Elo lah yang salah. Bikin anak orang galau berat." Balas nya gak mau kalah.

"Dih, siapa juga yang bikin lo galau. Orang gue kan gak tau kalo..."

Sial, hampir aja gue bilang kalo dia suka sama gue.

"Kalo apa?" Tanya nya selidik. Menatap gue sipit.

"Gapapa. Skip skip."

"Enak aja. Ngomong belum kelar maen skip skip aja. Jawab dulu. Kalo apa?"

Ini nih. Mulai. Keras kepalanya keluar.

"Kalo.."

"Kalo gue suka sama lo gitu?" Potongnya cepat.

Gue mengambil nafas panjang. Lalu mengangguk pelan.

Moci melempar pandangannya ke depan. Tersenyum simpul lalu menunduk.

"Namanya juga dulu masih labil gue Le, sorry ya. Gue.. gue gak tahan waktu itu. Rasanya gak sanggup aja liat lo pacaran sama Alis. Apa lagi, gue deket juga sama Alis. Tiap hari dia sering curhatin elo mulu lagi sama gue. Gue nya aja yang males ngomongin itu sama lo" pungkasnya.

Ah sial, Moci belum tahu soal gue dan Alis.

"Yaudah sih ci, yang udah mah udah. Sekarang ya sekarang."

"Iya gue tau. Tapi perasaan ini.. tetep Le. Gak ilang. Dari dulu sampe sekarang."

Jantung gue berhenti sepersekian detik. Darah berdesir. Gue menelan ludah.

"Sorry ya Le. Harusnya gue tau diri. Gue gak pantes bilang kaya gini. Ditambah lo udah punya istri." Lanjutnya kemudian.

Raut wajahnya berubah. Muram. Sedih. Seperti yang kehilangan harapan.

"Gapapa kok. Santuy lah ci. Jangan tegang gitu. Kita kan masih tetep sahabat. Iya kan?" Gue tersenyum. Menatap wajahnya yang terlihat sebagian.

Moci tersenyum lembut. Mengangguk pelan. Lalu menunduk.

"Oh iya, gue kira lo jadi loh sama Alis" katanya.

Wajah muramnya sudah sedikit hilang. Tapi yang gue tahu. Moci emang jago nyembunyiin rasa sakit hati atau kesedihannya.

Gue menceritakan permasalahan antara gue dan Alis dulu. Semuanya. Dari A sampai Z. Dari selingkuhan yang pertama sampe yang terakhir. Sialnya, Moci malah ngatain gue habis-habisan. Gue bego lah, cupu lah, dan sebagainya.

"Eh, jangan ngatain gue bego ya. Gue tuh terlalu setia tau gak sih lo?"

"Eh Ale, denger baik-baik ya. Setia itu harus, tapi kalo tolol sama bego ya jangan di piara lah. Kaya yang gak ada lagi cewek aja."

Udah, habis ini gue.

"Iya iya ibu manager. Terus aja lo ngabisin gue." Keluh gue.

Moci terbahak.

Lama sekali gak melihat dia tertawa. Nostalgia yang sempurna.

"Lo gak balik?" Tanya nya.

"Kaga, gue nemenin Iki ci"

"Emmm. Gitu.."

Moci memutar bola matanya. Mendengus. Melipat bibirnya.

"Gue.. ikut nemenin lo deh disini ya Le"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
15-06-2020 23:35
lu sih ci maen cabut aja. cba klo ga cabut, kan pas gw putus sama alis, kta bsa menjalin sesuatu kan. sapa tau ya kan. hahaha
profile-picture
aldiriza memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
16-06-2020 06:30
Just my opinion and my sense of feeling.
Ayeuna pamajikan nteu jeung si lilinya(lili menyembunyikan penyakitnya yg kambuh) teuing bener ato nteu let the story tell apa sebener yg terjadi
tapi pernah maca part mana kitu si pamajikan pernah ngomong ka ente tong nyeritakeun keburukan si eta secara explisit.
Ato ane cuma Halu emoticon-Ngakak

"Only time will tell"

Adios emoticon-Ngacir
Diubah oleh kkaze22
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
16-06-2020 11:24
Kejadian atuh moci.. biar pasti lah.. emoticon-Wink emoticon-Wink
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
17-06-2020 23:22
Part 10c


Nafas gue tercekat mendengar Moci ingin menemani gue. Tapi bagaimana mungkin gue menolaknya? Apa gue termasuk orang yang naif? Jujur, gue kangen banget sama Moci. Surat terakhir dari dia membuat hati gue remuk redam. Surat yang masih gue simpan di suatu tempat dirumah. Gak ada satupun yang tahu soal itu. Bahkan keleuarga gue ataupun Lili, mereka semua gak tahu.

Gue hisap rokok dalam-dalam. Menghembuskannya kasar. Cepat. Kepulan asap menari-nari di depan wajah. Perlahan mengurai. Dan menghilang terbawa angin. Bagaimana jika gue mengiyakannya? Apa ini sebuah penghianatan kepada istri gue? Pada Lili? Gue gak mungkin bilang kalau Moci akan menemani gue malam ini di rumah sakit.

Tepukan di pundak gue membuyarkan lamunan.

"Le, lo malah ngelamun!" Ujarnya.

Gue terperanjat. Menoleh.

"Hah? Ah engga. Gue gak ngelamun" sanggah gue.

"Elo ngelamun bego!! Tatapan lo aja kosong. Ah ngeri gue. Tar lo kesurupan lagi" Moci bergidik.

"Enak aja!! Mana ada gue kesurupan! Yang ada setannya yang kesurupan sama gue ci" balas gue.

Moci tertawa. Deretan giginya tampak. Ah iya, gue baru sadar. Dia pakai kawat gigi sekarang. Makin manis. Menarik.

"Eh eh bentar. Lo pake kawat gigi sekarang?"

"Lah dari tadi lo kemana aja? Gue emang pake kawat gigi lagi. Kotokan ya mata lo?" Cibirnya.

Sialan, gue lagi yang salah.

"Pala lo empuk sue. Mana ada gue kotokan. Yang ada itu gue baru sadar kalo lo pake begituan." Balas gue gak mau kalah.

"Jadi sekarang lo merhatiin gue nih?" Jawab Moci. Badannya condong sedikit ke gue. Matanya mengerling. Halisnya naik turun. Senyum menggoda.

Gue masukin tangan kiri gue ke ketek perlahan. Dia gak tahu. Secepat mungkin gue melesatkan jemari yang telah gue oleskan ke ketek ke ujung hidungnya Moci. SLUUTTT!!

Kening Moci menekuk. Hidungnya mengendus.

"ALEEEEE IHHH JOROKKK!! BAU BANGETT TAU GAK!!"

gue terbahak. Tertawa terbahak. Moci memukul pundak gue berkali kali.

"Lo ihhh!!! Kok mau ya Lili sama lo?? Udah jorok! Kurus! Muka gak seberapa lagi!" Cibirnya.

Gue masih tertawa. Perlahan tawa gue mereda.

"Buktinya lo aja gak bisa move on dari gue"

Moci terdiam. Seperti nya gue salah bicara.

"Iya ya. Gue aja susah move on. Kenapa sih lo bikin gue susah move on Le?" Katanya Lirih.

Sial, benar ini, gue salah bicara.

"Lo bisa kok. Mau gue bantuin?" Jawab gue ngasal.

Moci menoleh.

"Caranya?"

"Gue kenalin sama temen kerja gue mau gak?" Gue tersenyum lebar. Halis kiri naik turun.

Moci cemberut. Mendengus. Meminum susunya sedikit. Lalu menaruh gelasnya kembali ke meja.

"Ganteng gak?"

"Lo mau yang ganteng kek gimana? Gue cariin deh!"

Moci menatap gue lekat. Manik matanya berbinar. Nafasnya keluar lembut.

"Gue mau yang kek elo. Harus sama. Gak boleh ada yang beda. Sifat nya harus bego juga kek elo!!"

Gue menelan ludah. Bagaimana mungkin ada cowok yang sama persis begonya kaya gue?

Gue memalingkan wajah dari dia. Tatapannya bikin gue gugup.

"Ada ada aja lo. Mana ada lah yang sama persis. Bapak gue aja suruh nyetak lagi sono!" Jawab gue.

"Yaudah kalo gak ada!"

Gue kembali menatap Moci.

"Yaudah? Jadi lo mau nih gue comblangin?" Kata gue semangat.

"Yaudah!! Gak usah comblangin gue sama siapa-siapa. Orang yang kek elo nya aja gak ada!!"

Ya Tuhan!! Ampuni hambamu. Salah apa aku?.

***


Gue sudah di ruangan Iki. Duduk di sofa. Sementara Moci duduk di samping gue. Iya, terpaksa gue mengiyakan keinginan Moci. Gak ada pilihan lain. Lagian, kita gak berduaan bukan? Ada Iki, ya meskipun dia gak sadarkan diri sih. Yaudah yaudah gak usah di bahas soal itu.

"Le, ini adik kandungnya Lili?"

Gue menyandarkan diri di sisi sofa sebalah kiri. Setelah membuka jaket. Dan gue jadikan selimut, agar menyelimuti sebagian tubuh gue.

"Bukan, Iki itu adik angkatnya Lili. Adiknya ya ada di rumah ortunya. Cowok juga"

"Hah? Serius lo? Kok bisa? Gimana ceritanya?"

Moci membalikan tubuhnya ke arah gue. Menyangga dagu dengan tangan kanan nya.

"Panjang ceritanya. Singkatnya aja deh ya. Jadi Lili tuh kenal sama Iki di masjid gede daerah jalan di ponegoro, lo tau kan?"

Moci mengangguk.

"Nah, iki itu sama Almarhum ibunya biasa tidur di teras masjidnya..

"Bentar... Jadi Iki yatim piatu sekarang?"

Gue mengangguk.

"Iya, maka dari itu, Lili mengangkatnya jadi adik. Sayang banget dia sama Iki" kata gue. Menatap Iki.

"Baik banget istri lo. Beruntung lo bisa dapetin dia le. Gue aja belum tentu bisa kek istri lo, Lili. Sisi sosialnya patut gue tiru!" Moci berdecak kagum.

"Siapa dulu, Aing!!" Kata gue bangga.

"Yeeeh malah shongong lo kang tahu!!" Moci membalikan badannya ke arah Iki.

Gue terkekeh.

Moci menatap Iki. Tersenyum tipis padanya. Lalu menyandarkan punggungnya di sudut sofa yang lainnya.

Perlahan kesadaran gue mulai berkurang. Hanya suara desis angin dari lubang palka yang terdengar. Akhirnya gue kehilangan kesadaran. Gue gak bisa terjaga.
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
18-06-2020 00:36
lah si akang buat thread baru gak kabar" euy 😅
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
18-06-2020 11:46
Nyimak di trid barunya
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
18-06-2020 14:00
Lanjootemoticon-Ngacir2
Sampai tamat ganemoticon-2 Jempol
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
19-06-2020 00:36
Part 11


Waktu melesat bagai busur panah. Iki sudah diperbolehkan pulang. Keadaannya sudah membaik. Meskipun jalannya agak sedikit pincang karena luka di kaki kirinya. Tapi setidaknya, tubuhnya sudah berangsur pulih. Meskipun begitu, Iki belum bisa masuk sekolah sampai tubuhnya benar-benar sembuh. Di khawatirkan, jika memaksakan untuk sekolah, lukanya akan kembali seperti semula karena terlalu banyak gerak.

Moci sering menyempatkan diri untuk menengok Iki kerumah. Tentu Lili sangat senang, katanya 'jadi ada temen kalo Moci berkunjung ke rumah'. Ditambah, Moci sangat perhatian sama Iki, itu yang menambah rasa simpatinya Lili ke Moci.

Siang ini, gue sedang berada di kantin. Dengan Mamet. Membicarakan soal keberangkatan ke Jakarta besok lusa. Kami berdua merencanakan untuk pergi lebih awal. Agar sampai di Jakarta bisa rehat sejenak.

"Bang Al, kau sudah menyelesaikan bahan untuk presentasinya?" Katanya. Menyeruput kopi.

"Udah lah met, tinggal cuap-cuap aja nanti"

"Ah siap lah kalo begitu bang. Aku percayakan semuanya sama kau bang Al" ujar Mamet. Tersenyum lebar.

"Bahasa lo Met-met." Jawab gue.

"Oh iya, untuk bahan presentasinya kau buat seperti apa bang? Power point kaya biasa?"

"Oh itu, gambar rancangan desainnya aja yang gue tampilin lewat power point met. Sisanya gue pake grafic rechording. Tar lo waktu gue presentasi, sambil bikin sketchnote dadakan aja ya."

"Ah pusing kali bang. Kenapa gak semuanya pake power point? Lagian buat apa nanti aku bikin sketch note dadakan?"protesnya. Mamet menekuk dahinya.

"Bosen aja. Masa pake power point mulu. Terus itu sketc hnote buat nanti client kita yang kasih masukan, jadi kita catet lewat sketch note met" pungkas gue.

"Ah sudahlah, atur-atur saja. Aku nurut aja sudah. Pusing pala ku bang" jawab mamet. Menggaruk kepalanya.

Met met, apa sih yang gak pusing di hidup lo? He he he.

"Bang, ngomong-ngomong soal akomodasi, udah cair belum?"

Mamet ini, jalan aja belum, otaknya udah ke duit aja yang ada di otaknya.

"Met met, kerja aja belom, udah maen nyerempet duit aja lo!" cibir gue.

Gue beranjak. Hendak kembali ke kantor. Tapi sebelumnya akan membayar dulu kopi dan rokok yang gue pesan tadi.

Sebelum gue melangkah, Mamet memanggil gue.

"Bang.." katanya. Senyum sok manis.

"Apaan?" jawab gue datar.

"Kau kan tau ini tanggal tua, mana ada aku.."

Sebelum Mamet menyelesaikan kalimatnya, langsung saja gue sambar.

"Iya iya met ah. Gue bayarin dulu" kata gue sambil berlalu.

"Ah, baik kali kau bang Al" serunya

***

Langit senja me-merah. Awan menggelayut indah di kaki langit. Putih. Bersih. Cerah. Indah memesona. Tak ada tanda akan turun hujan. Gue sampai di rumah. Menemukan Lili yang sedang ngobrol dengan Iki di ruang tamu. Lili menghampiri gue yang tiba di depan pintu. Salim. Senyum indahnya merekah. Remaja tanggung itu ikut tersenyum. Menyapa. Gue menyapa balik.

Gue dan Lili meninggalkan remaja tanggung itu sebentar ke dalam kamar.

"A" panggil Lili. Duduk di tepi kasur.

"Iya sayang?" kata gue yang melepas kemeja lalu menggantungkannya di tempatnya.

"A, tau gak?" katanya. Senyum penuh rahasia.

"Enggak" jawab gue singkat dan duduk di sampingnya.

Lili menatap gue dengan mata indahnya. Manik matanya berbinar. Senyumnya kembali merekah.

Gue kembali menekuk dahi. Kok malah senyam senyum.

"Kok malah senyum senyum gitu sayang?" tanya gue heran.

Lili memberikan testpack ke gue. Gue meraihnya. Dan segera melihatnya.

"Artinya apa ini dua garis biru?" tanya gue.

Lili berdecak sedikit kesal. Bibirnya dilipat. Bola matanya berputar.

"H-A-M-I-L a" katanya mengeja kata hamil.

Bentar! Lili hamil?? Otomatis gue jadi ayah dong???

"Hah!!! Seriusss sayang??!!!" tanya gue antusias. Menggenggam erat kedua tangannya.

Lili mengembangkan senyumnya. Mengangguk. Gue segera memeluk dia. Erat. Dan sangat erat. Sebentar lagi keluarga kecil kami akan lengkap dengan kehadiran bayi mungil yang kini tengah di kandung Lili. Dan gue akan menjadi seorang ayah sebentar lagi.

Gue mengurai pelukannya. Lalu mendekatkan telinga ke perutnya Lili. Mengusap perutnya perlahan.

"Dede, baik baik ya di dalem. Jangan minta yang aneh-aneh. Biar bundamu ini gak ngidam yang antu mainstream." kata gue.

Lili menjambak pelan rambut gue. Terkekeh.

"Aa ada-ada aja ih. Mana ada ngidam bisa diatur!"

Gue sejajarkan kembali tubuh dengan Lili. Gue terkekeh.

"Ya siapa tau kan sayang, kali aja bisa request daru sekarang biar gak yang aneh-aneh"

Lili tersenyum. Gue peluk dia sekali lagi. Sungguh bahagianya gue. Begitupun Lili. Terpancar rona kebahagian dari wajahnya. Gue harys bisa ngerawat Lili dengan baik. Dia gak boleh kecapean. Dia harus banyak istirahat.

Iya, sebentar lagi kami akan menjadi orang tua.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 10 lainnya memberi reputasi
10 1
9
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
19-06-2020 00:38
Quote:Original Posted By dhy1
lah si akang buat thread baru gak kabar" euy 😅


Haha kirain tau gan duh

Quote:Original Posted By ChiefMarsekal
Nyimak di trid barunya


Siap, enjoy gan emoticon-Cendol Gan

Quote:Original Posted By umamkhoir98
Lanjootemoticon-Ngacir2
Sampai tamat ganemoticon-2 Jempol


Insha allah ane tamatin ini trit gan
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
19-06-2020 00:48
@tom122

mang ai si @shura28 kamana heeh?
0 0
0
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
23-06-2020 01:38
Part 12


Malam ini Lili sengaja mengundang Moci untuk makan malam. Setelah tadi dia menelepon Moci dengan suara khas ibu-ibu yang ngobrol dengan tetangganya. Lantang. Seru. Katanya hitung-hitung syukuran atas kehamilannya. Ya ya ya paling ujung-ujungnya mereka ngerumpi. Tapi Lili pernah bilang sama gue, kalo dia dan Moci sempat berbicara soal bisnis kue kering. Kayanya sih kalo bisnis itu terealisasi, gue malah sering ketemu Moci gara-gara ikatan bisnisnya dengan Lili.

Ini masih jam setengah lima sore. Langit jingga membentang indah. Awan putih menggelayut di kaki langit. Indah memesona. Suara burung terdengar riuh diatas sana. Pulang ke peraduannya. Iki sedang sibuk dengan kertas gambarnya. Akhir-akhir ini, dia sedang senang menggambar. Sering meminta gue untuk mengajarkannya. Remaja tanggung itu memang penuh semangat. Api dalam dirinya sedang berkobar sepertinya. Gue dan Lili sedang berada di dapur. Memasak untuk makan malam nanti. Gue memotong sayuran dan daging. Lili menyiapkan bumbunya. Oke lah, kali ini gue jadi cook helpernya Lili.

Setelah hampir satu jam kami memasak, akhirnya masakan matang sudah. Kami taruh satu persatu di atas meja makan. Sehabis maghrib, katanya Moci akan tiba di rumah kami. Hanya setengah jam dari sekarang berarti.

Iki menghampiri kami yang tengah duduk di meja makan. Melihat makanan yang akan menjadi menu makan malam kali ini. Senyum remaja tanggung itu mengembang. Senang. Melihat banyak makanan yang akan ia santap kali ini. Sesekali ia mengambil kerupuk yang berada di toples besar lalu memakannya. Terdengar kriuk saat ia mengunyah. Gue dan Lili tersenyum melihatnya.

Matahari sudah mulai sempurna tenggelam. Adzan maghrib berkumandang. Kami bertiga segera mengambil wudhu dan shalat berjamaah di ruang keluarga. Selesai sudah.

Pukul 18.20 terdengar suara mobil Moci. Gue membuka gerbang. Moci mengemudikan Mobilnya masuk ke halaman rumah. Setelahnya, ia keluar dari dalam mobil. Dan ini dia pemandangan mengesankan malam ini. Baru pertama kali gue melihat Moci memakai dress. Warnanya hitam. Panjang menutupi sedikit lututnya. Sangat pas membalut tubuh. Bentuk badannya terlihat jelas. Ah, apa benar ini Moci? Sial, gue gagal fokus.

"Ale!"

Gerakan telapak tangan Moci di depan mata gue membuat gue sedikit kaget. Pasalnya, gue tertegun ketika melihat dia dengan pakaian yang... ah sudahlah.

"Eh.. hehe.. ayo masuk ci"

Kening Moci menekuk. Menggeleng. Tersenyum.

Gue masuk ke dalam rumah di ikuti Moci dari belakang. Lili segera menyambutnya ketika ia tiba di ambang pintu.

"Hei!!" Sapa ramah Lili. Cipika cipiki. "Aku kira kamu gak bakalan dateng. Soalnya gak bales chat aku sih" lanjut Lili kemudian.

"Aku tadi langsung OTW. Makanya gak sempet bales Li" jawab Moci. Tersenyum.

"Ehm.. bisa di perquick gak ibu-ibu? Ini perut udah laper soalnya!" Protes gue.

Mereka tertawa. Kami segera berjalan ke meja makan. Begitupun Iki yang sudah gak sabar untuk menyantap makan malam kali ini.

"Ini cobain ayamnya rel, tadi aku sama aa yang masak loh!" Kata Lili.

"Oh iya?? Serius Aldi ikut masak?? Dih mana ada seorang Aldi bisa masak!" Cibirnya.

"Eh toa masjid, kalo ngemeng gak di saring. Bisa lah. Aing gitu!!" Balas gue.

Lili yang di sebelah kiri gue menyenggol lengan kanan. Ya, isyarat kalo gue jangan ngebacot kayanya.

"Emosian ya Li aa nya kamu?" Sindir Moci.

Lili terkekeh. "Ya gitu deh rel. Mulutnya emang suka nyerocos kadang-kadang" jawab Lili.

Yah mereka satu geng sekarang. Gue malah jadi bahan bullyan.

Gue mendengus. Mereka tertawa. Iki hanya ikut tertawa.

Kami segera menyantap makan malam. Hening. Hanya suara sendok garpu yang beradu dengan piring yang terdengar. Lili terlihat sangat bahagia. Dia gak kalah cantik dengan Moci malam ini. Hijab abu yang di padukan dengan sabrina berwarna hitam membuat Lilinya gue semakin cantik.

Makan pun selesai. Moci membuka pembicaraan.

"Li, selamat ya. Semoga kandungan kamu sehat selalu." Ujar Moci.

"Iya rel, makasih banyak. Aku juga doain kamu biar cepet cepet nyusul deh he he he" jawab Lili.

Moci tersenyum. Sedikit terpaksa. Bola matanya sempat melirik ke arah gue. Ah sial, tolonglah, jangan ada kegaduhan hati di malam ini.

"Aamiin. Semoga ya Li" kata Moci.

"Lagian lo gue jodohin sama temen gue gak mau sih. Pengen nya jomblo mulu lo mah." Sahut gue.

"Idih, gue juga bisa nyari sendiri kali. Gak perlu lo jodohin."

"Yaudah mana cowoknya kalo lo bisa cari sendiri."

"Ada kok"

Gue menekuk dahi.

"Bentar gue tanyain dulu sama cowoknya" timpalnya.

Moci menoleh ke arah Iki yang sedang menikmati makanan penutup nya.

"Ki, mau jadi pacar kak Aurel gak?"

Iki menoleh. Mulutnya menganga. Lalu mengangguk.
Ah remaja tanggung ini sudah tahu mana yang cantik mana yang engga.

"Tuh, fix kan gue punya cowok!!"

Lili tertawa. Gue mendengus.

Serah apa kata lo ci.

"Oh iya rel, gimana nih soal bisnis kue kering itu? Kita seriusin aja ya? Lumayan kayanya." Lili mengambil alih pembicaraan.

Yah, kayanya ini bakalan jadi tren pembicaraan seminggu kedepan.

"Boleh-boleh. Lagian aku juga pengen pengen punya sampingan Li. Biar gak jenuh"

"Bener banget rel, jadi ada hiburan ya gak?" Lili terkekeh.

Kayanya hiburan yang akan mereka berdua lakukan adalah hiburan yang menghasilkan. Menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Setelah mengobrol panjang lebar. Sekitar pukul 20.15 Moci pamit pulang. Gue dan Lili mengantarkannya ke depan rumah. Moci berjalan menuju mobilnya. Gue berjalan membuka gerbang sedangkan Lili berdiri di beranda rumah. Moci memundurkan mobilnya dan segera melesat pulang.

Kini gue sudah duduk di atas kasur bersama Lili. Sedangkan Iki, diapun sudah berada di kamarnya. Lili menaikan bantal di atas pangkuannya. Duduk sila menghadap gue yang tengah bersandar. Lili menatap gue.

"Aa" katanya lembut.

"Iya sayang?" Jawab gue.

"Aa tau gak apa yang aku pengenin semenjak kita nikah?"

Yang Lili inginkan? Sial, gue gak tahu. Bahkan Lili gak pernah minta apapun sama gue.

Gue membalikan badan agar berhadapan dengan Lili.

"Emang kamu mau apa sayang?" Tanya gue. Memutar bola mata, "mau emas? Kalung? Gelang?" Tanya gue kemudian. Menebak.

Lili menggeleng.

"Terus?"

"Aku cuman mau ikhlas dan ridhonya aa sama aku aja. Itu udah lebih dari cukup a"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
23-06-2020 04:18
Aduhh teh Lili emang istri idaman kang
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
23-06-2020 04:50
gelo nya, Feeling wanita apalagi disaat hamil teh kuat pisan hahay
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
23-06-2020 08:17
Teh Lili Istri idaman banget...
0 0
0
Halaman 3 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
balada-kisah-remaja-genit
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia