News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Segera Daftarkan Komunitas Kalian Disini
68
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ed656f097751315cb6cc6ff/denny-siregar-jokowi-itu-macan-bukan-tikus
Tanpa banyak publik yang sadar, sebenarnya sejak beberapa waktu lalu ada gerakan-gerakan kecil yang mencoba membangun persepsi menurunkan Presiden. Enggak tahu kenapa, mereka sepertinya enggak sabar banget Jokowi memimpin sampai 2024. Mungkin karena terlalu lama, dan mereka sudah karatan menunggunya. Ini bukan paranoid ya, tapi kita bisa melihat keping-keping petunjuk supaya bisa membayangkan sepe
Lapor Hansip
02-06-2020 20:41

Denny Siregar: Jokowi Itu Macan, Bukan Tikus

Denny Siregar: Jokowi Itu Macan, Bukan Tikus


Tanpa banyak publik yang sadar, sebenarnya sejak beberapa waktu lalu ada gerakan-gerakan kecil yang mencoba membangun persepsi menurunkan Presiden. Enggak tahu kenapa, mereka sepertinya enggak sabar banget Jokowi memimpin sampai 2024. Mungkin karena terlalu lama, dan mereka sudah karatan menunggunya.

Ini bukan paranoid ya, tapi kita bisa melihat keping-keping petunjuk supaya bisa membayangkan seperti apa gambar besarnya.

Keping pertama adalah saat kontroversi lockdown dan kontra-lockdown, waktu awal Covid-19. Ada beberapa pihak, bahkan partai yang dengan sistematis membangun wacana supaya Indonesia lockdown. Bahkan beberapa kepala daerah yang berada dalam satu garis partai, sudah melakukan lockdown duluan tanpa koordinasi dengan pusat.

Itu jelas memainkan persepsi supaya pusat dianggap lemah dan tidak berwibawa.

Tapi pemerintah pusat mengambil jalan lain, yaitu lewat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan PSBB, urusan penanganan Covid-19 banyak diserahkan ke daerah, dengan begitu serangan ke pusat pun jauh berkurang.

Dan berhasil, orang kemudian fokus pada daerahnya masing-masing dan memunculkan panggung-panggung baru yang diisi oleh beberapa kepala daerah.

Sesudah fase PSBB dilakukan, sekarang masuk ke fase new normal untuk memulihkan ekonomi negeri. Karena sesudah gempa besar Covid-19, tsunami resesi ekonomi sedang datang ke sini. Dan itu sudah disuarakan banyak pengusaha besar, bahwa mereka hanya bisa bertahan sampai bulan Juni. Kalau tidak, bulan Agustus diprediksi akan terjadi PHK besar-besaran.

Mereka membuat perangkap untuk menjebak tikus. Sayangnya mereka lupa. Yang dihadapi macan, perangkapnya kekecilan.

Dan perhatikan, siapa mereka yang menolak new normal? Ya, mereka lagi mereka lagi. Partai dan orang-orang yang kemarin menyerukan lockdown. Narasi mereka bahkan lebih sadis, "Kalau new normal dilakukan, akan terjadi pembunuhan massal." Ngeri.

Memangnya kenapa mereka tidak ingin new normal? Supaya nanti PHK besar-besaran terjadi di negeri ini. Pengangguran meluas. Dan orang lapar akan mudah diprovokasi untuk membuat kerusuhan.

Lihat saja kalau itu terjadi, siapa yang akan bertugas mengompor-ngompori? Ya, mereka itu lagi, partai-partai itu lagi, yang pengin lockdown, yang juga menolak new normal. Dan kelak mereka yang akan berteriak, "Jokowi gagal, turunkan segera!"

Mereka membuat perangkap untuk menjebak tikus. Sayangnya mereka lupa. Yang dihadapi macan, perangkapnya kekecilan.

Keping kedua adalah isu lama dan basi, yaitu isu PKI. Cuma kali ini isu itu dibungkus lebih rapi dengan memunculkan isu Islam versus PKI supaya gaungnya lebih besar.

Islam yang mereka bangun, diwakilkan dengan para habib. Ketika Bahar keluar dari penjara, niat mereka akan menggiring perlawanan terhadap PKI. Dengan begitu, mereka berharap akan mendapat simpati karena membawa agama sebagai jualannya. Dan siapa PKI-nya?

Kita sudah tahu bahwa sejak lama mereka selalu menuduh Jokowi dan pemerintah yang berkuasa sekarang ini diisi banyak anggota PKI.

Sayangnya, mereka gagal maning gagal maning.

Rakyat sudah cerdas, bukannya dapat simpati, mereka malah jadi bahan tertawaan di mana-mana. Malah sekarang mereka coba mengerucutkan isu PKI itu ke Direktur TVRI yang baru dipilih, Iman Brotoseno. Enggak bisa melawan Jokowi, ya lawan Dirut TVRI, lumayanlah daripada enggak ada.

Keping ketiga, sesudah partai bermain, ormas bermain, sekarang giliran kalangan akademisi. Kalangan akademisi ini tugasnya membangun wacana bahwa menurunkan Presiden di masa pandemi ini sah adanya. Dan itu mereka lakukan lewat meeting seminar virtual yang mereka publikasikan ke mana-mana.

Yang kalangan akademisi sok pintar ini tidak sadari adalah bahwa rakyat sudah banyak yang pintar sekarang, tidak gampang dibodoh-bodohi. Bukannya dapat simpati, mereka malah dapat protes keras dari masyarakat sendiri. Malah bukan dari pemerintah. Dan akhirnya seminar itu batal-batal sendiri. Mereka sendiri yang membatalkan.

Tapi ciri khas kelompok ini, mereka selalu mengambil sisi dizalimi. Ada yang bilang pemerintah menghalangi kebebasan berpendapat lah. Bahkan ada yang mengaku-ngaku diancam dibunuh lah. Pokoknya, pemerintah harus salah.

Mereka enggak sadar, mereka berhadapan dengan rakyat yang waras sekarang. Pemerintah malah enggak campur tangan karena rakyat bergerak sendiri menolak pembodohan yang mereka lakukan.

Orang juga sudah tahu siapa tokoh-tokoh di belakang seminar itu. Ya, para barisan sakit hati yang tidak mau terima kenyataan Jokowi adalah Presiden yang sah karena dipilih sebagian besar rakyat saat Pilpres kemarin.

Pertanyaannya, kenapa kelompok-kelompok ini terus mencoba supaya Jokowi turun sebelum waktunya?

Pertama, mereka sebenarnya sudah sesak napas. Sepuluh tahun Jokowi memimpin, bukan waktu yang sebentar. Dulu mereka pikir cuma satu periode saja, tapi ternyata lama. Pundi-pundi mereka sudah menipis, gerakan mereka sekarang lebih mudah dipetakan dan mereka sudah sulit mengambil ancang-ancang.

Yang kedua, di tangan Jokowi ini peta ekonomi lebih jelas arahnya. Investasi berlomba-lomba masuk, bahkan Amerika sendiri sudah mulai kesengsem sama Indonesia dan berencana memindahkan banyak pabriknya dari China ke Indonesia.

Kalau negeri ini sibuk dengan ekonomi, perutnya kenyang, pendidikannya bagus, lalu kelak mereka harus membodohi siapa? Orang-orang bodoh untuk dikapitalisasi makin lama semakin berkurang.

Semua sibuk kerja nantinya, dan peserta demo nasi bungkus kelak akan menghilang. Lalu siapa yang mau jualan agama mereka, jualan propaganda mereka, dan jualan kemiskinan mereka? Bisa-bisa mereka yang miskin nantinya, karena jualan yang selama ini jadi produk unggulan mereka, sudah tidak laku. Dan mau tidak mau seperti ayah Naen, sudah harus melepas dasternya dan kembali main organ di pesta-pesta perkimpoian.


https://www.tagar.id/denny-siregar-j...an-bukan-tikus






Denny Siregar: Jokowi Itu Macan, Bukan Tikus


oh.....ternyata emang binatang ye....emoticon-Leh Uga


selamat menikmati, waktu dan tempat di persilahkan ebong coli berjama'ah emoticon-Malu






Denny Siregar: Jokowi Itu Macan, Bukan Tikus
Diubah oleh sniper2777
profile-picture
profile-picture
profile-picture
introvertpsycho dan 6 lainnya memberi reputasi
5
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 4 dari 4
Denny Siregar: Jokowi Itu Macan, Bukan Tikus
04-06-2020 08:35
Desi a.k.a Deni Siregar yg pucat dan ngomong gelagapan waktu di ILC bareng Abu Janda, TONG KOSONG nyaring bunyinya mereka
0 0
0
Halaman 4 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia