News
Batal
KATEGORI
link has been copied
66
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ebe3e1968cc956ce8028256/diplomasi-gelap-pembebasan-irian-barat
Di beranda Istana Negara, Presiden Sukarno menerima kedatangan Kolonel Soegih Arto. Konsul jenderal Indonesia untuk Singapura itu mendadak dipanggil ke Jakarta untuk satu tugas penting. Setelah tamu-tamu presiden beranjak pergi, tinggallah tiga orang di beranda: Sukarno, Soegih Arto, dan Menteri Luar Negeri merangkap Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Soebandrio. Mereka lantas saling berbincang.
Lapor Hansip
15-05-2020 14:00

Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat

Past Hot Thread
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
Pemerintah Indonesia menyuap ketua fraksi Dewan Papua bentukan Belanda. Politik uang dalam upaya memenangkan Irian Barat yang tidak tersingkap dalam sejarah.
Oleh Martin Sitompul
 
 Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
Presiden Sukarno berbincang dengan Menteri Luar Negeri merangkap Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Soebandrio. Foto: IPPHOS.

Di beranda Istana Negara, Presiden Sukarno menerima kedatangan Kolonel Soegih Arto. Konsul jenderal Indonesia untuk Singapura itu mendadak dipanggil ke Jakarta untuk satu tugas penting. Setelah tamu-tamu presiden beranjak pergi, tinggallah tiga orang di beranda: Sukarno, Soegih Arto, dan Menteri Luar Negeri merangkap Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Soebandrio. Mereka lantas saling berbincang.

“Bung Karno bicara dan menjelaskan bahwa pemerintah mempunyai rencana untuk memperoleh Irian Barat dengan cara-cara yang inkonvensional,” kata Soegih Arto dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto.
Soegih Arto tercengang mendengar skema pembebasan Irian Barat yang diembankan padanya. Sukarno memerintahkannya pergi ke Hongkong dengan membawa uang kira-kira US$ 1.000.000. Dengan uang sebanyak itu, Soegih Arto harus bisa “membeli” Irian Barat.

Rencananya, dana itu akan menjadi "pelicin" agar Dewan Rakyat Papua bentukan pemerintah Belanda bisa mengeluarkan resolusi ingin bergabung dengan Indonesia. Meskipun berbiaya tinggi, politik uang ini telah diperhitungkan dengan cermat. Apabila misi ini berhasil, menurut Soegih Arto, maka akan menghindarkan bentrokan senjata dan menyelamatkan banyak jiwa.
Berunding di Hongkong
Operasi rahasia ini tidak dikerjakan oleh Soegih Arto sendirian. Turut bersamanya tim dari BPI. Mereka antara lain Kartono Kadri, kepala seksi dua BPI bidang operasi dan pengumpulan informasi dan Komisaris Besar Polisi Samsudin. Secara resmi, selain anggota BPI, Samsudin merangkap sebagai sekretaris Konsul RI di Singapura. Soegih Arto, Kartono Kadri, dan Samsudin berangkat dari Singapura.  

Soegih Arto tidak mencatat kapan persisnya keberangkatan mereka ke Hongkong. Namun menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, peristiwa itu berbarengan dengan operasi militer Komando Mandala yang dipimpin Mayor Jenderal Soeharto. Tepatnya, pada kuartal kedua 1962.   

Di Hongkong, BPI telah menyiapkan segala sesuatunya. Soegih Arto dan kawan-kawan menginap di Hotel Sunning House. Mereka akan dipertemukan dengan orang Belanda yang berpengaruh di Irian Barat. Sebagai kepala negosiator, Soegih Arto diberi kuasa untuk menawarkan sejumlah uang tetapi tidak melebihi dana yang ada sebagai harga penggabungan Irian Barat kepada Indonesia.
Pertemuan terjadi di Hotel Miramar, Kowloon, tempat delegasi Belanda menginap. Pihak Indonesia hanya diwakili Soegih Arto dan Kartono Kadri. Sementara itu di pihak seberang, tampak seorang Indo-Belanda bernama Mr. de Rijke didampingi seorang sekretaris perempuan.   
Menyogok Pembelot
Mr. de Rijke terkekeh-kekeh sewaktu  memperkenalkan diri kepada Soegih Arto. Dia menyebut nama lawan rundingnya Soegih Arto yang berarti kaya. Namanya sendiri, de Rijke juga berarti kaya. De Rijke menjelaskan bahwa dirinya lahir di Kediri sehingga mengerti bahasa Jawa. Menurut pengakuannya, de Rijke adalah ketua fraksi di Dewan Rakyat Papua (Nieuw Guinea Raad).
Pertemuan perdana dengan de Rijke itu berlangsung dalam suasana santai karena diawali basa-basi lewat pendekatan  kultural. Menurut Soegih Arto, tidak ada ketegangan sama sekali. Maka tanpa kesulitan berarti, Soegih Arto langsung memajukan agenda utama perundingan. Pertama, membicarakan resolusi penggabungan Papua dengan Republik Indonesia. Kedua, soal keuangan.

Ketika membicarakan soal penggabungan Papua, De Rijke mengajukan banyak tuntutan. Pertama, agar infiltrasi tentara Indonesia supaya dihentikan. Kedua, Papua harus dijadikan daerah istimewa. Ketiga, Missi (Katolik) dan Zending (Protestan) jangan diganggu. Keempat, supaya Papua boleh memakai uang sendiri, seperti di Riau. Kelima, Papua supaya dibolehkan memakai bendera sendiri. Setiap tuntutan itu segera ditanggapi oleh delegasi Indonesia. Tidak semua tuntutan diterima atau ditolak, namun ada masukan untuk mencapai kompromi.
“Pertama, kami setuju memberi status Propinsi Istimewa bagi Irian Barat. Kedua, Riau pada waktu itu masih menggunakan mata uang Singapura, jadi kami setuju mata uang Belanda tetap dapat digunakan. Ketiga, kami setuju misionaris katolik dan Protestan bisa tetap tinggal. Kami tidak setuju bendera Papua berkibar sendiri, tetapi kami mengatakan bendera itu dapat berkibar sedikit di bawah bendera Indonesia,” kata Kartono Kadri sebagaimana dikutip dalam buku Ken Conboy.
Mengenai infiltrasi tentara Indonesia, dijawab Soegih Arto akan segera dihentikan kalau Irian Barat sudah bergabung dengan Indonesia. Titik temu mengenai tuntutan de Rijke beres. Penyusunan konsep resolusi juga tidak memakan waktu lama. Isi pokok resolusi itu adalah, “Bahwa Papua dan Indonesia sama-sama mempunyai sejarah yang sama, sehingga sebaiknya berjalan bersama-sama dan oleh karena itu, Parlemen Papua sepakat untuk menggabungkan diri dengan Republik Indonesia.”

Perundingan hari pertama ditutup setelah terjalin kesepakatan mengenai isi resolusi. Rancangan resolusi itu dibawa Soegih Arto ketika kembali ke Jakarta untuk diserahkan kepada Soebandrio. Hingga Soegih Arto merampungkan otobiografinya Sanul Daca pada 1989, keberadaan konsep resolusi tersebut tidak diketahui rimbanya.
Menurut sejarawan Belanda Pieter Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri, beberapa pejabat yang duduk dalam Dewan Papua memang dicurigai bersekongkol dengan Indonesia. Namun dari sekian nama, tidak tersebut nama de Rijke. Drooglever mencatat, de Rijke merupakan pengacara berpengalaman berkebangsaan Indo-Belanda yang mendukung kepentingan orang Indo-Belanda di Papua. Selain itu, de Rijke juga pernah tersandung kasus pemalsuan surat yang diganjar hukuman empat bulan penjara.
Arsip nasional Inggris menyimpan berkas dokumen pribadi milik de Rijke. Dalam deksripsi katalog disebutkan, de Rijke yang bernama lengkap Jacob Olaf de Rijke, lahir pada 9 September 1921. Sayangnya, berkas-berkas de Rijke masih konfidensial dan akan terbuka pada publik pada 1 Januari 2024 mendatang. Kita tunggu saja. 

https://historia.id/politik/articles...an-barat-P7eAE

profile-picture
profile-picture
profile-picture
jurumudi75 dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
15-05-2020 14:02

Suap di Balik Upaya Pembebasan Irian Barat
Negosiasi tersembunyi dalam misi pembebasan Irian Barat pernah terjadi. Mentok gara-gara perkara waktu penyerahan uang.
Oleh Martin Sitompul

 Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
Mr. Olaf de Rijke (kiri berpostur jangkung), ketua fraksi Dewan Papua berjabat tangan dengan Nicolaas Jouwe, di Hollandia, 18 Februari. (Arsip Nasional Belanda, koleksi Elsevier).

Pada pertemuan hari kedua, Soegih Arto melanjutkan lobi-lobi dengan Mr. Olaf de Rijke. Misi memenangkan Irian Barat lewat jalan menyuap ketua fraksi Dewan Papua itu tinggal selangkah lagi. Perundingan sendiri akan membicarakan soal keuangan dan mekanisme pembayaran.

Semula pembicaraan diawali dalam bahasa Belanda. Namun ketika akan memasuki inti perundingan, de Rijke menyela. Tetiba, dia menggunakan bahasa Jawa. “Mr. de Rijke nyeletuk dalam bahasa Jawa agar sekretarisnya yang Belanda totok itu tidak dapat mengerti apa yang sedang dirundingkan,” tutur Soegih Arto dalam otobiografi Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto.

Soegih Arto dan rekannya, Kartono Kadri tidak keberatan. Mereka pun mulai tawar menawar dalam bahasa Jawa. De Rijke membuka penawaran pada angka US$ 1.000.000. Soegih Arto minta turun menjadi US$ 500.000. Setelah negosiasi bolak-balik, akhirnya tercapai titik temu pada harga US$ 750.000. Perkara berapa jumlah uang sogokan beres. Pembicaraan kemudian beralih lagi mengenai bagaimana cara menyerahkan uang itu.

Pada prinsipnya, Soegih Arto bersedia membayarkan uang itu melalui bank yang dipilih de Rijke setelah resolusi bergabung dengan Indonesia dikeluarkan oleh parlemen Dewan Papua. Namun suasana pembicaraan mendadak jadi panas karena Mr. de Rijke minta dibayarkan saat itu juga. Soegih Arto tidak dapat menyetujui usulan de Rijke tersebut. Muncullah saling tuduhan dan perkataan yang menyinggung satu sama lain.

Mr. de Rijke mengatakan bahwa orang Indonesia lihai berpolitik licik sehingga tidak dapat dipercaya. Mosi senanda pun dilantarkan Soegih Arto karena de Rijke bersedia menjual Papua demi uang. De Rijke tetap ngotot dan membela diri. Menurutnya, tindakannya bernegosiasi dengan pihak Indonesia menanggung resiko yang besar sekali. Kalau ketahuan oleh pemerintah Belanda, kata de Rijke, maka dia bisa dibunuh.

Soegih Arto memutuskan untuk menunda pembicaraan. Agar tidak bersikap gegabah, dia ingin melapor dan menanti instruksi selanjutnya dari Presiden Sukarno. Usul itu dengan susah payah disetujui de Rijke. Menurut de Rijke, tidak mudah baginya keluar masuk Papua tanpa dicurigai.

De Rijke juga menggambarkan suasana di parlemen Dewan Papua yang ternyata cukup banyak anggotanya pro-Republik Indonesia. Hanya saja, suara mereka belum mencapai mayoritas untuk menggolkan suatu resolusi. Oleh karena itu, de Rijke perlu melobi dan butuh dana untuk beberapa anggota. Itulah sebabnya, de Rijke bersikukuh agar uang sogok dibayarkan Soegih Arto saat perundingan berlangsung.

Menurut pakar intelijen Ken Conboy, de Rijke begitu bernafsu agar pihak Indonesia mengirim uang yang dijanjikan ke sebuah rekening Bank Australia. Tetapi, sebelum melakukan ini Soegih Arto dan Kartono Kadri meminta jaminan itikad baik bahwa Dewan Papua akan bersiap-siap mendukung integrasi.

“Sesudah ditunggu beberapa hari, ternyata si anggota dewan ini tidak menghubungi lagi. Upaya penyuapan ini kemudian dibatalkan dan dananya tidak pernah dikirim,” tulis Conboy Dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia.

Dalam otobiografinya, Soegih Arto mengisahkan perundingannya dengan de Rijke berakhir di persimpangan jalan. Pertemuan itu tidak pernah dilanjutkan karena sulit untuk mencapai titik temu, terutama mengenai cara dan kapan penyerahan keuangan. Pendirian Soegih Arto tersebut didukung oleh Bung Karno. Pun tanpa praktik suap-menyuap itu, Indonesia pada akhirnya dapat memenangkan Irian Barat.

“Persoalan diplomasi gelap ini hilang lenyap tidak berbekas dan Irian Barat diselesaikan melalui New York Agreement, pada tanggal 15 Agustus 1962,” tutur Soegih Arto.

Operasi rahasia yang dikerjakan Soegih Arto dan Kartono Kadri gagal karena, menurut Ken Conboy, “anggota Dewan Papua asal Belanda (de Rijke) yang bermaksud menarik keuntungan pribadi atas nama pemerintahnya, menjadi ketakutan.”

Pada Oktober 1962, Kartono Kadri menjadi sekretaris Soedjarwo Condronegoro, kepala perwakilan Indonesia di Irian Barat. Dalam sebuah pertemuan yang tidak direncanakan, Kartono Kadri sempat bersua dengan de Rijke. Pada saat itu, de Rijke tinggal di depan Yachtclub.

Kadri mendapati de Rijke dengan raut penuh gelisah. De Rijke menanyakan siapa saja yang mengetahui tentang pertemuan rahasia di Hongkong. Jawaban yang disampaikan Kadri rupanya tidak memuaskan. Betapa takutnya de Rijke sehingga keesokan harinya dia menyeberang ke Papua Nugini yang masih dikuasai Australia. Hingga Soegih Arto merampungkan otobiografinya pada 1989, de Rijke diketahui masih berada di Papua Nugini dan tercatat sebagai warga negara Australia.

https://historia.id/politik/articles...an-barat-PzdyK
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pein666 dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
15-05-2020 17:00
walah.. kebetulan sekali nama mereka artinya sama" kaya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
15-05-2020 23:07
Sugih = kaya, Rijke = kaya, orang tajir dua2nya

Lewat perjanjian new York sendiri sebenarnya ada timbal balik juga, indo harus menyerahkan Freeport ke tangan Amerika waktu itu, walaupun kita tau indo sendiri gak punya resource untuk mengelola tambang emas waktu itu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
janurhijau dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
17-05-2020 14:24
korupsi itu bagian dari oli pembangunan, yg bs jg digunakan tuk pembebasan koloni.... eh...... kata2 nya siapa ya itu, gan.... emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:03
Baru tau emoticon-Matabelo
0 0
0
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:10
Niatnya cuman biar gk pertumpahan darah
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan khanisa2 memberi reputasi
2 0
2
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:14
Jadi Bintang Kejora boleh berkibar?
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan haekalxt memberi reputasi
1 1
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:22
Komen dlu baru bacaemoticon-Ngakak
0 0
0
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:26
ok ane nitip sarung dl bre emoticon-Traveller
0 0
0
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:29
wah klo thread ini d baca OPM gimana ya!
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
1 0
1
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:33
lah.. penggabungan irian bukannya lewat referendum.... tanpa itu mustahil bisa bergabung...
profile-picture
profile-picture
kokonaga dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
2 0
2
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:36
Jejek dulu


emoticon-Traveller
0 0
0
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:40
sejarah gelap yg sudah terungkap
profile-picture
profile-picture
kokonaga dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
2 0
2
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:40
saya ingin jadi intel
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan awixcool memberi reputasi
2 0
2
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:47
Bung karno bisa dibilang visioner juga sih, bbrp tokoh penting gamau repot2 masukin papua ke dalam wilayah indonesia merdeka setelah proklamasi
Tapi bung karno dr awal proklamasi sampe referendum ngotot pengen papua masuk indonesia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hand.2.hand dan 5 lainnya memberi reputasi
5 1
4
Lihat 6 balasan
Memuat data ..
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:57
ternyata gak jadi nyogok toh
profile-picture
profile-picture
deriandroid18 dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
2 0
2
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:58
Fix...dari dulu emang anggota dewan tidak jauh dari suap menyuap, uang pelicin, dan sejenisnya  Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
buron.warteg dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 05:58
cobain pakai koteka ... enak
0 0
0
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 06:00
Mantap.. pelan tapi pasti

emoticon-Jempol
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
1 0
1
Diplomasi Gelap Pembebasan Irian Barat
24-05-2020 06:03
nyaris kehilangan 750rb usd.
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia