Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
326
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da13fd3b840881300553239/tumbal
Sebuah senyuman misterius muncul di wajah cantiknya, membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Meniupkan perasaan takut di hatiku. Malam sudah tiba ketika aku mencoba menghindar dari pandangan tajam pemilik wajah cantik itu.Senyum penuh misteri itu masih bertengger, menghias bibir ranumnya. Entah apa yang membawa perempuan berdarah indo itu ke tempat tinggal kami.
Lapor Hansip
12-10-2019 09:52

Tumbal

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Tumbal

Sebuah senyuman misterius muncul di
wajah cantiknya, membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Meniupkan perasaan takut di hati. Malam sudah tiba ketika aku mencoba menghindar dari pandangan tajam pemilik wajah cantik itu.

Senyum penuh misteri itu masih bertengger, menghias bibir ranumnya. Entah apa yang membawa perempuan berdarah indo itu ke tempat tinggal kami.

Tubuh semampai, kulit putih, hidung mancung dengan rambut setengah ikal, membuat ia menjadi primadona di kampung kami. Dipuja dan dikejar-kejar banyak pemuda. Bukan hanya yang berasal dari sekitar tempat tinggal kami saja. Tapi, juga berasal dari tempat lain.

Bulu romaku semakin merinding, tidak tahan melawan hawa dingin yang mengalir dari raganya. Meski cahaya lampu tepat berada di atas kepala, hawa dingin itu masih tetap memancar dari tubuhnya.

"Ris, boleh aku masuk?"

Walau rasa takut itu masih ada, aku berusaha menepisnya. Tidak enak dengan Mbak Lastri, nama wanita misterius itu. Aku pun mengangguk
dan mempersilahkan dia untuk masuk.

"Sendirian?"

Seketika aku terkesiap mendengar pertanyaannya. Ada debaran aneh mengganggu irama jantungku. Cukup lama, aku memandangi wajah cantiknya, mencoba menerka apa arti senyuman di balik pertanyaannya tadi.

"Ada Mas Endro, lagi di belakang."

Senyumannya seketika menghilang saat aku mengucapkan nama Mas Endro. Aneh. Wajah Mbak Lastri pun tidak terlihat secantik tadi. Ada apa ini? Berkali-kali aku mengucap istighfar dalam hati.

Wajah Mbak Lastri juga berubah semakin pias. Tangannya gemetaran, tidak mampu menjangkau perutku yang sedang membuncit. Aku sedang mengandung anak pertama. Sepertinya ia bermaksud mengusap perutku.

"Ada apa, Mbak?"

Dia menggeleng. Ada kecemasan terpancar dari sorot matanya. Buru-buru Mbak Lastri pamit. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ketakutan. Aku bisa melihat keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya yang mulus.

Tanpa berbasa-basi dia meninggalkanku sendiri. Bingung akan tindak-tindaknya yang aneh. Tidak seperti biasanya, ujarku lirih.

Meski diliputi misteri, aku membiarkan saja Mbak Lastri pergi. Usai kepergian dia, udara tidak lagi sedingin tadi. Suasana pun tidak begitu mencekam lagi. Semua kembali seperti biasa.

Aku lantas menggeleng, tidak mengerti fenomena apa yang terjadi. Sementara bayangan Mbak Lastri telah menghilang.

Tepukan Mas Endro di pundak, membuatku tersadar dari lamunan. Entah sudah berlama aku berdiri sambil menatap ke arah jalan.

"Ada apa, Ris? Tidak baik malam-malam termenung. Nanti bisa kesambat lho," tegur Mas Endro. Aku mengangguk saja. Tertunduk-tidak berani mengatakan yang sebenarnya.

"Ayo, tutup pintunya. Kamu harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Banyak hal-hal misterius yang terjadi akhir-akhir ini." Kembali Mas Endro menasehatiku.

Memang benar kata Mas Endro tadi. Beberapa hari lalu, Surti tetangga di ujung kampung, tiba-tiba ditemukan dalam keadaan meninggal. Bayi dalam kandungannya pun raib.

Entah apa penyebabnya. Tidak ada yang berani mereka-reka. Apalagi, menuding siapa pelakunya. Beberapa tetangga terdengar kasak-kusuk, menceritakan peristiwa ganjil itu.

Bukan hanya sekali itu saja. Warga kampung sebelah pun ada yang mengalami hal yang serupa. Menurut sesepuh kampung, ada orang yang sedang menuntut ilmu. Jadi membutuhkan banyak tumbal untuk menyempurnakan ilmu yang sedang dipelajarinya itu.

Bulu kudukku terus merinding, teringat perkataan mereka. Siapa yang tega menjadikan nyawa manusia sebagai tumbal atas ilmu-ilmu tersebut?

Aku menarik napas panjang. Menahannya sebentar dan mengeluarkannya perlahan dari mulut. Di kejauhan, terlihat Mbak Lastri mondar-mondar di salah satu tetanggaku yang juga sedang hamil tua.
Untuk apa ya Mbak Lastri mondar-mondir di sana? Kan Mbak Lastri tidak terlalu mengenal mereka. Jangan-jangan ada sesuatu dengan Mbak Lastri?

Kecurigaan sontak kuarahkan kepada perempuan cantik itu. Tidak biasanya dia berada di sana. Aku terus saja memperhatikan tingkah Mbak Lastri. Khawatir terjadi sesuatu pada penghuni rumah yang tengah dikunjungi secara diam-diam.

Rasa penasaranku pun membuncah. Membuat tidak ingin beranjak, meski sudah lumayan lama memperhatikan ia. Tapi, entah mengapa tiba-tiba saja diserang kantuk yang luar biasa. Aku sendiri bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba ingin merebahkan diri.

Akhirnya aku tertidur di atas sofa. Tidak sanggup lagi mengawasi gerak-gerik Mbak Lastri. Tidak mampu lagi memperhatikan setiap tingkahnya yang mencurigakan.

Suara adzan ashar membangunkanku dari tidur. Astagfrullah ...! Ternyata lumayan lama juga tertidur tadi. Beruntung Mas Endro belum pulang dari bengkel. Kalau tidak, pasti tidak enak rasanya.

Sesaat, aku memandang ke arah rumah tetangga tadi. Mbak Lastri sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Pasti dia sudah minggat dari tempat itu.

Suara adzan telah usai, aku segera berjalan menuju kamar mandi. Mandi, mengambil air wudhu dan bersiap menunaikan sholat ashar.

Belum lama menyelesaikan rakaat terakhir, suara jeritan terdengar dari arah sana. Isak tangis bercampur kemarahan terdengar jelas. Suara makian pun terdengar dari salah satu mulut mereka.

Rumah yang memiliki jarak kurang lebih 100 meter itu kini mulai ramai dikunjungi tetangga lain. Ibu-ibu, bapak-bapak, tua , muda berlomba menuju ke situ.

Semua penasaran ingin menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi. Aku juga ingin pergi ke sana. Tapi , berkali-kali Mas Endro sudah wanti-wanti untuk tidak sembarangan keluar rumah. Bau tubuhmu sekarang sedang wangi-wangina di penciuman mereka, Ris. Itu kata Mas Endro kemarin.

Antara percaya dan tidak, aku menanggapi perkataan Mas Endro kemarin. Namun, kejadian barusan mau tidak mau membuatku percaya pada akhirnya. Bahwa memang ada orang yang bersekutu dengan makhluk penghuni alam kegelapan.

Suara ketukan terdengar bertubi-tubi. Mas Endro yang melakukannya. Mukanya terlihat pucat saat menatapku. Dia benar-benar sangat cemas. Aku diperhatikan dari ujung ramput sampai ujung kaki, memeriksa apakah aku baik- baik saja atau tidak.


'Aku ndak apa-apa, Mas. Jangan terlalu cemas!'

Mas Endro sepertinya benar-benar khawatir dengan teror yang menimpa perempuan hamil di kampung kami. Wajahnya terlihat memucat, memendam kegelisahan. Segera kugenggam sepasang tangan kekar Mas Endro. Sekedar mengurangi kegelisahan yang terpendam.

"Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati ya,Ris. Jangan terlalu percaya dengan orang asing!"

"Iya, Mas," ujarku lemah.

"Oh ya, Mas. Tadi siang aku melihat Mbak Lastri berdiri cukup lama di rumah tetangga kita itu. Entah apa yang dilakukan Mbak Lastri? Padahal dia kan tidak terlalu mengenal mereka."

Mas Endro terbelalak mendengar perkataanku barusan. Keningnya terlihat berkerut dengan alis terangkat. Apa sebenarnya yang dilakukan perempuan itu? Terdengar olehku desisan lirih Mas Endro.

Cukup lama dia terlihat seperti orang yang berpikir keras, jemari tangannya sesekali ditekuk dan ditautkan satu demi satu.


'Dari sekarang, jangan dekati Mbak Lastri lagi,Ris. Kalau tidak ada Mas, jangan pernah mau membuka pintu buat siapa pun.'

Aku tidak ingin terlalu banyak berkomentar dan mengiyakan saja perkataan mas Endro.Mungkin memang ada baiknya kalau lebih berhati-hati.

Tidak terasa waktu berlalu, sudah menginjak 2 minggu sejak peristiwa. mengerikan itu. Berkali-kali Mbak Lastri mencoba mendekatiku. Namun, aku selalu menemukan alasan untuk menghindarinya.

Di setiap sudut rumah pun, Mas Endro menempel rajah berisi beberapa ayat suci Al-Quran seperti ayat kursi, untuk melidungi dari sesuatu yang berasal dari alam gaib.

Aku menjadi lebih tenang saat ditinggal Mas Endro bekerja di bengkel. Memang jarak antara tempat tinggal kami dengan bengkel tidak terlalu jauh. Paling hanya sekitar 500 meter saja.

Hampir setiap saat , Mas Endro meluangkan waktu memeriksa keadaanku. Untuk berjaga-jaga saja, karena usia kandunganku sudah melebihi 9 bulan. Beberapa hari lagi, saat kelahiran bayi kami akan tiba.

Pagi ini, Mas Endro juga tidak ingin berangkat kerja. Kurang enak badan, katanya. Bisa saja, karena terkadang Mas Endro harus lembur menyelesaikan pekerjaan dari beberapa pelanggan yang minta agar kendaraan mereka segera bisa dipakai.

'Mas, udara pagi ini, dingin sekali, ya?'

Mas Endro tersenyum kecil menanggapi ucapanku. Laki-laki sederhana, berpenampilan apa adanya itu memberikan segelas air putih yang telah didoakan olehnya usai sholat subuh tadi.

"Minumlah, Ris! Semoga Gusti Allah melindungimu dari godaan makhlus astral," ucapnya seraya menyodorkan segelas air putih.

Aku pun segera menyeruput air putih itu. Rasa segar segera merasuk ke seluruh tubuhku. Pikiran pun kembali jernih, tidak lagi dikejar-kejar ketakutan.

"Apa sebaiknya Mas istirahat di rumah dulu hari ini."

"Sepertinya begitu, Ris. Badan Mas pegal-pegal semua."

Aku mengangguk-bahagia karena hari ini ada Mas Endro di rumah. Bisa mengurangi sedikit ketakutan akibat teror yag melanda akhir-akhir ini.


Sebuah seruan, menghentikanku yang sedang asyik mendengar beberapa potong ayat suci Al-Quran dari ponsel milik Mas Endro. Suara yang tidak asing lagi-Mbak Lastri yang mencoba untuk terus memanggil.

"Jangan hiraukan,Ris! Terus saja fokus pada Murotal itu." Suara Mas Endro, mengalahkan suara Mbak Lastri yang terus menggoda.

Aku menguatkan diri untuk tidak membalas panggilan perempuan cantik itu. Sementara langkah Mas Endro sudah tiba di depan pintu. Dari balik tirai jendela aku mengintip percakapan antara mereka berdua.

Mbak Lastri menatap Mas Endro dengan geram. Ada kemarahan terpancar dari netranya. Lututku tiba-tiba gemetar, melihat pemandangan di luar. Aku bisa merasakan ada juga kekesalan dari raut wajah Mas Endro.

Setelah menemui Mbak Lastri, Mas Endro bergegas masuk rumah. Sementara perempuan itu memandang nyalang ke dalam rumah, seolah tahu aku sedang bersembunyi di balik jendela.

"Ris, sepertinya benar dugaan Mas, kalau ada sesuatu yang janggal dengan sikap Mbak Lastri akhir-akhir ini."

Ucapan Mas Endro membuat lututku semakin gemetaran. Perasaan takut pun kian kuat menghantui. Kutelan air ludah yang terasa seperti menelan jamu pahit.

"Tidak apa-apa. Tidak usah ketakutan seperti itu. Nanti kita cari solusi secepatnyanya." Perkataan Mas Endro barusan membuatku dapat bernapas lega. Semoga saja kami bisa melewati teror dari Mbak Lastri ini.

Hari persalinan tinggal dua hari lagi. Mbak Lastri semakin sering saja lalu-lalang di depan rumah. Beberapa kali aku mendengar teguran dari tetangga sebelah dari dalam rumah, tapi Mbak Lastri begitu lihai berkilah. Berbagai macam alasan bisa ia utarakan.

Malam hari pun, entah mengapa aku menjadi sering mengigau. Mbak Lastri benar-benar bagai mimpi buruk buatku. Entah apa yang dilakukannya hingga tega meneror warga yang sedang hamil tua. Anehnya, kenapa warga sekitar tidak ada yang curiga. Apa karena wajahnya yang cantik dengan tutur bahasa lemah lembut. Sehingga tidak ada seorang pun yang percaya, kalau Mbak Lastrilah penyebab banyak kematian wanita hamil di tempat ini.

Seperti yang aku alami malam ini. Mas Endro sudah lama tertidur, saat sebuah lemparan cukup keras menghantam pintu. Membuat Jantungku berdetak sangat kencang. Untuk sepersekian detik aku hanya bisa mematung, tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Perlahan sekali, aku mengguncang-guncang tubuh Mas Endro agar ia segera bangun. Suamiku itu kaget dengan guncangan yang ternyata cukup keras itu.

"Ada apa sih, Ris! Ini masih jam 2 malam, lho. Mas, masih mengantuk."

"Tadi ada yang melempar pintu, Mas. Keras sekali!"

Sambil mengucek mata, Mas Endro turun dari tempat tidur. Sepertinya hendak memeriksa pintu depan. Aku beringsut membuntuti seraya memegang ujung kaos Mas Endro,


"Mas, hati-hati!" aku mengingatkan suamiku.

Dia hanya tersenyum sambil terus berjalan menuju jendela. Lampu di ruang tamu masih tetap mati. Sengaja tidak dihidupkan agar tidak terlihat dari luar.

Di depan jendela, kami berusaha mengintip siapa yang iseng malam-malam mengedor pintu rumah kami. Kakiku seketika gemetar saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan pagar. Mbak Lastri! Tapi penampilannya benar-benar berubah. Rambut berantakan, wajahnya pun penuh bopeng, tidak cantik seperti yang kukenal.

"Mas ...," desisku lirih. Takut kedengaran perempuan itu.

"Tidak apa-apa. Tidak usah takut. Dia tidak akan berani masuk!"

Penjelasan Mas Endro sedikit mengurangi rasa takutku. Bagaimana pun, ini pengalaman yang mengerikan bagiku.

Aku tidak pernah menyangka, perempuan seperti Mbak Lastri bisa berpenampilan mengerikan seperti itu.

"Mas, apa yang terjadi dengan Mbak Lastri?" tanyaku ingin tahu.

"Sepertinya dia sedang menuntut ilmu hitam, yang membuatnya untuk tetap cantik dan muda."

Aku tertegun mendengar penuturan Mas Endro. Benarkah itu? Tidak pernah terbayang olehku.

"Apa Mbak Lastri bukan penduduk asli kampung kita, Mas?"tanyaku lagi. Benar-benar penasaran.

Mas Endro terdiam sejenak. Kemudian ia menceritakan seluruh kisah hidup Mbak Lastri. Di mana dulu dia dan keluarganya disingkirkan warga karena dianggap keluarga dukun yang berbahaya. Bisa menyantet dan menyebabkan banyak orang celaka.

Beruntung akhirnya Mbak Lastri bisa selamat dari amukan warga, meski kondisi tubuhnya dalam keadaan luka parah. Dia ditampung di salah satu warga yang merasa kasihan. Setelah beberapa waktu, Mbak Lastri ikut warga itu ke kota dan baru kembali kurang lebih 2 atau 3 tahun yang lalu.

Saat pulang kondisi fisiknya sudah berubah menjadi lebih cantik. Penampilannya pun tidak mencerminkan kalau dia adalah anak seorang dukun yang pernah diamuk massa.

Warga juga sudah melupakan peristiwa itu dan menerima kedatangan Mbak Lastri kembali. Tapi anehnya, setelah kepulangan Mbak Lastri, banyak perempuan hamil di sekitar kampung tewas dengan keadaan mengenaskan. Bayi yang dikandung pun ikut raib.

Aku tidak mampu bergerak, usai mendengar penjelasan Mas Endro. Sementara di luar Mbak Lastri seperti menggila, bolak-balik. Wajahnya menjadi semakin beringas. Tangannya mencoba pintu pagar. Tapi segera ditarik kembali.

Keputusasaan melanda dirinya kini. Kulit wajah mulus itu kini semakin menjijikkan. Penuh bekas luka. Membuat perutku tiba-tiba terasa mual.

Mas Endro memejamkan mata, seperti membaca sesuatu. Mataku tak berkedip memandang kejadian di luar. Tampak Mbak Lastri kian gencar membuka pintu pagar. Matanya semakin memerah, seperti biji saga. Kuku tajam mulai tersembul, membuat ia tampak seperti makhluk yang bersekutu dengan iblis.

Dadaku berdegup kencang. Ternyata ilmu Mbak Lastri lumayan tinggi. Dia berhasil melewati pintu pagar. Beruntung bunyi lantunan ayat suci Al-Quran dari musholla segera menghentikan langkahnya.

Tidak terasa subuh sudah menjelang. Hampir 2 jam lamanya Mbak Lastri bergumul, mencoba masuk. Sambil berteriak histeris, perempuan itu berlari menerjam rinai yang baru turun.

Perempuan yang dilanda dendam kesumat, menjadikan dirinya alat pemuas iblis. Memanfaatkan rasa sakit hatinya, sehingga rela mencari tumbal untuk sebuah keserakahan. Itu yang kudengar dari Mas Endro.

Aku semakin tercenung, menyaksikan peristiwa itu. Sementara semakin banyak warga mulai lewat menuju musholla. Sebentar lagi waktu subuh akan tiba, aku dan Mas Endro juga bersiap-siap melaksanakan sholat.

Pagi harinya banyak tetangga tidak menyadari drama yang terjadi tengah malam tadi. Semua seperti tersihir, terlelap dalam tidur. Bahkan teriakan histeris Mbak Lastri pun tidak terdengar. Mereka hanya sibuk kasak-kusuk mempertanyakan kebenaran cerita pada Mas Endro. Sementara keberadaan Mbak Lastri tidak ada yang tahu. Ia seperti lenyap di telan bumi.


Beberapa hari kemudian dari beberapa kerabat jauhnya diperoleh informasi kalau Mbak Lastri telah ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Tubuhnya penuh luka cabikan, seperti terkena goresan benda-benda tajam. Akhirnya ia menjadi tumbal atas persekutuannya dengan iblis, akibat tidak bisa menyediakan tumbal berupa perempuan hamil.

Penuh rasa syukur, aku memandang langit yang mulai terang. Matahari telah lama berada di singgasananya. Panas teriknya telah menyusup ke seluruh penjuru, bersama ketenangan yang kini mengalir.

Aku tidak lagi diteror peristiwa misterius itu. Bahkan proses persalinan pun berjalan lancar. Satu hal yang membuatku bertambah yakin adalah bahwa Allah akan menjaga seluruh hamba-hamba-Nya yang tetap percaya dan berlindung pada-Nya.

Udara pagi menerpa lembut kulit tubuhku. Membuat buah cinta kami tergolek pulas. Kelahiran yang telah lama ditunggu akhirnya tiba jua. Meski pernah dilanda teror menakutkan. Aku bisa melewatinya dan berhasil lolos dari tumbal Mbak Lastri.


Curup, 12 Oktober 2019

Sumber foto: pixabay.com
https://pixabay.com/id/photos/fantas...gurun-2925212/
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abahekhubytsany dan 88 lainnya memberi reputasi
89
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 13 dari 14
Tumbal
03-03-2020 06:50
yuk, ah, udah update nih, ada cerpen lainnya.
profile-picture
rifqipain memberi reputasi
1 0
1
Tumbal
04-03-2020 10:30
keren kaaak. udah segitu banyak readersnya
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan uliyatis memberi reputasi
2 0
2
Tumbal
04-03-2020 10:32
Quote:Original Posted By sofiayuan
keren kaaak. udah segitu banyak readersnya


Alhamdulillah, ngak nyangka juga, mksih udah mampir... emoticon-Malu
profile-picture
rifqipain memberi reputasi
1 0
1
Tumbal
05-03-2020 15:10
Quote:Original Posted By uliyatis
Alhamdulillah, ngak nyangka juga, mksih udah mampir... emoticon-Malu


Bagi caranya dong kak heheh
keren kak
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan uliyatis memberi reputasi
2 0
2
Tumbal
05-03-2020 15:33
Quote:Original Posted By sofiayuan
Bagi caranya dong kak heheh
keren kak


Yang jelas nih, buat aja cerpennya, karena kebetulan ikut bbb juga, jadi ya dibantuin, jadi akhirnya banyak yang baca.
profile-picture
rifqipain memberi reputasi
1 0
1
Tumbal
08-03-2020 06:22
Quote:Original Posted By uliyatis
Yang jelas nih, buat aja cerpennya, karena kebetulan ikut bbb juga, jadi ya dibantuin, jadi akhirnya banyak yang baca.


Ane juga anak bbb kak, tapi belum sebanyak itu readersnya emoticon-Turut Berduka
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan uliyatis memberi reputasi
2 0
2
Tumbal
08-03-2020 06:29
Quote:Original Posted By sofiayuan
Ane juga anak bbb kak, tapi belum sebanyak itu readersnya emoticon-Turut Berduka


Iyap, seiring waktu pasti banyak juga, yang penting nulis aja terus.
profile-picture
rifqipain memberi reputasi
1 0
1
Tumbal
08-03-2020 11:18
belum selesai baca semua partnya. tapi seru baca genre horor. masih jarang nemu di mari.
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan uliyatis memberi reputasi
2 0
2
Tumbal
08-03-2020 12:10
Quote:Original Posted By Indriaandrian
belum selesai baca semua partnya. tapi seru baca genre horor. masih jarang nemu di mari.


Iya, gpp kok, bacanya pelan-pelan aja....
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan Indriaandrian memberi reputasi
2 0
2
Tumbal
09-03-2020 12:41
Quote:Original Posted By uliyatis
Iyap, seiring waktu pasti banyak juga, yang penting nulis aja terus.


Iya kak makasih motivasinya. Punya ane juga tumbuh sih cuma gak secepat kkemoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Tumbal
25-03-2020 09:21
Pesugihan Makhluk Penghuni Danau

Tumbal

Sumber foto : pinterest


Sinar bulan purnama tampak begitu indah. Menyinari setiap helai daun, membuat pantulan cahayanya begitu semarak. Tepian danau yang biasanya gelap, malam ini tampak terang benderang. Sesosok makhluk tampak berada di tengah danau. Wajahnya begitu rupawan, hanya saja separuh tubuhnya berbentuk seperti buaya. Makhluk apa dia sebenarnya?

Dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut, makhluk itu adalah penguasa danau yang bisa memberikan harta melimpah bagi orang-orang yang menuntut ilmu pesugihan padanya. Memang sih selalu ada persyaratan atau tumbal yang diajukan untuk mendapatkan pesugihan ini. Namun, itu tidak pernah menyurutkan orang-orang untuk datang ke sana. Seperti Ambi dn Arini.

Sebagai penghubung, seorang kuncen selalu membakar kemenyan di salah satu sisi danau. Mulutnya pun tampak komat-komat, seperti membaca mantera. Sementara Ambi dan Arini duduk di sebelahnya, menundukkan kepala, tidak berani menatap ke tengah danau. Seorang bayi yang berusia paling tidak tahun satu tahun berada dalam pelukan si isteri. Merengek. Mungkin karena rasa dingin yang begitu menggigit, atau juga karena rasa lapar.

“Bu, dikasih susu dulu anak kita. Kasihan, dari tadi nangs terus!” Suara bapak itu terdengar setengah berbisik. Sepertinya takut kedengaran makhluk penguasa danau itu.

“Iya, Pak.” Tanpa menunggu lebih lama isterinya pun segera menyusui si bayi. Sang kuncen msih terus komat-kamit membaca doa-doa agar permintaan sepasang suam isteri itu mendapat kekayaan bisa dikabulkan.

Sebenarnya sepasang suami isteri itu dulunya adalah orang yang berada di kampung mereka. Tidak ada yang tidak tahu dengan mereka. Harta kekayaan melimpah dan tidak habis tujuh turunan. Namun, karena pola hidup yang suka foya-foya, juga memiliki isteri yang banyak, menyebabkan harta mereka perlahan-lahan mulai habis.

Ambi, nama bapak itu, akhirnya jatuh miskin, bangkrut. Satu persatu istri mudanya prig. Tinggal Arini yang masih bersedia tinggal bersama Ambi, meski harus tinggal di rumah smpit dengan peralatan seadanya. Hampir setiap hari, mereka mendapat cibiran dari orang-orang. Padahal, dulu mereka sangat sering ditolong. Bukan sedikit uang yang mereka sumbangkan, tapi, balasan yang didapat sungguh menyakitkan.

Ambi harus rela mulai usaha dari nol lagi. Tidak ada yang mau menolong mereka. Arini, menolong Ambi dengan menjajakan makanan untuk membantu menutupi biaya kebutuhan rumah tangga yang meningkat. Perempuan yang terbiasa duduk ongkang-ongkang kaki saja itu, kini mu tidak mau harus turun tangan sendiri.

Namun, dia tidak pernah mengeluh. Hanya saja, Ambi, suaminya merasa prihatin dan kasihan. Dia lalu mencari keterangan bagaimana mendapat kekayaan dan membalas sakit hati pada orang-orang yang telah menghina mereka.

“Bu, tidak ada salahnya kita coba pergi ke danau di ujung desa. Kata orang, kalau kit beruntung, bisa bertemu dengan makhluk penghuni danau itu. Maka, apa pun permintaan kita pasti akan dikabulkan.”

Arini, isteri Ambi memandang lmbut suaminya. Figur seorang isteri setia dan tidak neko-neko. Hijab yang dikenakannya tampak sedikit berkibar. Angin malam memang bertiup sedikit lebih kencang malam ini.

“Untuk apa, Pak? Sudahlah. Biarkan saja. Kita mulai lagi dari awal.” Arini mencoba membujuk Ambi, suaminya dengan lembut. Bagaimanapun, dia tidak setuju dengan jalan pintas yang akan dipilh suaminya itu.

Namun, ternyata tekad Ambi sudah bulat. Dendam membuatnya gelap mata dan melupakan bahwa masih ada Allah yang akan menolong mereka keluar dari kesulitan ini.

“Pokoknya, Bapak sudah mantap. Orang-orang itu harus merasakan pembalasan ini. Sakit sekali hati Bapak melihat perlakuan mereka yang meremehkan dan merendahkan kita. Mengolok-olok kemiskinan yang membuat hidup kita hancur.”

Arini pun akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Denngan pasrah, perempuan berkulit sawo matang, berhidung bangir itu menuruti kehendak Ambi. Beberapa kali kedatangan mereka ditolak karena tidak membawa berbagai persyaratan yang diajukan kuncen. Hingga akhirnya setelah kunjungan yang kesekian kalinya, mereka berhasil juga dipertemukan dengan makhluk penguasa danau tersebut.

“Pak …,” seruan Arini, isterinya seketika membuyarkan lamunan Ambi. Refleks ia menoleh ke arah Arini, memperhatikan isyarat matanya. Ternyata makhluk penguasa danau itu, sudah berada di tepi danau. Rupanya, selagi Ambi melamun tadi, makhluk itu telah beranjak dari tengah danau.

“Anak manusia apa tekad kalian sudah bulat untuk mendapatkan pesugihan ini?”

Tatapan dingin dan tajam dari makhluk setengah buaya itu membuat Arini bergidik. Ada nada tidak senang terdengar dari nada suara makhluk itu.

“Iya, Nyi. Tolonglah kami.” Ambi memohon dengan kepala semakin menunduk, seperti layaknya orang menyembah tuannya. Sementara Arini bersikap biasa saja.

Makhluk yang dipanggil Nyi itu tertawa keras. Rambut panjangnya tersibak, memperlihatkan sebagian wajah yang tadi tertutup.

“Apa kalian sanggup memenuhi semua persyaratannya? Tidak mudah untuk mendapatkan pesugihan ini!” Suara makhluk itu kembali dingin, tidak lagi tertawa seperti tadi.

Dengan terbata-bata, Ambi menyanggupi persyaratan yang diajukan makhluk penghuni danau itu. Sedangkan Arini kian erat mendekap anak semata wayangnya. Dia tidak rela jika harus mengorbankan buah hatinya itu.

“Baiklah, aku tunggu syaratnya, besok, anak manusia. Kalau tidak, perjanjian ini batal. Dan kau akan celaka karena telah melihat wujudku.”

Ancaman makhluk itu membuat lutut Arini bergetar. Di mana Ambi akan mennncari tumbal pertama untuk melicinkan jalan memperoleh kembali seluruh harta kekayaan yang dulu mereka miliki.

“Baiklah Nyi. Besok, saya akan kembali dengan membawa semua peryaratan yang masih kurang.” Setelah mendengar ucapan Ambi dalam sekejab makhluk penghuni danau yang memang terkenal angker itu meninggalkan mereka.

“Besok saya tunggu di sini dengan waktu seperti saat ini. Jangan lupa bawa persyaratan seperti yang diminta Nyi tadi.” Suara berat kuncen tersebut semakin membuat Arini ketakutan. Apa yang akan terjadi kalau Ambi tidak bisa memenuhi persyaratan yang diminta makhluk itu.

“Baik Kan g. Besok kami akan datang kembali.” Singkat sekali Ambi berkata-kata. Ada rona kekhawatiran terpancar dari wajahnya.

Pagi-pagi sekali Ambi telah bangun. Padahal, sejak bangkrut, dia selalu bermalas-malasan dan lebih banyak mengandalkan isterinya, Arini. Bahkan sampai berhari-hari dia hanya kelayapan. Tidak mau tahu dengan urusan di rumah. Yang dia tahu semua kebutuhan untuk makan sudah harus tersedia ketika ia pulang.

“Pak, tumben pagi ini bangun cepet,” goda Arini sesaat meletakkan sarapan di atas meja.

Meski tersenyum kecut, Ambi menjawab pertanyaan Arini. “Iya, Bu. Hari ini bapak mau melengkapi semua persyaratan untuk mrengambil pesugihan nanti malam.”

“Apa Bapak, sudah mikir matang-matang. Banyak yang sudah cerita kalau senangnya hanya sebentar, setelah beberapa lama kemudian, tumbal harus terus disediakan. Kalau nggak, nyawa yang menginginkan pesugihan itu akan diambil.”

Arini mencoba menggoyahkan keputusan Ambi. Dia hanya tidak ingin sang suami salah mengambil keputusan, mengakibatkan hidup mereka akan semakin berada dalam jurang kehancuran.

“Sudah, Bu! Ndak usah, ceramah terus. Sudah siang. Bapak mau jalan dulu.”

Arini pun tidak lagi melarang dan membiarkan suaminya untuk melakukan apa yang diinginkan. Ambi sudah tertutup mata hatinya. Tidak mau mendengarkan saran dan nasihat dari Arini. Perempuan keturunan jawa itu, hanya memandang kepergian suaminya sambil mengelus dada. Kalau bukan perilaku hidupnya yang buruk, mereka tidak akan jatuh miskin seperti ini. Semoga saja keputusan yang diambil suaminya kali ini tepat, meski Arini tidak yakin sepenuhnya.

Sambil menggendong buah hatinya, Arini membuka warung sederhana milik mereka. Sebentar lagi bebrapa pelanggan akan mulai berdatangan. Memang belum seramai seperti yang dulu-dulu, tapi itu sudah cukup untuk memennuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

“Bu, ini sudah sore. Sebaiknya segera bersiap-siap. Bapak ndak ingin kita tetrlambat sampai di tepi danau.” Ucapan suaminya membuat Arini segera bangun dari duduk. Sebentar lagi, magrib memang akan tiba. Tiba-tiba, rasa malas segera menghampiri Arini. Entah mengapa, dia menjadi begitu enggan menemani suaminya ke tepi danau.

“Pak, dari tadi, anak kita rewel terus. Apa sebaiknya, Bapak saja yang berangkat sendiri ke sana.”

“Ndak bisa begitu. Ibu harus ikut. Kecuali kalau Ibu sudah ndak mau ikut bersama Bapak lagi.” Arini menjadi ragu. Bimbang. Di satu sisi dia memang tidak menginginkan pesugihan ini, tapi di sisi lain dia merasa masih memiliki kewajiban sebagai seorang isteri untuk mendampingi suaminya. Namun, sebuah bisikan seperti melarangnya untuk pergi.

“Ibu di rumah saja, Pak. Lagi pula Ibu benar-benar kecapekan. Hari ini, Alhamdulillah, pelanggan kita lebih ramai dari biasanya.”

Alis Ambi, suami Arini terangkat. Marah, karena tidak mampu membujuk Arini. Perempuan ini merasa ada yang aneh dengan tindak-tanduk suaminya. Kenapa dia begitu ngotot mengajaka dia mala mini. Padahal bisa saja pergi sendiri atau mengajak perempuan lain yang selama ini selalu dilimpahkannya berbagai macam perhiasan dan barang-barang mewah.

“Bapak bisa ajak si Surti saja. Dia pasti mau ikut.” Arini mencoba memberikan usul. Isteri Ambi itu tahu persisi, kalau Surti dari dulu memang sangat menginginkan mengambil posisi Arini.

Ambi menggeleng. Laki-laki itu tahu persisi kalau surti pasti sudah memilih laki-laki lain semenjak dia bangkrut. Tentu Surti tidak akan mau tau dan perduli dengan Ambi lagi.

“Ya, sudah. Nanti, Bapak cob ajak yang lain saja. Si Surti itu, nanti-nanti sja, Bapak ajak, kalau nanti sudah kaya kayak dulu lagi. Ibu istirahat saja di rumah. Sebenarnya, Bapak juga ndak mau kalau Ibu yang ikut. Cuma, syaratnya harus bawa istri.”

Arini menarik napas panjang. Dia mengerti kalau dalam hati suaminya itu ada dendam yang tidak kentara pada beberapa perempuan yang dulu sering menggerogoti harta suaminya itu.

“Bapak berangkat saja sekarang. Takut kemalaman. Bapak ajak aja Mariyam. Dia pasti mau ikut. Dia juga dari dulu mengejar-ngejar Bapak, karena kepingin kaya.”

Arini mengangguk. Mengiringi kepergian suaminya itu dengan tatapan iba. Meski memendam rasa amarah, tapi, Arini entah bagaimana tidak bisa meninggalkan Ambi. Pesan almarhumah ibu Ambi membuat ia tidak bisa begitu saja meninggalkan laki-laki yang kerap menyakitinya itu. Mungkin saja, kali ini dia akan berubah menjadi lebih baik, bisik Arini kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Azan telah terdengar dari masjid di ujung jalan.

Kembali ke tepi danau. Terlihat Ambi dan Maram duduk di tepi danau. Ternyata suami Arini itu berhasil juga membujuk Maryam. Beruntungnya, Ambi masih memiliki simpanan berupa perhiasan gelang yang diberikan sebagai imbalan pada Maryam.

Kuncen itu menatap Maryam dengan tajam. Ambi mengerti maksud tatapan kuncen tersebut. LAlu menjelaskan, bahwa Arini tidak bisa ikut, krena kecapekan dan dia menggantinya dengan Maryam. Sang kuncen hanya mengangguk dan mengatakan tidak ada masalah sepanjang yang dibawanya adalah perempuan yang ada kaitannya dengan Ambi.

Kemudian, kuncen tersebut mulai membakar kemenyan, memeriksa semua persyaratan yang dibawa Ambi. Setelh itu mulai merapal beberapa mantera untuk memangnggil Nyi penunggu danau itu. Setelah kurang lebih setengah jam, sebuah percikan mulai terdengar keras, dan sosok makhluk penunggu danau pun muncul perlahan ke permukaan. Wajah cantiknya begitu sumringah. Apa karena memiliki pengikut baru? Mungkin saja.

“Malam, Nyi. Salamku buat Nyi,” terdengar sang kuncen membuka permbicaraan.

Perempuan cantik itu mengangguk dengan anggun. Matanya menatap tajam pada Maryam, seperti ingin menelannya hidup-hidup. Ambi memegang lembut tangan Maryam, menenangkan wanita itu. Bagaimana pun, Maryam adalah tubal pertama yang akan ia serahkan pada Nyi, makhluk penghuni danau yang memberikan kekayaan padana.

“Hm … tetrnyata kau berubah pikiran, anak manusia?” ujarnya sambil tertawa keras. Maryam bertambah ketakutan. Gelang perhiasan ynag melingkar indah di pergelangan tangan, segera dicopot dan dikembalikan pada Ambi.

“Kang, ambil saja lagi, gelang ini. Saya, mau pulang.” Maryam merengek agar diperbolehkan untuk pulang. Ambi hanya tersenyum mengejek., kemudian berkata bahwa ini adalah hukuman bagi dia dan perempuan-ermpuan lain yang hanya menginginkan hartanya saja selama ini.

Kemudian dengan sekali dorong, Maryam telah berada dalam air dan segera disambut oleh beberapa ekor buaya yang telah berada di belakang makhluk penghuni danau itu. Setelah itu tubuh Maryam dalam waktu singkat telah habis dikoak-koyak oleh buaya itu. Jeritan Maryam telah hilang bersamaan dengan lengkingan tawa makhluk itu.

“Anak manusia, pulanglah. Buaya-buaya peliharaanku sudah kenyang malam ini. Kembalilah 6 bulan lagi, dengan mmbawa seorang perempuan lagi yang ada kaitannya dengan dirimu.”

Ambi mengangguk. Seperti perjanjian yang telah tertulis antara dia dan makhluk penghuni danau itu, Ambi akan menerahkan perempuan yang menjadi isterinya untuk dijadikan tumbal. Sebagai gantinya, ia akan mendapat sejumlah kekayaan yang melimpah.

Satu persatu, Ambi mulai membalaskan dendam pada orang-orang dan perempuan-perempuan yang dulu pernah mencampakkannya sewaktu jatuh miskin. Kekayaan yang dimilikinya pun semakin berlimpah ruah. Hingga tidak jarang harus bepergian ke luar kota dan menikah di sana dengan beberapa perempuan yang silau dengan hartanya yang yang begitu banyak.

Sementara Arini, tetap hidup sederhana di rumah mereka dahulu. Memenuhi kebutuhan sehari-hari masih dengan berdagang kecil-kecilan. Dia tidak perduli meski Ambi tidak pernah pulang ke rumah. Hanya bersyukur saja tidak dijadikan tumbal untuk menghasilkan pundi-pundi kekayaan bagi sang suami.

Biarlah seluruh hasil kekayaan bukan dari usaha itu dinimati suaminya saja sendiri bersama perempuan-perempuan lain yang menunggu giliiran untuk dijadikan tumbal. Selagi masih ada perempuan-perempuan tergiur dengan harta suaminya itu, maka semakin banyak pula bertambah kekayaan hasil pesugihan dari makhluk penghuni danau itu.

Arini lalu menatap sebuah rumah mewah di kejauhan. Itu milik Ambi, suaminya. Dia tidak tergiur dengan kekayaan dari hsail pesugihan dan yakin kalau dengan berusaha tanpa pesugihan pun suatu waktu kehidupnnya akan kembali seperti semula. Semoga saja suatu waktu, Ambi bisa sadar dan meninggalkan semua pesugihan itu sebelum terlambat.

Seiring senja yang mulai menghampiri, Arini menutup warung, menutup pintu, menuju kamar mandi. Kemuduian mengambil wudhu dan duduk di sebelah buah hatinya yang sedang lucu-lucunya. Menunggu bedug magrib, untuk menjalankan kewajiban yang selama ini telah dillaikan oleh suaminya. Arini hanya berharap tidak akan tergelincir seperti Ambi, suaminya.
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tumbal
25-03-2020 19:53
bagus critanya👍👍👍
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan uliyatis memberi reputasi
2 0
2
Tumbal
25-03-2020 20:53
Quote:Original Posted By fahrilorenzo
bagus critanya👍👍👍


Makasih udah mampiremoticon-Shakehand2
profile-picture
rifqipain memberi reputasi
1 0
1
Tumbal
06-04-2020 09:35

Tanda Kematian di Dinding

Tumbal

Sumber : pixabay.com

Mendung sudah semakin tebal menaungi desa Basang, saat beberapa warga berebut masuk ke rumah masing-masing. Hujan deras sudah mulai jatuh, membasahi tanah yang telah lama tandus. Sukma memandang penuh senyum kee arah kebun berisi sayuran, sekitar 100 meter dari tempatnya berdiri. Ya, sebidang tanah peninggalan orang tuanya yang kini membiayai hidupnya, semenjak suaminya menceraikannya beberapa tahun yang lalu.

Sukma berjalan menembus hujan menuju rumah, memakai tudung lebar yang biasa dipakai saat bekerja di kebun. Ia tidak memperdulikan tubuhnya yang mulai basah. Ingatannya hanya ingin tiba di rumah secepat mungkin. Andra, putra semata wayangnya, pasti sudah cemas menunggunya pulang. Sebentar lagi ashar, tidak biasanya Sukma masiih berada di lading sesore ini. Yah, sore seperti ini, biasanya Sukma sudah berada di rumah, bercengkerama dengan buah hati semta wayangnya.

“Tumben, baru pulang, Suk?” tanya mbok Sami, tetangga sebelah Sukma.

“Iya, Mbok. Hujan, jadi Agak telat pulangnya,” jawab Sukma sambil terus mempercepat langkah. Beruntung dia mendapat teman pulang dalam perjalanan. Akhir-akhir ini, sangat jarang orang mau pulang dari ladang sesore ini.

Semenjak ada beberapa kematian tidak wajar yang menimpa kampung mereka , membuat banyak orang pulang ke rumah lebih siang. Takut, tiba-tiba mendapat kecelakaan atau dibunuh seperti korban yang sudah-sudah.

“Mbok, kesorean juga pulangnya?” tanya Sukma memecah kesunyian. Wajah perempuan berusia sekitar empat puluh tahun itu terlihat begitu pucat. Entah apa yang membuat wajahnya memucat.

Dia mengangguk. Sepertinya ada yang ingin ia sampaikan, tapi ragu-ragu. Sukma bisa menangkapnya lewat gerak-gerik mbok Sami yang gelisah. Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, mbok Sami tidak tahan dan mulai menceritakan kejadian aneh yang dialaminya malam tadi.

“Suk, di dinding Mbok, malam tadi ada semacam goresan di dinding. Entah sejak kapan, coretan itu ada dinding. Mbok, jadi takut. Akhir-akhir ini kan beredar desas-desus, banyak kematian di sekitar tempat tinggal kita ini, diawali dengan coretan seperti itu.”

Sukma tercenung, mendengar penuturan mbok Sami. Wajar saja si mbok merasa gelisah. Memang, kematian orang-orang tersebut selalu diawali dengan coretan. Mungkin itu sebagai penanda, bahwa orang tersebut yang akan menjadi sasaran berikutnya.

“Maksud Mbok, coretan yang sama persis dengan yang da di rumah orang-orang yang lebih dulu meninggal itu?” penasaran Sukma terus bertanya memperjelas pernyataan perempun yang wajahnya semakin memucat.

Mbok Sami mengangguk perlahan, menjawab pertanyaan Sukma. Jarak menuju rumahnya tidak terlalu jauh lagi. Yah, rumah mbok Sami hanya berkelang beberapa rumah dari rumah Sukma. Sehingga, Sukma memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di rumah mbok Sami.

“Mbok, Sukma numpang berteduh sebentar, ya, sambil mau lihat coretan itu!” pinta Sukma. Bibirnya mulai bergetar menahan dingin. Tetesan hujan yang turun dari caping lebar yang dikenakannya tadi telah membasahi sebagian pakaian miliknya.

Mbok Sukma hanya mengangguk dan mempersilahkan Sukma masuk. Sebenarnya Sukma hanya ingin melihat tanda kematian berupa coretan yang banyak diperbincangkan orang-orang akhir-akhir ini.

“Ayo, Suk, masuk saja. Ndak orang di rumah, si Asep lagi ke kota. Ikut juragan Tohir, mengantar hasil bumi ke kota.”

Sukma mengangguk seraya mengikuti langkah mbok Sami. Setelah menyuruh duduk, Mbok Sami beranjak ke dalam, sepertinya akan mengambilkan segelas air putih hangat, untuk membuyarkan rasa dingin yang dari tadi menyerang.

Sementara menunggu mbok Sami, Sukma memperhatikan dinding ruag tamu. Memang di sana terlihat ada goresan seperti coretan. Apa itu coretan yang dimaksudkan mbok Sami tadi? Memang aneh saja, kenapa coretan itu bisa ada di sana. Benar-benar menjadi misteri.

“Ayo, minum, Suk! Ujar mbok Sami sambil menyodorkan segelas air putih hangat. Sukma segera menyambut dan menyeruputnya, kemudian bertanya setelah meminum hampir separuh air putih suam-suam kuku itu. “Mbok, apa itu coretan yang Mbok maksudkan tadi?”

Mbok Sami mengangguk. Wajahnya kembali memucat, tapi tidak sepucat tadi. Mungkin, perempuan itu sudah bisa mengendalikan perasaannya.

“Iya, Suk. Itu dia coretannya. Mbok sudah pasrah. Kalo memang itu ditujukan buat Mbok, ya, ndak apa-apa. Asal jangan asep saja. Dia masih muda.”

Sukma terdiam mendengar pernyataan mbok Sami barusan. Memang Mbok itu sangat menyayangi Asep. Mendengar perkataan mbok Sami tadi membuat Sukma teringat pada Andra. Segera dia pamit, dan bergegas meninggalkan rumah mbok Sami.

Dari ujung matanya, Sukma melihat sebuah senyum misterius di bibir perempuan bertubuh tinggi kurus itu. Mbok Sami juga janda, suaminya telah lama meninggal. Semoga saja tidak ada yang terjadi pada mbok Sami, bisikku dalam hati.

Andra sudah menunggu Sukma di teras. Hujan sudah mulai sedikit reda. Melihat putra satu-satunya duduk di teras, menunggu kepulangan sang ibu, Sukma menjadi terharu.

“Anak Ibu, kok nggak masuk?” tanya Sukma sesaat telah tiba di rumah.

“Andra, nungguin Ibu pulang. Kok, Ibu tadi mampir dulu ke rumah Mbah Sami?” Pertanyaan Andra membuat Sukma sedikit terkejut. Memang, rumah mbok Sami bisa terlihat dari rumah Sukma.

“Iya, Ibu, numpang berteduh sebentar di sana. Tadi baju Ibu basah, jadi berteduh sebentar di sana.”

Sukma menjelasakan dengan gampbang. Andra, anaknya sangat sensitive. Dia tampaknya bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa dirasakan orang lain.

“Hati-hati lho, Bu. Jangan terlalu dekat dengan Mbah Sami. Berbahaya!” Sukma terperanjat memndengar perkaataan bocah berusia 11 tahun itu. Dari mana dia tahu, kalau mbok Sami orang yang berbahaya. Ah, dasar bocah, kemampuan yang dimilikinya itu terkadang membuat Sukma takut.

“Udah, kita masuk saja. Ibu sudah kedinginan ini!” Sukma menyudahi obrolan di teras. Memotong prasangka Andra agar tidak menjurus fitnah. Namun, sesaat Sukma jadi teringat senyum misterius mbok Sami tadi. Apa arti senyuman itu? Apa benar perkataan Andra tadi? Ah, entahlah. Biarlah waktu saja yang menjawabnya. Yang penting sekarang, dia sudah pulang dan ingin segera menyalin pakaian basahnya dengan yang kering.

Sepanjang malam, Sukma tidak bisa tidur. Pikirannya masih mengarah pada coretan di dinding mbok Sami. Apa benar, akan ada peristiwa kematian di rumah mbok Sami? Siapa yang akan meninggal, si mbok atau Asep? Sukma menggulingkan badannya ke kiri dan ke kanan. Gelisah. Akhirnya, Sukma memutuskan untuk mengambil wudhu dan melaksanakan tahajud. Semoga saja setelah salat, dia bisa tidur dengan pulas.

Selagi Sukma sedang salat, sebuah bayangan tinggi besar tampak melintas di depan rumahnya. Sukma sama sekali tidak menyadari kehadiran makhluk tak kasat mata itu. Namun, Andra bisa merasakan kehadiran sosok yang tidak biasa itu.

Perlahan, dia bangun dan berjalan mendekati Sukma yang tengah berdoa. Dia memegang pundak sang ibu, berusaha melindunginya dari sesuatu yang tidak ia ketahui. Sukma hanya tersenyum memandang bocah yang tengah memandanginya.

“Kenapa bangun, Cah bagus?” tanyanya dengan perlahan.

“Nggak apa-apa, Bu. Andra hanya tersentak, lihat Ibu nggak ada di tempat tidur,” jawab Andra singkat. Sukma mengetahui tingkah laku Andra. Pasti ada sesuatu yang membuatnya terbangun. Apalagi langsung mendekati dan menyentuh pundaknya.

“Ya, sudah. Ayo, tidur lagi! Ibu juga sudah selesai salatnya.” Sukma kemudian melipat mukena dan sajadah, sebelum melangkah ke tempat tidur.

Sementara di luar bayangan hitam itu sudah menghilang, menuju rumah mbok Sami yang terkena tanda kematian itu. Sebenarnya, andra mengetahui kalau nyawa ibunya dalam bahaya. Makanya, ia bangun dan segera melindungi sang ibu dengan menyentuh ibunya, mengalirkan engergi yang dia sendiri tidak tahu sejak kapan memilikinya. Itu yang membuat bayangan hitam itu lenyap, mencari korban lain.

Pagi harinya, sebuah teriakan terdengar begitu menyanyat dari rumah mbok Sami. Sebuah lengkingan panjang, menyayat, sontak membuat Sukma dan Andra terbangun. Andra, menahan tubuh Sukma yang ingin menghambur keluar rumah.

“Bu, jangan keluar, berbahaya!” tegur Andra, putranya.

“Tapi, An, ada coretan di dinding Mbah Sami. Mungkin ada sesuatu yang menimpa si Mbah.” Sukma berusaha menjelaskan pada Andara. Namun, putranya tetap bersikeras agar ibunya tidak keluar rumah.

“Coba, Ibu, intip keluar, ada nggak penduduk lain yang berlarian ke tempat si Mbah?’ Pertanyaan Andra membuat Sukma tertegun. Ditemani Andra, ia mengintip ke luar, melalui jendela kaca yang teretak di ruang tamu. Sukma menjadi heran. Benar, apa yang dikatakan andra, tidak ada satu pun warga yang berlarian menuju rumah mbok Sumi.

Sambil menggeleng, Sukma kembali menuju kamar bersama Andra. Benaknya diliputi banyak pertanyaan. Kenapa hanya dia yang mendengar jeritan dari rumah mbok Sami.

“Sudah, ya, Bu. Besok-besok, Ibu nggak usah mampir ke tempat mbok Sami. Ibu, ingat pesan Andra, ya!”

Sukma kian tercenung mendengar ucapan Andra. Menambah rasa ingin tahunya semakin besar. Ada apa sebenarnya, kok Andra seperti mengetahui sesuatu. Penglihatan bocah berusia sebelas tahun itu, memang sering membingungkan Sukma.

Akhirnya dua beranak itu tidur kembali, hingga subuh. Biasanya, mereka sudah terbiasa bangun subuh, mengerjakan ibadah salat subuh sebelum mengerjakan hal yang lain.

‘Bu, nanti, Ibu jangan kesorean lagi ya, Bu, pulang dari ladang!” Sukma tersenyum mendengar peringatan Andra yang sepertinya sangat khawatir pada Sukma.

“Iya, An. Ibu akan pulang lebih siang hari ini. Nggak usah cemas begitu.” Sukma menjawab ucapan Andra sambil mengelus lembut kepalanya. “Ayo, sekarang mandi, sarapan baru siap-siap sekolah. Jangan lupa, sebelum mamndi, sapu dulu halaman depan!” Andra juga tersenyum mendengar ucapan panjang lebar ibunya.

Sementara Sukma sibuk di dapur mempersiapkan sarapan dan juga makan siang, Andra menuju pekarangan, hendak menyapu halaman yang biasanya dipenuhi dauan mangga yang sering gugur. Pohon yang tumbuh di pojokan rumah.

Ketika sedang asyik menyapu, Andra merasa seperti ada yang memperhatikan. Ya, sepasang mata milik mbah Sami. Namun, tapi Andra tidak menggubris, dan terus saja menyapu. Dalam hati, Andra mersa marah, karena mbah Sami menginginkan ibunya menjadi tumbal pesugihan yang dilakoninya.

Andra pun mempercepat menyapu halaman dan segera masuk ke rumah. Tatapan sepasang mata itu pun menghilang, tak lagi mengawasi rumahnya. Andra bernapas lega. Segera dia menuju kamar mandi, membersihkan diri sebelum berangkat ke sekolah.

“Bu, ingat pesan, Andra. Nggak usah bertandang ke rumah mbah Sami lagi!” Sukma mengangguk saja, tidak ingin membuat Andra khawatir. Pasti ada alasan tersendiri, mengapa Andra melarangnya.

Setelah Andra berangkat ke sekolah, Sukma pun bersiap ke ladang. Hari ini, dia bermaksud memanen kol yang akan dibeli juragan Tohir. Hanya juragan itu yang bersedia membeli dengan harga yang pantas.

Menjelang rumah mbok Sami, rasa penasaran tiba-tiba menghampiri Sukma. Entah, kenapa, dia jadi lupa dengan pesan Andra. Sukma pun mampir ke rumah perempuan tua itu, mencoba memerikasa apa ada yang sakit atau terluka. Sukma tidak menyadari, ada senyum misterius terkembang dari balik jendela.

Sukma pun mengetuk pintu mbok Sami. Dia benar-benar telah lupa dengan pesan Andra. Akal sehatnya seperti terbelenggu oleh satu kekuatan yang dia sendiri tidak mampu menolakknya.

“Ada apa, Suk?” Suara mbok Sami terdengar sesaat Sukma membuka pintu.

“Si Mbok nggak apa-apa?” Sukma bertanya penuh perhatian. Yah, Sukma memang seperti itu. Selalu menaruh perhatian pada tetangga sekitarnya.

“Ndak apa-apa, Suk. Ayo, mampir, Mbok, belum ke ladang hari ini.” Sukma masih berdiri di depan pintu. Sebenarnya ia ingin masuk, tapi entah mengapa ada bisikan yang melarangnya untuk masuk.

“Biarlah, Mbok. Sukma di sini. Syukurlah, kalo Mbok nggak apa-apa. sukma ke ladang dulu. Udah siang, takut juragan tohir dan anak buahnya sudah ada di ladang, Hari ini, Sukma panen kol, Mbok.”

Mbok Sami mengangguk mendengar penjelasn Sukma yang panjang. Dia pun menyuruh Sukma menunggu sebentar, karena ingin memberikan bontot, berupa nasi dengan lauk pauknya. Meski, Sukma menolak, tapi. Mok Sami terus saja memaksa. Akhirnya, karena merasa nggak enak, akhirnya Sukma mau juga menerima bekal yang dibungkus daun itu.

Sepanjang menuju ladang, perasaan Sukma tidak tenang. Dia merasa seperti ada yang mengikutinya. Setiap dia menoleh yang dilihatnya hanya jalan setapak, kosong tidak ada siapa-siapa. Ketakutan mulai melanda hatinya. Sukma merasa kalau ada yang ingin mencelakainya.

Beruntung saja dia sudah tiba di ladang, dan juragan tohir beserta anaka buahnya juga telah ada di sana. Menunggunya.

“yo, Suk, sudah siang ini. Saya harus membawa hasil bumi hari ini ke kota lebih cepat.” Sukma mengangguk dan mempersilahkan anak buah juragan Tohir untuk memetik semua kol yang siap panen. Ya, juragan Tohir telah memborong semua hasi panen kol nya hari ini, dan menyisakan sedikit saja untuk dibawanya pulang.

Sukma tersenyum riang. Bersyukur karena jerih payahnya dibayar tunai oleh juragan Tohir. Dia memegang berpuluh lembar berwarna merah di tangannya dengan senyum merekah. Itu cukup, untuk biaya hidupnya bersama Andra beberapa bulan ke depan.

Setelah panenan kol, juragan Tohir pun pulang dengan mengangkut semua hasil panen. Tinggallah Sukma sendiri. Ada memang beberapa orang yang berada di ladang, tapi jaraknya sedikit jauh dari ladang Sukma.

Entah mengapa, Sukma teringat pada bontot yang diberikan mbok Sami tadi, kemudian bergegas mengambil dan membuka isinya. Air liur Sukma menetes saat meliha isinya, ada opor ayam, sepotong dendeng daging dan sambal krecek. Tanpa menunda lebih lama lagi, dia segera menghabiskan bontot itu. Sementara sosok hitam berubuh hitam legam, mengawasinya sambil tersenyum. Iyah, dia dapat mangsa lagi hari ini.

Setelah menghabiskan bontot pemberian mbok Sami, tiba-tiba saja Sukma merasa sangat mengantuk. Dalam pandangannya, dia melihat seseorang bertubuh tinggi berkulit gelap menghampiri dan menggendongnya menuju satu areal pemujaan. Dia tidak tahu di mana itu. Satu yang membuat, dia terkejut, ada mbok Sami berdiri di sana bersama beberpa orang bertubuh tinggi dan berkulit gelap lainnya. Kenapa, mbok itu berada di sana?

Pandangan Sukma semakin melemah, seiring ritual yang dijalankan mbok Sami. Di selama ini tidak menyadari kalau ternyata mbok Sami lah biang dari semua keresahan selama ini. Iya, mbok Sami ternyata memiliki ilmu pesugihan, yang mengharuskan ia memberikan tumbal setiap tiga bulan seklai, dengan berpurra-puara memberikan coretan di dinding. Padahal tidak semua coretan itu merupakan tanda kematian. Itu hanya kamuflase saja.

Sukma tidak mampu lagi membuka mata, saat tubuhnya disantap dengan rakusnya oleh makhluk-makhluk itu. Bontot yang diberikan mbok Sami pagi tadi adalah pengantar dirinya menjadi sasaran tumbal berikutnya. Sebuah tetes air mata bergulir di pipinya, menyesal karena tidak mengindahkan pesan Andra, putranya. Nasi telah menjadi bubur, tidak ada lagi gunanya. Semoga saja Andra bisa tabah menghadapi cobaan ini dan merelakan kepergian Sukma. Dan tetap mempertahankan inera keenamnya agar suatu saat nanti, bisa menghentikan praktek pesugihan seperti yang dilakukan mbok Sami.
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tumbal
06-04-2020 09:40
Quote:Original Posted By uliyatis
Tanda Kematian di Dinding

Tumbal

Sumber : pixabay.com

Mendung sudah semakin tebal menaungi desa Basang, saat beberapa warga berebut masuk ke rumah masing-masing. Hujan deras sudah mulai jatuh, membasahi tanah yang telah lama tandus. Sukma memandang penuh senyum kee arah kebun berisi sayuran, sekitar 100 meter dari tempatnya berdiri. Ya, sebidang tanah peninggalan orang tuanya yang kini membiayai hidupnya, semenjak suaminya menceraikannya beberapa tahun yang lalu.

Sukma berjalan menembus hujan menuju rumah, memakai tudung lebar yang biasa dipakai saat bekerja di kebun. Ia tidak memperdulikan tubuhnya yang mulai basah. Ingatannya hanya ingin tiba di rumah secepat mungkin. Andra, putra semata wayangnya, pasti sudah cemas menunggunya pulang. Sebentar lagi ashar, tidak biasanya Sukma masiih berada di lading sesore ini. Yah, sore seperti ini, biasanya Sukma sudah berada di rumah, bercengkerama dengan buah hati semta wayangnya.

“Tumben, baru pulang, Suk?” tanya mbok Sami, tetangga sebelah Sukma.

“Iya, Mbok. Hujan, jadi Agak telat pulangnya,” jawab Sukma sambil terus mempercepat langkah. Beruntung dia mendapat teman pulang dalam perjalanan. Akhir-akhir ini, sangat jarang orang mau pulang dari ladang sesore ini.

Semenjak ada beberapa kematian tidak wajar yang menimpa kampung mereka , membuat banyak orang pulang ke rumah lebih siang. Takut, tiba-tiba mendapat kecelakaan atau dibunuh seperti korban yang sudah-sudah.

“Mbok, kesorean juga pulangnya?” tanya Sukma memecah kesunyian. Wajah perempuan berusia sekitar empat puluh tahun itu terlihat begitu pucat. Entah apa yang membuat wajahnya memucat.

Dia mengangguk. Sepertinya ada yang ingin ia sampaikan, tapi ragu-ragu. Sukma bisa menangkapnya lewat gerak-gerik mbok Sami yang gelisah. Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, mbok Sami tidak tahan dan mulai menceritakan kejadian aneh yang dialaminya malam tadi.

“Suk, di dinding Mbok, malam tadi ada semacam goresan di dinding. Entah sejak kapan, coretan itu ada dinding. Mbok, jadi takut. Akhir-akhir ini kan beredar desas-desus, banyak kematian di sekitar tempat tinggal kita ini, diawali dengan coretan seperti itu.”

Sukma tercenung, mendengar penuturan mbok Sami. Wajar saja si mbok merasa gelisah. Memang, kematian orang-orang tersebut selalu diawali dengan coretan. Mungkin itu sebagai penanda, bahwa orang tersebut yang akan menjadi sasaran berikutnya.

“Maksud Mbok, coretan yang sama persis dengan yang da di rumah orang-orang yang lebih dulu meninggal itu?” penasaran Sukma terus bertanya memperjelas pernyataan perempun yang wajahnya semakin memucat.

Mbok Sami mengangguk perlahan, menjawab pertanyaan Sukma. Jarak menuju rumahnya tidak terlalu jauh lagi. Yah, rumah mbok Sami hanya berkelang beberapa rumah dari rumah Sukma. Sehingga, Sukma memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di rumah mbok Sami.

“Mbok, Sukma numpang berteduh sebentar, ya, sambil mau lihat coretan itu!” pinta Sukma. Bibirnya mulai bergetar menahan dingin. Tetesan hujan yang turun dari caping lebar yang dikenakannya tadi telah membasahi sebagian pakaian miliknya.

Mbok Sukma hanya mengangguk dan mempersilahkan Sukma masuk. Sebenarnya Sukma hanya ingin melihat tanda kematian berupa coretan yang banyak diperbincangkan orang-orang akhir-akhir ini.

“Ayo, Suk, masuk saja. Ndak orang di rumah, si Asep lagi ke kota. Ikut juragan Tohir, mengantar hasil bumi ke kota.”

Aku mengangguk seraya mengikuti langkah mbok Sami. Setelah menyuruhku duduk, Mbok Sami beranjak ke dalam, sepertinya akan mengambilkan segelas air putih hangat, untuk membuyarkan rasa dingin yang dari tadi menyerang.

Sementara menunggu mbok Sami, aku memperhatikan dinding ruamg tamu. Memang di sana terlihat ada goresan seperti coretan. Apa itu coretan yang dimaksudkan mbok Sami tadi? Memang aneh saja, kenapa coretan itu bisa ada di sana. Benar-benar menjadi misteri.

“Ayo, minum, Suk! Ujar mbok Sami sambil menyodorkan segelas air putih hangat. Sukma segera menyambut dan menyeruputnya, kemudian bertanya setelah meminum hampir separuh air putih suam-suam kuku itu. “Mbok, apa itu coretan yang Mbok maksudkan tadi?”

Mbok Sami mengangguk. Wajahnya kembali memucat, tapi tidak sepucat tadi. Mungkin, perempuan itu sudah bisa mengendalikan perasaannya.

“Iya, Suk. Itu dia coretannya. Mbok sudah pasrah. Kalo memang itu ditujukan buat Mbok, ya, ndak apa-apa. Asal jangan asep saja. Dia masih muda.”

Aku terdiam mndengar pernyataan mbok Sami barusan. Memang Mbok itu sangat menyayangi Asep. Mendengar perkataan mbok Sami barusan membuat Sukma teringat pada Andra. Segera dia pamit, dan bergegas meninggalkan rumah mbok Sami.

Dari ujung matanya, Sukma melihat sebuah senyum misterius di bibir perempuan bertubuh tinggi kurus itu. Mbok Sami juga janda, suaminya telah lama meninggal. Semoga saja tidak ada yang terjadi pada mbok Sami, bisikku dalam hati.

Andra sudah menungguku di teras. Hujan sudah mulai sedikit reda. Melihat putra satu-satunya duduk di teras, menunggu kepulangan sang ibu, Sukma menjadi terharu.

“Anak Ibu, kok nggak masuk?” tanya Sukma sesaat telah tiba di rumah.

“Andra, nungguin Ibu pulang. Kok, Ibu tadi mampir dulu ke rumah Mbah Sami?” Pertanyaan Andra membuat Sukma sedikit terkejut. Memang, rumah mbok Sami bisa terlihat dari rumah Sukma.

“Iya, Ibu, numpang berteduh sebentar di sana. Tadi baju Ibu basah, jadi berteduh sebentar di sana.”

Sukma menjelasakan dengan gampbang. Andra, anaknya sangat sensitive. Dia tampaknya bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa dirasakan orang lain.

“Hati-hati lho, Bu. Jangan terlalu dekat dengan Mbah Sami. Berbahaya!” Sukma terperanjat memndengar perkaataan bocah berusia 11 tahun itu. Dari mana dia tahu, kalau mbok Sami orang yang berbahaya. Ah, dasar bocah, kemampuan yang dimilikinya itu terkadang membuat Sukma takut.

“Udah, kita masuk saja. Ibu sudah kedinginan ini!” Sukma menyudahi obrolan di teras. Memotong prasangka Andra agar tidak menjurus fitnah. Namun, sesaat Sukma jadi teringat senyum misterius mbok Sami tadi. Apa arti senyuman itu? Apa benar perkataan Andra tadi? Ah, entahlah. Biarlah waktu saja yang menjawabnya. Yang penting sekarang, dia sudah pulang dan ingin segera menyalin pakaian basahnya dengan yang kering.

Sepanjang malam, Sukma tidak bisa tidur. Pikirannya masih mengarah pada coretan di dinding mbok Sami. Apa benar, akan ada peristiwa kematian di rumah mbok Sami? Siapa yang akan meninggal, si mbok atau Asep? Sukma menggulingkan badannya ke kiri dan ke kanan. Gelisah. Akhirnya, Sukma memutuskan untuk mengambil wudhu dan melaksanakan tahajud. Semoga saja setelah salat, dia bisa tidur dengan pulas.

Selagi Sukma sedang salat, sebuah bayangan tinggi besar tampak melintas di depan rumahnya. Sukma sama sekali tidak menyadari kehadiran makhluk tak kasat mata itu. Namun, Andra bisa merasakan kehadiran sosok yang tidak biasa itu.

Perlahan, dia bangun dan berjalan mendekati Sukma yang tengah berdoa. Dia memegang pundak sang ibu, berusaha melindunginya dari sesuatu yang tidak ia ketahui. Sukma hanya tersenyum memandang bocah yang tengah memandanginya.

“Kenapa bangun, Cah bagus?” tanyanya dengan perlahan.

“Nggak apa-apa, Bu. Andra hanya tersentak, lihat Ibu nggak ada di tempat tidur,” jawab Andra singkat. Sukma mengetahui tingkah laku Andra. Pasti ada sesuatu yang membuatnya terbangun. Apalagi langsung mendekati dan menyentuh pundaknya.

“Ya, sudah. Ayo, tidur lagi! Ibu juga sudah selesai salatnya.” Sukma kemudian melipat mukena dan sajadah, sebelum melangkah ke tempat tidur.

Sementara di luar bayangan hitam itu sudah menghilang, menuju rumah mbok Sami yang terkena tanda kematian itu. Sebenarnya, andra mengetahui kalau nyawa ibunya dalam bahaya. Makanya, ia bangun dan segera melindungi sang ibu dengan menyentuh ibunya, mengalirkan engergi yang dia sendiri tidak tahu sejak kapan memilikinya. Itu yang membuat bayangan hitam itu lenyap, mencari korban lain.

Pagi harinya, sebuah teriakan terdengar begitu menyanyat dari rumah mbok Sami. Sebuah lengkingan panjang, menyayat, sontak membuat Sukma dan Andra terbangun. Andra, menahan tubuh Sukma yang ingin menghambur keluar rumah.

“Bu, jangan keluar, berbahaya!” tegur Andra, putranya.

“Tapi, An, ada coretan di dinding Mbah Sami. Mungkin ada sesuatu yang menimpa si Mbah.” Sukma berusaha menjelaskan pada Andara. Namun, putranya tetap bersikeras agar ibunya tidak keluar rumah.

“Coba, Ibu, intip keluar, ada nggak penduduk lain yang berlarian ke tempat si Mbah?’ Pertanyaan Andra membuat Sukma tertegun. Ditemani Andra, ia mengintip ke luar, melalui jendela kaca yang teretak di ruang tamu. Sukma menjadi heran. Benar, apa yang dikatakan andra, tidak ada satu pun warga yang berlarian menuju rumah mbok Sumi.

Sambil menggeleng, Sukm kembali menuju kamar bersama Andra. Benaknya diliputi banyak pertanyaan. Kenapa hanya dia yang mendengar jeritan dari rumah mbok Sami.

“Sudah, ya, Bu. Besok-besok, Ibu nggak usah mampir ke tempat mbok Sami. Ibu, ingat pesan Andra, ya!”

Sukma kian tercenung mendengar ucapan Andra. Menambah rasa ingin tahunya semakin besar. Ada apa sebenarnya, kok Andra seperti mengetahui sesuatu. Penglihatan bocah berusia 11 tahun itu, memang sering membingungkan Sukma.

Akhirnya dua beranak itu tidur kembali, hingga subuh. Biasanya, mereka sudah terbiasa bangun subuh, mengerjakan ibadah salat subuh sebelum mengerjakan hal yang lain.

‘Bu, nanti, Ibu jangan kesorean lagi ya, bu, pulang dari ladang!” Sukma tersenyum mendengar peringatan Andra yang sepertinya sangat khawatir pada Sukma.

“Iya, An. Ibu akan pulang lebih siang hari I ni. Nggak usah cemas begitu.” Sukma menjawab ucapan Andra sambil mengelus lembut kepalanya. “ayo, sekarang mandi, sarapan baru siap-siap sekolah. Jangan lupa, sebelum mamndi, sapu dulu halaman depan!” Andra juga tersenyum mendengar ucapan panjang lebar ibunya.

Sementara Sukma sibuk di dapur mempersiapkan sarapan dan juga makan siang, Andra menuju pekarangan, hendak menyapu halaman yang biasanya dipenuhi dauan mangga yang sering gugur. Pohon yang tumbuh di pojokan rumah.

Ketika sedang asyik menyapu, Andra merasa seperti ada yang memperhatikan. Ya, sepasang mata milik mbah Sami. Namun, tapi Andra tidak menggubris, dan terus saja menyapu. Dalam hati, Andra mersa marah, karena mbah Sami menginginkan ibunya menjadi tumbal pesugihan yang dilakoninya.

Andra pun mempercepat menyapu halaman dan segera masuk ke rumah. Tatapan sepasang mata itu pun menghilang, tak lagi mengawasi rumahnya. Andra bernapas lega. Segera dia menuju kamar mandi, membersihkan diri sebelum berangkat ke sekolah.

“Bu, ingat pesan, Andra. Nggak usah bertandang ke rumah mbah Sami lagi!” Sukma mengangguk saja, tidak ingin membuat Andra khawatir. Pasti ada alasan tersendiri, mengapa Andra melarangnya.

Setelah Andra berangkat ke sekolah, Sukma pun bersiap ke ladang. Hari ini, dia bermaksud memanen kol yang akan dibeli juragan Tohir. Hanya juragan itu yang bersedia membeli dengan harga yang pantas.

Menjelang rumah mbok Sami, rasa penasaran tiba-tiba menghampiri Sukma. Entah, kenapa, dia jadi lupa dengan pesan Andra. Sukma pun mampir ke rumah perempuan tua itu, mencoba memerikasa apa ada yang sakit atau terluka. Sukma tidak menyadari, ada senyum misterius terkembang dari balik jendela.

Sukma pun mengetuk pintu mbok Sami. Dia benar-benar telah lupa dengan pesan Andra. Akal sehatnya seperti terbelenggu oleh satu kekuatan yang dia sendiri tidak mampu menolakknya.

“Ada apa, Suk?” Suara mbok Sami terdengar sesaat Sukma membuka pintu.

“Si Mbok nggak apa-apa?” Sukma bertanya penuh perhatian. Yah, Sukma memang seperti itu. Selalu menaruh perhatian pada tetangga sekitarnya.

“Ndak apa-apa, Suk. Ayo, mampir, Mbok, belum ke ladang hari ini.” Sukma masih berdiri di depan pintu. Sebenarnya ia ingin masuk, tapi entah mengapa ada bisikan yang melarangnya untuk masuk.

“Biarlah, Mbok. Sukma di sini. Syukurlah, kalo Mbok nggak apa-apa. sukma ke ladang dulu. Udah siang, takut juragan tohir dan anak buahnya sudah ada di ladang, Hari ini, Sukma panen kol, Mbok.”

Mbok Sami mengangguk mendengar penjelasn Sukma yang panjang. Dia pun menyuruh Sukma menunggu sebentar, karena ingin memberikan bontot, berupa nasi dengan lauk pauknya. Meski, Sukma menolak, tapi. Mok Sami terus saja memaksa. Akhirnya, karena merasa nggak enak, akhirnya Sukma mau juga menerima bekal yang dibungkus daun itu.

Sepanjang menuju ladang, perasaan Sukma tidak tenang. Dia merasa seperti ada yang mengikutinya. Setiap dia menoleh yang dilihatnya hanya jalan setapak, kosong tidak ada siapa-siapa. Ketakutan mulai melanda hatinya. Sukma merasa kalau ada yang ingin mencelakainya.

Beruntung saja dia sudah tiba di ladang, dan juragan tohir beserta anaka buahnya juga telah ada di sana. Menunggunya.

“yo, Suk, sudah siang ini. Saya harus membawa hasil bumi hari ini ke kota lebih cepat.” Sukma mengangguk dan mempersilahkan anak buah juragan Tohir untuk memetik semua kol yang siap panen. Ya, juragan Tohir telah memborong semua hasi panen kol nya hari ini, dan menyisakan sedikit saja untuk dibawanya pulang.

Sukma tersenyum riang. Bersyukur karena jerih payahnya dibayar tunai oleh juragan Tohir. Dia memegang berpuluh lembar berwarna merah di tangannya dengan senyum merekah. Itu cukup, untuk biaya hidupnya bersama Andra beberapa bulan ke depan.

Setelah panenan kol, juragan Tohir pun pulang dengan mengangkut semua hasil panen. Tinggallah Sukma sendiri. Ada memang beberapa orang yang berada di ladang, tapi jaraknya sedikit jauh dari ladang Sukma.

Entah mengapa, Sukma teringat pada bontot yang diberikan mbok Sami tadi, kemudian bergegas mengambil dan membuka isinya. Air liur Sukma menetes saat meliha isinya, ada opor ayam, sepotong dendeng daging dan sambal krecek. Tanpa menunda lebih lama lagi, dia segera menghabiskan bontot itu. Sementara sosok hitam berubuh hitam legam, mengawasinya sambil tersenyum. Iyah, dia dapat mangsa lagi hari ini.

Setelah menghabiskan bontot pemberian mbok Sami, tiba-tiba saja sukma merasa sangat mengantuk. Dalam pandangannya, dia melihat seseorang bertubuh tinggi berkulit gelap menghampiri dan menggendongnya menuju satu areal pemujaan. Dia tidak tahu di mana itu. Satu yang membuat, dia terkejut, ada mbok Sami berdiri di sana bersama beberpa orang bertubuh tinggi dan berkulit gelap lainnya. Kenapa, mbok itu berada di sana?

Pandangan Sukma semakin melemah, seiring ritual yang dijalankan mbok Sami. Di selama ini tidak menyadari kalau ternyata mbok Sami lah biang dari semua keresahan selama ini. Iya, mbok Sami ternyata memiliki ilmu pesugihan, yang mengharuskan ia memberikan tumbal setiap tiga bulan seklai, dengan berpurra-puara memberikan coretan di dinding. Padahal tidak semua coretan itu merupakan tanda kematian. Itu hanya kamuflase saja.

Sukma tidak mampu lagi membuka mata, saat tubuhnya disantap dengan rakusnya oleh makhluk-makhluk itu. Bontot yang diberikan mbok Sami pagi tadi adalah pengantar dirinya menjadi sasaran tumbal berikutnya. Sebuah tetes air mata bergulir di pipinya, menyesal karena tidak mengindahkan pesan Andra, putranya. Nasi telah menjadi bubur, tidak ada lagi gunanya. Semoga saja Andra bisa tabah menghadapi cobaan ini dan merelakan kepergian Sukma. Dan tetap mempertahankan inera keenamnya agar suatu saat nanti, bisa menghentikan praktek pesugihan seperti yang dilakukan mbok Sami.


Udah update yuk...
profile-picture
rifqipain memberi reputasi
1 0
1
Tumbal
15-04-2020 03:18
Kesel sama ibunya, kok ga nurut
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan uliyatis memberi reputasi
2 0
2
Lihat 6 balasan
Memuat data ..
Tumbal
15-04-2020 11:14
ijin baca ya gan
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan uliyatis memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Tumbal
26-04-2020 23:19

Tanda Kematian di Dinding POV Andra

Tumbal

Foto :pinterest


Andra memandang resah ke arah jam bundar di dinding. Sudah hampir pukul empat petang, tapi ibunya belum pulang juga. Padahal tadi ia sudah berpesan agar tidak pulang terlalu sore. Tidak tahan menahan gelisah, akhirnya Andra keluar rumah menuju rumah paman Andra yang letaknya sekitar tiga ratus meter dari rumah mereka.

Paman Andra, bernama Sanusi, adalah satu-satunya saudara yang dimiliki Sukma. Melihat keponakannya yang terges-gesa menemuinya, Sanusi keheranan.

“Ada apa, Andra? Kenapa buru-buru? Ibumu nggak sakit kan?”

Andra terdiam sebentar, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Maklum, dia setengah berlari menuju rumah pamannya.

“Ibu …, Paman. Ibu, belum pulang dari tadi. Padahal hari ini, cuma panen kol saja, seharusnya udah pulang dari tadi.”

Wajah Sanusi seketika memucat. Memang betul ucapan Andra tadi. Proses pemanenan kol yang dilakukan juragan Tohir bersama anak buahnya, tidak akan sampai sore hari. Tengah hari, menjelang salat lohor, biasanya sudah selesai.

“Kita cari saja ibumu ke ladang, Ndra. Siapa tahu, ibumu tidak langsung pulang, malah langsung membersihkan ladang.”

Andra menangkap perasaan cemas di wajah pamannya. Dia juga merasakan hal yang sama. Detak jantung Andra berbunyi sangat keras, wajahnya juga kian pias. Tanpa menunggu pamannya yang hendak pamit , Andra sudah berlari terlebih dahulu menuju ladang.

Perasaan Andra benar-benar tidak enak. Wajah Sukma terbayang terus dalam benaknya. Juga makhluk bertubuh tinggi hitam itu yang tiba-tiba saja membayang, tersenyum mengejek, puas, penuh kemenangan. Peristiwa saat di mana saat sang ibu mengalami peristiwa tragis itu terus membayang. Entah kenapa, selalu ingatan itu-itu saja yang mampir dan mengisi otaknya.

Sampai di ladang, Andra mencoba mencari dan memanggil Sukma. “Ibu …. Ibu ….” Meski sudah berkali-kali memanggil, tapi sosok ibunya tak juga muncul. Sanusi, paman Andra pun terlihat semakin cemas. Seperti ada yang menggerakkan, Andra menuju sebuah tempat yang letaknya agak tersembunyi, masih di areal ladang milik ibunya.

Perasaan cemas semakin menyelimuti Andra, apalagi tepat tersembunyi itu, ditutupi semak belukar yang masih rapat. Ada sebuah batu besar yang selama ini tidak diketahui oleh Andra selama ini. Dan, yang membuat Andra tercekat, di balik batu besar itu, ada mayat, dengan tubuh tercabik-cabik, seperti diserang binatang buas.

Tiba-tiba Andra menjerit keras, setelah mengenali mayat itu. Ya, itu adalah mayat Sukma, hanya saja tubuhnya tidak utuh lagi. Andra bisa mengenali dari sobekan pakaian yang dikenakan ibunya. Tangis bocah itu bertambah keras, menyesali kejadian ini. Kalau saja, ibunya mau menuruti permintaan Andra, kejadian ini, bisa dielakkan. Namun, itulah namanya takdir. Tak seorang pun bisa menolaknya.

Andra sangat terpukul menerima kematian ibunya. Air mata terus menetes, membasahi kedua pipinya. Ternyata pesan yang yang berulang kali disampaikan tidak digubris sang ibu. Itu mungkin juga disebabkan kekuatan magis dari ilmu pesugihan yang diamalkan mbah Sami, membuat Sukma, ibunya tidak mampu menampik keinginan untuk memakan habis bekal yang diberikan si Mbah tadi. Andra mengetahuinya dari indera keenam miliknya.

Pusara Sukma masih penuh dengan taburan bunga. Dari malam tadi, Andra tidak berhenti menangis, dan akan bertekat menguak misteri kematian ibunya. Atas inisiatif pamannya, Andra lalu dipindahkan ke sebuah kampung, di mana terdapat sebuah padepokan di sana. Kebetulan yang memiliki padepokan itu adalah masih kerabat jauh mereka.

Awalnya, Andra menolak, karena belum bisa menerima kematian ibunya. Apalagi saat melihat sorot mat Mbah Sami, amarahnya berkobar. Dia langsung murka, karena mbah Sami telah mengorbankan ibunya sebagai tumbal.

“Ndra, rumahi dan ladangmu untuk sementara waktu biar dikontrakkan dulu pada orang lain. Kamu tinggal bersama Akik Jaelani dulu!” Andra hanya menunduk mendengar ucapan pamannya. Tidak rela harus meninggalkan kampung halaman dan pusara ibunya. Namun, jika ia tinggal di padepokan, paling tidak bisa belajar dan mengasah indera keenamnya. Sehingga suatu hari bisa membuka kedok mbsh Sumi.

Air mata meleleh di sudut netra Andra saat meninggalkan rumah di mana ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh ibunya. Tidak mengapa, dia pergi saat ini, dan pasti akan kembali pada saat yang tepat.

Selama tinggal dan belajar di padepokan, Andra diajari banyak hal oleh Akiknya. Indera keenam yang dimilikinya juga semakin peka, bisa mendeteksi jehadiran makhluk-mahluk astral yang berasal dari dimensi lain. Tidak jarang, Andra harus berpuasa. Membersihkan hati dan pikiran.

Banyak bacaan surat dari Al-Quran yang harus dihapalkan beserta doa-doa yang bisa digunakan ketika berhadapan dengan makhluk-makhluk gaib yang mencoba mengganggu. Bahkan pernah, Andra dibawa ke satu tempat yang penuh makhluk halusnya seperti jin, dedemit, kuntilanak dan makhluk gaib sejenisnya. Meski awalnya andra takut, tapi, karena dorongan semangat dari akik Jaelani, akhirnya dia bisa juga menguasai dan mengusir makhluk tak kasat mata itu.

Tidak terasa waktu terus berlalu, Andra sudah hampir 7 tahun tinggal bersama akik Jaelani di padepokan. Sepertinya sudah saatnya Andra harus kembali. Lagi pula, ladang dan rumah yang ditinggalkan andra dulu, tak ada lagi yang menyewa. Teror tanda kematian di dinding itu sepertinya sudah membuat orang-orang trauma untuk berusaha di desanya.

Setelah berpamitan dengan akik Jaelani, Andra menuju mobil travel yang akan membawanya pulang. Dalam mobil, penumpang cukup banyak, dan Andra memilih untuk duduk di samping, dekat jendela. Tidak banyak percakapan yang ia lakukan, termasuk pada penumpang di sebelahnya.

Ingatan tentang ibunya terus bergulir, membuat beragam kenangan mulai bermunculan. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih setengah hari itu, awalnya berjalan lancar. Namun, setelah setengah perjalanan, entah kenapa mobil yang ditumpangi Andra, mendadak mogok.

Supir mobil, terus berusaha menghidupkan mesin mobil. Setelah berusaha beberapa lama, tapi mesin mobil belum juga menyala, akhirnya pak supir meminta maaf atas kejadian yang kurang nyaman ini.

“Maaf, Bapak, Ibu, Adik, perjalanan terpaksa terunda sebentar. Entah kenapa, kok mesin mobil tiba-tiba mati. Padahal tadi baru diservis, sebelum berangkat.”

Andra memejamkan mata, menajamkan indera keenamnya. Ternyata benar dugaannya, beberapa makluk bertubuh tinggi, berkulit gelap ampak berdiri di depan mobil, menahan agar mobil tidak berjalan. Juga sesosok anak kecil tampak memainkan mesin mobil, sehingga ketika distater tidak bisa hidup.

Hm, kenapa mereka menghalangi mobil ini, apa memang ada yang menyuruh mereka? Bathin Andra. Bocah itu telah berubah menjadi seorang pemuda gagah dan memiliki ilmu yang lumayan tinggi. Setelah mengetahui siapa yang mengganggu, Andra lalu mencoba berkomunikasi dan mencoba mengusir mereka.

“Hm, anak kemarin sore, jangan coba-coba mengusir kami!” ujar salah satu sosok bertubuh tinggi besar itu.

Merasa direndahkan, Andra langsung membaca beberapa amalan yang terdiri dari doa dan surah yang diambil dari Al-Quran. Makhluk-makhluk astral itu melompat, kaget, bahkan ada yang kabur, mendapat perlawanan dari Andra. Tinggal sesosok yang masih berdiri, di depan mobil, menantang Andra dengan sorot matanya yang begitu tajam dan berwarna kemerahan. Desis kemarahan terdengar jelas di bibirnya. Sepertinya dia pemimpin sekelompok makhluk astral tadi.

“Sudahlah! Pergi saja. Katakan pada tuanmu, sudah tiba saatnya mengakhiri semua pesugihan yang selama ini dikerjakan!” Andra tetap teguh dan mengusir makhluk tadi sembari menitipkan pesan.

Benar saja, makluk bertubuh tinggi besar itu pun akhirnya tidak sanggup menerima pukulan dari Andra. Berlari, menghindar dari serangan selanjutnya dari pada hancur menjadi abu. Sambil mengucap syukur, Andra berkata pada supir, agar mencoba menghidupkan mesin. Dan, memang setelah kepergian makhluk-makhluk gaib tersebit, mesin mobil, mulai menyala kembali. Supir dan penumpang lain, berteriak kegirangan, mengucapkan syukur karena bisa melanjutkan perjalanan lagi.

Di sepanjang sisa perjalanan. Andra meningkatkan kewaspadaannya. Sudah pasti akan lebih banyak lagi makhluk-makhluk astral yang akan dikerahkan untuk menghadang jalannya. Ya, tujuan kepulangan Andra kali ini selain mengurus rumah dan ladang peninggalan ibunya, dia juga akan menghentikan praktek pesugihan yang terus dilakukan mbah Sami.

Semilir angin membuat Andra mengantuk dan tertidur. Dalam tidur, Andra bermimpi dibawa ke satu tempat yang dia tidak tahu. Di sana berkumpul banyak sekali makhluk-makhluk yang tidak dikenalnya. Rata-rata mereka memiiliki tubuh yang tidak utuh lagi. Dari sekian banyak makhluk itu, Andra melihat satu sosok menyerupai ibunya. Dia bisa mengetahui dari pakaian yang masih melekat di beberapa anggota tubuh ibunya yang masih tersisa.

Wajahnya begitu memilukan dan rusak di hampir seluruh bagian. Walau menahan rasa miris dan ngeri, Andra tetap mendekati ibunya. Bulir-bulir air mata, tampak jatuh di salah satu netra Sukma. Bibirnya bergerak, meminta tolong agar dibebaskan dari penderitaan ini. Andra menangis, tatkala melihat kaki ibunya dan yang lain dirantai dengan besi.

Sebuah ucapan, seperti meminta tolong, keluar dari bibir Sukma. Dia tampak tersiksa di sana, menjadi budak makhluk-makhluk pemilik pesugihan mbah Sami. Ketika akan meraih tubuh ibunya, tiba-tiba Andra terbangun. Keringat membanjiri dahi dan tubuhnya. Ada apa ini? tanya Andra dalam hati. Pertanyaan itu masih terus mengisi benaknya sampai Andra tiba di rumah pamannya.

“Andrakan ?” seru Sanusi, paman Andra saat melihat bocah yang dulu masih lugu itu kini telah menjadi pemuda tampan.

“Iya, Paman….” Andra turut menangis saat dipeluk oleh pamannya.

“Alhamdlillah, kamu sudah besar, sekarang. Khabar Akik gimana, Ndra?”

“Alhamdulillah, Paman. Beliau sehat dan bugar. Beliau menyampaikan salam untuk Paman.” Laki-laki itu pun enangguk, mendengar ucapan Andra. Setelah itu, mereka segera terlibat pembicaraan serius, termasuk, pengelolaan rumah dan ladang yang akan dikembalikan pada Andra lagi.

Tidak terasa hari telah sore, Andra pamit dan ditemani sang paman menuju rumahnya. Rasa rindu itu sudah semakin memuncak, ingin melihat tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.

“Nah, beginilah rumahmu sekarang, Ndra. Beruntung orang yang mengontraknya cukup telaten, jadi keadaannya tetap terpelihara. Barang-barang kalian pun masih ada, hanya saja dikumplkan di kamar belakang.”

Andra hanya tersenyum saja mendengar penjelasan demi penjelasan. Memang benar, keadaan rumah masih seperti dulu. Bergegas, mereka menuju kamar belakang, membereskan beberapa barang dan meletakkan semuanya kembali ke tempat semula.

Air mata tidak terasa menetes di pipi Andra saat menatap foto dirinya bersama Sukma. Namun, yang membuat dia tercekat adalah, dari foto Sukma terlihat air mata berupa darah. Andra segera memejamkan mata, membaca doa, meminta agar arwah ibunya tenang.

“Sekarang, Paman pulang dulu. Besok pagi, kita ziarah dulu ke makam ibumu baru ke ladang. Kebetulan ladang sudah dicangkul. Tinggal ditanami sja.”

“Iya, Paman. Terima kasih.” Pembnicaraan mereka pun terputus. Andra menatap kepergian pamannya dengan pandangan penuh terima kasih. Menurut cerita pamannya, teror coretab itu masih terus terjadi. Bahkan korbannya pun bertambah banyak. Hal itu lah yang membuat tekat Andra semakin bulat untuk menghentikannya.

Setelah salat magrib dan isya, Andra mencoba memejamkan mata. Perjalanan tadi cukup melelahkah. Antara sadar dan tidur, tiba-tiba dia melihat beberapa bayangan hitam seperti mengintai dari luar. Bahkan sosok terbesar telah berdiri di depan kamar. Andra seperti tercekik, terkena pengaruh makhluk itu.

Namun, Andra berusaha tidak panik. Segera dia membaca amalan yang telah dipelajari di padepokan. Makhluk itu, segera mundur beberapa langkah, melepaskan cekikannya. Ada erangan kemarahan terdengar dari bibirnya. Andra terus berkonsentrasi, menahan serangan makhluk itu.

“Kalian siapa? Kenapa mengganggu manusia?” Andra mencoba membuka komunikasi.

“Kami adalah makhluk sekutu si Sami itu. Tidak usah ikut cmpur dengan urusan kami!” Dengan suara berat sosok itu menjawab pertanyaan Andra. Setelah mengucapkan kalimat itu, kembali sosok itu mencoba mencekik Andra. Andra pun kembali memberi perlawanan. Kali ini, dia tidak boleh lengah, karena makhluk-makhluk ini sangat berbahaya.

Akhirnya, Andra bisa bernapas lega. Setelah berjuang beberapa saat, dia bisa juga lepas dari pukulan makhluk itu. Dan smpai pagi hari, Andra tetap waspada, kalau-kalau makhluk itu kembali.

“Bagaimana, Nda, nyaman istirahatmmu?” Sebenarnya Andra ingin bercerita tentang kejadian stadi malam, tapi, karena takut membuat pamannya khawatir, dia pun memutuskan untuk dia saja. Mereka terus mengobrol hingga lewat rumah mbah Sami, yang sekarang bangunannya sudah berubah drastis. Megah dan mewah. Sambil lewat, Andra melihat wajah mbah Sami mengintip dari balik jendela. Sosok yang menyerangnya malam tadi pun terlihat di sana.

Andra lalu meningkatkan kewaspadaan, sepertinya ada makhluk lain yang akan menjadikan mereka korban berikutnya. Apalagi keinginan Andra untuk melenyapkan pesugihan itu, sudah bisa dirasakan makhluk tersebut.

Sebelum menuju ladang, mereka menuju makam ibu Andra trlebih dahulu. Setelah ,mencari ke mana-mana, tapi Andra tidak menemukan kuburan ibunya. Dengn heran Andra bertanya. "Paman. makam ibu di mana? Dari tadi Andra cari tapi tidak ketemu.
a
“Masa. Ndra. Itu, di depanmu itu, pusara ibumu!” Andra memandang rah telunjuk Sanusi, pamannya. Hm, berarti, selama ini, penglihatan paman sudah dikelabuhi, karena yang berada di hadapannya, bukan makam, tapi semak-semak lebat.

Tidak mau berdebat, Andra segera meninggalkan tempat ini, menuju kebun yang selama ini dikelola orang lain. Sepertinya ada yang menginginkan mereka menjadi korban berikutnya. Dari insting yang selama ini mengganggunya, Andra mendatangi lokasi tempat di mana mayat ibunya dulu ditemukan. Sementara, tiba-tiba saja sang paman seperti orang linglung, berputar-putar saja di sekitar kebun.

Melihat hal itu, Andra segera menghampiri pamannya, memegang tangan dan meniupkan doa ke ubun-ubunnya. Sang paman segera terjatuh, lemas. Andra segera membopong tubuh pamnanya ke pondok yang biasa dipergunakan untuk beristirahat. Setelah membaringkan sang paman, Andra seperti membuat pagar gaib di sekitar pondok. Kemampuan yang dipelajarinya selama di padepokan.

Setelah itu, Andra terus berjalan ke tempat, di mana ia menemukan tubuh ibunya dulu. Benar dugaannya, di balik batu besar itu, terdapat jalan yang hanya bisa dilihat secara gaib. Seperti tangga yang menuju suatu tempat.

Andra mempersiapkan diri dan menuruni tangga yang julahnya lumayan banyak. Udara di sekitar sangat pengap. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya andta tiba di sebuah ruangan, dengan sebuah batau besar, menyerupai altar di tengahnya. Ternyata, ini tempat pemujaan. Pantas saja tidak ada yang tahu, karena tak kasat mata.

“Selamat datang, anak muda. Tak seharusnya kau mencampuri urusan kami!” Tiba-tiba saja rungan itu dipenuhi banyak makhluk bertubuh tinggi dan berwarna gelap. Di sela gigi mereka terdapat taring tajam. Mungkin, mereka inilah yang telah menewskan ibunya kemarin.

“Seharusnya, kalian yang harus pergi dari sini. Sudah cukup tumbal yang telah kalian ambil!” Andra bukannya takut, malah membalas.

Terdengar suara gemuruh seperti teriakan, ejekan dan tawa menyambut ucapan Andra. Tidak ada yang percaya kalau Andra memiliki kemampuan untuk menghancurkan kekuatan milik mereka.

“Hm, berani juga, kau! Tapi, sekarang, sudah terlambat. Nayawamu adalah tumbal berikutnya yang dipersembahkan si Sami itu.”

Andra tidak menanggapi lagi ucapan makhluk itu, dan segera menyiapkan serangan. Coretan itu tidak lagi sebgai alasan untuk mendapatkan tumbal. Karena sekarang makhlluk-makhluk itu bisa dengan bebas mengambil tumbal sesuai perjanjian.

Sebuah serangan tiba-tiba menusuk dadanya, entah dari mana datangnya. Dengan menahan geram, Andra lalu membalas serangan itu. Lalu terjadilah pertempuran yang tidak seimbang dalam hal jumlah. Mungkin, karena didikan di padepokan, Andra bisa meladeni serangan mereka, bahkan bisa melumpuhkannya satu persatu.

Andra tinggal menghadapi pemimpin makhluk itu saja. Terjadi pertarungan cukup alot, dan berkali-kali Andra terpaksa harus mundur menerima pukulannya. Namun, berkat didikan dan gemblengan selama di padepokan, akhirnya Andra mampu mengalahkan pemimpinnya juga. Terdengar gerutuan, sumpah serapah yang mereka tujukan pada mbah Sami. Dan menuding kalau si mbah harus bertanggung - untuk semua ini.

Andra pun bisa bernapas lega. Roh-roh yang terbelenggu oleh makhluk-makhluk itu, satu persatu mulai terlepas, termasuk ibunya yang tidak akan tersiksa lagi. Bersama sang paman, Andra pulang kembali ke rumah. Ketika melewati rumah mbah Sami, terjadi kehebohan luar biasa. Rumah mewah itu sekarang rata dengan tanah, terbakar, dan jasad mbah sami juga ikut terbakar.

Ternyata memang luar biasa pengaruh pesugihan itu. Bisa membuat seseorang menjadi kaya raya secara cepat, tapi bisa juga melenyapkannya dalam sekejab. Termasuk orang yang mengamalkannya. Semoga saja sekarang tidak ada lagi korban-korban pesugihan yang berjatuhan, dijadikan tumbal.
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
banditos69 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Tumbal
12-05-2020 19:35
Serem nanti baca lagi deh. Hehe
profile-picture
uliyatis memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Tumbal
12-05-2020 20:49
lanjutttt bosssss
profile-picture
uliyatis memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Halaman 13 dari 14
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
mau-gak-jadi-istriku
Stories from the Heart
olivia
Stories from the Heart
kamu-hujan-yang-kunantikan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
horor-story-daun-singkong
Stories from the Heart
true-story-yellow-raincoat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia