Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
52
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e15ae8a68cc952de7104470/khurafat-kontrak-dengan-setan
Helloo agan dan aganwati! selamat datang di trit ane. Kali ini, ane akan membagikan tulisan pertama ane yang bergenre HOROR INDEX PROLOG CHAPTER 1 - Yang Tak Tampak CHAPTER 2 - Sosok Misterius CHAPTER 3 - Kenan CHAPTER 4 - tanda Pengenalan dari Dunia Lain CHAPTER 5 - kematian Misterius CHAPTER 6 - Makhluk Tak Diundang CHAPTER 7 - Firasat Buruk PROLOG Suara derap langkah kaki terdengar dari kejauha
Lapor Hansip
08-01-2020 17:27

KHURAFAT (Kontrak dengan Setan)

KHURAFAT (kontrak dengan Setan)





Helloo agan dan aganwati! selamat datang di trit ane. Kali ini, ane akan membagikan tulisan pertama ane yang bergenre HOROR









INDEX

Quote:PROLOG
CHAPTER 1 - Yang Tak Tampak
CHAPTER 2 - Sosok Misterius
CHAPTER 3 - Kenan
CHAPTER 4 - tanda Pengenalan dari Dunia Lain
CHAPTER 5 - kematian Misterius
CHAPTER 6 - Makhluk Tak Diundang
CHAPTER 7 - Firasat Buruk






PROLOG


Suara derap langkah kaki terdengar dari kejauhan. Di rumah, malam itu begitu gelap. Kirei masih meraba-raba mencari lilin, biasan cahaya rembulan yang menembus celah-celah jendela cukup membantu Kirei untuk menemukan kotak penyimpanan barang-barang apabila diperlukan dalam keadaan darurat.

Kirei hanya menemukan satu buah lilin yang kemudian diletakkannya di atas meja untuk menerangi gelapnya malam. Rangga belum pulang kalau jam segini, biasanya kalau perusahaan sibuk-sibuk Rangga tidak sempat untuk pulang. Dia biasanya menginap di hotel, karena jarak rumah dan tempatnya bekerja lumayan membutuhkan waktu yang lama. Mbok Kinasih-lah yang selalu menemani Kirei, sang majikan jika suaminya tidak ada di rumah.

Suara derap langkah kaki itu sekarang semangkin jelas terdengar oleh Kirei, tanpa ada suara yang mengetuk pintu. Tiba-tiba gagang pintu itu pun berputar, Kirei benar-benar merasa ketakutan. Degup jantungnya semangkin tak karuan. Kirei tidak bisa melihat bayangan wajah itu dengan jelas. Akhirnya ia memutar balik badannya untuk mengambil lilin yang berada di dekat Kirei, untuk melihat siapa orang yang berdiri di sana. Saat cahaya lilin di arahkan ke depan pintu, tidak ada orang. 'Siapa tadi?' pikir Kirei. Sambil perpikir Kirei kembali menuju tempat tidurnya.

Baru selangkah Kirei berjalan, "Non, makanan di bawah sudah siap!" ucap Mbok Kinasih.

Suara mbok Kinasih yang tiba-tiba muncul seketika membuat Kirei melonjak kaget, "Astagfirullah mbok, bikin kaget aja. Lain kali ketuk pintu dulu kenapa?"

"Maaf Non, tadi saya lihat pintu Non Kirei sudah terbuka jadi saya langsung masuk saja Non"

"Ya sudah Mbok. Sebentar lagi saya turun"

"Baik non. Mbok turun dulu"

Mbok Kinasih kemudian menutup kembali pintu kamar Kirei yang sebelumnya terbuka. Sebelum menikmati santap malam buatan mbok Kinasih, Kirei terlebih dulu mengganti baju dengan baju piyama.

Kreekk..

Kirei mulai memutar gagang pintu untuk turun ke lantai bawah. Namun, saat itu juga tiba-tiba ada sosok laki-laki berdiri tepat di depannya. Ia sungguh menakutkan, sinar wajahnya sama sekali tidak tampak. Rambutnya juga panjang, disisi pipinya dipenuhi janggut yang panjang.

"Siapa kamu?" tanya Kirei panik.

"Mau apa kamu?" tanya Kirei kembali.

Sosok itu semangkin mendekat ke arah Kirei. "Stop! Jangan mendekat!" teriak Kirei.

Wajah Kirei terlihat semangkin panik, ketakutan, tubuhnyapun seperti sulit digerakkan, kaku. Ia mengamati sosok di depannya tanpa berkedip.

"Mana suamimu? Sesungguhnya dia telah melanggar perjanjian denganku. Sampai saat ini dia belum memenuhi apa yang menjadi hakku. Kalau sampai dia belum juga datang kepadaku, maka lihatlah aku sendiri yang akan bertindak. Sampaikan pesan ini padanya"

"Tidak! Suamiku tidak melakukan apa-apa! Kau pasti salah orang!" teriak Kirei. "Sekarang cepat pergi dari hadapanku sekarang!" pinta Kirai dengan keras, disisa-sisa kekuatan dan keberaniannya.

Tiba-tiba sosok di depan Kirei menarik tangannya keras-keras.

"Lepas! Lepaskan aku!" ucap Kirei.

"Tolong!...tolong!" teriak Kirei. Itu adalah suara terakhir Kirei yang menggema di ruangan itu. Tubuhnya sekarang ambruk.

"Non...Non...bangun" suara itu begitu jelas ditelinga Kirei.

Kirei akhirnya terbangun dengan peluh di seluruh tubuhnya. "Syukurlah, ini cuman mimpi, terima kasih mbok sudah membangunkan saya"

"Iya Non. Non mengigau ya?"

"Tadi saya mimpi buruk sekali Mbok."

Pandangan Kirei langsung tertuju pada jam beker yang berada di nakas samping kanan Kirei. "Sudah jam 3 pagi" ucap Kirei lirih.

"Mbok, apa Rangga sudah pulang?"

"Oh Den Rangga belum pulang dari semalam Non"

"Oh begitu ya Mbok"

"Non, sebaiknya cuci muka kemudian sholat tahajud, supaya terhindar dari pengaruh yang buruk-buruk Non"

"Iya mbok, terima kasih. Kalau begitu Mbok silahkan turun saya mau ke kamar mandi dulu"

Sebelum bangkit dari tempat tidurnya, Kirei meraup sebuah gelas berisi air putih. Ia sangat kehausan, tenaganya seperti terkuras. Tangan Kirei sedikit terlihat gemetar saat memegang gelas kaca di tangan kanannya. Kirei berdiam diri sejak. Ia teringat kembali mimpinya, 'apa maksud mimpi itu? Kenapa dia mencari Rangga?' ucap Kirei dalam hati.

Kirei tak mau larut dalam mimpinya semalam, karena mungkin itu hanya ilusi yang bekerja di otaknya. Ia kemudian bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi.




~Bersambung...
Diubah oleh syrmey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 3
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
28-01-2020 12:10

KHURAFAT (perjanjian Setan)

CHAPTER 4 - Tanda Pengenalan dari Dunia Lain




Tanaman bunga mawar begitu rimbun terhampar indah di sebidang tanah yang begitu luas. Dari kelopaknya kita bisa melihat kalau bunga itu baru mekar kamarin. Tumbuhan lain juga ada, tertata dalam pot yang berderet-deret menghiasi teras rumah megah berarsitektur Eropa.

Mang Tahar juga tampak di halaman sedang memangkas dan menata tanaman hias milik tuannya. Ia sudah mendedikasikan diri pada majikan mungkin hampir 20 tahun lamanya, terhitung sejak usianya 37 tahun sampai sekarang karena sudah begitu lama, tentu saja dia tahu betul model penataan tanaman yang diinginkan majikannya.

Sebenarnya dulu ada banyak pekerja kebun yang bekerja dengan sang majikan. Namun sebagian mereka tidak betah karena kerap mendapatkan ganguan mistik dari makhluk tak kasat mata, kejadian di luar nalar yang semangkin membuat mereka seperti dalam kungkungan ketakutan yang amat mendalam.

Tidak hanya itu, beberapa pekerja tiba-tiba saja ditemukan tewas mengenaskan. Belum lama ini sekitar setahun lalu satu pekerja ditemukan mati dengan kondisi luka menganga di bagian leher, sekujur tubuhnya penuh darah karena luka cakar. Sebagian mereka menganggap itu ulah harimau nyasar, sebagian berpendapat itu tidak logis karena sekeliling rumah memiliki pagar yang amat tinggi di tambah dengan pengawasan ekstra sehingga mana mungkin harimau bisa masuk. Yang selalu menjadi tanda tanya mereka adalah mengapa korbannya selalu mereka yang belum menikah.

"Mang! Mang Tahar!" suara dari kejauhan memanggil.

Mang Tahar belum merespon. Ia masih sibuk bernyanyi sambil bersiul sesekali melenggak-lenggokkan tubuhnya. Tanpa ia sadari bahwa sedari tadi ada mobil jeep yang masuk ke pekarangan.

"Astaga tidak juga mendengar dia" ucap si pemilik suara, kali ini kesal. "Mang Tahar!" panggilnya lebih keras.

"I-iya Non" barulah Mang Tahar menyahut.
Segera saja ia berlari ke arah menuju sumber suara yang memanggilnya dengan keras.

"Tolong kamu ambil barang belanjaan Eyang di mobilnya Kenan"

"Baik nyonya"

Laki-laki yang bersama Eyang sedari tadi mengedarkan pandangannya dengan kedua tangan tertaut kebelakang. Berdiri di depan pintu, memgamati hamparan kuntum bunga dengan senyum simpul. Merawat halaman sedemikian luas bukan perkara mudah. Butuh kesabaran.

"Kenan ayo masuk" pinta wanita paruh baya yang barusan diantarnya.

Kenan melangkahkan kaki dengan pasti masuk rumah megah dengan tiga lantai. Dua buah pilar yang kokoh telah menyambutnya lebih dulu sebelum tiba diambang pintu.

Eyang Nisratih mulai membuka pintu utama rumah itu. Tiba-tiba saja semilir angin berhembus. Menerpa wajah keduanya. Tidak tahu dari mana datangnya. Kaca-kaca jendela semuanya tertutup rapat. Seperti sebuah sambutan dari pemilik rumah sesungguhnya.

"Nak, silahkan duduk dulu Eyang mau ke belakang sebentar"

"Iya Eyang"

Sebelum benar-benar duduk Kenan memperhatikan setiap sisi bagian rumah. Ada dua set sofa, yang satunya berada di ujing, sedangkan yang satu lagi persis di dekatnya berdiri saat ini, dekat pintu masuk, ada juga kursi kayu besar ala Eropa dengan beberapa ornamen modern. Ia juga melihat foto penikahan Kirei dan Rangga begitu besar menempel di dinding bercat putih. 

Kenan berjalan menuju salah satu meja, di atasnya terdapat vas bunga dan satu buah foto. Kenan meraihnya. Foto Kirei mengenakan rok selutut, baju bermotif bunga-bunga berkancing. 'Cantik' ucapnya dalam hati. Kenan meletakkan kembali foto itu lalu kembali ke sofa dan duduk manis.

Baru berapa saat Kenan merapatkan duduknya, Eyang Nisratih keluar bersama dengan pembantunya yang membawa nampan berisikan gelas, "Di minum sirupnya, den"

"Terima kasih Mbok"

"Diminum itu lho minumannya kasian dianggurin"

Kenan pun menyeruput minuman berwarna merah. Kerongkongan yang tadinya terasa kering sekarang sudah lega setelah minum itu masuk melewati kerongkongan.

"Kenan, Eyang senang lho bisa diantar kamu, kamukan biasanya sibuk ya. Eyang paham itu"

"Iya Eyang, saya juga senang bisa mengantar Eyang sampai rumah dengan selamat"

"Kamu memang selalu paham dan peduli dengan siapa pun, ibumu pasti senang punya anak seperti kamu Kenan. Dan Eyang tentu juga akan lebih senang kalau dulu Kirei bisa memilih kamu sebagai pasangannya. Bukan dengan Rangga"

Berat Kenan menelan salivanya, setelah mendengar harapan Eyang Nisratih. "Sudahlah Eyang. Yang penting anak Eyang sekarang hidup senang dan bahagia. Lihat rumah ini Eyang begitu besar dan megah. Ini tentu bagian dari kebahagiaan pemilik rumah ini"

"Bahagia apanya Nak Kenan. Asal nak Kenan tau Kirei merasa terpenjara, hidupnya tidak tenang"

Kenan mengernyitkan dahi, "Tidak tenang bagaimana?"

"Iya. Kirei selalu telepon ke Eyang kalau dia sering mengalami kejadian supranatural, mulai dari mimpi sampai kejadian yang nyata menimpa Kirei. Eyang yakin ini ulah jin, iblis, setan atau semacamnya yang menjadi peliharaan Rangga"

Kenan menciutkan mata, menerawang jauh. Sekelebat cahaya melintas sekitar dua meter dari tempat dia duduk saat ini. Kenan tak tahu bahwa itu adalah tanda perkenalan makhluk tak kasat mata dari dunia lain kepadanya. Kenan mengucek-ngucek kedua matanya. Eyang Nisratih yang melihat sikap Kenan sontak bertanya.

"Nak Kenan.. Kenapa?"

Kenan menyadari perilakunya tadi baru saja dilihat Eyang.

"Tidak apa-apa Eyang, mata saya hanya kelilipan"

Kenan melirik jam rantai berwarna silver yang melingkar ditangannya.

"Maaf Eyang sepertinya saya harus permisi dulu karena ada beberapa pekerjaan yang belum selesai."

"Oh iya iya. Lain kali mampir ke kemari ya Nak, Eyang pasti senang kalau disinggahi"

"Siap Eyang" nadanya semangat. "Kalau begitu Kenan pamit dulu Eyang. Assalamu'alaikum"

Kenan melirik ke kiri dan ke kanan, seperti mencari sesuatu. Ia masih penasaran akan bayangan yang disaksikannya tadi.



Waktu perlahan merangkak,  remang senja mulai menyelimuti. Suara lantunan ayat-ayat suci mulai terdengar dari menara masjid. Sudah mau adzan magrib. Namun Izam masih bermain, lari-larian ke sana-kemari, menuruni anak tangga demi anak tangga dengan berlari kecil. Jika orang-orang biasa, ia hanya melihat bocah kecil itu bermain sendiri, tapi mereka yang memiliki kelebihan bisa melihat yang tak kasat mata akan melihat sosok anak kecil perempuan berkepang dua sedang menemani Izam bermain.

"Ayo sini kejar aku dong" ucap anak itu pada teman tak kasat matanya. "Nggak dapat... "

"Hayo Seza." Izam masih belum menghentikan aksi berlari-lariannya itu.

Keeerr! Keeerrr!

Terdengar decitan suara roda sepeda milik Izam, yang menapaki lantai keramik di ruang tamu.


"Ya elah Seza kamu lari ngejar aku aja nggak dapat, terus kamu mau pakai sepeda. Yah mana bisa!" ledek Izam.
Sepeda tanpa pengemudi itu terus melaju mengikuti kemana pun Izam berlari.

Prang!

Sekarang suara piring yang jatuh, berasal dari dapur. Suara piring jatuh itu berkali-kali sampai terdengar ke telinga Eyang Nisratih yang sedang rebahan di kasur.

"Suara apa lagi itu"

Eyang Nisratih bangkit, tubuhnya yang sudah tua renta merasa sulit untuk digerakkan. Ia menumpu tangan pada kedua lututnya lalu berdiri, berjalan menuju dapur.

Di sana Eyang Nisratih mendapati pecahan piring yang jatuh tadi. Kali ini pandangan mata Eyang Nisratih beralih ke Izam.

"Izam, apa yang kau perbuat Nak? Kenapa piring-piring ini dipecahkan"

Izam masih bergeming, takut Eyang akan marah padanya. Karena cucunya itu tak menjawab ia dekatkan lagi badannya dan berjongkok, matanya menatap Izam. Sebenarnya Eyang Nisratih tidak marah hanya saja ingin tahu alasan Izam memecahkan piring-piring itu.

"Bukan Izam Eyang" jawabnya dengan polos.

"Terus siapa Nak, cuma ada kamu lho di sini"

Izam tidak menjawab, namun tangan mungilnya yang berbicara. Izam menunjuk ke arah sebelahnya. Eyang Nisratih kemudian melihat arah telunjuk Izam yang menunjuk sesuatu. "Seza Eyang" suaranya parau.

Eyang Nisratih mengernyitkan dahi, "Siapa dia?" tanya Eyang menanggapinya dengan lembut. Ia paham kalau cucunya memiliki kemampuan indera keenam. Dia sendiri sadar tidak bisa melihat sosok tak kasat mata yang dimaksud Izam.

Eyang Nisratih mencoba memberi pemahaman kepada cucunya, "Sebaiknya Izam suruh teman Izam itu untuk pulang karena sudah mau magrib dan Izam harus mandi sekarang sebelum malam, karena nggak bagus kalau kita mandinya malam-malam"

Izam mengangguk mengerti. "Seza, sekarang kamu pulang ya, udah mau magrib dan sebentar lagi malam nanti kamu dicari orang tua kamu" kata Izam dengan sosok tak kasat mata, teman bermainnya.

Eyang Nisratih menyaksikan Izam berbicara sendiri, setelah itu ia tersenyum. "Izam sekarang ikut Eyang"

Keduanya sekarang pergi meninggalkan Seza sendirian di dapur. Sisi lain sepeda milik Izam masih berjalan ke sana kemari. Seza masih ada dan belum pergi. 



Bersambung ~
Diubah oleh syrmey
profile-picture
profile-picture
m2twins dan kemintil98 memberi reputasi
2 0
2
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
28-01-2020 21:04
hiii ngerii ya kalo rumah udah kayak gitu, apalagi nyelakain fisik emoticon-Takut
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
07-02-2020 06:01

KHURAFAT (Kontrak dengan Setan)

CHAPTER 5 - Kematian Misterius



Pemirsa di mana pun Anda berada sekarang saya dan tim reporter sudah berada di lokasi kejadian.

Di mana telah ditemukannya sesosok mayat wanita yang tewas dengan kondisi mengenaskan, dibagian mulutnya robek sementara disekujur tubuhnya dipenuhi luka cakaran. Peristiwa ini terjadi di kediaman rumah mewah milik pebisnis terkenal bernama Derian Rangga Ahsanvedi alias Rangga.

Saat ini polisi masih berusaha menyelidiki kasus tewasnya perempuan berinisial F, dari penuturan istri pemilik rumah, bahwa F baru bekerja selama 7 hari di rumahnya. Ia datang ke rumah ini menawarkan diri untuk menjadi pembantu demi pengobatan ibunya yang sedang sakit. F ini juga dikabarkan belum menikah.

Demikian informasi yang dapat saya sampaikan langsung dari TKP. Saya Gradela dan juru kamera Jimmy melaporkan, kembali ke studio, Patrya.

Iya pemirsa demikian tadi liputan eksklusif da...


Belum selesai berita itu menayangkan tentang kasus tewasnya seorang wanita, Kenan langsung mematikan LED TV di depannya. Niat untuk nonton bareng Laliga Spanyol bersama teman-temannya juga dia tunda.

Kenan menuju kamar, mengambil sebuah jaket yang tergantung di dalam lemari. Sebuah jaket kulit berwarna coklat yang terbuat dari kulit hewan. Kenan menekan-nekan layar handphone dengan lincah mencari nomor seseorang yang akan ia tuju. Frekuensi gelombang khusus berusaha menyambungkan ke base transceiver station, kemudian terdengar 'nomor yang anda tuju sedang sibuk'. Tanpa pikir panjang Kenan langsung pergi ke garasi mengeluarkan mobil jeep berwarna putih.

Eyang Nisratih begitu terkejut dengan peristiwa yang terjadi di rumah menantunya. Dengan erat Eyang Nisratih mendekap cucunya. Mereka masih di kamar, Kirei melarang Izam untuk turun dan meminta Eyang Nisratih untuk menemani Izam di kamar.

Eyang masih mencoba menghubungi Kenan. Menurutnya dia-lah satu-satunya orang yang baik dan bisa menolongnya saat ini. Dia tidak mungkin meminta bantuan dengan Rangga karena dia sedang di Singapura.

Ddrrrttt... Ddrrrttt

Handphone Kenan yang berada di atas dasbor mobil bergetar tanda ada panggilan masuk. Sembari menyetir mobil tangan kanan Kenan berusaha menggapai handsfree agar bisa berkomunikasi dengan aman sambil kedua tangannya tetap menyetir mobil.

"Halo Eyang"

"Iya Kenan. Kenan Eyang boleh minta tolong ke kamu supaya bisa segera ke rumah Kirei. Ini gawat Kenan"

"Iya Eyang, Kenan sudah liat beritanya di televisi dan sekarang saya sudah di jalan menuju rumah Kirei, Eyang"

"Syukurlah. Eyang tunggu di rumah ya Nak"

Dari kajauhan tampak sebuah sorot lampu mobil memasuki pekarangan rumah tempat kejadian. Mobil itu berwarna putih, sejenis minubus, di depannya bertuliskan AMBULANCE. Beberapa orang di dalam mobil keluar dengan membawa tandu dan kantong jenazah. Kemungkinan, mayat itu akan di bawa untuk segera di otopsi baru kemudian dikembalikan ke keluarga.

Berselang dua menit, sebuah sorot lampu tajam datang kembali kali ini mobil jeep yang barusan datang. Sebenarnya hari belum terlalu malam. Jam masih menunjukkan pukul 5 sore tapi langit sudah begitu gelap.

Kenan keluar dari mobil lalu berjalan sedikit berlari menaiki sekitar 5 anak tangga sebelum tepat sampai ke teras rumah. Saat masuk, mata Kenan sedikit was-was memandangi ruangan sekitar. Ia belum tahu harus ke mana dan di mana Eyang sekarang. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Mbok Kinasih.

"Mbok!" ucap laki-laki itu.

Mbok Kinasih sedikit kaget saat mendapati seorang pria masuk ke dalam rumah tanpa permisi.

"Kamu siapa! Tolong jangan ganggu saya dan keluarga ini! Kami tidak tau apa-apa!" Mbok Kinasih menutup matanya dengan kedua tangan sambil memundurkan secara perlahan kakinya.

Kenan tak menyangka Mbok Kinasih menunjukkan ekpresi ketakutan yang luar biasa ketika melihatnya, tapi ia mencoba memaklumi mengingat kejadian naas hari ini.

"Mbok! Mbok! tenang Mbok ini saya Kenan. Yang kemarin singgah ke sini yang mengantar Eyang, majikan Mbok dan saya ini juga temannya Kirei!" kata Kenan berusaha menjelaskan dan menenangkannya.

Mendengar penjelasan itu, baruslah Mbok Kinasih sedikit tenang.

"Mbok di mana kamarnya Eyang?"

"Di-di lantai dua Den, di kamarnya Den Izam"

"Oke makasih Mbok" sembari menepuk pelan bahu Mbok Kinasih.

Kenan berjalan menuju tangga, tangannya memegang railing tangga yang terbuat dari rangka besi. Ia sedikit takut-takut akan terjatuh karena menaiki anak tangga sembari berlari.

Tok...tok...tok

Suaranya dari luar. Eyang Nisratih sudah menduga bahwa itu suara ketukan tangan Kenan. Dia barusan datang. Langsung saja Eyang Nisratih membuka kenop pintunya.

Ketika pintu itu dibuka nampak Eyang Nisratih dengan ekpresi wajah yang cemas. Kenan yang melihatnya berusaha untuk menenangkan Eyang dan mengatakan kalau semua pasti akan baik-baik saja.

Mata Kenan berpendar mencari Izam. "Anak Kirei di mana Eyang?"

"Itu" telunjuknya mengarah ke bilik yang merupakan ruangan bermain Izam.

"Eyang sebenarnya ada apa?"

Mereka masih berdiri di depan pintu kamar. Eyang yang merasa kurang nyaman menarik tangan Kenan supaya pembicaraan itu di lakukan di dalam saja. Sekarang, keduanya sudah duduk di kursi kayu yang terbuat dari rotan. Kursi itu memang segaja diletakkan di kamar supaya penghuninya bisa duduk sembari menonton televisi.

"Kejadian itu terulang lagi" kata Eyang mengigit bibir bawahnya, tanda kecemasan itu hadir.

Kenan merubah posisi duduknya, dengan kepala sedikit dimajukan supaya bisa mendengar suara Eyang "Maksudnya?"

Eyang menghela napas, "Dulu kejadian yang sama pernah terjadi, dan ini adalah peristiwa yang ke tiga"

"Berarti peristiwa semacam ini sudah pernah terjadi Eyang?"

"Iya" jawabnya lirih. "Korban pertama adalah Jalal, yang merupakan tangan kanan saya untuk menyelidiki Rangga waktu itu. Dia ditemukan tewas mirip dengan kejadian saat ini. Kedua, Nina pembantu rumah ini juga ditemukan tewas tenggelam di kolam belakang. Ketiga, Fitri wanita yang baru 7 hari bekerja juga tewas di sini"

Kenan menyatukan kedua telapak tangannya lalu menaruhnya di bawah dagu. Baru lima detik ia melakukannya, pikirannya sekarang mengarah ke Kirei. "Eyang, Kirei di mana?"

"Dia masih di bawah. Ayo kita ke sana!" ajak Eyang Nisratih

Mereka berjalan menuruni lantai dua menuju wilayah samping rumah, tempat kejadian. Sementara, tim medis masih berada di sana.

Kirei menatap miris tubuh pembantunya yang terbujur kaku. Perawat mulai mengangkat mayat yang dalam keadaan mengenaskan masih tertutup dengan kain berwarna putih. Mereka memasukkannya ke dalam kantong jenazah berwarna kuning dan memandunya menuju mobil ambulans.

"Rei" tangan Kenan mendarat di pundak Kirei.

Dengan perlahan mata Kirei memutar untuk melihat jari tangan yang melekat di bahunya. Setelah memastikan itu tangan manusia, ia menoleh ke belakang, mendongak melihat manusia itu berdiri.

"Lo, di sini Key"

"Iya gue di sini, buat nemanin lo"

Kenan menatap wajah Kirei dengan teduh. Ia melihat wajah Kirei seperti kelelahan, mungkin beberapa jam berturut-turut ia meladeni beberapa pertanyaan yang dilemparkan wartawan kepadanya belum lagi polisi dan pihak medis.

Kirei mendekap erat pinggang Kenan. Kali ini Kirei memiliki hasrat untuk memeluk temannya itu. Tangan Kenan belum membalas pelukan Kirei, perasaannya degdegan sudah sekian lama sejak Kirei menikah dia belum pernah mendapat dekapan ini lagi dari Kirei.

"Jangan khawatir, lo pasti bisa lewatin ini semua" ucapnya mencoba menabahkan, bersamaan dengan itu kedua tangan Kenan membalas dekapan Kirei.

Perlahan Kirei melepas pelukannya. "Saat ini gue harus menghadapi semuanya sendiri sebelum Rangga pulang kembali ke sini"

Tangan Kenan sekarang memegang kedua pundak Kirei. Mereka saling berhadap-hadapan, "Nggak, lo nggak sendiri. Ada gue. Gue akan disamping lo selama Rangga belum kembali"

Suara sirine mobil ambulans mulai menyala. Perlahan menjauh dan akhirnya suara itu menghilang. Kenan membimbing Kirei untuk masuk ke dalam rumah. Karena malam juga sudah terlalu pekat
.

Bersambung...
Diubah oleh syrmey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariefdias dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
07-02-2020 10:34
akibat nggak manut sama orang tua emoticon-Matabelo
Diubah oleh kemintil98
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
20-02-2020 13:29

1223

Lanjutkan
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
20-02-2020 19:13
bosss ndang updateeee
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
07-03-2020 15:39
Numpang baca, hehehe
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
26-03-2020 18:56

KHURAFAT (Kontrak dengan Setan)

Chapter 6 - Makhluk Tak Diundang


Suara desau angin meniupkan embusan udara dingin ke muka bumi. Sementara mega dilangit berjalan begitu cepat membawa gumpalan awan hitam tebal yang segera siap ditumpahkan ke bumi. Langit telah menggelap, orang-orang sudah bisa menduga kalau hujan lebat akan segera turun.

Malam ini bulan purnama harusnya terlihat indah memancarkan sinarnya. Namun sudah pukul 9 malam cahaya itu tak juga muncul. Bulan hanya menyentak dalam selimut mendung awan tebal.

Bunyi-bunyian di langit mulai terdengar menggelegar Cumiakkan telinga, sesekali lecutan cambuk kilat menyela di tengah gulita malam yang begitu pekat. Sambil membawa beberapa kotak makanan, Kenan mempercepat langkahnya menuju rumah Kirei karena hujan rintik perlahan mulai turun. Ini sudah malam ke ketiga Kenan diminta eyang Nisratih untuk menginap di rumah Kirei.

Tok... Tok... Tok...

Mbok Kinasih yang mendengar suara ketukan pintu segera bangkit dari sofa untuk membukakan pintu bagi tamunya itu. Bersamaan dengan pintu dibuka udara dingin yang menusuk dari luar juga ikut masuk ke dalam. Seketika mata mbok Kinasih mengerjap karena angin kencang diikuti dengan debu dan dedaunan kecil yang beterbangan di depan teras rumah mengenai wajahnya, yang terlihat mulai keriput.

"Silahkan Den"

"Terima kasih mbok. Apa Kirei dan Izam sudah tidur?"

"Sepertinya belum Den"

"Oh, terima kasih mbok. Mbok segera tutup pintunya, udara di luar begitu dingin" ucapnya sembari berlalu.

Kenan berjalan menuju dapur, kemudian meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja makan kayu berukir berarsitektur Eropa.

"Key!"

"Eyang!"

"Izam!"

"Aku bawa makanan, ayo kita makan sama-sama!" seru Kenan dengan suara sedikit keras agar keluarga itu mendengar.

Tak ada sahutan balasan dari mereka, Kenan akhirnya berinisiatif untuk mencari mereka ke kamar atas.

Suara gemericik air yang menetes terdengar nyaring dari bilik kamar mandi dekat Kenan saat ini berdiri. Langkahnya kini terhenti dan pandangan Kenan tertuju pada pintu wc yang terbuka.

"Apa ada orang di sana!" teriak Kenan

Tak ada balasan.

'Jika ada orang pasti pintu toilet itu ditutup' ucapnya dalam hati.

Ia berjalan ke asal suara guna mematikan kran air yang terus mengalir di wastafel. Tanpa perasaan ragu Kenan memutar kenop air, hingga air berhenti mengalir. Baru saja ia hendak memutar badannya kembali, tiba-tiba Eyang Nisratih berdiri tepat dihadapannya.

"Astaga, Eyang! Buat saya kaget saja!" ucapnya sembari melonjak kaget.

Hanya ada goresan sedikit senyum yang dibalas oleh wanita tua itu.

"Eyang saya bawa makanan, itu di atas meja" sambil menunjuk ke arah meja makan.

"Kebetulan eyang sudah lapar sekali!" ucapnya sendu dan layu.

"Wah, kalau begitu tepat sekali eyang, ayo kita makan!"

Tangan eyang tiba-tiba menyergap lengan Kenan begitu keras. Hingga membuat Kenan meringis kesakitan.

"Auu sakit eyang!" genggaman itu kemudian lepas. "Eyang kenapa?" tanya Kenan keheranan.

"Aku tidak butuh makanan itu!"

"Lalu eyang mau apa?"

"Yang aku mau adalah darah, darah segar dari manusia yang belum menikah!" nada berat dan serak.

"Sepertimu!" sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kenan. Tak berselang lama suara cekikikan terdengar menggema di telinga Kenan. Ia menutup telinganya dengan kedua tangan untuk meredam suara cekikikan itu yang semangkin nyaring terdengar.

Ketika Kenan membenarkan kembali posisinya tiba-tiba Eyang Nisratih yang tadinya berdiri sekarang lenyap. Tanpa wujud. Namun, ada yang aneh mau amis menyeruak dari kamar mandi. Kenan segera berlari ke luar menuju meja makan kembali. Bau itu tetap ada dan bahkan lebih keras. Menerbitkan rasa mual, dan mangaduk-aduk perut.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba tenang. Tak lama kemudian sebuah kepulan asap hitam muncul entah dari mana. Awal mula belum terlihat jelas, masih samar-samar, lama kelamaan kepulan asap itu semangkin menebal mengurung tubuh Kenan. Ia meronta sekuat tenaga. Kepulan asap itu kemudian membentuk sosok yang disebut.

Pocong!

Wajahnya hancur tak berbentuk, dengan darah memenuhi sisi mukanya, belatung bergerak-gerak, kain kafan yang semulanya puting terlihat usang dengan bercak-bercak tanah yang menempel. Membuat bulu kuduk berdiri, menatap tajam pada manusia yang sedang berdiri di depannya.

Tubuh Kenan kaku. Tak bergeming.

Melihat pocong itu tak bergerak dari tempatnya saat ini berdiri. Kenan, mencoba menjernihkan pikirannya agar bisa terlepas dari kungkungan makhluk halus ini.

Jemari Kenan terlihat bergerak samar. Ia kini merasakan hawa panas menyelimuti sekelilingnya, padahal sebelumnya udara begitu dingin. Efek kehadiran makhluk tak diinginkan itu membuat fisiknya sedikit kepayahan.

Terlihat mulut Kenan yang awalnya terkunci rapat kini seperti terlihat sedang merapalkan sesuatu. Jari-jemari tangannya masih bergerak samar dan beraturan. Tangan kiri Kenan manggapai sebuah gelas di atas meja makan, sembari memusatkan seluruh pikirannya pada segelas air putih tersebut. Kenan menarik napas.

Ia memercikan beberapa air digenggamnya ke arah pocong itu. Dan ternyata itu berhasil. Kenan mengucapkan hamdalah, sambil mengatakan ini bukan yang terakhir, namun ini justru permulaan.



~ Bersambung...
Diubah oleh syrmey
profile-picture
rafeeng memberi reputasi
1 0
1
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
29-03-2020 06:26

KHURAFAT (kontrak dengan Setan)

CHAPTER 7 - Firasat Buruk


Malam masih begitu dingin. Kenan menyelimuti tubuh dengan selimut tebal. Kilatan masih sesekali terlihat. Seperti sebuah isyarat malam ini Kenan merasakan ada sesuatu hal yang berbeda dirasakan malam itu. Tubuhnya menggeliat. Respon dari firasat buruk yang tertangkap indranya. Tak biasanya seperti ini. Kenan merasakan tubuhnya semangkin peka. Mungkin alam ingin menunjukkan sesuatu padanya tentang keluarga ini.

Bagi kalangan awam mungkin firasat ini biasa. Namun bagi orang yang peka ini suatu pertanda yang ditangkap oleh indra yang harus diuraikan dengan kepekaan tingkat tinggi. Alam bawah sadar mengirim sinyal bahwa ada sesuatu yang berjalan tak semestinya.

Mata Kenan mengerjap kemudian seketika terbangun dari pembaringannya. Sejurus saja ia berjalan mengarah jendela kaca yang cukup besar. Seperti sedang menunggu sesuatu. Padangannya beralih ke sekeliling. Sementara keluarga ini sedang tertidur pulas dibuai mimpi. Ia juga terlelap, sebelum nalurinya membangunkannya dengan paksa.

Kenan menarik napas. Tangannya terkepal disamping tubuhnya. Ia menajamkan sekali lagi indranya. Berusaha menangkap alarm alam akan sesuatu.

Tak berselang lama, sekelebat bayangan melitas begitu cepat, bersembunyi dibalik pohon besar untuk menyamarkan tubuh mereka. Lampu teras yang membiaskan cahaya buram, salah satu pencahayaan disekeliling taman rumah besar, tempat dimana Kenan tinggal saat ini. Kenan masih berdiri di depan jendela kamarnya, menilik orang itu yang terlihat sedang menaburkan sesuatu di sekitar kediaman rumah Rangga dan Kirei.

Kenan menyaksikan seseorang berbaju hitam-hitam itu mulutnya tampak komat-kamit sementara tangannya sibuk merogoh kantong plastik hitam yang dibawanya. Ingin segera mengakhir niat jahat orang berbaju hitam itu, Kenan meneriakinya, keras.

"Hoiii, siapa lho!"

Mata orang itu memendar mencari sumber teriakan itu. Sadar tingkahnya diketahui pemilik rumah ia melarikan diri sekuat tenaga meninggalkan pekarangan rumah Rangga dan Kirei.

"Kenan, ada apa?" tanya Kirei yang ikut terbangun mendengar teriakan Kenan langsung berlari menuju kamar Kenan.

"Rei, gue liat ada seseorang yang bergelagat aneh di bawah tadi."

Kirei melirik ke bawah melalui jendela kamar Kenan. Ia tak melihat apa-apa. "Gue nggak liat apa-apa Kenan, kalau gitu sebaik kita ke bawah mengejar orang itu! Sebelum orang itu semangkin jauh!" tegasnya.

"Nggak Rei, orang itu pasti sudah jauh. Mendingan kita liat cctv rumah lo aja"

"Kenan, rumah ini nggak pernah di pasang cctv"

Mendengarkan ucapan Kirei, Kenan mengernyitkan dahinya. "lho kenapa Rei?"

"Gue sudah pernah buat ngomong sama Rangga. Tapi entah mengapa Rangga menolak keras. Gue pun heran!" ungkapnya.

Kenan diam sejenak, seperti ada yang sedang dipikirkannya. "Sekarangkan Rangga sedang kerja di luar negeri Rei, nah bagaimana kalau kita pasang cctv di beberapa sudut rumah ini. Untuk memantau aktivitas di sekitar rumah, termasuk orang misterius ini. Karena bisa jadi orang ini akan kembali lagi nanti." jelasnya.

"Tapi Kenan, gue nggak mau Rangga" belum selesai Kirei berbicara, Kenan mengentikannya.

"Hustt, sekarang kamu nggak usah mikirin larangan Rangga dulu. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kamu dan keluargamu bisa tenang, dari segala gangguan yang ada. Lagian kita nggak mungkin bisa setiap waktu mengawasi sekitar rumah" jelasnya panjang demi meyakinkan wanita itu.

"Ya udah, gue setuju. Gue harap secepatkan biasa diketahui siapa orang itu. Atau bisa jadi orang itu yang selalu meneror para pekerja di sini, termasuk para pekerja yang ditemukan tewas mengerikan"

"Oke, gue harap begitu"


✴✴✴

"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau ikut dengan kamu!"

Teriakan menguar di malam dimana orang-orang sedang terlelap dalam kepekatannya. Kirei memicingkan mata, terkejut. Kirei berusaha menopang tubuhnya yang masih diterpa kantuk yang berat.

"Izam, izam itu suara Izam"

Segera ia berlari. Padangannya bersirobok dengan kegelapan. Bunyi guyuran air masih samar-samar terdengar menghentak-hentak genteng. Hujan kembali lebat, rupanya.

Dengan tergesa-gesa diiringi langkah cepat Kirei menuju kamar anaknya. Asal suara jeritan tadi.

"Ada apa Rei?"

Rupanya Kenan juga mendengar teriakan itu, sehingga ia segera terjaga dari tidurnya.

"Akupun juga belum paham Kenan apa yang sedang terjadi" jawabnya dengan tersengkal. Raut wajah Kerei juga terlihat pucat karena panik.

"Kamu tenang dulu, ayo kita lihat ke kamarnya" berusaha menenangkan Kirei.

Segera keduanya berjalan beriringan untuk melihat situasi tentang apa yang terjadi.

Setiba di kamar Izam, mereka mendapati Izam yang meronta-ronta dalam tempat tidurnya, namun dengan posisi mata yang masih terpejam. Mimpi buruk. Ya, sepertinya begitu.

"Izam! Izam bangun sayang!" ucap wanita itu sambil menepuk-nepuk pipi Izam supaya segera sadar.

Sementara Kenan hanya diam, menahan gemuruh di dadanya. Ia merasakan firasat buruk akan menghampiri. Lelaki lajang berusia 35 tahun itu merasakan ada sesuatu yang jahat. Yang selalu mengincar keluarga ini.

Sang ibu bernapas lega. Akhirnya Izam terbangun dari tidurnya dengan lembut tangan Kirei membelai kepala Izam sambil menyakan perihal apa yang membuat berteriak tadi.

"Zam, kamu kenapa? Apa yang terjadi sayang?"

"Bu, Izam mimpi buruk lagi"

"Memangnya kamu tidur tidak baca doa?" tanya Kenan.

"Baca doa ko Om" ucapnya polos.

"Izam mimpi apa?" kini giliran Kirei lagi yang bertanya.

Izam menarik napas sesaat. Ia lalu menghembuskan napas itu sesaat. "Mimpi serem banget Ma. Izam mimpi dikejar oleh seseorang kakek berwajah muram, gelap dan sekitar wajahnya dipenuhi rambut, katanya dia menginginkan Izam untuk dijadikan anaknya"

Alis Kirei menukik tajam setelah mendengar ucapan Izam.

"Tapi, Izam nggak mau. Izam selalu menolaknya. Hingga Izam melihat sosok seperti kakem itu memanggil pengikutnya untuk menyeret dan membawa Izam ke tempat mereka."

"Husst" sambil mendaratkan jarinya ke mulut Izam.

"Izam sekarang tidur lagi, atau kalau Izam takut, Izam tidur di kamar Ibu"

"Iya Bu"

Keduanya lalu menggiring Izam ke kamar Kirei agar Kirei bisa turut menjaganya.

Dengan lembut Kirei membelai-belai wajah anaknya supaya bisa segera terlelap kembali dan melupakan semuanya. Setelah Izam terlelap Kirei meletakkan selimut tebal ke tubuh Izam untuk melindungi tubuh mungil Izam supaya tidak dimakan dinginnya udara malam.

Kenan yang sedari tadi berdiri mengamati ibu anak itu, mendongak melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul dua malam.

"Rei, sudah kamu juga harus tidur dari sorot matamu sepertinya kamu kelelahan dan butuh istirahat"

Sambil berbisik Kirei mengucapkan sesuatu pada Kenan.
"Kenan kita keluar sebentar ada yang ingin aku bicarakan"

"Sudahlah Rei, ini sudah larut waktunya kamu tidur! besok kita akan bahas lagi semua ini"

Kenan beranjak dari tempat tidur meninggalkan Kirei, namun coba ditahan oleh Kirei.

"Kenan dengar aku dulu!" dengan menarik tangan Kenan.

"Gue pernah sebelumnya denger cerita atau curhatan pekerja disini yang kerap mendapati teror baik secara langsung maupun melalui mimpi."

"Terus... "

"Dan... Mimpinya itu mirip dengan apa yang Izam alami. Dan gue takut Izam."

"Husst, lo ngomong apa sih? Enggak meskipun lo dan Izam bukan siapa-siapa gue, gue akan berusaha buat jagain kalian selama Rangga belum pulang ke sini"

"Tapi Key..."

"Sudah, itu mungkin karena lo kurang tidur aja. Jadi, mengaitkan kejadian dulu dengan saat ini. Sekarang kita tidur. Dan kita akan bahas besok lagi. Okey"

Kirei hanya bisa pasrah mendengar permintaan Kenan. Dan ia menganggap mungkin juga itu karena ia kelelahan memikirkan semuanya, hingga membuatnya berhalusinasi. Tapi, begitulah naluri seorang ibu, bisa saja semuanya itu memang tepat adanya. Namun, dapat juga meleset.

Begitulah akhir percakapan keduanya, hingga mereka memutuskan untuk membahasnya kembali esok.


~Bersambung...
profile-picture
rafeeng memberi reputasi
1 0
1
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
30-03-2020 08:20
up lanjut gan.
gelar tenda dulu emoticon-Cendol Ganemoticon-Toast
0 0
0
Halaman 3 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
B-Log Collections
Stories from the Heart
seumur-hidup-dibalik-penjara
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia