Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
114
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e5e2669b41d3057a7241437/mengantar-bapak-pulang
"Sebentar lagi kita akan berangkat, Mbak. Saya masih memanaskan mesin dulu." "Iya, Pak. Saya tunggu." Awan kelabu pagi ini menggelayut di kota Surabaya. Dini hari tadi terdengar kabar yang menyakitkan, Bapak meninggal. Sudah hampir setahun ini, ia dirawat jalan karena kanker usus yang dideritanya. Menjelang kepergiannya, Bapak menginginkan dikuburkan di tanah kelahiran yaitu kota Semarang. "Mba
Lapor Hansip
03-03-2020 16:42

Mengantar Bapak Pulang

Past Hot Thread
Mengantar Bapak Pulang

°
°
°

"Sebentar lagi kita akan berangkat, Mbak. Saya masih memanaskan mesin dulu."

"Iya, Pak. Saya tunggu."

Awan kelabu pagi ini menggelayut di kota Surabaya. Dini hari tadi terdengar kabar yang menyakitkan, Bapak meninggal. Sudah hampir setahun ini, ia dirawat jalan karena kanker usus yang dideritanya. Menjelang kepergiannya, Bapak menginginkan dikuburkan di tanah kelahiran yaitu kota Semarang.

"Mbak, hanya sendirian? Ibu atau saudaranya tidak ikut?"

Petugas rumah sakit sekaligus tetangga yang akan mengantarkan jenasah Bapak menuju Semarang bertanya tentang keberadaan Ibu atau saudaraku. Ibu dan Ariska kemarin pulang dulu untuk menjual tanah yang akan digunakan tambahan biaya pengobatan. Namun, sayangnya Bapak meninggal tanpa ada anak atau istri yang menunggu.

"Ibu dan adik saya ada di Semarang, Pak."

Pak Mulyoto menepuk pundakku dan menyunggingkan senyuman hangat, "Mbak, yang tabah dan kuat."

"Iya, Pak. Terima kasih juga karena bapak mau mengantarkan kami."

Jika bukan karena Pak Mulyoto, kemungkinan tidak akan ada yang mau mengantarkan jenasah Bapak. Beliau juga yang mengurus administrasi rumah sakit selagi aku menunggui Bapak di ruang jenasah.

"Ayo, Mbak. Kita segera berangkat. Kasihan bapak kalau kelamaan," ujarnya mengajakku pergi.

Mobil yang kami pakai merupakan ambulance milik puskesmas. Mereka senang hati meminjamkannya pada kami. Dalam perjalanan menuju Semarang, Pak Mulyoto mengajak berbincang mengusir rasa bosan.

"Bapak orang yang ramah, ya. Padahal kami hanya kenal selama tiga bulan saja. Tiap pagi beliau akan menyapa kami sembari menyapu halaman," kenang Pak Mulyoto seraya terkekeh.

"Bapak memang seperti itu, Pak. Beliau orang yang ramah dan tidak segan membantu tetangga," kataku mengingat Bapak.

Bapak adalah orang yang paling kusayangi karena ia tidak pernah marah atau membentak jika anak-anaknya berbuat salah. Ia akan memakai kalimat yang halus dan tegas untuk menasehati kami. Beda halnya dengan Ibu yang akan memarahi kami sepanjang hari dan akan berhenti kalau Ayah menyuruh diam.

"Mbaknya berapa bersaudara? Kenal sama bapaknya, tetapi tidak pernah tanya tentang beliau."

Aku yang sedari tadi melihat arah jendela langsung menoleh dan malu karena ketahuan melamun. Pak Mulyoto hanya menyunggingkan senyumannya.

"Kami tiga bersaudara, Pak. Ada kakak lelaki dan adik perempuan."

"Wah pasti ramai sekali waktu berkumpul?"

Aku menggangguk pelan sembari melihat keadaan jalan yang ramai oleh kendaraan sebelum masuk jalan bebas hambatan. Untungnya mobil ini dilengkapi pendingin yang menyejukkan.

"Iya, Pak. Waktu berkumpul adalah hal yang menyenangkan bagi kami."

Tiap Jumat malam, Bapak selalu menyempatkan pulang ke Semarang karena ia seorang sopir bus dari Surabaya ke Semarang dan menyewa kamar di dekat tempat kerjanya. Baru tiga bulan ini saja, ia mendapatkan kenaikan kerja dan rumah kontrakkan dari atasan. Bukan lagi menjadi sopir, tetapi seorang pengawas lapangan. Saat berada di rumah, kami akan berkumpul di teras dan saling menceritakan aktifitas masing-masing.

"Sebentar lagi kita sampai, Mbak. Kalau tidak lewat jalan bebas hambatan, mungkin akan terasa lama."

Setidaknya kali ini aku beruntung bisa mengantar Bapak tanpa melewati jalan yang jauh. Tanpa sadar aku menoleh ke belakang di mana jenazah Bapak terbaring. Ada rasa tidak percaya ketika melepas kepergiannya.

"Pak, sebentar lagi kita sampai." Aku membatin sambil menghapus buliran air mata.

Ada aroma parfum milik Bapak yang tercium. Aku tahu Bapak mendengar ucapanku tadi.

"Mbak, seperti bau parfum, ya?"

Pak Mulyoto sampai mengendus bau ke depan dan ke samping. Menoleh padaku dan mengernyitkan dahi karena aku menggeleng.

"Bau ini sepertinya saya kenal. Tapi lupa di mana," sahut Pak Mulyoto pelan.

"Saya tidak mencium apa pun, Pak." Aku menyanggah ucapannya agar tidak ketahuan.

"Bapak takut?" tanyaku penasaran.

Pak Mulyoto menarik kedua bibirnya seraya menatapku penuh arti. Ia menggeleng dengan mata yang tetap fokus menyetir.

"Untuk apa takut, Mbak. Mereka tidak akan mengganggu jika kita tidak usil. Kalau mereka sampai menampakkan ke kita, mungkin saja ada hal yang ingin disampaikan."

Aku memanggutkan kepala dan mendengarkan musik lawas yang diputar Pak Mulyoto. Lagu milik Ebith mengantarkan kenangan yang tidak mudah dilupakan. Sosoknya yang penuh perhatian dan kasih sayang membuatku tidak bisa membendung rasa rindu yang pekat di hati.

"Desanya sungguh indah, ya, Mbak? Jarang saya bisa sampai ke sini. Udaranya masih bersih," ujar Pak Mulyoto memandang alam sekitar, kita berhenti sejenak menikmati udara yang sejuk. Pak Mulyoto sampai mengambil ponsel untuk memotret sawah yang hijau.

"Ada apa, Pak?" tanyaku saat melihatnya bingung.

"Oh ... tidak apa-apa. Mungkin ponsel saya sudah rusak. Ayo, Mbak, kita berangkat."

Nada bicara Pak Mulyoto terdengar gugup. Apa yang tadi dilihatnya di belakangku? Aku tidak bertanya karena wajahnya terlihat pucat pasi. Kami saling diam hingga sampai rumah.

*****

Tinggal beberapa meter lagi, aku sampai rumah. Sebelum sore akhirnya diriku bisa mengantarkan jenazah Bapak. Kulihat Ibu lari tergopoh-gopoh menyambut kedatangan kami. Bias kesedihan tergurat jelas di wajahnya. Warga banyak berdatangan untuk melihat Bapak terakhir kali.

"Maaf, Bu. Agak terlambat dari perkiraan saya sebelumnya," kata Pak Mulyoto menyalami Ibu dan Bang Rana.

"Tidak apa-apa, Pak. Kami maklum karena tidak ada yang mengurus di sana. Kami yang malah mengucapkan terima kasih karena bapak sudi mengurus semuanya," jawab Ibu dengan wajah sembab.

"Bukan hanya saya---"

"Ada ada, Pak?"

Pak Mulyoto tercekat melihat kedatangan saudara kembarku--Ariska. Wajah dan tubuh kami bak pinang dibelah dua, yang membedakan hanya potongan rambut saja. Aku lebih memilih memanjangkan rambut.

Ibu menoleh ke belakang dan menyadari keterkejutan Pak Mulyoto yang masih diam terpaku.

"Dia anak saya, Pak. Namanya Ariska."

"Namanya bukan Arisma?"tanya Pak Mulyoto gugup.

"Arisma dan Ariska kembar. Namun, Arisma sudah tidak bersama kami lagi," ucap Ibu dengan suara parau.

Pak Mulyoto tambah terkejut dan menoleh padaku, ia berjalan mundur ke belakang.

"Kenapa, Pak?" Bang Rana sampai memegang punggungnya menahan agar tidak jatuh.

"Bukankah Arisma anaknya Ibu yang menjemput jenazah Bapak?"

Mereka saling pandang dan memahami situasinya. Ibu menangis histeris sampai ditenangkan oleh Ariska. Aku hanya bisa menatap penuh sedih.

"Makanya itu, Pak. Kami di sini merasa bingung. Bagaimana Bapak tahu rumah kami? Waktu saya telepon di rumah sakit, mereka mengatakan jika bapak sudah berangkat sejak pagi seorang diri," urai Bang Rana memperjelas keadaan.

"Lalu yang saya sering temui di rumah kontrakkan itu siapa?"

"Arisma sudah meninggal tiga bulan lalu akibat sakit, Pak. Yang bapak temui itu kembarannya."

Pak Mulyoto dirangkul Bang Rana menuju rumah untuk ditenangkan. Aku tidak bisa meminta maaf padanya, perasaan bersalah menyelimuti karena sudah membuatnya takut.

Seharusnya Bang Rana yang menjemput Bapak pagi tadi. Namun, aku yang pergi menggantikannya. Setidaknya aku beruntung bisa melihat Bapak terakhir kali dan mengantarkannya pulang.

"Ayo, Nak. Kita pergi sekarang. Ini bukan tempat kita dan terima kasih sudah menunggu bapak selama tiga bulan." Aku menerima uluran tangan Bapak dan pergi melewati warga yang mengangkut keranda.

=Tamat=

Surabaya, 03 Maret 2020


Index Kumpulan Cerita Horor

1. Nasehat seorang ibu akan selalu menjadi lagu terindah untuk sang anak. Namun, apakah seorang anak mau mendengarkan nasehat sang ibu?

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb953aca2e80c3

2. Ada kutukan yang mengerikan terjadi di sebuah rumah. Kutukan yang akan mengubah pemiliknya menjadi menyeramkan.

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb9546f261a448

3. Siapa yang tidak ingin memiliki putri kecil lucu dan suka bicara. Namun, kalau ia suka bicara sendiri dan menatap dinding kosong. Apa yang dilakukan sang orang tua? Temukan jawabannya di cerita ini.

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...27681e3e0adc71

4. Lagu balonku memang disukai anak-anak dan sering dijadikan lagu favorit mereka. Akan tetapi bagaimana jadinya jika lagu tersebut menjadi lagu menakutkan bagi Hans?

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93348d3e4e69

5. Apa yang terjadi di sebuah supermaket itu? Dengar-dengar ada hal yang tak terduga. Penasaran? Yuk ... dibaca dan diberi komen

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c99118c04c22fa


Nantikan kelanjutan cerita horor dari saya lainnya.
Diubah oleh monicamey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 46 lainnya memberi reputasi
45
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 3
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 21:47
Manteb rek ceritane emoticon-Shakehand2
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 22:47
jadi....arisma udah g nyayi jaran goyang lagi?
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 06:59
lanjut dong gan


@aan1984
profile-picture
profile-picture
monicamey dan aan1984 memberi reputasi
2 0
2
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 06:59
numpang tandain ya gan
0 0
0
Post ini telah dihapus
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 09:58
Quote:Original Posted By adorazoelev
lanjut dong gan


@aan1984


Nuhun neng geulis 😘😘
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 12:07
penulisannya rapi, keren bgt, Sist!
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 13:11
suka ni bacanya emoticon-shakehand
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 14:33
Terhura bacanya
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 14:37
Lanjut sist, adain kelanjutannya dong.
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 16:17

Balonku

Mohon saran dan kritik....

°
°
°

"Hijau, kuning, kelabu,merah muda dan biru. Meletus balon hijau..."

Sepenggal lirik lagu masa kecil itu terus terngiang di alam bawah sadarku. Namun, anehnya di sana selain aku ada gadis kecil memakai rok selutut dengan luka parah di dahinya.

"Mimpi buruk lagi, Hans?" tanya istriku, Maryam.

Ia terbangun mendapati diriku berpeluh oleh keringat dan segera menyodorkan minum padaku.

"Anak kecil itu datang dalam mimpimu?" tanyanya lagi sambil menyerahkan T-shirt agar mengganti pakaianku.

Aku hanya menggangguk lemah. Entah berapa kali gadis kecil itu datang tanpa bicara apapun selain bernyanyi. Ia hanya tersenyum misterius dengan memegang balon di tangan kanannya sedangkan tangan kiri melambai padaku.

"Sejak kita pindah ke rumah orang tuamu, dirimu selalu bermimpi buruk. Memangnya ada hubungan apa gadis itu denganmu, Hans?"

"Aku juga tidak tahu, Mar. Kalau aku tahu, tidak mungkin mimpi buruk selalu menghantui."

"Kamu harus mencari jawabannya, Hans. Kuncinya ada padamu," ujarnya sambil duduk di sampingku. Pelukannya membuatku nyaman.

Maryam berkata benar kemungkinan besar mimpi itu ada hubungan dengan ingatan yang hilang waktu kecil di rumah peninggalan orang tuaku. Apa gadis itu temanku atau seseorang yang tidak aku kenal? Mimpi yang selalu membangunkanku di pukul lima pagi.

Mimpi itu mulanya tidak begitu nyata dan hanya menampakkan kabut gelap di sebuah taman. Beberapa bulan kemudian serangkaian peristiwa masa kecil melintas dan menunjukkan rupa gadis kecil tersebut.

*****

"Kau ingin kembali menjadi anak kecil lagi, Bung?"

Pertanyaan yang diajukan Parman membuatku tidak paham. Teman-teman kantor melirik dan menyunggingkan senyuman misterius saat aku tiba di kantor.

"Maksudmu apa, Man?" tanyaku penasaran.

"Itu di sana ..." Parman menunjukkan lima balon warna-warni di dekat pot bunga. Beberapa langkah dari kursiku.

Aku mengernyitkan dahi. Siapa yang mempermainkan diriku?

"Siapa pengirimnya?" tanyaku lagi sambil menghampiri balon yang menjadi kesukaan anak-anak itu.

"Entahlah ... lima balon itu sudah ada di sana sejak aku datang dan ada namamu di tiap balon," sahut Delima yang selalu datang satu jam lebih awal.

Aku memeriksa dan menemukan namaku di tiap balon, bingung dan heran menjadi satu. Selama ini tidak ada hal aneh yang terjadi di kantor. Paket atau hadiah yang kuterima berasal dari pelanggan dan itu berupa makanan bukan balon seperti ini.

"Kukira kau menyiapkan untuk menyambut kelahiran anak keduamu, Hans," celetuk Sisca sambil berdiri di sampingku.

"Mana mungkin, Sis. Memangnya aku anak kecil," balasku seraya mengambil balon dan menyerahkan ke OB.

"Pak, tolong singkirkan balon ini," pintaku pada Pak Kirman, beliau hanya menggangguk dan menerimanya.

Hari ini konsentrasiku terganggu akibat kejadian tadi. Lima balon itu sama persis yang dibawa gadis kecil yang ada dalam mimpiku beberapa bulan ini. Sebenarnya hal apa yang diinginkannya? Aku tidak bisa menemukan jawabannya.

"Pak, belum pulang?" Pak Kirman menanyaiku petang ini.

"Belum, Pak. Saya masih mengerjakan tugas," jawabku sambil mengetik di komputer.

"Saya tunggu di depan, ya, Pak. Nanti kalau sudah selesai, telepon biar saya kunci pintunya."

Aku hanya menggangguk tanpa melihat Pak Kirman yang sudah berlal dan tidak mengingat lagi peristiwa pagi tadi. Pikiranku terlalu fokus menatap layar kaca komputer sampai telinga ini menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ada anak-anak bermain.

"Aku hitung sampai lima. Satu ... dua ... tiga ... Aku akan menemukanmu, Jay."

Itu suara anak kecil yang ada di dalam mimpi. Tidak mungkin ia ada di sini, bukan? Merasa terganggu dengan suara tersebut, akhirnya diriku memberanikan diri untuk melihat.

"Siapa di sana?" tanyaku sedikit berteriak. Kosong dan hening hanya menyisakan suaraku saja.

Aku menyapu ruangan, tetapi tidak ada sosok gadis itu. Namun, mata ini menangkap hal lainnya. Beberapa meter dari tempatku, balon itu berdiri dengan disanggah batu. Lima balon yang sama seperti pagi tadi.

Aku langsung menelepon Pak Kirman menanyakan benda bulat itu, akan tetapi jawabannya malah semakin membuatku bingung.

"Balon itu sudah saya letuskan, Pak. Tidak mungkin ada orang yang menaruhnya lagi."

Jika kelima balon sudah diletuskan, lalu siapa yang membawa dan menaruhnya di sini? Tidak mungkin teman lainnya. Mereka sudah pulang tiga jam lalu.

"Lebih baik aku pulang. Mungkin karena kelelahan jadi pikiran ini kacau," kesalku sambil membereskan meja.

*****

Hanya karena lembur, aku terpaksa pulang malam dan mengendarai mobil sendiri. Pak Burhan yang biasanya menyopiri diriku mendadak pulang karena istrinya sakit.

"Balonku ada lima ...."

Aku berhenti mendadak ketika mendengar lantunan suara anak kecil yang bernyanyi di belakang. Sakingnya terkejutnya, aku tak menyadari jika menabrak sesuatu yang membuat ban mobil ini tiba-tiba kempis.

Aku langsung keluar dan memeriksanya. Keadaan di luar yang dingin dan sunyi semakin membuatku merinding seperti ada seseorang yang mengawasi.

"Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru."

Lagi, suara itu berada tepat di belakang telinga. Akan tetapi, saat kutolehkan kepala tidak ada siapapun. Di sisi kanan maupun kiri hanya pohon pinus dengan temaram lampu yang tidak terang. Keheningan mencekam tanpa kendaraan yang melintas membuat keringat dingin mengalir deras.

"Ah ... sial!" umpatku kesal sambil menendang ban yang kempis padahal tidak ada benda tajam yang menusuk.

"Mau ikut bernyanyi denganku?"

Tengkuk ini terasa dipegang oleh tangan kecil. Aku bisa merasakan jari-jarinya yang menyerupai anak kecil.

"Siapa di sana!" teriakku kencang. Namun, hanya gema yang menguar.

"Kau lupa siapa aku?"

Suara itu milik anak kecil yang seakan mengejek walau aku sudah mengedarkan pandangan tetap saja anak itu tidak ada. Hanya tawa lucu dan menggelitik yang hadir di tengah kegelapan malam.

"Kau mencariku, Jay?"

Jay? Sepertinya aku mengenal nama itu, tetapi lupa di mana diriku mengenalnya. Apa ia teman masa kecil?

"Dirimu masih belum sadar siapa dirimu, Jay?"

"Namaku bukan Jay!" Aku Cumiik ketakutan.

Ia tertawa lagi dengan melengking. Aku langsung masuk ke dalam mobil. Lebih baik seperti ini dari pada di luar. Aku memaksa mobil ini berjalan, tetapi sia-sia belaka.

"Ish ... mengapa semakin lama penerangannya redup? Apa mataku yang salah?"

Aneh sekali tempat ini dan bodohnya aku baru merasakan jika ini bukan jalan menuju rumah. Jalanan yang kulalui tiap berangkat maupun pulang kerja berada di kawasan perumahan bukan pepohonan.

"Apa aku salah jalan?" tanyaku pada diri sendiri. Bagaimana caranya aku harus keluar dari tempat ini.

Saat diriku berusaha menyalakan lampu, di depan tampak sosok gadis kecil yang sama di mimpi.

"Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon ..."

Aku bisa mendengar nyanyiannya di dalam mobil. Terdengar lirih dan sendu. Anak kecil itu tiba-tiba saja melayang perlahan mendekat dengan balon-balon yang ia pegang.

Tuk .... tuk ....

Kaca mobilku diketuk dan kali ini diriku bisa melihat jelas wajahnya yang pucat pasi, darah terus keluar dari dahinya dan rambut panjangnya berkibar.

"Kau harus melanjutkan nyanyiannya, Jay," pintanya pilu.

"Itu bukan bagianku. Kau yang harus menyanyikannya," pintanya lagi sambil mengetuk pelan mobilku.

Aku diam tidak memahami perkataannya. Apa maksudnya aku harus melanjutkan lagu tersebut? Ini benar-benar tidak masuk akal.

"Kau tidak mau, Jay?" tanyanya lirih.

"Iya aku tidak mau," kataku gugup berusaha menahan rasa takut.

Mata kami saling beradu pandang dan ia tersenyum dengan tetesan air matanya.

"Kau sudah lupa ternyata, Jay? Aku sudah menunggumu sangat lama agar aku bisa pergi."

Aku tidak peduli lagi dengan ban yang kempis dan sebisa mungkin berusaha untuk keluar dari situasi ini. Gadis itu masih ada di depan jendela memandangku dengan wajah sedihnya saat mobil ini berjalan terseok-seok. Aku sudah benar-benar tidak peduli lagi meski akhirnya mobil akan rusak bannya.

"Siapa Jay? Aku tidak kenal," desisku sambil menggerutu.

"Jay itu dirimu, Hans Jayamitko."

Rasanya detak jantung berpacu cepat ketika suara gadis itu ada di sebelah. Perlahan aku menoleh dan benar, ia sudah bersamaku.

"Pergilah! Jangan ikuti aku!"

Bagaikan kesetanan, aku mengangkat tangan ke udara berusaha untuk mengusir gadis kecil ini. Namun, aku tidak menyadari jika hal ini mengakibatkan mobilku hilang kendali.

Silau lampu mobil di depan tidak mampu membuatku minggir. Entah apa yang terjadi, mobil ini terperosok ke sebelah kiri pepohonan. Sesaat sebelum kesadaran habis, ingatan yang dulu sempat hilang kini kembali. Aku mengenal gadis kecil itu sejak dulu.

*****

"Jay, kau harus melanjutkan lagunya."

"Aku tidak suka lagu 'Balonku', Rani. Aku tidak mau menyanyikannya dan ingat namaku Hans. Panggil aku Hans bukan Jay."

"Kau sudah berjanji kemarin kalau di hari ulang tahunku, kau akan bernyanyi."

"Tapi bukan lagu itu, Rani!"

"Kau hanya melanjutkan bagianmu saja. Ayolah, Jay!"

Gadis kecil bernama Rani itu memohon agar aku mau bernyanyi dan diriku paling tidak suka lagu itu. Ia tetap memaksa dan membuatku marah.

Dalam perjalanan pulang menaiki bus sekolah, aku mendiamkannya karena jengkel atas permintaan tidak masuk akal. Karena terus didesak akhirnya aku menyetujuinya biar ia senang. Namun, janji yang kubuat tidak bisa terpenuhi. Bus sekolah yang kami tumpangi mengalami kecelakaan fatal. Dari lima belas anak hanya ada lima anak yang selamat termasuk aku.

Peristiwa itu membuat ingatanku hilang bahkan dengan janji tersebut. Menurut Ibu, sejak sembuh dari luka parah. Aku selalu ketakutan mendengar suara-suara asing. Ayah menganjurkan jika diriku harus ikut Paman di kota. Karena itulah selama dua puluh lima tahun, janji itu tidak bisa aku tepati.

*****

"Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon ...."

"Nah ... sekarang kau melanjutkan, Jay."

Dengan napas yang tersengal, kubuka suara meski berat.

"Balon hijau, hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat. Kupegang erat-erat."

Perlahan aku tak mampu lagi membuka mata dan yang bisa kudengar suara sirine ambulan juga perkataan Rani di telinga.

"Terima kasih, Jay untuk lagunya."

=Selesai=

Surabaya, 07 Maret 2020

profile-picture
nataliahana memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 16:58
Nitip sendalll
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
07-03-2020 23:27
Seram, Gan 😌😌
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
08-03-2020 00:09
yg di ataa nitip sendal, ane mau nitip apa ya,, nitip baju aja deh
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
08-03-2020 05:49
emoticon-Cendol Gan
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
08-03-2020 05:51
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
08-03-2020 12:26
masih pekiwan? wah nebeng ah siapa tau ada lanjutannya
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
08-03-2020 13:16
Nyimak dulu di page one emoticon-Jempol
Siapa tau rilis lanjutan nya
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
08-03-2020 16:23
emoticon-Takut
0 0
0
Halaman 2 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia